Anda di halaman 1dari 7

ARTIKEL DIABETES MELITTUS

Disusun oleh :
SCHINTA DEWI RACHMATILLAH
1503277081

TINGKAT IV B

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKES MUHAMMADIYAH CIAMIS

Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 20 Tlp/Fax (0265) 773052 Ciamis 46216

2018/2019
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................................................................................................. 1
MASALAH ................................................................................................. Error! Bookmark not defined.
SKALA ......................................................................................................................................................... 4
DAMPAK SOSIAL ...................................................................................................................................... 5
SOLUSI ........................................................................................................................................................ 5
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................... 7
DIABETES MELITUS

MASALAH
Diabetes mellitus (DM) merupakan kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat
tubuh mengalami gangguan dalam mengontrol kadar gula darah. Gangguan tersebut dapat
disebabkan oleh sekresi hormon insulin tidak adekuat atau fungsi insulin terganggu (resistensi
insulin) atau justru gabungan dari keduanya. (Sri Anani*), Ari Udiyono**), 2012).
Diabetes melitus (DM) merupakan sebuah penyakit, di mana kondisi kadar glukosa di
dalam darah melebihi batas normal. Hal ini disebabkan karena tubuh tidak dapat melepaskan
atau menggunakan insulin secara adekuat. Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas
dan merupakan zat utama yang bertanggung jawab untuk mempertahankan kadar gula darah
dalam tubuh agar tetap dalam kondisi seimbang. Insulin berfungsi sebagai alat yang membantu
gula berpindah ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan
energy. Penyakit Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang mengalami
peningkatan terus menerus dari tahun ke tahun. Diabetes adalah penyakit metabolik yang
ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia) yang diakibatkan oleh gangguan
sekresi insulin, dan resistensi insulin atau keduanya. Hiperglikemia yang berlangsung lama
(kronik) pada Diabetes Melitus akan menyebabkan kerusakan gangguan fungsi, kegagalan
berbagai organ, terutama mata, organ, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah lainnya.
(Nurlaili Haida Kurnia Putri1, n.d.)
Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit kronik yang kompleks dan membutuhkan
pengobatan yang terkontrol untuk mencapai kadar gula darah yang stabil. Diabetes mellitus
merupakan suatu penyakit kronik yang dapat menimbulkan efek yang mendalam pada kualitas
hidup pasien baik aspek fisik, sosial, maupun psikologis. Pada penelitian jangka panjang
diketahui bahwa dampak psikososial dari diabetes merupakan satu dari lima prediktor terkuat
yang menyebabkan kematian pada pasien diabetes, lebih kuat daripada aspek klinis maupun
psikologis. (Faridah & Dewintasari, 2016)
Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit kronis yang menyebabkan tingginya
angka morbiditas dan mortalitas. Penyakit tersebut termasuk dalam gangguan metabolisme yang
mempengaruhi produksi energi di dalam sel. Diabetes mellitus ditandai dengan hilangnya
toleransi karbohidrat yang menyebabkan peningkatan kadar glukosa dalam darah atau
hiperglikemia. (Mhd. Zainuddin1, Wasisto Utomo2, 2015)

SKALA
Berdasarkan laporan statistic International Diabetes Federation (IDF) saat ini sudah ada
sekitar 230 juta penderita diabetes dengan angka kejadian naik 3 % atau 7 juta orang setiap
tahun. American Diabetes Association (ADA) melaporkan bahwa setiap 21 detik ada satu orang
yang terkena diabetes. Diperkirakan jumlahnya akan mencapai 350 juta pada tahun 2025, lebih
dari setengahnya berada di Asia, terutama di India, Cina, Pakistan dan Indonesia. Indonesia kini
telah menduduki rangking keempat jumlah penderita diabetes terbanyak setelah Amerika Serikat,
China dan India. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penderita diabetes
pada tahun 2003 sebanyak 13,7 juta orang dan berdasarkan pola pertumbuhan penduduk
diperkirakan pada tahun 2030 akan ada 20,1 juta penyandang diabetes. Begitu pula menurut
World Health Organizaition (WHO) memprediksi kenaikan penyandang diabetes di Indonesia
pada tahun 2030 akan mencapai sekitar 21,3 juta jiwa. Data yang diperoleh dari Dinas
Kesehatan Provinsi Riau (2012), menunjukkan bahwa angka kejadian penderita DM di
Pekanbaru berubah dan cenderung meningkat. Pada tahun 2010 terdapat 1.957 penderita DM dan
2011 terdapat 2.724 penderita DM di wilayah Kota Pekanbaru sedangkan jumlah penderita DM
pada tahun 2012 khusus RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau terdapat 189 pasien rawat inap dan
534 pasien rawat jalan dan pada tahun 2013 jumlah penderita DM untuk rawat inap mencapai
199 orang dan rawat jalan 566 orang. (Mhd. Zainuddin1, Wasisto Utomo2, 2015)
Diabetes Melitus pada tahun 2011 telah mencapai 366 juta orang. Jika tidak ada tindakan
yang dilakukam, jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 552 juta pada tahun 2030
(IDF, 2011). Diabetes mellitus telah menjadi penyebab dari 4,6 juta kematian. Selain itu
pengeluaran biaya kesehatan untuk Diabetes Mellitus telah mencapai 465 miliar USD.
memperkirakan bahwa sebanyak 183 juta orang tidak menyadari bahwa mereka mengidap DM.
Sebesar 80% orang dengan DM tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, Pada
tahun 2006, terdapat lebih dari 50 juta orang yang menderita DM di Asia Tenggara (IDF, 2009).
Jumlah penderita DM terbesar berusia antara 40-59 tahun. (Trisnawati & Setyorogo, 2013).
Berbagai penelitian epideomologi menunjukan adanya kecenderungan peningkatan angka
insidensi dan prevalensi DM tipe 2 di seluruh dunia, sekitar 90% kasus. Riset Kesehatan Dasar
melaporkan pada tahun 2013 terdapat 2,4% kejadian DM di Indonesia. Prevalensi berdasarkan
diabetes yang terdiagnosis, tertinggi terdapat di Yogyakarta (2,6%), Jakarta (2,5%), Sulawesi
Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi berdasarkan diabetes yang terdiagnosis
dokter atau gejala, tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi Utara (3,6%),
Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara Timur 3,3%.3. (Pandelaki, Supit, & 1Kandidat,
2015)

DAMPAK
Perubahan gaya hidup seperti diet dan kebiasaan olah raga yang salah merupakan
predisposisi terjadinya resistensi insulin. perubahan gaya hidup yang cenderung kurang aktivitas
fisik, diet tidak sehat dan tidak seimbang, mempunyai berat badan lebih (Obesitas), hipertensi,
hipercholes-terolemi, dan konsumsi alkohol serta konsumsi tembakau (merokok). (Anis
Prabowo, n.d.)
Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang,
disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan
pembuluh darah. (Amir, 2015)
Penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam
keluhan. Penyakit yang akan ditimbulkan antara lain gangguan penglihatan mata, katarak,
katarak, penyakit jantung, sakit ginjal, impotensi seksual, luka sulit sembuh dan
membusuk/gangren, infeksi paru- paru, gangguan pembuluh darah, stroke dan sebagainya. Tidak
jarang, penderita DM yang sudah parah menjalani amputasi anggota tubuh karena terjadi
pembusukan. Dan akan memberikan dampak terhadap kualitas sumber daya manusia dan
peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar, maka sangat diperlukan program pengendalian
DM. (Trisnawati & Setyorogo, 2013)

SOLUSI
Diharapkan dapat memberikan pelayanan asuhan keperawatan dan manajemen stres bagi
penderita diabetes mellitus, sehingga masalah-masalah psikososial seperti stres yang dapat
menyebabkan penurunan kualitas hidup pada penderita diabetes mellitus tipe 2 dapat
diminimalkan, agar penderita diabetes mellitus tetap memiliki hidup yang berkualitas. (Mhd.
Zainuddin1, Wasisto Utomo2, 2015)
Pasien DM diharapkan melakukan pemeriksaan rongga mulut dan control gula darah
HbA1c. Bagi rumah sakit diharapkan dapat memberlakukan pemeriksaan HbA1c, pada pasien
DM secara rutin atau kebijakan lainnya yang dapat membantu terkontrolnya tingkat HbA1c
pasien DM. Bagi tenaga medis diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pemeriksaaan
HbA1c sebagai upya pengendalian glikemik jangka panjang yang akurat dan merujuk ke
poliklinik gigi agar pasien dapat memeriksa kesehatan gigi dan mulutnya. (Pandelaki et al.,
2015)
Institus diharapkan dapat meningkatkan usaha untuk melakukan edukasi yang lebih
komprehensif kepada penderita DM terkait upaya pengendalian DM tersebut sehingga dapat
meningkatkan kontrol glukosa darah yang baik, dan diharapkan bahwa para penderita diabetes
dapat memotivasi diri untuk senantiasa menerapkan secara kontinyu dan menyeluruh tentang
pengendalian DM. (Sri Anani*), Ari Udiyono**), 2012)
Merekomendasikan untuk dilakukan skrining tentang depresi pada pasien DM dan
melibatkan keluarga merupakan hal yang penting dalam pemberian asuhan keperawatan
sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat mendiagnosa dan merawat pasien DM dengan
komprehensif yang hasil akhirnya akan meningkatkan kontrol gula darah (Atyanti & Saryono,
2010)
Seharus menjalankan terapi dietnya dengan baik agar kadar gula darahnya selalu
terkontrol dalam batas- batas normal, diberikan penyuluhan dan konseling gizi secara berkala
agar pasien mampu mengatur dengan baik asupan makanannya dirumah. (Usdeka Muliani, n.d.)
DAFTAR PUSTAKA

Amir, S. M. J. (2015). Kadar glukosa darah sewaktu pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 Di
Puskesmas Bahu Kota Manado, 3(April).
Anis Prabowo, W. H. (n.d.). Hubungan pendidikan dan dukungan keluarga dengan kepatuhan
diit penderita diabetes melitus di wilayah Puskesmas Plosorejo GIiribangun Matesih
Kabupaten Karanganyar.
Atyanti, I., & Saryono. (2010). Hubungan depresi dan dukungan keluarga terhadap kadar gula
darah pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Srangen, 5(1).
Faridah, I. N., & Dewintasari, V. (2016). Hubungan usia dan penyakit penyerta terhadap kualitas
hidup pasien Diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kota Gede 1 Yogyakarta, 123–126.
Mhd. Zainuddin1, Wasisto Utomo2, H. M. (2015). Hubungan stres dengan kualitas hidup
penderita Diabetes Melitus tipe 2 Mhd. Zainuddin 1 , Wasisto Utomo 2 , Herlina 3, 2(1),
890–898.
Nurlaili Haida Kurnia Putri1, M. A. I. (n.d.). Hubungan empat pilar pengendalian dm tipe 2
dengan rerata kadar gula darah, 234–243.
Pandelaki, 1Stephanie F. Emor 2Karel, Supit, 3Aurelia S. R., & 1Kandidat. (2015). Hubungan
status periodontal dan derajat regulasi gula darah pasien Diabetes Melitus DI, 3.
Sri Anani*), Ari Udiyono**), P. G. (2012). Hubungan Antara Perilaku Pengendalian Diabetes
dan Kadar Glukosa Darah Pasien Rawat Jalan Diabetes Melitus (Studi Kasus di RSUD
Arjawinangun Kabupaten Cirebon), 1(Dm).
Trisnawati, S. K., & Setyorogo, S. (2013). Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II Di
Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat Tahun 2012, 5(1), 6–11.
Usdeka Muliani. (n.d.). Asupan zat-zat gizi dan kadar gula darah penderita DM-Tipe 2 Di
Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK Provinsi Lampung, (4), 325–
332.