Anda di halaman 1dari 30

PROPOSAL SINOPSIS TUGAS AKHIR ARSITEKTUR

ARA 500 – Tugas Akhir


Semester Genap - Tahun Akademik 2019/2020

Tema:
Struktur Arsitektur

“EKSPRESI ESTETIKA STRUKTUR DALAM RANCANGAN HOTEL


BINTANG 4 DI BANDUNG”

Fungsi Bangunan:
Hotel Bintang 4

Diajukan Oleh:
Muhamad Anrizal
21-2015-115

JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
2019
1. Judul Proyek
Judul yang diajukan untuk proyek tugas akhir ini adalah “Ekspresi Estetika
Struktur dalam Rancangan Hotel Bintang 4 di Bandung”

2. Definisi Judul
Ekspresi Estetika Struktur dalam Rancangan Hotel Bintang 4 di Bandung
Definisi ekspresi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah
pengungkapan atau proses menyatakan (yaitu memperlihatkan atau menyatakan
maksud, gagasan, perasaan, dan sebagainya).
Estetika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari proses-proses penikmatan
dan aturan aturan dalam menciptakan rasa kenyamanan. (Bruce Allsop, 1977). Dari
definisi yang dikemukakan oleh Bruce Allsopp (1977) dalam mengartikan tentang
kata estetika adalah sebuah ilmu pengetahuan, Alshopp juga menjelaskan bahwa
estetika merupakan suatu kegiatan edukasi atau pembelajaran mengenai proses dan
aturan tentang penciptaan sebuah karya yang nantinya akan menimbulkan perasaan
nyaman bagi yang melihat dan merasakannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) struktur adalah cara sesuatu
disusun atau dibangun; susunan; bangunan, yang disusun dengan pola tertentu,
pengaturan unsur atau bagian suatu benda, ketentuan unsur-unsur dari suatu benda.
Hotel menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bangunan
berkamar banyak yang disewakan sebagai tempat untuk menginap dan tempat makan
orang yang sedang dalam perjalanan; bentuk akomodasi yang dikelola secara
komersial, disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan, penginapan,
makan dan minum.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa “Struktur sebagai
Elemen Estetika dalam Rancangan Hotel Bintang 4 di Bandung” merupakan suatu
penginapan/ Hotel yang terletak di Bandung yang dirancang dengan mengedepankan
elemen struktur sebagai fungsi lain yakni sebagai fungsi estetika, ketika biasanya
struktur menjadi aspek penting sebagai kekuatan suatu bangunan dan disembunyikan
dibalik elemen-elemen estetika, maka pada rancangan bangunan ini struktur juga
dapat bertanggung jawab untuk tercapainya estetika pada bangunan, dimana struktur
sekaligus menjadi aksen dan ornament pada fasad bangunan.
3. Tema Perancangan
Tema yang diangkat dalam proyek Hotel Bintang 4 ini adalah Struktur
Arsitektur. Tema ini dianggap memiliki prinsip dan nilai estetika yang dapat membuat
bangunan menjadi iconic dan mampu membuat daya tarik pengunjung untuk datang
ke bangunan Hotel Bintang 4 ini.
A. Definisi Tema yang Diangkat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arsitektur adalah seni dan
ilmu merancang serta membuat konstruksi bangunan, jembatan, dan sebagainya;
metode dan gaya rancangan suatu konstruksi bangunan.
Arsitektur adalah seni mendesain bangunan yang baik, bangunan yang
atraktif, terencana dengan baik, dan terbangun dengan baik, dan keduanya sesuai
dan berarti untuk kalangan masyarakat.(Ben Farmer: Needs and Means)
Arsitektur adalah suatu seni atau ilmu pengetahuan konstruksi dikhususkan
bagi kepentingan manusia. Arsitektur adalah suatu keinginan dari suatu cerita yang
diterjemahkan dalam ruang, tempat tinggal, perubahan, pembaharuan. Arsitektur
adalah suatu politik seni yang mengkristalisasi kenyataan publik, nilai pergaulan
sosial, dan tujuan budaya jangka panjang. (sumber: Jencks,Charles. Modern
Movement in Architecture, Penguin Books, New York, 1997)
Arsitektur berarti menciptakan ruang dengan cara yang benar-benar
direncanakan dan dipikirkan (sumber: Louis I. Khan, Ruang Dalam Arsitektur,
Cornelis Van De Van, PT. Gramedia Utama , Jakarta, 1995)
Struktur menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan cara
sesuatu disusun atau dibangun; susunan; bangunan, yang disusun dengan pola
tertentu, pengaturan unsur atau bagian suatu benda, ketentuan unsur-unsur dari
suatu benda.
Struktur dapat digunakan untuk menentukan ruang, menciptakan unit,
menjelaskan sirkulasi dan pergerakan dalam bangunan, bahkan dapat menentukan
komposisi dan modulasi, dalam hal tersebut dapat dikatakan bahwa struktur
memiliki kaitan yang erat dengan arsitektur. (Andrew W. Charleson, 2005)
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa struktur arsitektur
merupakan gaya arsitektur dengan fokus pada ekspos struktur bangunan. Kebalikan
dengan bangunan pada umumnya yang strukturnya tertutupi oleh dinding ataupun
fasad, pada gaya arsitektur ini justru ditonjolkan sehingga terlihat struktur
bangunannya, biasanya digunakan untuk menunjukkan kemodernan dan high-tech.
B. Prinsip Struktur Arsitektur
Struktur merupakan elemen penting untuk sebuah bangunan agar dapat berdiri
kokoh. Struktur arsitektur menjadikan struktur sebagai elemen estetika pada suatu
bangunan sehingga bangunan tersebut menjadi menarik. Ada beberapa unsur
penting dalam struktur arsitektur, diantaranya:
1. Prinsip Desain Arsitektur | Prinsip Kekokohan
Tektonika arsitektur: art and craft of architectural construction.
Tektonika arsitektur bisa diartikan sebagai seni pertukangan dalam arsitektur.
 Struktur: Membahas bagaimana bangunan bisa kokoh berdiri, fokus pada
penyaluran gaya pada elemen- elemen bangunan.
 Konstruksi: Membahas bagaimana mendirikan bangunan, fokus pada
merakit (to assembly) elemen- elemen bangunan.
a. Lingkup pengetahuan konstruksi:
1. Pengetahuan tentang material arsitektur (dimensi, kekuatan, karakter).
2. Cara menyambung (to assembly) material menjadi elemen- elemen
bangunan.
3. Metode mendirikan elemen- elemen bangunan menjadi suatu bangunan
utuh.
4. Di lapangan mempelajari bagaimana pekerja lapangan bekerja.
b. Tujuan perancangan struktur:
1. Kekokohan bangunan, dengan mengidentifikasi dan menghitung gaya
yang bekerja.
2. Efisiensi, menyangkut biaya bangunan (bangunan yang kokoh belum
tentu baik jika mahal).
3. Mudah dilaksanakan (applicable), terkait dengan pengetahuan
konstruksi.
c. Lingkup Perancangan Struktur:
1. Mengidentifikasi gaya- gaya yang bekerja pada suatu bangunan.
a. Daya dukung tanah.
b. Beban oleh bahan bangunan.
c. Beban oleh pengguna (orang, mesin, dll.).
d. Beban eksternal (gempa, angin, dll.).
2. Menghitung kekuatan elemen struktur berdasarkan gaya- gaya yang
bekerja pada bangunan tersebut.
3. Merancang struktur (sistem dan rekayasa) agar bangunan kokoh
dengan struktur yang efisien.
d. Prinsip Rancangan Struktur:
1. Strength: Kekuatan untuk mencegah patah.
2. Stiffness: Kekakuan untuk tidak terjadi bent secara drastic.
3. Stability: Keseimbangan agar tidak runtuh.
4. Synergy: Sinergi untuk memperkuat rancangan arsitektural.
e. Sifat material menentukan kekuatan
1. Contoh indikator kekuatan rupture length = panjang batang yang
penampangnya sama digantung hingga putus akibat berat sendiri.
2. Struktur horisontal sistemnya terdiri dari 2 jenis yaitu sistem 1 arah dan
sistem 2 arah, sistem 2 arah hanya efisien jika panjang kurang lebih
sama dengan lebar.
3. Truss menyangga beban seperti balok tetapi untuk bentang lebih
panjang, karena tinggi balok yang besar berbanding lurus dengan
bentang panjang maka truss hanya mampu menyangga beban sendiri
bukan beban hidup. Truss menggantikan massi dengan bentuk segitiga.
4. Struktur funicular: Hanya mengalami 1 jenis gaya yaitu gaya tarik atau
gaya tekan saja. Jika struktur mengalami tarik saja maka bentuknya
melengkung ke bawah seperti kabel, jika struktur mengalami tekan saja
maka bentuknya melengkung ke atas menjadi arch.
5. Vault, a series of trussed arches in linear extrusion form a vault space.
6. Sistem vertikal menyalurkan beban sistem- sistem horisontal dari atap
ke pondasi. Unsur dapat menahan gravitasi atau gaya lateral, biasanya
dirancang untuk menahan keduanya. Shear wall yang dirancang
menahan gravitasi dan gaya lateral dapat menggunakan beratnya untuk
mencegah terguling (lebih penting pada dinding pendek).
Ada 4 macam jenis sistem vertikal yaitu shear wall, cantilever, moment frame,
serta braced frame. Umumnya gravitasi menyebabkan gaya tekan sementara gaya
lateral menyebabkan geser.

2. Prinsip Desain Arsitektur | Prinsip Estetika


 Gubahan Ruang dan Bentuk;
1. Elemen Utama.
2. Garis (panjang, arah, posisi): garis, garis yang berulang.
3. Pesawat (panjang dan lebar, bentuk, permukaan, orientasi, posisi):
Medan bagian atas, bidang dinding, bidang dasar bidang vertikal,
bidang horisontal.
4. Volume (panjang, lebar, dan kedalaman, bentuk dan ruang,
permukaan, orientasi, posisi).
5. Bentuk & ruang.
 Pada skala sebuah bangunan, ada berbagai strategi untuk menghubungkan
bentuk bangunan dengan ruang disekitarnya. Bangunan bisa:
1. Bentuk dinding di sepanjang tepi situs dan tentukan ruang luar yang
positif.
2. Kelilingi dan lampirkan halaman atau ruang atrium di dalam jilidnya.
3. Gabungkan ruang interiornya dengan ruang terbuka pribadi dari
sebuah situs berdinding.
4. Lampirkan sebagian dari situsnya sebagai ruang terbuka.
5. Berdiri sebagai bentuk yang berbeda di ruang angkasa dan
mendominasi situsnya.
6. Peregangan dan hadirkan wajah yang lebar ke fitur situsnya.
7. Berdirilah bebas di dalam situsnya namun memiliki ruang eksterior
pribadi menjadi perpanjangan ruang interiornya.
8. Berdiri sebagai bentuk positif di ruang negatif.
 Elemen Horisontal
1. Bidang dasar.
2. Elevated base plane.
3. Depressed base plane.
4. Pesawat di atas
 Elemen Vertikal
1. Elemen linier vertikal.
2. Bidang vertikal tunggal.
3. Pesawat berbentuk l.
4. Pesawat paralel: mengarahkan interaksi antar bidang yang mengapit
ruang.
5. Pesawat berbentuk U.
6. Empat bidang: penutupan.
 Skala, Proporsi, dan Prinsip Keteraturan
1. Proporsi : perbandingan besaran antara elemen- elemen pembentuk
suatu objek.
Ada beberapa teori- teori proporsi:
a. Aturan- aturan klasik Yunani.
b. Golden Section dan Teori Rennaissance.
c. Proporsi Geometri.
d. Proporsi Ken.
e. Proporsi Antropometris.
2. Skala: Perbandingan ukuran suatu objek dibandingkan dengan objek
yang lain. Dalam arsitektur, skala adalah perbandingan ukuran antara
suatu objek arsitektur dengan standar internasional, ukuran manusia,
objek lain secara visual.
3. Kesatuan (Unity): Terjadi jika konfigurasi dari elemen- elemen
arsitektur konsisten pada suatu struktur yang utuh.
4. Datum: Adanya suatu komponen bentuk yang bersifat
mengikat/menyatukan komponen-komponen lain yang mempunyai
konfigurasi/komposisi yang bermacam-macam.
5. Sumbu-simetri: garis (imaginer) yang membagi suatu objek menjadi
simetri.
a. Simetri bilateral (pencerminan): Suatu bentuk yang mempunyai
komposisi serupa secara tercermin.
b. Simetri radial (pemutaran): Suatu bentuk yang mempunyai
komposisi secara terputar.
6. Keseimbangan (Balance): Proporsi elemen suatu objek setara antara
dua sisi yang dibagi oleh suatu sumbu.
7. Hierarki: Konfigurasi elemen suatu objek dengan memperhatikan
urutan tingkat kepentingan elemen-elemen tersebut.
a. Hierarki by shape
b. Hierarki by space
8. Harmoni-Kontras.
9. Repetisi: Komposisi bentuk yang terjadi akibat pengulangan elemen
tertentu.
10. Irama: Repetisi yang bersifat linear dan mengandung waktu tertentu.
11. Aksen: Elemen pada suatu objek yang proporsinya tidak dominan
(kecil) tetapi diberi artikulasi khusus (tekstur/ warna) agar terlihat
sebagai elemen “pengunci” secara visual.

4. Latar Belakang
Sejak tahun 2011 Kota Bandung dalam lingkup nasional telah ditetapkan
sebagai salah satu Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) dan
Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Provinsi Jawa Barat (KPPN
Bandung Kota dan sekitarnya) dan merupakan bagian dari Destinasi Pariwisata
Nasional (DPN Bandung-Ciwidey dan sekitarnya). Pentingnya Kota Bandung sebagai
destinasi wisata unggulan diperkuat melalui hasil survey yang dilakukan oleh situs
Fastbooking.com di akhir 2014. Kota Bandung menduduki posisi ke-21 destinasi
wisata terpopuler/terfavorit didunia. Penentuan peringkat ini berdasarkan dari hasil
penghitungan likes yang diklik oleh pengguna Facebook pada satu lokasi wisata.
Berkembangnya tempat pariwisata di Kota Bandung, maka dibutuhkan sebuah
tempat untuk istirahat sementara seperti halnya hotel untuk menampung wisatawan
yang masuk ke Bandung. Kota Bandung adalah salah satu kota terbesar di Indonesia
yang memiliki banyak hotel dengan jumlah sebanyak 336 hotel berdasarkan data dari
badan statistik Kota Bandung. Pertumbuhan hotel di Kota Bandung berpusat didaerah
strategis yang dekat dengan destinasi wisata dan pusat kota serta pintu masuk Kota
Bandung. Pertumbuhan tersebut diakibatkan oleh para wisatawan yang ingin
mengunjungi Kota Bandung. Tidak hanya dengan destinasi wisata tetapi dengan
konsep bangunan yang iconic juga dapat menarik perhatian para wisatawan.
Bangunan yang iconic dapat ditandai salah satunya dengan bangunan yang
menonjolkan strukturnya atau dengan kata lain struktur arsitektur.
Struktur Arsitektur merupakan gaya arsitektur dengan fokus pada ekspos
struktur bangunan. Kebalikan dengan bangunan pada umumnya yang strukturnya
tertutupi oleh dinding ataupun fasad, pada gaya arsitektur ini justru ditonjolkan
sehingga terlihat struktur bangunannya. Hotel yang berkonsep arsitektur strukturalis
ini dapat menjadi sebuah bangunan yang iconic dengan tujuan untuk memanjakan
mata pengunjung dan untuk menarik perhatian agar lebih banyak lagi para wisatawan
yang datang ke Kota Bandung.
5. Tujuan Proyek
Tujuan proyek pembangunan ini adalah:
1) Menciptakan bangunan unik di kota Bandung yang berfungsi sebagai hotel
dengan konsep high tech expression berupa elemen struktur sebagai unsur
utamanya.
2) Menciptakan hotel bintang 4 yang dapat menarik perhatian para wisatawan untuk
datang ke Kota Bandung
3) Menciptakan hotel bintang 4 yang tidak hanya menonjolkan strukturnya saja
tetapi juga lebih mengekspresikan kesan harmonis dengan hal yang
melatarbelakanginya, seperti lingkungan sekitar tapak.

6. Deskripsi Proyek
Nama Proyek : Hotel Bintang 4
Nama Bangunan : Expo Resort Hotel
Sifat Proyek : Fiktif
Owner : Swasta
Sumber Dana : Pribadi
Lokasi : Jl. DR Setiabudi, Kabupaten Bandung Barat, Bandung,
Indonesia
Luas Lahan : 21.000 m2
KDB : 40%
KLB : 0.7
KDH : Minimal 52%
GSB : ½ lebar jalan utama

7. Pengenalan & Pemahaman Proyek


a. Perkembangan Tingkat Penghunian Hotel di Jawa Barat
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel di Jawa Barat pada November
2018 mencapai 60,30 persen, naik 3,67 poin dibandingkan TPK Oktober 2018
yang mencapai 56,63 persen. Baik TPK hotel bintang maupun nonbintang
mengalami peningkatan.
TPK hotel bintang pada November 2018 sebesar 66,14 persen, naik 3,92
poin dibandingkan TPK Oktober 2018 yang mencapai 62,22 persen. Sementara
TPK hotel nonbintang mencapai 30,82 persen, naik 0,62 poin dibandingkan
Oktober 2018 yang mencapai 30,20 persen. Selama periode November 2017
hingga November 2018 TPK kelompok hotel bintang selalu lebih tinggi dari TPK
hotel non bintang (grafik 1).

Grafik 1
Perkembangan TPK Hotel Bintang dan Non Bintang
di Jawa Barat November 2017 – November 2018
(Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat)

Tingkat penghunian kamar hotel bintang pada November 2018


mengalami peningkatan dibandingkan Oktober 2018. Peningkatan terjadi pada
TPK hotel bintang 1, bintang 3, bintang 4 dan bintang 5, sedangkan TPK hotel
bintang 2 mengalami penurunan (Tabel 1).

Tabel 1
Tingkat Penghunian Kamar Hotel Menurut Klasifikasi Bintang di Jawa Barat
(Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat)

TPK tertinggi menurut kelas hotel bintang November 2018 tercatat pada
hotel bintang 4 sebesar 69,45 persen, diikuti oleh hotel bintang 2 sebesar 67,43
persen, hotel bintang 5 sebesar 66,07 persen dan hotel bintang 3 sebesar 65,22
persen. TPK terendah terjadi pada hotel bintang 1 sebesar 39,30 persen.
TPK hotel non bintang pada November 2018 sebesar 30,82 persen, naik
0,62 poin dibandingkan Oktober 2018 yang tercatat 30,20 persen. Peningkatan
TPK hotel non bintang terjadi pada kelompok kamar 10-24 dari 32,14 persen
pada Oktober 2018 menjadi 35,00 persen pada November 2018, kemudian
kelompok kamar >40 dari 25,99 persen pada Oktober 2018 menjadi 29,18 persen
pada November 2018.
TPK tertinggi untuk hotel non bintang terjadi pada hotel dengan kelompok
kamar 10-24 sebesar 35,00 persen. Sedangkan TPK hotel non bintang yang
terendah sebesar 25,91 persen terjadi pada hotel dengan kelompok kamar <10.

Tabel 2
Tingkat Penghunian Kamar Hotel Menurut Klasifikasi Non Bintang di Jawa Barat
(Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat)

b. Karakteristik Hotel
Karakteristik hotel bintang 4 yang akan dirancang adalah sebagai berikut:
 Jumlah kamar standar minimum 50 kamar
 Jumlah kamar suite minimum 3 kamar
 Kamar mandi didalam
 Luas kamar standar minimum 24 m2
 Luas kamar suite minimum 48 m2
 Tersedia sarana olahraga
 Tersedia bar dan fasilitas yang lainnya
Kriteria hotel bintang 4 dapat dilihat pada tabel 7.1 sebagai berikut:
Tabel 7.1
Kriteria Hotel Bintang 4
NO ASPEK NO UNSUR NO SUBUNSUR
1 PRODUK 1 Bangunan 1 Suatu bangunan yang diperuntukkan sebagai
usaha hotel yang baik dan terawatt
2 Penanda Arah (signage) 2 Tersedia papan nama hotel (sign board) yang jelas
dan mudah terlihat
3 Tersedia tanda arah yang menunjukkan fasilitas
hotel (hotel directional sign) yang jelas dan mudah
4 terlihat
Tersedia tanda arah menuju jalan keluar yang
aman (evacuation sign), jelas dan mudah terlihat

3 Taman atau Landscape 5 Taman didalam atau diluar bangunan hotel


6 Tanaman di dalam bangunan hotel
4 Parkir 7 Tersedia tempat parkir dan pengaturan lalu
8 lintasnya *
Area menurunkan tamu (drop off )
5 Lobby 9 Tersedia Lobby dengan sirkulasi udara dan
pencahayaan yang baik
10 Aksesibilitas (ramp) bagi penyandang cacat *
11 Tersedia penjelasan fasilitas hotel (Hotel
12 Directory)
Tersedia lounge
6 Front Office 13 Tersedia Gerai (counter) atau meja kursi
14 Tersedia Sertifikat dan/atau Plakat (Decal) tanda
bintang sesuai Golongan Kelas hotel
15 Gerai Pelayanan tamu (Concierge Counter)
16 Tersedia ruang Penitipan Barang Berharga
17 Tersedia Ruang Penitipan Barang Tamu
18 Tersedia Meja duty manager
7 Business Center * 19 Tersedia Ruang untuk pelayanan Bisnis
8 Area Belanja (Shopping 20 Tersedia pilihan Drug store/bank/gerai penukaran
Arcade) uang (money changer)/travel
agent/airlines/souvenir shop atau lainnya
9 Lift 21 Lift untuk tamu (untuk bangunan di atas 5 lantai
dari lantai dasar)
22 Lift untuk Karyawan/Barang (untuk bangunan di
atas 5 lantai dari lantai dasar)
10 Toilet Umum (Public Rest 23 Toilet Pria dan Wanita Terpisah dengan tanda
Room) yang jelas
24 Urinoir beserta washletnya (khusus untuk toilet
25 pria) Tersedia closet duduk dengan hand shower/
washlet dan toilet paper
26 Tersedia tempat cuci tangan,sabun dan cermin
27 Tersedia Tempat Sampah
28 Ruang Rias (vanity area) : khusus toilet wanita
29 Toilet bagi tamu dengan keterbatasan fisik
30 Alat pengering tangan
11 Koridor 31 Tersedia koridor
32 Tersedia pintu darurat, tangga darurat (bangunan
bertingkat) dan lampu darurat
33 Tersedia pencahayaan dan sirkulasi udara yang
34 baik
Tersedia Alat Pemadam Kebakaran
12 Fasilitas makan dan 35 Tersedia ruangmakan dan minum dengan sirkulasi
minum (Food and udara dan pencahayaan yang baik
Beverage Outlets) 36 Tersedia meja dan kursi makan serta peralatannya
37 Tersedia Menu
13 Room service 38 Letaknya berdekatan dengan dapur dan akses ke
kamar
39 Tersedia menu room service
40 Tersedia peralatan dan perlengkapannya
14 Kamar Tidur Tamu 41 Tersedia kamar tidur termasuk kamar mandi
42 Tersedia kamar Suite
43 Pintu dilengkapi dengan kunci pengaman
44 Kamar dilengkapi dengan sistem penghemat
45 energi
46 Jendela dilengkapi dengan alat pengaman
Kamar dilengkapi dengan alat pendeteksi asap
47 (smoke detector) dan sprinkler
48 Tersedia pencahayaan dan sirkulasi udara yang
baik
49 Tesedia petunjuk/arah kiblat yang dipasang di
50 langit-langit (ceiling)
51 Tersedia tempat tidur beserta perlengkapannya
52 Tersedia meja dan kursi kerja
53 Tersedia meja dan kursi duduk
Tersedia tempat sampah
54 Tersedia denah lokasi kamar dan petunjuk
penyelamatan diri
55 54 Petunjuk fasilitas dan pelayanan hotel
56 (compendium)
57 Memenuhi ketentuan tingkat kebisingan
Kamar tidur untuk tamu dengan keterbatasan fisik
Tanda dilarang mengganggu (don't disturb) dan
58 permintaan pembersihan kamar (make up room)
59 dibuat secara terpisah atau menggunakan
60 elektronik Rak Koper (luggage rack)
61 Tempat penyimpanan pakaian
62 Individual Safe Deposit Box
63 Tersedia Night Table/Bed Side Table
64 Tersedia lampu baca
65 Cermin panjang (Full Length Mirror)
66 Tersedia Saluran komunikasi internal dan
67 eksternal
68 Tersedia Jaringan internet
69 Tersedia TV
70 Tersedia Mini bar dan pembuka botol
71 Coffee - Tea Maker set
72 Tersedia peralatan tulis untuk tamu (guest
stationary)
15 Kamar Mandi Tamu 70 Kamar mandi tamu dengan lantai yang tidak licin
71 Tersedia kamar mandi dengan kelengkapannya
minimal wastafel, closet, shower
72 Tersedia sirkulasi udara dan pencahayaan
73 Tersedia Saluran pembuangan air
74 Tersedia air panas dan air dingin
75 Tersedia tempat sampah
76 Tersedia perlengkapan mandi tamu (toiletteries)
77 Tersedia handuk mandi
78 Pengering rambut (hair Dryer)
79 Telepon paralel dengan kamar tidur
80 Gelas sikat gigi
81 Kamar mandi untuk tamu dengan keterbatasan
fisik (minimum 200 kamar)
16 Sarana Olah Raga, 82 Tersedia sarana olah raga, rekreasi dan kebugaran
rekreasi dan kebugaran
19 Ruang Rapat 83 Ruang rapat dilengkapi perlengkapan dan
peralatan termasuk audio visual
20 RuangPerjamuan 84 Tersedia function room dengan akses tersendiri
/function room (tidak untuk tamu
berlaku bagi Hotel 85 Toilet umum yang terpisah untuk pria dan wanita
Resort) 86 Jalur evakuasi
19 Dapur 87 Tersedia dapur yang luasnya sesuai dengan
88 kebutuhan
Lantai, dinding dan ceiling kuat, aman dan mudah
89 pemeliharaannya
Drainase dilengkapi dengan perangkap lemak
90 (grease trap)
Tersedia Kitchen hood yang dilengkapi dengan
91 penyaring lemak (grease filter)
Tersedia sistem sirkulasi udara dan sistem
92 pencahayaan
93 Tersedia peralatan dan perlengkapan dapur
94 Tersedia perlengkapan P3K
Tersedia tempat sampah tertutup yang terpisah
95 untuk sampah basah dan kering
96 Tersedia alat pemadam kebakaran
Tempat penyimpanan bahan makanan harian/daily
97 store
Tata letak perlengkapan dapur sesuai alur kerja *
20 Area Penerimaan Barang* 98 Tersedia Area Penerimaan Barang
99 Alat timbangan yang telah ditera
21 Daerah Penyimpanan 100 Tersedia Gudang Umum
(Storage) 101 Tempat penyimpanan Bahan Makanan dan
102 minuman
103 Area untuk Peralatan dan Perlengkapan
104 Gudang Engineering
105 Area penyimpanan barang bekas
Tempat penyimpanan bahan baker
22 Area Tata Graha 106 Ruang Penyimpanan dan pendistribusian guest
suplies dan amenities
107 Ruang linen dan seragam (uniform)
108 Room boy station 109 Janitor
23 Ruang Periksa Kesehatan 109 Tersedia ruang periksa dengan peralatan medis
obat-obatan, dan perlengkapan yang dibutuhkan

24 Ruang Karyawan 110 Tersedia kamar mandi laki-laki dan wanita


111 terpisah
112 Tersedia ruang ganti karyawan dilengkapi dengan
113 locker laki-laki dan wanita terpisah
114 Tersedia ruang makan karyawan
115 Tersedia tempat Ibadah
116 Tersedia tempat sampah
117 Kaca rias dan wastafel
Ruang Pelatihan
25 Kantor 118 Tersedia Ruang Pengelola Hotel
26 Keamanan 119 Ruang security dan isntalasi CCTV
27 Utilitas 120 Tersedia instalasi air bersih
121 Tersedia genset
122 Tersedia instalasi jaringan komunikasi
123 Tersedia instalasi air panas
28 Pengelolaan limbah 124 Tempat penampungan sampah
125 Instalasi pengelolaan air limbah (IPAL)
29 Perawatan dan perbaikan 126 Tersedia tempat untuk pemeliharaan dan
peralatan perbaikan yang dilengkapi peralatan
Sumber : Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor
Pm.53/Hm.001/Mpek/2013 diunduh tanggal 26 Januari 2019

c. Jenis Hotel
Adapun jenis-jenis hotel diantaranya:
 Transit Hotel
Hotel dengan waktu inap tidak lama (harian). Fasilitas yang dapat
mendukung hotel seperti ini adalah layanan pada tamu dalam waktu singkat
seperti laundry, restoran dan agen perjalanan.
 Semi Residential Hotel
Hotel dengan rata-rata waktu inap tamu cukup lama (mingguan). Fasilitas
hotel seperti ini perlu dilengkapi dengan fasilitas yang lebih bervariasi, tidak
membosankan dan untuk waktu yang relative lebih lama, seperti fasilitas
kebugaran (spa, jogging track, tenis, kolam renang, dll).
 Residential Hotel
Hotel dengan waktu kunjungan tamu yang tergolong lama (bulanan). Hotel
seperti ini mengedepankan rasa nyaman dan keamanan pada tamu hotel.
Fasilitas yang disediakan biasanya fasilitas yang dibutuhkan sehari-hari
seperti supermarket atau perbelanjaan, fasilitas kebugaran (spa, jogging
track, tenis, kolam renang, dll), fasilitas rekreasi (taman bermain, restoran,
café, dll). Maka dari itu perletakkan hotel yang seperti ini biasanya
digabungkan atau join dengan tempat perbelanjaan atau supermarket agar
saling dapat memberikan keuntungan, layanan dan sebagai daya tarik
pengunjung.
d. Aktifitas Bangunan Hotel
Aktifitas pada bangunan hotel, diantaranya:
1. Aktivitas pengunjung
Aktivitas pengunjung hotel dibedakan menjadi dua kelompok pengunjung
yaitu :
a. Pengunjung menginap biasa:
1. Menginap di kamar hotel selama waktu yang diinginkan.
2. Mempergunakan fasilitas yang disediakan hotel seperti olah raga,
restaurant, bar dan fasilitas hiburan yang lainnya.
3. Keluar hotel untuk kepentingan pribadinya seperti mengunjungi
tempat wisata, keluarga, teman dan keperluan bisnis dan lain-lain.
b. Pengunjung umum
Pengunjung umum tidak menggunakan fasilitas umum pada hotel
tetapi mengunjungi hotel untuk keperluan tertentu. Pengunjung umum
dapat dibedakan menjadi :
1. Pengunjung hotel harian, mengunjungi hotel untuk mempergunakan
fasilitas hotel seperti : restoran, bar, sarana olah raga dan sarana
lainnya.
2. Mengunjungi kegiatan konvensi, mengunjungi kegiatan konvensi
seperti exhibition hall / pameran yang biasanya dibuka untuk umum.
2. Aktivitas Pengelola Hotel
Pengelola hotel bertugas mengelola hotel sehari-hari dan memberikan
pelayanan kepada semua pengunjung hotel.
3. Aktivitas utama
Dalam bidang perhotelan ada dua aktivitas yang utama yaitu :
a. Back of areas, yaitu kegiatan karyawan yang tidak langsung
berhubungan dengan tamu, seperti karyawan keuangan, penyedia
makanan dan minuman, laundry dan lain-lain.
b. Front of areas, yaitu kegiatan karyawan yang berhubungan langsung
dengan tamu seperti, penerima tamu (front desk), kamar tamu (quest
room), ruang fungsional (function room) dan lain-lain.

e. Program Ruang Makro

No. Zona Ruang Jenis Ruang

1. Publik Drop Off


Lobby
Resepsionis
Ruang Tunggu
2. Semi Publik Meeting Room
Office
3. Privat Kamar Tidur Standar
Kamar Tidur Suite
4. Servis Gudang
Ruang Teknisi
Ruang Security (Keamanan)
Ruang Cleaning Service
Ruang Pantry
Loading dock
Ruang Utilitas Mekanikal
Ruang Utilitas Elektrikal
Ruang Tangga Darurat
Ruang Lift Barang
Ruang Lift Penumpang
Laundry Room
Locker Room
Employee Room
5. Fasilitas Bar
Cafe
Restoran
Sarana Olahraga
Swimming Pool
6. Ruang Penunjang Toilet
Toilet difable
Mushola
Tempat Parkir Mobil
Tempat Parkir Motor
Sumber: Analisis Penulis, 2019
8. Studi Banding
a) Baku Flame Tower
Arsitek : HOK
Lokasi : Baku, Azerbaijan
Area : 234500 m2
Tahun Proyek : 2013
Fungsi : Hotel

Gambar 8.1 Baku Flame Towers


(Sumber: Archdaily, diakses tanggal 10 Januari 2019)

Baku flame towers terletak di laut kaspia yang menghadap ke Teluk Baku
dan pusat kota Tua, ketiga menara itu terinspirasi oleh sejarah kuno pemujaan api
Azerbaijan dan akan menerangi kota dan bertindak sebagai api abadi. Bangunan
ini termasuk yang tertinggi di negaranya, dengan ketinggian 182 m dan terlihat
lebih menonjol dengan bangunan lain di sekitarnya.
Gambar 8.2 Baku Flame Towers
(Sumber: Archdaily, diakses tanggal 10 Januari 2019)

Fasad dari ketiga Flame Towers ini berfungsi sebagai layar tampilan besar
dengan penggunaan lebih dari 10.000 luminair LED. Tujuan dari bangunan ini
adalah untuk menciptakan fasad media untukk menampilkan konten video dan
mengintegrasikan perlengkapan pencahayaan yang tidak mencolok ke dalam
arsitektur yang ada.
Baku Flame Tower merupakan Hotel bintang 5,
dengan Fasilitas:
b) Venue Hotel
Arsitek : Aline
Lokasi : Khanh Hoa 650000, Vietnam
Area : 3150 m2
Tahun Proyek : 2017
Fungsi : Hotel

Gambar 8.2 Venue Hotel


(Sumber: Archdaily, diakses tanggal 10 Januari 2019)

Venue Hotel terletak di alun-alun pusat kota Nha Trang, Vietnam.


Bangunan ini sangat menonjol diantara bangunan yang lain di sekitarnya. Pada
area fasad terkesan monoton sehingga arsitek mengubahnya menjadi dinding
yang berwarna-warni. Bagian dari ruang elevasi digunakan sebagai tempat untuk
menanam pohon sehingga hasilnya menciptakan balkon “hijau”, terkesan
membawa perasaan nyaman kepada pengguna.
Gambar 8.3 Kamar Venue Hotel
(Sumber: Archdaily, diakses tanggal 10 Januari 2019)

Area fasad cukup sempit tetapi plot tanah adalah plot sudut sehingga
seluruh ruangan dirancang untuk menerima angina alami langsung dan sinar
matahari. Semua kamar dimanjakan dengan pemandangan laut.
Dari sudut pandang arsiteknya, bangunan ini menginginkan bangunan yang
mengesankan pengunjung, perasaan hingga penggunaan yang paling nyaman dan
nyaman. Mengurangi biaya konstruksi dan pengoperasian bangunan juga
diperhatikan, sehingga semua bahan di dalam bangunan adalah bahan-bahan
murni lokal, sel surya yang menyediakan air panas yang memadai untuk semua
kamar, sistem pencahayaan, ada 100% yang menerima pencahayaan langsung,
sehingga meminimalkan penggunaan listrik.
Venue Hotel merupakan hotel bintang 3, dengan fasilitas diantaranya:
 AC
 Parking
 24 hours front desk
 Swimming pool
 Elevator
 Restaurant
 Wifi

c) Hotel Mercure Pantai Indah Kapuk

Gambar 8.4 Hotel Mercure PIK


(Sumber: Archdaily, diakses tanggal 10 Januari 2019)
Hotel Mercure PIK terletak di Jakarta Utara, hotel ini merupakan hotel
kelas menengah yang strategis di Pantai Indah Kapuk, kawasan paling terkenal di
Jakarta Utara. Hotel ini memiliki 240 kamar dan suite nyaman yang dirancang
bagi pelancong bisnis dan rekreasi modern. Fasilitas pada hotel ini memiliki
restoran, ruang pertemuan, kolam renang, spa, dan pusat kebugaran. Bangunan ini
menonjolkan elemen struktur vertikal yang memanjang pada fasadnya sehingga
bangunan ini menjadi pusat perhatian pengunjung.
Hotel Mercure PIK merupakan hotel bintang 4, dengan fasilitas utama dan
keluarga, dapat dilihat pada tabel 8.1.
Fasilitas Utama Fasilitas untuk Keluarga
 240 kamar tamu bebas-  Kolam renang anak
rokok  Taman bermain anak di properti
 Restoran dan bar/lounge  Klub anak (gratis)
 Kolam renang outdoor  Kamar mandi pribadi
 Sarapan tersedia  Pengering rambut
 Klub anak-anak gratis  Fasilitas membuat kopi/teh
 Pusat kebugaran
 Resepsionis 24 jam
 AC
 Unit komputer
 Brankas di resepsionis
 Layanan laundry
 Layanan concierge
 Wi-Fi gratis dan tempat
parkir gratis

Tabel 8.1 Fasilitas Hotel Mercure PIK


(Sumber: https://id.hotels.com/ho685699488/mercure-jakarta-pantai-indah-kapuk-jakarta-indonesia/, diakses
tanggal 27 Januari 2019)

9. Studi Preseden
A. Aula Barat dan Timur ITB
Arsitek : Henry Maclaine Pont
Lokasi : Kota Bandung, Bandung, Indonesia
Sumber : https://www.itb.ac.id

Salah satu hal yang menarik perhatian dari bangunan kembar aula barat dan
aula timur adalah atap yang dimilikinya. Atap tumpu dengan gaya tradisional
membuat citra lokal yang diambil dari berbagai macam model atap yang ada di
Indonesia berpadu membentuk keserasian dengan gaya bangunan Eropa modern.
Beberapa aspek tradisional yang terdapat di aula barat dan aula timur adalah
bentang atap yang besar dan terbuat dari kayu yang kecil-kecil. Pengaturan
ventilasi, ruang dan pintu masuk yang sesuai dengan iklim tropis menjadikan
bangunan ini dianggap cukup sempurna di masa itu. Dapat dilihat pada gambar
9.1.

Gambar 9.1 Aula Barat & Timur ITB


(Sumber: https://www.itb.ac.id, diakses tanggal 27 Januari 2019)

Apabila dilihat pada gambar 9.2, dapat dikatakan bahwa bentuk kuda-kuda
atap Aula Timur dan Aula Barat ITB adalah bentuk pelana dengan kuda-kuda
miring pada ujungnya. Benduk ini dibuat dari kayu lapis yang disusun menjadi
bentuk busur, sehingga memberikan efek bentang lebar di bagian dalam.
Kuda-kuda atap memberikan efek visual yang cukup menarik sehingga
kuda-kuda ini mempunyai nilai estetika yang baik, yang sangat menarik untuk
dilihat oleh mata.
Gambar 9.2 Struktur atap Aula ITB
(Sumber: https://www.itb.ac.id, diakses tanggal 27 Januari 2019)

B. Santiago’s City of Art and Science


Arsitek : Santiago Calatrava
Lokasi : Spanyol
Sumber : www.archdaily.com

Gambar 9.3 Santiago’s City of Art & Science


(Sumber: https://www.archdaily.com/868774/santiago-calatravas-city-of-arts-and-sciences-
through-the-lens-of-photographer-sebastian-weiss, diakses tanggal 27 Januari 2019)

Bangunan ini dirancang sendiri oleh arsitek Santiago Calatrava dengan


fungsi sebagai kota seni dan sains. Materialitas struktur bangunan ini
menekankan kemampuan cahaya untuk menguraikan hubungan spasial antara
bentuk bangunan dengan matahari yang bergerak. Konsep bangunan ini diambil
dari analogi binatang buas dinosaurus yang terlihat pada bagian pengulangan
struktur yang berirama yang dianalogikan sebagai tulang rusuknya. Secara
keseluruhan bangunan ini sangat menarik, bentuk bangunan yang tidak biasa dan
menjadi iconic di Kota tersebut.

Gambar 9.4 Fasad Santiago’s City of Art & Science


(Sumber: https://www.archdaily.com/868774/santiago-calatravas-city-of-arts-and-sciences-
through-the-lens-of-photographer-sebastian-weiss, diakses tanggal 27 Januari 2019)

C. Milwaukee Art Museum


Arsitek : Santiago Calatrava
Lokasi : United States
Sumber : www.archdaily.com

Gambar 9.5 Milwaukee Art Museum


(Sumber: https://arcspace.com/feature/the-milwaukee-art-museum, diakses tanggal 27 Januari
2019)
Bangunan ini difungsikan sebagai museum yang dirancang oleh Arsitek
Calatrava di United States. Bentuk bangunannya sangat menonjol dengan
bangunan di sekitarnya ditandai dengan material baja dan beton putih yang saling
berhubungan.
Desain Calatrava sering terinspirasi oleh alam, menampilkan kombinasi
bentuk organik dan inovasi teknologi. Ekspansi Milwaukee Art Museum
menggabungkan beberapa elemen yang terinspirasi oleh lokasi tepi danau. Kisi-
kisi baja bergerak yang terinspirasi oleh sayap burung, jembatan penyebrangan
kabel dengan tiang yang menjulang tinggi yang terinspirasi oleh bentuk perahu
layar dan lengkungan pada lantai satu yang mengingatkan pada ombak.

Gambar 9.6 koridor & bentuk Bangunan


(Sumber: https://arcspace.com/feature/the-milwaukee-art-museum, diakses tanggal 27 Januari
2019)

10. Tinjauan Tapak


A. Data Tapak
Nama Proyek : Hotel Bintang 4
Nama Bangunan : Expo Resort Hotel
Fungsi Bangunan : Hotel
Jenis Proyek : Fiktif
Owner : Swasta
Lokasi : Jalan DR. Setiabudi, Kabupaten Bandung Barat, Bandung,
Jawa Barat, Indonesia
Luas Lahan : 21.000 m2
KDB : 40%
40% x 21.000 m2 = 8400 m2
KLB : 0.7
0.7 x 21.000 m2 = 14.700
KDH minimum : 52%
52% x 21.000 m2 = 10.920 m2
GSB : ½ lebar jalan utama

Gambar 9.1 Peta Lokasi Site


(Sumber: https://www.google.co.id/maps/@6.8402996,107.5990589,407m/data=!3m1!1e3, diakses
tanggal 27 Januari 2019 – diedit)

B. Karakteristik Tapak
Lokasi tapak berada di Jalan DR Setiabudi, Kabupaten Bandung Barat,
Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Lokasi tapak berada di kawasan permukiman
perkotaan berdasarkan RTRW Kabupaten Bandung Barat, lokasi tapak
bersebrangan dengan Juvante Hotel dengan kondisi topografi berkontur. Lokasi
tapak tidak berada pada jalan utama tetapi pada jalan lingkungan, namun lokasi
tapak masih cukup strategis karena tidak jauh dengan jalan utama.
5
8 3
1 2 6
9
4
7

1 2 3

4 5 6

7 8 9

Gambar 9.1 Kondisi Eksisting Site


(Sumber: Dokumentasi Data Survey, tanggal 27 Januari 2019)
C. Potensi & Kendala Tapak
Lokasi site berada di Jl. DR Setiabudi, Kabupaten Bandung Barat,
berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung Barat
lokasi tersebut diperuntukkan untuk fungsi permukiman perkotaan sehingga
fungsi hotel pada jalan DR Setiabudi sesuai dengan RTRW wilayah tersebut.
Lokasi site tidak pada jalan utama, namun berada pada jalan lingkungan.
Pencapaian menuju lokasi cukup strategis karena mudah diakses oleh masyarakat
dalam maupun dari luar kota. Kendala akses untuk menuju lokasi, pada jalan
lingkungan tidak terlalu besar, namun masih memungkinkan untuk 2 mobil kecil.
Potensi lokasi site berada pada topografi berkontur dan memiliki view yang
cukup bagus. Lokasi site maupun sekitarnya masih banyak vegetasi sehingga
penghawaan udara cukup sejuk. Lokasi site dengan iklim tropis menjadi potensi
sekaligus kendala dalam proses perancangan karena berkaitan dengan bagaimana
respon terhadap iklim setempat serta kondisi topografi yang berkontur sehingga
pada rancangan perlu direncanakan dengan tepat seperti cut and fill pada area
yang berkontur yang harus dipikirkan dengan baik dan tepat.
Lokasi site berdekatan dengan hotel-hotel disekitarnya diantaranya Juvante
Hotel, Novena Hotel Lembang, Moscato Hotel & Café, Hotel Alam Permai dan
Hotel GAIA. Lokasi yang berdekatan dengan hotel menjadi daya saing sehingga
hotel yang akan dirancang harus lebih menarik dan iconic dengan hotel
disekitarnya.

11. Pernyataan Persoalan Arsitektur


A. Aspek Perancangan
 Merancang bangunan hotel bintang 4 yang sesuai dengan regulasi setempat
 Menerapkan prinsip arsitektur strukturalis sebagai dasar pengembangan desain
 Menerapkan konsep high tech expression pada bangunan hotel bintang 4
 Merancang bangunan yang dapat menjadi ciri khas kota Bandung
 Merencanakan fungsi ruang dan keterkaitan antar ruang agar menciptakan
bangunan yang berfungsi secara efektif dan efisien
 Merancang kelancaran dan memudahkan dalam sirkulasi pengguna bangunan
B. Aspek Bangunan (Fisik)
 Menjadikan struktur sebagai elemen estetika bangunan
 Menciptakan wujud fisik bangunan yang ekspresif dan dinamis
 Merencanakan penggunaan struktur yang sesuai dengan fungsi hotel bintang 4
 Merencanakan pemilihan material dan warna pada bangunan yang sesuai
dengan konsep high tech expression
C. Aspek Tapak dan Lingkungan
 Merancang bangunan dengan menyikapi potensi dan kendala yang ada pada site.
 Penggunaan material yang tidak menimbulkan dampak negatif terhadap
lingkungan
 Menciptakan hubungna yang harmonis antara ruang luar dengan ruang dalam

12. Metode Pendekatan Perancangan


Berdasarkan masalah – masalah yang ada, maka diperlukan metoda
pendekatan perancangan untuk penyikapan dan penyelesaian sebagai berikut :
a. Studi Literatur
Studi literatur berupa pencarian data terkait standar perancangan bangunan hotel
dan buku panduan sesuai dengan tema
b. Survey Lokasi
Peninjauan lokasi tapak diperlukan agar mendapatkan data – data yang valid
terkait keadaan tapak pada situasi – situasi tertentu agar terjadi keselarasan antara
bangunan dan tapak.
c. Studi Banding
Studi yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengenal lebih dalam pada
bangunan sejenis untuk mendapatkan gambaran – gambaran tentang arsitektural,
struktur, dan fungsi dimana hal tersebut dijadikan pertimbangan menuju arah
perencanaan yang berhubungan dengan proyek yang direncanakan.
d. Wawancara
Melakukan pertanyaan dengan pihak – pihak yang berkompeten/pihak terkait
untuk mendapatkan masukan yang berguna di dalam proses perancangan.
e. Studi Kasus
Dari studi kasus pada hotel tertentu, dapat digunakan sebagai data perancangan di
mana studi kasus ini nantinya akan membandingkan dan mencari sebuah referensi
tentang perancangan yang akan dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA

 https://ejurnal.itenas.ac.id/index.php/rekakarsa/article/download/362/446.pdf, diakses
tanggal 10/1/2019
 http://etheses.uin-malang.ac.id/1526/8/07660014_Bab_5.pdf , diakses tanggal
10/1/2019
 Kamus Besar Bahasa Indonesia
 Jencks,Charles. Modern Movement in Architecture, Penguin Books, New York, 1997
 Louis I. Khan, Ruang Dalam Arsitektur, Cornelis Van De Van, PT. Gramedia Utama ,
Jakarta, 1995
 Charleson, Andrew. 2005. Structure as Architecture: A Source Book for Architects
and Structural Engineers. Italy. Elsevier
 https://kbbi.web.id/struktur
 https://kbbi.web.id/estetika
 https://www.accorhotels.com/id/hotel-9021-mercure-jakarta-pantai-indah-
kapuk/index.shtml
 https://www.archdaily.com/538883/baku-flame-towers-hok?ad_medium=gallery
 https://www.archdaily.com/894866/venue-hotel-aline-architect
 Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat
 https://www.exacon.co.id/artikel/prinsip-desain-arsitektur/, diakses tanggal 27/1/2019
 https://www.itb.ac.id/news/read/4049/home/aula-barat-dan-aula-timur-itb-bangunan-
kembar-yang-tak-lekang-oleh-waktu, diakses tanggal 27/1/2019