Anda di halaman 1dari 26

KELOMPOK 10

Dimas Bayu Kresna Murti


165120201111016

Komunikasi Bisnis Antarbudaya dalam Era Globalisasi oleh Nina W. Syam

Jurnal ini mebahas tentang hambatan komunikasi antarbudaya dalam bidang


ekonomi yang dialami Indonesia sebagai implikasi dari dibukanya perdagangan bebas
dengan dunia internasional berdasarkan pada survey yang dilakukan oleh Kementrian
Perdagangan dan Industri Internasional (MITI) Jepang atas kegagalan mereka membina
hubungan bisnis dengan negara asing karena kesalahpahaman pedagang asing pada
masyarakat Jepang.

Penulis mengawali pembahasan dengan bagaimana sejarah ekspansi perdagangan


Jepang setelah runtuhnya Uni Soviet saat kemenangan diraih oleh Amerika Serikat pada
Perang Dingin. Pergeseran kekuatan politik menjadi kekuatan ekonomi dalam interaksi
antar negara disebabkan oleh adanya perang dagang (trade war) sehingga Jepang terseret
didalamnya (Itagaki dan Masaki, 1989 dalam Syam, 2000). Penulis menganggap ekonomi
global tidak hanya perdagangan yang semakin meluas antar negara namun harus
dipandang sebagai pergerakan ekonomi antar negara menjadi ekonomi tunggal yang
disimpulkan penulis sebagai “Satu Ekonomi – Satu Pasar” dengan pertimabangan
ekonomi mendahului pertimbangan politik.

Penulis menganggap percepatan Indonesia untuk memasuki AFTA pada 2003


adalah langkah tepat. Hal ini dimaksudkan untuk menguji kesiapan dan daya kompetitif
perekonomian bangsa, dengan cara ini Indonesia dapat membenahi kelemahan yang
tampak melalui feedback yang didapat selama berdagang dengan dunia internasional,
secara singkat, belajar sambil berjalan. Adapun beberapa kemampuan yang harus dimiliki
oleh Indonesia jika ingin berkompetisi secara ekonomi dengan pedagang asing menurut
Michael Porter (1985 dalam Syam, 2000) diantaralain adalah komitmen terhadap mutu,
kemampuan lobby, penguasaan teknologi, intensifikasi penelitian , pengembangan pasar
serta keterampilan pemasaran yang baik.

Penulis menjelaskan bahwa tidak hanya ancangan ekonomi dan teknologi saja
yang menentukan keberhasilan dalam perdagangan internasional, menurut Gold (1989
dalam Syam, 2000) menyatakan bahwa sebagian besar kemampuan penetrasi pasar
internasionla dipengaruhi secara signifikan oleh pemahaman pebisnis terhadap budaya
komunikasi mitra bisnis yang dituju. Dalam hal ini, Inoue (1989 dalam Syam, 2000)
sependapat dengan Gold dengan menyimpulkan kegagalan Amerika Serikat saat
berdagang dengan Jepang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan Amerika Serikat akan
karakteristik, gaya manajemen dan model pemasaran Jepang. Christopher (1989 dalam
Syam, 2000) memaparkan bahwa pemilihan kata, komunikasi non-verbal, paralingusistik,
gestural, postural, kontak mata, sentuhan, pakaian, fasial, waktu, dan proksemik. Hal- hal
yang dipaparkan Christopher dirasa sangat perlu dipahami demi kesuksesan usaha
perdagangan internasional. Anggapan bahwa perdagangan global dapat menghapus
batasan negara (stateless) dan batasan budaya (split personality) namun anggapan ini
dipatahkan oleh John Naisbitt (1989), Toffler (1989), Kumabara (1987) dan Ohmae
(1990). Dengan pernyataan Toffler yang menjelaskan bahwa terjadinya diversifikasi
budaya barat dengan budaya timur dengan segmentasi kultur atau subkultur yang
menguatkan pada identitas suatu komunitas. Maka dari itu, pebisnis mau tidak mau harus
memperhatikan aspek budaya jika ingin berhasil dalam perdagangan internasional untuk
memenuhi komitmen liberasi perdagangan yang disertai dengan komitmen pemahaman
dan penerapan komunikasi bisnis antar budaya.

Setelah kekalahan Jepang pada Perang Dunia Kedua, struktur dan fasilitas
industry jepang mengalami kehancuran, diperparah dengan fakta Jepang merupakan
negara denga sumber daya alam yang sedikit. Namun, dalam kurun waktu 10 tahun
(1955-1964) jepang mengalami apa yang disebut penulis sebagai lompatan ekonomi
Jepang dengan fokus pasar diarahkan menuju ke berbagai penjuru dunia. Hal ini menjadi
mungkin karena jepang memegang kunci berupa penguasaan dan menghimpun informasi
dagang dari berbagai negara. Penguasaan dan banyaknya informasi dagang dari seluruh
dunia ini demi menunjang kebijakan Kementrian Perdangangan dan Industri Internasional
(MITI) negara Jepang dengan memperhitungkan keccenderungan yang ada pada tiap
bangsa. Kebijakan ini dilakukan dalam rangka untuk memahami karakteristik negara
konsumen, permintaan konsumen, pembaruan teknologi, strategi pemasaran \, hingga
budaya komunikasi bisnis tiap negara sehingga mampu tercipta lingkungan dagang
internasional yang sustainable dengan mitra bisnis.
Dengan dibukanya perdagangan global, Indonesia diharapkan mampu bersaing
dengan negara lain secara ekonomi demi meningkatkan kesejahteraan bangsa. Dalam
jurnal ini, sebagai contoh, penulis mengambil permasalahan Jepang pada awal Perang
Dingin. Jepang yang merupakan negara kecil dengan sumber daya alam yang terbatas
dapat bangkit dan menjadi ibukota informasi dagang dengan memahami pentingnya
aspek budaya dalam perdagangan. Penulis juga mengharapkan pebisnis Indonesia mampu
mengamati jepang sebagai contoh dari kasus yang dipaparkan kemudian mengadaptasi
dalam upaya meningkatkan tingkat keberhasilan dagang dengan negara asing, dengan
memperlakukan perdagangan internasional sebagaimana adanya bukan sebagaimana
maunya.

Vizziah Nabiilah
165120201111063

Tulisan ini adalah hasil review saya terharap jurnal Nasional ‘Pengembangan Identitas
Remaja Transmigan Jawa di Lampung Melalui Pertemanan antar Budaya di Sekolah’
yang ditulis oleh Nina Yudha Aryanti.

Jurnal ini mengawali dengan membahas bahwa dalam pengembangan etnik yang
dilakukan oleh remaja ada peran dari keluarga dan proses pertemanan juga berperan
penting untuk penguatan nilai sosial . Hal itu sesuai dengan apa yang dikatakan Kelly dan
Hansen (dalam Desmita, 2007: 220-221) menyatakan bahwa fungsi pertemanan sebaya
yaitu: (1) teman dapat mengontrol impuls positif; (2) teman memberikan dukungan
emosional dan sosial, yang menjadikan remaja lebih mandiri dan mengurangi
ketergantungan pada keluarga; (3) pertemanan dapat meningkatkan keterampilan sosial,
mengembangkan kemampuan penalaran dan belajar mengekspresikan perasaan dengan
cara yang lebih matang; (4) dalam pertemanan, remaja dapat mengembangkan sikap,
tingkah laku dan peran terhadap seksualitas untuk menjadi laki-laki dan perempuan
muda; (5) pertemanan dapat memperkuat penyesuaian dan membantu mengevaluasi
moral serta nilai-nilai yang diterima, sehingga remaja dapat mengembangkan
kemampuan penalaran dan moralnya; (6) pertemanan dapat meningkatkan harga diri
remaja untuk dapat menjadi individu yang disukai oleh teman-temannya.

Proses pertemanan tidak hanya melibatkan dengan latar belakang budaya yang sama saja,
tetapi dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda. Hal ini juga terjadi pada sampel
kota peneliti yaitu di Lampung. Secara khusus, sensus penduduk Propinsi Lampung, BPS
tahun 2000, menunjukkan bahwa etnik Jawa sebagai etnik pendatang menempati ± 60%
dari total penduduk (dalam publikasi sensus penduduk, BPS 2010, tidak diperoleh jumlah
data etnik di Lampung).

Pembentukan identitas etnik pada remaja tidak bisa dipisahkan dari kesadaran individu
remaja itu sendiri. Sebagai salah satu agen sosialisasi di masyarakat, dan lembaga
pendidikan formal, sekolah memiliki peranan untuk meneruskan nilai-nilai yang ada di
masyarakat. Sekolah juga akan membantu remaja untuk mencapai pribadi yang unggul
sebagaimana harapan (ideal self). Dinamika interaksi remaja di sekolah dapat
memberikan pengalaman pada remaja yang berbeda dengan pengalamannya di keluarga.
Perbedaan tersebut meliputi: lingkungan fisik, peran remaja (sebagai siswa, teman,
sahabat) yang seimbang dari rata-rata usia dan tahapan psikologis, dan tujuan interaksi
remaja di sekolah mewarnai dinamika interaksi remaja dalam mengembangkan identitas
diri, termasuk identitas etnik.

Dalam jurnal ini Secara umum, selain di kelas, kecenderungan remaja memilih mitra
komunikasi di kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa kegiatan ektrakurikuler yang bisanya
diikuti remaja yaitu pramuka, olah raga, kesenian serta keterlibatan dalam kegiatan ilmiah
sekolah. Berbeda dengan pertemanan remaja di kelas yang dibentuk berdasarkan
kedekatan tempat duduk dan kedekatan psikologis, pertemanan remaja di kegiatan
ekstrakurikuler dibingkai oleh kesamaan hobi dan kesamaan orientasi kegiatan.

Interaksi yang dilakukan remaja bukan hanya antarbudaya, akan tetapi juga antargender
dan antarkelas. Pola-pola interaksi yang dikembangkan dalam kelompok sesuai dengan
kondisi lingkungannya, sehingga dalam interaksi kelompok, remaja akan mendapatkan
pengalaman melalui pengembangan orientasi terhadap orang lain. Interaksi dalam
kelompok dengan tingkat frekuensi dan kohesivitas yang cukup tinggi akan menimbulkan
ikatan emosi. Saling keterikatan ini memudahkan anggota kelompok untuk saling
mempengaruhi, karena antar anggota kelompok akan dapat memberikan saran untuk
pemecahan masalah dengan jalan memberikan keleluasaan bagi anggotanya untuk
mencurahkan perasaan khawatir, marah, dan ketakutan dengan permasalahannya.
Ermanda Saskia MS

165120207111071

Makalah ini menganggap konstruktivisme alternatif sebagai kemungkinan titik


awal teoritis mengenai pendidikan sebagai faktor komunikasi antarbudaya. Pentingnya
pendidikan sebagai faktor komunikasi antarbudaya telah didukung oleh hasil penelitian
empiris eksploratif, yang merupakan elemen ikatan semua refleksi dalam teks.
Pendekatan konstruktivis dalam pluralisme teoritis kontemporer telah membawa
pendekatan baru untuk penjelasan dan pemahaman proses dan fenomena di kedua fungsi
individu dan sosial individu.

Perubahan persepsi dari manusia, pendekatan yang berbeda untuk pengembangan


dan kemungkinan untuk mendidik potensi manusia, telah sangat dipengaruhi oleh bidang
pendidikan. Konsep-konsep pembangunan dan pendidikan yang seorang individu miliki
sangat berperan. Pendidikan memiliki peran khusus untuk bermain dalam konsep, karena
berpengaruh dalam potensi manusia untuk memperoleh kompetensi sebagai kemampuan
umum individu.

Kita sekarang akan beralih ke pendidikan sebagai faktor yang bisa membuat
langkah signifikan terhadap kemampuan individu untuk lebih memahami semua
kompleksitas dan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Hal ini lebih lanjut bisa
memberikan kontribusi untuk perjuangan melawan rasa tidak aman yang timbul dari
segala sesuatu yang telah disebutkan. Pendidikan merupakan titik referensi yang dapat
membantu seorang individu untuk menjadi warga negara yang bisa mengubah suatu hal,
mengingat bahwa tujuan pendidikan tidak untuk membuat seorang individu mirip dengan
orang lain, melainkan untuk memberikannya kemampuan untuk mewujudkan nilai atau
keberadaannya dan mencapai ekspresinya sendiri.

Komunikasi dan keterampilan self-reflektif saat ini dianggap sebagai kompetensi


kunci dari dialog antarbudaya dan integrasi dalam bingkai Eropa kontemporer dan lebih
luas. Salah satu pertanyaan penting pendidik kontemporer adalah bagaimana mereka
melihat model pendidikan yang efisien untuk masyarakat kontemporer ditandai dengan
perubahan yang cepat, dan untuk Eropa yang membuat langkah besar menuju integrasi
semakin dekat, sehingga membangun hubungan antarbudaya tertentu manusia . Dalam
konsep pendidikan seperti saat ini, kemampuan dan kesiapan individu untuk mengikuti
dan membimbing perubahan, serta kesiapan individu untuk memecahkan masalah realitas
pribadi dan sosial, mengantisipasi, antara lain terdiri dari: kompetensi komunikasi
antarbudaya, penekanan pada pendidikan yang akan memberikan kontribusi pada
pengembangan kapasitas untuk penentuan konstruktif terhadap pengembangan
kemampuan untuk mengembangkan hubungan yang sesuai dan dapat diterima terhadap
perbedaan dalam sensitivitas intensif untuk kepentingan orang lain, perbedaan yang tidak
harus menjadi penyebab konflik.

Banyak model pendidikan Eropa yang menekankan pentingnya penilaian kritis


sebagai prasyarat yang diperlukan untuk resolusi konflik, perilaku otonom individu di
dunia kontemporer, serta pertanda perkembangan penting, individu otonom dan
pendidikan. Hal itulah yang diharapkan dari pendidikan, yaitu untuk mendorong
pengembangan seperti refleksi individu, sehingga memungkinkan pengaruh warga pada
proses mencapai dan mengembangkan demokrasi. Pendidikan sebagai faktor komunikasi
antarbudaya dianggap sebagai kompetensi utama dari dialog antarbudaya. Oleh karena
itu, akan signifikan untuk mempelajari kompetensi untuk komunikasi antarbudaya
sebenarnya dan untuk melangkah lebih jauh dalam pertimbangan peran pendidikan dalam
penyediaan kompetensi dialog antarbudaya tersebut. Hal ini tentu akan menjadi pedoman
tindakan praktis untuk dilakukan dalam membuat kurikulum yang lebih modern dan
memperhatikan aspek-aspek lain dari perawatan pendidikan.

Menurut sudut pandang yang ditawarkan dalam teks di atas, apa yang harus
menjadi sangat penting adalah sistem nilai-nilai tersebut, seperti yang telah disebutkan,
merupakan titik orientasi, tujuan, makna dalam hidup, membimbing dan mengarahkan
hidup sekaligus menciptakan dan membimbing kompetensi tersebut, atau sebaliknya.

Aprillia Permatasari

165120200111048

Hambatan Komunikasi Antar Budaya Antara Staf Marketing Dengan Penghuni


Berkewarganegaraan Australia dan Korea Selatan di Apartemen X Surabaya

Dalam Jurnal ini dibahas mengenai hambatan komunikasi antar budaya yang
memiliki perbedaan identitas yakni antara Staf Marketing Dengan Penghuni
Berkewarganegaraan Australia dan Korea Selatan di Apartemen X Surabaya. Penulis
berupaya menganalisa factor-faktor yang mempengaruhi keefektifitas komunikasi serta
hambatan yang ada. Dalam jurnal ini, penulis melakukan observasi dan menemukan
bahwa Apartemen X Surabaya, memiliki tingkat penghunian sekitar 90%, 20% berasal
dari golongan pelajar local, 45% berasal dari golongan eksekutif local, dan 25% lagi
merupakan penghuni yang berasal dari luar Indonesia. Uniknya beberapa penghuni asing
yangtinggal di Apartemen X tidak menguasai Bahasa Indonesia sama sekali. Dan
ironisnya, tidak semua staf Marketing dibekali dengan kemampuan berbahasa asing
dengan baik, sehingga ketika mereka berhadapan dengan tamu asing yang mencari
informasi mengenai apartemen, mereka tidak mampu mengatasinya dengan baik serta
terkadang menggunakan Bahasa isyarat seperti menunjuk, menggelengkan kepala, tanpa
disertai informasi lisan yang jelas.

Penulis menyatakan bahwa Indonesia memiliki budaya konteks tinggi, sedangkan


Australia memiliki budaya konteks rendah. Perbedaan ini terlihat dari bagaimana
masyarakat Indonesia cenderung berbicara secara tidak langsung, sedangkan Australia
terbiasa dengan berbicara secara to the point. Berbeda pula dengan warga asal Korea
Selatan yang masih memiliki kemampuan berbahasa Indonesia walaupun hanya sedikit.
Penulis juga mebahas mngenai adanya persepsi yang mungkin berbeda antara staf
Marketing dan klien asing. Hal ini tentu disebabkan oleh adanya perbedaan identitas
budaya yang dimiliki. Penulis beranggapan bahwa persepsi merupakan salah satu factor
yang dapat menimbulkan hambatan dalam komunikasi antar budaya, tapi tentu saja ada
factor lainnya, seperti motivasi, pengalaman, Bahasa, dan nonverbal.

Dalam jurnal ini dijelaskan dalam buku Intercultural Bussiness Communication,


Chaney dan Martin (2004) mengungkapkan bahwa: hambatan komunikasi atau
communication barrie adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya
komunikasi yang efektif. Perbedaan budaya sendiri merupakan salah satu factor
penghambat dalam komunikasi antar udaya, karenanya hambatan tersebut juga sering
disebut sebagai hambatan komunikasi antar budaya, sebagai hambatan dalam proses
komunikasi yang terjadi karena adanya perbedaan budaya antara komunikator dan
komunikan. Adapun factor hambatan komunikasi antar budaya yang sering terjadi antara
lain: fisik, budaya, persepsi, motivasi, pengalaman, emosi, Bahasa (verbal), nonverbal,
kompetisi (p. 11).
Dalam jurnal berikut maka diketahui bahwa hambatan yang terjadi dalam kasus
ini disebabkan oleh beberapa factor. Pada komunikasi yang terjalin antara Boy (Staf
Marketing) dan John (Klien asal Australia) factor penghambat komunikasi antar budaya
yang ada yakni berupa factor fisik, budaya, persepsi, motivasi, pengalaman, Bahasa, dan
factor kompetisi tanpa adanya factor emosi dan nonverbal. Sedangkan pada komunikasi
yang terjalin antara Boy (Staf Marketing) dan Yoon (Klien asal Korea Selatan) factor
penghambat komunikasi antar budaya yang ada yakni berupa factor fisik, budaya,
persepsi, motivasi, pengalaman, bahasa, kompetisi, emosi dan nonverbal. Hal ini
disebabkan karena pada dasarnya budaya konteks tinggi lebih menekankan komunikasi
nonverbal, dan factor lain yang menjadi penyebab adalah karena sifat dasar Yoon yang
lebih mudah emosi dan terbawa suasana dibandingkan dengan John.

Rafif Aliyyunanda
165120207111022

Jurnal ini adalah sebuah realita yang terjadi pada kehidupan manusia di Indonesia.
Khususnya di era Globalisasi ini, kehidupan bermasyarakat di Indonesia, pertemuan
antarbudaya menjadi sesuatu yang hampir tidak bisa dielakkan. Banyaknya orang
asing yang berdatangan di Indonesia membuatkeberagaman Indonesia semakin
besar.

Komunikasi antarbudaya diperlukan karena adanya perbedaan kultur dan orang-


orang dari kultur yang berbeda akan mempunyai cara yang berbeda pula dalam
berinteraksi dengan orang lain, akan tetapi perbedaan kultur tersebut diharapkan tidak
sebagai faktor penghambat dalam proses interaksi pada budaya yang berbeda.
Penulis menyebutkan bahwa Surakarta atau Solo merupakan salah satu kota di Provinsi
Jawa tengah yang terkenal akan kekentalan kebudayaan jawa dan masyarakatnya yang
ramah. Meskipun terkenal akan kekentalan budaya jawa di dalamnya, namun di
Surakarta juga terdapat keberagaman etnik, agama, dan lainnya. Keberagaman di
Surakarta tidak menjadikannya sebagai kendala pada sistem kehidupan di Surakarta,
malah menjadikannya sebagai sebuah daya tarik tersendiri bagi kota Surakarta. Warga
Negara Asing adalah salah satu contoh subjek yang tertarik akan budaya dan
keberagaman yang terdapat di Surakarta. Mereka mengunjungi kota Surakarta baik
dalam rangka hanya sekedar liburan, penasaran dengan kota Surakarta, ingin tahu
budaya Jawa yang ada di Surakarta, hingga studi tentang kebudayaan Indonesia di
Surakarta.
Terdapat mahasiswa asing dari berbagai macam Negara yang melakukan studi di
berbagai Universitas di Surakarta untuk mempelajari seni dan budaya Indonesia baik
melalui jalur mandiri ataupun program beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia.
Perbedaan budaya antara mahasiswa lokal dan masyarakat Surakarta dengan mahasiswa
asing yang ada di Surakarta mengakibatkan terjadinya komunikasi antarbudaya diantara
mereka ketika sedang berinteraksi. Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam
berkomunikasi dan berinteraksi dalam budaya yang berbeda. Perbedaan latar belakang
budaya memiliki pengaruh kuat terhadap munculnya kecemasan dan ketidakpastian
yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman yang menjadi kendala dalam proses
adaptasi dalam komunikasi antarbudaya.
Kompetensi komunikasi antarbudaya merupakan salah satu aspek penting dalam proses
adaptasi. Keberhasilan adaptasi seseorang, tergantung pada seberapa fungsional
kompentensi antarbudaya yang dimiliki dan strategi akomodasi melalui
komunikasi yang dapat mengarah pada komunikasi antarbudaya yang efektif
Mapping

Dimas Bayu Kresna Murti


165120201111016

Judul Komunikasi Bisnis Antarbudaya dalam Era


Globalisasi

Nama Jurnal/indeks Syam. Nina W. Komunikasi Bisnis


Antarbudaya dalam Era Globalisasi. (2000).
Mediator, Vol. 1, No. 1. 41-46.

Penulis Nina W. Syam

Rumusan masalah/fokus penelitian Masalah hambatan budaya dalam perdagangan


internasional pada era globalisasi dengan
Jepang sebagai studi kasus

Jabaran Konsep/ teori yang digunakan

Metode Penelitian Paradigma:


-paradigma -Interpretatif.
-pendekatan
Pendekatan:
-teknik pengambilan sampel
-Kualitatif.
-variabel, sub variable, indicator
-teknik analisis data Teknik Analisis Data
-quality criteria/validity reliability -Studi literature dengan pendekatan modus
analisis hermeutik pada setiap literature yang
dianalisis.

Validity-reliabilty:
-Validitas dan reliabilitas dari literature
dilengkapi daftar pustaka yang dapat
dipertanggungjawabkan

Hasil temuan/pembahasan Studi kasus tentang kegagalan Amerika Serikat


dalam membuka jalur perdagangan dengan
Jepang yang disebabkan oleh kesalahpahaman
Amerika Serikat terhadap budaya komunikasi
bisnis khas Jepang. Penulis menyarankan
Indonesia yang membuka jalur perdagangan
internasional untuk menjadikan Jepang sebagai
contoh; yaitu dengan menghimpun dan
menguasai informasi dalam aspek kebudayaan
demi kelancaran berdagang secara
internasional.

Kesimpulan, kecenderungan arah riset

Tabel Mapping

Vizziah Nabiilah
165120201111063

Judul Pengembangan Identitas Remaja Transmigan


Jawa di Lampung Melalui Pertemanan antar
Budaya di Sekolah

Nama Jurnal/indeks Aryanti, Yudha Nina. (2014). Pengembangan


Identitas Remaja Transmigan Jawa di Lampung
Melalui Pertemanan antar Budaya di Sekolah.
Jurnal Kajian Komunikasi, 2(1), 93-104.

Penulis Nina Yudha Aryanti

Rumusan masalah/fokus penelitian bagaimana remaja transmigran Jawa


mengembangkan identitas diri dan etniknya
pada konteks pertemanan antar budaya di
sekolah dalam latar budaya majemuk?

Tujuan Penelitian untuk menjelaskan dan menganalisa


pertemanan lintas budaya remaja di sekolah
yang berperan dalam pengembangan identitas
diri dan etnik remaja transmigran Jawa di
Lampung.

Jabaran Konsep/ teori yang digunakan Menggunakan apa yang dikatakan oleh Kelly
dan Hansen dengan fungsi pertemanannya
yaitu: (1) teman dapat mengontrol impuls
positif; (2) teman memberikan dukungan
emosional dan sosial, yang menjadikan remaja
lebih mandiri dan mengurangi ketergantungan
pada keluarga; (3) pertemanan dapat
meningkatkan keterampilan sosial,
mengembangkan kemampuan penalaran dan
belajar mengekspresikan perasaan dengan cara
yang lebih matang; (4) dalam pertemanan,
remaja dapat mengembangkan sikap, tingkah
laku dan peran terhadap seksualitas untuk
menjadi laki-laki dan perempuan muda; (5)
pertemanan dapat memperkuat penyesuaian
dan membantu mengevaluasi moral serta nilai-
nilai yang diterima, sehingga remaja dapat
mengembangkan kemampuan penalaran dan
moralnya; (6) pertemanan dapat meningkatkan
harga diri remaja untuk dapat menjadi individu
yang disukai oleh teman-temannya.

Metode Penelitian Paradigma:


-paradigma -Interpretatif.
-pendekatan
Pendekatan:
-teknik pengambilan sampel
-Kualitatif.
-variabel, sub variable, indicator
-teknik analisis data Teknik Analisis Data
-quality criteria/validity reliability -observasi partisipan dan wawancara
mendalam terhadap remaja dan teman beda
budayanya.

Validity-reliabilty:
-Validitas dan reliabilitas dari literature
dilengkapi daftar pustaka yang dapat
dipertanggungjawabkan,melakukan ketekunan
pengamatan, perpanjangan waktu observasi
dan triangulasi

Hasil temuan/pembahasan Berdasarkan hasil klarifikasi melalui


wawancara, dua kondisi yang kontradiktif ini
terjadi karena pertama, remaja yang bersifat
superior konfromis cenderung
mengembangkan cara berkomunikasi yang
lugas merasa diberi kebebasan untuk bisa lebih
adaptif dengan mitra komunikasi. Dihadapkan
pada teman yang beretnik Bugis atau Lampung
(yang cenderung berkomunikasi secara lugas)
menempatkan remaja transmigran Jawa merasa
tidak sungkan jika terjadi salah pengucapan.
Justru penguasaan remaja terhadap beberapa
kosa kata, bukan hanya menunjukkan
kedekatan, akan tetapi dalam beberapa situasi
peneliti menjumpai kondisi ini digunakan oleh
remaja transmigran Jawa untuk memaksa
secara halus mitra interaksinya untuk
mengikuti maunya. Contohnya, remaja
transmigran Jawa menggunakan kata mandre
(bahasa Bugis: makan) dalam logat Jawa untuk
membujuk temannya yang beretnik Bugis agar
mau menemaninya ke kantin. Dalam beberapa
situasi, cara ini terbukti efektif. Terkonfirmasi
dengan teman remaja beretnik bugis,
penggunaan kata mandre membuatnya merasa
tidak tega, bukan hanya karena temannya yang
lapar, akan tetapi tidak tega karena upaya
menggunakan bahasa bugis dimaknainya
sebagai kedekatan yang harus diperhatikan
secara khusus. Didukung data hasil penelitian,
remaja superior-konfromis cenderung memilih
teman beretnik Bugis atau Lampung karena
merasa nyaman berinteraksi secara lugas.

Kedua, remaja yang bersifat kompromis


inferior, biasanya mengembangkan cara
berkomunikasi secara tidak lugas, yang
cenderung memiliki rasa tidak nyaman jika
salah untuk menggunakan bahasa etnik
temannya (non Jawa) dalam interaksi. Cara
komunikasi yang tidak lugas ini justru tidak
memberikan keleluasaan dan keberanian
remaja transmigran jawa untuk menggunakan
bahasa temannya (non Jawa) dalam interaksi.
Kondisi ini memunculkan mekanisme
kompromi / adaptasi dalam interaksi, yaitu
teman remaja Jawa menggunakan kata /
kalimat dalam bahasa Jawa. Terkonfirmasi
dalam wawancara, teman remaja transmigrasi
Jawa yang beretnik Bali bisa menguasai bahasa
Jawa karena terdapat beberapa persamaan kosa
kata dan remaja Bali ini tinggal di lingkungan
etnik Jawa. Kondisi ini juga terjadi pada
interaksi remaja transmigran jawa dengan
temannya yang beretnik Sunda. Kondisi ini
mempertegas hasil penelitian sebelumnya,
bahwa remaja transmigran Jawa cenderung
memilih teman yang memiliki cara
berkomunikasi yang sama. Lebih lanjut
dinyatakan bahwa teman remaja transmigran
Jawa yang beretnik Bali san Sunda sama-sama
mengembangkan sikap komunikasi yang tidak
lugas

Kesimpulan, kecenderungan arah riset Hasil penelitian menunjukkan bahwa


pengembangan diri remaja transmigran Jawa
dalam pertemanan antarbudaya di sekolah
didasarkan pada sepuluh tema utama, yaitu
terdapat (1) eman alasan memilih teman, (2)
tiga konteks interaksi; (3) lima tema interaksi;
(4) empat belas motivasi dan tujuan interaksi;
(5) dua tipe motif interaksi; (6) dua situasi
interaksi; (7) dua sikap yang dikembangkan,
(8) tiga bahasa yang digunakan dalam
interaksi, (9) dua cara berkomunikasi; dan (10)
tiga identitas diri yang dimunculkan dalam
pertemanan di sekolah. Pengembangan
identitas etnik remaja transmigran Jawa dalam
pertemanan antarbudaya di sekolah dapat
dikenali dari sikap yang dikembangkan dalam
interaksi. Remaja transmigran Jawa yang
kompromis inferior memiliki cara adaptasi
dalam pertemanan antar budaya yang berbeda
dengan remaja transmigran Jawa yang
kompromis-superior. Pengembangan identitas
etnik remaja transmigran Jawa dalam
pertemanan antarbudaya di sekolah berada
dalam tahapan unexamined identity, dan
pertemanan remaja transmigran Jawa di
sekolah belum memberikan kontribusi yang
maksimal dalam pengembangan identitas etnik.
Penelitian ini memberikan saran bahwa:
mengingat pentingnya identitas diri dan
identitas etnik dalam interaksi sosial, maka
perlu dikaji tentang kompetensi remaja, orang
tua, keluarga dan masyarakat terhadap budaya
rujukan penentu identitas etnik. Hal ini
didasarkan pada minimnya pengetahuan dan
pengalaman budaya remaja transmigran Jawa
yang dijadikan rujukan dalam interaksi sosial.
Mapping

Ermanda Saskia MS

165120207111071

Judul Education As A Factor of Intercultural


Communication

Nama Jurnal/indeks Gojkov, Grozdanka. (2011) Education As A


Factor of Intercultural Communication. CEPS
Journal 1, Vol. 2, S. 87-104.
Penulis Grozdanka Gojkov

Rumusan masalah/fokus penelitian Seberapa pentingkah peran pendidikan dalam


mempengaruhi komunikasi antarbudaya?

Tujuan Penelitian Untuk mengetahui seberapa penting peran


pendidikan sebagai salah satu faktor dalam
mempengaruhi komunikasi antarbudaya

Jabaran Konsep/ teori yang digunakan Teori Konstruktivisme.

Karena isi penelitian ini sebenarnya bukan


merupakan gagasan yang baru, melainkan
merupakan himpunan dan pembinaan
pengalaman demi pengalaman.

Metode Penelitian Paradigma:


-paradigma - Interpretatif.
-pendekatan
Pendekatan:
-teknik pengambilan sampel
- Kualitatif.
-variabel, sub variable, indicator
-teknik analisis data Teknik Pengambilan Sampel:
-quality criteria/validity reliability
- Observasi, Studi Kasus, Literature Review
Teknik Analisis Data
- Studi literature dengan pendekatan modus
analisis hermeutik pada setiap literature yang
dianalisis.

Validity-reliabilty:
- Validitas dan reliabilitas dari literature
dilengkapi daftar pustaka yang dapat
dipertanggungjawabkan

Hasil temuan/pembahasan Pendidikan merupakan salah satu faktor


dala komunikasi antarbudaya yang dianggap
sebagai kompetensi utama dari dialog
antarbudaya. Oleh karena itu, akan signifikan
untuk mempelajari kompetensi untuk
komunikasi antarbudaya sebenarnya dan untuk
melangkah lebih jauh dalam pertimbangan
peran pendidikan dalam penyediaan
kompetensi dialog antarbudaya tersebut. Hal
ini tentu akan menjadi pedoman tindakan
praktis untuk dilakukan dalam membuat
kurikulum yang lebih modern dan
memperhatikan aspek-aspek lain dari
perawatan pendidikan.

Kesimpulan, kecenderungan arah riset Menurut sudut pandang yang


ditawarkan dalam teks di atas, kecenderungan
arah risetnya adalah untuk membimbing dan
mengarahkan khalayak untuk menyadari akan
pentingnya pendidikan dalam proses
kehidupan, khususnya dalam berkomunikasi
antarbudaya.
Tabel Mapping

Aprillia Permatasari

165120200111048

Judul Hambatan Komunikasi Antar Budaya Antara


Staf Marketing Dengan Penghuni
Berkewarganegaraan Australia dan Korea
Selatan di Apartemen X Surabaya

Nama Jurnal/indeks Jurnal E-Komunikasi, Program Studi Ilmu


Komunikasi, Universitas Kristen Ptra,
Surabaya

Penulis Alvin Sanjaya

Rumusan masalah/fokus penelitian Bagaimana remaja transmigran Jawa


mengembangkan identitas diri dan etniknya
pada konteks pertemanan antar budaya di
sekolah dalam latar budaya majemuk?

Tujuan Penelitian Untuk menjelaskan dan menganalisa faktor


penyebab Hambatan Komunikasi Antar
Budaya Antara Staf Marketing Dengan
Penghuni Berkewarganegaraan Australia dan
Korea Selatan di Apartemen X Surabaya

BJabaran Konsep/ teori yang digunakan Hambatan komunikasi atau communication


barrie adalah segala sesuatu yang menjadi
penghalang untuk terjadinya komunikasi yang
efektif. Perbedaan budaya sendiri merupakan
salah satu factor penghambat dalam
komunikasi antar budaya, karenanya hambatan
tersebut juga sering disebut sebagai hambatan
komunikasi antar budaya, sebagai hambatan
dalam proses komunikasi yang terjadi karena
adanya perbedaan budaya antara komunikator
dan komunikan. Adapun factor hambatan
komunikasi antar budaya yang sering terjadi
antara lain: fisik, budaya, persepsi, motivasi,
pengalaman, emosi, Bahasa (verbal),
nonverbal, kompetisi (Martin, 2004, P.11).

Metode Penelitian Paradigm:


-paradigma
- Positivistik
-pendekatan
-teknik pengambilan sampel Pendekatan:
-variabel, sub variable, indicator
- Kualitatif
-teknik analisis data
-quality criteria/validity reliability Teknik Pengambilan Sampel/informan:

- Wawancara, Observasi, Studi Kasus

Teknik Analisis Data:

- Terdapat beberapa tahap analisis data


yaitu: yang pertama, peneliti
menempatkan kejadian-kejadian (data)
ke dalam kategori-kategori. Kategori-
kategori tersebut harus dapat
diperbandingkan satu dengan yang
lainnya. Yang kedua, peneliti
mempeluas kategori sehingga didapat
kategori data yang murni dan tidak
tumpeng tindih satu dengan yang
lainnya. Lalu berikutnya, peneliti
mencari hubungan antar kategori. Dan
yang terakhir, peneliti
menyederhanakan dan
mengintegrasikan data ke dalam
struktur teoretid yang koheren (masuk
akal, saling berlengketan atau bertalian
secara logis) (Kriyantono, 2006, p.
192).

Validity-reliability

- Validitas dan reliabilitas sesuai dengn


hasil pengambilan data melalui
observasi secara langsung dan berdasar
literature yang dapat
dipertanggungjawabkan
Hasil temuan/pembahasan Hambatan komunikasi antar budaya konteks
tinggi ketika dihadapkan dengan budaya
konteks rendah cenderung melibatkan faktor
fisik, budaya, persepsi, motivasi, bahasa dan
pengalaman. Sedangkan hambatan komunikasi
antar budaya konteks tinggi dengan budaya
konteks tinggi melibatkan keseluruhan factor
yang sama hanya saja terdapat factor lain yakni
emosi, dan non verbal.

Kesimpulan Terdapat perbedaan factor penghambat dalam


komunikasi antar budaya yang terjalin antara
budaya konteks tinggi dan konteks rendah.
Pada komunikasi yang terjalin antara Boy (Staf
Marketing) dan John (Klien asal Australia)
factor penghambat komunikasi antar budaya
yang ada yakni berupa factor fisik, budaya,
persepsi, motivasi, pengalaman, Bahasa, dan
factor kompetisi tanpa adanya factor emosi dan
nonverbal. Sedangkan pada komunikasi yang
terjalin antara Boy (Staf Marketing) dan Yoon
(Klien asal Korea Selatan) factor penghambat
komunikasi antar budaya yang ada yakni
berupa factor fisik, budaya, persepsi, motivasi,
pengalaman, bahasa, kompetisi, emosi dan
nonverbal. Hal ini disebabkan karena pada
dasarnya budaya konteks tinggi lebih
menekankan komunikasi nonverbal, dan factor
lain yang menjadi penyebab adalah karena sifat
dasar Yoon yang lebih mudah emosi dan
terbawa suasana dibandingkan dengan John.

Tabel Mapping

Rafif Aliyyunanda

165120207111022

Judul Komunikasi Antar Budaya Mahasiswa Asing (Studi


Tentang Kecenderungan-kecenderungan
Komunikasi Antarbudaya Yang Berkembang Di
Kalangan Mahasiswa Asing Di Surakarta)

Nama Jurnal/indeks Jurnal E-Komunikasi, Program Studi Ilmu


Komunikasi, Universitas Sebelas Maret

Penulis Yhoga Rizky Kristanto

Rumusan masalah/fokus penelitian Bagaimana kecenderungan mahasiswa asing di


Surakarta dalam beradaptasi dengan
lingkungan barunya?

Tujuan Penelitian Untuk mengetahui bagaimana proses adaptasi


mahasiswa asing di Surakarta dalam beradaptasi
dengan lingkungan barunya
Jabaran Konsep/ teori yang digunakan Hambatan komunikasi atau communication
barrie adalah segala sesuatu yang menjadi
penghalang untuk terjadinya komunikasi yang
efektif. Perbedaan budaya sendiri merupakan
salah satu factor penghambat dalam
komunikasi antar budaya, karenanya hambatan
tersebut juga sering disebut sebagai hambatan
komunikasi antar budaya, sebagai hambatan
dalam proses komunikasi yang terjadi karena
adanya perbedaan budaya antara komunikator
dan komunikan. Adapun factor hambatan
komunikasi antar budaya yang sering terjadi
antara lain: fisik, budaya, persepsi, motivasi,
pengalaman, emosi, Bahasa (verbal),
nonverbal, kompetisi (Martin, 2004, P.11).

Metode Penelitian Paradigm:


-paradigma
- Positivistik
-pendekatan
-teknik pengambilan sampel Pendekatan:
-variabel, sub variable, indicator
- Kualitatif
-teknik analisis data
-quality criteria/validity reliability Teknik Pengambilan Sampel/informan:

- Wawancara, Observasi,

Teknik Analisis Data:

- Hal yang dialami oleh mahasiswa asing


Surakarta terkait pandangan stereotipik
dan kesan diskriminasi dalam berinteraksi
dengan penduduk setempat merupakan
perwakilan dari sejumlah stereotipik
budaya yang digunakan orang ketika
membicarakan kelompok budaya lain.
Peoples dan Bailey (2009: 95)
mengungkapkan bahwa setiap masyarakat
memiliki stereotip mengenai anggota, etika,
dan kelompok rasial dari masyarakat yang
lain

Validity-reliability

- Validitas dan reliabilitas sesuai dengn


hasil pengambilan data melalui
observasi secara langsung dan berdasar
literature yang dapat
dipertanggungjawabkan
Hasil temuan/pembahasan
Ketika masa adaptasi budaya dilakukan,
secara bersamaan juga dilakukan proses
akulturasi budaya. Akulturasi budaya adalah
menemukan hubungan interpersonal, efek dari
kontak budaya, dan proses penyesuaian diri
seseorang terhadap budaya baru. Identifikasi
budaya, pertemanan antarbudaya, dan
keterlibatan dalam suatu budaya merupakan
faktor-faktor yang memiliki kontribusi pada
adaptasi. Menurut Young Yun Kim proses
adaptasi silang budaya meliputi : (1)
dekulturasi dan akulturasi, (2) dinamika
tekanan-adaptasi- pertumbuhan, (3)
transformasi interkultural. Menurut Carley H.
Dodd (1998: 9), lebih dari sekedar perbedaan
bahasa, budaya dan interpersonal, adal
sejumlah faktor-faktor konflik yang
mempengaruhi hubungan antarbudaya.
Kebanyakan ahli setuju, bahwa salah
pengertian mengenai ekspektasi budaya
merupakan latar belakang munculnya
sejumlah konflik. Dengan mengidentifikasi
konflik-konflik budaya, akan dapat
meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan
diri dalam berkomunikasi.

Kesimpulan
Bertolak dari hasil data serta analisis
sebagaimana telah dikemukakan pada bagian
sebelumnya, penelitian ini berkesimpulan
bahwa jalinan komunikasi antarbudaya yang
terjadi antara mahasiswa asing di Surakarta
dengan penduduk setempat cenderung
ditandai oleh empat persoalan pokok yaitu :
(1) kecenderungan cara beradaptasi, (2)
persoalan bahasa, (3) pandangan stereotipik
dan kesan terdiskriminasi, dan (4) upaya
mahasiswa asing dalam menyelesaikan
konflik yang terjadi. Jalinan komunikasi
antarbudaya yang berkembang diantara
mahasiswa asing yang sedang belajar dan atau
bermukim di Surakarta dengan penduduk
setempat ditandai oleh beberapa
kecenderungan dalam berinteraksi dengan
penduduk dan lingkungan setempat yakni
terlibat dalam budaya baru, melakukan
akulturasi, menghadapi persoalan bahasa,
munculnya pandangan stereotipik dan kesan
diskriminasi, serta upaya penyelesaian konflik
yang cenderung dilakukan dengan cara win &
win solution.