Anda di halaman 1dari 10

Widya Teknika Vol.18 No.

2; Oktober 2010
ISSN 1411 – 0660 : 14-23

UPAYA MENURUNKAN JUMLAH CACAT PRODUK SHUTTLECOCK


DENGAN METODE SIX SIGMA

Chauliah Fatma Putri1)

Abstrak
Salah satu program peningkatan kualitas yang dapat mengakomodasi tuntutan peningkatan kualitas adalah
program Six Sigma dengan menggunakan metode DMAIC. Penelitian dilakukan pada PT. TR, salah satu
perusahaan yang memproduksi produk shuttlecock. Program digunakan untuk menurunkan persentase cacat
produk. Kapabilitas proses dan DPMO dari cacat shuttlecock dalam penelitian diperoleh nilai DPMO rata-rata
sebesar 37922.28 dengan nilai Sigma Level sebesar 3,28. Dari diagram Pareto didapatkan tingkat kecacatan
shuttlecock yang memberi kontribusi paling besar pada keseimbangan laju shuttlecock goyah atau disebut
afkiran. Dari Fish bone diagram penyebab cacat terdiri dari faktor manusia, mesin, material , dan metode.

Kata Kunci: Six Sigma, DMAIC, kapabilitas proses, dan DPMO.

PENDAHULUAN sebuah proses beroperasi di dalam range variasi


Perusahaan dalam memproduksi shuttlecock saat yang diharapkan.
ini memiliki tingkat cacat yang relatif tinggi dengan
rata-rata produksi 18.652 unit per hari terjadi cacat Perhitungan-perhitungan Six Sigma
berkisar 917 unit per hari. Adapun jenis cacat yang Dalam perhitungan Six Sigma terdapat beberapa
dihasilkan adalah batang bulu rusak, pengeleman perhitungan dan istilah yang cukup penting. Adapun
lepas, penjahitan antar bulu lepas, dan keseimbangan perhitungan tersebut adalah sebagai berikut :
laju shuttlecock goyah atau disebut afkiran. Dengan 1) Defect Per Opportunities (DPO)
menggunakan metode Six Sigma dan Balanced Merupakan suatu ukuran kegagalan yang
Scorecard ini diharapkan perusahaan dapat mengukur menunjukkan banyaknya cacat atau kegagalan
kinerja persusahaan dan melakukan peningkatkan per satu kesempatan [1]
kualitas produk terutama pada perspektif bisnis cacat
internal secara dramatik menuju tingkat kegagalan nol DPO =
unit yang diproduksi × CTQ
(Zero Defect).
Atau
Metode Six Sigma. cacat
DPO =
1) Define (mendifinisikan) peluang / opportunities
Menurut Peter S. Pande, Robert P. Neuman,
Roland R Cavanagh (2003:430), merupakan fase 2) Defect Per Million Opportunities (DPMO)
yang pertama DMAIC yang menentukan masalah Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai
atau peluang, proses dan persyaratan pelanggan. berikut [1]:
2) Measure (mengukur) DPMO = DPO × 1.000.000
Menurut Peter S. Pande, Robert P. Neuman,
Roland R Cavanagh (2003:435), merupakan fase Atau
M dari DMAIC, di mana ukuran-ukuran kunci cacat
diidentifikasi dan data dikumpulkan, disusun dan DPMO = × 1.000.000
banyak unit yang diproduksi × CTQ
dijadikan evaluasi terkuantifikasi terhadap
karakteristik khusus dan atau tingkat kinerja 3) Sigma Level
berdasarkan data yang telah diamati. Pada program peningkatan kualitas Six Sigma,
3) Analyze (menganalisis) perhitungan Sigma Level dapat dilakukan dengan
Menurut Peter S. Pande, Robert P. Neuman, beberapa metode.
Roland R Cavanagh (2003:427), fase DMAIC di Adapun metode tersebut adalah sebagai berikut:
mana detail proses diperiksa dengan cermat untuk  Dengan menggunakan Microsoft Excel, maka
peluang-peluang perbaikan. perhitungan Sigma Level dapat dilakukan
4) Improve (memperbaiki) dengan menggunakan rumus :
Menurut Peter S. Pande, Robert P. Neuman, Normsinv (1.000.000 – DPMO/1.000.000) +
Roland R Cavanagh (2003:432), fase I dari 1.5
DMAIC di mana solusi-solusi dan ide-ide secara  Menggunakan tabel konversi nilai DPMO ke
kreatif dibuat dan diputuskan. nilai Sigma berdasarkan konsep Motorola
5) Control (mengendalikan) oleh Vincent Gaspersz [1]
Menurut Peter S. Pande, Robert P. Neuman, 4) Penentuan Kapabilitas Proses untuk Data Atribut
Roland R Cavanagh (2003:429), control Data Atribut merupakan data kualitatif yang
merupakan fase C dari DMAIC merupakan dihitung menggunakan daftar pencacahan untuk
konsep statistik yang mengindikasikan bahwa keperluan pencatatan dan analisis. Data Atribut,
1)
Staf Pengajar Jurusan Teknik Industri Universitas Widyagama Malang
UPAYA MENURUNKAN JUMLAH ... METODE SIX SIGMA [CHAULIAH F.P.]

kapabilitas Proses dalam ukuran pencapaian produk. Dimana produk cacat yang dihasilkan tadi
target Sigma untuk data Atribut (data diperoleh akan mempengaruhi jumlah produksi dan akan
melalui perhitungan bukan pengukuran langsung, mengalami kerugian. Jenis cacat pada produk
misalnya presentase kesalahan banyaknya shuttlecock yang terjadi antara lain, batang bulu rusak,
keluhan pelanggan dan lain-lain). pengeleman lepas, penjahitan antar bulu lepas dan
Pada umumnya data atribut hanya memiliki 2 keseimbangan laju shuttlecock goyah atau disebut
nilai yang berkaitan dengan YA atau TIDAK, afkiran.
seperti sesuai atau tidak sesuai, puas atau tidak
puas, berhasil atau tidak berhasil, terlambat atau B. Tahap Measure
tidak terlambat, dan lain-lain. Data ini dapat i. Menetapkan Karakteristik Kualitas
dihitung untuk keperluan pencatatan dan analisis. Penetapan karakteristik kualitas (CTQ) yang
berkaitan langsung dengan kebutuhan spesifik dari
METODE PENELITIAN pelanggan akan sangat bergantung pada situasi dan
Dalam penelitian ini digunakan konsep DMAIC kondisi dari setiap perusahaan. Suatu produk dapat
dari Six Sigma. Adapun tahap-tahap yang dilakukan dinyatakan cacat atau gagal maka kriteria kecacatan
adalah: atau kegagalan harus diketahui.
a) Fase Define PT. TR yang bergerak dalam bidang produksi
Tahap ini akan mendefinisikan proyek shuttlecock siap untuk melakukan pengamatan dan
peningkatan kualitas Six Sigma atau masalah pemeriksaan terhadapnya banyaknya produk cacat
utama. yang dihasilkan. Hasil pemeriksaan menunjukkan
b) Fase Measure bahwa jenis cacat produk shuttlecock yang paling
Dalam fase ini akan membehas tentang sering ditemukan adalah sebagai berikut, batang bulu
menetapkan karakteristik kualitas, perhitungan uji rusak, pengeleman lepas, penjahitan antar bulu lepas
kecukupan data, pembuatan peta kontrol np, dan Keseimbangan laju shuttlecock goyah atau
pengukuran kapabilitas proses (perhitungan disebut afkiran.
DPMO dan Sigma Level), diagram Pareto, Di dalam program peningkatan kualitas Six
diagram Sebab akibat. Sigma jenis-jenis cacat produk shuttlecock tersebut
Setelah uji kecukupan data bila data telah dapat dinyatakan sebagai banyaknya karakteristik
mencukupi maka dilanjutkan pada perhitungan kualitas (CTQ) potensial penyebab kegagalan dalam
DPMO dan Sigma Level, dan apabila data tidak proses pembuatan shuttle cock. Jadi jumlah
mencukupi maka di kembalikan lagi pada tahap karakteristik CTQ potensial sebanyak 4 (empat).
pengumulan data. ii. Perhitungan Uji Kecukupan Data
c) Fase Analyze Uji kecukupan data Atribut dapat dirumuskan
Pada tahap ini akan dianalisis hasil dari sebagai berikut:
perhitungan yang telah dilakukan sebelumnya N 1 = k 2 / s 2 × p (1 − p )
yang meliputi perhitungan peta kontrol np,
Dari tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dari total
DPMO (Defect Per Million Opportunities) dan
jumlah sampel yang diperiksa sebanyak 10.382.000
Sigma Level, Kemampuan Proses (Capability
Process), diagram Pareto, diagram Sebab akibat. unit selama 12 hari didapatkan total produk cacat
d) Fase Improve shuttlecock sebanyak 11.001 unit sedangkan peneliti
mengasumsikan tingkat ketelitian 5% berarti s = 0,05,
Menetapkan rencana tindakan (Action Plant)
tingkat kepercayaan 95% berarti k = 2. Jika tingkat
untuk mengurangi cacat kertas yang meliputi dari
kepercayaan 99% K = 3
prioritas rencana perbaikan di tinjau dari faktor
manusia, faktor material, faktor metode, faktor Rumus uji kecukupan data atribut sebagai berikut :
lingkungan, dan faktor mesin. N ' = k 2 / s 2 × p (1 − p )
e) Fase Control Perhitungan :
Melakukan pengontrolan pada tahap improve = Total cacat × 100%
setelah diketahui dan penanggulangan cacat Jumlah produk
shuttlecock.
11001
= × 100 % = 10,54 % = 0,1054
HASIL DAN PEMBAHASAN 104.280
A. Tahap Define
Jadi N’ = 2 2 / 0,05 2 × 0,1054 (1 − 0,1054)
Pada tahap ini akan mendefinisikan proyek
peningkatan kualitas Six Sigma, di mana ini akan = 168534 unit
menjadi masalah utama. PT. TR merupakan Maka pengamatan untuk data atribut yaitu data cacat
perusahaan yang bergerak dalam bidang penghasil produk Shuttlecock dianggap cukup, karena N’ < N =
shuttle cock. Di dalam memproduksi shuttlecock ini, 168534 < 104.280 .000
masih terdapat beberapa kesalahan yang
menyebabkan hasil akhir dari produk yang dihasilkan
mengalami ketidak sempurnaan atau mengalami cacat

15
WIDYA TEKNIKA Vol.18 No.2; OKTOBER 2010: 14-23

iii. Pembuatan Peta Kontrol np LCL = 917 - 3 (29.23)


Tabel 1. Uji penentuan sampel = 829

Hari ke- Total


Produksi
1 18.700
2 55.905
3 111.300
4 111.300
5 112.800
6 111.420
Jumlah 521.425
Rata-rata 86.904 Grafik 1. Grafik np Kriteria Cacat Kaseluruhan

Pehitungan 86.904 x 10 % = 86.950 iv. Perhitungan Nilai DPMO dan Sigma Level
Karena proses pembuatan shuttlecock sudah
dalam keadaan terkendali, maka dapat dilanjutkan
Tabel 2. Data Produk Cacat Shuttlecock
No Total Jumlah Kriteria cacat Total pada tahap berikutnya yaitu mengitung nilai
Produksi Sampel
yang
Produ
k
DPMO, Sigma Level dan kapabilitas proses.
shuttlecock
(unit) diperiksa cacat Mengenai CTQ telah disebutkan bahwa
(unit)
RBB PL PABL KLSG banyaknya CTQ potensial atau karakteristik
1 18.650 86.950 224 225 222 234 905 kualitas yang menyebabkan kecacatan adalah
sebanyak 4.
2 18.750 86.950 226 220 235 234 915

3 18.780 86.950 223 234 220 243 920 Tabel 3. Perhitungan DPMO dan Sigma Level Data
Atribut
4 18.550 86.950 227 218 240 225 910 No Jumlah Total Jumlah DPMO Sigma
Sampel Produksi produk Level
5 18.600 86.950 227 224 222 234 907 yang shutllecock Cacat
diperiksa (unit) (unit)
6 18.550 86.950 233 227 221 229 910 1 8.690 18.650 905 38408.84 3.27
2 8.690 18.750 915 37989.07 3.27
7 18.600 86.950 234 225 223 228 910 3 8.690 18.780 920 37782.61 3.28
4 8.690 18.550 910 38197.80 3.27
8 18.850 86.950 240 234 232 244 950 5 8.690 18.600 907 38324.15 3.27
6 8.690 18.550 910 38197.80 3.27
9 18.890 86.950 237 224 224 239 924 7 8.690 18.600 910 38197.80 3.27
8 8.690 18.850 950 36589.47 3.29
10 18.450 86.950 234 221 226 234 915 9 8.690 18.890 924 37619.05 3.28
10 8.690 18.450 915 37989.07 3.27
11 18.600 86.950 235 225 242 218 920 11 8.690 18.600 920 37782.61 3.28
12 8.690 18.550 915 37989.07 3.27
Jumlah 104.2800 223820 11001 455067.34 39.30
12 18.550 86.950 224 232 235 224 915
Rata-
8.690 18.652 916 37922.28 3.28
rata
Jumlah 223.820.000 104.280 2764 2709 2742 2786 11001 Sumber : data diolah
Keterangan: Dari tabel 3. dapat diketahui bahwa DPMO rata-rata
BBR = Batang bulu rusak; sebesar 37922,28 dengan Sigma Level sebesar 3,28
PL = Pengeleman lepas;
PABL = Penjahitan antar bulu Lepas;
KLSG = Keseimbangan laju shuttlecock goyah
Sumber : data diolah

Perhitungan :
11001
p= = 1,054
104.280.00
11001
np = = 917
12
S p = npx(1 − p) Grafik 2 Pola DMPO dari data atribut

= 917 x(1 − 1,054) = 29,23


• Perhitungan Nilai UCL dan LCL adalah :
UCL = 917 + 3 (29,23)
= 1004

16
UPAYA MENURUNKAN JUMLAH ... METODE SIX SIGMA [CHAULIAH F.P.]

Tabel 5Data Jumlah Cacat shuttlecock


No Jenis Cacat shuttlecock Unit
1 Batang bulu rusak 2764
2 Pengeleman lepas 2709
3 Penjahitan antar bulu lepas 2742
4 Keseimbangan laju 2786
shuttlecock goyah (afkiran)
Total Cacat 11001
Sumber : data diolah
Grafik 3Pola Sigma Level dari data atribut
Dari tabel 5. di atas maka dibuatlah daftar cacat
v. Perhitungan Kapabilitas Proses shuttlecock secara berurutan dari frekuensi kejadian
Tabel 4. Cara Memperkirakan Kapabilitas Proses yan paling tinggi sampai terendah serta menghitung
untuk Data Atribut frekuensi komulatif, persentase total kejadian secara
Langkah Tindakan Persamaan Hasil
perhitungan
komulatif seperti yang tampak pada tabel 6 berikut
1 Proses apa yang anda - Pembuatan ini:
ingin ketahui? Shuttle cock
2 Berapa banyak unit - 104.2800 Tabel 6. Data diagram Pareto Cacat shuttle cock
kerja yang No Jenis Cacat shuttle Jumlah Jumlah % %
dikerjakan? cock (Kg) Komulatif Komulatif
3 Berapa unit transaksi - 11001 1 Batang bulu rusak 2764 2764 25.12 25.12
yang gagal? 2 Pengeleman lepas 2709 5473 24.63 49.75
4 Hitung tingkat cacat Langkah 3 / 0.04681 3 Penjahitan antar bulu 2742 8215 74.68
lepas 24.93
(kesalahan) langkah 2
4 Keseimbangan laju 2786 11001 25.32 100
berdasarkan pada shuttlecock goyah
langkah 3 atau disebut afkiran
5 Tentukan banyaknya Banyaknya 4 Total 11001 100
CTQ karakteristik Sumber : data diolah
potensial yang dapat CTQ
mengakibatkan cacat
(kesalahan) Dari tabel 6 tersebut di atas, maka disusunlah diadgam
6 Hitung kemungkinan Langkah 4 / 0.011703 Pareto untuk cacat shuttlecock pada PT. TR, seperti
cacat (kesalahan) per langkah 5 tampak pada gambar 4 berikut ini:
karakteristik CTQ
7 Hitung kemungkinan Langkah 6 x 37922,28 2800 120
cacat per satu juta 1.000.000
kesempatan (peluang) 2780 100
Jumlah Cacat (unit)

8 Konversi DPMO - 3,28 2760


% Komulatif

80
(langkah 7) ke dalam 2740 Jumlah Cacat (unit)
Sigma 60
2720 % Komulatif
9 Buat kesimpulan - Kapabilitas
40
Sigma 2700
adalah 2680 20
3,28
2660 0
1 2 3 4
Sumber : data diolah
Grafik 4Diagram Pareto
vi. Diagram Pareto
Untuk data cacat shuttlecock yang tergolong
vii. Diagram Sebab Akibat
dalam data atribut setelah dilakukan analisis
Diagram sebab akibat (Cause Effect Diagram)
kemampuan proses di atas, analisis selanjutnya yang
digunakan untuk mengetahui apa saja yang
harus dilakukan adalah menggunakan diagram Pareto
menyebabkan terjadinya kegagalan atau kecacatan.
untuk mengetahui CTQ Potensial apa yang paling
Pada diagram Pareto di atas tertera bahwa jenis cacat
besar atau paling tinggi yang akan menimbulkan
terbesar pada produk shuttlecock adalah jenis
kecacatan dalam proses produksi shuttle cock. Dari
keseimbangan laju shuttlecock goyah atau disebut
data cacat shuttlecock yang terdapat pada pokok
afkiran. Untuk itu perlu diketahui apa saja yang
bahasan disusun tabel 5 seperti yang tampak di bawah
menyebabkan terjadinya cacat jenis keseimbangan
ini guna penyusunan diagram Pereto.
laju shuttlecock goyah. Adapun diagram sebab akibat
dari cacat keseimbangan laju shuttlecock goyah atau
disebut afkiran adalah sebagai berikut

17
WIDYA TEKNIKA Vol.18 No.2; OKTOBER 2010: 14-23

1. Diagram Sebab Akibat Cacat Batang Bulu Rusak

Manusia Mesin Washing/


ceroboh pencucian mesin
drying kurang
Ketelitian bersih
Kominikasi
buruk Tidak
bertanggung Kadar air yang tinggi Pengeringan kek
jawab atas dengan mesin
Pergantian pekerjaan oven tidak
karyawan maksimal
Batang Bulu Rusak

Ukuran bulu
tidak merata Proses produksi
tidak konsisten

Penyimpanan Proses produksi


terlalu lama tidak sesuai
ketentuan
Material Metode

Gambar 1. Diagram Sebab Akibat Cacat Batang Bulu Rusak

2. Diagram Sebab Akibat Cacat Pengeleman lepas


Manusia Mesin
ceroboh
Tidak seragam
Ketelitian setiap mesin
Komunikasi
buruk Tidak
bertanggung Penyetelan
jawab atas mesin kurang
Pergantian pekerjaan pas
karyawan
Pengeleman lepas

Kualitas bahan Proses produksi


pembantu tidak konsisten
kurang baik
Proses produksi
tidak sesuai
ketentuan
Material Metode

Gambar 2 .Diagram Sebab Akibat Cacat Pengeleman lepas

3. Diagram Sebab Akibat Cacat Penjahitan Antar Bulu Lepas


Manusia Mesin
ceroboh
Tidak seragam
Ketelitian setiap mesin
Komunikasi
buruk Tidak
bertanggung Penyetelan
jawab atas mesin rajut
Pergantian pekerjaan kurang tepat
karyawan
Penjahitan Antar Bulu Lepas

Pemakaian Proses produksi


benang jahit tidak konsisten
yang kurang
baik Proses produksi
tidak sesuai
ketentuan
Material Metode

Gambar 3. Diagram Sebab Akibat Cacat Penjahitan Antar Bulu Lepas

18
UPAYA MENURUNKAN JUMLAH ... METODE SIX SIGMA [CHAULIAH F.P.]

4. Diagram Sebab Akibat Cacat Keseimbangan Laju Shuttlecock Goyah Atau Disebut Afkiran.
Manusia Mesin
Ceroboh
Tidak seragam
Ketelitian setiap mesin
Komunikasi
buruk Tidak
bertanggung Setingan mesin
jawab atas press kurang
Pergantian pekerjaan tepat
karyawan
Laju shuttle cock goyah

Kualitas bahan
pembantu
Akar ramabai kurang baik Proses produksi
untuk gan tidak konsisten
masih terlalu Proses pengeringan
muda yang tidak maksimal Proses produksi
tidak sesuai
ketentuan
Material Metode

Gambar 4. Diagram Sebab Akibat Cacat Keseimbangan Laju Shuttlecock Goyah (afkiran).

C. Tahap Analyze (A) ii. Analisis Peta Kontrol np


Tahap Analyze merupakan langkah Setelah diketahui bahwa pembuatan
operasional ketiga dalam program peningkatan shuttlecock di PT. TR terkendali yang ditunjukkan
kualitas Six Sigma. Pada tahap ini akan dilakukan dengan tidak adanya titik yang berada diluar batas
analisa data guna menetapkan target kinerja dan kendali baik untuk tiap karakteristik cacat maupun
menentukan penyebab potensial yang total produk cacat, maka dapat dilanjutkan pada
mempengaruhi terjadinya produk cacat. analisa berikutnya.

i. Analisis Pada Pengolahan Shuttlecock iii. Analisis Perhitungan Nilai DPMO dan Nilai
Dalam pengolahan shuttlecock terdapat Sigma Level
beberapa tahapan yaitu, tahap bahan baku dipilih Pada perhitungan yang telah dilakukan pada
berdasarkan beratnya, sortir bahan baku gan, tabel 4.4 didapatkan nilai rata-rata DPMO sebesar
pemasangan bulu, proses menjahit body shuttle 37922,28 dengan rata-rata Sigma Level sebesar
cock, benang-benang sisa dibersihkan dan di 3,28 hal ini menunjukkan bahwa pada proses
potong, proses perekatan, uji mutu/ test, pembuatan shuttlecock di PT. TR memiliki tingkat
penempelan merk/label, proses penimbangan, kapabilitas proses diatas tingkat kapabilitas proses
proses pengemasan. industri di Indonesia tetapi di atas rata-rata industri
Adapun jenis cacat yang dihasilkan berupa: di USA. Namun dalam proyek peningkatan kualitas
• Batang bulu rusak Six Sigma ini akan dilakukan peningkatan terus
Terjadi karena ukuran bulu tidak merata yang menerus kapabilitas proses hingga mencapai 6
berakibat pengolahan mencakup washing/ Sigma (6 σ ). Jadi meskipun tingkat kapabilitas
pencucian dengan deterjen dengan proses di PT. TR berada di antara rata-rata industri
menggunakan mesin drying kurang bersih serta Indonesia dan USA, namun perbaikkan di berbagai
pengeringan tidak maksimal yang dapat sektor terus dilakukan guna mencapat tingkat
mengakibatkan batang buluh rusak pada kegagalan Zero Defec (0%). Nilai DPMO sebesar
pengolahan lebih lajut. 37750,65 dapat diinterprestasikan bahwa dari satu
• Pengeleman lepas juta kesempatan akan terdapat 37750,65
Dikarenakan setingan mesin press dan kemungkinan bahwa proses produksi pengolahan
pemberian lem untuk penempelkan kain putih shuttlecock menghasilkan produk yang cacat.
pada gabus shuttlecock kurang merata. gambar 4.3 dan 4.4 menunjukkan pola DPMO
• Penjahitan antar bulu lepas (Defect per Million Opportinities) dari kecacatan
Dikarenakan proses menjahit body shuttlecock produk dan pencapaian Sigma atau Sigma Level
setelan jatum jahit pada mesin rajut kurang yang belum konsisten, masih bervariasi naik turun
tepat (terlalu maju) dan tidak teratur sekaligus juga menunjukkan
• Keseimbangan laju shuttlecock goyah atau bahwa proses produksi belum dikelola secara baik.
disebut afkiran Tetapi secara keseluruhan proses pengholahan
Dikarenakan kurangnya ketelitian pada saat shuttlecock ini telah mempunyai kualitas yang
proses perekatan antar kek dan body shuttlecock cukup baik, namun akan lebih baik jika
sehingga mengakibatkan keseimbangan laju ditingkatkan menuju produk bebas cacat. Apabila
shuttlecock goyah. proses produksi dikendalikan dan cacat dapat
dikurangi secara terus menerus, maka akan

19
WIDYA TEKNIKA Vol.18 No.2; OKTOBER 2010: 14-23

menunjukanan pola DPMO yang terus menerus gelondong di PT. TR Surabaya melalui analisis
menurun dan pola kapabilitas sigma yang diagram Pareto pada gambar 4.5, maka tindakan
meningkat secara terus menerus. Sebagai baseline selanjutnya perlu diadakan evaluasi dan mencari
kinerja, kita dapat menggunakan nilai DPMO penyebab jenis cacat yang paling sering terjadi
sebesar 3,4 dengan Sigma Level sebesar 6 sigma serta mencari solusi yang efektif dan efisien dari
(6 σ ). Pada akhirnya menetapkan proyek Six masalah tersebut. Melalui diagram sebab akibat
Sigma agar pengendalian dan meningkatkan produk pada gambar 4.6 yang telah dijelaskan di atas maka
bebas cacat menuju kecacatan yang mendekati nol dapat dijelaskan penyebab cacat yang terdapatnya
(zero defect). keseimbangan laju shuttlecock goyah atau disebut
afkiran antara lain:
iv. Analisis Kapabilitas Proses untuk Data 1. Faktor Manusia
Atribut Cacat produk shuttlecock yang tejadi salah
Pada sub bab ini akan dianalisis kemampuan satunya disebabkan oleh faktor manusia.
proses yang didapatkan pada bab IV yang hanya Kurangnya ketelitian para karyawan dalam
membahas data atribut saja yaitu perhitungan melakukan pekerjaan yang menyangkut proses
terhadap pembuatan shuttle cock. Berdasarkan tabel produksi dan hasilnya. Kecerobohan dalam
4.3 didapatkan jumlah produk shuttlecock yang pengaturan tekanan pada mesin press akan
diperiksa sebanyak 104.280.000 unit, sedangkan berdampak banyaknya keseimbangan laju
jumlah cacat sebanyak 11001 unit, banyaknya shuttlecock goyah. Komunikasi yang buruk
karakteristik penyebab cacat (CTQ) sebanyak 4. juga bisa menyebabkan terjadinya kesalahan,
maka didapatkan tingkat kegagalan sebesar seperti kesalahan dalam penyetelan tekanan
0,04681, peluang tingkat kegagalan per press body dan gan shuttlecock pada mesin
karakteristik CTQ sebesar 0.011703. Sehingga press yang terjadi pada saat pergantian
kemungkinan gagal per satu juta kesempatan operator. Kurangnya tanggung jawab yang
(DPMO) pada proses pemuatan shuttlecock sebesar dimiliki karyawan dalam membiarkan mesin
37922,28 dan apabila dikonversikan dari nilai berjalan dengan tidak sesuai ketentuan
DPMO ke nilai Sigma Level mempunyai 2. Faktor Mesin
kapabilitas proses sebesar 3,28. Cacat yang disebabkan oleh faktor ini terjadi
Hal ini menunjukkan suatu proses berada di karena mesin yang digunakan pada proses
antara rata-rata industri di Indonesia dan USA. Hal produksi penyetelannya kurang pas, contohnya
ini cukup bagus, tetapi akan lebih baik jika mesin press yang fungsinya untuk
perusahaan mampu menurukan DPMO menuju peyambungan body dan gan kurang/lebih
tingkat kegagalan 0% (zero defect) yang mengalami tekanan sehingga berakibat laju
merupakan tujuan dari program peningkatan shuttlecock goyah. Apabila semua proses
kualitas Six Sigma dengan jalan perbaikan terus permesinan semuanya dilakukan dengan baik
menerus. maka produk cacat dapat diminimalkan.
Ketidakseragaman mesin press dalam hal
v. Analisis Penyebab Potensial Cacat penyetelan tekanan yang menyebabkan
a. Diagram Pareto penyambungan body dan gan akan mengalami
Selanjutnya analisis untuk data atribut harus cacat
dilakukan menggunakan diagram Pareto untuk 3. Faktor Material
mengetahui CTQ potensial apa yang paling besar Faktor material yang menyebabkan cacat laju
atau berpengaruh yang menimbulkan kegagalan. shuttlecock goyah adalah dari faktor bahan
Pada gambar 4.5 diagram Pareto cacat shuttlecock pembantu (lem) dan akar rambai untuk gan
data atribut terlihat bahwa didalam proses (kepala kek) itu sendiri masih muda dan rapuh
pembuatan shuttlecock pada PT. TR Surabaya jenis pada saat proses pengeringan di mesin oven
cacat yang paling tinggi disebabkan karena kurang maksimal, dampak lain yaitu pada saat
keseimbangan laju shuttlecock goyah atau disebut bahan baku dibeli dari para petani rambai
afkiran yang mempunyai nilai sebesar 2786 unit terdapat akar rambai yang masih terlalu muda
atau dengan memberikan kontribusi sebesar 25.32 dan ringan. Untuk itu karyawan harus selalu
%. keseimbangan laju shuttlecock goyah mengecek keadaan material sebelum
merupakan penyebab kecacatan pada proses dimasukkan ke dalam mesin oven untuk
pembuatan shuttlecock yang paling sering terjadi. pengeringan agar kering.
Dalam hal ini perlu dicari apa yang menjadi 4. Faktor Metode
penyebab cacat keseimbangan laju shuttlecock Faktor metode juga merupakan salah satu
goyah atau disebut afkiran yang sering muncul dan faktor penyebab terjadinya cacat. Pengaturan
kemudian dilakukan perbaikkan dan pencegahan. mesin yang berbeda dari masing-masing
b. Fish Bone operator menyebabkan proses produksi yang
Setelah diketahui penyebab kecacatan yang dijalankan tidak konsisten. Selain itu mesin
tertinggi dari proses pembuatan shuttlecock yang dijalankan pada saat proses operasi

20
UPAYA MENURUNKAN JUMLAH ... METODE SIX SIGMA [CHAULIAH F.P.]

seringkali dijalankan tidak sesuai dengan melakukan pembersihan mesin sebelum


ketentuan, hanya untuk mengejar target digunakan untuk proses produksi.
produksi. Pengaturan tekanan mesin press
yang terlalu maju/mundur membuat hasil 2. Dari Segi Manusia
penyambungan yang kurang maksimal dan a. Ketelitian
akan menyebabkan cacat (defect) pada Kecerobohan dan tidak bertanggung jawab
shuttlecock tersebut. dalam bekerja mengakibatkan kurangnya
ketelitian karyawan dalam melakukan
D. Tahap Improve (I) pengaturan dan penyetelan mesin.
Sesuai dengan metodologi dari program Kesalahan dalam pengaturan pisau
peningkatan kualitas Six Sigma maka setelah tahap pengambil kurangnya konsentrasi pada
Analyze (menganalisis) maka tahap berikutnya saat melakukan pengaturan tekanan pada
adalah Improve (memperbaiki). Pada tahap ini yang mesin press untuk penyambungan body
perlu dilakukan adalah menetapkan rencana dan gan shuttle cock, misalnya bercakap-
tindakan (action plan) guna melakukan cakap dengan karyawan lain atau merokok
peningkatan Six Sigma. Seperti yang telah saat sedang menjalankan pekerjaan,
diterangkan pada tahap Analyze, bahwa sehingga produktivitas kerja menurun.
karakteristik penyebab cacat pada shuttlecock yaitu Kurangnya konsentrasi ini dapat
keseimbangan laju shuttlecock goyah, merupakan menyebabkan karyawan dalam melakukan
cacat yang banyak terjadi. Sehingga perlu pengaturan tekanan terlalu lebih/kurang,
dilakukan tuindakan untuk mengurangi tingkat sehingga menyebabkan laju shuttlecock
kegagalan produk (defect). goyah. Untuk itu perlu dilakukan
perbaikan kerja dalam pengolahan shuttle
Menetapkan suatu rencana Tindakan (Action cock, dengan cara melakukan inspeksi
Plan) Untuk Mengurangi Cacat (defect). secara berkala oleh mandor kepada
Pada tahap ini akan dibahas tindakan atau bawahannya (karyawan), memberikan
langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk sanksi tegas bagi karyawan yang
menurunkan cacat pada produk shuttlecock yang melanggar peraturan. Dengan dilakukan
diakibatkan oleh terdapatnya keseimbangan laju hal tersebut diharapkan tingkat ketelitian
shuttlecock goyah sehingga kualitas dari dalam pembuatan shuttlecock meningkat.
shuttlecock yang dihasilkan berkualitas baik dan b. Komunikasi buruk
jumlah cacat yang diakibatkan terdapatnya Pergantian karyawan atau operator pada
keseimbangan laju shuttlecock goyah dapat saat jam makan siang tanpa ada
berkurang atau mendekati nol (zero defect). Setelah komunikasi di antara karyawan tersebut
sumber-sumber dan akar penyebab masalah cacat akan membuat tidak samanya penyetelan
shuttlecock yaitu terdapatnya keseimbangan laju tekanan mesin press, sehingga akan
shuttlecock goyah diketahui, maka perlu dilakukan mengaklibatkan terdapatnya cacat pada
suatu tindakan untuk menurunkan cacat yang shuttlecock ini. Berkomunikasi dahulu
terdapat pada shuttlecock dengan melaksanakan baik lisan ataupun tulisan memberikan
peningkatan kualitas Six Sigma sehingga produk tanggung jawab kepada karyawan lain
yang dihasilkan memiliki mutu atau kualitas yang merupakan alternatif untuk
baik. Ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan menanggulangi dalam hal berkomunikasi.
antara lain adalah sebagai berikut: Penyediaan fasilitas seperti mesin memo
1. Dari Segi Mesin akan mempermudah karyawan dalam
Pada mesin press ini seringkali mengalami berkomunikasi.
gangguan antara lain penyetelan yang kurang 3. Dari Segi Metode
pas seperti pengaturan tekanan mesin yang Proses produksi yang tidak konsisten
kurang tepat. Tidak adanya keseragaman disebabkan oleh metode yang digunakan para
dalam penyetelan mesin pada mesin pres maka karyawan tidak sama, serta belum adanya
dari itu perlu dilakukan penyetelan tekanan standarisasi dari pabrik tentang proses
pada mesin press sesuai dengan ketentuan, produksi mengakibatkan proses produksi yang
melakukan pengaturan tekanan pada tidak konsisten. Tidak konsistennya proses
penyambugan shuttlecock terlebih dahulu produksi dalam pembuatan shuttlecock juga
sebelum melakukan proses produksi agar jarak akan menyebabkan proses produksi tidak
yang didapatkan sesuai dengan kapasitas sesuai dengan ketentuan. Seperti pengaturan
shuttlecock yang akan diproses, tekanan mesin press yang tidak sesuai
menyeragamkan semua penyetelan mesin press ketentuan hanya untuk mengejar target
agar mendapatkan hasil yang lebih baik dari produksi. Maka dari itu perlu diadakannya
proses pembuatan shuttle cock, serta selalu penanggulangan terhadap masalah ini antara
lain, dengan melakukan standarisasi metode

21
WIDYA TEKNIKA Vol.18 No.2; OKTOBER 2010: 14-23

yang digunakan dalam proses produksi agar KESIMPULAN


setiap karyawan memakai metode tersebut, Berdasarkan analisis data pada program
melakukan proses produksi sesuai dengan peningkatan kualitas Six Sigma yang telah
kapasitas mesin dan melakukan pengawasan dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
terhadap karyawan agar melakukan proses berikut :
produksi sesuai dengan standart perusahaan, 1. Berdasarkan perhitungan kapabilitas proses dan
memberikan sanksi bila karyawan tidak DPMO dari cacat biji kopi selama 12 hari
menjalankan metode dengan benar dan baik. penelitian diperoleh nilai DPMO rata-rata
4. Dari Segi Material sebesar 37922.28 dengan nilai Sigma Level
Kualitas shuttlecock yang baik dihasilkan dari sebesar 3,28. Hal ini menunjukkan bahwa pada
bahan baku shuttlecock yang baik pula. proses produksi shuttlcock memiliki tingkat
Adanya material yang menyebabkan cacat laju kapabilitas proses yang cukup tinggi, tetapi hal
shuttlecock goyah adalah dari faktor bahan tersebut belum mencapai target dari
pembantu (lem) dan akar rambai untuk gan peningkatan kualitas Six Sigma yaitu mencapai
(kepala kek) itu sendiri masih muda dan rapuh Sigma Level sebesar 6 Sigma (6 σ ).
pada saat proses pengeringan di mesin oven 2. Berdasarkan analisis pada diagram Pareto maka
kurang maksimal, dampak lain yaitu pada saat didapatkan tingkat kecacatan shuttlecock yang
bahan baku dibeli dari para petani kopi memberi kontribusi paling besar pada
terdapat akar rambai yang masih terlalu muda keseimbangan laju shuttlecock goyah atau
dan ringan. Maka guna mendapatkan bahan disebut afkiran.
baku yang baik perlu diadakan pengecekan 3. Dari diagram sebab akibat dapat diketahui
atau pengambilan sampel terhadap akar rambai penyebab terjadinya cacat keseimbangan laju
para petani yang akan dibeli untuk dilakukan shuttlecock goyah atau disebut afkiran
tes terlebih dahulu dipabrik secara teliti. Hal sehingga perlu diambil tindakan untuk
tersebut merupakan salah satu alternatif cara memperbaiki faktor-faktor yang bermasalah.
guna memperoleh bahan baku sesuai dengan Penyebab terjadinya defect atau cacat dan cara
kriteria yang diinginkan. Melakukan mengatasinya yaitu :
pengecekan material yang dimasukkan a. Faktor Manusia: Kurangnya ketelitian
kedalam mesin oven untuk pengeringan agar para karyawan dalam pengaturan tekanan
kering dan penggunaan bahan pembantu (lem) pada mesin press dan komunikasi yang
berkualitas. buruk.
Cara mengatasi: melakukan pengaturan
E. Tahap Control tekanan pada penyambugan shuttlecock
Control (mengendalikan) merupakan tahap terlebih dahulu sebelum melakukan proses
operasional terakhir dari metodologi program Six produksi agar jarak yang didapatkan
Sigma. Pada tahap ini, dilakukan simulasi/ sesuai dengan kapasitas shuttlecock yang
percobaan dari rencana perbaikan (Improve) yang akan diproses, serta selalu melakukan
didapat pada pembahasan sebelumnya. pembersihan mesin sebelum digunakan
Langkah-langkah yang terdapat dalam untuk proses produksi. Selain itu,
Improve untuk mengatasi beberapa masalah cacat, berkomunikasi dahulu baik lisan ataupun
dapat didokumentasikan, disebarluaskan dan dibuat tulisan memberikan tanggung jawab
standar pedoman kerja. Hal ini sangatlah penting kepada karyawan lain merupakan
karena apabila tindakan atau langkah-langkah alternatif untuk menanggulangi dalam hal
program peningkatan Six Sigma atau solusi dari berkomunikasi. Penyediaan fasilitas
masalah cacat ini tidak terdokumentasikan dan seperti mesin memo akan mempermudah
dibuat standar pedoman kerja maka akan ada karyawan dalam berkomunikasi.
kemungkinan bila setelah periode waktu tertentu b. Faktor Mesin: Ketidakseragaman mesin
terjadi pergantian manajemen dan karyawan baru, press dalam hal penyetelan tekanan
akan menggunakan cara-cara lama yang dapat Cara mengatasi: menyeragamkan semua
memunculkan kembali atau terjadinya cacat yang penyetelan mesin press agar mendapatkan
sudah pernah terselesaikan. hasil yang lebih baik dari proses
Control (mengendalikan) dilakukan pembuatan shuttlecock.
setelah penanganan penyebab dilakukan. Adapun c. Faktor Material: faktor bahan pembantu
tujuan dari simulasi perbaikan ini adalah (lem) dan akar rambai untuk gan (kepala
meningkatkan kinerja karyawan yang secara tidak kek) itu sendiri masih muda dan rapuh
langsung akan mempengaruhi kualitas dari produk pada saat proses pengeringan di mesin
shuttle cock. oven.
Cara mengatasi: karyawan harus selalu
mengecek keadaan material sebelum
dimasukkan ke dalam mesin oven untuk

22
UPAYA MENURUNKAN JUMLAH ... METODE SIX SIGMA [CHAULIAH F.P.]

pengeringan agar kering, dan diadakan [10] Montgomery, Douglas C, 1996, Pengantar
pengecekan atau pengambilan sampel Pengendalian Kualitas Statistik, Gajah Mada
terhadap akar rambai para petani yang University Press.
akan dibeli untuk dilakukan tes terlebih [11] Naniek Niviari (2006), Hubungan metode Six
dahulu di pabrik secara teliti. Sigma, Balance Scorecard, dan kaitannya
d. Faktor Metode: metode yang digunakan dengan audit manajemem, Skripsi, Jurusan
para karyawan tidak sama, serta belum Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas
adanya standarisasi Udayana
Cara mengatasi: melakukan standarisasi [12] Pande, S Piter, Neuman, P Robert; Cavanogh,
metode yang digunakan dalam proses 2002, The Six Sigma Way, Bagaimana GE,
produksi agar setiap karyawan memakai Motorola, Dan Perusahaan Terkenal
metode tersebut, melakukan proses Lainnya, Mengasah Kinerja Mereka, Penerbit
produksi sesuai dengan kapasitas mesin Andi, Yogyakarta.
dan melakukan pengawasan terhadap [13] Rohm, Howard (25 Agustus 2004), “A
karyawan agar melakukan proses produksi Balancing Act : Developing and Using
sesuai dengan standart perusahaan, Balanced Scorecard”,
memberikan sanksi bila karyawan tidak http:\\www.performance-measurement.net.
menjalankan metode dengan benar dan
baik.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Fauzy Akhmad (2002) Statistika Industi 1


Jakarta, Gramedia.
[2] Gaspersz, Vincent (2003), Sistem Manajemen
Terintegrasi: Balanced Scorecard dengan Six
Sigma untuk Organisasi Bisnis dan
Pemerintah, Jakarta, Gramedia.
[3] Gaspersz, Vincent, 2002, Pedoman
Implementasi Program Six Sigma
Terintegrasi Dengan ISO 9000:2000,
MBNQA Dan HACCP, PT. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
[4] Hadianto, Iwan Kurniawan (2005),
Penggunaan Model Integrasi Six Sigma dalam
perspektif proses bisnis internal balanced
scorecard (studi kasus di pt, semen gresik
tbk). Master Theses, , Rekayasa Kualitas S2 ,
Institut Teknologi Surabaya
[5] Hansen, Don R and Mowen, Maryanne M
(2003), Management Accounting, sixth
edition, South-Western, America.
[6] Kaplan, Robert S and Norton, David P (1996),
Balanced Scorecard, Jakarta, Erlangga..
[7] Malina, Mary, A. dan Selto, Frank, H. (8
Februari 2004),”Communicating and
Controlling Strategy: an Emperical Study
of the Effectiveness of the Balanced
Scorecard ”, http:\\www.ssrn.com.
[8] Masri, Sangarimbun, dan Sofian Effendi,
1995, Metode Penelitian Survei, Edisi Revisi,
Jakarta: PT. Pustaka LP3ES Indonesia.
[9] Mulyadi. Balanced Scorecard: Alat
Manajemen Kontemporer untuk Pelipatganda
Kinerja Keuangan Perusahaan. Cetakan ke-1.
Jakarta: Salemba Empat, 2001.

23