Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

MEKANIKA FLUIDA I – TL2201


MODUL 02
ALIRAN BERUBAH BERATURAN

Nama Praktikan : Melati Amalia


NIM : 15317093
Kelompok / Shift : 3B / Shift 10.30-12.00
Tanggal Praktikum : Kamis, 07 Februari 2019
Tanggal Pengumpulan : Rabu, 13 Februari 2019
PJ Modul : Tsamara Luthfia H. (15315016)
Almer Fadhilezar (15316054)
Asisten yang bertugas : Tiara Irianti (15315043)
Irfan Affandi (15316026)

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2019
I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan debit aktual aliran berubah beraturan

2. Menentukan kecepatan aliran berubah beraturan.

3. Menentukan koefisien kekasaran Manning saluran (n) pada aliran


berubah beraturan.
4. Menghitung bilangan Reynold (NRE) dan bilangan Froude (NFR)
pada aliran berubah beraturan.

II. DATA AWAL


Massa beban = 2.5 kg
Temperatur awal = 23˚C
Temperatur akhir = 24˚C
Lebar saluran = 0.076 m
Tabel II.1 Data hasil pengukuran pada fenomena aliran berubah
beraturan
Jarak Titik(m)
x1 x2 x3 x4 x5 x6 x7 x8
0.8 1.47 1.6 1.71 1.825 1.92 3.725 4
0.8 1.47 1.6 1.71 1.825 1.9 3.505 4
0.8 1.47 1.6 1.71 1.825 1.89 3.45 4

Tabel II.2 Data hasil pengukuran kedalaman aliran dan waktu beban
hydraulic bench
Waktu (s) Kedalaman saluran (m)
Variasi
t1 t2 t3 trata-rata y1 y2 y3 y4 y5 y6 y7 y8
1 3.63 3.24 3.49 3.453333 0.0892 0.0899 0.0884 0.0683 0.0584 0.0312 0.0476 0.045
2 5.8 5.66 5.42 5.626667 0.073 0.0736 0.0699 0.0549 0.0495 0.0225 0.0324 0.0342
3 7.29 7.1 7.62 7.336667 0.0627 0.0645 0.0603 0.0498 0.0432 0.015 0.0323 0.0283
Tabel II.3 Data temperatur dan massa jenis (Sumber: Finnemore, 2004)

Temperatur (ºC) Densitas


0 999.8
5 1000
10 999.7
15 999.1
20 998.2
25 997
30 995.7
40 992.2
50 988
60 983.2
70 977.8
80 971.8
90 965.3
100 958.4

1005
1000
Massa jenis (kg/m3)

995
990
985
980
975
970
965
960 y = -0.0036x2 - 0.0675x + 1000.6
R² = 0.9992
955
0 20 40 60 80 100 120
Temperatur ( 0C )

Gambar II.1 Grafik hubungan antara temperatur terhadap massa jenis


Tabel II.4 Data temperatur dan kekentalan dinamik (Sumber:
Finnemore,2004)

Temperatur (oC) Kekentalan dinamik (m2/s)


0 0.001781
5 0.001518
10 0.001307
15 0.001139
20 0.001002
25 0.00089
30 0.000798
40 0.000653
50 0.000547
60 0.000466
70 0.000404
80 0.000354
90 0.000315
100 0.000282

0.002
0.0018
Kekentalan dinamik (m2/s)

0.0016
0.0014
0.0012
0.001 y = -3E-12x3 + 6E-10x2 - 5E-08x + 2E-06
0.0008 R² = 0.9981

0.0006
0.0004
0.0002
0
0 20 40 60 80 100 120
Temperatur (oC)

Gambar II.2 Grafik hubungan antara temperatur terhadap kekentalan


dinamik
III. PENGOLAHAN DATA
III.1 Menentukan densitas air dan viskositas kinematis air
Untuk menghitung densitas air dapat menggunakan persamaan yang
ada pada grafik hubungan antara temperatur terhadap massa jenis,
berikut perhitungannya:
y = -0.0036x2 - 0.0675x + 1000.6
Dengan mensubtitusi nilai x dengan nilai suhu rata – rata, maka:
23+24 2 23+24
y = -0.0036( ) - 0.0675( ) + 1000.6
2 2

y = 997.0257 kg/m3
Sehingga didapat nilai densitas air adalah 997.0257 kg/m3
Sedangkan untuk menghitung nilai viskositas kinematis air dapat
menggunakan persamaan yang ada pada grafik hubungan antara
temperatur terhadap kekentalan dinamik, berikut perhitungannya:
y = -3*10-12x3 + 6*-10x2 – 5*-8x + 2*10-6
Dengan mensubtitusi nilai x dengan nilai suhu rata – rata, maka:
23+24 3 23+24 2 23+24
y = -3*10-12 ( ) + 6*10-10 ( ) - 5*10-8( )+ 2*10-6
2 2 2

y = 1.12 * 10-6 m2/s


Sehingga didapat nilai viskositas kinematis air adalah 1.12 * 10-6 m2/s

III.2 Menentukan volume air


Untuk menentukan volume air dapat menggunakan persamaan sebagai
berikut:
𝑚
V= 𝜌
7.5
V = 997.0257

V = 0.007522374 m3
Jadi nilai volume air adalah 0.007522374 m3

III.3 Menentukan keliling basah saluran


Untuk menentukan keliling basah saluran dapat menggunakan
persamaan sebagai berikut:
P = b + 2y
Dengan memasukkan data dari bagian data awal diatas, untuk nilai
lebar saluran dan rata-rata ketinggian di hulu dan hilir, berikut
perhitungan keliling basah variasi satu pada titik satu:
P = 0.076 + 2(0.0892)
P = 0.2544 m
Sehingga didapatkan nilai keliling basah adalah 0.2544 m. Untuk
variasi kedua dan variasi ketiga pada masing-masing titik dapat
dilakukan perhitungannya yang sama, data terdapat pada tabel di bagian
data akhir.

III.4 Menentukan luas penampang saluran


Untuk menentukan luas penampang saluran dapat menggunakan
persamaan sebagai berikut:
A = lebar saluran * y
Dengan memasukkan data dari bagian data awal diatas, untuk nilai
lebar saluran dan rata-rata ketinggian di hulu dan hilir, untuk variasi satu
pada titik satu berikut perhitungan luas penampang saluran:
A = 0.075 * 0.0892
A = 0.0067792 m2
Sehingga didapatkan nilai luas penampang saluran adalah
0.0067792 m2. Untuk variasi kedua dan variasi ketiga pada masing-
masing titik dapat dilakukan perhitungannya yang sama, data terdapat
pada tabel di bagian data akhir.

III.5 Menentukan debit aktual air


Untuk menentukan debit aktual air dapat menggunakan persamaan
sebagai berikut:
𝑉
Q = 𝑡 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎

Dengan memasukkan data dari bagian data awal diatas, untuk variasi
pertama berikut perhitungan debit aktual:
0.007522374
Q= 3.453333

Q = 0.002178294 m3/s
Sehingga nilai debit aktual air adalah 0.002178294 m3/s. Untuk variasi
kedua dan variasi ketiga dapat dilakukan perhitungannya yang sama,
data terdapat pada tabel di bagian data akhir.

III.6 Menentukan jari – jari hidrolis saluran


Untuk menentukan jari - jari hidrolis saluran dapat menggunakan
persamaan sebagai berikut:
𝐴
R=𝑃

Dengan memasukkan data dari bagian data awal diatas, berikut


perhitungan jari-jari hidrolis saluran untuk variasi satu pada titik satu:
0.0067792
R= 0.2544

R = 0.026648 m
Berikut perhitungan nilai jari – jari hidrolis yang dipangkatkan 2/3:
R2/3 = 0.0266482/3
R2/3 = 0.08922 m
Sehingga nilai jari–jari hidrolis saluran adalah 0.026648 m dan nilai
hasil dipangkatkan 2/3 adalah 0.08922 m. Untuk variasi kedua dan
variasi ketiga pada masing-masing titik dapat dilakukan perhitungannya
yang sama, data terdapat pada tabel di bagian data akhir.

III.7 Menentukan kemiringan saluran (Slope)


Untuk menentukan kemiringan saluran (slope) dapat menggunakan
persamaan sebagai berikut:
𝑦𝑠2−𝑦𝑠1
S= 𝑥𝑠

Dengan memasukkan data dari bagian data awal diatas, berikut


perhitungan kemiringan saluran:
0.0365−0.0325
S= 3.825

S= 0.001046
Sehingga nilai kemiringan saluran (slope) adalah 0.001046
III.8 Menentukan bilangan reynold
Untuk menentukan bilangan Reynold dapat menggunakan
persamaan sebagai berikut:
𝑣∗𝑅
NRe = 𝜗

Dengan memasukkan data dari bagian data awal diatas, berikut


perhitungan bilangan Reynold untuk variasi satu pada titik satu:
0.32132∗0.026648
NRe = 1.12 ∗ 10−6

NRe = 7645.06672
Sehingga didapatkan nilai bilangan reynold adalah 7645.06672.
Untuk variasi kedua dan variasi ketiga pada masing-masing titik dapat
dilakukan perhitungannya yang sama, data terdapat pada tabel di bagian
data akhir.

III.9 Menentukan kecepatan aliran air


Untuk menentukan kecepatan aliran dapat menggunakan persamaan
sebagai berikut:
𝑄
v=𝐴

Dengan memasukkan data dari bagian data awal diatas, untuk variasi
pertama berikut perhitungan kecepatan aliran air:
0.002178294
V= 0.0067792

V = 0.32132 m/s
Sehingga nilai kecepatan aliran air adalah 0.32132 m/s. Untuk variasi
kedua dan variasi ketiga pada masing-masing titik dapat dilakukan
perhitungannya yang sama, data terdapat pada tabel di bagian data akhir.

III.10 Menentukan koefisien kekasaran (manning)


Koefisien manning yang digunakan pada pengolahan data ini sama
seperti koefisisen manning yang digunkan pada percobaan modul 01
sebelumnya, yaitu
n = 0.00533
III.11 Menentukan bilangan froude
Untuk menentukan bilangan froude dapat menggunakan persamaan
sebagai berikut:
𝑣
NFR =
√𝑔∗𝑦

Dengan memasukkan data dari bagian data awal diatas, berikut


perhitungan bilangan froude untuk variasi satu pada titik satu:
0.32132
NFR = 9.81 ∗ 0.0892

NFR = 0.343671
Sehingga didapatkan nilai bilangan froude adalah 0.343671. Untuk
variasi kedua dan variasi ketiga pada masing-masing titik dapat
dilakukan perhitungannya yang sama, data terdapat pada tabel di bagian
data akhir.
III.12 Menentukan energi spesifik
Untuk menentukan energi spesifik dapat menggunakan persamaan
sebagai berikut:
𝑣2
ES = y + 2𝑔

Dengan memasukkan data dari bagian data awal diatas, berikut


perhitungan energi spesifik untuk variasi satu pada titik satu:
0.321322
ES = 0.0892 + 2∗9.81

ES = 0.094468
Sehingga didapatkan nilai energi spesifik adalah 0.094468. Untuk
variasi kedua dan variasi ketiga pada masing-masing titik dapat
dilakukan perhitungannya yang sama, data terdapat pada tabel di bagian
data akhir.
III.13 Menentukan slope energi
Untuk menentukan slope energi dapat menggunakan persamaan
sebagai berikut:
𝑛2 𝑣 2
Sf = 𝑅 4/3

Dengan memasukkan data dari bagian data awal diatas, berikut


perhitungan slope energi untuk variasi satu pada titik satu:
0.005332 0.321322
Sf = 0.0266484/3

Sf = 0.00037
Sehingga didapatkan nilai slope energi adalah 0.00037. Untuk
variasi kedua dan variasi ketiga pada masing-masing titik dapat
dilakukan perhitungannya yang sama, data terdapat pada tabel di bagian
data akhir.
𝑑𝑦
III.14 Menentukan 𝑑𝑥

Untuk menentukan slope energi dapat menggunakan persamaan


sebagai berikut:
𝑑𝑦 𝑆−𝑆𝑓
=
𝑑𝑥 1−𝑁𝐹𝑅 2

Dengan memasukkan data dari bagian data awal diatas, berikut


perhitungan slope energi untuk variasi satu pada titik satu:
𝑑𝑦 0.001046−0.00037
=
𝑑𝑥 1−0.3436712
𝑑𝑦
= 0.00077
𝑑𝑥

Sehingga didapatkan nilai slope energi adalah 0.00077. Untuk variasi


kedua dan variasi ketiga pada masing-masing titik dapat dilakukan
perhitungannya yang sama, data terdapat pada tabel di bagian data akhir.
III.15 Menentukan yteoritis
Untuk menentukan yteoritis dapat menggunakan persamaan sebagai
berikut:
𝑑𝑦
yteoritis = yaktual + 𝑑𝑥

Dengan memasukkan data dari bagian data awal diatas, berikut


perhitungan yteoritis untuk variasi satu pada titik satu:
yteoritis = 0.0892 + 0.00077
yteoritis = 0.08997
Sehingga didapatkan nilai yteoritis adalah 0.08997. Untuk variasi
kedua dan variasi ketiga pada masing-masing titik dapat dilakukan
perhitungannya yang sama, data terdapat pada tabel di bagian data akhir.
IV. DATA AKHIR
Tabel IV.1 Data akhir perhitungan variasi 1 (1)

Titik A (m2) P (m) R (m) Q (m3/s) v (m/s) NRE NFR ES (m)

1 0.0067792 0.2544 0.026648 0.002178294 0.32132 7645.06672 0.343671 0.094468

2 0.0068324 0.2558 0.02671 0.002178294 0.318818 7603.225073 0.339665 0.095086

3 0.0067184 0.2528 0.026576 0.002178294 0.324228 7693.453218 0.348346 0.093763


Variasi
4 0.0051908 0.2126 0.024416 0.002178294 0.419645 9148.188963 0.512931 0.077285
1
5 0.0044384 0.1928 0.023021 0.002178294 0.490784 10087.6814 0.64874 0.070689

6 0.0023712 0.1384 0.017133 0.002178294 0.918646 14052.7816 1.661338 0.074257

7 0.0036176 0.1712 0.021131 0.002178294 0.602138 11360.42625 0.881616 0.063498

8 0.00342 0.166 0.020602 0.002178294 0.636928 11716.29502 0.959116 0.053098

Tabel IV.2 Data akhir perhitungan variasi 1 (2)


yaktual1 jarak yaktual2
n R2/3 Sf dy/dx yteo (m)
(m) titik (m) (m)
0.00533 0.08922 0.00037 0.00077 0.08997 0.0892 0.8 0.0892

0.00533 0.08935 0.00036 0.00077 0.09067 0.0899 1.47 0.0899

0.00533 0.08906 0.00038 0.00076 0.08916 0.0884 1.6 0.0634


Variasi
0.00533 0.08416 0.00071 0.00046 0.06876 0.0683 1.71 0.0433
1
0.00533 0.08092 0.00104 1.9E-06 0.0584 0.0584 1.825 0.0334

0.00533 0.06646 0.00543 0.00249 0.03369 0.0312 1.92 0.0312

0.00533 0.07643 0.00176 -0.0032 0.04438 0.0476 3.725 0.0476

0.00533 0.07515 0.00204 -0.0124 0.03258 0.045 4 0.045

Tabel IV.3 Data akhir perhitungan variasi 2 (1)


Titik A (m2) P (m) R (m) Q (m3/s) v (m/s) NRE NFR ES (m)

1 0.005548 0.222 0.024991 0.001336915 0.240972 5376.909485 0.2849 0.075963

2 0.0055936 0.2232 0.025061 0.001336915 0.239008 5348.001369 0.281424 0.076515

3 0.0053124 0.2158 0.024617 0.001336915 0.251659 5531.389739 0.304061 0.073131


Variasi
4 0.0041724 0.1858 0.022456 0.001336915 0.320419 6424.509718 0.436836 0.060138
2
5 0.003762 0.175 0.021497 0.001336915 0.355373 6820.993746 0.510234 0.055943

6 0.00171 0.121 0.014132 0.001336915 0.781822 9865.0736 1.664958 0.053686

7 0.0024624 0.1408 0.017489 0.001336915 0.542932 8477.797625 0.963517 0.04744

8 0.0025992 0.1444 0.018 0.001336915 0.514356 8266.439789 0.88846 0.047698

Tabel IV.4 Data akhir perhitungan variasi 2 (2)


yaktual1 jarak yaktual2
n R2/3 Sf dy/dx yteo (m)
(m) titik (m) (m)
0.00533 0.08548 0.00023 0.00089 0.07389 0.073 0.8 0.073

0.00533 0.08564 0.00022 0.0009 0.0745 0.0736 1.47 0.0736

0.00533 0.08462 0.00025 0.00088 0.07078 0.0699 1.6 0.0449


Variasi
0.00533 0.0796 0.00046 0.00072 0.05562 0.0549 1.71 0.0299
2
0.00533 0.07731 0.0006 0.0006 0.0501 0.0495 1.825 0.0245

0.00533 0.05845 0.00508 0.00228 0.02478 0.0225 1.9 0.0225

0.00533 0.06738 0.00184 -0.0112 0.02125 0.0324 3.505 0.0324

0.00533 0.06868 0.00159 -0.0026 0.0316 0.0342 4 0.0342

Tabel IV.5 Data akhir perhitungan variasi 3 (1)

Titik A (m2) P (m) R (m) Q (m3/s) v (m/s) NRE NFR ES (m)

Variasi 1 0.0047652 0.2014 0.02366 0.001025312 0.215167 4545.468302 0.274491 0.065062


3 2 0.004902 0.205 0.023912 0.001025312 0.209162 4465.645444 0.263081 0.066732

3 0.0045828 0.1966 0.02331 0.001025312 0.223731 4656.446165 0.291041 0.062854


4 0.0037848 0.1756 0.021554 0.001025312 0.270903 5213.310456 0.38778 0.053544

5 0.0032832 0.1624 0.020217 0.001025312 0.312291 5637.052439 0.479959 0.048176

6 0.00114 0.106 0.010755 0.001025312 0.899397 8636.389774 2.345809 0.056271

7 0.0024548 0.1406 0.017459 0.001025312 0.417676 6511.076216 0.742379 0.041201

8 0.0021508 0.1326 0.01622 0.001025312 0.476712 6903.901328 0.905211 0.039895

Tabel IV.6 Data akhir perhitungan variasi 3 (2)


yaktual1 jarak yaktual2
n R2/3 Sf dy/dx yteo (m)
(m) titik (m) (m)
0.00533 0.08242 0.00019 0.00092 0.06362 0.0627 0.8 0.0627

0.00533 0.083 0.00018 0.00093 0.06543 0.0645 1.47 0.0645

0.00533 0.0816 0.00021 0.00091 0.06121 0.0603 1.6 0.0353


Variasi
0.00533 0.07745 0.00035 0.00082 0.05062 0.0498 1.71 0.0248
3
0.00533 0.07421 0.0005 0.00071 0.04391 0.0432 1.825 0.0182

0.00533 0.04872 0.00968 0.00192 0.01692 0.015 1.89 0.015

0.00533 0.0673 0.00109 -0.0001 0.03219 0.0323 3.45 0.0323

0.00533 0.06408 0.00157 -0.0029 0.02539 0.0283 4 0.0283

V. ANALISIS A
V.1 Cara kerja
Pada praktikum aliran seragam dan kemiringan saluran ini, hal
pertama yang harus dilakukan adalah mengukur temperatur fluida pada
awal percobaan setelah alat hydraulic bench dinyalakan. Hal ini
dilakukan untuk menentukan massa jenis dari fluida yang dilihat dari
data tabel massa jenis fluida terhadap temperaturnya. Selain itu,
pengukuran temperatur mempengaruhi perhitungan karena adanya
kemungkinan untuk terjadinya proses penguapan pada fluida tersebut.
Hydraulic Bench harus dihubungkan ke sumber listrik 110 V agar tidak
terjadi kerusakan dan ledakan.
Ketika air dialirkan telah memenuhi seluruh saluran, valve dan
outlet alat ke hydraulic bench ditutup untuk menahan air berada dalam
saluran. Lalu, dilakukan kalibrasi alat pengukur kedalaman ketika
kondisi air telah tenang (tidak bergelombang). Kalibrasi dilakukan
dengan menyentuhkan paku pada dasar saluran. Alat pengukur
kedalaman aliran air dikalibrasi dengan tujuan agar didapatkan data
yang akurat pada pengukuran dan menghindarkan kesalahan
perhitungan saat mengukur ketinggian permukaan aliran air. Lalu, valve
diatur untuk menetapkan debit awal yang akan digunakan pada variasi
debit pertama. Selanjutnya, dipasang dua buah ambang di dalam saluran
pada jarak yang ditentukan. Setelah ambang dipasang, terbentuk aliran
berubah beraturan seperti pada gambar berikut:

Gambar V.1.1 Ilustrasi fenomena aliran berubah beraturan


Selanjutnya, diukur kedalaman dari delapan titik yang telah
ditentukan. Pada debit yang sama, secara bersamaan dilakukan
pengukuran waktu dengan massa untuk menentukan massa air pada bak
penampungan di hydraulic bench. Pengukuran waktu dilakukan
sebanyak tiga kali (triplo) pada tiap variasi debit untuk mendapatkan
data yang lebih akurat. Setelah pengukuran variasi pertama selesai
dilakukan, debit diubah lebih kecil dari variasi debit pertama agar aliran
air tidak meluap dari saluran. Dilakukan tiga variasi debit yang berbeda
agar didapatkan data yang lebih presisi dan akurat. Langkah terakhir
adalah mengukur temperatur air pada akhir percobaan. Temperatur
fluida akhir sama pentingnya dengan temperatur fluida awal karena akan
di interpolasikan untuk digunakan pada perhitungan densitas air.
Pengukuran temperatur dengan termometer harus dalam posisi yang
benar, tidak menyentuh dinding tangki agar didapatkan temperatur air
akhir yang tepat. Lalu, hydraulic bench dimatikan.

V.2 Grafik

yteoritis terhadap jarak titik


0.1

0.08
yteoritis (m)

0.06

0.04

0.02

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
Jarak (m)

Variasi 1 Variasi 2 Variasi 3

Gambar V.2.1 Grafik yteoritis terhadap jarak antar titik


Dari gambar di atas, dapat diketahui profil aliran pada titik satu
untuk ketiga variasi masih sejajar kedalamannya akibat belum adanya
ambang, di titik kedua terjadi penurunan kedalaman akibat adanya slope
pada saluran, lalu titik ketiga dan keempat terjadi penurunan akibat
adanya ambang. Kemudian pada titik lima dan enam terjadi penurunan
karena adanya terjunan, di titik enam terjadi penurunan sangat drastis
karena aliran sudah melewati ambang. Pada titik ke tujuh kembali naik
karena akibat loncatan setelah terjunan dan karena adanya bendungan,
dan titik delapan naik karena aliran air sudah mulai kembali stabil di
hilir.
yaktual terhadap jarak
0.1
0.09
0.08
0.07

yaktual (m)
0.06
0.05
0.04
0.03
0.02
0.01
0
0 1 2 3 4 5
Jarak (m)

Variasi 1 Variasi 2 Variasi 3

Gambar V.2.2 Grafik yaktual terhadap jarak antar titik


Dari gambar di atas, jika dibandingkan dengan grafik hubungan
antara kedalaman teoritis dengan jarak antar titiknya terdapat beberapa
kesamaan, seperti profil aliran dari titik satu ke titik dua, profil aliran
dari enam hingga titik tujuh. Namun, terdapat sedikit perbedaan pada
profil aliran di titik dua ke tiga, dimana pada grafik diatas terjadi turunan
cukup signifikan dibandingan pada grafik kedalaman teoritis. Lalu,
profil aliran dari titik lima ke enam berkebalikan dengan grafik
kedalaman teoritis, hanya terjadi sedikit penurunan.

ES terhadap Jarak Titik


0.1

0.08

0.06
ES (M)

0.04

0.02

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
Jarak Titik (m)

Variasi 1 Variasi 2 Variasi 3

Gambar V.2.3 Grafik ES terhadap jarak antar titik


Dari gambar di atas, dapat diketahui energi spesifik pada setiap
titiknya. Energi spesifik dapat di pengaruhi oleh adanya kedalaman dan
head kecepatan. Pada titik satu, dua, dan tiga nilai energi spesifik lebih
besar karena kedalamannya yang besar dibandingkan dengan titik
lainnya. Pada titik empat terjadi penurunan energi spesifik karena
karena kedalaman yang menurun dari titik-titik sebelumnya. Titik lima
energi spesifik sangat besar dibanding titik lain karena terjadi kecepatan
aliran yang tinggi akibat adanya terjunan. Energi spesifik pada titik
enam, tujuh, dan delapan menurun dikarenakan kecepatan yang
melambat dan kedalaman yang rendah dibandingkan titik-titik
sebelumnya.

v terhadap jarak titik


1

0.8
Kecepatan (m/s)

0.6

0.4

0.2

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
Jarak titik (m)

Variasi 1 Variasi 2 Variasi 3

Gambar V.2.4 Grafik v terhadap jarak antar titik


Dari gambar diatas, dapat diketahui bahwa pada titik satu dan
dua kecepatan relatif lambat akibat aliran yang tenang dan tidak adanya
gangguan. Pada titik tiga dan empat kecepatannya mulai lebih cepat
karena adanya ambang. Lalu pada titik lima ke titik enam menunjukan
aliran yang sangat cepat akibat adanya terjunan. Kecepatan yang sangat
tinggi ialah pada titik enam karena titiknya pas dibawah terjunan. Pada
titik tujuh terjadi penurunan karena aliran air telah melewati terjunan.
Titik delapan aliran air kembali melambat karena aliran sudah mulai
stabil.
NRE terhadap Jarak Titik
16000
14000
12000
NRE 10000
8000
6000
4000
2000
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
Jarak titik (m)

Variasi 1 Variasi 2 Variasi 3

Gambar V.2.5 Grafik NRE terhadap jarak antar titik


Dari gambar di atas, jenis aliran dapat ditentukan pada setiap
titiknya disaluran terbuka ini. Berdasarkan data literatur, jika bilangan
reynolds kurang dari 2.000 maka aliran bersifat laminer sedangkan lebih
dari 2.000 aliran bersifat turbulen. Dari ketiga variasi, di semua titik
bilangan reynoldsnya melebihi 2.000, sehingga dapat dikatakan aliran
bersifat turbulen. Bilangan reynolds sangat tinggi terjadi dari titik lima
menuju titik enam, hal ini terjadi karena adanya pengaruh kecepatan
yang tinggi akibat adanya terjunan ambang. Pada titik enam hingga ke
titik delapan bilangan reynolds berangsur turun, hal ini menandakan
bahwa aliran kembali normal.

Gambar V.2.5.1 Literatur bilangan reynolds


NFR terhadap Jarak Titik
2.5

1.5

NFR 1

0.5

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
Jarak titik (m)

Variasi 1 Variasi 2 Variasi 3

Gambar V.2.6 Grafik NFR terhadap jarak antar titik


Dari gambar diatas, bilangan Froude dapat menentukan sifat aliran
pada setiap titiknya. Berdasarkan literatur, diketahui bahwa NFR < 1
aliran bersifat subkritis, NFR = 1 aliran bersifat kritis, dan NFR > 1
aliran bersifat superkritis. Ketiga variasi dari gambar diatas, titik satu
hingga titik lima bilangan Froudenya kurang dari satu, maka alirannya
bersifat subkritis. Pada titik enam aliran bersifat superkritis karena
bilangan Froudenya lebih dari satu. Pada titik enam sangat melunjak
karena ada pengaruhnya kecepatan yang tinggi akibat terjunan dari titik
lima, serta akibat kedalaman yang rendah. Kemudian titik tujuh dan
delapan kembali subkritis. Namun, terjadi penyimpangan di variasi 2
titik tujuh, dimana aliran bersifat kritis akibat bilangan Froude sama
dengan satu.

Gambar V.2.6.1 Literatur bilangan froude

V.3 Kesalahan
Ada beberapa kesalahan yang terjadi dalam praktikum ini, seperti
ketidakakuratan memulai dan mengakhiri stopwatch dalam pengukuran
waktu. Hal ini dapat menyebabkan tidak akuratnya hasil perhitungan
Qaktual yang dapat memberikan dampak pada perhitungan dan
pengolahan data. Lalu, kesalahan saat peletakan beban yang seharusnya
dilakukan tepat pada saat lengan beban hydraulic bench mulai terangkat
yang berpengaruh dalam memperhitungkan waktu. Kesalahan
selanjutnya ialah mengalibrasi alat dan pembacaan angka pengukuran
kedalaman air pada alat jangka sorong, sehingga berpengaruh dalam
pengukuran kedalaman air. Lalu, ketidaktepatan penandaan maupun
pembacaan titik pengukuran kedalaman di hulu maupun di hilir yang
menyebabkan data yang didapatkan belum tentu akurat. Kesalahan-
kesalahan tersebut tentunya berpengaruh pada pengolahan data,
sehingga didapatkan data-data yang tidak sesuai teori.

VI. ANALISIS B
VI.1 Rancangan bendungan
Aplikasi modul ini di bidang Teknik Lingkungan ialah rancangan
pintu air bendungan yang ingin di buat dari profil aliran dengan
menggunakan prinsip aliran berubah Ketinggian dari pintu air
bendungan dapat divariasikan sesuai dengan kebutuhan yang dapat
menyebabkan gangguan sehingga terjadi fenomena aliran berubah
beraturan.

Gambar VI.1.1 Bendungan


VI.2 Rancangan selokan
Aplikasi lain yang dapat di terapkan ialah rancangan selokan,
dibutuhkan analisis perhitungan untuk memperkirakan luas selokan agar
dapat menampung air yang mengalir, terutama saat musim penghujan.
Pembuatan selokan ini dapat di ditentukan/diatur kekasaran dan
ketinggian salurannya untuk hasil yang baik guna menampung aliran air.

Gambar VI.2.1 Selokan

VII. KESIMPULAN
1. Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, berikut nilai
debit aktual aliran berubah beraturan:
Tabel VII.1 Debit aktual aliran berubah beraturan
Variasi Qaktual
1 0.002178294
2 0.001336915
3 0.001025312
2. Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, berikut nilai
kecepatan aliran berubah beraturan:
Tabel VII.2 Kecepatan aliran berubah beraturan

Kecepatan (m/s)
Titik
Variasi 1 Variasi 2 Variasi 3
1 0.32132 0.240972 0.215167
2 0.318818 0.239008 0.209162
3 0.324228 0.251659 0.223731
4 0.419645 0.320419 0.270903
5 0.490784 0.355373 0.312291
6 0.918646 0.781822 0.899397
7 0.602138 0.542932 0.417676
8 0.636928 0.514356 0.476712

3. Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, nilai koefisien


kekasaran Manning saluran (n) pada aliran berubah beraturan yang
digunakan adalah 0.00533.

4. Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, berikut nilai


bilangan Reynold (NRE) dan bilangan Froude (NFR) pada aliran
berubah beraturan:
Tabel VII.3 Bilangan Reynold dan bilangan Froude aliran berubah
beraturan
NRE NFR
Titik
Variasi 1 Variasi 2 Variasi 3 Variasi 1 Variasi 2 Variasi 3
1 7645.06672 5376.909485 4545.468302 0.343671 0.2849 0.274491
2 7603.225073 5348.001369 4465.645444 0.339665 0.281424 0.263081
3 7693.453218 5531.389739 4656.446165 0.348346 0.304061 0.291041
4 9148.188963 6424.509718 5213.310456 0.512931 0.436836 0.38778
5 10087.6814 6820.993746 5637.052439 0.64874 0.510234 0.479959
6 14052.7816 9865.0736 8636.389774 1.661338 1.664958 2.345809
7 11360.42625 8477.797625 6511.076216 0.881616 0.963517 0.742379
8 11716.29502 8266.439789 6903.901328 0.959116 0.88846 0.905211
DAFTAR PUSTAKA
Giles, Ranald V. 1996. Seri Buku Schaum, Mekanika Fluida dan
Hidraulika. Jakarta: Erlangga.
Halliday, R., Jearl, W., dan Resnick, R. 2014. Principles of Physics 10th
Edition. New York: John Wiley & Sons Singapore Pte. Ltd.
Finnemore, E. John dan Joseph E. Franzini. Fluid Mechanics with
Engineering Applications. McGraw Hill Inc. New
York.2002.
Munson, Bruce R, dkk. 2004. Mekanika Fluida. Jakarta: Penerbit
Erlangga
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai