Anda di halaman 1dari 9

ESTIMASI EMISI METANA DARI TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) DAN

PEMANFAATANNYA SEBAGAI ENERGI LISTRIK


ESTIMATION OF METHANE EMISSIONS FROM LANDFILL AND UTILIZATION
AS ELECTRICAL ENERGY

Indah Suci Ramadhani - 25317314


Program Studi Magister Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan,
Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132
insurdh@gmail.com

ABSTRAK
Sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA) menghasilkan emisi karbon dioksida
(CO2) dan metana (CH4). Gas metana yang merupakan gas rumah kaca (GRK) memberikan
kontribusi terhadap global warning. Pemanfaat gas metana dari TPA sebagai energi dapat
mencegah sekitar 60-90% metana yang dilepaskan ke atmosfer. Makalah ini pertujuan untuk
memperkirakan emisi metana dari TPA berdasarkan metode IPCC 2006 dan upaya
pemanfaatannya sebagai energi listrik. Gas metana yang dihasilkan untuk tiap jenis TPA
dipengaruhi oleh jumlah timbulan dan komposisi sampah yang masuk ke TPA. Berdasarkan
literatur diketahui bahwa Indonesia masuk kedalam peringkat 10 besar emisi gas metana
secara global sebesar 28,3 mton CO2eq. Pemanfaatan gas metana menjadi energi listrik dapat
diasumsikan bahwa per 1 kg gas metana dapat menghasilkan energi listrik sebesar 17,0278
kWh. Pemanfaat energi metana menjadi gas juga mampu meningkatkan perekonomian
negara.

Kata kunci: TPA, Metana, IPCC, energi

ABSTRACT
Landfill can produce carbon dioxide (CO2) and methane (CH4) emissions. Methane gas
which is a greenhouse gas (GHG) contributes to global warning. The use of methane from
TPA as energy can prevent around 60-90% of methane being released into the atmosphere.
This paper aims to estimate methane emissions from landfill based on the 2006 IPCC method
and utilization as electricity. The methane gas produced for each type of landfill is affected
by the amount of generation and composition of the waste. Based on the literature it is known
that Indonesia ranks in the top 10 of global methane gas emissions of 28.3 mton. Utilization
of methane gas into electrical energy can be assumed that per 1 kg of methane gas can
produce electricity of 17,0278 kWh. The utilization of methane energy into gas is also able
to improve the country's economy.

Keywords: Landfill, methane, IPCC, energy


PENDAHULUAN

Terjadinya peningkatan pertumbuhan penduduk yang demikian pesat khususnya di daerah


perkotaan menyebabkan munculnya permasalahan lingkungan, salah satunya dalam
persoalan sampah. Sampah merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia.Terlebih karena
penduduk perkotaan yang memiliki keberagaman aktivitas dan cenderung konsumtif,
mengakibatkan meningkatnya jumlah timbulan sampah yang dapat berdampak kerusakan
lingkungan.

Sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA) menghasilkan emisi karbon dioksida
(CO2) dan metana (CH4). Gas metana yang merupakan gas rumah kaca (GRK) memberikan
kontribusi terhadap global warning. Menurut penelitian, gas metana mempunyai kekuatan
sekitar 21 kali lebih kuat untuk menghasilkan efek rumah kaca dibandingkan dengan karbon
dioksida, namun gas metana memiliki potensi lebih besar untuk dimanfaatkan, misalnya
sebagai sumber energi. Untuk mengurangi efek rumah kaca dari sektor sampah, maka GRK
yang dihasilkan harus diturunkan/dimitigasi. Pemanfaat gas metana dari TPA sebagai energi
dapat mencegah sekitar 60-90% metana yang dilepaskan ke atmosfer.

Dalam menghitung besarnya potensi emisi gas metana dari sampah padat, karakteristik
sampah berupa komposisi dan kandungan bahan kering sampah organik yang dapat terurai
menjadi hal yang sangat penting untuk diketahui.

METODE

A. Menghitung Estimasi Metana

Metodologi dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan emisi


CH4 dari TPA sampah didasarkan pada metode First Order Decay (FOD). Metode ini
mengasumsikan bahwa Degradable Organic Carbon (DOC) meluruh secara perlahan
sehingga CH4 dan CO2 terbentuk. Berdasarkan metode ini, total emisi gas metana pada tahun
T adalah total gas metana yang dihasilkan pada tahun T dikoreksi dengan besarnya gas
metana yang dimanfaatkan atau dibakar. (Tim ITB, 2012).
Parameter-parameter yang diperlukan antara lain:
a. Komposisi dan dry matter content sampah
b. Tipe zona timbunan sampah
c. Jumlah penduduk
d. Timbulan sampah
e. Beberapa parameter data default dari IPCC
Persamaan estimasi GRK digunakan untuk menentukan tingkat emisi CH4 dari TPA, yaitu:

CH4 EmissionsT (Ggram) = [∑xCH4generatedx,T – RT] * (1-OXT) ….…..…(1)

Dimana:
CH4 Emissions T = Emisi pada tahun T,
∑xCH4generatedx,T = Jumah dari potensi emisi pada tahun T dari berbagai komponen
sampah,
RT = Banyaknya CH4 yang direcovery untuk dimanfaatkan atau dibakar
OXT = Faktor Oksidasi (merupakan koreksi karena adanya oksidasi gas
metana yang tidak direcovery di bagian atas tumpukan sampah)

Sementara itu gas metana yang dihasilkan pada proses dekomposisi sampah dihitung
berdasarkan persamaan – persamaan berikut:

CH4generatedT = DDOCmdecompT * F * 16/12 ……………………(2)


DDOCmdecompT = DDOCmaT – 1 * (1-e-k) ………………………(3)
DDOCmaT = DDOCmdT + (DDOCmaT –1 -e-k) ……………………..(4)
DDOCm = W * DOC * DOCf * MCF …………………………(5)

Dimana;
DDOCm = Massa DOC tersimpan di TPA yang dapat terdekomposisi, Gg
DDOCmdecompT = DDOCm pada tahun T, Ggram
DDOCmaT = DDOCm yang terakumulasi di TPA pada akhir tahun T, Gg
DDOCmdT = DDOCm yang disimpan di TPA pada tahun T, Gg
F = Fraksi (%volume) CH4 pada gas yang ditimbulkan,
W = Massa sampah yang tersimpan di TPA, Gg
DOC = DOC pada tahun penyimpanan, fraksi (Ggram C/Ggram sampah)
DOCf = Fraksi DOC yang dapat terdekomposisi
MCF = Faktor koreksi (dekomposisi aerobik) di tahun penyimpanan, fraksi
k = Konstanta reaksi, dimana k = ln (2) / t1/1 (y-1)
16/12 = Rasio berat molekul CH4/C

B. Menghitung Potensi Listrik


Dalam proses konversi emisi gas metana menjadi energi listrik, potensi energi kalor per 1
kggas metana adalah sekitar 6,13 x 107 J dan 1 kWh setara dengan 3,6 x 106 J. Sehingga dapat
diasumsikan bahwa per 1 kg gas metana dapat menghasilkan energi listrik sebesar 17,0278
kWh (Sorensen, 2007). Setelah mendapatkan besarnya nilai energi listrik dalam kWh,
selanjutnya adalah menkonversi nilai tersebut kedalam satuan Watt. Potensi daya listrik yang
dihasilkan dihasilkan dengan persamaan berikut:

Daya listrik (W) = X (kWh) : 8760 jam …………………………..(6)


(Dewi, Suarna, & Suyasa, 2017)

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Estimasi Emisi Metana

Tabel 1. Emisi Metana berdasarkan Peringkat 10 Besar Negara

Emisi Metana dari Landfill pada


Negara
Tahun 2010 (mton CO2 eq)
United States 129.7
China 47.1
Mexico 38.4
Russia 37.1
Turkey 33.1
Indonesia 28.3
Canada 20.7
United
18.9
Kingdom
Brazil 17.8
India 15.9
*sumber: (Breeze, 2018)
* MtCO2-eq Megatonnes (1 Mt = 106 kg = 1 Gg)

Tabel 2. Emisi Metana dari TPA di Beberapa Negara Asia


Penulis Tahun Negara Model
Inventarisasi

Chiemchaisri et al. 2005 Thailand IPCC, 1996 FOD model


(2007)
Chiemchaisri et al. 2005 Thailand Forecast
(2007)
Wangyao et al. (2009) 2006 Thailand IPCC, 2006 FOD model
Kumar et al. (2004) 1980-1999 India Triangular method
Qingxian et al. (2007) 2004 China Default method
*sumber: Abushammala, 2011

Estimasi emisi dan proyeksi gas metana di Indonesia (Bapppenas, 2014) dapat dilihat
pada Tabel 3 dan Tabel 4.
Tabel 3. Emisi Metana di Provinsi Sumatera Selatan
No Tahun Emisi GRK dari sumber (Gg CH4) Total Estimasi
Emisi base year
(Gg CH4)
Timbunan Open Pengomposan BAU
Burning
1 2010 8.16 4.33 0.17 12.66
2 2011 14.1 4.38 0.17 18.65
3 2012 18.53 4.46 0.17 23.16
4 2013 21.93 4.57 0.18 26.68
5 2014 24.64 4.66 0.18 29.48
6 2015 26.86 4.75 0.18 31.79
7 2016 28.76 4.84 0.19 33.78
8 2017 30.42 4.93 0.19 35.54
9 2018 31.92 5.02 0.19 37.14
10 2019 33.31 5.12 0.2 38.63
11 2020 34.63 5.22 0.2 40.05

Tabel 4. Emisi Metana di Provinsi Kalimantan Barat


No Tahun Emisi GRK dari sumber (Gg CH4) Total Estimasi
Emisi base year
(Gg CH4)
Timbunan Open Pengomposan BAU
Burning
1 2010 5.89 1.41 0 7.31
2 2011 10.15 1.45 0 11.6
3 2012 13.32 1.49 0 14.81
4 2013 15.74 1.53 0 17.28
5 2014 17.68 1.57 0 19.25
6 2015 19.29 1.61 0 20.9
7 2016 20.67 1.66 0 22.33
8 2017 21.91 1.7 0 23.61
9 2018 23.05 1.75 0 24.8
10 2019 24.12 1.79 0 25.92
11 2020 25.16 1.84 0 27

B. Potensi Energi Listrik


Perhitungan potensi energi listik dari emisi metana telah dilakukan oleh (Dewi dkk, 2017)
pada TPA Suwung Bali. Potensi emisi metana tahun 2016 di TPA Suwung Bali adalah
sebesar 3.427,44 Ton. Nilai potensi tenaga listrik yang dapat dibangkitkan dari emisi metana
dihitung berdasarkan persamaan (6) adalah sebesar 6.662,29 kW atau setara dengan 6,66
MW.

Selain itu perhitungan potensi energi listrik dari emisi metana juga dilakukan oleh
(Santiabudi, 2010) di TPA Galuga Cibangbulang Bogor. Estimasi kumulatif jumlah sampah
yang masuk ke TPA Galuga hingga tahun 2012 akan mencapai 3.133.408,985 Mg atau
sekitar 3,1 juta ton. Berdasarkan hal tersebut, jumlah sampah di TPA Galuga berpotensi
menghasilkan listrik sekitar 2.507 kW atau 2,5 MW dengan memanfaatkan gas metana TPA
sebanyak 49.384 m3/hari yang diperoleh dari rata-rata harian 12,03 Gg/tahun.

C. Sosial Ekonomi

Harga listrik berdasarkan tarif dasar listrik (TDL) yang tercantum dalam Lampiran Peraturan
Menteri ESDM Nomor: 07 Tanggal 30 Juni 2010 untuk golongan tarif rumah tangga
(golongan R-1/TR) dengan batas daya 450 VA dan 900 VA adalah Rp415 dan Rp605 per
kWh. Apabila potensi sampah di TPA Galuga sejumlah 3,1 juta ton yang diperkirakan dapat
menghasilkan listrik sekitar 2,5 MW dari pemanfaatan gas metana menjadi bahan bakar
sumber energi pembangkit listrik, maka dalam setahun nilai listrik yang digunakan secara
maksimum akan mencapai Rp9.112.956.019,26 atau sekitar Rp9,1 Milyar per tahun dari
listrik 2,5 MW oleh pengguna daya 450 VA. (Santiabudi, 2010)

Sulistyowati (2008) juga mengatakan, listrik sebesar 2 MW dapat digunakan untuk


memenuhi kebutuhan 400 keluarga, sehingga potensi daya listrik sebesar 2,5 MW dari TPA
Galuga dapat dimanfaatkan oleh 500 keluarga.

TPA Bantar Gebang mengelola sampah dengan teknologi sanitary landfill dan sekitar 4M
(dari 12-16 MW) sudah dipasok ke PLN (Rp850/kWh) yang berasal dari sekitar 200 sumur
gas metan.

Secara sosial ekonomi, adanya proyek pengolahan energi dari gas landfill juga menciptakan
lapangan kerja penghasilan yang baru, dan dapat menghemat biaya pemakaian bahan bakar.
Sebagai contoh, proyek pengolahan energi dari gas landfill di Amerika Serikat dapat
mengurangi emisi metana sebesar 14 juta m3 ton CO2eq. Keuntungannya adalah setara
dengan penanaman 18 juta are hutan, atau mengurangi emisi tahunan dari 13 juta mobil.
Sementara 600 TPA di Amerika Serikat yang berpotensi menghasilkan listrik dari gas
metana, ternyata berdasar perhitungan dapat menghasilkan listrik bagi 1 juta rumah, sehingga
tidak harus menggantungkan diri pada perusahaan penyedia listrik milik negara. (Pujoto &
Qosim, 2017)

Penelitian yang dilakukan oleh Millos dan Yu (2018), memperlihatkan kesuksesan


pemerintah Swedia dalam mengkonversi sampah menjadi energi mampu meningkatkan
perekonomian negara. Di sisi lain, hal ini juga membantu keadaan lingkungan negara jauh
lebih baik. Hingga saat ini hampir 50% sampah berhasil dikonversi pemerintah menjadi
sumber energi baik panas maupun listrik bagi rumah tangga..

D. Kebijakan

Terkait Undang-Undang No 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Permen ESDM
No 12 Tahun 2017 yang mengatur pemanfaatan sumber Energi Baru dan Terbarukan (EBT)
untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Permen ESDM ini menyatakan bahwa pembelian tenaga
listrik dari PLTSa mengikuti harga patokan paling tinggi 100% BPP (Biaya Pokok
Penyediaan Pembangkitan) di sistem ketenagalistrikan setempat (Sekitar Rp.1300/kWh, atau
kesepakatan para pihak). Dalam Pasal 10 ayat (1) PLN wajib membeli listrik dari PLTSa
yang memanfaatkan gas metana (ayat(2)) dengan teknologi sanitary landfill, AD (Anaerob
Digestion), atau melalui pemanfaatan panas/termal dengan menggunakan teknologi
Thermochemical. (Fagi, 2018)

Apabila ditelaah lebih lanjut, kedua kebijakan tersebut memiliki sisi berlawanan dalam
pelaksanaanya. Berdasarkan UU No 18 Tahun 2008 cenderung untuk melakukan pengelolaan
dengan pencegahan atau pengurangan timbulan sampah sehingga akan mengurangi gas
metana yang dihasilkan dari TPA. Sedangkan Permen ESDM seolah menginginkan timbulan
sampah yang banyak agar menghasilkan energi listrik lebih banyak yang dapat bernilai
ekonomi.

Strategi yang mungkin dapat digabungkan adalah dengan tetap melakukan pengurangan
sampah mulai dari sumbernya, sehingga mengurangi beban TPA. Perbaikan sistem
pengelolaan di TPA. Dilakukan proses aerobic dalam rangka mencegah terbentuknya gas
metana atau proses anaerobik jika ingin memanfaatkan metana yang dihasilkan menjadi
energi listrik secara optimal.
Selain itu, kebijakan pemisahan TPA untuk sampah anorganik dan organik bisa diterapkan
jika ingin lebih mudah mengontrol gas metana yang dihasilkan sehingga lebih optimal untuk
dimanfaatkan. Setiap pihak yang menghasilkan limbah organik terutama limbah sisa
makanan yang dihasilkan dari restoran, hotel, maupun rumah makan dianjurkan memiliki
pengolahan sampah dengan biodigester.

Dapat pula membangun TPA dan IPAL yang berdekatan seperti yang dilakukan oleh Brazil,
namun ini perlu studi lebih lanjut.

KESIMPULAN

Emisi metana yang dihasilkan pada TPA dapat diestimasikan dengan menggunakan metode
IPCC 2006. Gas metana yang dihasilkan untuk tiap jenis TPA dipengaruhi oleh jumlah
timbulan dan komposisi sampah yang masuk ke TPA. Gas metana yang dihasilkan dapat
dimanfaatkan sebagai energi listrik.

DAFTAR PUSTAKA

Abushmmala, M. F., Basri, N. A., Basri, H., El-Shafie, A. H., & Kadhum, A. A. (2011).
Regional Landfills Methane Emission Inventory in Malaysia. Waste Management &
Research, 863-873.
BAPPENAS. (2014). Pedoman Teknik Perhitungan Baseline Emisi Gas Rumah Kaca Sektor
Pengelolaan Limbah. Jakarta: BAPPENAS.
Bo-Feng CAI, L. J. (2014). Estimation of Methane Emissions from Municipal Solid Waste
Landfills in China Based on Point Emission Sources. Advances in Climate Change
Research, 81-91.
Borjesson, G. D. (2009). A National Landfill Methane Budget for Sweden Based on Field
Measurement, and an Evaluation of IPCC Models. TELLUS Series B-Chemical and
Physical Meteorology, 424-435.
Bove, R. L. (2006). Electric power generation from landfill gas using traditional and
innovative technologies. Energy Conversion and Management, 1391-1401.
Breeze, P. (2018). Landfill Waste Disposal, Anaerobic Digestion, and Energy Production.
Energy From Waste, 39-47.
Chakraborty, M. D. (2011). Methane Emission Estimation from Landfills in Delhi: A
Comparative Assesment of Different Methodologies. Atmospheric Environment,
7135-7142.
Ciula, J. G. (2018). Energy from Landfill Gas as an Example of Circular Economy. Water,
Wastewater and Energy in Smart Cities, 1-9.
Dewi, P. P., Suarna, I. W., & Suyasa, I. B. (2017). PotensiI Energi Listrik yang Dihasilkan
dari Emisi Gas Metana. Ecotrophic, 132-139.
Fagi, F. (2018, November 25). Selayang Pandang PLTSa di Indonesia. Retrieved from
Energi Baru dan Terbarukan:
http://energibarudanterbarukan.blogspot.com/2017/02/selayang-pandang-pltsa-di-
indonesia.html
Faridha, P. D. (2015). Potensi Pemanfaatan Sampah Menjadi Listrik di TPA Cilowong Kota
Serang Provinsi Baten. Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan, 103-116.
Gollapalli, M. H. (2018). Methane emissions from a landfill in north-east India: Performance
of various landfill gas emission models. Environmental Pollution, 174-180.
Hao, X. Y. (2008). Trigeneration: A new way for landfill gas utilization and its feasibility in
Hong Kong. Energy Policy, 3662-2673.
IPCC. (2006). IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories. IPCC.
Kumar, S. d. (2004). Estimation Method for Natiol Methane Emission from Solid Waste
Landfills. Atmosoheric Environment, 3481-3487.
Nizami, A. D. (2017). Energy, Economic and Environmental Savings bt Waste Recycling: A
Case Study of Madinah City. Energy Procedia, 910-915.
Pujoto, I., & Qosim, M. N. (2017). Pengelolaan Emisi Gas Landfill (Biogas) sebagai Energi
Terbarukan. Jurnal Sutet, 42-47.
Raharjo, S. A. (2014). Analisis Konsentrasi Gas Metana (CH4) dari TPA Regional
Payakumbuh sebagai Sumber Energi Alternatif. Prosiding SNSTL, 30-36.
Santiabudi, F. (2010). Kuantifikasi Emisi Metana dari TPA Galuga Cibungbulang Bogor
Jawa Barat. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Santos, I. A. (2018). Combined use of biogas from sanitary landfill and wastewater treatment
plants for distributed energy generation in Brazil. Resources, Conservation &
Recyling, 376-388.
Sasmita, A. D. (2016). Potensi Produksi Gas Metana dari Kegiatan Landfilling di TPA Muara
Fajar, Pekanbaru. Teknologi Oleo Petro Kimia Indonesia.
Sofriadi, D. S. (2017). Estimasi Emisi Karbon dar Sampah Permukiman dengan Metode
IPCC di Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh. Ekonomi Transportasi, Manajemen
Konstruksi dan Perencanaan Wilayah, 339-348.
Sutrisno, R. (2010). MEREKAYASA PEMANFAATAN GAS METAN (CH4) MENJADI
ENERGI LISTRIK KAPASITAS 500 KWH (Hasil Studi Kelayakan di TPA Supit
Urang Kota Malang). Jurnal Flywheel, 30-45.
Themelis, N. P. (2007). Methane generation in landfills. Renewable Energy, 1243-1257.
Sorensen, Bent. 2007. Renewable Energy: Conversion, Transmission and Storage. Oxford.
Elsevier Inc.