Anda di halaman 1dari 30

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teoritis

1. Belajar dan Pembelajaran IPA Fisika

Belajar merupakan proses yang membawa perubahan individu.

Sudjana (2009: 28) menyatakan bahwa “Belajar adalah suatu proses yang

ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang”. Perubahan

sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk

seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku,

keterampilan, kecakapan, kemampuan, daya reaksi, daya penerimaan dan

lain-lain yang ada pada individu. Hal ini sejalan dengan pendapat

Wingkel (dalam Riyanto, 2009: 61), ”Belajar adalah suatu aktivitas

mental dan psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan

yang menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku pada diri sendiri

berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dengan

lingkungan”.

Beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa

belajar adalah proses perubahan perilaku secara aktif, proses berbuat

melalui berbagai pengalaman, dan proses yang diarahkan kepada suatu

tujuan. Belajar pada hakekatnya adalah proses yang dilakukan dalam

rangka menciptakan suatu perubahan pada diri individu yang

melakukannya.

11
12

Pembelajaran merupakan usaha sadar dan disengaja oleh guru

untuk membuat siswa belajar dengan cara mengaktifkan faktor internal

dan faktor eksternal yang turut mempengaruhi ketercapaian hasil belajar.

Faktor internal berasal dari dalam diri siswa meliputi faktor psikologi dan

fisik. Faktor eksternal berasal dari lingkungan belajar meliputi suasana,

iklim, budaya belajar, tempat belajar dan strategi pembelajaran yang

diterapkan oleh guru.

Kata Sains berasal dari kata Scientia yang artinya saya tahu.

Istilah sains (yang dalam bahasa Inggris : science) mula-mula diartikan

sebagai pengetahuan dan kemudian berkembang menjadi natural science

(IPA atau ilmu kealaman). Dengan demikian kata science diartikan ke

dalam bahasa Indonesia adalah IPA atau sains. IPA didefinisikan sebagai

pengetahuan yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan

eksperimen, pengamatan, dan deduksi untuk menghasilkan suatu

penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya. Carin dan Sund

(dalam Suryono, 2012: 1) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan

yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal),

dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”.

Mata pelajaran IPA merupakan wahana bagi siswa untuk

mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitarnya, serta prospek

pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di kehidupan sehari-

hari (Mulyasa, 2010: 110).


13

Fisika adalah ilmu yang mengembangkan konsep dan hukum

untuk memahami alam. Hukum Fisika merupakan suatu pernyataan dari

hasil pemikiran manusia yang umumnya dalam bahasa matematik yang

telah diuji dengan eksperimen secara berulang-ulang (Kusminarto, 2011:

1). Fisika merupakan ilmu yang mempelajari tingkah laku alam dalam

berbagai bentuk gejala untuk dapat memahami apa yang mengendalikan

atau menentukan kelakukan tersebut (Suryono, 2012: 1).

Pendapat para ahli di atas menjelasakan bahwa belajar Fisika

tidak terlepas dari penguasaan konsep-konsep dasar Fisika melalui

pemahaman. Teori Fisika tidak hanya cukup dibaca, sebab teori Fisika

tidak sekedar hafalan saja akan tetapi harus dibaca dan dipahami serta

dipraktikkan, sehingga siswa mampu menjelaskan permasalahan yang

ada.

Secara garis besar pembelajaran Fisika seperti yang

diungkapkan oleh Abu Hamid (dalam Sulistyono, 1998: 12), adalah :

a. Proses belajar Fisika bersifat untuk menentukan konsep, prinsip,

teori, dan hukum-hukum alam, serta untuk dapat menimbulkan

reaksi, atau jawaban yang dapat dipahami dan diterima secara

objektif, jujur dan rasional.

b. Pada hakikatnya mengajar Fisika merupakan suatu usaha untuk

memilih model mendidik dan mengajar yang sesuai dengan materi

yang akan disampaikan, dan upaya untuk menyediakan kondisi-

kondisi dan situasi belajar Fisika yang kondusif, agar murid secara
14

fisik dan psikologis dapat melakukan proses eksplorasi untuk

menemukan konsep, prinsip, teori, dan hukum-hukum alam serta

menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

c. Pada hakikatnya hasil belajar Fisika merupakan kesadaran murid

untuk memperoleh konsep dan jaringan konsep Fisika melalui

eksplorasi dan eksperimentasi, serta kesadaran murid untuk

menerapkan pengetahuannya untuk memecahkan masalah yang

dihadapi dalam kehidupannya sehari-hari.

Suryono (2012: 2) menjelaskan bahwa pembelajaran Fisika

dipandang sebagai suatu proses untuk mengembangkan kemampuan

memahami konsep, prinsip maupun hukum-hukum Fisika sehingga

dalam proses pembelajarannya harus mempertimbangkan model atau

model pembelajaran yang efektif dan efisien.

2. Model Pengajaran Memproses Informasi

Joyce (2009: 31) menjelaskan bahwa model pengajaran

memproses informasi (information-processing models) menekankan pada

peningkatkan dorongan alamiah manusia untuk membentuk makna

tentang dunia (sense of the world) dengan memperoleh dan mengolah

data, merasakan masalah-masalah dan menghasilkan solusi-solusi yang

tepat, serta mengembangkan konsep dan bahasa untuk mentransfer

solusi/ data. Beberapa model dalam kelompok ini menyediakan informasi

dan konsep pada pembelajaran, beberapa model lainnya menekankan


15

susunan konsep dan pengujian hipotesis, dan beberapa lainnya lagi

merancang cara berfikir kreatif.

Adapun tujuh model pengajaran memproses informasi yang

dibahas dalam model ini, antara lain :

a. Berpikir induktif (inductive thinking)

Berpikir induktif pada umumnya dianggap sebagai

keterampilan berpikir yang fundamental. Model yang dihadirkan di

sini merupakan penyesuaian dari kajian Hilda Taba pada tahun 1966,

sebagaimana penelitian yang telah mengkaji bagaimana mengajari

siswa dalam mencari dan mengolah informasi, membuat dan

menguji hipotesis yang menggambarkan hubungan antar data.

b. Penemuan konsep (concept attainment)

Penemuan konsep dibangun atas kajian-kajian pemikiran

yang dilakukan oleh Bruner, Goodnow, dan Austin pada tahun 1967

dan diadaptasi oleh Lighhall dan Joyce, model penemuan konsep

relatif sama dengan model induktif. Dirancang untuk mengajarkan

konsep dan membantu siswa lebih efektif dalam mempelajari

konsep. Model ini merupakan cara efisien dalam menyajikan

informasi yang tersusun dan terencana dari ruang lingkup topik yang

luas bagi siswa pada setiap tingkatan perkembangan.

c. Model induktif kata-bergambar (picture-word inductive model)

Model ini dikembangkan oleh Emily Calhoun pada tahun

1999 dan dirancang dari suatu penelitian tentang bagaimana siswa


16

tidak hanya bisa menulis dan membaca, tetapi juga bagaimana

mendengarkan dan mengucapkan kosa kata yang telah

dikembangkan. Model induktif kata bergambar memadukan model

berpikir induktif dan model penemuan konsep agar siswa dapat

belajar kata-kata, kalimat-kalimat, dan paragraf-paragraf.

d. Penelitian ilmiah (scientific inquiry)

Model ini dikembangkan oleh Josep Schwab pada tahun

1965. Pada awalnya, siswa dibawa kedalam proses ilmiah dan

dibantu mengumpulkan dan menganalisis data, dibantu memeriksa

hipotesis dan teori, dan dibantu merefleksikan tujuan kontruksi

pengetahuan.

e. Mnemonik (mnemonics)

Mnemonik merupakan strategi-strategi menghafal dan

mengasimilasikan informasi. Guru dapat menggunakan mnemonik

ini untuk memadu presentasi mereka tentang materi-materi yang

akan disampaikan, agar siswa dapat dengan mudah menyerap

informasi dari presentasi tersebut. Model ini dikembangkan oleh

Michael Pressley pada tahun 1982.

f. Sinektik (synectics)

Sinektik dikembangkan pertama kali untuk kalangan

kelompok-kelompok kreatif pada perusahaan industri, sinektik

kemudian diadaptasi oleh William Gordon pada tahun 1961 untuk

diterapkan pada pendidikan Sekolah dasar (SD) dan Sekolah


17

Menengah Pertama (SMP). Sinektik dirancang untuk membantu

guru untuk memecahkan masalah dan menulis berbagai aktivitas,

serta memperoleh perfektif-perfektif baru dalam membuat topik dari

berbagai bidang.

g. Advance organizer

Selama 40 tahun, ada banyak penelitian menarik yang telah

memupuk model pengajaran advance organizer yang dibentuk oleh

David Ausubel pada tahun 1963. Dirancang untuk menyediakan

struktur kognitif pada siswa dalam memahami presentasi pelajaran

melalui ceramah, membaca, dan media lain. Model ini dapat dengan

mudah dikombinasikan dengan model lain.

3. Strategi Pembelajaran Inkuiri

a. Pengertian Strategi Inkuiri

Strategi pembelajaran dalam bidang Sains, yang sampai

sekarang masih tetap dianggap sebagai strategi yang cukup efektif

adalah strategi inkuiri. Strategi inkuiri dikembangkan oleh Jerome

Burner menggunakan landasan pemikiran model pengajaran

memproses informasi (information-processing models). Hasil belajar

dengan cara ini lebih mudah diingat, karena strategi seperti ini

menganggap bahwa yang mempunyai kemampuan dasar untuk

berkembang secara optimal adalah siswa itu sendiri.


18

Gulo (2002: 84) berpendapat bahwa strategi inkuiri adalah

suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal

seluruh kemampuan siswa untuk mencari dengan menyelidiki secara

sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan

sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Sanjaya (2006: 194) mengatakan bahwa strategi inkuiri

adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada

proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan

menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.

Hamalik (1991: 63) berpendapat bahwa strategi inkuiri adalah

strategi yang berpusat pada siswa, dimana kelompok-kelompok

siswa dapat mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di

dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang digariskan secara

jelas.

Beberapa pendapat dari para ahli di atas, dapat disimpulkan

bahwa strategi inkuiri adalah pelaksanaan pembelajaran dengan cara

siswa mencari dan menemukan konsep dari pembelajaran itu sendiri

dengan bantuan seorang guru.

Peran guru dalam menciptakan kondisi inkuiri adalah sebagai

berikut :

1) Motivator, yang memberi rangsangan supaya siswa aktif dan

gairah berfikir
19

2) Fasilisator, yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan

dalam proses berfikir siswa

3) Administrator, yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan

di dalam kelas

4) Pengaruh, yang memimpin arus kegiatan berfikir siswa pada

tujuan yang diharapkan

5) Manajer, yang mengelola sumber belajar, waktu dan organisasi

kelas

6) Rewarder, yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai

dalam rangka meningkatkan aktivitas siswa.

Sasaran utama dalam kegiatan mengajar pada inkuiri ini

adalah:

1) Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar

2) Keterarahan kegiatan secara logis dan sitematis pada tujuan

pembelajaran

3) Mengembangkan sikap percaya diri pada diri siswa tentang apa

yang ditemukan dalam proses inkuiri.

b. Ciri Utama Strategi Inkuiri

Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi inkuiri

yaitu:

1) Strategi inkuiri menekankan kepada aktifitas siswa secara

maksimal untuk mencari dan menemukan


20

2) Seluruh aktifitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari

jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan dan dapat

menumbuhkan percaya diri

3) Siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran,

akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang

dimiliki.

c. Syarat Terlaksananya Strategi Inkuiri dengan Baik

1) Guru harus terampil dalam memilih persoalan yang relevan

untuk diajukan kepada siswa dan sesuai dengan daya nalar

siswa.

2) Guru harus terampil dalam menumbuhkan aktivitas belajar

siswa dan menciptakan situasi yang menyenangkan.

3) Adanya fasilitas dan sumber belajar yang memadai.

4) Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya dan

berdiskusi.

5) Partisipasi siswa dalam kegiatan belajar.

6) Guru tidak banyak ikut campur terhadap kegiatan siswa.

d. Tujuan Pembelajaran Berbasis Inkuiri

Tujuan utama pembelajaran berbasis inkuiri menurut

National Research Council (2000) adalah : (1) mengembangkan

keinginan dan motivasi siswa untuk mempelajari pripsip dan konsep

sain; (2) mengembangkan keterampilan ilmiah siswa sehingga


21

mampu bekerja seperti layakn ya seorang ilmuan; (3) membiasakan

siswa bekerja keras untuk memperoleh pengetahuan.

Tujuan umum dari latihan inkuiri adalah menolong siswa

mengembangkan disiplin ilmu intelektual dan keterampilan yang

dibutuhkan dengan memberikan pertanyaan model inkuiri,

memberikan perhatian dalam menolong siswa menyelidiki secara

independent, namun dalam suatu cara yang teratur (Dahlan, 1984:

35).

e. Langkah-Langkah Pelaksanaan Strategi Inkuiri

Sanjaya (2010: 201-205) mengatakan bahwa untuk dapat

menikmati hasil yang lebih baik perlu diperhatikan beberapa hal,

diantara hal tersebut adalah langkah-langkah dalam pelaksanaan

pembelajaran inkuiri. Dalam melaksanakan strategi inkuiri langkah

yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

1) Orientasi

Orientasi merupakan langkah awal dalam pelaksanaan

strategi inkuiri. Langkah orientasi adalah langkah untuk

membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada

langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan

proses pembelajaran.

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahap orientasi

adalah sebagai berikut:


22

a) Menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan

dapat dicapai siswa

b) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan

oleh siswa untuk mencapai tujuan

c) Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.

2) Merumuskan masalah

Langkah kedua ini merupakan langkah yang penting

dalam strategi inkuiri. Pada langkah kedua ini, siswa akan

dihadapkan pada suatu permasalahan yang mengandung teka-

teki. Permasalahan yang disajikan adalah permasalahan yang

menantang siswa untuk berfikir memecahkan teka-teki itu. Pada

langkah ini siswa dibentuk untuk mengidentifikasikan

(mendefenisikan) permasalahan tersebut.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam

merumuskan masalah, diantaranya:

a) Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa

akan memiliki motivasi belajar yang tinggi pada saat

dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji

b) Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-

teki yang jawabannya pasti

c) Konsep-konsep dalam masalah konsep-konsep yang sudah

diketahui terlebih dahulu oleh siswa.


23

3) Merumuskan hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu

permasalahan yang sedang dikaji. Potensi berfikir setiap

individu dimulai dari kemampuan menebak atau mengira-ngira

(berhipotesis) dari suatu permasalahan. Pada saat individu dapat/

bisa membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi

yang bisa mendorong untuk berfikir lebih lanjut. Dengan

demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasan

akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasioanal dan logis.

4) Mengumpulkan data

Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring

informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang

diajukan. Untuk menjawab atau membuktikan benar tidaknya

hipotesis ini, siswa diberikan kesempatan untuk mengumpulkan

berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati

obyek, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya.

5) Menguji hipotesis

Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban

yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang

diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting

dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa

atas jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis

juga berarti mengembangkan kemampuan berfikir rasional.


24

Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya

berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data

yang ditemukan dan dapat dipertanggung jawabkan.

6) Merumuskan kesimpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan

temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.

Inkuiri merupakan metode atau cara yang digunakan guru

untuk mengajar didepan kelas. Pelaksanaanya adalah:

1) Guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke kelas

2) Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing

kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan

3) Siswa mempelajari, meneliti/ membahas tugasnya di dalam

kelompok

4) Setelah hasil kerja mereka dalam kelompok didiskusikan

kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik (Roestiyah,

2001: 75-76).

f. Kelebihan dan Kekurangan Strategi Inkuiri

1) Kelebihan strategi inkuiri

Sumantri dan Permana (2000: 143) mengatakan bahwa

terdapat beberapa kebaikan strategi inkuiri, antara lain :

a) Siswa ikut berpartisispasi secara aktif didalam kegiatan

belajarnya, sebab strategi inkuiri menekankan pada proses

pengolahan informasi pada peserta didik. Siswa benar-benar


25

dapat memahami suatu konsep dan rumus, sebab siswa

mengalami sendiri proses untuk mendapatkan konsep atau

rumus tersebut.

b) Strategi ini memungkinkan sikap ilmiah dan menimbulkan

semangat ingin tahu para siswa.

c) Dengan menemukan sendiri, siswa merasa sangat puas,

dengan demikian kepuasan mental sebagai nilai intrinsik

siswa terpenuhi.

d) Guru tetap memiliki kontak pribadi.

e) Penemuan yang diperoleh peserta didik akan sangat sulit

untuk dilupakan.

f) Memberikan kesempatan pada siswa untuk maju

berkelanjutan sesuai dengan kemampuan sendiri.

g) Memungkinkan bagi siswa untuk memperbaiki dan

memperluas kemampuan intelektual secara mandiri.

Sanjaya (2006: 205) mengemukakan beberapa kelebihan

strategi inkuiri, antara lain:

a) Strategi inkuiri dianggap lebih bermakna karena

menekankan pada aspek kognitif, afektif dan psikomotor

b) Memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar sesuai

gaya mereka
26

c) Sesuai dengan psikologi modern yang menganggap belajar

adalah proses perubahan tingkah laku dengan adanya

pengalaman

d) Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki

kemampuan diatas rata-rata, artinya siswa yang mempunyai

belajar bagus tidak akan terlambat oleh siswa yang lemah

dalam belajar.

2) Kekurangan strategi inkuiri

Sanjaya (2006: 206) berpendapat bahwa strategi inkuiri

mempunyai kekurangan yaitu:

a) Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa

b) Sulit merencanakan pembelajaran karena terbentur oleh

kebiasaan siswa dalam belajar

c) Memerlukan waktu yang panjang untuk

mengimplementasikannya

d) Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh

kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka

strategi ini sulit diimplementasikan oleh guru.

Sadirman (1992: 172) berpendapat bahwa terdapat

beberapa kekurangan strategi inkuiri, yaitu:

a) Memerlukan perubahan kebiasaan cara belajar siswa yang

menerima informasi secara apa adanya, ke arah

membiasakan belajar mandiri dan berkelompok dengan


27

mencari dan mengolah informasi sendiri. Mengubah

kebiasaan bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi

kebiasaan yang telah bertahun-tahun dilakukan

b) Guru juga dituntut mengubah kebiasaan mengajarnya yang

umumnya sebagai pemberi atau penyaji informasi menjadi

fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar.

Ini pun bukan pekerjaan yang mudah, karena pada

umumnya guru merasa belum mengajar dan belum puas

kalau tidak banyak menyajikan informasi (ceramah)

c) Strategi ini banyak memberikan kebebasan kepada siswa

dalam belajar, tetapi kebebasan itu tidak berarti menjamin

bahwa siswa belajar dengan baik, dalam arti

mengerjakannya dengan tekun, penuh aktivitas dan terarah

d) Cara belajar siswa dalam strategi ini menuntut bimbingan

guru yang lebih baik seperti pada waktu siswa melakukan

penyelidikan dan sebagainya. Dalam kondisi siswa yang

banyak (kelas besar) dan guru terbatas, agaknya strategi ini

sulit terlaksana dengan baik

e) Pemecahan masalah mungkin saja dapat bersifat mekanistis,

formalitas dan membosankan.


28

4. Pembelajaran Konvesional

Pembelajaran konvensional adalah salah satu strategi

pembelajaran yang hanya memusatkan pada metode pembelajaran

ceramah, dan situasi belajar terpusat pada guru (Zahara, 2001: 4). Pada

pembelajaran kovensional, siswa diharuskan untuk menghafal materi

yang diberikan oleh guru dan tidak untuk menghubungkan materi

tersebut dengan keadaan sekarang (kontekstual).

Pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu:

pembelajaran berpusat pada guru, terjadi passive learning, interaksi di

antara siswa kurang, tidak ada kelompok-kelompok kooperatif, dan

penilaian bersifat sporadik.

Brooks & Brooks dalam Setiawan (2011) mengungkapkan bahwa

penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih menekankan kepada

tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan, sehingga belajar

dilihat sebagai proses “meniru” dan siswa dituntut untuk dapat

mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari melalui kuis

atau tes terstandar.

Langkah-langkah Pembelajaran Konvensional adalah sebagai

berikut:

a. Menyampaikan tujuan. Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran

yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut

b. Menyajikan informasi. Guru menyajikan informasi kepada siswa

secara tahap demi tahap dengan metode ceramah


29

c. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik. Guru

mengecek keberhasilan siswa dan memberikan umpan balik

d. Memberikan kesempatan latihan lanjutan. Guru memberikan tugas

tambahan untuk dikerjakan di rumah.

5. Sumber Belajar

Salah satu komponen dalam proses pembelajaran adalah sumber

belajar. Sumber belajar itu tidak lain adalah daya yang bisa dimanfaatkan

guna kepentingan belajar-mengajar, baik secara langsung maupun secara

tidak langsung, sebagian atau secara keseluruhan.

Dalam usaha meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan

hasil pembelajaran, kita tidak boleh melupakan satu hal yang sudah pasti

kebenarannya yaitu bahwa peserta didik atau siswa harus banyak

berinteraksi dengan sumber belajar. Tanpa sumber belajar yang memadai

sulit diwujudkan proses pembelajaran yang mengarah kepada tercapainya

hasil belajar yang optimal.

Edgar Dale (dalam Rahmadonna, 2014: 6) seorang ahli

pendidikan mengemukakan sumber belajar adalah segala sesuatu yang

dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar seseorang. Pendapat lain

dikemukakan oleh Association Educational Comunication and

Tehnology (AECT), sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa

data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas

(kemudahan) belajar bagi siswa. Sumber belajar itu meliputi pesan,


30

orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan/latar. Kedua pengertian

tersebut menunjukkan bahwa pada hakikatnya sumber belajar begitu luas

dan kompleks, lebih dari sekedar media pembelajaran. Pada hakekatnya,

lingkungan fisik (alam semesta) juga merupakan bagian dari sumber

belajar yang bisa digunakan oleh manusia sepanjang masa.

6. Fenomena Alam

Ayat al-qur’an menjelaskan, bahwa kejadian-kejadian yang terjadi

di alam dapat dijadikan pelajaran bagi orang-orang (kaum) yang berfikir.

Hal ini terdapat dalam firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 164

    


 
 
  
   
   
   
   
   
  
 
 
 
  


Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih


bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut
membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang
Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia
hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan
di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan
awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh
(terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi
kaum yang memikirkan”.
(Departemen Agama RI. 2010. Alqur’an dan Terjemahannya.
hal. 25)
31

Ayat di atas ditafsirkan oleh Shihab (2000 : 374), bahwa manusia

diperintahkan untuk berpikir/ merenungkan tentang sekian banyak hal:

Pertama, berpikir dan merenung tentang penciptaan langit dan

bumi. Kedua, merenungkan pergantian malam dan siang, yakni

perputaran bumi dan porosnya yang melahirkan malam dan siang serta

perbedaannya. Ketiga, merenungkan tentang bahtera-bahtera yang

berlayar di laut, membawa apa yang berguna bagi manusia. Keempat,

merenungkan tentang apa yang Allah turunkan dari langit berupa air,

baik yang cair maupun yang membeku. Serta memperhatikan proses

turunnya hujan dalam siklus yang berulang-ulang. Kelima berpikir

tentang aneka binatang yang diciptakan Allah, baik binatang berakal

(manusia) ataupun tidak. Pada semua itu sungguh terdapat tanda-tanda

keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang berakal.

Kandungan ayat di atas menyebutkan secara jelas bahwa segala

struktur materi yang ada pada alam semesta ini dipenuhi dengan tanda-

tanda kekuasaan-Nya. Akan tetapi, kesadaran ini hanya dimiliki oleh

orang-orang yang berakal dan berilmu pengetahuan yang mencurahkan

perhatiannya dengan seksama akan semua fenomena alam, sehingga

mereka dapat mengambil pelajaran dari fenomena alam tersebut.

7. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki

siswa setelah ia memperoleh pengalaman belajar (Sudjana, 1989: 23).


32

Hasil belajar seringkali diasumsikan sebagai cermin kualitas suatu

sekolah. Dengan hasil belajar yang diperoleh, guru akan mengetahui

apakah strategi serta sumber belajar yang digunakan sudah tepat atau

belum. Jika sebagian besar siswa memperoleh angka jelek pada

penelitian yang diadakan, mungkin hal ini disebabkan oleh strategi dan

sumber belajar yang digunakan kurang tepat. Apabila demikian halnya,

maka guru harus mawas diri dan mencoba mencari model dan media lain

dalam mengajar. (Arikunto, 2005).

Sudjana (2002: 23) mengemukakan tipe hasil belajar yang harus

diperhatikan antara lain;

a) Tipe hasil belajar bidang kognitif

1) Tipe hasil belajar hafalan (pengetahuan)

Cakupan dalam pengetahuan hafalan termasuk pula

pengetahuan yang sifatnya faktual, di samping pengetahuan

yang mengenai hal-hal yang perlu diingat kembali seperti

batasan, peristilahan, pasal, hukum, bab, ayat, rumus dan lain-

lain.

2) Tipe hasil belajar pemahaman

Tipe hasil belajar pemahaman lebih tinggi satu tingkat

dari tipe hasil belajar pengetahuan hafalan. Pemahaman

memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari

sesuatu konsep. Untuk itu diperlukan adanya hubungan atau


33

pertautan antara konsep dengan makna yang ada dalam konsep

tersebut.

3) Tipe hasil belajar penerapan

Aplikasi adalah kesanggupan menerapkan dan

mengabstraksi suatu konsep, ide, rumus, hukum dalam situasi

yang baru. Misalnya memecahkan persoalan dengan

menggunakan rumus tertentu, menerapkan suatu dalil atau

hukum dalam suatu persoalan. Jadi dalam aplikasi harus ada

konsep, teori, hukum, rumus.

4) Tipe hasil belajar analisis

Analisis adalah kesanggupan memecah, mengurai suatu

integritas (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsur atau

bagian-bagian yang mempunyai arti atau mempunyai tingkatan/

hirarki. Analisis merupakan tipe hasil belajar yang kompleks,

yang memanfaatkan unsur tipe hasil belajar sebelumnya, yakni

pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi. Analisis sangat

diperlukan bagi para siswa sekolah menengah apalagi di

pendidikan tinggi.

5) Tipe hasil belajar sintesis

Sintesis adalah lawan analisis. Bila pada analisis tekanan

pada kesanggupan menguraikan suatu integritas menjadi bagian


34

yang bermakna, pada sintesis adalah kesanggupan menyatukan

unsur atau bagian menjadi satu integritas.

6) Tipe hasil belajar evaluasi.

Evaluasi adalah kesanggupan memberikan keputusan

tentang nilai sesuatu berdasarkan judgment yang dimilikinya,

dan kriteria yang dipakainya. Tipe hasil belajar ini dikategorikan

paling tinggi, dan terkandung semua tipe hasil belajar yang telah

dijelaskan sebelumnya. Dalam tipe hasil belajar evaluasi,

tekanan pada pertimbangan sesuatu nilai, mengenai baik

tidaknya, tepat tidaknya, dengan menggunakan kriteria tertentu.

b) Tipe hasil belajar bidang afektif

Mulyasa (2008, 139) menjelaskan bahwa aspek afektif

berhubungan dengan penilaian terhadap sikap dan minat siswa dalam

belajar. Pada aspek ini kompetensi yang harus dicapai meliputi :

1) penerimaan yang mencakup kemampuan memilih, mengikuti,

bertanya dan mngalokasikan

2) Menanggapi yang mencakup kemampuan, menjawab, membaca,

membantu, melaporkan dan menampilkan

3) Valuing (penamaan nilai) yang meliputi kemampuan

mengundang, melibatkan, mengusulkan dan melakukan


35

4) Pengorganisasian yang meliputi kemampuan yang menyusun,

menghubungkan dan mempengaruhi

5) Karakterisasi yang meliputi kemampuan menggunakan nilai-

nilai sebagai pandangan hidup, mempertahankan nilai-nilai yang

sudah diyakini.

c) Tipe hasil belajar bidang psikomotor

Hasil belajar bidang psikomotor tampak dalam bentuk

keterampilan (skill), kemampuan bertindak individu dan lain

sebagainya. Pada aspek ini kompetensi yang harus dicapai meliputi :

1) Pengamatan, yang mencakup kemampuan mengamati proses,

memberi perhatian pada tahap-tahap sebuah perbuatan dan

memberi perhatian pada sebuah artikulasi

2) Peniruan yang mencakup kemampuan melatih, mengubah,

membongkar sebuah struktur, membangun kembali sebuah

struktur dan menggunakan sebuah model

3) Pembiasaan, yaitu membiasakan perilaku yang sudah

dibentuknya dan mengontrol kebiasaan agar tetap konsisten

4) Penyesuaian, yaitu menyesuaikan model, mengembangkan

model, menerapkan model.

Hasil belajar dalam bentuk tiga ranah tersebut dapat diketahui

hasilnya setelah dilakukan evaluasi. Davies dalam Mudjiona (2006: 175)

mengatakan bahwa evaluasi merupakan proses sederhana


36

memberikan/menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan,

keputusan, unjuk kerja, proses dan masih banyak yang lain.

Merujuk pada pendapat para ahli di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa setiap hasil belajar itu membutuhkan evaluasi, karena

evaluasi digunakan untuk menentukan apakah tujuan pembelajaran itu

sudah tercapai atau belum.

8. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria minimal yang menjadi tolok ukur pencapaian

kompetensi dan menyatakan siswa mencapai ketuntasan dinamakan

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Penetapan KKM merupakan suatu

tahapan awal pelaksanaan penilaian hasil belajar sebagai bagian dari

langkah pengembangan Kurikulum.

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) memiliki fungsi sebagai

berikut:

a. Sebagai acuan bagi guru dalam menilai kompetensi siswa sesuai

kompetensi dasar (KD) mata pelajaran yang diikuti.

b. Sebagai acuan bagi siswa dalam menyiapkan diri mengikuti

penilaian mata pelajaran. Setiap kompetensi dasar dan indikator

harus memiliki KKM yang harus dicapai dan dikuasai oleh siswa.

c. Sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi program

pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Evaluasi pelaksanaan

dan hasil program kurikulum dapat dilihat dari keberhasilan

pencapaian KKM sebagai tolok ukur.


37

d. Sebagai kontrak pedagogik antara guru dengan siswa dan antara

satuan pendidikan dan masyarakat. Keberhasilan pencapaian KKM

merupakan upaya yang harus dilakukan bersama antara guru, siswa,

pimpinan satuan pendidikan dan orang tua.

e. Sebagai target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap

mata pelajaran. Satuan pendidikan harus berupaya semaksimal

mungkin untuk melampaui KKM yang ditetapkan. Keberhasilan

pencapaian KKM merupakan salah satu tolok ukur kinerja satuan

pendidikan dalam menyelenggarakan program pendidikan.

B. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan yang digunakan sebagai rujukan pada

penelitian ini bersumber dari hasil penelitian Ardiyanti “Pengaruh Model

Pembelajaran Berbasis Fenomena untuk Meningkatkan Keterampilan

Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar”. Dari hasil penelitiannya terbukti bahwa

fenomena alam dapat meningkatkan keterampilan berfikir siswa.

Penelitian Wasli (2009) yang berjudul “Pengaruh Pembelajaran Fisika

Dengan Strategi Inkuiri Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X MAN Kota

Solok”. Hasil penelitiannya menunjukkan, bahwa dengan menggunakan

strategi inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal tersebut sejalan

dengan penelitian Liza (2012) yang berjudul “Meningkatkan Aktivitas dan

Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran IPA Melalui Strategi Inkuiri di

Kelas IV MIN Paninjauan Solok Selatan”. Hasil penelitian tentang strategi


38

Inkuiri yang digunakan Amoi Liza ini, dapat meningkatkan aktivitas dan hasil

belajar siswa.

Dari ketiga penelitian tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa

fenomena alam yang digunakan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran

IPA fisika dapat meningkatkan berfikir kritis siswa. Penggunaan strategi

Inkuiri juga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

C. Kerangka Konseptual

Gambar 2.1. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual di atas menggambarkan bahwa proses belajar

mengajar (PBM) berlangsung karena adanya interaksi antara guru dengan

siswa yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pada kelas eksperimen guru
39

memberikan strategi pembelajaran Inkuiri Berbasis Fenomena Alam,

sedangkan pada kelas kontrol guru memberikan pembelajaran konvensional

atau tradisional. Kelas yang menggunakan strategi pembelajaran Inkuiri

Berbasis Fenomena Alam diharapkan banyak melakukan aktivitas belajar dan

siswa lebih aktif dibandingkan pendidik. Pada pembelajaran ini siswa dituntut

untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh pendidik.

Sedangkan pada kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional atau

tradisional siswa bersifat pasif dan hanya menerima apa yang dijelaskan oleh

pendidik.

Pembelajaran yang berlangsung pada kelas eksperimen berpusat

pada siswa (student centered) sedangkan pembelajaran pada kelas kontrol

berpusat pada guru (teacher centered). Diharapkan dengan menerapkan

model pembelajaran Inkuiri Berbasis Fenomena Alam ini dapat

meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga dapat dibedakan hasil belajar

antara dua kelas tersebut.

D. Hipotesis Penelitian

Kajian teoritis yang telah diuraikan di atas, dapat dirumuskan

hipotesisnya sebagai berikut :

H0 : Hasil belajar Fisika siswa yang yang diajarkan dengan menggunakan

strategi pembelajaran Inkuiri Berbasis Fenomena Alam tidak lebih

tinggi dibandingkan dengan hasil belajar Fisika siswa yang diajarkan

secara konvensional pada kelas XI MIA SMA Negeri 1 Padang.


40

H1 : Hasil belajar Fisika siswa yang yang diajarkan dengan menggunakan

strategi pembelajaran Inkuiri Berbasis Fenomena Alam lebih tinggi

dibandingkan dengan hasil belajar Fisika siswa yang diajarkan secara

konvensional pada kelas XI MIA SMA Negeri 1 Padang.