Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Infeksi merupakan penyakit yang dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain atau

dari hewan ke manusia. Sebagian besar infeksi disebabkan oleh bakteri, jamur, virus, dan

parasit. Bakteri yang merupakan bagian flora normal manusia namun dapat menyebabkan

infeksi yaitu Staphylococcus aureus dan Escherichia coli (Brooks et al., 2007). Kasus infeksi

jamur terutama oleh spesies Candida albicans mengalami peningkatan secara signifikan di

Indonesia pada sepuluh tahun terakhir (Tjay dan Rahardja, 2003).

Pengobatan penyakit infeksi oleh masyarakat sering dilakukan dengan antibiotik

seperti tetrasiklin, ampisilin atau antibiotik jenis lainnya dan pengobatan dengan antijamur.

Namun, pemakaian antibiotik secara berlebih dan kurang terarah dapat mengakibatkan

terjadinya resistensi dan juga dapat menimbulkan efek samping sehingga menyebabkan

kegagalan dalam pengobatan (Tjay dan Rahardja, 2007). Obat antijamur saat ini masih

terbatas dalam perkembangannya, berbeda dengan obat antimikroba lain seperti obat

antibakteri yang secara luas telah dikembangkan (Pratiwi, 2001). Keadaan tersebut

mendorong para peneliti mencari terobosan baru di bidang kesehatan untuk penemuan

sumber obat-obatan antimikroba lain dari bahan alam yang dapat berperan sebagai antijamur

dan antibakteri yang lebih poten dan relatif lebih murah (Hertiani et al., 2003). Akhir-akhir

ini banyak ditemukan berbagai macam antimikroba dari bahan alam seperti pada tanaman,

rempah-rempah atau dari mikroorganisme selain antimikroba yang diperoleh dari bahan-

bahan sintetik (Gobel et al., 2008).

Tanaman merupakan sumberutama dari senyawa obat dan lebih dari 1000 spesies

tumbuhan dimanfaatkan sebagai bahan bakuobat. Tumbuhan tersebut menghasilkan metabolit

sekunder (senyawa yang merupakan turunan dari metabolit primer) dengan struktur
1
molekuldan aktivitas biologi yang beranekaragam serta memiliki potensi yang sangat baik

untuk dikembangkan menjadi obat. Menurut perkiraan Badan Kesehatan Dunia (WHO) 80%

penduduk dunia masihmenggantungkan kesehatannya pada pengobatan tradisional termasuk

penggunaan obat yang berasal dari tanaman (Gholib,2008).

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang dapat diambil dari makalah ini sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud antimikroba ?

2. Bagaimana sifat-sifat antimikroba ?

3. Apa saja penggolongan antimikroba ?

4. Bagaimana mekanisme kerja zat antimikroba ?

5. Apa saja efek samping penggunaan antimikroba ?

6. Apa saja jenis tanaman sebagai antimikroba ?

C. Manfaat Penulisan

Adapun rumusan masalah yang dapat diambil dari makalah ini sebagai berikut:

1. Dapat mengetahuiyang dimaksud antimikroba.


2. Dapat mengetahui sifat-sifat antimikroba.
3. Dapat mengetahui penggolongan antimikroba.
4. Dapat mengetahui mekanisme kerja zat antimikroba.
5. Dapat mengetahui efek samping penggunaan antimikroba.
6. Dapat mengetahui antimikroba jenis tanaman.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Antimikroba

Antimikroba adalah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang

merugikan manusia. Antimikroba atau antiinfeksi, termasuk antiparasit, adalah obat

yang digunakan untuk terapi kondisi patologi yang disebabkan oleh karena infeksi

mikroba atau invasi parasit. (ISO Indonesia, 2013).

Kemoterapeutika (antimikroba) didefinisikan sebagai obat-obat kimiawi yang

digunakan untuk memberantas penyakit infeksi mikroorganisme seperti bakteri, fungi,

virus dan protozoa, serta infeksi oleh cacing. Obat-obat tersebut berkhasiat

memusnahkan parasit tanpa merusak jaringan tuan-rumah. (Tjay, dkk, 2010).

Antimikorba adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri,zat tersebut

memiliki khasiat atau kemampuan untuk mematikan/menghambat pertumbuhan kuman

sedangkan toksisitas terhadap manusia relative kecil. Pernyataan tentang definisi antimikroba

menurut Waluyo (2004), antimikroba merupakan suatu zat-zat kimia yang diperoleh/dibentuk

dan dihasilkan olehmikroorganisme, zat tersebut mempunyai daya penghambat aktifitas

mikororganisme lain meskipun dalam jumlah sedikit. Pengertian antimikroba menurut

Entjang (2003) dalam Rostinawati (2009), antimikroba adalah zat kimia yang dihasilkan oleh

suatu mikroba yang mempunyai khasiat antimikroba.

Beberapa jenis antimikroba, yaitu :

a. Antibiotik

Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi,

yang dapat menghambat mikroba jenis lain. Antibiotik adalah segolongan senyawa

yang punya efek membunuh mikroorganisme di dalam tubuh, misalnya ketika terjadi

infeksi bakteri. Kata antibiotik diberikan pada produk metabolik yang dihasilkan

3
suatu organisme tertentu, yang dalam jumlah amat kecil bersifat merusak atau

menghambat mikroorganisme lain. Dengan kata lain, antibiotik merupakan zat kimia

yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang menghambat mikroorganisme.

(Pelczar, 2008).

Kegiatan antibiotis untuk pertama kalinya ditemukan secara kebetulan oleh

dr. Alexander Fleming, tetapi penemuan ini baru dikembangkan dan digunakan pada

permulaan Perang Dunia II, ketika obat-obat antibakteri sangat diperlukan untuk

menanggulangi infeksi dari luka-luka akibat pertempuran. (Tjay, dkk, 2010).

Para peneliti di seluruh dunia menghasilkan banyak zat lain dengan khasiat

antibiotis, namun berhubung dengan sifat toksisnya bagi manusia, hanya sebagian

kecil saja yang dapat digunakan sebagai obat. Beberapa diantaranya :

1. Aminoglikosida (Cth : Kantrex dan Mycrifradin), untuk mengobati diare dan

kondisi lain yang khas.

2. Sefalosporin (Cth : Sefadrin dan Sefadroksil), untuk infeksi saluran pencernaan

atas seperti sakit tenggorokan, pneumonia, infeksi telinga, dan lain-lain.

3. Kloramfenikol (Cth : Chloromycetin dan Mychel), untuk infeksi berbahaya.

4. Eritromisin (Cth : Pedamycin dan Robimycin), untuk infeksi saluran bagian atas,

infeksi telinga, dan sifilis.

5. Penisilin (Cth : Ampisilin dan Amoxsan), untuk infeksi saluran napas atas,

bronkhitis, saluran kemih, dan lain-lain.

6. Tetrasiklin (Cth ; Terramycin dan Tetrasiklin), untuk kolera dan beberapa jenis

jerawat.

b. Desinfektan

Desinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya

infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk

4
membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya.

Desinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati. (Anonim,

2014).

Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan

bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi

dengan jalan membunuh mikroorganisme patogen. Desinfeksi dilakukan apabila

sterilisasi sudah tidak mungkin dikerjakan, meliputi : penghancuran dan pemusnahan

mikroorganisme patogen yang ada tanpa tindakan khusus untuk mencegah

kembalinya mikroorganisme tersebut.

Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi

umumnya dikelompokkan ke dalam beberapa kelmpok :

1. Golongan Aldehid (Cth : Formaldehid dan Glutaraldehid), untuk membunuh

mikroorganisme dalam ruangan, peralatan dan lantai (formaldehid), serta untuk

membunuh virus (glutaraldehid).

2. Golongan Alkohol (Cth : etanol, propanol, dan isopropanol), untuk proses

desinfeksi pada permukaan yang kecil, tangan, dan kulit.

3. Golongan Pengoksidasi (Cth : peroksida dan peroksigen), untuk proses desinfeksi

permukaan dan sebagai sediaan cair.

4. Golongan Halogen (Cth : iodium dan klor), untuk mereduksi virus, tetapi tidak

efektif untuk membunuh beberapa jenis bakteri gram positif dan ragi. Umum

digunakan sebagai desinfektan pada pakaian, kolam renang, dan lumpur air

selokan.

5. Golongan Fenol (Cth : fenol dan para kloro xylenol), untuk proses desinfeksi

virus, spora tetapi tidak baik digunakan untuk membunuh beberapa jenis bakteri

5
gram positif dan ragi. Umum digunakan dalam proses desinfeksi di bak mandi,

permukaan dan lantai, serta dinding atau peralatan yang terbuat dari papan/kayu.

6. Golongan Garam Amonium Kuarterner (Cth : benzalkonium klorida dan

bensatonium klorida), untuk proses desinfeksi hanya untuk bakteri vegetatif dan

lipovirus, terutama untuk desinfeksi peralatannya.

7. Golongan Biguanida (Cth : klorheksidin), ampuh sebagai antimikroba terutama jenis

bakteri gram positif dan beberapa jenis bakteri gram negatif (S. Aureus, E. Coli,

dan P. Aeruginosa), tetapi kurang baik untuk membunuh beberapa organisme gram

negatif, spora, jamur, terlebih virus serta sama sekali tidak bisa membunuh M.

Pulmonis.

c. Antiseptik

Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan

mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda mati.

Antiseptik adalah zat antimikroba yang diberikan pada jaringan hidup/kulit untuk

mengurangi kemungkinan infeksi, sepsis (peradangan seluruh tubuh yang berpotensi

fatal) yang disebabkan oleh infeksi berat, dan pembusukan. Beberapa antiseptik

yang umum dipakai :

1. Alkohol, digunakan untuk mensterilkan kulit sebelum suntikan diberikan.

2. Senyawa Surfaktan, digunakan dalam beberapa desinfektan kulit pra-operasi

dan handuk/tissue antiseptik.

3. Asam Borat, digunakan dalam pengobatan infeksi ragi vagina, pada rambut/bulu

mata, dan sebagai antivirus untuk mempersingkat durasi serangan sakit dingin.

Digunakan ke dalam krim untuk luka bakar.

4. Brilliant Hijau, digunakan untuk pengobatan luka kecil dan abses yang efisien

terhadap bakteri gram positif.

6
5. Chlorhexidine Gluconate, digunakan sebagai antiseptik kulit dan untuk

mengobati radang gusi.

6. Hidrogen Peroksida, digunakan untuk membersihkan dan menghilangkan bau

luka dan bisul.

7. Yodium, digunakan sebagai antiseptik pra dan pasca operasi dan tidak lagi

direkomendasikan untuk mendesinfeksi luka ringan karena mendorong

pembentukan jaringan perut dan meningkatkan waktu penyembuhan.

8. Octenidine dihydrochloride, digunakan sebagai QAC dan klorheksidin.

9. Senyawa Fenol (Asam Karbol), digunakan untuk membersihkan tangan pada pra

operasi, bedak bayi antiseptik, obat kumur dan tenggorokan.

10. Polyhexanide (polyhexamethylene biguanide), senyawa antimikroba yang cocok

dalam penggunaan klinis disaat kritis atau infeksi luka yang akut dan kronis.

11. Sodium Klorida, digunakan sebagai pembersih umum dan obat kumur

antiseptik.

B. Sifat-Sifat Antimikroba

Beberapa sifat yang perlu dimiliki oleh zat antimikroba menurut Waluyo (2004)

adalah sebagai berikut.

1. Menghambat atau membunuh mikroba patogen tanpa merusak hospes/inang, yaitu

antimikroba dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan mikroba bahkan

menghentikan pertumbuhan bakteri/membunuh namun tidak berpengaruh/merusak pada

hospes.

2. Bersifat bakterisida dan bukan bakteriostatik, yaitu antimikroba baiknya bersifat

bakterisida atau bersifat menghentikan laju pertumbuhan/membunuh mikroba bukan

bakteriostatik yang hanya menghambat laju pertumbuhan mikroba.

7
3. Tidak menyebabkan resistensi pada kuman atau mikorba, yaitu antimikroba tidak akan

menimbulkan kekebalan kepada mikroba sehingga antimikorba tidak dapat digunakan

untuk menghentikan pertumbuhan mikroba patogen lagi.

4. Berspektrum luas, yaitu antimikroba efektif digunakan untuk berbagai spesies bakteri,

baik bakteri kokus, basil, dan spiral.

5. Tidak menimbulkan alergenik atau menimbulkan efek samping bila digunakan dalam

jangka waktu lama, yaitu antimikroba yang digunakan sebagai obat tidak menimbulkan

efek samping kepada pemakai jika digunakan dalam jangka waktu lama.

6. Zat antimikroba tetap aktif dalam plasma, cairan tubuh atau eskudat, antimikroba yang

berada dalam plasma atau cairan tubuh tetap bersifat aktif dan tidak dalam keadaan

berhenti tumbuh atau dormansi.

7. Zat antimikroba dapat larut dalam air dan stabil, antimikroba dapat larut dan menyatu

dalam air.

C. PENGGOLONGAN ANTIMIKROBA

Antimikroba, khususnya antibiotika digolongkan dalam beberapa golongan,

yaitu berdasarkan spektrum, struktur kimia, aksi utama, tempat kerja, dan mekanisme

kerjanya.

1. Berdasarkan Spektrumnya

a. Antibiotik dengan spektrum sempit, efektif terhadap satu jenis mikroba.

b. Antibiotik dengan spektrum luas, efektif baik terhadap gram positif maupun gram

negatif.

Contoh : tetrasiklin, amnifenikol, aminoglikosida, makrolida, turunan penisilin.

c. Antibiotik yang aktivitasnya lebih dominan terhadap gram positif.

Contoh : eritromisin, sebagian besar turunan penisilin, dan beberapa turunan

sefalosporin.

8
d. Antibiotik yang aktivitasnya lebih dominan terhadap bakteri gram negatif.

Contoh : kolkistin, polimiksin B sulfat, dan sulfomisin.

e. Antibiotik yang aktivitasnya lebih dominan terhadap Mycobacteriae

(antituberkulosis).

Contoh : streptomisin, kanamisin, rifampisin.

f. Antibiotik yang aktif trhadap jaumr (antijamur).

Contoh : griseofulvin, amfoterisin B, dan kandisidin.

g. Antibiotik yang aktif terhadap neoplasma (antikanker)

Contoh : aktinomisin, bleomisin, dan mitramisin.

2. Berdasarkan Kandungan Senyawa yang Bersifat Antimikroba

Senyawa yang mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri

banyak terkandung di dalam tumbuhan. Beberapa senyawa antimikroba antara lain yaitu,

saponin, tannin, flavonoid, xantol, terpenoid, alkaloid dan sebagainya (Suerni, dkk, 2013).

Selain senyawa antimikorba yang diperoleh dari tumbuhan ada pula senyawa antimikroba

buatan, contohnya amoxilin. Pada dasarnya setiap senyawa antimikroba memiliki

kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara melisiskan dinding sel

bakteri. Berikut adalah beberapa senyawa antimikroba yang ada dalam tumbuhan.

1. Saponin

Saponin merupakan salah satu senyawa yang mempunyai kemampuan untuk

melisiskan dinding sel bakteri apabila berinteraksi dengan dinding bakteri (Pratiwi

dalam Karlina, 2013). Saponin yang diujikan langsung pada bakteri dapat

meningkatkan permeabilitas membrane sel bakteri, sehingga struktur dan fungsi

membran sel berubah. Hal tersebut akan menganggu kestabilan permukaan dinding sel,

memudahkan zat antibakteri masuk ke dalam sel dan mengganggu metabolisme sel

yang mengakibatkan terjadinya denaturasi protein bakteri.

9
2. Flavonoid

Flavonoid merupakan senyawa fenol yang mempunyai sifat sebagai

desinfektan. Karena flavonoid yang bersifat polar membuat flavonoid dapat dengan

mudah menembus lapisan peptidoglikan yang juga bersifat polar, sehingga flavonoid

sangat efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif. Flavonoid

mempunyai cara kerja yang sama seperti saponin dalam hal menghambat pertumbuhan

bakteri, yaitu dengan mendenarurasi protein bakteri yang menyebabkan terhentinya

aktivitas metabolisme sel bakteri. Terhentinya aktivitas metabolisme mengakibatkan

kematian pada sel.

3. Tannin

Tannin merupakan senyawa yang dapat merusak membran sel bakteri. Pernyataan

yang diungkapkan oleh Pratiwi dan Karlina (2013), senyawa tanin mampu menghambat

pertumbuhan bakteri dengan cara mengkoagulasi protoplasma bakteri.

4. Terpenoid

Senyawa antibakteri jenis terpenoid efektif dalam menghambat pertumbuhan

bakteri, fungi, virus dan protozoa. Seperti pada umumnya mekanisme kerja terpenoid

dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara mengiritasi dinding sel dan

mengumpalkan protein bakteri. Sehingga menyebabkan terjadi hidrolisi dan difusi

cairan sel karena adanya perbedaan tekanan osmosis (Pratiwi dalam Karlina, 2013).

5. Xanthone

Senyawa xanthone memiliki fungsi antioksidan tinggi sehingga dapat

menetralkan dan menghancurkan radikal bebas yang memicu munculnya penyakit

degeneratif.

6. Alkaloid

10
Alkaloid mencakup senyawa bersifat bassa yang mengandung satu atau lebih

atom nitrogen, umumnya berupa asam amino. Alkaloid mempunyai aktivitas

antimikroba yang diketahui dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara

menghambat sintesis dinding sel, mengubah permeabilitas membran melalui transport

aktif dan menghambat sintesis protein (Mangunwardoyo, 2009).

7. Minyak Atsiri

Minyak atsiri tersusun dari beberapa senyawa utama, yaitu citral, sitronelol dan

geraniol yang bersifat antibakteri dan memiliki kemamuan untuk membunuh bakteri

(Rahman, dkk, 2013). Selain itu, minyak atsiri mengandung senyawasenyawa volatile

seperti golongan monoterpen dan sesquiterpen yang termasuk golongan senyawa

bersifat antimikroba (Emamgoreishi, 2005 dalam Dewi, dkk, 2013).

8. Berdasarkan Struktur Kimianya

a. Antibiotik β-laktam

b. Turunan amfnikol

c. Turunan tetrasiklin

d. Aminoglikosida

e. Makrolida

f. Polipeptida

g. Linkosamida

h. Polien

i. Ansamisin

j. Antrasiklin

9. Berdasarkan Aksi Utamanya

a. Bakteriostatik, menghambat pertumbuhan mikroba.

11
Contoh : Penisilin, Aminoglikosida, Sefalosporin, Kotrimoksasol, Isoniasida, Eritromisin

(kadar tinggi), Vankomisin.

b. Bakterisida, membunuh/memusnahkan mikroba.

Contoh : Tetrasiklin, Asam fusidat, Kloramfenikol, PAS, Linkomisin, Eritromisin (kadar

rendah), klindamisin.

Antimikroba tertentu aktivitasnya dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi

bakterisida bila kadar antimikroba ditingkatkan melebihi KHM dan menjadi KBM.

KHM (Kadar Hambat Minimal), kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat

pertumbuhan organisme. KBM (Kadar Bunuh Minimal), kadar minimal yang

diperlukan untuk membunuh mikroorganisme.

10. Berdasarkan Tempat Kerjanya

a. Dinding sel, menghambat biosintesis peptidoglikan.

Contoh : penisilin, sefalosporin, basitrasin, vankomisin, sikloserin.

b. Membran sel, fungsi dan integritas membran sel.

Contoh : nistatin, amfoteresin, polimiksin B.

c. Asam Nukleat, menghambat biosintesis DNA, mRNA.

Contoh : mitomisin C, rifampisin, griseofilvin.

d. Ribosom, menghambat biosintesis protein.

Contoh : aminosiklitol, tetrasiklin, amfenikol, makrolida, linkosamida.

D. Mekanisme Kerja Zat Antimikroba

Berdasarkan beberapa ahli menyebutkan bahwa mekanisme kerja zat antimikroba

mengganggu bagian-bagian yang peka di dalam sel, yaitu:

1. Antimikroba menghambat metabolisme sel

Untuk bertahan hidup dan melangsungkan kehidupan, mikroba membutuhkan asam

folat. Mikroba patogen tidak mendapatkan asam folat dari luar tubuh, sehingga mikroba

12
perlu mensintesis asam folat sendiri. Zat antimikroba akan mengganggu proses

pembentukkan asam folat, sehingga menghasilkan asam folat yang nonfungsional dan

metabolisme dalam sel mikroba akan terganggu (Setiabudy, 2007).

2. Antimikroba menghambat sintesis protein

Suatu sel dapat hidup apabila molekul-molekul protein dan asam nukleat dalam sel

dalam keadaan alamiahnya. Terjadinya denaturasi protein dan asam nukleat dapat merusak

sel tanpa dapat diperbaiki kembali. Suhu tinggi dan konsentrasi pekat dari beberapa zat

kimia dapat mengakibatkan koagulasi ireversibel komponen sel yang mendukung

kehidupan suatu sel (Pelczar, 1988 dalam Rahmadani, 2015).

3. Antimikroba menghambat sintesis dinding sel

Bakteri dikelilingi oleh struktur kaku seperti dinding sel yang berfungsi untuk

melindungi membrane protoplasma yang ada dalam sel. Senyawa antimikroba mampu

merusak dan mnecegah proses sintesis dinding sel, sehingga akan menyebabkan

terbentuknya sel yang peka terhadap tekanan osmotik (Waluyo, 2004).

4. Antimirkoba menghambat permeabilitas membrane sel

Membrane sel berfungsi untuk penghalang dengan permeabilitas selektif, melakukan

pengangkutan aktif dan mengendalikan susunan dalam sel. Membran sel mempengaruhi

konsentrasi metabolit dan bahan gizi di dalam sel dan tempat berlangsungnya pernafasan

sel serta aktivitas sel biosintesis tertentu. Beberapa antimikorba dapat merusak salah satu

fungsi dari membrane sel sehingga dapat menyebabkan gangguan pada kehidupan sel

(Waluyo, 2004).

5. Antimikroba merusak asam nukleat dan protein

DNA, RNA dan protein memegang pernana penting di dalam proses kehidupan sel.

Sehingga gangguan apapun yang terjadi dalam pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut

13
dalam mengakibatkan kerusakan secara menyeluruh pada sel (Pleczar, 1988 dalam

Rahmadani, 2015).

E. EFEK SAMPING PENGGUNAAN ANTIMIKROBA

Efek samping penggunaan antimikroba dapat dikelompokkan menurut reaksi

alergi, reaksi idiosikrasi, reaksi toksik, serta perubahan biologi dan metabolik pada

hospes.

1. Reaksi Alergi

Reaksi alergi dapat ditimbulkan oleh semua antibiotik dengan melibatkan sistem imun

tubuh hospes.terjadinya tidak bergantung pada besarnya dosis obat . Manifestasi gejala

dan derajat beratnya reaksi dapat bervariasi.

2. Reaksi Idiosinkrasi

Gejala ini merupakan reaksi abnormal yang diturunkan secara genetik terhadap pemberian

antimikroba tertentu. Sebagai contoh 10% pria berkulit hitam akan mengalami anemia

hemolitik berat bila mendapat primakulin. Ini disebabkan mereka kekurangan enzim

G6PD.

3. Reaksi Toksik

AM pada umumnya bersifat toksik-selektif , tetapi sifat ini relatif. Efek toksik pada hospes

ditimbulkan oleh semua jenis antimikroba.

4. Perubahan Biologik Dan Metabolik

Pada tubuh hospes, baik yang sehat maupun yang menderita infeksi, terdapat populasi

mikroflora normal.

F. Jenis Tanaman Sebagai Antimikroba

Banyak tanaman yang dapat dijadikan obat infeksi yang disebabkan oleh

mikroba/bakteri. Banyak penelitian yang berkaitan tentang berbagai tumbuhan yang dapat

menghambat pertumbuhan mikroba. Setiap bagian dari tumbuhan dapat digunakan sebagai

14
antimikroba selama bagian tumbuhan tersebut mempunyai kandungan senyawa antimikroba.

Dalam satu bagian tumbuhan dapat terkandung berbagai macam senyawa, namun memiliki

kadar yang berbeda dengan bagian tumbuhan yang lain. Bagian tumbuhan yang dapat

digunakan sebagai bahan antibakteri seperti daun, buah, biji, kulit batang, akar, rempah-

rempah dan lainnya.

Terdapat banyak penelitian tentang uji daya antimikroba dengan menggunakan

tumbuhan herbal, diantaranya :

1. Jahe Merah

Salah satu tanaman yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat

sebagai antimikroba adalah jahe merah. Berdasarkan pengalaman, rimpang jahe merah

digunakan sebagai pencahar, penguat lambung, peluruh masuk angin, rematik, radang,

muntah dan nyeri otot (Anonim, 2004). Kandungan minyak atsiri dalam rimpang jahe

merah dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans (Lestari, 2007). Rimpang jahe

merah memiliki efek antifungi terhadap pertumbuhan Candida albicans secara in vitro

(Sari, 2009). Rimpang jahe merah mengandung 6-gingerol yang memiliki aktivitas

antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, antikarsinogenik, antimutagenik, antitumor (Kim

et al., 2005). Jahe merah mengandung berbagai komponen minyak atsiri seperti trans-

geraniol, geranilasetat, zingiberene, citral, curcumene, betasesquiphellandrene,

oleoresin, gingerol, [6]-shogaol, gingerdiol, 10-dehydroginger-dione, 10-ginger-dione,

6-gingerdion, dan capsaicin (Andini, 2008; Herawati, 2006; Nurliana, et al., 2008).

Rimpang jahe merah mengandung [6]-gingerol yang memiliki aktivitas antioksidan,

antibakteri, antiinflamasi, antikarsinogenik, antimutagenik, antitumor (Kim et al., 2005).

2. Daun Beluntas

Penelitian yang dilakukan oleh Manu (2013) untuk mengetahui daya antimikroba

menggunakan bahan daun beluntas (Pluchea indica L.) terhadap bakteri Staphylococcus

15
aureus, Bacillus subtilis, dan Pseudomonas aeruginosa. Tanaman beluntas merupakan

salah satu tanaman dari suku Asteraceae yang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid,

tanin, minyak atsiri, asam klorogenik, natrium, kalium, magnesium, dan fosfor serta

akarnya mengandung flavonoid dan tanin (Agoes, 2010 dalam Manu, 2013). Selain itu,

daun beluntas dapat digunakan sebagai obat radang (inflamasi) dan obat diare karena

kemampuannya untuk menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan E. coli.

3. Kelapa Sawit

Penelitian sebelumnya terhadap ekstrak metanol daun kelapa sawit menunjukkan

adanya aktivitas antibakteri terhadap Salmonella typhi, Bacillus subtilis, Staphylococcus

aureus, Escherichia coli, dan Pseudomonas aeruginosa (Chong et al., 2008; Vijayaratna

et al., 2012). Menurut penelitian Chong (2008), diameter zona hambat yang dihasilkan

ekstrak metanol daun kelapa sawit dengan kandungan ekstrak 2,5 mg tiap disk terhadap

Salmonella typhi adalah 12 mm, Bacillus subtilis 12 mm, Staphylococcus aureus 13 mm,

Escherichia coli 12 mm, dan Pseudomonas aeruginosa 14 mm (Chong et al., 2008).

Sedangkan hasil penelitian Vijararatna (2012), menunjukkan diameter zona hambat yang

dihasilkan ekstrak metanol daun kelapa sawit dengan kandungan ekstrak 2,0 mg tiap disk

terhadap Salmonella typhi adalah 12 mm, Bacillus subtilis 12 mm, Staphylococcus

aureus 14 mm, Escherichia coli 13 mm, dan Pseudomonas aeruginosa 14 mm,

Klebsiella pneumoniae 11 mm, dan Proteus mirabilis 13 mm.

4. Kayu Manis

Kandungan kimia dari kayu manis antara lain minyak atsiri, safrole,

sinamadehide, eugenol, tanin, damar, kalsium oksanat, dan zat penyamak. Menurut

Sukandar et al. (1999), minyak atsiri dalam daun kayu manis sebagai antimikroba paling

kuat untuk jenis Samonella typhimurium dan Candida albicans sedangkan minyak atsiri

16
dalam kulit kayu manis sebagai antimikroba untuk Bacillus substilis dan Candida

albicans.

5. Lengkuas

Senyawa kimia yang terdapat pada lengkuas antara lain mengandung minyak

atsiri, minyak terbang, eugenol, seskuiterpen, pinen, metil sinamat, kaemferida,

galangan, galangol dan kristal kuning. Lengkuas berkhasiat anti jamur, anti bakteri,

menghangatkan, membersihkan darah, menambah nafsu makan, mempermudah

pengeluaran angin dari dalam tubuh, dan mengencerkan dahak. Rimpang lengkuas

mengandung lebih kurang 1% minyak atsiri berwarna kuning kehijauan yang terutama

terdiri dari metil-sinamat 48%, sineol 20% - 30%, eugenol, kamfer 1 %, seskuiterpen,

δ-pinen, galangin, dan lain-lain. Selain itu rimpang juga mengandung resin yang

disebut galangol, kristal berwarna kuning yang disebut kaemferida dan galangin,

kadinen, heksabidrokadalen hidrat, kuersetin, amilum, beberapa senyawa flavonoid,

dan lain-lain. Minyak atsiri rimpang lengkuas dapat dikatakan aktif terhadap bakteri E.

coli dan S.aureus.

6. Kunyit

Sifat kunyit telah diteliti yakni sebagai antioksidan,anti-inflamasi, anti-

karsinogenok, antimutagenik, tindakan anti-trombotik, hepatoprotrktif, dan

antimikroba, antivirus dan anti-parasit (Badmaev et al, 2004). Senyawa kimia utama

yang terkandung di dalam rimpang kunyit adalah minyak atsiri dan kurkuminoid.

Minyak atsiri mengandung senyawa seskuiterpen alkohol, turmeron dan zingiberen,

sedangkan kurkuminoid mengandung senyawa kurkumin dan turunannya (berwarna

kuning) yang meliputi desmetoksi-kurkumin dan bidesmetoksikurkumin.

Menurut jurnal “Penggunaan Ekstrak Temulawak dan Kunyit Terhadap

Resistensi Bakteri Aeromonas hydrophilla Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio)”

17
menyatakan bahwa penggunaan ekstrak kunyit yang terlalu tinggi dalam menghambat

pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila akan menimbulkan resistensi bakteri

serta kurang ekonomis dalam penggunaannya, untuk itu perlu diketahui konsentrasi

terendah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila.

7. Kumis Kucing

Kandungan senyawa kimia pada bagian daun bisa dibilang cukup kompleks.

Beberapa senyawa penting yang berkhasiat sebagai obat tradisional berbagai penyakit

diantaranya adalah orthosiphonin glikosida, minyak atsiri, saponin, garam kalium, zat

samak, minyak lemak, sapofonin, mioinositol, dan sinensetin. Mengonsumsi sari daun

kumis kucing dapat menurunkan kadar kristal asam urat dalam darah.

8. Bawang Putih

Dalam pengobatan, bawang putih digunakan sebagai expectorant,

antispasmodik, antiseptik, bakteriostatik, antiviral, antihelmintik, antihipertensi dan

sebagai promoter hipertensi. Sejak tahun 1858, Louis Pasteur telah menyatakan bahwa

bawang putih mempunyai sifat antibakteri (Anonymous, 2004). Menurut jurnal yang

berjudul “Uji Daya Antibakteri Ekstrak Etanol Bawang Putih (Allium sativum l.)

terhadap Staphylococcus aureus atcc 6538 dan Escherichia coli atcc 11229 secara in

vitro” menyatakan bahwa Semakin tinggi konsentrasi bawang putih, maka

aktivitasnya cenderung meningkat. Aktivitas antibakteri bawang putih ini disebabkan

kandungan diallyl thiosulfinate yang biasa disebut allicin.

9. Bawang Merah

Bawang merah mengandung belerang yang dipercaya banyak orang

mengandung antibakteri dan zat diuretik. Sirup atau obat yang terbuat dari bawang

merah berkhasiat sebagai ekspekstoran yang membantu mengeluarkan lendir dari

bronkus, paru-paru, dan trakea. Selain itu sirup atau obat yang terbuat dari bawang

18
merah berkhasiat untuk melawan radang dan memperlancar aliran darah. Ekstrak

bawang merah mempunyai efek bakterisidal terhadap Staphylococcus aureus dan

Shigella dysentriae

10. Sambiloto

Tanaman ini memang mirip dengan tanaman liar, tapi sangat berkhasiat bagi

kesehatan. Tanaman antibiotik ini dapat mencegah penyakit kanker juga untuk

meningkatkan daya kekebalan tubuh. Selain itu sambiloto juga mengandung sebuah

senyawa yaitu flavonoid yang sangat baik dalam membantu melancarkan peredaran

darah, serta adanya zat kimia lain yang terkandung seperti kalium yang berfungsi

untuk menurunkan tekanan darah.

11. Cengkeh

Dalam industri makanan cengkeh digunakan dalam bentuk bubuk atau produk

hasil ekstraksi dari bunga cengkeh seperti minyak cengkeh atau oleoresin. Minyak

cengkeh juga digunakan sebagai bahan aktif dalam antiseptik ruangan dalam bentuk

spray. Dalam bentuk tunggal maupun sebagai campuran dalam formula cairan

antiseptik dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella hypemerium dan E.

coli. Dimana setiap bagian dari cengkeh baik pada bunga, tangkai, maupun daun

mengandung komponen bioaktif fenol, yaitu eugenol, asetil eugenol, kariofelin,

eugenia, venilllin, dan asam galotanin. Karena itu produk cengkeh dapat digunakan

sebagai fungisida, bakterisida, nematisida dan insektisida.

12. Daun Sirih

Daun sirih mengandung minyak atsiri yang terdiri dari betlephenol, kavikol,

seskuiterpen, hidroksikavikol, cavibetol, estragol, eugenol, dan karvakrol. Kandungan

eugenol dan hidroksikavikol dalam daun sirih memiliki aktivitas antimikroba, dan

kandungan lain seperti kavikol, kavibetol, tannin, karvakrol, kariofilen dan asam

19
askorbat juga mempunyai aktivitas antibakteri. Minyak atsiri dari daun sirih mampu

melawan beberapa bakteri gram positf dan gram negatif. Adapun beberapa penelitian

berhasil menguji kemampuan aktivitas antibakteri terhadap enam jenis bakteri yang

meliputi gram positif dan gram negatif, seperti Bacillus cereus, Staphylococcus

aureus, Listeria monocytogenes, Escheria coli, Salmonela typhimuriumdan

Pseudomonas aeruginosa. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun sirih maka

aktivitas penghambatannya semakin kuat. Ekstrak daun sirih efektif menghambat

bakteri gram positif dan gram negatif dengan diameter penghambatan bervariasi antara

7 mm sampai 24 mm.

13. Belimbing Wuluh

Daun belimbing wuluh mengandung tanin, sulfur, asam format, dan kalium

sitrat (Wijayakusuma, 2006). Tanaman belimbing wuluh, baik pada batang, buah dan

daun, berdasarkan hasil pengujian secara in vitro pada bakteri Escherichia coli (E.

coli), Staphylococcus aureus (S. aureus), Micrococcus luteus (M. luteus) dan

Pseudomonas fluorescens (P. fluorescens) menunjukkan potensi yang aktif sebagai

antibakteri. Senyawa aktif yang diduga yang terdapat pada tanaman belimbing wuluh

yang bersifat sebagai antibakteri antara lain, senyawa-senyawa metabolit skunder

tannin, flavonoid, alkaloid, tannin, terpenoid, saponin.

14. Awar-Awar

Kandungan kimia yang dimiliki awar-war yaitu : Flavonoid; Sterol; Khasiat:

Sudorik; Diuretik; Emetik Nama simplesia: Fici septicae Folium Daun Ficus septica

dapat menghambat pertumbuhan Bacillus subtilis dan Escherichia coli secara in vitro,

hasil pengujian bioautografi dilaporkan bahwa 4 g ekstrak daun awar awar yang larut

dalam Metanol dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Antofin (5 g) berefek sebagai

20
antibakteri (B. subtillis, M flavus dan E. Coli). Tanaman ini dapat mengobati herpes,

sakit kepala dan rematik.

15. Mengkudu

Adapun kandungan zat kimia yang dimiliki tanaman ini yaitu buah buni

tumbuhan mengkudu yang telah masak mempunyai aroma yang tidak sedap, namun

mengandung sejumlah zat yang berkhasiat untuk pengobatan. Adapun kandungan zat

tersebut antara lain morinda diol, morindone, morindin, damnacanthal, metil asetil,

asam kapril, sorandiyiol, Alkalaoid; Antrakuinon dan Alzarin. Tanaman ini dapat

menghambat Streptococcus sangius dan Salmonella. Penyakit yang dapat diobati oleh

tanaman ini yaitu amandel, sariawan, hipertensi, sakit kuning, demam, batuk dan sakit

perut.

16. Tahi Kotok

Zat kimia yang terkandung pada tanaman ini yaitu Bunga mengandung Tagetiin

0,1 %, terthienyl, helenian 0,74 % dan flavoxanthin. Memiliki daya hambat terhadap

bakteri Streptococcus sangius. Dapat mengobati Infeksi saluran nafas bagian atas, radang

mata (Conjunctivitis). Batuk, Bronkhitis, Sariawan, radang tenggorok, sakit gigi dan

kejang pada anak-anak.

17. Bratawali

Kandungan zat kimia yang dimiliki tanaman ini yaitu retine; Alkaloida;

Berberin dan Columbine. Memiliki daya hambat terhadap bakteri Salmonelle. Dapat

mengobati demam, rematik dan gatal-gatal.

18. Cerme

Zat kimia yang terkandung pada tanaman ini yaitu Kaya kandungan kimia antara

lain Daun, batang : Tanin, Saponin, flavonoida & polifenol. Kayunya : Tanin, Saponin,

21
flavonoida, polifenol dan alkaloid. Memiliki daya hambat terhadap bakteri Streptococcus

sangius. Dapat mengobati mual, asma dan sariawan.

19. Pepaya

Kandungan zat kimia yang dimiliki tanaman ini yaitu Alkaloid papaina;

Karpaina; Pseudokarpaina; Glikosida karposid; Saponin; Karisina; Papaina;

Papayatimina; Fitoklimasa; Karatinoid; Pektin; Galaktosa dan Asam galakturonat.

Tanaman ini dapat menghambat bakteri salmonella. Adapun penyakit yang dapat

diobati yaitu demam, mulas, malaria dan nyeri sendi.

20. Srigading

Kandungan zat kimia yang dimiliki tanaman ini yaitu minyak atsiri, Alkaloid

niktantina, Manit, Safron, Asam tanat, Metil salisilat, Resin dan Gula. Bakteri yang dapat

dihambat oleh tanaman ini yaitu Salmonella. Tanaman ini berkhasiat untuk mengobati

demam.

21. Sembung

Kandungan zat kimia yang dimiliki tanaman ini yaitu minyak atsiri (sineol,

borneol, kamfer), Glikosida, Flavanol dan Tanin. Bakteri yang dapat dihambat yaitu

Salmonella. Tanaman ini berkhasiat untuk menurunkan demam.

22. Teratai

Tanaman ini mengandung zat kimia yaitu pada bunga: Quercetin, luteolin,

isoquercitrin dan kaempferol. Benangsari: Quercetin, luteolin, isoquercitrin, galuteolin,

juga terdapat alkaloid. Tanaman ini dapat menghambat jamur yaitu Candida albicans,

dan bakteri Salmonella.

23. Temulawak

Zat kimi yang terkandung dalam tanaman ini yaitu Mengandung minyak atsiri

seperti limonina yang mengharumkan, sedangkan kandungan flavonoida-nya berkhasiat

22
menyembuhkan radang. Minyak atsiri juga bisa membunuh mikroba. Buahnya

mengandung minyak terbang (anetol, pinen, felandren, dipenten, fenchon, metilchavikol,

anisaldehida, asam anisat, kamfen) dan minyak lemak.

24. Tapak Liman

Zat kimia yang terkandung pada tapak liman yaitu Daun: Epifriedelinol, lupeol,

stiqmasterol, triacontan-1-ol, dotria-contan-1-ol, lupeol acetate, deoxyelephantopin dan

isodeoxyelephantop. Memiliki daya hambat terhadap bakteri Salmonella dan E.coli.

Daunnya digunakan sebagai obat demam, batuk, sariawan, mencret menahun, panas,

penyakit cacing dan sebagai perangsang nafsu kelamin. Akarnya bila ditumbuk halus,

bisa dijadikan sebagai obat malaria pada anak-anak. Seluruh tumbuhan digunakan untuk

mengobati epistaxis (hidung berdarah), sakit kuning, infeksi saluran kencing, cacar air,

busung, absces, borok, gigitan ular dan gigitan serangga.

23
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Antimikroba adalah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan

manusia. Antimikroba atau antiinfeksi, termasuk antiparasit, adalah obat yang

digunakan untuk terapi kondisi patologi yang disebabkan oleh karena infeksi

mikroba atau invasi parasit.

2. Sifat antimikrobadiantaranya mampu menghambat atau membunuh mikroba patogen

tanpa merusak hospes/inang, bersifat bakterisida dan bukan bakteriostatik, tidak

menyebabkan resistensi pada kuman atau mikorb, berspektrum luas, serta tidak

menimbulkan alergenik.

3. Senyawa antimikroba yang terkandung dalam tanaman yang biasa digunakan sebagai

antimikroba alami yaitu, minyak atsiri, saponin, flavonoid, tannin, isodorik, laksan,

lestisin, limmean, kalium oksalat dan pektin.

4. Mekanisme kerja zat antimikroba yaitu (1) menghambat metabolisme sel, (2)

menghambat sintesis protein, (3) menghambat sintesis dinding sel, (4) permeabilitas

membrane sel, dan (5) merusak asam nukleat dan protein.

5. Efek samping penggunaan antimikroba yaitu reaksi alergi, reaksi idiosinkrasi, reaksi

toksik dan perubahan biologik dan metabolic

6. Jenis tanaman yang dimanfaatkan sebagai antimikroba diantaranya jahe merah, daun

beluntas, kelapa sawit, kayu manis, lengkuas, kunyit, kumis kucing, bawang putih,

bawang merah, sambiloto, cengkeh, daun sirih, dll.

B. Saran

Adapun saran dari penulis yaitu semoga semakin banyak jenis tumbuhan yang

ditemukan berpotensi untuk dijadikan antimikroba lagi dan terus dilakukan pengkajian

sampai menjadi suatu produk.


24
DAFTAR PUSTAKA

Arisandi, Y. dan Y. Andriani. 2008. Khasiat Tanaman Obat. Jakarta: Pustaka Buku Murah.

Badan POM RI. 2013. ISO Indonesia Volume 48. Jakarta : PT. ISFI Penerbitan
Jakarta.

Cahyadi, Wisnu. 2008. Analisis Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Edisi
kedua. Jakarta: Bumi Aksara.

Dasuki, U. 1991. Siitematika Tumbuhan Tinggi. Pusat Universitas Ilmu Hayati ITB.
Bandung.

Faharani, B.G.R. 2009. Uji Aktivitas Antibakteri Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa
bilimbi L) terhadap Bakteri Staphylococcusaureus dan Escherichia coli secara
Bioautografi.

Gritter, R. J. 1991. Pengantar Kromatografi Edisi Kedua. Terjemahan Kokasih


Padmawinata. Bandung: Penerbit ITB.

Hayati EK, Jannah A dan Fasya AG. 2009. Aktivitas Antibakteri Komponen Tanin
Ekstrak Daun Blimbing Wuluh (Averrhoa Billimbi L) Sebagai Pengawet Alami.
Laporan Penelitian Kuantitatif Depag 2009. Jakarta: Depag.

Pelczar, Michael. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi 2. Jakarta : UI Press.

Priyanto. 2008. Farmakoterapi dan Terminologi Medis. Depok : LESKONFI.

Susrama I. G. K, Irma S dan Suada S. I. K., 2012, Uji Aktivitas Antimikroba Beberapa
Ekstrak Bumbu Dapur terhadap Pertumbuhan Jamur Curvularia lunata
(Wakk.) Boed. dan Aspergillus flavus LINK, Jurnal Agroekoteknologi Tropika,
Vol. 1, No. 2.

Tjay, Tan, dkk. 2010. Obat-Obat Penting. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.

Utami Eka Rahayu., 2011, Antibiotika, Resistensi, Dan Rasionalitas Terapi, Jurnal El-
Hayah, Vol. 1, No. 4.

Yuniastuti. I, Fendi Nugroho dan Pri Iswati Utami., 2011, Evaluasi Penggunaan Antibiotik
Pada Penyakit Pneumonia Di Rumah Sakit Umum Daerah Purbalingga, Jurnal
Pharmacy, Vol.8, No.1.

25