Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cabai merah (Capsicum annum L.) memiliki potensi
s e b a g a i j e n i s sayuran buah untuk dikembangkan karena cukup penting
peranannya baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi Nasional maupun
komoditas ekspor. Denganmakin beragamnya kebutuhan manusia dan makin
berkembangnya teknologi obat – obatan, kosmetik, zat warna, pencampuran
minuman dan lainnya, m a k a kebutuhan bahan baku cabai merah akan terus
meningkat setiap tahunnya. Pada umumnya petani masih menggunakan benih
lokal yang ditanam terusmenerus serta masih banyak komponen teknologi pra-
panen lainnya belum diterapkan secara tepat guna seperti pemupukan berimbang
melalui akar, aplikasi PPC melalui daun, pemeliharaan tanaman secara intensi",
penggunaan mulsa plastik atau jerami, pengendalian hama/penyakit serta gulma.
Beberapa keuntungan dapat diperoleh dengan pengembangan cabai
secaraintensi"
a. Peningkatan produksi sehingga mampu memenuhi permintaan untuk skala
nasional maupun ekspor.
b. Peningkatan pemanfaatan sumber daya lahan baik lahan perkarangan, lahan
kering/tegalan kebun maupun lahan sawah.
c. Peningkatan pemanfaatan tenaga kerja dan bahan baku yang tersedia seperti
pupuk kandang, jerami padi, kayu sokongan, dan lain – lain.
d. Peningkatan konsumsi sayuran sebagai sumber vitamin untuk kebutuhan
hidup setiap individu manusia.
e. Peningkatan pendapaatan dan kesejahteraan petani serta keluarganya. Dapat
meningkatkan kesuburan tanah pasca panen bila dirotasi dengan komoditas.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Cara pengendalian gulma pada tanaman cabai?
2. Bagaimana proses panen dan pasca panen pada tanaman cabai?

1
C. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan untuk mengetahui deskripsi tanaman cabai dan cara pengendalian
dari gulma serta bagaimana proses panen dan pasca panen yang dihadapai dalam
proses budidaya tanaman cabai.
Adapun kegunaan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai tambahan
informasi dan pengetahuan masyarakat secara umum tentang teknik budidaya
tanaman cabai.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengendalian Gulma Pada Tanaman Cabai


Gulma adalah tumbuhan yang tidak diinginkan ada pada lahan pertanian
karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Batasan
gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi
suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena
mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis, karena
batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu,
tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya
dianggap gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu. Contoh, kedelai yang
tumbuh di sela-sela pertanaman monokultur jagung dapat dianggap sebagai
gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya merupakan tanaman utama.
Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama,
seperti teki dan alang-alang. Gulma pada pertanaman cabai mengakibatkan
adanya persaingan hara, sinar matahari, dan ruang tumbuh. Persaingan gulma
dengan tanaman cabai tertinggi terjadi pada periode kritis yaitu pada saat cabai
berumur 30-60 hari setelah tanam (HTS). Pertumbuhan gulma juga dapat
meningkatkan kelembapan areal tanaman. Hal ini dapat mendorong
pertumbuhan penyakit yang dapat menyerang tanaman. Selain itu, beberapa
jenis hama dan vektor penyebab penyakit cabai mampu berkembang pada inang
gulma. Gulma yang dominan pada pertanaman cabai yaitu
Amarantus spinosus, Ageratum conyzoiders, Portulaca orelacea,
Melastoma malabathricum, Eupatorium odoratum, Euphorbia hirta, Centella
asiatica, Imperata cylindrica, Panicum repens, Paspallum conjugatum,
Axonopus compressus.
Pengendalian gulma ditingkat petani biasanya hanya dilakukan secara
manual dengan mencabut dan menyingkirkan gulma yang tumbuh di
areal pertanaman. Berdasarkan hasil penelitian, penyiangan yang dilakukan
pada umur 30-60 HST dapat meningkatkan hasil cabai merah. Selain dengan
penyiangan cara manual pertumbuhan gulma pada periode kritis juga dapat

3
ditekan dengan penggunaan mulsa. Penggunaan mulsa juga dapat menekan
biaya tenaga kerja untuk penyiangan.
1. Keuntungan Positif Membersihkan Gulma Pada Tanaman cabai
Gulma ternyata menjadi sarang bagi hama untuk tumbuh dan
mengalami proses metamorfosis untuk menghasilkan anakan yang baru.
Sehingga jika lahan tempat dimana tanaman cabe tumbuh dan banyak
terdapat gulma maka hal in akan berdampak buruk bagi pertumbuhan
tanaman cabai, diantaranya yaitu tanaman cabai bisa jadi pertumbuhan
organnya menjadi lebih kurus dan kurang unsur hara (difisiensi kekahatan
unsur hara tertentu) sebab terjadi kompetisi/perebutan nutrisi hara antara
tanaman cabe dengan tanaman gulma parasit.
Jadi, sangat penting sekali lahan tanam cabe itu harus bersih dan
terbebas dari gulma. Adapun manfaat/keuntungan dari membersihkan gulma
pada tanaman cabai diantaranya adalah:
a. Tanaman cabai akan lebih subur karena tidak ada perebutan/kompetisi
antara tanaman cabe dengan gulma.
b. Laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai akan lebih cepat.
c. Produktifitas hasil panen lebih tinggi.
d. Tanaman cabai mampu menghasilkan buah yang lebih lebat/jumlahnya
banyak dan hal inilah yang sangat ditunggu-tunggu oleh para petani.
e. Transportasi nutrisi (unsur hara makro dan unsur hara mikro) pada
tanaman cabai akan berjalan lancar dari akar menuju ke organ tanaman
cabai lainnya.
2. Cara membersihkan gulma pada tanaman cabai
Membersihkan tanaman cabai dari gulma sangat mudah dikerjakan,
dan hampir semua orang yang memang bukan petani juga pasti bisa, asalkan
tahu caranya. Membersihkan guglma sebenarnya bisa saja dilakukan secara
manual menggunakan tangan dengan cara mencabut rumput gulm. Namun,
ada juga cara membersihkannya menggunakan alat-alat pertanian. Berikut
inicara membersihkan tanaman cabai dari gulma dengan menggunakan alat
khusus, yaitu:

4
a. Gunakan alat pembersih gulma bisa menggunakan cangkul kecil, pencong,
atau alat pendangiran/pengoretlainnya yang relevan.
b. Saat penyiangan/membersihkan gulma sebaiknya dilakukan secara hati-
hati dan bisa dilakukan bersamaan dengan pendangiran (penggemburan
lahan).
c. Koret gulma menggunakan alat diatas sampai kepada bagian akarnya,
jangan sampai ada yang tertinggal didalam tanah. Sebab, beberapa jenis
gulma bisa memunculkan tunas pada bagian akar/rhizon/umbi yang
tertinggal didalam tubuh
d. Gulma/rumput yang sudah dibersihkan/dicabut/cikoret, sebaiknya
langsung dikumpulkan dalam 1 tempat/lubang, kemudian tunggu sampai
kering lalu dibakar supara spora-spora pad gulma akan lenyap.

B. Pasca Panen Tanaman Cabai


1. Panen
Sebaiknya dalam pelaksanaan panen pada tanaman cabai, perlu
memperhatikan beberapa hal seperti di bawah ini :
a. Panen dilakukan pagi hari setelah ada sinar matahari.
b. Cara pemanenan buah cabai dilakukan dengan mengikutsertakan batang
buahnya dan dijaga supaya tidak merusak ranting dan percabangan
tanaman cabai.
c. Buah yang dipanen adalah yang benar-benar tua, tandanya buah berwarna
merah, hijau kemerahan atau hitam kemerahan.
d. Saat panen langsung dilakukan sortasi, buah yang rusak atau kena hama
langsung dipisahkan.
e. Kematangan cabai disesuaikan dengan permintaan, lama penyimpanan
dan lamanya transportasi ke pasar.
f. Setelah dipanen, lakukan sortir awal. Buah cabe yang terkena penyakit,
terutama cendawan dikubur dalam lubang atau dibakar supaya tidak
menular ke buah dan tanaman lainnya.
Terkait dengan itu pada saat ingin melakukan pemanenan pada
tanaman cabai yang terpenting adalah ketetapan waktu panen karena

5
ketetapan saat panen sangat menentukan kualitas produk tanaman cabai, dan
apabila produksi tanaman cabai yang dipanen tidak tepat waktu maka kualitas
dan kuantitas cabai menurun. Pemanenan terlalu muda/awal pada tanaman
cabai akan menurunkan kuantitas hasil dan menyebabkan proses pematangan
tidak sempurna. Dan pemanenan terlalu tua/lewat panen maka kualitas
menurun dengan cepat saat disimpan, rentan terhadap pembusukkan, dan
menyebabkan kandungan serat kasarnya meningkat, tidak renyah lagi.
Cara pemanenan tanaman cabai dapat dilakukan secara manual
maupun secara mekanisasi, cara panen yang dipilih ditentukan oleh
ketersediaan tenaga kerja dan luasan areal pertanaman. Yang perlu
diperhatikan saat panen sedapat mungkin menghindarkan komoditas tanaman
cabai dari kerusakan fisik ( seperti memar, luka dan lecet). Adanya kerusakan
fisik pada komoditas tanaman cabai dapat memacu pembusukan dan memacu
transpirasi dan respirasi (cepat layu dan menurun kualitasnya), menginduksi
serangan hama dan penyakit pasca panen.
2. Sortasi
Pada tahap ini sebaiknya buah cabai yang telah dipanen segera
disortasi untuk mencegah kerusakan. Penundaan sortasi akan mempercepat
pembusukan. Sebaiknya sortasi pada tanaman cabai hendaknya membagi
dalam 3 kelompok atau tiga tipe berdasarkan kualitasnya. Pada tipe pertama
buah cabai digolongkan dengan kriteria buah masak sepenuhnya, tidak
berpenyakit dan tidak mengalami kerusakan pada saat pemanenan. Dan untuk
buah cabai yang berpenyakit seperti bercak hitam pada buah cabai dan buah
cabai yang mengalami pertumbuhan yang tidak normal serta buah cabai yang
mengalami kerusakan fisik (seperti memar, luka dan lecet) sebaiknya
dipisahkan. Untuk buah cabai yang mengalami kerusakan fisik (seperti
memar, luka dan lecet) dikelompokkan pada tipe ke 2 dan untuk buah cabai
yang berpenyakit seperti bercak hitam pada buah cabai dan buah cabai yang
mengalami pertumbuhan yang tidak normal dikelompokkan pada tipe ke 3.
3. Penyimpanan
Kemudian pada tahap selanjutnya buah cabai yang sudah disortasi tadi
kemudian diproses pada tahap penyimpanan. Untuk penyimpanan buah cabai

6
tersebut dipisahkan agar tidak terjadi kontaminasi antara buah cabai yang
utuh, tidak berpenyakit, masak normal dan buah cabai yang mengalami
kerusakan serta buah cabai yang berpenyakit. Hai ini maksudkan agar cabai
tetap kelihatan segar, mutu tetap stabil dan bisa diterima konsumen dengan
harga yang tinggi. Sebaiknya penyimpanan buah cabai di simpang di ruang
tertutup, yaitu bangunan berventilasi, ruang berpendingin atau ruang tertutup
yang konsentrasi gasnya berbeda dengan atmosfer. Penyimpanan yang baik
dapat memperpanjang umur dan kesegaran cabai tanpa menimbulkan
perubahan fisik atau kimia. pendinginan bertujuan menekan tingkat
perkembangan mikroorganisme dan perubahan biokimia. Penyimpanan pada
suhu rendah merupakan cara terbaik untuk mempertahankan kesegaran cabai.
Suhu optimal pendingin bergantung pada varietas cabai dan tingkat
kematangannya. Pendinginan dengan menggunakan refrigerator umumnya
lebih mudah dibandingkan dengan cara lainnya. Dengan cara ini, aktivitas
metabolisme bahan akan berkurang sehingga memperlambat proses
kerusakan dan memperpanjang masa simpan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Pantastico et al. (1975) serta Dasuki dan Muhamad (1997) yang menyatakan
bahwa, penyimpanan dengan udara terkontrol dan dimodifikasi dapat
menghambat metabolisme sehingga menunda pematangan dan pembusukan
buah. Oleh karena itu, cabai yang akan disimpan hendaknya sehat, seragam
kematangannya, dan dikemas dengan baik.
4. Pengemasan
Pada tahap ini buah cabai dikemas untuk melindungi mutu produk
cabai dari kerusakan mekanis, fisik dan fisiologi pada saat handling,
pengangkutan dan bongkar muat. Kemasan yang ideal harus kuat, memiliki
daya lindung yang tinggi terhadap kerusakan, mudah di-handle, aman dan
ekonomis. Wadah kemasan dapat dibuat secara tradisional berupa keranjang
bambu atau rotan, karung plastik polietilen dan kardus berventilasi.
Sebaiknya kemasan yang digunakan pada tahap ini yang bersifat ideal adalah
yang mudah diangkat, aman, ekonomis, dan dapat menjamin kebersihan
produk. Kemasan yang baik dapat menekan benturan, mempermudah
pertukaran udara, dan mengurangi penguapan. Prinsip pembuatan kemasan

7
adalah ekonomis, bahannya tersedia, mudah dibuat, ringan, kuat, dapat
melindungi komoditas, berventilasi, dan tidak bau.
5. Pengangkutan
Pada tahap ini setelah buah cabai dikemas maka langkah selanjutnya
adalah pengangkutan dengan menggunakan truk konvensional seperti
kendaraan bak terbuka berbeda dengan sistem non konvensional seperti
kontainer dengan sistem udara terkendali. Pengangkutan dengan sistem non
konvensional cabai relatif lebih aman dari kerusakan fisik, fisiologis maupun
mekanis. Namun, pengangkutan dengan kontainer baru digunakan oleh
perusahaan besar yang mendapat kontrak dengan pasar swalayan. Sementara
itu, untuk pasar tradisional, buah cabai lebih sering diangkut dengan mobil
bak terbuka. Untuk memperpanjang kesegaran, biasanya petani/pedagang
memerlukan alat angkut yang cocok untuk memperlancar pemasaran. Jika
jumlah cabai yang dipasarkan sedikit, biasanya petani/pedagang
menggunakan pikulan, sepeda atau gerobak. Selama pengangkutan, cabai
dapat mengalami kerusakan mekanis karena kontak dengan wadah atau
dengan cabai yang lain akibat goncangan. Kerusakan fisiologis juga bisa
terjadi akibat gangguan metabolisme dalam bahan. Yang terpenting selama
proses pengangkutan perlu dicermati penanganannya.
6. Pemasaran
Pemasaran pada cabai merupakan suatu rangkaian kegiatan yang
terjadi dalam proses mengalirkan barang (baik berupa cabai segar maupun
dalam bentuk yang sudah diolah) dari sentra produksi ke sentra komsumsi
guna memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan bagi konsumen serta
memberikan keuntungan bagi petani dan pedagang. Oleh karena itu dengan
adanya pemasaran pada cabai maka akan meningkatkan nilai guna bentuk,
nilai guna waktu, nilai guna tempat dan nilai guna hak milik pada tanaman
cabai. Pada tahap ini sebaiknya pemasaran dilakukan dengan strategi
pemasaran yang efektif agar proses pemasaran dapat berjalan secara
terkontrol, dinamis, dan kreatif. Namun sebelum melakukan pemasaran
hendaknya petani atau pedagang memastikan kualitas produk cabai yang akan
dijual kemudian langkah pertama kenalilah pelanggan maksudnya disini

8
petani atau pedagang mengidentifikasi target pemasaran cabai (orang yang
dituju yang menjadi sasaran pemasaran) kemudian langkah selangjutnya
melakukan promosi (baik berupa cabai segar maupun dalam bentuk yang
sudah diolah) haal ini dimaksudkan untuk memperkenalkan produk cabai
kepada konsumen. Sebaiknya promosi yang dilakukan tetap konsisten, terus-
menerus, dan dengan cara-cara kreatif sehingga para pelanggan tidak merasa
bosan. Misalnya, setiap kali bepergian, bawalah brosur, pamflet, atau leaflet
berisi produk cabai untuk dibagikan kepada rekan-rekan, atau Anda dapat
menyebarkan brosur tersebut di tempat umum serta Buatlah status di jejaring
social tentang produk cabai. Kemudian langkah ketiga memili lokasi yang
strategis dalam hal ini berkaitan dengan tempat pemasaran sebaiknya tempat
pemasaran cabai tersedia dekat dengan tempat konsumen supaya produk
cabai dapat diperoleh sepanjang waktu dan dapat dikonsumsi dalam bentuk
segar. Kemudian langkah keempat menjalin hubungan dengan pelanggan hal
ini dimaksudkan agar pelanggan tidak berpindah tempat, ketika pelanggan
membutuhkan prodak cabai maka konsumen tadi akan menjadi pelanggan
tetap dalam pemasaran cabai.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Cabai merah (Capsicum annuum L.) memiliki potensi sebagai jenis
sayuran buah untuk dikembangkan karena cukup penting peranannya baik
untuk memenuhi kebutuhan konsumsi Nasional maupun komoditas
ekspor. Dengan berkembangnya teknologi budidaya cabai secara intensi"
maka tingkat produksilebih meningkat sehingga kebutuhan konsumsi dapat
tercapai.

B. Saran
Untuk penanaman cabai merah sebaiknya benih yang digunakan
sebelumtanam diseleksi dan diperlakukan untuk menghindari
kontaminasi penyakit bawaan dari benih tersebut dapat berkembang. Perlu
diadakan percobaan lapanganuntuk mengetahui pengaruh di lapangan.
.

10
DAFTAR PUSTAKA

Anonima. http://prakosoisme.blogspot.com/2012/02/sistem-pemasaran-cabai-
merah-di-balai.html
Anonimb. http://nurafni.com/2012/10/07/pemasaran-cabai/
Anonimc. http://www.smartbisnis.co.id/insight/ekspansi-bisnis/6-strategi-
pemasaran-yang-efektif-
Asgar, A. 2000. Teknologi peningkatan kualitas sayuran. Makalah disampaikan
pada Pertemuan Aplikasi Paket Teknologi, BPTP Jawa Barat, Lembang,
1 Juli 2000.
Asgar, A. 2009. Penanganan pascapanen beberapa jenis sayuran. Makalah Linkages
ACIAR-SADI. Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang. 15 hlm.
https://www.scribd.com/document/370645105/Gulma-Pada-Tanaman-Cabai

11