Anda di halaman 1dari 40

MAKALAH

ANGKA KECUKUPAN GIZI (AKG) / RECOMMENDED DIETARY


ALLOWANCES (RDA)

(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar Ilmu Gizi Kesehatan
Masyarakat Kelas D)

Senin, pukul 16.10 – 18.50 WIB Ruang Kuliah 4

Dosen Pengampu:
Ninna Rohmawati, S.Gz.,M.PH

Disusun Oleh
Kelompok 1 :
Viula Trisna N. 152110101021 Aisyah Tri P. 172110101132
Lendi Etikawati 152110101126 Ilham Kemal F. 172110101166
Silvia Sugiatiningsih 152110101253 Intan Nur L. M. 172110101170
Itsnatur Rizkiyah A. 172110101024 Kurnia Suci P. 172110101181
Abdus Salam 172110101034
Andryana Martha F. 172110101059
Olivia Majestica 172110101096
Alvira Azizatur R. 172110101103

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JEMBER
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat


limpahanahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Angka Kecukupan Gizi / Recommended Dietary
Allowance (RDA)” dengan tepat waktu. Shalawat serta salam semoga selalu
tercurah pada baginda Rasulullah Muhammad SAW.
Tidak lupa penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, yaitu :
1. Ibu Ninna Rohmawati, S.Gz., M.PH selaku dosen pembibing yang telah
memberikan bimbingan dan dorongan kepada peulis sehingga tersusunlah
makalah ini.
2. Keluarga yang terus memberikan doa dan dukungan, serta
3. Rekan-rekan yang menempuh mata kliah Dasar Ilmu Gizi Kesehatan
Masyarakat yang telah memberikan dukungan moril.
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, baik dari segi
materi maupun penyajiannya. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat
diharapkan dalam penyempurnaan makalah ini dan semoga makalah ini dapat
memberikan tambahan wawasan bagi kita semua khususnya teman-teman
mahasiswa serta bisa menjadi bahan referensi untuk pembelajaran kita bersama.

Jember, 10 September2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

BAB 1. PENDAHULUAN .....................................................................................1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 2
1.3 Tujuan ............................................................................................................ 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................3

2.1 Konsep Gizi ................................................................................................... 3


2.2 Penetapan Angka Kecukupan Gizi ................................................................ 4
2.3 Dasar Perhitungan Angka Kecukupan Gizi ................................................... 4
2.4 Pedoman dan Rujukan Angka Kecukupan Gizi ............................................ 5
2.5 AKE, AKP, AKL, AKKH ............................................................................. 8
2.6 Masalah Gizi di Indonesia ........................................................................... 14
2.7 Penanggulangan Masalah Gizi di Indonesia ................................................ 19
BAB 3. PEMBAHASAN ......................................................................................21

3.1 Definisi Angka Kecakupan Gizi (AKG) ...................................................... 21


3.2 Komponen Angka Kecukupan Gizi ............................................................. 21
3.3 Penggunaan Angka Kecukupan Gizi ........................................................... 23
BAB 4 ANALISIS JURNAL ...............................................................................25

4.1 Analisis Jurnal 1........................................................................................... 25


4.2 Analisis Jurnal 2........................................................................................... 29
BAB 5 PENUTUP.................................................................................................35

5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 35


5.2 Saran ............................................................................................................ 35
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................36

iii
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Angka Kecukupan Gizi (AKG) atau Recommended Dietary
Allowances (DRA) merupakan kecukupan rata-rata zat gizi sehari bagi hampir
semua orang sehat (97,5%) menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh
aktifitas fisik, genetik dan keadaan fisiologis untuk mencapai derajat kesehatan
yang optimal. Di Indonesia, Angka Kecukupan Gizi (AKG) disusun dalam
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) setiap 5 tahun sekali sejak tahun
1978. AKG ini mencerminkan asupan rata-rata sehari yang dikonsumsi oleh
populasi dan bukan merupakan perorangan/individu. Berbeda dengan kebutuhan
gizi ( requirement), menggambarkan banyaknya zat gizi minimal yang diperlukan
oleh masing-masing individu sehingga ada yang rendah dan tinggi yang
dipengaruhi oleh faktor genetik. Kegunaan AKG yang dianjurkan adalah 1) untuk
menilai kecukupan gizi yang telah dicapai melalui konsumsi makanan bagi
penduduk. 2) untuk perencanaan dalam pemberian makanan tambahan maupun
perencanaan makanan institusi. 3) untuk perencanaan penyediaan pangan tingkat
regional maupun nasional. 4) Acuan pendidikan gizi; dan 5) Acuan label pangan
yang mencantumkan informasi nilai gizi.
Masalah gizi kurang (under nutrition) dan gizi lebih ( over nutrition ) saat
ini di Indonesia merupakan masalah yang sama-sama berbahaya. Apabila status
gizi ditinjau dari tinggi badan, sebanyak 25,8 persen anak balita Indonesia pendek
(SKRT 2004). Ukuran tubuh yang pendek ini merupakan tanda kurang gizi yang
berkepanjangan. Untuk masalah kelebihan gizi banyak terjadi di perkotaan yang
tingkat ekonominya tinggi, penyakit yang timbul adalah degeneratif karena pola
konsumsi makanannya kurang serat tetapi tinggi protein dan lemak (Supariasa,
2001).
Berdasarkan susenas tahun 2006 prevalensi status gizi kurang pada balita
20,1% pada tahun 1999, 19,08% pada tahun 2000, namun terjadi peningkatan
menjadi 21,1% pada tahun 2002, 20,59% pada tahun 2003 dan 21,5% pada tahun
2005 (Depkes RI. 2005). Kekurangan gizi pada anak akan mengakibatkan “Lost

1
Generation” atau generasi yang hilang yaitu generasi dengan IQ yang relatife
lebih rendah. Hal itu dikarenakan bahwa anak pra sekolah yang bergizi buruk
berisiko tinggi kehilangan sebagian potensinya untuk menjadi Sumber Daya
Manusia kelas satu karena menurunnya kemampuan intelektual anak (Soekirman,
2000) .

1.2 Rumusan Masalah


Apa yang dimaksud Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan apa saja
komponen serta penggunaan dari Angka Kecukupan Gizi (AKG)?

1.3 Tujuan
Mengetahui apa itu Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan apa saja
komponen serta penggunaan dari Angka Kecukupan Gizi (AKG).

2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1Konsep Gizi
Gizi adalah segala asupan yang diperlukan agar tubuh menjadi sehat. Gizi
diperoleh dari asupan makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak,
vitamin, dan mineral. Ada tiga macam kondisi dalam penilaian status gizi
(Kusumadewi, 2008):
1. Ditujukan untuk perorangan atau untuk kelompok masyarakat.
2. Pelaksanaan pengukuran satu kali atau berulang secara berkala.
3. Situasi dan kondisi pengukuran baik perorangan atau kelompok masyarakat
pada saat kritis, darurat, kronis, dan sebagainya.
Dengan memperhatikan ketiga macam kondisi tersebut, beberapa penilaian status
gizi dapat diaplikasikan, seperti penapisan (screening), penilaian status gizi
perorangan untuk keperluan rujukan dari kelompok masyarakat atau dari
puskesmas, dalam kaitannya dengan tindakan atau intervensi. Dapat pula
digunakan untuk keperluan pemantauan pertumbuhan anak, dalam kaitannya
dengan kegiatan penyuluhan. Selain itu dapat dimanfaatkan untuk penilaian status
gizi pada kelompok masyarakat dalam rangka mengevaluasi suatu program atau
sebagai bahan perencanaan atau penetapan kebijakan. Ada berbagai cara untuk
menilai status gizi, salah satunya adalah pengukuran tubuh manusia yang dikenal
dengan istilah “Antropometri”. Antropometri telah lama dikenal sebagai indikator
penilaian status gizi perorangan maupun kelompok. Pengukuran antropometri
dapat dilakukan oleh siapa saja dengan hanya memerlukan latihan yang cepat dan
sederhana. Beberapa macam antropometri yang telah digunakan antara lain:
1. Berat Badan (BB)
2. Tinggi Badan (TB)/Panjang Badan (PB)
3. Lingkar Lengan Atas (LLA)
4. Lingkar Kepala (LK)
5. Lingkar Dada (LD)
6. Lapisan Lemak Bawah Kulit (LLBK)

3
Di Indonesia, jenis antropometri yang banyak digunakan, baik dalam
kegiatan program maupun penelitian, adalah BB dan TB(Kusumadewi, 2008).

2.2 Penetapan Angka Kecukupan Gizi


Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1593/MENKES/SK/XI/2005 tentang angka kecakupan gizi yang dianjurkan bagi
bangsa Indonesia:
Pasal 1
Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia selanjutnya
disebut AKG adalah suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi semua
orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, aktifitas tubuh
untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.
AKG adalah jumlah zat-zat gizi yang hendaknya dikonsumsi tiap hari,
untuk waktu tertentu sebagai bagian dari diet normal rata-rata orang sehat. Oleh
sebab itu, perlu dipertimbangkan setiap faktor yang berpengaruh terhadap
absorpsi zat-zat gizi atau efisiensi penggunaannya di dalam tubuh.AKG yang
diajurkan didasarkan pada patokan berat badan untuk masing-masing kelompok
umur, gender, aktifitas fisik, dan kondisi fisiolgis tertentu seperti kehamilan
dan menyusui. Dalam penggunaannya, bila kelompok penduduk yang dihadapi
mempunyai rata-rata berat badan yang berbeda dengan patokan yang
digunakan, maka perlu dilakukan penyesuaian. Bila berat badan kelompok
penduduk tersebut dinilai terlalu kurus, AKG dihitung berdasarkan berat-badan
idealnya. AKG yang dianjurkan tidak digunakan untuk perorangan.

2.3 Dasar Perhitungan Angka Kecukupan Gizi


Dasar perhitungan dalam menyusun Angka Kebutuhan Gizi (AKG)
dilakukan dengan cara mematok berat badan untuk masing-masing kelompok
umur, gender, dan aktifitas fisik mayoritas pendudukan Indonesia dan merujuk
data Angka Kebutuhan Gizi (AKG) yang ditetapkan oleh badan kesehatan dunia
(WHO dan FAO) dengan menyesuaikan permasalahan gizi di Indonesia.
Penentuan besaran Angka Kecukupan Gizi (AKG) dipengaruhi oleh umur,
jenis kelamin, aktivitas, berat dan tinggi badan, genetika, serta keadaan hamil dan

4
menyusui.Dalam perhitungan angka kecukupan gizi yang dianjurkan sudah
diperhitungkan faktor variasi kebutuhan individual, dimana kebutuhan yang
dianjurkan sudah mencakup hampir 97,5 % populasi, dan untuk kecukupan
beberapa zat gizi seperti vitamin, mineral sudah diperhitungkan sampai cadangan
zat gizi dalam tubuh. Sehingga perhitungan kecukupan zat gizi sudah
memperhitungkan penambahan sebesar dua kali simpang baku (standar deviasi)
dari kebutuhan rata-rata penduduk yang sehat.
Dalam penggunaannya bila kelompok penduduk yang dihadapi mempunyai
rata-rata berat badan yang berbeda dengan patokan, maka perlu dilakukan
penyesuaian. Bila berat badan kelompok penduduk tersebut dinilai terlalu kurus,
maka AKG dihitung berdasarkan berat badan idealnya. AKG yang dianjurkan
tidak dipergunakan untuk perorangan atau individu, namun lebih menggambarkan
kelompok penduduk/masyarakat.

2.4 Pedoman dan Rujukan Angka Kecukupan Gizi


Pedoman pembentukan Angka Kebutuhan Gizi (AKG) ditetapkan dari
banyaknya kebutuhan faali rata-rata penduduk yang sehat dan mewakili tiap
golongan umur dan gender menurut kriteria yang telah ditetapkan. Untuk itu,
perlu diketahui perbedaan-perbedaan di dalam tiap golongan yang memungkinkan
perkiraan jumlah yang perlu ditambahkan pada kebutuhan rata-rata untuk
memenuhi kebutuhan sesungguhnya semua orang sehat. Karena alasan mahal dan
perlu waktu lama eksperimen tersebut tidak dilakukan, hanya digunakan perkiraan
kebutuhan dan variasinya berdasarkan informasi yang terbatas.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan AKG, seperti:
1. Adanya variasi individual masing-masing orang yang mempengaruhi utilisasi
zat gizi oleh tubuh
2. Adanya perbedaan komposisi zat gizi yang terkandung dalam setiap sumber
makanan
3. Adanya saling mempengaruhi antar zat gizi dalam tubuh
4. Adanya perubahan komposisi zat gizi akibat proses pemasakan, atau
pengolahan sampai makanan siap dikonsumsi.

5
Tabel 1. Angka Kecukupan Energi, Protein, Lemak, Karbohidrat, Serat, dan Air
yang dianjurkan untuk orang Indonesia (perorang / perhari)

6
Tabel 2. Angka Kecukupan Vitamin yang dianjurkan untuk orang Indonesia
(perorang / perhari)

7
Tabel 3. Angka Kecukupan Mineral yang dianjurkan untuk orang Indonesia
(perorang / perhari)

2.5 AKE, AKP, AKL, AKKH


Dalam pedoman AKG terdapat angka kecukupan beberapa zat gizi
seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Dalam pedoman tersebut juga terdapat
Angka Kecukupan Energi (AKE). Menurut Jauhari dan Nasution (2013), energi
diartikan sebagai suatu kapasitas untuk melakukan kegiatan. Energi diperoleh dari
asupan karbohidrat, lemak dan protein. Energi digunakan tubuh untuk melakukan
aktivitas fisik, mental, dan metabolisme berbagai sistem organ di dalam tubuh itu
sendiri
Merujuk pada definisi AKG, maka Angka Kecukupan Energi dapat
diartikan sebagai kecukupan rata-rata energi yang dibutuhkan setiap hari untuk
melakukan berbagai kegiatan. Berdasarkan Permenkes No. 75 Tahun 2013 pasal 4
bahwa rata-rata kecukupan energi bagi penduduk Indonesia sebesar 2150 kkal.
Namun demikian, dalam kebijakan sebelumnya berdasarkan WNPG dalam
Yuniastuti (2008), angka kecukupan energi rata-rata per kapita pada tingkat
konsumsi adalah 2000 kkal. Hal ini mengindikasikan bahwa kecukupan energi
bagi Bangsa Indonesia mengalami peningkatan. Angka kecukupan energi tiap
individu tidaklah sama. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain umur, jenis kelamin, aktivitas, tinggi badan dan berat badan.
Untuk mengetahui angka kebutuhan kecukupan energi tiap individu, dapat
menggunakan tabel AKG sebagai acuan. Berdasarkan penjelasan Yuniastuti
(2008), perhitungan kebutuhan energi bisa dengan bantuan tabel AKG yaitu

8
dengan cara penyesuaian perbedaan berat badan standar dalam AKG dengan berat
badan aktual, dilakukan berdasarkan rumus:

berat badan aktual


×AKG
berat badan standar

Keterangan:
Berat badan aktual = Berat badan berdasarkan penimbangan (kg)
Berat badan standar =Berat badan acuan yang tertera pada tabel AKG
AKG = Angka Kebutuhan gizi yang dianjurkan
Contoh: Seorang pria berusia 20 tahun memiliki berat badan 45 kg. Berapakah
kebutuhan energi pria tersebut , jika dalam tabel AKG berat badan
standar untuk pria berusia 20 tahun adalah 50 kg? (AKG energi : 2725
kkal).
berat badan aktual
Jawab: ×AKG
berat badan standar
45 𝑘𝑔
= × 2755 𝑘𝑘𝑎𝑙
50 𝑘𝑔

= 2479,5 kkal
Maka, jumlah energi yang dibutuhkan oleh pria tersebut adalah 2479,5 kkal/hari.

Selain dengan menggunakan tabel AKG untuk menentukan kebutuhan gizi


individu, juga bisa dengan menggunakan rumus angka metabolit basal (AMB).
Hal ini sesuai dengan penjelasan Jauhari dan Nasution (2013), bahwa
menentukan kecukupan energi juga bisa dengan menggunakan rumus AMB
dengan berpedoman pada tabel rumus FAO/WHO/UNU dan tabel menaksir
kebutuhan energi berdasarkan aktivitas.
Kelompok AMB (kkal/hari)
umur Laki-laki Perempuan
0-3 60,9 BB-54 61 BB- 51
3-10 22,7 BB + 495 22,5 BB+499
10-18 17,5 BB+ 651 12,2 BB+ 746

9
18-30 15,3 BB+ 679 14,7 BB+496
30-60 11,6 BB+ 876 8,7 BB+829
>60 13,5 BB+ 487 10,5 BB+596
Tabel rumus FAO/WHO/UNU
Keterangan :
BB = Berat Badan aktual (kg)
Aktivitas Gender
Laki-laki Perempuan
Sangat ringan 1,30 1,30
Ringan 1,65 1,55
Sedang 1,76 1,70
Berat 2,10 2,00
Tabel menaksir kebutuhan energi berdasarkan aktivitas
Contoh : Seorang pria berusia 20 tahun memiliki berat badan 45 kg dengan
kategori aktivias sedang. Berapakah kebutuhan energi pria tersebut ?
Jawab : AMB = 15,3 BB+ 679
= 15,3 (45) + 679
= 1367,5 kkal
Kalikan nilai AMB dengan kelipatan yang sesuai dengan kategori
aktivitas, dalam hal ini sedang.
Kebutuhan energi = 1,76 x 1367,5 kkal
= 2406, 8 kkal
Perbedaan hasil pengukuran ini karena pada cara yang pertama
kebutuhan energi hanya dipengaruhi oleh berat badan dan standar yang digunakan
adalah AKG untuk orang Indonesia. Namun demikian pada cara yang kedua,
kebutuhan energi dipengaruhi oleh berat badan dan aktivitas serta standar yang
digunakan adalah standar internasional (FAO/WHO/UNU).
Dengan mengetahui pentingnya energi sebagai sumber kekuatan untuk
melakukan aktivitas, maka perlu diperhatikan juga asupan sumber energinya
seperti protein. Protein ini merupakan salah satu zat gizi makro yang sangat
berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan sel atau biasa disebut zat

10
pembangun. Setiap 1 gram protein dapat menghasilkan energi sekitar 4 kkal
(Jauhari dan Nasution, 2013).
Angka Kecukupan Protein (AKP) dapat diartikan sebagai rata-rata suatu
kecukupan konsumsi protein dalam setiap hari. Berdasarkan Permenkes No. 75
Tahun 2013 pasal 4 bahwa rata-rata kecukupan protein bagi penduduk Indonesia
sebesar 57gram per orang per hari. Namun demikian Nasional Research Council
of the national Academy of Sciences dalam Jauhari dan Nasution (2013)
menjelaskan bahwa kebutuhan protein pada orang dewasa sekitar 0,8gram/kg
berat badan/hari. Untuk mentukan angka kecukupan protein individu (kebutuhan
protein), terdapat dua cara yang bisa digunakan, yaitu:
1. Menggunakan tabel AKG
Rumus yang digunakan sama dengan rumus untuk menghitung AKE,
yaitu:
berat badan aktual
×AKG
berat badan standar

Contoh: Seorang pria berusia 20 tahun memiliki berat badan 45 kg.


Berapakah kebutuhan protein pria tersebut , jika dalam tabel AKG berat
badan standar untuk pria berusia 20 tahun adalah 50 kg? (AKG protein :
62 gram).
Jawab:
berat badan aktual
×AKG
berat badan standar
45 𝑘𝑔
= 50 𝑘𝑔 × 62 𝑔𝑟

= 55, 8 gram protein x 4 = 223,2 kkal


*CATATAN: 1 gram protein = 4 kkal; 1 gram lemak = 9 kkal; 1 gram karbohidrat = 4
kkal
2. Menggunakan perbandingan asupan
Menurut WHO dalam Jauhari dan Nasution (2013), kebutuhan protein
adalah 10-15% dari kebutuhan energi total. Jika kebutuhan energi
seseorang 2450 kkal maka energi yang hendaknya berasal dari protein
sebesar 245-368 kkal atau setara dengan 61-92 gram protein.
11
Pola konsumsi pangan harian yang dianjurkan sebaiknya memenuhi
keseimbangan rasio energi dari protein, lemak dan karbohidrat, atau yang biasa
disebut sebagai kisaran distribusi persentase energi dari zat gizi makro (Average
Macronutrients energy Distribution Range – AMDR). Secara umum pola
konsumsi pangan remaja dan dewasa yang baik adalah bila perbandingan
komposisi energi dari karbohidrat, protein dan lemak adalah 50-65% : 10- 20% :
20-30%. Komposisi ini tentunya dapat bervariasi, tergantung umur, ukuran tubuh,
keadaan fisiologis dan mutu protein makanan yang dikonsumsi. Pada bayi usia <
6 bulan, persentase energi dari protein sekitar 7% masih baik karena proteinnya
berasal dari ASI (ASI ekslusif) yang mutu proteinnya 100%. Lemak dikonsumsi
dalam bentuk lemak atau minyak yang tampak (seperti gajih, mentega, margarin,
minyak, santan dll) dan minyak yang tidak tampak (terkandung dalam makanan).
Lemak yang tampak dalam bentuk padat cenderung mengandung lebih banyak
asam lemak jenuh. Menurut Simopoulus et al. (2000) proporsi lemak jenuh
(saturated fat) dan asam lemak trans masing-masing maksimal 8% dan 1% dari
energi total. Ini berarti bagi seorang remaja atau dewasa dengan kecukupan energi
2000 Kal, perlu membatasi konsumsi lemaknya pada 56 g/hari dan lemak jenuh
sekitar 18 g/hari. Untuk mengetahui angka kecukupan lemak (AKL) dapat
menggunakan rumus berikut :

AKG lemak : *>19 tahun = 25% energi


AKG lemak : 25% x [kalori] / 9 kkal

*Kontribusi energi dari lemak sebaiknya sekitar 35% pada anak usia 1-3 tahun,
30% pada usia 4-18 tahun dan 25% pada orang dewasa

Contoh: Seorang pria berusia 20 tahun memiliki berat badan 45 kg. Berapakah
kebutuhan protein pria tersebut , jika dalam tabel AKG berat badan standar untuk
pria berusia 20 tahun adalah 50 kg? (Hasil AKE : 2479,5 kkal)

12
AKL : 25% x 2479,5 kkal / 9 kkal = 619,875 kkal / 9 kkal = 68,875 gram/hari
*CATATAN: 1 gram protein = 4 kkal; 1 gram lemak = 9 kkal; 1 gram karbohidrat = 4 kkal

Kecukupan energi, kecukupan karbohidrat seseorang dipengaruhi oleh


ukuran tubuh (berat badan), usia atau tahap pertumbuhan dan perkembangan, dan
aktifitas fisik. Ukuran tubuh dalam arti masa otot yang semakin besar dan aktifitas
fisik yang semakin tinggi berimplikasi pada kecukupan karbohidrat yang semakin
tinggi. Ada dua pendekatan untuk menghitung kebutuhan karbogidrat bagi setiap
kelompok umur dan jenis kelamin. Pertama didasarkan pada cara by difference.
Untuk menghitung kecukupan karbohidrat dilakukan by difference karena
kecukupann energi, protein dan lemak sudah diperoleh. Ini artinya kecukupan
karbohidrat dihitung dengan total kecukupan energi dikurangi total energi dari
kecukupan protein dan kecukupan lemak. Perhitungan kecukupan karbohidrat
dengan prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

AKG karbohidrat = AKE – AKP – AKL


Contoh : Seorang pria berusia 20 tahun memiliki berat badan 45 kg. Berapakah
kebutuhan protein pria tersebut , jika dalam tabel AKG berat badan standar untuk
pria berusia 20 tahun adalah 50 kg? (AKE = 2479,5 kkal ; AKP = 223,2 kkal ;
AKL = 619,875 kkal)
AKG Karbohidrat = 2479,5 – 223,2 – 619,875 = 1636,425 kkal

Dengan mengetahui angka kecukupan energi, protein, lemak, dan


karbohidrat diharapkan setiap individu dapat menghitung dan mengkonsumsi zat
gizi sesuai kebutuhan tubuhnya. Hal ini penting karena sangat berpengaruh
kepada kesehatan.
Menurut Yuniastuti (2008), kekurangan protein sering ditemukan
bersamaan dengan kekurangan energi yang menyebabkan kondisi yang
dinamakan marasmus. Marasmus adalah penyakit kelaparan dan terdapat banyak
di antara kelompok sosial ekonomi rendah di sebagian negara berkembang.
Gejalanya adalah pertumbuhan terhambat, lemak di bawah kulit berkurang, serta

13
otot-otot berkurang dan melemah.Marasmus pada umumnya merupakan penyakit
pada bayi karena terlambat diberi makanan pendamping. Penyakit ini dapat terjadi
karena penyapihan mendadak, formula pengganti ASI terlalu encer, dan tidak
higienis atau terkena infeksi.Marasmus berpengaruh jangka panjang terhadap
mental dan fisik yang sukar diperbaiki.
Dengan mengetahui angka kecukupan gizi terutama untuk bayi,
diharapkan asupan gizi terutama protein dapat dipenuhi karena hal ini memiliki
dampak yang besar dan berjangka panjang.
Kekurangan atau kelebihan zat gizi tidak berdampak baik bagi tubuh. Oleh
karena itu, konsumsi zat gizi dianjurkan sesuai atau tidak memiliki perbedaan
yang besar dengan angka kecukupan gizi. Angka kecukupan gizi bangsa Indonesia
yang dapat dijadikan acuan adalah AKG dalam Permenkes No. 75 Tahun 2013.

2.6 Masalah Gizi di Indonesia


Dalam pembangunan suatu bangsa pastinya membutuhkan sumber daya
manusia yang berkualitas yang sehat, cerdas, dan produktif. Pencapaian
pembangunan manusia yang diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
belum menunjukkan hasil yang menggembirakan dalam tiga dasawarsa terakhir.
Pada tahun 2003, IPM Indonesia masih rendah yaitu berada pada peringkat 112
dari 174 negara, lebih rendah dari negara-negara tetangga. Rendahnya IPM ini
sangat dipengaruhi oleh rendahnya status gizi dan status kesehatan penduduk.
(Prof. Dr. Azrul Azwar, 2004).
Indonesia sedang menghadapi masalah gizi ganda, yaitu masalah gizi
kurang dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang pada umumnya disebabkan
oleh :
1. Kemiskinan
2. Kurangnyapersediaan pangan
3. Kurang baiknya kualitas lingkungan (sanitasi)
4. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang, dan
kesehatan
5. Adanya daerah miskin gizi (iodium)

14
Masalah gizi dapat terjadi pada seluruh kelompok umur, bahkan masalah
gizi pada suatu kelompok umur tertentu akan mempengaruhi pada status gizi pada
periode siklus kehidupan berikutnya.

Gambar 1. Gizi Menurut Daur Kehidupan


a. MasalahGizi Kurang
1) Kurangnya Energi Protein
KEP disebabkan oleh kekurangan makan sumber energi secara
umum dan kekurangan sumber protein. Kekurangan protein pada anak-anak
dapat menyebabkan:
 Menghambat pertumbuhan
 Rentan terhadap penyakitterutamapenyakitinfeksi
 Rendahnyatingkat kecerdasan
Sedangkan padaorangdewasa, kekurangan protein dapat menyebabkan:
 Menurunkan produktivitas kerja
 Menurunkan derajat kesehatan
 Rentan terhadap penyakit
KEP berat pada orang dewasa yang dikenal sebagai honger
oedeem disebabkan oleh kelaparan, pada saat ini sudah tidak terdapat
lagi. KEP pada saat ini lebih terutama terdapat padaanak balita.

15
Tahun
No. StatusGizi
1989 1992 1995 1998 1999
Gizi Buruk
1. 6,30 7,23 11,56 10,57 8,11

Gizi
( <3.00SB) 31,17 28,34 20,02 19,00 18,25
2. Kurang
Gizi 61,67 63,17 65,21 67,33 69,06
3. Baik
(3,00-
Tabel 4. Status Gizi Balita Indonesia (dalam %)
2,00SB)
(2,00-
Pada +2,00SB)
umumnya KEP lebih banyak terdapat didaerah pedesaan
daripada di daerah perkotaan. Kurangnya pengetahuan masyarakat
mengenaimakanan pendamping ASI dan/atau pemberian makanan sesudah
bayi disapih serta tentang pemeliharaan lingkungan yang sehat. (Almatsier,
2004)
2) AnemiaGizi Besi (AGB)
Masalah anemia gizi di Indonesia terutama yang berkaitan
dengan kekurangan zat besi (AGB). Angka nasional prevalensi anemia gizi
besi baru dikumpulkan pada tahun 1989 melalui Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) untuk ibu hamil yaitu sebesar70%. Pada tahun 1992
prevalensi AGB pada ibu hamil sebesar 63,5% dan balita 55,5%.
No. Kelompok 1989 1992 1995
1. Balita - 55, 40,
2. UsiaSekolah - 5- 47,
5
3. 10-14tahun - - 57,
5
4. 15-44tahun - - 48,
5
5. 45-54tahun - - 48,
9
6. 55-64tahun - - 51,
9
7. >65tahun - - 57,
5
8. IbuHamil 70, 63, 50,
9
9. IbuMenyusui 0- 5- 45,
9
Tabel 5. Prevalensi AnemiaGizi Besi tahun1989, 1992, dan1995 (%)
1

16
Penyebab masalah AGB yaitu karena kurangnya daya beli masyarakat
untuk mengkonsumsi makanan sumber zat besi, terutama dengan ketersediaan
biologic tinggi (asal hewan), dan pada perempuan ditambah dengan
kehilangan darah melalui haid atau pada persalinan.
AGB menyebabkan penurunan kemampuan fisik atau produktivitas
kerja, penurunan kemampuan berpikir, dan penurunan antibody sehingga
mudah terserang infeksi. Penanggulangannya dilakukan melalui pemberian
tablet atau sirup zat besi kepada kelompok sasaran.
3) Gangguan Akibat KekuranganIodium(GAKI)
Kekurangan iodium terutama terjadidi daerah pegunungan, dimana tanah
kurang mengandung iodium. Daerah GAKI merentang sepanjang Bukit Barisan
di Sumatera, daerah pegunungan di Jawa, Bali, NTB, NTT.
Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Di daerah tersebut GAKI
terdapat secara endemik. GAKI tidak merupakan masalah kesehatan lagi
(TGR<5%)di 9propinsi, yaitu Riau, Jambi, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan
Sulawesi Utara. Propinsi selebihnya menunjukkan prevalensi GAKI
ringan (TGR 5%-19,9%).
Penanggulangan masalah GAKI secara khusus dilakukan melalui
pemberian kapsul minyak beriodium/iodized oil capsule kepada semua
wanita usia subur dan anak sekolah dasar didaerah endemik. Secara
umum pencegahan GAKI dilakukan melalui iodisasi garam dapur.
GAKI menyebabkan pembesaran kelenjar gondok (tiroid). Pada
anak-anak menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan jasmani,
maupun mental. Ini menampakkan diri berupa keadaan tubuh yang
cebol, dungu, terbelakang atau bodoh.

17
4) KurangVitamin A(KVA)
Kekurangan vitamin A yang menyebabkan kebutaan pada akhir
Pembangunan Jangka Panjang (PJP)I sudah hampir tidak adalagi. Atas
keberhasilan penanggulangan masalah KVA ini, pada tahun 1995
Indonesia mendapat penghargaan dari Yayasan Helen Keller
Internasional.
KVA dapat menyebabkan kebutaan, mengurangi daya tahan tubuh
sehingga mudah terserang infeksi, yang sering menyebabkan kematian
pada anak-anak. Penyebab masalah KVA adalah kemiskinan dan
kurangnya pengetahuan tentang gizi.
Penanggulangan masalah gizi kurang perlu dilakukan secara
terpadu antar departemen dan kelompok profesi melalui upaya-upaya
peningkatan pengadaan pangan, penganekaragaman produksi dan
konsumsi pangan, peningkatan status sosial ekonomi, pendidikan, dan
kesehatan masyarakat serta peningkatan teknologi hasil pertanian dan
teknologi pangan. Semua upaya ini bertujuan untuk memperoleh
perbaikan pola konsumsi pangan masyarakat yang beranekaragam,dan
seimbang dalam mutu gizi.
b. Masalah Gizi Lebih
Masalah gizi lebih baru muncul dipermukaan pada tahun-tahun terakhir
PJP- I, yaitu pada awal tahun 1990-an. Peningkatan pendapatan pada kelompok
masyarakat tertentu, terutama diperkotaan menyebabkan perubahan dalam gaya
hidup, terutama dalam pola makan. Pola makan tradisional yang tadinya tinggi
karbohidrat, tinggi serat kasar, dan rendah lemak berubah ke pola makan baru
yang rendah karbohidrat, rendah serat kasar, dan tinggi lemak sehingga mengeeser
mutu makanan kearah tidak seimbang. Perubahan pola makan ini dipercepat oleh
makin kuatnya arus budaya makanan asing yang disebabkan oleh kemajuan
teknologi informasi dan globalisasi ekonomi. Disamping itu perbaikan ekonomi
menyebabkan berkurangnya aktivitas fisik masyarakat tertentu. Perubahan pola
makan dan aktivitas fisik ini berakibat semakin banyaknya penduduk golongan
tertentu mengalami masalah gizi lebih berupa kegemukan dan obesitas.

18
Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia.
Kecenderungan terjadinya obesitas berhubungan erat dengan pola makan.
Berbagai faktor berperan dalam timbulnya obesitas, tetapi yang paling penting
adalah ketidakseimbangan antara masukan makanan dan aktifitas fisik. Gemuk
merupakan suatu kebanggaan dan merupakan kriteria untuk mengukur kesuburan
dan kemakmuran suatu kehidupan, sehingga pada saat itu banyak orang berusaha
menjadi gemuk dan mempertahankanya sesuaidengan status sosialnya. dalam
perkembangan selanjutnya justru sebaliknya kegemukan atau obesitas selalu
berhubungan dengan kesakitan dan peningkatan kematian (Hermawan, A Guntur,
2010).
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, prevalensi Nasional
obesitas pada penduduk berusia = 15 tahun adalah 10,3 % (Riskesdas, 2007).
Modernisasi membuat asupan kalori masyarakat tidak seimbang. Padahal obesitas
meningkatkan resiko penyakit diabetes, jantung, stroke, dan kanker. Menurut data
BPS tahun 1992 dan 1995 menunjukkan penyebab besar kematian. Bila tahun
1972, penyakit jantung dan pembuluh darah menduduki urutan ke-11 dengan
morbiditas 1,1 per 1000 per 1000 penduduk. Pada tahun 1992 dan 1995 penyakit
penyakit ini telah menduduki urutan pertama dalam penyebab kematian. Selain
itu, penyakit endokrin dan metabolisme terutama diabaetes melitus dan neoplasma
(tumor dan kanker) menonjol di perkotaan, khususnya di antara penduduk
berpendidikan tinggi.

2.7 Penanggulangan Masalah Gizi di Indonesia


Berdasarkan pemikiran tersebut di atas beberapa hal yang perlu
mendapatkan perhatian dalam upaya perbaikan gizi kedepan adalah sebagai
berikut:
1. Upaya perbaikan gizi akan lebih efektif jika merupakan bagian dari kebijakan
penangulangan kemiskinan dan pembangunan SDM. Membiarkan penduduk
menderita masalah kurang gizi akan menghambat pencapaian tujuan
pembangunan dalam hal pengurangan kemiskinan. Berbagai pihak terkait perlu
memahami problem masalah gizi dan dampak yang ditimbulkan begitu juga

19
sebaliknya, bagaimana pembangunan berbagai sektor memberi dampak kepada
perbaikan status gizi. Oleh karena itu tujuan pembangunan beserta target yang
ditetapkan di bidang perbaikan gizi memerlukan keterlibatan seluruh sektor
terkait.
2. Dibutuhkan adanya kebijakan khusus untuk mempercepat laju percepatan
peningkatan status gizi. Dengan peningkatan status gizi masyarakat diharapkan
kecerdasan, ketahanan fisik dan produktivitas kerja meningkat, sehingga
hambatan peningkatan ekonomi dapat diminimalkan.
3. Pelaksanaan program gizi hendaknya berdasarkan kajian ‘best practice’ (efektif
dan efisien) dan lokal spesifik. Intervensi yang dipilih dengan
mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti: target yang spesifik tetapi
membawa manfaat yang besar, waktu yang tepat misalnya pemberian Yodium
pada wanita hamil di daerah endemis berat GAKY dapat mencegah cacat
permanen baik pada fisik maupun intelektual bagi bayi yang dilahirkan. Pada
keluarga miskin upaya pemenuhan gizi diupayakan melalui pembiayaan
publik.
4. Pengambil keputusan di setiap tingkat menggunakan informasi yang akurat dan
evidence base dalam menentukan kebijakannya. Diperlukan sistem informasi
yang baik, tepat waktu dan akurat. Disamping pelaksanaan monitoring dan
evaluasi yang baik dan kajian-kajian intervensi melalui kaidah-kaidah yang
dapat dipertanggung jawabkan.
5. Mengembangkan kemampuan (capacity building) dalam upaya penanggulangan
masalah gizi, baik kemampuan teknis maupun kemampuan manajemen. Gizi
bukan satu-satunya faktor yang berperan untuk pembangunan sumber daya
manusia, oleh karena itu diperlukan beberapa aspek yang saling mendukung
sehingga terjadi integrasi yang saling sinergi, misalnya kesehatan, pertanian,
pendidikan diintegrasikan dalam suatu kelompok masyarakat yang paling
membutuhkan.
6. Meningkatkan upaya penggalian dan mobilisasi sumber daya untuk
melaksanakan upaya perbaikan gizi yang lebih efektif melalui kemitraan
denganswasta,LSM dan masyarakat.

20
BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Definisi Angka Kecakupan Gizi (AKG)


Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recomended Dietary
Allowances (RDA) merupakan taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang
berdasarkan pengetahuan ilmiah dinilai cuku puntuk memenuhi kebutuhan hampir
semua orang sehat. Angka kecukupan gizi berbeda dengan angka kebutuhan gizi
(dietary requirements). Angka kebutuhan gizi adalah banyaknya zat-zat gizi
minimal yang dibutuhkan seseorang untuk mempertahankan status gizi yang
adekuat (Almatsier, 2009).
Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (Recomended Dietary Allowances)
merupakan rekomendasi tentang berbagai zat gizi yang esensial untuk memenuhi
kebutuhan gizi semua orang sehat. Hal tersebut dipertimbangkan berdasarkan
pengetahuan ilmiah. AKG tidak mencerminkan kebutuhan asupan perorangan atau
individu saja, akan tetapi mencerminkan asupan rata-rata yang harus dikonsumsi
oleh suatu populasi (Hartono, 2006).
Berdasarkan pengertian beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa
Angka Kecukupan Gizi merupakan suatu taraf konsumsi berbagai zat gizi yang
memenuhi syarat bagi penduduk atau populasi disuatu negara. Sedangkan Angka
Kebutuhan Gizi merupakan status gizi yang adekuat serta berorientasi pada
banyaknya zat gizi minimal yang dililiki oleh seseorang atau suatu individu.

3.2 Komponen Angka Kecukupan Gizi


Istilah Angka Kecukupan gizi yang dipakai oleh suatu negara berbeda
dengan negara lain. Indonesia Menggunakan istilah Angka Kecukupan Gizi
(AKG) yang merupakan terjemahan dari RDA (Recomanded Dietary Allowance).
Sedang kan negara Filipina menggunakan istilah Recommended Energy and
Nutrient Intakes (RENI). Berbeda pula penggunaan istilah di negara Amerika
Serikat mulai tahun 1997 (IOM, 1997 dalam (Hardinsyah, 2016)) menggunakan
istilah Dietary Reference Intake (DRI). Beberapa komponen yang terdapat dalam
Dietary Reference Intake (DRI) adalah kecukupan gizi rata-rata (Estimated
Average Requirement, EAR),

21
Konsumsi gizi yang dianjurkan (Recommended Dietary Allowance, RDA),
Kecukupan asupan gizi (Adequate Intake, AI), dan Batas Atas yang diperbolehkan
(Tolerable Upper Intake Level, UL) (Hardinsyah, 2016).
1. Kecukupan gizi rata-rata (Estimated Average Requirement, EAR) merupakan
rata-rata nilai kecukupan gizi yang apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari mencukupi kecukupan 50 % populasi sehat. Sehingga pada tingkat EAR
dapat dikatakan bahwa 50 % lainnya tidak mencukupi nilai kecukupan gizi.
Hal tersebut diambil berdasarkan hasil penelitian terhadap sejumlah orang yang
dianggap sehat (Hardinsyah, 2016).
2. Konsumsi gizi yang dianjurkan (Recommended Dietary Allowance, RDA)
merupakan angka kecukupan zat-zat gizi yang mencapai 97,5 % dalam
populasi sehat apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada tingkat
RDA apabila 97% orang tercukupi gizinya, maka 3% lainnya berpotensi
kekurangan (Hardinsyah, 2016).
3. Kecukupan asupan gizi (Adequate Intake, AI) merupakan angka yang
menggambarkan kecukupan gizi pada asupan orang yang dianggap sehat.
Dengan kata lain AI adalah nilai yang didasarkan pada pengamatan terhadap
perkiraan rata-rata asupan zat gizi orang yang sehat. AI digunakan sebagai nilai
rujukan jika tidak tersedia cukup data untuk memperkirakan rata-rata
kecukupan zat gizi tertentu dalam suatu populasi/ RDA (Hardinsyah, 2016).
Contohnya AI untuk bayi 0-6 bulan, dimana ASI merupakan satu-satunya
sumber asupan gizi, didasarkan pada perkiraan rata-rata asupan sehari dari ASI
untuk bayi sehat, lahir cukup bulan dan ASI eksklusif.
4. Batas Atas yang diperbolehkan (Tolerable Upper Intake Level, UL)
merupakan suatu nilai rata-rata tertinggi asupan gizi harian yang tidak
menimbulkan risiko gangguan kesehatan (adverse helath effects) bagi hampir
semua orang secara umum. Namun, apabila asupan berlebihan maka akan
berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan yang buruk. UL tidak digunakan
dengan data ilmiah yang terbatas dan digunakan oleh ahli kesehatan
(Hardinsyah, 2016).

22
3.3 Penggunaan Angka Kecukupan Gizi
Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan menurut Almatsier (2009)
digunakan dengan tujuan sebagai yaitu berikut:
1. Merencanakan dan menyediakan suplai pangan untuk penduduk atau kelompok
penduduk. Dalam hal ini yang perlu untuk diketahui adalah pola pangan dan
distribusi penduduk. Berlaku demikian karena AKG yang dianjurkan adalah
angka kecukupan pada tingkat faali, maka dalam merancang produksi pangan
perlu diperhitungkan kehilangan pangan yang terjadi pada tahap perlakuan
pascapanen.
2. Mengintresprestasikan data konsumsi makanan perorangan atau kelompok.
Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa dalam penetapan AKG digunakan
patokan berat badan tertentu. Misalnya pria dewasa ukuran 62 kg dan
perempuan dewasa ukuran 55 kg. Apabila hasil survei menunjukkan adanya
penyimpangan rata-rata berat badan dari patokan berat badan yang digunakan,
maka perlu dilaksanakan penyesuaian terhadap angka kecukupan. Begitu juga
dengan penyesuaian angka kecukupan perlu dilakukan bila nilai asam amino
dan nilai kecernaan hidangan berbeda dengan nilai yang digunakan dalam
penetapan AKG yang dianjurkan. Selain itu penyesuaian juga perlu dilakukan
dalam hal kecukupan energi dan vitamin yang berkaitan dengan penggunaan
energi kelompok sebenarnya.
3. Perencanaan pemberian makanan di suatu instansi, seperti rumah sakit,
sekolah, industri/ perkantoran, asrama, panti asuhan, panti jompo dan lembaga
kemasyarakatan. Juga dalam hal ini perlu diperhatikan berat badan rata-rata,
aktivitas yang dilakukkan dan untuk rumah sakit kecukupan gizi untuk
penyembuhan. Instansi yang tidak menyediakan makanan lengkap sehari perlu
diperhatikan proporsi AKG yang perlu dipenuhi melalui penyediaan makanan.
4. Menetapkan standar bantuan pangan, misalnya untuk keadaan darurat
membantu para transmigran dan penduduk yang ditimpa bencana alam serta
memberi makanan tambahan untuk balita, anak sekolah, dan ibu hamil.
5. Menilai kecukupan persediaan pangan nasional.

23
6. Merencanakan program penyuluhan gizi. Dengan mengetahui Angka
Kecukupan Gizi, maka program yang akan dibuat mudah direncanakan dengan
tepat sesuai dengan keadaan sasaran penyuluhan.
7. Mengembangkan produk pangan baru di industri. Dengan mengetahui Angka
Kecukupan Gizi dalam suatu populasi maka akan mudah memperkirakan
produk apa yang akan dikembangkan sehingga menjadi inovasi produk pangan
yang tepat.
8. Menetapkan pedoman untuk keperluan labeling gizi pangan. Biasanya
dicantumkan proporsi AKG yang dapat dipenuhi oleh satu porsi pangan
tersebut.

24
BAB 4 ANALISIS JURNAL

4.1 Analisis Jurnal 1


1. Judul Penelitian
Judul penelitian yang dipakai dalam analisis jurnal “Pengetahuan Gizi,
Aktivitas Fisik, dan Tingkat Kecukupan Gizi Aktivis Badana Eksekutif
Mahasiswa (BEM) IPB”.
2.Nama Peneliti
Nama peneliti yang meneliti jurnal tersebut yaitu Susi Nurohmi dan Leily
Amalia(Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Intitut Pertanian
Bogor) Volume VII No. 3 Edisi November 2012, ISSN: 19779-469X79-469X.
3.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis pengetahuan gizi, aktivitas
fisik, dan tingkat kecukupan gizi mahasiswa aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa,
Institut Pertanian Bogor (BEM-IPB). Penelitian dilakukan pada bulan Pebruari—
Mei 2012 di kampus IPB Dramaga.
4.Metode Penelitian
a. Desain, Tempat, dan Waktu
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain survei. Penelitian
dilakukan pada bulan Pebruari hingga Mei 2012 di kampus IPB Dramaga.
b. Subjek dan Teknik Penarikan Subjek
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa IPB yang terdaftar sebagai
pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa IPB (BEM-IPB) dan merupakan
mahasiswa angkatan 2009—2011. Kriteria inklusi subjek adalah tinggal di
Bogor secara mandiri, yaitu tidak tinggal bersama orang tua atau keluarga, dan
bukan merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi ataupun Ilmu Teknologi
Pangan. Subjek dipilih secara purposif dan proporsional berdasarkan populasi
di masing-masing wilayah BEM tingkat fakultas/pusat, yang secara
keseluruhan berjumlah 10 wilayah. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah
86 mahasiswa.

25
5. Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini terdiri dari karakteristik individu, sumber
informasi pangan gizi, pengetahuan gizi, aktivitas fisik, dan konsumsi pangan
sehari. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner.
Data konsumsi pangan dikumpulkan dengan metode recall 2x24 jam, pada hari
kuliah dan hari libur.

6. Pengolahan dan Analisis Data


Data yang diperoleh diolah secara deskriptif dengan cara pengkategorian
berdasarkan standar tertentu. Analisis Pearson dilakukan untuk meng-analisis
hubungan antara pengetahuan gizi, aktivitas fisik dan sikap gizi dengan tingkat
kecukupan gizi subjek.

Hasil Penelitian dan Pembahasan Jurnal


a. Karakteristik
Subjek Jenis kelamin dan usia. Proporsi subjek dalam penelitian ini
relatif sama antara perempuan dan laki-laki, yaitu masing-masing 54.7%
dan 45.3%. Usia subjek tersebar antara 18—22 tahun dengan rata-rata 19.9
tahun. Sebagian besar subjek berusia 19, 20, dan 21 tahun, yaitu masing-
masing 22.1%, 52.3%, dan 18.6%.
b. Status gizi
Status gizi subjek pada umumnya adalah normal dan cenderung
gemuk, yaitu masingmasing 64.0% dan 18.6%. Terdapat 5.8% subjek yang
memiliki status gizi obes I. Meskipun demikian, secara rata-rata, status gizi
subjek masih berada dalam kategori normal yaitu dengan IMT 21.7±2.9 kg/
m2.
Uang Saku. Rata-rata uang saku yang dimiliki subjek adalah Rp 912
616.2±314 147.5, per bulan atau sekitar 30 ribu/hari. Jumlah tersebut
digunakan untuk kepentingan makan, fotokopi materi kuliah, pulsa, dan

26
lainnya. Sebagian besar (55.8%) subjek memiliki uang saku (Rp 600 000—
999 999). Sebanyak37% subjek memiliki uang saku di atas Rp 1 000 000
dan hanya 7% mahasiswa yang memiliki uang saku kurang dari Rp 600 000.
c. Tingkat Pengetahuan Gizi
Tingkat pengetahuan gizi subjek sebagian besar (79.1%) termasuk
kategori sedang, dan hanya 11.6% dan 9.3% yang berkategori baik dan
kurang. Skor rata-rata pengetahuan gizi adalah 70±9.9 dan terkategori
sedang.Secara umum subjek telah memiliki pengetahuan gizi yang baik,
terlihat dari 50.0% menjawab benar dari setiap kelompok aspek gizi yang
ditanyakan. Aspek gizi yang paling banyak dijawab benar adalah pertanyaan
tentang gizi dan kesehatan (87.7%) serta asam lemak dan kolesterol
(74.8%). Adapun pertanyaan yang paling rendah dijawab benar adalah
pertanyaan tentang antioksidan dan gizi mikro (51.6%) (Tabel 1). Hal ini
menunjukkan bahwa perhatian dan kepedulian subjek terhadap aspek gizi
dan kesehatan secara umum lebih besar dibandingkan aspek gizi lainnya.
d. Aktivitas Fisik dan Estimasi Pengeluaran Energi
Aktivitas fisik yang biasa dilakukan oleh subjek adalah kuliah,
praktikum, olahraga ringan, kegiatan rumah tangga, serta kegiatan-kegiatan
organisasi seperti rapat dan kepanitiaan lainnya. Secara umum aktivitas
yang banyak dilakukan subjek pada hari kuliah maupun pada hari libur
adalah aktivitas ringan, termasuk kuliah dan berorganisasi, yaitu sekitar 15.7
jam dan 14 jam sehari. Adapun aktivitas sedang dan berat jarang dilakukan
subjek, yaitu rata-rata hanya dilakukan 2.1 dan 0.4 jam per hari. Jenis
aktivitas sedang yang biasa dilakukan subjek adalah berjalan dari rumah ke
kampus dan sebaliknya, mencuci dan menyetrika pakaian, menyapu, dan
membersihkan rumah. Adapun jenis kegiatan berat yang dilakukan adalah
olahraga seperti joging, sepakbola (bagi subjek pria), senam, dan lainnya.
Subjek memiliki nilai PAL rata-rata yang sama antara hari libur dan hari
kuliah, yaitu 1.64 dan tergolong sebagai aktivitas ringan. Subjek pada
umumnya melakukan aktivitas ringan, baik pada hari kuliah (69.8%)
maupun pada hari libur (64.0%)

27
e. Asupan dan Tingkat Kecukupan Energi dan Zat Gizi
Rata-rata asupan energi dan zat gizi subjek relatif sama antara hari
kuliah dan hari libur. Dibandingkan dengan angka kecukupan, secara rata-
rata tingkat kecukupan zat gizi telah mencukupi, baik energi dan protein
(TKG 90%—110%), maupun gizi mikro vitamin A, vitamin B, dan zat besi
(TKG >77%). Meskipun demikian, tingkat kecukupan vitamin C dan
kalsium masih tergolong defisit ringan (TKG< 77%).
f. Rangkuman hasil
Secara rata-rata status gizi subjek tergolong normal (64.0%), dan
terdapat subjek tergolong gemuk dan obes I (24.4%). Tingkat pengetahuan
gizi subjek tergolong sedang (skor rata-rata 70±9.9). Tingkat aktivitas fisik
subjek tergolong ringan (nilai PAL rata-rata 1.64) dan menjadikan energi
yang dikeluarkan subjek lebih rendah dari angka kecukupan energi yang
dianjurkan (AKG 2004), yaitu 2 349 kkal vs 2 550 kkal (laki-laki) dan 1 851
kkal vs 1 900 kkal (perempuan). Secara rata-rata tingkat kecukupan gizi
umumnya telah mencukupi, baik energi dan protein (TKG 90%—110%),
maupun gizi mikro vitamin A, vitamin B dan zat besi (TKG>77%).
Meskipun demikian, tingkat kecukupan vitamin C dan kalsium masih
tergolong defisit ringan (TKG<77%).
g. Kelebihan dan Kekurangan Jurnal
Kelebihan:
1. Memaparkan secara jelas dan rinci mulai dari pendahuluan, metode dan
hasilnya.
2. Penulisan jurnal ini teratur dan sesuai kaidah penulisan jurnal
3. Memaparkan datar pustaka
4. Melampirkan tabel-tabel data secara detail menunjang kejelasan hasil
penelitian jurnal.

Kekurangan :
1. Tidak disertai dengan tips atau cara untuk memperbaiki atau
meminimalisasi masalah yang terjadi seperti pada masalah pemahaman

28
mahasiswa tentang keperluan pemilihan makanan sumber gizi mikro dan
minat berolahraga yang diharapkan status gizi mahasiswa yang gemuk
dan obes bisa berkurang.

4.2 Analisis Jurnal 2


1. Judul Penelitian
Judul penelitian yang dipakai dalam analisis jurnal “Hubungan
Ketahanan Pangan Tingkat Keluarga dan Tingkat Kecukupan Zat Gizi dengan
Status Gizi Batita di Desa Gondangwinangun Tahun 2012”.

2. Nama Peneliti
a. Lucia Destri Natalia
b. Dina Rahayuning P STP., M.Gizi
c. dr. Siti Fatimah, M.Kes
(Peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro)

3. Metode
a. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey
yang bertujuan untuk mengumpulkan data dari sejumlah individu mengenai
variabel tertentu melalui kuesioner.
b. Metode Pengumpulan Data
Menggunakan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian
dimana pengumpulan data variabel bebas dan terikat dilakukan secara
bersama-sama atau sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Populasi
penelitian ini adalah semua batita di Desa Gondang Winangun yaitu
sebanyak 155 batita.
c. Metode Pengambilan Sampel

29
Pengambilan sampel dengan purposive sampling dan proporsional
random sampling diperoleh 60 sampel. Data yang dianalisis adalah a) data
ketahanan pangan tingkat keluarga. b) data tingkat kecukupan energi. c) data
tingkat kecukupan protein. d) data status gizi batita di Desa Gondang
Winangun.

4. Gambaran Pelaksanaan
Masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di
Indonesia. pemerintah terus berupaya untuk menangani masalah gizi khususnya
gizi balita karena hal itu berpengaruh terhadap salah satu tujuan MDGs pada
tahun 2015 yaitu mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak usia dibawah
lima tahun. Prevalensi kekurangan gizi pada anak balita menurun dari 25,8% pada
tahun 2004 menjadi 18,4% pada tahun 2007, sedangkan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah (RPJM) tahun 2010-2014 menargetkan penurunan prevalensi
kekurangan gizi (gizi kurang dan gizi buruk) pada anak balita adalah <15,0% pada
tahun 2014.
Kondisi seperti ini dapat disimpulkan bahwa hasil pencapaian masih
belum cukup. Status gizi balita dipengaruhi oleh beberapa factor yang dibedakan
menjadi factor langsung dan tidak langsung. Factor ;angsung meliputitingkat
konsumsi gizi, penyakit infeksi, dan adanya riwayat bayi berat lahir rendah.
Sedangkan factor tidak langsung meliputi ketahanan pangan keluarga, pola asuh,
kesehtan lingkungan, tingkat pendidikan, dan kondisi ekonomi.

5. Identifakasi Masalah
Kekurangan gizi yang menjadi masalah kesehatan umumnya terjadi pada
balita karena merupakan kelompok rentan gizi. Status gizi dipengaruhi oleh
beberapa factor diantaranya tingkat kecukupan zat gizi dan ketahanan pangan.
Penelitian ini beryujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan ketahanan
pangan tingkat keluaraga dan tingkat kecukupan zat gizi. Batita di desa Gondang
Winanun. Analisis hubungan menggunakan program uji statistic spss dengan uji
korelasi Rank Speaman.

30
6. Hasil dan Pembahasan
1. Ketahanan Pangan
Berdasarkan penelitian yang diperoleh hasil tentang Ketahanan
Pangan Tingkat Keluarga di Desa Gondang Winagun yaitu
a) Sebagian berada dalam keluarga yang tergolong tahan pangan (78,3%)
artinya mampu mencukupi kebutuhan pangan keluarganya. Hal ini
dikarenakan penduduk desa Gondang Winangun bermata pencaharian
sebagai petani. Banyak diantara mereka memperoleh makanan pokok
dari produksi sendiri karena memiliki lading/sawah sendiri dan dari segi
jarak mereka tergolong mudah untuk mendapatkannya
b) Sebagian keluarga tergolong kurang pangan (21,7%). Hal ini disebabkan
rendahnya daya beli keluarga karena factor ekonomi dan factor jarak.
2. Tingkat Kecukupan Energi
Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata tingkat kecukupan
energy batita di desa Gondang Winangun adalah 102,5% AKG. Angka
tersebut menunjukan rata-rata tingkat kecukupan energy batita yang baik.
Dapat diketahui bahwa tingkat kecukupan energy sampel sebagian besar
65% adalah baik (100-105% AKG). Sebanyak 20% menunjukan
kecukupan energy sedang (<100% AKG) dan 15% menunjukan tingkat
kecukupan energy lebih (>105% AKG). Responden mengatakan bahwa
makanan pokok keluarga adalah beras (nasi). Sedangkan untuk umur
dibawah 2 tahun, energy juga didapatkan dari ASI.
3. Tingkat Kecukupan Protein
Dari hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata tingkat kecukupan
protein batita di Desa Gondang Winangun adalah 86,55% AKG. Artinya,
angka terebut memiliki rata-rata tingkat kecukupan protein yang baik.
Diketahui 81,7% adalah baik (80-100% AKG) 1,7% sampel dengan
tingkat kecukupan protein lebih (>100%AKG) dan 16,7%mengkonsumsi
protein kurang.
4. Status Gizi Balita

31
Hasil uji statistic dalam penelitian mennjukan bahwa sebagian besar
sampel penelitian (61,7%) memiliki status gizi baik yaitu antara -2 SD s/d
+2 SD. Presentase terendah (6,7%) merupakan batita dengan status gizi
(>+2 SD dalam tabel), sedangkan sampel dengan status gizi kurang 31,7%
(<-2 SD s/d -3 SD dalam tabel). Adanya batita dengan gizi kurang
kemungkinan disebabkan oleh proses kurang makan. Batita terinfeksi
suatu penyakit juga menjadi salah satu penyebab batita mengalami gizi
kurang. Status gizi merupakan indicator dalam menunjukan derajat
kesehatan anak. Status gizi yang baik membantu proses pertumbuhan dan
perkembangan yang optimal.
5. Hubungan Ketahanan Pangan Tingkat Keluarga dengan Tingkat
Kecukupan Energi
Hasil uji statistik menunjukkan tidak adanya hubungan yang
bermakna antara ketahanan pangan tingkat keluarga dengan tingkat
kecukupan energi. Tidak adanya hubungan antara ketahanan pangan
tingkat keluarga dengan tingkat kecukupan energi ini kemungkinan
dikarenakan adanya batita dalam keluarga yang kurang pangan
mendapatkan bantuan makan atau asupan energi dari orang lain. Sehingga
meskipun berasal dari keluarga kurang pangan tetapi batita tersebut tetap
tercukupi kebutuhan energinya.
6. Hubungan Ketahanan Pangan Tingkat Keluarga dengan Tingkat
Kecukupan Protein
Berdasarkan uji statistik diketahui 5 (50%) batita dengan tingkat
kecukupan protein kurang berasal dari keluarga kurang pangan dan 41
(83,7%) batita yang memiliki tingkat kecukupan protein baik berasal dari
keluarga tahan pangan. Hal ini berarti ada kecenderungan keluarga yang
tahan pangan mampu mencukupi kebutuhan protein batita dalam
keluarganya. Hal ini didukung dengan data bahwa 83,7% keluarga yang
tahan pangan memiliki batita dengan tingkat kecukupan protein yang baik.
7. Hubungan Tingkat Kecukupan Energi dengan Status Gizi Batita

32
Tidak ada hubungan bermakna antara tingkat kecukupan energi
dengan batita Tidak ada kecenderungan batita yang mengkonsumsi energi
tinggi akan memiliki status gizi yang baik. Hasil penelitian menunjukkan
sebanyak 73,7% batita dengan tingkat kecukupan energi baik memiliki
status gizi kurang dan 10,5% batita dengan kecukupan energi lebih masih
memiliki status gizi kurang. Hal ini dapat disebabkan adanya infeksi atau
kecacingan pada batita. Sehingga asupan energi dan gizi tidak dapat
diserap secara optimal oleh tubuh, maka belum mampu meningkatkan
status gizi.
8. Hubungan Tingkat Kecukupan Protein dengan Status Gizi Batita
Diperoleh hasil bahwa sebagian besar (81,7%) responden dalam
penelitian memiliki tingkat kecukupan protein yang baik yaitu antara 80%
sampai 100% AKG. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat
hubungan positif antara tingkat konsumsi protein dan status gizi batita.
9. Hubungan Ketahanan Pangan Tingkat Keluarga dengan Status Gizi Batita
Diketahui bahwa 33 (89,2%) batita yang memiliki status gizi baik
berasal dari keluarga tahan pangan. Ini berarti ada kecenderungan keluarga
yang tahan pangan mampu mencukupi kebutuhan gizi batita dalam
keluarga sehingga dapat meningkatkan status gizi batita tersebut. Hasil
penelitian menunjukkan sebanyak 89,2% keluarga yang tahan pangan
memiliki batita dengan status gizi baik.
7. Kelebihan dan Kekurangan
a. Kelebihan
Kelebihan didalam jurnal adalah metode penelitian diuraikan dengan
jelas mulai dari metode penelitian, metode pengumpulan data, dan metode
pengambilan sampel. Penyajian hasil data juga terdapat tabel dan dijelaskan
secara deskriptif juga sehingga memdudahkan pembaca memahami isinya.
Penulis sudah memberikan saran untuk masyarakat, dan bagi peneliti lain
tentang jurnal yang dibahas.

33
b. Kekurangan
Kekurangan dari jurnal tersebut seharusnya menambahkan variabel
penelitian seperti pengaruh infeksi, tingkat ekonomi, kebersihan diri
pengasuh atau variabel lainnya yang selanjutnya melakukan uji pengaruh
sehingga dapat diketahui besar pengaruh variabel berhubungan dengan
Status Gizi Batita.

34
BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recomended
Dietary Allowances (RDA) merupakan taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang
berdasarkan pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir
semua orang sehat. Angka kecukupan gizi berbeda dengan angka kebutuhan gizi
(dietary requirements). Angka kebutuhan gizi adalah status gizi yang adekuat serta
berorientasi pada banyaknya zat gizi minimal yang dililiki oleh seseorang atau
suatu individu.
Masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di
Indonesia tak terkecuali sastus gizi pada balita dan status gizi pada orang dewasa.
Status gizi balita dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dibedakan menjadi faktor
langsung dan tidak langsung. Faktor langsung meliputi tingkat konsumsi gizi,
penyakit infeksi dan adanya riwayat bayi berat lahir rendah. Sedangkan faktor
tidak langsung meliputi ketahanan pangan keluarga, pola asuh, kesehatan
lingkungan, tingkat pendidikan dan kondisi ekonomi. Sedangkan status gizi pada
orang dewasa diantaranya meliputi tingkat pengetahuan tentang gizi ,aktivasi fisik
dan estimasi pengeluaran energi , asupan dan tingkat kecukupan energi dan zat
gizi.

5.2 Saran
Untuk pembaca diharapkan makalah ini dapat menjadi sarana menambah
pengatahuan dan wawasan sehingga agar dapat memperbaiki jumlah angka
kecukupan gizi minimal yang sesuai dengan kebutuhan agar hidup menjadi lebih
sehat.

35
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. (2004). Prinsip Dasar Ilmu gizi. jakarta: PT Gramedia Pustaka


Utama

Almatsier, S. (2006). Penuntun DIET. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Almatsier, S. (2009). Prinsip dasar ILMU GIZI. Jakarta: PT Gramedia Pustaka


Umum.

Amalia, Susi Nurohmi dan Leily. “Pengetahuan Gizi, Aktivitas Fisik, dan Tingkat
Kecukupan Gizi Aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IPB.”
Jurnal Gizi dan Pangan, 2012: 151-156.

Hardinsyah, H. R. (2016). KECUKUPAN ENERGI, PROTEIN, LEMAK DAN


KARBOHIDRAT.

Hartono, A. (2006). Terapi Gizi Diet dan Rumah Sakit. Jakarta: EGC.

Irianto, D. P. 2007. Panduan Gizi Lengkap Keluarga dan Olahragawan.


Yogyakarta: Pernerbit Andi

Jauhari, A. 2013. Nutrisi dan Keperawatan. Yogyakarta: Jaya Ilmu.

Kusumadewi, N. H. (2008). SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN BERBASIS


SMS UNTUK MENENTUKAN STATUS GIZI DENGAN METODE K-
NEAREST NEIGHBOR . Seminar Nasional Aplikasi Teknologi
Informasi 2008 (SNATI 2008) , 2.

Natalia, L. D., Rahayuning, D., & Fatimah, S. (2013). Hubungan Ketahanan


Pangan Tingkat Keluarga dan Tingkat Kecukupan Zat Gizi dengan Status
Gizi Batita di Desa Gondangwinangun Tahun 2012. Jurnal Kesehatan
Masyarakat Vol.l 2 No.2 , 1-19.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1593/MENKES/SK/XI/2005 tentang Angka Kecakupan Gizi bagi
Bangsa Indonesia

36
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013. Angka
Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia. 28 November
2013. Lembar Negara Nomor 1438. Jakarta

Prof. Dr. Azrul Azwar. (2004). KECENDERUNGAN MASALAH GIZI DAN


TANTANGAN DI MASA DATANG.

Yuniastuti, A. 2008. Gizi dan Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

http://gizi.depkes.go.id/permenkes-tentang-angka-kecukupan-gizi

37