Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan milik yang sangat berharga bagi seseorang, tanpa
kesehatan berarti segala aktivitas seseorang terhambat, oleh karena kondisi
tubuh terganggu. Menyadari hal ini maka setiap orang dituntut untuk dapat
memiliki daya tahan tubuh yang kuat sehingga tidak akan mudah diserang
oleh berbagai macam penyakit yang pada akhirnya dapat mengganggu
aktivitas kita sehari-hari, dan dapat mempengaruhi sosial seseorang dalam
hidupnya. Manusia di dunia ini dianugrahi oleh tuhan yang disebut dengan
panca indera,seperti contohnya; indra penciuman (hidung), indra
pendengaran (telinga), indra penglihatan (mata), dan salah satunya disini
yang akan dibahas ialah mengenai gangguan yang terjadi pada indera
penglihatan (mata), salah satu gangguan mata yang terjadi ialah Ablasio
Retina.
Ablasio retina merupakan penyakit mata gawat darurat, penderita
mengeluh ada kabut dilapangan pandangnya secara mendadak seperti
selubung hitam. Kalau mengenai makula lutea maka visusnya mundur sekali,
bila ditanya mungkin ditemukan gejala ada bintik hitam sebelumnya dan
penderita miopia tinggi.selain diatas. Ablasia retina juga disebut sebagai
suatu penyakit dimana lapisan sensorik dari retina lepas. Lepasnya bagian
sensorik retina ini biasanya hampir selalu didahului oleh terbentuknya
robekan atau lubang didalam retina. (P.N Oka, 1993). lepasnya lapisan saraf
retina dari epitelium. Penyakit ini harus dioperasi, penderita tidak boleh
terlalu banyak bergerak dan goyang supaya bagian retina yang sudah lepas,
tidak bertambah lepas lagi.
Maka dengan dijelaskannya tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa
ablasio retina merupakan suatu penyakit pada mata yang dapat menyebabkan
si penderita sangat tertekan dengan keadaannya tersebut sehingga kita
sebagai seorang tenaga medis harus mengetahui kiat-kiat bagaimana cara
untuk penatalaksanaanm medis pada gangguan ablasia retina ini.Maka dari
itu diperlukan asuhan keperawatan dengan pasien Ablasio retina
B. Rumusan Masalah
1. Apa anatomi retina ?
2. Bagaimana fisiologi retina ?
3. Apa pengertian ablasio retina ?
4. Bagaimana patofisiologi ablasio retina ?
5. Apa manifestasi klinis ablasio retina ?
6. Bagaimana penatalaksanaan ablasio retina ?
7. Bagaimana konsep asuhan keperawatan ablasio retina ?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
sistem persepsi sensori dengan Ablasio Retina.
2. Tujuan Khusus
a) Mengetahui anatomi retina.
b) Mengetahui fisiologi retina.
c) Mengetahui pengertian ablasio retina.
d) Mengetahui patofisiologi retina.
e) Mengetahui manifestasi klinis ablasio retina.
f) Mengetahui penatalaksanaan ablasio retina.
g) Mengetahui konsep keperawatan ablasio retina.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Anatomi Retina
Retina :
1. Merupakan suatu struktur sangat kompleks yang terbagi menjadi 10
lapisan terpisah,terdiri dari fotoreseptor(sel batang dan kerucut) dan
neuron,beberapa diantaranya (sel ganglion) bersatu membentuk seabut
saraf optik.
2. Betanggung jawab untuk mengubah cahaya menjadi sinyal
listrik.integrasi awal dai sinyal sinyalsinyal ini juga dilakukan oleh
retina.
3. Sel kerucut bertanggung jawab untuk penglihatan siang hari. Subgrub dai
sel kerucut responsif terhadap panjang gelombang pendek,menegah, dan
panjang (biru, hijau,meah). Sel-sel ini terkonsentrasi di fovea yang
bertanggung jawab untuk penglihatan detil seperti membaca huruf kecil.
4. Sel batang berfungsi untuk penglihatan malam.sel –sel ini sensitif
terhadap cahaya dan tidak memberikan sinyal informasi panjang
gelombang (warna).Sel batang menyusun sebagai besar fotoreseptor di
retina bagian lainnya (Bruce james, 2006).
B. Fisiologi Retina (belum)
C. Pengertian Ablasio Retina
Ablasio retina atau retinal detachemen adalah lepasnya bagian lapisan
sensori retina dari lapisan epitel pigmen koroid. Ablasio retina dapat
menimbulkan ruangan subretina dapat menimbulkan ruang subretina dan
cairan vitreus merembes di bawah retina, memisahkan bagian tersebut dari
dinding vascular dan akhirnya menurunkan suplai darah kedalamnnya.
Insiden kasus ini meningkat secara dramatis setelah usia 40 tahun dan
mencapai puncaknya pada dekade ke-5 dan ke-6 (Ns. Indriana N. Istiqomah,
2005).
D. Etiologi Ablasio Retina
Beberapa faktor berikut dapat mengakibatkan ablasia retina:
1. Adanya robekan pada retina
2. Tarikan pada badan kaca
3. Desakan tumor, cairan nanah atau darah. (Mumpuni, 2016)
Faktor resiko dapat mengakibatkan ablasi retina :
1. Menderita miopia tinggi.
2. Pernah mengalami ablasi retina.
3. Trauma mata (misalnya akibat terpukul atau jatuh).
4. Kemunduran/degenerasi retina.
5. Riwayat opeasi ketarak, terutama bila operasi ini mengalami komplikasi
kehilangan vitteous(benda kaca) (Mumpuni D. y., 2016)
E. Patofisiologi Ablasio Retina
Retina terdiri dari dua lapisan. Robekan atau pelepasan retina terjadi jika
kedua lapisan tersebut terpisah karean akumulasi cairan atau tarikan
konteraksi badan vitreus. Tarikan vitreus pada retina menyebabkan klien
melihat sinar kilat. Klien juga mengeluhkan melihat titik-titik hitam di depan
mata, yang terjadi karena lepasnya sel-sel retina dan putusnya kapiler yang
mengalirkan sel darah merah ke dalam vitreus. Sel darah merah ini
menghasilkan bayangan pada retina yang di terima sebagai titik-titik hitam
tersebut. Lepasnya retina juga menyebabkan gangguan penerimaan
rangsangan visual yang mengakibatkan konvensi rangsangan ke bentuk yang
tidak dapat diinterpretasikan otak dan menyebebkan klien mengalami
penurunan atau hilangnya pandangan. Hilang lapang pandang bergantung
pada area lepasnya retina. Jika yang lepas bagian superior maka penglihatan
yang hilang bagian interior. Retina temporal lebih sering terkenah sehingga
klien mengeluh gangguan pada area nasal daripada pandangan. Gangguan
penglihatan sentral terjadi jika macula luteal terkena (Ns. Indriana N.
Istiqomah, 2005).
F. Manifestasi Klinis Ablasio Retina
Gejala ablasi retina biasanya berupa beberapa kondisi beikut ini:
1. Penglihatan mendadak kabur
2. Mengalami floater(pada lapang pandang seperti ada kotoran atau bintik
bintik hitam atau bayangbayangan hitam sepeti garis –garis.
3. Mendeita fotopsia(sensasi kilatan cahaya) (Mumpuni D. y., 2016).
G. Penatalaksanaan Ablasio Retina
1. Terdapat dua tehnik beda untuk memperbaiki lepasnya retina, yaitu :
- Eksternal((pendekatan konvensional)
- Interna (pembedahan vitroretina)
2. Operasi ablasi retina dapat dikatakan berhasil apabila memenuhi dua
faktor berikut
- Keberhasilan anatomi, artinya retina dapat melekat kembali
- Keberhasilan funngsional,artinya penglihatan dapat kembali pulih.
(Mumpuni D. , 2016)
H. Konsep Dasar Keperawatan
Adapun konsep dasar keperawatan ablasio retina sebagai berikut.
1. Pengkajian
a. Riwayat
1) Riwayatpenyakit : trauma mata, riwayat inflamasi (koroiditis),
riwayat myopia dan retinitis.
2) Psikososial : kemampuan aktivitas, gangguan membaca, resiko
jatuh saat berkendaraan.
b. Pengkajian Umum
1) Usia
2) Gejalapenyakitsistematik : diabetes mellitus, hipotiroid.
3) Gejalapenyakitmata : nyeri mata, penurunan ketajaman
penglihatan.
c. PengkajianKhusus Mata
1) Fotopsia (seperti melihat halilintar kecil), terutama pada tempat
gelap ; merupakan keluhan dini ablasio retina.
2) Bayangan titik-titik pada penglihatan hingga terjadi kehilangan
penglihatan.
3) Kehilangan lapang pandang ; gambaran kehilangan penglihatan
menunjukkan kerusakan pada area yang berlawanan. Jika
kehilangan pada area inferior, kerusakan (ablasi) terjadi pada area
superior.
4) Sensasi mata tertutup (jika robekan luas)
5) Pemeriksaan fundus okuli dengan oftalmoskop didapatkan
gambaran tampak retina yang terlepas berwarna pucat dengan
pembuluh darah retina yang berkelok-kelok disertai atau tanpa
robekan retina.
2. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
a. Penurunan persepsi sensori : penglihatan yang berhubungan dengan
penurunan ketajaman dan kejelasan penglihatan.
1) Subjektif
a) Melaporkanadanyapenglihatansepertikilatancahaya.
b) Melaporkanpandangankabur.
c) Melaporkanpenurunanlapangpandang.
d) Menyatakanriwayat trauma.
2) Objektif
Pada pemeriksaan ditemukan penurunan lapang pandang.
Intervensi
1) Tujuan
Klien melaporkan kemampuan yang lebih baik untuk proses
rangsang penglihatan dan mengomunikasikan perubahan visual.
2) Kriteria Hasil
a) Klien mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
fungsi penglihatan.
b) Klien mengidentifikasi dan menunjukkan pola-pola
alternative untuk meningkatkan penerimaan rangsang
penglihatan.
3) Intervensi Keperawatan
a) Kaji ketajaman penglihatan klien.
R : Mengidentifikasi kemampuan visual klien.
b) Identifikasi alternative untuk optimalisasi sumber rangsangan.
R : Memberikan keakuratan penglihatan dan perawatannya.
c) Sesuaikan lingkungan untuk optimalisasi penglihatan :
- Orientasikan klien terhadap ruang rawat
- Letakkan alat yang sering digunakan didekat klien atau
pada sisi mata yang lebih sehat.
- Berikan pencahayaan cukup.
- Letakkan alat ditempat yang tetap.
- Hindari cahaya menyilaukan.
R : Meningkatkan kemampuan persepsi sensori.
d) Anjurkan penggunaan alternative rangsang lingkungan yang
dapat diterima auditorik, taktil.
R : Meningkatkan kemampuan respon terhadap stimulus
lingkungan.
b. Resiko perluasan cedera yang berhubungan dengan peningkatan
aktivitas, kurangnya pengetahuan.
1) Subjektif
Menyatakan pernah mengalami trauma.
2) Objektif :
Perilaku tubuh yang tidak dikontrol.
Intervensi
1) Tujuan
Kehilangan penglihatan tidak berlanjut.
2) Kriteria Hasil
a) Klien menyebutkan factor risiko meluasnya kehilangan
penglihatan.
b) Klien memeragakan penurunan aktivitas total.
3) Intervensi Keperawatan
a) Kaji lapang pandang klien pada mata yang sakit dan sehat
setiap hari.
R : Mengidentifikasi perkembangan kerusakan (pelepasan
retina).
b) Instruksikan klien untuk melakukan tirah baring total dengan
posisi khusus sesuai penyakit.
R : Tirah baring preoperasi dilakukan dalam posisi terlentang
atau miring, sesuai dengan lokasi kerusakan, dengan
mengusahakan rongga retina dalam posisi menggantung dan
salah satu atau kedua mata ditutup.
c) Terangkan pada klien untuk meminimalkan pergerakan,
menghindari pergerakan tiba-tiba, serta melindungi mata dari
cedera (terbentur benda).
R : Gerakan tiba-tiba dan trauma dapat memicu kerusakan
berlanjut. Alih baring diusahakan seminimal mungkin dan
posisi anjuran diusahakan sebagai posisi dominan.
d) Anjurkan klien untuk segera melaporkan pada petugas bila
terjadi gangguan lapang pandang yang meluas dengan tiba-
tiba.
R : Perluasan kehilangan lapang pandang secara massif
mungkin terjadi akibat perluasan pelepasan retina.
c. Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang
kejadian operasi.
1) Subjektif :
Menyatakantakut/khawatirdenganpenyakitnya.
2) Objektif :
Murung, menyendiri, ekspresiwajahtegang
Intervensi
1) Tujuan
Tidak terjadi kecemasan.
2) Kriteria hasil :
a) Klien mengungkapkan kecemasan minimal atau hilang.
b) Klien berpartisipasi dalam persiapan operasi.
3) Intervensi Keperawatan
a) Jelaskan gambaran kejadian pre- dan pascaoperasi, manfaat
operasi dan sikap yang harus dilakukan klien selama masa
operasi.
R : Meningkatkan pemahaman tentang gambaran operasi
untuk menurunkan ansietas.
b) Jawab pertanyaan khusus tentang pembedahan. Berikan
waktu untuk mengekspresikan perasaan. Informasikan bahwa
perbaikan penglihatan tidak terjadi secara langsung, tetapi
bertahap sesuai penurunan bengkak pada mata dan perbaikan
kornea. Perbaikan penglihatan memerlukan waktu enam
bulan atau lebih.
R : Meningkatkan kepercayaan dan kerjasama. Berbagi
perasaan membantu menurunkan ketegangan. Informasi
tentang perbaikan penglihatan bertahap diperlukan untuk
antisipasi depresi atau kekecewaan setelah faseoperasi dan
memberikan harapan akan hasil operasi.
BAB III

STUDY KASUS

A. Pengkajian
Pasien bernama Ny “F”, umur 35 tahun, pekerjaan IRT, agama islam dan
alamat Jl. Bromo datang di Rs. Islam Faisal. Pasien mengatakan 5 hari mata
kanan pasien mendadak buram, tidak merah dan tidak nyeri. Tidak ada riwayat
trauma sebelumnya. Pasien merasa pandangan menjadi gelap seperti ada rambut
atau asap berterbangan di matanya. Lama kelamaan semakin gelap hingga yang
kelihatan hanya pinggir sebelah kanan. Pasien tidak melihat ada kilatan cahaya
berulang. Tidak terdapat riwayat penglihatan kabur sesaat yang hilang timbul
sebelumnya. Pasien berobat kedokter mata lalu diperiksa dan dibilang ada
masalah di retina kanan dan perlu dioperasi. Pasien kemudian dirujuk ke RSCM.
Pasien menggunakan kacamata minus (-3 dioptri) di kedua mata sejak 10 tahun
lalu. Pasien tidak mengeluh ada gangguan pada mata sebelumnya. Riwayat
Hipertensi (+) sejak 10 tahun yang lalu, namun pasien tidak berobat teratur.
Riwayat Diabetes Mellitus disangkal. Hasil pemeriksaan lensa pasien keruh,
shadow test (+), pupil bulat, batas tegas, CDR 0,3,aa/vv=2/3 serta ablasio retina
(+) di superior temporal meluaske inferior temporal. Corrugated (+), Tear (+)
dan TD : 140/80 mmHg, nadi : 84 x/menit, nafas : 16 x/ menit 4.1.
ANALISA DATA

NO DATA ETIOLOGI MASALAH


1. Data Subjektif : Inflamasi intraokuler/tumor, Penurunan persepsi
1) Pengelihatan klien peningkatan cairan, sensori penglihatan
buram. perubahan degenaratif dalam yang berhubungan
2) Pasien viterus dengan penurunan
mengatakan ↓ ketajaman dan
pandangan Viterus menjadi makincair kejelasan penglihatan.
menjadi gelap ↓
seperti ada rambut Viterus kolap dan bengkak
atau asap ke depan
berterbangan di ↓
matanya. Lama Tarikan Retina
kelamaan semakin ↓
gelap hingga yang Terjadi ablasio retina
kelihatan hanya ↓
pinggir sebelah Sel-sel retina dan darah
kanan. retina terlepas
3) Pasientidakmelihat ↓
adakilatancahayab Retina terlepas dari epitel
erulang berpigmen
Data Objektif : ↓
1) Papil bulat, batas Penurunan tajam pandang
tegas, CDR 0,3, sentral
aa/vv = 2/3. ↓
2) Ablasio retina (+) Penurunan persepsi sensori
di superior penglihatan yang
temporal meluas berhubungan dengan
ke inferior penurunan ketajaman dan
temporal. kejelasan penglihatan.
3) Corrugated (+)
4) Tear (+)

2. Data subjektif : Inflamasi intraokuler/tumor, Resiko perluasan


1) Pasien peningkatan cairan, cedera yang
mengatakan 5 hari perubahan degenaratif dalam berhubungan dengan
mata kanan pasien viterus peningkatan aktivitas,
mendadak buram. ↓ kurangnya
2) Pasien merasa Viterus menjadi makin cair pengetahuan.
pandangan ↓
menjadi gelap Viterus kolap dan bengka
seperti ada rambut kedapan
atau asap ↓
berterbangan di Tarikan retina
matanya. Lama ↓
kelamaan semakin Resiko perluasan cedera
gelap hingga yang yang berhubungan dengan
kelihatan hanya peningkatan aktivitas,
pinggir sebelah kurangnya pengetahuan.
kanan.
3) Riwayat
Hipertensi (+)
sejak 10 tahun
yang lalu.
Data Objektif :
1) TD :140/80 mmHg
Nadi : 84 x/menit,
RR : 16 x/ menit
2) Lensa :Keruh, 3)
3) Shadow test (+)
B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan persepsi sensori penglihatan yang berhubungan dengan
penurunan ketajaman dan kejelasan penglihatan.
2. Resiko perluasan cedera yang berhubungan dengan peningkatan aktivitas,
kurangnya pengetahuan.
C. Intervensi

Diagnosa Tujuan dan Kriteria


No Intervensi (NIC)
Keperawaan Hasil (NOC)
1. Penurunan persepsi Tujuan / Kriteria Mandiri
sensori penglihatan Evaluasi : Perilaku 1) Pantau gejala dari semakin
yang berhubungan Kompensasi buruknya penglihatan.
dengan penurunan Penglihatan. 2) Gunakan pencahayaan yang
ketajaman dan cukup untuk aktivitas yang
kejelasan Indikator: sedang dilakukan.
penglihatan. 1) Mengompensasikan 3) Catat reaksi pasien terhadap
Defenisi : deficit sensori rusaknya penglihatan (misal,
Perubahan dalam dengan maksimalkan depresi, menarik diri dan
jumlah maupun pola indra yang tidak menolak kenyataan.
rangsangan yang rusak. 4) Menerima reaksi pasien
diterima yang terhadap rusaknya
disertai dengan penglihatan.
penyusutan, 5) Bantu pasien dalam
pelebihan, menetapkan tujuan yang baru
penyimpangan, atau untuk belajar bagaimana
gangguan tanggapan “melihat” dengan indera
terhadap rangsangan yang lain.
tersebut 6) Andalkan penglihatan pasien
yang tersisa sebagaimana
mestinya.
7) Berjalan satu dua langkah di
depan pasien, dengan siku
pasien berada di sikumu.
Kolaborasi
8) Rujuk pasien dengan masalah
penglihatan ke agen yang
sesuai.
9) Gunakan resep obat mata
dengan benar.
Pendidikan Kesehatan
10) Beri informasi bagi
keluarga/pasien pentingnya
menciptakan lingkungan
rumah yang aman bagi
pasiens
2. Resiko perluasan Resiko Cidera akan Mandiri
cedera yang menurun dibuktikan : 1) Ciptakan ingkungan yang
berhubungan dengan Perilaku keamanan nyaman bagi klien.
peningkatan personal, pengendalian 2) Identifikasi kebutuhan
aktivitas, kurangnya resiko dan lingkungan keamanan klien.
pengetahuan. rumah yang aman. 3) Pantau lingkungan yang
Definisi : Suatu Pengendalian Risiko membahayakan mata.
kondisi individu yang diperlihatkan 4) Gunakan penerangan yang
yang berisiko untuk oleh : cukup selama beraktivitas.
mengalami cedera 1) Memantau factor 5) Pindahkan benda-benda
berulang sebagai resiko perilaku berbahaya dari sekitar klien.
akibat dari kondisi individual dan 6) Pindahkan benda-benda
lingkungan yang lingkungan – berisiko dari lingkungan
berhubungan dengan Mengembangkan klien.
sumber-sumber strategis 7) Sediakan tempat tidur yang
adaptif dan pengendalian resiko nyaman dan bersih.
pertahanan yang efektif. 8) Posisikan tempat tidur agar
2) Menerapkan mudah terjangkau.
strategis 9) Kurangi stimulus lingkungan
pengendalian resiko Pendidikan Kesehatan
pilihan memodifikasi 10) Ajarkan klien bagaimana
gaya hidup untuk berpindah untuk
mengurangi resiko. meminimalisir trauma.
11) Ajarkan keluarga tentang
factor resiko yang
berkontribusi pada jatuh dan
bagaimana mengurangi
resiko jatuh.

D. Implemntasi dan Evaluasi (belum)


No Implementasi Evaluasi
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran