Anda di halaman 1dari 33

ANALISIS TEKNIS KINERJA ALAT MUAT DAN ANGKUT PADA

PENGUPASAN MATERIAL PENUTUP PADA TAMBANG


BATUBARA DI PT. SAPTAINDRA SEJATI

TUGAS AKHIR I

Oleh:
SAMDIE BARAU
NIM : 710014126

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
YOGYAKARTA
2018
ANALISIS TEKNIS KINERJA ALAT MUAT DAN ANGKUT PADA
PENGUPASAN MATERIAL PENUTUP PADA TAMBANG
BATUBARA DI PT.SIS

TUGAS AKHIR I
Dibuat Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Melanjutkan Tugas Akhir II Pada
Jurusan Teknik Pertambangan Sekolah Tinggi Teknologi Nasional
Yogyakarta

Oleh:
SAMDIE BARAU
NIM : 710014126

Yogyakarta, April 2018

Menyetujui Menyetujui

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

() ()

NIK : NIK :

Mengetahui
Ketua Jurusan Teknik Pertambangan

()
NIK:
KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga Tugas Akhir I ini dapat diselesikan sesuai waktu
yang ditentukan dengan judul ” Analisis Teknis Kinerja Alat Muat Dan Angkut
Pada Pengupasan Material Penutup Pada Tambang Batubara di PT.SIS”
Tugas Akhir I ini merupakan persyaratan yang harus dipenuhi bagi mahasiswa
Jurusan Teknik Pertambangan Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta
Untuk dapat melanjutkan Tugas Akhir II
Tersusunnya laporan ini tidak terlepas dari bantuan semua pihak, maka pada
kesempatan ini Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Ir. H. Ircham, MT selaku Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Nasional
Yogyakarta.
2. selaku Ketua Jurusan Teknik Pertambangan Sekolah Tinggi Teknologi
Nasional Yogyakarta dan Dosen pembimbing II.
3. selaku Dosen Pembimbing I
4. Semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak
dalam penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir I ini masih jauh dari sempurna. Untuk
itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangatlah diharapkan. Akhir kata semoga
Tugas Akhir I ini dapat bermanfaat.

Yogyakarta, 2018

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... ii
KATA PENGANTAR.................................................................................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... vi
DAFTAR TABEL .......................................................................................... vii
I. JUDUL ................................................................................................... 1
II. LATAR BELAKANG MASALAH ..................................................... 1
III. RUMUSAN MASALAH ...................................................................... 2
IV. BATASAN MASALAH........................................................................ 2
V. TUJUAN PENELITIAN....................................................................... 2
VI. METODE PENELITIAN .................................................................... 3
VII. MANFAAT PENELITIAN ................................................................. 4
VIII. DASAR TEORI .................................................................................... 6
8.1 Pemilihan Peralatan Penggalian ...................................................... 6
8.2 Penggunaan Alat Mekanis ............................................................... 6
8.2.1 Alat Gali dan Muat (Excavator) ............................................. 6
8.2.2 Alat Angkut ............................................................................ 7
8.2.3 Pola Pemuatan ........................................................................ 7
8.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Alat Gali Muat dan
Alat Angkut....................................................................................... 11
8.3.1 Lebar Jalan Angkut .................................................................. 11
8.3.2 Waktu edar (Cycle Time) ......................................................... 13
8.3.3 Efisiensi Kerja.......................................................................... 14
8.3.4 Kondisi Jalan Angkut............................................................... 17
8.3.5 Swell factor .............................................................................. 18
8.4 Produktivitas alat Gali Muat dan Angkut ........................................ 19
8.4.1 Alat Gali Muat ........................................................................ 19
8.4.2 Alat Angkut ............................................................................ 22
8.5 Faktor Keserasian Alat Gali Muat dan Alat Angkut....................... 22
IX. WAKTU DAN RENCANA KEGIATAN............................................ 25
X. DAFTAR PUSTAKA............................................................................ 26
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Diagram Alir Penelitian ................................................................. 5


Gambar 2. Pola Pemuatan ................................................................................ 8
Gambar 3. Top Loading dan Bottom Loading.................................................. 9
Gambar 4 (A)Frontal Cut, (B)Parallel Cut With Drive By.............................. 10
Gambar 5 Lebar Jalan Angkut Untuk Dua Jalur Pada Jalan Lurus.................. 12
Gambar 6 Lebar Jalan Angkut Untuk Dua Jalur Pada Tikungan..................... 13
Gambar 7. Bucket Fill Factor .......................................................................... 21
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Representative Swell For Different Classes Of Earth ....................... 19


Tabel 2, Rencna Kegiatan Penyusunan Tugas Akhir II ................................... 25
I. JUDUL
ANALISIS TEKNIS KINERJA ALAT MUAT DAN ANGKUT PADA
PENGUPASAN MATERIAL PENUTUP PADA TAMBANG
BATUBARA DI PT.SIS

II. LATAR BELAKANG MASALAH


Kegiatan pengupasan material penutup, merupakan suatu proses yang bertujuan
untuk mengambil bahan galian yang berada dibawahnya, dan juga merupakan suatu
aktifitas tahapan awal dari penambangan dimana pada suatu perusahaan yang
hendak melakukan pertambangan, maka harus dilakukan dahulu kegiatan tersebut.
penting dan perlunya kegiatan tersebut diikuti adalah untuk mengetahui bagaimana
cara atau proses kegiatan yang berlangsung di daerah tersebut, disamping untuk
mengetahui cara dan proses kegiatannya juga sebagai bahan pembelajaran dan
pengetahuan untuk kedepannya.
Dalam kegiatan penambangan batubara, peralatan tambang mutlak dibutuhkan
baik itu sebagai alat utama dalam proses penambangan maupun sebagai alat
penunjang kegiatan penambangan seperti penggunaan peralatan mekanis pada
kegiatan pengupasan material penutup dan pembuatan jalan-jalan yang menuju
wilayah tambang tersebut. Pada metode tambang terbuka pengoprasiannya pada
umumnya menggunakan peralatan mekanis seperti excavator dan untuk
pengangkutan nya menggunakan dump truck.
Sulitnya menentukan target pemindahan material penutup yang tepat, salah
satunya disebabkan oleh sistem kerja alat-alat mekanis yang tidak efisien,
misalanya adanya waktu yang hilang karena kondisi alat angkut yang harus
menunggu, adanya kondisi peralatan yang rusak sehingga harus diperbaiki dan juga
kondisi lainya yang tidak terduga. Masih rendahnya kemampuan produktifitas alat
mekanis saat ini disebabkan berkurangnya waktu kerja efektif sehingga efisiensi
menurun yang disebabkan karena waktu hambatan pada saat jam kerja dan juga
belum adanya perbaikan sistem penjadwalan yang dibuat. Waktu edar alat gali muat
dan alat angkut tersebut terlalu lama untuk satu fleet produksi, dimana waktu edar
tersebut tidak sesuai dengan estimasi waktu yang telah diperhitungkan sebelumnya
yang berdampak produktifitas alat menurun. Masih rendahnya pencapaian target
pemindahan material penutup di perusahaan sehingga perlu adanya dilakukan
analisis terhadap sistem kinerja alat muat dan alat angkut.

III. RUMUSAN MASALAH


Rumusan masalah pada Tugas Akhir ini adalah menganalisis kegiatan kinerja
dari alat muat dan alat angkut pada proses pemindahan dan pengankutan
overburden sudah tercapai atau belum tercapai dan juga menganalisis faktor-faktor
yang menghambat dari kinerja alat tersebut.

IV. BATASAN MASALAH


Batasan masalah pada tugas akhir ini adalah:
1. Hanya membahas alat gali muat berupa excavator dan alat angkut berupa
dump truck
2. Menganalisis kinerja alat gali muat dan angkut untuk material penutup dan
faktor-faktor yang menghambatnya
3. Menganalis waktu siklus dan keserasian kerja alat gali muat
4. Tidak mengkaji masalah aspek ekonomi.

V. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
1. Menganalisis berbagai permasalahan di lapangan seperti waktu kerja
efektif, waktu siklus alat gali muat dan angkut, kondisi permukaan kerja,
jarak angkut, kondisi jalan angkut dan cara kerja alat mekanis.
2. Menghitung produksi alat muat dan alat angkut untuk mengetahui besarnya
produksi yang dapat dicapai dalam kenyataan kerja alat muat dan alat
angkut berdasarkan kondisi yang dapat dicapai.
3. Mengevaluasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian target
pemindahan material penutup
VI. METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam melaksanakan penelitian yaitu :
1. Studi literatur
Studi literatur merupakan kegiatan mempelajari, mengumpulkan dan
membaca berbagai sumber pustaka untuk memperkuat landasan teori,
terutama teori yang berhubungan dengan kajian teknis alat gali muat dan
angkut batubara.

2. Observasi lapangan
Observasi lapangan merupakan pengamatan lapangan dilakukan langsung
ke lapangan untuk memperoleh data-data yang berupa waktu edar alat gali
muat dan alat angkut, foto dokumentasi dan lain-lain. Selama pengamatan
lapangan, dilakukan diskusi dan wawancara yang berguna untuk melakukan
pengolahan data lapangan dan analisis hasil pengolahan data.

3. Pengumpulan Data
Dalam pelaksanaan penelitian dilakukan pengumpulan data baik dari
pengamatan dilapangan langsung maupun tidak langsung.
 Data Primer
Meliputi data waktu edar dari alat muat dan alat angkut serta banyaknya
pengisian alat muat ke alat angkut, waktu hambatan yang terjadi pada
kegiatan penambangan batubara, foto-foto yang berhubungan dengan
proses gali muat dan pengangkutan dan lain-lain.
 Data Sekunder
Meliputi data curah hujan, data produksi, data geologi daerah penelitian,
peta lokasi daerah penelitian dan spesifikasi alat mekanis.

4. Analisis Data
Setelah data terkumpul baik data primer dan data sekunder, dilakukan
perhitungan yang kemudian untuk diolah untuk dianalisis kenerja alat muat
dan angkut pada pengupasan material penutup.
5. Penyusunan Penelitian
Hasil yang didapat dari analisa data kemudian disajikan dalam bentuk satu
laporan.

6. Kesimpulan
Diperoleh setelah dilakukan korelasi antara hasil pengolahan dan analisa
data yang dilakukan dengan permasalahan yang diteliti sehingga mencapai
suatu usulan alternatif penyelesaian masalah.

VII. MANFAAT PENELITIAN


Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Diharapkan hasil yang diperoleh dapat bermanfaat sebagai masukan guna
meningkatkan produktivitas dari alat muat dan alat angkut pada kegiatan
penambangan batubara disalah satu Pit dalam upaya mencapai target
produksi.
2. Bagi Civitas Akademika, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
sebagai studi banding bagi penelitian yang ada kaitannya dengan
permasalahan kajian teknis alat gali muat material penutup
3. Bagi peneliti, untuk menambah wawasan tentang kegiatan penambangan
khususnya pada kajian teknis alat gali muat material penutup.
Studi literatur

Tujuan Penelitian

Observasi Lapangan

Pengumpulan Data

Data Primer Data Sekunder

- Cycle time alat gali muat dan - Tinjauan umum perusahaan


alat angkut - Data target produksi
- Bucket fill factor - Berat jenis dan swell factor
- Jam kerja efektif material
- Waktu - Jenis dan speksifikasi alat
hambatan- - Curah hujan dan jam kerja
Jumlah alat

Analisis Data

- Analisis nilai produktifitas alat gali muat dan alat angkut


- Analisis faktor penghambat produktifitas alat
- Analisis nilai MF dari alat gali muat dan angkut

Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Gambar 1. Diagram Alir penelitian


VIII. DASAR TEORI
8.1 Pemilihan Peralatan Penggalian
Dasar pemilihan dari peralatan penggalian adalah (Indonesianto, yanto 2008) 1.
Adanya jaminan keselamatan kerja (safety), maksudnya adalah jaminan
keselamatan kerja dari alat, yaitu apakah alat mekanis tersebut
membahayakan operator atau tidak
2. Biaya gali dan muat seminimum mungkin suatu perusahaan pemindahan
tanah mekanis yang akan memilih peralatan mekanis apa yang akan dipakai,
terlebih dahulu harus menghitung secara teoritis tentang: produksinya (out
put) atau kapasitas alatnya, biaya pemilikan, biaya operasi
3. Singkronisasi dengan alat mekanis lain (utamanya keserasian kerja anatara
alat muat dan alat angkut)
4. Penyusuaian dengan kondisi kerja

8.2 Penggunaan Alat Mekanis


Salah satu penunjang dalam kegiatan penambangan adalah penggunaan alat
mekanis, baik itu dalam pembuatan jalan angkut, penggalian, pemuatan dan
pengangkutan. Dalam pengamatan dilapangan penggunaan alat mekanis yang
paling penting digunakan untuk produksi adalah alat gali muat dan angkut.

8.2.1 Alat Gali Dan Muat (Excavator)


Alat gali muat merupakan alat mekanis yang digunakan untuk melakukan
penggalian sekaligus pemuatan material ke alat angkut, alat gali dan muat antara
lain adalah sebagai berikut: (Indonesianto, yanto 2008)
a. Power shovel
b. Dozer
c. Backhoe
d. Dragline

Alat gali muat mempunyai bagian-bagian utama, antara lain


a. Bagian atas yang dapat berputar (revolving unit)
b. Bagian bawah untuk berpindah tempat (traveling unit)
Bagian-bagian tambahan (attachment) yang dapat diganti sesuai pekerjaan yang
akan dilaksanakan

8.2.2 Alat Angkut


Alat angkut adalah alat yang digunakan untuk memindahkan material hasil
penambangan ketempat penimbunan atau pengolahan

Pengangkutan batuan, endapan bijih, waste dan lain-lain merupakan suatu hal
yang sangat mempengaruhi operasi penambangan, untung rugi suatu perusahaan
tambang terletak juga pada lancer tidaknya pengangkutan yang tersedia

Untuk pengangkutan jarak dekat (kurang dari 5 km) dapat dipakai truck dan
power sraper. Untuk pengangkutan jarak sedang (5-20 km) dapat menggunakan
truck berukuran besar, belt conveyor, sedangkan untuk jarak jauh (> 20 km) di
pergunakan kereta api atau pipa (Prodjosumarto, 1993).

Pemilihan alat angkut juga memerlukan beberapa pertimbangan, setiap


jenisnya memiliki keunggulan dan kekurangan dalam hal pengangkutan, alat
angkut yang sering dipergunakan dalam industri pertambangan adalah dump truck.
Dump truck sering dipakai untuk mengangkut tanah, bongkahan-bongkahan batuan,
bijih, batubara, dan material lain.

Keuntungan dari jenis alat angkut ini adalah sebagai berikut:


a. Kapasitasnya yang cukup besar
b. Kecepatan relative tinggi
c. Ongkos angkut rendah
d. Memiliki fleksibilitas yang baik

8.2.3 Pola Pemuatan


Secara umum klasifikasi pola pemuatan dibagi menjadi empat kelompok besar,
yaitu:
a. Berdsarkan dari jumlah penempatan posisi truck untuk dimuati terhadap
posisi backhoe:
1) Single back up, yaitu truck memposisikan diri untuk dimuati pada satu
tempat
2) Double back up, yaitu dua truck memposisikan diri untuk dimuati pada
dua tempat
3) Triple back up, yaitu tiga truck memposisikan diri untuk dipada tiga
tempat

(Sumber: Indonesianto, 2012)


Gambar 2. pola pemuatan

b. Berdasarkan dari posisi truck untuk dimuati hasil galian backhoe (pola
galian muat), maka terdapat 2 pola, yaitu
1) Top loading
Posisi backhoe di atas jenjang dan truck berada di bawah jenjang
2) Bottom loading Posisi backhoe dan truck pada satu lavel (sama-
sama di atas jenjang)

(Sumber: Hustrulid 1995)


Gambar 3. Top Loading dan Bottom Loading

c. Berdasarkan cara manuvernya, pola muat dapat dibedakan menjadi:


1) Frontal cut
Backhoe berhadapan dengan muka jenjang atau penggalian, pada
pola ini alat muat mulai memuat pertama kali pasa truck sebelah kiri
sampai penuh, kemudian dilanjutkan pemuatan pada truck sebelah
kanan, sudut putar backhoe antara 10ᵒ - 110ᵒ.
2) Parallel cut with drive by
Backhoe bergerak melintang dan sejajar dengan front penggalian,
pola ini diterapkan apabila lokasi pemuatan memiliki 2 (dua) akses
dan berdekatan dengan lokasi penimbunan. Memiliki efisiensi tinggi
untuk alat gali-muat dan alat angkutnya walaupun rata-rata swing
angel nya lebih besar. Alat angkut mendekati alat gali-muat dari
belakang kemudian baru diberi muatan setelah disamping alat gali-
muat.
Sumber: Indonesianto,2012
Gambar 4 (A)Frontal Cut, (B)Parallel Cut With Drive By

d. Berdasarkan posisi penggalian alat muat, pemuatan dibagi menjadi 4 pola


yaitu:
1) V-shape loading
Untuk menggali maka harus didorong kearah permukaan kerja. Jika
mangkuk telah penuh, “prime mover” mundur dan mangkok di
angkat ke atas untuk selanjut nya material akan diangkut
kesuatu tempat penimbunan atau dimuatkan ke atas alat angkut.
Gerakan yang dilakukan membentuk huruf “V”
2) I-shave loading
Dalam pola pemuatan ini gerakan dari wheel loader hanya maju
mundur, sedangkan gerakan dari DT juga maju mundur tetapi
memotong arah gerakan dari wheel loader. Gerakan yang
dilakuakn membentuk huruf “I”
3) Cross loading
Dimana gerakan dari wheel loader hanya maju dan mundur,
sedangkan gerakan dari trucknya adalah maju dan memotong arah
gerakan dari wheel loader
4) Chain loading
Dimana gerakan dari alat muat maju mundur, sedangkan gerakan
dari truck setelah dilakukan pengisian bergerak maju secara terus
menerus, (Indonesianto, yanto 2008)

8.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Alat Gali Muat dan


Alat Angkut

8.3.1 Lebar Jalan Angkut


Perhitungan lebar jalan angkut didasarkan pada lebar kendaraan terbesar
yang dioperasikan. Semakin lebar jalan angkut yang digunakan maka operasi
pengangkutan akan semakin aman dan lancar (Indonesianto, yanto 2015).

a. Lebar jalan angkut minimum pada jalan lurus


Lebar jalan angkut miminum yang dipakai untuk jalur ganda atau lebih pada
jalan lurus menurut “AASTHO (American Association Of State Transportation
Highway Officials)” adalah:

𝐿 = 𝑛. 𝑊𝑡 + (𝑛 + 1). (0.5. 𝑊𝑡)


Keterangan:
L = Lebar jalan angkut minimum (meter)
n = Jumlah Jalur
Wt = lebar truk (meter)

b. Lebar jalan angkut minimum pada tikungan


Lebar jalan angkut minimum pada tikungan selalu lebih besar dari pada jalan
angkut pada jalan lurus. Rumus yang digunakan untuk menghitung lebar jalan
angkut minimum pada belokan adalah

𝑊 = 2(𝑢 + 𝐹𝑎 + 𝐹𝑏 + 𝑍) + 𝐶
𝐶 = 𝑍 = 0.5(𝑈 + 𝐹𝑎 + 𝐹𝑏)

Keterangan:
u = jarak jejak terluar roda depan dengan jarak terluar rada belakang (meter).
Fa = lebar juntai bagian depan (meter) (dikoreksi dengan sinus sudut belok roda
depan).
Fb = lebar juntai bagian belakang (meter) (dikoreksi dengan sinus sudut belok
roda depan).
Z = jarak sisi terluar truk ke tepi jalan (meter).
C = jarak antar truk (meter).

Gambar 5 Lebar Jalan Angkut Untuk Dua Jalur Pada Jalan Lurus
Gambar 6 Lebar Jalan Angkut Untuk Dua Jalur Pada Tikungan

8.3.2 Waktu Edar (Cycle Time)


a. Waktu Edar Alat Gali Muat
Waktu edar merupakan salah satu parameter produksi. Dengan asumsi kapasitas
bucket tetap. Semakin kecil waktu edar maka produksi alat tersebut semakin tinggi
sedangkan semakin besar waktu edar maka produksi alat semakin rendah. Waktu
edar lat gali muat terdiri dari empat bagian, yaitu waktu mengisi bucket (excavating
time), waktu berayunan bermuatan (swing time loaded), waktu membuang isi
bucket (dumping time), waktu ayunan kosong (swing time empty)

𝐶 = 𝐸𝑇 + 𝑆𝑇𝐿𝐸 + 𝐷𝑇 + 𝑆𝑇𝐸

Keterangan
CE = Cycle Time Excavator (detik)
ETE = excavating time excavator (detik)
STLE = swing time loaded excavator (detik)
DTE = dumping time excavator (detik)
STEE = swing time empty excavator (detik)

b. Waktu Edar Alat Angkut


Merupakan jumlah waktu yang diperlukan oleh suatu alat untuk melakukan satu
siklus kegiatan tanpa memperhatikan waktu hambatan yang terjadi. Waktu edar alat
angkut pada umumnya terdiri dari waktu pemuatan material, waktu pergi muatan,
waktu maneuver sebelum menumpah, waktu menumpah material, waktu kembali,
dan waktu maneuver sebelum pemuatan. Persamaan waktu edar alat angkut adalah
sebagai berikut:

𝐶𝑇 = 𝐿𝑇 + 𝐻𝐿𝑇 + 𝑆𝐷𝑇 + 𝐷𝑇 + 𝑅𝑇 + 𝑆𝐿𝑇

Keterangan
CT = Cycle Time Truck (detik)
LTT = waktu pemuatan material (detik)
HLTT = waktu pergi bermuatan (detik)
SDTT = waktu maneuver sebelum menumpah (detik)
DTT = waktu menumpah material (detik)
RTT = waktu kembali (detik)
SLTT = waktu manuver sebelum pemuatan (detik)

8.3.3 Ketersedian (Availability)


Tingkat efisiensi tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi alat, pengolahan dan
perawatan alat-alat mekanis ataupun operator alat-alat mekanis itu sendiri dimana:
(Indonesianto, 2012)
W = working hours
R = repair hours
S = standby hours

a. Waktu kerja (working hours)


Waktu Kerja di mulai dari operator berada di satu alat dan alat tersebut berada
dalam kondisi operable (mesin dan bagian-bagain lain siap dipakai operasi). Waktu
kerja meliputi:

1) Waktu efektif (We) yaitu waktu yang benar-benar digunakan oleh alat untuk
berproduksi.

2) Waktu delay (Wd) yaitu waktu hambatan yang terdiri dari kehilangan waktu
saat dari dan menuju tempat kerja, moving time, waktu untuk lubrikasi,
pengisian bensin, pemeliharaan alat, kehilangan waktu di karenakan kondisi
cuaca, safety meeting dan lain sebagainya.
 Stand by hours (S): Stand by hours adalah waktu dimana alat siap pakai
(tidak rusak), tetap karena satu dan lain hal tidak dipergunakan ketika
operasi penambangan sedang berlangsung.
 Waktu repair (R); Waktu repair yaitu waktu perbaikan pada saat jam
operasi berlangsung misalnya perawatan dan waktu menunggu suku
cadang alat.

b. Faktor untuk mengoreksi jam kerja alat yang sesungguhnya.


Efisiensi kerja alat tidak dapat di gambarkan secara lengkap hanya dengan
satu factor availabilty saja. Tetapi dengan menggunakan tiga factor availability bisa
memberikan gambaran tentang efisiensi kerja alat. Dengan mechanical availability
dapat di ketahui operational availability sedangkan used of availability di pakai
sebagai pelengkap untuk mengetahui suatu operation berlangsung efisien atau tidak.
(Indonesianto,2012)
1) Kesediaan mekanik (Mechanical Availability)
Pada kondisi ini apabila terjadi kerusakan atau adanya gangguan pada alat
mekanis tersebut, alat sudah berada pada bengkel alat mekanis untuk segera di
perbaiki. MA tergantung pada kesiapan mesin atau non mesin dari alat mekanis.
Untuk kesiapan alat dari segi mekanik, di perlukan perawatan terhadap alat mekanis
baik yang terjadwal maupun yang tidak terjadwal.

Persamaan untuk mechanical availability (%): (Indonesianto,2012)

W
MA = x 100 %
W R

2) Pada kesediaan fisik (Physical Availability)


Apabila nilai standby hours sama dengan nol maka akan di dapatkan nilai PA
akan sama dengan nilai MA. PA selain tergantung pada kesiapan mesin ataupun
non mesin juga tergantung pada kesiapan manusia yang akan menjalankan atau
mengopersaikan alat mekanis tersebut. Pada kondisi ini apabila terjadi kerusakan
atau adanya gangguan pada alat mekanis alat tersebut masih berada di tempat kerja,
setelah itu dapat juga di bawa ke bengkel alat mekanis untuk segera di perbaiki.

Untuk menghitung PA dengan menggunakan persamaan: (Indonesianto,2012)

W S
PA = x 100 %
W R S

3) Pada pemakaian kesediaan (Used Of Availabilty)


Apabila nilai standby hours sama dengan nol maka nilai UA akan meningkat
menjadi 100%. UA tergantung pada kesiapan manusia yang akan menjalankan atau
mengoperasikan alat mekanis tersebut.
Nilai UA tersebut dapat diketahui dengan persamaan sebagai berikut :
(Indonesianto,2012)
W
UA = x 100 %
W S

4) Pada penggunaan efektif (Effective Utilization)


Apabila nilai standby hours sama dengan nol maka nilai EU maka akan sama
dengan nilai MA, EU tergntung pada ketiga faktor di atas (kesiapan alat, kesiapan
waktu dan kesiapan manusia) Hal ini dapat diketahui dengan persamaan:
(Indonesianto,2012)

W
EU = x 100%
W R S

8.3.4 Kondisi Jalan Angkut


Salah satu sasaran yang penting dalam kelangsungan operasi pertambangan
terutama dalam pergerakan alat-alat mekanis berupa alat muat dan angkut adalah
kondisi jalan tambang yang akan digunakan. jalan tambang yang dimaksud disini
adalah jalan angkut yang menghubungkan antara lokasi galian dan lokasi
penimbunan. Melihat fungsi dari jalan tambang sebagai jalan angkut utama, maka
kondisi jalan tambang perlu diperhatikan untuk kelancaran kegiatan pengangkutan.

Kemiringan jalan angkut juga harus diamati dalam kegiatan evaluasi terhadap
kondisi jalan tambang. Karena berhubungan langsung dengan kemampuan alat
angkut, baik dalam pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan. Kemiringan ini
umumnya dinyatakan dalam persen (%), dalam arti keminringan 1% menunjukan
jalan tersebut naik atau turun 1 meter atau 1 feet tiap jarak mendatar sebesar 100
meter atau 100 feet. Kemiringan jalan maksimum yang dapat dinilai oleh alat
angkut adalah 8%-10%

Kemiringan (grade) adalah tanjakan dari jalan angkut, kelandaian atau


kecuramannya sangat mempengaruhi produksi alat angkut, sebab adanya
kemiringan jalan menimbulkan tahanan tanjakan (grade resistance) yang harus
diatasi oleh mesin alat angkut. (Indonesianto, yanto 2012)
8.3.5 Swell Factor
Swell adalah pengembangan volume suatu material setelah digali dari
tempatnya. Di alam, material didapati dalam keadaan padat dan terkonsolidasi
dengan baik, sehingga hnaya sedikit bagian-bagian kosong (void) yang terisi udara
di antara butir-butirnya, lebih-lebih kalau butir-butir itu halus sekali.

Apabila material digali dari tempat aslinya, maka akan terjadi pengembangan
volume (swell). Untuk menyatakan berapa besarnya pengembangan volume itu
dikenal dua istilah yaitu: faktor pengembangan (swell factor) dan persen
pengembangan (present swell).

Untuk menunjukan hubungan antara material dalam kondisi yang berbeda-


beda di atas, dikenal beberapa istilah berikut: (Nurhakim, 2004: edisi 2)

𝑙𝑜𝑜𝑠𝑒
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛 𝑠𝑤𝑒𝑙𝑙 = ( − 1) × 100%
𝑉𝑢𝑛𝑑𝑖𝑠𝑡𝑢𝑟𝑏𝑒𝑑

𝑉𝑢 𝑖𝑠𝑡𝑢𝑟𝑏𝑒𝑑
𝑆𝑤𝑒𝑙𝑙 𝑓𝑎𝑐𝑡𝑜𝑟 = ( ) × 100% atau 𝑆𝐹 = (𝑑𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦 𝑖𝑛𝑠𝑖𝑡𝑢)
𝑉 𝑙𝑜𝑜𝑠𝑒

Angka-angka faktor pengembangan (swell factor) setiap klasifikasi tanah


atau material berbeda sesuai dengan jenis tanahnya seperti terlihat pada tabel swell
factor berikut ini:
Tabel 1. Representative Swell For Different Classes Of Earth

Class of earth Percent swell (%)

Clean sand or gravel 5 – 15

Top soil 10 – 25

Loamy soil 10 – 35

Common earth 20 – 45

Clay 30 – 60

Solid rock 50 – 80

8.4 Produktivitas Alat Gali Muat dan Alat Angkut

8.4.1 Alat Gali Muat


Waktu edar merupakan salah satu parameter produksi. Dengan
asumsi kapasitas bucket tetap, semakin kecil waktu edar maka produksi alat
tersebut semakin tinggi sedangkan semakin besar waktu edar maka produksi maka
produksi alat semakin rendah. Waktu edar alat gali muat terdiri dari empat
bagian, yaitu: waktu mengisi bucket (digging time), waktu ayunan bermuatan
(swing loaded), waktu membuang isi bucket (dumping time), waktu ayunan
kosong (empty swing)

.
CT(m)= waktu gali + waktu ayun isi + waktu tumpah + waktu ayun kosong

Produktivitas alat gali-muat dapat ditentukan dengan menggunakan rumus


sebagai berikut: (Indonesianto, yanto 2012)

3600
𝑃𝑚 = × 𝐾𝑏 × 𝐹𝑓 × 𝑆𝑓 × 𝐸𝑓𝑓
𝐶𝑇𝑚
Keterangan
Pm = produktivitas per unit alat gali muat (BCM/jam)
CTm = waktu edar alat muat (detik)
Kb = kapasitas bucket per unit alat gali muat (m3)
Ff = bucket fill faktor (%)
Sf = swell factor (%)
Eff = Efisiensi kerja (%)

Faktor Pengisian Alat Gali Muat (Bucket Fill Factor)


Faktor pengisian bucket diartikan sebagai perbandingan volume material
yang dapat digali dengan volume munjung alat gali yang dinyatakan dalam
persen. Semakin tinggi faktor pengisian, semakin tinggi pula kapasitas nyata
dari alat tersebut, Untuk mengetahui faktor pengisian pada saat melakukan
pekerjaan, maka dilakukan pengamatan terhadap perlengkapan peralatan pada
saat dioperasikan, besarnya pengisian dipengaruhi oleh
a. kandungan air, semakin besar kandungan air maka faktor pengisian semakin
kecil
b. Ukuran butir, semakin besar ukuran butir material, maka faktor pengisian
semakin kecil karena terjadi pengurangan volume material akibat rongga-
rongga yang ditimbulkan antara butiran material. Ukuran butir ini juga bisa
berpengaruh terhadap faktor muat yang bisa dimuat "bucket" alat gali muat.
c. Bentuk material, bentuk material yang mengakibatkan adanya rongga yang
akan mengurangi faktor pengisian.
d. Kohesivitas material, daya ikat material semakin kecil dan mudah lepas
antara butiran material, maka akan saling membentuk rongga yang dapat
memperbesar faktor isian.

Faktor pengisian ini perlu diperhatikan dalam menghitung produktifitas


peralatan, karena jenis material yang dikerjakan cukup beragam. Faktor pengisian
ini dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (Indonesianto, yanto 2012):
𝑛
𝐹𝐹 = × 100% 𝑡
𝑉

Keterangan:
FF = faktor pengisian (%)
Vn = Kapasitas nyata (%)
Vt = Kapasitas teoritis (%)

Faktor pengisian terutama pada alat muat sangat dipengaruhi oleh:


1) Ukuran butir material, dimana semakin besar ukuran butir material maka
faktor pengisian semakin kecil.
2) Kondisi kerja dan stock material tersisa.
3) Merupakan faktor manusia yang menggerakan alat-alat berat, sangat
bervariasi untuk tiap operator tergantung dari, skill, umur, pengalaman dan
sebagainya.

Lihat pada gambar di bawah ini cara penentuan Fill Factor:


(Sumber: Hand Book Komatsu)
Gambar 7. Bucket Fill Factor
8.4.2 Alat Angkut
Produktivitas dari truck dipengaruhi oleh waktu siklusnya. Waktu siklus
dump truck terdiri dari waktu pemuatan, waktu pengangkutan, waktu
pembongkaran muatan, waktu perjalanan kembali dan waktu antri. (Basuki dan
Nurhakim, 2004)

Produktivitas alat angkut dapat ditentukan dengan menggunakan


persamaan berikut:

3600
𝑃𝑎 = × 𝑛 × 𝐾𝑏 × 𝐹𝑓 × 𝑆𝑓 × 𝐸𝑓𝑓
𝐶𝑡𝑎

Ketcrangan:
Pa = Produktivitas per unit alat angkut (BCM/jam)
Cta = Waktu edar alat angkut (detik)
n = Jumlah pengisian
Kb = Kapasitas bucket alat gali muat (m3)
Ff = Bucket fill factor (%)
Sf = Swell factor
Eff = Efisiensi kerja (%)
8.5 Faktor Keserasian Alat Gali Muat dan Alat Angkut
Faktor keserasian biasanya digunakan untuk megetahui jumlah alat angkut yang
sesuai (serasi) untuk melayani satu unit alat gali muat. Beberapa faktor yang perlu
diperhatikan dalam menghitung keserasian antara alat gali muat dan angkut adalah:

a. Jumlah alat gali muat dan alat angkut yang dipakai


b. Waktu edar (cycle time) dari alat gali muat
c. Kapasitas bucket
d. Jumlah pemuatan alat gali muat ke dalam alat angkut
e. Waktu edar (cycle time) dari alat angkut

Keserasian alat gali muat dan alat angkut dapat dirumuskan sebagai: (Basuki
dan Nurhakim, 2004)

𝑁𝑎 × 𝐶𝑡𝑚
𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝐾𝑒𝑠𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖𝑎𝑛 =
𝑁𝑚 × 𝐶𝑡𝑎

Keterangan
Na = Jumlah alat angkut
Nm = Jumlah alat gali muat
Cta = Waktu edar alat angkut
Ctm = Waktu edar alat gali muat

Cara menilainya waktu tunggu alat adalah sebagai berikut :


a. MF < l, artinya alat muat bekerja kurang dari 100 % sedang alat angkut
bekerja 100 %, sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat muat sebagai
berikut .

𝑁𝑎 × 𝐶𝑡𝑚
1> → 𝑁𝑚 × 𝐶𝑡𝑎 > 𝑁𝑎 × 𝐶𝑡𝑚
𝑁𝑚 × 𝐶𝑡𝑎
Persamaan tersebut setelah disamakan karena terdapat kekurangan waktu
maka ditambah dengan WTm (waktu tunggu muat) didapat persamaan
sebagai berikut:
(Nm x Cta) = (Na x Ctm) + WTm

Jadi waktu tunggu alat muat

WTm = (Nm x cta) - (Na x ctm)

b. MF = I artinya alat muat dan alat angkut bekerja 100 %.

c. MF > 1 artinya alat muat bekerja 100 % Sedangkan alat angkut bekerja
kurang dari 100%, sehingga terdapat waktu bagi alat angkut sebagai berikut:

𝑁𝑎 × 𝐶𝑡𝑚
> 1 → 𝑁𝑎 × 𝐶𝑡𝑚 > 𝑁𝑚 × 𝐶𝑡𝑎
𝑁𝑚 × 𝐶𝑡𝑎

Persamaan tersebut setelah disamakan karena terdapat kekurangan waktu


maka ditamabah dengan Wta Didapat persamaan sebagai berikut:

(Na x Ctm) = (Nm x Cta) + WTa

Jadi waktu tunggu alat angkut:

WTa = (Na x ctm) - (Nm x Cta)


IX. WAKTU DAN RENCANA KEGIATAN
Tabel 2, Rencna Kegiatan Penyusunan Tugas Akhir II

Bulan
No Kegiatan Sep-16 Okt-16 Nov-16 Des-16
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Studi Pustaka
2 Observasi Lapangan
3 Pengambilan dan
Pengumpulan Data
4 Pengolahan Data
5 Analisa Data
6 Bimbingan
7 Presentasi
8 Pendadaran
X. DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2004, Caterpillar Performance Handbook Edition 35, Caterpillar Inc.,


Peoria, Illinois, U.S.A
Basuki, S., dan Nurhakim, 2004., Modul Ajar Pemindahan Tanah Mekanis,
Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarbaru.
Indonesianto, Y., 2012 Pemindahan Tanah Mekanis, Jurusan Tenik Pertambangan
UPN “Veteran”, Yogyakarta.
Nurhakim, 2004,. Buku Panduan Kuliah Lapangan II Edisi Ke-2, Program Studi
Teknik Pertambangan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru
Prodjosumarto, P., 1993, Pemindahan Tanah Mekanis, Departemen Tambang
Institute Teknologi Bandung, Bandung