Anda di halaman 1dari 13

MASAYARAKAT LIBERAL DAN

AKHLAKUL KARIMAH

Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Akhlak Tasawuf

Dosen Pengampu : Al-Qodri, Lc., M.A

OLEH :
NOVI HIDAYAH
NPM : 1810101009

SEKOLAH TINGGI ILMU SYARIAH MUHAMMADIYAH


PRINGSEWU – LAMPUNG
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis
telah diberikan kekuatan dan kemampuan untuk menyelesaikan makalah ini sesuai
waktu yang telah ditentukan.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan dan penulisan makalah ini masih
banyak kekurangan baik dari segi isi maupun bahasa. Untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan
selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca
pada umumnya.

Wassalamu’alikum Wr. Wb.

Pringsewu, Februari 2019


Penulis

Novi Hidayah
1810101009

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1
A. Latar Belakang ..................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................ 1
C. Tujuan ................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................ 3


A. Definisi Masyarakat Liberal ................................................. 3
B. Ciri-ciri Masyarakat Liberal ................................................. 3
C. Faktor Penyebab Terjadinya Masyarakat Liberal ................ 5
D. Konstruksi Akhlak Karimah Terhadap
Kehidupan Masyarakat ......................................................... 7

BAB III PENUTUP .................................................................................. 9


A. Kesimpulan ........................................................................... 9
B. Saran ..................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara kita sebagai
umat yang senantiasa bersosialisasi, berinteraksi dengan yang lainnya,
khususnya umat muslim, sudah sepantasnya kita menmpilkan akhlak mulia
yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat beliau. Selain
itu, kita juga harus berakhlak kepada alam. Karena kita dan alam sama-sama
makhluk ciptaan-Nya.

Liberalisme berpengaruh terhadap perkembangan paham demokrasi dan


nasionalisme atas bangsa-bangsa di dunia. Setiap individu mempunyai hak
untuk menjalankan kepentingan yang diwujudkan dalam sistem demokrasi
liberal sehingga melahirkan fungsi parlemen sebagai lembaga pemerintahan
rakyat. Seterusnya, pemilihan umum dilakukan untuk memilih para anggota
parlemen, dan setiap orang berhak memberikan satu suara. Dalam pemilu
sering terjadi persaingan mencari kekuasaan politik. Masuknya seseorang
menjadi anggota parlemen otomatis akan berpengaruh terhadap penetapan
undang-undang atau jatuh bangunnya sebuah kabinet.

Bagi bangsa yang sedang terjajah, liberalisme sejalan dengan pertumbuhan


paham nasionalisme yang sama-sama menginginkan terbentuknya negara
yang berpemerintahan sendiri. Kesadaran tersebut tumbuh karena setiap
bangsa memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud masyarakat liberal?
2. Bagaimana ciri-ciri masyarakat liberal?
3. Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya masyarakat liberal?
4. Bagaimana kontruksi akhlak karimah terhadap kehidupan masyarakat?

iv
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian masyarakat liberal
2. Mengetahui ciri-ciri masyarakat liberal
3. Mengetahui faktor penyebab terjadinya masyarakat liberal
4. Mengetahui kontruksi akhlak karmah terhadap kehidupan masyarakat.

v
BAB II
PEMBAHASAN

A. Defisini Masyarakat Liberal


Secara etimologi, Liberalisme (dalam bahasa inggris Liberalism) adalah
derivasi dari kata liberty (dalam bahasa inggris) atau liberte (dalam bahasa
Perancis) yang berarti “bebas”. Adapun secara terminologi, para peneliti
mengemukakan bahwa Liberalisme adalah terminologi yang cukup sulit untuk
didefinisikan. Hal itu karena konsep liberalisme yang terbentuk tidak hanya
dalam satu generasi, dengan tokoh pemikiran yang bermacam-macam dan
orientasi yang berbeda-beda.

Liberal adalah suatu ideologi atau paham yang menjunjung tinggi kebebasan
dan persamaan hak individu dalam berbagai aspek kehidupan, baik di bidang
ekonomi, politik, sosial, agama, dan hal lainnya yang menyangkut harkat
hidup orang banyak (Adams, 2014).

Masayarakat liberalisme adalah suatu paham dan tradisi politik yang


mengusung kebebasan dan persamaan hak bagi setiap individu di dalam
masyarakat. Artinya, suatu negara dan pemerintahnya harus menghormati dan
melindungi kebebasan dan hak setiap warganya dalam berbagai aspek
kehidupan manusia (Budiharjo, 2009).

B. Ciri-ciri Masyarakat Liberal


Suatu ideologi dapat kita kenali dari karakteristiknya. Sesuai dengan
pengertian liberalisme di atas, adapun ciri-ciri liberalisme adalah sebagai
berikut:
1. Kebebasan Inidividu
Setiap orang bebas berbuat apa saja tanpa campur tangan siapa pun,
termasuk negara. Fungsi negara adalah melindungi dan menjamin
kebebasan tersebut dari siapapun yang mencoba untuk merusaknya. Oleh

vi
karena itu, liberalisme sangat mementingkan kebebasan dengan semua
jenisnya. Kekebasan berkreasi, berpendapat, menyampaikan gagasan,
berbuat dan bertindak, bahkan kebebasan berkeyakinan adalah tema yang
mereka ingin wujudkan dalam kehidupan ini. Kebebasan dalam pandangan
mereka tidak berbatas, selama tidak merugikan dan bertabrakan dengan
kebebasan orang lain. Kaidah kebebasan mereka berbunyi, “Kebebasan
Anda berakhir pada permulaan kebebasaan orang lain.

2. Rasionalisme
Penganut liberalisme meyakini bahwa akal manusia mampu mencapai
segala kemaslahatan hidup yang dikehendaki. Standar kebenaran adalah
akal atau rasio. Karakter ini sangat kentara dalam pemikiran liberal.
Rasionalisme diantaranya nampak pada:
- Pertama, keyakinan bahwa hak setiap orang bersandar kepada hukum
alam. Sementara hukum alam tidak dapat diketahui kecuali dengan
akal melalui media indera/materi atau eksperimen. Dari sini kita
mengenal aliran filsafat materialisme (aliran filsafat yang mengukur
setiap kebenaran melalui materi) dan empirisme (aliran filsafat yang
menguji setiap kebenaran melalui eksperimen).
- Kedua, negara harus bersikap netral terhadap semua agama. Karena
tidak ada kebenaran yang bersifat yakin atau absolut, yang ada adalah
kebenaran yang bersifat relatif. Ini yang dikenal dengan “relatifisme
kebenaran”.
- Ketiga, perundang-undangan yang mengatur kebebasan ini semata-
mata hasil dari pemikiran manusia, bukan syariat agama.
Ciri-ciri tersebut disusun berdasarkan rumusan pemikiran Luther dan dapat
disimpulkan menjadi beberapa poin berikut:
1. Otoritas agama satu-satunya adalah teks-teks Bible dan bukan pendapat
tokoh-tokoh agama.
2. Pengingkaran terhadap sistem kepausan gereja yang berposisi sebagai
khalifah almasih.

vii
3. Menegasikan keyakinan pengampunan atau tidak diampuni (dari institusi
geraja).
4. Ajakan kepada liberalisasi pemikiran, keluar dari tirani tokoh agama dan
monopoli mereka dalam memahami kitab suci, klaim rahasia suci serta
pengabaian peran akal atas nama agama.

C. Faktor Penyebab Terjadinya Masyarakat Liberal


1. Setiap Individu Punya Kesempatan Sama
Salah satu nilai pokok di dalam liberalisme adalah setiap individu
memiliki kesempatan yang sama (Hold The Basic Equality of All Human)
pada semua bidang. Namun, bukan berarti setiap orang bisa memberikan
hasil yang sama.
Persamaan hak dan kesempatan merupakan hal yang mutlak di dalam
ideologi ini. Sedangkan hasil yang nantinya akan diperoleh setiap individu
tergantung pada banyak faktor misalnya keterampilan, kerja keras, sumber
daya, dan lainnya.

2. Berhak Mendapat Perlakuan yang Sama


Mengacu pada poin #1 yaitu kesempatan yang sama, maka penyelesaian
setiap masalah yang dihadapi individu akan mendapatkan perlakuan yang
sama (Treat the Others Equally), baik itu di bidang ekonomi, politik,
sosial, dan lainnya.

3. Ada Hukum dan Hukum Diterapkan


Di dalam setiap negara harus ada hukum di dalamnya yang bertujuan
untuk melindungi dan menjaga hak-hak masyarakatnya. Negara liberal
menetapkan patokan hukum tertinggi yang menghargai hak-hak kebebasan
dan persamaan kedudukan setiap individu di dalam hukum (The Rule of
Law).

viii
4. Pemerintah Ditentukan Dengan Persetujuan
Di negara liberal, kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat sehingga
penentuan pihak-pihak yang akan menjalankan negara tersebut harus
mendapat persetujuan dari rakyat. Artinya, pemerintah harus bertindak
sesuai kehendak rakyat dan tidak boleh bertindak atas keinginan sendiri.

5. Negara Hanyalah Alat


Negara yang menganut paham liberalisme menganggap bahwa suatu
negara merupakan mekanisme yang dipakai dalam perwujudan tujuan-
tujuan yang lebih besar.

6. Tidak Menerima Ajaran Dogmatisme


Negara yang menganut paham liberalisme tidak menerima ajaran
Dogmantisme, yaitu ideologi yang memegang kepercayaan dan menentang
apapun yang tidak sesuai dengan kepercayaannya.

Selain itu faktor internal kaum muslimin yang lemah dari sisi komitmen
mereka terhadap agamanya, terutama persoalan yang berkaitan dengan akidah,
tersebarnya aliran pemikiran liberalisme tidak lepas dari peran Barat yang
sangat giat menyebarkannya melalui kekuatan politik, ekonomi dan teknologi
informasi yang mereka miliki. Dan disinyalir, kaum muslimin adalah sasaran
utama dari invansi pemikiran ini. Karena, sebagaimana yang dikatakan oleh
Samuel P. Huntington dalam bukunya yang berjudul “Clash Of Civilization”
(Benturan Peradaban), setelah jatuhnya aliran Komunisme, maka tantangan
Barat selanjutnya adalah Islam. Menurutnya, “bahaya Islam” lebih berat dari
peradaban-peradaban yang lain seperti Cina, Jepang dan negeri-negeri Asia
Utara yang lain.

Selain itu, keyakinan Barat terhadap konsep liberal di antaranya juga


diinspirasi oleh tesis Francis Fukuyama dalam “The End Of History” (Akhir
Sejarah) yang menyebutkan bahwa demokrasi liberal adalah titik akhir dari
evolusi sosial budaya dan bentuk pemerintahan manusia.

ix
Sebagai umat Islam, tentu kita tidak ingin peradaban Islam yang di bangun
diatas akidah dan nilai-nilai agama Allah ini dirusak oleh orang-orang kafir
dengan pemikiran-pemikiran luar itu. Islam adalah agama yang sempurna
dengan ajaran yang bersumber dari wahyu Allah, Pencipta yang
Mahamengetahui segala kebutuhan makhluk-makhluk-Nya. Karenanya Islam
tidak membutuhkan isme-isme dan ideologi dari luar. Allah berfirman:

َ َ‫ٱۡل ۡس َٰلَ ََمَد ِٗين ۚا‬


ِ ۡ َ‫ضيتُ َلَ ُك ُم‬ َ ‫ۡٱليَ ۡو ََمَأ َ ۡك َم ۡلتُ َلَ ُك ۡمَدِينَ ُك ۡم‬
َ ِ‫َوأ َ ۡت َممۡ تُ َ َعلَ ۡي ُك ۡمَنِعۡ َمت‬
ِ ‫يَو َر‬
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-
cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu.” (QS. Al Maidah [5]: 3)

D. Konstruksi Akhlak Karimah Terhadap Kehidupan Masyarakat


Membangun Masyarakat Berbasis Akhlakul Karimah Pengertian Akhlak
Karakteristik Akhlak dan Etika Islam Faktor Pembentuk Akhlak Manusia
Kelompok: Akhlak merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, yang
memiliki arti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi’at. Akhlak
sebenarnya merupakan sifat dasar manusia yang telah ada pada diri manusia
sejak ketika dia lahir dan akan terus melekat pada jiwa manusia untuk
mendorongnya melakukan tindakan-tindakan yang tidak melalui pertimbangan
fikiran terlebih dahulu.

Etika Islam mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang
baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk. Etika Islam
menetapkan bahwa yang menjadi sumber moral, ukuran baik buruknya
perbuatan, didasarkan kepada ajaran Allah SWT. Etika Islam bersifat
universal dan komprehensif, dapat diterima dan dijadikan pedoman oleh
seluruh umat manusia di segala waktu dan tempat. Etika Islam mengatur dan
mengarahkan fitrah manusia ke jenjang akhlak yang luhur dan meluruskan
perbuatan manusia.
Perwujudan akhlak dalam kehidupan manusia mengalami perbedaan. Faktor
Internal 1. Insting (Naluri) Naluri merupakan tabiat yang dibawa manusia

x
sejak lahir, atau merupakan suatu pembawaan asli dari manusia itu sendiri.
Berbagai naluri lain seperti naluri takut, naluri memiliki maupun naluri ber-
Tuhan.

Manusia mendapatkan warisan fisik dan mental, mulai dari sifat-sifat umum
sampai sifat-sifat khusus seperti sifat kemanusiaan, akal pikiran, perasaan,
maupun kekhasan lain yang berupa identitas (lahiriyah) seperti warna kulit,
dll. Dalam hubungan ini dikemukakan dalam Al-Qur’an “Hai manusia,
sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan, dan kami menjadikan kalian beberapa bangsa dan suku-suku
bangsa, supaya kalian saling mengenal satu sama lain”.
Salah satu kekuatan yang berlindung di balik tingkah laku manusia adalah
kemauan keras yang menggerakkan manusia untuk berbuat dengan sungguh-
sungguh. Karena sifat ini telah dianjurkan oleh Allah SWT yang terdapat
dalam Al-Qur’an “Hendaklah engkau tabah seperti ketabahan Rasul-rasul
yang memiliki kehendak yang keras (Surah 42: 35).

Dalam diri manusia terdapat suatu kekuatan yang sewaktu-waktu memberikan


peringatan (isyarat) jika tingkah laku manusia berada di ambang bahaya dan
keburukan. Kekuatan tersebut adalah suara batin atau “dlamir”. Fungsi dari
suara batin adalah untuk memperingatkan bahayanya perbuatan buruk dan
berusaha mencegahnya. Selain itu juga untuk mendorong manusia melakukan
perbuatan yang baik (kewajiban).

xi
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Secara etimologi, Liberalisme (dalam bahasa inggris Liberalism) adalah
derivasi dari kata liberty (dalam bahasa inggris) atau liberte (dalam bahasa
Perancis) yang berarti “bebas”. Adapun secara terminologi, para peneliti
mengemukakan bahwa Liberalisme adalah terminologi yang cukup sulit untuk
didefinisikan. Hal itu karena konsep liberalisme yang terbentuk tidak hanya
dalam satu generasi, dengan tokoh pemikiran yang bermacam-macam dan
orientasi yang berbeda-beda.

Penganut liberalisme meyakini bahwa akal manusia mampu mencapai segala


kemaslahatan hidup yang dikehendaki. Standar kebenaran adalah akal atau
rasio. Karakter ini sangat kentara dalam pemikiran liberal

B. Saran
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga dapat menambah pengetahuan,
wawasan serta bermanfaat bagi kita semua. Saya menyadari akan ketidak
sempurnaan makalah ini, untuk itu kritik dan saran dari teman-teman yang
membangun sangat bermanfaat untuk memperbaiki makalah selanjutnya.

xii
DAFTAR PUSTAKA

Adams, Ian. 2014. Ideologi Politik Mutakhir (Political Ideology Today),


Penerjemah Ali Noerzaman. Yogyakarta : Penerbit Qalam

Anshar, Endang Saifuddin. 2009. Piagam Jakarta Juni 1945 Sebuah Konsesus
Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesiai (1945-1949).
Jakarta: Gema Insani Press

Budiardjo, Miriam. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : PT Gramedia


Pustaka Utama

Husaini, Adian & Hidayat, Nuim. 2012. Islam Liberal : Sejarah, Konsepsi,
Penyimpangan, dan Jawabannya. Jakarta: Gema Insani Press)

Al ‘Aqliyyah al Librâliyyah, Dr. Abdul aziz al Tharify.

Haqîqatu al Librâliyyah wa Mawqiful Islâm minhâ, hal. 29, Dr Sulaiman al


Khurasyi

xiii