Anda di halaman 1dari 7

Bahasaku

Materi Bahasa Indonesia untuk SMP Kelas VIII Semester I


tetybekty

2 tahun yang lalu


Iklan

MATERI WAWANCARA UNTUK KELAS VIII SEMESTER I

BAHASA INDONESIA

Standar Kompetensi : 2. Mengungkap berbagai informasi melalui wawancara


dan presentasi laporan

Kompetensi Dasar : 2.1 Berwawancara dengan narasumber dari berbagai


kalangan dengan berwawancara

WAWANCARA

1. Definisi Wawancara

Hardjana (2007:4) wawancara adalah bentuk komunikasi lisan yang dilakukan menurut
struktur pembicaraan tertentu oleh dua orang atau lebih, dengan kontak langsung atau
jarak jauh, untuk membahas dan menggali informasi tertentu guna mencapai tujuan
tertentu pula. Menurut Stewart (2012:1) wawancara adalah interaktif karena adanya
pertukaran atau pembagian sebuah peran, tanggungjawab, perasaan, kepercayaan, motif,
dan informasi. Beberapa kegiatan wawancara tidak akan berhasil jika salah satu pihak
tidak mau berbagi perasaan, kepercayaan, motif, dan informasi.

1. Tujuan Wawancara

Zaka (2013) mengemukakan tujuan dari wawancara, yakni untuk memperoleh


keterangan atau pandapat yang dapat digunakan untuk masukan suatu penelitian atau
sebagai bahan berita yang dimuat dalam media massa, misalnya surat kabar, majalah,
radio, dan televisi.

1. Jenis-jenis Wawancara

Jenis-jenis wawancara menurut Pakar (2015) ada 3, yakni:

1. Wawancara secara tatap muka

Wawancara secara tatap muka merupakan suatu bentuk wawancara yang dilakukan
secara berhadap-hadapan. Wawancara ini memberikan banyak informasi yang lebih
dalam dan lebih luas karena sebelumnya telah dilakukan perjanjian dengan narasumber.
Topik atau fokusnya telah dirancang terlebih dahulu dan kesempatannya lebih khusus,
baik waktu maupun tempat.

2. Wawancara melalui telepon

Wawancara melalui telepon biasanya dilakukan untuk mengkonfirmasi dan


mengejar deadline. Wawancara yang dilakukan melalui telepon lebih singkat,
narasumber juga sering menolak untuk menjawab pertannyaan yang jawabannya terlalu
panjang. Wawancara melalui telepon memilki keterbatasan, yakni seorang pewawancara
tidak dapat membaca bahasa tubuh narasumber mengenai kebenaran yang
diungkapkannya.

3. Wawancara kelompok

Wawancara kelompok merupakan percakapan yang dilakukan dengann lebih dari satu
orang. Kesempatan ini biasanya dilakukan ketika ada bencana alam ataupun kejadian
tindak kriminal

1. Unsur-unsur Wawancara

Menurut Wirajaya (2008:10) menyatakan unsur-unsur tersebut sebagai berikut:

1. Pewawancara atau orang yang mencari informasi yang berkedudukan sebagai penanya.
2. Narasumber atau informan atau orang yang diwawancarai. Hal ini, narasumber atau
informan berkedudukan sebagai penjawab pertanyaan atau pemberi informasi. Narasumber
yang diwawancarai biasanya merupakan seseorang yang memiliki keterkaitan dengan
perihal informasi yang diperlukan. Dalam hal ini, narasumber dapat berupa tokoh, ahli, atau
orang biasa.
3. Tema atau perihal yang diwawancarakan. Tema sangat berperan dalam kegiatan wawancara
sebab tema menjadi pokok sekaligus pembatasan ha-hal yang dibicarakan.
4. Waktu atau kesempatan dan tempat.

1. Menyusun Daftar Pertanyaan

Setelah pedoman wawancara selesai dibuat, maka langkah selanjutnya adalah memberi
pertanyaan wawancara yang merupakan operasionalisasi dan penerjemahan dari dimensi
teoretis yang ada pada pedoman wawancara. Apapun bentuk wawancaranya (terstruktur,
semi terstruktur, atau tidak terstruktur), pedoman wawancara perlu dibuat untuk
memudahkan peneliti dalam mengoperasionalisasikannya dalam bentuk pertanyaan
wawancara. Menurut Herdiansyah (2013:91-92) dalam menyusun pertanyaan tidak
begitu saja dilakukan, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Membuat pertanyaan wawancara dengan pertanyaan terbuka.


2. Menggali uraian data berdasarkan sudut pandang subjek penelitian.
3. Pertanyaan yang telah dibuat tidak selalu diurutkan berdasarkan dimensi teoritis yang telah
tercantum dalam pedoman wawancara.
4. Tidak boleh me-leading jawaban atas keinginan peneliti.
5. Memerhatikan isyarat nonverbal yang muncul.
Sebagai langkah persiapan melakukan wawancara, kita harus mempersiapkan sejumlah
pertanyaan yang harus disampaikan kepada narasumber. Menurut Kosasih (2009: 9)
menyatakan hal-hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan pertanyaan-pertanyaan
itu adalah sebagai berikut.

1. Pertanyaan-pertanyaan harus sesuai dengan tujuan

Berikut contoh pertanyaan wawancara yang bertujuan untuk mengetahui keadaan suatu
tempat wisata.

Contoh :

1. Bagaimana jumlah wisatawan di tempat ini setelah terjadi tsunami tahun lalu? (seusai)
2. Apa penyebab timbulnya tsunami menurut Bapak? (tidak sesuai)

2. Setiap pertanyaan memuat satu pokok persoalan.

Contoh :

1. Apa yang Ibu lakukan untuk menarik minat wisatawan asing agar datang ke tempat ini? (satu
persoalan)
2. Berapa pendapatan yang Kakak peroleh dari berjualan benda-benda kerajinan ini dan
bagaimana caranya agar para wisatawan tertarik dengan barang-barang ini meskipun harga
Kakak naikkan dua sampai tiga kali lipat dari harga normal? (dua persoalan).

3. Dinyatakan secara langsung atau tidak berbelit-belit.


4. Apakah tempat ini sudah dilengkapi dengan sarana permainan anak-anak? (langsung).
5. Mungkinkah pada waktu dekat ini Bapak sebagai pengelola tempat ini berusaha untuk
menarik minat anak-anak yang ingin datang ke tempat ini dengan menyediakan suatu sarana
permainan yang cocok dengan usia mereka sehingga mereka lebih senang lagi bermain di
tempat ini dan tidak menyusahkan para orang tua mereka? (berbelit-belit).

4. Menggunakan pilihan kata yang santun.

Contoh :

1. Barangkali Ibu tidak keberatan untuk menjelaskan jumlah penghasilkan yang Ibu dapatkan
setiap kali bergadang di tempat ini? (santun)
2. Saya ingin tahu kejujuran Anda dalam mengelola tempat ini. Mau tidak Anda membeberkan
penggunaan anggaran yang diberikan pemerintah untuk biaya pemugaraan semua bangunan
ini? (tidak santun).
3. Menyusun Kerangka Wawancara

Silvia (2010) mengungkapkan bahwa kerangka merupakan penjabaran topik. Topik


diuraikan menjadi sejumlah sudut tekanan atau sudut pandang. Setiap sudut pandang
dapat dikembangkan lagi menjadi pertanyaan.kerangka juga berfungsi untuk
menciptakan sudut pandang apa yang pantas untuk masuk dalam wawancara, kemudian
mengembangkkan pertanyaan dalam cakupan tersebut. Hal ini dilakukan agar
pertanyaan tidak keluar dari topik dan tetap fokus pada tujuan dari kegiatan wawancara.

1. Hal-hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Wawancara

Wirajaya (2008:10) mengatakan beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum


berwawancara dengan narasumber adalah sebagai berikut:

1. Penguasaan materi, berkenaan dengan tema dan poin-pon permasalahan penting yang akan
ditanyakan.
2. Mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan informasi yang diperlukan.
3. Mempersiapkan diri secara mental untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,
misalnya: grogi atau
4. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk berwawancara, misalnya alat rekam dan
alat tulis.

Sejalan dengan pendapat tersebut menurut Yeri (2015:60) persiapan-persiapan sebelum


melakukan wawancara harus cermat karena berhubungan dengan nama baik sebuah
media tempat bekerja. Persiapan yang diperlukan adalah sebagai berikut,

1. Mempersiapkan alat perekam atau alat tulis


2. Mempelajari dan menguasai permasalahan
3. Mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan secara baik, khusus, penting, dan khas,
4. Menyiapkan mental, kecakapan, dan kemampuan untuk melaksanakan wawancara.

1. Langkah-langkah Wawancara

Menurut Kosasih (2009: 10) menjelaskan langkah-langkah wawancara adalah sebagai


berikut.

1. Tahap Persiapan

Tahapan ini pewawancara mempersiapkan topik serta pertanyaan-pertanyaan yang akan


diajukan. Pertanyaan-pertanyaan tu hendaknya disusun secara berurutan sesuai dengan
masalah-masalah yang hendak ditanyakan. Hal lain yang juga termasuk tahap persiapan
adalah menentukan narasumber serta menentukan waktu dan tempat pelaksanaan
wawancara.

2. Tahap pelaksanaan

Secara umum, wawancara dilaksanakan dalam tahap seperti berikut.

1. Menyampaikan salam hormat,


2. Memperkenalkan diri secara lengkap,
3. Mengemukakan secara jelas maksud wawancara,
4. Mewawancarai berdasarkan urutan pertanyaan yang telah disepakati,
5. Mengakhiri wawancara dengan salam hormat dan ucapan terima kasih.

3. Tahap penyusunan laporan

Setelah melaksanakan wawancara, hasil wawancara disusun dalam bentuk laporan.


Susunannya dapat berupa format pertanyaan-pertanyaan atau artikel.

1. Menyusun Daftar Pertanyaan

Setelah pedoman wawancara selesai dibuat, maka langkah selanjutnya adalah memberi
pertanyaan wawancara yang merupakan operasionalisasi dan penerjemahan dari dimensi
teoretis yang ada pada pedoman wawancara. Apapun bentuk wawancaranya (terstruktur,
semi terstruktur, atau tidak terstruktur), pedoman wawancara perlu dibuat untuk
memudahkan peneliti dalam mengoperasionalisasikannya dalam bentuk pertanyaan
wawancara. Menurut Herdiansyah (2013:91-92) dalam menyusun pertanyaan tidak
begitu saja dilakukan, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Membuat pertanyaan wawancara dengan pertanyaan terbuka.


2. Menggali uraian data berdasarkan sudut pandang subjek penelitian.
3. Pertanyaan yang telah dibuat tidak selalu diurutkan berdasarkan dimensi teoritis yang telah
tercantum dalam pedoman wawancara.
4. Tidak boleh me-leading jawaban atas keinginan peneliti.
5. Memerhatikan isyarat nonverbal yang muncul.

Sebagai langkah persiapan melakukan wawancara, kita harus mempersiapkan sejumlah


pertanyaan yang harus disampaikan kepada narasumber. Menurut Kosasih (2009: 9)
menyatakan hal-hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan pertanyaan-pertanyaan
itu adalah sebagai berikut.

1. Pertanyaan-pertanyaan harus sesuai dengan tujuan


2. Setiap pertanyaan memuat satu pokok persoalan.
3. Dinyatakan secara langsung atau tidak berbelit-belit.
4. Menggunakan pilihan kata yang santun.

1. Etika Wawancara

Sebagai pewawancara, kita harus memahami etika berwawancara. Menurut Wirajaya


(2008:10) etika berwawancara diantaranya adalah sebagai berikut,

1. Mengucapkan salam, memperkenalkan diri, dan berterimakasih atas kesempatan yang


diberikan.
2. Menggunakan bahasa yang santun.
3. Menyampaikan pertanyaan secara sistematis dan urut.
4. Fokus pada materi wawancara.
5. Tidak menyudutkan narasumber dan tidak membuat tersinggung.
6. Tidak memancing pertanyaan yang menjurus pada finah atau mengadu domba. 7. Bersikap
objektif dan simpatik

LATIHAN SOAL:

Kerjakan soal di bawah ini dengan tepat!

1. Berikan penjelasan mengenai wawancara sesuai dengan pemahamanmu!


2. Sebutkan macam-macam wawancara?
3. Bagaimanakah cara untuk menyusun daftar pertanyaan?
4. Apa sajakah yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan wawancara?
5. Bagaimanakah etika pada saat melakukan kegiatan wawancara?

Jawablah soal- soal tersebut pada kolom komentar!

DAFTAR PUSTAKA:

Hardjana, Agus M. 2007. Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal.Yogyakarta:


Kanisius.

Herdiansyah, Haris. 2013. Wawancara, Observasi, dan Focus Groups: sebagai


Instrumen Penggalian Data Kualitatif. Jakarta:Rajawali Pers.

Kosasih, E, Restuti Murwaningrum. 2009. Mandiri: Mengasah Kemampuan Diri


Bahasa Indonesia untuk SMP atau MTs Kelas VIII. Jakarta: Erlangga.

Pakar. 2015. “Pengertian dan Jenis


Wawancara”.http://www.pengertianpakar.com/2015/06/

pengertian-wawancara-dan-jenis-jenis-wawancara.html=1. Diakses pada hari Senin 19


Desember 2016 Pukul 14.30 WIB.

Silvia. 2010. “Teknik Wawancara”. http://silviaflorensia.blogspot.co.id/2010/01/teknik-


wawa

ncara.html?m=1. Diakses pada hari Senin, 19 Desember 2016 Pukul 13.00 WIB.

Stewart, Charles J, William B. Cash, Jr. 2012. Interviu: Prinsip dan Praktik.
Jakarta:Salemba Humanika.
Wirajaya, Asep Yudha. 2008. Berbahasa dan Bersastra Indonesia: untuk SMP atau MTs
kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan.

Zaka. 2013. “Pengertian Wawancara dan Jenis Wawancara”. http://www.zakapedia.com/

2013/10/pengertian-wawancara-dan-jenis-wawancara.html?m=1. Diakses pada hari


Selasa, 20 Desember 2016 Pukul 16.25 WIB.

Iklan

Kategori: Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Bahasaku

Dikelola oleh WordPress.com.


Kembali ke atas
Iklan