Anda di halaman 1dari 15

Monday, February 25, 2019 1:00 PM

SOCA BLOK 11
MALOKLUSI

Blok 11 tutorial Page 1


CBL 1 (Plat Aktif dan Bite Plane)
Monday, February 25, 2019 8:41 PM

• Skenario
13 years old boy
Anterior teeth is protusif and open bite
Relasi First molar : neutrooclusion
Klas II canine relation
Narrow and high palate (langit-langit sempit dan tinggi)
Overjet 6mm
Overbite 3mm
Relasi gigi posterior kanan dan kiri dengan gigi antagonisnya cups to cups
Treatment : removable orthodontic appliance

• DX : Maloklusi kelas 1 angle tipe 2 dewey


Klasifikasi MALOKLUSI ANGLE :

○ First molar relation (neutro-oklusi)/ klass 1 angle:


Tonjol mesiobukal (mesiobuccal cusp) M1 RA dengan lekuk mesiobukal (mesiobuccal groove)
M1 RB.
Modifikasi DEWEY
Tipe 1 : gigi anterior berjejal
Tipe 2 : Incisivus maksila protusif
Tipe 3 : crossbite anterior
Tipe 4 : crossbite posterior
Tipe 5 : gigi molar drifting ke mesial karena pencabutan molar desidui premolar II

○ Klass 2 angle (Disto-oklusi)


Jika tonjol mesio bukal M1 RA terletak pada antara mesio-bukal M1 dan tepi Bukal P2 RB
DIVISI I : insicivus RA proklinasi (protusif)
DIVISI II : insicivus RA vertikal / Palatinal (Retrosufi) , dan adanya Steep bite (deep o.b hampir
menutupi seluruh labial gigi RB)

○ Klass 3 angle
Jika tonjol mesio bukal M1 RA terletak pada bagian distal tonjol distal M1 dan tepi mesial
tonjol mesial gigi M2 RB.
Modifikasi DEWEY
Tipe I :
Lengkung gigi, gigi-gigi normal
Lengkung gigi mandibula bergerak ke depan secara bodily
Susunan gigi individual dalam lengkung normal, oklusi gigi
anterior edge to edge

Tipe 2 :
Insisivi RB berjejal
Terdapat relasi lingual thd insisivi RA

Tipe 3 :
Maksila kurang berkembang,
gigi anterior maksila crowded dan crossbite anterior.

Klasifikasi Caninus
Untuk menentukan oklusi, tidak hanya dilihat dari relasi molarpertama saja namun dapat dilihat
dari caninus juga. Berikut klasifikasi caninus :
○ Kelas 1
Caninus rahang atas beroklusi pada ruang bukal antara caninus rahang bawah dan
premolar satu rahang bawah
○ Kelas 2
Caninus rahang atas oklusi di anterior sampai ruang bukal di antara caninus rahang bawah
dan premolar satu rahang bawah.

Blok 11 tutorial Page 2


○ Kelas 3:
Caninus rahang atas oklusi di posterior
sampai ruang bukaldiantara caninus rahang bawah dan premolar satu rahang bawah

• KLASIFIKASI ISTILAH
Protusif : adalah gigi yang tumbuhnya maju kedepan

Open bite : yaitu keadaan di mana terdapat celah atau ruangan atau tidak ada kontak di antara
gigi-gigi atas dengan gigi-gigi bawah apabila rahang dalam keadaan hubungan sentrik

Overjet : yaitu jarak horisontal antara tepi insisal insisivi atas ke tepi insisal insisivi bawah
apabila rahang dalam hubungan sentrik (centric relation) --> jarak gigit. Normalnya 2-3mm

Overbite: yaitu jarak vertikal antara tepi insisal insisivi atas ke tepi insisal insisivi bawah apabila
rahang dalam hubungan sentrik. Dalam keadaan normal, besarnya overbite ini sama dengan
tertutupnya sepertiga arah insisal mahkota klinis gigi insisivi bawah oleh gigi insisivi atas, kurang
lebih 2 – 3 mm (tergantung ukuran insisogingival mahkota klinis gigi insisivi bawah)--> tumpang
gigit

• Butuh treatment removable orthodontic appliance:


Perawatan dengan alat lepasan (removable appliances), yaitu alat yang dapat dipasang dan
dilepas oleh pasien sendiri, dengan maksud untuk mempermudah pembersihan alat. Alat ini
mempunyai keterbatasan kemampuan untuk perawatan, sehingga hanya dipakai untuk kasus
sederhana yang hanya melibatkan kelainan posisi giginya saja.
Contoh : Plat aktif, plat ekspansi, aktivator, bite raiser dsb
Perawatan sesuai kasus:
Plat aktif
• Labial Arch , medium --> untuk meretraksi dari gigi C-C
• Adam klamer

Bite plane
• Untuk gigi posterior yang cups to cups , dapat digunakan bite plane posterior (inget gerakkan
bite posterior itu bisa mesial-distal atau lateral nah mungkin yg dikasus mesial-distal)

Modifikasi dewey
Alat yg tepat : plat aktif, labial arch

• PLAT AKTIF DAN BITE PLANE

buku-ajar-o PLAT AKTIF BITE PLANE


rto-i-th-2... 22

Blok 11 tutorial Page 3


CBL 2 ( Alat fungsional dan aktivator)
Monday, February 25, 2019 4:36 PM

14 years old man datang ke dentist Cari dan Pahami alat fungsional selain Aktivator
( ex bionator).
Anterior teeth protrusif
Overjet 5.5mm
Overbite 4.8 mm
Relasi upper and lower molar 1 --> kelas 2 angle
Garis simon --> at maxilla through 1/3 distal labial surface of the upper canine
At mandible through interdental between canine and lateral incisor
Drg ingin memperbaiki relasi dari gigi anterior dan relasi molar 1 dengan orto lepasan

• Dx : maloklusi kelas II angle divisi 1

• Alat fungsional dan aktivator


Alat ortodontik fungsional (pasif): alat yang digunakan untuk menyalurkan tekanan dari
otot" mastikasi, intinya secara fungsional, dan dia tidak memberikan tekanan mekanik , dia
hanya sebagai penyalur

Prinsip Perawatan :
- Aplikasi kekuatan : Menambahkan stress dan strain pada kekuatan yg sudah ada
- Eliminasi Kekuatan : Menghilangkan hal-hal yang mengganggu dan membatasi agar dapat
tumbuh secara optimal
- (Baca PPT drg Novarini yang aktivator, atau baca buku "Orthodontic and Dentofacial
orthopedic treatment" oleh Thomas Rakosi hal 68)

Aktivator adalah : Aktivator bekerja secara pasif karena tidak menghasilkan kekuatan
mekanik, hanya meneruskan kekuatan otot-otot disekitar rongga mulut.
Impuls otot yang terjadi saat membuka dan menutup mulut diteruskan ke
tulang alveolar, gigi-gigi, jaringan pendukung gigi dan sendi rahang.
melalui aktivator akanterjadi tarikan atau traksi intermaksiler yang menyebabkan perubahan
posisi rahang bawah karena pertumbuhan pada kondilus dan TMJ.
diharapkan dengan sifat fungsional fisiologis ini akan memperbaiki hubungan gigi dan rahang

• Indikasi pemakaian aktivator:


○ Kelas II Angle divisi 1 disertai anomali:

•insisivus rahang atas labioversi


•kontraksi lengkung gigi rahang atas
•disto oklusi

○ Kelas III Angle disertai anomali:

•Cross bite anterior


•Crossbite posterior
•mesio oklusi

Blok 11 tutorial Page 4


•mesio oklusi

○ Penederita dapat bekerja sama dengan baik. (Aktivator dipakai sekitar 2 jam pada siang
hari dan 12 jam pada malam hari. Jumlah jam pemakaian activator setiap hari sekitar 14
jam.)
○ Digunakan pada anomali-anomali tertentu, khususnya klas II dan klas III angle untuk
memperbaiki kelainan hubungan gigi-gigi dan rahang. Walaupun demikian, anomaly
klas
I Angle dengan gigitan terbuka anterior dapat juga dipakai activator.
○ Tidak ada kelainan skeletal yang berat.
○ Anomalinya tidak dalam keadaan berjejal yang berat.
○ Activator dapat digunakan untuk perawatan kebiasaan buruk seperti menjulurkan lidah
ke
depan, meletakkan lidah di antara gigi-gigi ke depan, meletakkan lidah diantara gigi-gigi
depan atas dan bawah, maupun menghisap jari atau bibir.
○ Activator sangat baik digunakan pada penderita dalam masa pertumbuhan atau masa
gigi
bercampur.

• Kontraindikasi pemakaian aktivator:

○ Pasien yang tidak dapat bekerja sama dengan baik merupakan kontraindikasi
perawatan
dengan activator. Disamping pasien, kerja sama orang tua pasien yang tidak baik dapat
juga menyebabkan kegagalan perawtan yang dilakukan.
○ Pada gigi yang sangat berjejal, keadaan yang demikian perlu perawatan dengan
pesawat
mekanik lebih dahulu. Setelah gigi-gigi tersusun dengan baik, tahap berikutnya dirawat
dengan activator untuk memperbaiki kelainan hubungan sagital dari gigi-gigi, rahang,
maupun wajah pasien.
○ Kasus klas II dan Klas III angle dengan peregeseran garis median yang disebabkan oleh
faktor dental. Untuk mengoreksi pergeseran garis median diperlukan pesawat mekanik
karena lebih efektif. Dlam hal ini perbaikan hubungan rahang dilakukan pada tahap
berikutnya.
○ Pada kelainan skeletal yang berat merupakan kontraindikasi pemakaian activator.
Kasus
ini lebih sesuai dirawat dengan tindakan bedah-orthodonti. Sesudah masa pertumbuhan
dan perkembangan skeletal.

77094376-A AKTIVATOR
ktivator

Blok 11 tutorial Page 5


CBL 3 ( Sefalometri Radiografi analisis steiner dan tweed)
Sunday, February 10, 2019 16:23

Pasien datang ke drg untuk memeriksaakan bahwa gigi anterior terasa protusif . pemeriksaan Belajar PPT drg Bayu
Belajar menyimpulkan hasil dari
intra oral gigi rahang bawah rahang atas rapi. hubungan molar pertama permnen atas dan perhitungan analisis.
bawah adalah sudut kelas 1 ia memiliki overjet dan overbite normal. pemeriksaan ekstra oral
menunjukkan profil cembung. dokter gigi kemudian memintanya untuk melakukan
pemeriksaan x-ray foto. hasil pasien SNA dan SNB lebih dari normal, namun ANB pasien
normal

• Sefalometri Radiografi

○ Sefalometri adalah ilmu yang mempelajari pengukuran kuantitatifbagian- bagian


tertentu kepala untuk mendapatkan informasi tentang pola kraniofasial

○ Radiografi sefalometri mempunyai beberapa kegunaan


▪ a. Mempelajari pertumbuhan dari kraniofasial.
▪ b. Untuk melakukan diagnosa/analisa kelainan kraniofasial.
▪ c. Untuk mempelajari tipe wajah.
▪ d. Klasifikasi abnormalitas skeletal dan dental serta tipe wajah.
▪ e. Untuk evaluasi kasus-kasus yang telah dirawat (progress reports).
▪ f. Pembuatan rencana perawatan.
▪ g. Perkiraan arah pertumbuhan.
▪ h. Sebagai alat bantu dalam riset yang melibatkan regio kranio-dento-fasial.

○ Metode konvensional untuk menganalisis sebuah sefalogram tidak langsung


dilakukan pada sefalogram tersebut tetapi dilakukan tracingterlebih dahulu.

▪ Pertama ditentukan kontur skeletal dan jaringan lunak wajah kemudian


ditentukan titiktitik (anatomical landmark) yang diperlukan untuk garis
analisis.
▪ Apabila dua titik dihubungkan menghasilkan garis, dua garis yang berpotongan
menghasilkan sudut.
▪ Besar sudut dipelajari untuk menentukan apakah struktur anatomi tertentu,
misalnya gigi dan rahang terletak normal atau tidak normal.
▪ Pengukuran dilakukan pada hasil penapakan tersebut dan kemudian dilakukan
analisis sehingga menghasilkan ukuran ukuran kraniofasial berupa ukuran
linear atau angular

○ Titik-Titik (Landmarks) pada Jaringan Keras


Titik-titik referensi yang digunakan pada sefalometri pada dasarnya terbagi atas dua
yaitu: titik-titik pada jaringan keras dan jaringan lunak. Titik-titik pada jaringan keras
tersebut antara lain:

Blok 11 tutorial Page 6


▪ a. Nasion (N) : Titik paling depan diantara tulang frontal dan tulang nasal pada
sutura frontonasalis.
▪ b. Sella (S) : Titik yang terletak di tengah-tengah sella tursika atau fossa pituitary.
▪ c. Titik A (Subspinale) : Titik paling dalam pada pertengahan spina nasalis
anterior dan prosthion.
▪ d. Titik B (Supramentale) : Titik paling dalam pada pertengahan tulang alveolar
mandibula dan prosesus mentalis.
▪ e. Spina Nasalis Anterior (ANS) : Titik paling anterior dari maksila pada level
palatum.
▪ f. Spina Nasalis Posterior (PNS) : Titik paling posterior dari palatum keras.
▪ g. Pogonion (Pog) : Titik paling anterior dari tulang dagu.
▪ h. Gnation (Gn) : Titik paling depan dan paling dalam dari simpisis mandibula
atau titik tengah antara pogonion dan menton.
▪ i. Menton (Me) : Titik paling bawah pada dagu.
▪ j. Porion (Po) : Titik paling tinggi pada tepi atas meatus auditorius eksternal.
▪ k. Orbitale (Or) : Titik terendah pada tepi bawah rongga mata.
▪ l. Artikulare (Ar) : Titik perpotongan antara batas posterior ramus dan batas
inferior dari basis kranial posterior.
▪ m. Gonion (Go) : Titik perpotongan yang dibentuk oleh garis tangen ke posterior
ramus dan garis tangen ke tepi bawah mandibula.
▪ n. Pterigomaxillary (PTM) : Kontur fissura pterigomaxilary yang dibentuk di
anterior oleh tuberositas retromolar maksila dan di posterior oleh kurva anterior
dari prosesus pterigoid pada tulang sphenoid.
▪ Basion (Ba) : Titik paling bawah pada tepi anterior dari foramen magnum.

○ Titik-Titik Sefalometri Pada Jaringan Lunak


Gambaran kranium jaringan keras dan lunak arah lateral dapat dilihat dengan
bantuan alat radiografi sefalometri lateral. Penggunaan titik-titik jaringan lunak pada
sefalometri (Gambar 1) sebagai berikut:

Blok 11 tutorial Page 7


▪ a. Nasion kulit (N’) : titik paling cekung pada pertengahan dahi dan hidung.
▪ b. Pronasale ( P / Pr ) : titik paling anterior dari hidung.
▪ c. Subnasale (Sn) : titik septum nasal berbatasan dengan bibir atas.
▪ d. Labrale superior (Ls) : titik perbatasan mukokutaneus dari bibir atas.
▪ e. Sulcus Labial Superior (Sls) : titik tercekung di antara Sn dan Ls.
▪ f. Stomion superior ( Stms) : titik paling bawah dari vermillion bibir atas.
▪ g. Stomion inferior ( Stmi) : titik paling atas dari vermillion bibir bawah.
▪ h. Labrale inferior (Li) : titik perbatasan dari membran bibir bawah.
▪ i. Inferior Labial Sulcus (Ils): titik paling cekung di antara Li dan Pogonion.
▪ j. Pogonion kulit (Pog’) : titik paling anterior pada jaringan lunak dagu.
▪ k. Menton kulit (Me’) : titik paling inferior pada jaringan lunak dagu.

○ Penjelasan metode Steiner


https://densweb.wordpress.com/2017/12/18/analisa-sefalometri-part-2/
https://densweb.wordpress.com/2017/12/17/analisa-sefalometri-part-i/

sefalometri
steiner

○ Penjelasan metode tweed

sefalometri
twwed

Blok 11 tutorial Page 8


PBL 1 (Space Maintaner)
Wednesday, February 13, 2019 21:42

• SKENARIO
Anak 6 tahun datang ke dokter gigi .gigi primer molar kedua kanan bawahnya telah Metode-metode
diekstraksi 6 bulan yang lalu karena pembengkakan dan hingga saat ini, gigi baru belum Metode Moyers Metode Nance
tumbuh, sedangkan molar kanan 1 permanen bawahnya belum sempurna tumbuh untuk
erupsi. gigi depannya yang lebih rendah saling tumpang tindih. dalam mencerna makanan, ia
hanya menggunakan sisi kirinya saja. kebersihan mulut anak ini juga buruk

• Space maintaner
adalah alat yang dipasang untuk mempertahankan ruang bekas gigi desidui
yang mengalami premature loss atau premature extraction. Pemasangan alat
ini bertujuan agar tidak terjadi penyempitan ruang akibat bergesernya gigi
tetangga dan juga ekstrusi/elongasi dari gigi antagonisnya.

• Indikasi space maintaner


○ Kehilangan gigi molar pertama sulung secara dini
○ Kehilangan gigi molar kedua sulung secara dini
○ Setelah dilakukan pencabutan gigi molar pertama
○ Kehilangan gigi secara kongenital
○ Setelah dilakukan pencabutan gigi molar pertama permanen
○ Apabila terjadi kehilangan gigi sulung dan gigi penggantinya belum siap
erupsi menggantikan posisi gigi sulung tersebut dan analisa ruang
menyatakan masih terdapat ruang yang memungkinkan untuk gigi
permanennya
○ Jika terdapat kebiasaan yang buruk pada anak, misalnya menempatkan
lidah di tempat yang kosong atau menghisap bibir maka pemasangan
space maintainer ini dapat diinstruksikan sambil memberi efek
menghilangkan kebiasaan buruk
○ Adanya tanda-tanda penyempitan ruangan

• Kontraindikasi space maintaner


○ Kekurangan ruang untuk erupsi gigi permanen
○ Terdapat ruang yang berlebihan untuk erupsi gigi permanen
○ Gigi permanen penggantinya tidak ada (agenesis)
○ Kekurangan ruang yang banyak sehingga memerlukan tindakan
pencabutan dan perawatan ortodontik
○ Pada pasien yang tidak kooperatif
○ Bila gigi pengganti diharapkan akan erupsi setelah 6 bulan kehilangan
gigi sulung
○ Pada pasien dengan oral higiene yang buruk dan kurang motivasi

• Syarat space maintaner


Untuk pengunaan space maintainer harus memenuhi syarat:
○ tidak menggangu erupsi gigi antagonis dan erupsi gigi permanen,
○ tidak mempengaruhi fungsi bicara, pengunyahan, dan fungsi pergerakan
mandibula.
○ dapat mencegah ekstrusi gigi lawan tetapi tidak menyebabkan traumatik
oklusi,
○ tidak mengganggu jaringan lunak.
○ Desain dari space maintainer sesederhana mungkin, ekonomis, dan
mudah untuk dibersihkan

• Jenis space maintainer :


1. Semi-fixed space maintainer
▪ Crown-distal shoe space maintainer
Space maintainer ini diindikasikan untuk menjaga kehilangan gigi
molar kedua sulung. Sementara itu, crown diindikasikan untuk gigi
dengan karies yang luas.

Gambar 13. A.Space maintainer crown distal shoe dilihat pada foto
rontgen; B.Space maintainer crown-distal shoe

▪ Crown-loop space maintainer


Space maintainer crown-loop dapat digunakan pada gigi maksila
maupun mandibula dengan gigi penyangga dalam keadaan karies
yang luas sehingga dibutuhkan restorasi (crown). Space maintainer
ini biasanya digunakan untuk menjaga kehilangan satu gigi.

Blok 11 tutorial Page 9


Gambar 14. Crown- loop space maintainer

▪ Band-loop space maintainer


Space maintainer band-loop dapat digunakan pada gigi maksila
maupun mandibula dengan gigi penyangga dalam keadaan sehat.
Space maintainer ini biasanya digunakan untuk menjaga kehilangan
satu gigi.

Gambar 15. Space maintainer band-loop;

2. Fixed space maintainer


▪ Lingual-holding-arch space maintainer
Space maintainer ini diidikasikan untuk kehilangan gigi sulung posterior
dan dapat menghilangkan kebiasaan buruk. Estetika dari space
maintainer ini sangat baik karena wire berada pada lingual.

Gambar 16. Space maintainer lingual arch

▪ Nance’s holding arch


Space maintainer ini hanya digunakan pada maksila dengan kehilangan
gigi posterior yang multipel pada kedua sisi dan dapat digunakan untuk
menghilangkan kebiasaan buruk. Space maintainer Nance’s holding arch
dibuat dengan menggunakan wire yang dihubungkan dengan akrilik dan
band pada M1 permanen.

Gambar 17. Space maintainer nance palatal arch;

3. Removable space maintainer


▪ Functional space maintainer
Alat ini digunakan khusus bila gigi hilang dalam satu kuadran atau
lebih pada rahang atas maupun rahang bawah. Alat ini dapat
ditambahkan gigi artifisial untuk mengembalikan fungsi estetik.
Space maintainer fungsi
ditujukanuntuk mendukung fungsi pengunyahan. contohnya, pada
daerah diastema dapat dibuatdengan tambahan elemen gigi atau
tanpa elemen gigi tetapi dibuat sedemikian rupa
sehinggadapat berkontak dengan gigi antagonisnya. Keuntungan pe
nggunaan
space maintainer
fungsional adalah pasien dapat mengunyah sesuai dengan fungsi gi
gi

namun, perludiperhatikan waktu erupsi gigi pengganti karena bila


kurang kontrol dapat menggangguerupsi gigi tetap akibat terhalangi
oleh plat

▪ Non-functional space maintainer


Space maintainer non-fungsional ini mempunyai fungsi sama
dengan space maintainer fungsional. Daerah edentulous pada
space maintainer ini tidak ditambahkan gigi artifisial melainkan diisi
dengan akrilik.

Blok 11 tutorial Page 10


Gambar 18. A.Space maintainer bilateral lepasan pasif non-fungsional;
B.Space maintainer bilateral lepasan pasif fungsional

LAPORAN_
KASUS_P...

TAMBAHAN:

Metode moyers
PROSEDUR KERJA ( untuk RB )
• Ukur lebar mesiodistal tiap gigi I RB => jumlahkan (sebagai gigi prediktor)
• Menentukan besar ruang yang dibutuhkan untuk pengaturan insisivi RB
yang tepat
Pada kasus insisivi RB berdesakan :
• Aturlah alat pengukur sampai nilai yang sama dengan jumlah lebar
gigi I1 dan I2
• Tempatkan ujung alat pengukur pada garis median, ujung yang
lain membuat tanda pada sisi didekatnya. Tanda ini menunjukan bagian
distal I2 RB dalam keadaan yang baik.
• Lakukan juga pada sisi sebelahnya.
• Ukur ruang yang ada/ tersedia pada tiap lengkung gigi untuk 345 dengan
cara mengukur mulai dari tanda (ad. 2) sampai dengan mesial M1 RB
• Gunakan daftar probabilitas Moyers untuk RB dan jumlah total lebar gigi
insisivi pada kolom sebelah atas yang sesuai. Lalu lihat kolom dibawahnya untuk
mengetahui lebar ruang yang dibutuhkan untuk 345 prosentase yang sering
digunakan : 75%.

From <http://ayu-dani91.blogspot.com/2011/06/analisis-pengukuran-
ruang.html>
Metode moyers : https://www.youtube.com/watch?v=cCGcYtnnRx4
Metode Nance:

metode
moyers

Blok 11 tutorial Page 11


English (Biomekanika Ortodonsi)
Monday, February 25, 2019 10:58

• Skenario
- Diastema anterior
- Overjet 5mm --> retrak pakai removable appliance
- Overbite 2mm
- Caninus, molar --> angle klas I
- Presure yang tepat = tanpa damage(tanpa merusak gigi dan pelekatan ke tulang)
- Remodelling proses

• BIOMEKANIKA ORTHODONTI
Mempelajari efek biologis jaringan pendukung gigi akibat dari perawatan ortodontik secara
mekanik dan beberapa macam hal yg berhubungan dengan kekuatan mekanik.

Tujuan agar gigi yang akan kita gerakkan mendapat gaya yang TEPAT untuk dapat
menggerakan gigi, bukan hanya continu.

• Teori -teori pergerakan gigi

• Macam-macam Pergerakkan Gigi

Blok 11 tutorial Page 12


• Macam-macam Pergerakkan Gigi

fkg-siti File dibelah :)


bahirrah

• Mekanisme pergerakan gigi

Tekanan yang diaplikasikan di mahkota akan diteruskan ke akar, ligamen periodontal, dan
tulang alveolar yang mengakibatkan terbentuknya daerah tekanan dan daerah regangan pada
struktur pendukung gigi.

Dalam respon (adaptive respon) terhadap tekanan ini, mengaktifkan osteoklas dan osteoblas
sehingga terjadi perombakan soket yang ada

(buat tambahan bahwa di PDL ada kawan-kawan)

Saat menerima tekanan serabut ligamen periodontal terjadi resorpsi tulang di daerah yang
terkanan dan terjadi aposisi tulang di daerah regangan. Fenomena ini disebut remodeling
tulang

Note:
Apabila pemberian tekanan yang tidak tepat (melebihi tekanan pembuluh kapiler 20 -26
gr/mm) maka pembuluh darah kapiler akan tehimpit sehingga dapat menyebabkan nekrosis
gigi, bisa ditandai dengan adanya perubahan warna pada gigi

Note:
REMODELLING SEKUNDER (beradasarka hukum WOLF)

• Macam-macam resorbsi

Blok 11 tutorial Page 13


Kalau berdasarkan kuliah drg Tita:
Jadi tulang alveolar itu lapisannya lamina dura-compacta-spongangiosa.
Dan terdapat 2 jenis resobsi yaitu :
Frontal resorbtion itu terjadi apabila tekanannya tepat/optimal force (tidak melebih tekanan
pembuluh kapiler) sehingga gigi tidak langsung menekan lamina dura ,maka dari itu resorbsi
bisa terjadi pada lamina dura

Undermining resorbtion itu terjadi apabila tekanan yang diberikan berlebih sehingga ligamen
periodontal gigi terhimpit / penekanan yang berlebihan yang dapat menyebabkan nekrosis ,
dan pada lapisan compacta akan menerima beban tekan yang lebih rendah yang mana lebih
tepat untuk resorbsi sehingga resorbsi terjadi pada compacta.

• Fase-fase pergerakan gigi

1. fase inisial
selama fase inisial, pergerakan gigi sangat cepat,jaraknya pendek yang mana kemudian
berhenti.
.Pergerakan gigi pada fase inisial antara 0.4-0.9 mm dan biasanya terjadi dalam waktu 1
minggu.

2. fase lag
selama fase ini, sedikit atau tidak ada pergerakan gigi terjadi.Fase ini dikarakteristikkan oleh
pemebentukan jaringan hyaline dalam PDL yang mana sudah diresorbsi sebelum pergerakan
gigi lebih jauh terjadi. Durasi fase lag bergantung pada jumlah kekuatan digunakan untuk
menggerakkan gigi. Jika kekuatan digunakan untuk menggerakan gigi. Jika kekuatan besar
digunakan, area hyalinisasi besar. Resorpsi pada kasus ini reaward(bagian belakang) dan
periode lag lebih lama terjadi untuk menghilangkan jaringan hyaline.
Fase lag biasanya meluas sampai selama2-3 minggu tapi bisa sampai 10 minggu. Durasi fase
lag bergantung pada sejumlah faktor termasuk densitas tulang alveolar, umur pasien, dan
perluasan jaringan hyaline.

3. fase post lag


setelah fase lag, perkembangan gigi cepat karena zona hyaline tidak ada dan tulang
mengalami resorpsi. Selama periode post lag ini, osteoklas ditemukan pada area permukaan
yang besar hasil dari resorpsi langsung permukaan tulang yang menghadap ke PDL.

From <http://watanez.blogspot.com/2009/10/biomekanika-pergerakan-gigi.html>

• Note : Force(tambahan)
Force didefinisikan sebagai aksi yang sedang berlangsung yang dapat merubah atau
memelihara perubahan bagian dari keadaan istirahat atau gerakan seluruh bodi. Force
memiliki jarak yang pasti, memiliki suatu yang spesifik dan titik pengaplikasian dalam praktek
klinis antara ”pull-tarikan” atau ”push-tekanan” dalam sistem metrik satuan dari kekuatan
dijelaskan dalam gram.

Blok 11 tutorial Page 14


• Note : Force(tambahan)
Force didefinisikan sebagai aksi yang sedang berlangsung yang dapat merubah atau
memelihara perubahan bagian dari keadaan istirahat atau gerakan seluruh bodi. Force
memiliki jarak yang pasti, memiliki suatu yang spesifik dan titik pengaplikasian dalam praktek
klinis antara ”pull-tarikan” atau ”push-tekanan” dalam sistem metrik satuan dari kekuatan
dijelaskan dalam gram.
Types of Force
1. Countinous Force
Menunjukkan pada tekanan berangsur-angsur dari membran pericdontal pada sisi
tegangan gigi (pressure side). Jika suatu tekanan terdapat dalam batas-batas dimana
dapat terjadi reaksi jaringan, dapat terjadi perubahan rekonstrkutional elemen fibrosa
seperti juga resorpsi langsung dinding tulang alveolar. Jika tidak dibutuhkan tekanan
pengaktifan kembali, maka suplai pembuluh darah dapat diperoleh dengan mudah dan
dapat menghasilkan suatu efek ”Damage-repair”.
Eliminasi zona hyalinized terjadi antara 1 dan 4 minggu, dan jika dilakukan pengaktifan
kembali sebelum waktu ini, maka masalah-masalah terhadap jaringan dapat terjadi dengan
mudah.
Countinous force merupakan suatu tekanan aktif ortodonfik yang dapat sedikit mengurangi
jarak antara periode yangpenetapan suatu komponen alat ini harus bersifat fleksibel dan
aktifasi harus dilakukan secara relative dengan level tekanan yang ringan, karena continous
force ditujukan untuk membawa imenggiring resorpsi langsung soket gigi.
Selain itu continous force tidak meliputi ”periode istirahat” dan gangguan kecil dengan fungsi
biologi normal dalam jaringan lunak dapat ditoleransi.
2. Interupted – continous force
Berarti bahwa continous force yang diaplikasikan pada gigi lebih efektif hanya pada sejumlah
kecil pergerakan / pergeseran gigi, setelah tekanan dihentikan dan membutuhkan untuk
diaktifkan kembali. Walaupun telah terbentuk zona hyalinized, irgamen periodontal dapat
direkonstruksi kembali sehingga terjadi suatu peningkatan dalam proliferasi sel yang cocok /
sesuai untuk perubahan jaringan berikutnya mengikuti tekanan reaktifasi.
3. Intermittent Force
Suatu tekanan ortodontik aktif yang mempengaruhi gigi secara berkala atau setiap saat
ketika terjadi banyak gangguan dari tekanan. Tipe tekanan ini terjadi ketika digunakan
suatu alat removable.
Komponen alat ini harus memiliki tingkat kekakuan yang tinggi (high stiffness) dan aktifasi
awal harus dua kali, diharapkan deformasi jaringan lunak cocok.

From <http://watanez.blogspot.com/2009/10/biomekanika-pergerakan-gigi.html>

materi_orto 4478-1-853
2_biomek... 8-1-10-20...

Blok 11 tutorial Page 15