Anda di halaman 1dari 145

No.

TA 648/S1-TL/0718-P

ANALISIS KOMPARATIF PENGELOLAAN SAMPAH DOMESTIK


KOTA KITAKYUSHU DAN KOTA PADANG UNTUK
MENINGKATKAN KUALITAS PENGELOLAAN
SAMPAH KOTA PADANG

TUGAS AKHIR

Oleh:
SUCI WULANDARI
1410942031

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN – FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
ANALISIS KOMPARATIF PENGELOLAAN SAMPAH DOMESTIK
KOTA KITAKYUSHU DAN KOTA PADANG UNTUK
MENINGKATKAN KUALITAS PENGELOLAAN
SAMPAH KOTA PADANG

TUGAS AKHIR
Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
Program Strata-1 pada
Jurusan Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Universitas Andalas

Oleh:
SUCI WULANDARI
1410942031

Pembimbing:
Ir. SLAMET RAHARJO, Dr. Eng

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN – FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka

(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan

orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu

memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku,

agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

(Al-Baqarah:186)
untuk Allah Subhanahuwata’ala

yang telah memilihkan takdir dan jalan ini

Alhamdulillah ‘ala kulli hal

untuk mama dan untuk papa

yang tak kenal lelah dan selalu sabar

memelihara diri ini hingga kini

dan untuk semua raga yang tak bosan mendoakan

Jazakumullah khairan

kupersembahkan tugas akhir ini sebagai saksi bisu

dari sekian banyak kisah suka dan duka yang ku alami

di sini, di negeri orang


HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Saya mahasiswa Universitas Andalas yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama lengkap : Suci Wulandari


No. BP/NIM/NIDN : 1410942031
Program Studi : Teknik Lingkungan
Fakultas : Teknik
Jenis Tugas Akhir : Skripsi

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Andalas hak atas publikasi online Tugas Akhir saya yang berjudul:

Analisis Komparatif Pengelolaan Sampah Domestik Kota Kitakyushu dan


Kota Padang untuk Meningkatkan Kualitas Pengelolaan
Sampah Kota Padang

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Universitas Andalas juga berhak
untuk menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola, merawat, dan
mempublikasikan karya saya tersebut di atas selama tetap mencantumkan nama
saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan
ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Padang
Pada tanggal 23 Juli 2018
Yang menyatakan,

(Suci Wulandari)

* pilih sesuai kondisi


** termasuk laporan penelitian, laporan pengabdian masyarakat, laporan magang,
dll
ABSTRAK

Praktik pengelolaan sampah domestik Kota Padang masih menggunakan sistem


kumpul-angkut-buang dengan hanya 5% pengolahan sampah yang dilakukan pada
65% sampah terkumpul. Kota Kitakyushu telah mengaplikasikan praktik
pengelolaan sampah dengan memanfaatkan teknologi pengolahan sampah yang
ada sehingga persen pengolahan sampah kota tersebut mencapai 100%. Dengan
melakukan analisis komparatif antara Kota Kitakyushu dan Kota Padang diperoleh
kekurangan yang dimiliki Kota Padang. Sehingga dilakukan analisis SWOT untuk
memperoleh strategi dan program yang tepat untuk menyusun skenario
peningkatan kualitas pengelolaan sampah domestik Kota Padang. Skenario
disusun berdasarkan 4 skenario yaitu skenario 0 yang merupakan kondisi eksisting,
skenario 1 pengomposan, skenario 2 insinerasi dan skenario 3 anaerobik digester.
Berdasarkan analisis Life Cycle Assessment, dilakukan pembobotan dari hasil
normalisasi kategori dampak Global Warming Potential, Acidification Potential
dan Eutrophication Potential yang menunjukkan bahwa skenario 0 memiliki bobot
paling besar yaitu 1,58 x 10-9, skenario 1 memiliki bobot paling kecil yaitu 5,81 x
10-10, skenario 2 memiliki bobot 5,97 x 10-10 dan skenario 3 memiliki bobot 1,21 x
10-10. Dengan demikian, skenario 0 menjadi skenario terburuk dan tidak layak
sedangkan skenario 1 menjadi skenario terbaik dan layak secara lingkungan.

Kata Kunci: Analisis Komparatif; Life Cycle Assessment; Global Warming


Potential; Acidification Potential; Eutrophication Potential
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi robbil ‘alamin, tertuju syukur pada Allah Subhanahuwata’ala atas


segala bala bantuan, rahmat dan hidayah-Nya untuk penulis sehingga tugas akhir
ini selesai dengan penuh cerita. Sholawat serta salam senantiasa dicurahkan kepada
Nabi Besar Muhammad Sholallahu’alaihi wasallam, Allahumma sholli ‘ala
Muhammad wa’ala ali Muhammad, semoga kita termasuk orang-orang yang
beruntung akan syafaat Beliau di yaumul hisab kelak.

Perjuangan mengerjakan tugas akhir ini takkan lengkap tanpa kehadiran sosk-sosok
yang selalu sedia mengulurkan tangan untuk membantu kelancaran proses yang
penulis jalani. Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas segala
upaya yang telah diberikan oleh:
1. Mama, Papa, Mas Pijai, Elok Riri, Uda Aziz, Uni Bunga, Dek Puja dan
keluarga besar yang tanpa lelah memberikan dorongan moril dan materil
kepada penulis;
2. Bapak Ir. Slamet Raharjo, Dr. Eng, selaku dosen pembimbing dan ketua
jurusan yang telah memberikan bimbingan serta ilmu pengetahuan kepada
Penulis;
3. Bapak Rizki Aziz, Ph.D, selaku koordinator Tugas Akhir dan dosen mata
kuliah Life Cycle Assessment yang telah banyak membantu dan memberikan
arahan;
4. Bapak Taufiq Ihsan, MT, yang telah membimbing dan membantu penulis
hingga dapat menjejakkan kaki di Kota Kitakyushu;
5. Ibu Tivany Edwin, M.Eng sebagai dosen pembimbing akademik dan Ibu
Ansiha Nur, MT sebagai dosen penguji yang telah banyak memberikan
masukan dan arahan;
6. Bapak Ibu dosen, tenaga pendidik, staf dan karyawan/ti jurusan Teknik
Lingkungan;
7. Ibu Indriyani Rachman, Bapak Hafizhul Khair, Uni Rahmi Utami, Bapak Toru
Matsumoto, Mas Qiyam, Mas Apri Yamaguci-san serta teman satu
laboratorium yang telah banyak membantu proses tugas akhir ini di Kota
Kitakyushu;

i
8. Mbak Caca yang telah bersedia menjadi teman sekamar satu bulan di Kota
Kitakyuhu, Fakhitah, Gusti, Rositha, Mbak Alin, Mbak Maya, Mbak Rima,
Sensei Siratsuchi, Sensei Toshio, Kura-san, serta ibu-ibu liqo dan tahsin yang
telah banyak memberikan pengalaman berharga di Kota Kitakyushu;
9. Amak, Randi, Umi, dan Keke atas segala doa dan dukungan tiada henti;
10. Kelompok Liqo yang senantiasa memberikan semangat baru di setiap
pekannya;
11. Kak ilas yang selalu memberikan cerita perjuangan yang sangat memotivasi;
12. Kakak, abang, dan teman-teman Neo Telemetri yang tiada bosan berbagi
pengalaman dan nasihat kehidupan;
13. Friendship Never End (FNE), Rani, Aulia, Yuyun, dan Mikel yang selalu ada
untuk menyambut semua keluh kesah dan suka cita perjuangan ini;
14. Yuliana, ST yang tiada lelah memberikan petuah-petuah dan semangat meski
tak lagi berdekatan;
15. Kak Zaty yang penuh dengan nasihat kebaikan;
16. Uni Reno Wulandari, ST yang telah bersedia menjadi notulis pada sidang tugas
akhir penulis;
17. Kak Yeni dan Eca yang telah bersedia menjadi pengadopsi kenomadenan diri
ini, Odi dan Icyna yang selalu setia membersamai dengan sabar dan penuh
semangat, pengisi angin boneka dan balon ST, panitia penyambut kelulusan
sidang tugas akhir, serta seluruh komponen DIVERGENT yang tak dapat
diuraikan satu persatu namanya. Terima kasih untuk perjalanan hidup yang luar
biasa ini;
18. Uda, uni, abang, kakak, adik, dan teman-teman yang pernah terlibat dalam
kehidupan dan perjuangan penulis. Terima kasih atas semua waktu dan
dukungan yang diberikan.

Tiada manusia tanpa khilaf, hanya pada Allah Subhanahuwata’ala penulis mohon
ampunan dan mengembalikan semua urusan. Mohon maaf atas segala ketidak-
sempurnaan. Semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat.

Padang, Juli 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR...........................................................................................i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... v
DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................ix
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... I-1
1.2 Maksud dan Tujuan Penelitian .................................................................. I-2
1.3 Manfaat Penelitian .................................................................................... I-3
1.4 Ruang Lingkup ......................................................................................... I-3
1.5 Sistematika Penulisan ............................................................................... I-4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Sampah................................................................................... II-1
2.2 Klasifikasi Sampah .................................................................................. II-1
2.3 Timbulan, Komposisi dan Karakteristik Sampah ..................................... II-4
2.3.1 Timbulan Sampah ............................................................................ II-4
2.3.2 Komposisi Sampah .......................................................................... II-6
2.3.3 Karakteristik Sampah....................................................................... II-7
2.4 Pengelolaan Sampah Kota........................................................................ II-9
2.4.1 Aspek Teknis ................................................................................. II-10
2.4.2 Aspek Non Teknis ......................................................................... II-31
2.5 Analisis Perbandingan Normatif ............................................................ II-33
2.5.1 Penelitian Terkait Analisis Perbandingan Pengelolaan Sampah ..... II-36
2.6 Life Cycle Assessment (LCA)................................................................. II-37
2.6.1 Definisi Tujuan dan Ruang Lingkup .............................................. II-38
2.6.2 Analisis Inventori .......................................................................... II-39
2.6.3 Penilaian Dampak .......................................................................... II-40
2.6.4 Interpretasi ..................................................................................... II-40
2.6.5 Software LCA ................................................................................ II-41
2.6.6 Penelitian Terkait LCA pada Pengelolaan Sampah ........................ II-44
2.7 Gambaran Umum Kota Kitakyushu dan Kota Padang ........................... II-47
2.7.1 Gambaran Umum Kota Kitakyushu ............................................... II-47
2.7.2 Gambaran Umum Kota Padang ..................................................... II-50
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Umum .................................................................................................... III-1
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................. III-1
3.3 Tahapan Penelitian ................................................................................. III-1
3.3.1 Studi Literatur................................................................................ III-3

iii
3.3.2 Pengumpulan Data ......................................................................... III-3
3.3.3 Analisis komparatif ........................................................................ III-5
3.3.4 Analisis SWOT .............................................................................. III-6
3.3.5 Usulan Alternatif Skenario Pengelolaan Sampah Kota Padang ...... III-6
3.3.6 Analisis Skenario Terbaik .............................................................. III-7
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Umum .................................................................................................... IV-1
4.2 Kondisi Eksisting Pengelolaan Sampah Domestik ................................. IV-1
4.2.1 Kondisi Eksisting Pengelolaan Sampah Domestik Kota
Kitakyushu .................................................................................... IV-1
4.2.2 Kondisi Eksisting Pengelolaan Sampah Domestik Kota
Padang ......................................................................................... IV-30
4.3 Analisis Komparatif Kondisi Eksisting Pengelolaan Sampah Kota
Kitakyushu dan Kota Padang ................................................................ IV-35
4.4 Analisis SWOT Pengelolaan Sampah Kota Padang ............................. IV-37
4.5 Penyusunan Skenario Pengelolaan Sampah.......................................... IV-41
4.5.1 Skenario 0 .................................................................................... IV-43
4.5.2 Skenario 1 .................................................................................... IV-43
4.5.3 Skenario 2 .................................................................................... IV-46
4.5.4 Skenario 3 .................................................................................... IV-47
4.6 Analisis LCA Skenario Pengelolaan Sampah ....................................... IV-47
4.6.1 Goal and Scope Definition ........................................................... IV-47
4.6.2 Inventory Analysis........................................................................ IV-50
4.6.3 Impact Assessment ....................................................................... IV-54
4.6.4 Interpretation ...................................... Error! Bookmark not defined.
4.7 Rekomendasi Pengelolaan Sampah Domestik Kota Padang ............... Error!
Bookmark not defined.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. V-1
5.2 Saran ....................................................................................................... V-1
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Lima Jenis Pewadahan: (1) sampah B3; (2) sampah mudah
terurai; (3) sampah dapat digunakan kembali; (4) sampah
dapat didaur ulang; (5) sampah lainnya ................................... II-11
Gambar 2.2 Pola Pengumpulan Sampah ...................................................... II-14
Gambar 2.3 Alat Pengangkutan Sampah ...................................................... II-16
Gambar 2.4 Pola Kontainer Angkat ............................................................. II-17
Gambar 2.5 Pengangkutan dengan SCS Mekanis......................................... II-17
Gambar 2.6 Pengangkutan dengan SCS Manual .......................................... II-18
Gambar 2.7 Proses pencacahan sampah organik secara mekanis ................. II-20
Gambar 2.8 Proses pemilahan sampah berdasarkan densitas sampah ........... II-21
Gambar 2.9 Proses pemilahan sampah berdasarkan nilai magnetik .............. II-22
Gambar 2.10 Proses pemilahan sampah berdasarkan nilai absorbansi............ II-22
Gambar 2.11 Proses anaerobik pengolahan sampah ....................................... II-23
Gambar 2.12 Proses aerobik pengolahan sampah........................................... II-24
Gambar 2.13 Proses pengolahan sampah secara termal: (a) proses
pengeringan; (b) proses pirolisis; (c) proses gasifikasi .............. II-26
Gambar 2.14 Proses insinerasi pada pengolahan sampah secara termal ......... II-27
Gambar 2.15 Proses plasma gasifikasi pada pengolahan sampah secara
termal ....................................................................................... II-28
Gambar 2.16 Ilustrasi Lahan Urug Saniter (Sanitary Landfill) ....................... II-29
Gambar 2.17 Skema Pengolahan Landfill Gas ............................................... II-31
Gambar 2.18 Diagram Rangkaian Kemungkinan Logis ................................. II-34
Gambar 2.20 Museum Lingkungan ................................................................ II-48
Gambar 2.21 Ecotown Center ........................................................................ II-48
Gambar 2.22 Wind Power .............................................................................. II-49
Gambar 2.23 Stand Pengolahan Awal Sampah Kaleng Minuman .................. II-49
Gambar 2.24 Kegiatan Daur Ulang yang melibatkan Anak-Anak .................. II-50
Gambar 2.25 Peta Wilayah Kota Padang ....................................................... II-51
Gambar 3.1 Diagram Alir Tahapan Penelitian ............................................. III-2
Gambar 3.2 Bagan Alir Proses Analisis Komparatif .................................... III-6
Gambar 3.3 Tampilan Awal GaBi ................................................................ III-8
Gambar 3.4 Tampilan Jendela Kerja ............................................................ III-8
Gambar 3.5 Bagan Alir Tahapan LCA ........................................................III-12
Gambar 4.1 Persentase Komposisi Jenis Sampah Domestik Kota
Kitakyushu ............................................................................... IV-2
Gambar 4.2 Contoh Sampah Dapur/Sisa Makanan ...................................... IV-4
Gambar 4.3 Contoh Sampah Pakaian ........................................................... IV-4
Gambar 4.4 Contoh Sampah Taman............................................................. IV-4
Gambar 4.5 Contoh Sampah Tembikar/Keramik ......................................... IV-5
Gambar 4.7 Sampah Kaleng Aluminium...................................................... IV-6
Gambar 4.8 Sampah Botol Kaca .................................................................. IV-6
Gambar 4.9 Kantong Sampah Kaleng dan Botol .......................................... IV-7
Gambar 4.10 Sampah Botol Plastik PET........................................................ IV-7
Gambar 4.12 Sampah Bungkus dan Plastik .................................................... IV-8
Gambar 4.13 Kantong Sampah Bungkus dan Plastik Makanan ...................... IV-9

v
Gambar 4.14 Stasiun Pengumpulan Sampah di Apartemen .......................... IV-10
Gambar 4.15 Stasiun Pengumpulan Sampah di Asrama Mahasiswa ............ IV-10
Gambar 4.16 Stasiun Pengumpulan Sampah di Sekitar Rumah
Masyarakat ............................................................................. IV-11
Gambar 4.17 Kotak Pengumpulan Sampah Lampu ...................................... IV-12
Gambar 4.18 Kotak Pengumpulan Sampah Kardus ...................................... IV-12
Gambar 4.19 Lokasi Pengumpulan Sampah Kertas ...................................... IV-13
Gambar 4.20 Proses Insinerasi Sampah Rumah Tangga ............................... IV-15
Gambar 4.21 Bangunan Insinerasi Shinmoji ................................................ IV-16
Gambar 4.22 Bangunan Insinerasi Kagosaki ................................................ IV-16
Gambar 4.23 Bangunan Insinerasi Hiagari ................................................... IV-16
Gambar 4.24 Proses Kompaksi Sampah Kaleng........................................... IV-17
Gambar 4.26 Alur Proses Pengolahan Botol Kaca ....................................... IV-18
Gambar 4.27 Bangunan Pengolahan Kaleng dan Botol Kaca ....................... IV-19
Gambar 4.28 Proses Kompaksi Botol Plastik PET ....................................... IV-19
Gambar 4.29 Hasil Pengolahan Botol Plastik PET menjadi Pellet dan
Flakes ..................................................................................... IV-20
Gambar 4.30 Hasil Pengolahan Botol Plastik PET menjadi Produk
Baru (1)................................................................................... IV-20
Gambar 4.30 Hasil Pengolahan Botol Plastik PET menjadi Produk
Baru (2)................................................................................... IV-21
Gambar 4.31 Lokasi Pengolahan Sampah Bungkus dan Plastik ................... IV-21
Gambar 4.32 Balok-Balok Sampah Bungkus dan Plastik ............................. IV-22
Gambar 4.33 Bangunan Pengolahan Sampah Lampu ................................... IV-22
Gambar 4.34 Bangunan Pengolahan Minyak Goreng Bekas ........................ IV-23
Gambar 4.35 Bangunan Pengolahan Peralatan Rumah Tangga .................... IV-24
Gambar 4.36 Proses Sortir Manual Sampah Kertas ...................................... IV-24
Gambar 4.37 Hasil Kompaksi Sampah Kertas.............................................. IV-25
Gambar 4.38 Hauled Truck .......................................................................... IV-26
Gambar 4.39 Hibikinada Landfill (1) ........................................................... IV-26
Gambar 4.39 Hibikinada Landfill (2) ........................................................... IV-27
Gambar 4.39 Hibikinada Landfill (3) ........................................................... IV-27
Gambar 4.40 Struktur Reklamasi Residu Sampah ........................................ IV-28
Gambar 4.41 Skema Eksisting Pengelolaan Sampah Domestik Kota
Kitakyushu.............................................................................. IV-29
Gambar 4.42 Contoh Wadah Sampah Komunal Kota Padang 3 Jenis
Pemilahan ............................................................................... IV-31
Gambar 4.43 Contoh Wadah Sampah Komunal Kota Padang Sampah
Tercampur............................................................................... IV-31
Gambar 4.44 Kondisi Pewadahan Sampah Kota Padang .............................. IV-32
Gambar 4.45 Skema Eksisting Pengelolaan Sampah Domestik Kota
Padang .................................................................................... IV-34
Gambar 4.46 Diagram Skenario 0 ................................................................ IV-44
Gambar 4.47 Diagram Skenario 1 ................................................................ IV-45
Gambar 4.48 Diagram Skenario 2 ................................................................ IV-48
Gambar 4.49 Diagram Skenario 3 ................................................................ IV-49
Gambar 4.50 Diagram Skenario 0 pada Software GaBi .... Error! Bookmark not
defined.

vi
Gambar 4.51 Diagram Skenario 1 pada Software GaBi .... Error! Bookmark not
defined.
Gambar 4.52 Diagram Skenario 2 pada Software GaBi .... Error! Bookmark not
defined.
Gambar 4.53 Diagram Skenario 3 pada Software GaBi .... Error! Bookmark not
defined.
Gambar 4.54 Grafik Penilaian GWP ................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.56 Grafik Penilaian EP ....................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.57 Hasil Normalisasi .......................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.58 Hasil Pembobotan .......................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.59 Kontribusi Dampak GWP Skenario 0 .......... Error! Bookmark not
defined.
Gambar 4.60 Kontribusi Dampak GWP Skenario 1 .......... Error! Bookmark not
defined.
Gambar 4.61 Kontribusi Dampak GWP Skenario 2 .......... Error! Bookmark not
defined.
Gambar 4.62 Kontribusi Dampak GWP Skenario 3 .......... Error! Bookmark not
defined.
Gambar 4.63 Kontribusi Dampak AP Skenario 0 Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.64 Kontribusi Dampak AP Skenario 1 Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.65 Kontribusi Dampak AP Skenario 2 Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.66 Kontribusi Dampak AP Skenario 3 Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.67 Kontribusi Dampak EP Skenario 0 Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.68 Kontribusi Dampak EP Skenario 1 Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.69 Kontribusi Dampak EP Skenario 2 Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.70 Kontribusi Dampak EP Skenario 3 Error! Bookmark not defined.

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Angka Timbulan Sampah Kota .....................................................II-5


Tabel 2.2 Timbulan Sampah Berdasarkan Sumber........................................II-6
Tabel 2.3 Tipikal Komposisi Sampah Pemukiman (% berat basah) ..............II-7
Tabel 2.4 Kriteria Umum Wadah Sampah ..................................................II-13
Tabel 2.5 Perbandingan Software LCA .......................................................II-42
Tabel 3.1 Narasumber dan Pertanyaan Wawancara .................................... III-3
Tabel 3.2 Parameter Analisis Komparatif ................................................... III-4
Tabel 3.3 Aliran Input dan Output pada software GaBi .............................. III-9
Tabel 3.5 Faktor Pembobotan ................................................................... III-11
Tabel 4.1 Jadwal dan Lokasi Pengumpulan Sampah Kota Kitakyushu ..... IV-13
Tabel 4.2 Komposisi Sampah Domestik Kota Padang Tahun 2016 .......... IV-30
Tabel 4.3 Analisis Komparatif .................................................................. IV-35
Tabel 4.4 Analisis SWOT ......................................................................... IV-38
Tabel 4.5 Strategi dan Turunan Porgram................................................... IV-39
Tabel 4.6 Skenario pengelolaan sampah Kota Padang yang disusun ......... IV-41
Tabel 4.7 Komposisi Sampah Domestik Kota Padang Tahun 2016 .......... IV-50
Tabel 4.8 Data Inventori Dasar yang Digunakan pada Software GaBi
(time frame 2023) ...................................................................... IV-51
Tabel 4.9 Data Inventori Konsumsi Energi dan Aliran Materi pada
Pengolahan Sampah Domestik yang digunakan pada
software GaBi (time frame 2023) .............................................. IV-52
Tabel 4.10 Aliran Energi.................................... Error! Bookmark not defined.
Tabel 4.11 Rekomendasi Pengelolaan Sampah Domestik Kota Padang .... Error!
Bookmark not defined.

viii
DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A Peraturan Terkait


LAMPIRAN B Laporan Hasil Wawancara
LAMPIRAN C Referensi Data Inventori
LAMPIRAN D Hasil Analisis Dampak

ix
I. BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sampah masih menjadi permasalahan pada banyak kota di Indonesia akibat terus
meningkatnya timbulan sampah. Peningkatan timbulan sampah tersebut tiap
tahunnya disebabkan pula oleh peningkatan jumlah penduduk dan pola konsumtif
masyarakat (Badan Pusat Statistik, 2016). Rata-rata produksi sampah Indonesia
mencapai 64 juta ton per tahunnya. 69% sampah tersebut dibawa ke tempat
pemrosesan akhir (TPA). Selebihnya dilakukan pengolahan seperti pengomposan
dan daur ulang (7,5%), dibakar (5%), ditimbun (10%) dan dibiarkan tanpa
perlakuan (8,5%) (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2017).

Kota Padang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang mengalami hal
demikian. Sebanyak 60% sampah dari total sampah yang dihasilkan Kota Padang
akan berakhir di TPA, 5% dilakukan pengolahan berupa daur ulang dan
pengomposan, selebihnya (35%) dibakar dan dibuang ke sungai oleh masyarakat
(Raharjo dkk, 2013). Sungai-sungai besar di Kota Padang masih tercemar oleh
timbulan sampah yang dibuang masyarakat. Hal tersebut menunjukkan rendahnya
kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah domestik yang baik (Republika,
2018).

Konsep berfikir masyarakat yang tak acuh dalam pengelolaan sampah domestik
dapat menimbulkan berbagai gejala lingkungan, seperti hilangnya estetika, bau,
banjir dan beragam penyakit akibat sanitasi yang buruk karena sampah yang tidak
dikelola dengan baik. Konsep berfikir ini sangat merugikan segala aspek
kehidupan, terutama aspek kesehatan masyarakat. Kualitas kesehatan masyarakat
dapat menurun secara kontinu jika sampah tidak dikelola dengan konsep
pengelolaan sampah domestik yang benar.

Selain kondisi budaya masyarakat, permasalahan yang dihadapi Kota Padang


adalah sistem pengelolaan sampah domestik yang diterapkan masih belum
maksimal. Sebagian besar sampah yang dihasilkan langsung dibuang ke Tempat

I-1
Pemrosesan Akhir (TPA). Sebagian besar sampah domestik maupun non domestik
yang dihasilkan juga tidak dilakukan pemisahan dari sumber (Aziz dkk, 2016).

Pengelolaan sampah domestik yang benar dan aplikatif sangat dibutuhkan untuk
mengatasi persoalan sampah yang berkembang di masyarakat. Kota Kitakyushu di
Jepang merupakan salah satu kota yang berhasil menerapkan konsep pengelolaan
sampah domestik yang benar dan menjadi salah satu kota terbaik dalam upaya
pengelolaan sampah dan lingkungan di dunia. Sejak tahun 1970an, Kota
Kitakyushu telah berhasil melayani pengumpulan sampah kota 100%. Teknologi
yang memadai, peraturan yang ditaati serta pelibatan penuh masyarakat, industri,
pemerintah dan instansi terkait telah menunjukkan perubahan yang signifikan pada
Kota Kitakyushu. Meski menjadi kota Industri modern, kota ini telah berhasil
mengelola beban pencemar terutama sampah dengan sangat baik. Sampah bukan
lagi diangkut dan dibuang ke TPA, namun sampah akan menjadi beraneka ragam
produk baru yang bermanfaat.

Melihat dari keadaan tersebut di atas, maka dilakukan analisis komparatif


pengelolaan sampah domestik Kota Kitakyushu dengan Kota Padang. Sehingga
dapat diketahui bagian-bagian mana saja dari sistem pengelolaan sampah domestik
Kota Padang yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Lalu digunakan analisis
strength, weakness, opportunities dan threats (SWOT) untuk mengusulkan strategi
dan program yang tepat dalam penyusunan skenario-skenario pengembangan
pengelolaan sampah domestik di Kota Padang. Skenario-skenario yang disusun
akan dinilai menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) untuk melihat
besaran dampak yang diakibatkan masing-masing skenario terhadap lingkungan.
Skenario dengan dampak terkecil dipilih sebagai skenario terbaik untuk
meningkatkan pengelolaan sampah domestik Kota Padang.

1.2 Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah menetapkan skenario terbaik untuk memperbaiki
dan meningkatkan pengelolaan sampah domestik Kota Padang.

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Menganalisis dan membandingkan kondisi eksisting pengelolaan sampah
domestik Kota Kitakyushu dan Kota Padang;

I-2
2. Mengevaluasi kondisi eksisting pengelolaan sampah domestik Kota Padang;
3. Menyusun usulan strategi dan program pengelolaan sampah domestik Kota
Padang;
4. Menyusun beberapa skenario untuk memperbaiki dan meningkatkan
pengelolaan sampah domestik Kota Padang;
5. Menilai dan memilih skenario terbaik untuk diterapkan di Kota Padang dengan
menggunakan metode LCA;
6. Memberikan rekomendasi teknis dan non teknis untuk pengelolaan sampah
domestik di Kota Padang.

1.3 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah tersusunnya skenario terbaik pengelolaan sampah
domestik yang dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait di Kota Padang.

1.4 Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian ini ialah sebagai berikut:


1. Analisis dan membandingkan kondisi eksisting pengelolaan sampah domestik
Kota Kitakyushu dan Kota Padang yang meliputi aspek teknis (pewadahan,
pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir) dan aspek non
teknis (peran serta masyarakat, peranan industri dan program minimasi sampah)
dengan menggunakan analisis komparatif;
2. Evaluasi kondisi eksisting aspek teknis dan non teknis pengelolaan sampah
domestik Kota Padang dengan menggunakan analisis SWOT;
3. Menyusun usulan strategi dan program pengelolaan sampah domestik Kota
Padang berdasarkan hasil analisis SWOT;
4. Menyusun skenario-skenario pengelolaan sampah domestik Kota Padang
dengan mengadopsi strategi dan program yang diusulkan;
5. Menilai skenario-skenario aspek teknis pengelolaan sampah domestik Kota
Padang dengan menggunakan metode LCA dan software GaBi berdasarkan
parameter Global Warming Potential, Acidification Potential, Eutrophication
Potential serta aliran energi;
6. Merekomendasikan program teknis dan non teknis pengelolaan sampah
domestik Kota Padang.

I-3
1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan laporan tugas akhir ini ialah:


BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisikan latar belakang, maksud dan tujuan penelitian, manfaat
penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini membahas pengertian sampah, klasifikasi sampah, timbulan,
komposisi dan karakteristik sampah, pengelolaan sampah aspek teknis
dan aspek non teknis, peraturan terkait sampah yang berlaku, teori
analisis komparatif normatif, penelitian terbaru mengenai analisis
komparatif pengelolaan sampah, teori LCA dan software LCA serta
penelitian terbaru tentang pengelolaan sampah yang menggunakan
metode tersebut.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini menjelaskan waktu dan tempat lokasi, serta tahapan penelitian
yang meliputi studi literatur, pengumpulan data, analisis komparatif,
analisis SWOT, penyusunan strategi dan program, penyusunan
skenario-skenario, dan analisis skenario terbaik menggunakan metode
LCA dan bantuan software GaBi.
BAB IV PEMBAHASAN
Berisikan gambaran umum kondisi eksisting pengelolaan sampah
domestik Kota Kitakyushu dan Kota Padang, analisis komparatif
kondisi eksisting pengelolaan sampah domestik kedua kota, analisis
SWOT pengelolaan sampah domestik Kota Padang, usulan strategi dan
turunan program, usulan skenario pengelolaan sampah domestik Kota
Padang, analisis LCA serta rekomendasi.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan tugas akhir dan saran untuk tugas akhir
sejenis selanjutnya.

I-4
II. BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sampah

Sampah merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang
berbentuk padat. Sampah tersebut perlu dikelola untuk meningkatkan kesehatan
masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah tersebut sebagai
sumber daya (Presiden RI, 2008).

Sampah ini terdiri atas bahan organik dan bahan anorganik yang dianggap tidak
berguna serta harus dikelola sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan dan
melindungi investasi pembangunan (Badan Standardisasi Nasional, 2002).

2.2 Klasifikasi Sampah

Sampah terbagi atas dua kelompok berdasarkan jenis kegiatan yang dilakukan
manusia yaitu sampah domestik dan sampah non domestik. Sampah domestik
merupakan sampah yang dihasilkan dari kegiatan rutin sehari-hari manusia di
rumah tangga yang berupa sampah sisa masak, bekas pembungkus dan lainnya.
Sampah non domestik diartikan sebagai sampah yang dihasilkan dari kegiatan non
rumah tangga seperti pasar, toko, hotel dan industri. Kegiatan non rumah tangga
juga menghasilkan sampah domestik seperti yang dihasilkan oleh rumah tangga
(Damanhuri dan Padmi, 2016).

Tingkat kebahayaan sampah dapat dinilai dari pengaruhnya terhadap kesehatan


manusia. Sampah juga dikelompokkan sebagai sampah tidak berbahaya dan
sampah mengandung bahan berbahaya. Sampah tidak berbahaya ini berasal dari
kegiatan penghasil sampah sejenis rumah tangga seperti pasar, rumah tangga,
pertokoan, penyapuan jalan, taman, tempat-tempat umum lainnya dan sebagian
industri. Sampah mengandung bahan berbahaya seperti sisa baterai, oli/ minyak
rem mobil, sisa pemusnah nyamuk, sisa biosida tanaman, dan bahan lainnya yang
dapat menyebabkan penyakit menular jika dibuang bersama dengan sampah biasa
(Damanhuri dan Padmi, 2016).

II-1
Negara industri memiliki klasifikasi tersendiri untuk menjelaskan jenis-jenis
sampah. Pengelompokkan sampah berdasarkan sumbernya di negara industri ialah
sebagai berikut (Tchobanoglous dkk, 1993):
1. Pemukiman
Pemukiman didefinisikan sebagai rumah atau apartemen. Jenis sampah yang
dihasilkan yaitu sisa makanan, kertas, kardus, plastik, tekstil, kulit, sampah
kebun, kayu, kaca, logam, barang bekas rumah tangga, dan beberapa sampah
berbahaya seperti oli bekas dan pestisida untuk tanaman.
2. Daerah Komersial
Daerah komersial meliputi pertokoan, rumah makan, pasar, perkantoran, hotel
dan lainnya. Jenis sampah yang dihasilkan daerah komersial ini hampir sama
dengan yang dihasilkan di pemukiman.
3. Institusi
Institusi yang dimaksud ialah seperti sekolah, rumah sakit, penjara, pusat
pemerintahan dan lainnya. Jenis sampah yang dihasilkan institusi kurang lebih
sama dengan daerah komersial.
4. Puing Bangunan
Puing bangunan ini meliputi pembuatan konstruksi, perbaikan jalan dan lain-
lain. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya berupa kayu, baja, beton, dan
lainnya.
5. Fasilitas Umum
Fasilitas umum seperti penyapuan jalan, taman, pantai, tempat rekreasi dan lain-
lain. Jenis sampah yang dihasilkan diantaranya yaitu sampah kering, sampah
taman, ranting, daun, dan debu.
6. Pengolah Limbah Domestik
Pengolah limbah domestik yang dimaksud ialah instalasi pengolahan air minum,
instalasi pengolahan air buangan, dan insinerator. Jenis sampah yang dihasilkan
diantaranya lumpur hasil pengolahan, debu, dan sebagainya.
7. Kawasan Industri
Jenis sampah yang dihasilkan di kawasan industri ini diantaranya yaitu sisa
proses produksi, buangan non industri, dan lainnya.

II-2
8. Pertanian
Jenis sampah yang dihasilkan di kawasan pertanian misalnya seperti daun-daun,
sisa bagian tanaman yang tidak terpakai dan lainnya.

Sampah secara sederhana dikelompokkan sebagai sampah organik (sampah basah,


berupa residu kegiatan dapur) dan sampah anorganik (sampah kering, berupa botol,
kertas dan plastik). Istilah tersebut tidak boleh dirancukan dengan mengaitkan
maknanya pada unsur pembentuk komponen sampah, karena plastik dan kertas
merupakan bahan organik secara unsur (Damanhuri dan Padmi, 2016).

Sampah domestik berdasarkan penanganannya dapat diklasifikasikan sebagai


berikut (Damanhuri dan Padmi, 2016):
1. Mudah membusuk dan tidak mudah membusuk;
2. Mudah terurai dan tidak mudah terurai;
3. Mudah terbakar dan tidak mudah terbakar;
4. Dapat didaur-ulang dan tidak dapat didaur-ulang;
5. Berbahaya dan tidak berbahaya.

Menurut Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah,


sampah terbagi atas tiga kelompok, yaitu:
1. Sampah Rumah Tangga
Sampah ini berasal dari kegiatan sehari-hari rumah tangga, tidak termasuk tinja
dan sampah spesifik.
2. Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
Sampah jenis ini berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan
khusus fasilitas sosial, fasilitas umum, dan lainnya.
3. Sampah Spesifik
Sampah spesifik merupakan sampah yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun. Sampah tersebut ditimbulkan akibat bencana, puing bongkaran
bangunan, sampah yang secara teknologi belum dapat diolah, dan sampah yang
timbul secara tidak periodik.

II-3
Berdasarkan sumbernya, sampah yang dikelola oleh Pemerintah Kota/Kabupaten
di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi (Damanhuri dan Padmi, 2016):
1. Sampah Kegiatan Rumah Tangga
Sampah ini merupakan hasil dari kegiatan rumah tangga. Sampah yang
dihasilkan berupa sisa makanan, plastik, kertas, karton, kain, kayu, kaca, daun,
logam, dan kadang-kadang sampah berukuran besar seperti dahan pohon.
Beberapa sampah yang juga dihasilkan namun jarang ditemui yaitu seperti
mebel, barang elektronik bekas, kasur, sampah bahan berbahaya dan beracun
(seperti baterai, lampu TL dan sisa obat-obatan).
2. Sampah Kegiatan Komersial
Sampah ini berasal dari pertokoan, pusat perdagangan, pasar, hotel dan
sejenisnya. Sampah yang biasa dihasilkan ialah sampah kertas, plastik, kayu,
kaca, logam dan sisa makanan.
3. Sampah Industri dan Rumah Sakit
Kawasan industri dan rumah sakit juga menghasilkan sampah sejenis sampah
domestik seperti sisa makanan, kertas dan plastik. Jenis sampah yang lebih
diperhatikan dalam pengelolaannya ialah sampah bahan berbahaya dan beracun
yang dihasilkan oleh industri dan rumah sakit.
4. Sampah Penyapuan Jalan dan Taman
Sampah ini bersumber dari jalan kota, taman, tempat parkir, tempat rekreasi,
saluran drainase kota, dan fasilitas umum lainnya. Sampah yang dihasilkan
berupa daun-daun, pasir, sampah umum dari pejalan kaki, pembungkus plastik,
kertas, dan karton. Beberapa juga dimasukkan sampah dari sungai dan saluran
drainase hujan.

2.3 Timbulan, Komposisi dan Karakteristik Sampah

2.3.1 Timbulan Sampah

Timbulan sampah adalah jumlah/banyaknya sampah yang dihasilkan oleh


masyarakat dan harus dikelola oleh suatu kota. Data timbulan sampah ini dapat
diperoleh melalui pengukuran timbulan sampah suatu kota atau dari statistik
persampahan yang disediakan kota tersebut. Data tersebut menjadi penentu

II-4
pengambilan kebijakan dalam perencanaan sistem pengelolaan sampah kota
(Damanhuri dan Padmi, 2016).

Timbulan sampah akan bervariasi pada tiap-tiap kota yang berbeda, negara satu
dengan negara lainnya. Variasi tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor,
diantaranya (Damanhuri dan Padmi, 2016):
1. Jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhannya;
2. Semakin tinggi tingkat hidup masyarakat, semakin besar timbulan sampahnya;
3. Musim buah-buahan akan menghasilkan sampah lebih banyak;
4. Cara hidup dan mobilitas masyarakat;
5. Debu hasil pembakaran alat pemanas meningkat pada musim dingin (di negara
barat);
6. Cara penanganan makanan.

Timbulan sampah juga dapat dipengaruhi oleh musim yang terjadi di suatu negara.
Indonesia sebagai contohnya yang memiliki dua musim berbeda yaitu musim hujan
dan musim kemarau. Timbulan sampah yang dihasilkan pada musim hujan akan
berbeda dengan musim kemarau. Timbulan sampah dapat dinyatakan dalam satuan
berat maupun satuan volume. Satuan berat dapat berupa kg/orang/hari, kg/m2/hari
dan kg/bed/hari. Sedangkan satuan volume dapat berupa L/orang/hari, L/m2/hari
dan L/bed/hari (Damanhuri dan Padmi, 2016).

Apabila data pengamatan lapangan (pengukuran timbulan) belum diperoleh, maka


dapat menggunakan angka timbulan yang diatur pada SNI 04-1993-03, tentang
Standar Spesifikasi Timbuan Sampah untuk Kota Kecil dan Kota Sedang di
Indonesia. Angka timbulan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.1:
Tabel 2.1 Angka Timbulan Sampah Kota
Satuan Timbulan
No Kriteria Kota
L/orang/hari kg/orang/hari
1 Kota Besar 3,0 – 4,5 0,4 – 0,6
2 Kota Sedang/Kecil 1,5 – 3,0 0,2 – 0,4
Sumber: Badan Standardisasi Nasional, 1993

II-5
Besarnya timbulan sampah dapat diklasifikasikan pula berdasarkan sumbernya
yang dapat dilihat pada Tabel 2.2:

Tabel 2.2 Timbulan Sampah Berdasarkan Sumber

No Komponen Sumber Sampah Satuan Volume (liter) Berat (kg)


1 Rumah Permanen orang/hari 2,25 – 2,50 0,350 – 0,400
2 Rumah Semi Permanen orang/hari 2,00 – 2,25 0,300 – 0,350
3 Rumah Non Permanen orang/hari 1,75 – 2,00 0,250 – 0,300
4 Kantor pegawai/hari 0,50 – 0,75 0,025 – 0,100
5 Toko/Ruko petugas/hari 2,50 – 3,00 0,150 – 0,350
6 Sekolah murid/hari 0,10 – 0,15 0,010 – 0,020
7 Jalan Arteri Sekunder m/hari 0,10 – 0,15 0,020 – 0,100
8 Jalan Kolektor Sekunder m/hari 0,10 – 0,15 0,010 – 0,050
9 Jalan Lokal m/hari 0,05 – 0,10 0,005 – 0,025
10 Pasar m2/hari 0,20 – 0,60 0,100 – 0,300
Sumber: Badan Standardisasi Nasional, 1993

2.3.2 Komposisi Sampah

Komposisi merupakan salah satu cara mengelompokkan sampah. Komposisi


biasanya dinyatakan dalam % berat-basah. Indonesia hingga saat ini masih
menggunakan satuan % volume-basah, sehingga untuk membandingkannya dengan
negara lain diperlukan konversi terlebih dahulu (Damanhuri dan Padmi, 2016).

Setiap negara memiliki metode yang berbeda dalam pengelompokkan sampah


berdasarkan komposisi. Indonesia mengelompokkan komposisi sampah menjadi
sembilan jenis berdasarkan SNI 19-3964-1995 yaitu:
1. Sampah makanan;
2. Kayu dan sampah taman;
3. Kertas dan karton;
4. Tekstil dan produk tekstil;
5. Karet dan kulit;
6. Plastik;
7. Logam;
8. Gelas;
9. Bahan inert, abu dan lainnya;
10. Sampah berbahaya.

II-6
Dengan mengetahui komposisi sampah, dapat ditentukan cara pengolahan yang
tepat dan efisien sehingga dapat diterapkan proses pengolahannya. Komposisi dan
sifat-sifat sampah akan menggambarkan keanekaragaman aktivitas yang dilakukan
manusia. Tipikal komposisi sampah yang didasarkan atas tingkat pendapatan dapat
dilihat pada Tabel 2.3:

Tabel 2.3 Tipikal Komposisi Sampah Pemukiman (% berat basah)

Pemukiman Low Pemukiman Midle Pemukiman High


Komposisi
income income income
Kertas 1-10 15-40 15-40
Kaca,
1-10 1-10 4-10
keramik
Logam 1-5 1-5 3-13
Plastik 1-5 2-6 2-10
Kulit, karet 1-5 - -
Kayu 1-5 - -
Tekstil 1-5 2-10 2-10
Sisa makanan 40-85 20-65 20-50
Lain-lain 1-40 1-30 1-20
Sumber: Damanhuri dan Padmi, 2016

Faktor yang mempengaruhi komposisi sampah antara lain (Damanhuri dan Padmi,
2016):
1. Cuaca;
2. Frekuensi pengumpulan;
3. Musim;
4. Tingkat sosial ekonomi;
5. Kemasan produk.

Besaran komposisi sampah ini akan bergantung pada jenis hunian yang digunakan.
Jika hunian merupakan jenis hunian untuk keluarga dengan anggota keluarga yang
banyak, maka komposisi sampah khususnya sampah sisa makanan yang akan
dihasilkan akan lebih besar pula (Damanhuri dan Padmi, 2016).

2.3.3 Karakteristik Sampah

Karakteristik sampah merupakan informasi mengenai ciri fisika dan kimia dari
sampah yang diamati. Karakteristik ini menjadi salah satu pertimbangan dalam

II-7
menentukan pengelolaan yang tepat untuk suatu timbulan sampah (Damanhuri dan
Padmi, 2016).

Karakteristik sampah berdasarkan analisisnya dibagi atas tiga kategori yaitu:

1. Karakteristik Fisika
Komponen-komponen dalam karakteristik fisika yang diukur ialah sebagai
berikut (Damanhuri dan Padmi, 2016):
a. Densitas
Densitas atau kepadatan merupakan rasio antara berat (basah) dan volume
(basah) sampah. Nilai densitas sampah di Indonesia akan tinggi jika sedang
dalam musim hujan.
b. Kadar Air
Kadar air merupakan jumlah/banyaknya kandungan air yang ada pada
sampah. Kadar air dinyatakan dalam presen berat kering atau persen berat
basah. Kadar air ini sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh iklim, cuaca,
curah hujan dan kelembapan. Kadar air dapat dihitung melalui proses
penimbangan.
c. Kadar Volatil
Kadar volatil adalah jumlah materi yang menguap dari sampah yang diamati.
Materi yang mudah menguap contonya hidrokarbon, hidrogen, karbon
monoksida, karbon dioksida dan gas lainnya. Semakin tinggi kadar volatil
maka semakin besar kemungkinan materi menguap (hilang) saat proses
pemanasan.
d. Kadar Abu
Kadar abu merupakan jumlah materi yang tidak menguap saat pemanasan
sampah. Abu ini dapat megurangi kapasitas pembakaran, terjadinya
penyumbatan, dan mempengaruhi efisiensi kinerja pembakaran. Kadar abu
dinyatakan dalam persen rasio berat sampah yang tersisa.
e. Karbon Tetap (Fixed Carbon)
Karbon tetap merupakan jumlah kehilangan berat pada pemanasan mencapai
950OC.

II-8
f. Nilai Kalor
Nilai kalor merupakan besaran untuk menggambarkan kalor yang dikandung
dari sebuah bahan. Semakin tinggi nilai kalor, maka bahan tersebut semakin
mudah terbakar. Nilai kalor ini dibutuhkan dalam penentuan pengolahan
insinerator terbaik.
g. Ukuran Partikel
Pengamatan secara fisik terhadap ukuran dan distribusi partikel dianggap
merupakan hal yang penting, terutama dalam usaha pemisahan (separate)
menggunakan alat baik manual maupun mekanis.
2. Karakteristik Kimia
Biasanya, dalam karakteristik kimia ini akan diukur komponen-komponen
berikut (Damanhuri dan Padmi, 2016):
a. Karbon Organik
Penetapan nilai karbon ini dilakukan dalam kondisi asam. Nilai C
dibutuhkan dalam penentuan rasio C/N dalam pengomposan.
b. Nitrogen Organik
Nitrogen organik (N-Organik) akan diubah terlebih dahulu menjadi N-
amoniak melalui mineralisasi. Sehingga akhirnya akan diperoleh nilai N.
Nilai N ini sangat dibutuhkan untuk perhitungan rasio nilai C/N.
3. Karakteristik Kimia Unsur Penyusun
Kimia unsur penyusun yang dianalisis dalam pengarakteristikan meliputi C, H,
O, N, S dan P. Dari nilai karakteristik ini, dapat disusun rumus kimia sampah
yang akan digunakan untuk menghitung reaksi kimia sampah hingga penentuan
kebutuhan oksigen (Damanhuri dan Padmi, 2016).

2.4 Pengelolaan Sampah Kota

Pengelolaan sampah terpadu (Integrated Solid Waste Management) merupakan


upaya yang dilakukan meliputi segala aktivitas untuk mengelola sampah yang
dihasilkan masyarakat. Tujuan dasar dari pengelolaan sampah terpadu fokus pada
kesehatan publik dan lingkungan serta meningkatkan keinginan masyarakat dalam
mendaur-guna dan mendaur-ulang material sampah (Tchobanoglous dkk, 1993).

II-9
Pengelolaan sampah merupakan kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.
Pengelolaan sampah dilakukan berdasarkan asas tanggung jawab, asas
berkelanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas kesadaran, asas kebersamaan, asas
keselamatan, asas keamanan dan asas nilai ekonomi. Tujuan dari pengelolaan
sampah ini yaitu untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas
lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya (Presiden RI, 2008).

Banyak faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan sampah kota diantaranya


yaitu (Badan Standardisasi Nasional, 2002):
1. Kepadatan dan penyebaran penduduk;
2. Karakteristik fisik lingkungan dan sosial ekonomi;
3. Timbulan dan karakteristik sampah;
4. Budaya sikap dan perilaku masyarakat;
5. Jarak dari sumber sampah ke tempat pemrosesan akhir sampah;
6. Rencana tata ruang dan pengembangan kota;
7. Sarana pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir
sampah;
8. Biaya yang tersedia;
9. Peraturan daerah setempat.

Keberhasilan dalam upaya pengelolaan sampah tidak hanya bergantung terhadap


aspek teknis, namun juga aspek non teknis. Aspek teknis pengelolaan sampah
meliputi pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, pengolahan dan
pemrosesan akhir. Sedangkan aspek non teknis meliputi peraturan/hukum,
kelembagaan/organisasi, pembiayaan dan peran serta masyarakat (Damanhuri dan
Padmi 2010).

2.4.1 Aspek Teknis

Aspek teknis merupakan aspek yang mengatur pengelolaan sampah secara teknis
mulai dari sumber sampah hingga ke pemrosesan akhir sampah. Teknis pengaturan
pengelolaan sampah yang diadopsi oleh Indonesia ialah sebagai berikut:

II-10
1. Pewadahan

Pewadahan berasal dari kata wadah yang diartikan sebagai tempat untuk
menyimpan sampah sementara di sumber sampah. Pewadahan berarti suatu
kegiatan menampung sampah sementara dalam suatu wadah individual atau
komunal di tempat sumber sampah dengan mempertimbangkan jenis-jenis sampah
sebelum sampah dikumpulkan, dipindahkan, diangkut, diolah dan dilakukan
pemrosesan akhir sampah di TPA.

Pewadahan memiliki tujuan utama yaitu menghindari terjadinya sampah yang


berserakan sehingga berdampak buruk kepada kesehatan, kebersihan lingkungan
dan estetika. Selain itu, pewadahan juga bertujuan untuk memudahkan dalam
proses pengumpulan sampah dan tidak membahayakan petugas pengumpul sampah
(Menteri Pekerjaan Umum, 2013).

Persyaratan jenis-jenis sampah (pemilahan) terbagi atas paling sedikit lima jenis
sampah yaitu (Menteri Pekerjaan Umum, 2013):
1. Sampah bahan berbahaya dan beracun (B3);
2. Sampah mudah terurai;
3. Sampah dapat digunakan kembali;
4. Sampah dapat didaur ulang;
5. Sampah lainnya (residu).

1 2 3 4 5

Gambar 2.1 Lima Jenis Pewadahan: (1) sampah B3; (2) sampah mudah terurai;
(3) sampah dapat digunakan kembali; (4) sampah dapat didaur ulang;
(5) sampah lainnya
Sumber: Menteri Pekerjaan Umum, 2013

II-11
Pewadahan terbagi atas dua pola, yaitu (Menteri Pekerjaan Umum, 2013):
1. Pola pewadahan individual
Pewadahan individual diperuntukkan untuk daerah pemukiman tinggi dan
daerah komersial. Bentuk maupun jenisnya dapat beragam. Dapat berupa plastik,
logam, kayu, bambu, maupun rotan, sesuai dengan kemampuan pengadaan
pemiliknya.
2. Pola pewadahan komunal
Pewadahan komunal diperuntukkan bagi daerah pemukiman sedang/kumuh,
taman kota dan jalan pasar. Bentuknya sama seperti pewadahan individual hanya
saja pengadaan dan pengelolaannya dilakukan oleh instansi tertentu, namun
wadah dapat digunakan secara umum.

Sarana pewadahan yang digunakan harus mempertimbangkan volume sampah,


jenis sampah, penempatan, jadwal pengumpulan sampah dan juga jenis sarana
pengumpulan dan pengangkutan yang akan digunakan. Sarana pewadahan tersebut
harus memenuhi kriteria berikut ini (Menteri Pekerjaan Umum, 2013):
1. Kedap air;
2. Mudah dibersihkan;
3. Harga terjangkau;
4. Ringan dan mudah diangkut;
5. Bentuk dan warna estetis;
6. Memiliki tutup supaya higienis;
7. Mudah diperoleh;
8. Volume pewadahan untuk sampah yang dapat digunakan ulang, untuk sampah
yang dapat didaur ulang, dan untuk sampah lainnya minimal 3 hari serta 1 hari
untuk sampah yang mudah terurai.

Kriteria jenis wadah, kapasitas, kemampuan pelayanan, dan umur wadah menurut
SNI 19-2454-2002 dapat dilihat pada Tabel 2.4:

II-12
Tabel 2.4 Kriteria Umum Wadah Sampah

Jenis Kontainer Kapasitas (L) Pelayanan Umur Kontainer Keterangan


Kantong 10 – 40 1 KK 2 – 3 hari
Bin 40 1 KK 2 – 3 tahun
Bin 120 2 – 3 KK 2 – 3 tahun
Bin 240 4 – 6 KK 2 – 3 tahun
Kontainer 1.000 80 KK 2 – 3 tahun Komunal
Kontainer 500 40 KK 2 – 3 tahun Komunal
Bin 30 – 40 Pejalan kaki, taman 2 – 3 tahun
Sumber: Badan Standardisasi Nasional, 2002

2. Pengumpulan

Pengumpulan sampah adalah kegiatan mengambil dan memindahkan sampah dari


sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah
dengan prinsip 3R. Kegiatan pengumpulan ini dilakukan oleh pengelola kawasan
pemukiman, kawasan komersil, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum,
fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya serta pemerintah kota/kabupaten. Sampah yang
dikumpulkan tidak boleh dicampur kembali setelah dilakukannya pemilahan dan
pewadahan.

Pengumpulan sampah yang dilakukan didasarkan atas dua persiapan, yaitu (Menteri
Pekerjaan Umum, 2013):
1. Pengaturan jadwal pengumpulan sesuai dengan jenis sampah terpilah dan
sumber sampah;
2. Penyediaan sarana pengumpul sampah terpilah.

Teknis pengumpulan sampah dari sumber sampah dapat dilakukan dengan dua
metode utama yaitu (Menteri Pekerjaan Umum, 2013):
1. Pengumpulan sampah dengan menggunakan gerobak atau motor dengan bak
terbuka atau mobil bak terbuka bersekat dikerjakan sebagai berikut:
a. Pengumpulan sampah dari sumbernya minimal 2 (dua) hari sekali;
b. Masing-masing jenis sampah dimasukkan ke masing-masing bak di dalam
alat pengumpul atau atur jadwal pengumpulan sesuai dengan jenis sampah
terpilah;
c. Sampah dipindahkan sesuai dengan jenisnya ke TPS atau TPS 3R.
2. Pengumpulan sampah dengan gerobak atau motor dengan bak terbuka atau
mobil bak terbuka tanpa sekat dikerjakan sebagai berikut:

II-13
a. Pengumpulan sampah yang mudah terurai dari sumbernya minimal 2 (dua)
hari sekali lalu diangkut ke TPS atau TPS 3R;
b. Pengumpulan sampah yang mengandung bahan B3 dan limbah B3, sampah
guna ulang, sampah daur ulang, dan sampah lainnya sesuai dengan jadwal
yang telah ditetapkan dan dapat dilakukan lebih dari 3 hari sekali oleh petugas
RT atau RW atau oleh pihak swasta.

Sampah akan dikumpulkan dengan lima pola pengumpulan yaitu (Menteri


Pekerjaan Umum, 2013):
1. Pola individual tidak langsung (dari rumah ke rumah)
2. Pola individual langsung (menggunakan truk untuk jalan dan fasilitas umum),
3. Pola komunal langsung (untuk pasar dan daerah komersil),
4. Pola komunal tidak langsung (untuk pemukiman padat)
5. Pola penyapuan jalan. Alat pengumpulan yang digunakan dapat berupa gerobak
motor dan truk. Jenis sarana pengumpulan yang diatur terdiri atas TPS, TPS3R
dan/atau alat pengumpul untuk sampah terpilah.

Skema pola pengumpulan sampah dapat dilihat pada Gambar 2.2:

Gambar 2.2 Pola Pengumpulan Sampah


Sumber: Menteri Pekerjaan Umum, 2013

II-14
Sarana maupun prasarana yang digunakan harus sesuai dengan kriteria yang
diberikan Menteri Pekerjaan Umum (2013). Jenis dan volume sarana pengumpulan
sampah ini harus disesuaikan dengan kondisi daerah setempat, jadwal pengumpulan
juga harus dilaksanakan seperti yang telah ditetapkan, serta semua teknis
pengerjaan harus memenuhi ketentuan dan pedoman yang berlaku. Sarana
pengumpulan sampah ini dapat berupa TPS, TPS 3R maupun alat pengumpul untuk
memilah sampah.

3. Pemindahan dan Pengangkutan

Pemindahan dan pengangkutan sampah merupakan kegiatan operasi yang dimulai


dari titik pengumpulan terakhir dari suatu siklus pengumpulan sampai ke TPA atau
TPST pada pengumpulan dengan pola individual langsung atau dari tempat
pemindahan/penampungan sementara (TPS, TPS 3R, SPA) atau tempat
penampungan komunal sampai ke tempat pengolahan/pemrosesan akhir
(TPA/TPST).

Pemindahan dan pengangkutan ini merupakan tanggung jawab dari pemerintah kota
atau kabupaten, sedangkan pelaksana boleh jadi pengelola kebersihan dalam suatu
kawasan atau wilayah, badan usaha maupun kemitraan. Pelaksana akan bergantung
pada struktur organisasi yang ada di wilayah bersangkutan (Menteri Pekerjaan
Umum, 2013).

Sampah terpilah pada saat pemindahan dan pengangkutan tidak diperkenankan


dicampur kembali. Pemindahan dan pengangkutan sampah terpilah dapat dilakukan
melalui (Menteri Pekerjaan Umum, 2013):
1. Pengaturan jadwal sesuai dengan jenis sampah terpilah dan sumber sampah;
2. Penyediaan sarana sampah terpilah.

Faktor yang menjadi pertimbangan dalam pengangkutan sampah yaitu (Menteri


Pekerjaan Umum, 2013):
1. Pola pengangkutan;
2. Jenis peralatan atau sarana pengangkutan;
3. Rute pengangkutan;
4. Operasional pengangkutan;
5. Aspek Pembiayaan.

II-15
Alat pengangkut yang diatur untuk digunakan meliputi dump truck, arm roll truck,
compactor truck dan trailer truck. Pola pengangkutan sampah terbagi atas dua
sistem yaitu sistem kontainer angkat (Hauled Container System/ HCS) dan sistem
kontainer tetap (Stationary Container System/ SCS) yang dapat dilihat pada
Gambar 2.3 (Menteri Pekerjaan Umum, 2013).

a) Dump Truck b) Armroll Truck

c) Compactor Truck d) Trailer Truck

Gambar 2.3 Alat Pengangkutan Sampah


Sumber: Menteri Pekerjaan Umum, 2013

a. Sistem Kontainer Angkat (Hauled Container System = HCS)


Pengumpulan sampah dengan sistem kontainer angkat, pola pengangkutan yang
digunakan dengan sistem pengosongan kontainer dapat dilihat pada Gambar 2.4

II-16
Gambar 2.4 Pola Kontainer Angkat
Sumber: Menteri Pekerjaan Umum, 2013

b. Sistem Pengangkutan dengan Kontainer Tetap (Stationary Container System =


SCS)
Sistem ini digunakan untuk kontainer kecil serta alat angkut berupa truk
kompaktor secara mekanis atau manual seperti pada Gambar 2.5:

Gambar 2.5 Pengangkutan dengan SCS Mekanis


Sumber: Menteri Pekerjaan Umum, 2013

II-17
Gambar 2.6 Pengangkutan dengan SCS Manual
Sumber: Menteri Pekerjaan Umum, 2013

4. Pengolahan

Pengolahan sampah adalah kegiatan mengubah karakteristik, komposisi, dan atau


jumlah sampah. Proses pengolahan sampah ini dilakukan di fasilitas pengolahan
sampah seperti TPS3R, SPA ataupun TPST dan dapat pula memanfaatkan Bank
Sampah dengan melibatkan masyarakat. Berikut ialah pemaparan dari masing-
masing fasilitas pengolahan sampah yang diatur di Indonesia:

a. TPS3R
TPS3R merupakan tempat pengolahan sampah dengan prinsip reduce, reuse,
dan recycle. Kegiatan yang dilakukan meliputi penampungan sampah,
pemilahan sampah, pengolahan sampah organik dan pendaurulangan sampah
non organik, pengolahan sampah spesifik rumah tangga dan bahan berbahaya
dan beracun (B3) sesuai dengan ketentuan yang berlaku, serta pengumpulan
sampah residu pengolahan ke kontainer yang akan diangkut ke TPA. Kegiatan
TPS3R ini mencakup skala kawasan (Menteri Pekerjaan Umum, 2013).
Pemisahan sampah yang dapat dilakukan di TPS3R ini yaitu sampah B3 rumah
tangga, sampah kertas, plastik, logam/kaca dan sampah organik. Sampah kertas,
plastik, logam/kaca akan digunakan sebagai bahan daur ulang sedangkan
sampah organik akan digunakan sebagai bahan baku kompos (Menteri Pekerjaan
Umum, 2013).
Sampah yang didaur ulang akan dimanfaatkan untuk barang-barang kerajinan
dan sebagian lain dipasarkan melalui kerja sama dengan pihak penampung atau

II-18
industri pemakai. Sampah yang dikompos merupakan sampah organik yang
terdiri atas sampah dapur dan dedaunan. Metode pengomposan yang dilakukan
dapat berupa open windrow maupun caspary. Produk kompos tersebut harus
memenuhi parameter kompos yang baik dianalisis melalui warna, rasio C/N,
kadar NPK dan logam berat. Produk kompos dapat dipasarkan melalui kerja
sama dengan pihak koperasi dan dinas terkait seperti dinas pertamanan dan dinas
pertanian (Menteri Pekerjaan Umum, 2013).
b. SPA
SPA merupakan stasiun peralihan yang menjadi sarana pemindahan sampah dari
alat angkut kecil ke alat angkut yang lebih besar yang dapat dilengkapi dengan
fasilitas pengolahan. Sampah yang ditangani di SPA ini ialah sampah sejenis
sampah rumah tangga yang diperbolehkan dalam kondisi bercampur maupun
residu pengolahan. Pengolahan yang dilakukan yaitu pemilahan dan pemadatan.
Sampah pada SPA ditentukan tidak boleh didiamkan di SPA selama lebih dari
24 jam (Menteri Pekerjaan Umum, 2013).
c. Bank Sampah
Bank Sampah merupakan tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang
dapat didaur ulang dan diguna ulang yang memiliki nilai ekonomis. Bank
sampah ini menuntut peran serta masyarakat dalam menyetor sampah yang
bernilai ekonomis. Sistem yang dianut pada bank sampah ialah sistem tabungan.
Masyarakat yang menyetor sampahnya ke bank sampah akan disubstitusi dengan
uang dalam bentuk tabungan. Tabungan tersebut dapat diambil paling cepat tiga
bulan setelah mendaftar dan terus menabung (Menteri Negara Lingkungan
Hidup, 2012).
Tabungan dapat berupa tabungan biasa, tabungan pendidikan, tabungan lebaran
dan tabungan sosial. Tabungan kolektif dapat dibuat jika masyarakat terdaftar
secara berkelompok seperti kegiatan arisan, pengajian, dan pengurus masjid.
Adapun jenis sampah yang dapat ditabung meliputi sampah kertas, sampah
plastik dan logam serta sampah lainnya yang masih memiliki nilai ekonomi
(Menteri Negara Lingkungan Hidup, 2012).

II-19
d. TPST
TPST dapat pula disebut sebagai material recovery facility (MRF) merupakan
tempat berlangsungnya kegiatan pemisahan dan pengolahan sampah secara
terpusat. Kegiatan-kegiatan utama yang dilakukan pada TPST ini ialah
pengolahan lebih lanjut sampah yang telah dipilah di sumbernya, pemisahan dan
pengolahan langsung komponen sampah kota, dan peningkatan mutu produk
recovery/recycling (Menteri Pekerjaan Umum, 2013).
Proses pengolahan sampah yang diatur dalam lampiran ini meliputi proses
pengolahan sampah secara fisik, secara biologi dan secara kimia termal (Menteri
Pekerjaan Umum, 2013):
1. Pengolahan sampah secara fisik
Proses pengolahan sampah secara fisik, biasanya digunakan sebagai proses
pendahuluan dari sebuah rangkaian proses pengolahan sampah. Proses fisik
yang dapat dilakukan di antaranya:
a. Proses pencacahan
Proses ini ditujukan untuk memperkecil ukuran partikel sampah dan
memperluas bidang permukaan sentuh sampah. Proses pencacahan dapat
mereduksi volume hingga mencapai 3 kali lipat atau densitas sampah
meningkat 3 kali lipat melalui proses ini. Kebutuhan energi untuk proses
ini mencapai 3 MJ/ton sampah. Proses ini dapat dikatakan menjadi proses
wajib sebelum sampah diolah lebih lanjut dengan proses kimia termal atau
biologi, karena reduksi ukuran partikel akan selalu meningkatkan kinerja
proses lanjut yang akan dipilih. Gambar 2.7 menunjukkan proses
pencacahan sampah secara mekanik.

Gambar 2.7 Proses pencacahan sampah organik secara mekanis


Sumber: Nugroho, 2018

II-20
b. Proses pemilahan berdasarkan nilai massa jenis/densitas
Merupakan proses yang bertujuan untuk memilah berbagai jenis sampah
berdasarkan densitasnya, yang umumnya dilakukan untuk sampah plastik.
Proses ini dapat dilakukan melalui proses peniupan (dengan menggunakan
semburan udara pada laju alir tertentu) atau menggunakan proses sentrifugasi
(dengan mengalirkan sampah plastik pada aliran berbentuk heliks, sehingga
sampah plastik dengan densitas tertentu dapat terpisahkan). Gambar 2.8
menunjukkan proses pemilahan sampah berdasarkan nilai massa
jenis/densitas.

Udara Keluar
Fraksi
Sampah Masuk Ringan
Cyclone Pemisah

Aliran Udara

Pemutar Udara
Fraksi Ringan
Fraksi Berat

Gambar 2.8 Proses pemilahan sampah berdasarkan densitas sampah


Sumber: Richard, 2015

c. Proses pemilahan berdasarkan nilai magnetik


Umumnya dilakukan untuk pemilahan sampah logam, dengan mengikat
logam pada magnet berukuran besar, yang dapat berupa magnet
permanen atau magnet tidak permanen (elektromagnetik). Sampah
logam yang bersifat feromagnetik dan non feromagnetik dapat
dipisahkan pada proses ini. Gambar 2.9 menunjukkan proses
pemilahan sampah berdasarkan nilai magnetik.

II-21
Laminator Saluran Blade
Sampah Aliran Pemisahan Pemisah
Masuk

Magnet

Gambar 2.9 Proses pemilahan sampah berdasarkan nilai magnetik


Sumber: Ouden, 2015

d. Proses pemilahan berdasarkan nilai absorbansi/transmitansi


Merupakan proses yang bertujuan untuk memilah sampah gelas,
berdasarkan perbedaan nilai transmitansi gelombang cahaya yang
diarahkan. Sebuah hamparan cahaya dengan panjang gelombang
tertentu diemisikan kepada sampah gelas yang akan dipilah. Gelombang
cahaya tersebut akan direfleksikan kembali oleh sampah gelas dan
ditangkap oleh sebuah sensor. Sensor akan menentukan tingkat refleksi
gelombang yang dihasilkan dan diterjemahkan oleh suatu program
komputasi untuk penentuan jenis sampah gelas, yang akan dilanjutkan
dengan proses pemilahan sesuai dengan yang diprogramkan. Gambar
2.10 menunjukkan proses pemilahan sampah berdasarkan nilai
absorbansinya.

Sumber Cahaya
Sumber Cahaya

Sensor

Aliran Sampah

Material Material
Tersisihkan Lulus Sensor

Gambar 2.10 Proses pemilahan sampah berdasarkan nilai absorbansi


Sumber: EMS, 2013

II-22
2. Proses pengolahan sampah secara biologi
Proses ini banyak dipilih karena dianggap lebih berwawasan lingkungan dan
menimbulkan dampak lingkungan yang relatif lebih kecil. Merupakan suatu
proses yang memanfaatkan mikroorganisme/bioproses, maka proses ini
bercirikan kepada sistem kontrol yang lebih rumit dan waktu detensi yang
panjang. Proses pengolahan secara biologi terdiri dari:
a. Proses anaerobik
Merupakan proses oksidasi parsial untuk mereduksi volume dan daya
cemar sampah dengan bantuan mikroorganisme anaerobik dalam
kondisi ketiadaan oksigen (udara). Proses oksidasi parsial ini akan
mengunci nilai kalor pada senyawa produk dari proses tersebut, di
antaranya gas hidrogen (H2), gas metana (CH4), etanol (C2H5OH),
isopropanol (C3H7OH), dan butanol (C4H9OH). Saat ini, aplikasi untuk
proses anaerobik lebih banyak ditujukan untuk menghasilkan gas
metana, karena ketersediaan mikroorganisme penghasil gas metana,
Methanogens, yang lebih berlimpah di alam, dapat bersimbiosis dengan
mikroorganisme lain (tidak membutuhkan kultur murni), dan relatif
tahan terhadap perubahan kondisi reaktor. Gambar 2.11 menunjukkan
proses anaerobik pengolahan sampah.

Fermentasi anaerobik oleh Biogas dengan


Air mikroorganisme kandungan metan
mengasilkan biogas yang tinggi
digunakan untuk
Sampah makanan memproduksi listrik
dari sumber Fermentasi
Anaerobik Pengolahan Listrik
Pemadat
sampah Biogas Dihasilkan

Material
Biodegradable

Sampah makanan
Bakal Listrik

Gambar 2.11 Proses anaerobik pengolahan sampah


Sumber: En, 2015

II-23
b. Proses aerobik
Merupakan proses oksidasi parsial untuk mereduksi volume dan daya
cemar sampah dengan bantuan mikroorganisme aerobik dalam kondisi
keberadaan oksigen (udara). Proses oksidasi parsial ini memiliki nilai
oksidasi yang lebih tinggi ketimbang proses anaerobik, meskipun masih
akan dihasilkan kompos padat dan kompos cair (tanpa produksi gas bio).
Gambar 2.12 menunjukkan proses aerobik pengolahan sampah.

Panas Gas CO2


Uap Air

Sampah Makanan
Kompos

Proses Pengomposan

Pengadukan Kompos
Kompos

Digunakan untuk keperluan


taman dan pertanian
Oksigen
Mikroorganisme Aerobik

Gambar 2.12 Proses aerobik pengolahan sampah


Sumber: Baguio, 2018

3. Pengolahan sampah secara kimia termal


Proses pengolahan ini bertujuan untuk mereduksi volume sampah dan daya
cemar sampah, dengan tingkat oksidasi yang lebih tinggi ketimbang proses
fisika dan proses biologi. Umumnya dilakukan dengan eskalasi temperatur,
sehingga kandungan air pada sampah akan berkurang (menguap) dan
akhirnya mengalami proses pembakaran. Berdasarkan tingkat oksidasinya,
pengolahan secara termal terdiri dari:
a. Proses pengeringan
Proses ini ditujukan untuk mereduksi volume dan daya cemar sampah
melalui penguapan air yang terkandung dalam sampah. Umumnya
diawali dengan proses pencacahan untuk meningkatkan kinerja
penguapan, dengan temperatur kerja 105-120OC dan waktu tinggal 1-2

II-24
jam. Proses ini akan menghasilkan sampah dengan volume yang
tereduksi (hingga mencapai 20% volume sebagai residu padat akhir).
Sampah yang telah mengalami reduksi volume tersebut, juga akan
mengalami reduksi kadar air dan peningkatan nilai kalor sampah, serta
dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif berbentuk padat.
Seringkali residu tersebut dibuat menjadi briket (Refuse Derived
Fuel/RDF) untuk penyeragaman bentuk dan ukuran. Gambar 2.13
menunjukkan proses pengeringan pada pengolahan sampah secara
termal.
b. Proses pirolisis
Proses ini ditujukan untuk mereduksi volume (hingga mencapai 30%
volume sebagai residu padat akhir) dan daya cemar sampah melalui
penguapan air dan senyawa volatil yang terkandung dalam sampah,
tanpa kehadiran oksigen sebagai oksidator. Umumnya diawali dengan
proses pencacahan untuk meningkatkan kinerja penguapan air dan
senyawa volatil, dengan temperatur kerja 200-550OC dan waktu tinggal
0,5-2 jam. Proses ini akan menghasilkan senyawa yang memiliki nilai
kalor dalam wujud padat/char, wujud cair/tar, dan wujud gas/syngas
(karbon dioksida, karbon monoksida, hidrogen, dan hidrokarbon ringan)
pada proses oksidasi parsial. Gambar 2.13 menunjukkan proses
pirolisis pada pengolahan sampah secara termal.
c. Proses gasifikasi
Proses ini ditujukan untuk mereduksi volume (hingga mencapai 20%
volume sebagai residu padat akhir) dan daya cemar sampah melalui
penguapan air dan senyawa volatil yang terkandung dalam sampah,
dengan kehadiran oksigen terbatas (substoikiometrik) sebagai oksidator.
Umumnya diawali dengan proses pencacahan untuk meningkatkan
kinerja penguapan air dan senyawa volatil, dengan temperatur kerja 700
- 1.000OC dan waktu tinggal 0,5-1 jam. Proses oksidasi parsial (namun
memiliki tingkat oksidasi lebih tinggi ketimbang proses pirolisis) akan
menghasilkan senyawa berwujud gas yang memiliki nilai kalor/syngas

II-25
(karbon dioksida, karbon monoksida dan hidrogen). Gambar 2.13
menunjukkan proses gasifikasi pada pengolahan sampah secara termal.

H2 O Arang dan Tar H2O dan CO2

Biomassa Biomassa Gas dan Arang

Panas Panas tanpa O2 O2 (Udara)

(a) Proses (b) Proses (c) Proses


Pengeringan Pirolisis Gasifikasi

Gambar 2.13 Proses pengolahan sampah secara termal: (a) proses


pengeringan; (b) proses pirolisis; (c) proses gasifikasi
Sumber: Chompipat, 2016

d. Proses insinerasi
Proses ini ditujukan untuk mereduksi volume (hingga mencapai 10%
volume sebagai residu padat akhir) dan daya cemar sampah melalui
penguapan air dan senyawa volatil yang terkandung dalam sampah,
dengan kehadiran oksigen berlebih (superstoikiometrik) sebagai
oksidator. Umumnya diawali dengan proses pencacahan untuk
meningkatkan kinerja penguapan air dan senyawa volatil, dengan
temperatur kerja 700 - 1.200OC dan waktu tinggal 0,5-1 jam. Proses
oksidasi yang relatif sempurna akan dihasilkan gas yang tidak memiliki
nilai kalor, berupa gas karbon dioksida, belerang di/ trioksida, nitrogen
mono/ dioksida, serta abu yang relatif bersifat stabil/ inert. Gambar
2.14 menunjukkan proses insinerasi pada pengolahan sampah secara
termal.

II-26
Boiler Pengendalian
Sistem Pencemaran
Injeksi Udara
Hopper

Ruang Simpan Sampah

Ke cerobong
Kolam
Sampah
Pengumpulan
Abu

Udara Clinker
Combustion Recovery
Pompa
Piston

Gambar 2.14 Proses insinerasi pada pengolahan sampah secara termal


Sumber: Suez, 2018

e. Proses plasma gasifikasi


Proses ini ditujukan untuk mereduksi volume (hingga mencapai 5%
volume sebagai residu padat akhir) sampah melalui penguapan air dan
senyawa volatil yang terkandung dalam sampah, dengan kehadiran
oksigen terbatas (substoikiometrik) sebagai oksidator, serta
disempurnakan dengan tekanan udara tinggi (dimampatkan) dan
tegangan listik/voltase tinggi. Proses ini akan menghasilkan plasma
yang berwarna kebiruunguan. Umumnya diawali dengan proses
pencacahan untuk meningkatkan kinerja penguapan air dan senyawa
volatil, dengan temperatur kerja 2.000 - 14.000OC dan waktu tinggal
0,5-1 jam. Proses oksidasi parsial (namun memiliki tingkat oksidasi
lebih tinggi ketimbang proses pirolisis, gasifikasi, dan insinerasi) akan
menghasilkan senyawa berwujud gas yang memiliki nilai kalor/syngas
(karbon dioksida, karbon monoksida, dan hidrogen) dengan kemurnian
sangat tinggi dan abu yang sangat stabil. Gambar 2.15 menunjukkan
proses plasma gasifikasi pada pengolahan sampah secara termal.

II-27
Syngas
Keluar

Sampah
masuk
Udara (O2) Udara (O2)

Sumber Plasma Sumber Plasma

pengumpulan logam
dan bijih besi

Gambar 2.15 Proses plasma gasifikasi pada pengolahan sampah secara termal
Sumber: 360Recycling, 2015

5. Pemrosesan akhir

Residu pengolahan maupun sampah yang tidak bisa lagi diolah akan diangkut ke
tempat pemrosesan akhir sampah (TPA). Pemrosesan akhir sampah ini disediakan
dan dioperasikan oleh pemerintah kota atau kabupaten setempat. Lokasi TPA
dipilih dengan pertimbangan tertentu, di antaranya yaitu (PP No. 81 tahun 2012):
1. Geologi;
2. Hidrogeologi;
3. Kemiringan zona;
4. Jarak dari lapangan terbang;
5. Jarak dari permukiman;
6. Tidak berada di kawasan lindung atau cagar alam;
7. Bukan merupakan daerah banjir periode ulang 24 (dua puluh lima) tahun

Pemrosesan akhir sampah ini memiliki tiga jenis metode utama yaitu (Presiden RI,
2012):
1. Metode lahan urug terkendali
Metode lahan urug terkendali (controlled landfill) merupakan metode
pengurugan di areal pengurugan sampah, dengan cara dipadatkan dan ditutup
dengan tanah penutup sekurang-kurangnya setiap tujuh hari. Metode ini

II-28
merupakan metode yang bersifat antara, sebelum mampu menerapkan metode
lahan urug saniter (sanitary landfill).
2. Metode lahan urug saniter
Metode lahan urug saniter (sanitary landfill) merupakan metode yang
menerapkan saranan pengurugan sampah ke lingkungan yang disiapkan dan
dioperasikan secara sistematis, dengan penyebaran dan pemadatan sampah pada
area pengurugan serta penutupan sampah setiap hari. Ilustrasi dari lahan urug
saniter dapat dilihat pada Gambar 2.16.

Truk Pengumpul Sampah

Bulldozer
Lapisan Penutup Akhir

Tanah Dasar
Area Operasi
Sampah terkompaksi
Lapisan Penutup Harian

Gambar 2.16 Ilustrasi Lahan Urug Saniter (Sanitary Landfill)


Sumber: Nizar, 2011

3. Teknologi ramah lingkungan

TPA dilengkapi dengan fasilitas dasar, fasilitas penunjang, fasilitas operasi dan
fasilitas perlindungan lingkungan. Adapun fasilitas-fasilitas tersebut terdiri atas
(Presiden RI, 2012):
1. Fasilitas dasar
Fasilitas dasar yang dimaksud dapat berupa jalan masuk, listrik atau genset,
drainase, air bersih, pagar dan kantor.
2. Fasilitas penunjang
Fasilitas penunjang misalnya bengkel, garasi, tempat pencucian alat angkut dan
alat berat, alat pertolongan pertama pada kecelakaan, jembatan timbang,
laboratorium dan tempat parkir.

II-29
3. Fasilitas perlindungan lingkungan
Fasilitas perlindungan lingkungan ini terdiri atas lapisan kedap air, saluran
pengumpul dan instalasi pengolahan lindi, wilayah penyangga, sumur uji atau
pantau, dan penanganan gas.
4. Fasilitas operasi
Fasilitas operasi ini seperti alat berat serta truk pengangkut sampah dan tanah.

TPA ini wajib memiliki 4 (empat) aktivitas utama yaitu pemilahan sampah, daur
ulang sampah non hayati, pengomposan sampah hayati dan pengurugan sampah.
Selain itu, TPA juga dilengkapi dengan instalasi pengendalian lindi dan gas yang
dihasilkan dari hasil pengurugan sampah (Menteri Pekerjaan Umum, 2013).

5.1 Pengolahan Landfill Gas

LFG atau Landfill Gas merupakan gas yang dihasilkan dari dekomposisi sampah
organik di lahan urug. LFG terdiri atas 50% metan dan 50% karbon dioksida serta
beberapa senyawa organik yang bukan metan. Gas metan ini memiliki potensi
pemanasan global 28 - 36 kali lebih besar dibandingkan dengan karbon dioksida
(EPA, 2018).

Landfill sampah kota merupakan penyumbang emisi gas metan ketiga terbesar di
Amerika Serikat. Hal tersebut menunjukkan bahwa hilangnya kesempatan untuk
mengumpulkan metan dan menggunakannya sebagai sumber energi. Metan
diproduksi besar-besaran secara anaerobik ketika sampah telah tersimpan di lahan
urug kurang dari satu tahun (EPA, 2018).

Upaya minimasi lepasnya gas metan ke udara dapat dilakukan dengan tambahan
fasilitas pengolahan gas metan pada lahan urug. Pengolahan tersebut meliputi
pengumpulan LFG dengan menggunakan perpipaan vertikal dan horizontal yang
dibangun di lahan urug, lalu LFG diolah dan dikonversi sehingga menjadi energi
yang dapat digunakan pada keperluan pipa gas, bahan bakar kendaraan, energi
listrik dan lainnya. Gambar 2.17 menunjukkan skema sederhana dari pengolahan
LFG (EPA, 2018).

II-30
Gambar 2.17 Skema Pengolahan Landfill Gas
Sumber: EPA, 2018

2.4.2 Aspek Non Teknis

Aspek non teknis merupakan aspek pendukung terjalankannya dengan baik aspek
teknis operasional pengelolaan sampah. Berikut adalah penjelasan mengenai
masing-masing aspek non teknis menurut Damanhuri dan Padmi (2010):

1. Peraturan atau Hukum


Aspek peraturan didasarkan pada fakta bahwa Indonesia adalah negara hukum.
Setiap lapis kehidupan akan berlaku hukum-hukum yang akan mengikatnya.
Pengelolaan sampah kota di Indonesia pun begitu, butuh kekuatan dari hukum agar
dapat dijalankan dengan baik.

Adapun peraturan yang diperlukan dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah


kota ialah segala aturan yang mengatur tentang:
a. Ketertiban umum mengenai penanganan sampah;
b. Rencana induk pengelolaan sampah;
c. Bentuk lembaga dan organisasi pengelola;
d. Tata cara penyelenggaraan pengelolaan;

II-31
e. Besaran tarif jasa pelayanan (retribusi);
f. Kerjasama dengan berbagai pihak terkait (Pemerintah atau Swasta)

2. Kelembagaan atau Organisasi


Aspek organisasi ataupun kelembagaan merupakan kegiatan multidisiplin yang
bertumpu pada prinsip teknik dan manajemen mengenai aspek ekonomi, sosial,
budaya dan kondisi fisik wilayah kota dan memperhatikan pihak yang dilayani yaitu
masyarakat kota. Rancangan dan bentuk organisasi disesuaikan dengan peraturan
pemerintah yang membinanya, pola sistem operasional yang diterapkan, kapasitas
kerja sistem, serta lingkup pekerjaan dan tugas yang harus ditangani.

Di Indonesia, pengelolaan sampah secara formal diarahkan oleh Departemen


Pekerjaan Umum sebagai departemen teknis yang membina langsung pengelolaan
sampah kota. Bentuk-bentuk institusi yang menjalankannya dapat berupa Seksi
Kebersihan di bawah Dinas Pekerjaan Umum, Unit Pelaksana Teknik Dinas, Dinas
Kebersihan maupun Perusahaan Daerah Kebersihan.

3. Pembiayaan

Aspek pembiayaan merupakan sumber daya penggerak agar roda sistem


pengelolaan sampah kota dapat bergerak lancar. Komponen pembiayaan ini terdiri
atas biaya investasi, biaya operasi dan pemeliharaan, biaya manajemen, biaya
pengembangan, serta biaya penyuluhan dan pembinaan masyarakat.
Selanjutnya, sistem pengelolaan sampah kota di Indonesia dapat mencapai
‘pembiayaan sendiri’ dengan kata lain mandiri dengan menyangkut aspek-aspek
sebagai berikut:
a. Proporsi APBN/APBD pengelolaan sampah (retribusi dan biaya pengelolaan
sampah);
b. Proporsi komponen biaya untuk gaji, transportasi, pemeliharaan, pendidikan dan
pengembangan serta administrasi;
c. Proporsi antara retribusi dengan pendapatan masyarakat;
d. Struktur dan penarikan retribusi yang diberlakukan.

Retribusi pengelolaan sampah merupakan bentuk konkrit partisipasi masyarakat


dalam membiayai program pengelolaan sampah kota. Bentuk penarikan ini

II-32
dibenarkan pelaksanaannya jika dipungut oleh badan formal yang memiliki
kewenangan dalam bidang pengelolaan sampah.

4. Peran serta masyarakat

Peran serta masyarakat sangat penting, karena tanpa adanya partisipasi masyarakat
sebagai penghasil sampah, program pengelolaan sampah tidak akan berjalan
dengan baik dan dapat dikatakan sia-sia. Pendekatan yang dapat dilakukan untuk
menarik simpati dan menjadikan masyarakat dapat berpartisipasi adalah membuat
persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah menjadi lebih baik, membuat
kebijakan sesuai dengan faktor sosial struktur dan budaya setempat, serta
mengadopsi kebiasaan dalam pengelolaan sampah yang dilakukan masyarakat
sejauh ini.

Beberapa masalah yang sering dihadapi terkait peran serta masyarakat dalam
pengelolaan sampah ialah sebagai berikut:
a. Tingkat penyebaran penduduk yang tidak merata;
b. Keinginan masyarakat untuk menjaga lingkungan belum melembaga;
c. Belum ada pola baku bagi pembinaan masyarakat yang dapat dijadikan pedoman
pelaksanaan;
d. Masih banyak pengelola kebersihan yang belum mencantumkan penyuluhan
dalam programnya;
e. Kekhawatiran pengelolaan bahwa inisiatif masyarakat tidak akan sesuai dengan
konsep pengelolaan sampah yang ada.

2.5 Analisis Perbandingan Normatif

Analisis perbandingan normatif (normative comparison) merupakan salah satu


metode yang dapat digunakan dalam membandingkan objek penelitian. Metode ini
memiliki tujuan bukan hanya untuk mendapatkan data bagaimana keadaan suatu
objek namun juga bagaimana kondisi seharusnya objek tersebut. Metode ini sangat
penting dalam mendefinisikan pandangan subjektif dari orang-orang yang bisa
memberikan usulan perbaikan (Routio, 2007).

Jika ingin mendefinisikan bagaimana keadaan awal yang akan diperbaiki atau
ditingkatkan, dapat menggunakan beberapa rangkaian kemungkinan logis yang

II-33
menjadi penyebab terjadinya keadaan awal tersebut. Diagram tiga rangkaian
kemungkinan logis dengan 3 variasi titik awal dapat dilihat pada Gambar 2.18
(Routio, 2007):

Titik Awal:
Mencontoh Keadaan di tempat lain (Variasi 2)
Keadaan Sekarang
(Variasi 1)
Usulan atau Tujuan yang Ingin
Dicapai (Variasi 3)

Titik Akhir Mempersiapkan Ajuan

Menilai Ajuan

Gambar 2.18 Diagram Rangkaian Kemungkinan Logis


Sumber: Routio, 2007

Variasi Pertama. Titik awal dimulai dengan keadaan sekarang (present state).
Proses analisis terdiri dari mendeskripsikannya secara obyektif dan mengevaluasi
secara subjektif kebutuhan untuk mengembangkannya. Akhirnya, sebuah ajuan
dibuat tentang bagaimana masalah atau kelemahan yang ada dapat diperbaiki. Jika
menggunakan pendekatan ini, akan menghemat bagian-bagian yang berguna dari
keadaan sekarang dan hanya mengganti bagian-bagian yang tidak dapat
digunakan. Pendekatan ini sering digunakan saat mengembangkan
aktivitas manusia, dan juga dalam pengembangan produk bila produk yang ada
tersedia sebagai titik tolak (Routio, 2007).

Variasi kedua. Keadaan yang dicari sudah ada di tempat lain, setidaknya sebagian,
dan targetnya adalah mewujudkannya keadaan yang lebih baik dengan mereplikasi
poin yang pernah diaplikasikan di tempat lain. Ini bisa berarti memodifikasi objek
penelitian awal, atau menciptakan objek, atau objek baru yang lebih baik atau
sebanding. Kedua kasus tersebut dimungkinkan untuk mengambil kasus
atau contoh unggulan yang ada, sebagai titik awal dalam analisis normatif.
Pendekatan ini memiliki prosedur logis tidak jauh berbeda dengan alternatif
‘Variasi Pertama’, yang disebutkan sebelumnya. Hal ini juga memungkinkan untuk
mengambil lebih dari satu contoh sebagai titik awal, dan dalam hal ini targetnya

II-34
adalah menggabungkan keadaan-keadaan terbaik dari objek percontohan (Routio,
2007).

Variasi ketiga yang sering digunakan adalah memulai analisis dari


deskripsi keadaan ideal, yang mungkin dapat dibangun berdasarkan preferensi
subyektif dari suatu kelompok. Titik awal juga mencakup batasan dan tujuan yang
diketahui untuk aktivitas tersebut, seperti ekologi atau ekonomi. Pendekatan ini
dapat digunakan, jika tidak ada model atau contoh umum yang dapat digunakan
sebagai dasar acuan memodifikasi keadaan eksisting, atau sebagai pelengkap
pendekatan ‘Variasi Pertama’ dan ‘Variasi Kedua’ (Routio, 2007).

Tahapan melakukan Normative Comparison ialah sebagai berikut (Routio, 2007):


1. Peneliti mencatat secara obyektif keadaan yang ada, mungkin dengan
metode pengumpulan data deskriptif;
2. Peneliti mengumpulkan pendapat tentang keadaan terkini dari sumber-sumber
yang memiliki informasi terkait objek komparasi;
3. Peneliti menyiapkan alternatif untuk memperbaiki keadaan terkini;
4. Alternatif ini dievaluasi berdasarkan tahap 2;
5. Atas dasar evaluasi tersebut, peneliti memodifikasi alternatifnya;
6. Dua fase terakhir diulang sampai sebuah alternatif ideal ditemukan.

Metode yang umum untuk mengembangkan sejumlah besar alternatif ialah (Routio,
2007):
1. Mulai dari ide berdasarkan keadaan yang ada;
2. Acak, ide di luar keadaan yang ada.

Jika akan menghasilkan berbagai macam alternatif, dapat menggunakan keadaan


eksisting objek sebagai titik awal. Alternatif yang dihasilkan merupakan modifikasi
dari keadaan eksisting objek bukan alternatif yang benar-benar baru. Metode ini
dapat melakukan modifikasi sebagai berikut (Routio, 2007):
1. Memperbesar: menambahkan sesuatu, memperbanyak, memperkuat, membuat
lebih lama, lebih tinggi, lebih tebal, lebih berat, lebih kuat atau lebih cepat;
2. Memperkecil: keluarkan sesuatu, buat lebih ringan, lebih pendek, lebih lambat;
3. Membalikkan;
4. Membelah atau menggabungkan;

II-35
5. Menunda atau melakukannya sekarang;
6. Menyembunyikan atau menekankan;
7. Mengkhususkan atau menyamaratakan;
8. Mengganti: apa, siapa dan bagaimana;
9. Mengubah strukturnya: urutan, tata letak, ritme, tempo, tingkat.

2.5.1 Penelitian Terkait Analisis Perbandingan Pengelolaan Sampah

Berikut adalah beberapa penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan


metode analisis perbandingan terhadap pengelolaan sampah:

1. Analisis komparatif terhadap pengelolaan sampah di 20 kota (David dkk.,


2012)

Pengelolaan sampah yang bervariasi tiap kota di berbagai negara diteliti


konsistensinya dan sejauh mana pencapaiannya. Peneiltian ini menggunakan acuan
Integrated Solid Waste Management untuk menganalisis pengelolaan sampah yang
dilakukan di 20 kota yang diamati. Analisis komparatif pertama-tama dilihat dari
data timbulan dan komposisi sampah. Masing-masing kota akan dibuatkan diagram
alir proses untuk melihat sistem-sistem yang bekerja dalam pengelolaan sampah.
Penelitian ini membandingkan beberapa poin utama yaitu pengumpulan,
pemrosesan akhir, kondisi lingkungan, kebijakan dan pembiayaan.

Hasil penelitian ini berbentuk ringkasan perbandingan pengelolaan sampah masing-


masing kota sehingga kota-kota lainnya yang belum mencapai kondisi pengelolaan
sampah yang diinginkan, pada masing-masing poin utama yang diamati, dapat
meningkatkan upayanya dengan belajar dari kota yang telah dianggap berhasil.

2. Analisis Komparatif Pengelolaan Sampah Kota di Cina (Mian dkk., 2016)

Penelitian ini menggambarkan dua strategi pengelolaan sampah kota di Cina pada
masa lalu dan masa sekarang. Komparasi yang dilakukan yaitu antara pengelolaan
sampah kota di Cina dan kota berkembang dan kota maju lainnya. Analisis
komparatif dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang
terjadi dan mengevaluasi keefektifan kinerja dari pengelolaan sampah kota yang
telah dilakukan.

II-36
Pengelolaan sampah yang dibandingkan mempertimbangkan persentase komposisi
sampah dan penanganan yang dilakukan. Hasil dari analisis komparatif ini akan
diambil kondisi dan sistem pengelolaan terbaik yang tidak berdampak negatif untuk
diaplikasikan di Cina.

2.6 Life Cycle Assessment (LCA)

Life Cycle Assessment, yang selanjutnya disingkat sebagai LCA, merupakan sebuah
teknik untuk menilai aspek lingkungan dan dampak potensial yang berhubungan
dengan sebuah sistem produk. LCA dapat dilakukan dengan mengumpulkan
inventori yang sesuai dengan input dan output sistem produk, mengevaluasi
dampak lingkungan potensial berdasarkan input dan output, serta menginterpretasi
hasil analisis inventori dan penilaian dampak yang berhubungan dengan tujuan dari
studi (NSF International, 1997).

Sistem produk didefinisikan sebagai kumpulan dari material dan energi yang
dilibatkan dalam unit proses. Produk dimaksud bukan hanya produk (benda),
namun juga dapat diartikan sebagai proses atau sistem. Kategori umum dari dampak
lingkungan membutuhkan pertimbangan penggunaan sumber daya, pengaruhnya
terhadap kesehatan manusia dan juga lingkungan (NSF International, 1997).

LCA dapat digunakan dalam tujuan mengidentifikasi adanya kesempatan untuk


meningkatkan aspek lingkungan dari produk pada titik-titik yang berbeda dalam
daur hidupnya. Selain itu, LCA dapat membantu industri, pemerintah maupun
organisasi non pemerintahan dalam pengambilan keputusan seperti rencana
strategis, penyusunan skala prioritas, desain dan pendesainan kembali produk
maupun proses (NSF International, 1997).

Semua teknik memiliki batasan tersendiri, begitu pula LCA. Berikut adalah batasan
yang harus dipahami mengenai LCA:
1. Pilihan sifat dasar dan asumsi yang dibuat pada LCA (seperti batasan sistem,
pilihan sumber data, dan kategori dampak) dapat bersifat subjektif;
2. Model yang digunakan untuk analisis inventori atau untuk menilai dampak
lingkungan dibatasi oleh asumsi masing-masing pengguna LCA dan tidak pula
tersedia untuk seluruh dampak potensial yang ada;

II-37
3. Hasil dari LCA yang fokus kepada masalah global maupun regional tidak dapat
digantikan dengan kondisi atau permasalahan lokal saja, dengan kata lain,
permasalahan lokal belum tentu mewakili masalah global ataupun regional;
4. Adanya variasi karakteristik dari masing-masing kategori dampak akibat adanya
ketidakpastian pada hasil penilaian dampak.

Tahapan LCA terdiri atas empat tahapan yaitu pendefinisian tujuan dan ruang
lingkup, analisis inventori, penilaian dampak, dan interpretasi (NSF International,
1997).

2.6.1 Definisi Tujuan dan Ruang Lingkup

Tahapan ini merupakan tahapan utama dan teramat penting dari LCA. Tahapan ini
harus mendeskripsikan secara jelas dan konsisten mengenai batasan dari
permasalahan yang akan dianalisis menggunakan LCA (NSF International, 1997).

Tujuan studi LCA harus dijabarkan dengan sangat jelas mengenai aplikasinya,
alasan dipilihnya studi ini, dan kepada siapa studi ini ditujukan (contonya: untuk
pemegang kekuasaan atau pemerintah). Ada beberapa hal yang harus diperhatikan
dan dideskripsikan dengan sangat jelas dalam pendefinisian ruang lingkup LCA.
Beberapa hal tersebut meliputi (NSF International, 1997):
1. Kegunaan dari Sistem produk;
2. Unit Fungsional;
3. Sistem produk yang menjadi bahan studi;
4. Batasan sistem produk;
5. Prosedur alokasi;
6. Jenis dampak, metodologi penilaian dampak, penafsiran yang digunakan
7. Data yang dibutuhkan;
8. Asumsi yang digunakan;
9. Limitasi;
10. Data kualitatif awal yang diperlukan;
11. Jenis dan format laporan yang akan dibuat.

Ruang lingkup ini akan menunjukkan seberapa dalam dan rinci studi LCA yang
akan dilakukan oleh peneliti serta keterkaitannya dengan tujuan yang telah
didefinisikan sebelumnya (NSF International, 1997).

II-38
2.6.2 Analisis Inventori

Analisis inventori meliputi pengumpulan data dan prosedur perhitungan input dan
output sistem produk. Input dan output yang dimaksud dapat berupa penggunaan
energi dan pelepasan ke udara, air dan tanah yang berkaitan dengan sistem.
Penafsiran dapat digambarkan dari data yang diperoleh, tergantung dari tujuan dan
ruang lingkup yang ditetapkan sebelumnya. Data tersebut juga merupakan input
pada tahapan selanjutnya yaitu penilaian dampak (NSF International, 1997).

Berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan pada analisis inventori:


1. Menentukan batasan lingkungan pada sistem;
2. Membuat diagram alir proses pada sistem;
3. Mendeskripsikan kategori data;
4. Menentukan kriteria input dan output yang akan dilibatkan pada sistem;
5. Menambahkan data kualitatif;
6. Memasukkan data pada unit proses;
7. Memvalidasikan data;
8. Menentukan metode perhitungan dampak.

Analisis inventori sangat diperlukan sekali adanya data inventori. Data ini akan
digunakan dalam penilaian dampak pada tahapan berikutnya. Data inventori dapat
diperoleh dari software LCA yang digunakan. Namun, jika software LCA tidak
memiliki inventori data yang lengkap terhadap apa yang akan dianalisis, dapat
ditambahkan data inventori dengan mengadopsi referensi dari penelitian serupa
terdahulu atau melalui buku data inventori.

Referensi yang dapat digunakan untuk melengkapi data inventori yang berkaitan
dengan pengelolaan sampah ialah sebagai berikut:
1. Buku Integrated Solid Waste Management: Life Cycle Inventory yang ditulis
oleh P.R. White, M.Franke dan P.Hindle pada 1995;
2. Jurnal Life-Cycle Inventory of Municipal Solid Waste and Yard Waste Windrow
Composting in the United States oleh Dimitris P. Komilis dan Robert K. Ham
pada 2004;

II-39
3. Jurnal Life Cycle Assessment (LCA) of waste management strategies:
Landfilling, sorting plant and incineration oleh Fransesca Cerubini, Silvia
Bargigli, dan Sergio Ulgiati pada 2008;
4. Artikel Composting Process Model Documentation dan Anaerobic Process
Model Documentation oleh James W. Levis dan Morton A. Barlaz pada 2013.

2.6.3 Penilaian Dampak

Tahapan penilaian dampak bertujuan untuk mengevaluasi signifikansi dari dampak


lingkungan potensial menggunakan hasil dari analisis inventori. Secara umum,
proses ini melibatkan hubungan data inventori dengan dampak lingkungan spesifik
serta mencoba memahami dampak-dampak tersebut. Tingkat kerincian, pilihan
evaluasi dampak dan metodologi yang digunakan bergantung pada tujuan dan ruang
lingkup studi yang dijabarkan sebelumnya (ISO 14040).

Berikut adalah hal yang dilakukan pada tahapan penilaian dampak:


1. Memilih kategori dampak;
2. Memilih metode karakteristik dampak;
3. Mengklasifikasikan dampak;
4. Mengkarakterisasi dampak;
5. Melakukan normalisasi dan/atau pembobotan.

2.6.4 Interpretasi

Interpretasi merupakan tahapan LCA yang menyimpulkan hasil analisis inventori


dan penilaian dampak. Interpretasi ini dapat berupa simpulan dan juga rekomendasi
untuk pengambilan kebijakan selanjutnya. Interpretasi diperlukan karena pada
tahapan ini semua proses LCA dan hasilnya ditafsirkan dengan kesimpulan yang
mewakili sehingga lebih mudah untuk dipahami oleh pembaca.

Berikut adalah tahapan yang dapat dilakukan pada interpretasi:


1. Mengevaluasi hasil penilaian dampak dengan uji kelengkapan dan uji
konsistensi;
2. Menganalisis hasil penilaian dampak dengan analisis kontribusi dampak;
analisis sensitivitas dan ketidakpastian serta analisis gangguan dari luar sistem
3. Menyimpulkan dan memberikan rekomendasi

II-40
2.6.5 Software LCA

Penilaian daur produk ataupun sistem dengan menggunakan metode LCA juga
digunakan software LCA untuk membantu perhitungan dampak lingkungan yang
akan diakibatkan dari daur poduk atau sistem itu sendiri. Beberapa software LCA
yang dapat digunakan yaitu SimaPro, OpenLCA, Umberto NXT dan GaBi.

Keempat contoh software LCA tersebut dapat diperoleh secara berbayar hingga
cuma-cuma. Biasanya, perusahaan dagang software tersebut akan memberikan
kemudahan (tidak perlu membeli software) bagi para civitas akademika dalam
mendapatkan software ini untuk keperluan pendidikan.

SimaPro merupakan software LCA yang dikembangkan oleh Perusahaan Pre


Consultants, Belanda, sejak 25 tahun yang lalu. Lisensi SimaPro bersifat berbayar
namun dapat menjadi gratis jika dilakukan pengajuan akses untuk pendidikan.
SimaPro dapat mengakses format database ecoSpold atau csv. Metode penilaian
dampak yang dapat digunakan pada SimaPro amat beragam CML-IA, EDIP 2003,
EPD 2013, ILCD 2011, ReCipe, BEES+, TRACI 2.1, Cumulative Energy Demand,
Cumulative Exergy, Ecological footprint, Ecosystem Damage Potential,
Greenhouse Gas Protocol, IPCC 2013, USEtox, Water footprint, Ecological
Scarcity, IMPACT 2002+ dan EPS 2000. Beberapa sumber menyatakan bahwa
SimaPro handal dalam “product assessment” pada LCA.

OpenLCA merupakan salah satu software LCA yang bersifat gratis dengan akses
terbuka yang dikembangkan oleh Perusahaan Green Delta, Jerman. OpenLCA
dapat mengakses format database ILCD, ecoSpold v1, v2, csv, Excel dan JSON-
LD. Metode penilaian dampak yang dapat digunakan pada OpenLCA meliputi
CML 2001, eco-indicator 99, ecological scarcity, EDIP 2003, ILDC 2011, ReCipe
8, TRACI 2.0, EPA dan USEtox. Banyak sumber yang menyarankan penggunaan
OpenLCA karena kemudahannya dalam akses pemakaian (gratis).

Umberto NXT merupakan software LCA berbayar yang dikembangkan oleh iFu
Hamburg GmbH, Jerman. Format database software ini biasanya adalah excel.
Metode penilaian dampak yang dapat digunakan pada Umberto NXT di antaranya
yaitu CML 2001, cumulative energy demand, eco-indicator 99, ecological
footprint, ecological scarcity, ecosystem damage potential dan EDIP. Banyak

II-41
pengguna yang menyarankan penggunaan Umberto NXT jika memiliki modal yang
besar untuk membeli lisensinya. Umberto NXT dinilai sebagai software yang
handal dalam “process assessment”.

GaBi merupakan software LCA yang berbayar namun dapat diakses dengan cuma-
cuma untuk keperluan pendidikan. GaBi dikembangkan oleh Perusahaan
ThinkStep, Jerman. Format database software ini biasanya adalah ILCD, EPD,
ecoSpold v1, GPR dan gbx. Metode penilaian dampak yang dapat digunakan pada
GaBi meliputi CML 2001, CML 1996, Eco-Indicator 95, Eco-Indicator 99, EDIP
1997, EDIP 2003, Impact 2002+, Method of Ecological Scarcity (UBP Method),
ReCipe, TRACI 2.0 dan USEtox. Banyak pengguna yang menyarankan
penggunaan GaBi karena terpercaya dan memiliki banyak database default. GaBi
juga fleksibel terhadap data baru yang di-input-kan, sehingga jika memang
memerlukan data inventori yang tidak ada pada database dapat di-input-kan
manual. GaBi ini juga dinilai sebagai software yang handal dalam “process
assessment”. Software GaBi ini dipilih untuk membantu penilaian dampak pada
Tugas Akhir ini karena kemampuannya yang baik dalam menilai proses/sistem dan
software ini mudah diperoleh.

Ringkasan perbandingan dari keempat jenis software LCA yang telah disebutkan
sebelumnya dapat dilihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Perbandingan Software LCA


Kriteria
OpenLCA SimaPro Umberto NXT GaBi
Perbandingan
Asal Software
Jerman, iFu
(Negara dan Jerman, Belanda, Pre Jerman,
Hamburg
Perusahan Green Delta Consultants ThinkStep
GmbH
Pengembang)
ILCD,
ecoSpold v1, ILCD, EPD,
Format
v2, csv, ecoSpold, csv Excel ecoSpold v1,
Database
Excel, JSON- GPR, gbx
LD
Berbayar namun Berbayar namun
Akses Gratis gratis untuk Berbayar gratis untuk
pendidikan pendidikan
CML 2001, CML-IA, EDIP 2003, CML 2001, CML 2001,
eco-indicator EPD 2013, ILCD cumulative CML 1996, Eco-
Impact
99, ecological 2011, ReCipe, energy Indicator 95,
Assessment
scarcity, BEES+, TRACI 2.1, demand, eco- Eco-Indicator
Method
EDIP 2003, Cumulative Energy indicator 99, 99, EDIP 1997,
ILDC 2011, Demand, Cumulative ecological EDIP 2003,

II-42
Tabel 2.5 Perbandingan Software LCA
Kriteria
OpenLCA SimaPro Umberto NXT GaBi
Perbandingan
ReCipe 8, Exergy, Ecological footprint, Impact 2002+,
TRACI 2.0, footprint, Ecosystem ecological Method of
EPA dan Damage Potential, scarcity, Ecological
USEtox Greenhouse Gas ecosystem Scarcity (UBP
Protocol, IPCC 2013, damage Method),
USEtox, Water potential dan ReCipe, TRACI
footprint, Ecological EDIP 2.0 dan USEtox
Scarcity, IMPACT
2002+ dan EPS 2000
Product Process Process
Kelebihan Product Assessment
Assessment Assessment Assessment

Selain memiliki fungsi dasar untuk menilai dampak, GaBi juga dapat digunakan
sebagai alat bantu rekayasa daur hidup, pemodelan daur hidup dan kesetimbangan
daur hidup. GaBi tidak hanya dapat menilai dampak lingkungan dari suatu produk
atau proses, namun juga dapat menilai aspek teknis dan ekonomi. GaBi yang
digunakan merupakan GaBi education, sehingga database yang tersedia adalah
education database.

Menurut Joanna dkk (2014), studi kasus yang menjadi referensi penelitiannya
berkisar dari tahun 2005 hingga 2013 ada sebanyak 7 artikel yang menggunakan
jenis software GaBi. Jumlah tersebut adalah jumlah terbanyak dibandingkan
dengan penggunaan software lainnya yang hanya berkisar antara 1 – 3 studi kasus.

2.6.5.1 Software GaBi

GaBi merupakan salah satu software LCA yang popular di dunia yang dikeluarkan
oleh PE International. GaBi memungkinkan berbagai stage dalam LCA, mulai dari
pengumpulan hingga pengorganisasian hasil. GaBi dapat secara otomatis
menghubungkan semua aliran material, energi dan emisi yang digunakan oleh
pengguna (PE International, 2010).

Program GaBi memiliki database yang lengkap. PE menyediakan 2000 set cradle
to gate material data. 8000 model proses kimia dan ribuan proyek LCA berasal dari
projek quality controlled berbagai industri. Salah satu turunan dari program GaBi
adalah GaBi Education yang dapat diakses gratis dan digunakan pada Tugas Akhir

II-43
ini. GaBi Education memiliki fraksi database yang tidak terlalu besar jika
dibandingkan dengan versi global GaBi yang berbayar (PE International, 2010).

Adapun metode penilaian dampak yang dapat dipilih pada GaBi Education meliputi
CML 2001, CML 2013, CML 2001, ILCD PEF (v1.06), ILCD PEF (v1.09), ILCD,
TRACI 2.1,TRACI, LCIA, ReCiPe 1.08 Midpoint dan ReCipe. Tugas akhir ini
menggunakan CML 2001 karena CML lebih sederhana dan tidak banyak dampak
yang dikaji. CML ini merupakan metode penilaian dampak yang dikembangkan
oleh Center of Environmental Sciences of Leiden University.

CML ini mengkaji dampak lingkungan yang meliputi Global Warming Potential,
Acidification Potential, Eutrophication Potential, Photo Oxidant Formation,
Human Toxicity, Aquatic Eco-toxicity, Ozone Layer Depletion, PhotoCemical
Oxidation dan Land Use. Kategori dampak yang digunakan pada tugas akhir ini
meliputi Global Warming Potential, Acidification Potential, Eutrophication
Potential. Ketiga kategori dampak tersebut dipilih karena sebagian besar penelitian
LCA mengkaji ketiga dampak tersebut.

2.6.6 Penelitian Terkait LCA pada Pengelolaan Sampah

Berikut adalah beberapa penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan


metode LCA terhadap pengelolaan sampah:

1. Aplikasi LCA pada Sistem Pengolaan Sampah Kota di Lithuania (Miliute


dan Staniskis, 2010)

Tujuan utama dari penelitan ini yaitu untuk membandingkan pilihan pengelolaan
sampah yang berbeda-beda di daerah Alytus, Lithuania. Penelitian ini
menggunakan lima skenario. Skenario 1 yaitu landfilling skenario 2 daur ulang,
pengomposan dan landfilling; skenario 3 daur ulang, pengomposan, MBT dan
insinerasi; skenario 4 daur ulang dan insinerasi; sedangkan skenario 5 daur ulang,
MBT dan insinerasi.

Penelitian ini menggunakan unit fungsional timbulan sampah yang dihasilkan


selama satu tahun pada 2005 yaitu 45.150 ton. Komposisi sampah yang digunakan
berdasarkan studi empiris di daerah Alytus. Beberapa data lainnya juga diadopsi

II-44
dari badan statistik Lithuanian, sedangkan data insinerasi mengambil referensi dari
rerata teknologi yang digunakan di Swedish.

Pemilihan skenario terbaik dilakukan dengan mempertimbangkan empat kategori


dampak yaitu global warming, acidification, eutrophication dan photo-oxidant
formation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa landfilling memberikan dampak
lingkungan terburuk dibandingkan dengan pilihan pengelolaan sampah lainnya.
Jika melihat bagaimana sampah biodegradable diolah, maka insinerasi dinilai lebih
baik dari pengomposan karena kemampuannya memproduksi energi.

2. Penilaian daur hidup pada sistem pengelolaan sampah kota di Cluj County,
Romania (Popita dkk., 2017)

Diperlukan skenario-skenario baru dalam pengelolaan sampah sebagai upaya


pengembangan pengelolaan sampah kota di Cluj County yang sebelumnya
membuang langsung total sampah ke kota ke lahan urug. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi skenario mana yang paling sedikit dampaknya terhadap
lingkungan.

Skenario terdiri atas empat skenario. Skenario pertama mewakili kondisi eksisiting
pengelolaan sampah. Skenario kedua menambahkan pengomposan untuk sampah
basah. Skenario ketiga menambahkan pengolahan (daur ulang) yang terintegrasi
untuk menghasilkan material daur ulang, serta skenario empat menambahkan
teknologi insinerasi. Keempat skenario tersebut dinilai dampak lingkungannya
dengan menggunakan software LCA yang bernama GaBi. Dampak lingkungan
yang dikaji meliputi global warming potential, acidification potential,
eutrophication potential, human toxicity potential, freshwater aquatic ecotoxicity
potential dan photochemical ozone creation potential.

Hasil dari analisis tersebut diperoleh bahwa skenario empat merupakan skenario
yang memiliki dampak lingkungan paling kecil terhadap skenario lainnya. Selain
itu, skenario empat ini juga menghasilkan energi yang paling besar jika
dibandingkan dengan skenario lainnya.

II-45
3. Penggunaan LCA dalam pemilihan sistem pengelolaan sampah kota
terbaik (Feo dan Malvano, 2009)

Pengambilan kebijakan pada sistem pengelolaan sampah kota tidak hanya


mempertimbangkan aspek teknis dan pembiayaan, namun juga mempertimbangkan
pengaruhnya terhadap lingkungan. Penelitian ini fokus pada sebelas dampak
lingkungan yang dihasilkan dari sistem pengelolaan sampah kota di Italia Selatan.
Dampak tersebut meliputi penggunaan energi terbarukan, penggunaan energi tidak
terbarukan, total penggunaan energi, air, padatan tersuspensi dan materi yang
mudah menguap, mineral, gas rumah kaca, asidifikasi, eutrofikasi, sampah B3, dan
sampah non B3.

Analisis ini mengembangkan 12 skenario dengan model yang tipikal namun


presentase prosesnya divariasikan. Analisis skenario terbaik dilakukan
menggunakan prosedur yang disebut sebagai WISARD (Waste Integrated System
Assessment for Recovery and Disposal).

Hasil analisis menunjukkan bahwa pengolahan kertas merupakan fase terbaik


dalam menghindari dampak negatif kepada lingkungan. Enam kategori dampak
(penggunaan energi terbarukan dan total energi, air, padatan tersuspensi dan materi
mudah menguap, eutrofikasi dan sampah B3) memiliki dampak dengan persentase
yang cukup tinggi jika pengumpulan dilakukan pemilahan atas dasar recovery dan
daur ulang.

4. LCA pada strategi pengelolaan sampah kota potensial untuk Mumbai, India
(Sharma dan Chandel, 2017)

Mumbai masih menggunakan sistem open dumping untuk lahan urug di kota-nya.
Karena open dumping tersebut memiliki dampak lingkungan yang tinggi maka
perlu dilakukan penilaian dampak terhadap kondisi eksisting dan skenario usulan
yang disusun oleh peneliti. Mumbai memiliki timbulan sampah yang besar setiap
harinya mencapai 9.000 ton.

Ada enam skenario yang disusun untuk mengembangkan sistem lahan urug
eksisting di Mumbai. Skenario ini terdiri atas kombinasi dari landfill dengan
pengumpulan biogas, insinerasi dengan kombinasi daur ulang, landfill,
pengomposan, anaerobic digestion dan insinerasi. Dampak yang dinilai meliputi

II-46
pemanasan global, asidifikasi, eutrofikasi dan kesehatan manusia. Hasil dari
penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi banyak pengolahan sampah akan
menghasilkan dampak yang rendah dan penggunaan teknologi insinerasi akan
mengurangi dampak pemanasan global.

2.7 Gambaran Umum Kota Kitakyushu dan Kota Padang

2.7.1 Gambaran Umum Kota Kitakyushu

Kota Kitakyushu merupakan salah satu kota yang terletak di Prefektur Fukuoka
pada Pulau Kyushu, Jepang. ‘Kita’ berarti utara yang menandakan bahwa Kota
Kitakyushu berada di sebelah utara Pulau Kyushu dan berbatasan langsung dengan
selat yang memisahkan Pulau Kyushu dengan Pulau Honsu. Kota Kitakyushu
memiliki luas wilayah 485 km2 dan penduduk kurang dari satu juta jiwa dengan
trend yang menurun dari tahun ke tahun. Kitakyushu terbagi atas tujuh kecamatan
yaitu Moji, Kokura-Kita, Kokura-Minami, Wakamatsu, Yahata-Nishi, Yahata-
Higashi dan Tobata. Peta wilayah Kota Kitakyushu dapat dilihat pada Gambar
2.19.

EcoTown Center

Wakamatsu Tobata

Moji

Kokura-Kita

Yahata-Higashi
Yahata-Minami

Kokura-Minami

Gambar 2.19 Peta Wilayah Kota Kitakyushu


Sumber: Rachman, 2017

II-47
Kota Kitakyushu merupakan salah satu lokasi industri yang terkenal di negara
Jepang. Pada tahun 1901, industri besi dan baja milik pemerintah mulai beroperasi.
Secara tidak langsung, Kota Kitakyushu memiliki peran dalam proses modernisasi
negara Jepang. Setelah adanya industri tersebut, industri-industri lain ikut didirikan
dan beroperasi, seperti industri elektronik, keramik dan kimia.

Kota Kitakyushu berkembang menjadi kota yang sangat peduli dalam pengelolaan
lingkungan. Banyak fasilitas yang disediakan untuk belajar pengelolaan lingkungan
yang telah diterapkan oleh Kota Kitakyushu. Diantaranya ialah Museum
Lingkungan, Ecotown Center, Museum Sejarah Manusia dan Alam, Taman Hijau
(Green Park), Wind Power dan lainnya. Beberapa fasilitas tersebut dapat dilihat
pada Gambar 2.20 hingga Gambar 2.22.

Gambar 2.20 Museum Lingkungan

Gambar 2.21 Ecotown Center

II-48
Gambar 2.22 Wind Power

Keseriusan Kota Kitakyushu terlihat jelas dari upaya yang dilakukan dan juga hasil
yang diperoleh. Kota Kitakyushu kini rutin mengadakan pameran lingkungan setiap
tahunnya di pusat kota, Kokura, dengan nama Ecolife Event. Kegiatan ini
melibatkan banyak pihak yang memiliki aktivitas fokus pada lingkungan. Mulai
dari pemerintah hingga lembaga non pemerintah bahkan individu. Kegiatan ini
menampilkan banyak produk daur ulang, cuplikan daur ulang, teknologi ramah
lingkungan, hingga makanan daur ulang yang ramah lingkungan. Dokumentasi
beberapa kegiatan di Ecolife Event dapat dilihat pada Gambar 2.23 dan Gambar
2.24.

Gambar 2.23 Stand Pengolahan Awal Sampah Kaleng Minuman

II-49
Gambar 2.24 Kegiatan Daur Ulang yang melibatkan Anak-Anak

2.7.2 Gambaran Umum Kota Padang

Kota Padang merupakan ibukota Sumatera Barat yang termasuk dalam kategori
Kota Besar. Menurut Peraturan daerah Kota Padang No. 10 Tahun 2005, luas Kota
Padang telah terjadi penambahan yaitu menjadi 1.414,96 Km2. Secara geografis,
Kota Padang berada di antara 00 44' 00" dan 1 08' 35" Lintang Selatan serta antara
100 05’ 05” dan 100 34' 09" Bujur Timur (Badan Pusat Statistik, 2017). Peta
wilayah Kota Padang dapat dilihat pada Gambar 2.25.

Kota Padang membujur dari Utara ke Selatan dengan pantai sepanjang 68,126 km.
Kota Padang juga memiliki deretan Bukit Barisan dengan panjang daerah bukit
(termasuk sungai) 486,209 Km2. Ketinggian wilayah daratan Kota Padang
bervariasi, yaitu antara 0 – 1853 m di atas permukaan laut dengan daerah tertinggi
adalah Kecamatan Lubuk Kilangan (Badan Pusat Statistik, 2017).

Kota Padang memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:


1. Sebelah Utara : Kabupaten Padang Pariaman
2. Sebelah Selatan : Kabupaten Pesisir Selatan
3. Sebelah Timur : Kabupaten Solok
4. Sebelah Barat : Samudera Hindia

II-50
Gambar 2.25 Peta Wilayah Kota Padang
Sumber: www.geospasial.bnpb.go.id

Tahun 2016, penduduk Kota Padang mencapai 914.968 jiwa, naik sejumlah 12.555
jiwa dari tahun sebelumnya. Demikian, kepadatannya pun bertambah dari 1.299
jiwa/km2 menjadi 1.317 jiwa/km2. Secara Administratif, Kota Padang memiliki 11
Kecamatan dan 104 Kelurahan. 11 Kecamatan tersebut adalah (Badan Pusat
Statistik, 2017):
1. Bungus Teluk Kabung;
2. Lubuk Kilangan;
3. Lubuk Begalung;
4. Padang Selatan;
5. Padang Timur;
6. Padang Barat;

II-51
7. Padang Utara;
8. Nanggalo;
9. Kuranji;
10. Pauh;
11. Koto Tangah.

Di samping memiliki wilayah daratan, Kota Padang juga memiliki wilayah perairan
dengan 19 pulau kecil. Kesembilan belas pulau tersebut tersebar di 3 kecamatan.
Pulau terbesar ialah Pulau Bintangur seluas 56,78 ha. Selain pulau, Kota Padang
juga memiliki banyak sungai, yaitu 5 sungai besar dan 16 sungai kecil. Sungai yang
terpanjang ialah sungai Batang Kandis (Badan Pusat Statistik, 2017).

II-52
III. BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Umum

Penelitian yang dilakukan untuk menganalisis komparatif pengelolaan sampah


domestik Kota Kitakyushu dan Kota Padang menggunakan metode Normative
Comparison. Kemudian diperoleh kekurangan-kekurangan pengelolaan sampah
yang ada di Kota Padang. Kondisi eksisting pengelolaan sampah domestik Kota
Padang dianalisis melalui analisis strength, weakness, opportunities dan threats
(SWOT) sehingga menghasilkan strategi dan program yang dapat diadopsi dari
kondisi eksisting pengelolaan sampah domestik Kota Kitakyushu. Beberapa
skenario pengelolaan sampah domestik ditawarkan dan dianalisis kelayakannya
secara lingkungan menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) sehingga
diperoleh pengelolaan sampah domestik terbaik untuk diterapkan di Kota Padang.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di dua kota yaitu Kota Kitakyushu (Jepang) dan Kota
Padang (Indonesia). Observasi dan pengambilan data akan dilakukan di lokasi yang
mendukung diperolehnya informasi data penelitian ini. Lokasi-lokasi tersebut di
antaranya pemukiman penduduk, pusat keramaian, kantor pemerintahan bidang
terkait, industri, dan sektor informal.

Penelitian yang dilakukan di Kota Kitakyushu dilaksanakan pada bulan Oktober –


November 2017, sedangkan penelitian di Kota Padang telah dilaksanakan pada
bulan Maret - Juni 2018.

3.3 Tahapan Penelitian

Tahapan penelitian ini dimulai dari studi literatur terkait topik penelitian yang
dilanjutkan dengan mengumpulkan data primer dan sekunder di kedua lokasi
penelitian. Data tersebut dianalisis menggunakan metode Normative Comparison.
Hasil analisis tersebut dilanjutkan dengan analisis SWOT untuk menyusun strategi
dan program teknis dan non teknis. Strategi dan program teknis disusun menjadi
beberapa skenario pengelolaan sampah domestik di Kota Padang. Skenario-

III-1
skenario tersebut selanjutnya dianalisis kelayakannya secara lingkungan dengan
menggunakan metode LCA. Setelah itu, terpilih skenario terbaik yang dapat
diterapkan di Kota Padang. Diagram tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar
3.1:

Mulai

Studi Literatur

Pengumpulan Data

Pengumpulan Data Primer: Pengumpulan Data Sekunder:

1. Wawancara informal dilakukan dengan pihak- 1. Data timbulan dan komposisi sampah Kota
pihak terpercaya sebagai bantuan dalam Kitakyushu dan Kota Padang;
memastikan kesesuaian data yang diperoleh 2. Kondisi eksisting pengelolaan sampah Kota
2. Observasi lapangan mengenai aspek teknis Kitakyushu dan Kota Padang secara teknis;
dan non teknis pengelolaan sampah Kota 3. Kondisi eksisting pengelolaan sampah Kota
Kitakyushu dan Kota Padang Kitakyushu dan Kota Padang secara non
teknis;
4. Data persentase pengelolaan sampah Kota
Kitakyushu dan Kota Padang;

Analisis Komparatif:
Membandingkan aspek teknis dan non teknis pengelolaan sampah domestik Kota
Kitakyushu dan Kota Padang

Analisis SWOT:
Menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari pengelolaan sampah domestik Kota Padang
dan mengusulkan strategi pengelolaan sampah domestik dengan mengadopsi hasil analisis komparatif
untuk penyusunan program

Menyusun alternatif skenario pengelolaan sampah domestik Kota Padang berdasarkan strategi dan program
teknis yang diusulkan pada analisis SWOT.

Analisis Skenario Terbaik:


Menganalisis alternatif skenario terbaik berdasarkan tingkat global warming potential, asidification potential,
eutrophication potential dengan menggunakan metode LCA dan Aliran Energi

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Tahapan Penelitian

III-2
3.3.1 Studi Literatur

Tahapan ini dipaparkan pada BAB II yang menjelaskan mengenai dasar-dasar


pengelolaan sampah kota, aspek teknis dan aspek non teknis, penelitian-penelitian
sebelumnya yang dijadikan acuan dasar pemikiran, serta peraturan-peraturan
pengelolaan sampah kota yang berlaku di Indonesia.

3.3.2 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan di kedua tempat penelitian dengan mengumpulkan


dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder.

3.3.2.1 Data Primer

Pengambilan data primer dilakukan dengan wawancara informal dan observasi


lapangan. Wawancara informal ini dilakukan dengan pihak-pihak terpercaya
sebagai bantuan memperoleh data yang sesuai. Wawancara ini dilakukan di Kota
Kitakyushu dan di Kota Padang dengan beberapa narasumber yang dapat dilihat
pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Narasumber dan Pertanyaan Wawancara


No Nama Narasumber Latar Belakang Pertanyaan
Kota Kitakyushu
1 Penjaga Stand Pengolahan Pekerja yang terlibat dalam Mengenai Proses
Kaleng Pengolahan Kaleng di Kota Pengolahan Sampah
Kitakyushu. Kaleng
2 Bapak Siratsuchi Pengajar di kelas bahasa Mengenai Proses
Jepang, sejak lahir Pengelolaan Sampah
berdomisili di Kota di Sumber
Kitakyushu
3 Seorang aktivis lingkungan di Terlibat dalam kegiatan Mengenai upaya
stand pengomposan takakura pengomposan takakura pelibatan masyarakat
4 Pemandu tur Ecotown Centre Pemateri kuliah umum di Mengenai pengolahan
EcoTown Centre botol plastik PET
5 Cahaya Pertiwi Mahasiswa exchange dari Mengenai Proses
Indonesia Pengelolaan Sampah
di Sumber
Kota Padang
1 Anggi Basuki Staf UPTD Kebersihan Mengenai Proses
Dinas Lingkungan Hidup Pengelolaan Sampah
Kota Padang di Kota Padang

Wawancara tidak menggunakan sampel tertentu karena banyak data diperoleh dari
hasil observasi dan adanya data sekunder. Observasi dilakukan di lokasi yang
mendukung diperolehnya data penelitian seperti pemukiman penduduk, tempat

III-3
pengumpulan sampah, pusat pengolahan sampah, dan sektor informal. Observasi
ini menghasilkan data hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti secara
langsung.

3.3.2.2 Data Sekunder

Data sekunder yang dikumpulkan yaitu meliputi:


1. Data timbulan dan komposisi sampah domestik Kota Kitakyushu dan Kota
Padang;
2. Kondisi eksisting pengelolaan sampah domestik Kota Kitakyushu dan Kota
Padang secara teknis;
3. Kondisi eksisting pengelolaan sampah domestik Kota Kitakyushu dan Kota
Padang secara non teknis;
4. Data persentase pengelolaan sampah Kota Kitakyushu dan Kota Padang;

Data primer dan sekunder tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan menjadi data
yang dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Parameter Analisis Komparatif


No Parameter
1 Timbulan dan Komposisi Sampah domestik
2 Aspek Teknis Pengelolaan Sampah
Pewadahan
 Jenis Pewadahan
 Fasilitas Pewadahan
Pengumpulan
 Tipe Sistem Pengumpulan
 Fasilitas
 Jadwal Pengumpulan
Pengolahan
 Fasilitas/ Teknologi
 Jenis Pengolahan berdasarkan jenis sampah
 Persentase Pengolahan
 Hasil Pengolahan
Pengangkutan
 Fasilitas
 Metode Pengangkutan
 Jadwal Pengangkutan
Pemrosesan Akhir
 Fasilitas
 Jenis Pengolahan
 Persentase Pengolahan

III-4
Tabel 3.2 Parameter Analisis Komparatif
No Parameter
 Sistem Landfilling
3 Aspek Non Teknis Pengelolaan Sampah
Peran serta masyarakat
 Bentuk peran serta masyarakat
Peran Industri
 Apakah Industri terlibat
 Bentuk peran Industri
Program Minimasi Sampah

3.3.3 Analisis komparatif

Analisis komparatif dilakukan dengan menggunakan metode Normative


Comparison. Variasi Normative Comparison yang digunakan adalah variasi kedua,
yaitu membandingkan keadaan yang telah ada di tempat lain dengan keadaan yang
akan diperbaiki. Variasi ini dipilih karena pada tugas akhir ini akan meningkatkan
kualitas pengelolaan sampah domestik Kota Padang dengan mencontoh yang telah
dilakukan oleh Kota Kitakyushu.

Analisis komparatif ini dapat menunjukkan objek mana yang paling unggul (lebih
baik) dalam aplikasi pengelolaan sampahnya dinilai dari parameter-parameter yang
diamati (Wulandari, 2015). Beberapa parameter yang dapat digunakan dalam
analisis komparatif ini adalah pengumpulan sampah, pemrosesan akhir sampah,
kondisi lingkungan, kebijakan serta pembiayaan (David dkk, 2012). Parameter
yang akan digunakan pada tugas akhir ini dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Parameter tersebut diproses dengan menganalisis dan membandingkan kondisi


eksisting pada masing-masing pengelolaan sampah domestik Kota Kitakyushu dan
Kota Padang. Setelah dilakukannya proses maka akan menghasilkan kesimpulan
utama dari permasalahan tersebut. Selanjutnya melakukan analisis SWOT untuk
merumuskan strategi teknis maupun non teknis yang dapat dilakukan. Berikut
adalah diagram alir dari tahapan analisis komparatif:

III-5
Mulai

Input Analisis
(data parameter yang akan dianalisis)

Proses
(analisis dan membandingkan kondisi eksisting pada
masing-masing pengelolaan sampah domestik Kota
Kitakyushu dan Kota Padang)

Output
(kesimpulan utama permasalahan Kota Padang)

Selesai

Gambar 3.2 Bagan Alir Proses Analisis Komparatif

3.3.4 Analisis SWOT

Setelah diperoleh kesimpulan utama permasalahan pengelolaan sampah Kota


Padang yang dibandingkan dengan Kota Kitakyushu, maka dilakukan Analisis
SWOT dengan mempertimbangkan faktor internal dan faktor eksternal yang ada
pada Kota Padang serta hubungan dari kedua faktor. Batasan faktor internal
mencakup sistem pengelolaan sampah itu sendiri dan pihak pemerintah sebagai
pelaksana sistem. Sedangkan batasan Faktor eksternal diambil dari pihak-pihak di
luar faktor internal.

Analisis SWOT ini menghasilkan strategi-strategi pengelolaan sampah domestik


kota yang mengadopsi analisis komparatif. Strategi tersebut diturunkan menjadi
program teknis maupun non teknis yang menjadi masukan untuk Kota Padang.

3.3.5 Usulan Alternatif Skenario Pengelolaan Sampah Kota Padang

Hasil strategi dan program yang bersifat teknis pada Analisis SWOT digunakan
dalam penyusunan alternatif skenario pengembangan pengelolaan sampah
domestik Kota Padang. Alternatif tersebut disusun juga mempertimbangkan
peluang diaplikasikannya di Kota Padang (kemampuan Kota Padang). Alternatif
skenario disusun mulai dari sumber sampah hingga tempat pemrosesan akhir
sampah.

III-6
3.3.6 Analisis Skenario Terbaik

Skenario yang telah disusun harus dianalisis lagi kelayakan lingkungannya dengan
menggunakan metode LCA. LCA terdiri atas empat tahapan (ISO 14040) yaitu (1)
Goal and Scope Definition untuk menentukan tujuan studi, unit fungsional dan
batasan sistem; (2) Life Cycle Inventory (LCI) bertujuan untuk mengidentifikasi dan
mengkuantifikasi aliran bahan, energi dan emisi yang dilepaskan ke lingkungan; (3)
Life Cycle Impact Assessment (LCIA) untuk mengklasifikasikan kategori dampak
yang akan ditimbulkan dari masing-masing sistem; (4) Interpretation bertujuan
untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi informasi hasil dari LCI dan LCIA sesuai
dengan tujuan dan ruang lingkup yang telah ditentukan (Gunamantha dkk., 2010).

Analisis LCA ini menggunakan software GaBi. Software GaBi digunakan karena
kemudahannya dalam operasi dan termasuk software popular yang digunakan
banyak peneliti maupun industri di dunia. Berikut tahapan yang dilakukan dalam
pemilihan alternatif menggunakan metode LCA pada software GaBi:

3.3.6.1 Persiapan Software GaBi

GaBi dapat diajukan permohonan gratis selama tiga bulan untuk keperluan
penelitian (education). Berikut adalah tata cara mendapatkan software GaBi secara
gratis:
1. Mengunduh formulir pengajuan lisensi GaBi Education pada http://www.gabi-
software.com/software/gabi-universities/gabi-education-free/;
2. Mengisi pengajuan dan disahkan dengan stempel jurusan/fakultas/universitas;
3. Mengirimkan form pengajuan beserta lampiran pindaian kartu mahasiswa ke
email education@gabi-software.com
4. Menunggu konfirmasi selama maksimal 10 hari kerja.
5. Jika pengajuan diterima, maka perusahaan GaBi akan memberikan email balasan
yang berisi alamat unduhan software dan lisensi. Lisensi tersebut harus
digunakan sebelum tiga bulan setelah lisensi tersebut dikirimkan. Setelah
software aktif maka dapat digunakan selama satu tahun

Software GaBi yang telah diperoleh dapat di-install pada perangkat laptop maupun
computer, sehingga dapat digunakan dalam analisis LCA. Tampilan awal dari
software ini dapat dilihat pada Gambar 3.3.

III-7
Gambar 3.3 Tampilan Awal GaBi
Contoh tampilan jendela kerja pada software GaBi dapat dilihat pada Gambar 3.4.

Gambar 3.4 Tampilan Jendela Kerja

Software ini amat bergantung terhadap informasi alur yang dideskripsikan peneliti,
sehingga selain data parameter dan kuantitasnya yang dimasukkan sebagai data
input, juga informasi alur proses yang direncanakan. Data input dan output pada
software GaBi dapat dilihat pada Tabel 3.3.

III-8
Tabel 3.3 Aliran Input dan Output pada software GaBi

Input Output

1. Jumlah timbulan sampah 1. Global Warming Potential


2. Asidification Potential
2. Bentuk dan jumlah energi yang
dibutuhkan untuk mengolah sampah 3. Eutrophication Potential

3. Material lainnya yang mendukung proses


pengolahan (air, aktivator, katalisator,
dsb);
4. Informasi alur proses yang disusun.
5. Data inventori yang mendukung.

Jumlah timbulan data selanjutnya menjadi unit fungsional dari proses yang
dilakukan GaBi. Bentuk dan jumlah energi yang dibutuhkan pada proses GaBi
sangat penting dimasukan contohnya seperti penggunaan diesel pada proses
transportasi sampah. Begitu pula dengan material pendukung proses seperti air yang
digunakan pada proses pengomposan dan proses lainnya. Masing-masing proses
dibuatkan diagram prosesnya sehingga jelas hubungan dan keterkaitan antar proses
yang akan dinilai pada GaBi. Selanjutnya, jika ada data inventori lainnya yang
dibutuhkan dapat pula ditambahkan seperti proses yang tidak tersedia pada
database GaBi Education.

3.3.6.2 Analisis LCA

Analisis ini meliputi empat tahapan utama yang akan dipaparkan sebagai berikut:
1. Goal and Scope Definition

Tujuan studi didefinisikan dengan jelas beserta ruang lingkup dan batasan sistem
yang dianalisis melalui metode LCA. Unit fungsional yang digunakan ialah 1 ton
timbulan sampah. Unit fungsional ini digunakan sebagai standar dari segala proses
yang terjadi pada analisis ini.

2. Inventory Analisis

Tahapan ini dilakukan pengumpulan data-data yang dapat mendukung analisis LCA
yang kemudian disebut data inventori. Beberapa data inventori telah tersedia di
software GaBi, namun jika ingin menambahkan proses lain yang tidak tersedia

III-9
dapat menggunakan referensi data inventori yang telah dipaparkan pada tinjauan
pustaka.

Tahapan ini juga dimodelkan diagram proses yang digunakan pada analisis LCA.
Jika terdiri dari beberapa skenario, maka masing-masing skenario memiliki
diagram proses masing-masing. Setelah itu dapat dimasukkan data inventori yang
diperlukan dalam analisis dampak selanjutnya.

Metode penilaian dampak yang digunakan pada tugas akhir ini adalah metode CML
2001. CML dipilih karena merupakan metode penilaian dampak yang sederhana
dan tidak terlalu banyak dampak yang dikaji. CML ini melakukan penilaian dampak
dengan menggunakan pendekatan midpoint pada masing-masing skenario yang
akan dinilai. Oleh sebab itu, metode ini dipilih sebagai metode penilaian dampak
pada tugas akhir ini.

3. Impact Assessment

Penilaian dampak pada masing-masing skenario yang dimodelkan pada software


GaBi akan dihitung secara otomatis setelah dipilih metode CML 2001. Dampak
yang akan dikaji pada tugas akhir ini meliputi Global Warming Potential (GWP),
Acidification Potential (AP) dan Eutrophication Potential (EP). Ketiga kategori
dampak tersebut dipilih karena memiliki dampak yang paling terasa di lingkungan
dan paling banyak dipilih peneliti sebelumnya dalam analisis LCA.

Global warming potential menganalisis dampak yang dapat menimbulkan potensi


pemanasan global. Senyawa yang paling berkontribusi terhadap potensi pemanasan
global ini adalah CO2 (karbon dioksida) dan CH4 (metana). Global warming
potential ini dipaparkan dalam satuan kg CO2, sehingga senyawa lain yang bukan
CO2 namun memiliki kontribusi pada terjadinya pemanasan global diekuivalenkan
ke berat CO2.

Acidification potential menganalisis dampak yang dapat menimbulkan potensi


asidifikasi pada lingkungan. Senyawa yang paling berkontribusi terhadap potensi
asidifikasi ini adalah senyawa-senyawa asam seperti SOx, NOx, HF dan HCl.
Acidification potential ini dipaparkan dalam satuan kg SO2, sehingga senyawa lain
yang bukan SO2 namun memiliki kontribusi pada terjadinya asidifikasi
diekuivalenkan ke satuan massa SO2.

III-10
Eutrophication potential menganalisis dampak yang dapat menimbulkan potensi
eutrofikasi. Senyawa yang paling berkontribusi terhadap potensi eutrofikasi ini
adalah Nitrogen dan Fosfor. Eutrophication potential ini dipaparkan dalam satuan
kg PO43-, sehingga senyawa lain yang bukan PO43- namun memiliki kontribusi
pada terjadinya eutrofikasi diekuivalenkan ke berat PO43-.

Ketiga dampak tersebut dilakukan normalisasi dan juga pembobotan untuk memilih
skenario mana yang terbaik. Normalisasi dilakukan sebagai sarana penanggulangan
tidak konsistennya data inventori yang digunakan. Normalisasi ini dilakukan
dengan cara mengalikan hasil penilaian dampak dengan faktor normalisasi pada
Tabel 3.4.
Tabel 3.4 Faktor Normalisasi
Kategori Dampak Faktor
CML2001 - Apr. 2015, Acidification Potential (AP) 4,18E-12
CML2001 - Apr. 2015, Eutrophication Potential (EP) 6,32E-12
CML2001 - Apr. 2015, Global Warming Potential (GWP 100 years) 2,39E-14
Sumber: Gabi Education Database, 2018

Selanjutnya, pembobotan dilakukan dengan menggunakan data dari hasil


normalisasi karena hasil normalisasi tersebut telah memiliki satuan yang sama.
Pembobotan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh besaran masing-masing
dampak terhadap pengaruh besaran kategori dampak keseluruhan. Pembobotan ini
memberikan skor pada masing-masing skenario dengan cara mengalikan hasil
normalisasi dengan faktor pembobotan pada Tabel 3.5. Semakin baik skenario
maka bobotnya semakin kecil.
Tabel 3.5 Faktor Pembobotan
Kategori Dampak Faktor
CML2001 - Apr. 2015, Acidification Potential (AP) 6,1
CML2001 - Apr. 2015, Eutrophication Potential (EP) 6,6
CML2001 - Apr. 2015, Global Warming Potential (GWP 100 years) 9,3
Sumber: Gabi Education Database, 2018

Aliran energi juga dihitung pada tugas akhir ini sebagai pertimbangan tambahan.
Aliran energi dihitung secara manual dengan menggunakan data inventori yang
telah dikumpulkan. Aliran energi ini meliputi energi produksi dan energi konsumsi
dalam satuan kilowatt hour (kWh). Perhitungan aliran energi ini dilakukan dengan
mengalikan jumlah energi pada data inventori dengan jumlah sampah yang

III-11
dikelola. Hasilnya berupa energi bersih yang diperoleh dari selisih energi produksi
dengan energi konsumsi.

4. Interpretation

Pada tahap ini, disimpulkan dianalisis kontribusi dampak pada masing-masing


skenario dan diberikan rekomendasi untuk mengurangi dampak lingkungan yang
dihasilkan pada proses yang terjadi di skenario tersebut. Bagan alir dari tahapan
LCA yang diterapkan pada pemilihan skenario terbaik dapat dilihat pada Gambar
3.5.

Mulai

Goal and Scope Definition

Inventory Analysis

Impact Assessment

Interpretation

Selesai

Gambar 3.5 Bagan Alir Tahapan LCA

III-12
IV. BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Umum

Pada bab ini akan dibahas hasil analisis komparatif yang dilakukan terhadap kondisi
eksisting pengelolaan sampah domestik di Kota Kitakyushu dan Kota Padang.
Kondisi eksisting pengelolaan sampah domestik ini terdiri atas aspek teknis dan non
teknis. Aspek teknis yaitu pewadahan, pengumpulan, pengolahan, pengangkutan
dan pemrosesan akhir. Sedangkan aspek non teknis yang dianalisis meliputi peran
masyarakat, peran industri dan program minimasi sampah. Berdasarkan hasil
analisis komparatif ini disimpulkan kekurangan dari pengelolaan sampah domestik
Kota Padang dengan menyusun strategi menggunakan analisis strength, weakness,
opportunities, dan threats (SWOT). Strategi tersebut digunakan dalam penyusunan
program-program pengelolaan sampah domestik Kota Padang. Skenario
pengelolaan sampah domestik Kota Padang disusun berdasarkan strategi dan
program yang telah diusulkan. Kemudian kelayakan aplikasi skenario terhadap
lingkungan akan dianalisis menggunakan metodologi Life Cycle Assessment pada
software GaBi 5.

4.2 Kondisi Eksisting Pengelolaan Sampah Domestik

Berikut ialah kondisi eksisting pengelolaan sampah domestik Kota Kitakyushu dan
Kota Padang yang diperoleh dari data primer dan data sekunder.

4.2.1 Kondisi Eksisting Pengelolaan Sampah Domestik Kota Kitakyushu

Dalam sistem pengelolaan sampah kota, penting untuk mengetahui sumber, jenis
dan komposisi dari sampah kota yang akan diolah. Sumber sampah di Kota
Kitakyushu tidak hanya berasal dari kota ini sendiri melainkan juga berasal dari
kota-kota kecil yang bersebelahan dengan Kota Kitakyushu.

Tahun 2009, Kota Kitakyushu menghasilkan sampah kota rata-rata 370.000


ton/tahun. Tiga kota yang dilayani oleh sistem pengelolaan Kota Kitakyushu adalah
Nakama, Nougata dan Yukuhashi. Nakama dapat menghasilkan sampah kota rata-
rata 38.000 ton/tahun. Nougata menghasilkan sampah kota rata-rata 17.000

IV-1
ton/tahun. Sedangkan Yukuhashi menghasilkan sampah kota rata-rata 27.000
ton/tahun. Jumlah ketiga sampah yang dihasilkan kota-kota tersebut jauh lebih kecil
dibandingkan dengan sampah Kota Kitakyushu sendiri. Sehingga Kota Kitakyushu
mengelola sampah sebanyak rata-rata 452.000 ton tiap tahunnya (Rachman, 2017).

Jenis sampah yang dihasilkan biasanya adalah sampah dapur, kaleng, botol kaca,
botol plastik PET, plastik bungkus makanan, kertas, kardus, dan sampah lainnya
seperti tekstil, karet, kayu dan logam. Bagan tersebut menunjukkan bahwa sampah
rumah tangga memiliki komposisi terbanyak dibandingkan jenis sampah lainnya
yaitu berkisar rata-rata 45,30% dari keseluruhan sampah. 58% dari sampah yang
dihasilkan Kota Kitakyushu bersifat combustible atau mudah dibakar. Tahun 2009,
komposisi sampah Kota Kitakyushu dapat dilihat pada Gambar 4.1.

1,30%

5,80% Sampah Rumah Tangga

14,90% Sampah Lainnya

45,30% Sampah Kertas dan Kardus

Sampah Plastik Pembungkus


32,70%
Sampah Kaleng, Botol Kaca dan
Botol Plastik PET

Gambar 4.1 Persentase Komposisi Jenis Sampah Domestik Kota Kitakyushu


Sumber: Takeuchi, 2010

Kandungan air sampah adalah 25% dari total sampah, sedangkan sampah yang
bersifat incombustible atau tidak mudah dibakar sebesar 17%. Nilai kalor sampah
ini berkisar 2.700 kcal/kg. Karena nilai kalor yang memenuhi syarat untuk
insinerasi (minimal 2.000 kcal/kg), sehingga salah satu pengolahan yang digunakan
adalah insinerasi.

IV-2
4.2.1.1 Aspek Teknis

Aspek teknis yang dibahas meliputi pewadahan, pengumpulan, pengolahan,


pengangkutan dan pemrosesan akhir.

1. Pewadahan

Kota Kitakyushu melakukan pemilahan sampah dimulai dari sumber. Setiap


sumber sampah domestik (rumah masyarakat) terbagi atas empat jenis sampah yang
dipilah. Empat jenis sampah tersebut ialah:
1. Sampah rumah tangga;
2. Sampah kaleng dan botol;
3. Sampah botol plastik PET;
4. Sampah bungkus dan plastik makanan.

Keempat jenis sampah tersebut dikumpulkan ke dalam wadah menurut jenisnya


masing-masing. Wadah sampah yang digunakan di sumber ini berupa kantong
plastik dengan variasi ukuran dan warna. Kantong tersebut dapat diperoleh di
swalayan-swalayan yang ada di Kota Kitakyushu dengan harga yang juga bervariasi
tiap jenis kantong. Berikut adalah uraian kegiatan pewadahan dari masing-masing
jenis sampah tersebut:

a. Sampah Rumah Tangga

Sampah rumah tangga yang dimaksud adalah sampah hasil kegiatan rumah
tangga yang terdiri atas sampah dapur atau sampah sisa makanan, sampah
pakaian, sampah taman dan sampah tembikar/keramik. Sampah rumah tangga
ini dikumpulkan ke dalam kantong sampah dengan label berwarna biru. Contoh
sampah-sampah yang dapat dikumpulkan ke dalam kantong dengan label
berwarna biru dapat dilihat pada Gambar 4.2 hingga Gambar 4.5.

IV-3
Gambar 4.2 Contoh Sampah Dapur/Sisa Makanan
Sumber: Starr, 2008

Gambar 4.3 Contoh Sampah Pakaian


Sumber: Minimized, 2017

Gambar 4.4 Contoh Sampah Taman


Sumber: GuelphToday, 2016

IV-4
Gambar 4.5 Contoh Sampah Tembikar/Keramik
Sumber: EVAFotografie, 2013

Kantong sampah dengan label berwarna biru ini terdiri atas tiga varian ukuran yaitu
ukuran 45 liter, ukuran 30 liter dan ukuran 20 liter. Ukuran 45 liter dapat diperoleh
dengan harga 50 yen atau Rp. 6.000, ukuran 30 liter seharga 33 yen atau Rp. 4.000
dan ukuran 20 liter seharga 22 yen atau Rp. 2.500. Contoh kantong sampah dengan
label berwarna biru dapat dilihat pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6 Kantong Sampah Rumah Tangga


Sumber: Rachman, 2017

b. Sampah Kaleng dan Botol

Sampah kaleng dan botol dikumpulkan ke dalam satu jenis kantong. Kaleng
yang dimaksud adalah kaleng aluminium (biasa digunakan untuk minuman
kaleng, makanan kaleng, dan sebagainya). Sedangkan botol yang dimaksud
adalah botol aluminium dan juga botol kaca. Kantong sampah yang digunakan

IV-5
sebagai wadah sampah jenis ini adalah kantong sampah dengan label berwarna
cokelat. Jenis sampah yang dikumpulkan pada kantong ini dapat dilihat pada
Gambar 4.7 dan Gambar 4.8

Gambar 4.7 Sampah Kaleng Aluminium


Sumber: Gupta, 2016

Gambar 4.8 Sampah Botol Kaca


Sumber: Irish Waste, 2015

Kantong tersebut hanya tersedia ukuran 25 liter dengan harga satuan 12 yen atau
sekitar Rp. 1.500. Kaleng aluminium biasanya akan dikompaksi manual oleh
masyarakat sebelum dikumpulkan ke kantong. Contoh kantong sampah dengan
label berwarna cokelat dapat dilihat pada Gambar 4.9.

IV-6
Gambar 4.9 Kantong Sampah Kaleng dan Botol
Sumber: Rachman, 2017

c. Sampah Botol Plastik PET

Sampah botol plastik PET adalah semua botol plastik habis pakai dengan label
PET (Polyethylene terephthalate). Sampah botol plastik PET ini dikumpulkan
ke dalam kantong dengan label berwarna oranye. Sama seperti kantong sampah
dengan label berwarna cokelat, kantong dengan label berwarna oranye ini hanya
tersedia untuk ukuran 25 liter dengan harga 12 yen. Gambar botol plastik PET
yang dimaksud dapat dilihat pada Gambar 4.10.

Gambar 4.10 Sampah Botol Plastik PET


Sumber: Nissei, 2015

Botol plastik PET ini harus dipilah terdahulu sebelum dimasukkan ke dalam
kantong dengan label berwarna oranye. Biasanya bersama dengan botol plastik
ini ada label/merk yang harus dilepaskan dari botol dan botol harus dibuang
terlebih dahulu isinya (air dalam botol). Setelah itu, botol dapat dikompaksi

IV-7
manual oleh masyarakat dan dimasukkan ke dalam kantong dengan label
berwarna oranye seperti pada Gambar 4.11.

Gambar 4.11 Kantong Sampah Botol Plastik PET


Sumber: Rachman, 2017

d. Sampah Bungkus dan Plastik Makanan

Sampah bungkus dan plastik makanan ini juga banyak dihasilkan di sumber.
Sampah ini bisanya terdiri atas bungkus-bungkus makanan instan, plastik wadah
belanja, label/merk minuman kemasan dan sebagainya. Sampah jenis ini
dikumpulkan ke dalam kantong dengan label berwarna hijau. Gambar sampah
yang dimaksud dapat dilihat pada Gambar 4.12.

Gambar 4.12 Sampah Bungkus dan Plastik


Sumber: Rachman, 2017

Ukuran kantong sampah dengan label berwarna hijau ini terdiri atas dua varian
yaitu 45 liter dan 25 liter. Untuk kantong berukuran 45 liter dapat diperoleh

IV-8
dengan harga 20 yen atau Rp. 2.400 sedangkan untuk kantong berukuran 25 liter
dapat diperoleh dengan harga 12 yen. Gambar kantong sampah dengan label
berwarna hijau dapat dilihat pada Gambar 4.13.

Gambar 4.13 Kantong Sampah Bungkus dan Plastik Makanan


Sumber: Rachman, 2017

Kota Kitakyushu diidentifikasi memiliki pewadahan komunal. Pewadahan komunal


ini disebut juga sebagai titik/lokasi pengumpulan sampah yang akan dibahas di
subbab berikutnya. Wadah komunal yang tersedia yaitu berupa stasiun
pengumpulan sampah untuk keempat jenis sampah yang telah dijelaskan, kotak
pengumpulan sampah untuk sampah jenis karton, lampu, peralatan logam yang
kecil-kecil, minyak goreng bekas, tinta printer, baterai dan elektronik. Kotak
tersebut dapat terbuat dari kayu, karah maupun besi. Wadah komunal sampah jenis
kertas bekas berlokasi di pusat pendidikan kelurahan. Sedangkan sampah bulky
tidak memiliki pewadahan dan akan langsung dibawa ke tempat pengolahan.

2. Pengumpulan

Kota Kitakyushu mengatur jenis sampah yang dikumpulkan pada beberapa titik
pengumpulan. Titik pengumpulan ini terdiri atas tiga jenis yaitu stasiun
pengumpulan, kotak pengumpulan dan lokasi kelurahan yang dijadikan titik
pengumpulan seperti pusat pendidikan kelurahan.

Jenis sampah yang dikumpulkan di stasiun pengumpulan adalah jenis sampah yang
berwadah kantong sampah seperti yang dijelaskan pada subbab Pewadahan.

IV-9
Sampah tersebut terdiri atas sampah rumah tangga, sampah kaleng dan botol,
sampah botol plastik PET dan sampah bungkus dan plastik makanan.

Stasiun pengumpulan biasanya terletak di beberapa tempat yaitu di setiap


apartemen/asrama dan di pinggir jalan. Bentuknya bervariasi, mulai dari hanya
diberi label stasiun pengumpulan, diberi jaring-jaring, hingga dibuat terali besi.
Stasiun pengumpulan dapat dilihat pada Gambar 4.14 hingga Gambar 4.16.

Gambar 4.14 Stasiun Pengumpulan Sampah di Apartemen

Gambar 4.15 Stasiun Pengumpulan Sampah di Asrama Mahasiswa

IV-10
Gambar 4.16 Stasiun Pengumpulan Sampah di Sekitar Rumah Masyarakat
Sumber: Rachman, 2017

Satu stasiun pengumpulan sampah rumah tangga berada di setiap 10-15 rumah.
Sedangkan untuk ketiga jenis sampah lainnya, satu stasiun berada di setiap 40
rumah. Sehingga stasiun pengumpulan sampah rumah tangga lebih banyak
dibandingkan yang lainnya (Tabel 4.1). Hal tersebut disebabkan karena
kuantitasnya yang banyak dan karakteristiknya yang cepat membusuk.

Lokasi pengumpulan lainnya adalah kotak pengumpulan. Kotak pengumpulan ini


diperuntukan untuk jenis sampah karton, lampu, peralatan logam yang kecil-kecil,
minyak goreng bekas, tinta printer, elektronik, baterai dan sampah bahan berbahaya
dan beracun lainnya. Kotak pengumpulan ini biasanya terletak di depan swalayan
yang ada di Kota Kitakyushu. Armada pengumpulan akan menjemput sampah
tersebut dengan satu kali dalam sepekan. Gambar contoh kotak pengumpulan
sampah yang terdapat di Kota Kitakyushu dapat dilihat pada Gambar 4.17 dan
Gambar 4.18.

IV-11
Gambar 4.17 Kotak Pengumpulan Sampah Lampu

Gambar 4.18 Kotak Pengumpulan Sampah Kardus

Sampah jenis kertas bekas dikumpulkan di pusat pendidikan kelurahan. Sampah


kertas dapat berupa kertas tipis, tebal dan kardus. Sampah tersebut dikumpulkan
langsung oleh masyarakat. Setelah periode tertentu, armada pengumpulan akan
menjemput sampah tersebut dan dibawa ke lokasi pengolahan. Salah satu pusat
pendidikan kelurahan yang digunakan sebagai tempat pengumpulan sampah kertas
dapat dilihat pada Gambar 4.19.

IV-12
Gambar 4.19 Lokasi Pengumpulan Sampah Kertas
Sumber: Rachman, 2017

Sampah bulky tidak memiliki sistem pengumpulan yang berbeda. Sampah jenis ini
akan dikumpulkan jika ada permintaan oleh masyarakat. Jika ada salah seorang
masyarakat ingin membuang lemari misalnya, maka ia harus menghubungi armada
pengumpul untuk menjemput sampahnya tersebut. Pengumpulan dengan sistem ini
akan dikenai biayai sekitar 500 yen untuk tiap jenis sampah bulky yang dibuang.

Sampah-sampah tersebut dikumpulkan dengan pola komunal tak langsung, yaitu


masyarakat mengumpulkan terlebih dahulu sampah berdasarkan jadwal dan titik
pengumpulan yang telah ditetapkan, setelah itu armada pengumpulan akan
membawa sampah-sampah tersebut ke tempat pengolahan.

Jenis sampah yang dikumpulkan di stasiun pengumpulan maupun di kotak


penggumpulan, terdapat jadwal pengumpulan yang ditetapkan pemerintah Kota
Kitakyushu sehingga masyarakatnya dapat membuang sampah pada jadwal yang
telah ditentukan. Jumlah lokasi pengumpulan juga beragam jumlahnya bergantung
pada jenis sampah yang akan dibuang. Jadwal pengumpulan sampah beserta dengan
jumlah lokasi pengumpulan di Kota Kitakyushu dapat dilihat pada Tabel 4.1.

IV-13
Tabel 4.1 Jadwal dan Lokasi Pengumpulan Sampah Kota Kitakyushu
Jadwal Jam Lokasi
No. Jenis Sampah
Pengumpulan Pengumpulan** Pengumpulan
2 x sepekan 08.30 32.000 lokasi
1. Sampah Rumah Tangga
(Senin dan Kamis)
1 x sepekan 08.30 8.000 lokasi
2. Sampah Kaleng dan Botol
(Rabu)
3. 1 x sepekan 08.30 8.000 lokasi
Sampah Botol Plastik PET
(Rabu)
Sampah Bungkus dan 1 x sepekan 08.30 8.000 lokasi
4.
Plastik Makanan (Kondisional*)
- Rumah
5. Sampah Bulky Jika diminta
Masyarakat
6. Sampah Lainnya (logam 24 jam Halaman luar
yang kecil-kecil, minyak swalayan
goreng bekas, tinta printer, 1 x sepekan
elektronik, baterai dan (Kondisional*)
sampah bahan berbahaya
dan beracun)
Keterangan:
*Setiap skop daerah berbeda-beda harinya
**www.city.kitakyushu.lg.jp
Sumber: Takeuchi, 2010

3. Pengolahan

Kota Kitakyushu memiliki sistem pengolahan sampah yang terpadu. Semua jenis
sampah memiliki unit dan pabrik pengolahannya masing-masing. Selain itu, Kota
Kitakyushu juga memberikan fasilitas untuk para peneliti melakukan riset dengan
adanya Practical Research Area. Pengolahan sampah domestik yang dilakukan
Kota Kitayushu berada di lokasi insinerasi dan Eco-Town Center. Eco-Town Center
ini memiliki banyak sekali pabrik pengolahan. Diantaranya yaitu Can And Bottle
Recycling, Plastic PET Bottle Recycling, Plastic Container and Package Recycling,
Fluorescent Tube Recycling, Cooking Oil Recycling, Home Appliance Recycling,
dan Used Paper Recycling.

Berbeda jenis sampah akan berbeda perlakuan dalam pengolahannya. Pengolahan


sampah dilakukan di berbagai bangunan pengolahan yang mengolah sampah-
sampah rumah tangga. Berikut adalah uraian mengenai bangunan pengolahan
sampah yang dilakukan Kota Kitakyushu:

a. Bangunan Insinerasi

Sampah rumah tangga yang dikumpulkan dua kali seminggu akan dibawa ke
bangunan insinerasi yang ada di Kota Kitakyushu. Sampah tersebut disetorkan
oleh mobil pengumpul melalui platform yang telah disediakan. Sehingga sampah

IV-14
akan terkumpul di ruang pengumpulan sampah. Setelah itu sampah akan diolah
dengan proses kimia termal yaitu insinerasi dengan proses seperti Gambar 4.20.

Gambar 4.20 Proses Insinerasi Sampah Rumah Tangga


Sumber: Rachman, 2017

Hasil proses insinerasi ini terdiri atas dua, residu padat dan energi panas. Residu
padat akan dilakukan pemisahan antara residu yang akan diurug dengan residu
yang mengandung serbuk besi ataupun bijih logam. Dari keseluruhan sampah,
persentase serbuk besi ialah 10% dari sampah sedangkan bijih logam sekitar
1,5%. Serbuk besi akan digunakan kembali sebagai bahan baku campuran
pembuatan aspal. Sedangkan bijih logam akan ditransferkan ke pabrik
pengolahan logam lainnya sehingga dapat menjadi produk baru lagi setelah
dilakukan pengolahan.

Kota Kitakyushu memiliki tiga bangunan insinerasi yaitu Shinmoji Incineration,


Kagosaki Incineration, dan Hiagara Incineration. Ketiga bangunan tersebut
dapat dilihat pada Gambar 4.21 hingga Gambar 4.23.

IV-15
Gambar 4.21 Bangunan Insinerasi Shinmoji
Sumber: Rachman, 2017

Gambar 4.22 Bangunan Insinerasi Kagosaki


Sumber: Rachman, 2017

Gambar 4.23 Bangunan Insinerasi Hiagari


Sumber: Rachman, 2017

IV-16
Energi panas yang dihasilkan akan dimanfaatan sebagai pembangkit listrik di
Kota Kitakyushu bersama dengan sumber pembangkit listrik lainnya. Shinmoji
Incineration dapat menghasilkan listrik sebesar 23.500 Kilowatt, Kagosaki
Incineration menghasilkan 36.340 Kilowatt, sedangkan Hiagarai Incineration
hanya menghasilkan listrik sebesar 6.000 Kilowatt. 55% dari energi listrik
tersebut ditransferkan ke perusahaan listrik sedangkan 40% lainnya digunakan
untuk proses insinerasi itu sendiri. Sisa 5% biasanya digunakan untuk mengisi
energi mobil pengumpulan sampah.

b. Bangunan Pengolahan Kaleng dan Botol Kaca

Kaleng dan botol kaca diolah pada bangunan yang sama. Walaupun
pengumpulannya sama, kedua sampah kaleng dan botol ini memiliki perlakuan
yang berbeda dalam pengolahannya. Kaleng akan diberikan pengolahan pertama
yaitu dikompaksi menjadi balok-balok kaleng. Balok kaleng tersebut akan
ditransferkan ke pabrik pengolahan lainnya untuk dipanaskan lalu dijadikan
lembaran-lembaran aluminium yang akan dijadikan bahan baku pembuatan
produk lainnya. Begitu pula halnya dengan botol aluminium. Gambar
pengolahan sampah kaleng dapat dilihat pada Gambar 4.24 dan Gambar 4.25.

Gambar 4.24 Proses Kompaksi Sampah Kaleng


Sumber: Rachman, 2017

IV-17
Gambar 4.25 Hasil Kompaksi Sampah Kaleng (Balok-Balok Kaleng)
Sumber: Rachman, 2017

Pengolahan yang dilakukan untuk botol kaca adalah dihancurkan sesuai dengan
warna botolnya. Warna botol kaca di Kota Kitakyushu terbagi atas tiga warna
yaitu warna bening, cokelat dan hijau. Botol kaca yang telah dihancurkan sesuai
dengan warnanya tersebut akan diolah kembali menjadi botol kaca lagi di pabrik
pengolahan lainnya. Proses pengolahan sampah botol kaca dapat dilihat pada
Gambar 4.26.

Gambar 4.26 Alur Proses Pengolahan Botol Kaca

IV-18
Bangunan Pengolahan Kaleng dan Botol Kaca yang berada di Kota Kitakyushu
dapat dilihat pada Gambar 4.27.

Gambar 4.27 Bangunan Pengolahan Kaleng dan Botol Kaca


Sumber: Rachman, 2017

c. Bangunan Pengolahan Botol Plastik PET

Sampah yang masuk ke bangunan pengolahan akan dipilah terlebih dahulu. Tutup
dipisahkan dari botol, setelah itu botol ini akan dikompaksi terlebih dahulu di
Bangunan Pengolahan Botol Plastik PET. Sampah botol plastik PET ini akan akan
dipisahkan dari plastik labelnya melalui proses blowing udara. Prinsipnya seperti
separate cyclone. Plastik label yang berbahan ringan akan tersisihkan. Sehingga
botol bersih yang akan lanjut ke pengolahan selanjutnya. Proses kompaksi dapat
dilihat pada Gambar 4.28.

Gambar 4.28 Proses Kompaksi Botol Plastik PET


Sumber: Rachman, 2017

IV-19
Botol bersih tersebut direduksi ukurannya sehingga akan menghasilkan pellet dan
flakes. Kedua jenis hasil olahan tersebut akan diolah lagi di pabrik lainnya yang
akan menghasilkan benang fiber sehingga menjadi kain. Kain tersebut akan
dimanfaatkan dalam pembuatan pakaian seperti jas, celana, kemeja, rok, dasi dan
perlengkapan lainnya seperti topi, sepatu, tas serta bola. Selain menjadi kain, pellet
dan flakes tadi dapat dimanfaatkan sebagai campuran kayu dan dijadikan botol
plastik PET lagi. Hasil pengolaan botol plastik PET dapat dilihat pada Gambar
4.29 hingga Gambar 4.30.

Gambar 4.29 Hasil Pengolahan Botol Plastik PET menjadi Pellet dan Flakes

Gambar 4.30 Hasil Pengolahan Botol Plastik PET menjadi Produk Baru (1)

IV-20
Gambar 4.30 Hasil Pengolahan Botol Plastik PET menjadi Produk Baru (2)

d. Bangunan Pengolahan Sampah Pembungkus dan Plastik

Sampah bungkus dan plastik akan diberikan pengolahan pertama yaitu


dikompaksi menjadi balok-balok. Sebelumnya, dilakukan pemisahan terlebih
dahulu antara kantong sampah dengan sampah yang ditampung dengan
menggunakan bags tearing machine. Sampah tersebut selanjutnya akan
dikompaksi dengan menggunakan press machine sehingga menjadi balok-balok.
Balok-balok tersebut akan dicacah menjadi bentuk pellet. Setelah itu akan
dibawa ke pabrik pengolahan lainnya untuk dijadikan plastik baru lagi. Lokasi
pengolahan dan hasi pengolahan dapat dilihat pada Gambar 4.31 dan Gambar
4.32.

Gambar 4.31 Lokasi Pengolahan Sampah Bungkus dan Plastik


Sumber: Rachman, 2017

IV-21
Gambar 4.32 Balok-Balok Sampah Bungkus dan Plastik
Sumber: Rachman, 2017

e. Bangunan Pengolahan Sampah Lampu

Sampah lampu akan dipisahkan terlebih dahulu antara lampu yang berbentuk
tabung dengan lampu yang berbentuk sirkular. Setelah itu dilakukan pencacahan
pada masing-masing sampah lampu. Hasil cacahan tersebut dipisahkan bagian
kaca dan bagian cap-nya. Hasil pengolahan ini berupa cacahan kaca, cacahan
aluminium (pada cap), merkuri, dan juga fosfos. Hasil olahan tersebut dijadikan
bahan baku untuk pembuatan produk daur ulang seperti pelat ban mobil, gelas
kimia, semen bangunan, dan zat kimia merkuri. Bangunan pengolahan sampah
lampu dapat dilihat pada Gambar 4.33.

Gambar 4.33 Bangunan Pengolahan Sampah Lampu

IV-22
f. Bangunan Pengolahan Minyak Goreng Bekas

Minyak goreng bekas yang dihasilkan masyarakat akan diolah dan dijadikan
bahan baku produk lainnya. Biasanya hasil olahan minyak goreng bekas ini akan
digunakan sebagai bahan baku pembuatan material cat, campuran makanan
hewan dan lainnya. Bangunan pengolahan minyak goreng bekas dapat dilihat
pada Gambar 4.34.

Gambar 4.34 Bangunan Pengolahan Minyak Goreng Bekas

7. Bangunan Pengolahan Peralatan Rumah Tangga

Bangunan ini akan mengolah sampah baterai, sampah bahan berbahaya dan
beracun, sampah elektronik dan sampah peralatan rumah tangga lainnya. Sampah-
sampah tersebut akan dibawa ke bangunan pemilahan terlebih dahulu sebelum
dibawa ke bangunan pengolahan peralatan rumah tangga. Pengolahan yang
dilakukan di pabrik ini adalah penghancuran sampah menjadi bahan baku produk
lain misalnya serbuk atau bijih besi, aluminium, tembaga, plastik dan lainnya.
Bangunan pengolahan peralatan rumah tangga dapat dilihat pada Gambar 4.35.

IV-23
Gambar 4.35 Bangunan Pengolahan Peralatan Rumah Tangga

g. Bangunan Pengolahan Kertas Bekas

Sampah kertas akan didaur ulang di bangunan pengolahan kertas bekas. Kertas
tersebut disortir manual berdasarkan jenisnya. Setelah itu dikompaksi. Kertas
yang dikompaksi akan diolah menjadi tisu toilet, kertas daur ulang, bahan baku
campuran kayu dan sebagiannya akan dijadikan campuran pakan ternak
(livestock litter). Proses pengolahan dan hasil pengolahan dapat dilihat pada
Gambar 4.36 dan Gambar 4.37

Gambar 4.36 Proses Sortir Manual Sampah Kertas


Sumber: Rachman, 2017

IV-24
Gambar 4.37 Hasil Kompaksi Sampah Kertas
Sumber: Rachman, 2017

Selain pengolahan yang dilakukan oleh pabrik-pabrik tersebut, biasanya komunitas


masyarakat juga melakukan pengolahan yaitu pengomposan, pengolahan sampah
pohon, pengolahan sampah kertas dan pengolahan minyak goreng bekas.
Pengomposan yang dilakukan biasanya menggunakan metode takakura dengan
bahan bakunya adalah sampah dapur masyarakat. Pengolahan sampah pepohonan
biasanya akan dicacah dan sebagian dijadikan pupuk kompos dan sebagian lainnya
akan dibawa ke kandang ternak. Pengolahan sampah kertas biasanya dijadikan
produk-produk daur ulang seperti tas, origami dan lainnya. Pengolahan minyak
goreng bekas ini biasanya dijadikan sebagai sabun yang berasal dari minyak goreng
bekas.

4. Pengangkutan

Hasil pengolahan sampah takkan lepas dari residu. Residu tersebut meliputi residu
padat hasil insinerasi dan sampah-sampah yang tidak dapat didaur ulang
(persentasenya kecil). Residu tersebut akan diangkut ke lahan pemrosesan akhir di
Kota Kitakyushu. Alat angkut yang digunakan adalah Hauled Truck dapat dilihat
pada Gambar 3.8.

IV-25
Gambar 4.38 Hauled Truck
Sumber: Rachman, 2017

Kuantitas pengangkutannya sangat kecil jika dibandingkan dengan total sampah


yang dihasilkan Kota Kitakyushu dan kota kecil lainnya yang juga diolah di Kota
Kitakyushu. Hal tersebut karena memaksimalkan pengolahan sehingga dapat
mengurangi residu secara optimal. Residu itu akan diangkut ke Hibikinada Landfill.

5. Pemrosesan Akhir (Landfill)

Residu daur ulang dan sampah yang tidak dapat diolah akan diangkut ke lahan
pemrosesan akhir yaitu Hibikinada Landfill. Kota Kitakyushu tidak serta merta
hanya membuang residu tersebut lalu diurug. Namun, residu tersebut direklamasi
sehingga menjadi pulau baru dengan sebutan Hibikinada. Sistem landfill yang
digunakan di Hibikinada ini adalah jenis Sanitary Landfill. Gambar dari Hibikinada
Landfill dapat dilihat pada Gambar 4.39.

Gambar 4.39 Hibikinada Landfill (1)


Sumber: Rachman, 2017

IV-26
Gambar 4.39 Hibikinada Landfill (2)
Sumber: Rachman, 2017

Gambar 4.39 Hibikinada Landfill (3)


Sumber: Rachman, 2017

Pulau Hibikinada ini merupakan pulau yang direncanakan pemerintah Kota


Kitakyushu untuk berbagai hal seperti lokasi pengolahan sampah, lahan konservasi
buatan yang dilindungi dan lokasi industri. Luasnya saat ini mencapai 70 ha.
Landfill ini diperuntukkan sejak 1986 hingga 2022 kelak. Reklamasi yang
dilakukan sangat mempertimbangkan lingkungan sekitar. Struktur dari reklamasi
residu sampah dapat dilihat pada Gambar 4.40. Lahan reklamasi ini dilengkapi
dengan teknologi pembersihan air laut untuk kemungkinan air laut yang tetap bisa
lolos menuju residu meski telah diberi pondasi yang kokoh. Air laut terkontaminasi
akan diberi perlakuan sehingga dikeluarkan dalam kualitas yang tidak lagi
terkontaminasi.

IV-27
Gambar 4.40 Struktur Reklamasi Residu Sampah
Sumber: Rachman, 2017

Kondisi eksisting secara umum pengelolaan sampah domestik Kota Kitakyushu


dapat dilihat pada Gambar 4.41.

4.2.1.2 Aspek Non Teknis

Sistem pengelolaan sampah domestik tidak lepas dari peran aspek non teknis.
Aspek ini meliputi peran masyarakat, peran industri, dan program minimasi sampah
yang dilakukan. Masyarakat Kota Kitakyushu memiliki pemahaman yang baik
dalam pengelolaan sampah. Sebagian masyarakat bergabung dengan komunitas
peduli lingkungan yang secara berkala mengadakan aksi lingkungan di Kota
Kitakyuhsu.

Industri juga turut serta dalam pengelolaan sampah domestik di Kota Kitakyushu.
Industri diberi tanggung jawab oleh pemerintah untuk mengelola proses-proses
pengolahan yang dilakukan oleh Kota Kitakyushu. Pemerintah memberikan lahan
bagi industri untuk mendirikan sarana pengolahan yang dibutuhkan. Pusat
pengolahan sampah di Kota Kitakyushu terletak di Eco Town Centre.

Kota Kitakyushu juga menerapkan program minimasi sampah yang menarik. Selain
dengan cara menerapkan sistem kantong belanja berbayar, Kota Kitakyushu juga
menetapkan untuk penggunaan kantong sampah berbayar.

IV-28
Gambar 4.41 Skema Eksisting Pengelolaan Sampah Domestik Kota Kitakyushu

IV-29
Sehingga masyarakat yang menghasilkan banyak sampah akan mengeluarkan uang
banyak pula untuk membeli kantong sampah. Industri pun menerapkan produksi
yang ramah lingkungan. Produk-produk ramah lingkungan ini lebih diminati oleh
masyarakat dibandingkan dengan produk lainnya. Jika berbelanja, dengan membeli
produk merk yang sama dengan volume yang besar akan lebih murah dibandingkan
dengan produk dengan volume kecil.

4.2.2 Kondisi Eksisting Pengelolaan Sampah Domestik Kota Padang

Berdasarkan penelitian Hafizh (2016), Kota Padang memiliki timbulan sampah


domestik sebesar 190,69 ton/h atau 4.651,5 m3/h dengan satuan timbulan
sampahnya 0,201 kg/o/h atau 4,903 l/o/h. Sampah tersebut dikumpulkan dalam
bentuk sampah tercampur sehingga dalam pengolahannya akan menjadi sulit.

Komposisi dari sampah domestik Kota Padang dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Komposisi Sampah Domestik Kota Padang Tahun 2016

Komponen Sampah Komposisi (% berat total)


Organik
Sampah Makanan 67,25
Kertas 4,69
Plastik 16,17
Tekstil 1,35
Kulit 0,13
Karet 0,34
Sampah Halaman 1,61
Kayu 0,86
Total Organik 92,5
Anorganik
Kaca 1,18
Logam 0,69
Lain-lain 5,64
Total Anorganik 7,50
Sumber: Hafizh, 2017

4.2.2.1 Aspek Teknis

Aspek teknis yang dibahas meliputi pewadahan, pengumpulan, pengolahan,


pengangkutan dan pemrosesan akhir.

IV-30
1. Pewadahan

Pemilahan sampah di Kota Padang terdiri atas tiga jenis sampah yaitu sampah
organik, sampah anorganik dan sampah lainnya atau sampah B3.Beberapa lokasi
terdiri atas dua dan bahkan satu jenis. Bentuk wadah yang digunakan dibebaskan
pada masyarakat untuk wadah individual yang ditempatkan di masing-masing
rumah masyarakat, sedangkan wadah komunal biasanya berupa kontainer dan bin
sampah di pinggir jalan. Pemilahan sampah dengan wadah yang difasilitasi oleh
pemerintah dapat dilihat pada Gambar 4.42 dan Gambar 4.43

Gambar 4.42 Contoh Wadah Sampah Komunal Kota Padang 3 Jenis Pemilahan
Sumber: Tim Redaksi, 2018

Gambar 4.43 Contoh Wadah Sampah Komunal Kota Padang Sampah Tercampur

Meski telah ditetapkan kebijakan pemilahan sederhana oleh pemerintah, dalam


aplikasinya sampah yang dikumpulkan dan diangkut ke TPA dalam keadaan
tercampur. Sehingga fungsi pewadahan yang diharapkan tidak tercapai dengan
baik.

IV-31
Kondisi pewadahan yang ada pun tidak begitu baik (Gambar 4.44) dan jumlahnya
belum memenuhi kebutuhan timbulan masyarakat. Hal tersebut seringkali
mengakibatkan sampah bertumpuk hingga melebihi kapasitas pewadahan.
Pewadahan yang ada juga belum informatif, sehingga masyarakat sulit memahami
sampah mana yang harusnya dibuang di tempat sampah tersebut.

Gambar 4.44 Kondisi Pewadahan Sampah Kota Padang


Sumber: Andries, 2016

2. Pengumpulan

Pengumpulan yang dilakukan Kota Padang sama dengan pengangkutan secara


umum. Sampah dikumpul atau diangkut dari sumber menuju TPA tanpa adanya
pengolahan pendahuluan antara sumber dan TPA. Pengumpulan ini menggunakan
mobil truk dan juga gerobak motor dengan jadwal yang telah ditentukan namun
tidak berjalan dengan baik. Sampah yang dikumpulkan oleh Dinas Lingkungan
Hidup hanya 65% dari sampah yang dihasilkan masyarakat, sisanya tidak terkelola
melainkan dibuang ke sungai atau dibakar oleh masyarakat (Raharjo dkk, 2013).
Kadangkala, meski telah ada pemilahan yang dilakukan pada pewadahan, sistem
kumpul atau angkut yang dilakukan masih mencampur sampah yang telah dipilah,
sehingga tidak ada fungsi pemilahan yang direncanakan.

IV-32
3. Pengolahan

Fasilitas pengolahan telah tersedia di Kota Padang meliputi TPS3R, Bank Sampah
dan TPST. Namun pemanfaatan fasilitas pengolahan masih belum maksimal. Total
persentase pengolahan yang dilakukan ialah 5%, 2% pengomposan di TPST dan
3% daur ulang oleh sektor informal atau pemulung (Raharjo, 2013). Teknologi
pengolahan belum mendukung maksimalnya pengolahan yang dilakukan.
Teknologi yang dimiliki masih sederhana yaitu teknologi pengomposan dan
pencacahan. Hasil dari pengolahan ini berupa kompos dan beberapa sampah
bernilai ekonomis.

4. Pengangkutan

Sebagaimana pengumpulan, pengangkutan dapat didefinisikan sama dengan


pengangkutan karena sistem yang digunakan Kota Padang masih kumpul-angkut-
buang. Sampah yang telah dikumpulkan dibawa langsung ke TPA menggunakan
truk berjenis arm roll dan juga dump truk.

5. Pemrosesan Akhir

TPA di Kota Padang berjenis Controlled Landfill dengan beban pengurugan yang
besar berupa sampah tercampur kota. Sebelum diurug, sampah tersebut dilakukan
pengolahan sebesar 5% yaitu daur ulang yang dilakukan oleh pemulung dan
pengomposan yang dilakukan oleh petugas TPA. Lahan yang digunakan untuk TPA
adalah lahan yang luas pada daratan. Fasilitas pengolahan gas metan dan lindi tidak
berjalan dengan baik. Sehingga dampak yang dihasilkan dari proses pengurugan
masih menjadi potensi besar dalam pencemaran lingkungan.

Kondisi eksisting secara umum pengelolaan sampah domestik Kota Padang dapat
dilihat pada Gambar 4.45.

4.2.2.2 Aspek Non Teknis

Peran masyarakat dalam pengelolaan sampah Kota Padang tidak terlalu nampak,
bahkan masyarakat cenderung tidak tahu/ tidak peduli dengan kebijakan yang
ditetapkan pemerintah sehingga mereka terkesan tidak taat aturan. Akibat
pengetahuan masyarakat yang rendah tentang pentingnya pengelolaan sampah yang
baik, masyarakat tidak begitu peduli terhadap lingkungannya.

IV-33
Gambar 4.45 Skema Eksisting Pengelolaan Sampah Domestik Kota Padang

IV-34
Sebagian masyarakat masih membuang sampahnya dengan cara dibakar ataupun
dihanyutkan ke sungai. Hanya sebagian kecil dari masyarakat yang peduli dan aktif
dalam kegiatan lingkungan di sekitarnya.

Industri belum pernah dilibatkan secara langsung dalam pengelolaan sampah.


Sejauh ini industri hanya terlibat sebatas CSR dari pemerintah. Padahal industri
memiliki potensi yang besar terlibat dalam pengolahan sampah karena mereka
memiliki dana dan juga teknologi yang memadai dibandingkan dengan yang
pemerintah punyai. Industri masih saja menghasilkan produk-produk yang tidak
atau belum ramah terhadap lingkungan.

Program minimasi sampah telah dicanangkan oleh pemerintah dengan baik, hanya
saja dalam aplikasinya tidak. Banyak berdiri TPS3R dan Bank Sampah di Kota
Padang namun tidak dimaksimalkan fungsinya sebagaimana mestinya. Padahal
TPS3R dan Bank Sampah sangat berpotensi dalam pengurangan sampah yang
berakibat terhadap berkurangnya beban sampah yang akan diurug di landfill.

4.3 Analisis Komparatif Kondisi Eksisting Pengelolaan Sampah Kota


Kitakyushu dan Kota Padang

Berdasarkan pemaparan kondisi eksisting pada kedua kota, Kota Kitakyushu dan
Kota Padang, maka dibuatlah analisis komparatif pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Analisis Komparatif


Kota Kitakyushu Kota Padang
Aspek Teknis
Pewadahan
 Dibedakan berdasarkan jenis sampah dan  Dibedakan berdasarkan 3 jenis sampah
bentuk pengolahan
 Bentuk : pewadahan individual (kantong  Bentuk : pewadahan individual (terserah
sampah) pewadahan komunal (kotak/box masyarakat) pewadahan komunal
sampah, jaring sampah) (kontainer dan tempat sampah)
 Lokasi : pewadahan individual (rumah  Lokasi : pewadahan individual (rumah
masing-masing) pewadahan komunal masing-masing) pewadahan komunal (di
(halaman mall, swalayan, pinggir jalan pinggir jalan atau daerah yang mudah
atau di setiap sudut apartemen, di sebelah dijangkau masyarakat)
fending machine)
 Pemilahan Sampah: Wadah Individual  Pemilahan Sampah: Wadah Individual
(Sampah dapur, sampah botol plastik (sesuai keinginan pemilik wadah/tidak ada
PET, sampah kaleng dan botol kaca, pemilahan); Wadah Komunal (Kontainer
sampah bungkus dan plastik makanan); tidak terpilah, bin terbagi atas 3 pemilahan
Wadah Komunal (Sampah karton, yaitu sampah organik, sampah anorganik
lampu, peralatan logam yang kecil-kecil, dan sampah lainnya)
minyak goreng bekas, tinta printer,

IV-35
Tabel 4.3 Analisis Komparatif
Kota Kitakyushu Kota Padang
elektronik, baterai dan sampah bahan
berbahaya dan beracun lainnya)
 Jumlahnya mencukupi kebutuhan kota  Jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan
dengan kondisi baik kota dengan kondisi sebagian tidak baik
 Wadah informatif  Tidak informatif (keterangan jenis sampah
atau sampah yang bagaimana yang harus
dibuang disana)
 Terlaksana dengan baik  Tidak terlaksana
Pengumpulan (dari sumber ke pengolahan)
 Menggunakan mobil pengumpulan  Menggunakan mobil truk dan gerobak motor
tertutup dengan kompaktor
 Memiliki jadwal pengumpulan sesuai  Jadwal telah ada namun pengumpulan
jenis sampah tercampur meski sudah dipisahkan melalui
pewadahan
 Presentase pengumpulan sampah 100%  Presentase pengumpulan sampah 65%
 Rute pengumpulan: sumber ke bangunan  Rute pengumpulan: sumber ke TPA
pengolahan sampah
Pengolahan
 Pengolahan lengkap dan tuntas meliputi:  Pengolahan hanya pengomposan saja di
Daur Materi (Can And Bottle Recycling, TPA, didirikan TPS3R dan Bank Sampah
Plastic PET Bottle Recycling, Plastic namun sebagian saja yang aktif dikelola.
Container and Package Recycling,
Fluorescent Tube Recycling, Cooking Oil
Recycling, Home Appliance Recycling,
dan Used Paper Recycling); Daur Energi
(Insinerasi dilengkapi dengan flu gas
treatment)
 Persentase pengolahan 100% sampah  Persentase pengolahan 5%
diolah
 Teknologi pengolahan tersedia  Teknologi pengolahan tidak tersedia
 Menghasilkan sedikit residu dan banyak  Hanya menghasilkan kompos dan sisanya di
produk baru atau bahan baku baru urug
Pengangkutan (pengolahan ke TPA)
 Menggunakan mobil pengangkut  Menggunakan mobil pengangkut tercampur
 Residu yang diangkut berupa abu hasil  Residu yang diangkut berupa sampah dari
insinerasi sumber
 Rute pengangkutan: bangunan pengolahan  Rute pengangkutan: sumber ke TPA
ke TPA
Pemrosesan Akhir
 Jenis Landfill: Sanitary Landfill  Jenis Landfill: Controlled Landfill
 Residu diurug: abu hasil insinerasi  Residu diurug: sampah tanpa pengolahan
(sampah dari sumber)
 Lahan yang digunakan adalah pinggiran  Lahan yang digunakan daratan yang luas
laut sehingga membuat lahan/daratan baru
 TPA dilengkapi dengan pengolahan air  Pengolahan gas metan dan lindi tidak
laut sederhana jika air laut merembes ke berjalan dengan baik
lahan reklamasi
 Sampah masuk ke TPA 5% dari jumlah  Sampah diurug di TPA 60% sampah dari
sampah total karena ada pengolahan sumber yang dibawa ke TPA

IV-36
Tabel 4.3 Analisis Komparatif
Kota Kitakyushu Kota Padang
Aspek Non Teknis
Peran Masyarakat
 Berperan dan taat aturan  Tidak terlalu banyak peran, tidak tahu dan
tidak taat aturan
 Memiliki pengetahuan dan Peduli  Memiliki pengetahuan dan peduli
lingkungan yang besar lingkungan yang rendah
 Kebiasaan mengelola sampah baik  Kebiasaan mengelola sampah buruk
(minimasi dan pemilahan sampah) (Terbiasa membuang sampah di sungai atau
membakarnya)
 Hanya sebagian kecil yang menjadi aktivis
 Sebagian aktif menjadi aktivis lingkungan
lingkungan
Peran Industri
 Industri terlibat dalam pengolahan sampah  Industri tidak berperan dalam pengolahan
sampah, hanya pengadaan pewadahan saja
 Industri mendapatkan lahan dari  Pemerintah belum ada kerja sama dalam
pemerintah untuk membangun fasilitas pengolahan sampah
pengolahan sampah
 Industri menghasilkan produk-produk yang  Industri masih menghasilkan produk yang
ramah lingkungan (diminati oleh tidak ramah lingkungan dan tidak mengolah
masyarakat) limbahnya dengan baik
Program Minimasi Sampah
 Kantong sampah berbayar  Program 3R dan Bank Sampah/TPS3R
 Kantong belanja berbayar atau membawa namun tidak berjalan dengan baik
kantong belanja sendiri
 Harga produk volume kecil lebih mahal
dari pada produk volume besar

Berdasarkan hasil analisis komparatif tersebut, dapat disimpulkan bahwa


pengelolaan sampah di Kota Padang belum baik kualitasnya karena masih terdapat
sampah yang tak terkelola dan belum dilakukan pengolahan yang optimal seperti
yang dilakukan oleh Kota Kitakyushu. Sehingga, tujuan pengelolaan sampah yang
dilakukan yaitu meminimasi residu ke TPA tidak terlaksana dengan baik.

4.4 Analisis SWOT Pengelolaan Sampah Kota Padang

Dalam penyusunan strategi pengelolaan sampah Kota Padang, digunakan analisis


SWOT dengan mempertimbangkan faktor internal dan faktor eksternal serta
hubungan dari kedua faktor. Batasan faktor internal mencakup sistem pengelolaan
sampah itu sendiri dan pihak pemerintah sebagai pelaksana sistem. Sedangkan
batasan Faktor eksternal mencakup masyarakat, industri, sektor informal
(pemulung), perguruan tinggi, sister city, LSM yang bergerak di lingkungan serta
potensi pengoptimalan TPS3R dan Bank Sampah yang telah ada di Kota Padang.

IV-37
Pengusulan strategi ini juga mempertimbangkan kondisi terbaik pada analisis
komparatif yaitu kondisi Kota Kitakyushu sebagai acuan dalam pengelolaan
sampah Kota Padang.

Analisis SWOT yang dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pada analisis


komparatif dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Analisis SWOT


Kekuatan (Strength) Kelemahan (Weakness)

1. Pemerintah punya 1. Alokasi anggaran tahunan


kewenangan mengatur dan dan retribusi pengelolaan
menetapkan kebijakan ke sampah belum cukup untuk
pihak eksternal pemerintah mengelola sampah dengan
(masyarakat, Industri, LSM, baik
perguruan tinggi dll) 2. Kondisi sampah bercampur
2. Adanya penganggaran dari sumber - TPA
tahunan dan retribusi 3. Fasilitas pewadahan dalam
pengelolaan sampah kondisi tidak baik dan tidak
3. Adanya petunjuk teknis informatif
pengelolaan sampah yang 4. Pengumpulan sampah hanya
diharapkan di Indonesia yaitu 75% dan sampah langsung
Permen PU No.3 tahun 2013 dibawa ke TPA
4. Amanat UU No.18 tahun 5. Fasilitas pengumpulan masih
2008 mengangkut sampah
5. Adanya Perda Kota Padang bercampur
No.21 tahun 2012 yang 6. Proses pengolahan tidak
Eksternal Internal mengatur pengelolaan maksimal (hanya 5% sampah
sampah daerah Kota Padang dari sampah terkumpul)
6. Peraturan Presiden No. 97 7. Fasilitas pengolahan sampah
tahun 2017 (Jakstranas) (TPST, TPS3R, Bank
7. Peraturan Walikota tentang Sampah, Bangunan
Kebijakan Strategis Daerah Pengolahan) belum maksimal
(Jakstrada) Kota Padang 8. Sampah yang masuk ke TPA
tentang Target Pengurangan 70% dari 75% sampah
Sampah 30% dan terkumpul
Pengelolaan Sampah 70% 9. Sanksi dari pelanggaran
pada tahun 2025 aturan pengelolaan sampah
belum tegas
10. Kemampuan Tenaga
Pengelola belum baik
11. Belum ada peraturan sampah
B3 rumah tangga dan sampah
elektronik
Peluang (Opportunities) Strategi S-O Strategi W-O

1. Industri berpotensi untuk 1. Pemerintah membuat aturan 1. Pengadaan dan perbaikan


terlibat dalam pengelolaan pelibatan Industri, LSM dan fasilitas pewadahan,
sampah sektor informal dalam pengumpulan dan
2. Potensi SDM dari lulusan pengelolaan sampah pengangkutan dengan
Teknik Lingkungan 2. Pemerintah menjalin bekerjasama dengan Industri
3. Kerjasama Perguruan Tinggi kerjasama dengan Perguruan (CSR)
dalam bidang penelitian Tinggi 2. Merencanakan sistem
4. Kerjasama antar Kota (sister 3. Pemerintah bekerja sama pengumpulan terpisah dengan
city) dengan Sister City seperti penjadwalan
5. Potensi daur ulang sampah Kota Kitakyushu dalam alih 3. Penerapan teknologi
65,16% (Hafiz, 2017) teknologi pengolahan sampah pengolahan sampah seperti
6. Adanya LSM yang bergerak Kota Kitakyushu untuk
di bidang lingkungan

IV-38
7. Perkembangan Bank 4. Memaksimalkan fungsi Bank memaksimalkan potensi daur
Sampah dan TPS3R Sampah dan TPS3R dalam ulang sampah
8. Adanya sektor informal upaya pengurangan sampah 4. Peningkatan kapasitas Tenaga
(pemulung) Pengelola
Ancaman (Threats) Strategi S-T Strategi W-T

1. Pemahaman masyarakat 1. Peningkatan pelibatan 1. Penguatan Penegakan Hukum


yang rendah mengenai masyarakat melalui 2. Pemerintah membuat
pengelolaan sampah Komunikasi, Informasi, dan kebijakan terkait aturan
2. Masyarakat terbiasa Edukasi pengelolaan sampah B3 dan
membuang sampah ke Sampah Elektronik Rumah
sungai atau di bakar Tangga
3. Munculnya pencemaran
lainnya dan protes
masyarakat terhadap
pencemaran tersebut akibat
uji coba teknologi
pengolahan sampah yang
baru

Faktor internal ditelaah komponen kekuatan (strength) dan kelemahannya


(weakness). Faktor internal dalam hal ini pemerintah memiliki kekuatan yang
signifikan dalam penentuan kebijakan dan pemegang kekuasaan hukum. Namun,
dapat penerapannya, kebijakan yang dibuat belum terlaksana dengan baik seperti
yang terlihat pada kolom kelemahan tabel diatas.

Faktor eksternal ditelaah sebagai komponen peluang (opportunities) dan ancaman


(threats). Semua cakupan faktor ekstenal memiliki peluang yang sama dalam
strategi yang diberikan. Sedangkan ancaman secara umum datang lebih besar dari
masyarakat.

Dengan mempertimbangkan hubungan antara kedua faktor internal dan faktor


eksternal, maka dihasilkanlah strategi pengelolaan sampah yang dapat dilihat pada
tabel di atas. Strategi tersebut diturunkan untuk menghasilkan program-program
terkait yang mendukung terwujudnya strategi yang diusulkan. Program-program
yang diusulkan dapat dilihat pada Tabel 4.5 tersebut:

Tabel 4.5 Strategi dan Turunan Porgram

Strategi dan Program

1. Strategi S-O
1.1 Pemerintah membuat aturan pelibatan Industri, LSM dan sektor informal dalam
pengelolaan sampah
1.1.1 Membuat peraturan setiap Industri/Badan Usaha yang menghasilkan produk wajib
mengelola sampah dari produknya
1.1.2 Mewajibkan industri besar terlibat dalam pengolahan sampah kota bersama pemerintah

IV-39
Strategi dan Program

1.1.3 Pemerintah menyediakan lahan untuk didirikannya tempat pengolahan sampah (eco-
recycling centre)
1.1.4 Pemerintah melibatkan LSM dalam program pengelolaan sampah ke masyarakat
1.1.5 Pembinaan sektor informal (pemulung)
1.2 Pemerintah menjalin kerjasama dengan Perguruan Tinggi
1.2.1 Kerjasama dalam penelitian
1.2.2 Kerjasama dalam pendampingan pengelolaan sampah
1.2.3 Kerjasama dalam pendidikan lingkungan
1.3 Pemerintah bekerja sama dengan Sister City seperti Kota Kitakyushu dalam alih
teknologi pengolahan sampah
1.3.1 Daur Ulang
1.3.2 Pengomposan
1.3.3 Insinerasi
1.3.4 Landfill Gas (LFG)
1.3.5 Biodigester
1.4 Memaksimalkan fungsi Bank Sampah dan TPS3R dalam upaya pengurangan sampah
1.4.1 Memusatkan upaya pengurangan sampah pada Bank Sampah dan TPS3R
1.4.2 Meningkatkan sarana dan prasarana pada Bank Sampah dan TPS3R
1.4.3 Membuat Sistem Informasi terintegrasi mengenai pengelolaan sampah di setiap Bank
Sampah dan TPS3R
1.4.4 Menerapkan sistem insentif dan disinsentif untuk Bank Sampah dan TPS3R yang memiliki
kinerja yang baik dan yang kurang baik
2. Strategi W-O
2.1 Pengadaan dan perbaikan fasilitas pewadahan, pengumpulan dan pengangkutan
dengan bekerjasama dengan Industri (CSR)
2.1.1 Pewadahan dibagi atas tiga pemilahan: sampah anorganik (plastik, kertas, kaca dan logam);
sampah organik (sampah dapur dan halaman); sampah lainnya (tekstil, kulit, karet, kayu, lainnya)
2.1.2 Pewadahan dikondisikan dengan baik (tidak rusak, tidak dimasuki air hujan, tidak sulit
dijangkau)
2.1.3 Pewadahan memiliki informasi yang cukup dimengerti masyarakat (informatif)
2.1.4 Pengumpulan menggunakan mobil atau becak motor yang tertutup dengan rute sumber –
pengolahan
2.1.5 Pengangkutan menggunakan mobil yang tertutup dengan rute pengolahan - TPA
2.2 Merencanakan sistem pengumpulan terpisah dengan penjadwalan
Sampah Organik : Senin, Rabu, Jum’at, Minggu
Sampah Anorganik : Selasa, Sabtu
Sampah Lainnya : Kamis
Waktu Pengumpulan : 05.00 – 07.00 dan 19.00 – 21.00
2.3 Penerapan teknologi pengolahan sampah seperti Kota Kitakyushu untuk
memaksimalkan potensi daur ulang sampah
2.3.1 Daur Ulang
2.3.2 Pengomposan
2.3.3 Insinerasi
2.3.4 Landfill Gas (LFG)
2.3.5 Anaerobik Digester
2.4 Peningkatan kapasitas Tenaga Pengelola
2.4.1 Merekrut Tenaga Pengelola dari lulusan Teknik Lingkungan

IV-40
Strategi dan Program

2.4.2 Memberikan beasiswa kepada Tenaga Pengelola untuk studi banding ke Negara lain terkait
pengelolaan sampah
3. Strategi S-T
3.1 Peningkatan pelibatan masyarakat melalui Komunikasi, Informasi, dan Edukasi
3.1.1 Mengedukasi masyarakat melalui pendidikan ekstrakurikuler, perpustakaan berjalan,
pelatihan untuk PKK, kurikulum mata pelajaran, dan taman edukasi
3.1.2 Mengadakan workshop pengelolaan sampah paradigma baru lengkap dengan bahaya
kebiasaan masyarakat membakar dan membuang sampah ke sungai
3.1.3 Mengadakan sosialisasi penggunaan teknologi pengolahan sampah terbaru serta dampak
yang akan dirasa untuk tahap uji coba
3.1.4 Mengadakan perlombaan antar skop daerah mengenai pengelolaan sampah terbaik yang
dilakukan di daerah masing-masing
3.1.5 Mengadakan pameran atau peringatan acara lingkungan dengan mengenalkan dan
membudayakan hidup peduli lingkungan pada pameran tersebut
3.1.6 Memodelkan TPS3R dan Bank Sampah sebagai pusat pelibatan masyarakat dalam
pengelolaan sampah
3.1.7 Peningkatan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk membayar jasa layanan pengelolaan
sampah
4. Strategi W-T
4.1 Penguatan Penegakan Hukum
4.1.1 Peningkatan kapasitas aparat penegak hukum
4.1.2 Meningkatkan pengawasan terhadap ketaatan pelaksanaan pengelolaan sampah yang
diterapkan
4.2 Pemerintah membuat kebijakan terkait aturan pengelolaan sampah B3 dan Sampah
Elektronik Rumah Tangga

4.5 Penyusunan Skenario Pengelolaan Sampah

Skenario pengelolaan sampah disusun berdasarkan strategi dan program teknis


yang diusulkan pada subbab sebelumnya. Skenario ini disusun atas empat skenario,
yaitu skenario 0, skenario 1, skenario 2 dan skenario 3. Skenario 0 merupakan
skenario eksisting pengelolaan sampah Kota Padang. Sedangkan skenario 1 – 3
merupakan skenario yang diturunkan berdasarkan strategi dan program teknis yang
diusulkan pada subbab sebelumnya. Rekapitulasi skenario pengelolaan sampah
Kota Padang yang disusun dapat diliat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6 Skenario pengelolaan sampah Kota Padang yang disusun

Aspek Teknis Skenario 0 Skenario I Skenario 2 Skenario 3

Tidak ada Pewadahan dibagi atas tiga pemilahan:


pemilahan sampah 1. sampah daur ulang (plastik, kertas, kaca dan logam);
(sampah tercampur 2. sampah layak kompos (sampah dapur dan halaman);
Pemilahan/
3. sampah lainnya (tekstil, kulit, karet, kayu, lainnya)
Pewadahan
Keterangan Acuan:
Strategi 2.1, program 2.1.1 – 2.1.3

IV-41
Tabel 4.6 Skenario pengelolaan sampah Kota Padang yang disusun

Aspek Teknis Skenario 0 Skenario I Skenario 2 Skenario 3

Pengumpulan Pengumpulan menggunakan mobil truk (dump maupun armroll) atau


menggunakan becak motor dengan rute sumber – pengolahan
mobil truk (dump
maupun armroll)
Pengumpulan
dengan rute
sumber – tempat
pemrosesan akhir Keterangan Acuan:
(TPA) Strategi 2.1, program 2.1.4
Mengangkut Waktu Pengumpulan: 05.00 – 07.00 dan 19.00 – 21.00
timbulan sampah Jenis Sampah yang dikumpulkan:
tercampur setiap Senin: Sampah Layak Kompos
hari Selasa: Sampah Daur Ulang
Rabu: Sampah Layak Kompos
 Jadwal
Kamis: Sampah Lainnya
Pengumpulan
Jumat: Sampah Layak Kompos
Sabtu: Sampah Daur Ulang

Keterangan Acuan:
Strategi 2.2
Pengolahan hanya Pengolahan memanfaatkan fasilitas pengolahan sampah yang telah ada
dilakukan di TPA maupun yang berpotensi seperti TPST, TPS3R, Bank Sampah dan Industri
dengan persentase
Pengolahan rendah Keterangan Acuan:
Strategi 1.1, program 1.1.2 – 1.1.3
Strategi 1.3, program 1.3.1 – 1.3.5
Strategi 1.4, program 1.4.1 – 1.4.4
Daur ulang oleh
 Sampah
sektor informal Daur Ulang
Daur Ulang
(pemulung)
 Sampah Insinerasi Anaerobik Digester
Layak Pengomposan Pengomposan
Kompos Pengomposan
 Sampah
Tidak ada pengolahan (diurug di TPA)
Lainnya
Penngangkutan
menggunakan
mobil truk (dump
maupun armroll) Pengangkutan menggunakan mobil yang tertutup dengan rute pengolahan
Pengangkutan
dengan rute – TPA
sumber – tempat
pemrosesan akhir
(TPA)
Landfill (tanpa Landfill (dengan Landfill (tanpa Landfill (dengan
fasilitas Landfill fasilitas Landfill gas) fasilitas Landfill fasilitas Landfill gas)
gas) gas)
Pemrosesan
Keterangan Acuan: Keterangan Acuan:
Akhir
Strategi 1.3, program Strategi 1.3, program
1.3.4 1.3.4
Strategi 2.3, program Strategi 2.3, program
2.3.4 2.3.4

Skenario di atas disimulasikan di tahun 2023 (proyeksi 5 tahun ke depan) dengan


jumlah timbulan sampah yang digunakan adalah jumlah timbulan sampah pada
tahun 2023. Berikut ialah penjelasan dari masing-masing skenario beserta diagram
skema pengelolaan sampah domestik:

IV-42
4.5.1 Skenario 0

Pada skenario 0 (skenario eksisting), sampah yang dikumpulkan dalam bentuk


tercampur. Kondisi ini menyebabkan sulitnya pengelolaan dan pengolahan yang
akan dilakukan selanjutnya. Selain itu, persentase sampah tidak dikelola pun masih
cukup tinggi yaitu 35% dari total timbulan sampah kota. 35% sampah tersebut
biasanya diperlakukan warga dengan membakarnya atau membuangnya ke perairan
(sungai). Sisanya, 65% ditangani oleh pemerintah. Diagram skenario 0 dapat dilihat
pada Gambar 4.46.

Kondisi eksisting masih mengadopsi konsep kumpul-angkut-buang yaitu sampah


yang dihasilkan di sumber akan langsung dikumpulkan dan diangkut ke tempat
pemrosesan akhir (TPA). Ada pengolahan yang dilakukan pada skenario ini dengan
persentase pengolahan yang kecil. Pengomposan dilakukan 2% sedangkan daur
ulang oleh sektor informal (pemulung) sebesar 3%. Sedangkan 60% lainnya akan
diurug di Landfill beserta dengan residu dari pengomposan yang dilakukan.

4.5.2 Skenario 1

Pada skenario 1, sampah yang dikumpulkan dalam bentuk terpilah atas tiga jenis
yaitu sampah layak kompos, sampah daur ulang dan sampah lainnya. Kondisi ini
disusun agar memudahkan dalam pengelolaan dan pengolahan yang akan dilakukan
selanjutnya. Selain itu, persentase sampah tidak dikelola direduksi sebesar 2% per
tahun (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2018). Karena asumsi
perhitungan skenario ialah lima tahun ke depan (2023) maka total reduksi sampah
yaitu sebesar 10% dari kondisi eksisting yaitu menjadi 25% dari total timbulan
sampah kota. Sisanya, 75% dilakukan penanganan oleh pemerintah dengan
pelibatan sektor informal (pemulung) dan masyarakat. Diagram skenario 1 dapat
dilihat pada Gambar 4.47.

IV-43
Gambar 4.46 Diagram Skenario 0
Sumber: Raharjo dkk, 2013
Keterangan:
____________ Sampah Tercampur
____________ Sampah Layak Kompos
____________ Sampah Daur Ulang
________ Residu

IV-44
Gambar 4.47 Diagram Skenario 1
Keterangan:

____________ Sampah Tercampur


____________ Sampah Layak Kompos
____________ Sampah Daur Ulang
________ Residu

IV-45
Skenario 1 melakukan pengolahan sampah dengan pengomposan dan daur ulang.
Pengolahan sampah dilakukan di dua tempat yaitu pengomposan di TPS3R dan
daur ulang di TPS dan Bank Sampah. Pengomposan dan daur ulang diasumsikan
naik 0,14% per tahun (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2018).
Sehingga pada tahun 2023, persentase pengolahan naik hingga 1,4% pada masing-
masing tempat pengolahan sampah. Pengomposan pada TPS3R sebesar 3,4%
sedangkan daur ulang 4,4% pada Bank Sampah sebesar 1,4% dan sektor informal
3%. Sisanya (sampah yang tidak diolah), 67,2% sampah di urug pada landfill
(dengan fasilitas landfill gas recovery) beserta residu padat dari hasil pengolahan
sampah.

4.5.3 Skenario 2

Pada skenario 2, asumsi pengelolaan sampah yang diterapkan hampir sama dengan
skenario 1, hanya saja jika pada skenario 1 digunakan pengomposan dengan
persentase yang rendah untuk mengolah sampah layak kompos, maka di skenario 2
digunakan insinerasi untuk mengolah sampah tersebut dengan persen pengolahan
yang lebih tinggi tanpa melibatkan masyarakat dalam prosesnya. Diagram skenario
2 dapat dilihat pada Gambar 4.48.

Skenario 2 melakukan pengolahan sampah dengan insinerasi, pengomposan dan


daur ulang. Insinerasi dan pengomposan dilakukan di TPS3R dan daur ulang di TPS
dan Bank Sampah. Insinerasi diasumsikan dapat melayani 50% dari total sampah
layak kompos yang dikelola yaitu 25,8%. Hal ini disusun dengan pertimbangan
penerapan teknologi baru dalam kurun waktu pendek (5 tahun) belum dapat
berkinerja dengan optimal sehingga hanya dapat mengolah sampah 25,8%.

Pengomposan di TPS3R sebesar 2% sedangkan daur ulang 4,4% pada Bank


Sampah sebesar 1,4% dan sektor informal 3%. Sisanya (sampah yang tidak diolah),
42,8% sampah akan di urug pada landfill (tanpa fasilitas landfill gas recovery)
beserta residu padat dari hasil pengolahan sampah. Fasilitas landfill gas tidak
diterapkan dengan pertimbangan investasi yang cukup besar dengan digunakannya
insinerasi.

IV-46
4.5.4 Skenario 3

Pada skenario 3, asumsi pengelolaan sampah yang diterapkan hampir sama dengan
skenario 1, hanya saja pada skenario 3 digunakan Anaerobik Digester untuk
mengolah sampah tersebut. Diagram skenario 3 dapat dilihat pada Gambar 4.49.

Skenario 3 melakukan pengolahan sampah dengan anaerobik digester,


pengomposan, dan daur ulang. Anaerobik digester dan pengomposan dilakukan di
TPS3R sedangkan daur ulang di TPS dan Bank Sampah. Anaerobik digester pada
TPS3R sebesar 1,4% sedangkan pengomposan di 2%. Daur ulang sebesar 4,4%
pada Bank Sampah sebesar 1,4% dan sektor informal sebesar 3%. Sisanya (sampah
yang tidak diolah), 67,2% sampah akan di urug pada landfill (dengan fasilitas
landfill gas recovery) beserta residu padat dari hasil pengolahan sampah.

4.6 Analisis LCA Skenario Pengelolaan Sampah

Skenario 0 – 3 dinilai kelayakannya secara aspek lingkungan dengan menggunakan


metodologi LCA. Hasil dari penilaian ini diperoleh dari pengoperasian software
GaBi 5 dengan menginput nilai-nilai yang diperlukan pada software untuk diproses.

4.6.1 Goal and Scope Definition

Analisis ini bertujuan untuk menilai dan memilih skenario terbaik untuk diterapkan
di Kota Padang dengan menggunakan metode LCA. Skenario ini disusun mulai dari
sumber hingga pemrosesan akhir dengan memasukkan proses dan aliran yang
terjadi pada masing-masing sistem berdasarkan perjalanan sampah dari sumber
hingga di landfill.

IV-47
Pemulung

Gambar 4.48 Diagram Skenario 2


Keterangan:
____________ Sampah Tercampur
____________ Sampah Layak Kompos
____________ Sampah Daur Ulang
________ Residu

IV-48
Pemulung

Gambar 4.49 Diagram Skenario 3


Keterangan:
____________ Sampah Tercampur
____________ Sampah Layak Kompos
____________ Sampah Daur Ulang
________ Residu

IV-49
Analisis skenario ini dibatasi hanya sebatas sistem yang langsung dijalankan oleh
pemerintah yang melibatkan masyarakat dan sektor informal (pemulung) maupun
tidak, sedangkan sistem yang dilakukan oleh pihak industri terhadap hasil
pengolahan yang dilakukan, tidak dinilai pada analisis ini. Skenario yang dinilai
merupakan skenario yang dinilai pada tahun 2023 sehingga juga dilakukan proyeksi
timbulan sampah hingga tahun 2023. Analisis ini dibatasi pula hanya membahas
perjalanan dan perubahan dari sampah itu sendiri. Penggunaan jenis bahan dasar
dari alat maupun fasilitas pendukung tidak dinilai pada skenario ini.

Unit fungsional dari analisis ini adalah 1 ton timbulan sampah. Penilaian dilakukan
dengan membandingkan emisi yang dihasilkan pada setiap sistem, juga proses
sampah tereduksi dengan menerapkan teknologi sehingga total timbulan diurug
dapat diminimalisasi dan memiliki dampak lingkungan yang rendah.

4.6.2 Inventory Analysis

Timbulan sampah yang digunakan adalah 1 ton sampah. Timbulan sampah ini akan
menjadi input di setiap skenario yang disusun. Timbulan sampah tersebut memiliki
komposisi pada Tabel 4.7:

Tabel 4.7 Komposisi Sampah Domestik Kota Padang Tahun 2016

Komponen Sampah Komposisi (% berat total)


Organik
Sampah Makanan 67,25
Kertas 4,69
Plastik 16,17
Tekstil 1,35
Kulit 0,13
Karet 0,34
Sampah Halaman 1,61
Kayu 0,86
Total Organik 92,5
Anorganik
Kaca 1,18
Logam 0,69
Lain-lain 5,64
Total Anorganik 7,50
Sumber: Hafizh, 2017

Selain mengelompokkan sampah domestik Kota Padang menjadi sampah organik


dan anorganik, Hafizh (2017) juga mengelompokkan sampah tersebut menjadi

IV-50
sampah basah dan sampah kering. Sampah basah meliputi sampah makanan, kayu
dan sampah halaman. Sedangkan sampah kering meliputi semua sampah selain
sampah basah tersebut.

Sampah basah dan kering tersebut secara keseluruhan memiliki potensi daur ulang
sebesar 65,16%. Sampah basah memiliki potensi daur ulang 59,86% dengan potensi
daur ulang terbesar pada sampah makanan yaitu sebesar 58,18%. Sampah kering
memiliki potensi daur ulang yang relatif kecil yaitu 5,3% dengan potensi daur ulang
terbesar pada sampah plastik 1,67% (Hafizh, 2017).

Jarak tempuh yang digunakan pada masing-masing skenario diasumsikan sama.


Nilai jarak tersebut diadopsi dari penelitian Komala (2012) dengan jarak tempuh
terjauh yaitu 54 km. Data inventori yang mendukung lainnya diadopsi dari
Education Database (Gabi 5), Komilis (2004). Data inventori dapat dilihat pada
Tabel 4.8 dan Tabel 4.9.

Tabel 4.8 Data Inventori Dasar yang Digunakan pada Software GaBi
(time frame 2023)

Koefisien LCI Skenario 0 Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3


Unit Fungsional:
1
timbulan sampah (t)
Terpisah atas sampah layak kompos
(sampah makanan dan halaman), sampah
Kondisi Sampah Tercampur
layak daur ulang (plastik, kertas, kaca,
logam), sampah lainnya
Timbulan sampah dikelola
65,0 75,0
(% Timbulan sampah total)
Timbulan sampah tak terkelola
35,0 25,0
(% Timbulan sampah total)
Timbulan sampah didaur ulang
3,0 4,4
(% Timbulan sampah total)
Timbulan sampah dikompos
2,0 3,4 2
(% Timbulan sampah total)
Timbulan sampah didigestion
- - - 1,4
(% Timbulan sampah total)
Timbulan sampah diinsinerasi
- - 25,8 -
(% Timbulan sampah total)
Jarak tempuh pengumpulan (km)
(Rute : Sumber – TPS/TPS3R/ 27
Bank Sampah)
Alat pengumpulan Pick Up bahan bakar bensin
Konsumsi Energi Pengumpulan
433,33
(kWh)

IV-51
Koefisien LCI Skenario 0 Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3
Jarak tempuh pengangkutan (km)
27
(Rute: TPS – TPA)
Alat pengangkutan Truk bahan bakar solar
Konsumsi Energi Pengangkutan
171,43
(kWh)

Tabel 4.9 Data Inventori Konsumsi Energi dan Aliran Materi pada Pengolahan
Sampah Domestik yang digunakan pada software GaBi (time frame 2023)
Landfill
Landfill tanpa dengan
Anaerobik
Koefisien LCI Landfill Gas Pengomposan Insinerasi Landfill
Digester
Recovery Gas
Recovery
Total Konsumsi Energi (kWh/t) 3,82E+00 g 3,00E+01 b 1,73E+02 d 5,00E+01 b 2,46E+02 d
Kebutuhan Air (kg/t) 1,81E+02 e 4,25E+03 d 7,77E+02 b 1,76E+03 d
Emisis Udara (kg/t)
 PMtotal 6,0E−02 e
 NOx 2,9E−01 e 1,0E−05 b
 HC 1,87E−01 b 5,9E−02 e 2,3E−09 b 1,01E-04 d
 SOx 3,1E−01 e 2,5E−06 b
 CO 2,05E−01 b 1,2E−01 e 1,28E+00 d
 CO2 1,50E+02 b 4.2E+02 e 5,69E+02 d
4,4E−01 b 1,23E+02 d
 NH3 5,0E−01 e 1,71E−02 d 6,14E−04 d
 Pb 2,8E−09 e 6,01E−05 d 8,5E−013 b
 CH4 2,85E+02 b
2,3E−04 e 2,74E-01 d
 HCl 3,0E−07 e 1,1E−09 b

 Hg 1,16E−05 d 6,9E−015 b
 Zn 1,3E−011 b
 HF 3,3E−09 b
 Cd 4,89E−06 d 9,4E−013 b
 Cr 1,1E−013 b
 Panas (MJ) 2,03E+03 d
 Cl
 H2S 8,93E−05 b 1,62E−02 d 2,6E−06 d
 Co 7,74E−06 d
Emisi air (kg/t)
 Dissolved solids 2.6E−02 e
 Total suspended solids 2.4E−05 e
 BOD 7,3E+08 c 2.6E−05 e 1,9E−05 b 2,56E-03 d
 COD 1,9E+01 b 1.3E−04 e 7,3E−05 b 2,44E-05 d
 Minyak 3.3E−04 e
 H2SO4 2.5E−02 e
 Chlorin 5,9E−01 b 9,5E−02 b 9,5E−02 b 1,4E-010 d
 Fe 6.3E−03 e 2,3E−03 d
 NH3 2,1E−01 b 3.6E−06 e 2,9E−05 b 2,1E-012 d
 Cr 6.9E−09 e
 Pb 6,3E−05 b 3.8E−09 e 8,13E-06 d
 Zn 6,8E−04 b 5.7E−08 e 3,78E-05 d
 Ca 6,76E−02 d
 Hidrokarbon 2,18E−03 b
2,96E−03 d 5,28E-07 d
 Logam berat (lainya) 9,77E−02 b 4,89E−09 d 9,8E-012 d

IV-52
Landfill
Landfill tanpa dengan
Anaerobik
Koefisien LCI Landfill Gas Pengomposan Insinerasi Landfill
Digester
Recovery Gas
Recovery
Total Produksi Energi (kWh/t) - - 3,15E+02 d 1,60E+02 b 8,25E+01 d

Keterangan:
a
Mendes, 2004
b
White PR dan Franke M, 1995
c
Sundqvist JO, 1999
d
Gabi Education Database, 2018
e
Komilis DP, 2013
f
Levis, 2013
g
Nabavi-Pelesaraei dkk, 2017

IV-53
Berikut adalah penjelesan skenario yang diterapkan pada software GaBi 5:
Skenario 0 (lihat Gambar 4.50) diterapkan seperti kondisi yang telah dijelaskan
pada subbab sebelumnya yaitu kondisi eksisting dengan memasukkan data
inventori pada Tabel 4.8 dan Tabel 4.9.

Skenario 1 hingga 3 (lihat Gambar 4.51 – Gambar 4.53) diterapkan seperti kondisi
yang telah dijelaskan pada subbab sebelumnya. Pengumpulan dilakukan dengan
menggunakan pick up dan pengangkutan dilakukan menggunakan truk (lihat Tabel
4.8). Pengolahannya tetap berdasarkan persentase yang disusun pada subbab
sebelumnya.

4.6.3 Impact Assessment

Penilaian dampak lingkungan untuk masing-masing skenario menggunakan metode


CML (Institute of Enviromental Sciences, Leiden University) 2001. CML 2001
dipilih karena metode ini dapat dengan baik menilai dampak pada indikator
midpoint dengan mengaplikasikan standar ISO14040.

Adapun kriteria dampak yang dipilih melalui metode CML 2001 ialah global
warming potential (GWP), acidification potential dan eutrophication potential.
Tambahan penilaian terhadap skenario adalah konsumsi energi total dan energi total
yang dihasilkan pada masing-masing skenario.

IV-54
V. BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari tugas akhir ini yaitu:


1. Dari hasil analisis komparatif menunjukkan bahwa Kota Padang masih memiliki
banyak kekurangan dalam praktik pengelolaan sampah domestik dibandingkan
dengan Kota Kitakyushu;
2. Kota Padang dapat meningkatkan kualitas pengelolaan sampah domestik dengan
melibatkan potensi yang berasal dari faktor internal (sistem pengelolaan sampah
dan pemerintah) dan faktor eksternal (kerjasama dengan industri, perguruan
tinggi, sister city, LSM, sektor informal dan peningkatan kinerja fasilitas
pengolahan sampah yang telah ada);
3. Skenario disusun menjadi 4 skenario yaitu skenario 0 merupakan eksisting,
skenario 1 menerapkan teknologi pengomposan, skenario 2 menerapkan
teknologi insinerasi dan skenario 3 menerapkan teknologi anaerobik digester;

5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan ialah sebagai berikut:


1. Pemerintah dapat menerapkan skenario 1 sebagai alternatif pengelolaan sampah
domestik di Kota Padang karena telah dinilai layak melalui analisis LCA;
2. Diharapkan agar metode LCA ini dapat terus digunakan dan dikembangkan pada
program studi teknik lingkungan karena dapat menjadi pertimbangan dalam
penelitian maupun perancangan sistem yang akan dibuat.
DAFTAR PUSTAKA

360Recycling. (2015). Plasma Gasification. Diperoleh tanggal 5 Juli 2018 dari


www.360recyclinginc.com.
Andries, Rivo Septi. (2016). Tong Sampah Rusak. Diperoleh tanggal 7 April 2018
dari www.harianhaluan.com
Aziz, R., Febriardy. (2016). Analisis Sistem Pengelolaan Sampah Perkantoran Kota
Padang menggunakan Metode Life Cycle Assessment. Jurnal Teknik
Lingkungan Unand, 13(2), 60-67. DOI: https://doi.org/10.25077/dampak.
13.2.60-67.2016.
Badan Pusat Statistik. (2016). Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2016. Laporan
Tahunan. Badan Pusat Statistik Indonesia.
Badan Pusat Statistik. (2017). Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2017. Laporan
Tahunan. Badan Pusat Statistik Indonesia.
Badan Standardisasi Nasional. (1991). Standar Nasional Indonesia 19-2454-1991
tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan.
Badan Standardisasi Nasional. (1993). Standar Nasional Indonesia 04-1993-03
tentang Spesifikasi Timbulan Sampah.
Badan Standardisasi Nasional. (1995). Standar Nasional Indonesia 19-3964-1995
tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan
Komposisi Sampah Perkotaan.
Badan Standardisasi Nasional. (2002). Standar Nasional Indonesia 19-2545-2002
tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan.
Baguio. (2018). Food Waste. Diperoleh tanggal 5 Juli 2018 dari
www.baguio.com.hk.
Chompipat, Pattarait. (2016). 4 processes in Gasification. Education infographic
(Vector design). Diperoleh tanggal 5 Juli 2018 dari www.dreamstime.com.
Damanhuri, E., Padmi, T. (2010). Diktat Pengelolaan Sampah. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.
Damanhuri, E., Padmi, T. (2016). Pengelolaan Sampah Terpadu. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.
David, CW., Rodic, L., Scheinberg, A., Velis, C., Alabastrer, G. (2012).
Comparative Analysis of Solid Waste Management in 20 Cities. Inggris:
Imperial College.
Direktur Pengelolaan Sampah. (2018). Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengelolaan Sampah. Presentasi Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Republik Indonesia.
EMS. (2013). Optical Sorters OS120. Diperoleh tanggal 5 Juli 2018 dari
www.emswasterecycle.com.
En, Siau M. (2015). S’pore to Use Food Waste to Boost Energy Creation. Diperoleh
tanggal 5 Juli 2018 dari www.todayonline.com.
EVAFotografie. (2013). A Broken White Ceramic Plate on A Wooden Floor.
Diperoleh tanggal 7 April 2018 dari www.istockphoto.com.
Feo, G D., Malvano, C. (2009). The use of LCA in selecting the best MSW
management system. Italy: Elsevier.
GuelphToday. (2016). Bring on The Yard Waste. Diperoleh tanggal 7 April 2018
dari www.guelphtoday.com.
Gupta, Dipanwita. (2016). Malang Univ Students Awarded for Creating Deodorant
from Processed Aluminium Waste. Diperoleh tanggal 7 April 2018 dari
www.alcircle.com.
Hafizh, Muhammad. (2016). Studi Timbulan, Komposisi, Karakteristik, dan
Potensi Daur Ulang Sampah Domestik Kota Padang Tahun 2016. Tugas Akhir:
Sarjana. Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas.
IEA Bioenergy. (2013). Fossil vs Biogenic CO2 Emissions. Diperoleh tanggal 21
Juli 2018 dari www.ieabioenergy.com.
Irish Waste. (2015). Glass Recycling. Diperoleh tanggal 7 April 2018 dari
www.irishwaste.net.
Komala, Puti Sri, Aziz, Rizki, Ramadhani, Fitra. (2012). Analisis Produktivitas
Sistem Transportasi Sampah Kota Padang: Jurnal Teknik Lingkungan
UNAND 9 (2) : 95-109, ISSN 1829-6084.
Komilis, PD., Ham, Robert K. (2013). Life-Cycle Inventory of Municipal Solid
Waste and Yard Waste Windrow Composting in the United States:
Environmental Engineering, DOI: 10.1061/(ASCE)0733-9372(2004)130:11
(1390).
Levis, James W., Barlaz, Morton A. (2013). Anaerobic Digestion Process
Model Documentation. North California: North Carolina State University.
Levis, James W., Barlaz, Morton A. (2013). Composting Process Model
Documentation. North California: North Carolina State University.
Mendes, Mara R., Aramaki, Toshiya., Hanaki, Keisuke. (2004). Comparison of the
environmental impact of incineration and landfilling in São Paulo City as
determined by LCA. Resources, Conservation and Recycling 42, 47 – 63.
Menteri Negara Lingkungan Hidup. (2012). Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pedoman
Pelaksanaan Reduce, Reuse, Dan Recycle Melalui Bank Sampah.
Menteri Pekerjaan Umum. (2013). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3
Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan
dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah
Tangga.
Mian,MM., Zeng, X., Nasry, Allama ANB., Al-Hamdani, Sulala MZF. (2016).
Municipal solid waste management in China: a comparative analysis: Journal
of Material Cycles and Waste Management, DOI: 10.1007/s10163-016-0509-
9.
Minimized. (2017). Closet Cleanout 101: The Ultimate Guide to Finally Getting
That [Stuff] Organized. Diperoleh tanggal 7 April 2018 dari
www.getminimized.com.
Nabavi-Pelesaraei, Ashkan., Bayat, Reza., Hosseinzadeh-Bandbahfha, Homa.,
Afrasyabi, Hadi., Chau, Kwok-wing. (2017). Modelling of Energy
Consumption and Environmental Life Cycle Assessment for Incineration and
Landfill Systems of Municipal Solid Waste Management – A Case Study in
Tehran Metropolis of Iran. Journal of Cleaner Production 148, 427-440, DOI:
http://dx.doi.org/10.1016/j.jclepro.2017.01.172
Nizar, Chairil. (2015). Sistem Sanitary Landfill. Diperoleh tanggal 5 Juli 2018 dari
www.ilmusipil.com.
Nissei. (2015). PF8-4B. . Diperoleh tanggal 7 April 2018 dari www.nissei-
asbus.com.
NSF International. (1997). ISO 14040: Environmental Management – Life Cycle
Assessment Principles and Framework.
Nugroho, AJ. (2018). Babinsa di Garut Olah Sampah Organik Jadi Pupuk.
Diperoleh tanggal 20 Juli 2018 dari www.validnews.co.
Ouden, Adreas D. (2015). STW grant: recycling high-tech materials with magnetic
density separation. Diperoleh tanggal 5 Juli 2018 dari www.ru.nl.
PE International AG. (2012). GaBi 6 Manual Book. Jerman: ThinkStep.
Popita, G., Baciu, C., Frunzeti, N., Ionescu, Artur. (2017). Life Cycle Assessment
(LCA) of Municipal Solid Waste Management System in Cluj Country,
Romania. Romania: ResearchGate.
Presiden RI. (2008) Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sampah.
Presiden RI. (2012) Undang-Undang Nomor 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan
Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
Rachman, Indriyani. (2017). Presentasi Bagaimana Kitakyushu Mengelola
Sampah?. Kitakyushu: University of Kitakyushu.

V-3
Raharjo, Slamet., Matsumoto, Toru., Ihsan, Taufiq., Rachman, Indriyani., Gustin,
Luciana. (2013). Community-based Solid Waste Bank Program for Municipal
Solid Waste Management Improvement in Indonesia: a case study of Padang
City: Journal of Material Cycles and Waste Management.
Richard, Tom L. (2015). Municipal Solid Waste Composting: Physical Processing.
Diperoleh tanggal 5 Juli 2018 dari www. compost.css.cornell.edu.
Routio, P. (2007). Comparative Study. Finlandia: www2.uiah.fi/projekti/metodi
Sharma, BK., Chandel, MK. (2017). Life Cycle Assessment of Potential Municipal
Solid Waste Management Strategies for Mumbai, India. Mumbai: The Journal
of the International Solid Wastes and Public Cleansing Association, ISWA,
doi: 10.1177/0734242X16675683.
Starr. (2015). Obama Wants to Cut Food Waste in Half. Diperoleh tanggal 7 April
2018 dari www.grist.org.
Suez. (2018). Organic Matter Destruction Treatment Using Co-Incineration
Processes. Diperoleh tanggal 20 Juli 2018 dari www.suezwaterhandbook.com.
Sundqvist, Jan-Olov. (1999). Life cycles assessments and solid waste: Guidelines
for solid waste treatment and disposal in LCA. Final Report. Swedish
Environmental Protection Agency.
Takeuchi, Shinsuke. (2010). Presentasi Waste Management in Kitakyushu City.
Kitakyushu: Environment Bureau International Environment Strategies
Division.
Tim Redaksi. (2018). Bank Nagari Salurkan CSR 15 Tong Sampah dan 30 Pot
Bunga Percantik GOR H. Agussalim. Diperoleh tanggal 7 April 2018 dari
www.harianhaluan.com
Tchobanoglous, G., Theisen, H., Vigil, SA. (1993). Integrated Solid Waste
Management. United States: McGraww-Hill.
White, P.R., Franke, M., Hindle, P. (1995). Life Cycle Inventory: Integrated Solid
Waste Management. New York: An Aspen Publication.
Wulandari, Y. (2015). Studi Komparasi pengelolaan Sampah Rumah Tangga
Berbasis Masyarakat di Dusun Gondolayu Lor dan Karanganom. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada