Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pemeriksaan diagnostik adalah masalah kesehatan aktual dan potensial dimana berdasarkan
pendidikan dan pengalamannya, perawat mampu dan mempunyai kewenangan standar
praktik keperawatan dan kode etik keperawatan yang berlaku di indonesia. pemeriksaan
diagnostik dilakukan untuk memperkuat diagnosa penyakit pasien.
Diagnostic dan spesimen adalah suatu pemeriksaan yang mutlak dilakukan untuk
menegakkan suatu diagnose penyakit klien atau pasien. karena, melalui pemeriksaan ini kita
dapat mengetahui tujuannya adalah untuk mengidentifikasi masalah dimana adanya respon
klien terhadap status kesehatan / penyakit. factor-faktor yang menegakkan suatu masalah,
kemampuan klien untuk mengatasi masalah.
Jenis-jenis pemeriksaan diagnostic, yaitu : usg, rontgen, pap smear, endoskopi, kolonoskopi,
ct.scaning, mmamografi, eeg, ekg.
Jenis-jenis spesimen yaitu pemeriksaan darah, urine, feses, sputum. sumber kesalahan
diagnostic yaitu : kesalahan pengumpulan data, kesalahan dalam interpretasi dan analisis
data, kesalahan dalam pengelompokan data, kesalahan dalam pernyataan diagnostik.
Status kesehatan yang optimal merupakan syarat untuk menjalankan tugas dalam
pembangunan. Menurut paradigma sehat, diharapkan orang tetap sehat dan lebih sehat,
sedangkan yang berpenyakit lekas dapat di sembuhkan agar sehat. Untuk segera dapat
disembuhkan, perlu di tentukan penyakitnya dan pengobatan yang tepat, serta prognosis
atau ramalan yaitu ringan, berat, atau fatal.
Dalam menentukan penyakit atau diagnosis, prognosis, mengendalikan penyakit dan
memonitor pengobatan atau memantau jalannya penyakit, dokter melakukan pemeriksaan
laboratorium atau tes laboratorium yaitu pemeriksaan spesimen atau sampul yang diambil
dari pasien. Banyak pemeriksaan spesimen dilakukan di laboratorium klinik atau
lengkapnya di laboratorium patologi klinik. Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan
dan prosedur pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau sampel dari penderita,
dapat berupa urine (air kencing), darah, sputum (dahak), dan sebagainya untuk menentukan
diagnosis atau membantu menentukan diagnosis penyakit bersama dengan tes penunjang
lainya, anamnesis, dan pemeriksaan lainya.
Sekumpulan pemeriksaan laboratorium yang dirancang, untuk tujuan tertentu misalnya
untuk mendeteksi penyakit, menentukan resiko, memantau perkembangan penyakit,
memantau perkembangan pengobatan, dan lain-lain. Mengetahui ada tidaknya kelainan atau
penyakit yang banyak di jumpai dan potensial membahayakan.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Permeriksaan Diagnosis Penyakit yang terkait Gastrointestinal , Hati,
Kantung Empedu , Pankreas?

1.3. Tujuan
1. Bagaimana Permeriksaan Diagnosis Penyakit yang terkait Gastrointestinal , Hati,
Kantung Empedu , Pankreas?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian pemeriksaan Diagnostik


Diagnostik keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan potensial dimana berdasarkan
pendidikan dan pengalamannya, perawat mampu dan mempunyai kewenangan standar
praktik keperawatan dan kode etik keperawatan yang berlaku di Indonesia ( Gordon,1976
dalam nursalam, 2004;59 )
Persiapan Pemeriksaan Diagnostik
Hasil suatu pemeriksan laboratorium sangat penting dalam membantu diagnosa, memantau
perjalanan penyakit serta menentukan pragnosa, karena itu perlu diketahui factor ysng
mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium (Ambarwati,2010)

2.2 Permeriksaan Diagnosis Penyakit yang terkait Gastrointestinal


2.2.1 Pengertian Gastrointestinal
Gastrointestinal adalah merupakan suatu saluran pencernaan yang panjangnya sekitar 9
meter mulai dari mulut sampai anus, meliputi oropharing, esophagus, stomach(lambung),
usus halus dan usus besar. Di mulut makanan dikunyah dan dicampur dengan sekresi
kelenjar saliva sehingga menjadi bolus. Esophagus mengantarkan bolus dari mulut ke
stomach (lambung), Lambung, usus halus dan usus besar sebagai tempat penampung
makan/bolus dan produk akhir dari pencernaan.
Lumen gastrointestinal secara umum memiliki lapisan mukosa, submukosa, lapisan otot.
Sistem gastro intestinal dan organ accesoris memperoleh aliran darah sekitar 25 – 30 %
dari cardiac out put. Saraf yang terlibat dalam mengendalikan sistem gastro intestinal
melibatkan saraf autonom saraf parasimpatis dan simpatis.
2.2.2 Fungsi Secara Umum Sistem Gastrointestinal
Fungsi secara umum sistem Gastrointestinal yaitu tarnsport air dan makanan, mencerna
makanan secara mekanik dan kimia, mengabsorbsi nutrien hasil pencernaan ke dalam
pembuluh darah, serta mengeluarkan produk sisa.
Saluran gastrointestinal memberi tubuh persediaan akan air, elektrolit, dan makanan,
yang terus-menerus. Untuk mencapai hal ini dibutuhkan :
1. Pergerakan makan melalui saluran gastrointestinal
2. Sekresi getah pencernaan dan makanan
3. Absorbsi hasil pencernaan, air, dan berbagai elektrolit
4. Sirkulasi darah melalui organ-organ gastrointestinal untuk membawa zat-zat yang di
absorbs
5. Pengaturan semua fungsi ini oleh sistem saraf dan hormonal

2.2.3 Persiapan dan Prosedur Dan Penilaian Hasil Pemeriksaan diagnosis


Gastrointestinal
A. Pemeriksaan Radiografi
Untuk pemeriksaan Radiografi Sistem Pemeriksaan lambung meliputi :
1. Rontgen, foto rotgen bisa digunakan untuk :
 Foto Polos perut
Foto polos perut merupakan foto rontgen standar untuk perut, yang tidak
memerlukan persiapan khusus dari penderita.
Sinar X biasanya digunakan untuk menunjukkan:
· suatu penyumbatan
· kelumpuhan saluran pencernaan
· pola udara abnormal di dalam rongga perut
· pembesaran organ (misalnya hati, ginjal, limpa).
 Pemeriksaan barium.
Setelah penderita menelan barium, maka barium akan tampak putih pada foto
rontgen dan membatasi saluran pencernaan, menunjukkan kontur dan lapisan
dari kerongkongan, lambung dan usus halus.
Barium yang terkumpul di daerah abnormal menunjukkan adanya ulkus, erosi,
tumor dan varises kerongkongan.
Foto rontgen bisa dilakukan pada waktu-waktu tertentu untuk menunjukkan
keberadaan barium. Atau digunakan sebuah fluoroskop untuk mengamati
pergerakan barium di dalam saluran pencernaan. Proses ini juga bisa direkam.
Dengan mengamati perjalanan barium di sepanjang saluran pencernaan, dokter
dapat menilai:
· fungsi kerongkongan dan lambung
· kontraksi kerongkongan dan lambung
· penyumbatan dalam saluran pencernaan.

Barium juga dapat diberikan dalam bentuk enema untuk melapisi usus
besar bagian bawah. Kemudian dilakukan foto rontgen untuk menunjukkan
adanya polip, tumor atau kelainan struktur lainnya.

Prosedur ini bisa menyebabkan nyeri kram serta menimbulkan rasa tidak
nyaman. Barium yang diminum atau diberikan sebagai enema pada akhirnya
akan dibuang ke dalam tinja, sehingga tinja tampak putih seperti kapur.
Setelah pemeriksaan, barium harus segera dibuang karena bisa menyebabkan
sembelit yang berarti. Obat pencahar bisa diberikan untuk mempercepat
pembuangan barium.

B. Pemeriksaan Diagnostik Biopsy.


a) Definisi Biopsy
Biopsy merupakan salah satu cara pemeriksaan patologi anatomi yang dapat
digunakan untuk menegakkan diagnosis pasti suatu lesi, khususnya yang
dicurigai sebagai suatu keganasan.
b) Tehnik Biops
a. FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy) atau Si Bajah (Sitologi Biopsi
Aspirasi Jarum Halus) → Menggunakan alat yang terdiri dari tabung suntik
plastik ukuran 10 ml, jarum halus, gagang pemegang tabung suntik, kaca
objek dan desinfektan alkohol atau betadin. Tumor dipegang lembut lalu
jarum diinsersi segera ke dalam tumor. Piston di dalam tabung suntik ditarik
ke arah proksimal; tekanan di dalam tabung menjadi negatif; jarum manuver
mundur-maju. Dengan cara demikian sejumlah sel massa tumor masuk ke
dalam lumen jarum suntik. Piston dalam tabung dikembalikan pada posisi
semula dengan cara melepaskan pegangan. Aspirat dikeluarkan dan dibuat
sediaan hapus, dikeringkan di udara dan dikirimkan ke laboratorium. Sering
terjadi false negative karena kemungkinan jarum tidak tepat mengambil sel
yang terkena kanker.
b. Stereotactic Needle Biopsy (Core Biopsy) → Dilakukan pada suatu
gumpalan (bengkak) yang sulit untuk dilihat atau dirasakan. Jarum akan
dituntun ke area yang dicurigai dengan bantuan mammography atau
ultrasound, dan X-ray akan memastikan area yang ingin dibiopsi.
c. Incisional Biopsy → Seperti operasi pembedahan pada umumnya.
Pengambilan irisan dari benjolan. Pada umumnya tipe ini dilakukan pada
pembengkakan di jaringan ikat seperti otot.
d. Excisional Biopsy → Keseluruhan benjolan diambil. Sering dilakukan pada
benjolan di dada. False negative jarang terjadi.

c) Persiapan pasien Sebelum, Selama, dan Sesudah Pembedahan Biopsi


a. Persiapan biopsy
o Selama satu minggu sebelumnya pasien harus menghentikan segala
macam konsumsi obat yang membuat pembekuan darah terganggu seperti
aspirin, coumadin, dan non-steroidal anti-inflammatory Drugs (NSAIDs).
o Konsultasikan pada dokter apakah pasien harus tetap mengkonsumsi obat-
obatan yang diresepkan untuk pasien.
b. Selama pemerikasaan
o Pasien akan dibaringkan diatas meja periksa dengan memakai baju rumah
sakit.
o X-ray, CT scan atau ultrasonografi mungkin akan dilakukan terlebih
dahulu untuk menentukan lokasi biopsi.
o Lokasi biopsi dibersihkan.
o Obat bius dimasukkan ke dalam tubuh, pasien akan merasakan sakit
menyengat ringan.
o Saat area biopsi sudah terbius, jarum kecil akan dimasukkan ke area yang
akan diteliti.
o Sebagian jaringan-jaringan atau sel-sel diambil. Dalam beberapa kasus,
pembedahan kecil dapat dilakukan agar jaringan atau benjolan dapat
dilakukan atau diperiksa.
o Beritahu dokter jika pasien merasa tidak nyaman.
o Setelah itu jarum diangkat.
o Daerah biopsi akan ditekan lalu akan dipasang kassa kecil. Jika dilakukan
pembedahan, maka akan dilakukan penjahitan.
c. Setelah pemeriksaan
o Kemungkinan akan ada memar, rasa tidak nyaman ataupun bengkak
ditempat biopsi dilakukan.
o Jika perlu, pakailah obat penghilang rasa sakit yang tidak mengandung
aspirin.
o Letakkan es batu secukupnya diatas luka untuk mengurangi memar dan
bengkak.
o Hidari aktivitas berat ataupun mengangkat beban lebih dari 2,5 kg selama
24 jam. Perlahan-lahan pasien dapat melakukan aktivitas normal kecuali
ada pemberitahuan sebelumnya dari dokter.
o Setelah biopsi dilakukan hasil tes akan dikirim langsung ke dokter, dokter
yang akan memberitahukan hasilnya pada pasien.
d. Pengiriman biopsy.
Jaringan harus dimasukkan ke dalam larutan fiksasi secepat mungkin setelah
diambil dari tubuh,apalagi bila organ tersebut mudah membusuk misalnya :
otak,hati, paru, usus dan organ dalam lainnya. Jangan ditunggu sampai operasi
selesai. Fiksasi dapat dilakukan dengan formalin 10% atau alkohol 70%.(
Arikunto. 2006 )

C. Gastric Analisis/ Analisa pada lambung.


a) Definisi
Analisis Cairan Getah lambung merupakan cairan yang disekresi secara aktif
oleh sel mukosa lambung yang terdiri atas dua kelenjar yaitu kelenjar peptik
fundus dan kelenjar pilorik. Kelenjar peptik mensekresi pepsin, lipase, dan HCl,
sedangkan kelenjar pilorik mensekresi bahan untuk proses fermentasi.

b) Tujuan pemeriksaan getah lambung antara lain:


1. Menilai motilitas lambung, yaitu kemampuan lambung untuk meneruskan
isinya ke arah duodenum.
2. Menilai kemampuan sekresi lambung, yaitu HCl secara kualitatif dan
kuantitatif serta enzim-enzimnya
3. Mendeteksi adanya unsur-unsur abnormal seperti darah, pus, jamur, dan
bakteri.
4. Mendeteksi adanya racun-racun untuk pemeriksaan forensik.
5. Pemeriksaan sitologi terhadap sel-sel tumor.

c) Kontraindikasi pemeriksaan cairan lambung antara lain:


1. Stenosis esofagus, varises esofagus.
2. Keganasan pada esofagus.
3. Dekompensasi jantung.
4. Perdarahan lambung hebat yang baru terjadi.
5. Aneurisma aorta.
6. Tidak dianjurkan pada wanita hamil atau sakit berat.
7. Intoksikasi asam/basa yang baru terjadi.
8. Adanya hipotensi dan gangguan vasomotor (kontraindikasi untuk uji
histamin).
d) Cara Pengambilan Cairan Lambung
Getah lambung diperoleh melalui sonde lambung, biasanya menggunakan
Levin Stomach Tube. Aspirasi dilakukan pagi hari setelah puasa 12 jam dan
bebas dari obat-obatan yang mempengaruhi lambung. Pada pagi hari penderita
dilarang menggosok gigi untuk menghindari kontaminasi perdarahan. Penderita
juga dilarang menelan saliva atau sputum karena dapat mempengaruhi
keasaman lambung.( Budiarto, Eko. 2007 )
D. USG
o Pencitraan Ultrasoun ( US ) yang juga disebut scanning ultrasound atau
sonografi,digunakan untuk pencitraan bagian/organ dalam manusia dengan
menggunakan gelombang suara ultra dengan frekuensi tinggi ( MHz ) yang
menghasilkan gambaran organ yang dipindai tersebut.
o Pencitraan ini menghasilkan citra organ tubuh manusia dan struktur organ
lainnyapada abdomen bagian atas dan bawah.
o Dengan menggunakan fungsi Doppler pada USG dapat membantu sebuah
pemeriksaan, dimana Doppler ini adalah teknik khusus yang dapat menilai aliran
darah dalam sebuah pembuluh darah termasuk menilai arteri utama dan vena
pada abdomen, ekstremitas dan leher.
o USG abdomen dilakukan untuk menilai organ pada rongga abdomen seperti :
1) Pankreas
2) Liver/hepar
3) Gall Bladder/kandung empedu
4) Spleen/Lien/Limpa
5) Kedua ginjal
6) Aorta dan vena abdominal serta pembuluh-pembuluh pada rongga abdomen
7) Organ-organ yang berada pada rongga abdomen.
o Indikasi dan penggunaan pemeriksaan USG abdomen antara lain :
1. Nyeri abdomen/colic
2. Inflamed apnedikx/Pembengkakan apendik.
3. Pembesaran organ pada abdomen.
4. Tersangka batu empedu atau batu ginjal.
5. Aneurysma pada aorta.
6. Peradangan pada organ rongga abdomen.
7. Otot-otot pada rongga abdomen
8. Abses ataupun koleksi cairan ( Ascites ).
o Untuk penyertaan pemakaian Doppler dilakukan untuk mengetahui dan menilai :
1. Sumbatan aliran darah pada pembuluh.
2. Besarnya ronga-rongga pembuluh darah dan saluran organ lainnya.
3. Adanya tumor dan kelainan bawaaan ( Congenital Malformation )
o Persiapan sebelum pemeriksaan USG antara lain :
1. Penderita obstipasi sebaiknya diberikan laktasif di malam sebelumnya.
2. Untuk pemeriksaan organ-organ di rongga perut bagian atas, sebaiknya
dilakukan dalam keadaan puasa agar tidak menimbulkan gas dalam perut
karena akan mengaburkan gambar organ yang diperiksa.
3. Untuk pemeriksaan kandung empedu dianjurkan puasa sekurang-kurangnya
6 jam sebelum pemeriksaan, agar diperoleh dilatasi pasif yang maksimal.
4. Untuk pemeriksaan kebidanan dan daerah pelvis, buli-buli harus dalam
keadaan penuh.
o Pemeriksaan USG Transabdominal
1. Posisikan pasien tidur terlentang.
2. Perut bagian bawah pasien ditampakkan dengan batas bawah setinggi tepi
atas rambut pubis,batas atas setinggi sternum, dan batas lateral sampai tepi
abdomen.
3. Letakkan kertas tissue besar pada perut bagian bawah dan bagian atas untuk
melindungi pakaian wanita tersebut dari jelly yang akan digunakan.
4. Taruh jelly secukupnya pada kulit perut.
5. Lakukan pemeriksaan secara sistematis,pertama-tama gerakan transduser
secara longitudinal ke atas dan ke bawah, selanjutnya horizontal ke kiri dan
ke kanan.
6. Tranduser digerakkan dari bawah ke atas,dimulai dari garis sisi kanan perut
kemudian setelah sampai daerah perut atas tranduser digerakkan ke bawah
selanjutnya transduser digerakkan kembali kea arah atas. Selanjutnya
gerakan tranduser dilakukan ke arah lateral perut ( Horizontal ), juga secara
sistematis dimulai dari sisi kanan ke arah kiri, kemudian dari kiri ke arah
kanan dan terakhir dari kanan atas ke kiri.
(Notoatmodjo, S. 2008 )
E. Pemeriksaan Analisis Lambung
Pemeriksaan analisis lambung merupakan suatu pemeriksaan yang dilakukan
untuk mengetahuikondisi keasaman lambung dalam batas pH normal atau tidak.
Pada dasarnya fungsi dari asam lambung adalah untuk pencernaan makanan dalam
lambung akan tetapi bila berlebihan akan merusak dinding lambung. pH normal asam
lambung sekitar 4-6.
Pemeriksaan analisis lambung bisa melalui pemeriksaan HCl bebas,yaitu:
a) Syarat : tidak mengandung lendir
pH< 4 karena HCl bebas dapat terdeteksi pada pH 2,9 – 4.
b) Metode : Indikator Toepfer
Indikator Gunzburg

 Indikator Toepfer
Tujuan : mengetahui ada tidaknya asam total dalam getah lambung.
Prinsip : asam total dalam getah lambung akan bereaksi dengan indikator
toepfer membentuk warna merah.
 Cara kerja : 1ml getah lambung dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
Tambahkan 1 tts indicator toepfer,campur.
Baca hasil : (+) warna merah
(-) warna kuning
Harga normal : (+) warna merah
 Indikator Gunzburg
Tujuan : mengetahui ada tidaknya HCl bebas dalam getah lambung.
Prinsip : HCl bebas dalam getah lambung akan bereaksi dengan indikator
gunzburg membentuk warna merah.
 Cara kerja :
1. Masukkan 5-10 tts indikator gunzburg kedalam cawan.
2. Panaskan mendidih sampai kering, timbul bercak berwarnakuning.
3. Tambahkan beberapa tetes getah lambung yang diperiksadiatas bercak yang
telah kering,panaskan lagi sampai kering.
4. Amati hasil : (+) warna merah jambu (-) tidak terjadi warna
merah jambu
5. Harga normal : (+) wrana merah jambu

F. Pemeriksaan Endoskopi
Endoskopi adalah pemeriksaan struktur dalam dengan menggunakan selang/tabung
serat optik yang disebut endoskop.
Sistem video serat-optik memungkinkan endoskop menjadi fleksibel menjalankan
fungsinya sebagai sumber cahaya dan sistem penglihatan.Banyak endoskop yang juga
dilengkapi dengan sebuah penjepit kecil untuk mengangkat contoh jaringan dan
sebuah alat elektronik untuk menghancurkan jaringan yang abnormal.
Dengan endoskop dokter dapat melihat lapisan dari sistem pencernaan, daerah yang
mengalami iritasi, ulkus, peradangan dan pertumbuhan jaringan yang abnormal.
Biasanya diambil contoh jaringan untuk keperluan pemeriksaan lainnya.
1. Endoskop yang dimasukkan melalui mulut bisa digunakan untuk memeriksa:
 kerongkongan (esofagoskopi)\
 lambung (gastroskopi)
 usus halus (endoskopi saluran pencernaan atas).
2. Jika dimasukkan melalui anus, maka endoskop bisa digunakan untuk
memeriksa:
 rektum dan usus besar bagian bawah (sigmoidoskopi)
 keseluruhan usus besar (kolonoskopi)
Sebelum endoskop dimasukkan melalui mulut, penderita biasanya
dipuasakan terlebih dahulu selama beberapa jam. Makanan di dalam lambung
bisa menghalangi pandangan dokter dan bisa dimuntahkan selama pemeriksaan
dilakukan. Sebelum endoskop dimasukkan ke dalam rektum dan kolon,
penderita biasanya menelan obat pencahar dan enema untuk mengosongkan
usus besar.
Tujuan pemeriksaan endoskopi saluran cerna atas antara lain:
o Untuk menerangkan perubahan perubahan radiologis yang meragukan
atau tidak jelas, atau untuk menentukan dengn lebih pasti atau tepat
kelainan radiologis yang didapatkan pada esofagus, lambung, duodenum.
o Pasien dengan gejala menetap (disvagia,nyeri epigastrium,muntah-
muntah) yang pada pemeriksaan radiologis tidak didapatkan kelainan.
o Bila pemeriksaan radiologis menunjukkan atau dicurugai suatu kelainan
misalnya tukak,keganasan atau obstrukasi pada esofagus, indikasi
endoskopi yaitu memastikan lebih lanjut dan untuk membuat
pemeriksaan fotografi, biopsi atau sitologi.
o Perdarahan akut saluran cerna bagian atas memerlukan pemeriksaan
endoskopi secepatnya dala waktu 24 jam untuk mendapatkan diagnosis
sumber perdarahan yang paling tepat.
o Pemeriksaan endoskopi yang berulang-ulang yang diperlukan juga untuk
memantau penyembuhan tukak yang jinak dan pada pasien-pasien
dengan tukak yang dicurigai kemungkinan adanya keganasan atau
(deteksi dini ardinoma lambung).
o Pada pasien-pasien paska gastrektomi dengan gejala atau keluhan-
keluhan saluran cerna bagian atas diperlukan pemeriksaan endoskopi
karena interpretasi radiologis biasanya sulit: ireguralitas dari lambung
dapat di evaluasi paling baik dengan visualisasi langsung melalui
endoskopi.
o Pemakaian obat anti –inflamasi non –stroid atau (OAINS) dan riwayat
kanker pada keluarga.
G. Tes Feses
Dalam melakukan tes feses tedapat tujuan pemeriksaan,antara lain :
1. Melihat ada tidaknya darah.
Pemeriksaan ini menggunakan kertas tes Guaiac, sering disebut tes Guaiac
2. Analisa produk diet dan sekresi saluran cerna.
Feses mengandung banyak lemak: steatorrhea, kemungkinan ada masalah dalam
penyerapan lemak di usus halus.
Bila ditemukan kadar empedu rendah, kemungkinan terjadi obstruksi pada hati dan kandung
empedu.
3. Mengetahui adanya telur cacing atau cacing dalam tinja
Pemeriksaan telur-telur cacing dari tinja terdiri dari dua macam cara pemeriksaan, yaitu
secara kualitatif dan kuantitatif. Pemeriksaan kualitatif dilakukan dengan menggunakan metode
natif, metode apung, dan metode harada mori. Sedangkan pemeriksaan kuantitatif dilakukan
dengan menggunakan metode kato.

2.3 Permeriksaan Diagnosis Penyakit yang terkait Hati


2.3.1 Pengertian Hati
Hati adalah organ tunggal dalam tubuh yang paling besar dan kompleks. Dengan
bobot sekitar 1300-1500 gr, hati mempunyai tugas penting yang rumit demi
kelangsungan seluruh fungsi tubuh. Fungsi hati yaitu: Membuat empedu suatu zat
yang membantu pencernaan lemak, memproses dan mengikat lemak pada
pengangkutnya (protein) termasuk kolesterol.
Jika hati rusak, maka fungsinya dalam mengeluarkan racun tidak berfungsi.
Akibatnya racun akan menumpuk dalam darah dan akhirnya ke otak. Untuk
menghindari hal ini, ada baiknya menjalani gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat akan
menjaga fungsi hati agar tetap optimal.

2.3.2 Persiapan dan Prosedur Dan Penilaian Hasil Pemeriksaan diagnosis Hati

Pemeriksaan faal hati dapat dikelompokkan sebagai berikut :


1. Tes Faal Sintesis
Untuk fungsi sintesis seperti protein, zat pembekuan darah dan lemak biasanya
diperiksa albumin, globulin, kadar ammonia, masa protrombin dan kolesterol.
a. Pemeriksaan kadar albumin
Gangguan faal sintesis albumin terjadi hipoalbuminemia, menunjukkan adanya
kerusakan hati. Pada proses penyakit akut keadaan ini kurang nyata, sebaliknya pada
penyakit kronis/degeneratif sering dijumpai.
b. Pemeriksaan kadar globulin
Peningkatan globulin menunjukkan adanya hepatitis aktif atau menuju sirosis.
c. Pemeriksaan kadar ammonia
Peningkatan ammonia menunjukkan kegagalan hati dalam mengubah ammonia
menjadi urea.
2. Tes Faal Ekskresi
a. Pemeriksaan pigmen empedu dalam darah :
 Bilirubin total
 Bilirubin direk
b. Pemeriksaan pigmen empedu dalam feses/urin :
 Warna
 Bilirubin, dan
 Urobilinogen
c. Tes retensi BSP (bromsulfonflalien)
Tes ini bersifat infasif karena larutan BSP disuntikkan intravena dan setelah 45 menit
barulah dilakukan fungsi vena lalu kadar BSP yang direntensi dalam darah diukur.
Normal retensi : < 5 %. Ada bahaya anafilaksis, selain itu bila ekstravasasi terjadi
iritasi jaringan sampai nekrosis. Tes ini digunakan khusus misalnya pada diagnosis
Sindroma Dubin Johnson, yaitu ditemukan setelah 45 menit retensi normal atau
meningkat ringan, tetapi setelah 2 jam meningkat tinggi karena adanya gangguan
ekskresi.
3. Tes Lainnya
a. Pemeriksaan ALT dan AST (serum aminotransferase)
Tes ini sangat peka pada peningkatan permeabilitas atau kerusakan ringan dinding
sel.
 ALT (Alanin Transaminase) atau SGPT (Serum Glutamate Pyruvate
Transaminase).
SGPT adalah Serum Glutamic Piruvic Transaminase. SGPT atau juga
dinamakan ALT merupakan enzim yang banyak ditemukan pada sel hati serta
efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Dalam jumlah yang kecil
dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya nilai tes
SGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati
akut, sedangkan pada proses kronis didapat sebaliknya. SGPT/ALT serum
umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri, secara semi otomatis
atau otomatis. Batas normal SGPT : 0-45 U/L.
 AST (aspartat transaminase) atau SGOT ( serum glutamate oxcaloacetate
transaminase).
SGOT merupakan singkatan dari serum glutamic oxaloacetic
transaminase. Beberapa laboratorium sering juga memakai istilah AST (aspartate
aminotransferase). SGOT merupakan enzim yang tidak hanya terdapat di hati,
melainkan juga terdapat di otot jantung, otak, ginjal, dan otot-otot rangka.
Adanya kerusakan pada hati, otot jantung, otak, ginjal dan rangka bisa dideteksi
dengan mengukur kadar SGOT. Pada kasus seperti alkoholik, radang pancreas,
malaria, infeksi lever stadium akhir, adanya penyumbatan pada saluran empedu,
kerusakan otot jantung, orang-orang yang selalu mengkonsumsi obat-obatan
seperti obat TBC, kadar SGOT bisa meninggi, bahkan bisa menyamai kadar
SGOT pada penderita hepatitis. Batas normal SGOT: 0-37 U/L.

 Masalah Klinis
1. Enzim SGOT dan SGPT dapat meningkat karena adanya gangguan fungsi
hati, dan penanda kerusakan sel lainnya, yang salah satu penyebabnya adalah
proses infeksi yang disebabkan oleh virus.
2. Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis
hati (toksisitas obat atau kimia)
3. Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis aktif,
sumbatan empedu ekstra hepatik, sindrom Reye, dan infark miokard
(SGOT>SGPT)
4. Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis
Laennec, sirosis biliaris.

b. Pemeriksaan Alkaline Phosphatase (ALP)


Merupakan enzim yang diproduksi terutama oleh epitel hati dan osteoblast (sel-sel
pembentuk tulang baru); enzim ini juga berasal dari usus, tubulus proksimalis ginjal,
plasenta dan kelenjar susu yang sedang membuat air susu. Fosfatase alkali disekresi
melalui saluran empedu. Meningkat dalam serum apabila ada hambatan pada saluran
empedu (kolestasis). Tes ALP terutama digunakan untuk mengetahui apakah terdapat
penyakit hati (hepatobiliar) atau tulang.
Pada orang dewasa sebagian besar dari kadar ALP berasal dari hati, sedangkan
pada anak-anak sebagian besar berasal dari tulang. Jika terjadi kerusakan ringan pada
sel hati, mungkin kadar ALP agak naik, tetapi peningkatan yang jelas terlihat pada
penyakit hati akut. Begitu fase akut terlampaui, kadar serum akan segera menurun,
sementara kadar bilirubin tetap meningkat. Peningkatan kadar ALP juga ditemukan
pada beberapa kasus keganasan (tulang, prostat, payudara) dengan metastase dan
kadang-kadang keganasan pada hati atau tulang tanpa matastase (isoenzim Regan).
Nilai normal Alkaline Phosphatase untuk laki-laki adalah 61- 232 U/L dan untuk
perempuan : 49-232 U/L
 Masalah Klinis
1. Peningkatan Kadar : obstruksi empedu (ikterik), kanker hati, sirosis
sel hati, hepatitis, hiperparatiroidisme, kanker (tulang, payudara,
prostat), leukemia, penyakit Paget, osteitis deforman, penyembuhan
fraktur, myeloma multiple, osteomalasia, kehamilan trimester akhir,
arthritis rheumatoid (aktif), ulkus.
2. Penurunan Kadar : hipotiroidisme, malnutrisi, sariawan/skorbut
(kekurangan vit C), hipofosfatasia, anemia pernisiosa, isufisiensi
plasenta. Pengaruh obat : oksalat, fluoride, propanolol (Inderal).
c. Pemeriksaan GGT (Ɣ-GT)
Gamma-glutamil transferase (gamma-glutamyl transferase, GGT) adalah enzim
yang ditemukan terutama di hati dan ginjal, sementara dalam jumlah yang rendah
ditemukan dalam limpa, kelenjar prostat dan otot jantung. Gamma-GT merupakan uji
yang sensitif untuk mendeteksi beragam jenis penyakit parenkim hati. Kebanyakan
dari penyakit hepatoseluler dan hepatobiliar meningkatkan GGT dalam serum.
Kadarnya dalam serum akan meningkat lebih awal dan tetap akan meningkat selama
kerusakan sel tetap berlangsung.
GGT adalah salah satu enzim mikrosomal yang bertambah banyak pada pemakai
alkohol, barbiturat, fenitoin dan beberapa obat lain tertentu. Alkohol bukan saja
merangsang mikrosoma memproduksi lebih banyak enzim, tetapi juga menyebabkan
kerusakan hati, meskipun status gizi peminum itu baik. Kadar GGT yang tinggi
terjadi setelah 12-24 jam bagi orang yang minum alkohol dalam jumlah yang
banyak, dan mungkin akan tetap meningkat selama 2-3 minggu setelah asupan
alkohol dihentikan. Nilai normal GGT untuk Pria : 15 – 90 U/L, Wanita : 10 – 80
U/L.
 Masalah Klinis
1. Peningkatan Kadar : sirosis hati, nekrosis hati akut dan subakut,
alkoholisme, hepatitis akut dan kronis, kanker (hati, pankreas, prostat,
payudara, ginjal, paru-paru, otak), kolestasis akut, mononukleosis
infeksiosa, hemokromatosis (deposit zat besi dalam hati), DM,
steatosis hati / hiperlipoproteinemia tipe IV, infark miokard akut (hari
keempat), pankreatitis akut, epilepsi, sindrom nefrotik.
2. Pengaruh obat : Fenitoin (Dilantin), fenobarbital, aminoglikosida,
warfarin (Coumadin).
d. Pemeriksaan Alphafetoprotein (AFP)
adalah suatu protein yang pada kondisi normal diproduksi oleh hati (liver), tulang,
ginjal, usus, plasenta dan kantung kuning telur (yolk sac) ketika terjadi pembentukan
bayi selama proses kehamilan. Pengukuran AFP di dalam tubuh manusia umumnya
dilakukan untuk membantu mendeteksi adanya kelainan atau penyakit hati,
pemantauan terapi atau pengobatan beberapa jenis kanker, dan juga uji saring
kelainan pada perkembangan bayi selama masa kehamilan. Nilai normal AFP adalah
< 240 µ/L.
 Masalah Klinis
1. Meninggi sekali (>5x) : obstruksi bilier total.
2. Agak meninggi (<3x) : hepatitis kronis, kehamilan awal,
penyembuhan fraktur, anak yang sedang tumbuh, vitamin D dosis
tinggi, penyakit jantung kongestif, menurun pada hipo-fostatemia
protein dan magnesium.

2.4 Permeriksaan Diagnosis Penyakit yang terkait Kantung Empedu


2.4.1 Pengertian Kandung Empedu
Kandung empedu merupakan kantong otot kecil yang berfungsi untuk menyimpan
cairan empedu (cairan pencernaan berwarna kuning kehijauan yang dihasilkan oleh
hati). Kandung empedu memiliki bentuk seperti buah pir dengan panjang 7-10 cm dan
merupakan membran berotot. Terletak didalam fossa dari permukaan visceral hati.
Kandung empedu terbagi kedalam sebuah fundus, badan dan leher.

2.4.2 Persiapan dan Prosedur Dan Penilaian Hasil Pemeriksaan diagnosis Hati
 Radiologi
Pemeriksaan USG telah menggantikan kolesistografi oral sebagai prosedur
diagnostik pilihan karena pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cepat dan akurat,
dan dapat digunakan pada penderita disfungsi hati dan ikterus. Disamping itu,
pemeriksaan USG tidak membuat pasien terpajan radiasi inisasi. Prosedur ini akan
memberikan hasil yang paling akurat jika pasien sudah berpuasa pada malam harinya
sehingga kandung empedunya berada dalam keadan distensi. Penggunaan ultra sound
berdasarkan pada gelombang suara yang dipantulkan kembali. Pemeriksan USG dapat
mendeteksi kalkuli dalam kandung empedu atau duktus koleduktus yang mengalami
dilatasi.
 Radiografi: Kolesistografi
Kolesistografi digunakan bila USG tidak tersedia atau bila hasil USG meragukan.
Kolangiografi oral dapat dilakukan untuk mendeteksi batu empedu dan mengkaji
kemampuan kandung empedu untuk melakukan pengisian, memekatkan isinya,
berkontraksi serta mengosongkan isinya. Oral kolesistografi tidak digunakan bila pasien
jaundice karena liver tidak dapat menghantarkan media kontras ke kandung empedu
yang mengalami obstruksi. (Smeltzer dan Bare, 2002).
 Sonogram
Sonogram dapat mendeteksi batu dan menentukan apakah dinding kandung empedu
telah menebal. (Williams 2003)
 ERCP (Endoscopic Retrograde Colangiopancreatografi)
Pemeriksaan ini memungkinkan visualisasi struktur secara langsung yang hanya dapat
dilihat pada saat laparatomi. Pemeriksaan ini meliputi insersi endoskop serat optik yang
fleksibel ke dalam esofagus hingga mencapai duodenum pars desendens. Sebuah kanula
dimasukan ke dalam duktus koleduktus serta duktus pankreatikus, kemudian bahan
kontras disuntikan ke dalam duktus tersebut untuk menentukan keberadaan batu di
duktus dan memungkinkan visualisassi serta evaluasi percabangan bilier.(Smeltzer,SC
dan Bare,BG 2002).
 Pemeriksaan Laboratorium
1) Kenaikan serum kolesterol
2) Kenaikan fosfolipid
3) Penurunan ester kolesterol
4) Kenaikan protrombin serum time
5) Kenaikan bilirubin total, transaminase (Normal < 0,4 mg/dl)
6) Penurunan urobilirubin
7) Peningkatan sel darah putih: 12.000 - 15.000/iu (Normal : 5000 - 10.000/iu)
8) Peningkatan serum amilase, bila pankreas terlibat atau bila ada batu di duktus utama
(Normal: 17 - 115 unit/100ml)

2.5 Permeriksaan Diagnosis Penyakit yang terkait Pankreas


2.5.1 Pengertian Pankreas
Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi utama:
menghasilkan enzim pencernaan atau fungsi eksokrin serta menghasilkan beberapa
hormon atau fungsi endokrin. Pankreas terletak pada kuadran kiri atas abdomen atau
perut dan bagian kaput/kepalanya menempel pada organ duodenum. Produk enzim akan
disalurkan dari pankreas ke duodenum melalui saluran pankreas utama

2.5.2 Persiapan dan Prosedur Dan Penilaian Hasil Pemeriksaan diagnosis Hati
Pemeriksaan pencitraan diagnostik dapat meliputi berikut:

 Pemeriksaan sinar-X rontgen dapat dilakukan untuk mencari komplikasi pankreatitis


serta penyebab lain dari rasa ketidaknyamanan di perut. Pemeriksaan sinar-X juga
bisa meliputi foto rontgen thoraks (dada).
 CT scan juga merupakan pencitraan dengan menggunakan sinar-X, hanya saja jauh
lebih rinci. CT scan menunjukkan pankreas dan kemungkinan komplikasi pankreatitis
secara rinci secara lebih baik dari foto rontgen. CT scan dapat menunjukkan
peradangan atau kerusakan pankreas. MRI juga dapat disarankan jika CT-scan belum
jelas.
 USG adalah tes pencitraan yang sangat baik untuk memeriksa kandung empedu dan
saluran-saluran yang menghubungkan kandung empedu, hati, dan pankreas dengan
usus halus.
o USG sangat baik menggambarkan kelainan pada sistem bilier, termasuk batu
empedu dan tanda-tanda peradangan atau infeksi.
o USG menggunakan gelombang suara untuk membuat pencitraan organ dalam
perut, tanpa harus menimbulkan rasa nyeri. USG dilakukan dengan
menempelkan perangkat genggam kecil di atas perut. USG memancarkan
gelombang suara yang ‘memantulkan kembali’ organ dan diproses oleh
komputer untuk membuat gambar. Teknik ini adalah teknik yang sama yang
digunakan untuk memeriksa janin pada wanita hamil.
 Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP) adalah tes pencitraan yang
menggunakan endoskop (tabung tipis, fleksibel dengan kamera kecil di ujungnya)
untuk melihat pankreas dan struktur di sekitarnya.
o ERCP biasanya hanya digunakan dalam kasus-kasus pankreatitis kronis atau batu
empedu.
o Untuk melakukan ERCP, seseorang perlu dibius. Setelah dibius, endoskop
dilewatkan melalui mulut, lambung, dan masuk ke usus kecil. Perangkat
kemudian menyuntikkan pewarna ke dalam saluran yang menghubungkan hati,
kandung empedu, dan pankreas dengan usus kecil (saluran empedu). Pewarna
membuat lebih mudah untuk perawatan kesehatan profesional melihat batu atau
tanda-tanda kerusakan organ. Dalam beberapa kasus, batu dapat diambil selama
pemeriksaan endoskopi ERCP ini.
 Pemeriksaan Glukosa
Jenis pemeriksaannya adalah gula darah puasa. Bertujuan untuk menilai kadar gula
darah setelah puasa selama 8-10 jam
Nilai normal:
Dewasa: 70-110 md/d1 Bayi: 50-80 mg/d
Anak-anak: 60-100 mg/dl
Persiapan
 Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan dilakukan
 Jelaskan tujuan prosedur pemeriksaan

Pelaksanaan
 Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 s/d 10 cc
 Gunakan anti koagulasi bila pemeriksaan tidak dapat dilakukan segera
 Bila klien mendapat pengobatan insulin atau oral hipoglikemik untuk
sementara tidak diberikan
 Setelah pengambilan darah, klien diberi makan dan minum serta obatobatan
sesuai program.
 Gula darah 2 jam setelah makan. Sering disingkat dengan gula darah 2 jam PP
(post prandial).

Bertujuan untuk menilai kadar gula darah dua jam setelah makan. Dapat
dilakukan secara bersamaan dengan pemeriksaan gula darah puasa artinya setelah
pengambilan gula darah puasa, kemudian klien disuruh makan menghabiskan
porsi yang biasa lalu setelah dua jam kemudian dilakukan pengukuran kadar gula
darahnya. Atau bisa juga dilakukan secara terpisah tergantung pada kondisi klien.

Prinsip persiapan dan pelaksanaan sama saja namun perlu diingat waktu yang
tepat untuk pengambilan spesimen karena hal ini dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan. Bagi klien yang mendapat obat-obatan sementara dihentikan sampai
pengambilan spesimen dilakukan.

2.6 Pemeriksaan kesehatan untuk kondisi hati, pankreas, kantung empedu dan saluran
empedu
Banyak penyakit yang mempengaruhi hati, pankreas, kantung empedu dan saluran empedu,
tidak memperlihatkan gejala sampai pada stadium akhir. Pada waktu gejala muncul, organ
mungkin sudah menderita kerusakan yang signifikan.
Salah satu cara untuk mendeteksi penyakit lebih dini adalah menjalani pemeriksaan
kesehatan secara teratur. Pemeriksaan kesehatan komprehensif mencakup berbagai tes yang
dapat mendeteksi penyakit hati, pankreas, kantung empedu dan saluran empedu pada stadium
dini, apabila pengobatan cenderung lebih efektif.
Di Gleneagles Hospital, tes pada hati dan untuk hepatitis adalah bagian dari paket
Pemeriksaan Umum dasar. Beberapa paket pemeriksaan juga mencakup scan ultrasonografi
abdominal yang dapat membantu mendeteksi tumor dalam hati, batu empedu, dan
peradangan pankreas serta saluran empedu. Lihat di bawah ini untuk informasi selengkapnya
mengenai beberapa tes pemeriksaan yang dapat membantu dalam pendeteksian dini masalah
kesehatan.
1) Penelitian Hati
Penelitian hati adalah serangkaian tes komprehensif untuk menentukan kondisi hati
dengan menggunakan tes spesifik pada sampel darah pasien. Tes ini juga dapat
digunakan untuk menemukan gejala dari penyakit pankreas, kantung empedu dan
saluran empedu. Penelitian hati mencakup tes untuk:

2) Bilirubin
Bilirubin adalah pigmen berwarna kekuningan yang dibuat oleh pembelahan sel darah
merah. Ini ditemukan dalam empedu yang dibuat oleh hati, dan yang menyebabkan
warna kekuningan pada penyakit kuning. Kadar tinggi bilirubin dalam darah dapat
menunjukkan penyakit hati, pankreas, kantung empedu dan saluran empedu. Dokter
mungkin melakukan tes tindak lanjut untuk pasien yang memiliki kadar bilirubin yang
tinggi, untuk menemukan sumber masalahnya.
3) ALT dan AST
Alanine aminotransferase (ALT) dan aspartate aminotransferase (AST) adalah enzim
yang ditemukan dalam darah. Kadar tinggi ALT dan AST dapat ditemukan pada pasien
yang menderita kerusakan hati akut, panyakit hati alkoholik, kanker hati dan sirosis
hati.
4) ALP
Alkaline phosphatase (ALP) adalah enzim yang ditemukan dalam darah yang sebagian
besar diproduksi dalam hati. Kadar tinggi ALP bisa merupakan gejala pengerusakan
dalam saluran empedu, dan juga apabila kanker yang berasal dari bagian lain tubuh
telah menyebar ke hati.
5) Penelitian Hepatitis
Tes darah dapat mendeteksi keadaan antibodi spesifik untuk hepatitis A, B, dan C yang
diciptakan apabila terdapat virus hepatitis, serta khususnya, antigen B hepatitis. Jika tes
untuk antibodi ternyata positif, maka tes lebih jauh lagi mungkin dilakukan untuk
mengkonfirmasi kehadiran virus hepatiti.
Pasien yang minum obat immunosuppressants, misalnya, mereka yang sudah menerima
transplantasi organ, tidak dapat memproduksi antibodi karena sistem kekebalan tubuh
mereka yang melemah. Pada kasus semacam ini, jika pasien diduga menderita
hepatitis, mereka mungkin harus melakukan tes yang mendalam, yang memeriksa
kehadiran virus hepatitis. Semua tes ini dapat juga membantu dokter menentukan
berapa lama pengobatan yang diperlukan untuk kondisi tersebut.
6) Ultrasonografi abdominal
Ultrasonografi abdominal adalah imaging scan (pindaian gambar) yang digunakan
untuk melihat organ dalam abdomen, termasuk hati, kantung empedu, limpa, pankreas
dan ginjal. Mesin ultrasonografi mengirimkan gelombang suara frekuensi tinggi yang
merefleksikan bagian dalam tubuh Anda, dan gelombang yang direfleksikan,
digunakan untuk membentuk gambar. Tidak seperti sinar-x, scan ultrasonografi tidak
memaparkan tubuh ke radiasi.
Scan ultrasonografi abdomen dapat digunakan secara efektif untuk memeriksa
peradangan kantung empedu, penyumbatan dalam saluran empedu, hati dan pankreas
yang membesar akibat penyakit, dan tumor hati. Ini juga dapat digunakan untuk
mendeteksi batu empedu dalam kantung empedu dan saluran empedu.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, maka penulis dapat mengambil
kesimpulan bahwa pemeriksaan diagnostik adalah masalah kesehatan aktual dan potensial
dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat mampu dan mempunyai
kewenangan standar praktik keperawatan dan kode etik keperawatan yang berlaku di
Indonesia, dari pembahasan di atas meliputi pemeriksaan diagnostic pada ganggguan
Gastrointernal, hati , kantung empedu, dan Pankreas

3.2 Saran
Penulis menyarankan agar petugas kesehatan dapat berkerja profesional dalam menjalankan
tugas dan kewajiban sebagai seorang perawat yang idela dan bertanggung jawab. Sehingga
pasien dapat merasakan kepuasan atas asuhan keperawatan yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA

Nursalam.2008.Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik.Jakarta :


Salemba Medika

http : // eny ratna ambarwati.blogspot.com/2010/02/pemeriksaan diagnostic :


html

Hidayati, Ratna dkk. (2014). Praktik Laboratorium Keperawatan. Jakarta : Erlangga.

Dr. Hadisaputro, Soeharyo, dr Sp.PD. (2012). Buku Saku Pengenal Penyakit Melalui
Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta : Amara Books.

Nursalam.2008.Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik.Jakarta :


Salemba Medika