Anda di halaman 1dari 13

BUDAYA SUKU REJANG

( ALASAN MEMPELAJARI KOMUNIKASI ANTAR


BUDAYA )

TUGAS MAKALAH MATA KULIAH KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Disusun Oleh :
D0C018002 Sausan Citra Ramadhanty

Dosen Pengampu :
Rassiana BR Saragih, S.Sos, M,Si

PROGRAM STUDI DIII JURNALISTIK 2018/2019


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS BENGKULU
Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa
diselesaikan.
Terima kasih juga saya ucapkan kepada dosen pengampu Mata Kuliah Komunikasi
Antar Budaya, Ibu Rassiana BR Saragih, S.Sos, M.Si, yang telah memberikan saran atas
perbaikan makalah ini sehingga makalah ini dapat dilengkapi dengan baik.
Saya berharap semoga makalah ini bisa diterima oleh dosen pengampu MK ini.
Semoga untuk teman-teman yang membaca makalah ini dapat mengetahui dan mempelajari
budaya-budaya Rejang ini dengan baik dan nantinya juga menambah pengetahuan teman-
teman sekalian.
Namun terlepas dari itu, saya memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, sehingga saya sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun
demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Bengkulu, 28 Februari 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Suku Rejang adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Bengkulu dan Sumatera
Selatan. Catatan mengenai mereka salah satunya berasal dari buku karya William
Marsden yang berjudul The History of Sumatra. Marsden menyebutkan bahwa selain Melayu
(Malays), di Sumatera terdapat pula suku Minangkabau (Menancabow), Aceh (Achenese),
Batak (Battas), Rejang (Redjang), dan Lampung (Lampoons). Suku ini adalah satu dari 10
kelompok masyarakat asli di Provinsi Bengkulu. Suku Rejang dalam Sensus Penduduk
Indonesia pada tahun 2010 tidak dikategorikan secara spesifik, melainkan sebagai kelompok
suku Sumatera lainnya selain Batak, Aceh, Melayu, dan Minangkabau.
Di antara 10 kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu, masyarakat Rejang merupakan
penduduk asli meliputi wilayah Lebong, Rejang Lebong, Bengkulu Tengah, dan Bengkulu
Utara. Di antara suku-suku lain di Bengkulu, suku Rejang memiliki populasi terbesar. Dalam
jumlah yang lebih kecil terdapat ribuan orang Rejang yang bermigrasi ke pelbagai kota di
Indonesia dan luar negeri.
Berbicara tentang Komunikasi antar Budaya, dalam kategori Bahasa Verbal
masyarakat Rejang bertutur dalam bahasa Rejang sebagai bahasa ibu. Meskipun begitu, di
daerah Kota Kecamatan seperti Curup yang penduduknya seimbang antara suku Rejang
sebagai orang asli dan masyarakat pendatang, terdapat gejala penurunan penggunaan bahasa
tersebut. Bahasa Rejang perlahan tergantikan oleh Bahasa Melayu Bengkulu yang dipandang
sebagai basantara masyarakat Bengkulu yang beragam.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut
;
1. Apa yang dimaksud dengan Suku Rejang ?
2. Apa saja unsur-unsur kebudayaan dalam Suku Rejang ?
3. Bagaimana Sejarah Suku Rejang ?
4. Apa hubungan Suku Rejang dengan Komunikasi Antar Budaya ?

C. Tujuan
1. Mengetahui tentang salah satu suku yang ada di Provinsi Bengkulu.
2. Memahami tentang Unsur-Unsur Kebudayaan yang di anut Suku Rejang.
3. Mengetahui bagaimana bisa terbentuknya Suku tersebut.
4. Suku Rejang memiliki suatu kebudayaan yang berbeda dengan Suku lainnya di
Provinsi Bengkulu. Agar tak jadi kesalah pahaman antar etnis, Ilmu Komunikasi
Antar Budaya adalah suatu jalan agar terhindar dari etnosentrisme.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Unsur Budaya Suku Rejang

1. Sejarah
Suku Rejang adalah salah satu suku tertua di pulau Sumatera selain suku bangsa Melayu.
Suku rejang diyakini berasal dari daerah Sumatera bagian utara dan kemudian menyebar
sampai ke daerah Lebong, Kepahiang, sampai di tepi sungai Ulu Musi di perbatasan
Sumatera Selatan. Berdasarkan Tambo, orang Rejang berasal dari Bidara Cina melewati
Paguruyung, juga dari Majapahit dari Jawa. Leluhur suku Rejang berasal dari Mongolia, Cina
Utara.
Sejarah suku bangsa Rejang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu sejarah Rejang
Purba dan sejarah Rejang Modern. Sejarah Rejang Purba dimulai dari masa kedatangan
kelompok bangsa Mongolia di Bintunan Bengkulu Utara pada tahun 2090 SM hingga
sebelum kedatangan para Ajai di pertengahan abad ke 14 masehi. Disebut Rejang Purba
karena dalam kurun waktu 2090 SM hingga abad ke 14M, kehidupan suku Rejang masih
sangat primitive. Hidup selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Dimana
tempat yang dapat memberi mereka kehidupan, di sanalah mereka mulai hidup menetap
dalam kelompok masyarakat “kumunal” di pedalaman hutan rimba yang tertutup dunia luar.
Peralatan hidup dan teknologi yang digunakan masih sangat sederhana. Dan kepercayaan
yang dianut pada masa itu adalah Animisme. Sedangkan sejarah Rejang Modern ditandai
oleh masuknya para Ajai (Sutan Gagu alias Ninik Bisu dan Zein Hadirsyah alias Tiea
Keteko) pada pertengahan abad ke -14 yang membawa perubahan pada pola kehidupan
masyarakat suku Rejang. Saat para Ajai mulai memerintah, Suku Rejang mulai mengenal
sistem pengetahuan, sistem organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan sistem religi.
Walaupun belum ada secara konkrit tentang asal mula dari mana datangnya nenek
moyang Suku Rejang, dan bisa dilihat pada buku-buku yang sudah dikeluarkan hanya
menyimpulkan bahwa orang Rejang berasal dari empat kelompok manusia yang ada di
daerah Lebong yang mula-mula dipilih oleh para Ajai. Ternyata sama dengan apa yang
diceritkan oleh orang tua Rejang bahwa nenek moyang orang Rejang pertama kali tinggal di
sekitar danau besar di Gunung Hulu Tapus. Salah satu naskah tentang ini masih disimpan
oleh bapak Rattama, yang merupakan Imam Desa Suka Kayo Kabupaten Lebong.
Diperkirakan, setelah melewati masa yang lama mereka tinggal di dekat sebuah
danau yang besar tersebut, anak keturunan mereka turun ke dataran rendah Tapus di sebuah
dusun Suko Negerai Desa Suka Negeri (sekarang) kemudian keturunan mereka menyebar dan
akhirnya terdiri dari empat kelompok yang menetap di dusun, masing-masing dipimpin oleh
Ajai. Empat kelompok inilah yang menjadi cikal bakal Rejang Tiang Empat lima Raja, yang
sangat terkenal dalam nama Tembo Rajo.

2. Sistem Organisasi Sosial

Tidak jauh berbeda yang diceritkan nenek mamak atau orang-orang tua (Pak Salim
dan Masyarakat Topos) yang menceritkan asal usul masyarakat rejang adalah, pertamanya
ditemukan di Desa Siang, muara sungai Ketahun. Pada masa itu pemimpin masyarakat
Rejang disebut Ajai. Dimana sebelum Ajai Siang, lima tahap diatas Ajai Siang orang Rejang
sudah ada. Pada masa Ajai ini ada empat orang yaitu Ajai Siang, Ajai Bintang, Ajai Begelang
Mato dan Ajai Malang. Karena mereka berempat tidak bisa memimpin dalam satu daerah,
akhirnya mereka membagi wilayah kepemimpinan.
1. Ajai Bintang, memimpin di Sadei (desa) Pelabai Lebong yang terletak di Marga
Suku IX Kecamatan Lebong Utara
2. Ajai Siang, memimpin di Sadei Siang Lakat yang terletak di Marga Jurukalang
Kecamatan Lebong Selatan
3. Ajai Malang, memimpin di di Sadei Bandar Agung yang terletak di Marga Suku
IX Kecamatan Lebong Utara
4. Ajai Begelang Mato, memimpin di Sadei Kutai Belek Tebo, yang terletak di
Marga Suku VIII Kecamatan Lebong Selatan.
Selanjutnya suku Rejang didatangi oleh empat orang bangsawan dari Kerajaan Sriwijaya
yang mampu menanamkan pengaruhnya kepada suku Rejang. Keempat bangsawan ini
kemudian kawin dengan puteri-puteri para Ajai dan selanjutnya diangkat menjadi pimpinan
ke empat Petulai. Keempat bangsawan Sriwijaya tersebut diberi gelar Bikau dan masing-
masing memimpin satu kesatuan kekeluargaan yang diberi nama sesuai dengan identitas
kelompok masing-masing. Para Bikau dan kelompok masyarakatnya tersebut adalah :
1. Bikau Sepanjang Jiwo, memimpin Marga Tubai yang terletak di Pelabai
2. Bikau Bermano, memimpin Marga Bermani yang terletak di Kutei Rukam dekat
dusun Tes sekarang
3. Bikau Bejenggo, memimpin marga Selupuak yang terletak di Batu Lebar dekat
Anggung Rejang di Kesambe
4. Bikau Bembo, memimpin marga Jurukalang yang terletak di Suko Negerai, sekarang
desa Suka Negeri dekat Tapus (hulu Sungai Ketahun).
Keempat kelompok masyarakat di bawah pimpinan para Bikau kemudian disebut Rejang
Empat Petulai (Jang Pat Petulai), yang terdiri dari:
1. Petulai Tubai (Tubey)
2. Petulai Jurukalang
3. Petulai Selupuak
4. Petulai Bermani
Pada masa itu di setiap Petulai terdapat Kutai (desa yang berdiri sendiri) sebagai suatu
kelompok masyarakat hukum adat di bawah Petulai. Kepala Kutai disebut Tuai Kutai dan
dalam menjalankan pemerintahannya dibantu oleh Kepala Sukau/Sadei.
Dari generasi ke generasi Petulai-Petulai tersebut tersebar ke wilayah-wilayah sepanjang
aliran sungai Musi, yaitu :
1. Sungai Ketahun
2. Sungai Kelingi
3. Pesisir pantai dan tempat-tempat lainnya.
Dalam tembo tempat-tempat perpindahan ini disebut:
1. Sindang Empat Lawang
2. Sindang Beliti
3. Ulu Musi
4. Renah Pesisir
5. Renah Ketahun
Di sekitar awal abad 17 (XVII) M, diadakan permufakatan besar suku bangsa Rejang
yang dipimpin oleh Petulai dan pecahan-pecahan Petulai dari keempat wilayah Lebong.
Permufakatan besar ini bertujuan untuk membina persatuan dan kesatuan suku bangsa
Rejang. Keputusan-keputusan penting dari permufakatan besar tersebut antara lain:
1. Seluruh daerah yang didiami oleh suku bangsa Rejang dibagi dalam empat Luak,
yaitu Luak Lebong, Luak Ulu Musi, Luak Lembak Beliti dan Luak Pesisir.
2. Pecahan-pecahan Petulai Tubai di luar wilayah Lebong diakui keberadaannya dan
disebut Migai (Merigi), sedang pecahan di dalam wilayah Lebong disebut Sukau
Delapen (Suku VIII) dan Sukau Semilan (Suku IX).
3. Pemberian gelar Depati bagi para pemimpin Petulai, yaitu:
a. Depati Pasak Bumi bagi Sapau Lanang, pemimpin Petulai Bermani di Kutei
Rukam.
b. Depati Rajo Besar bagi Rio Tado, pemimpin Petulai Jurukalang di Tapus
c. Depati Tiang Alam bagi Ajai Malang, pemimpin Petulai Selupuak di Atas Tebing
d. Depati Kemala Ratu bagi Ki Pati, pemimpin pecahan-pecahan petulai Sukau
Delapeun di Karang Anyar.
Dalam bidang pertahanan dan keamanan diadakan pembagian tugas sebagai berikut:
1. Empat orang pemimpin Sindang Empat Lawang dan lima orang pemimpin Sindang
Beliti menjaga ancaman musuh dari Timur (Penjaga Hutan)
2. Sebelas orang pemimpin dari Renah Pesisir dan tujuh orang pemimpin Renah
Ketahun menjaga ancaman musuh yang datang dari laut.
Pemerintahan kolektif di seluruh suku bangsa Rejang di mulai saat ini dengan pimpinan
keempat Depati tersebut bersama-sama. Oleh sebab itu, pemerintahan kolektif empat Depati
ini disebut dengan istilah pemerintahan Depati Tiang Empat. Koordinator pemerintahan ini
adalah Ki Pandan, pimpinan pecahan petulai Sukau Semilan yang berkedudukan di Bandar
Agung dengan gelar Rajo Depati. Selanjutnya suku bangsa Rejang memiliki satu kesatuan
pimpinan adat yang dipegang oleh Depati Tiang Empat. Segala perselisihan adat atau bila ada
kekacauan dilaporkan kepada Depati Tiang Empat yang memutuskan kata akhir.

3. Sistem Pengetahuan & Sistem Religi


Dalam keempat kepemimpinan ini mereka ada sebuah falsafah hidup yang diterapkan
yaitu Pegong pakeui, adat cao beak nioa pinang yang berartikan adat yang berpusat ibarat
beneu (Rotan). Bertuntun ibarat jalai (jala ikan), menyebar ibarat jala, tuntunannya satu. Jika
sudah berkembang biak, asalnya rejang tetap satu. Kenapa ibarat beneu? beneu ini satu
pohon, tapi didahan daunnya kait-mengait walaupun ada yang menyebar atau menjalar jauh.
Walaupun pergi ketempat yang jauh tapi tahu akan jalinan/hubungan kekeluargaannya. Bisa
kembali lagi darimana asal mereka berada.
Pegong pakeui juga mengajarkan bahwa kita sebagai manusia mempunyai hak yang
sama. Jika kita sama-sama memiliki, maka kita membaginya sama rata. Jika kita menakar
(membagi), misalnya membagi beras, kita menakarnya sama rata atau sama banyaknya. Jika
kita melakukan timbangan, beratnya harus sama berat. Itulah Pegong pakeui orang rejang.
(Amen bagiea’ samo kedaou, ameun betimbang samo beneug, amen betakea samo rato).
Artinya: jika membagi sama banyak, jika menimbang sama berat, jika menakar sama rata).
Itulah cara adat rejang.
Tidak banyak yang diketahui mengenai agama atau kepercayaan yang dianut oleh
nenek moyang Rejang. Peninggalan masa kini yang paling jelas dan penting untuk
menjabarkan mengenai pengalaman spiritual atau keagamaan masyarakat Rejang lama adalah
tradisi rejung dan kedurang agung. Kedua tradisi ini tak dapat dipisahkan satu sama
lain. Rejung merupakan gunungan berisi hasil bumi atau makanan dan kue yang ditata
sedemikian rupa. Tingginya dapat mencapai dua meter. Diduga, rejung menyimbolkan
bentuk gunung terutama sekali merujuk pada Bukit Kaba yang menempati posisi penting
dalam suasana kebatinan masyarakat Rejang. Rejung biasa diadakan saat prosesi/ritual kedurai
agung (Kenduri Besar) . Rejung adalah persembahan bagi dewa-dewi yang dipuja
melalui kêdurai agung.
Kepercayaan masyarakat Rejang terhadap kekuatan supranatural di sekitarnya telah
melahirkan dikotomi antara diwo dan nyang dengan semat. Diwo merujuk pada dewa
dan nyang merujuk pada dewi. Hampir tidak diketahui nama-nama daripada dewa dan dewi
dari kepercayaan asli suku Rejang. Tapi, yang paling dikenal ialah dewi padi atau dewi
kesuburan. Dalam kepercayaan lama orang Rejang, dewi kesuburan yang dikenal
sebagai Nyang Sêrai. Untuk menghormati sang dewi, masyarakat dahulu sering mengadakan
persembahan berupa pemotongan hewan kurban, membakar kemenyan atau mengantar apem.
Salah satu tempat paling terkenal untuk melakukan persembahan yakni Bingin Kuning di
Lebong.
Adapun istilah untuk menyebut pertapaan atau persembahyangan terhadap dewa-dewi
dalam bahasa Rejang yaitu betarak. Salah satu tempat betarak yang paling utama yaitu Bukit
Kaba. Bukit Kaba sejatinya terbuka untuk umum. Daerah ini adalah kawasan konservasi dan
meminta izin kepada petugas di pintu masuk serta melaporkan jumlah pendaki adalah suatu
kewajiban. Namun berdasarkan kisah muning ra'ib, masyarakat Rejang dari Dusun Curup
dilarang pergi ke Bukit Kaba untuk menghindari bala.
Berkebalikan dengan diwo atau nyang yang dipuja oleh masyarakat, golongan sêmat
sebaliknya sangat ditakuti, baik karena memakan korban maupun menghuni lokasi-lokasi
tertentu di Tanah Rejang. Agar terhindar dari sêmat, berdoa dan meminta izin atau permisi
sebelum memasuki suatu tempat dan atau mengambil sesuatu di alam adalah hal yang wajib
dilakukan. Izin dilakukan dengan mengucapkan stabik nik, keme nupang liwêt (permisi
nenek, kami numpang melintas atau berjalan). Jenis-jenis sêmat dalam kepercayaan Rejang
antara lain sêbêi sêbkêu, siamang bioa, sumêi, dan semat laut. Beberapa jenis sêmat yang lain
berkedudukan sebagai penunggu atau tunggau suatu tempat. Tunggau yang paling dikenal
oleh suku Rejang adalah Dung Ulau Tujuak atau Ular Kepala Tujuh yang berdiam
di sraung atau gua bawah air di Danau Tes, Kabupaten Lebong.
Hutan bagi masyarakat Rejang lama merupakan karunia Tuhan serta sumber
penghidupan. Hutan merupakan sumber kayu, madu, dan binatang buruan. Sebagaimana
tempat lain, hutan atau imbo ini biasanya didiami oleh hewan jadi-jadian seperti imêu atau
harimau. Bagi masyarakat Rejang, harimau dipandang sebagai jelmaan nenek moyang,
sakral, dan tidak boleh dilukai ataupun dibunuh. Harimau dipandang sebagai saudara tua,
dipanggil sebagai datuk, ninik, atau puyang.
Dewasa ini mayoritas suku Rejang memeluk agama Islam. Tidak ada catatan statistik
resmi perihal jumlah penganut agama dalam komunitas Rejang masa kini. Perkiraan
menyebutkan bahwa hampir 100% masyarakat Rejang memeluk agama Islam. Kebanyakan
mereka tidak berafiliasi dengan denominasi Islam tertentu. Namun sebagaimana masyarakat
Muslim di Nusantara lainnya, masyarakat Rejang menganut Islam Sunni dengan Mazhab
Syafi'i. Organisasi keagamaan Islam yang utama meliputi Muhammadiyah dan NU.
Minoritas Tarekat Naqsyabandiyah yang sering diejek sebagai Sulup terdapat di Desa Suka
Datang, dekat dengan aliran Sungai Musi.
Boleh dikata hampir tidak ada orang Rejang yang beragama selain Islam. Kalaupun
ada jumlahnya tak lebih dari beberapa puluh orang saja. Keberadaan pemeluk agama Hindu
atau Budha dan Kristen di wilayah kediaman orang Rejang umumnya berkaitan dengan
masyarakat pendatang yang melatar belakanginya. Pemeluk ajaran Hindu di Tanah Rejang
umumnya adalah orang Bali, agama Buddha dipeluk oleh keturunan Tionghoa, dan Kristen
dipeluk oleh sebagian orang Jawa dan Batak. Islam dipandangi sebagai agama rakyat dan
bagian tak terpisahkan dari kebudayaan pada masa kini. Islam mempengaruhi tata cara
pemakaman, penggunaan bahan makanan halal, serta menumbuhkan budaya mengaji di
masjid dan tahlilan. Islam diperkirakan masuk ke Tanah Rejang pada abad ke-16 masehi.
Marsden dalam bukunya The History of Sumatra menyebut bahwa orang Rejang
adalah Mahometan, sebuah sebutan kuno bagi orang yang mengikuti ajaran
Muhammad. Islam diperkenalkan oleh orang Minang, Banten, dan Aceh yang telah
mengalami Islamisasi lebih dahulu. Sebelum masuknya Islam, disebut-sebut bahwa
masyarakat Rejang telah lebih dulu berkenalan dengan agama Hindu yang dibawa dari Tanah
Jawa oleh Empat Biku.

4. Bahasa
Suku Rejang memiliki perbedaan dalam dialek penuturan bahasa. Dialek Rejang
Kepahiang memiliki perbedaan dengan dialek Rejang di Kabupaten Rejang Lebong yang
dikenal dengan dialek Rejang Curup, dialek Rejang Bengkulu Utara, dialek Rejang Bengkulu
Tengah, dan dialek Rejang yang penduduknya di wilayah Kabupaten Lebong.
Secara kenyataan yang ada, dialek dominan Rejang terdiri tiga macam. Dialek tersebut
adalah sebagai berikut :
 Dialek Rejang Kepahiang (mencakup wilayah Kabupaten Kepahiang)
 Dialek Rejang Curup (mencakup wilayah Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten
Bengkulu Tengah, dan Kabupaten Bengkulu Utara)
 Dialek Rejang Lebong (mencakup wilayah Kabupaten Lebong dan wilayah
Kabupaten Bengkulu Utara yang berdekatan dengan wilayah Kabupaten Lebong)
Dari tiga pengelompokan dialek Rejang, saat ini Rejang terbagi menjadi Rejang
Kepahiang, Rejang Curup, dan Rejang Lebong. Namun, meskipun dialek dari ketiga bahasa
Rejang tersebut relatif berbeda, tapi setiap penutur asli bahasa Rejang dapat memahami
perbedaan kosakata pada saat komunikasi berlangsung. Karena perbedaan tersebut seperti
perbedaan dialek pada bahasa Inggris Amerika, bahasa Inggris Britania, dan bahasa Inggris
Australia.
Secara filosofis, perbedaan dialek bahasa Rejang terjadi karena faktor jarak, faktor
sosial, dan faktor psikologis dari suku Rejang itu sendiri.
Hal ini juga membuktikan bahwa tingkat persatuan dan kesatuan suku Rejang masih
sangat rendah jika dibandingkan dengan suku bangsa terdekat lainnya antara suku-suku yang
ada di provinsi Bengkulu. Itu disebabkan karena suku Rejang bukan suku bangsa perantau
sehingga tingkat kepemilikan tanah mereka tergolong tinggi, mereka masih mudah
dipengaruhi devide et empera yang dilancarkan penjajah sejak zaman pemerintahan Hindia-
Belanda.

5. Mata Pencarian, Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi

Berdasarkan sejarah pada zaman dahulu yang menyatakan bahwa masyarakat Rejang
bukanlah penduduk pendatang. Maka mereka memiliki banyak lahan pertanahan yang di olah
menjadi sebuah lahan perkebunan dan pertanian. Namun ternyata tak hanya perkebunan dan
pertanian saja, ternyata di wilayah tanah Rejang juga terdapat tanah pertambangan yang
menghasilkan banyak logam mulia yang sudah ada sejak sebelum Indonesia Merdeka atau
saat masa penjajahan. Hal itu ditandai oleh Rel Kereta yang sampai sekarang masih ada di
Lebong Tandai dan kereta yang dipakai untuk mengangkut hasil tambang dinamakan Molek.
Pada masa itu Suku Rejang masih di perintah oleh Penjajah, alat alat yang di gunakan
pun dibuat oleh para penjajah dan peninggalan jaman penjajah ada sebuah alat untuk
menyaring atau memisahkan sari sari emas. Alat tersebut dinamakan Gelundung karena alat
tersebut digunakan dengan cara digelundung (diputar-putar seperti menggelinding).
Sedangkan senjata tradisional masyarakat Rejang kebanyakan jenisnya berupa senjata
tajam. Senjata tradisional ini dalam praktik kehidupan sehari-hari bermetamorfosis menjadi
perangkat yang dipakai untuk menciptakan berbagai jenis benda yang dibutuhkan dalam
kehidupan sehari-hari. Senjata tradisional Rejang meliputi tombak yang
disebut kujua atau kujuh, parang yang disebut pitat, badik yang disebut badek, keris yang
disebut kê'is, dan badik melengkung yang mirip kuku harimau, disebut badek sêlon imêu".
Penggunaan parang dewasa ini lebih kepada barang bawaan wajib ketika pergi ke
kebun. Parang dipergunakan untuk membersihkan belukar, membuat jalan setapak, menebang
kayu, dan membuka kelapa. Penggunaan tombak di masa ini sudah semakin jarang.
Umumnya dipakai kala menangkap ikan secara tradisional di sungai yang jernih. Keris
umumnya dipergunakan dalam seni bela diri silat atau dikeramatkan dan disimpan secara
baik di rumah-rumah. Keris dan benda-benda keramat dikenal sebagai pêsako.

6. Kesenian

Kesenian dalam Suku Rejang memiliki ciri khas tertentu salah satunya Tari Kejei.
Tarian ini berasal dari Rejang Lebong dan tidak bisa ditarikan disembarang tempat dan acara,
mengingat tari ini merupakan tari persembahan yang digelar untuk menyambut tamu yang di
agung atau kunjungan pertama, untuk kunjungan selanjutnya tidak digelar lagi, karena tamu
tersebut sudah dianggap warga Rejang Lebong.
Tari Kejei adalah satu-satunya tarian adat
yang berasal dari Rejang Lebong, dalam
membawakan tari kejei penari harus
berpasangan (laki-laki dan perempuan),
penari harus ganjil (5 pasang, 7 pasang, atau
9 pasang). Sedangkan di Rejang Lembak Tari
Penyambutan disebut Tari Kurak, namun
dalam pembahasan disepakati menggunakan
Tari Penyambutan yang telah dibakukan.

Ada pula kesenian dalam bentuk Hiasan Tenun, Suku Rejang juga memiliki motif
dalam tenunan, pada kain-kain batik terdapat Aksara Rejang yang disebut Huruf Ka-ga-nga.

Rumah rumat adat juga memiliki arsitektur tersendiri meskipun tidak terlalu jauh
berbeda dibanding rumah adat dari daerah lain kebanyakan. Karena suku rejang zaman
dahulu bisa dikategorikan tidak inisiatif untuk membuat hal-hal yang berbeda dari lainnya.
B. Alasan mempelajari Komunikasi Antar Budaya

Kebutuhan untuk mempelajari komunikasi antar budaya ini semakin terasakan karena
semakin terbukanya pergaulan kita dengan orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda,
disamping kondisi bangsa Indonesia yang sangat majemuk dengan berbagai ras, suku bangsa,
agama, latar belakang daerah (desa/kota), latar belakang pendidikan, dan sebagainya. Untuk
memerinci alasan dan tujuan mempelajari komunikasi lintas budaya Litvin (1977)
menyebutkan beberapa alasan diantaranya sebagai berikut;
1. Dunia sedang menyusut dan kapasitas untuk memahami keanekaragaman budaya
sangat diperlukan.
Maksud dari point pertama ini adalah karena dunia tak lagi dipandang luas oleh
masyarakat karena dunia dianggap kecil dan sangat mudah mengubah masyarakat di
suatu daerah menjadi menirukan Budaya masyarakat lain.
2. Semua budaya berfungsi dan penting bagi pengalaman anggota-anggota budaya
tersebut meskipun nilai-nilainya berbeda.
Maksud dari point ini mungkin karena setiap orang belum tentu bisa mengenali dan
memahami arti dari suatu kegiatan kebudayaan (Ritual). Maka budaya itu dianggap
penting untuk anggota dari satu kebudayaan agar dapat memahami dan mengalami apa
yang sejak dulu menjadi budaya “mereka”, meskipun kadang tak sesuai dengan nilai-
nilai kenyataan dan realita yang di alami di masa sekarang.
3. Nilai-nilai setiap masyarakat se”baik” nilai-nilai masyarakat lainnya.
Nilai masyarakat adalah nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang
dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat.
4. Setiap individu dan/atau budaya berhak menggunakan nilai-nilainya sendiri.
Seperti yang sudah dijelaskan point 3, untuk menentukan sesuatu itu dikatakan baik
atau buruk, pantas atau tidak pantas harus melalui proses menimbang. Hal ini tentu
sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut masyarakat. Tak heran apabila antara
masyarakat yang satu dan masyarakat yang lain terdapat perbedaan tata nilai. Tapi
biasanya setiap kebudayaan selalu memiliki nilai-nilai yang sama “baiknya” dengan
budaya lain (menurut budaya itu sendiri). Dan penjelasan ini juga berlaku untuk point 5
dan 6.
5. Perbedaan-perbedaan individu itu penting, namun ada asumsi-asumsi dan pola-
pola budaya mendasar yang berlaku.
6. Pemahaman atas nilai-nilai budaya sendiri merupakan prasyarat untuk mengidentifikasi
dan memahami nilai-nilai budaya lain.

7. Dengan mengatasi hambatan-hambatan budaya untuk berhubungan dengan orang lain


kita memperoleh pemahaman dan penghargaan bagi kebutuhan, aspirasi, perasaan dan
masalah manusia.
8. Pemahaman atas orang lain secara lintas budaya dan antar pribadi adalah suatu usaha
yang memerlukan keberanian dan kepekaan. Semakin mengancam pandangan dunia
orang itu bagi pandangan dunia kita, semakin banyak yang harus kita pelajari dari dia,
tetapi semakin berbahaya untuk memahaminya.
9. Pengalaman-pengalaman antar budaya dapat menyenangkan dan menumbuhkan
kepribadian.
10. Keterampilan-keterampilan komunikasi yang diperoleh memudahkan perpindahan
seseorang dari pandangan yang monokultural terhadap interaksi manusia ke pandangan
multikultural.
11. Perbedaan-perbedaan budaya menandakan kebutuhan akan penerimaan dalam
komunikasi, namun perbedaan-perbedaan tersebut secara arbitrer tidaklah menyusahkan
atau memudahkan.
12. Situasi-situasi komunikasi antar budaya tidaklah statik dan bukan pula stereotip. Karena
itu seorang komunikator tidak dapat dilatih untuk mengatasi situasi. Dalam konteks ini
kepekaan, pengetahuan dan keterampilannya bisa membuatnya siap untuk berperan serta
dalam menciptakan lingkungan komunikasi yang efektif dan saling memuaskan.

Sedangkan mengenai tujuan mempelajari komunikasi antar budaya, Litvin (1977)


menguraikan bahwa tujuan itu bersifat kognitif dan afektif, yaitu untuk:

1. Menyadari bias budaya sendiri.


2. Lebih peka secara budaya.
3. Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain
untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut.
4. Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri.
5. Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang.
6. Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima
gaya dan isi komunikasinya sendiri.
7. Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara
semesta wacana dan makna bagi para anggotanya.
8. Membantu memahami kontak antar budaya sebagai suatu cara memperoleh
pandangan ke dalam budaya sendiri:asumsi-asumsi, nilai-nilai, kebebasan-kebebasan
dan keterbatasan-keterbatasannya.
9. Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang
komunikasi antar budaya.
10. Membantu menyadari bahwa sistem-sistem nilai yang berbeda dapat dipelajari secara
sistematis, dibandingkan, dan dipahami.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Komunikasi antar budaya sangat diperlukan untuk memudahkan kita berinteraksi


dengan orang-orang yang berasal dari budaya yang berbeda-beda. Karena sikap seseorang
bisa jadi adalah sebuah budaya (kebiasaan) yang mungkin belum dapat menyesuaikan dengan
kebudayaan lainnya. Contohnya seperti Suku Rejang memiliki kebudayan yang berbeda
dengan Suku Lembak, Melayu, Pasemah, dan Serawai.
Terkesan saat kita merasa seseorang yang berasal dari suku Pesisir berbicara dengan
nada bicara agak “keras”, jangan langsung menganggap orang itu “membentak”. Mungkin
saja sikap yang tadi sudah terbudaya di lingkungan “mereka” agak sulit untuk menirukan
gaya bicara seperti budaya lainnya.

B. Saran

Untuk teman-teman sekalian yang juga mempelajari Komunikasi Antar Budaya,


memahami antar budaya sangat diperlukan untuk kita menghindari sifat egois yang memicu
kepada etnosentrisme.
Sumber Pustaka
 Buku John Marsden (The History Of Sumatera), Residen Inggris di Lais (1775-1779)
menceritakan tentang adanya empat Petulai Rejang diantaranya Jekalang (Joorcalang),
Selupuak (Selopoo), Manai (Beremani), Tubey (Tubay).
 Buku Dr. J.W. Van Royen dalam Laporannya “Adat-Federatie in de Residentie’s
Bengkoelen en Palembang,” menyatakan bahwa marga-marga tersebut merupakan kesatuan
Rejang yang paling murni.
 Buku Mohammad Hoesein (Tembo dan Adat Rejang Tiang IV), yang merupakan putra Asli
Rejang dari anak pangeran Kota Donok Lebong pada tahun 1960-1966 M yang menjabat
sebagai Gubernur Sumatera Selatan
 Buku Prof. DR. H. Abdullah Siddik dalam Hukum Adat Rejang.
 Menurut Penelitian Prof. DR. Richard, Mc.Ginn Tahun 2006.
 Media sosial Pesona Bumi Pat Petulai Rejang Lebong.
 Tulisan Erwin S Basrin dalam Blog AMARTA – Kondisi Hukum Adat Rejang
 Menurut Bapak Salim Tokoh Masyarakat Rejang Tapus.
 Wikipedia Sejarah Rejang.
 M.A Yaspan Peneliti Australia National University Tahun 1961-1963 dalam From
Patriliny To Matriliny, Structural Change Amongst The Rejang Of Southwest Sumatera.
 DR. Hazairin Putra Bengkulu pada tahun 1932 dalam rangka penyusunan Desertasinya
yang berjudul “De Rejang,”.
 Tulisan Feri Van Dalis, S.Kom, (Marga Jurukalang)
 Buku Dr. Deddy Mulyana, MA & Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc (Komunikasi Antar
Budaya), (Panduan Berkomunikasi Dengan Orang-orang Berbeda Budaya), PT. Remaja
Rosdakarya-Bandung (1990-2006)