Anda di halaman 1dari 52

BAB 5

ANALISIS DATA

5.1 Data Penelitian


Data propertis material dan topografi lahan dalam penelitian ini merupakan data
sekunder yang diperoleh dari penelitian terdahulu oleh Sarita, 2013. Selain itu,
untuk melengkapi data yang ada, dilakukan pengujian hand boring di tiga titik
yang berada di dekat dinding-dinding penahan tanah beserta pengujian
laboratorium dari ketiga sampel yang diperoleh tersebut.

5.1.1 Data pengujian tanah dan batuan


Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa data sekunder yang diperoleh dari
penelitian terdahulu berupa data pengujian lapangan dan laboratorium yang
dilakukan pada bulan Juli, 2011. Data sekunder ini kemudian digunakan sebagai
data input untuk pemodelan lereng Plaza Andrawina.

Penelitian ini akan memfokuskan studi mengenai deformasi dan displacement


dinding-dinding penahan tanah bawah Plaza Andrawina. Oleh karena itu, data
propertis tanah yang berada di depan dinding-dinding penahan tanah yang ditinjau
harus didetailkan sehingga perlu untuk dilakukan pengujian hand boring untuk
melengkapi data yang telah ada sebelumnya. Adapun rangkuman data hasil
pengujian laboratorium dari sampel-sampel tanah uji hand boring tersebut
ditampilkan dalam Tabel 5.1 berikut ini.

41
Tabel 5.1 Rangkuman data hasil pengujian laboratorium uji hand boring

Sampel Sampel Sampel


No. Pengujian
BH-4 BH-5 BH-6
1. Berat Jenis, Gs 2,69 2,63 2,65
2. Kadar Air, w (%) 40,36 39,62 37,66
3. Berat Volume Basah, γb (gr/cm3) 1,81 1,80 1,68
4. Berat Volume Kering, γd (gr/cm3) 1,29 1,22 1,22
5. Analisa Ukuran Butiran
(%) Gravel 3,17 - 1,25
(%) Pasir 53,01 51,29 58,94
(%) Lanau/Lempung 43,82 48,71 39,81
6. Uji Geser Langsung
Sudut gesek dalam, φ (..ᵒ) 49,39 44,62 31,36
Kohesi, c (kg/cm2) 0,095 0,0156 0,15
7. Kedalaman pengambilan sampel (m) 0,5 – 1,5 0,5 – 1,5 0,5 – 1,5

5.1.2 Data topografi


Data topografi yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder dari
penelitian sebelumnya. Dalam penelitian ini, ditinjau salah satu potongan
melintang (Potongan B-B) yang dianggap mewakili seluruh perilaku lereng dan
dinding-dinding penahan tanah yang ada di wilayah tersebut.

5.2 Analisis Dimensi Dinding Penahan Tanah


Dinding penahan tanah yang ditinjau termasuk jenis dinding penahan tanah
gravitasi karena bahan dasar penyusunnya berupa pasangan batu tanpa
menggunakan perkuatan tambahan. Oleh karena itu, dimensi eksisting dinding
penahan tanah yang ditinjau dapat dibandingkan dengan rekomendasi desain
dinding gravitasi oleh Bowles, 1971. Perbandingan antara desain eksisting
dinding-dinding penahan tanah yang ditinjau dengan rekomendasi desain
berdasarkan Bowles, 1971 dapat dilihat pada Tabel 5.2.

42
43

Tabel 5.2 Perbandingan desain eksisting dengan persyaratan Bowles, 1971

Rekomendasi
Dinding Bagian Dimensi
dimensi berdasarkan
No. Penahan yang eksisting Ket.
Bowles, 1971
Tanah ditinjau (meter)
(meter)
Tinggi, H 3,98
Lebar atas,
0,5 Min. 0,305 Sesuai
Dinding A
1. Penahan Lebar Tidak
1,24 1,990 – 2,786
Tanah 5 bawah, B sesuai
Tinggi
1 Min. 0,498 – 0,663 Sesuai
tertanam, D
Tinggi, H 4,01
Lebar atas,
0,5 Min. 0,305 Sesuai
Dinding A
2. Penahan Lebar Tidak
0,95 2,005 – 2,807
Tanah 6 bawah, B sesuai
Tinggi
1 Min. 0,501 – 0,668 Sesuai
tertanam, D
Tinggi, H 2,59
Lebar atas,
0,5 Min. 0,305 Sesuai
Dinding A
3. Penahan Lebar Tidak
1,10 1,295 – 1,813
Tanah 7 bawah, B sesuai
Tinggi
0,75 Min. 0,324 – 0,432 Sesuai
tertanam, D
Tinggi, H 9
Lebar atas,
0,5 Min. 0,305 Sesuai
Dinding A
4. Penahan Lebar Tidak
1,5 4,5 – 6,3
Tanah 8 bawah, B sesuai
Tinggi
1 Min. 1,125 – 1,5 Sesuai
tertanam, D

Dari tabel di atas, dapat terlihat bahwa dimensi lebar atas dan tinggi tertanam dari
setiap dinding penahan tanah yang ditinjau sesuai dengan rekomendasi desain
dinding penahan tanah menurut Bowles, 1971. Namun, dimensi lebar bawah dari
setiap dinding penahan tanah tersebut belum sesuai dengan rekomendasi dimensi
44

menurut Bowles, 1971. Oleh karena itu, diperlukan suatu analisis untuk
mengetahui nilai stabilitas dinding penahan tanah yang ditinjau terhadap gaya-
gaya luar yang bekerja untuk mengetahui kemampuan dinding penahan tanah
eksisting dalam menahan beban yang bekerja.

5.3 Analisis Gaya-gaya Dinding Penahan Tanah


Analisis gaya-gaya dinding penahan tanah yang ditinjau meliputi gaya vertikal,
gaya tanah lateral, dan momen gaya-gaya yang bekerja pada dinding penahan
tanah yang ditinjau.

5.3.1 Hitungan gaya vertikal


Hitungan gaya vertikal meliputi berat struktur dinding penahan tanah, gaya
vertikal akibat beban di atas (pagar atau taman), dan tanah yang berada di atas
dinding penahan tanah tersebut.

Untuk menghitung besarnya gaya vertikal, digunakan rumus sebagai berikut.


Gaya vertikal (W) = Volume(V) x Berat volume (γ) (5. 1)
Dengan:
Volume adalah besarnya volume tanah atau pasangan batu yang ditinjau (m3).
Berat Volume adalah besarnya berat volume tanah atau pasangan batu yang
ditinjau (kN/m3).

Untuk menghitung gaya vertikal total, digunakan rumus persamaan berikut ini.
Wtotal = WDPT + Q (5. 2)
Dengan:
Wtotal adalah gaya vertikal total yang bekerja (kN).
WDPT adalah gaya vertikal struktur dinding penahan tanah saja (kN).
Q adalah gaya luar yang bekerja di atas dinding (kN).

Berdasarkan bentuk struktur setiap dinding penahan tanah yang ditinjau, gaya
vertikal struktur dinding pasangan batu saja dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut (ditinjau 1 meter tegak lurus gambar).
45

WDPT = (𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐼 + 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐼𝐼 + 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐼𝐼𝐼) × 𝛾𝑝𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑡𝑢 × 1𝑚 (5. 3)


WDPT = �(𝐻 × 𝐴) + �0,5 × (𝐵 − 𝐴) × (𝐻 − 𝐷)�
(5. 4)
+ �(𝐵 − 𝐴) × 𝐷�� × 𝛾𝑝𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑡𝑢 × 1𝑚
Dengan:
H adalah tinggi dinding penahan tanah (m).
A adalah lebar atas dinding penahan tanah (m).
B adalah lebar bawah dinding penahan tanah (m).
D adalah tinggi tertanam dinding penahan tanah (m).
γpas batu adalah berat volume pasangan batu (kN/m3).
A

H
I
II

III D

Gambar 5.1 Bentuk struktur dinding penahan tanah

Untuk gaya vertikal tambahan seperti pagar atau taman yang berada di atas
dinding penahan tanah, disesuaikan dengan ketersediaan beban tambahan tersebut
di atas dinding penahan tanah yang ditinjau. Besarnya beban tersebut berdasarkan
data penelitian sebelumnya.
46

Contoh perhitungan untuk menentukan besarnya gaya vertikal yang bekerja pada
dinding penahan tanah 5 adalah sebagai berikut.
Data-data dimensi dinding penahan tanah 5 adalah
H = 4,98 m.
A = 0,5 m.
B = 1,24 m.
D = 1 m.
γpas batu = 22 kN/m3.

Gaya vertikal struktur dinding penahan tanah dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut.
WDPT = (𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐼 + 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐼𝐼 + 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐼𝐼𝐼) × 𝛾𝑝𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑡𝑢 × 1𝑚
WDPT = �(4,98 × 0,5) + �0,5 × (1,24 − 0,5) × (4,98 − 1)�
+ �(1,24 − 0,5) × 1�� × 22 × 1𝑚
WDPT = 79,2 𝑘𝑁
47

Dinding Penahan Tanah 5 Dinding Penahan Tanah 6 Dinding Penahan Tanah 7 Dinding Penahan Tanah 8

Gambar 5.2 Dimensi Dinding-Dinding Penahan Tanah yang ditinjau (satuan dalam meter)
48

Gaya vertikal dari beban pagar beton direpresentasikan sebagai beban lajur dengan
nilai Q sebesar 3,3 kN.

Besarnya beban vertikal total untuk dinding penahan tanah 5 adalah

Wtotal = WDPT + Q

Wtotal = 79,2 + 3,3 = 82,92 𝑘𝑁

Dengan menggunakan perhitungan yang sama, gaya vertikal pada dinding penahan
tanah 6, 7, dan 8 dapat dilihat pada Tabel 5.3 berikut ini.

Tabel 5.3 Hasil hitungan gaya vertikal setiap dinding penahan tanah

WDPT Q Wtotal
No. Struktur yang ditinjau
(kN) (kN) (kN)
1. Dinding Penahan Tanah 5 79,20 3,30 82,92
2. Dinding Penahan Tanah 6 69,96 0 72,06
3. Dinding Penahan Tanah 7 53,24 2,20 56,70
4. Dinding Penahan Tanah 8 209 3,85 212,85

5.3.2 Hitungan gaya lateral


Untuk menghitung gaya lateral dari tanah yang ada di sekitar struktur dinding
penahan tanah, terlebih dahulu perlu diperhitungkan besarnya tekanan lateral akibat
tanah tersebut, baik yang bersifat aktif maupun pasif. Salah satu langkah untuk
menganalisis tekanan lateral adalah menghitung koefisien tekanan tanah aktif dan
pasif dari setiap lapisan tanah yang ada di sekitar struktur dinding penahan tanah
yang ditinjau. Karena kondisi permukaan lapisan tanah yang ada di sekitar struktur
dinding penahan tanah yang ditinjau membentuk kemiringan dengan sudut tertentu,
maka rumus yang digunakan untuk menghitung koefisien tekanan tanah aktif dan
pasif menurut teori Rankine ditampilkan dalam Persamaan (3.6) dan (3.9)
Setelah menentukan koefisien tekanan tanah lateral, maka besarnya tekanan lapisan
tanah dapat ditentukan. Untuk tanah yang memiliki kohesivitas tanpa tekanan
49

hidrostatis, besarnya tekanan lateral dapat dihitung dengan Persamaan (3.10) dan
(3.11).
Gaya lateral tanah dapat dihitung berdasarkan luas diagram tekanan yang dibentuk
oleh lapisan tanah yang ditinjau dengan titik tangkap gaya berada di titik berat
diagram tekanan dan membentuk sudut β sesuai permukaan lapisan tanah. Untuk
dinding penahan tanah setinggi H dan memiliki kohesivitas, gaya lateral lapisan
tanah dapat dihitung berdasarkan Persamaan (3.12) dan (3.13).
Contoh perhitungan gaya-gaya lateral yang bekerja pada dinding penahan tanah 5
dapat dilihat di bawah ini.

Gambar 5.3 Gaya-gaya lateral yang bekerja pada dinding penahan tanah 5

Parameter-parameter lapisan tanah yang dibutuhkan untuk menghitung nilai


tekanan dan gaya lateral pada dinding penahan tanah 5 diperoleh dari data sekunder
penelitian sebelumnya oleh Sarita (2013) dan ditampilkan dalam Tabel 5.4 berikut
ini.
50

Tabel 5.4 Parameter lapisan tanah yang bekerja pada Dinding Penahan Tanah 5

Lapisan tanah yang


Parameter Tanah Nilai Satuan
ditinjau
β1 3,296 ᵒ
φ1 17,04 ᵒ
Lapisan tanah 1
γb1 15,5 kN/m3
(Tanah lempung)
H1 2.747 m
c1 56,898 kN/m2
β2 29,919 ᵒ
φ2 30 ᵒ
Lapisan tanah 2
γb2 14 kN/m3
(Batupasir)
H2 2,233 m
c2 30 kN/m2
β3 29,919 ᵒ
φ3 30 ᵒ
Lapisan tanah 3
γb3 14 kN/m3
(Batupasir)
H3 1 m
c3 30 kN/m2

Dari parameter-parameter tanah di atas kemudian dapat dihitung nilai Ka dan Kp


dari setiap lapisan tanah.
Untuk lapisan tanah 1, nilai Ka dari lapisan tersebut adalah:
cos 3,296 − �(cos 2 (3,296) − cos 2 (17,04))
𝐾𝑎1 = cos 3,296 = 0,552
cos 3,296 + �(cos 2 (3,296) − cos 2 (17,04))
Untuk lapisan tanah 2, nilai Ka dari lapisan tersebut adalah:
cos 29,919 − �(cos 2 (29,919) − cos 2 (30))
𝐾𝑎2 = cos 29,919 = 0,799
cos 29,919 + �(cos 2 (29,919) − cos 2 (30))
Untuk lapisan tanah 3, nilai Kp dari lapisan tersebut adalah:
cos 29,919 + �(cos 2 (29,919) − cos 2 (30))
𝐾𝑝3 = cos 29,919 = 0,939
cos 29,919 − �(cos 2 (29,919) − cos 2 (30))
51

Perhitungan gaya-gaya lateral yang bekerja pada dinding penahan tanah 5


ditampilkan dalam Tabel 5.5 berikut ini.

Tabel 5.5 Perhitungan Gaya-gaya Lateral yang bekerja pada Dinding Penahan

No.
Gaya Lateral, P Nilai (kN) Ket.
Diagram
1 1
(1) 𝛾 𝐻 2𝐾 × 15,5 × 2,7472 × 0,552 = 32,288 Aktif
2 1 1 𝑎1 2
(2) 𝛾1 𝐻1 𝐻2 𝐾𝑎2 15,5 × 2,747 × 2,233 × 0,799 = 76,014 Aktif
1 1
(3) 𝛾 𝐻 2𝐾 × 14 × 2,2332 × 0,799 = 27,906 Aktif
2 2 2 𝑎2 2
1 1
(4) 𝛾3 𝐻3 2 𝐾𝑝3 × 14 × 12 × 0,939 = 13,154 Pasif
2 2
(5) 2𝑐1 �𝐾𝑎1 𝐻1 2 × 56,898 × �0,552 × 2,747 = 232,27 Pasif

(6) 2𝑐2 �𝐾𝑎2 𝐻2 2 × 30 × �0,799 × 2,233 = 119,797 Pasif

(7) 2𝑐3 �𝐾𝑝3 𝐻3 2 × 30 × �0,939 × 1 = 58,161 Pasif

Berdasarkan Teori Rankine dalam Hardiyatmo (2010), titik tangkap gaya yang
bekerja pada dinding penahan tanah mengikuti sudut β (berhimpit dengan sudut β)
sehingga gaya-gaya tersebut harus diproyeksikan terhadap sumbu horisontal dan
vertikal bidang gambar. Adapun rumus yang digunakan untuk proyeksi gaya
tersebut adalah sebagai berikut.
𝑃ℎ = 𝑃 cos 𝛽 (5. 5)
𝑃𝑣 = 𝑃 sin 𝛽 (5. 6)

Dengan
P adalah gaya lateral yang bekerja.
Ph adalah gaya lateral searah sumbu horisontal bidang gambar.
Pv adalah gaya lateral searah sumbu vertikal bidang gambar.
β adalah sudut kemiringan permukaan lapisan tanah.

Gaya-gaya lateral hasil proyeksi ditampilkan dalam Tabel 5.6 berikut ini.
52

Tabel 5.6 Gaya-gaya lateral dinding penahan tanah 5 hasil proyeksi

No. Gaya Lateral, Gaya Horisontal, Gaya Vertikal,


Keterangan
Diagram P (kN) Ph (kN) Pv (kN)
(1) 32,386 32,234 1,856 Aktif
(2) 76,014 65,884 37,914 Aktif
(3) 27,906 24,187 13,919 Aktif
(4) 13,155 6,577 5,700 Pasif
(5) 232,27 231,886 13,354 Pasif
(6) 119,797 103,832 59,752 Pasif
(7) 92,01 79,748 45,892 Pasif

Langkah perhitungan yang sama dilakukan untuk mengetahui besarnya gaya-gaya


lateral yang bekerja pada dinding penahan tanah 6, 7, dan 8. Adapun hasil
perhitungan jumlah gaya aktif dan jumlah gaya pasif pada setiap dinding penahan
tanah yang ditinjau tersebut ditampilkan dalam Tabel 5.7 berikut ini.

Tabel 5.7 Hasil perhitungan gaya-gaya lateral

Jumlah Gaya Aktif per-1 Jumlah Gaya Pasif per-1


Dinding Penahan
No. meter ┴ bidang gambar meter ┴ bidang gambar
Tanah yang ditinjau
Ph (kN) Pv (kN) Ph (kN) Pv (kN)
Dinding Penahan
1. 122,304 53,689 416,806 105,396
Tanah 5
Dinding Penahan
2. 124,61 68,312 323,78 123,05
Tanah 6
Dinding Penahan
3. 63,878 35,457 145,222 82,912
Tanah 7
Dinding Penahan
4. 218,86 84,427 231,76 82,552
Tanah 8

5.3.3 Hitungan momen


Gaya-gaya yang terjadi akibat beban vertikal dan beban lateral kemudian dicari
nilai momen terhadap titik O. Titik O berada di depan kaki dinding penahan tanah
yang ditinjau. Momen dapat dihitung dengan rumus berikut ini.
53

Momen = Gaya (𝑃) × Lengan (𝑥) (5. 7)


Contoh hitungan untuk menentukan besarnya momen yang bekerja pada dinding
penahan tanah 5 adalah sebagai berikut.

Tabel 5.8 Hitungan momen gaya-gaya pada dinding penahan tanah 5

Gaya yang Bagian yang Momen


Nilai (kN) Lengan (m) Ket.
bekerja ditinjau (kNm)
Gaya Bagian I 54,78 0,99 54,232 M+
Vertikal Bagian II 8,14 0,493 4,016 M+
Struktur Bagian III 16,28 0,37 6,024 M+
Q 3,3 0,87 2,871 M+
Gaya Ph (1) 32,234 3,149 101,495 M-
Horisontal Ph (2) 65,884 1,116 73,559 M-
Tanah Ph (3) 24,186 0,333 8,602 M-
Ph (4) 5,701 0,333 1,900 M+
Ph (5) 231,886 3,606 836,297 M+
Ph (6) 103,832 1,116 115,929 M+
Ph (7) 29,009 0,500 25,205 M+
Gaya Pv (1) 1,856 1,24 2,302 M+
Vertikal Pv (2) 37,914 1,24 47,013 M+
Tanah Pv (3) 13,919 1,24 17,259 M+
Pv (4) 3,281 0 0 M+
Pv (5) 13,354 1,24 16,559 M-
Pv (6) 59,752 1,24 74,092 M-
Pv (7) 29,009 0 0 M-
Keterangan :
M+ adalah Momen yang menahan penggulingan dinding penahan tanah
(melawan arah jarum jam).
M- adalah Momen yang mengguling dinding penahan tanah (searah jarum jam).
54

Hitungan momen gaya juga dilakukan terhadap dinding penahan tanah 6, 7, dan
8. Adapun hasil perhitungan jumlah M+ dan jumlah M- dari setiap dinding
penahan tanah ditunjukkan pada Tabel 5.9.

Tabel 5.9 Hasil Hitungan Momen Gaya

Dinding Penahan Tanah Jumlah Momen Jumlah Momen


No.
yang ditinjau Positif, M+ (kNm) Negatif, M- (kNm)
1. Dinding Penahan Tanah 5 1113,047 273,767
2. Dinding Penahan Tanah 6 488,467 243,655
3. Dinding Penahan Tanah 7 210,254 119,972
4. Dinding Penahan Tanah 8 813,455 553,806

Nilai yang diperoleh gaya vertikal, gaya lateral, dan momen kemudian digunakan
untuk menghitung stabilitas setiap dinding penahan tanah yang ditinjau.

5.4 Analisis Stabilitas Dinding Penahan Tanah


Hitungan stabilitas yang ditinjau berupa stabilitas terhadap penggeseran, stabilitas
terhadap penggulingan, dan stabilitas terhadap daya dukung tanah dasar
berdasarkan gaya-gaya eksternal yang bekerja.

5.4.1 Hitungan stabilitas terhadap penggeseran


Faktor aman terhadap penggeseran (Fgs) didefinisikan sebagai
∑ 𝑅ℎ
𝐹𝑔𝑠 = ≥2
∑ 𝑃ℎ
Untuk tanah yang memiliki c-φ (c > 0 dan φ > 0),

� 𝑅ℎ = 𝑐𝑎 𝐵 + 𝑊𝑓

𝑐𝑎 = 𝑎𝑑 × 𝑐
𝑓 = tan 𝛿𝑏
55

Dengan:
Fgs adalah faktor aman terhadap penggeseran.
ΣRh adalah tahanan dinding penahan tanah terhadap penggeseran.
W adalah berat total dinding penahan tanah, beban luar, dan tanah yang berada
di atas pelas fondasi (kN).
f adalah koefisien gesek antara tanah dasar dan dasar fondasi.
δb adalah sudut gesek antara tanah dan dasar fondasi, diambil (2/3) φ.
ca adalah adhesi antara tanah dan dasar dinding (kN/m2).
c adalah kohesi tanah dasar (kN/m2).
ad adalah faktor adhesi.
B adalah lebar fondasi (m).
ΣPh adalah jumlah gaya-gaya horisontal (kN).

Adapun faktor aman stabilitas terhadap penggeseran untuk setiap dinding


penahan tanah dapat dilihat dibawah ini.
a. Dinding Penahan Tanah 5
ad = 0,67
c = 30 kN/m2
ca = 0,67 x 30 = 20,1 kN/m2
B = 1,24 m
f = tan ((2/3) x 30) = 0,364
W = 82,5 kN
ΣRh = (20,1 x 1,24) + (82,5 x 0,364) = 54,952 kN
∑ 𝑅ℎ + ∑ 𝑃𝑝 54,952 + 416,806
𝐹𝑔𝑠 = = = 3,857 > 2
∑ 𝑃𝑎 122,304
Fgs > 2 maka struktur aman terhadap bahaya geser.
b. Dinding Penahan Tanah 6
ad = 0,67
c = 30 kN/m2
ca = 0,67 x 30 = 20,1 kN/m2
B = 0,95 m
f = tan ((2/3) x 30) = 0,364
56

W = 69,96 kN
ΣRh = (20,1 x 0,95) + (69,96 x 0,364) = 44,558 kN
∑ 𝑅ℎ + ∑ 𝑃𝑝 44,558 + 232,78
𝐹𝑔𝑠 = = = 2,226 > 2
∑ 𝑃𝑎 124,61
Fgs > 2 maka struktur aman terhadap bahaya geser.
c. Dinding Penahan Tanah 7
ad = 0,67
c = 30 kN/m2
ca = 0,67 x 30 = 20,1 kN/m2
B = 1,1 m
f = tan ((2/3) x 30) = 0,364
W = 55,44 kN
ΣRh = (20,1 x 1,1) + (55,44 x 0,364) = 42,288 kN
∑ 𝑅ℎ + ∑ 𝑃𝑝 42,747 + 145,222
𝐹𝑔𝑠 = = = 2,935 > 2
∑ 𝑃𝑎 63,878
Fgs < 2 maka struktur aman terhadap bahaya geser.
d. Dinding Penahan Tanah 8
ad = 0,67
c = 30 kN/m2
ca = 0,67 x 30 = 20,1 kN/m2
B = 1,5 m
f = tan ((2/3) x 30) = 0,364
W = 212,85 kN
ΣRh = (20,1 x 1,5) + (212,85 x 0,364) = 107,62 kN
∑ 𝑅ℎ + ∑ 𝑃𝑝 107,62 + 231,76
𝐹𝑔𝑠 = = = 1,551 < 2
∑ 𝑃𝑎 222,33
Fgs < 2 maka struktur tidak aman terhadap bahaya geser.

Hasil perhitungan faktor aman stabilitas terhadap penggeseran ditampilkan dalam


tabel di bawah ini.
57

Tabel 5.10 Hasil hitungan stabilitas terhadap penggeseran

Faktor aman penggeseran


No. Dinding penahan yang ditinjau Ket.
(Fgs)
1. Dinding Penahan Tanah 5 3,857 Aman
2. Dinding Penahan Tanah 6 2,226 Aman
3. Dinding Penahan Tanah 7 2,935 Aman
4. Dinding Penahan Tanah 8 1,551 Tidak aman

5.4.2 Hitungan Stabilitas terhadap Penggulingan


Faktor aman terhadap penggulingan (Fgl) didefinisikan sebagai
∑ 𝑀𝑤
𝐹𝑔𝑙 = ≥2
∑ 𝑀𝑔𝑙

Dengan
Fgl adalah faktor aman terhadap penggulingan.
ΣMw adalah momen yang melawan penggulingan, ΣM+ (kNm)
ΣMgl adalah momen yang menyebabkan penggulingan, ΣM- (kNm)

Adapun faktor aman stabilitas terhadap penggulingan untuk setiap dinding


penahan tanah dapat dilihat dibawah ini.

a. Dinding Penahan Tanah 5


ΣMw = ΣM+ = 1113,047 kNm
ΣMgl = ΣM- = 273,768 kNm
∑ 𝑀𝑤 1113,047
𝐹𝑔𝑙 = = = 4,066 ≥ 2
∑ 𝑀𝑔𝑙 273,768
Fgl > 2 maka struktur aman terhadap bahaya guling.

b. Dinding Penahan Tanah 6


ΣMw = ΣM+ = 488,468 kNm
ΣMgl = ΣM- = 243,655 kNm
∑ 𝑀𝑤 488,468
𝐹𝑔𝑙 = = = 2,005 ≥ 2
∑ 𝑀𝑔𝑙 243,655
Fgl > 2 maka struktur aman terhadap bahaya guling.
58

c. Dinding Penahan Tanah 7


ΣMw = ΣM+ = 210,254 kNm
ΣMgl = ΣM- = 119,972 kNm
∑ 𝑀𝑤 210,254
𝐹𝑔𝑙 = = = 2,935 ≥ 2
∑ 𝑀𝑔𝑙 119,972
Fgl > 2 maka struktur aman terhadap bahaya guling.

d. Dinding Penahan Tanah 8


ΣMw = ΣM+ = 813,455 kNm
ΣMgl = ΣM- = 553,806 kNm
∑ 𝑀𝑤 813,455
𝐹𝑔𝑙 = = = 1,454 < 2
∑ 𝑀𝑔𝑙 553,806
Fgl < 2 maka struktur tidak aman terhadap bahaya guling.

Hasil perhitungan faktor aman stabilitas terhadap penggulingan ditampilkan


dalam tabel di bawah ini.

Tabel 5.11 Hasil hitungan stabilitas terhadap penggulingan

Dinding penahan yang Faktor aman penggulingan


No. Ket.
ditinjau (Fgl)
1. Dinding Penahan Tanah 5 4,066 Aman
2. Dinding Penahan Tanah 6 2,005 Aman
3. Dinding Penahan Tanah 7 2,935 Aman
4. Dinding Penahan Tanah 8 1,454 Tidak aman

5.4.3 Hitungan stabilitas terhadap kuat dukung tanah


Faktor aman dalam memperhitungan stabilitas terhadap kuat dukung tanah dasar
dirumuskan dalam persamaan berikut ini.
𝑞𝑢
𝐹= ≥3
𝑞
Dengan:
qu adalah kapasitas dukung ultimit (kN/m2).
q adalah tekanan akibat beban struktur (kN/m2).
59

Untuk memperhitungkan stabilitas terhadap kuat dukung tanah dasar, tekanan


pasif yang berada di depan dinding diabaikan. Hal demikian juga dilakukan untuk
tanah yang berada di belakang dinding penahan tanah. Seluruh tekanan tanah
yang berada di belakang dinding penahan tanah turut diabaikan. Hal ini dilakukan
agar tekanan yang diperhitungkan dan dianggap memberikan dampak terhadap
tanah dasar hanya berasal dari tekanan aktif tanah (ΣPa) dan gaya berat struktur
dinding saja (ΣW).

Adapun hitungan faktor aman stabilitas terhadap penggulingan untuk setiap


dinding penahan tanah berdasarkan persamaan (3.21) sampai (3.25) dapat dilihat
dalam hitungan dibawah ini.

a. Dinding Penahan Tanah 5


ΣMw = 133,717 kN.
ΣMgl = 183,116 kN.
ΣW = 136,189 kN.
H = 122,304 kN.
B = 1,24 m.
∑ 𝑀𝑤 − ∑ 𝑀𝑔𝑙 133,717 − 183,116
𝑥𝑒 = = = −0,363 𝑚
∑𝑊 136,189
𝐵 1,24
𝑒𝑥 = � − 𝑥𝑒 � = � − 0,363� = 0,983 𝑚
2 2
𝑉 6𝑒 136,189 6 × 0,983
𝜎𝑚𝑎𝑥 = �1 + � = �1 + � = 623,083 𝑘𝑁/𝑚2
𝐵 𝐵 1,24 1,24
𝜎𝑚𝑎𝑥 (623,083 𝑘𝑁⁄𝑚2 ) ≤ kuat desak pasangan batu (1500 𝑘𝑁⁄𝑚2 )
𝐻 122,304
𝜏= = = 98,633 𝑘𝑁/𝑚2
𝐵 1,24
𝜏 = 98,633 𝑘𝑁⁄𝑚2 ≤ kuat geser pasangan batu (150 𝑘𝑁⁄𝑚2 )
c = 30 kN/m2
Df = 1 m
𝐷𝑓
= 0,806 < 1 sehingga digunakan garis interpolasi
𝐵
γb = 14 kN/m3
60

14 × 1
𝑁𝑠 = = 0,467
30
β = 29,919 ᵒ
φ = 30 ᵒ
Dari grafik, diperoleh nilai Ncq = 4,9 dan Nγq = 17,5.
𝑞𝑢𝑙𝑡 = 30 × 4,9 + 0,5 × 14 × 1,24 × 17,5 = 298,9 𝑘𝑁/𝑚2
𝑞𝑢𝑙𝑡 298,9
𝐹= = = 0,473 < 3
𝑞 623,083
F < 3 sehingga struktur tidak stabil terhadap kuat dukung tanah dasar.
b. Dinding Penahan Tanah 6
ΣMw = 107,19 kN.
ΣMgl = 157,44 kN.
ΣW = 138,27 kN.
H = 124,61 kN.
B = 0,95 m.
∑ 𝑀𝑤 − ∑ 𝑀𝑔𝑙 107,19 − 157,44
𝑥𝑒 = = = −0,363 𝑚
∑𝑊 138,27
𝐵 0,95
𝑒𝑥 = � − 𝑥𝑒 � = � − 0,363� = 0,838 𝑚
2 2
𝑉 6𝑒 138,27 6 × 0,838
𝜎𝑚𝑎𝑥 = �1 + � = �1 + � = 916,28 𝑘𝑁/𝑚2
𝐵 𝐵 0,95 0,95
𝜎𝑚𝑎𝑥 (916,28 𝑘𝑁⁄𝑚2 ) ≤ kuat desak pasangan batu (1500 𝑘𝑁⁄𝑚2 )
𝐻 124,61
𝜏= = = 131,17 𝑘𝑁/𝑚2
𝐵 0,95
𝜏 = 131,17 𝑘𝑁⁄𝑚2 ≤ kuat geser pasangan batu (150 𝑘𝑁⁄𝑚2 )
c = 30 kN/m2
Df = 1 m
𝐷𝑓
= 1,053 > 1 sehingga digunakan garis patah − patah
𝐵
γb = 14 kN/m3
14 × 1
𝑁𝑠 = = 0,467
30
β = 29,919 ᵒ
61

φ = 30 ᵒ
Dari grafik, diperoleh nilai Ncq = 4,9 dan Nγq = 22,5.
𝑞𝑢𝑙𝑡 = 30 × 4,9 + 0,5 × 14 × 0,95 × 22,5 = 296,63 𝑘𝑁/𝑚2
𝑞𝑢𝑙𝑡 296,63
𝐹= = = 0,324 < 3
𝑞 916,28
F < 3 sehingga struktur tidak stabil terhadap kuat dukung tanah dasar.
c. Dinding Penahan Tanah 7
ΣMw = 77,711 kN.
ΣMgl = 54,731 kN.
ΣW = 90,897 kN.
H = 63,878 kN.
B = 1,1 m.
∑ 𝑀𝑤 − ∑ 𝑀𝑔𝑙 77,711 − 54,731
𝑥𝑒 = = = 0,253 𝑚
∑𝑊 90,897
𝐵 1,1
𝑒𝑥 = � − 𝑥𝑒 � = � − 0,253� = 0,297 𝑚
2 2
𝑉 6𝑒 90,897 6 × 0,297
𝜎𝑚𝑎𝑥 = �1 + � = �1 + � = 216,584 𝑘𝑁/𝑚2
𝐵 𝐵 1,1 1,1
𝜎𝑚𝑎𝑥 (216,584 𝑘𝑁⁄𝑚2 ) ≤ kuat desak pasangan batu (1500 𝑘𝑁⁄𝑚2 )
𝐻 63,878
𝜏= = = 58,071 𝑘𝑁/𝑚2
𝐵 1,1
𝜏 = 58,071 𝑘𝑁⁄𝑚2 ≤ kuat geser pasangan batu (150 𝑘𝑁⁄𝑚2 )
c = 30 kN/m2
Df = 0,75 m
𝐷𝑓
= 0,68 < 1 sehingga digunakan garis interpolasi
𝐵
γb = 14 kN/m3
14 × 0,75
𝑁𝑠 = = 0,35
30
β = 29,919 ᵒ
φ = 30 ᵒ
Dari grafik, diperoleh nilai Ncq = 4,9 dan Nγq = 17,5.
𝑞𝑢𝑙𝑡 = 30 × 4,9 + 0,5 × 14 × 1,1 × 17,5 = 281,75 𝑘𝑁/𝑚2
62

𝑞𝑢𝑙𝑡 281,75
𝐹= = = 1,3 < 3
𝑞 216,584
F < 3 sehingga struktur tidak stabil terhadap kuat dukung tanah dasar.
d. Dinding Penahan Tanah 8
ΣMw = 281,02 kN.
ΣMgl = 486,18 kN.
ΣW = 297,28 kN.
H = 218,86 kN.
B = 1,5 m.
∑ 𝑀𝑤 − ∑ 𝑀𝑔𝑙 281,02 − 486,18
𝑥𝑒 = = = −0,69 𝑚
∑𝑊 297,28
𝐵 1,5
𝑒𝑥 = � − 𝑥𝑒 � = � − 0,69� = 1,44 𝑚
2 2
𝑉 6𝑒 297,28 6 × 1,44
𝜎𝑚𝑎𝑥 = �1 + � = �1 + � = 1.399,8 𝑘𝑁/𝑚2
𝐵 𝐵 1,5 1,5
𝜎𝑚𝑎𝑥 (1.399,8 𝑘𝑁⁄𝑚2 ) ≤ kuat desak pasangan batu (1500 𝑘𝑁⁄𝑚2 )
𝐻 218,86
𝜏= = = 145,91 𝑘𝑁/𝑚2
𝐵 1,5
𝜏 = 145,91 𝑘𝑁⁄𝑚2 ≤ kuat geser pasangan batu (150 𝑘𝑁⁄𝑚2 )
c = 30 kN/m2
Df = 1 m
𝐷𝑓
= 0,667 < 1 sehingga digunakan garis interpolasi
𝐵
γb = 14 kN/m3
14 × 1
𝑁𝑠 = = 0,467
30
β = 29,919 ᵒ
φ = 30 ᵒ
Dari grafik, diperoleh nilai Ncq 4,5 dan Nγq = 17,5.
𝑞𝑢𝑙𝑡 = 30 × 4,5 + 0,5 × 14 × 1,5 × 17,5 = 318,75 𝑘𝑁/𝑚2
𝑞𝑢𝑙𝑡 318,75
𝐹= = = 0,238 < 3
𝑞 1399,8
F < 3 sehingga struktur tidak stabil terhadap kuat dukung tanah dasar.
63

Hasil perhitungan faktor aman stabilitas terhadap kuat dukung tanah dasar
ditampilkan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 5.12 Hasil hitungan stabilitas terhadap kuat dukung tanah

Dinding penahan yang Faktor aman daya dukung tanah


No. Ket.
ditinjau dasar (F)
Dinding Penahan
1. 0,473 Tidak aman
Tanah 5
Dinding Penahan
2. 0,324 Tidak aman
Tanah 6
Dinding Penahan
3. 1,3 Tidak aman
Tanah 7
Dinding Penahan
4. 0,283 Tidak aman
Tanah 8

5.5 Pemodelan Data Penelitian


Dalam tahap pemodelan, seluruh parameter bahan yang ada di potongan
melintang B-B di-input-kan ke dalam software Plaxis v8.6 untuk mengetahui
besarnya deformasi yang terjadi pada setiap dinding penahan tanah yang ditinjau
akibat beban statis dan dinamis yang bekerja. Tahap pemodelan ini dilengkapi
dengan validasi yang bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara input data
dan kondisi lapangan.

5.5.1 Asumsi model


Permasalahan dalam geoteknik umumnya cukup kompleks untuk dimodelkan.
Metode elemen hingga merupakan salah satu metode yang digunakan dalam
bidang geoteknik untuk menganalisis tegangan dan deformasi yang terjadi,
termasuk deformasi pada struktur dinding penahan tanah. Program Plaxis v8.6
merupakan program analisis numeris dengan berbasis metode elemen hingga dan
telah umum digunakan dalam pemodelan geoteknik.
Pada dasarnya, asumsi model digunakan untuk menyederhanakan kondisi
eksisting lapangan mengingat adanya keterbatasan program Plaxis v8.6 ini dalam
memodelkan struktur eksisting di lapangan. Asumsi-asumsi dalam pemodelan ini
adalah sebagai berikut.
64

a. Analisis model elemen hingga yang digunakan adalah model plane strain
yang merupakan idealisasi model 3-D kedalam model 2-D dengan asumsi
bahwa regangan pada tegak lurus arah kemiringan struktur diabaikan.
b. Barisan kolom dan fondasi sumuran dalam arah longitudinal pada kondisi
aktual berupa tiang-tiang tunggal (bukan konstruksi menerus) diasumsikan
sebagai dinding menerus dengan idealisasi kondisi 3-D menjadi 2-D seperti
yang dikemukakan Randloph (1981) dalam Sarita (2013).
c. Parameter tanah pada setiap struktur lapisan pembentuk lereng diasumsikan
homogen dan isotropis dengan kriteria keruntuhan bahan yang digunakan
adalah Mohr-Coulomb.
d. Input parameter material lainnya dengan bahan pengikat semen dimodelkan
sebagai linear elastic.

5.5.2 Pemodelan geometri kondisi eksisting


Model geometri lereng yang ditinjau adalah potongan melintang B-B. Adapun
pemodelan kondisi eksisting dalam program Plaxis v8.6 adalah sebagai berikut.
a. Bentuk geometri lereng disesuaikan dengan data pengukuran topografi
sedangkan data lapisan tanah dan batuan didasarkan pada data bor. Data-data
diatas diperoleh dari data penelitian-penelitian sebelumnya. Untuk
melengkapi data yang ada, data lapisan timbunan tanah yang terdapat pada
dinding penahan tanah yang ditinjau didasarkan pada pengujian sampel tanah
yang diambil dengan alat hand auger.
b. Rangka bangunan Plaza Andrawina dimodelkan sebagai elemen pelat dan
gaya-gaya yang bekerja diperoleh dari hasil analisis program SAP2000
laporan penelitian terdahulu.
c. Untuk keperluan meshing, cluster yang kosong diantara rangka bangunan
dimodelkan sebagai material yang sama dengan tanah. Namun, dalam fase
perhitungan, cluster tersebut selalu dinon-aktifkan.
d. Lapisan tanah yang berada di atas asumsi lereng asli dianggap sebagai
timbunan.
65

Bentuk geometri lereng, lapisan tanah dan batuan, serta bangunan lainnya yang
terdapat pada potongan melintang B-B disajikan dalam Gambar 5.4 dalam skala
1:500 sedangkan hasil pemodelan menggunakan program Plaxis v8.6 berdasarkan
asumsi pemodelan yang digunakan disajikan dalam Gambar 5.5.
66

Gambar 5.4 Bentuk geometri potongan B-B


67

Gambar 5.5 Pemodelan potongan B-B dalam program plaxis v8.6


68

5.5.3 Input parameter pemodelan kondisi eksisting


Setelah kondisi eksisting dimodelkan kedalam program, diperlukan input
parameter bahan ke dalam cluster-cluster yang telah dibuat, meliputi parameter
tanah dan batuan, parameter pelat (kolom, balok, dan fondasi), parameter dinding
penahan tanah serta pembebanan. Penjelasan parameter input yang digunakan
dalam simulasi pemodelan akan dijelaskan selanjutnya.

a. Input parameter tanah dan batuan


Kriteria keruntuhan bahan yang digunakan adalah Mohr Coulomb dimana kriteria
keruntuhan ini dipengaruhi oleh paling sedikit 5 buah parameter bahan, antara
lain sudut gesek internal (φ), kohesi (c), Modulus Young’s (E), poisson’s ratio
(ν), dan sudut dilatasi (ψ). Parameter lain yang juga dibutuhkan dalam pemodelan
ini adalah berat volume basah (γb), berat volume jenuh (γsat) dan koefisien
permeabilitas (k).

Input parameter tanah dan batuan pembentuk lereng di lokasi penelitian


didasarkan pada input data sekunder penelitian sebelumnya dengan
mempertimbangkan kesesuaiannya dengan fakta di lapangan. Untuk melengkapi
data yang telah ada, dilakukan pengambilan sampel pada tanah-tanah timbunan
yang berada di depan setiap dinding penahan tanah yang ditinjau.

1. Input parameter timbunan 1


Nilai input parameter timbunan 1 berasal dari data sekunder penelitian
sebelumnya yang berasal dari pengujian sampel tanah pada BH-3.

2. Input parameter timbunan 2


Berdasarkan uji hand-boring, nilai propertis tanah yang berada di depan dinding
penahan tanah 6 pada potongan melintang B-B kemudian disebut sebagai
timbunan 2 diperoleh dari pengujian sampel tanah BH-6. Berdasarkan klasifikasi
tanah dengan sistem Unified, butiran sampel tanah rata-rata yang lolos saringan
#200 sebesar 39,81% < 50% sehingga termasuk tanah berbutir kasar. Selanjutnya
butiran sampel tanah yang lolos saringan #4 sebesar 58,94% sehingga sampel
tanah termasuk jenis pasir. Berdasarkan pengujian batas-batas Atterberg, nilai
69

plasticity index (PI) sebesar 30,73% > 7% sehingga sampel tanah termasuk pasir
yang memiliki banyak kandungan butiran halus dan termasuk dalam kategori SC.

3. Input Parameter Timbunan 3


Berdasarkan uji hand-boring dengan alat hand auger, nilai propertis tanah yang
berada di depan dinding penahan tanah 7 pada potongan melintang B-B kemudian
disebut sebagai timbunan 3 diperoleh dari sampel tanah BH-5. Berdasarkan
klasifikasi tanah dengan sistem Unified, butiran sampel tanah rata-rata yang lolos
saringan #200 sebesar 48,71% < 50% sehingga termasuk tanah berbutir kasar.
Selanjutnya butiran sampel tanah yang lolos saringan #4 sebesar 51,291%
sehingga sampel tanah termasuk jenis pasir. Berdasarkan pengujian batas-batas
Atterberg, nilai plasticity index (PI) sebesar 21,473% sehingga sampel tanah
termasuk pasir yang memiliki banyak kandungan butiran halus dan termasuk
dalam kategori SC.

4. Input Parameter Timbunan 4


Berdasarkan uji hand-boring dengan alat hand auger, nilai propertis tanah yang
berada di depan dinding penahan tanah 8 pada potongan melintang B-B kemudian
disebut sebagai timbunan 4 diperoleh dari sampel tanah BH-4. Berdasarkan
klasifikasi tanah dengan sistem Unified, butiran sampel tanah rata-rata yang lolos
saringan #200 sebesar 43,82% < 50% sehingga termasuk tanah berbutir kasar.
Selanjutnya butiran sampel tanah yang lolos saringan #4 sebesar 53,01%
sehingga sampel tanah termasuk jenis pasir. Berdasarkan pengujian batas-batas
Atterberg, nilai plasticity index (PI) sebesar 30,352% sehingga sampel tanah
termasuk pasir yang memiliki banyak kandungan butiran halus dan termasuk
dalam kategori SC.

Nilai modulus elastisitas tanah yang digunakan dan nilai koefisien permeabilitas
(kx dan ky) diperoleh dari Tabel 2.4 dan Tabel 2.5. Seluruh data input parameter
tanah dan batuan dapat dilihat pada Tabel 5.13.
.
70

Tabel 5.13 Data input parameter tanah dan batuan

γb γsat kx ky E c φ
No. Material Model Tipe 3 3
ν 2 2
Ket
(kN/m ) (kN/m ) (m/hari) (m/hari) (kN/m ) (kN/m ) (ᵒ)
Data sekunder
1. Lempung Mohr-Coulomb Undrained 15,5 16,4 0,0002 0,0002 0,30 40530 56,898 17,04 Lap. 1
Batupasir
2. Mohr-Coulomb Drained 14,0 16,8 13,651 13,651 0,25 45325 30 30 Lap. 2
sedang tufan
Breksi batu
3. Mohr-Coulomb Undrained 13,2 16,2 0,001 0,001 0,20 49988750 44989875 57,9 Lap. 3
apung
4. Batupasir tufan Mohr-Coulomb Drained 14,3 16,7 10,002 10,022 0,20 44989875 24994375 66,5 Lap. 4
5. Batu lempung Mohr-Coulomb Undrained 15,0 19,0 0,0002 0,0002 0,20 49988750 44989875 66,5 Lap. 5
Batupasir halus
6. Mohr-Coulomb Drained 14,5 17,0 5,011 5,011 0,20 49988750 44989875 66,5 Lap. 6
tufan
7. Timbunan 1 Mohr-Coulomb Undrained 12,0 15,0 0,0002 0,0002 0,3 2000 15 6 Timb. 1
Data hasil uji sampel hand boring
8. Timbunan 2 Mohr-Coulomb Undrained 16,525 17,290 1 x 10-6 1 x 10-6 0,3 25000 14,43 31,36 Timb. 2
9. Timbunan 3 Mohr-Coulomb Undrained 17,67 17,67 1 x 10-6 1 x 10-6 0,3 25000 1,53 44,62 Timb. 3
-6 -6
10. Timbunan 4 Mohr-Coulomb Undrained 17,75 17,76 1 x 10 1 x 10 0,3 25000 14,43 49,39 Timb. 4
71

b. Input Parameter Bangunan


Material bangunan yang dimodelkan adalah kolom, balok, fondasi, dinding
penahan tanah dan tangga. Keberadaan material yang terbentuk dengan bahan
pengikat semen merupakan bagian dari model eksisting yang akan dianalisis
karena pengaruhnya dapat berupa beban maupun perkuatan lereng sehingga perlu
digambarkan dalam pemodelan. Parameter-parameter bangunan ini diperoleh dari
data penelitian sebelumnya.

1. Input parameter balok, kolom, pelat dan fondasi sumuran.


Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kolom, balok, dan fondasi
sumuran bangunan dimodelkan sebagai pelat. Model material yang dipilih adalah
linier elastis dengan parameter input yang diperlukan utnuk pemodelan dalam
program Plaxis v8.6 adalah kekakuan lentur (EI), kekakuan aksial (EA),
poisson’s’s ratio (ν), dan berat tiap satuan panjang (w).

Tabel 5.14 Input parameter kolom

Perhitungan
No. Uraian Formula
Kolom 1 (K1) Kolom 2 (K2) Kolom 3 (K3)
1. Tinggi kolom (L), m - 8,240 8,380 7,300
Dim. penampang aktual (B
2. - 80 x 80 80 x 80 60 x 60
x H)
3. Inersia penampang (I), m4 1/12.b.H3 0,034 0,034 0,011
Tebal penamp. ekiv. (He)
4. (12.I/1)1/3 0,743 0,743 0,506
1m ┴, m4
Inersia penamp. ekiv. (Ie)
5. 1/12.b.He3 0,034 0,034 0,011
1m ┴, m 4

Luas penamp. ekiv. (Ae) 1


6. 1.He 0,743 0,743 0,506
m ┴, m2
Kekuatan lentur (EI),
7. 2
E.Ie 7880113,964 7880113,964 236403,419
kN.m
8. Kekuatan aksial (EA), kN E.Ae 16256110,658 16256110,658 11077242,539
Berat/ satuan panjang (w),
9. Wk/H/1m┴ 148,654 15,360 8,640
kN/m/m
10. Poisson’s ratio (ν) - 0,2 0,2 0,2
72

Tabel 5.15 Input parameter fondasi sumuran

Perhitungan
No. Uraian Formula
FS 1 FS 2 FS 3
1. Tinggi kolom (L), m - 5,250 5,250 5,250
Dim. penampang aktual (B
2. - 2,00 x 1,50 2,00 x 1,50 2,00 x 1,50
x H)
3. Inersia penampang (I), m4 1/12.b.H3 0,667 0,667 0,667
Tebal penamp. ekiv. (He)
4. (12.I/1)1/3 2,00 2,00 2,00
1m ┴, m 4

Kekuatan lentur (EI),


5. 2
E.Ie 14592803,636 14592803,636 14592803,636
kN.m
6. Kekuatan aksial (EA), kN E.Ae 43778410,908 43778410,908 43778410,908
Berat/ satuan panjang (w), Wk/H/1m
7. 48,000 48,000 48,000
kN/m/m ┴
8. Poisson’s ratio (ν) - 0,200 0,200 0,200

Tabel 5.16 Input parameter balok dan pelat lantai

Perhitungan
No. Uraian Formula
Balok 1 (B1) Balok 2 (B2) Balok 3 (B3)
Panjang dalam Plaxis (L), - 4,500 4,500 4,500
1.
m
Dimensi :
- Dim. balok aktual (BxH) - (30 x 50) (60 x 50) (60 x 65)
2.
- Dim. pelat efektif - (0,568 x (0,855 x (0,765 x 0,12)
(BeffxHf) 0,12) 0,12)
2
3. Luas penamp. (A), m (Ab + Ap) 0,218 0,403 0,482
3 2
Tebal penamp. ekiv. (He) 1/12.b.h +A.d 0,00770769 0,013720259 0,025992326
4.
1m ┴, m 4

Kekuatan lentur (EI), E.I 168715,204 300325,559 568951,370


5. 2
kN.m
6. Kekuatan aksial (EA), kN E.A 4774035,71 8812594,116 10546219,188
Berat/ satuan panjang (w), (Wb+Wp)/L/1┴ 36,889 195,858 148,499
7.
kN/m/m
8. Poisson’s ratio (ν) - 0,200 0,200 0,200
73

Tabel 5.17 Input parameter pelat

No. Uraian Formula Perhitungan


1. Tinggi/ tebal (L), m - 0,500
2. Dim. balok aktual (BxH) - 2,20 x 2,20
2
3. Luas penamp. (A), m (Ab + Ap) 0,010
4. Tebal penamp. ekiv. (He) 1m ┴, m 4
1/12.b.h +A.d3 2
0,500
5. Kekuatan lentur (EI), kN.m2 E.I 228012,557
6. Kekuatan aksial (EA), kN E.A 10944602,727
7. Berat/ satuan panjang (w), kN/m/m (Wp)/L/1┴ 5,455
8. Poisson’s ratio (ν) - 0,200

2. Input parameter fondasi pasangan batu


Fondasi pasangan batu dimodelkan sebagai pelat. Adapun parameter fondasi yang
di-input-kan kedalam program Plaxis v8.6 berdasarkan data input penelitian
sebelumnya adalah sebagai berikut.

Tabel 5.18 Input parameter fondasi

Perhitungan
No. Uraian Formula
F1 F2 F3 F4
1. Tinggi kolom (L), m A/L 0,505 0,505 0,505 0,505
4 3
2. Inersia penampang (I), m 1/12.l.He 0,011 0,011 0,011 0,011
3. Kekuatan lentur (EI), kN.m2 E.Ie 6639,819 6639,819 6639,819 6639,819
4. Kekuatan aksial (EA), kN E.Ae 313050,9 313050,9 313050,9 313050,9
Berat/ satuan panjang (w), Wk/H/1m
5. 15,359 15,359 15,359 15,359
kN/m/m ┴
6. Poisson’s ratio (ν) - 0,15 0,15 0,15 0,15

3. Input parameter tangga


Tangga bangunan juga dimodelkan sebagai pelat. Parameter tangga yang di-input-
kan kedalam program Plaxis v8.6 berdasarkan data input penelitian sebelumnya
adalah sebagai berikut.
74

Tabel 5.19 Input parameter pelat

No. Uraian Formula Perhitungan


4
1. Momen inersia (I), m - 0,00008
2
2. Luas (A), m - 0,100
2
3. Kekuatan lentur (EI), kN.m E.I 33,689
4. Kekuatan aksial (EA), kN E.A 40426,38
5. Berat/ satuan panjang (w), kN/m/m d.γ 2,150
6. Poisson’s ratio (ν) - 0,10

4. Input parameter dinding penahan tanah


Dinding penahan tanah dimodelkan serupa dengan geometri lereng. Parameter
input untuk pasangan batu adalah sebagai berikut.

Tabel 5.20 Input parameter dinding penahan tanah

No. Uraian Formula Satuan


1. Model material Linier elastis -
2. γ 22 kN/m3
3. Ec 619902,8 kN/m2
4. ν 0,15 -

5. Input pembebanan
Selain input parameter diatas, beban yang bekerja pada beberapa dinding penahan
tanah dalam hal ini pagar pengaman dan taman juga turut dimasukkan dalam
pemodelan menggunakan beban titik dan beban merata. Perhitungan input beban
disajikan dalam Tabel 5.21 berikut ini.

Tabel 5.21 Input pembebanan

Berat Volume Berat


No. Uraian Dimensi (m) Tipe Beban Lokasi
(kN/m )3
(kN/m/m┴)
1. Pagar pas. batu 0,25 x 0,60 22 Beban titik 3,300 P.B 5
2. Trotoar 0,20 x 1,00 22 Beban merata 4,400 P.B 7
3. Taman (p. batu) 0,50 x 0,70 22 Beban merata 7,700 P.B 8
75

c. Kondisi Batas
Setelah geometri dan parameter material dari model telah dimasukkan, tahap
selanjutnya adalah menerapkan kondisi batas pada model. Dalam program Plaxis,
kondisi batas yang tersedia adalah jepit standar (standar fixities) dan kondisi batas
untuk gempa (standar fixities) dan kondisi batas untuk gempa (standar
earthquake boundaries). Kedua kondisi batas ini akan diterapkan pada model,
karena analisis dalam tahap validasi adalah analisis statis dan dinamis. Penerapan
kedua kondisi batas pada model yang digunakan dalam simulasi kondisi eksisting
disajikan pada Gambar 5.4.

d. Diskritisasi Model
Setelah kondisi batas diterapkan pada model, langkah selanjutnya adalah model
geometri dibagi menjadi elemen-elemen imajiner (meshing). Penyusunan jaringan
elemen dalam program Plaxis digunakan jenis fine. Bentuk meshing model
disajikan dalam Gambar 5.6 berikut ini.

Gambar 5.6 Diskritisasi Elemen pada Model


76

e. Validasi
Model yang digunakan untuk simulasi dalam tahapan validasi data adalah model
potongan melintang B-B (Gambar 5.4). Proses validasi diawali dengan simulasi
model pada program Plaxis v8.6. Hasil perhitungan berupa displacement dinding
penahan tanah akan dibandingkan dengan keadaan di lapangan.

5.5.4 Perhitungan
Sebelum dilakukan tahap perhitungan, terlebih dahulu dilakukan penentuan
kondisi awal pemodelan.

a. Kondisi awal (initial condition)


Kondisi awal merupakan bagian dari prosedur perhitungan dalam program Plaxis
v8.6 dimana pada kondisi ini, perlu didefinisikan terlebih dahulu tegangan air pori
(initial pore pressure) dan tegangan awal (initial stress). Karena kondisi lapisan
tanah yang tidak horisontal, maka prosedur perhitungan K-0 yang biasa digunakan
untuk mendapatkan tegangan awal tudak dapat dilakukan pada model ini sehingga
hanya dapat dilakukan penentuan tegangan air pori sedangkan untuk tegangan
awal akibat berat tanah akan diperhitungkan secara terpisah.

Perhitungan tegangan air pori dimulai dengan pemodelan muka air tanah dengan
menggunakan garis phreatic. Tekanan air pori diasumsikan bekerja pada lapisan
batupasir sedang tufan. Tinggi muka air tanah saat terjadi gempa bulan Mei 2006
sebesar 30 cm dari permukaan lapisan breksi batu apung. Hasil perhitungan
tegangan air pori pada model disajikan dalam Gambar 5.7 dimana berat volume
air yang digunakan diambil 9,81 kN/m3.
77

Gambar 5.7 Hasil perhitungan tegangan air pori model simulasi

b. Perhitungan Tegangan Awal


Tegangan awal yang belum didefinisikan pada kondisi awal kemudian dihitung
dengan tipe perhitungan plastis dimana faktor pengali berat tanah yang digunakan
adalah 1,0. Perhitungan ini disebut sebagai beban gravitasi (gravity loading) dan
dalam fase perhitungan hanya melibatkan struktur tanah dan batuan pembentuk
lereng tanpa melibatkan timbunan dan bangunan. Hasil perhitungan tegangan
awal disajikan dalam Gambar 5.8.
78

Gambar 5.8 Hasil perhitungan tegangan awal pada model simulasi

c. Perhitungan model akibat beban statis


Perhitungan model akibat pengaruh beban statis merupakan fase dimana semua
beban yang bekerja diatas lereng seperti beban bangunan plaza Andrawina,
timbunan, dan dinding penahan tanah. Langkah perhitungan ini dalam program
Plaxis v8.6 adalah sebagai berikut.
1. Dalam lembar tab umum dipilih perhitungan plastis.
2. Dalam lembar tab parameter, dipilih tahapan konstruksi (staged construction)
sebagai masukan pembebanan. Klik tombol tentukan (define) dan aktifkan
elemen-elemen bangunan (pelat), klater timbunan, dan dinding penahan batu.
Setelah selesai, proses perhitungan dimulai.

d. Perhitungan model akibat beban dinamis


Untuk model akibat pengaruh beban dinamis, diterapkan beban gempa pada
model dengan tetap mengaktifkan beban seperti pada analisis statis. Data yang
79

digunakan dalam analisis dinamis dengan Plaxis v8.6 berupa akselerogram dalam
format SMC (Strong Motion CD-ROM) yang sebagian besar berisi data
percepatan gempa. Beberapa peneliti dalam analisis menggunakan data percepatan
gempa di tempat berbeda dengan pendekatan peak ground acceleration (PGA).
Demikian pula dengan penelitian ini, percepatan yang digunakan berupa data
akselerogram dengan PGA sebesar 0,3506g atau 350,6 cm/s2 yang disajikan
dalam Gambar 5.9.

Gambar 5.9 Spektrum gempa dengan PGA 0,355g terkoreksi (USGS)

Percepatan ini dianggap sesuai dengan percepatan puncak di lokasi penelitian


berdasarkan peta gempa Indonesia yang dikelurkan oleh Departemen Pekerjaan
Umum Republik Indonesia tahun 2010 yang didasarkan pada besarnya percepatan
puncak di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun
dengan redaman 5%. Peta ini menepatkan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
dan sekitarnya dalam zona koefisien gempa (kg) 0,3g – 0,4g. Langkah perhitungan
untuk beban dinamis dalam program Plaxis v8.6 adalah sebagai berikut.
1. Dalam lembar tab umum, dipilih jenis analisis dinamis.
80

2. Dalam lembar tab parameter, ditentukan jumlah langkah tambahan


(additional steps) sebesar 250. Diaktifkan juga perpindahan menjadi nol
(reset displacement to zero). Interval waktu digunakan 30 detik dan
selanjutnya klik tentukan (define).
3. Dalam lembar tab pengali, pengali beban dipilih dari berkas data
akselerometer dan dipilih percepatan. Setelah selesai, proses perhitungan
dimulai.

5.5.5 Hasil perhitungan (output)


Setelah seluruh rangkaian perhitungan selesai, maka hasil perhitungan dapat
ditentukan nilainya. Dalam penelitian ini, hasil perhitungan yang ditinjau adalah
deformasi dari dinding penahan tanah 5, 6, 7 dan 8 ditinjau dari potongan
melintang B-B yang ditentukan berdasarkan nilai displacement struktur dinding
penahan tanah. Hasil perhitungan dibagi menjadi hasil perhitungan akibat beban
statis dan hasil perhitungan akibat beban dinamis.

B C

A D

B
C

D
Gambar 5.10 Potongan Melintang dengan Tinjauan Deformasi

a. Hasil Perhitungan Akibat Beban Statis


Dari simulasi beban statis yang diterapkan pada model, nilai displacement arah x
dan arah y akibat beban statis yang bekerja pada dilihat pada Tabel 5.22 berikut.
81

Tabel 5.22 Output displacement beban statis

Dinding Displacement Dinding Penahan Tanah (cm)


Potongan
yang ditinjau Ux Uy |U|
Dinding 5 A-A 1,162 -0,361 1,202
Dinding 6 B-B 0,258 -0,124 0,287
Dinding 7 C-C 0,103 -0,106 0,148
Dinding 8 D-D 0,708 -0,708 1,005

Keterangan:
Ux adalah displacement arah x (cm).
Uy adalah displacement arah y (cm).
|U| adalah displacement total (cm).

b. Hasil Perhitungan Akibat Beban Dinamis


Dari simulasi beban dinamis yang diterapkan pada model, nilai displacement arah
x dan arah y akibat beban statis yang bekerja pada dilihat pada Tabel 5.23 berikut.

Tabel 5.23 Output displacement beban dinamis

Dinding Displacement Dinding Penahan Tanah (cm)


Potongan
yang ditinjau Ux Uy |U|
Dinding 5 A-A 3,484 -9,321 x 10-6 3,484
Dinding 6 B-B 3,460 5,86 x 10-6 3,460
Dinding 7 C-C 3,451 5,58 x 10-6 3,451
Dinding 8 D-D 3,495 5,26 x 10-6 3,495

Keterangan:
Ux adalah displacement arah x (cm).
Uy adalah displacement arah y (cm).
|U| adalah displacement total (cm).
82

5.6 Pembahasan
Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi analisis dimensi dinding
penahan tanah yang ditinjau terhadap kesesuaian dimensi dinding penahan tanah
menurut Bowles (1971), analisis stabilisasi dinding penahan tanah dengan
meninjau stabilitas terhadap penggeseran, stabilitas terhadap penggulingan, dan
stabilitas terhadap kuat dukung tanah dasar, serta pemodelan dengan
menggunakan program Plaxis v8.6 untuk mengetahui deformasi yang terjadi pada
setiap potongan dinding penahan tanah yang ditinjau.

Pada analisis dimensi dinding penahan tanah terhadap kesesuaiannya dengan


dimensi yang disyaratkan oleh Bowles (1971) diketahui bahwa seluruh dinding
penahan tanah yang ditinjau tidak memenuhi persyaratan dimensi lebar bawah (B)
yang disyaratkan oleh Bowles (1971). Hal ini tentunya akan mempengaruhi
stabilitas struktur dinding penahan tanah tersebut sebab dimensi yang disyaratkan
oleh Bowles (1971) dihitung berdasarkan stabilitas dinding penahan tanah. Oleh
karena itu, diharapkan kedepannya dilakukan renovasi berupa penambahan
dimensi lebar bawah (B) pada setiap dinding penahan tanah yang ditinjau dalam
penelitian ini.

Pada analisis perhitungan stabilitas struktur dinding penahan tanah diketahui


bahwa dinding penahan tanah 5 telah memenuhi stabilitas terhadap penggeseran
dan penggulingan tetapi belum memenuhi stabilitas terhadap kuat dukung tanah
dasar. Di sisi lain, dinding penahan 6 dan 7 telah memenuhi stabilitas terhadap
penggeseran, penggulingan, dan kuat dukung tanah dasar sedangkan untuk
dinding penahan tanah 8, struktur tersebut tidak memenuhi persyaratan stabilitas
struktur, baik stabilitas terhadap penggeseran, penggulingan, maupun stabilitas
terhadap kuat dukung tanah dasar. Oleh karena itu, diperlukan rekomendasi
perbaikan untuk menangani ketidakstabilan dinding penahan tersebut.

Bentuk deformasi yang dihasilkan dari pemodelan pada program Plaxis v8.6
diketahui bahwa displacement maksimum diperoleh sebesar 3,495 cm pada
dinding penahan tanah 8 (Potongan D-D). Batasan pergerakan sebelum dinding
83

penahan tanah longsor menurut Skempton dan Hutchinson (1969) dalam Look
(2007) adalah sebesar 20-40 cm. Hal ini mengindikasikan bahwa dinding penahan
tanah yang ditinjau relatif aman terhadap bahaya longsor. Hasil displacement
pemodelan dengan Plaxis v8.6 ditampilkan pada Gambar 5.11 dimana dari hasil
tersebut dapat diketahui bahwa semakin rendah elevasi dinding penahan tanah
maka semakin kecil nilai displacement horisontal yang dimiliki.

-34.57
0.03449 0.03459 0.03469 0.03479 0.03489
-35.57

-36.57

-37.57

Elevasi -38.57
(m) -39.57

-40.57

-41.57

-42.57

-43.57
Displacement horizontal (Ux), m

Gambar 5.11 Displacement horisontal dinding penahan tanah 8

5.6.1 Rekomendasi perbaikan


Berdasarkan perhitungan stabilitas yang telah dilakukan, diketahui bahwa dinding
penahan tanah yang membutuhkan perbaikan paling prioritas adalah dinding
penahan tanah 8. Adapun rekomendasi perbaikan yang disarankan adalah
penambahan dimensi struktur dinding penahan tanah berdasarkan rekomendasi
dimensi oleh Bowles (1971) dimana untuk dinding penahan tanah 8, lebar bawah
minimum yang disyaratkan adalah 4,5 m.

Struktur dinding penahan tanah eksisting dan struktur dinding penahan tambahan
akan dihubungkan dengan besi ulir berdimeter 13 mm dengan jarak tertentu.
Tujuannya adalah agar struktur eksisting dan struktur tambahan dapat menahan
gaya lateral tanah secara bersamaan. Agar biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan
84

tetap ekonomis, maka struktur tambahan akan dibentuk menjadi dinding


counterfort (penguat). Tebal dinding counterfort yang terbuat dari pasangan batu
didesain setebal 1 m dan jarak antar dinding ditentukan sebesar 5 m (jarak bersih
sebesar 4,5 m) dimana jarak ini memenuhi syarat dinding counterfort yaitu
sebesar 0,3 – 0,6 H. Di antara struktur dinding counterfort tersebut akan diisi
dengan tanah urugan yang sifatnya sama dengan tanah lempung yang menyusun
lereng setinggi 5 m.

1.00

4.50

1.00

Gambar 5.12 Struktur dinding counterfort


85

0.50 0.50
0.50 q = 7,7 kN/m q = 7,7 kN/m
q = 7,7 kN/m

Baja ulir Ø13

9.00 9.00 9.00

Tanah Urug

5.00
5.00

Baja ulir Ø13

1.00 1.00
1.00

1.50 4.50
4.50

Dimensi eksisting Dimensi bagian dinding penahan tanah 8 dengan perkuatan Dimensi bagian dinding penahan tanah 8 dengan perkuatan
(dalam meter) pasangan batu (dalam meter) tanah urug (dalam meter)

Gambar 5.13 Perbandingan dimensi dinding penahan tanah 8 antara kondisi eksisting dan rencana perbaikan
86

a. Perhitungan gaya yang bekerja pada bagian dinding penahan tanah 8 yang
diperkuat oleh dinding counterfort.

Tabel 5.24 Perhitungan Berat Struktur

W eksisting W tambahan Q Wtotal


No. Struktur yang ditinjau
(kN) (kN) (kN) (kN)
Dinding Penahan
1. 209 198 3,85 407
Tanah 8

Tabel 5.25 Perhitungan Gaya Lateral

Jumlah Gaya Aktif per-1 Jumlah Gaya Pasif per-1


Dinding Penahan
No. meter ┴ bidang gambar meter ┴ bidang gambar
Tanah yang ditinjau
Ph (kN) Pv (kN) Ph (kN) Pv (kN)
Dinding Penahan
1. 218,86 84,427 314 50,655
Tanah 8

Tabel 5.26 Perhitungan Momen Gaya

Dinding Penahan Jumlah Momen Positif, Jumlah Momen Negatif,


No.
Tanah yang ditinjau M+ (kNm) M- (kNm)
Dinding Penahan
1. 2.152,763 689,063
Tanah 8

Setelah diketahui besarnya gaya dan momen yang bekerja pada dinding penahan
tanah tersebut, kemudian diperhitungkan kestabilan struktur terhadap
penggeseran, penggulingan, dan kuat dukung tanah dasar.
a. Stabilitas terhadap penggeseran
ad = 0,67
c = 30 kN/m2
ca = 0,67 x 30 = 20,1 kN/m2
B = 4,5 m
f = tan ((2/3) x 30) = 0,364
W = 410,85 kN
ΣRh = (20,1 x 4,5) + (410,85 x 0,364) = 239,987 kN
∑ 𝑅ℎ + ∑ 𝑃𝑝 239,987 + 314
𝐹𝑔𝑠 = = = 2,531 > 2
∑ 𝑃𝑎 218,858
87

Fgs > 2 maka struktur aman terhadap bahaya geser.


b. Stabilitas terhadap penggulingan
ΣMw = ΣM+ = 2.152,764 kNm
ΣMgl = ΣM- = 689,063 kNm
∑ 𝑀𝑤 2.152,764
𝐹𝑔𝑙 = = = 3,124 > 2
∑ 𝑀𝑔𝑙 689,063
Fgl > 2 maka struktur aman terhadap bahaya guling.
c. Stabilitas terhadap kuat dukung tanah dasar
ΣMw = 1.564,686 kN.
ΣMgl = 482,356 kN.
ΣW = 294,006 kN.
H = 218,86 kN.
B = 4,5 m.
∑ 𝑀𝑤 − ∑ 𝑀𝑔𝑙 1564,686 − 482,356
𝑥𝑒 = = = 3,678 𝑚
∑𝑊 294.006
𝐵 4,5
𝑒 = � − 𝑥𝑒 � = � − 3,678� = 1,427 𝑚
2 2
𝑉 6𝑒 294,006 6 × 1,427
𝜎𝑚𝑎𝑥 = �1 + � = �1 + � = 191,8 𝑘𝑁/𝑚2
𝐵 𝐵 4,5 4,5
𝜎𝑚𝑎𝑥 (191,8 𝑘𝑁⁄𝑚2 ) ≤ kuat desak pasangan batu (1500 𝑘𝑁⁄𝑚2 )
𝐻 218,86
𝜏= = = 48,635 𝑘𝑁/𝑚2
𝐵 4,5
𝜏 = 48,635 𝑘𝑁⁄𝑚2 ≤ kuat geser pasangan batu (150 𝑘𝑁⁄𝑚2 )
c = 24,525 kN/m2
Df = 1 m
𝐷𝑓
= 0,222 < 1 sehingga digunakan garis interpolasi
𝐵
γb = 15,892 kN/m3
30
𝑁𝑠 = = 1,5432
15,892 × 1
β =0ᵒ
φ = 31,04 ᵒ
Dari grafik, diperoleh nilai Ncq = 4,1 dan Nγq = 22,5.
88

𝑞𝑢𝑙𝑡 = 30 × 4,1 + 0,5 × 15,892 × 4,5 × 22,5 = 905,09 𝑘𝑁/𝑚2


𝑞𝑢𝑙𝑡 905,09
𝐹= = = 4,719 > 3
𝑞 191,8
F > 3 sehingga struktur stabil terhadap kuat dukung tanah dasar.

b. Perhitungan gaya yang bekerja pada bagian dinding penahan tanah 8 yang
diperkuat oleh tanah urug.

Tabel 5.27 Perhitungan berat struktur

W eksisting W tambahan Q Wtotal


No. Struktur yang ditinjau
(kN) (kN) (kN) (kN)
1. Dinding Penahan Tanah 8 209 159 3,85 371,85

Tabel 5.28 Perhitungan gaya lateral

Jumlah Gaya Pasif per-


Jumlah Gaya Aktif per-1
Dinding Penahan 1 meter ┴ bidang
No. meter ┴ bidang gambar
Tanah yang ditinjau gambar
Ph (kN) Pv (kN) Ph (kN) Pv (kN)
Dinding Penahan
1. 218,86 84,427 314 50,655
Tanah 8

Tabel 5.29 Perhitungan momen gaya

Dinding Penahan Jumlah Momen Positif, Jumlah Momen


No.
Tanah yang ditinjau M+ (kNm) Negatif, M- (kNm)
Dinding Penahan
1. 2.061,893 689,063
Tanah 8

Setelah diketahui besarnya gaya dan momen yang bekerja pada dinding penahan
tanah tersebut, kemudian diperhitungkan kestabilan struktur terhadap
penggeseran, penggulingan, dan kuat dukung tanah dasar.
a. Stabilitas terhadap penggeseran
ad = 0,67
c = 30 kN/m2
ca = 0,67 x 30 = 20,1 kN/m2
B = 4,5 m
89

f = tan ((2/3) x 30) = 0,364


W = 371,85 kN
ΣRh = (20,1 x 4,5) + (371,85 x 0,364) = 225,792 kN
∑ 𝑅ℎ + ∑ 𝑃𝑝 225,792 + 314
𝐹𝑔𝑠 = = = 2,466 > 2
∑ 𝑃𝑎 218,858
Fgs > 2 maka struktur aman terhadap bahaya geser.
b. Stabilitas terhadap penggulingan
ΣMw = ΣM+ = 2.061,894 kNm
ΣMgl = ΣM- = 689,063 kNm
∑ 𝑀𝑤 2.061,894
𝐹𝑔𝑙 = = = 2,992 > 2
∑ 𝑀𝑔𝑙 689,063
Fgl > 2 maka struktur aman terhadap bahaya guling.
c. Stabilitas terhadap kuat dukung tanah dasar
ΣMw = 1.569,7 kN.
ΣMgl = 486,18 kN.
ΣW = 291,71 kN.
H = 218,86 kN.
B = 4,5 m.
∑ 𝑀𝑤 − ∑ 𝑀𝑔𝑙 1569,7 − 486,18
𝑥𝑒 = = = 3,714 𝑚
∑𝑊 291,86
𝐵 4,5
𝑒 = � − 𝑥𝑒 � = � − 3,714� = 1,464 𝑚
2 2
𝑉 6𝑒 291,71 6 × 1,464
𝜎𝑚𝑎𝑥 = �1 + � = �1 + � = 191,38 𝑘𝑁/𝑚2
𝐵 𝐵 4,5 4,5
𝜎𝑚𝑎𝑥 (191,38 𝑘𝑁⁄𝑚2 ) ≤ kuat desak pasangan batu (1500 𝑘𝑁⁄𝑚2 )
𝐻 218,86
𝜏= = = 48,635 𝑘𝑁/𝑚2
𝐵 4,5
𝜏 = 48,635 𝑘𝑁⁄𝑚2 ≤ kuat geser pasangan batu (150 𝑘𝑁⁄𝑚2 )
c = 24,525 kN/m2
Df = 1 m
𝐷𝑓
= 0,222 < 1 sehingga digunakan garis interpolasi
𝐵
γb = 15,892 kN/m3
90

30
𝑁𝑠 = = 1,5432
15,892 × 1
β =0ᵒ
φ = 31,04 ᵒ
Dari grafik, diperoleh nilai Ncq = 4,1 dan Nγq = 22,5.
𝑞𝑢𝑙𝑡 = 30 × 4,1 + 0,5 × 15,892 × 4,5 × 22,5 = 927,53 𝑘𝑁/𝑚2
𝑞𝑢𝑙𝑡 927,53
𝐹= = = 4,864 > 3
𝑞 191,8
F > 3 sehingga struktur stabil terhadap kuat dukung tanah dasar.

Dari perhitungan stabilitas yang dilakukan dapat diketahui bahwa rekomendasi


perbaikan untuk dinding penahan tanah 8 dengan menggunakan counterfort
(penguat) memenuhi seluruh nilai stabilitas struktur dinding penahan tanah, baik
stabilitas terhadap penggeseran, stabilitas terhadap penggulingan, dan stabilitas
terhadap kuat dukung tanah dasar. Adapun hasil perhitungannya ditampilkan
dalam Tabel 5.30 berikut ini.

Tabel 5.30 Hasil perhitungan stabilitas rekomendasi perbaikan

Sesudah perbaikan
Sebelum
Bagian yang ditinjau Bagian Keterangan
perbaikan Bagian
tanah
counterfort
urug
Faktor aman stabilitas
1,454 3,124 2,992 Aman
terhadap penggulingan
Faktor aman stabilitas
1,551 2,531 2,466 Aman
terhadap penggeseran
Faktor aman stabilitas
terhadap kuat dukung 0,283 4,719 4,864 Aman
tanah dasar

Setelah diketahui bahwa struktur aman terhadap stabilitas terhadap penggeseran,


penggulingan, dan daya dukung tanah dasar maka struktur perlu dimodelkan
kembali dalam program Plaxis v8.6 untuk mengetahui deformasi struktur yang
terjadi.
91

Output displacement dinding penahan tanah 8 setelah diberi perkuatan


(counterfort) ditampilkan dalam gambar di bawah ini.

-34.57
0.03449 0.03459 0.03469 0.03479 0.03489
-35.57
-36.57
-37.57

Elevasi -38.57
(m) -39.57

-40.57
-41.57
-42.57
-43.57
Displacement horizontal (Ux), m

Gambar 5.14 Displacement horisontal dinding penahan tanah 8 counterfort

Berikut adalah perbandingan displacement yang terjadi pada dinding penahan


tanah 8 untuk kondisi eksisting dan kondisi setelah perbaikan.

Kondisi eksisting Kondisi dengan counterfort


-34.57
0.03449 0.03459 0.03469 0.03479 0.03489
-35.57

-36.57

-37.57

-38.57
Elevasi
(m) -39.57

-40.57

-41.57

-42.57

-43.57
Displacement horizontal (Ux), m

Gambar 5.15 Perbandingan displacement horisontal dinding penahan tanah 8


antara kondisi eksisting dan kondisi perbaikan
92

Dari Gambar 5.15 dapat diketahui bahwa penambahan struktur dinding


counterfort setinggi 4 m dari dasar dinding (elevasi -39,57 m) memberikan bentuk
deformasi yang lebih kecil dan cenderung lebih merata daripada kondisi
eksisting.. Dari pemodelan yang dilakukan, diperoleh hasil displacement sebagai
berikut.

Tabel 5.31 Output displacement dinding counterfort

Displacement dinding counterfort (cm)


Beban
Ux Uy |U|
Beban statis 0,371 -0,661 0,75
Beban dinamis 3,543 6,74 x10-5 3,452

Dari hasil displacement yang diperoleh dapat diketahui bahwa dengan adanya
perbaikan dengan dinding counterfort, nilai displacement maksimum struktur
dinding penahan tanah 8 berkurang dari 3,495 cm menjadi 3,452 cm. Hasil ini
tetap berada pada range aman terhadap bahaya longsor menurut Skempton dan
Hutchinson (1969) dalam Look (2007).