Anda di halaman 1dari 11

MUSKULOSKELETAL

a. Nama penyakit : osteoporosis


b. Prevalensi : lebih sering terjadi pada perempuan dengan usia lebih
dari 50 tahu
c. Etiologi : defisiensi estrogen, degeneratif
d. Faktor resiko :
- Umur
- Genetic
- Lingkungan
- Hormonal dan penyakit kronik
- Sifat fisik tulang
e. Gejala dan tanda :
- Nyeri pada bagian punggung yang terjadi secara perlahan-lahan selama beberapa
tahun atau yang terjadi secara tiba-tiba (misalnya setelah membungkuk)
- Pada kolaps vertebra, nyeri punggung dan nyeri yang menyebar di sekitar batang
tubuh yang diperburuk oleh setiap gerakan
- Dapat terjadi fraktur traumatik pada vertebra dan menyebabkan kifosis anguler yang
dapat menyebabkan medula spinalis tertekan sehingga dapat terjadi paraparesis
- Punuk Dowager (tanda klinis osteoporosis), disebabkan oleh peningkatan
kelengkungan tulang belakang akibat fraktur vertebra yang berulang
- Bertambah pendek
- Spasme otot, khususnya pada bagian lumbal
- Penurunan gerakan tulang belakang (fleksi lebih terbatas daripada ekstensi)
f. Pemeriksaan penunjang :
- Pemeriksaan laboratorium (turnover)
- Pemeriksaan radiologi
g. Diagnosis banding :
- Osteopenia
- Osteomalasia
- Osteodistrofi ginjal
h. Terapi :
- Hormone seks
- Biphosphonat
- Kalsitonin
- Kalsium dan vitamin D
- Kalsitriol
- Hormone paratiroid
i. Referensi :
- Hough, S., Ascott Evan B., Brown S., Cassim B., De Villiers T., Lipschitz S., et al.
NOFSA Guideline for the Diagnosis and Management of Osteoporosis. South Africa:
NOFSA; 2010
- Lane, Nancy E. Epidemiology, etiology, and diagnosis of osteoporosis. American
Journal of Obstetrics and Gynecology. 2006;194:S3–11
a. Nama penyakit : tenosynovitis supuratif
b. Prevalensi : wanita > laki-laki dengan usia 52-60 tahun
c. Etiologic : luka tusuk, laserasi yang memyebabkan kuman
staphylococcus masuk
d. Gejala dan tanda :
- Jari dalam posisi sedikit fleksi
- Bengkak dalam bentuk fusiform
- Neri tekan sepanjang flexor tendon sheath
- Nyeri pada saat dilakukan pasif fleksi jari
- Status immunokompromais
- Infeksi kronik
- Pemberian antibiotic segera
- Kondisi yang sangat dini
e. Pemeriksaan penunjang :
- Pemeriksaan laboratorium
- biopsi
f. Diagnosis banding :
- De quervain tenosynovitis
- Trigger finger
g. Terapi awal : antibiotic intravena
- Cefadroxil 1-2 gram IV tiap 6 atau 8 jam
- Klindamisin 600-900 mg IV tiap 8 jam
- Ampicilin surfaktan 1,5-3 gram IV tiap 8 jam
h. Referensi :
- Chaidir, MR. 1999. Tenosynovitis. Bandung: Bag/UPF Orthopedi & Traumatologi
FKUP/RSHS
HEMATOLOGI

a. Nama penyakit : limfadenopati


b. Prevalensi : laki-laki = perempuan
c. Etiologic : malignancies (keganasan), infections (infeksi),
autoimmune disorder (kelainan autoimun), miscellaneous and
unusual conditions (lain-lain dan kondisi tak lazim), dan iatrogenic causes (sebab-
sebab iatrogenik)
d. Faktor resiko : keganasan, AIDS, usia
e. Gejala : fatigue, demam, malaise, penurunan berat badan, keringat
malam,
f. Tanda : bilateral, dapat digerakkan,
t i d a k n ye r i d a n berbatas tegas
g. Pemeriksaan penunjang :
- Pemeriksaan laboratorium
- USG
- CT-Scan
- biopsi
h. Diagnosis banding :
- Scrofuloderma
- Tuberculuous lymphadenitis
- Infeksi Staphylococcus aureus / Streptococcus pyogenes
- Lymphoma
i. Terapi : pembedahan
j. Referensi :
- Soedarmo SSP, Garna H, Hadinegoro SRS, Satari HI. Buku Ajar Infeksi &
PediatriTropis Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit IDAI. 2008
- Roberts KB, Tunnessen WW. Lymphadenopathy. In: Signs and Symptoms in
Pediatrics. 3rd ed. Lippincott, Williams, and Wilkins; 1999:63-72
a. Nama penyakit : artritis rheumatoid
b. Prevalensi : lebih sering terjadi pada perempuan
c. Etiologic : autoimun
d. Faktor resiko :
- Genetic
- Hormone seks
- Infeksi
- Protein heat shock
e. Gejala dan tanda :
- Kekakuan pada pagi hari hilang dengan istirahat
- Kekakuan pada 3 sendi
- Simetris
- Rematoid nodul
- Rematoid faktor positif
- Perubahan gambar pada radiologi
- Krepitasi
- Deformasi
- Nyeri
f. Pemeriksaan penunjang :
- Pemeriksaan laboratorium
- MRI
g. Diagnosis banding :
- Gout
- Osteoarthritis
h. Terapi :
- Non farmakologi (istirahat, edukasi, latihan spesifik)
- Farmakologi (OAINS, glukokortikoid, DMARD)
i. Referensi :
- Braunwald, Eugene, et.al. 2012.18th Edition Harrison’s Principles of
Internal Medicine. United States of America: The McGraw-Hill Companies
- Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta : Erlangga
INTEGUMEN
a. Nama penyakit : akne vulgaris
b. Prevalensi : angka kejadian pada laki-laki dan perempuan sama
dengan usia 15-18 tahun
c. Etiologi :

- hiperproliferasi epidermis
- folikular
- produksi sebum yang berlebihan
- inflamasi
- aktivitas Propionibacterium acnes.
d. Faktor resiko :
- Genetic
- Diet
- Iklim dan lingkungan
- Pekerjaan
- Merokok
- Psikis
e. Gejala dan tanda :
- Akne komedonal
Grade 1: kurang dari 10 komedo di satu sisi muka
Grade 2: 10-25 komedo di satu sisi muka
Grade 3: 25-50 komedo di satu sisi muka
Grade 4: lebih dari 50 komedo di satu sisi muka
- Akne papulopustul
Grade 1: kurang dari 10 lesi meradang di satu sisi muka
Grade 2: 10-20 lesi yang meradang di satu sisi muka
Grade 3: 20-30 lesi yang merarang di satu sisi muka
Grade 4: lebih dari 30 lesi yang meradang di satu sisi muka
Klasifikasi Derajat Keparahan Akne Vulgaris menurut Lehmann
Derajat Kriteria

Akne vulgaris ringan Jumlah komedo tertutup dan komedo terbuka <20
buah/wajah, atau Jumlah lesi inflamasi (papul, nodul, pustul) <15 buah/wajah, atau Jumlah
total lesi (jumlah komedo dan lesi inflamasi) <30 buah/wajah
Akne vulgaris sedang Jumlah komedo tertutup dan komedo terbuka < 20-
100 buah/wajah, atau Jumlah lesi inflamasi (papul, nodul, pustul) < 15-50 buah/wajah,
atau Jumlah total lesi (jumlah komedo dan lesi inflamasi) < 30-125 buah/wajah
Akne vulgaris berat Jumlah kista >5 buah/wajah, Jumlah komedo tertutup dan
komedo terbuka >100 buah/wajah, atau Jumlah lesi inflamasi (papul, nodul, pustul) >50
buah/wajah, atau Jumlah total lesi (jumlah komedo dan lesi inflamasi) >125 buah/wajah

Sumber: Puguh Riyanto. 2015. Advantage of Soybean Isoflavon as Antiandrogen on


Acne Vulgaris.

AV ringan

AV sedang

AV berat
f. Pemeriksaan penunjang : disesuaikan dengan diagnosis bandingnya
g. Diagnosis banding :
- Rosasea
- Dermatitis perioral
- Erupsi akne iformis
- Folikulitis Gram negatif
h. Terapi :
- Derajat ringan
Hanya obat topikal tanpa obat oral.
Lini 1: asam retinoat 0,01-0,1% atau benzoil peroksida atau kombinasi. Ibu hamil
atau menyusui: benzoil peroksida
Lini 2: asam azelaik 20%
Lini 3: asam retinoat + benzoil peroksida atau asam retinoat + antibiotik topical
Evaluasi: setiap 6-8 minggu
- Derajat sedang (Obat topikal dan oral)
Lini 1: Topikal: asam retinoat + benzoil peroksida atau bila perlu antibiotik. Ibu
hamil/menyusui tetap benzoil peroksida.
Oral: doksisiklin 50-100 mg
Ibu hamil atau menyusui eritromisin 500-1000 mg/hari
Lini 2/3: Topikal: asam azelaik, asam salisilat (AS) atau kortikosteroid intralesi
(KIL), dapson gel
Oral: antibiotik lainnya
Ibu hamil/menyusui eritromisin 500-1000 mg/hari
Evaluasi setiap 6-8 minggu
Tambah kombinasi oral kontrasepsi atau spironolakton (untuk perempuan) atau oral
isotretinoin
- Derajat berat
Lini 1: Topikal: antibiotik. Ibu hamil/menyusui tetap benzoil peroksida
Oral : azitromisin pulse dose (hari pertama 500 mg dilanjutkan hari ke 2-4 250mg)
Ibu hamil: eritromisin 500-1000 mg/hari
Lini 2: Topikal: asam azelaik, asam salisilat, kortikosteroid intralesi Ibu
hamil/menyusui tetap benzoil peroksida
Oral
Wanita: anti androgen
Laki-laki: isotretinoin oral (Isotret O) 0,5-1 mg/kgBB/hari
Ibu hamil: eritromisin 500-1000 mg/hari
Lini 3: Topikal: asam azelaik, asam salisilat, kortikosteroid intralesi. Ibu
hamil/menyusui tetap benzoil peroksida.
Oral
Wanita: isotretinoin oral
Ibu hamil/menyusui: eritromisin 500-1000 mg/hari
Pemberian asam azelaik dan Isotretinoin oral harus mengikuti standar operasional
prosedur (SOP) masing-masing.
i. Referensi :
- PPK-PERDOSKI 2017
a. Nama penyakit : luka bakar derajat 3 &4
b. prevalensi : laki-laki = perempuan
c. etiologic : luka yang bersentuhan dengan suhu tinggi seperti api, listrik,
bahan kimia, radiasi, air panas
d. gejala dan tanda :
Luka Bakar Derajat Tiga
Meliputi nekrosis (kematian jaringan) yang mengenai seluruh lapisan kulit, termasuk seluruh
apendiks kulit.
1. Daerah yang terbakar terlihat berwarna putih
2. Kehilangan semua sensasi (mati rasa)
3. Hampir selalu terbentuk jaringan parut yang parah
Luka Bakar Derajat Empat
Dikenal sebagai karbonisasi, dimana seluruh jaringan terbakar dan menjadi arang. Terjadi
kerusakan total pada kulit dan jaringan subkutan, dan tulang juga mengalami karbonisasi baik
sebagian maupun keseluruhan.
e. terapi :
Penanganan awal (primary survey) pada pasien luka bakar, sebagai berikut:
a. Airway(5); membebaskan jalan napas, menilai adanya trauma inhalasi, dan melakukan
intubasi bila terdapat indikasi. Indikasi pemasangan intubasi pada luka bakar, yaitu
trauma inhalasi, stridor, luka bakar yang melingkari leher sehingga mengakibatkan
pembengkakan jaringan sekitar jalan napas.
b. Breathing(5); memberikan O2, mengenali dan mengatasi keracunan CO.
c. Circulation(5); memantau tekanan darah dan nadi, memasang kateter urin, memeriksa
sirkulasi perifer (Capillary Refill Time / CRT), dan memasang infus.
d. Disability(5); menilai GCS.
e. Environment(5); memadamkan sumber panas lalu merendam atau menyiram luka bakar
dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya 15 menit(7), melepaskan pakaian,
memeriksa luas luka bakar, memeriksa adanya trauma penyerta lain, dan menjaga agar
pasien tetap hangat(5).
Fluid(5); melakukan resusitasi cairan sesuai dengan luas luka bakar
f. referensi :
- Fred WE, Nicole SG. Burns in: Schwartz’s Principles Of Surgery. 9 th ed. McGraw-Hill. New
York. p 197-208.
- Surgery Medical Mini Notes: 2015. p 124-132.