Anda di halaman 1dari 100

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PRAKTIK RESIDENSI KEPERAWATAN


MEDIKAL BEDAH DENGAN PENDEKATAN
TEORI MODEL SELF CARE OREM PADA PASIEN
DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL
DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI JAKARTA

KARYA ILMIAH AKHIR

IQBAL D. HUSAIN
1006833786

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PENDIDIKAN SPESIALIS KEPERAWATAN
KEKHUSUSAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
DEPOK
JANUARI, 2014

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PRAKTIK RESIDENSI KEPERAWATAN


MEDIKAL BEDAH DENGAN PENDEKATAN
TEORI MODEL SELF CARE OREM PADA PASIEN
DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL
DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI JAKARTA

KARYA ILMIAH AKHIR


Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Ners Spesialis Keperawatan Medikal Bedah

OLEH
IQBAL D. HUSAIN
1006833786

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PENDIDIKAN SPESIALIS KEPERAWATAN
KEKHUSUSAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
DEPOK
JANUARI, 2014

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
PROGRAM SPESIALIS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA

Karya Ilmiah Akhir, Januari 2014

Iqbal D. Husain

Analisis Praktik Residensi Keperawatan Medikal Bedah dengan pendekatan Teori


Model Self Care Orem pada pasien dengan gangguan sistem muskuloskeletal di
Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta

xii + 56 halaman + 3 lampiran

Abstrak

Laporan ini bertujuan menganalisis pelaksanaan praktik tahap residensi


keperawatan di RSUP Fatmawati Jakarta dan RSO Prof. Soelarso Surakarta.
Sebagai pengelola pelayanan keperawatan, penulis melakukan asuhan
keperawatan pada pasien pasca bedah fraktur ekstremitas bawah dengan
menerapkan Teori Self care Orem. Laporan ini juga menganalisis pelaksanaan
praktik keperawatan berbasis bukti (Evidence Based Practice Nursing) melalui
intervensi keperawatan tehnik relaksasi Benson untuk menurunkan nyeri pasca
bedah fraktur ekstremitas bawah. Hasil yang didapatkan bahwa relaksasi Benson
efektif untuk menurunkan nyeri pasien pasca bedah fraktur ekstremitas bawah.
Sebagai innovator, penulis melakukan kegiatan inovasi berupa edukasi terstruktur
menggunakan bookleat. Kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan perawat di
ruangan praktik. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien pasca
bedah fraktur ekstremitas bawah, perawat harus memahami konsep dasar penyakit
dan melakukan intervensi berdasarkan pembuktian ilmiah. Hal ini dapat dilakukan
dengan melibatkan manajemen rumah sakit sebagai pengambil kebijakan.

Kata Kunci : pasca bedah fraktur ekstremitas bawah, Self Care Orem, nyeri,
relaksasi Benson, bookleat

Daftar pustaka : (1997-2011)

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


MEDICAL SURGICAL NURSING SPECIALIST PROGRAME
FACULTY OF NURSING UNIVERSITY OF INDONESIA

Final Scientific Report, January 2014

Iqbal D. Husain

Analysis of Medical Surgical Nursing Practice Residency approach Orem Self


Care Model Theory in patients with disorders of the musculoskeletal system in
Fatmawati General Hospital Jakarta

xii + 56 pages + 3 appendices

Abstract

This report aims to analyze the implementation of nursing practice residency stage
in Fatmawati General Hospital Jakarta and RSO Prof. Soelarso Surakarta. As a
manager of nursing services, the authors conducted a nursing care in patients with
post-surgical lower limb fractures by applying the theory of Orem self care. The
report also analyzes the implementation of evidence-based nursing practice
through nursing interventions Benson relaxation techniques to reduce
postoperative pain lower extremity fractures. The results showed that the
relaxation Benson effective in reducing postoperative pain lower extremity
fractures. As an innovator, author of innovation activities in the form of structured
education using bookleat. This activity was carried out together with the nurses in
the practice room. In implementing nursing care in patients with post-surgical
lower limb fractures, nurses must understand the basic concepts of disease and
interventions based on scientific evidence. This can be done by involving hospital
management as policy makers.

Keywords : post surgical lower limb fractures, Self Care Orem, pain, Benson
relaxation, bookleat

References : (1997-2011)

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT Yang Maha Kuasa karena
hanya dengan rahmat dan karunia-Nya penyusunan Laporan Karya Ilmiah Akhir
dengan judul “Analisis praktik residensi Keperawatan Medikal Bedah pada pasien
dengan gangguan sistem muskuloskeletal dengan pendekatan Teori Self Care
Orem di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta” dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa Laporan Karya Ilmiah Akhir ini dapat terselesaikan atas
bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Dewi Irawaty, M.A, PhD, selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia.
2. Astuti Yuni Nursasi, S.Kp, MN, selaku Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu
Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
3. Agung Waluyo, S.Kp, M.Sc, PhD, selaku Supervisor Utama yang telah
membimbing dan mengarahkan penulis pada penyusunan Karya Ilmiah Akhir
ini.
4. Masfuri, S.Kp, MN, selaku Supervisor yang memberikan masukan, bimbingan
serta arahan kepada penulis dalam menyusun Karya Ilmiah Akhir ini.
5. Ns. Umi Aisyiyah S.Kep., M.Kep., Sp.KMB, selaku Supervisor klinik yang
telah banyak memfasilitasi penulis dalam pelaksanaan praktik residensi serta
membimbing penulisan Karya Ilmiah Akhir ini.
6. Seluruh staf pendidik dan tenaga kependidikan Program Ners Spesialis Ilmu
Keperawatan terutama Kelompok Keilmuan Keperawatan Medikal Bedah yang
telah membantu penulis.
7. Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta dan seluruh staf yang
telah memberikan kesempatan dan memfasilitasi penulis dalam proses
pelaksanaan praktik residensi spesialis keperawatan.
8. Direktur Rumah Sakit Ortopedi Prof. Soeharso Surakarta Jawa Tengah dan
seluruh staf yang telah memberikan kesempatan kepada penulis dalam
pelaksanaan proses praktik residensi spesialis keperawatan.

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


9. Seluruh rekan sejawat perawat dan tim di Gedung Prof. Soelarto RSUP
Fatmawati Jakarta khususnya Lantai I dan Lantai IV yang telah memberikan
kesempatan dan bekerjasama dalam meningkatkan kompetensi keperawatan
muskuloskeletal.
10. Seluruh rekan-rekan mahasiswa Program Spesialis Keperawatan terutama
Kekhususan Keperawatan Medikal Bedah Angkatan Genap 2012, terutama
yang telah memberikan dukungan dan semangat bagi penulis.
11. Orang tua dan keluarga tercinta yang selalu memberikan dukungan dan do’a
bagi penulis dalam menyelesaikan penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini.

Semoga semua bantuan dan dukungan yang telah diberikan oleh berbagai pihak
kepada penulis mendapat balasan dari ALLAH SWT dan dicatat sebagai amal
kebaikan.

Depok, Januari 2014


Penulis,

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL ............................................................................... i
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ....................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................... iii
LEMBAR PENGESAHAN ..................................................................... iv
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI .............................................. v
ABSTRAK .............................................................................................. vi
ABSTRACT .............................................................................................. vii
KATA PENGANTAR ............................................................................. viii
DAFTAR ISI ........................................................................................... ix

BAB 1 : PENDAHULUAN ................................................................... 1


1.1 Latar belakang ............................................................................. 1
1.2 Tujuan penulisan ......................................................................... 7
1.3 Manfaat penulisan ....................................................................... 7

BAB 2 : TINJAUAN TEORI ............................................................... 9


2.1 Konsep dasar fraktur .................................................................... 9
2.2 Asuhan keperawatan pasien pasca bedah fraktur ......................... 13
2.3 Konsep dasar Teori Keperawatan Orem ..................................... 16
2.4 Penerapan Teori Self Care pada fraktur ....................................... 20

BAB 3 : ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL ............... 24
3.1 Deskripsi kasus ............................................................................. 24
3.2 Penerapan proses keperawatan dengan pendekatan teori Orem .. 25
3.3 Pembahasan kasus ........................................................................ 34
3.4 Analisa kasus resume ................................................................... 37

BAB 4 : ANALISIS PRAKTEK KEPERAWATAN BERBASIS


BUKTI ..................................................................................... 43
4.1 Analisis masalah ........................................................................... 43
4.2 Critical review .............................................................................. 46
4.3 Praktek keperawatan berbasis bukti ............................................. 48
4.4 Pembahasan .................................................................................. 50

BAB 5 : ANALISIS PERAN PERAWAT SEBAGAI INOVATOR . 53


5.1 Analisis situasi ............................................................................. 53
5.2 Kegiatan inovasi ........................................................................... 55
5.3 Pembahasan .................................................................................. 56

BAB 6 : SIMPULAN DAN SARAN .................................................... 59


6.1 Simpulan ...................................................................................... 59
6.2 Saran ............................................................................................. 60

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. x
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................... xi
LAMPIRAN ............................................................................................ xii

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


BAB 1
PENDAHULUAN

Pada bab ini, akan diuraikan latar belakang penyusunan laporan analisis praktek
meliputi seluruh proses kegiatan yang dilakukan selama tahap residensi
keperawatan. Selain itu juga diuraikan pula tujuan dan manfaat penyusunan
laporan analisis praktik residensi keperawatan.

1.1 Latar Belakang


Laporan analisis praktik ini adalah laporan dan analisis pelaksanaan praktik
residensi yang dilaksanakan oleh penulis pada tahap residensi keperawatan.
Laporan ini disusun untuk menganalisis pengalaman penulis dalam
melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien pasca bedah fraktur ekstremitas
bawah melalui aplikasi dan penerapan salah satu teori keperawatan. Selain itu,
laporan ini juga menganalisis kegiatan praktik keperawatan berdasarkan
pembuktian (Evidence Based Nursing Practice) dan analisis pelaksanaan
kegiatan inovasi keperawatan. Secara keseluruhan praktik residensi ini
berlangsung selama 2 (dua) semester dan dilaksanakan di dua rumah sakit yaitu
di Ruang Ortopedi RSUP Fatmawati Jakarta dan RS Ortopedi Prof. Dr. Soeharso
Surakarta.

Gangguan sistem muskuloskeletal yang paling banyak ditemukan pada saat


praktik residensi adalah trauma berupa fraktur pada bagian ekstremitas bawah.
WHO merilis bahwa pada tahun 2010 insiden terjadinya fraktur didunia sekitar
21 juta orang dengan angka prevalensi sebanyak 3,5%. Sementara, tahun 2012
WHO mendata prosentase angka kejadian fraktur pada femur, patella, tibia, dan
fibula berada lebih tinggi dari fraktur yang lainnya. Selain itu, WHO juga
mencatat dalam 2 tahun terakhir menunjukkan bahwa di Indonesia kecelakaan
lalu lintas merupakan pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan TBC.
Hampir setiap hari kecelakaan lalu lintas baik sepeda motor maupun mobil
mengakibatkan korban meninggal dunia, luka berat, dan luka ringan. Salah satu

1 Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
2

akibatnya adalah terjadinya fraktur. Selain itu, WHO (2011) juga mendata
bahwa 67% kecelakaan lalu lintas terjadi pada usia produktif antara 22-50 tahun.

Kementerian Kesehatan RI melalui Survey Kesehatan Nasional tahun 2010


mencatat bahwa angka prevalensi kasus fraktur secara nasional tahun 2008
sekitar 27,7%. Angka ini meningkat khususnya pada laki-laki dimana tahun
2009 sekitar 51,2% dibandingkan pada tahun 2010 sebesar 54,5%. Sedangkan
pada wanita, angka ini menurun yakni 2% pada tahun 2009 dan di tahun 2010
sebesar 1,2%. Hasil pengamatan dan data penulis selama praktik residensi selang
bulan Februari sampai November 2013 di RSUP Fatmawati Jakarta khusus di
Lantai I GPS dengan kapasitas 25 TT, pasien terbanyak yang dirawat adalah
fraktur extremitas dengan lama rawat pasien pasca bedah rata rata 4-5 hari.
Adapun jenis kasus terbanyak adalah fraktur femur dengan prosentase 45%,
fraktur tibia dan fibula sebesar 35%, fraktur humerus, radialis dan ulnaris
sebesar 15% dan sisanya adalah fraktur patologis. Dari jumlah tersebut,
penyebab fraktur terbanyak adalah akibat kecelakaan lalu lintas.

Sementara itu, data Rekam Medik RS Orthopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta
mencatat jumlah kunjungan setiap hari yang menjalani operasi karena fraktur
mencapai ±800 pasien dengan prosentase sekitar 35-40% setiap bulannya dan
diperkirakan jumlah kunjungan setiap tahunnya mencapai lima ribu sampai tujuh
ribu pasien. Dari jumlah tersebut, 73% disebabkan oleh trauma akibat
kecelakaan dengan masalah pada tulang dan persendian extremitas bawah.

Penanganan fraktur dapat dilakukan melalui dua cara yaitu dilakukan dengan
cara pembedahan dan dilakukan secara konservatif atau tanpa pembedahan.
Dalam penanganan fraktur, perawat memegang peranan sangat penting pada
kedua tindakan tersebut. Berdasarkan temuan yang diperoleh selama
pelaksanaan praktik residensi, 85-90% penanganan fraktur ekstremitas bawah
dilakukan tindakan pembedahan berupa reduksi baik secara internal (ORIF)
maupun secara eksternal (OREF).

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
3

Salah satu dampak yang terjadi karena trauma akibat pembedahan pada tulang,
jaringan otot, dan sendi akan menyebabkan nyeri yang cukup signifikan. Hal ini
sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Morris, Benneti, Marro, & Rosenthal,
(2010) dimana nyeri cukup berkontribusi terhadap aktivitas pasca bedah dengan
menggunakan skala 0 sampai 10, maka nyeri pasca bedah ortopedi berada pada
skala 4,7 walaupan dengan pemberian analgetika. Berdasarkan pengalaman
penulis dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien pasca bedah fraktur
ekstremitas bawah, masalah yang sering ditemukan antara lain manajemen
pengelolaan nyeri yang belum dilakukan secara efektif sehingga mengakibatkan
ambulasi dini menjadi terhambat, waktu pemulihan menjadi lebih panjang, dan
perencanaan pulang juga akan terhambat. Selain efek tersebut, pasien mengalami
keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan self care.

Nyeri merupakan kondisi perasaan yang tidak menyenangkan, bersifat sangat


subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang. Nyeri adalah salah
satu tanda vital yang memiliki dampak fisiologik dan psikologik yang cukup
luas serta mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Secara fisik, nyeri yang
terjadi akan berdampak pada seluruh sistem tubuh. Pasien dengan nyeri
cenderung untuk immobilisasi karena ketakutan dan ketidakmampuan bergerak,
sehingga akan menyebabkan stasis cairan paru dan kemudian menyebabkan
pneumonia hipostatik. Efek lainnya akibat immobilisasi berupa penurunan
motilitas intestinal sehingga pasien mengalami konstipasi. Selain itu, hal lain
yang terjadi berupa adanya spasme otot dan peningkatan sensitivitas nosiseptor
perifer. Kedua hal ini akan meningkatkan tonus simpatik, sehingga bila terjadi
overaktivitas simpatik keadaan ini akan menjadi suatu lingkaran setan yang
saling memperkuat satu sama lain. Tonus otot dan peningkatan sensitivitas akan
memperberat nyeri dan juga sebaliknya nyeri akan semakin meningkatkan
overaktivitas simpatik. Secara psikologis, nyeri akan berpengaruh terhadap
kecemasan, dimana kecemasan yang berkepanjangan akan menyebabkan depresi
sehingga pasien kekurangan tidur. Pada pasien yang kekurangan tidur akan
menyebabkan ambang nyeri menurun dan pasien semakin nyeri dan cemas.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
4

Pada kondisi pasca bedah atau trauma muskuloskeletal, pengelolaan nyeri akut
merupakan suatu kebutuhan. Oleh karena itu, perawat memiliki tanggung jawab
untuk mempromosikan manajemen nyeri yang adekuat dan menyadari bahwa
kebutuhan kenyamanan ini sangatlah penting bagi seorang pasien. Hal ini dapat
dilakukan berkaitan dengan fungsi independensi seorang pasien, kembalinya
aktivitas hidup sehari-hari, dan rehabilitasi akibat trauma pasca bedah
muskuloskeletal yang tidak disertai komplikasi.

Intervensi nonfarmakologis yang dapat dilakukan oleh perawat dalam mengelola


manajemen nyeri pada pasien pasca bedah fraktur ekstremitas bawah antara lain
tehnik relaksasi. Menurut Schaffer & Yucha, (2004); Seers, Chrichton, Tutton,
Smith, Saunders, (2008), tehnik relaksasi semakin banyak disarankan sebagai
tehnik kontrol nyeri yang dapat digunakan oleh perawat dalam prakteknya
sehari-hari. Selain itu, tehnik relaksasi merupakan strategi koping dan dapat
membantu pasien untuk mengontrol rasa nyerinya (Roykulcharoen & Good,
2004).

Salah satu tehnik relaksasi yang digunakan untuk mengurangi nyeri pasca bedah
adalah relaksasi Benson. Relaksasi Benson merupakan relaksasi yang bersifat
pasif dimana pasien tidak menggunakan tegangan otot sehingga sangat tepat
untuk mengurangi nyeri pasca bedah fraktur ekstremitas bawah. Hal ini
disebabkan karena tegangan otot akan meningkatkan rasa nyeri. Selain itu,
relaksasi Benson merupakan pengembangan metode relaksasi yang melibatkan
keyakinan pasien, dan dapat menciptakan lingkungan internal sehingga
membantu pasien untuk mencapai kondisi kesehatan yang lebih tinggi (Benson
& Proctor, 2000 dalam Datak, 2008). Relaksasi Benson juga termasuk salah satu
terapi alternatif dan komplementer yang dikembangkan oleh National Center for
Complementary and Alternative Medice (NCCAM) (Cushman & Hoffman, 2004,
dalam Suardana , 2007, dalam Datak, 2008).

Dalam perannya sebagai seorang peneliti, penulis menerapkan asuhan


keperawatan berdasarkan pembuktian atau Evidence Based Nursing Practice

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
5

berupa penggunaan tehnik relaksasi Benson dalam menurunkan nyeri pasca


bedah fraktur ekstremitas bawah. Intervensi ini dilakukan karena nyeri pada
pasien pasca pembedahan ortopedi merupakan gejala yang paling umum dan
harus dievaluasi secara cermat.

Hasil penelitian yang dibuat oleh Masoumeh, Mohamad, & Masoud, (2006)
dengan judul “The effect of Benson Relaxation Techniques on Rhematoid
Arthritis Patients” menggambarkan bahwa tehnik relaksasi Benson sangat
efektif untuk mereduksi nyeri pada pasien rematoid artritis. Hasil penelitian
lainnya yang dilakukan oleh Levin, Malloy & Hyman, (1987) dengan judul
“Nursing management of postoperative pain: use of relaxation techniques with
female cholecystectomy patients” menunjukkan bahwa relaksasi Benson dapat
mengurangi distress dan sensasi nyeri pasca bedah abdominal (cholecystectomy)
pada wanita secara signifikan. Selain itu, hasil penelitian lainnya yang dilakukan
oleh Datak, (2008) menunjukkan bahwa kombinasi Relaksasi Benson dan terapi
analgesik lebih efektif untuk menurunkan rasa nyeri pasca bedah pada pasien
TUR Prostat dibandingkan hanya terapi analgesik saja.

Penerapan relaksasi Benson dapat dilakukan modifikasi sesuai kebutuhan


mengingat tehnik relaksasi Benson ini merupakan intervensi keperawatan
mandiri. Tehnik relaksasi Benson dilakukan dengan melibatkan faktor keyakinan
dimana pasien dilakukan relaksasi dengan mengulang kata ataupun kalimat yang
disesuaikan dengan keyakinan. Dalam penerapannya, relaksasi ini dapat
dilakukan dengan atau tanpa pemberian analgetika. Selain itu, dapat dilakukan
setiap saat tanpa bantuan.

Konsep relaksasi merupakan bagian dari pengembangan “Self Care theory” yang
dikemukakan oleh Orem, dimana perawat dapat membantu kebutuhan self care
pasien dan berperan sebagai supportive-educative sehingga pasien dapat
menggunakan relaksasi untuk mengurangi rasa nyeri pasca bedah (Tommey &
Alligood, 2006). Oleh sebab itu, pada pelaksanaan praktik residensi ini, penulis
mengaplikasikan suatu teori sebagai landasan untuk memberikan asuhan

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
6

keperawatan yaitu teori self care Orem. Menurut teori ini, seorang pemberi
asuhan memberikan pengajaran kepada individu agar tidak tergantung kepada
orang lain. Namun, pemberi asuhan diharapkan dapat memberikan latihan secara
bertahap agar pasien dapat memenuhi kebutuhan perawatan dirinya demi
mempertahankan kesehatan.

Dalam perannya sebagai inovator, penulis bersama anggota kelompok lainnya


membuat suatu proyek inovasi edukasi terstruktur berupa pembuatan bookleat
yang berisi penatalaksanaan nyeri, pencegahan konstipasi, pencegahan dekubitus
dan pencegahan jatuh di Ruang lantai 1 Gedung Prof. Soelarto RSUP Fatmawati
Jakarta. Hal ini dilakukan sebagai suatu upaya dalam meningkatkan capaian
hasil belajar klien/keluarga melalui modifikasi proses edukasi klinik yang
disertai pemberian media informasi tambahan (bookleat) yang nantinya bisa
dijadikan alat untuk mengulang kembali pemahaman klien/keluarga mengenai
isi pembelajaran (Chambers, 2000).

Cruwick, Bonauto, & Cohen (2002) mengungkapkan bahwa pemberian edukasi


terhadap klien yang dilakukan secara verbal (face to face) dan menggunakan
bookleat terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, kepercayaan dan
kemampuan praktik klien. Inovasi ini juga memberi arahan dan memudahkan
para klinisi untuk membangun pengetahuan, sikap dan kemampuan keluarga dan
klien sehingga dapat mendukung upaya intervensi keperawatan terutama pada
penatalaksanaan nyeri, pencegahan konstipasi, pencegahan dekubitus dan
pencegahan jatuh. Proyek inovasi ini dibuat berdasarkan kebutuhan ruangan agar
perawat ortopedi mampu meminimalisir masalah yang terjadi di ruang
perawatan. Selain itu, penulis berkeyakinan bahwa pembuatan proyek inovasi
keperawatan ini dapat meningkatkan profesionalisme perawat melalui dukungan
dari manajemen RSUP Fatmawati Jakarta.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis ingin mengkaji lebih lanjut melalui


“Analisis praktik residensi keperawatan Medikal Bedah : Penerapan teori Self

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
7

Care Orem pada pasien pasca bedah fraktur ekstremitas bawah di Rumah Sakit
Umum Pusat Fatmawati Jakarta”

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Memberikan gambaran umum terhadap pelaksanaan dan pengalaman praktik
residensi Ners Spesialis Keperawatan Medikal Bedah, khususnya peminatan
Muskuloskeletal dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien pasca
bedah fraktur ekstremitas bawah melalui pendekatan teori keperawatan Self
Care Orem di Lantai 1 Gedung Prof. Soelarto Rumah Sakit Umum Pusat
Fatmawati Jakarta.
1.2.2 Tujuan Khusus
1.2.2.1 Melakukan analisis terhadap penerapan asuhan keperawatan
menggunakan Teori Model Self Care Orem pada pasien pasca bedah
fraktur ekstremitas bawah di Lantai 1 Gedung Prof. Soelarto Rumah
Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta.
1.2.2.2 Melakukan analisis terhadap penerapan evidence based nursing pada
pasien pasca bedah fraktur ekstremitas bawah di Lantai 1 Gedung
Prof. Soelarto Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta.
1.2.2.3 Melakukan analisis terhadap kegiatan inovasi keperawatan pasien
dengan gangguan sistem musculoskeletal di Lantai 1 Gedung Prof.
Soelarto Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta.

1.3 Manfaat Penulisan


1.3.1 Bagi pelayanan keperawatan
a. Dapat memberikan manfaat sebagai pertimbangan dalam pemberian
asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien pasca bedah fraktur
ekstremitas bawah melalui pendekatan teori Model Self Care Orem.
b. Dapat meningkatkan keinginan perawat untuk memanfaatkan penelitian
sebagai dasar pengambilan keputusan klinik dalam pelaksanaan intervensi
keperawatan pada pasien pasca bedah fraktur ekstremitas bawah
berdasarkan Evidence Based Nursing Practice.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
8

1.3.2 Bagi perkembangan ilmu keperawatan


Dapat menambah wawasan keilmuan keperawatan medikal bedah terhadap
aktualisasi peran perawat sebagai pemberi layanan, researcher, innovator,
dan edukator dalam pengelolaan asuhan keperawatan khususnya pada pasien
pasca bedah fraktur ekstremitas bawah.

1.3.3 Bagi pendidikan ilmu keperawatan


Dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kurikulum pembelajaran
demi peningkatan kualitas asuhan keperawatan pada pasien pasca bedah
fraktur ekstremitas bawah melalui pengembangan terapi modalitas
keperawatan berdasarkan evidence based practice.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
BAB 2
TINJAUAN TEORI

Pada bab ini akan diuraikan beberapa konsep terkait dalam penyusunan laporan
analisis praktik residensi keperawatan. Diantaranya menguraikan tentang konsep
dasar fraktur, konsep asuhan keperawatan pasien pasca bedah fraktur, konsep
dasar teori keperawatan Self care Orem serta penerapan teori self care Orem pada
pasien pasca bedah fraktur.

2.1 Konsep dasar fraktur

2.1.1 Definisi

Menurut Apley (2000), fraktur adalah suatu retakan kontinuitas struktur tulang
dimana kondisi ini terjadi mungkin lebih dari satu retakan. Sedangkan menurut
Reeves, Roux, dan Lockhart (2001) fraktur adalah suatu peristiwa retak atau
patahnya suatu tulang yang utuh. Sementara itu, Smeltzer dan Bare (2010) juga
mengemukakan bahwa fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang
ditentukan berdasarkan jenis dan luasnya.

Fraktur ekstremitas bawah adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau


tulang rawan yang terjadi pada ekstremitas bawah yang secara umum disebabkan
oleh ruda paksa dan terjadi pada ekstremitas bawah sehingga menyebabkan
fraktur pada tulang femur, tulang patella, tibia, dan fibula (Sjamsuhidayat & Jong,
2005)

Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa fraktur ekstremitas bawah


merupakan peristiwa putusnya kontinuitas tulang baik sebagian maupun seluruh
jaringan tulang yang terjadi pada ekstremitas bawah. Peristiwa ini tidak hanya
berdampak pada tulang, tetapi dapat mengenai jaringan sekitar seperti pembuluh
darah, sendi, dan otot.

2.1.2 Etiologi
Fraktur dapat disebabkan oleh :

9 Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
10

a. Peristiwa trauma
Trauma langsung menyebabkan fraktur pada titik terjadinya trauma seperti
tulang kaki terbentur bumper mobil maka tulang mengalami patah tepat pada
lokasi benturan. Trauma tidak langsung terjadi bila fraktur berada pada lokasi
yang jauh dari trauma dan kemungkinan kerusakan pada jaringan lunak diarea
fraktur tidak terjadi.
b. Fraktur kelelahan atau tekanan
Kondisi ini sering terjadi pada tibia atau fibula atau metatarsal, terutama pada
olahragawan, penari, dan calon militer yang berlatih baris berbaris dengan
jarak yang jauh.
c. Fraktur patologik
kondisi ini terjadi akibat tekanan normal bila tulang itu lemah (seperti oleh
tumor) atau kondisi tulang yang rapuh (pada penyakit Paget). Adanya
pemuntiran mengakibatkan terjadinya fraktur spiral. Pada trauma tidak
langsung, salah satu fragmen tulang akan menembus kulit sedangkan pada
cedera langsung menembus dan merobek kulit diarea fraktur. Penyebab yang
sering adalah kecelakaan sepeda motor.

2.1.3 Tanda dan gejala klinik


Menurut Smeltzer dan Bare (2010), secara umum gejala klinis fraktur antara lain :
a. Nyeri terus menerus, dimana akan meningkat skalanya bila bergerak dan
berkurang bila diistirahatkan.
b. Hilangnya fungsi, dimana bagian yang fraktur tidak dapat digunakan.
c. Deformitas, diakibatkan karena pergeseran fragmen tulang.
d. Adanya krepitasi, berupa suara derik akibat gesekan antar fragmen tulang.
e. Bengkak dan perubahan warna kulit sekitar yang terjadi karena adanya trauma
dan perdarahan yang menyertai fraktur.

2.1.4 Penatalaksanaan fraktur


Apley (2000) menguraikan ada 4 prinsip penatalaksanaan fraktur yang dikenal
dengan 4 R. yaitu :

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
11

a. Rekognisi merupakan teknik bagaimana mendiagnosis, dan melakukan


penilaian terhadap fraktur.
b. Reduksi merupakan cara untuk restorasi fragmen tulang yang fraktur sehingga
diperoleh posisi yang sesuai. Pada fraktur yang terjadi pada intra-artikuler
diperlukan reduksi secara anatomis dan bertujuan untuk mengembalikan fungsi
normal, mencegah komplikasi antara lain deformitas, kekakuan, deformitas,
dan gangguan sendi.
c. Retensi merupakan cara mengimmobilisasi daerah yang mengalami fraktur
bertujuan untuk mempertahankan kesejajaran fragmen tulang.
d. Rehabilitasi merupakan program yang bertujuan untuk memperbaiki kembali
aktivitas fungsional pasien secara penuh dan maksimal.
Smeltzer dan Bare (2010) menguraikan terapi pembedahan ortopedi meliputi :
a. Reduksi tertutup merupakan tindakan pembedahan yang dilakukan dengan
mengembalikan fragmen tulang yang patah ke posisi semula dengan traksi
maupun gips agar ujung tulang yang mengalami fraktur saling berhubungan.
b. Reduksi terbuka merupakan tindakan pembedahan dengan melakukan reduksi
dengan cara diseksi terlebih dulu dengan tujuan untuk mensejajarkan tulang
yang patah. Reduksi terbuka dapat dilakukan baik dengan fiksasi internal atau
fiksasi eksternal.

2.1.5 Tindakan pembedahan ORIF


Menurut Maher, Salmon, dan Pellino (2002) pasien yang mengalami gangguan
sistem muskuloskeletal sebagian besar dilakukan pembedahan. Tujuannya antara
lain untuk memperbaiki fungsi, menurunkan nyeri, stabilisasi, dan menghindari
disabilitas. Salah satu tindakan pembedahan yang dilakukan pada pasien yang
mengalami fraktur adalah reduksi terbuka melalui fiksasi interna (ORIF : Open
Reduction Internal Fixation). Tindakan pembedahan ini bertujuan untuk
mensejajarkan tulang yang patah dan memakai alat sharing stress seperti screw,
plate, pin, nail, Kirschner Wire (K-Wire). Atau dapat juga dengan
mengkombinasikan dua atau lebih alat-alat tersebut.

Maher, Salmon, dan Pellino (2002) menjelaskan bahwa beberapa kelebihan dari
tindakan ini antara lain merupakan stabilisasi reduksi tertinggi, reduksi lebih

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
12

akurat, pengkajiann terhadap neurovaskuler lebih mudah, penggunaan alat


mobilisasi eksternal sedikit, proses penyatuan sendi disekitar area yang patah
menjadi cepat, perawatan yang tidak terlalu lama sehingga pemulihan menjadi
cepat.

2.1.6 Komplikasi
Adapun komplikasi fraktur secara umum terdiri atas komplikasi awal dan
komplikasi lanjut (Smeltzer & Bare, 2010 ; Black & Hawks, 2009).
a. Komplikasi awal, dimana masalah ini terjadi segera setelah terjadi fraktur.
Biasanya yang terjadi antara lain : syok, sindrom kompartemen, kerusakan
arteri, infeksi, avaskular nekrosis, sindrom emboli lemak. Kondisi ini harus
ditangani secepatnya karena akan mengakibatkan hilangnya fungsi ekstremitas
bahkan menyebabkan kematian.
b. Komplikasi lanjut, dimana kondisi ini terjadi setelah beberapa minggu, bulan
atau tahun setelah fraktur. Biasanya yang terjadi berupa gangguan penyatuan
tulang (mal union, non union, delayed union), pada sendi berupa kaku sendi
atau penyakit degeneratif sendi pasca trauma, serta komplikasi di otot berupa
atrofi otot atau rupture tendon, dan pada syaraf seperti fibrosis intraneural.

2.1.7 Tahap penyembuhan tulang


Menurut Apley (2000); Price & Wilson, (2006); Black, (2009); Smeltzer & Bare,
(2010), tahap penyembuhan tulang terdiri dari 5 fase :
a. Fase inflamasi, dimana pada fase ini tubuh berespon terhadap trauma dimana
pada daerah tulang yang patah ditandai dengan perdarahan dan hematoma.
Pada fase ini, terjadi pengurangan vaskularisasi pada ujung dari fragmen tulang
yang patah. Hal ini menyebabkan makrofag menginvasi daerah tulang yang
mengalami cedera dengan cara membersihkan area tersebut dari benda asing.
Proses inflamasi ini akan berlangsung selama beberapa hari.
b. Fase proliferasi sel, dimana pada fase ini hematoma yang terjadi akan
mengalami organisasi. Hal ini ditandai dengan adanya pembentukan jaringan
baru untuk revaskularisasi yang diawali dengan pembentukan benang-benang
fibrin pada darah, serta invasi fibroblast dan osteoblas. Fibroblast dan

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
13

osteoblast yang berkembang dari osteosit, sel endostel, dan sel periosteum
selanjutnya akan membentuk kolagen dan proteoglikan sebagai matriks
kolagen pada daerah tulang yang patah. Selain itu, terbentuk pula jaringan ikat
fibrus dan tulang rawan (osteoid). Dari periosteum tersebut, akan terlihat
pertumbuhan melingkar, dimana kallus tulang rawan akan dirangsang oleh
pergerakan mikrominimal pada area tulang yang patah. Akan tetapi, bila
gerakannya yang berlebihan akan mengakibatkan struktur kalus mengalami
kerusakan. Sementara itu, tulang yang sedang tumbuh aktif akan
memperlihatkan potensial elektronegatif. Fase ini akan berlangsung selama
lima hari setelah fase inflamasi.
c. Fase pembentukan kallus. Pada fase ini, pertumbuhan jaringan berlanjut dan
pertumbuhan lingkaran tulang rawan mencapai sisi lain sampai celahnya sudah
terhubung. Fragmen tulang yang patah bergabung dengan jaringan fibrus,
tulang rawan dan tulang serat immatur. Waktu yang dibutuhkan untuk
penggabungan fragmen tulang sekitar 3-4 minggu.
d. Fase penulangan kalus (ossifikasi), pada fase ini, kallus yang terbentuk mulai
mengalami penulangan yang ditandai dengan proses penulangan endokondrial
pada tulang yang patah dalam 2-3 minggu. Pada fase ini, terjadi penimbunan
mineral secara terus menerus sampai tulang tersebut bersatu. Pada orang
dewasa normal yang mengalami patah tulang panjang, proses penulangan
membutuhkan waktu sekitar 3-4 bulan.
e. Fase remodeling, dimana fase ini merupakan fase akhir proses perbaikan
fraktur. Pada fase ini, terjadi reorganisasi tulang baru ke susunan struktur
sebelumnya dan pengambilan jaringan yang mati. Untuk menyelesaikan proses
penyembuhan tulang pada fase ini membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun sehingga didapatkan proses perubahan dari jaringan immatur
menjadi matur, pembentukan tulang lamelar dan daerah yang mengalami
fraktur menjadi bertambah stabil.
2.2 Asuhan keperawatan klien pasca bedah fraktur
Pada pasien yang mengalami pembedahan ortopedi, pemberian asuhan
keperawatan merupakan hal yang unik karena pasien yang mengalami masalah
kesehatannya menjadi tanggung jawab penuh seorang perawat. Selain itu,

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
14

aktivitas perawat dilakukan secara berkesinambungan mulai dari pre operatif,


intra operatif, dan masa pemulihan pasca operatif.

Proses keperawatan yang dilakukan diawali dengan pengkajian pasien, penetapan


diagnosa keperawatan, merencanakan intervensi, implementasi dan evaluasi.

2.2.1 Pengkajian keperawatan


Pengkajian pasien pasca bedah ortopedi merupakan kelanjutan pengkajian pada
saat sebelum pembedahan. Dalam hal ini, perawat melanjutkan intervensi
keperawatan sebelum pembedahan. Selain itu, perawat juga melakukan
pengkajian dan observasi terhadap status pasien terbaru setelah pembedahan.
Biasanya hal ini berhubungan dengan nyeri, perfusi jaringan, mobilitas fisik,
promosi kesehatan, serta konsep diri.
Adapun data yang perlu dikaji pada pasien (Black & Hawks, 2009) meliputi :
a. Data umum, keluhan utama yang dialami, riwayat pembedahan sebelumnya,
serta pengetahuan pasien terhadap pembedahan meliputi persiapan fisik,
mental, dan tindakan keperawatan pasca pembedahan.
b. Penampilan fisik secara umum, gaya berjalan, postur, kesimetrisan,
keterbatasan aktivitas, serta penggunaan alat bantu mobilitas.
c. Adanya keterbatasan fungsi mobilitas, fungsi neuromuskuler, dan perubahan
persepsi sensori sebelum dan setelah mengalami gangguan.
d. Riwayat allergi, pemakaian obat, penyakit sistemik dan adanya kelainan yang
dialami sebelumnya yang berkaitan dengan sistem muskuloskeletal.
Pada pasien pasca bedah ortopedi, pemberian anestesi, analgesik, serta
immobilisasi akan berdampak pada gangguan sistem dalam tubuh. Oleh sebab itu,
perawat harus memantau tanda vital, kesadaran, tingkat nyeri, bunyi nafas, bising
usus, serta intake dan output cairan. Data ini sangat diperlukan untuk mengetahui
penurunan aktivitas sistem dalam tubuh yang terjadi akibat anestesi, analgesik dan
immobilisasi yang dilakukan terhadap pasien.
Selain itu, pemantauan terhadap perfusi jaringan harus dilakukan karena
perdarahan dan edema yang terjadi di dalam jaringan akan berdampak pada
memburuknya peredaran darah sehingga terjadi sindrom kompartemen. Hal ini
dapat dikaji melalui fungsi respirasi, gastrointestinal dan sistem perkemihan.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
15

2.2.2 Diagnosa keperawatan


Menurut Smeltzer dan Bare (2010), diagnosa keperawatan utama yang lazim pada
pasien pasca bedah ortopedi antara lain :
1. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan dan immobilisasi
2. Resiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan
sirkulasi darah dan pembengkakan
3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan prosedur pembedahan, nyeri,
pembengkakan, dan pemasangan alat fiksasi
4. Perubahan citra tubuh, harga diri, atau fungsi peran berhubungan dengan
adanya gangguan muskuloskeletal

2.2.3 Intervensi keperawatan


Menurut Smeltzer dan Bare (2010), intervensi keperawatan pada pasien pasca
bedah ortopedi ditujukan untuk menurunkan nyeri, mempertahankan perfusi
jaringan yang adekuat, peningkatan mobilitas secara bertahap, pemeliharaan
kesehatan, tidak terdapat komplikasi, serta memperbaiki konsep diri. Adapun
intervensi keperawatan yang dilakukan sesuai dengan diagnosa keperawatan
antara lain :
1. Menurunkan nyeri
Pada pasien pasca bedah ortopedi, nyeri akan dirasakan sangat berat. Hal ini
disebabkan karena adanya pembengkakan dan spasme otot. Oleh sebab itu,
pemantauan terhadap skala dan respon pasien terhadap nyeri harus dilakukan
dan dievaluasi. Perawat harus berusaha sedapat mungkin mengurangi nyeri dan
ketidaknyamanan.
Potter & Perry, (2006) menjelaskan bahwa penanganan nyeri dapat dilakukan
melalui pendekatan farmakologik (obat-obatan) dan pendekatan non
farmakologik. Adapun pendekatan non farmakologik untuk meredakan nyeri
antara lain pengaturan posisi elevasi dari ekstremitas yang mengalami
pembedahan dan pemberian kompres dingin dapat dilakukan untuk mengontrol
nyeri (Smeltzer dan Bare, 2010). Selain itu, tehnik perubahan posisi, distraksi,
relaksasi, imajinasi terbimbing serta terapi modalitas lain dapat digunakan
untuk mengurangi nyeri.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
16

2. Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat


Perawat harus melakukan pemantauan terhadap status neurovaskuler terutama
pada bagian ekstremitas yang mengalami pembedahan dan melakukan
kolaborasi dengan dokter bila terdapat kelainan perfusi jaringan. Selain itu,
pasien dianjurkan untuk melakukan latihan pergelangan atau sendi pada area
yang mengalami pembedahan dan mobilisasi bertahap (Black & Hawks, 2009).
Tindakan lain yang dilakukan berupa peningkatan status nutrisi, pemenuhan
kebersihan diri serta adanya indikasi pressure ulcer.
3. Meningkatkan mobilitas fisik
Gangguan mobilisasi terjadi biasanya disertai dengan adanya keluhan nyeri.
Pasien mengeluhkan takut untuk melakukan mobilisasi karena merasa nyeri.
Oleh sebab itu, hubungan terapeutik yang adekuat antara perawat dan pasien
akan sangat membantu pasien untuk mau dan berpartisipasi terhadap kegiatan
atau aktivitas yang diprogramkan untuk meningkatkan mobilitas pasien.
4. Memperbaiki konsep diri
Penyusunan rencana intervensi yang dilakukan perawat dengan melibatkan
pasien akan meningkatkan aktivitas perawatan diri sehingga berdampak pada
kembalinya peran dari pasien untuk mengenal kemampuannya sehingga dapat
meningkatkan harga diri dan identitas diri pasien. Perubahan citra tubuh dapat
diterima oleh pasien melalui dukungan dari keluarga, perawat, dan orang lain
(Smeltzer dan Bare, 2010)

2.3 Konsep dasar Teori Keperawatan OREM


Menurut Orem (2001), seorang individu belajar untuk mampu merawat dirinya
sendiri sehingga individu tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya,
pemeliharaan kesehatan, serta kesejahteraan. Teori ini sering dikenal dengan teori
Self Care. Selain itu, terdapat empat pilar dasar dalam paradigma keperawatan
meliputi manusia, sehat-sakit, lingkungan, dan keperawatan.

Orem mengemukakan pandangannya tentang manusia sebagai unit kesatuan dari


fungsi biologis yang memerlukan self care secara mandiri dimana dalam keadaan
normal self care akan terpenuhi dan dalam keadaan sakit membutuhkan bantuan.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
17

Selain itu, kondisi mental, sosial, budaya, dan emosi akan mempengaruhi
kemampuan individu untuk berkembang dan belajar.

Sementara itu, pandangan Orem tentang lingkungan berhubungan dengan adanya


kondisi lingkungan yang mempengaruhi seseorang untuk memenuhi kebutuhan
self care-nya baik lingkungan pendukung maupun lingkungan penghambat. Hal
ini ditekankan pada lingkungan internal berupa adanya kelainan penyakit yang
ada dalam tubuh seperti fraktur, kelemahan, dan lainnya serta lingkungan
eksternal berupa biologi, fisik, kimia, dan sosial.

Menurut pandangan Orem tentang konsep sehat dan kesehatan berhubungan


dengan perpaduan dari keseluruhan fungsi tubuh untuk memenuhi kebutuhan self
care-nya. Menurutnya, sehat merupakan hasil dari kemampuan individu dalam
mengatasi adanya rangsangan, tuntutan kebutuhan, serta dorongan dan keinginan.
Dengan demikian, individu yang sehat manakala ia mampu memenuhi kebutuhan
self care-nya dan dapat ditingkatkan menjadi sejahtera dan begitupun sebaliknya,
manakala individu mengalami sakit baik fisik atau mental, maka individu tersebut
tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan self care-nya.

Selanjutnya, Orem memandang tentang keperawatan sebagai suatu bentuk


pelayanan yang spesifik dari sekelompok orang yang telah mengikuti program
pendidikan keperawatan. Adapun produk dan hasil pemenuhan kebutuhan self
care individu ditunjukkan melalui aktivitas seorang perawat. Selain itu, sasaran
dari pelayanan keperawatan adalah individu dengan kondisi yang menyimpang
dari pemenuhan kebutuhan self care seperti sakit, kelemahan, dan kecacatan.

Orem menguraikan bahwa dalam pelaksanaan proses keperawatan, terdapat tiga


konsep yang saling berhubungan. Adapun ketiga konsep tersebut mencakup Self
Care theory, Self Care Deficit, dan Nursing System theory. Ketiga teori ini
meliputi enam elemen sentral berupa self care, self care agency, therapeutic self
care demand, self care deficit, nursing agency, nursing system, dan conditioning
factor. Tomey & Alligood (2007) menguraikan ketiga teori dimaksud sebagai
berikut :

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
18

2.3.1 Self care theory


Self care merupakan gambaran aktivitas seseorang yang dilakukan secara mandiri
untuk memelihara hidup, sehat dan kesejahteraanya. Menurt Orem (2001), self
care merupakan fungsi pengaturan pada seorang individu dimana ia harus
melakukan apa dan akan dilakukan apa untuk mempertahankan hidupnya,
mempertahankan fungsi fisiologis, psikologis, serta tumbuh kembang melalui
keadaan yang normal dan sangat penting bagi hidup serta integritas fungsionalnya.
Menurut George (1995), pemahaman teori self care adalah dasar terpenting dalam
memahami konsep self care, self care agency, basic, conditioning factor, dan
therapeutic self care demand.

Self care agency merupakan kondisi dimana individu dapat melakukan self care.
Conditioning factor seperti usia, jenis kelamin, tahap perkembangan, status
kesehatan, orientasi sosial kultural, sistem pelayanan kesehatan, sistem keluarga,
gaya hidup, lingkungan, dan tersedianya sumber daya akan mempengaruhi
kemampuan individu dalam merawat dirinya sendiri.

Sementara itu, therapeutic self care demand adalah kemampuan untuk memilih
dan menentukan tindakan self care yang spesifik untuk memenuhi kebutuhan
individu. Therapeutic self care dikatakan berhasil bila tindakan yang dipilih sudah
terapeutik. Selanjutnya, tujuan akhir dari self care adalah tercapainya kesehatan
dan kesejahteraan hidup seorang individu berupa therapeutic self care demand
dimana setiap individu sangat spesifik dan dipengaruhi oleh tempat, waktu, dan
situasi.

Adapun teori yang terintegrasi dalam teori self care yaitu self care requisites,
dimana Orem membaginya dalam 3 bagian, yaitu universal self care requisites,
development self care requisites, dan health deviation self care requisites.

Universal self care requisites meliputi : a) mempertahankann oksigen, air dan


makanan, b) eliminasi dan pengeluaran sisa metabolisme, c) keseimbangan
solitude dan interaksi sosial, d) pencegahan resiko, e) peningkatan fungsi individu
dan pengembangan diri dalam kelompok sosial, f) peningkatan dan
pengembangan diri individu dalam kelompok.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
19

Development self care requisites merupakan cara untuk mempelajari proses


kehidupan. Domain ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan sesuai tahap
perkembangan individu dimana kemampuan untuk merawat diri secara mandiri
atau dengan bantuan berdasarkan tingkat perkembangan sehingga akan
mempengaruhi kondisi kesehatannya.

Health deviation self care requisites merupakan cara untuk memenuhi kebutuhan
individu saat mengalami sakit atau adanya kelainan struktur dan fungsi sistem
tubuh individu. Pada domain ini, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan
antara lain berupa tindakan medis yang dilakukan, akibat dari keadaan atau status
kesehatan baik yang berpengaruh terhadap perkembangan, tindakan diagnostik
dan rehabilitasi yang dilakukan untuk mengatasi gangguan dan ketidakmampuan
yang terjadi, serta modifikasi konsep diri untuk menerima kondisi kesehatannya.

2.3.2 Self care deficit theory


Dalam teori ini, Orem menjelaskan bahwa keperawatan dibutuhkan pada saat
terjadi penurunan kemampuan atau ketergantungan pasien dalam memenuhi
kebutuhan self care-nya. Dalam hal ini, perawat dan pasien harus membina dan
menjaga hubungan terapeutik sampai pasien keluar dari rumah sakit. Terdapat
lima kegiatan yang diidentifikasi Orem dalam memberikan asuhan keperawatan,
meliputi :

a. Pelayanan diberikan langsung melalui intervensi keperawatan


b. Perawat memfasilitasi pasien untuk pemenuhan kebutuhannya secara mandiri
c. Perawat mendorong baik fisik dan psikis sehingga pasien mampu
mengembangkan dirinya dalam melakukan perawatan secara mandiri
d. Perawat memfasilitasi lingkungan yang mendukung bagi berkembangnya
pribadi pasien dalam mempertahankan kemandirian
e. Perawat mengajarkan prosedur dan aspek tindakan sehingga pasien mampu
melaksanakan perawatan secara mandiri
Terdapat lima area aktivitas keperawatan yang telah diidentifikasi oleh Orem
(1991), dimana intervensi yang diberikan merupakan gambaran domain
keperawatan. Adapun kelima area keperawatan tersebut antara lain :

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
20

1. Membina hubungan perawat-pasien


2. Menentukan waktu dan cara membantu pasien dalam keperawatan
3. Merespon pertanyaan, kebutuhan, maupun keinginan pasien
4. Memberikan bantuan secara langsung kepada pasien
5. Mengintegrasikan intervensi keperawatan dalam kehidupan sehari-hari ataupun
bila sewaktu-waktu diperlukan

2.3.3 Nursing system theory


George (1995) menjelaskan bahwa nursing agency merupakan usaha yang
dilakukan individu untuk memenuhi kebutuhannya melalui pengenalan terhadap
kebutuhan, memenuhi kebutuhan, serta melatih kemampuannya. Sementara itu,
Tomey dan Alligood (2006) mengemukakan bahwa keperawatan dibutuhkan
manakala individu tidak mampu untuk memenuhi self care-nya.

Dalam Nursing System Theory, fasilitasi terhadap pemenuhan kebutuhan mandiri


seorang individu dilakukan melalui tiga level kemampuan pasien, meliputi asuhan
keperawatan dengan tingkat ketergantungan penuh (Wholly compensatory nursing
system), asuhan keperawatan dengan tingkat ketergantungan sebagian (Partially
compensatory nursing system), dan asuhan keperawatan pada fase pemulihan
(Supportive educative nursing system).

2.4 Penerapan Teori Self Care pada fraktur


Pada pemberian asuhan keperawatan pasien dengan pasca bedah fraktur, aplikasi
teori self care Orem lebih menekankan pada bagaimana pasien mampu untuk
mencapai kemandirian. Proses keperawatan merupakan tahapan yang digunakan
perawat dalam praktek keperawatan profesionalisme yang diawali dengan
pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi, dan
evaluasi keperawatan.

Terdapat tiga tahap proses keperawatan yang dikemukakan oleh Orem (1991),
yaitu tahap pertama berupa diagnosis and prescription, tahap kedua adalah
nursing system design, dan tahap ketiga adalah nursing system management.
Berikut ini diuraikan tahapan proses keperawatan yang dirumuskan Orem :

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
21

Tahap I : Diagnosis and prescription


Tahap ini merupakan pengkajian dan sebagai langkah awal dari proses
keperawatan. Pada tahap ini, diperoleh data tentang adanya gangguan status
kesehatan pasien. Menurut Orem, yang termasuk dalam pengkajian meliputi :

1. Basic Conditioning Factor, terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, tahap
perkembangan, status kesehatan, sistem pelayanan kesehatan, orientasi sosial
budaya, pola hidup, lingkungan tempat tinggal, dan ketersediaan sumber daya.
2. Self care requisites, berupa data yang muncul oleh karena keterbatasan diri,
meliputi :
a. Universal self care, yaitu : pemenuhan kebutuhan terhadap oksigen, cairan,
nutrisi, eliminasi, aktivitas dan istirahat, keseimbangan diri dan interaksi
sosial, pencegahan bahaya, serta peningkatan fungsi perkembangan.
b. Development self care requisites, berupa data tentang proses perkembangan
dan maturitas individu ke arah fungsi optimal, yang terdiri dari
pengembangan lingkungan dan pencegahan terhadap keadaan yang
mengancam perkembangan.
c. Health deviation self care requisites, meliputi pengkajian terhadap adanya
gangguan kondisi kesehatan antara lain luka, penyakit, penerimaan individu
terhadap kondisi kesehatannya dan penanganan terhadap perbaikan kondisi.
Pada bagian ini, data yang perlu dikaji berupa kepatuhan terhadap tindakan,
kesadaran terhadap masalah akibat pengobatan, modifikasi terhadap
gambaran diri, serta penyesuaian pola hidup akibat perubahan kondis
kesehatannya saat ini.
d. Medical problem and plan, berupa kondisi perspektif tenaga kesehatan
seperti diagnosa medis dan pengobatan yang diberikan.
Diagnostic Operation
Orem (2001) menjelaskan bahwa diagnosa keperawatan termasuk pada tahap
awal, dimana pengkajian dan proses analisis data dibuat untuk menentukan
keputusan terhadap masalah keperawatan yang terjadi. Masalah keperawatan
timbul akibat adanya penyimpangan yang terjadi antara kemampuan dan
ketergantungan individu untuk merawat dirinya sendiri.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
22

Tahap II : Nursing System Design


Menurut Orem (1991), dalam proses keperawatan tahap ini disebut prescriptive
operation, dimana perawat membuat rencana keperawatan untuk mengatasi self
care deficit. Penyusunan rencana keperawatan didasarkan pada tujuan dimana
sasarannya berdasarkan diagnosa keperawatan dan diusahakan dapat
meningkatkan kemampuan pasien untuk melakukan perawatan diri. Selain itu,
dalam menyusun rencana keperawatan perlu diperhatikan tingkat ketergantungan
pasien antara lain rencana keperawatan disesuaikan dengan pasien yang memiliki
tingkat ketergantungan penuh (wholly compensatory), pasien dengan tingkat
ketergantungan sebagian (partially compensatory), dan pasien yang membutuhkan
informasi dan penjelasan terkait pemenuhan kebutuhan self care (supportive
educative).

Dalam memberikan asuhan keperawatan, setelah rencana keperawatan disusun


perawat membuat metode yang sesuai. Adapun metode yang dibuat antara lain
mengarahkan (guidance), mengajarkan (teaching), bertindak (acting), support
(supporting), dan modifikasi lingkungan (providing the environment).

Tahap III : Nursing System Management

Menurut Orem, tahap ini adalah tahap akhir pelaksanaan proses keperawatan.
Pada tahap ini, perawat melakukan dan menilai tindakan keperawatan yang telah
diberikan. Pada tahap ini, Orem membagi dalam dua segmen, yaitu implementasi
(regularly operation) dan evaluasi (control operation).

Orem berpendapat bahwa pada segmen implementasi (regularly operation) terjadi


asuhan yang bersifat kolaboratif antara perawat dan pasien. Dalam hal ini, perawat
akan memberikan intervensi dengan berbagai metode dalam memberikan
pelayanan keperawatan yang disesuaikan dengan tingkat ketergantungan pasien
untuk memenuhi self care-nya.

Selanjutnya, pada segmen evaluasi (control operation), akan dilihat keefektifan


dari pelaksanaan implementasi yang diberikan dalam memenuhi kebutuhan self
care dan mengurangi ketergantungan terhadap perawatan diri. Namun, Orem tidak
menguraikan secara spesifik tentang aspek yang dievaluasi. Pada pasien yang

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
23

mengalami pasca bedah fraktur ekstremitas bawah, fokus evaluasi adalah pada
kemampuan pasien dalam mempertahankan kebutuhan perawatan dirinya secara
mandiri.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN
DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL

Pada bab ini akan diuraikan peran penulis dalam menganalisis penerapan asuhan
keperawatan pada pasien pasca bedah fraktur ekstremitas bawah dalam hal ini
Nn. HH berdasarkan teori Self care Orem. Selain itu juga diuraikan analisis
terhadap resume kasus kelolaan selama tahap residensi keperawatan.

3.1 Deskripsi Kasus


Nn. HH, berusia 23 tahun, agama Islam, belum menikah, lulus SLTA, pekerjaan
swasta, bertempat tinggal di Jln. Pondok Gede No. 17 Kel. Lubang buaya Kec.
Cipayung Jakarta Timur. Masuk rumah sakit pada tanggal 14 September 2013 jam
20.00 WIB, dengan diagnosa medik Open Fractura Tibia Fibula Sinistra grade II.

Klien masuk RS akibat kecelakaan lalu lintas, saat menyeberang jalan ditabrak
motor dari arah samping kiri. Mekanisme terjadinya jatuh tidak diketahui dengan
pasti, namun menurut klien setelah ditabrak sempat berteriak sebelum terjatuh.
Riwayat pingsan tidak ada, riwayat muntah tidak ada. Selanjutnya, klien dibawa
ke RS Fatmawati untuk perawatan lebih lanjut. Pada tanggal 15 September 2013
jam 04.00 klien dilakukan pembedahan berupa reduksi internal (ORIF).

Pengkajian awal dilakukan pada tanggal 16 September 2013 jam 09.00 di Ruang
GPS Lantai I Kamar 102. Klien tampak berbaring semifowler dan tungkai kiri
terbungkus elastic verband. Pulsasi area distal teraba, 76 x/mnt, teratur. Akral
hangat, tidak terdapat syanosis, klien dapat merasakan sensasi saat diberikan
rangsangan pada kaki kiri. Saat dikaji, klien mengatakan merasa nyeri pada
seluruh kaki kiri dengan rentang nyeri skala 5-6 saat posisi tungkai kiri diatur.

Selain merasakan sakit, klien juga mengatakan belum mampu untuk beraktivitas
seperti duduk, berdiri, dan berjalan. Setelah mengalami kecelakaan dan dilakukan
pembedahan, klien hanya dapat berbaring dan duduk ditempat tidur dengan
bantuan penjaga/petugas. Posisi tungkai kiri dalam posisi elevasi dan diganjal

24 Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
25

dengan bantal. Klien mengatakan bahwa ia merasa nyaman dengan posisi seperti
itu. Area lutut kiri tidak dapat ditekuk secara maksimal.

3.2 Penerapan Proses Keperawatan Dengan Pendekatan Teori Orem


3.2.1 Pengkajian (Diagnostic Operation)
3.2.1.1 Basic Conditioning Factors

Usia dan Jenis Kelamin 23 tahun, wanita


Status kesehatan Klien masuk ruangan GPS Lantai I Kamar 102
tanggal 15 September 2013 jam 06.00 pagi setelah
dilakukan tindakan pembedahan (ORIF plate +
screw) pada hari yang sama karena sehari
sebelumnya tanggal 14 September 2013 jam 20.00
mengalami kecelakaan lalu lintas saat sedang
menyeberang jalan ditabrak motor dari arah
samping kiri dengan diagnosa medik Open
Fractura Tibia Fibula Sinistra gr. II. Saat ini klien
telah selesai dilakukan pembedahan (POH I ORIF).
Klien mengatakan nyeri pada bagian tungkai
kirinya dengan skala keluhan berada di 5-6,
terutama bila tungkainya diangkat ataupun
digerakkan. Pada pengkajian status lokalis
didapatkan : Look : terdapat deformitas, rotasi
ekstremitas, shortening (+) pada ekstremitas bawah
sinistra. Kanan : femur = 48 cm, cruris = 40 cm,
pedis = 20 cm. Sedangkan Kiri : femur = 48 cm,
cruris = 38 cm, pedis 18 cm. Terdapat luka jahitan
dengan ukuran 9 x 1 cm. Feel : terdapat nyeri tekan
pada area yang patah, NVD baik. Move :
mengalami keterbatasan karena nyeri terutama pada
ekstremitas bawah kiri.
Status perkembangan Klien berada dalam tahap perkembangan Identity vs
identity convusion. Saat ini, klien berespon cukup

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
26

baik dengan petugas maupun keluarganya,


menerima keadaannya serta menerima semua
program pengobatan dan tindakan keperawatan
yang diberikan. Klien dapat melakukan kebutuhan
ADLnya dengan bantuan dan pendampingan
keluarga/petugas.
Orientasi Sosiokultural Klien berpendidikan SLTA tamat, Suku Sunda,
belum menikah, dan bekerja swasta. Saat ini,
aktivitas ibadah hanya dapat dilakukan ditempat
tidur, dilakukan dengan posisi duduk atau
terlentang. Menurut klien, penyakitnya saat ini
adalah ujian yang harus ia terima.
Sistem Pelayanan Klien dan keluarganya memperoleh fasilitas
kesehatan kesehatan gratis berupa Kartu Jakarta Sehat (KJS).
Sistem keluarga Klien belum menikah, masih tinggal bersama kedua
orang tuanya. Klien merupakan anak kedua dari
empat bersaudara. Kakak tertua telah menjadi
kepala keluarga dan tinggal terpisah dari orang tua.
Pola hidup Klien sehari-hari bekerja sebagai karyawan
disebuah perusahaan swasta dengan jam kerja dari
jam 08.00-16.00. Saat ini, klien mendapat izin sakit
dari perusahaan tempatnya bekerja.
Lingkungan Klien tinggal diarea pemukiman kota, kawasan
Lubang Buaya Jakarta Timur. Tempat tinggal klien
dekat dengan fasilitas kesehatan 24 jam.
Perlengkapan kebutuhan dapat diperoleh dengan
mudah.
Sistem pendukung Orang tua dan kakak merupakan support system.
Ibu/ayah selalu bergantian menjaga klien selama
dirawat. Saudara kandung sering datang untuk
menjenguk. Pembiayaan selama selama klien sakit

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
27

di tanggung oleh Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan


mendapat bantuan dari perusahaan tempatnya
bekerja.

3.2.1.2 Universal Self Care

Udara Kesadaran compos mentis, paru simetris, klien


bernafas dengan spontan, tidak anemis, tidak
syanosis, tidak menggunakan alat bantu nafas,
bunyi nafas vesikuler, frekuensi 20 x/mnt.
Cairan Turgor kulit baik/elastis, mukosa mulut lembab.
Klien minum kurang lebih 1300 ml/hari, tidak
terpasang infus. Untuk memenuhi kebutuhan cairan,
klien dianjurkan untuk minum yang banyak dan
mendekatkan air minum ke sisi pasien.
Nutrisi Konjungtiva tidak anemis, klien tidak mual ataupun
muntah. Nafsu makan cukup, diet TKTP, klien
mampu menghabiskan 3/4 porsi makanan yang
diberikan. Klien mengatakan allergi terhadap
udang. TB = 160 cm, BB = 70 kg, IMT = 27,3
(overweight). Hasil pemeriksaan laboratorium post
operasi tanggal 15 September 2013 : Hb=10,6 gr/dl,
Ht=32%, Leukosit=9200/ul, Trombosit= 253 ribu,
Eritrosit=4,05 juta/ul. Klien dapat makan sendiri,
tetapi butuh pendampingan.
Eliminasi Klien dapat BAK spontan, penggunaan kateter
hanya 24 jam pertama post operasi. BAK mandiri
tanpa ada keluhan, warna kuning jernih, jumlah
2000 cc/24 jam. BAB spontan, 1-2 kali sehari,
warna kuning, dengan konsistensi lunak, BAB
masih dilakukan ditempat tidur dan dilakukan
pendampingan, karena klien masih takut dan belum

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
28

siap ke kamar mandi.


Aktivitas dan Istirahat Sejak masuk rumah sakit, klien hanya berbaring dan
duduk di tempat tidur. Pasien dapat menggerakkan
semua ekstremitas terkecuali ekstremitas bawah
kiri. Aktivitas perawatan diri sebagian masih
memerlukan bantuan dan pendampingan.
Kebutuhan istirahat selama di rumah sakit dirasakan
cukup. Terdapat keterbatasan rentang gerak sendi
pada lutut berupa fleksi lutut yang belum maksimal.
Interaksi sosial Saat pertama masuk ke ruang perawatan, klien
masih tampak canggung merasa asing dengan
kondisi dan lingkungan ruangan. Namun, setelah
dilakukan komunikasi terapeutik, klien dapat
berinteraksi cukup baik dengan petugas maupun
pasien lain yang dirawat sekamar dengan klien.
Interaksi dengan keluarga dan saudaranya juga
baik. Kebutuhan pengobatan dan perawatan selalu
dikomunikasikan dengan keluarga/orang tua.
Pencegahan cedera Adanya open fractur tibia fibula sinistra grade II
memerlukan pencegahan terhadap risiko terjadinya
injury antara lain berupa manajemen nyeri dan
mobilisasi bertahap melalui latihan dengan
menggunakan alat bantu jalan/kruk.
Promosi keadaan normal Adanya keterbatasan fisik menyebabkan klien tidak
dapat melakukan kegiatan dan aktivitas sehari-hari.
Klien ingin segera sembuh dan bisa beraktivitas
kembali. Klien sangat patuh dan mentaati semua
program perawatan dan pengobatan yang diberikan.

3.2.1.3 Development Self Care Requisites

Menjaga lingkungan Pasien berada dalam tahap perkembangan

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
29

perkembangan dewasa awal. Klien dapat melakukan kegiatan


seperti makan, dan minum secara mandiri, tetapi
untuk berpakaian dan toiletting masih
membutuhkan bantuan pendampingan dan
pengawasan. Aktivitas sebagian besar masih
dilakukan ditempat tidur. Klien juga dapat
mengendalikan emosi dan perasaannya seperti
saat merasa sakit, tampak meringis dan
melakukan relaksasi nafas dalam.
Pencegahan yang Klien tampak senang bila dijenguk oleh saudara
mengancam perkembangan dan teman kerjanya. Untuk masalah kesehatan,
klien senantiasa berdiskusi dengan orang tuanya.

3.2.1.4 Health Deviation Self Care Requisites

Ketergantungan Klien membutuhkan bantuan dan pendampingan


terhadap regimen terapi terkait pembatasan aktivitas dan mobilisasinya saat
ini.
Kesadaran terhadap Klien belum mengetahui dan memahami secara
potensi masalah terkait khusus tentang penyakit dan perawatan selanjutnya
terapi
Modifikasi gambaran Klien mengatakan bahwa dirinya masih sakit tetapi
diri untuk beradaptasi klien berusaha untuk menjaga kondisi kesehatannya
terhadap perubahan saat ini dengan melakukan latihan mobilisasi
status kesehatan sehingga menjadi lebih mandiri dan dapat
beraktivitas seperti sebelumnya dan melakukan
kontrol secara teratur bila sudah pulang dari rumah
sakit.
Penyesuaian pola hidup Klien berusaha agar dapat melakukan kegiatan dan
terkait perubahan status aktivitas sehari-hari walaupun nantinya setelah
kesehatan dan regimen pulang masih menggunakan alat bantu jalan/kruk.
terapi

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
30

Terapi medis saat ini Klien mendapat terapi injeksi Ceftriaxone 2 x 1


gr/iv, Gentamycin 2 x 50 mg/iv, Ranitidine 2 x 1
amp/iv, dan Tramadol 3 x 1 amp/iv sampai 3 hari
kedepan. Selanjutnya klien akan mendapat terapi
peroral sampai saat pulang.

3.2.2 Diagnosa Keperawatan (Prescriptive Operation)


Setelah dilakukan pengumpulan dan analisis data, maka diagnosa keperawatan
yang ditemukan pada Nn. HH antara lain :

1. Nyeri akut (00132) berhubungan dengan pergerakan fragmen tulang, insisi


pembedahan, dan pemasangan plate and screw
2. Hambatan mobilitas fisik (00085) berhubungan dengan immobilisasi,
pembatasan pergerakan
3. Risiko infeksi (00004) berhubungan dengan trauma jaringan, tidak
adekuatnya pertahanan primer, dan pemasangan alat invasif
4. Risiko injury (00155) berhubungan dengan fraktur ekstremitas bawah dan
pemasangan alat invasif

3.2.3 Nursing Care Plan

Nursing Diagnosis Outcome Plan


1. Nyeri akut (00132) a. Outcome : Teaching
b.d pergerakan - Pain control (1605) - Ajarkan tehnik
fragmen tulang, insisi - Pain level (2102) menurunkan nyeri
pembedahan, dan b. Kriteria hasil : seperti tehnik
pemasangan plate - Mengenal nyeri (5) relaksasi, distraksi,
- Mengontrol nyeri (5) guided imagery
- Tanda vital dalam Support
batas normal (5) - Batasi akivitas pada
- Melaporkan nyeri area yang mengalami
berkurang dengan fraktur
relaksasi (4) - Lakukan latihan gerak
- Menyatakan nyaman sendi pada area yang
setelah nyeri tidak mengalami
berkurang (4) fraktur
c. Desain sistem - Lakukan latihan
keperawatan : relaksasi dan distraksi
Partially Compensatory - Berikan support

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
31

d. Metode : psikologis
Teaching, support, Guidance
guidance, providing the - Observasi respon
development verbal dan tanda vital
environment - Kaji pengalaman
klien tentang nyeri
dan tindakan yang
dilakukan bila nyeri
muncul
Skala : - Anjurkan untuk
1= tidak pernah, 2= jarang, melaporkan intensitas,
3= kadang-kadang, 4=
sering, 5= selalu
lokasi, skala, dan
faktor-faktor yang
memperberat nyeri
Providing the
development
environment
- Atur lingkungan klien
yang nyaman dan
batasi jumlah
pengunjung
- Catat dan diskusikan
kejadian nyeri yang
dirasakan klien
- Berikan obat
analgetik sesuai terapi
2. Hambatan mobilitas a. Outcome : Teaching
fisik (00085) b.d - Ambulation (0208) - Ajarkan klien tentang
immobilisasi, b. Kriteria hasil : latihan gerak sendi
pembatasan - Mampu melakukan - Ajarkan klien
pergerakan ROM pasif/aktif (5) melakukan mobilisasi
- Mampu melakukan secara bertahap
mobilisasi di tempat setelah operasi
tidur (5) - Ajarkan klien cara
- Atrofi dan kontraktur menggunakan alat
tidak ada (5) bantu jalan/kruk
- Mampu berjalan Support
dengan alat bantu - Kaji motivasi klien
pada jarak pendek melakukan latihan
sampai sedang (5) dan mobilisasi
c. Desain sistem - Motivasi klien untuk
keperawatan : melakukan latihan
Partially Compensatory dengan cara verbal
d. Metode : - Bantu klien menyusun
Teaching, support, jadwal latihan secara
guidance, providing the teratur
development Guidance
environment - Observasi tanda vital

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
32

sebelum, selama, dan


setelah mengikuti
latihan dan selama
periode latihan
Skala : Providing the
1= tidak pernah, 2= jarang, development
3= kadang-kadang, 4=
sering, 5= selalu environment
- Ajarkan keluarga
tentang cara
membantu klien
dengan mudah
3. Risiko infeksi (00004) a. Outcome : Teaching
b.d trauma jaringan, - Infection process - Ajarkan klien untuk
tidak adekuatnya (1924) mengenal dan
pertahanan primer, - Infection severity mencegah tanda-tanda
dan pemasangan alat (0703) infeksi
invasif b. Tujuan : Support
- Mampu mencegah - Anjurkan klien untuk
timbulnya infeksi (5) melaporkan bila
- Menunjukkan prilaku mengalami demam
hidup sehat (5) - Anjurkan untuk tidak
- Bebas dari tanda/gejal sering menyentuh
infeksi (5) area yang mengalami
- Jumlah leukosit dalam perlukaan
rentang normal (5) Guidance
- Mendeskripsikan - Observasi tanda vital,
penularan dan hasil laboratorium
penanganan infeksi (leukosit)
(5) - Observasi terhadap
c. Desain sistem adanya tanda infeksi
keperawatan : lain
Partially Compensatory - Observasi keadaan
d. Metode : luka secara teratur
Teaching, support, seperti perubahan
guidance, directing, warna, suhu
providing the - Jaga kebersihan luka
development Directing
environment - Lakukan perawatan
luka secara rutin
dengan tehnik aseptik
dan antiseptik
Providing the
development
Skala : environment
1= tidak pernah, 2= jarang, - Jaga kebersihan
3= kadang-kadang, 4=
sering, 5= selalu
lingkungan dan
tempat tidur klien
- Berikan intake nutrisi

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
33

TKTP
- Berikan obat
antibiotika sesuai
terapi medis
4. Risiko injury (00155) a. Outcome : Teaching
b.d fraktur ekstremitas - Personal Well-Being - Ajarkan klien untuk
bawah dan (2002) cara mencegah jatuh
pemasangan alat - Physical fitness Support
invasif (2004) - Anjurkan klien untuk
- Physical injury melaporkan bila
severity (1913) membutuhkan
b. Kriteria : bantuan perawat
- Fleksibilitas sendi (5) - Anjurkan untuk
- Kekuatan otot (5) melakukan ambulasi
- Dapat melaksanakan dengan
aktivitas sehari-hari pendampingan
(5) Guidance
- Menunjukkan status - Observasi cara jalan,
fisik baik (5) keseimbangan, dan
- Menunjukkan status kelemahan saat
psikologik baik (5) ambulasi
c. Desain sistem - Observasi terhadap
keperawatan : adanya perubahan
Partially Compensatory cara berjalan pasien
d. Metode : Directing
Teaching, support, - Bantu pasien
guidance, directing, menggunakan alat
providing the bantu jalan/kruk
development - Atur posisi tempat
environment tidur lebih rendah
- Gunakan rail set saat
pasien beristirahat
Providing the
development
Skala : environment
1= tidak pernah, 2= jarang, - Jaga kondisi lantai
3= kadang-kadang, 4=
sering, 5= selalu
yang dilewati agar
tidak basah/licin
- Berikan sandal anti
selip
- Bantu klien/keluarga
mengidentifikasi
kondisi yang beresiko
jatuh dirumah

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
34

3.3 Pembahasan Kasus


Pada bagian ini, penulis akan melakukan analisis terhadap seluruh rangkaian
proses dari asuhan keperawatan yang dilakukan pada Nn. HH.

Berdasarkan riwayat kesehatan yang diperoleh, klien ditabrak oleh pengendara


sepeda motor saat sedang menyeberang jalan dari arah samping kiri kemudian
terjatuh.

Pada saat dilakukan pengkajian, diperoleh data antara lain berupa keluhan utama
klien yaitu nyeri yang dirasakan pada area yang mengalami fraktur dan telah
dilakukan pembedahan, yang dirasakan dengan skala 5-6 dan intensitas yang
hilang timbul. Adapun karakteristik nyeri yang dirasakan Nn. HH yaitu berkurang
saat istirahat dan akan bertambah bila ada pergerakan pada area yang mengalami
fraktur. Menurut Rasjad (2007) salah satu keluhan utama yang timbul pada kasus
muskuloskeletal adalah nyeri. Hal inipun sama seperti yang dikemukakan oleh
Potter & Perry, (2006) bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
nyeri yang salah satunya disebabkan oleh luka operasi atau pembedahan.
Bilamana nyeri tersebut berlanjut dan tidak diatasi maka akan menyebabkan
terganggunya aktifitas fisik dan mengakibatkan aliran vena menjadi terganggu.
Oleh karena itu, nyeri diangkat sebagai masalah keperawatan pada Nn. HH,
karena ia mengeluh adanya nyeri pada tungkai bawah kiri dan dirasakan sangat
mengganggu aktifitas dan pemenuhan terhadap perawatan dirinya.

Untuk meminimalkan rasa nyeri pada klien pasca bedah ortopedi, maka tim
kesehatan memiliki peranan yang sangat penting. Manajemen pengontrolan nyeri
dilakukan secara bersamaan melalui kolaborasi antara dokter, perawat, klien, dan
keluarga. Dalam hal pengontrolan nyeri, seorang perawat dituntut untuk mampu
membantu klien melalui tindakan mandiri secara nonfarmakologik antara lain
dengan tehnik relaksasi, distraksi, guided imagery, transcutaneus stimulation, dan
terapi musik (Potter & Perry, 2006).

Pada klien Nn. HH, tindakan nonfarmakologik yang digunakan untuk mengontrol
nyerinya adalah tehnik relaksasi Benson dan distraksi. Klien dibimbing dan dilatih
melakukan relaksasi dengan cara menarik nafas dalam-dalam, dan

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
35

menghembuskan secara perlahan-lahan sambil mengucapkan kata-kata yaa


Allah... Latihan ini dilakukan secara teratur sebanyak 5-10 kali, terutama saat
nyeri muncul seperti merubah posisi, ambulasi, dan perawatan luka. Klien juga
dibimbing untuk dapat memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang
menyenangkan sehingga klien tidak berfokus pada rasa sakit yang dialaminya.
Klien mengatakan bahwa tindakan tersebut sangat membantu dirinya saat nyeri
terasa.

Selanjutnya, Nn. HH mengatakan belum mampu untuk beraktivitas seperti duduk,


berdiri, dan berjalan. Hal ini menyebabkan klien mengalami keterbatasan dalam
melakukan aktivitas dan mobilitas. Oleh sebab itu, masalah hambatan mobilitas
fisik ditetapkan sebagai masalah keperawatan karena pasien membutuhkan
tindakan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas dan pergerakannya.

Untuk mengatasinya, maka Nn. HH diberikan edukasi tentang pentingnya


mobilisasi dan bagaimana melakukannya. Edukasi yang diberikan antara lain
menjelaskan tujuan, cara melakukan, waktu pelaksanaan, serta pentingnya
kemauan dan kesadaran pasien untuk melakukannya. Selain itu, pasien diberikan
latihan rentang sendi dimana sebelumnya terlebih dahulu dikaji faktor-faktor yang
membatasi pergerakan sendi seperti adanya nyeri dan ketidakmampuan (Black &
Hawks, 2009). Selanjutnya, latihan rentang gerak sendi dilakukan pada Nn. HH
setiap pagi dan sore hari yang diawali dengan latihan secara pasif dan dilanjutkan
secara aktif. Adapun latihan yang dilakukan antara lain flexi dan ekstensi paha,
ankle pump, dan gerakan rotasi pada paha dan ankle. Pada saat awal latihan, Nn.
HH masih mengeluh nyeri dan agak sulit untuk mengikuti latihan dan gerakan,
tetapi selanjutnya sudah dapat melakukannya baik dengan bimbingan maupun
secara mandiri. Selain itu, rasa nyeri yang dirasakan pun menjadi berkurang.

Untuk mencegah terjadinya komplikasi yang disebabkan immobilisasi, perawat


berperan yang sangat penting untuk melakukan tindakan keperawatan (Potter&
Perry, 2006). Selain itu, latihan juga dapat membantu klien untuk persiapan
ambulasi seperti latihan pergerakan sendi pasif dan aktif serta latihan otot
isometrik (Potter & Perry, 2006)

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
36

Dalam kondisi-kondisi tertentu, adanya immobilisasi akan beresiko untuk


terjadinya injury, dimana latihan mobilisasi akan dapat meningkatkan sirkulasi
darah pada area yang mengalami injury sehingga dapat mencegah terjadinya luka
tekan/ulcus (Black & Hawks, 2009).

Pasien Nn. HH mengalami kerusakan jaringan lunak dengan luas 9 x 1 cm dan


jenis frakturnya termasuk open fractura grade II. Dari riwayat kesehatan yang
ada, trauma jaringan yang dialami oleh Nn. HH cukup luas. Selain itu, saat
dilakukan pengkajian, penanganan luka fraktur kurang lebih 8 jam setelah
kejadian. Artinya, telah melewati golden periode penanganan trauma
muskuloskeletal sekitar 4-6 jam. Oleh sebab itu, pada kasus Nn. HH ditetapkan
masalah risiko infeksi sebagai diagnosa keperawatan yang ketiga.

Adapun intervensi yang dilakukan pada Nn. HH antara lain mengobservasi tanda-
tanda infeksi. Adapun tanda terjadinya infeksi berupa rubor, calor, dollor, tumor,
dan functio laesa (Kozier & Erb, 2005). Selain itu, dilakukan pula perawatan luka
dengan menggunakan NaCl 0,9%. Tujuannya adalah untuk menurunkan
kontaminasi terhadap permukaan jaringan. Seorang perawat berperan sangat
penting dalam perawatan luka. Hal ini akan berdampak pada penambahan masa
hari rawat dan biaya tinggal di rumah sakit bila luka beresiko terkena infeksi.
Selama dilakukan perawatan luka pada Nn. HH, pembersihan luka menggunakan
NaCl 0,9% dengan tehnik aseptik dan antiseptik dan ditutup dengan kassa steril.

Selain dilakukan perawatan luka, Nn. HH juga diberikan obat antibiotik berupa
Injeksi Ceftriaxone 1 gram tiap 12 jam dan Gentamycin 80 mg tiap 12 jam yang
diberikan secara intravena selama 3 hari berturut-turut setelah pembedahan.
Adapun tujuan pemberian obat ini adalah untuk mencegah infeksi lebih lanjut
karena kontaminasi pada luka.

Selama dilakukan perawatan pasca bedah, tidak ditemukan adanya tanda-tanda


infeksi. Klien diizinkan untuk pulang tanggal 18 September 2013 dan melakukan
kontrol dipoliklinik.

Data lain yang didapatkan pada Nn. HH berupa adanya fraktur pada daerah
ekstremitas bawah kiri dan sudah dilakukan tindakan pembedahan (ORIF). Data

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
37

lainnya didapatkan bahwa keseimbangan tubuh belum maksimal. Selain itu,


aktivitas dan mobilitas yang dilakukan Nn. HH masih membutuhkan
pendampingan dan pengawasan. Hal ini disebabkan karena adanya penggunaan
alat bantu jalan/kruk pada saat klien beraktivitas. Adapun dampak yang
ditimbulkan adalah berpotensi untuk terjadinya injury. Oleh sebab itu, pada kasus
Nn. HH dirumuskan masalah risiko injury sebagai diagnosa keperawatan yang
keempat.

Untuk mencegah terjadinya injury, maka intervensi yang dilakukan pada Nn. HH
antara lain mengajarkan cara mencegah jatuh seperti dengan merendahkan posisi
tempat tidur, memasang rail set, serta melakukan ambulasi dengan pendampingan
dan pengawasan. Selain itu, diajarkan cara mobilisasi miring, duduk ditempat
tidur, berdiri, dan membantu menggunakan alat bantu jalan/kruk secara bertahap.

Selama dilakukan perawatan pasca bedah, Nn. HH tidak mengalami cedera/jatuh.


Pada saat diizinkan pulang, Nn. HH dapat menggunakan alat bantu jalan/kruk
dengan jarak 5-10 meter dengan pendampingan dan pengawasan.

3.4 Analisa Kasus Resume


Jumlah pasien yang menjadi kasus kelolaan selama praktik residensi 2 (dua)
semester sebanyak 30 orang, dimana sebagian besar dikelola di RSUP Fatmawati
Jakarta (25 orang) sedangkan sisanya dikelola d RS Ortopedi Surakarta. Format
pengkajian yang digunakan pada pasien resume kelolaan adalah format Orem.

Adapun pasien yang menjadi kasus kelolaan sebagian besar adalah laki- laki
(80%). Selanjutnya, dari sisi usia, sebagian besar pasien resume kelolaan berada
pada rentang usia produktif dengan penyebab kejadian trauma muskuloskeletal
terbanyak adalah kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja. Hal ini sesuai
dengan teori bahwa fraktur lebih banyak terjadi pada laki-laki yang memiliki
mobilitas tinggi dan berada pada usia produktif sehingga memiliki resiko untuk
terjadinya trauma kecelakaan lalu lintas.

Adapun masalah keperawatan yang ditemukan pada semua kasus kelolaan,


sebagian besar didapatkan diagnosa keperawatan yang sama berupa nyeri,

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
38

hambatan mobilitas fisik, dan risiko infeksi. Selain itu, seluruh pasien mengalami
self care deficit.

Masalah utama pada pasien kelolaan yang mengalami gangguan muskuloskeletal


sebagian besar adalah nyeri. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
nyeri, antara lain usia, jenis kelamin, budaya, makna dan pengalaman nyeri masa
lalu, koping, serta dukungan sosial (Smeltzer & Bare, 2010). Pada pasien-pasien
yang mengalami pembedahan ortopedi, nyeri disebabkan oleh adanya trauma fisik
yang akan menstimulasi ujung-ujung saraf yang menyebabkan iskemia jaringan
sehingga merangsang pengeluaran mediator kimia. Pada saat proses pembedahan,
terjadi pelepasan mediator kimia yang menyebabkan terjadinya iskemia jaringan
dan berdampak pada peningkatan asam laktat (Maher, Salmond, & Pellino, 2002).
Adanya proses fisik seperti pemotongan dan pengambilan jaringan, insisi, serta
pemasangan alat akan merangsang nosiseptor (Rowllingson, 2009, dalam Novita,
2013). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri pasca bedah ortopedi
berupa usia, jenis kelamin, riwayat penyakit sebelumnya, riwayat nyeri
sebelumnya, dan penggunaan analgetik.

Terdapat beberapa intervensi yang telah diberikan pada pasien kasus kelolaan
sesuai penyebab yang ada untuk mengatasi masalah nyeri. Adapun intervensi yang
diberikan antara lain mengkaji tingkat nyeri seperti lokasi, intensitas, durasi, dan
frekuensi. Intervensi lainnya yang diberikan berupa mengatur posisi elevasi area
yang fraktur dan menciptakan lingkungan yang nyaman. Sementara itu, intervensi
nonfarmakologik untuk menurunkan nyeri yaitu tehnik relaksasi Benson dan
relaksasi nafas dalam yang dikombinasikan dengan pemberian terapi
farmakologik analgetik.

Selanjutnya, sebagian besar pasien kasus kelolaan mengalami hambatan dalam


melakukan mobilisasi. NANDA (2012) mendefinisikan bahwa hambatan
mobilitas fisik merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami
keterbatasan aktivitas fisik. Adapun penyebab terjadinya hambatan mobilisasi
antara lain karena fraktur, ekstremitas yang lemah, dan perubahan bentuk.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
39

Pada pasien dengan gangguan muskuloskeletal, immobilisasi antara lain ditujukan


untuk mencegah terjadinya cedera tambahan, mengembalikan fungsi secara
normal, penurunan nyeri, dan penyembuhan luka (Maher, Salmond, & Pellino,
2002). Pada setiap pasien, immobilisasi dilakukan untuk tujuan yang berbeda.
Akan tetapi, adanya mobilisasi yang terbatas tidak dapat diartikan bahwa pasien
tidak dapat melakukan aktivitas sama sekali. Bila terlalu lama tidak melakukan
aktivitas justru akan menyebabkan terjadinya komplikasi dan proses
penyembuhan menjadi lebih lama.

Terdapat beberapa intervensi yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya


komplikasi akibat immobilisasi. Smeltzer & Bare, (2010) mengemukakan bahwa
perawat dapat melakukan pengkajian kemampuan pasien untuk mobilisasi dan
membimbing cara menggunakan alat bantu. Dalam hal ini, intervensi yang
dilakukan pada sebagian besar pasien kasus kelolaan berupa mengukur tanda-
tanda vital sebelum dan setelah latihan dilakukan, latihan rentang gerak sendi baik
pasif maupun aktif, melakukan latihan isometrik pada ekstremitas yang terganggu,
serta memberikan penguatan terhadap latihan/kegiatan yang telah dilakukan.
Selain itu, memberikan support agar sendi yang tidak sakit tetap berfungsi secara
normal. Dalam melakukan bimbingan/latihan terhadap pasien, perawat harus tetap
mewaspadai terjadinya trauma berulang bilamana masalah mobilisasi telah
teratasi.

Selain masalah nyeri dan hambatan mobilitas fisik, sebagian besar pasien kasus
kelolaan mengalami masalah risiko infeksi. Masalah ini terjadi diakibatkan oleh
adanya kerusakan jaringan lunak yang cukup luas baik karena adanya fraktur
maupun tindakan pembedahan. Wilkinson (2005) mengungkapkan bahwa
seseorang dikatakan mengalami infeksi bilamana orang tersebut beresiko untuk
menyebarkan agen patogen. Pada pasien dengan pasca bedah fraktur, resiko
infeksi dapat terjadi karena adanya faktor pembedahan itu sendiri dan dapat pula
berasal dari faktor penderita. Adapun faktor yang dapat memicu terjadinya infeksi
meliputi usia (biasanya dewasa tua), malnutrisi, obesitas, perokok, diabetes,
menjalani pengobatan, dan pemasangan alat invasif (Black & Hawks, 2009).

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
40

Terdapat beberapa intervensi yang dilakukan untuk mengatasi masalah resiko


infeksi. Adapun intervensi yang dilakukan antara lain melakukan perawatan luka
aseptik dan antiseptik, mengajarkan untuk mengenal dan mencegah tanda-tanda
infeksi serta melaporkannya, memberikan makan TKTP serta menjaga kebersihan
lingkungan. Sedangkan tindakan farmakologiknya berupa pemberian antibiotik
sesuai program.

Penerapan teori Self Care Orem pada pasien kasus kelolaan diawali dengan tahap
pertama yaitu pengkajian. Pada teori ini, pengkajian disebut juga Diagnostic
Operation, yang meliputi basic conditioning factor, universal self care,
development self care requisites, dan health deviation self care requisites. Basic
conditioning factor meliputi usia dan jenis kelamin, status kesehatan, status
perkembangan, sistem pelayanan kesehatan, orientasi sosiokultural dan spiritual,
pola hidup, sistem keluarga, faktor lingkungan, dan sumber pendukung.
Selanjutnya, universal self care berisi tentang kajian terhadap kebutuhan fisiologis
dan kemampuan organ dan fungsi sistem oksigen, cairan, nutrisi, eliminasi,
aktivitas dan istirahat, interaksi sosial, pencegahan bahaya serta promosi pada
keadaan normal.

Dari sejumlah kasus kelolaan yang ada, penulis menemukan terjadi


masalah/gangguan pada development self care requisites dan health deviation self
care requisites. Hal ini dapat dilihat pada ketidakmampuan pasien untuk
memenuhi kebutuhan dirinya sendiri seperti makan, berpakaian, dan merawat diri.
Disini, pasien membutuhkan bantuan dari perawat/keluarga tidak hanya dalam
memenuhi kebutuhan, tetapi juga dukungan/support untuk memulihkan
kepercayaan diri dan beradaptasi dengan kondisinyan saat sakit.

Tahap kedua adalah diagnosa keperawatan. Orem (2001) mengemukakan bahwa


diagnosa keperawatan merupakan hasil dari proses pengumpulan, pengujian, dan
analisis data yang divalidasi dan lengkap untuk membuat keputusan keperawatan.

Tahap selanjutnya adalah perencanaan keperawatan, yang disusun berdasarkan


tujuan dan sasaran yang sesuai dengan diagnosa keperawatan, berdasarkan self
care demand, mengatasi self care defisit, serta meningkatkan kemampuan self

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
41

care. Asuhan keperawatan yang diberikan disesuaikan dengan tingkat kemampuan


pasien (wholly compensatory, partially compensatory, dan supportive educative).
Selanjutnya disusun metode yang tepat untuk membantu pasien antara lain
guideline, supportive, teaching, directing, and providing the development
environment.

Tahap berikutnya adalah implementasi dan evaluasi. Pada tahap ini, perawat
melakukan dan mengontrol tindakan dengan mengacu pada rencana keperawatan
yang telah disusun. Pada tahap ini, perawat memiliki tanggung jawab untuk
melaksanakan implementasi keperawatan dengan melibatkan tenaga kesehatan
yang lain serta pasien/keluarganya.

Tahap terakhir dari proses keperawatan adalah evaluasi. Smeltzer & Bare, (2010)
mengemukakan bahwa pada tahap evaluasi ini yang menjadi fokus perhatian
adalah respon pasien terhadap intervensi keperawatan serta sejauhmana tujuan
tercapai. Menurut teori model Orem, evaluasi keperawatan meliputi kemampuan
pasien dalam meningkatkan kemampuan self care, mengurangi self care deficit,
dan mempertahankan self care activity.

Setelah melakukan penerapan teori Self Care Orem pada pasien kasus kelolaan,
penulis dapat menyimpulkan bahwa teori Self care Orem sangat tepat
diaplikasikan pada pasien-pasien dengan gangguan sistem muskuloskeletal.
Menurut penulis, dari setiap tahapan yang ada dalam proses keperawatan tidak
berbeda dengan yang telah dirumuskan oleh yang lainnya seperti ANA, tetapi
yang berbeda adalah sistem pendokumentasiannya.

Penulis menyimpulkan bahwa terdapat beberapa kelebihan dari teori ini. Pada
tahap pengkajian, perawat dapat melakukan proses pengkajian dengan lebih
lengkap, tidak hanya data fisiologis saja, melainkan biopsikososial dan spiritual
secara komprehensif. Selain itu, perawat dapat menentukan apakah pasien dapat
diintervensi sebagian atau sepenuhnya. Dengan demikian, seorang perawat dapat
menyusun seperti apa rencana keperawatan yang akan diberikan serta bagaimana
metode yang dilakukan untuk membantu pasien mengatasi masalahnya, sehingga
self care activity dapat dipertahankan.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
42

Adapun kelemahan dari teori ini antara lain adanya tumpang tindih data antara
satu elemen pengkajian dengan elemen yang lain sehingga pelaksanaan
pendokumentasian pada satu elemen akan berulang pada elemen yang lain. Selain
itu, aplikasi dan penerapan teori ini belum dilakukan secara umum dan belum
dibakukan, terutama pada level spesialis sehingga masih terasa asing dan baru
untuk diterapkan.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
BAB 4
ANALISIS PRAKTEK KEPERAWATAN BERBASIS BUKTI

Pada bab ini, akan dibahas peran penulis sebagai Ners Spesialis dalam
mengujicoba pelaksanaan praktik keperawatan berbasis bukti ilmiah (Evidance
Based Nursing Practice) berupa pemaparan hasil analisis situasi klinik disertai
critical review terhadap hasil penelitian terkait dan pengalaman dalam
melaksanakan Evidance Based Nursing pada kasus kelolaan selama pelaksanaan
praktik residensi.

4.1 Analisis Masalah


4.1.1 Situasi Klinik
RSUP Fatmawati merupakan salah satu rumah sakit milik pemerintah dan sebagai
pusat rujukan nasional dibidang Ortopedi dan Rehabilitasi Medik. Adapun pasien
yang masuk dan dirawat sebagian besar mengalami pembedahan ortopedi
sehingga memerlukan penanganan pasca pembedahan yang komprehensif.

Salah satu masalah yang timbul pada pasien pasca bedah ortopedi adalah nyeri.
Morris, Benneti, Marro, & Rosenthal, (2010) mengemukakan bahwa nyeri cukup
berkontribusi terhadap aktivitas pasca bedah dengan menggunakan skala 0 sampai
10, maka nyeri pasca bedah ortopedi berada pada skala 4,7. Selain itu, terdapat 70
% angka kejadian intensitas nyeri dengan durasi 3 menit pada pasien pasca bedah
fraktur ekstremitas bawah (Smeltzer & Bare, 2008). Penanganan nyeri dapat
dilakukan secara farmakologik maupun nonfarmakologik. Begitu banyak
intervensi nonfarmakologik yang dapat dilakukan oleh tenaga keperawatan untuk
mengatasi nyeri dimana salah satunya adalah tehnik relaksasi.

Menurut Eisenberg et al, (1998); Kessler et al, (2001); Kwekkeboom &


Gretarsdottir, (2006) mengungkapkan bahwa tehnik relaksasi telah lama
dipraktekkan untuk berbagai tujuan dan menunjukkan adanya peningkatan dalam
penggunaan tehnik ini. Hasil penelitian lain dilakukan oleh Roykulcharoen &
Good (2004) terhadap 102 pasien yang telah menjalani pembedahan abdominal,
dimana tehnik relaksasi merupakan intervensi yang cukup efektif untuk

43 Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
44

mengontrol nyeri pasca pembedahan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh


Seers, Crichton, Tutton, Smith, & Saundres (2008) dengan judul “Effectiveness of
relaxation for postoperative pain and anxiety : randomized controlled trial”
dilakukan pada berbagai prosedur bedah elektif ortopedi. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pemberian tehnik relaksasi memberikan manfaat sebagai
intervensi keperawatan dalam mereduksi nyeri akibat pasca pembedahan ortopedi.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis ingin menelaah lebih lanjut apakah
tehnik relaksasi efektif terhadap penurunan nyeri pasien pasca bedah fraktur
ekstremitas bawah di Lt. I GPS RSUP Fatmawati Jakarta?
a. Problem (P)
Dalam penanganan nyeri nonfarmakologis pada pasien pasca bedah fraktur
ekstremitas bawah, perawat lebih banyak melakukan tehnik relaksasi nafas
dalam dan belum terpapar dengan tehnik relaksasi lainnya seperti relaksasi
Benson yang merupakan intervensi keperawatan yang telah banyak dilakukan
penelitian sebelumnya.
b. Intervensi (I)
Intervensi dalam penerapan EBN ini adalah melakukan tehnik relaksasi Benson
pada pasien pasca bedah fraktur ekstremitas bawah.
c. Comparation (C)
Penerapan EBN ini akan membandingkan nyeri sebelum dan setelah dilakukan
tehnik relaksasi antara kelompok yang dilakukan tehnik relaksasi Benson dan
yang dilakukan tehnik relaksasi nafas dalam.
d. Output (O)
Penerapan intervensi ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dengan
indikator terjadi penurunan nyeri yang diukur dengan menggunakan Visual
Analogue Scale (VAS).
Berdasarkan analisis situasi klinik dan uraian PICO tersebut, maka yang menjadi
pertanyaan klinis yaitu “Apakah tehnik relaksasi Benson lebih efektif untuk
menurunkan nyeri dibandingkan dengan tehnik relaksasi nafas dalam pada
pasien pasca bedah fraktur ekstremitas bawah di Lt.I GPS RSUP Fatmawati
Jakarta?”

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
45

4.1.2 Penelusuran Literatur


Penelurusan literatur dilakukan dengan menggunakan data base berupa EBSCO,
CINAHL, dan Proquest dengan kata kunci “evidance based nursing”, “relaxation
technique” dan “benson relaxation”. Dari hasil penelusuran tersebut didapatkan
40 artikel yang berkaitan dengan masalah tersebut. Akan tetapi, hanya 7 artikel
yang dipilih. Dari 7 artikel terpilih, maka penulis memilih 5 artikel terkait antara
lain :
1. Seers et al, (2008) yang berjudul “Effectiveness of relaxation for postoperative
pain and anxiety: randomized controlled trial”.
Penelitian dilakukan secara random terhadap 118 responden antara tahun 2002
dan 2003 dengan membandingkan antara total body relaxation, jaw relaxation,
kontrol perhatian, dan perawatan biasa. Penelitian dilakukan pada pasien bedah
ortopedi terencana di Rumah Sakit Ortopedi United Kingdom. Tujuan
penelitian ini adalah untuk membedakan efektivitas Total Body Relaxation dan
Jaw Relaxation untuk menurunkan nyeri pada pasien pasca bedah ortopedi.
Aplikasi pemberian tehnik relaksasi pada penelitian ini berupa tehnik Total
Body Relaxation dan Jaw relaxation yang dilakukan selama 15-20 menit.
Sementara responden yang mendapat terapi kontrol perhatian dan perawatan
biasa (pemberian terapi medikasi pasca bedah sesuai standar) dilakukan selama
15-20 menit.
2. Kwekkeboom & Gretarsdottir (2006) dengan judul “Systematic Review of
Relaxation Intervention for Pain”.
Penelitian ini merupakan penelitian systematic review berdasarkan penelusuran
berbagai jurnal penelitian tentang tehnik relaksasi pada berbagai kasus
prosedur pembedahan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa studi sistematik
review yang dilakukan, terdapat 8 dari 15 studi menunjukkan bahwa pemberian
tehnik relaksasi dapat mengurangi nyeri pasca pembedahan.
3. Masoumeh, Mohamad, & Masoud, (2006) dengan judul “The effect of Benson
Relaxation Techniques on Rhematoid Arthritis Patients: Extended report.”
Penelitian ini dilakukan pada 50 responden yang menderita penyakit rematoid
artritis dan terbagi dalam dua kelompok dimana kelompok intervensi mendapat
terapi relaksasi Benson dan kombinasi pemberian obat. Sementara kelompok

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
46

kontrol hanya mendapat obat saja. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan
yang signifikan antara kedua kelompok yang menggambarkan bahwa tehnik
relaksasi Benson sangat efektif untuk mereduksi nyeri pada pasien rematoid
artritis.
4. Roykulcharoen & Good (2004) dengan judul penelitian “Systematic relaxation
to relieve postoperative pain.”
Penelitian ini dilakukan terhadap 102 pasien yang telah menjalani pembedahan
abdominal, dimana tehnik relaksasi ini dilakukan selama 15 menit pada fase
pemulihan sampai ambulasi pertama setelah pembedahan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tehnik relaksasi merupakan intervensi yang cukup efektif
untuk mengontrol nyeri pasca pembedahan.
5. Seers & Carroll (1999) dengan judul “Relaxation techniques for acute pain
management: a systematic review”.
Penelitian dilakukan terhadap 7 penelitian acak dengan 362 responden. Dari
hasil penelitian tersebut, menunjukkan 6 penelitian sebelumnya melaporkan
adanya perbedaan yang signifikan terhadap penggunaan tehnik relaksasi antara
setiap kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

4.2 Critical Review


4.2.1 Validity dan Reliability
Dari artikel yang ada, penulis memilih salah satu artikel untuk dikritisi yaitu
artikel yang dibuat oleh Seers et al, (2008) yang berjudul “Effectiveness of
relaxation for postoperative pain and anxiety: randomized controlled trial”. Dari
artikel tersebut diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tehnik
relaksasi efektif terhadap penurunan nyeri post operasi dimana validitas seleksi
dalam pemilihan sampel untuk masing-masing kelompok perlakuan dilakukan
secara random pada pasien antara tahun 2002 dan 2003 dengan menggunakan
kriteria sampel. Jumlah sampel sebanyak 118 responden dengan power 90 % dan
level signifikan 5%.

Hasil penelitian yang dilakukan pada artikel ini berdasarkan parameter nyeri
dengan menggunakan Visual Analogue Scale (VAS). Adapun rerata nyeri pada

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
47

responden yang mendapat terapi TBR sebelum dan setelah intervensi 8,50 (21-
89,26). Sementara untuk responden yang mendapat jaw relaxation sebelum dan
setelah intervensi 5,75 (8-89,28). Responden yang mendapat kontrol perhatian
sebelum dan setelah intervensi 8,07 (20-58,29), sedangkan responden yang
mendapat perawatan biasa sebelum dan setelah intervensi -2,94 (15-47,31). Hasil
penelitian ini berdasarkan nilai p menunjukkan bahwa ada perbedaan yang
signifikan antara keempat kelompok responden (p=0,043).
Studi ini menggunakan uji statistik Anova, dimana sebelum dilakukan intervensi
memiliki kemaknaan (p=0,887) dan setelah dilakukan intervensi dengan
kemaknaan (p=0,043). Penurunan nyeri yang dilakukan pada kelompok kontrol
sebesar 39% sedangkan pada kelompok intervensi sebesar 65%.
Hasil analisis terhadap artikel ini menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan
telah memenuhi syarat dimana metode yang dilakukan dan pengujian dengan
menggunakan statistika yang sesuai.
Berdasarkan hasil tersebut, maka nilai NNT pada penelitian ini adalah :
NNT = 1/ARR
= 1/(0,65 – 0,39)
= 1/0,26
= 3,8  4
ARR : Absolute Risk Reduction
Dari hasil perhitungan diatas, dapat diartikan bahwa setiap 5 orang yang
mendapatkan intervensi, maka 4 orang akan mengalami penurunan nyeri secara
signifikan.
4.2.2 Important
Tehnik relaksasi Benson merupakan salah satu jenis terapi komplementer dalam
intervensi keperawatan yang dapat membantu pasien untuk mengontrol rasa
ketidaknyamanan dan menghilangkan nyeri yang dirasakan sehingga dapat
mempercepat proses penyembuhan pasien pasca pembedahan fraktur ekstremitas
bawah. Akan tetapi, tehnik relaksasi ini masih jarang dilakukan.
4.2.3 Applicability
Penerapan tehnik ini dilakukan pada pasien pasca bedah fraktur ekstremitas
bawah karena relatif sederhana dengan efek samping yang cukup minimal, mudah
dilaksanakan serta dapat dilakukan setiap saat tanpa bantuan terapis. Pada

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
48

penerapan tehnik relaksasi ini dapat pula dimodifikasi dengan tehnik relaksasi
yang telah menjadi standar prosedur yang ada.

Adapun alasan penulis memilih artikel tersebut karena berdasarkan analisis


metode pengujian yang dilakukan sudah sesuai, kategori sampel yang menjadi
responden memenuhi kriteria, serta dapat diterapkan dan diaplikasikan di ruang
perawatan. Berdasarkan critical review tersebut, maka penulis ingin membuktikan
keefektifan penggunaan intervensi dimaksud melalui praktik keperawatan pada
pasien pasca bedah fraktur ekstremitas bawah.

4.3 Praktek Keperawatan berbasis bukti


4.3.1 Subyek
Subyek dalam penerapan intervensi ini adalah pasien pasca bedah fraktur
ekstremitas bawah, dirawat di Lantai I Gedung Prof Soelarto RSUP Fatmawati
Jakarta dan memenuhi kriteria inklusi selama pelaksanaan EBN berlangsung.
Kriteria sampel adalah pasien pasca bedah fraktur ekstremitas bawah pada salah
satu area yang berusia > 18 tahun, tidak mendapat terapi analgetik secara
kontinyu, dapat berkomunikasi dengan baik, serta mau dan bersedia untuk
dilakukan EBN. Kriteria eksklusi adalah pasien yang mengalami pembedahan
lebih dari satu area, mendapat terapi analgetik secara kontinyu dan tidak bersedia
untuk dilakukan EBN.
4.3.2 Waktu dan Tempat
Tempat pelaksanaan penerapan EBN adalah di Lantai I Gedung Prof. Soelarto
RSUP Fatmawati Jakarta, dengan jadwal pelaksanaan sebagai berikut :
NO. KEGIATAN WAKTU
SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER
1. Penyusunan proposal
2. Sosialisasi EBN
3. Pelaksanaan EBN
4. Penyusunan laporan

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
49

4.3.3 Prosedur Pelaksanaan


Prosedur pelaksanaan EBN meliputi :
a. Mengidentifikasi subyek penerapan yang mengacu pada kriteria inklusi dan
eksklusi
b. Menjelaskan kepada subyek tentang tujuan, manfaat, dan prosedur pelaksanaan
EBN
c. Prosedur pelaksanaan :
1. Pelaksanaan dimulai dengan mengukur nyeri saat 24 jam pasca bedah
2. Sedapat mungkin situasi ruangan atau lingkungan relatif tenang
3. Aturlah posisi tidur terlentang yang dirasakan paling nyaman
4. Pejamkan mata dengan pelan dan jangan dipaksakan agar tidak ada
ketegangan otot sekitar mata
5. Kendurkan otot-otot serileks mungkin, mulai dari kaki, betis, paha , perut
dan lanjutkan ke semua otot tubuh. Lemaskan kepala, leher dan pundak
dengan memutar kepala dan mengangkat pundak perlahan-lahan. Ulurkan
tangan dan lengan, kemudian kendurkan dan biarkan terkulai wajar di sisi
badan. Usahakan agar tetap rileks
6. Mulailah dengan bernapas yang lambat dan wajar, dan ucapkan dalam hati
frase atau kata sesuai keyakinan anda. Sebagai contoh anda menggunakan
frase yaa Allah. Pada saat mengambil nafas sertai dengan mengucapkan
kata yaa dalam hati, setelah selesai keluarkan nafas dengan mengucapkan
Allah dalam hati. Sambil terus melakukan nomor 6 ini, lemaskan seluruh
tubuh disertai dengan sikap pasrah kepada Allah. Sikap ini menggambarkan
sikap pasif yang diperlukan dalam relaksasi, sehingga dari sikap ini akan
muncul efek relaksasi yaitu ketenangan. Kata atau kalimat yang akan
diucapkan dapat diubah dan disesuaikan dengan keyakinan pasien.
7. Teruskan selama 15 menit, anda diperbolehkan membuka mata untuk
melihat waktu tetapi jangan menggunakan alarm. Bila sudah selesai, tetap
berbaring dengan tenang beberapa menit, mula-mula mata terpejam dan
sesudah itu mata dibuka.
8. Latihan ini dilakukan 1 kali sehari dan 2 jam atau lebih setelah makan.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
50

9. Mengukur nyeri pasien pada masing-masing kelompok saat 48 jam pasca


bedah
4.3.4 Evaluasi
Evaluasi penerapan EBN dilakukan pada saat 48 jam pasca operasi yang bertujuan
untuk menilai nyeri dengan menggunakan parameter nyeri berupa Visual
Analogue Scale (VAS).

4.4 Pembahasan
Penerapan EBN dilakukan pada dua kelompok dimana kelompok intervensi
sebanyak 5 orang pasien dilakukan tehnik relaksasi Benson. Sedangkan kelompok
kontrol diberikan kepada 5 orang pasien berupa relaksasi nafas dalam, setelah
mendapatkan persetujuan sebelumnya untuk dilakukan penerapan EBN. Jenis
kelamin pada kelompok intervensi seluruhnya laki-laki dengan rentang usia 18-43
tahun (30,2 tahun) sedangkan pada kelompok kontrol, jenis kelamin laki-laki 4
orang dan perempuan 1 orang dengan rentang usia 22-33 tahun (26,6 tahun).

Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kejadian trauma muskuloskeletal khususnya


pada ekstremitas sering dialami dan sebagian besar yang menjalani prosedur
pembedahan adalah laki-laki dan berusia produktif. Jenis pembedahan yang
dilakukan pada kedua kelompok seluruhnya berupa reduksi internal (ORIF).
Adapun rerata nyeri sebelum dilakukan tindakan pada kedua kelompok berada
pada level nyeri sedang (4-5). Pada kelompok intervensi, dari 5 orang yang
diberikan tehnik relaksasi Benson, seluruhnya mengalami penurunan sampai pada
level nyeri ringan, sedangkan pada kelompok kontrol, dari 5 orang yang diberikan
tehnik relaksasi nafas dalam, 3 orang mengalami penurunan nyeri sampai di level
sedang, dan 2 orang mengalami penurunan pada level nyeri ringan.

Penurunan level nyeri yang cukup signifikan pada pemberian tehnik relaksasi
Benson pada pasien pasca pembedahan membuktikan bahwa tehnik relaksasi
Benson cukup efektif untuk menurunkan nyeri pasca pembedahan fraktur. Tehnik
relaksasi ini terbukti dapat menurunkan nyeri secara signifikan dibandingkan yang
hanya diberikan intervensi standar. Dengan demikian tehnik relaksasi ini dapat

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
51

digunakan sebagai terapi komplementer pada pasien pasca bedah fraktur


ekstremitas bawah.

Penurunan level nyeri ini akan dapat membantu proses penyembuhan luka dan
pemulihan kondisi umum sehingga pasien dapat sesegera mungkin memulai fase
rehabilitasi. Selain itu, efek samping dari pemberian analgesik dapat diminimalisir
sehingga konsumsi dosis analgesik juga berkurang. Hal ini akan membantu dalam
mengurangi biaya perawatan dan dapat meningkatkan kepuasan pasien atas
pelayanan keperawatan.

Penurunan level nyeri ini bisa terjadi karena relaksasi Benson dapat menghambat
aktifitas saraf simpatik sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan konsumsi
oksigen oleh tubuh dan selanjutnya otot-otot tubuh akan menjadi relaks sehingga
menimbulkan perasaan tenang dan nyaman. Selain itu pula, relaksasi Benson
difokuskan pada kata atau kalimat tertentu yang diucapkan secara berulang kali
dengan ritme yang teratur disertai sikap pasrah pada Tuhan Yang Maha Kuasa
sesuai keyakinan pasien sehingga memiliki arti yang sangat menenangkan.

Relaksasi Benson merupakan tehnik relaksasi yang dikembangkan dari metode


respons relaksasi dengan melibatkan faktor keyakinan (faith factor). Pasien
melakukan relaksasi dengan mengulang kata atau kalimat yang sesuai dengan
keyakinan responden sehingga menghambat impuls noxius pada sistem kontrol
desending (gate control theory) dan meningkatkan kontrol terhadap nyeri.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Masoumeh, Mohamad, & Masoud, (2006) dimana terdapat perbedaan yang
signifikan antara kelompok intervensi mendapat terapi relaksasi Benson dan
kombinasi pemberian obat dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya
mendapat obat saja. Hasil penelitian inipun sesuai dengan penelitian yang
dilakukan Datak (2008) yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan
antara kelompok yang mendapatkan tehnik relaksasi Benson dan kelompok yang
tidak mendapat tehnik ini pada pasien pasca bedah TURP.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
52

Dalam penerapan praktik klinik tehnik relaksasi Benson, seorang perawat harus
mempertimbangkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap respon individu
pada penerapan tehnik relaksasi ini. Salah satu faktor yang harus dipertimbangkan
dalam pelaksanaan tehnik relaksasi Benson ini adalah bahwa faktor usia yang
diasumsikan memiliki kematangan spiritual yang baik sehingga akan
memudahkan pelaksanaan tehnik relaksasi Benson.

Selain itu, dalam menjalankan fungsi dan perannya, seorang perawat juga harus
memahami respon setiap pasien yang berbeda-beda terhadap intervensi ini. Oleh
sebab itu, perawat tidak bisa mengasumsikan bahwa relaksasi ini akan memberi
dampak yang maksimal pada seluruh pasien. Dengan demikian, sangat dibutuhkan
kontrol dan penilaian secara terus menerus dan berkesinambungan oleh perawat.
Dimasa sekarang dan yang akan datang berbagai penelitian yang berkaitan dengan
tindakan keperawatan mandiri tehnik relaksasi Benson dapat terus dikembangkan
dan dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan di tatanan praktik klinik pelayanan
keperawatan.

Adapun rekomendasi yang dapat diberikan dalam penerapan EBN ini yang
merupakan salah satu intervensi mandiri keperawatan antara lain Perawat
memiliki kewenangan dalam melaksanakan intervensi nonfarmakologis untuk
menurunkan nyeri. Selain itu, penerapan tehnik relaksasi Benson dapat dilakukan
secara bersamaan dengan atau tanpa pemberian analgetik.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
BAB 5
ANALISIS PERAN PERAWAT SEBAGAI INOVATOR

Pada bab ini akan menguraikan kegiatan program inovasi yang dilakukan di
Gedung Prof. Soelarto Lantai I RSUP Fatmawati Jakarta. Kegiatan inovasi ini
dilakukan sebagai tugas kelompok (David Arifiyanto, Dewi Masyitah, Iqbal D.
Husain, Wantonoro) sebagai inovator. Jenis kegiatan yang dilakukan berupa
aplikasi edukasi terstruktur melalui media booklet pada pasien yang dirawat.

5.1 Analisis Situasi

Terjadinya fraktur dapat menyebabkan ketidakberdayaan dan ketergantungan


yang besar karena tulang sebagai penyangga tubuh untuk bertumpu mengalami
gangguan. Terdapat beberapa masalah yang terjadi pada pasca pembedahan
fraktur ekstremitas bawah antara lain berkaitan dengan nyeri, perfusi jaringan,
mobilitas fisik, konsep diri dan promosi kesehatan.

Permasalahan yang muncul secara aktual dengan adanya fraktur adalah adanya
nyeri yang dirasakan dan mengganggu aktifitas sehingga pasien akan mengalami
keterbatasan pergerakan sampai harus bedrest ditempat tidur (immobilisasi).
Immobilisasi akan mengakibatkan terjadinya penurunan peristaltik usus besar
sehingga menimbulkan resiko terjadinya konstipasi. Selain itu, pasien akan
beresiko mengalami jatuh. Efek lain yang muncul sebagai akibat adanya
keterbatasan aktivitas berupa ulkus dekubitus.

Karakteristik permasalahan yang terjadi pada pasien fraktur membutuhkan peran


perawat sebagai edukator dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
perilaku kesehatan pasien. Pendidikan kesehatan pada pasien merupakan bagian
dari keperawatan dan sebagai bagian terpenting pada semua praktek profesi
kesehatan. Selain itu juga merupakan pengalaman belajar yang direncanakan.
Pasien yang memperoleh informasi secara tertulis seperti contohnya bookleat,
terbukti mampu meningkatkan pengetahuan tentang penyakitnya, menurunkan

53 Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
54

perasaan cemas, meningkatkan mekanisme koping individu dan menguatkan


kontrol diri terhadap program pengobatannya (Kowalyk, 2006).

Manajemen pemberian edukasi yang dilakukan di Lantai I Gedung Prof. Soelarto


masih dilakukan secara terpisah dan belum terstruktur. Manajemen edukasi pasien
secara terstruktur dengan menggunakan media tertulis perlu dilakukan untuk
meningkatkan pengetahuan, menurunkan cemas, meningkatkan koping pasien
serta dapat menguatkan kontrol diri pasien terhadap perawatannya.
5.1.1 Strength
Kekuatan yang dimiliki oleh ruang GPS Lantai I antara lain merupakan ruangan
kelas III yang sebagian besar merawat kasus ortopedik dengan jumlah tenaga
keperawatan berjumlah 17 orang dengan tingkat pendidikan D III 11 orang dan S1
6 orang dengan pengalaman kerja lebih dari 2 tahun. Selain itu, GPS lantai I
sebagai sarana pendidikan praktik mahasiswa Keperawatan dengan berbagai
jenjang. Dampak yang diperoleh berupa kemampuan mengaplikasikan edukasi
terstruktur terhadap klien yang dirawat diruangan dengan menggunakan media
bookleat.
5.1.2 Weakness
Kelemahan yang ditemukan adalah pemberian edukasi masih belum terstruktur,
menggunakan metode ceramah, dengan isi yang belum sama serta belum terfokus
pada masalah pasien. Dampak yang dirasakan berupa waktu yang tersita dengan
edukasi yang berulang dan informasi yang diterima pasien/keluarga belum
optimal. Selain itu, persepsi pasien/keluarga terhadap edukasi menjadi berbeda-
beda.
5.1.3 Opportunity
Peluang yang didapat antara lain RSUP Fatmawati sementara mempersiapkan diri
menuju JCI 2013, dimana salah satu unsur penilaian berupa adanya edukasi
terstruktur. Selain itu, terdapat media elektronik untuk menampilkan informasi
kesehatan dan adanya dukungan pihak manajemen RS dan Instalasi sebagai
pemangku kebijakan karena sesuai dengan program RS.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
55

5.1.4 Threath
Adanya tuntutan terhadap kualitas pelayanan sebagai dampak status RS sebagai
rujukan pusat dibidang pelayanan Ortopedik dan Rehabilitasi Medik. Selain itu,
persaingan antar rumah sakit dengan program unggulan yang sama semakin
meningkat dan kesiapan RSUP Fatmawati dalam menghadapi program Jaminan
Kesehatan Nasional yang diberlakukan mulai tanggal 1 Januari 2014.
Berdasarkan analisis dan uraian tersebut, maka kelompok memilih inovasi
keperawatan berupa pemberian edukasi terstruktur melalui media booklet.

5.2 Kegiatan Inovasi

5.2.1 Persiapan

Tahap pertama adalah menganalisis kebutuhan ruangan terhadap inovasi melalui


analisa SWOT. Persiapan selanjutnya adalah melakukan identifikasi terhadap
intervensi yang akan dilakukan. Hasil identifikasi didapatkan bahwa intervensi
yang dilakukan terhadap klien yaitu berupa intervensi edukasi manajemen nyeri,
konstipati, resiko jatuh, dan resiko dekubitus. Selanjutnya, melakukan studi
literatur untuk penyusunan proposal dan materi intervensi edukasi.

5.2.2 Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan melakukan sosialisasi program inovasi


keperawatan yang dihadiri Kepala Bidang Keperawatan, Komite Keperawatan,
Kepala Instalasi, Supervisor, Kepala Ruangan, Wakil Kepala Ruangan, PN, dan
Perawat pelaksana. Materi sosialisasi meliputi latar belakang perlunya media
edukasi, tujuan penggunaan media edukasi, serta aplikasi program edukasi dengan
menggunakan media.

Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan program edukasi dengan menggunakan


media booklet dan lembar balik dalam asuhan keperawatan. Program edukasi
dilakukan selama dua minggu. Tahap terakhir adalah evaluasi program edukasi
yang meliputi evaluasi pasien berkaitan dengan ketercapaian outcome, dan
evaluasi diri perawat yang berkaitan dengan kesulitan, hambatan, dan persepsi
mengenai program edukasi menggunakan media booklet.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
56

5.2.3 Evaluasi

Evaluasi dilakukan dengan kuisioner dan lembar observasi terhadap pengetahuan,


sikap, dan prilaku responden yang dilakukan sebelum dan setelah edukasi dan
pemberian booklet. Evaluasi dilakukan terhadap 10 orang pasien yang dirawat
dan 5 orang perawat di GPS lantai 1 RSUP Fatmawati.

Hasil evaluasi pengetahuan menunjukan bahwa booklet dan edukasi memberikan


dampak yang positif terhadap pasien, dimana sebelum diberikan bookleat dan
dilakukan edukasi tingkat pengetahuan pasien menunjukkan 80% (8 orang) cukup
dan 20% (2 orang) baik. Sementara, setelah dilakukan edukasi terdapat
peningkatan dimana tingkat pengetahuan baik sebesar 90% (9 orang) dan cukup
hanya 10% (1 orang).

Hasil evaluasi sikap menunjukan bahwa sebelum diberikan booklet dan dilakukan
edukasi terdapat 40% (4 orang) dengan sikap cukup dan 60% (6 orang) memiliki
sikap baik. Setelah diberikan booklet dan dilakukan edukasi, diperoleh hasil 10%
(1 orang) dengan sikap cukup dan 90% (9 orang) dengan sikap baik.

Hasil evaluasi prilaku menunjukkan bahwa sebelum diberikan booklet dan


dilakukan edukasi, prilaku pasien rata-rata sebesar 73%. Selanjutnya, setelah
dilakukan edukasi dan pemberian booklet, prilaku pasien mengalami peningkatan
rata-rata sebesar 91%.

Hasil evaluasi pelaksanaan edukasi yang dilakukan pada 5 orang perawat


menunjukan bahwa seluruhnya mengatakan bahwa dengan adanya booklet telah
membantu kegiatan edukasi diruangan karena isinya telah disusun secara
terstruktur sehingga edukasi yang dilakukan menjadi lebih efektif. Akan tetapi, 1
orang perawat mengatakan bahwa pelaksanaan edukasi dapat dilaksanakan
manakala waktunya tidak tersita oleh kegiatan keperawatan lainnya.

5.3 Pembahasan
Hasil evaluasi proyek inovasi edukasi menggunakan booklet menunjukkan hasil
berupa adanya trend peningkatan yang positif terhadap indikator evaluasi
pengetahuan, sikap, dan prilaku dimana setelah diberikan booklet dan edukasi

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
57

hasilnya mengalami peningkatan. Hal ini sejalan dengan tujuan dari pemberian
edukasi melalui media booklet yaitu meningkatnya pencapaian hasil belajar pasien
melalui modifikasi edukasi klinik yang disertai dengan pemberian media
informasi tambahan sebagai alat untuk mengulang kembali tentang materi edukasi
yang ada. Sementara itu, bagi seorang perawat intervensi ini bertujuan untuk
meningkatkan profesionalisme seorang perawat sebagai edukator sehingga dapat
mendukung upaya intervensi keperawatan khususnya manajemen nyeri,
pencegahan konstipasi, dekubitus, dan resiko jatuh.

Chamber (2000) menjelaskan bahwa media booklet merupakan media informasi


dan berfungsi sebagai alat untuk mengulang kembali tentang pemahaman pasien
terhadap isi pembelajaran. Hal inipun sejalan dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Cruwick, et al (2002), dimana diperoleh hasil bahwa edukasi yang
diberikan kepada klien melalui cara verbal dan menggunakan booklet terbukti
efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan individu dalam
mengatasi masalah kesehatannya. Selain itu, Kowalyk (2006) juga
mengemukakan bahwa pasien yang memperoleh informasi secara tertulis seperti
contohnya booklet, terbukti mampu meningkatkan pengetahuan tentang
penyakitnya, menurunkan perasaan cemas, meningkatkan mekanisme koping
individu dan menguatkan kontrol diri terhadap program pengobatannya.

Hasil evaluasi pelaksanaan inovasi ini belum sepenuhnya mendukung pelaksanaan


kegiatan edukasi diruang Lt. 1 GPS RSUP Fatmawati Jakarta. Hal ini disebabkan
karena masih terbatasnya materi pada manajemen nyeri, pencegahan konstipasi,
dekubitus, dan resiko jatuh. Selain itu, keterbatasan tenaga masih menjadi masalah
klasik dalam penerapan edukasi ini. Intervensi ini dapat ditingkatkan melalui
keterlibatan seluruh perawat diruangan untuk mengimplementasikan edukasi
terstruktur melalui pemberdayaan sumber daya yang ada.

Pelaksanaan edukasi pasien yang dirawat di GPS Lt. 1 RSUP Fatmawati masih
dilaksanakan berdasarkan rutinitas. Oleh sebab itu, pelaksanaan edukasi
terstruktur dan menggunakan media tambahan perlu dilaksanakan untuk

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
58

meningkatkan pemahaman pasien terhadap masalah kesehatan yang dapat


dilakukan secara mandiri.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
BAB 6
SIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini diuraikan hasil kesimpulan dan saran terhadap laporan analisis
praktik residensi keperawatan yang dilakukan pada pasien pasca bedah fraktur
ekstremitas bawah melalui pendekatan teori Self care Orem.

6.1 Simpulan

1. Dalam memberikan asuhan keperawatan profesional pada pasien pasca


bedah fraktur ekstremitas bawah, seorang perawat memerlukan dasar
pemahaman yang memadai terhadap anatomi, fisiologi, patofisiologi,
intervensi keperawatan, serta teori keperawatan pendukung sebagai standar
dan pedoman dasar untuk memberikan pelayanan keperawatan.

Salah satu teori keperawatan yang digunakan dalam memberikan asuhan


keperawatan profesional pada pasien dengan gangguan sistem
muskuloskeletal adalah Teori Self Care Orem, dimana teori ini berfokus
pada bagaimana melatih kemampuan pasien secara bertahap sehingga
mampu untuk memenuhi kebutuhan dan perawatan secara mandiri.

2. Penerapan praktek keperawatan berbasis pembuktian ilmiah berupa tehnik


relaksasi Benson untuk menurunkan nyeri pada pasien pasca bedah fraktur
ekstremitas bawah terbukti dapat memberi dampak yang cukup signifikan
terhadap penurunan nyeri pasien serta efektif dan efisien dilaksanakan oleh
perawat dalam kegiatan praktek keperawatan sehari-hari.

3. Dalam perannya sebagai innovator, perawat telah melakukan upaya untuk


membangun pengetahuan, sikap, dan kemampuan pasien melalui modifikasi
edukasi klinik yang disertai dengan pemberian media informasi (bookleat)
sebagai alat untuk meningkatkan promosi kesehatan pasien dan keluarga.

59 Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
60

6.2 Saran

1. Dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien pasca bedah fraktur


ekstremitas bawah, diperlukan pengembangan yang lebih spesifik dan
berkesinambungan terhadap efektivitas penggunaan Teori Self Care Orem.

2. Dalam menjalankan perannya sebagai pemberi asuhan, edukator, inovator,


maupun researcher, seorang ners spesialis Keperawatan Medikal Bedah
membutuhkan proses pengembangan diri secara terus menerus tidak hanya
terbatas pada kasus-kasus trauma tetapi kasus umum yang terjadi.

3. Manajemen praktik keperawatan yang telah ada dan dilaksanakan di RSUP


Fatmawati Jakarta khususnya di Ruang Ortopedi dan Rehabilitasi tetap
dipertahankan dan lebih ditingkatkan dengan melibatkan dukungan dari
manajemen Rumah sakit sebagai penentu kebijakan dan dukungan dari
organisasi profesi berdasarkan standar etik dan etika profesi.

Universitas Indonesia
Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014
DAFTAR PUSTAKA

Apley. (2000). Buku Ajar Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley, (alih bahasa Edi,
N. Ed. 7) Jakarta : Widya Medika

Ayello, E. A., Braden, B. (2002). How and why to do pressurre ulcer risk
assessment. Advances in skin and wound care. www.Proquest.com

Black, J. M., & Hawks, J. H., (2009). Medical surgical nursing: Clinical
management for positive outcome. (7th ed.). St. Louis: Elsevier-
Saunder.

Cruwick, C, Bonauto, D., & Cohen, M., (2002), Evaluation of the Educational
Booklet, Prevention of Hand Dermatitis in the Health Care Setting,
Safety & Health Assessment & Research for Prevention Program.
Washington State Department of Labor and Industries. Olympia,
Washington.

European Pressure Ulcer Advisory Panel and National Pressure Ulcer Advisory
Panel. (2009). Treatment of Pressure Ulcers: Quick Reference Guide.
Washington DC: National Pressure Ulcer Advisory Panel.

Farlinger, P. (2001). An Educational Intervention to Decrease Pain Following


Ambulatory Orthopedic Surgery. Thesis. School of Nursing, Queen’s
University Ontario Canada

Girdhari, S., & Smith, S.K. (2006). Assisting Older Adults With Orthopaedic
Outpatient Acute-Pain Management. Orthopaedic Nursing, 25 (3)
page 188

Gordon, S., Pellino, T. (2002). Assesment and manajement of Pain, chapter 5


dalam Maher, Salmond, Pellino, Orthopaedic Nursing. (3rd ed).
Philadelphia : WB. Sounders Company

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2011). Profil Kesehatan Indonesia


2010.(http://www.depkes.go.id/downloads/PROFIL_KESEHATAN_I
NDONESIA_2010.pdf , diperoleh pada tanggal 19 November 2013)

Kozier, B., Erb, G. (2005). Fundamental of nursing: Concepts, process and


practice.(6th Ed). California : Addison-Wesley

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Kowalyk, K. M. (2006). Health Anxiety During Pregnancy: Assessing The
Efficacy of A Self-Help Booklet. Thesis. University of Regina

Kwekkeboom, K.L. & Gretarsdottir, E. (2006). Systematic Review of Relaxation


Interventions for Pain. Journal of Nursing Scholarship, 38 (3)page
269

Levin, R.F., Malloy, G.B., Hyman, R.B. (1997). Nursing Management of


Postoperative Pain: Use of Relaxation Techniques with Female
Cholesystectomy patients. Diunduh dari http://proquest.umi.com./

Maher. A., Salmond, S., Pellino, T. (2002). Orthopaedic Nursing. (3rd ed).
Philadelphia : W.B. Sunder Company

Masoumeh, B.N., Mohamad, A.M.B., Masoud, S.A. (2006). The effect of Benson
Relaxation Techniques on Rhematoid Arthritis Patients: Extended
report. Diunduh dari http://proquest.umi.com./

Morris, B.A., Benneti, M., Marro, H., & Rosenthal, C.K. (2010). Clinical practice
guidelines for early mobilization hours after surgery. Orthopaedic
Nursing, 29 (5), 290

Madsen et al, (2010). Comparison of two bowel treatments to preventconstipation


in post surgical orthopaedic patients. International Journal of
Orthopaedic and Trauma Nursing 14, 75–81.

NANDA International.(2012). Nursing Diagnoses: Definitions & Classifications


2012-2014. John Wiley & Sons

Potter, A.G., & Perry, P.A. (2006). Fundamental of nursing: Concepts, Procces
and practice. St. Louis : CV Mosby Company

Price, S.A., Wilson, L.MC. (2005). Patophysiology : Clinic, Concepts, and


Proccess. Jakarta : EGC

Rothrock, J.C. (1999). Perioperative nursing care planning. St Louis, Baltinore :


Mosby Inc.

Reeves, C.J., Roux, G, Lockhart, R. (2001). Medical Surgical Nursing. Jakarta :


Salemba Medika

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Roykulcharoen, V., Good, M. (2004). Systematic Relaxation to Relieve
Postoperative Pain. Journal of Advanced Nursing, 48 (2), 140-148

Rasjad, Ch., (2007). Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Cetakan Ke-5. Jakarta :
Yarsif Watampone.

Sjamsuhidayat, R., Jong, D.W. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. (ed. 2). Jakarta :
EGC

Seers, K., Crichton, N., Tutton, L., Smith, L., Saunders, T. (2008). Effectiveness
of Relaxation for Postoperative Pain and Anxiety: randomized
controlled trial. Journal of Advanced Nursing, 62(6), 681-688

Seers, K., Carroll, D. (1998). Relaxation techniques for acute pain management: a
systematic review. Journal of Advanced Nursing, 27(3), 466-475

Schaffer, S., Yucha, C.B. (2004). Relaxation and Pain Management : The
Relaxation response can play a role in managing chronic and acute
pain. American Journal of Nursing, 104(8), 75-82

Schoen, D.C. (2007). Pain in the Orthopaedic Patient. Orthopaedic Nursing, 26(2)
140

Smeltzer, S. C, Bare, S.G. (2010). Textbook of Medical Surgical Nursing. (9th


ed.). Philadelphia : Lippincot

Tomey, A. M., & Alligood, M. R. (2006). Nursing Theorists and their Work. 6
Edition. St. Louis: Mosby-Year Book, Inc.

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : IQBAL D. HUSAIN


Tempat/tanggal lahir : Gorontalo, 07 Oktober 1976
Alamat rumah : Jln. Usman Isa No. 226 D Kel. Dembe I Kec. Kota
Barat Kota Gorontalo
No. Telepon / HP : 0435-834049 / 081343066466
Email : www.iqbalhusain22@yahoo.com
Asal institusi : RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo
Riwayat pendidikan : 1. SDN No. 2 Kota Barat Kota Gorontalo tahun
1982 – 1988
2. SMP Negeri 4 Kota Gorontalo tahun 1988 –
1991
3. SPK Depkes Gorontalo tahun 1991 – 1994
4. Akademi Keperawatan Depkes Banta-bantaeng
Makassar tahun 1997 – 2001
5. S1 Keperawatan/Ners UNHAS Makassar tahun
2002 – 2005
6. Program Magister Ilmu Keperawatan FIK UI
tahun 2010 – 2012
7. Program Ners Spesialis Keperawatan Medikal
Bedah FIK UI tahun 2012 sampai sekarang
Riwayat pekerjaan : 1. Perawat Klinik Anak tahun 1995 – 1997
2. Perawat Klinik Bedah tahun 2001 -2002
3. Perawat Manajer Ruang VIP tahun 2005 – 2007
4. Perawat Manajer Ruang Penyakit Dalam tahun
2007 – 2009
5. Perawat Manajer Ruang Bedah tahun 2009 –
2010

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


LAMPIRAN

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Lampiran 1.
Resume Kasus Kelolaan

No. Diagnostic and prescription Nursing system design Nursing system management
1. Tn. RP, 24 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Pasien berada pada rentang usia produktif tetapi pasien
Tamat SLTP, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku desain keperawatan yang tidak mampu melakukan aktifitasnya tanpa dibantu.
Betawi, MRS tanggal 25 Februari 2013 jam 11.30 WIB, dibutuhkan oleh Tn. RP. Sistem Keterbatasannya menyebabkan aktifitas diri dilakukan di
Dx. Spondilitis TB. keperawatan yang dilakukan tempat tidur. Pasien butuh bantuan untuk toileting,
Riwayat nyeri pinggang sejak 2 tahun yang lalu, kepada Tn. RP adalah Guidelines, aktifitas mandi, berganti posisi dan berpindah tempat.
mengalami kelemahan pada kedua tungkai bawah sejak 8 Support, Teaching, dan Providing Pasien belum mengetahui dan memahami bahaya bila
bulan yang lalu. Riwayat penggunaan OAT sejak 2 bulan the development environment. melakukan gerakan yang salah pada punggungnya.
yang lalu. Hasil lab. LDH : 399 u/ul Pasien juga tidak mengetahui latihan pergerakan untuk
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (-). mengurangi nyeri pada punggung belakang. Pasien
Feel : terdapat nyeri pada punggung, krepitasi (-), NVD dipersiapkan untuk menggunakan brace. Latihan
+/+. Move : Limited, kekuatan otot ekstremitas bawah : mobilisasi dan rentang gerak juga diperlukan. Pasien
11/11 dilakukan edukasi tentang pentingnya pencegahan
Diagnosa keperawatan : Hambatan mobilitas fisik, Nyeri infeksi, pentingnya penguatan otot pada bagian
ekstremitas dan latihan keseimbangan. Tindakan
keperawatan diperlukan keluarga yang mendukung
pasien berupa manajemen keperawatan dan kolaboratif
antara lain pengkajian nyeri dan memberikan manajemen
nyeri secara farmakologi maupun nonfarmakologi.
Perawat juga menjadi advokat saat tim Rehabilitasi
Medik memasangkan brace, dimana perawat
memastikan bahwa pasien merasa nyaman dan terbebas
dari risiko injury. Selain itu, perawat juga mengajarkan
dan mengkonsultasikan bila terjadi gangguan
neuromuskular, melatih ROM aktif dan pasif.
Setelah dilakukan perawatan selama 2 minggu klien
dilakukan operasi stabilisasi dan pindah ruang rawat ke
lantai 4.

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


2. Tn. R, 55 tahun, Laki-laki, Sudah menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Usia pasien 55 tahun, berada pada tugas perkembangan
Tidak sekolah, Pekerjaan tidak ada (terlantar), Agama desain keperawatan yang dewasa akhir. Adanya keterbatasan menyebabkan
Islam, Suku Sunda, MRS tanggal 26 Februari 2013 jam dibutuhkan oleh Tn. R. Sistem aktifitas seluruhnya dilakukan di tempat tidur. Pasien
18.00 WIB, Dx. CF Intertrochanter Femur dextra. keperawatan yang dilakukan perlu bantuan untuk toileting, aktifitas mandi, berganti
Riwayat KLL 2 minggu sebelum MRS, diantar oleh kepada Tn. R adalah Guidelines, posisi dan berpindah posisi. Pasien tidak mengetahui
Yayasan Insan Mandiri. Klien mengeluh nyeri pada kaki Support, Teaching, dan Providing immobilisasi yang dilakukan pada pemasangan skin
bagian kanan dengan skala 5-6, sulit untuk digerakkan, the development environment. traksi. Latihan mobilisasi dan rentang gerak juga
tidak terdapat luka. Klien dipersiapkan untuk operasi diperlukan. Selain itu, dilakukan edukasi tentang
ORIF sambil menunggu perbaikan keadaan umum. pentingnya pencegahan infeksi, pentingnya penguatan
Look : tampak deformitas, tidak mampu berjalan, edema (- otot ekstremitas, latihan keseimbangan dan pengaturan
), luka (-). Feel : terdapat nyeri tekan, krepitasi (+), NVD posisi yang nyaman karena pasien terpasang skin traksi.
+/+. Move : Limited, kekuatan otot ekstremitas bawah Tindakan keperawatan yang mendukung pasien meliputi
kanan : 11 / 55 manajemen keperawatan dan kolaboratif antara lain
Diagnosa keperawatan : Nyeri , Hambatan mobilitas fisik menempatkan pasien pada tempat tidur ortopedi,
mempertahankan posisi kaki yang terpasang skin traksi,
mengobservasi neuromuskular bagian distal kaki,
perawatan luka, dan membantu pasien untuk memenuhi
kebutuhan dasarnya. Perawat membimbing latihan
rentang gerak dengan melakukan latihan isotonic dan
isometric sesuai kemampuan. Selain itu, mengobservasi
integritas kulit untuk menghindari terjadinya luka tekan.
Perawat juga memberikan terapi kolaborasi sesuai
dengan hasil kolaborasi. Perawat melakukan evaluasi
atas terapi yang diberikan. Klien diberikan intervensi
relaksasi Benson untuk menurunkan nyeri yang
dirasakan.
Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
pulang dan berobat jalan pada tanggal 15 Maret 2013,
dimana pada saat pulang klien dapat berjalan
menggunakan walker dengan jarak 5 meter tanpa
bantuan tetapi dalam pengawasan.
3. Tn. AN, 58 tahun, Laki-laki, Sudah menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Pasien berada pada tugas perkembangan dewasa tua.
Tamat SLTA, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku desain keperawatan yang Kemampuan pasien terbatas, perawatan diri seluruhnya

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Sunda, MRS tanggal 01 Maret 2013 jam 18.30 WIB, Dx. dibutuhkan oleh Tn. AN. Sistem dilakukan ditempat tidur, butuh bantuan toileting,
OF Distal Tibia Fibula sinistra gr. IIIA. keperawatan yang dilakukan BAB/BAK menggunakan bedpan, mandi dibantu. Posisi
Riwayat jatuh dari kursi saat memotong ranting pohon. kepada Tn. AN adalah kaki terbatas (lateral abduksi), pasien mengetahui latihan
Kejadian dialami pada jam 16.00. Klien mengeluh nyeri Guidelines, Support, Teaching, pergerakan untuk mempersiapkan latihan berjalan,
pada kaki kiri, skala 6-7. Mata kaki kiri tampak menonjol dan Providing the development latihan penguatan otot kaki, latihan keseimbangan.
keluar. environment. Selain itu, memerlukan bantuan dalam penggunaan alat
Look : deformitas, pasien berada ditempat tidur dan tidak bantu berjalan. Perlunya pencegahan infeksi akibat luka
mampu berjalan, edema (+), luka (+) dengan ukuran 10 x 8 terbuka. Tindakan keperawatan yang dapat mendukung
x 4 cm, kapiler pucat pasien antara lain tehnik distraksi/relaksasi, latihan gerak
Feel : terdapat nyeri tekan pada ekstremitas bawah kiri, sendi, ankle pump, perawatan luka. Perawat mengajarkan
krepitasi (+), NVD +/+ pasien mobilisasi berdiri, dan membantu dalam
Move : Limited, kekuatan otot ekstremitas bawah kiri : 5 5 menggunakan kruk secara bertahap. Selain itu juga
/11 memberikan terapi medis sesuai program.
Diagnosa keperawatan : Nyeri , Hambatan mobilitas fisik, Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
Resiko infeksi pulang dan berobat jalan pada tanggal 22 Maret 2013,
dimana pada saat pulang tidak terdapat tanda-tanda
infeksi, klien dapat berjalan menggunakan walker
dengan jarak 5 meter dengan bantuan dan dalam
pengawasan dan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi.
4. Tn. AB, 52 tahun, Laki-laki, Sudah menikah, Pendidikan Supportive educative merupakan Pasien berada pada tugas perkembangan dewasa tua.
Tamat SD, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku Betawi, desain keperawatan yang Kemampuan terbatas hanya pada hari pertama, dimana
MRS tanggal 05 Maret 2013 jam 10.00 WIB, Dx. dibutuhkan oleh Tn. AB. Sistem aktifitas perawatan diri sebagian besar dilakukan
Fractura Genu dextra. keperawatan yang dilakukan ditempat tidur, toileting dibantu. Tidak mengetahui
Riwayat patah tulang pada kaki kanan dan telah dilakukan kepada Tn. AB adalah Supportive latihan pergerakan untuk latihan kekuatan otot lengan,
ORIF pada tanggal 13 Maret 2009. Saat ini pasien educative, dimana pasien dan latihan keseimbangan, pasien memerlukan bantuan
direncanakan untuk operasi ROI tanggal 06 Maret 2013. keluarga dipersiapkan secara dalam mengurangi nyeri. Tindakan keperawatan yang
Look : tampak deformitas, klien berjalan menggunakan bertahap untuk segera mandiri dapat mendukung berupa supportive educative sangat
tongkat, edema (-), luka (-). Feel : tidak terdapat nyeri serta dibimbing untuk membantu tepat untuk keluarga dan pasien antara lain tehnik
tekan, krepitasi (-), NVD +/+. Move : Limited, kekuatan pemenuhan kebutuhan ADL distraksi/relaksasi untuk mengurangi nyeri, latihan gerak
otot ekstremitas bawah : 4 4 / 5 5 pasca operasi. sendi untuk mengurangi edema dan mencegah kontraktur
Diagnosa keperawatan : Hambatan mobilitas fisik, serta mengembalikan fungsi. Perawat mengajarkan
Anxiety pasien ROM secara bertahap. Selain itu juga
memberikan terapi medis sesuai program.

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Setelah dilakukan perawatan selama 2 hari, klien
diperbolehkan pulang dan kontrol dipoliklinik Ortopedi.
Pada saat pulang kondisi klien dapat melakukan latihan
rentang gerak secara mandiri, mampu memenuhi
kebutuhan dasar secara mandiri, tidak ada tanda-tanda
infeksi, dapat berjalan menggunakan walker dengan
jarak 15 meter tanpa bantuan.
5. Tn. TM, 77 tahun, Laki-laki, Sudah menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Usia pasien berada pada tugas perkembangan dewasa
Tamat SD, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku Betawi, desain keperawatan yang akhir. Pada hari pertama sampai dengan hari ketiga
MRS tanggal 07 Maret 2013 jam 11.15 WIB, Dx. CF dibutuhkan oleh Tn. TM. Sistem setelah pembedahan kemampuan terbatas, aktifitas
Collumn femur sinistra . keperawatan yang dilakukan seluruhnya dilakukan ditempat tidur, memerlukan
Riwayat nyeri pada paha kiri sejak 2 bulan yang lalu kepada Tn. TM adalah bantuan toileting, BAB/BAK menggunakan bedpan,
terutama saat berjalan. Nyeri dirasakan seperti tertusuk- Guidelines, Support, Teaching, mandi dibantu, tidak mampu berganti posisi, tidak
tusuk. Riwayat jatuh 2 minggu sebelum masuk RS. Hasil dan Providing the development mampu berpindah tempat (perlu bantuan). Posisi kaki
lab. HB : 9,9 gr % environment. terbatas (lateral abduksi), fleksi hip tidak lebih dari 45
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (-), derajat. Tidak mengetahui latihan pergerakan untuk
aktivitas dilakukan dengan bantuan. Feel : terdapat nyeri mempersiapkan walker, latihan penguatan otot lengan,
pada paha bagian kiri, krepitasi (-), NVD +/+. Move : latihan keseimbangan, pasien memerlukan bantuan
Limited, kekuatan otot ekstremitas bawah : 5 5 / 1 1 dalam penggunaan alat bantu berjalan. Tindakan
Diagnosa keperawatan : Hambatan mobilitas fisik, Nyeri, keperawatan yang dapat mendukung pasien antara lain
Resiko gangguan perfusi jaringan tehnik distraksi/relaksasi, latihan gerak sendi, ankle
pump, penguatan otot bahu dan lengan atas, mengatur
posisi lateral abduksi saat tidur, perawatan luka. Perawat
mengajarkan pasien mobilisasi miring ke kiri, duduk
ditempat tidur, berdiri, dan membantu dalam
menggunakan walker secara bertahap. Selain itu juga
memberikan terapi medis sesuai program.
Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
pulang dan berobat jalan pada tanggal 15 Maret 2013,
dimana pada saat pulang tidak terdapat tanda-tanda
infeksi, klien dapat berjalan menggunakan walker
dengan jarak 10 meter dengan bantuan dan dalam
pengawasan.

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


6. Tn. FBB, 28 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Pendidikan Partially compensatory Pasien berada pada tugas perkembangan dewasa awal
Tamat SLTA, Pekerjaan Swasta, Agama Kristen, Suku merupakan desain keperawatan dan belum menikah. Pada hari pertama sampai dengan
Batak, MRS tanggal 07 Maret 2013 jam 11.00 WIB, Dx. yang dibutuhkan oleh Tn. FBB. hari kedua post operasi, kemampuan pasien terbatas,
Osteomyelitis fibula distal dextra Sistem keperawatan yang aktifitas perawatan diri dilakukan ditempat tidur, butuh
Riwayat luka dikaki sejak 1 bulan yang lalu. Tulang dilakukan kepada Tn. FBB adalah bantuan toileting, mandi dibantu, tidak mampu berganti
tampak menonjol keluar. Pernah mengalami KLL sekitar 8 supportive educative, dimana posisi, tidak mampu berpindah tempat (perlu bantuan).
bulan yang lalu, dan tulang tampak menonjol keluar. Klien pasien dan keluarga dipersiapkan Tidak mengetahui latihan pergerakan untuk
hanya berobat ke pengobatan alternatif tetapi tidak secara bertahap untuk segera mempersiapkan berjalan menggunakan walker, latihan
sembuh. Hasil lab. LED : 16.000. hasil pemeriksaan mandiri serta dibimbing untuk penguatan otot kaki, latihan keseimbangan, pasien
radiologis Cruris AP/Lat dextra : Tampak adanya pemenuhan kebutuhan ADL. memerlukan bantuan dalam penggunaan alat bantu
gambaran osteomyelitis kronis. berjalan. Tindakan keperawatan yang dapat mendukung
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (+) pasien antara lain tehnik distraksi/relaksasi untuk nyeri,
pada tungkai bawah kanan, beraktivitas menggunakan alat latihan gerak sendi, ankle pump, mengatur posisi lateral
bantu. Feel : terdapat nyeri pada tungkai bawah kanan, abduksi saat tidur, perawatan luka. Perawat mengajarkan
krepitasi (-), NVD +/+. Move : Limited, kekuatan otot pasien mobilisasi miring ke kiri, duduk ditempat tidur,
ekstremitas bawah : 3 3 / 5 5 berdiri, dan membantu dalam menggunakan kruk secara
Diagnosa keperawatan : Hambatan mobilitas fisik, Nyeri, bertahap. Selain itu juga memberikan terapi medis sesuai
Resiko penyebaran infeksi program. Setelah dilakukan perawatan selama 4 hari,
pasien diperbolehkan pulang pada tanggal 11 Maret
2013dan berobat jalan dipoliklinik dengan kondisi tidak
terdapat tanda-tanda infeksi, dapat berjalan dengan
menggunakan walker dalam jarak 10 meter tanpa
pengawasan tanpa dibantu.
7. Tn. KS, 38 tahun, Laki-laki, Sudah menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Usia 38 tahun, berada pada tugas perkembangan dewasa
Tamat PT, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku Betawi, desain keperawatan yang muda. Pada hari pertama sampai dengan hari kedua post
MRS tanggal 12 Maret 2013 jam 10.30 WIB, Dx. CF dibutuhkan oleh Tn. KS. Sistem operasi, kemampuan pasien terbatas, aktifitas perawatan
Humerus dextra + Fractur Cruris dextra keperawatan yang dilakukan diri dilakukan ditempat tidur, memerlukan bantuan
Riwayat KLL sedang mengendarai motor disambar mobil kepada Tn. KS adalah Guidelines, toileting, BAB/BAK dibantu, mandi dibantu, tidak
truk. Mekanisme kejadian tidak diketahui. Riwayat Support, Teaching, dan Providing mampu berganti posisi, tidak mampu berpindah tempat
pingsan (-), muntah (-). Sedang direncanakan untuk the development environment. (perlu bantuan). Posisi kaki terbatas (lateral abduksi),
operasi ORIF. fleksi paha tidak lebih dari 30 derajat. Tidak mengetahui
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (+) latihan pergerakan untuk mempersiapkan walker, latihan
pada lengan atas kanan dan tungkai bawah kanan, aktivitas penguatan otot lengan, latihan keseimbangan, pasien

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


dibantu sepenuhnya. Feel : terdapat nyeri pada lengan memerlukan bantuan dalam penggunaan alat bantu
kanan dan kaki kanan, krepitasi (-), NVD +/+. Move : berjalan. Tindakan keperawatan yang dapat mendukung
Limited, kekuatan otot ekstremitas bawah : 11 / 55, pasien antara lain tehnik distraksi/relaksasi, latihan gerak
ekstremitas atas : 1 1/5 5 sendi, ankle pump, penguatan otot bahu dan lengan atas,
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, mengatur posisi lateral abduksi saat tidur, perawatan
Resiko gangguan perfusi jaringan, Anxietas luka. Perawat mengajarkan pasien mobilisasi miring ke
kiri, duduk ditempat tidur, berdiri, dan membantu dalam
menggunakan kruk secara bertahap. Selain itu juga
memberikan terapi medis sesuai program.
Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
pulang dan berobat jalan pada tanggal 18 Maret 2013,
dimana pada saat pulang klien dapat berjalan
menggunakan walker dengan jarak 5 meter dengan
bantuan dan dalam pengawasan dan tidak ada tanda-
tanda infeksi.
8. Ny. SH, 40 tahun, Perempuan, Sudah menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Pasien berada pada rentang usia dewasa dan masih
Tamat SD, Pekerjaan IRT, Agama Islam, Suku Jawa, MRS desain keperawatan yang produktif. Pada hari pertama sampai dengan hari ketiga
tanggal 14 Maret 2013 jam 11.00 WIB, Dx. OF Tibia dibutuhkan oleh Ny. SH. Sistem pasca operasi menunjukkan kemampuan pasien terbatas,
Fibula dextra keperawatan yang dilakukan aktifitas perawatan diri masih dilakukan ditempat tidur,
Riwayat KLL 3 jam sebelum MRS, sedang menyeberang kepada Ny. SH adalah Guidelines, memerlukan bantuan toileting. Pasien tidak mengetahui
jalan ditabrak mobil dari sisi kanan. Terdapat luka pada Support, Teaching, dan Providing latihan ROM, edema dan nyeri menjadi keluhan pasien.
tangan dan kaki kanan. Klien mengeluh nyeri pada kaki the development environment. Pasien memerlukan latihan penguatan otot lengan,
kanan terutama bila digerakkan, dengan sifat hilang berganti posisi dan berpindah tempat dengan dibantu,
timbul, lamanya sekitar 3 menit. Skala nyeri 7 (0-10). Saat latihan mobilisasi dan rentang gerak juga diperlukan oleh
dikaji klien sudah dilakukan operasi OREF POH III. pasien. Selain itu, diedukasi tentang pentingnya
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (+) pencegahan infeksi, pentingnya penguatan otot
pada kaki kanan, aktivitas masih dibantu. Feel : terdapat ekstremitas, latihan keseimbangan dan posisi yang
nyeri pada tungkai bawah kanan, krepitasi (-), NVD +/+ nyaman. Tindakan keperawatan yang dapat mendukung
Move : Limited, kekuatan otot ekstremitas bawah : 22 / 55 pasien antara lain tehnik distraksi/relaksasi kombinasi
Diagnosa keperawatan : Nyeri , Hambatan mobilitas fisik, terapi farmakologi dan nonfarmakologi, latihan gerak
Resiko infeksi sendi untu mengurangi edema dan ROM, dan melakukan
perawatan luka. Selain itu juga memberikan terapi medis
sesuai program.

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
pulang dan berobat jalan pada tanggal 20 Maret 2013,
dimana pada saat pulang klien dapat berjalan
menggunakan walker dengan jarak 5 meter dengan
bantuan dan dalam pengawasan dan tidak ada tanda-
tanda infeksi.
9. Tn. EW, 23 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Usia dewasa, masa produktif, dan hampir seluruh
Tamat SMK, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku Jawa, desain keperawatan yang pemenuhan kebutuhan dilakukan oleh perawat, pasien
MRS tanggal 30 Maret 2013 jam 22.00 WIB, Dx. OF dibutuhkan oleh Tn. EW. Sistem mengalami keterbatasan, imobilisasi pada multiple
Intercondyler femur dextra + patella dextra + humerus keperawatan yang dilakukan fraktur. Developmental self care requisites dan health
1/3 proximal dextra kepada Tn. EW adalah deviation self care requisites menjadi tanggung jawab
Riwayat KLL pada hari Sabtu tanggal 30 Maret 2013 jam Guidelines, Support, Teaching, perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan. Tindakan
11.00, sedang mengendarai motor ditabrak mobil dari arah dan Providing the development keperawatan yang dapat mendukung pasien antara lain
yang berlawanan. Mekanisme jatuh tidak diketahui, environment. manajemen keperawatan dan kolaboratif meliputi
riwayat pingsan (-), muntah (-). Klien sempat dirawat di menempatkan pasien pada tempat tidur ortopedi,
RS Pasar Rebo, kemudian dirujuk ke RSF. Saat dikaji, mempertahankan dan mengatur posisi elevasi kaki yang
klien post debridement 7 jam yang lalu. Klien mengeluh terpasang backslab, melatih distraksi dan relaksasi.
nyeri pada area yang patah. Nyeri skala 8 (0-10) dan Perawat mengobservasi status neurovaskuler perifer,
dirasakan terus menerus. merawat luka, membantu kebutuhan ADL pasien.
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (+) Perawat juga mengajarkan pasien untuk latihan rentang
pada lengan atas kanan, lutut kanan, dan tungkai bawah gerak (isometric, isotonis, penguatan otot bahu dan
kanan, deformitas (+). Feel : terdapat nyeri pada lengan tangan) sesuai kemampuan pasien. Pasien diajarkan
atas kanan, lutut kanan, dan kaki kanan, krepitasi (-), NVD latihan mobilisasi miring ke kanan, melatih kekuatan otot
+/+. Move : Limited, kekuatan otot ekstremitas atas : 1 1/5 tangan, duduk di tempat tidur, duduk dengan kaki
5, ekstremitas bawah : 1 1 / 5 5 menggantung di tepi tempat tidur, latihan keseimbangan,
Diagnosa keperawatan : Nyeri , Hambatan mobilitas fisik, latihan transfer, berdiri dan berjalan menggunakan
Resiko gangguan perfusi jaringan, Resiko infeksi walker secara bertahap. Dan juga pemberian terapi sesuai
program. Setelah dilakukan perawatan, klien
diperbolehkan untuk pulang dan berobat jalan pada
minggu keempat, tanggal 23 April 2013, dimana pada
saat pulang klien hanya dapat berjalan menggunakan
kursi roda dengan bantuan dan dalam pengawasan serta
tidak ditemukan tanda-tanda infeksi.

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


10. Tn. IO, 28 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Pasien berada pada tugas perkembangan dewasa awal
Tamat D III, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku desain keperawatan yang dan belum menikah. Pada hari pertama sampai dengan
Betawi, MRS tanggal 4 April 2013 jam 05.00 WIB, Dx. dibutuhkan oleh Tn. IO. Sistem hari kedua post operasi, kemampuan pasien terbatas,
CF Tibia Fibula sinistra keperawatan yang dilakukan aktifitas perawatan diri dilakukan ditempat tidur,
Riwayat KLL 2 jam sebelum MRS, sementara naik motor kepada Tn. IO adalah Guidelines, memerlukan bantuan toileting, mandi dibantu, tidak
menabrak gerobak karena mengantuk. Klien jatuh dengan Support, Teaching, dan Providing mampu berganti posisi, tidak mampu berpindah tempat
posisi kaki kiri tertindih motor. Riwayat penggunaan the development environment. (perlu bantuan). Tidak mengetahui latihan pergerakan
alkohol tidak ada. Riwayat pingsan tidak ada, riwayat untuk mempersiapkan berjalan menggunakan walker,
muntah tidak ada. Saat dikaji, klien mengeluh nyeri pada latihan penguatan otot kaki, latihan keseimbangan,
kaki kiri, dengan skala 5-6 dan dirasakan hilang timbul, pasien memerlukan bantuan dalam penggunaan alat
terutama bila digerakkan. Hasil lab. Leukosit : 16.800. bantu berjalan. Tindakan keperawatan yang dapat
Hasil pemeriksaan radiologis : tampak fractura tibia fibula mendukung pasien antara lain tehnik distraksi/relaksasi
sinistra untuk nyeri, latihan gerak sendi, ankle pump, mengatur
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (-), posisi lateral abduksi saat tidur, perawatan luka. Perawat
terpasang backslab pada tungkai bawah kiri, aktivitas mengajarkan pasien mobilisasi miring ke kiri, duduk
sepenuhnya masih dibantu. Feel : terdapat nyeri pada ditempat tidur, berdiri, dan membantu dalam
tungkai bawah kiri, krepitasi (-), NVD +/+. Move : menggunakan kruk secara bertahap. Selain itu juga
Limited, kekuatan otot ekstremitas bawah : 5 5 / 1 1 memberikan terapi medis sesuai program.
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
Resiko penyebaran infeksi pulang dan berobat jalan pada tanggal 11 April 2013,
dimana pada saat pulang klien dapat berjalan
menggunakan walker dengan jarak 10 meter dengan
bantuan dan dalam pengawasan dan tidak ditemukan
adanya tanda-tanda infeksi.
11. Tn. AP, 20 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Pendidikan Partially compensatory Usia pasien berada pada tugas perkembangan remaja
Tamat SLTA, Pekerjaan Mahasiswa, Agama Islam, Suku merupakan desain keperawatan akhir. Pada hari pertama sampai dengan hari ketiga pasca
Jawa, MRS tanggal 05 April 2013 jam 04.00 WIB, Dx. yang dibutuhkan oleh Tn. AP. operasi pasien mengeluh nyeri. Kemampuan pasien
OF Fibula + Ankle dextra. Sistem keperawatan yang terbatas, aktifitas perawatan diri sebagian dilakukan
Riwayat KLL setengah jam sebelum MRS, sementara naik dilakukan kepada Tn. AP adalah ditempat tidur, membutuhkan bantuan ke kamar mandi,
motor ditabrak mobil dari arah belakang dan pasien supportive educative, dimana tidak mampu berganti posisi, tidak mampu berpindah
terjatuh. Mekanisme jatuh tidak diketahui, riwayat pasien dan keluarga dipersiapkan tempat (perlu bantuan). Tidak mengetahui latihan
pingsan dan muntah pasca kejadian (-). Saat dikaji, klien secara bertahap untuk segera pergerakan untuk mempersiapkan berjalan dengan
POH III ORIF. Klien mengeluh nyeri pada kaki kanan, mandiri serta dibimbing untuk walker, latihan penguatan otot lengan, latihan

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


dengan skala 8 (0-10), dirasakan terus-menerus sejak pemenuhan kebutuhan ADL. keseimbangan, pasien memerlukan bantuan dalam
masuk RS. Hasil pemeriksaan radiologis tampak OF fibula penggunaan alat bantu berjalan. Tindakan keperawatan
dextra + OF ankle dextra + OF maleolus medial dextra. yang dapat mendukung pasien antara lain mencegah
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (+) infeksi, terapi distraksi/relaksasi untuk nyeri, latihan
pada daerah fibula dan ankle dextra, tertutup dengan gerak sendi, ankle pump. Perawat mengajarkan pasien
elastic verband, mobilitas terbatas. Feel : terdapat nyeri mobilisasi miring, duduk ditempat tidur, berdiri, dan
pada tungkai bawah kanan sampai ke kaki, krepitasi (-), membantu dalam menggunakan kruk secara bertahap.
NVD +/+. Move : Limited, kekuatan otot ekstremitas Selain itu juga memberikan terapi medis sesuai program.
bawah : 2 2 / 5 5 Setelah dilakukan perawatan selama 6 hari, klien
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, diperbolekan pulang tanggal 11 April 2013dan berobat
Resiko infeksi jalan dipoliklinik. Kondisi saat pulang, klien dapat
berjalan menggunakan walker dalam jarak 10 meter
tanpa bantuan dengan pengawasan keluarga dan tidak
ada tanda-tanda infeksi.
12. Tn. AS, 44 tahun, Laki-laki, Sudah menikah, Pendidikan Partially compensatory Pasien berada pada tugas perkembangan dewasa dan
Tamat SLTA, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku merupakan desain keperawatan masih produktif. Pada hari pertama sampai dengan hari
Jawa, MRS tanggal 16 April 2013 jam 12.30 WIB, Dx. OF yang dibutuhkan oleh Tn. AS. ketiga pasca operasi, kemampuan pasien terbatas,
Fibula pedis + metatarsal I & II dextra. Sistem keperawatan yang aktifitas perawatan diri masih dilakukan ditempat tidur,
Riwayat KLL sementara naik motor menyalip truk dari dilakukan kepada Tn. AS adalah memerlukan bantuan toileting, tidak mampu berpindah
arah kanan, tiba-tiba terjatuh dan kaki kanan tertindas oleh supportive educative, dimana tempat (perlu bantuan). Tindakan keperawatan yang
ban truk. Kejadian dialami sekitar 9 jam sebelum MRS pasien dan keluarga dipersiapkan mendukung pasien berupa manajemen keperawatan dan
dan sempat dirawat di Puskesmas Cikande selanjutnya secara bertahap untuk segera kolaboratif, yaitu menempatkan pasien pada tempat tidur
dirujuk ke RSF. Saat dikaji, klien post operasi debridement mandiri serta dibimbing untuk ortopedi, mengobservasi neuromuskular distal pasien,
+ ORIF K-Wire beberapa jam yang lalu. Klien mengeluh pemenuhan kebutuhan ADL. melakukan perawatan luka, membantu pasien memenuhi
nyeri pada kaki kanan dengan skala 8 (0-10), dirasakan kebutuhan dasarnya. Perawat juga melatih rentang gerak
terus-menerus terutama bila digerakkan. Hasil lab. HB : sendi dengan melakukan latihan isotonic dan isometric
8,9 gr %. Hasil pemeriksaan radiologis tampak adanya sesuai kemampuan pasien. Selain itu, Perawat
open fractura fibula + metatarsal I & II pedis dextra. memberikan terapi kolaborasi sesuai dengan hasil
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (+) kolaborasi, kombinasi terapi nonfarmakologis dengan
pada tungkai bawah kanan dan terbungkus dengan elastic relaksasi Benson untuk mengurangi nyeri.
verband. Mobilitas terbatas, seluruh aktivitas masih dbantu Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolekan pulang
secara penuh. Feel : terdapat nyeri pada kaki kanan, tanggal 07 Mei 2013dan berobat jalan dipoliklinik.
krepitasi (-), NVD +/+. Move : Limited, kekuatan otot Kondisi saat pulang, klien dapat berjalan menggunakan

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


ekstremitas bawah : 1 1 / 5 5 walker dalam jarak 10 meter tanpa bantuan dengan
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, pengawasan keluarga dan tidak ada tanda-tanda infeksi.
Resiko infeksi, Resiko injury
13. Tn. DS, 21 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Pendidikan Partially compensatory Usia pasien berada pada tugas perkembangan dewasa
Tamat SLTA, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku merupakan desain keperawatan awal. Pada hari pertama dan kedua pasca operasi,
Jawa, MRS tanggal 22 April 2013 jam 12.30 WIB, Dx. yang dibutuhkan oleh Tn. DS. kemampuan pasien terbatas, aktifitas perawatan diri
OF Metatarsal I-V multiple dextra Sistem keperawatan yang masih dilakukan ditempat tidur. Pasien memerlukan
Riwayat KLL sementara naik motor sendirian ditabrak dari dilakukan kepada Tn. DS adalah bantuan toileting. Pasien tidak mengetahui latihan ROM,
arah berlawanan dan pasien terjatuh. Kejadian dialami supportive educative, dimana edema dan nyeri menjadi keluhan pasien. Selain itu,
sekitar 21 jam yang lalu di daerah Citayam. Klien sempat pasien dan keluarga dipersiapkan pasien membutuhkan latihan penguatan otot lengan.
di rawat di RS Cisarua Bogor kemudian dirujuk ke RSF. secara bertahap untuk segera Tindakan keperawatan yang mendukung pasien antara
Saat dikaji, klien post operasi ORIF K-Wire Hari 0. Klien mandiri serta dibimbing untuk lain tehnik distraksi/relaksasi yang dikombinasi terapi
mengeluh nyeri pada kaki kanan dengan skala 7 (0-10) dan pemenuhan kebutuhan ADL. farmakologi dan nonfarmakologi, latihan gerak sendi
dirasakan terus-menerus. Hasil pemeriksaan radiologi untu mengurangi edema dan ROM, dan melakukan
terdapat OF Metatarsal I. Community Mtatarsal II-III, dan perawatan luka. Selain itu juga memberikan terapi medis
complit Metatarsal IV-V. OF base fhalang proximal 4 & 5. sesuai program.
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (+) Setelah dilakukan perawatan selama 7 hari, klien
pada kaki kanan, tertutup elastic verband. Feel : terdapat diperbolekan pulang tanggal 29 April 2013 dan berobat
nyeri pada kaki kanan, dengan skala 7, terus-menerus, jalan dipoliklinik. Kondisi saat pulang, klien dapat
krepitasi (-), NVD +/+. Move : Limited, kekuatan otot berjalan menggunakan walker dalam jarak 10 meter
ekstremitas bawah : 2 2 / 5 5 tanpa bantuan dengan pengawasan keluarga dan tidak
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, ada tanda-tanda infeksi.
Resiko infeksi
14. Tn. IS, 29 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Usia dewasa, masih produktif, dan hampir seluruh
Tamat D III, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku desain keperawatan yang pemenuhan kebutuhan dilakukan oleh perawat, pasien
Betawi, MRS tanggal 24 April 2013 jam 15.00 WIB, Dx. dibutuhkan oleh Tn. IS. Sistem mengalami keterbatasan, imobilisasi pada multiple
OF tibia plateu dextra Gr. II + OF Intercondyler femur keperawatan yang dilakukan fraktur. Developmental self care requisites dan health
dextra Gr. IIIA + OF patella dextra kepada Tn. IS adalah Guidelines, deviation self care requisites menjadi tanggung jawab
Riwayat KLL 2 jam sebelum MRS, sementara dibonceng Support, Teaching, dan Providing perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan. Tindakan
naik motor tiba-tiba menabrak pembatas jalan dan the development environment. keperawatan yang mendukung pasien antara lain
terpental sejauh 2 meter. Kaki dan lutut kanan menghentak manajemen keperawatan dan kolaboratif seperti
ke aspal. Kecepatan motor 60-80 km/jam. Riwayat pingsan menempatkan pasien pada tempat tidur ortopedi,
(+) 7 jam sadar setelah berada di RS. Klien mengeluh mempertahankan dan mengatur posisi elevasi kaki yang

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


lemas, mual/muntah (-) Saat dikaji, klien mengeluh sakit terpasang backslab, melatih distraksi dan relaksasi.
pada paha dan lutut kanan. Terdapat luka terbuka pada Perawat juga mengobservasi status neurovaskuler
paha kanan seluas 6 x 8 x 1 cm. Hasil lab. LDH : 399 u/ul perifer, merawat luka, membantu kebutuhan ADL
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (+) pasien. Selain itu, mengajarkan pasien untuk latihan
pada paha kanan seluas 6 x 8 x 1 cm, mobilitas terganggu, rentang gerak (isometric, isotonis, penguatan otot bahu
aktivitas dibantu secara penuh. Feel : terdapat nyeri pada dan tangan) sesuai kemampuan. Pasien diajarkan latihan
paha dan lutu kanan, krepitasi (-), NVD +/+. Move : mobilisasi miring ke kanan, melatih kekuatan otot
Limited, kekuatan otot ekstremitas bawah : 1 1 / 5 5 tangan, duduk ditempat tidur, duduk dengan kaki
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, menggantung di tepi tempat tidur, latihan keseimbangan,
Resiko infeksi, Resiko gangguan perfusi jaringan latihan transfer, berdiri dan berjalan, cara menggunakan
walker secara bertahap. Dan juga pemberian terapi sesuai
program.
Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
pulang dan berobat jalan pada tanggal 24 Mei 2013,
dimana pada saat pulang klien hanya dapat berjalan
menggunakan kursi roda dengan bantuan dan dalam
pengawasan serta tidak ditemukan tanda-tanda infeksi.
15. Tn. AF, 29 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Pendidikan Supportive educative merupakan Pasien berada pada tugas perkembangan dewasa dan
Tamat SLTA, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku desain keperawatan yang masih produktif. Kemampuan terbatas hanya pada hari
Jawa, MRS tanggal 30 April 2013 jam 13.00 WIB, Dx. dibutuhkan oleh Tn. AB. Sistem pertama, dimana aktifitas perawatan diri dilakukan
Remove of Implant post ORIF tahun 2011 keperawatan yang dilakukan ditempat tidur, toileting dibantu. Tidak mengetahui
Riwayat KLL tahun 2011 dan mengalami patah tulang kepada Tn. AF adalah supportive latihan pergerakan untuk latihan kekuatan otot lengan,
pada lengan dan paha kiri, telah dilakukan ORIF. Saat educative, dimana pasien dan latihan keseimbangan, pasien memerlukan bantuan
dikaji, klien post Remove of Implant 2 hari yang lalu. keluarga dipersiapkan secara dalam mengurangi nyeri. Tindakan keperawatan yang
Hasil pemeriksaan radiologis femur kiri AP/Lat tampak bertahap untuk segera mandiri mendukung berupa supportive educative kepada pasien
fragmen fractura trochanter minor, tak tampak serta dibimbing untuk pemenuhan /keluarga antara lain tehnik distraksi/relaksasi untuk
pembentukan kallus, terpasang fiksasi internal 1 plate, 10 kebutuhan ADL. mengurangi nyeri, latihan gerak sendi untuk mengurangi
screw. Sementara pada lokasi antebrachii kiri AP/Lat edema dan mencegah kontraktur serta mengembalikan
tampak farctura 1/3 diafisis proximal ulna kiri, fragmen fungsi. Perawat mengajarkan pasien ROM secara
fractura baik, tak tampak kallus, terpasang fiksasi internal bertahap. Selain itu juga memberikan terapi medis sesuai
1 buah plate, dan 7 buah screw. Kedudukan baik. program.
Look : Pasien duduk ditempat tidur, edema (-), luka (+), Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolekan pulang
Tertutup elastic verband. Aktivitas sebagian dibantu. tanggal 03 Mei 2013dan berobat jalan dipoliklinik.

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Feel : terdapat nyeri pada paha dan lengan kiri. NVD +/+ Kondisi saat pulang, klien dapat berjalan menggunakan
Move : Limited, kekuatan otot ekstremitas bawah : 55 / 44, walker dalam jarak 15 meter tanpa bantuan dengan
ekstremitas atas : 55 / 44 pengawasan keluarga dan tidak ada tanda-tanda infeksi.
Diagnosa keperawatan : Hambatan mobilitas fisik, Nyeri,
Resiko infeksi
16. Ny. W, 60 tahun, Perempuan, Sudah menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Pasien berada pada tugas perkembangan dewasa tua.
Tidak Tamat SLTP, Pekerjaan IRT, Agama Islam, Suku desain keperawatan yang Kemampuan pasien terbatas hanya pada hari pertama.
Jawa, MRS tanggal 13 Mei 201, Dx. CF Condylus Medial dibutuhkan oleh Ny. W. Sistem Aktifitas perawatan diri dilakukan ditempat tidur,
lateral Humerus sinistra pro ORIF keperawatan yang dilakukan kebutuhan toileting dibantu. Tidak mengetahui latihan
Riwayat nyeri pada lengan atas kiri akibat terjatuh dari kepada Ny. W adalah Guidelines, pergerakan untuk latihan penguatan otot lengan, latihan
kamar mandi. Saat ini sedang persiapan operasi ORIF. Support, dan Teaching. keseimbangan, pasien memerlukan bantuan dalam
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka mengurangi nyeri. Tindakan keperawatan yang dapat
tertutup pada lengan atas kiri, aktivitas dibantu mendukung berupa observasi tanda-tanda vital, observasi
sepenuhnya oleh keluarga. tingkat kesadaran, status nutrisi, cairan, puasa 6 jam
Feel : terdapat nyeri pada lengan kiri terutama bila sebelum operasi, kebersihan diri, manajemen nyeri
digerakkan, krepitasi (-), NVD +/+ berupa tehnik distraksi/relaksasi, dan berdoa sesuai
Move : terbatas karena adanya nyeri keyakinan pasien.
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, Setelah dilakukan tindakan pembedahan pada tanggal 14
Anxietas Mei 2013, klien dipindahkan ke ruang pemulihan untuk
dilakukan observasi.
17. Ny. F, 70 tahun, Perempuan, Sudah menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Pasien berada pada tugas perkembangan dewasa tua.
Tidak Tamat SD, Pekerjaan IRT, Agama Islam, Suku desain keperawatan yang Kemampuan pasien terbatas hanya pada hari pertama.
Jawa, MRS tanggal 14 Mei 2013, Dx. CF Collumn femur dibutuhkan oleh Ny. F. Sistem Aktifitas perawatan diri dilakukan ditempat tidur,
sinistra pro Hemiarthroplasty keperawatan yang dilakukan kebutuhan toileting dibantu. Tidak mengetahui latihan
Riwayat nyeri pada pangkal paha kiri akibat terpeleset kepada Ny. F adalah Guidelines, pergerakan untuk latihan penguatan otot lengan, latihan
dikamar mandi. Saat ini sedang persiapan operasi Support, dan Teaching. keseimbangan, pasien memerlukan bantuan dalam
Hemiarthroplasty. mengurangi nyeri. Tindakan keperawatan yang dapat
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka mendukung berupa observasi tanda-tanda vital, observasi
tertutup pada pangkal paha kiri, aktivitas dibantu secara tingkat kesadaran, status nutrisi, cairan, puasa 6 jam
penuh sebelum operasi, kebersihan diri, manajemen nyeri
Feel : terdapat nyeri pada pangkal paha terutama bila berupa tehnik distraksi/relaksasi, dan berdoa sesuai
bergerak, krepitasi (-), NVD +/+ keyakinan pasien.
Move : terbatas karena adanya nyeri Setelah dilakukan tindakan pembedahan pada tanggal 14

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, Mei 2013, klien dipindahkan ke ruang pemulihan untuk
Anxietas dilakukan observasi.
18. Ny. S, 78 tahun, Perempuan, Sudah menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Pasien berada pada tugas perkembangan dewasa tua.
Tidak Tamat SD, Pekerjaan IRT, Agama Islam, Suku desain keperawatan yang Kemampuan pasien terbatas hanya pada hari pertama.
Jawa, MRS tanggal 14 Mei 2013, Dx. CF Intertrochanter dibutuhkan oleh Ny. S. Sistem Aktifitas perawatan diri dilakukan ditempat tidur,
femur dextra pro ORIF keperawatan yang dilakukan kebutuhan toileting dibantu. Tidak mengetahui latihan
Riwayat nyeri pada pangkal paha kanan akibat jatuh kepada Ny. S adalah Guidelines, pergerakan untuk latihan penguatan otot lengan, latihan
terpeleset dirumahnya. Saat ini sedang persiapan operasi Support, dan Teaching. keseimbangan, pasien memerlukan bantuan dalam
ORIF. mengurangi nyeri. Tindakan keperawatan yang dapat
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), terdapat mendukung berupa observasi tanda-tanda vital, observasi
luka tertutup pada pangkal paha bagian kanan. Aktivitas tingkat kesadaran, status nutrisi, cairan, puasa 6 jam
dibantu secara penuh. sebelum operasi, kebersihan diri, manajemen nyeri
Feel : terdapat nyeri pada pangkal paha, krepitasi (-), NVD berupa tehnik distraksi/relaksasi, dan berdoa sesuai
+/+ keyakinan pasien.
Move : terbatas karena adanya nyeri Setelah dilakukan tindakan pembedahan pada tanggal 14
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, Mei 2013, klien dipindahkan ke ruang pemulihan untuk
Anxietas dilakukan observasi.
19. Tn. M, 22 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Pasien berada pada tugas perkembangan dewasa awal.
Tamat SLTP, Pekerjaan tiada, Agama Islam, Suku Jawa, desain keperawatan yang Kemampuan pasien terbatas hanya pada hari pertama.
MRS tanggal 15 Mei 2013, Dx. Fractura bursitis thoracal dibutuhkan oleh Tn. M. Sistem Aktifitas perawatan diri dilakukan ditempat tidur,
VIII – IX pro redebridement keperawatan yang dilakukan kebutuhan toileting dibantu. Tidak mengetahui latihan
Riwayat KLL 1 bulan yang lalu dan mengalami kelemahan kepada Tn. M adalah Guidelines, pergerakan untuk latihan penguatan otot lengan, latihan
pada kedua tungkai. Selanjutnya di bawa ke RS Panti Support, dan Teaching. keseimbangan, pasien memerlukan bantuan dalam
Waluyo. Dan hanya 3 minggu dirawat, klien dibawa mengurangi nyeri. Tindakan keperawatan yang dapat
pulang selanjutnya dilakukan perawatan di RS Pacitan. mendukung berupa observasi tanda-tanda vital, observasi
Karena tidak mengalami perbaikan klien dibawa ke dukun tingkat kesadaran, status nutrisi, cairan, puasa 6 jam
dan diurut. Saat ini klien sementara dipersiapkan untuk sebelum operasi, kebersihan diri, manajemen nyeri
tindakan redebridement. berupa tehnik distraksi/relaksasi, dan berdoa sesuai
Look : Pasien berada ditempat tidur dan mengalami keyakinan pasien.
kelemahan pada kedua tungkai, seluruh aktivitas dibantu Setelah dilakukan tindakan pembedahan pada tanggal 16
sepenuhnya oleh keluarga, terdapat luka dekubitus pada Mei 2013, klien dipindahkan ke ruang pemulihan untuk
punggung seluas 20 x 15 x 5 cm dilakukan observasi.
Feel : klien tidak mampu meraskan sensasi pada area

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


kedua tungkai.
Move : tidak dapat melakukan pergerakan pada area
ekstremitas bawah
Diagnosa keperawatan : Hambatan mobilitas fisik, Resiko
infeksi, Resiko injury, Anxietas

20. An. AMFN, 13 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Supportive educative merupakan Pasien berada pada tugas perkembangan remaja awal.
Pendidikan Tamat SD, Pekerjaan Siswa, Agama Islam, desain keperawatan yang Kemampuan pasien terbatas hanya pada hari pertama.
Suku Jawa, MRS tanggal 15 Mei 2013, Dx. Remove of dibutuhkan oleh An. AMFN. Aktifitas perawatan diri dilakukan ditempat tidur,
Implant Illizarof femur dextra Sistem keperawatan yang kebutuhan toileting dibantu. Tidak mengetahui latihan
Riwayat KLL pada tahun 2010 dan mengalami fraktur dilakukan kepada An. AMFN pergerakan untuk latihan penguatan otot lengan, latihan
femur dextra. Klien dilakukan pembedahan sekitar 10 adalah Guidelines, Support, dan keseimbangan, pasien memerlukan bantuan dalam
bulan yang lalu dengan pemasangan Illizarov femur Teaching. mengurangi nyeri. Tindakan keperawatan yang dapat
dextra. Saat ini klien sedang dipersiapkan untuk Remove mendukung berupa observasi tanda-tanda vital, observasi
of Implant. tingkat kesadaran, status nutrisi, cairan, puasa 6 jam
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (-), sebelum operasi, kebersihan diri, manajemen nyeri
terpasang Illizarov pada daerah femur dextra. Aktivitas berupa tehnik distraksi/relaksasi, dan berdoa sesuai
masih dilakukan dengan sebagian bantuan keyakinan pasien.
Feel : tidak terdapat nyeri pada paha, NVD +/+ Setelah dilakukan tindakan pembedahan pada tanggal 16
Move : terbatas karena adanya pemasangan Illizarov Mei 2013, klien dipindahkan ke ruang pemulihan untuk
Diagnosa keperawatan : Hambatan mobilitas fisik, Resiko dilakukan observasi.
injury, Anxietas
21. Tn. JM, 24 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Pendidikan Partially compensatory Pasien berada pada tugas perkembangan dewasa dan
Tamat SLTP, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku merupakan desain keperawatan masih produktif. Kemampuan terbatas hanya pada hari
Sunda, MRS tanggal 14 September 2013 jam 15.00 WIB, yang dibutuhkan oleh Tn. JM. pertama, dimana aktifitas perawatan diri dilakukan
Dx. Open Subluxasi Talunavikuler pedis sinistra Sistem keperawatan yang ditempat tidur, toileting dibantu. Tidak mengetahui
Riwayat kejatuhan marmer dibagian kaki kiri. Kejadian dilakukan kepada Tn. JM adalah latihan pergerakan untuk latihan kekuatan otot lengan,
dialami sejak 3 jam sebelum MRS. Terdapat luka terbuka supportive educative, dimana latihan keseimbangan, pasien memerlukan bantuan
seluas 15 x 4 x 1 cm. Saat dikaji, klien telah dilakukan pasien dan keluarga dipersiapkan dalam mengurangi nyeri. Tindakan keperawatan yang
debridement. Klien mengeluh nyeri pada kaki kiri, dengan secara bertahap untuk segera mendukung berupa supportive educative kepada
skala 6 (0-10). Keluhan dirasakan hilang timbul terutama mandiri serta dibimbing untuk pasien/keluarga antara lain tehnik distraksi/relaksasi
saat digerakkan. pemenuhan kebutuhan ADL. untuk mengurangi nyeri, latihan gerak sendi untuk

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), terdapat mengurangi edema dan mencegah kontraktur serta
luka terbuka pada kaki kiri seluas 15 x 4 x 1 cm. mengembalikan fungsi. Perawat mengajarkan pasien
Deformitas (+). Feel : terdapat nyeri pada kaki kiri, NVD ROM secara bertahap. Selain itu juga memberikan terapi
+/+. Move : Limited, kekuatan otot ekstremitas bawah : medis sesuai program.
55/11 Setelah dilakukan perawatan selama 2 hari, klien
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, diperbolekan pulang tanggal 16 September 2013dan
Resiko infeksi berobat jalan dipoliklinik. Kondisi saat pulang, klien
dapat berjalan menggunakan walker dalam jarak 15
meter tanpa bantuan dengan pengawasan keluarga dan
tidak ada tanda-tanda infeksi.
22. Na. TA, 19 tahun, Perempuan, Belum menikah, Partially compensatory Pasien berada pada tugas perkembangan remaja dan
Pendidikan Tamat SLTA, Pekerjaan mahasiswa, Agama merupakan desain keperawatan masih produktif. Kemampuan terbatas hanya pada hari
Islam, Suku Betawi, MRS tanggal 8 September 2013 jam yang dibutuhkan oleh Na. TA. pertama, dimana aktifitas perawatan diri dilakukan
15.00 WIB, Dx. OF digiti II, III, IV, V pedis dextra Sistem keperawatan yang ditempat tidur, toileting dibantu. Tidak mengetahui
Riwayat KLL sekitar 8 jam sebelum MRS, sementara naik dilakukan kepada Na. TA adalah latihan pergerakan untuk latihan kekuatan otot lengan,
motor tiba-tiba ditabrak motor yang lain dan terjatuh. supportive educative, dimana latihan keseimbangan, pasien memerlukan bantuan
Mekanisme cedera tidak jelas. Terdapat luka dijari II-V pasien dan keluarga dipersiapkan dalam mengurangi nyeri. Tindakan keperawatan yang
kaki kanan. Tungkai kanan masih dapat digerakkan. Saat secara bertahap untuk segera mendukung berupa supportive educative kepada
dikaji, klien mengeluh sakit pada kaki kanan, dengan skala mandiri serta dibimbing untuk pasien/keluarga antara lain tehnik distraksi/relaksasi
nyeri 7 (0-10). Nyeri dirasakan terus-menerus. pemenuhan kebutuhan ADL. untuk mengurangi nyeri, latihan gerak sendi untuk
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka (+), mengurangi edema dan mencegah kontraktur serta
terpasang backslab dan tertutup dengan elastic verband. mengembalikan fungsi. Perawat mengajarkan pasien
Aktivitas dan pergerakan masih dapat dilakukan dengan ROM secara bertahap. Selain itu juga memberikan terapi
sedikit bantuan. medis sesuai program.
Feel : terdapat nyeri pada kaki kanan, krepitasi (-), Setelah dilakukan perawatan selama 10 hari, klien
tenderness (-), NVD +/+ diperbolekan pulang tanggal 18 September 2013dan
Move : mobilitas terbatas, kekuatan otot ekstremitas berobat jalan dipoliklinik. Kondisi saat pulang, klien
bawah : 1 1 / 5 5 dapat berjalan menggunakan walker dalam jarak 10
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, meter tanpa bantuan dengan pengawasan keluarga dan
Resiko infeksi tidak ada tanda-tanda infeksi.
23. Tn. DU, 33 tahun, Laki-laki, Sudah menikah, Pendidikan Partially compensatory Pasien berada pada rentang usia produktif dan sudah
Tamat SLTA, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku merupakan desain keperawatan menikah. Keterbatasannya menyebabkan aktifitas diri
Betawi, MRS tanggal 16 September 2013 jam 09.30 WIB, yang dibutuhkan oleh Tn. DU. dilakukan di tempat tidur. Pasien membutuhkan bantuan

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Dx. Osteomyelitis femur sinistra Sistem keperawatan yang untuk toileting, aktifitas mandi, berganti posisi dan
Riwayat KLL sekitar 5 tahun yang lalu dan dan dilakukan dilakukan kepada Tn. DU adalah berpindah tempat dengan bantuan. Pasien juga tidak
operasi pada tahun 2007 di RSUPNCM. Tetapi lukanya supportive educative, dimana mengetahui latihan pergerakan untuk mengurangi nyeri.
tidak kunjung sembuh. Kemudian 1 tahun yang lalu, pasien dan keluarga dipersiapkan Latihan mobilisasi dan rentang gerak juga dibutuhkan
dilakukan operasi kembali dan tulang yang mengalami secara bertahap untuk segera oleh pasien. Selain itu, dilakukan edukasi tentang
patah lebih pendek dari sisi sebelahnya. Hasil lab. LED : mandiri serta dibimbing untuk pentingnya pencegahan infeksi, pentingnya penguatan
32.0 pemenuhan kebutuhan ADL. otot pada bagian ekstremitas dan latihan keseimbangan.
Look : Pasien berada ditempat tidur, terdapat implant Tindakan keperawatan yang mendukung pasien meliputi
expose, scar (+), sinus bernanah. Feel : tidak terdapat manajemen keperawatan dan kolaboratif berupa
nyeri, NVD +/+. Move : Limited, kekuatan otot pengkajian nyeri dan memberikan manajemen nyeri
ekstremitas bawah : 5 5 / 3 3 secara farmakologi maupun nonfarmakologi. Selain itu,
Diagnosa keperawatan : Hambatan mobilitas fisik, Resiko perawat juga mengajarkan dan mengkonsultasikan bila
perluasan infeksi terjadi gangguan neuromuskular, melatih ROM aktif dan
pasif.
Setelah dilakukan perawatan selama 7 hari, klien
diperbolekan pulang tanggal 23 September 2013dan
berobat jalan dipoliklinik. Kondisi saat pulang, klien
dapat berjalan menggunakan walker dalam jarak 15
meter tanpa bantuan dengan pengawasan keluarga dan
tidak ada tanda-tanda infeksi.
24. Na. NA, 22 tahun, Perempuan, Belum menikah, Wholly compensatory merupakan Usia pasien saat ini berada pada tugas perkembangan
Pendidikan Tamat DIII, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, desain keperawatan yang dewasa awal. Pada hari pertama sampai dengan hari
Suku Jawa, MRS tanggal 16 September 2013 jam 23.30 dibutuhkan oleh Na. NA. Sistem ketiga, pasien mengeluh nyeri pada betisnya yang
WIB, Dx. Neglected fractura tibia fibula sinistra keperawatan yang dilakukan terpasang traksi. Pasien mengatakan sangat tidak nyaman
Riwayat KLL sekitar 6 minggu yang lalu (sebelum kepada Na. NA adalah dengan beban yang menggantung dikakinya.
lebaran), sementara naik motor tiba-tiba terjatuh sendiri. Guidelines, Support, Teaching, Kemampuan pasien terbatas, aktifitas perawatan diri
Kemudian klien hanya berobat ke alternatif, dilakukan dan Providing the development dilakukan ditempat tidur karena pasien harus imobilisasi,
pengurutan dan dibidai. Tetapi, luka tidak mengalami environment. memerlukan bantuan toileting, BAB/BAK menggunakan
kesembuhan dan keluar nanah. Saat dikaji, klien mengeluh bedpan, mandi dibantu, tidak mampu berganti posisi.
sakit pada kaki kirinya dan sulit untuk digerakkan. Skala Posisi kaki terbatas karena harus imobilisasi digantung
nyeri 4 (0-10), dirasakan hilang timbul. Klien sementara beban traksi. Tidak mengetahui latihan pergerakan untuk
disiapkan untuk operasi elektif ORIF. mencegah DVT dan melatih menarik beban traksi.
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), luka Tindakan keperawatan yang mendukung pasien antara

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


tampak bernanah, terpasang slab. lain tehnik distraksi/relaksasi mengurangi nyeri, latihan
Feel : terdapat nyeri pada kaki kiri dengan skala 3, NVD gerak sendi, ankle pump, penguatan otot bahu dan lengan
+/+ atas sebagai titik tolak pasien melakukan latihan untuk
Move : Limited, hanya bisa melakukan dorsoflexi dan menarik beban traksi, Selain itu juga memberikan terapi
plantarflexi, kekuatan otot ekstremitas bawah : 2 2 / 5 5 medis sesuai program.
Diagnosa keperawatan : Hambatan mobilitas fisik, Nyeri, Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
Resiko penyebaran infeksi, Resiko injury pulang dan berobat jalan pada tanggal 24 September
2013, dimana pada saat pulang klien dapat berjalan
menggunakan walker dengan jarak 10 meter dengan
bantuan dan dalam pengawasan, tidak ada tanda-tanda
infeksi.
25. Tn. AMS, 31 tahun, Laki-laki, Sudah menikah, Pendidikan Partially compensatory Usia 31 tahun, berada pada tugas perkembangan dewasa
Tamat SLTA, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku merupakan desain keperawatan muda. Pada hari pertama sampai dengan hari kedua
Betawi, MRS tanggal 16 September 2013 jam 10.30 WIB, yang dibutuhkan oleh Tn. AMS. pasca operasi, kemampuan pasien terbatas, aktifitas
Dx. Non union fractur tibia fibula sinistra Sistem keperawatan yang perawatan diri dilakukan ditempat tidur, butuh bantuan
Riwayat KLL sekitar 10 bulan yang lalu dan didiagnosa dilakukan kepada Tn. AMS toileting, BAB/BAK dibantu, mandi dibantu, tidak
OF communitif tibia fibula sinistra. Pada saat itu klien adalah Guidelines, Support, mampu berganti posisi, tidak mampu berpindah tempat
dilakukan operasi tetapi luka tidak sembuh dan bernanah, Teaching, dan Providing the (perlu bantuan). Posisi kaki terbatas (lateral abduksi).
kemudian dioperasi lagi tapi tulang tibia sembuh development environment. Tidak mengetahui latihan pergerakan untuk persiapan
sedangkan tulang fibula bernanah. penggunaan walker, latihan penguatan otot lengan,
Look : Pasien berada ditempat tidur, terdapat scar, terdapat latihan keseimbangan, pasien memerlukan bantuan
sinus di fibula, deformitas (+) Feel : tidak terdapat nyeri, dalam penggunaan alat bantu jalan. Tindakan
NVD +/+ keperawatan yang mendukung pasien antara lain tehnik
Move : gerakan dorsoflexi terbatas, kekuatan otot distraksi/relaksasi, latihan gerak sendi, ankle pump,
ekstremitas bawah : 5 5 / 3 3 penguatan otot bahu dan lengan atas, mengatur posisi
Diagnosa keperawatan : Hambatan mobilitas fisik, Resiko lateral abduksi saat tidur, perawatan luka. Perawat
perluasan infeksi mengajarkan pasien mobilisasi miring ke kiri, duduk
ditempat tidur, berdiri, dan membantu dalam
menggunakan walker secara bertahap. Selain itu
memberikan terapi medis sesuai program.
Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
pulang dan berobat jalan pada tanggal 20 September
2013, dimana pada saat pulang klien dapat berjalan

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


menggunakan walker dengan jarak 10 meter dengan
bantuan dan dalam pengawasan, tidak ada tanda-tanda
infeksi.
26. Tn. EYP, 22 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Pasien berada pada tugas perkembangan dewasa awal.
Tamat SLTA, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku desain keperawatan yang Pada hari pertama sampai dengan hari ketiga setelah
Sunda, MRS tanggal 15 September 2013 jam 17.00 WIB, dibutuhkan oleh Tn. EYP. Sistem pembedahan, kemampuan pasien terbatas, aktifitas
Dx. OF tibia distal sinistra Gr. III A keperawatan yang dilakukan dilakukan ditempat tidur, butuh bantuan toileting,
Riwayat KLL sementara naik motor menabrak bajaj. kepada Tn. EYP adalah BAB/BAK menggunakan bedpan, mandi dibantu. Posisi
Kejadian sekitar 14 jam sebelum MRS. Mekanisme cedera Guidelines, Support, Teaching, kaki terbatas (lateral abduksi), pasien mengetahui latihan
tidak jelas. Riwayat pingsan tidak ada, riwayat muntah dan Providing the development pergerakan untuk mempersiapkan latihan berjalan,
tidak ada. Saat dikaji klien mengeluh nyeri pada kaki kiri, environment. latihan penguatan otot kaki, latihan keseimbangan,
dengan skala keluhan 8 (0-10). Nyeri dirasakan terus- pasien memerlukan bantuan dalam penggunaan alat
menerus seperti ditusuk-tusuk. Saat ini klien dipersiapkan bantu jalan. Perlunya pencegahan infeksi akibat luka
untuk operasi Illizarof. Hasil pemeriksaan radiologis terbuka. Tindakan keperawatan yang mendukung pasien
tampak OF distal dan shaft tibia fibula sinistra. antara lain tehnik distraksi/relaksasi, latihan gerak sendi,
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), terdapat ankle pump, perawatan luka. Perawat mengajarkan
luka pada area tibia bagian distal, terpasang backslab, dan pasien mobilisasi berdiri, membantu menggunakan
ditutup dengan elastic verband. Tampak ada rembesan walker secara bertahap. Selain itu juga memberikan
pada area luka. Aktivitas dan mobilitas dibantu secara terapi medis sesuai program.
penuh. Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
Feel : terdapat nyeri pada tungkai bawah kiri, krepitasi (-), pulang dan berobat jalan pada tanggal 25 September
NVD +/+ 2013, dimana pada saat pulang klien dapat berjalan
Move : Limited, kekuatan otot ekstremitas bawah : 5 5 / 1 menggunakan walker dengan jarak 10 meter dengan
1 bantuan dan dalam pengawasan, tidak ada tanda-tanda
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, infeksi.
Resiko infeksi, Resiko gangguan perfusi jaringan
27. Tn. AJ, 37 tahun, Laki-laki, Sudah menikah, Pendidikan Wholly compensatory merupakan Usia 37 tahun, berada pada tugas perkembangan dewasa
Tamat SLTA, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku desain keperawatan yang muda. Pada hari pertama sampai dengan hari kedua
Betawi, MRS tanggal 20 September 2013 jam 02.45 WIB, dibutuhkan oleh Tn. AJ. Sistem setelah operasi, kemampuan pasien terbatas, aktifitas
Dx. OF segmental tibia fibula dextra gr. II keperawatan yang dilakukan perawatan diri dilakukan ditempat tidur, memerlukan
Riwayat KLL, sementara naik motor mmenabrak sisi taxi kepada Tn. AJ adalah Guidelines, bantuan toileting, BAB/BAK dibantu, mandi dibantu,
dari arah yang berlawanan dengan kecepatan 30-40 Support, Teaching, dan Providing tidak mampu berganti posisi, tidak mampu berpindah
km/jam. Kejadian dialami sekitar 3 jam sebelum MRS. the development environment. tempat (perlu bantuan). Posisi kaki terbatas (lateral

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Mekanisme cedera tidak jelas. Riwayat pingsan tidak ada, abduksi), fleksi paha 0 derajat. Tidak mengetahui latihan
riwayat muntah pasca kejadian tidak ada. Saat dikaji, klien pergerakan untuk mempersiapkan walker, latihan
post operasi debridement + ORIF Hari 0. Klien mengeluh penguatan otot lengan, latihan keseimbangan, pasien
nyeri pada tungkai bawah kanan dengan skala keluhan 7-8 memerlukan bantuan dalam penggunaan alat bantu
(0-10). Keluhan dirasakan terus-menerus seperti ditusuk- berjalan. Aspek keperawatan yang dapat mendukung
tusuk. pasien antara lain tehnik distraksi/relaksasi, latihan gerak
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), terdapat sendi, ankle pump, penguatan otot bahu dan lengan atas,
luka pada daerah tibia fibula dextra dan tertutup elastic mengatur posisi lateral abduksi saat tidur, perawatan
verband. Aktivitas dan mobilitas dibantu sepenuhnya. luka. Perawat mengajarkan pasien mobilisasi miring ke
Feel : terdapat nyeri pada tungkai bawah kanan, krepitasi kiri, duduk ditempat tidur, berdiri, dan membantu dalam
(-), NVD +/+ menggunakan kruk secara bertahap. Selain itu juga
Move : terbatas karena adanya nyeri, kekuatan otot memberikan terapi medis sesuai program.
ekstremitas bawah : 1 1 / 5 5 Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik, pulang dan berobat jalan pada tanggal 24 September
Resiko infeksi 2013, dimana pada saat pulang klien dapat berjalan
menggunakan walker dengan jarak 10 meter dengan
bantuan dan dalam pengawasan, tidak ada tanda-tanda
infeksi.
28. Tn. M, 35 tahun, Laki-laki, Sudah menikah, Pendidikan Partially compensatory Usia 35 tahun, berada pada tugas perkembangan dewasa
Tamat SLTA, Pekerjaan Swasta, Agama Islam, Suku merupakan desain keperawatan muda. Pada hari pertama sampai dengan hari kedua
Sunda, MRS tanggal 22 September 2013 jam 22.45 WIB, yang dibutuhkan oleh Tn. M. setelah operasi, kemampuan pasien terbatas, aktifitas
Dx. Ruptur tendon digiti III, IV, V Sistem keperawatan yang perawatan diri dilakukan ditempat tidur, memerlukan
Riwayat KLL, sedang naik motor, saat menikung tiba-tiba dilakukan kepada Tn. M adalah bantuan toileting, BAB/BAK dibantu, mandi dibantu,
terkena pecahan beliung yang ditancap ditanah. Riwayat Guidelines, Support, Teaching, tidak mampu berganti posisi, tidak mampu berpindah
jatuh tidak ada. Terdapat luka terbuka pada permukaan dan Providing the development tempat (perlu bantuan). Posisi kaki terbatas (lateral
belakang kaki kiri. Kejadian dialami sekitar 5 jam sebelum environment. abduksi), fleksi paha tidak lebih dari 30 derajat. Tidak
MRS. Saat dikaji, klien sudah dilakukan debridement dan mengetahui latihan pergerakan untuk mempersiapkan
repair tendo. Klien mengeluh nyeri pada begian kaki kiri walker, latihan penguatan otot lengan, latihan
dengan skala 7 (0-10). Keluhan nyeri dirasakan hilang keseimbangan, pasien memerlukan bantuan dalam
timbul seperti ditusuk-tusuk. penggunaan alat bantu berjalan. Tindakan keperawatan
Look : Pasien masih berada ditempat tidur, edema (-), yang mendukung pasien antara lain tehnik
terdapat luka terbuka pada kaki kiri, tendon expose pada distraksi/relaksasi, latihan gerak sendi, ankle pump,
digiti 2, 3, dan 4. penguatan otot bahu dan lengan atas, mengatur posisi

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Feel : terdapat nyeri pada kaki kiri, NVD +/+ lateral abduksi saat tidur, perawatan luka. Perawat
Move : Limited, kekuatan otot ekstremitas bawah : 5 5 / 3 mengajarkan pasien mobilisasi miring ke kiri, duduk
1. Digiti II, III, IV tidak bisa ekstensi aktif ditempat tidur, berdiri, dan membantu dalam
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilisasi fisik, menggunakan kruk secara bertahap. Selain itu juga
Resiko infeksi memberikan terapi medis sesuai program.
Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
pulang dan berobat jalan pada tanggal 25 September
2013, dimana pada saat pulang klien dapat berjalan
menggunakan walker dengan jarak 10 meter dengan
bantuan dan dalam pengawasan, tidak ada tanda-tanda
infeksi.
29. Sdr. HRA, 14 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Wholly compensatory merupakan Usia pasien berada pada tugas perkembangan remaja
Pendidikan Tamat SLTA, Pekerjaan Siswa, Agama Islam, desain keperawatan yang awal. Pada hari pertama dan hari kedua setelah operasi,
Suku Jawa, MRS tanggal 21 September 2013 jam 09.00 dibutuhkan oleh Sdr. HRA. kemampuan pasien terbatas, aktifitas perawatan diri
WIB, Dx. CF Shaft femur dextra Sistem keperawatan yang masih dilakukan ditempat tidur. Pasien memerlukan
Riwayat KLL, sementara mengendarai motor tiba-tiba dilakukan kepada Sdr. HRA bantuan toileting. Pasien tidak mengetahui latihan ROM,
ditabrak motor dari arah berlawanan. Saat kejadian klien adalah Guidelines, Support, edema dan nyeri menjadi keluhan pasien. Pasien
sadar, tetapi mekanisme kejadian lupa. Kejadian dialami Teaching, dan Providing the memerlukan latihan penguatan otot lengan. Tindakan
sekitar 15 jam sebelum MRS dan sempat dirawat di RS development environment. keperawatan yang mendukung pasien antara lain tehnik
Karya Bakti Bogor kemudian dirujuk ke RSF. Saat dikaji, distraksi/relaksasi kombinasi terapi farmakologi dan
klien sementara dipersiapkan untuk operasi elektif ORIF. nonfarmakologi, latihan gerak sendi untu mengurangi
Klien mengeluh nyeri pada paha bagian kanan dengan edema dan ROM, dan melakukan perawatan luka. Selain
skala keluhan 6 (0-10). Keluhan dirasakan hilang timbul itu juga memberikan terapi medis sesuai program.
terutama bila digerakkan. Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), terdapat pulang dan berobat jalan pada tanggal 30 September
luka tertutup pada daerah femur kanan. Aktivitas dan 2013, dimana pada saat pulang klien dapat berjalan
mobilitas dibantu secara penuh. menggunakan walker dengan jarak 10 meter dengan
Feel : terdapat nyeri pada paha kanan, krepitasi (-), NVD bantuan dan dalam pengawasan, tidak ada tanda-tanda
+/+ infeksi.
Move : terbatas karen adanya nyeri, kekuatan otot
ekstremitas bawah : 1 1 / 5 5
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik,
Resiko infeksi

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


30. Tn. DDPM, 25 tahun, Laki-laki, Belum menikah, Wholly compensatory merupakan Usia pasien berada pada tugas perkembangan dewasa
Pendidikan Tamat SLTP, Pekerjaan Siswa, Agama Islam, desain keperawatan yang awal. Pada hari pertama dan hari kedua setelah operasi,
Suku Betawi, MRS tanggal 27 September 2013 jam 08.15 dibutuhkan oleh Tn. DDPM. kemampuan pasien terbatas, aktifitas perawatan diri
WIB, Dx. CF Ankle joint trimaleolus dextra Sistem keperawatan yang masih dilakukan ditempat tidur. Pasien memerlukan
Riwayat KLL, sementara mengendarai motor, tiba-tiba dilakukan kepada Tn. DDPM bantuan toileting. Pasien tidak mengetahui latihan ROM,
muncul mobil angkot, pasien kaget melepas motornya dan adalah Guidelines, Support, edema dan nyeri menjadi keluhan pasien. Pasien
terjatuh. Kejadian dialami sekitar 3 jam sebelum MRS. Teaching, dan Providing the memerlukan latihan penguatan otot lengan. Tindakan
Klien sempat diopname di RS Permata Hijau tetapi karena development environment. keperawatan yang mendukung pasien antara lain tehnik
cukup jauh akhirnya dirujuk ke RSF. Riwayat pingsan dan distraksi/relaksasi kombinasi terapi farmakologi dan
muntah pasca kejadian tidak ada. Saat dikaji, klien nonfarmakologi, latihan gerak sendi untu mengurangi
sementara dipersiapkan untul operasi elektif ORIF. Klien edema dan ROM, dan melakukan perawatan luka. Selain
mengeluh nyeri pada pergelangan kaki kanan dengan skala itu juga memberikan terapi medis sesuai program.
7-8 (0-10) dengan sifat hilang timbul terutama bila Setelah dilakukan perawatan, klien diperbolehkan untuk
bergerak. pulang dan berobat jalan pada tanggal 07 Oktober 2013,
Look : Pasien berada ditempat tidur, edema (-), terdapat dimana pada saat pulang klien dapat berjalan
luka lecet pada tangan kiiri dengan luas 4 x 2 cm. menggunakan walker dengan jarak 10 meter dengan
Terpasang backslab pada tungkai bawah kanan. Aktivitas bantuan dan dalam pengawasan, tidak ada tanda-tanda
masih dibantu secara penuh infeksi.
Feel : terdapat nyeri pada pergelangan kaki kanan, NVD
+/+
Move : terbatas karena adanya nyeri, kekuatan otot
ekstremitas bawah : 1 1 / 5 5
Diagnosa keperawatan : Nyeri, Hambatan mobilitas fisik

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Lampiran 2.
Data responden yang dilakukan EBN

No. Inisial Jenis Usia Jenis Jenis Skala Skala No. Inisial Jenis Usia Jenis Jenis Skala Skala
Op. Anest. I II Op. Anest. I II
A01 Tn. M L 35 Debri SA 4 2 B01 Tn.AM L 31 ORIF SA 4 2
+
ORIF
A02 Tn.HRA L 18 ORIF SA 5 2 B02 Nn.NA P 22 ORIF SA 5 3
A03 Tn.IAA L 23 ORIF SA 4 2 B03 Tn.DU L 33 Debri + SA 4 2
ORIF
A04 Tn.SN L 32 Debri SA 5 1 B04 Tn.EYP L 22 OREF + SA 5 3
+ Illizarov
ORIF
TBW
A05 Tn.AH L 43 ORIF SA 5 2 B05 Tn.DDPM L 25 ORIF SA 5 3
MIPO

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014


Lampiran 3.
Data responden yang dilakukan inovasi keperawatan

No. Inisial Umur JK Dx. Medis Pre Intervensi Post Intervensi


Pengetahuan Sikap Prilaku Pengetahuan Sikap Prilaku
1. Ny. N 48 th P Fr. Tibia fibula sin. Kurang Kurang Kurang patuh Kurang Kurang Kurang patuh
2. Tn. H 24 th L OF cruris post Baik Baik Kurang patuh Baik Baik Kurang patuh
OREF
3. Tn. H 36 th L Bone maligna dext. Baik Kurang Kurang patuh Baik Baik Kurang patuh
4. Tn. U 70 th L Fr. Hip dext. Cukup Kurang Kurang patuh Baik Baik Kurang patuh
5. Ny. S 53 th P Fr. Hip sin. Baik Kurang Kurang patuh Baik Baik Kurang patuh
6. Tn. Y 21 th L OF femur sin. Baik Kurang Kurang patuh Baik Baik Kurang patuh
7. Tn. T 57 th L Fr. Hip sin. Baik Kurang Kurang patuh Baik Baik Kurang patuh
8. Ny. O 63 th P Fr. Hip sin. Baik Kurang Kurang patuh Baik Baik Kurang patuh
9. Tn. S 52 th L CF femur sin. Baik Baik Kurang patuh Baik Baik Kurang patuh
10. Tn. N 36 th L Fr. Femur & cruris Baik Baik Kurang patuh Baik Baik Kurang patuh
dext.

Analisis praktik …., Iqbal D Husain, FIK UI, 2014