Anda di halaman 1dari 2

Contoh berikut adalah kasus proyek dimana kondisinya bersifat

mutually exclusive. Diketahui bahwa biaya modal (cost of capital) yang


ditetapkan adalah 5%. Kebutuhan dana untuk investasi tersebut
diperkirakan adalah Rp. 15.000.000 dari masing-masing investasi pada
proyek yang diperhitungkan tersebut. Untuk menentukan proyek yang
layak untuk didanai maka dapat dihitung Net Present Value (NPV)
masing-masing proyek/investasi tersebut. Berikut ini data aliran kas
dari masing-masing proyek
tersebut:

Untuk menghitung NPV dari setiap proyek/investasi dapat digunakan


rumus
berikut:
𝐶𝐹1 𝐶𝐹2 𝐶𝐹𝑛
NPV = −𝐶𝐹 + (1+𝑅)1 + (1+𝑅)2 + ⋯ + 𝑛
(1+𝑅)

10.000.000 21.000.000
NPVa(5%)= −15.000.000 + (1+0.05) 1 + (1+0.05)2
NPVa(5%)= −15.000.000 + 9.523.809,52 + 19.047.619
NPVa(5%)= 13.571.429

15.000.000 22.500.000
NPVb(5%)= −15.000.000 + (1+0.05) 1 + (1+0.05)2
NPVb(5%)= −15.000.000 + 14.285.714,29 + 20.408.163,27
NPVb(5%)= 19.693.877,55

12.000.000 19.500.000
NPVc(5%)= −15.000.000 + (1+0.05) 1 + (1+0.05)2
NPVc(5%)= −15.000.000 + 11.428.571,43 + 17.687.074,83

NPVc(5%)= 14.115.646,26
Berdasarkan perhitungan NPV dari setiap proyek diperoleh NPVA(5%)
adalah Rp 13.571.429, sedangkan NPVB(5%) adalah Rp 19.693.877,55
dan NPV C(5%) adalah Rp 14.115.646,26. Artinya, dengan
menggunakan NPV maka proyek yang layak (feasible) adalah proyek B
karena NPVB jauh lebih besar keuntungan akhirnya dibandingkan
dengan NPVA dan NPVC.