Anda di halaman 1dari 24

BAB III

SISTEM PEROTOTAN DENGAN KELENGKAPANNYA

Sistem perototan pada tubuh tersusun atas jaringan otot (musculus). Musculus
berasal dari kata mus, mys, myos yang arti sebenarnya adalah tikus, dalam istilah
anatomi diartikan sebagai otot, m. = musculus, otot dalam bentuk tunggal; mm. =
musculi, otot dalam bentuk jamak. Jaringan ini mempunyai kekhususan tersendiri, karena
mempunyai kemampuan kontraksi dan mengantar rangsangan atau impuls.
Jaringan otot umumnya berasal dari mesoderm, kecuali beberapa otot tertentu (misalnya:
m. iridis, myo-epithel kelenjar keringat dan kelenjar susu) dibentuk dari ectoderm.
Sel-sel mesenchym yang belum mengalami differensiasi, bila akan membentuk
otot, terlebih dahulu menjadi myoblast (sel bakal otot) yang kelak akan menjadi myocyt
yang mengandung myofibril, yang berperan dalam proses kontraksi otot.
Didalam tubuh, dikenal ada tiga jenis otot yaitu:
1. Otot polos (otot licin, smooth muscle, non striated muscle)
2. Otot jantung ( m. cordis, cardiac muscle)
3. Otot bergaris ( m. striata, otot seran lintang, striated muscle, otot skelet).
Ketiga jenis otot tersebut, dibedakan atas dasar gambaran mikroskopisnya, ciri-
cirinya, lokasi tempatnya maupun proses perkembangannya.
Gambaran mikroskopik ketiga jenis otot dapat dilihat pada gambar 3.1
Dari gambaran mikroskopik tersebut, dengan mudah dapat dikenal bentuk-bentuk yang
khas dari masing-masing jenis otot, baik secara potongan membujur maupun melintang.
Otot polos tersusun atas sel-sel yang berbentuk kumparan tunggal ataupun bercabang
dengan sarcoplasma (protoplasma didalam sel otot; sarx, sarkos=daging, otot;
plasma=apa yang dibentuk) yang homogen dan sedikit, myofibril halus tanpa garis yang
mengesankan polos, serta nucleusnya selalu ditengah sel.
Otot jantung tersusun atas sel-sel yang berbentuk pita bersinambungan serta
bercabang dan saling beranastomose. Banyak sarcoplasma dan mengandung myofibril
yang mengesankan bergaris melintang dan cenderung mengelompok di pinggiran sel,
mempunyai sarcolemma (selubung/membran) sel otot seran lintang yang tipis serta
nucleus terletak di tengah sel. Ditempat-tempat tertentu terdapat garis melintang gelap
tebal, yang satu terhadap yang lain tersusun seperti anak tangga dan disebut sebagai
discus intercalatus (cakram yang disisipkan).
Otot skelet tersusun atas sel-sel berbentuk pita pita memanjang bersinambungan
(gabungan dari banyak sel), sehingga ujung-ujung sel sulit dikenal lagi. Sarcoplasma
penuh dengan myofibril yang berkelompok kelompok dan mengesankan adanya
bayangan garis melintang gelap terang yang bergantian secara padat (akibat perbedaan
sifat yang berbeda dalam meneruskan cahaya oleh actin dan myosin, bahan penyusun
myofibril). Sarcolemma otot skelet, sangat jelas adanya. Nucleus sel sel ini umumnya
terletak di perifer. Potongan-potongan melintang dari ketiga otot itupun mempunyai
kekhasan tersendiri. Otot polos akan memberikan gambaran bulatan bulatan dengan
diameter tidak sama dan hanya pada potongan yang berdiameter lebar ada kemungkinan
tampak penampang nucleus. Otot jantung, memberikan gambaran potongan melintang
yang berbentuk seperti angka “delapan” atau halter.
Otot skelet, mempunyai potongan melintang yang lebih seragam, berupa bulatan
bulatan yang teratur dan dalam sarcoplasmanya, tampak kelompok kelompok potongan
myofibril yang setiap kelompoknya disebut sebagai area Conheim. Ukuran sel sel otot
diatas juga berlainan, sehingga dapat digunakan untuk membantu meng-identifikasinya.
Sel otot polos, rata-rata berukuran lebar 6 micron dan panjang 15-500 micron. Sel otot
jantung rata-rata berukuran lebih kecil dari ukuran sel otot skelet, dan data yang tepat
sulit diperoleh karena perjalanan sel banyak bercabang. Sel otot skelet, mempunyai
ukuran lebar 10-100 micron dan panjang sampai 40.000 – 120.000 micron.
Ciri-ciri umum dari ketiga jenis otot tersebut dapat dijabarkan sebagai tertera
dibawah ini.
otot polos otot skelet otot jantung
bentuk/susunan kumparan saling pita panjang yang pita yang saling
menempel pada sisi ujungnya saling menjalin anyaman
lateralnya, bentuk bersambungan dan karena sel-selnya
kedirian masih jelas berjalan saling sering bercabang
berjajar pada jarak pendek
percabangan jarang tampak jarang tampak sering dan banyak
permukaan sel membentuk sarcolemma tebal sarcolemma tipis
membran plasma dan jelas
yang amat tipis
myofibril tanpa garis garis bergaris melintang bergaris melintang
menyilang (polos) dan berkelompok dan menyebar
dan tersebar rata memenuhi seluruh dengan batas jelas
sel
sarcoplasma sedikit sedikit banyak
discus intercalatus tidak ada tidak ada ada
innervasi jarang dengan meluas, dengan jarang dengan
akhiran saraf yang akhiran saraf khusus akhiran saraf yang
sederhana motoris maupun sederhana
sensibel
vascularisasi sedikit sedang banyak dengan
percabangan yang
agak meluas
gerakan dengan sendirinya, dikendalikan oleh dengan sendirinya
tanpa pengaruh kehendak tanpa pengaruh
kehendak kehendak dan
berirama
Windle 1960, Textbook of histology, Mc Graw Hill Book Company, Inc. New York p.160

LOKASI PENYEBARAN

Ketiga jenis otot tersebut menempati tempat tertentu. Otot polos, terdapat pada
dinding-dinding saluran (pencernaan, pernafasan, pembuluh darah), sistem urogenital,
limpa, lapisan corium kulit. Otot jantung hanya terdapat pada dinding jantung dan
disebut sebagai myocardium, yang merupakan bagian terbesar dari dinding jantung. Otot
skelet, terdapat diseluruh tubuh dan bertaut secara menyeluruh pada skeleton. Dalam
istilah sehari-hari, otot skelet ini dikenal sebagai daging (meat, flesh) yang rata-rata
merupakan 40% dari berat badan. Jumlah otot pada berbagai jenis hewan dapat tidak
sama, misalnya jumlah otot lebih dari 700 otot skelet (pada kuda) [( pada kenyataan
praktikum myologi, yang akan anda hadapi di laboratorium tidak kurang dari 175 nama otot
skelet yang harus dipahami)], 650 (manusia), dan jumlah tersebut bisa lebih banyak atau
sedikit (pada hewan lain). Namun kesemuanya, tidak menyimpang dari pola dasar yang
sama dari perkembangan macam macam otot pada berbagai jenis hewan. Masalah suatu
macam otot lebih berkembang aataupun mengecil (rudimenter) sampai menghilang pada
suatu jenis hewan, dapat saja terjadi sesuai dengan perkembangan phylogenic jenis
hewan tersebut (lihat gambar 4-7, 4-8, 4-9).
Dalam bahasan myologi selanjutnya, otot skelet inilah yang menjadi titik berat
persoalan yang dipelajari.

PROSES PERKEMBANGAN OTOT

Meskipun ketiga jenis otot, mempunyai asal dari lapisan embryonal yang sama
(mesoderm) tetapi proses perkembangannya mempunyai ciri-ciri tersendiri. Hal tersebut
akan ikut menentukan corak dan sifat otot-otot itu dikemudian baik lokasi maupun pen-
sarafannya. Otot polos dibentuk darimesoderm yang disebut splanchmomesoderm,
disekeliling dinding-dinding alat viscera. Sel-sel mesenchym disekitar tempat tersebut
berjajar membentuk deretan myoblast. Sel bakal otot ini berbentuk lonjong dengan
nucleus besar memanjang ditengah-tengah sel, sedang dalam protoplasmanya terbentuk
myofibril, yaitu jalur-jalur benang halus yang sejajar dengan sumber sel. Disamping itu ,
perbanyakan sel-sel otot polos, dilaksanakan pula dari proses mitosis dari myoblast.
Sementara sel-sel tersebut mengalami pendewasaaan menjadi myocyt, berjajar berlapis-
lapis membentuk lembaran-lembaran otot polos, melapisi dinding/ pembuluh alat viscera.
Otot jantung hanya terjadi dan dibentuk pada dinding jantung, berasal dari sel-sel
mesenchym pada splanchnopleure yang merupakan gabungan splanchnomesoderm dan
endoderm. Sudah sejak awal sel-sel bakal otot jantung mengalami penggabungan
(syncytium) satu sama lain, sehingga terbentuk pita-pita otot. Sementara itu nucleus tetap
berada ditengah-tengah sel dan mengalami perbanyakan diri secara mitosis dan kadang-
kadang secara amitosis. Di dalam sitoplasma sebelah perifer,mula-mula timbul myofibril
dan juga mengalami syncytium dengan myofibril dari sel-sel otot yang berdekatan.
Kemudian myofibril memperbanyaak diri dan meluas kebagian tengah sel. Pada
permulaannya, myofibril polos (seperti pada otot polos)baru kemudian timbul garis-garis
melintang padanya, mekipun tidak sepadat seperti garis-garis melintang pada otot skelet.
Discus intercalates, baru timbul paling akhir dari perkembangan sel otot jantung. Otot
skelet meskipun berasal dari mesoderm, perkembangannya melalui pembentukan
segmen-segmen mesoderm terlebih dahulu, yang biasanya disebut somit (scleromyotom).
Dengan demikian sebagian dari somit akan membentuk myotom atau myomer (segmen-
segmen bakal otot). Otot skelet leher, tubuh, anggota gerak, semuanya dikembangkan
dari sel-sel mesenchym pada myotom myotom itu, kecuali otot skelet di kepala dan
sebagian leher berasal dari sel-sel mesenchym pada arche branchiale (segmentasi yang
terjadi di daerah kepala, pada masa permulaan perkembangan embryonal. Arche
branchiale = berasal dari insang, branchiomeri=segmentasi menurut insang). Sel-sel
mesenchym itu akan mengalami differensiasi menjadi myoblast. Bentuk sel mula-mula
seperti kumparan dan mengatur diri sejajar dengan poros tubuh. Pada saat ini, nucleus
masih tetap ditengah sel, dan myofibril mengelilinginya (sejajar dengan sumbu sel) di
daerah perifer sel. Kemudian diikuti dengan munculnya bagian-bagian gelap terang pada
myofibril-myofibril tersebut, sehingga menimbulkan bayangan garis melintang pada sel
itu. Sementara itu nucleus secara mitosis memperbanyak diri, sedangkan cytoplasma juga
tumbuh memanjang, sehingga membentuk sel, seperti pita dengan banyak nucleus.
Pendapat lainnya menyatakan bahwa sel-sel itu mengalami syncytium satu dengan yang
lain, hingga bentuk pita terwujud. Dengan dua cara diatas itulah dapat dijelaskan
terjadinya sel-sel otot skelet, menjadi bentuk-bentuk pita yang sangat panjang dengan
banyak nucleus. Selama masa embryonal, perbanyakan sel hanya terjadi secara
longitudinal, baru pada masa pertumbuhan berikut sel-sel itu tumbuh membesar.
Myofibril yang mula-mula tumbuh di daerah perifer sel, kemudian memperbanyak diri
meluas ketengah-tengah sel dan nucleus terdesak ke perifer. Sel otot skelet yang semula
berbatas cytoplasma tipis, kemudian berdinding jelas dan tebal, sebagai hasil pemadatan
cytopasma(sarcoplasma) di perifer, sehingga terbentuk sarcolemma. Apabila diikuti
perkembangan dan pertumbuhan otot skelet selanjutnya secara myotomal, maka setiap
myomer pada tubuh akan berkembang memisah dalam kelompok-kelompok otot. Yang
memisah kearah dorsal menjadi kelompok otot epimere dan yang kea rah ventral menjadi
kelompok otot hypomere (sebagian terbesar otot skelet berasal dari bgian ini). Sebagai
“garis pemisah” pertumbuhan otot-otot diatas adalah bakal tulang-tulang columna
vertebrales, terutama proc. Transverses. Kelompok otot yang berasal dari epimere
selanjutnya disebut sebaagai otot-otot epiaxial, yang kemudian dikenal sebagai mm
intertransversarii, m. longissimus, m. splenius, m. rhomboidweus dan otot-otot lain yang
sefatnya sebagai extensor punggung.
Kelompok otot-otot yang berasal dari hypomer, selanjutnya menghasilkan otot-
otot hypaxial yang bekerja sebagai flexor punggung, otot-otot dada, otot-otot dinding
perut dan juga otot-otot skelet anggota gerak. Letak jalur jalur sel otot tersebut dalam
perkembangan dan pertumbuhan akan disesuaikan dengan bentuk dan arah otot skelet
yang akan dibentuk. Sementara itu, otot-otot skelet di kepala dan sebagian leher yang
dikembangkan dan ditumbuhkan dari arche branchial,juga terbentuk secara bersegmen-
segmen mulai dari arche branchial primer, secundair, tertiair dst.nya. Sebagai contoh,
arche branchial primer akan membentuk m. mylohyoideus, m. digastricus.yang secundair
membentuk m. stylohyoideus, m. occipitohyoideus dstnya, dapat didalami dalam
embryologi. Secara ontogenik, maka perkembangan dan petumbuhan sistem otot skelet,
selalu serasi dan selaras dengan perkembangan dan pertumbuhan sistem saraf, karena
kedua sistem tersebut membentuk suatu keesaan fungsional, artinya, tiada otot skelet
yang berfungsi tanpa kehadiran dan peranan saraf. Keesaan fungsional ini telah dimulai
sejak awal dari perkembangan kedua sistem itu, yaitu masa embryonal.
Pada setiap otot skelet, pada masa pertengahan pertumbuhan embryonalnya mula-
mula dicapai oleh akhiran saraf sensibel yang kemudian segera disusul oleh akhiran
saraf motoris, dan akhiran saraf otonom, bertaut pada otot yang bersangkutan.
Hubungan ini akan terus abadi sampai individu tersebut lahir dan dewasa. Tentang hal ini
ada dua pendapat. Pendapat CAJAL, sabut saraf tumbuh menuju otot tertentu, karena ada
tenaga penarik yang dating dari otot itu, sedangkan menurut HERINGA, sel-sel
mesenchym yang berada diantara susunan saraf pusat dan otot mengalami diferensiasi,
berubah menjadi sabut saraf yang menghubungi otot tersebut. Oleh karena itu bila karena
perkembangan dan pertumbuhannya, suatu otot skelet menjadi jauh letaknya dari asal
mulanya, maka sabut sarafnya akan terus mengikuti otot yang bersangkutan dengan
memperpanjang diri. Umumnya, otot skelet yang tumbuh secara myotomal mendapat
innervasi dari nervi spinales yang se-segmen dari otot skelet yang tumbuh secara
branchiomerik mendapat innervasi dari nervi craniales yang terdekat, pada masa
embryonalnya. Misalnya otot skelet yang berasal dari archus branchiale-I diinnervasi
nervus trigeminus, otot-otot yang berasal dari archus branchiale-II di innervasi oleh
nervus facialis, otot-otot yang berasal dari archus branchiale-IV dan VI di innervasi oleh
nervus vagus dan accessorius. M. trapezius, yang waktu embryonal tumbuh dari bagian
depan tubuh dan mendapat innervasi dari n. accesssorius yang waktu itu berdekatan
letaknya, maka perkembangan selanjutnya m. trapezius meluas di daerah bahu, sehingga
n. accessorius tumbuh memanjang melintasi leher untuk tetap menginnervasi m. trapezius
yang terdapat dibahu. Diaphragma, yang sewaktu embryo tumbuh dibagian depan rongga
dada dan mendapat innervasi dari nervus phrenicus (bentukan dari nervi cervicales V-
VII) karena terdekat letaknya, maka pada pertumbuhan selanjutnya otot diaphragma
berada di belakang rongga dada sehingga n. phrenicus tadi mengikuti memanjang
kebelakang. Seandainya, innervasi mengikuti prinsip bahwa otot disarafi oleh saraf yang
terdekat padanya, maka otot-otot diaphragma itu sewajarnya mendapat innervasi dari
nervi thoracales, tetapi kenyataannya tidaklah demikian.
Dipandang dari segi pensarafan, maka otot-otot dalam tubuh secara faali dapat
dijadikan dua kelompok besar yaitu:
a. otot sadar (voluntary muscle), otot yang dibawah pengaruh saraf
motoris. Termasuk dalam kelompok ini adalah otot skelet atau otot
striata pada umumnya.
b. Otot diluar sadar (unvoluntary muscle) otot yang dibawah pengaruh
saraf otonom. Termasuk dalam kelompok ini adalah otot polos dan otot
jantung.

STRUKTUR MAKROSKOPIK OTOT SKELET


Sel sel otot skelet yang telah digambarkan sebagai sel sel yang berkepanjangan
itu, dalam melaksanakan fungsinya sebagai penggerak skeleton, akan membentuk
berkas (fasciculus) otot dari berbagai tingkat. Berkas otot yang paling sederhana dan
terkecil tersusun atas beberapa sel otot (yang biasanya disebut sabut otot) yang
dibungkus dan diikat oleh jaringan pengikat longgar, menjadi satu ikatan tetapi masih
memungkinkan sabut-sabut itu melaksanakan kontraksi. Jaringan pengikat ini, disamping
sebagai pengikat dan pembungkus otot, juga sebagai pemberi jalan terhadap pembuluh
darah dan saraf yang menuju dan dari otot-otot tersebut, serta sebagai bahan perantara
perlekatan otot tersebut terhadap tulang ataupun organ lain (Jaringan pengikat dapat
berbentuk sebagai tendo, aponeurosa, ataupun ligamentum) .
Jaringan pengikat yang membungkus langsung setiap otot disebut sebagai
endomysium. Beberapa sabut otot membentuk fasciculus dan dibungkus oleh
perimysium. Gabungan beberapa fasciculus otot, diikat lagi pada tingkat yang lebih
besar oleh epimysium. Sabut-sabut otot yang telah membentuk suatu gumpalan daging
tadi dilapisi jaringan pengikat pula yang disebut fascia. Fascia yang menyelinap dan
memisahkan antar gumpalan otot, disebut sebagai septum intermuscularis (perhatikan gambar
otot skelet pada fig.4-1)
Jaringan pengikat pembungkus sabut sabut otot diatas, mempunyai hubungan atau
terusan langsung dengan jaringan pengikat pembalut tulang (periosteum) sampai pula
kepada berkas-berkas sabut kolagen yang terdapat pada lamelle tulang. Suatu gumpalan
otot skelet yang tersusun atas atas sabut sabut otot, dapat digolong-golongkan berdasar
letak susunan sabut sabut tersebut terhadap jalur jaringan pengikat yang menjadi
“kerangka” otot tersebut. Jalan sabut-sabut otot tersebut dapat sejajar, miring, tegak lurus
terhadap sumber gumpalan ototnya, seperti yang dilukiskan pada fig 4-2, sehingga
memberi kesan menyerupai lukisan bulu atau sirip (= pennatus). Berdasar jalannya
sabut-sabut otot membentuk lukisan sirip itu maka otot digolong golongkan menjadi :
- m. unipennatus
- m. bipennatus
- m. multipennatus.

Dari bentuk kumparan (fusiform) suatu gumpalan otot, maka bagian tengah otot yang
menggemuk itu disebut sebagai perut otot (venter) dan kedua ujung otot tadi meruncing
atau lebih mengecil, yang biasanya berupa tendo sebagai alat-alat perlekaatannya
terhadap tulang atau organ lain. Lanjutan tendo ini dapat menyusup dan bercabang
kedalam gumpalan otot, bertindak sebagai “kerangka” otot dan sekaligus sebagai tempat
berpangkal atau bertaut sabut-sabut otot yang membentuk sirip otot tadi, yang sekaligus
sebagai pangkalan berkontraksi. Kedudukan cabang atau kerangka tendo didalam suatu
gumpalan otot terhadap jalannya sirip sabut otot, penting artinya dalam hal menentukan
sifat kerja dan kekuatan kerja otot itu. Kita kenal dua jenis penampang (sayatan) otot,
yaitu secara anatomis dan fisiologis.
Sayatan anatomis, adalah sayatan yang tegak lurus terhadap sumbu otot dan
merupakan bidang penampang terbesar dari otot itu (menunjukkan besarnya venter otot).
Sayatan fisiologis, adalah sayatan bidang otot yang dibuat tegak lurus terhadap masing-
masing sirip otot di daerah venternya. Umumnya bidang sayatan fisiologis lebih luas dari
sayatan anatomis, kecuali pada m. unipennatus kedua bidang sayatan itu sama luasnya.
Bidang sayatan fisiologis menentukan kekuatan otot. Makin luas bidang fisiologisnya,
makin besar kekuatan otot tersebut.
Disamping itu, suatu otot dikatakan mempunyai kemungkinan ekskursi, yaitu
kemungkinan menjadi pendek yang dinyatakan dalam persentase terhadap panjang
aslinya, pada saat otot tersebut melaksanakan kontraksi maksimal. Sehingga otot-otot
yang panjang akan lebih besar kemungkinan ekskursinya, atau sebaliknya, dan otot-otot
yang banyak sirip ototnya mempunyai kemungkinan ekskursi lebih kecil (mengapa
demikian, coba anda terangkan).
Berdasarkan adanya sayatan sayatan diatas dan banyaknya cabang tendo
(jaringan pengikat) yang menyelinap kedalam otot, maka otot digolong golongkan lagi
sebagai : otot gerak dan otot penahan. Kedua macam otot itu memiliki ciri-ciri tersendiri,
sebagai tertera dalam daftar dibawah ini.

sifat otot gerak otot penahan


1. kemungkinan ekskursi besar kecil
2. sabut jaringan pengikat dalam otot sedikit banyak
3. sirip otot sedikit banyak
4. venter otot panjang pendek-pendek
5.lintasan terhadap jumlah persendian tubuh banyak sedikit
6.kekuatan kontraksi lemah kuat
7. sifat kontraksi tetanis tonis
8. ketahanan otot lekas lelah tahan lama
9. warna otot berdasar sarcoplasmanya pucat (merah muda) gelap (merah tua)
contoh m.gastrocnemius m. bicepsbrachii,
tricepsbrachii, extensor carpi
digastricus, levator radialis, extensor
labii maxillaris *) digitorum
nama lama: m. communis, nama
levator labii lama: m extensor
superioris propius digitalis communis
Dengan demikian secara sederhana dapat dianggap bahwa otot gerak umumnya
dari jenis unipennatus, sedangkan otot penahan dari jenis multipennatus. Namun perlu
diingat, bahwa pembagian-pembagian jenis otot atau ciri-ciri otot, dalam kenyataannya
tidak sekontras sebagai digambarkan secara teoritik diatas. Ketidak mutlakan pembagian
otot, dapat pula disebabkan oleh faktor jenis-jenis hewan karena kebiasaan tingkah
lakunya (behaviour). Sebagai penjelasan dapat diambil contoh dua otot, yaitu m. masseter
dan m. temporalis, yang ciri-cirinya dapat berubah-ubah disesuaikan dengan behaviour
hewan.
Pada ruminasia (pemamah biak), m. masseter tumbuh jauh lebih subur dan
bekerja tahan lama, berserat jaringan pengikat lebih banyak, sebaliknya m. temporalis
tidak demikian.Karena m. masseter berperan dalam mengunyah berkali-kali dan lama.
Pada carnivora (anjing, harimau), m.temporalis jauh lebih subur dan tenaga kuat
serta cepat kerjanya dibandingkan dengan m.masseter, karena m. temporalis diperlukan
untuk menangkap mangsa secara cepat dan langsung ditelan. Dua otot yang sama, tetapi
mempunyai sifat yang berlainan itu, mengakibatkan pertumbuhan osteologik dari tulang
yang ditautinya menjadi berlainan juga. Pada anjing, crista sagittalis externa, proc.
Coronoideus pada craniumnya tumbuh ssubur. Sebaliknya pada kuda, sapi crista facialis,
dan fascia masseterica dari tulang-tulang cranium yang tumbuh subur atau meluas begitu
juga m. tricepsbrachii (kuda dan manusia, fig, 4-9). Pada kuda otot tersebut tumbuh subur
dan meluas karena berfungsi pula sebagai salah satu otot penahan berdiri kaki depan,
disamping sebagai otot penggerak.
Pada manusia otot yang sama tumbuhnya kurang subur karena semata-mata,
bertugas sebagai otot gerak dari tangan (=kaki muka). Akibat lebih jauh dari kelainan
sifat atau fungsi otot sehubungan sifat-safat hewannya itu, dapat mengubah jenis otot
yang bersangkutan lebih ekstrim lagi, misalnya otot berubah seluruhnya atau sebagian
menjadi tendo atau ligamenta, kalau sifat otot penahannya yang diutamakan (contoh: m.
flexor digitorum superficialis, pada kuda). Sebaliknya, suatu otot dapat kerdil
(rudimenter) atau bahkan hilang sama sekali atau tinggal bekasnya, bila fungsi tidak
perlukan, karena sifat/ behaviour hewannya (fig. 4-8).
Bentuk dan besar otot juga dipengaruhi oleh letak sehubungan dengan fungsinya.
Otot-otot yang terletak pada bagian anggota gerak yang bebas (kaki depan dan belakang)
mempunyai bentuk panjang, lonjong dan langsing. Otot semacam ini, bagian tengahnya
disebut venter dan ujung-ujungnya dianggap sebagai caput dan caudanya. Otot-otot pada
dinding tubuh (badan), umumnya berbentuk pipih, lebar lebar. Otot-otot sekitar panggul,
paha, bentuknya besar, massif dan kuat. Untuk berfungsi, otot-otot tersebut mempunyai
tempat-tempat pertautan, baik terhadap tulang maupun alat-alat lainnya. Ditinjau dari
letak atau fungsi, tempat pertautan otot ada dua macam yaitu:
- origo, tempat pertautan otot yang lebih mendekati median tubuh (bisa juga
dianggap bagian proximal dari otot tersebut atau tempat pertautan otot yang
dianggap sebagai titik tetap (titik stationer = punctum fixum) pada suatu gerakan.
- insertio, tempat pertautan otot yang lebih menjauhi bidang median tubuh (bisa
juga dianggap bagian distal dari otot tersebut atau tempat pertautan otot yang ikut
pindah pada suatu gerakan (titik gerak = punctum mobile).
(pada saat praktikum myologi, lokasi origo/insertio suatu otot, benar-benar harus
dipahami).
Meskipun origo dan insertio dari suatu otot adalah tetap tempatnya, namun
sebutannya dapat dipertukar balikkan, karena perubahan arah gerak yang dikehendaki.
Demikian pula pada otot-otot yang serupa (homolog) pada berbagai jenis hewan, maka
origo/insertionya dapat tidak sama lokasi pertautannya, akibat perkembangan phylogenik
hewan hewan tersebut. Sehingga pertautannya (bahkan juga pertumbuhan otot tersebut)
disesuaikan dengan perubahan perubahan evolusioner yang dialami oleh hewan-hewan
itu. Perhatikan fig.4-7, yang melukiskan kelompok otot-otot yang menghubungkan dada
dan kepala pada kuda, sapi, babi, anjing dan manusia.
Dari ketetapan origo dan insertio suatu otot, serta arah gerak bagian-bagian
kerangka satu terhadap yang lain, akibat kontraksi otot yang bertaut padanya, maka otot
mendapat sebutan atas dasar kerjanya itu, sebagai:
- extensor = penegang, pembesar sudut persendian
- flexor = pembengkok, pengecil sudut persendian
- adductor = penarik ketengah (kedalam) mendekati bidang median tubuh
- abductor = penarik kesisi (keluar) menjauhi bidang median tubuh
- rotator = pemutar
- pronator = pemutar kedepan –dalam
- supinator = pemutar kebelakang – luar
- levator = pengangkat
- depressor = penarik kebawah
- tensor = peregang
- dilatator = pembuka, peluas, pelebar
- constrictor = penyempit
- sphinctor = lingkar, penutup
Akibat kerja otot-otot tersebut, maka gerakan gerakan yang ditimbulkan mendapat
sebutan sebagai gerak: extensio, flexio, adductio, abductio, rotatio.
Pada kenyataan gerak gerak pada tubuh akibat kontraksi otot, adalah bukan dari akibat
kerja satu otot sendirian saja, melainkan adalah hasil kerjasama beberapa otot berupa
resultante dari beberapa gaya dari kerja otot-otot tadi.
Oleh karenanya pada tubuh dalam hal pengaturan kerja otot, selalu terdapat
koordinasi pekerjaan otot, sehingga menghasilkan gerak gerak tubuh yang serasi sesuai
dengan kebutuhan. Untuk itu dikenal sifat kerjasama otot, sebagai:
- synergist = otot-otot yang bekerjasama serupa.
- antagonist = otot-otot yang bekerjanya saling berlawanan.
Sehingga antara otot-otot yang synergist dengan yang antagonist diperlukan
keseimbangan kerja, untuk mencapai keharmonisan dan tercegah gerak-gerak kejutan
yang tidak dikehendaki.
Ditinjau dari pangkal dan fungsi otot, suatu kumpulan otot dapat dikatakan:
- analog, bila otot-otot tersebut pekerjaannya sama, pangkalnya berlain lainan.
- homolog, bila otot-otot tersebut pangkalnya sama, tetapi pekerjaannya berlain-
lainan.
Sebagai contoh suatu gerak tubuh adalah hasil kerjasama banyak otot, maka dari hasil
penelitian membuktikan bahwa gerak batuk, tidak kurang dari 500 (limaratus) otot turut
serta berperan. Bila hanya satu dua otot saja karena sesuatu hal berhalangan berperan,
masih belum mengganggu keserasian gerak. Bekerjanya suatu otot dikendalikan oleh
sistem saraf seperti yang telah diuraikan dibagian depan makalah ini (ingat keesaan
fungsional antar otot dan saraf). Disamping itu untuk bekerjanya otot, diperlukan
persiapan- persiapan guna mencapai efficiency gerak dan menghindari regangan-
regangan yang merugikan otot sendiri, maka diperlukan tonus otot (tonus, tonos=
tegangan). Tonus otot, berarti tegangan otot akibat dari kontraksi ringan yang terus
menerus tanpa menimbulkan kelelahan dan dikendalikan oleh sistem saraf otonom.
Akibat dari tonus otot ini, maka pada kenyataannya panjang otot pada hewan hidup yang
sehat, sebenarnya sedikait lebih pendek dari panjang aslinya. Kegunaan tonus otot,
disamping otot mencapai keseimbangan ikatan terhadap kerangka dan bagian tubuh yang
lain, sehingga tercapai sikap tubuh yang tegar dan expressi yang segar tanpa memerlukan
kerja otot yang “terpikirkan” juga bermaksud sebagai kesiapan otot untuk bergerak
sewaktu-waktu dengan cepat tanpa dibutuhkan energi berlebih untuk menegangkan otot
terlebih dahulu. (Perhatikan contoh seutas tali yang kendor, bila akan digunakan untuk
menarik suatu beban, maka diperlukan waktu dan tenaga untuk menegangkan tali tersebut
terlebih dahulu sebelum tarikan (=tenaga) pada tali tadi berakibat pula menarik beban).

Keadaan tonus otot sangat dipengaruhi oleh proses metabolisme tubuh dan kesehatan
tubuh. Kekurangan gizi maupun keadaan sakit menurunkan tonus otot. Demikian pula
keadaan di-narkose (bius).Guna kesempurnaan kerja otot, dibutuhkan kelengkapan-
kelengkapan, sebagai berikut :
- 1. tendo (urat, berbentuk tali), aponeurosa (tendo yang berbentuk lembaran
lebar), ligamentum (ligamenta=tali), yang kesemuanya merupakan jaringan
pengikat padat kolagen yang berguna untuk membantu otot mencapai atau
melekat pada tempat pertautannya.
- 2. fascia, lembaran jaringan pengikat tipis, yang berguna untuk membungkus atau
menahan gumpalan gumpalan otot agar tidak bercerai berai pada waktu berfungsi.
- 3. bursa synovialis (=kantong lendir, berfungsi sebagai bantalan otot pada waktu
melintasi bungkul-bungkul tulang (fig. 4-5)
- 4. vagina synovialis tendinis (selubung tendo), berfungsi sebagai pelindung
tendo waktu melintasi sendi atau bungkul tulang (fig 4-6)
- 5. retinacula (anular ligament), pita pita pengikat otot atau tendo waktu melintasi
sendi agar tidak bercerai berai.

PRINSIP KERJA OTOT


Otot otot yang mampu berkontraksi itu, bekerja untuk menimbulkan suatu gerak
kerangka, menggunakan prinsip umum yang bersifat efisien dan efektif, yaitu berusaha
menimbulkan gerak atau menanggung beban sebesar besarnya, tetapi menggunakan
energi atau kekuatan yang sekeccil kecilnya. Prinsip itu bisa dicapai, bila menggunakan
cara kerja alat pengumpil, yaitu dengan rumusan: beban x panjang batang beban = tenaga
x panjang batang tenaga.Tenaga disini adalah otot, sedangkan beban adalah gerak.
Sehingga untuk menggunakan energi otot sekecil-kecilnya maka bentuk otot diusahakan
sepanjang panjangnya. Namun dalam kenyataan hidup, banyak faktor faktor pembatas
seperti keserasian bentuk tubuh, ruang yang tersedia untuk menempatkan otot itu,
keluwesan atau kemudahan gerak.. Meskipun prinsip penghematan energi dengan
perolehan hasil kerja maksimal tetap diusahakan, tetapi keharmonisan, besar serta bentuk
otot pada setiap jenis hewaan tetap pula dijaga serasi dengan sikap atau sifat sifat hewan
itu.

REGENERASI OTOT
Otot otot hanya ditimbulkan pada masa fetus. Sesudah masa kelahiran tidak
dibentuk lagi jenis otot otot baru. Pada masa sesudah kelahiran ini, yang terjadi hanyalah
pertumbuhan otot yang sudah ada dengan jalan meluaskan sabut-sabut otot dan
penambahan besar otot dengan melaksanakan kerja atau latihan otot. Kerusakan otot yang
terjadi kemudian, dapat diperbaiki dengan jalan menggantikan jaringan otot yang rusak
itu dengan jaringan pengikat. demikian pula, berat otot (gumpalan daging) dapat
diperbesar dengan menumbuhkan jaringan lemak di sela sela saabut sabut otot (ingat,
proses sapi “kereman”). Bila suatu saraf motoris untuk suatu otot rusak, akan
mengakibatkan atrophi pada otot tersebut dan bila tidak terjadi regenerasi saraf dengan
cepat, maka otot tersebut jadi jaringan pengikat. Otot-otot yang aktif akan ditandai
dengan banyaknya pembuluh darah yang mensuplainya, sebaliknya otot yang atrophi
akan berwarna pucat. Sistem innervasi pada otot, dilaksanakan terhadap setiap otot
dengan cara mencapai masing-masing sabut otot sampai letak bagian dalam(fig.4-3).
Suatu otot dapat mendapatkan saraf dari satu segmen atau beberapa segmen dari sistem
saraf, tergantung dari besarnya otot. Otot-otot yang antagonis biasanya mendapat
innervasi dari berbagai saraf yang berbeda, meskipun dapat saja saraf-saraf yang berbeda
itu berasal dari segmen yang sama. Akhiran saraf motoris (motor and plate), umumnya
terletak pasa sabut-sabut otot diwilayah venter otot. Akhiran saraf sensibel (muscle
spindle) kebanyakan terletak di dekat daerah tendo(fig.4-3). (Ingat gerak reflek kaki pada
pukulan terhadap tendo di lutut). Dalam pengenalan deskripsi (=gambaran) suatu otot,
digunakan suatu sistematika pembahasan atau penyebutan:
- nama
- bentuk dan letak
- origo dan insertio
- sifat gerakan
- struktur
- hubungan dengan otot/alat sekitarnya
- vascularisasi dan innervasi.
NAMA suatu otot biasanya mengandung suatu ungkapan perihal struktur, fungsi, gerak,
pertautan, bentuk, letak maupun arah sabut-sabutnya, ataupun kombinasi dari ungkapan
itu. contoh: m. biceps, triceps, quadriceps,
m. flexor carpi radialis, m. sphincter ani
m. pronator quadratus
m. brachiocephalicus, m. sternomandibularis
m. digastricus, m. orbicularis oris
m. o bliquus abdominis externus, dllnya (perhatikan arti kata-kata dari
nama otot tersebut dan coba pelajari ungkapan apa yang terkandung di dalamnya).

BENTUK DAN LETAK, suatu otot dijelaskan sebagai bentuk segitiga, segi empat, kipas,
kumparan dsbnya. Letaknyaditerangkan yang menyangkut region (daerah) otot yang
bersangkutan. Juga sifat-sifat seperti panjang, lebar, pendek dibahas dalam hal ini.

ORIGO DAN INSERTIO, tempat perlekatan otot ini umumnya pada bagian-bagian
tulang. Tetapi juga dimungkinkan melekat pada cartilago, ligament, fascia sampai pada
kulit. Struktur perlekatannya diperhatikan pula (tendo, aponeurosa, ligamenta).
Pengetahuan tentang origo/sertio suatu otot, memudahkan kita memahami fungsinya.

SIFAT GERAKAN otot, lebih mengingatkan pada faali otot tersebut. Dalam hal ini dapat
menggolongkan otot yang termasuk synergist atau antagonist dengan otot apa saja yang
berdekatan dengannya.

STRUKTUR OTOT, biasanya dibahas agak mendalam, karena dengan memahami


strukturnya dapat menbantu mengidentifikasi otot termaksud. Dibahas jumlah caput,
bentuk venter, susunan dan arah sabut otot, lapisan-lapisannya dan sebagainya. Juga
kelengkapan-kelengkapan otot, termasuk dibahas dibagian ini (bursa, banyak jaringan
pengikat pada otot, banyaknya bagian yang berdaging dan sebagainya).

HUBUNGAN DENGAN OTOT/ALAT LAIN disekitarnya. Pembahasan disini lebih


bersifat topografis dengan otot/alat-alat tetangga yang berbatasan dengan otot yang
bersangkutan.

VASCULARISASI dan INNERVASI, pembahasan disini lebih mempunyai kemanfaatan


praktis, baik secara faali maupun secara klinis.
(Sebagai latihan anda memahami suatu otot, coba dibahas secara lengkap 5 samapai 10 otot,
mengikuti sistematika pembahasan seperti di atas).
BAB. IV
BIOMEKANIKA DARI TUBUH HEWAN MAMMALIA

Hewan sebagai benda hidup yang berstruktur dan mampu bergerak, maka seperti
halnya benda-benda lain dalam alam ini, tunduk pada hukum alam, yang bersifat
matematis, yang lazimnya dibahas dalam bidang biomekanika. Biomekanika adalah
mekanika( ilmu gaya, ilmu pesawat ) yang membahas benda-benda hidup. Biomekanika
ini terdiri dari biostatika dan biodinamika.

Biostatika, membahas gaya-gaya untuk mencapai keseimbangan konstruksi tubuh hewan


dalam keadaan diam (istirahat) maupun bergarak. Biodinamika, membahas timbulnya
gerak, cara bergerak dari hewan. Juga dapat dikatakan sebagai ilmu gerak khusus pada
hewan.Biodinamika ini dibedakan atas biokinematika dan biokinetika.Yang dimaksud
biokinematika, adalah pembahasan analisa gerak tanpa memperhitungkan kekuatan gaya
penyebab pergerakan itu. Misalnya analisa cinematografik atas langkah seekor kuda
yang sedang lari. Yang dimaksud sebagai biokinetika, adalah bahasan yang mempelajari
perubahan gerak karena ketidakseimbangan sistem gaya yang bekerja ataupun mengukur
gaya yang dibutuhkan untuk menimbulkan perubahan gerak (misalnya berjalan).
Misalnya, menganalisa kekuatan gaya yang bekerja pada kaki seekor hewan yang sedang
berjalan ataupun berlari. Mengingat luasnya bahan yang dapat dibahas dalam
biomekanika dari tubuh hewan, maka dalam makalah ini hanya akan dikemukakan
sebagian kecil contoh-contoh, sekedar untuk pemahaman bidang biomekanika yang
berkaitan dengan kepentingan-kepentingan praktis (klinis, pacuan, pameran ternak dan
sebagainya). Perhitungan perhitungan gaya tarik, gaya tekan, mekanika sistem hubungan
tulang dengan otot, biomekanika dalam struktur mikroskopik yang terjadi pada tulang,
otot atau cartilago, hubungan antara morfogeni dan biomekanika yang mendetail dan
komplek tidak dibahas dalam makalah ini. Disini hanya akan dipermasalahkan beberapa
garis besar biomekanika pada tubuh, seperti konstruksi tubuh, penentuan titik berat,
lokomosi dan tenaga pendorongnya, sekedar untuk memberi pengertian tentang
biomekanika.

BIOSTATIKA TUBUH HEWAN MAMMALIA.


Konstruksi tubuh adalah hasil susunan/ rangkaian tulang-tulang, cartilago-
cartilago, jaringan-jaringan pengikat dan otot-otot, yang disesuaikan dengan kebutuhan
fisik dan habitat hewan itu. Bagaimana konstruksi itu dicapai sehingga sesuai dengan
kebutuhan, banyak teori-teori yang dikemukakan, seperti teori yang menyamakan
konstruksi tubuh dengan konstruksi teknis jembatan atau suatu mesin/pesawat. Tetapi
dalam kenyataannya, tidak selalu cocok bahwa konstruksi tubuh mirip dengan konstruksi
jembatan (Slijper 1946 dan Kummer, 1959). Guna kemudahan penjelasan-penjelasan
selanjutnya, maka yang dimaksud dengan konstruksi tubuh hewan mammalia disini
adalah vertebrata daratan yang berkaki empat dan sementara tidak`mengambil contoh
mammalia air ataupun mammalia yang berdiri diatas dua kaki. Karena, meskipun pada
dasarnya hukum biomekanika berlaku bagi semua hewan, pada dua kelompok mammalia
yang disebut terakhir memerlukan koreksi tersendiri. Konstruksi tubuh tersusun atas
sumbu tubuh yang harus mampu menahan berat tubuh akibat gravitasi dan sekaligus
mampu meneruskan daya dorong anggota gerak belakang waktu bergerak (berjalan).
Oleh karena itu konstruksi tubuh merupakan hasil kompromi dari dua keperluan
utama diatas, tanpa mengorbankan bentuk dan susunan. Dipandang dari segi statika,
tubuh untuk dapat stabil berdiri harus memenuhi sarat sarat:
1. mempunyai bidang geser pada bumi yang cukup terutama lewat bidang penunjang
yang dibentuk oleh kaki-kaki.
2. titik berat tubuh, proyeksinya harus jatuh di dalam bidang penunjang.
Karenanya, tubuh adalah suatu konstruksi yang harus bersifat statis tetapi sekaligus juga
dinamis, maka sementara teori yang sampai saat ini mendekati kebenaran seperti keadaan
tubuh hewan hidup yang sesungguhnya, adalah diterangkan dengan teori busur dengan
tali busurnya ( bow and string theory). dalam hal ini konstruksi tubuh dianggap sebagai
susunan atas busur (susunan columna vertebrales yang kaku dengan sisipan discus
intervertebrales,memungkinkan membentuk “busur” dengan berbagai variasi
lengkungan) dan tali busur (yang tersusun dari beberapa utas otot, ligamenta antar
vertebrae, yang menjaga kestabilan langsung busur tersebut dengan mengatur
tegangannya). Perhatikan sketsa pada fig 5-28, fig. 5-29. Tali busur ini terdiri dari tali
dorsal dan ventral. Tali dorsal adalah otot-oto epaxial yang meliputi sisi dorsal dan
dorsolateral dari busur serta cenderung berusaha meregangkan busur itu. Tali ventral
terdiri dari dua tingkatan yaitu:
1. tali yang terputus-putus, terletak mendekap disisi ventral busur tersusun atas
kelompok otot longus colli dan longus capitis di regio leher dan thorax bagian
cranial serta kelompok otot psoas di regio thorax bagian caudal, lumbal dan
sacral.
2. tali yang bersinambungan, tersusun atas kelompok otot-otot perut (mm oblique,
transverse et recti abdominis) yang bertaut secara tidak langsung pada busur lewat
tulang-tulang dada disebelah cranial dan tulang-tulang pinggul disebelah caudal.
Tali busur ventral yang terputus-putus itu bekerja melengkungkan busur di dua regio
(wilayah) cervico-thoracal dan thoraco-lumbo-sacral, bekerja bertentangan dengan tali
dorsal, sehingga tercapai kestabilan lengkung busur. Tali busur ventral yang
bersinambungan terutama bekerja melengkungkan busur di regio thoraco-lumbal. Hal
terakhir ini jelas tampak pada keadaan membungkuknya punggung kucing, pada sikap
duduknya atau pada sikap extensio dan flexio yang bergantian di daerah punggung ketika
seekor hewan melakukan loncatan loncatan gallop (loncatan congklang = leaping gallop),
seperti pada gambar 71 dan 73 khusus pada anjing.
Teori busur dengan tali busurnya jelas terlihat pada hewan hewan yang sudah
mati, lengkung busur pada punggung baru dapat diregangkan/diluruskan bila otot-otot
perut sesudah dipotong. Kelemahan teori busur dengan tali busurnya ini terletak pada
pemindahan tegangan ke columna vertebrales dari tulang tulang dada adalah kurang
memuaskan, karena terbentuknya hubungan secara sendi bergerak antar tulang tulang
vertebrae, costae dan sternum. Kekurang serasian ini agak berkurang karena costae
pertama yang pendek itu dihubungkan dengan vertebrae thoracales dengan bentuk sendi
yang ketat (kurang dapat bergerak) serta ikatan teguh antar tulang tulang iga di depan
dengan vertebrae cervicales oleh m. scalenus. Guna memenuhi kebutuhan penempatan
organ organ penting di rongga dada dan gerak respirasi di dada tersebut, maka susunan
konstruksi yang bersifat kompromi diatas, tidak terelakkan lagi.
Namun keuntungan-keuntungan mekanis masih lebih banyak diperoleh pada
pengetrapan sistem busur dengan tali busurnya terhadap konstruksi tubuh itu. Karena
dengan penerapan sistem itu, tubuh memperoleh keseimbangan statis dengan
sendirinya, tanpa memerlukan regangan cranio-caudal pada titik-titik tunjangnya, disini
anggota gerak depan dan belakang menopang tubuh. (bandingkan dengan konstruksi
kemah yang memerlukan regangan/tarikan dari arah tiang tiang penopang kemah
tersebut). Disamping itu konstruksi tubuh dengan sistem busur dengan tali busurnya itu
mempunyai daya penyesuaian yang tinggi terhadap berbagai ragam muatan yang
menimpa padanya. Perhatikan pada punggung kuda yang ditunggangi tidak akan
mengalami legokan kebawah bahkan sebaliknya agak melengkung ke dorsal, akibat
peningkatan tegangan dari tali busur sebelah ventral. Pada sistem itu, memungkinkan
pula hanya karena kontraksi sedikit saja dari mm. intrinsic (otot-otot yang origo
insertionya langsung hanya pada daerah atau organ yang diliputi otot itu sendiri) dari
columna vertebrales (sebagai bagian dari busur) sudah cukup menimbulkan gerak flexio
ataupun extensio dari busur tubuh.
Kekuatan otot-otot yang bekerja pada columna vertebrales, akan mengakibatkan
berbagai ragam penggeliatan, antara lain:
1. flexio dan extensio punggung, karena kontraksi otot yang mengikat ruas tulang
secara membujur.
2. lengkung latero dextra ataupun latero sinistra, akibat kontraksi otot-otot ruas
tulang itu secara transversal.
3. torsio (terputar)
4. gerak mematah kearah vertical
5. gerak mematah kearah samping (transversal)
6. gerak mengkerut sepanjang poros tubuh
Hal-hal di atas dibatasi dan dikendalikan oleh ligamenta antar ruas tulang serta aktifnya
otot otot intrinsic dan extrinsic (otot-otot yang pertautannya meluas keluar ke organ/ ke
daerah lain dari asal pertautannya yang satu lagi di organ semula). Pembatasan dan
pengendalian oleh otot otot, sehingga terjadi keseimbangan statis pada sistem busur itu,
dapat diterangkan dengan contoh seperti fig. 5-30, yang melukiskan keseimbangan pada
sendi intervertebralis “L”. Menurut hukum momentum, maka gaya yang bekerja pada
“L”adalah W x a yang diimbangi oleh F2 x b, yang mana W adalah berat badan, F2
adalah tegangan otot otot perut. Apabila kaki belakang mengusahakan daya dorong ke
depan secara horizontal pada sendi paha (F1) akibat kerja otot retractor kaki belakang
misalnya, (retractor= penarik kedepan, protractor= penarik kebelakang), maka sekarang gaya
yang bekerja pada “L” adalah W x a yang diimbangi oleh (F2 x b) + (F1 x c). Ini berarti
bahwa dengan kontraksi otot retractor kaki belakang, dapat membantu mengurangi
tegangan otot perut dalam menghadapi gaya pada “L” akibat berat badan hewan (gaya
gravitasi). Sebalikya yang terjadi adalah penambahan tegangan pada otot oto perut,
apabila kaki kaki pada tubuh itu direntangkan, yaitu bilamana otot protractor kaki
belakang dan otot retractor kaki depan sama-sama bekerja. (fig 5-31). Dengan demikian
tegangan otot otot perut itu harus mengimbangi sejumlah momentum sebesar (W x a) +
(F1 x 6) + (F2 x c) agar titik “L” tetap stabil. Sementara itu sudut / derajat rentangan kaki,
sebagian ditentukan oleh besarnya gaya geseran antara kaki dan tanah, maka harus
dikaitkan pula reaksi kaki dan tegangan yang dibebankan terhadap otot-otot punggung,
atau dengan kata lain ada hubungan antara gaya geseran kaki terhadap tanah dengan
keseimbangan sendi intervertebralis di pinggang, seperti terlukis pada fig.5-32.( s= gaya
geseran kaki terhadap tanah; N= gaya bidang tanah pada kaki = reaksi normal; R= resultante
antara gaya S dan N; W=berat kaki belakang yang bersangkutan; R tot = resultante antara R dan
W). Dari lukisan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa makin besar gaya geseran kaki
terhadap tanah akan diimbangi dengan usaha membungkukkan (flexio) punggung atau
sebaliknya makin kecil gaya gesekan kaki itu akan diimbangi usaha menegangkan
punggung.
Bila kita perhatikan pada ujung cranial sistem busur tali busur tubuh ini, maka
pada tempat tersebut “ditempelkan” suatu beban yang terdiri dari leher dan kepala.
Ternyata leher dan kepala inipun mengikuti susunan sistem busur dengan tali busurnya
tetapi dalam keadaan terbalik. Bila dibandingkan dengan sistem yang sama pada tubuh
(fig.5-29). Pada leher dan kepala, yang dianggap sebagai setaraf dengan busur adalah
vertebrae cervicales, ligamentanya serta otot-otot hypaxial-nya, sedang yang setaraf
dengan tali busurnya adalah otot-otot epaxial-nya yang ditopang dengan adanya
ligamentum nuchae (tali tengkuk). Ligamenta ini tersusun atas sabut-sabut elastis yang
padat, sehingga mempunyai daya pegas yang tinggi. Tidak semua hewan mempunyai
dan memerlukan lig.nuchae. Pada hewan kecil, adanya tegangan otot-otot epaxial saja
sudah cukup untuk bekerja sebagai tali busur, mempertahankan kedudukan leher dan
kepala terhadap tubuh. Sedangkan pada hewan berkuku dan anjing, memerlukan adanya
lig.nuchae yang kokoh. Hal ini terjadi sehubungan dengan panjangnya leher, besarnya
kepala, perkembangan ligamenta itu sendiri dan besarnya tubuh hewan yang
bersangkutan, memerlukan kehadiran lig.nuchae untuk mengimbangi kekuatan yang
diperlukan, untuk mengangkat leher dan kepala yang makin meningkat pula. Bila
bertambahnya besar tubuh dilambangkan dengan X, maka secara matematis, ternyata
tegangan otot meningkat sebagai X2 tetapi berat tubuh meningkat dengan pangkat tiga,
yaitu X3.
Dengan demikian, bila hitungan tersebut diterapkan pada momentum yang
bekerja pada sendi intervertebrae antara vert. cervicales VII dan vert. thoracales I
(dianggap sebagai titik tumpu pertautan kepala leher terhadap tubuh) adalah berat kepala
kali jarak tegaklurus antara vector dari berat tersebut, akan menghasilkan besaran pangkat
empat (X4). Dan ini harus diimbangi dengan momentum gaya tegangan otot epaxial yang
hanya mampu dengan besaran berpangkat dua (X2). Oleh karena itu otot epaxial diatas
perlu dibantu dengan adanya lig. nuchae untuk mencapai kestabilan sistem busur tali
busur pada kepala leher ini, yang dipertautkan pada tubuh.

MEKANISME HUBUNGAN DADA DAN BAHU

Berkenaan dengan fungsi ganda dada sebagai penyelenggara gerak pernapasan


dan pelindung organ paru dan jantung, tempat pertautan cranial tali busur ventral yang
bersinambungan dalam sistem busur tali busur tubuh, dan daerah pertautan otot-otot
bahu, jelas bahwa struktur hasil perpaduan berbagai fungsi diatas, sangat diperlukan
untuk dada. Pada semua hewan mammalia piaraan mengalami pengkerdilan sampai
kehilangan clavicula (tulang selangka) sehingga hubungan synsarcosis yang diperlakukan
pada pertautan bahu terhadap dinding lateral dada yang ditopang oleh gaya tegangan otot
yang terentang antara scapula (tulang belikat) dan trunci (tubuh). Pada hubungan ini
terjadi keseimbangan antara gaya yang bekerja dengan arah ventrodorsal akibat berat
badan pada sendi humeroscapula dan gaya akibat kontraksi m. serratus ventralis yang
bertaut pada facies serrata scapula dan sisi-sisi lateral costae pertama sampai ketujuh,
kedelapan atau kesembilan. Gaya m. serratus ventralis (F) mencoba mengikat tulang
tulang rusuk (fig 5-33) mempunyai momentum penahan ikatan = T = I/Y. (I= moment
kelembaman bagian bagian rusuk yang dipertauti m. serratus ventralis dan Y= jarak dari
titik pusat lengkung dada ke garis keliling lengkung tersebut. Badoux (1967) telah
menghitung nilai-nilai T tersebut pada ke 18 rusuk kuda dan ternyata nilai T yang
tertinggi terdapat pada rusuk keenam dan yang terkecil terjadi pada rusuk pertama.
Namun pada rusuk pertama ini masih diperkuat oleh gaya ikatan m.scalenus sebagai tali
pengikat cranial pada sistem busur tubuh. Pada posisi tegak, maka regangan m. serratus
ventralis mempunyai arah hampir vertikal pada rusuk keenam karena facies serrata
scapula pada kedudukan itu tepat diatasnya, sehingga momentum penahan ikatan T pada
tempat itu bernilai yang terbesar, yang berarti pula tekanan ikatan terbesar terjadi pada
tempat itu.
Perbedaan beban ikatan ini, yang menyebabkan rusuk rusuk sebelah caudal lebih
bebas bergerak untuk keserasian bernapas.

BEBAN YANG DITUMPUKAN PADA ANGGOTA GERAK DEPAN DAN


BELAKANG
Tubuh yang disusun mengikuti sistem busur tali busur itu pada bagian bagian
cranial dan caudalnya ditopang masing-masing dengan sepasang kaki depan dan sepasang
kaki belakang. Dari segi statika, kaki kaki ini dipertautkan pada tubuh dengan cara yang
tidak sama dan dibebani dengan berat tubuh tidak sama juga, karena mendapat tugas yang
tidak sama pula terutama bila dihubungkan dengan bidang dinamika.
Kaki depan dipertautkan pada tubuh tanpa membentuk sendi, melainkan dengan
ikatan otot atau secara synsarcosis. Kaki belakang dipertautkan pada tubuh dengan
membentuk sendi iliosacralis yang bersifat tanpa gerak, meskipun persendian disini
tergolong articulationes synoviales, tetapi dengan ikatan-ikatan yang sangat rapat dan
ketat lebih–lebih pada usia dewasa, cenderung untuk digolongkan sebagai
amphiarthrosis. Umumnya kaki depan menanggung beban tubuh lebih berat dari kaki
belakang. Hal tersebut disesuaikan dengan fungsi kaki sebagai alat lokomosi, maka kaki
depan adalah sebagai alat pengerem (penghenti gerakan) sedangkan kaki belakang
sebagai alat pendorong.
Beban berat tubuh yang ditumpukan pada kaki depan dan belakang tidak sama,
karena kecuali bangun tubuh hewan itu sendiri, tetapi terutama disebabkan oleh letak titik
berat tubuh (center of gravity) yang biasa dilambangkan dengan huruf “w”) tidak tepat
benar ditengah-tengah tubuh, melainkan menggeser agak kedepan bahkan kadang-kadang
agak kebelakang. Berbagai cara menentukan letak titik berat seekor hewan, dilakukan
dengan menimbang memakai alat khusus (fig. 5-34), hewan diletakkan diatas papan alat
timbang dengan sikap berdiri sempurna dan ditunggu sampai tenang. Misalnya tercatat
AB= 3M, v=6kg dan W=14 kg (yang diperoleh dari timbangan biasa). Masalahnya
sekarang, kita harus mencari berapa jarak E C dan CF itu? Secara perhitungan, maka
AC /AB= v/W. sehingga AC=AB x v/W = (3x6/14)= 1,28M, dengan demikian letak C
dapat diketahui. Sekarang tinggal mengukur panjang EC dan CF, missal diketemukan
EC=35 cm dan CF=45 cm maka beban yang ditanggung titik E= b/(a+b)xW=
45/80x14=7.875 kg dan titik F = a/(a+b)xW= 35/80x14=6.125 kg. Ini berarti tumpuan
pada kaki depan menanggung beban 7,785/14 x 100%=56,25% dari berat tubuh dan
tumpuan pada kaki belakang: 6,125/14x100%=43,75% dari berat tubuh atau kaki depan
menanggung beban lebih berat daripada kaki belakang.
Dengan diketahuinya titik C berarti dapat dicari letak w yaitu pada titik potong
antara garis yang ditarik dari persendian scapulohumeri ke persendian acetabulum dengan
garis proyeksi w dari C tadi. Beberapa contoh hasil pengukuran titik berat pada beberapa
hewan :
- kuda ningrat (kuda Arab) titik berat terletak 25 cm disebelah caudal proc. xiphoideus
pada garis sendi bahu sampai tuber ischii.
- babi hampir = kuda tersebut
- kuda berdarah dingin (kuda Belgi) dan ruminantia, letak titik beratnya agak kebelakang
sedikit.
- carnivora, letaknya agak kedepan. Anjing letak titik berat sedikit dicranial proc.
xiphoideus.
Pengetahuan tentang letak titik berat tubuh ini, banyak artinya, beberapa contoh dapat
dikemukakan dibawah ini.
1. penempatan beban pada punggung hewan pengangkut sebaiknya tepat diatas titik
beratnya, agar beban itu tetap stabil pada waktu hewan yang bersangkutan
berjalan/lari dan mencegah longsor atau meleset jatuhnya beban tersebut.
(Perhatikan orang menunggang kuda ataupun penempatan pelana pada punggung
ataupun seorang Jockey mengendalikan kuda balapnya).
2. untuk mencegah seekor kuda binal pada waktu diobati menendang dengan
kakinya, maka salah satu kaki sebaiknya agak diangkat.
3. guna menjelaskan, mengapa seekor kuda yang tahan berdiri lama itu, cukup
ditunjang oleh tiga kaki, sementara itu secara bergantian salah satu kaki
belakangnya diistirahatkan, tetapi hal tersebut tidak dilakukan pada kaki
depannya.
Bidang penunjang tubuh adalah bidang yang dibatasi oleh titik geser kaki pada tanah.
Sehingga pada hewan berkaki empat yang berdiri tegak diatas tanah, bidang
penunjangnya adalah bidang yang dibatasi oleh keempat titik sentuh kaki-kakinya pada
tanah. Perhatikan gambar pada fig. 5-35 yang melukiskan proyeksi seekor hewan pada
bidang datar, yang mana titik A,B,C,D adalah titik sentuh kaki-kakinya pada tanah,
sehingga bidang ABCD adalah bidang penunjang hewan tersebut. Menurut hukum
statika, selama proyeksi titik berat hewan masih berada di dalam bidang penunjangnya,
maka hewan tersebut masih mampu berdiri dengan stabil. Dan bila titik berat hewan
proyeksinya berada diluar bidang penunjang, hewan tersebut akan jatuh. Karena letak
proyeksi titik berat tidak tepat benar berada ditengah bidang penunjang, maka hewan
yang ditumpukan kepada kaki-kakinya pun tidak sama. Seperti terlukis pada fig. 5-35,
bila titik berat jatuh pada bidang ABE berarti kaki depan lebih berat bebannya.
Sebaliknya bila titik berat jatuh pada bidang CDE, maka kaki belakang yang menerima
beban tumpuan lebih berat. Kaki yang menerima beban tumpuan lebih berat, adalah
bagian kaki yang lebih sukar diangkat atau digerakkan. Pada hewan yang berdiri tegak,
maka besarnya beban tumpuan pada kaki-kakinya dapat dirumuskan sebagai:
- kaki depan = W{(b/(a+b)}
- kaki belakang = W {(a / (a+b)}
(W=berat tubuh; a=jarak sendi bahu terhadap titik berat; b= jarak sendi paha terhadap
titik berat).
Bagaimana jika pada kaki belakang bekerja suatu gaya F, akibat kontraksi mm.
retractor, apakah keseimbangan tubuh masih dapat dipertahankan, yang berarti hewan
itu tetap berdiri tegak? Keseimbangan masih akan tetap dapat dicapai, asal pada kaki
depan bekerja gaya X yang dapat mengimbangi gaya F tadi. Perhatikan sketsa pada fig.
5-36. Gaya F akan diimbangi gaya geser S. Gaya geser S ini mempunyai momentum
terhadap sendi bahu dan sendi paha sebesar S x h (h=jarak antara tanah dan kedua sendi
itu). Sementara itu gaya X yang bekerja pada sendi bahu, mempunyai momentum
terhadap sendi paha adalah –X x (a+b)dan ini harus diimbangi oleh S x h. Dengan
demikisn berarti X x (a+b)= Sxh aatau X =(S x h)/ (axb). Jadi beban pada sendi bahu
adalah W x [b/(a x b)]- [(S xh)/(a x b) dan sebaliknya beban pada sendi paha adalah W x [
a/(a+b)]+ [(S x h)/(a+b)]. Ini berarti bahwa dalam keadaan tubuh masih seimbang,
dengan bekerjanya gaya retractor pada kaki belakang akan berakibat mengurangi
( meringankan) beban kaki depan.Bila gaya F di atas, sedemikian besarnya sehinggga
keseimbangan tubuh tidak stabil lagi, mulailah timbul akibat tubuh akan bergerak.

LOCOMOTIO (gerak maju).

Membahas gerak maju seekor hewan, berarti memasuki bidang biodinamika.


Hewan dapat bergerak maju karena keadaan hewan statis ditinggalkan, yang berarti titik
beart tubuh diubah letaknya sehingga jatuhnya di luar bidang penunjangnya. Hal ini
dapat terjadi karena kaki depan mengubah letak sehingga tubuh jatuh kedepan, atau kaki
belakang mendorong tubuh ke depan. Kaki belakang memang mempunyai tugas sebagai
pendorong, mengingat kaki ini dilengkapi dengan otot-otot yang kuat dan berat ( berat
oto kaki belakang kuda kia-kira satu setengah kali berat otot kaki depan). Jatuhnya tubuh
kedepan dicegah oleh kaki depan yang bertindak sebagai rem, sehingga tubuh hanya
bergerak maju tanpa mengalami jatuh yang sesungguhnya. Demikianlah fase-fase gerak
maju berulang, dan hewan melangkah kedepan, dengan berbagai tingkah dari macam
berjalan sampai lari.
Dengan bantuan cinematografi, dapat dikenali berbagai cara gerak maju ataupun
rumusan langkah. Prinsip gerak maju adalah akibat berganti gantinya fase kaki
menapak tanah, fase kaki meninggalkan tanah, fase tubuh melayang sesaat dan
seterusnya. Rumusan langkah disusun berdasarkan :
- lamanya tiap-tiap kaki menyentuh tanah yang dinyatakan dalam persentase
interval langkah.
- hubungan jatuhnya kaki depan dan kaki belakang, yang dinyatakan dalam
persentase interval langkah, dimana jatuhnya kaki depan
dibelakang menapaknya kaki belakang pada sisi kaki yang sama.
Perhatikan gambaran rumusan langkah ini pada fig. 5-48. Secara teoritis dikenal 164
macam rumusan langkah ini, yang 118 diantaranya dapat dikenali pada berbagai langkah
hewan. Disini akan diuraikan enam jenis langkah alamiah yang mudah dikenal, antara
lain : berjalan, berderap, melenggang, melenggang cepat, gallop melompat, gallop kuda.
Sebelum memasuki bidang kinematika ini, terlebih dahulu perhatikan gambar fig. 5-49,
67, 68, 69, 70, 71, 73, dan 74.

BERJALAN (WALK), ini adalah jenis gerak maju yang paling umum, pada hewan
berkaki empat. Pada gerak ini, pada setiap fase gerak, badan selalu hanya ditopang oleh
tiga kaki. Bila gerak ini dipercepat, topangan terhadap tubuh dilakukan oleh tiga atau dua
kaki lateral atau dua kaki diagonal bahkan hanya satu kaki dan diusahakan titik berat
tubuh akan selalu jatuh di dalam bidang penunjang. Untuk jelasnya fase fase langkah itu
dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. salah satu kaki depan diangkat, titik berat akan keluar dari bidang penunjang,
badan akan dijatuhkan kearah cranio-lateral.
2. kaki depan direntangkan ke muka sampai menapak tanah kembali, untuk
mencegah kejatuhan badan.
3. kaki belakang (yang diagonal dengan kaki depan pada ad. 1 tadi), ditegangkan
ketanah, tubuh terdorong kemuka dan sedikit keatas. pada saat ini tubuh tidak
stabil lagi.
4. sementara itu akibat kaki depan ad.2 menapak tanah, bersifat menampung
dorongan kaki belakang itu dan sekaligus mengerem-nya agar tubuh menjadi
stabil.
Tetapi, lamanya sera beratnya kaki belakang mendorong tadi adalah dua kali besarnya
dari kemampuan kaki depan menahannya. Dan keadaan ini mengakibatkan tubuh tetap
terdorong kemuka dan sekarang kaki depan yang satunya lagi bertindak seperti ad. 1
diatas. Demikianlah fase fase melanghkah diulang ulang lagi. Singkatnya, satu langkah
berjalan pada hewan berkaki empat meliputi empat fase: mengangkat kaki=melangkah-
menunjang tubuh yang akan jatuh (mengerem)- mendorong tubuh maju dan seterusnya.
Bila pada fase-fase langkah tersebut diselingi dengan fase dimana tubuh melayang
sebentar ataupun lama, ini sudah gerak maju bukan berjalan lagi.

BERDERAP (TROT), suatu gerak maju yang dapat dikatakan sebagai percepatan
berjalan. Langkah-langkah kakinya merupakan pasangan langkah kaki kaki yang
diagonal dan sementara itu tubuh ditunjang oleh dua atau tiga kaki. Bila derap dipercepat
fase itu diselingi dengan fase melayang dan ditunjang dengan dua kaki, bergantian. (gb.
68).

MELENGGANG (AMBLE), pada gerak maju, tubuh ditunjang oleh dua atau tiga kaki
diagonal atau dua kaki pasangan lateral, secara berganti-ganti. Gerak-gerak semacam ini
jelas terlihat pada onta, gajah dan beruang besar. Percepatan gerak “amble” disebut gerak
“rack”

MELENGGANG CEPAT (RACK), Separuh dari fase-fase gerak maju dari jenis ini,
tubuh dalam keadaan melayang. Pada waktu “mendarat”, tubuh ditunjang oleh satu atau
dua kaki lateral, berganti, ganti. Langkah jenis ini, adalah almiah pada gerak maju yang
cepat pada onta dan jerapah, serta sering pula dilakukan oleh kuda dan anjing (gb. 69).

GALOP MELOMPAT (LEAPING GALLOP, LARI CONGKLANG), Gerak maju


jenis ini mempunyai ciri khas, seperti terlukis pada gb.70, 71 dan 73. Sementara sepasang
kaki belakang menapak ketanah, kaki tersebut segera mendorong tubuh maju kedepan
dan punggung diluruskan serta pasangan kaki depan diangkat, terjadilah loncatan,
dimana tubuh memasuki fase melayang. Saat kaki depan bergantian tiba ditanah,
dorongan tubuh kedepan tetap terlaksana dengan jalan membungkukkan (flexio)
punggung sampai pasangan kaki belakang menapak lagi ditanah serta mendorong tubuh
lagi, dan seterusnya. Dengan demikian selama melaju kedepan, ada pergantian sikap
punggung berseling-seling antara punggung lurus (extensio) dan punggung membungkuk
(flexio). Ini membutuhkan keluwesan gerak punggung terutama di region thoracolumbal
dengan otot-otot sekitarnya yang baik perkembangannya. Gerak melompat ini banyak
terjadi pada hewan rodentia (pengerat), carnivora, dan babi.

GALOP KUDA
Perbedaan gerak maju dengan galop loncat, adalah setelah melewati fase
melayang; jatuhnya kaki kaki di tanah segera diikuti gerak meninggalkan tanah secara
berturutan yaitu dari kaki belakang kiri, diikuti kaki belakang kanan, disusul kaki depan
kiri dan yang terakhir kaki depan kanan, kemudian memasuki fase melayang lagi, dan
seterusnya. (Gb.72). Gerak ini kebanyakan terdapat pada cara larinya kuda, kerbau, sapi,
kambing, domba dan rusa.

KINETIKA GERAK MAJU


Pada hewan dalam sikap berdiri tenang, maka resultante dari gaya dorong
horizontal adalah nihil. Apabila oleh suatu sebab, timbul suatu resultante gaya cranio-
horizontal yang bekerja pada sendi paha, maka mulailah hewann tersebut bergerak
maju. Umumnya gaya gaya yang dimaksud adalah resultante gaya dorong kemuka
sumbangan dari otot otot intrinsic dan extrinsic kaki depan dan belakang. Hal ini
terutama terjadi karena gerak retractio dan protractio dari usaha otot-oto extrinsic yang
bertaut pada sendi siku dan sendi lutut, serta bantuan kerja otot otot intrinsic yang bekerja
pada berbagai persendian, sehingga memungkinkan anggota anggota gerak itu bertindak
sebagai alat penopang dan alat pengumpil tubuh, dalam proses gerak maju. Untuk
menganalisa gaya dorong gerak maju ini, perhatikan sketsa pada fig. 5-50.
Otot otot retractor kaki belakang yang tersusun atas kelompok otot paha dan otot
pantat, misalkan menimbulkan gaya F yang bekerja terhadap sendi dengan momentum +
(F x a). Gaaya F ini, dapat digantikan oleh kopel FF1 yang dengan moment (F x a)
cenderung memutar kaki belakang dengan titik putar sendi paha kearah = jarum jam, dan
gaya F11 merupakan caput femur menekan permukaan sendi tersebut. Kopel gaya gaya ini
akan dikendalikan (direaksi) oleh kopel SS1 yang mempunyai moment (S x h) (h= jarak
antara sendi paaha dengan tanah; s= gaya gesekan kaki terhadap tanah). Gaya S dapat
digantikan oleh kopel SS1dan gaya dorong S11. Jadi, (F x a) = (S x h) dan S = SS1= - S1
= (F x a)/h. Perlu diingat, pada sendi paha bekerja pula gaya akibat berat kaki itu sendiri.
Gaya inipun dapat digantikan oleh kopel ketiga pada sendi ini, yaitu kopel WW 1 {W1 =
reaksi normal (tekanan tanah atas beban kaki itu)}. Dengan demikian antara gaya S dan
W1 dapat ditarik resultante Rn. Selama Rn tepat melintasi sendi paha maka momentnya
adalah nol, sehingga keseimbangan sendi itu masih dipertahankan. Sebaliknya, bila Rn
arahnya melintasi diluar persendian akibatnya kaki belakang bergerak membuat sudul
alpha menjadi lebih besar (kaki belakang tertarik kebelakang). Bandingkan peristiwa ini
dengan fig. 5-32 yang telah dijelaskan di depan. Dapat dikatakan bahwa selama berbagai
gaya yang bekerja itu masih dalam keadaan seimbang, hewan tetap berdiri dengan tenang
dan tidak mungkin bergerak (maju). Telah dijelaskan pula melalui fig. 5-36 bahwa dalam
keadaan seimbang, beban kaki depan = W (b/(a+b)- (Sxh)/(a+b) dan beban kaki belakang
= W (a/(a+b)+ (Sxh)/(a+b). Sehingga agar hewan dapat bergerak maju keseimbangan
harus diganggu, misalnya dengan memindahkan beban kaki depan ke kaki belakang, ,
yang secara ekstrim bila beban dipindah ke kaki belakang semua, akan terjadi pada
keadaan S = (Wxb)/h. (Coba anda renungkan, lalu dimana letak titik berat badan dan
dalam keadaan apa hewan itu?).

Dari uraian-uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:


1. pengurangan berat beban yang ditanggung oleh kaki depan berakibat mengurangi
gaya dorong kaki itu pula ( kearah horizontal yang telah diimbangi dengan gaya
gesernya dengan tanah). Ini mengakibatkan hal apabila hewan hendak
mempercepat gerak (dengan mengurangi beban beratnya) melalui kaki depan
terlalu cepat, akan mudah terpeleset (tergelincir) karena gaya dorong yang selaras
dengan gaya geser dengan tanah (=rem) telah mengecil. Hal demikian tidak
terjadi bila percepatan gerak melalui kaki belakang.
2. kopel gaya yang ditimbulkan oleh otot retractor kaki belakang bila melampui W x
b, akan memutar/mengungkit poros tubuh keatas melalui sendi paha selama
proses gerak maju. Dalam hal ini bila sikap (postur) tubuh dan arah gaya yang
bekerja diatur sedemikian rupa sehingga melintasi atau berada di depaan titik
berat tubuh, maka hewan tersebut akan dapat melompat kedepan.
3. pada hewan hewan yang normalnya mempunyai letak titik berat tubuh dibagian
belakang tubuh, dengan gaya otot-otot retractor yang kecil saja sudah cukup
mengangkat kaki depan lepas dari tanah, yang mengakibatkan tubuh terangkat
keatas sampai letak titik beratnya berada diats titik tumpu kaki belakang.

Prinsip-prinsip dinamika, yang diperlakukan pada anggota gerak sebagai tenaga


pendorong adalah sama saja dengan prinsip-prinsip statika pada anggota gerak itu sebagai
tenaga penopang. Itulah sebabnya kaki-kaki itu dqapat diperlakukan sebagai alat
penopang dan sekaligus alat pengumpil.
Bila sumbu mekanis anggota gerak tubuh (= garis lurus yang menghubungkan
sendi-sendi paha dan bahu, dan titik sentuh dengan tanah) dalam keadaan retractio, maka
anggota gerak bertindak sebagai alat penopang yang mendorong, berusaha memperbesar
tenaga horizontalnya untuk mengatasi tenaga mengerem dari anggota gerak yang lainnya.
Bila anggota gerak sedang menyentuh tanah dan sumbu mekanisnya dalam
keadaan protractio, anggota gerak itu bertindak sebagai alat pengerem. Sehingga dalam
suatu daur locomotion yang lengkap, suatu anggota gerak berganti-ganti mengalami
retractio dan protractio, dimana tenaga dorongnya mula-mula positip, kemudian negatip,
demikian seterusnya. Akhirnya perlu diperhatikan dalam biomekanika ini, biarpun telah
dihadapkan dengan berbagai kenyataan gerak dengan banyak variasinya serta beraneka
corak lenggang hewan itu bergerak, maka tidak boleh tidak, sedikit banyak segala
gerakan itu didasarkan pada hukum gerak Newton, yang terdiri dari 3 pasal.
1. Semua benda akan bergerak lurus beraturan atau diam, jika tidak ada
resultan gaya yang bekerja pada benda itu. Seekor kuda akan tetap diam
berdiri, selama tidak ada usaha (tenaga, gaya) kontraksi otot untuk mulai
bergerak. seekor anjing yang sedang melompati pagar, akan tetap melayang lurus,
bila tidak ada gaya gravitasi yang menyebabkn gerak melayang itu melengkung
sebagai parabola dan akhirnya tiba di tanah kembali.
2. Percepatan yang ditimbulkan oleh gaya yang bekerja pada sebuah benda,
berbanding lurus dengan besar gaya itu, searah dengan gaya itu, dan
berbanding terbalik dengan massa kelembaman benda. Andaikan seekor kuda
mempunyai daya dorong F dan kecepatan V, bergerak selama T, massa tubuhnya
M, maka percepatan gerak = F/M perdetiknya, sedang keceatannya V= (FxT)/M.
3. Apabila suatu benda mengerjakan gaya pada benda lain, maka benda yang
kedua itu mengerjakan pada benda yang pertama gaya yang sama besarnya
tetapi arahnya berlawanan. Dengan lain perkataan, hukum III Newton itu
mengatakan bahwa setiap gaya terdiri dari pasangan gaya yang saling berlawanan
(ada aksi harus ada reaksi). Kenyataannya pada hewan adalah, bahwa hewan itu
bergerak maju karena tanah tempat berpijak menahan gerak anggota gerak kearah
tubuh
Sebagai penutup dari makalah ini, semoga bermanfaat bila pesan Albert Einstein (1938)
direnungkan dibawah ini, untuk apa anda berusaha dengan jerih payah, memahami
sebagian ilmu yang telah disajikan dihadapan anda saat ini. :”Rekan rekan yang muda
belia. Saya merasa sangat bahagia melihat anda semua dihadapan saya,
sekumpulan orang muda yang mekar yang telah memilih bidang keilmuan sebagai
profesi. Saya berhasrat untuk menyanyikan hymne yang penuh puji, dengan refrain
kemajuan pesat di bidang keilmuan yang telah kita capai, dan kemajuan yang lebih
pesat lagi yang akan anda bawakan. Sesungguhnya kita berada dalam kurun dan
tanah air keilmuan. Tetapi hal ini jauh dari apa yang sebenarnya ingin saya
sampaikan. Lebih jauh saya teringat dalam hubungan ini kepada seorang muda
yang baru saja menikah dengan seorang istri yang tidak terlalu menarik dan orang
muda itu ditanya apakah dia merasa bahagia atau tidak?. Dia lalu menjawab; “Jika
saya ingin mengatakan yang sebenarnya, maka saya harus berdusta”
Begitu juga dengan saya. Marilah kita perhatikan seorang Indian yang mungkin
tidak beradab, untuk menyimak apakah pengalaman dia memang kurang kaya ataukah
kurang bahagia dibandingkan dengan rata-rata manusia yang beradab. Terdapat arti yang
sangat maknawi dalam kenyataan bahwa anak anak dari seluruh penjuru dunia yang
beradab senang sekali bermain meniru niru Indian. Mengapa ilmu yang sangat indah ini,
yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan
yang sedikit kepada kita? Jawaban yang sederhana adalah- karena kita belum lagi belajar
bagaimana menggunakannya secara wajar.
Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal.
Dalam perdamaian dia membikin hidup kita dikejar waktu dan penuh tidak tentu. Ilmu
yang seharusnya membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual malah
menjadikan manusia budak-budak mesin, dimana setelah hari hari yang panjang dan
monoton kebanyakan dari mereka pulang dengan rasa mual, dan harus terus gemetar
untuk memperoleh ransum penghasilan yang tak seberapa. Kamu akan mengingat tentang
seorang tua yang menyanyikan sebuah lagu yang jelek. Sayalah yang menyanyikan lagu
itu, walau begitu dengan sebuah itikad, untuk memperlihatkan sebuah akibat. Adalah
tidak cukup bahwa kamu memahami ilmu agar pekerjaanmu akan meningkatkan berkah
manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan
minat utama dari semua ikhtiar teknis, perhatian kepada masalah besar yang tak kunjung
terpecahkan dari pengaturan kerja dan pemerataan benda agar buah ciptaan dari
pemikiran kita akan merupakan berkah dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan.
Janganlah kau lupakan hal ini di tengah tumpukan diagram dan persamaan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Arey LB. 1961. Developmental anatomy. WB Saunder Company. Philadelphia.

Ashdown RR, Done S. 1988. Colour atlas of veterinary anatomy: (1) The runinant. ELBS
edition.

Dyce KM, Sack WO, Wensing CJG.1987. Textbook of veterinary anatomy. 2nd ed. . WB
Saunder Company.

Evans HE, deLahunta A. 1971. Miller,s Guide to the dissection of the dog. WB
Saunder Company.

Finerty JC, Cowdry EV. 1962. A textbook of histology. Lea & Febiger, Philadelphia.

Foust HL, Getty R 1960. Atlas and dissection guide for the study of the anatomy of
domestic animals. WB Saunder company Philadelphia, London, Toronto.

Getty R 1975 . Sisson and Grossman’s The Anatomy of the domestic animals. Vol I
&II. 5th ed . WB Saunder company Philadelphia, London, Toronto.

Kosasih R 1967. Anatomi umum. FKH IPB Bogor (tidak diterbitkan )

Miller WC, West GP. 1959. Black’s veterinary dictionary. Adam and Charles Black.
London

Nickel R, Schummer, Seiferle E, Schummer A, Richard (ed). 1979. The Viscera of


Domestic Mammals. Verlag Paul Parey. Berlin –Hamburg.

Nickel R, Schummer, Seiferle E, Schummer A, Richard (ed). 1981. The circulatory


system, the skin, and the cutaneus organs of the domestic mammals. Verlag Paul
Parey. Berlin –Hamburg.

Popesko P. 1971. Atlas of topographical anatomy of the domestic animals. Vol I,II,III
translated by Robert Getty. WB Saunder company Philadelphia, London, Toronto.

Popesko P. 1978. Atlas of topographical anatomy of the domestic animals. WB Saunder


company Philadelphia, London, Toronto.

Prawirosudirdjo G. 1969. Kamus istilah anatomi dan zoology. Bhratara. Jakarta.

Raven CP 2004. Atlas anatomi. Djambatan. Jakarta

Slijper EJ. 1954. Manusia dan hewan piaraan. PT Pembangunan Jakarta.

Sumadji et al 1979. Energi, gelombang dan medan I. Balai Pustaka. Jakarta


Suriasumantri JS. 1978. Ilmu dalam perspektif. Gramedia. Jakarta.

Trautmann A, Fiebiger J. 1957. Fundamentals of the histology of domestic animals.


Comstock Publishing Associates. New York.

Wiley J 1991. Functional anatomy of the neuroendocrine hypothalamus. Chadwick,


Derek, Marsh (ed). Ciba Foundation symposium.

Windle WF. 1960. Textbook of histology. Mc Graw Hill Book Company Inc. New York.

Wischnitzer S. 1979. Atlas and dissection guide for comparative anatomy. 3rd ed. WH
Freeman and company, San Fransisco