Anda di halaman 1dari 19

1.

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR MENGUKUR TEKANAN DARAH

Pengertian Merupakan tatacara pemeriksaan tekanan darah. Tekanan


darah merupakan indikator untuk menilai sistem
kardiovaskuler bersamaan dengan pemeriksaan nadi.

Tujuan Mengetahui nilai tekanan darah


Persiapan tempat dan alat 1. Sphigmomanometer (tensi meter) yang terdiri
dari:
2. Manometer air raksa dan klep penutup dan
pembuka.
3. Manset udara
4. Slang karet
5. Pompa udara dari karet dan sekrup pambuka
penutup.
6. Stetoskop.
7. Buku catatan nadi.
8. Pena

Persiapan pasien 1. Menjelaskan kepada pasien tentang tindakan yang


akan dilakukan.
2. Mengatur posisi pasien.

Persiapan lingkungan 1. Menjaga privasi klien dengan cara memasang


sampiran atau menutup korden pembatas kamar
2. Mengatur cahaya ruangan
3. Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
Pelaksanaan CARA PALPASI

1. Jelaskan prosedur pada klien.


2. Cuci tangan
3. Atur posisi pasien.
4. Letakkan lengan yang hendak diukur pada posisi
telentang.
5. Lengan baju dibuka.
6. Pasang manset pada lengan kanan/kiri atas sekitar
3 cm diatas fossa cubiti (jangan terlalu ketat
maupun terlalu longgar).
7. Tentukan denyut nadi arteri radialis
dekstra/sinistra.
8. Pompa balon udara manset sampai denyut nadi
arteri radialis tidak teraba.
9. Pompa terus sampai manometer setinggi 20 mm
Hg lebih tinggi dari titik radialis tidak teraba.
10. Letakkan diafragma stetoskop diatas nadi
brachialis dan kempeskan balon udara manset
secara perlahan dan berkesinambungan dengan
memutar skrup pada pompa udara berlawanan
arah jarum jam.
11. Catat hasil.
12. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

CARA AUSKULTASI

1. Jelaskan prosedur pada klien.


2. Cuci tangan
3. Atur posisi pasien.
4. Letakkan lengan yang hendak diukur pada
posisi telentang.
5. Lengan baju dibuka.
6. Pasang manset pada lengan kanan/kiri atas
sekitar 3 cm diatas fossa cubiti (jangan terlalu
ketat maupun terlalu longgar).
7. Tentukan denyut nadi arteri radialis
dekstra/sinistra.
8. Pompa balon udara manset sampai denyut
nadi arteri radialis tidak teraba.
9. Pompa terus sampai manometer setinggi 20
mm Hg lebih tinggi dari titik radialis tidak
teraba.
10. Letakkan diafragma stetoskop diatas nadi
brachialis dan dengarkan.
11. Kempeskan balon udara manset secara
perlahan dan berkesinambungan dengan
memutar skrup pada pompa udara berlawanan
arah jarum jam.
12. Catat tinggi air raksa manometer saat pertama
kali terdengar kembali denyut.
13. Catat tinggi air raksa manometer
Suara Korotkoff I : menunjukkan besarnya
tekanan sistolik secara auskultasi.
Suara Korotkoff IV/V : menunjukkan
besarnya tekanan diastolik secara auskultasi.
14. Catat hasilnya pada catatan pasien.
15. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

Sikap Sikap Selama Pelaksanaan : 1. Menunjukkan sikap sopan dan ramah.


2. Menjamin Privacy pasien.
3. Bekerja dengan teliti.
4. Memperhatikan body mechanism.

Evaluasi Tanyakan keadaan dan lain-lain dan kenyamanan pasien


setelah tindakan.

2. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR MENGHITUNG NADI

Pengertian Merupakan tatacara pemeriksaan denyut nadi. Denyut


nadi merupakan indikator untuk menilai sistem
kardiovaskuler
Tujuan 1. Mengetahui denyut nadi (irama, frekuensi, dan
kekuatan).
2. Menilai kemampuan fungsi kardiovaskuler

Persiapan tempat dan alat 1. Arloji (jam) atau stop-watch.


2. Buku catatan nadi.
3. Pena

Persiapan pasien 1. Menjelaskan kepada pasien tentang tindakan yang


akan dilakukan.
2. Mengatur posisi pasien.

Persiapan lingkungan 4. Menjaga privasi klien dengan cara memasang


sampiran atau menutup korden pembatas kamar
5. Mengatur cahaya ruangan
6. Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
Pelaksanaan 1. Jelaskan prosedur pada klien.
2. Cuci tangan
3. Atur posisi pasien.
4. Letakkan kedua tangan penderita telentang disisi
tubuh.
5. Tentukan letak arteri (denyut nadi yang akan
dihitung)
6. Periksa denyut nadi (arteri) dengan
menggunakan ujung jari telunjuk, jari tengah,
dan jari manis. Tentukan frekuensi permenit,
keteraturan irama dan kekuatan denyutan.
7. Catat hasil.
8. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

Sikap Sikap Selama Pelaksanaan : 1. Menunjukkan sikap sopan dan ramah.


2. Menjamin Privacy pasien.
3. Bekerja dengan teliti.
4. Memperhatikan body mechanism.

Evaluasi Tanyakan keadaan dan lain-lain dan kenyamanan pasien


setelah tindakan.

3. SOP MENGHITUNG RUMPLE LEED

Pengertian Pemeriksaan bidang hematologi dengan melakukan


pembendungan pada bagian lengan atas selama 10 menit
untuk uji diagnostik kerapuhan vaskuler dan fungsi
trombosit
Tujuan 1. Mendeteksi adanya perdarahan di bawah kulit sebagai
tanda demam berdarah
2. Mengetahui ketahanan/kerapuhan dinding pembuluh
darah serta jumlah dan fungsi trombosit
Persiapan tempat dan alat Tensimeter lengkap dengan manset
Persiapan pasien 1. Menjelaskan kepada pasien tentang tindakan yang
akan dilakukan.
2. Mengatur posisi pasien.

Persiapan lingkungan 7. Menjaga privasi klien dengan cara memasang


sampiran atau menutup korden pembatas kamar
8. Mengatur cahaya ruangan
9. Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
Pelaksanaan 1. Mencuci tangan.
2. Mempersilakan pasien untuk berbaring/duduk dengan
tenang di tempat tidur.
3. Membawa alat-alat ke dekat pasien.
4. Memasang manset pada lengan atas (seperti
pemeriksaan tekanan darah)
5. Ukur tekanan darah (tentukan systole dan diastole)
6. Tetapkan tekanan manset pump pada nilai tengah
antara tekanan systole dan diastole
7. Pertahankan tekanan tersebut selama 10 menit
8. Setelah10 menit, lepaskanmanset
9. Tunggu sampai tanda-tanda statis darah hilang(warna
kulit kembali seperti semula)
10. Amati dan hitung jumlah petechiae yang timbul kira-
kira 4 cm distal dari fossa cubiti.
(-) = tidak didapatkan petechiae/ jumlah petechiae
tidak lebih dari 10
(+1) = timbul beberapa(> 10)petechiae dipermukaan
pangkal lengan
(+2) = timbul banyak petechiae dipermukaan pangkal
lengan
(+3) = timbul banyak petechiae diseluruh permukaan
pangkal lengan & telapak
9. Merapikan pasien dan mengembalikan pasien ke posisi
semula.
10. Memberitahu pasien bahwa tindakan telah selesai
dilakukan.
11. Mengembalikan alat-alat ke tempat semula.
12. Mencuci tangan.

Sikap Sikap Selama Pelaksanaan : 1. Menunjukkan sikap sopan dan ramah.


2. Menjamin Privacy pasien.
3. Bekerja dengan teliti.
4. Memperhatikan body mechanism.

Evaluasi Tanyakan keadaan dan lain-lain dan kenyamanan pasien


setelah tindakan.
4. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PER ORAL

Memberi Minum Peroral

 Pengertian
Memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dengan memberikan bantuan sesuai dengan
kebutuhan tubuh pasien untuk proses kehidupan .

 Tujuan
Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi

 Alat dan bahan


1. Piring
2. Sendok
3. Arpu
4. Gelas
5. Serbet
6. Mankok cuci tangan
7. Pengalas
8. Minuman dengan porsi dan menu sesuai program

 Prosedur Kerja
Tahap Orientasi
1. Berikan salam sebagai pendekatan terapeutik
2. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/pasien
3. Tanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

Tahap Kerja
1. Cuci tangan
2. Atur posisi Klien dengan duduk/setengah duduk sesuai kondisi klien
3. Pasang pengalas
4. Tawarkan klien melakukan ritual minum(berdoa)
5. Bantu aktivitas dengan cara memberikan minum sedikit demi sedikit
6. Bila selesai minum bersihkan mulut klien dan anjurkan duduk sebentar

Tahap Terminasi
1. Lakukan evaluasi tindakan
2. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
3. Pamitan dengan klien
4. Bereskan alat-alat
5. Cuci tangan
6. Catat kegiatan dalam lembar catatan perawatan

5.STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR MENGUMPULKAN URINE PEMERIKSAAN

Menumpulkan Urin Untuk Pemeriksaan

 Pengertian
Tife pemeriksaan menunjukkan metode penumpulan urine
Jenis specimen :
a. Specimen urine acak
b. Specimen urine bersih (mainstream)
c. Specimen urine steril
d. Specimen urine waktu tertentu

 Tujuan
Untuk melalukukan pemeriksaan

 Prosedur Kerja
Tahap Orientasi
4. Berikan salam sebagai pendekatan terapeutik
5. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/pasien
6. Tanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

Tahap Kerja
1. Bersihkan uretra eksternal
2. Berkemih seperti biasa urine awal terbuang untuk membersihkan bakteri pada uretra
dan orifisium uretra
3. Kemudian lakukan penampungan

Tahap Terminasi
7. Lakukan evaluasi tindakan
8. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
9. Pamitan dengan klien
10. Bereskan alat-alat
11. Cuci tangan
12. Catat kegiatan dalam lembar catatan perawatan
2. SOP PEMASANGAN KONDOM KATETER

Pengertian Suatu kegiatan yang dilakukan yang untuk memenuhi


kebutuhan eliminasi urine.
Indikasi Pasien pria masih mempunyai kemampuan berkemih
normal dan spontan, tetapi :
1. Pasien dengan gangguan eliminasi urine seperti
inkoninensia.
2. Pasien dengan pemantauan output.
3. Penyakit tertentu misal coma, imobilisasi.
Tujuan Memenuhi kebutuhan urin eliminasi.
Persiapan tempat dan alat 1. Pengalas.
2. Selimut ekstra.
3. Kantong penampung urine (Urine Bag).
4. Kapas sublimat dalam tempatnya.
5. Kassa.
6. Korentang.
7. Bengkok 2 buah (untuk kapas kotor dan penampung
urine.
8. Pinset anatomi atau sarung tangan steril.
9. Duk steril.
10. Sketsel.
11. Kondom sesuai kebutuhan.
12. Sabun.
13. Botol beri air hangat.
Persiapan pasien 1. Memberitahu pasien dan menjelaskan tujuannya.
2. Menyiapkan pasien dalam posisi dorsal recumbent
Persiapan lingkungan 3. Menjaga privasi klien dengan cara memasang
sampiran atau menutup korden pembatas kamar
4. Mengatur cahaya ruangan
5. Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
Pelaksanaan 1. Dekatkan alat-alat ke tempat tidur pasien.
2. Tutup jendela dan pintu/pasang sampiran.
3. Cuci tangan.
4. Pasang selimut ekstra.
5. Pasang pengalas di bawah bokong pasien.
6. Lepaskan pakaian bawah pasien.
7. Atur posisi dorsal recumbent (M Shape).
8. Pakai sarung tangan
9. bersihkan penis dengan sabun dan air lalu keringkan
dengan handuk
10. bersihkan penis
11. pasang kondom kateter dan ikatan perekat/plesternya
yang ada pada kondom ke bagian pangkal penis
12. Hubungkan ujung kondom kateter dengan kantong
urine
13. Atur posisi pasien
14. Angkat pengalas
15. Ganti selimut ekstra dengan selimut pasien
16. Rapikan alat-alat dan kembalikan ke tempatnya
17. cuci tangan
18. Buka sampiran/pintu/jendela
19. Observasi keadaan pasien
20. Catat tindakan yang dilakukan dan hasil tindakan

1. SOP MEGHITUNG BALANCE CAIRAN

Pengertian Menghitung balance cairan adalah menghitung


keseimbangan cairan masuk (intake) dan cairan keluar
(output) tubuh.

Tujuan a. Mengetahui jumlah intake cairan


b. Mengetahui jumlah output cairan
c. Mengetahui balance cairan
d. Menentukan kebutuhan cairan

Persiapan tempat dan alat a. Gelas atau gelas ukur untuk minuman
b. Gelas ukur untuk urine atau urine bag
c. Alat tulis

Persiapan pasien 1. Menjelaskan kepada pasien tentang tindakan yang


akan dilakukan.
2. Mengatur posisi pasien.

Persiapan lingkungan 1. Menjaga privasi klien dengan cara memasang


sampiran atau menutup korden pembatas kamar
2. Mengatur cahaya ruangan
3. Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
Pelaksanaan a. Tahap pra interaksi :
1. Identifikasi kebutuhan/indikasi pasien
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat
b. Tahap orientasi :
1. Beri salam, panggil klien dengan namanya
2. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan
3. Beri kesempatan pada klien untuk bertanya
c. Tahap kerja :
1. Hitung intake cairan :
a) Oral (minum) : normal ± 1200 ml
b) Oral (makan) : normal ± 1000 ml
c) Hasil metabolisme : normal ± 300 ml
d) Parenteral : sesuai instruksi
2. Hitung output cairan :
a) Ginjal (urine) : normal 40-80 ml/jam (960-
1680 ml/24 jam)
b) Gastrointesinal (feses) : normal 100-200 ml/24
jam
c) Pernapasan (paru) : normal 400 ml/24 jam
d) Insensiblewaterloss (IWL) : tidak kasat mata
(kulit) : normal 6ml/kg/24 jam (420 ml/24 jam)
53
e) Sensiblewaterloss (SWL) : kasat mata
(keringat) : normal 1000 ml/24 jam
f) Abnormal (muntah, drain, perdarahan, dll) :
sesuai kondisi klien
3. Hitung balance cairan
a) Balance positif : intake>output
b) Balance negatif : output>input

Rumus :
Tts/menit = Volume total (cc) x faktor
tetes
Total waktu pemberian
(menit)

d. Tahap terminasi :
6. Evaluasi hasil / respon klien
7. Dokumentasikan hasilnya
8. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
9. Akhiri kegiatan, membereskan alat-alat
10. Cuci tangan

1. SOP Merawat Luka Infus


1. Penjelasan :

Secara teknis selang infus tetap seteril selama 48 –72 jam. Untuk mencegah infeksi, seterilitas
harus tetap dipertahankan dengan menggganti balutan diatas tempat insersi setiap 48 –72 jam.
Balutan insersi dapat berupa kasa seteril atau balutan transparan.

2. Tujuan :

Untuk mencegah infeksi

3. Perlengkapan :
1) Pinset anatomis steril2
2) Kasa steril
3) Sarung tangan steril
4) Gunting plester
5) Plester/hypavic
6) Lidi kapas
7) Alkohol 70% /wash bensin dalam tempatnya
8) Iodin Povidon solution 10% /sejenis
9) NaCl 0,9%
10) Bengkok
4. Langkah-langkah :
a. Tahap pra interaksi :
1) Identifikasi kebutuhan/indikasi pasien
2) Cuci tangan
3) Siapkan alat
b. Tahap orientasi :
1) Beri salam, panggil klien dengan namanya
2) Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan
3) Beri kesempatan pada klien untuk bertanya
c. Prosedur(tahapkerja):
1) Mengatur posisi pasien (tempat tusukan infus terlihat jelas)
2) Memakai sarung tangan
3) Membasahi plester dengan alkohol dan buka balutan dengan menggunakan pinset
4) Membersihkan bekas plester
5) Membersihkan daerah tusukan & sekitarnya dengan NaCl
6) Mengolesi tempat tusukan dengan Iodin cair/salf
7) Menutup dengan kassa steril dengan rapi
8) Memasang plester penutup
9) Mengatur tetesan infus sesuai program
d. Tahap terminasi :
1) Evaluasi hasil / respon klien
2) Dokumentasikan hasilnya
3) Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
4) Akhiri kegiatan, membereskan alat-alat.
5) Cuci tangan.

2. SOP Mengganti botol/cairan infus


1. Pengertian :
Mengganti botol/cairan infus adalah penggantian botol/cairan infus yang dilakukan
jikacairan infus sudah berada di leher botol infus dan tetesan masih berjalan.
2. Tujuan :
Memelihara rehidrasi parenteral
3. Peralatan :
b. Botol / kantong cairan infus
c. Label untuk mencatat tanggal penggantian
4. Langkah-langkah :
a. Tahap pra interaksi :
1) Identifikasi kebutuhan/indikasi pasien
2) Cuci tangan
3) Siapkan alat
b. Tahap orientasi :
1) Beri salam, panggil klien dengan namanya
2) Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan
3) Beri kesempatan pada klien untuk bertanya
c. Tahap kerja :
1) Siapkan botol infus yang baru sesuai dengan macam infus.
2) Buka tutup botol, lakukan desinfeksi tutup botol cairan
3) Klem selang infus
4) Tarik jarum dari botol yang lama dan segera tusukkan pada botol infus yang
baru
5) Gantungkan botol infus pada tiang infus
6) Cek udara dalam selang. Jika ada udara dalam selang, tusukkan jarum ke
dalam selang di bawah udara sampai udara keluar.
7) Buka klem dan hitung kembali tetesan infus sesuai dengan dosis tetesan
8) Pasang label pada botol infus.
d. Tahap terminasi :
1) Evaluasi hasil / respon klien
2) Dokumentasikan hasilnya
3) Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
4) Akhiri kegiatan, membereskan alat-alat dan Cuci tangan

3. SOP MENGHENTIKAN/ MELEPAS INFUS

Pengertian Menghentikan/melepas infus adalah menghentikan aliran


infus dan melepas selang infus yang dilakukan bila
program terapi telah selesai atau bila akan mengganti
insersi yang baru.

Tujuan a. Mengakhiri pemberian cairan parenteral


b. Mengganti insersi yang baru

Persiapan tempat dan alat a. Kapas alkohol


b. Plester
c. Perlak dan pengalas
d. Bengkok

Persiapan pasien 1. Menjelaskan kepada pasien tentang tindakan yang


akan dilakukan.
2. Mengatur posisi pasien.

Persiapan lingkungan 1. Menjaga privasi klien dengan cara memasang


sampiran atau menutup korden pembatas kamar
2. Mengatur cahaya ruangan
3. Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
Pelaksanaan a. Tahap pra interaksi :
1. Identifikasi kebutuhan/indikasi pasien
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat
b. Tahap orientasi :
1. Beri salam, panggil klien dengan namanya
2. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan
3. Beri kesempatan pada klien untuk bertanya
c. Tahap kerja :
1. Observasi tanda dan gejala flebitis
2. Jelaskan bahwa sensasi terbakar mungkin
dirasakan saat kateter dilepas, dan jelaskan bahwa
lengan yang terpasang IV line harus tetap diam.
3. Pasang perlak dan pengalas
4. Pakai handschoon
5. Tutup klem infuse
6. Lepaskan balutan dan buka plester pada daerah
tusukan sambil memegang jarum
7. Letakkan kasa steril pada tempat tusukan, tekan
secara ringan, dan tarik jarum secara perlahan tapi
pasti.
8. Inspeksi kateter untuk melihat keutuhannya
sebelum dibuang
9. Beri penekanan pada daerah bebas tusukan
dengan kapas alkohol selama 2- 3 menit untuk
mencegah pendarahan
10. Letakkan kasa steril pada tempat tusukan dan
fiksasi dengan plester
11. Buang semua alat
12. Lepaskan sarung tangan
13. Pantau adanya kemerahan , edema, nyeri selama
48 jam
d. Tahap terminasi :
1. Evaluasi hasil / respon klien
2. Dokumentasikan hasilnya
3. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
4. Akhiri kegiatan, membereskan alat-alat
5. Cuci tangan

4. SOP MEMONITOR TETESAN INFUS


1. Pengertian : Tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien untuk mengatur
jumlah cairan yang masuk kedalam tubuh pasien
2. Tujuan
a. Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit
b. Mencegah terjadinya kelebihan cairan
3. Persiapan alat
a. Jam yang ada detiknya
b. Buku dan penapa
4. a. Tahap pra interaksi:
1) Identifikasi kebutuhan/indikasi pasien
2) Cucitangan
3) Siapkan alat
5. b. Tahap orientasi:
1) Berisalam,panggil klien dengan namanya
2) Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan
3) Berikesempatanpadaklienuntukbertany
c. Prosedur kerja
1) Atur dan lihat posisi jarum infus, apakah tetesan infus lancer / tidak
2) Hitung banyaknya / jumah tetesan dalam satu menit, sesuai program medis
dengan. rumus
Note
Faktor tetesan makro : 20
Factor tetsan mikro : 60
d.Tahapterminasi:
1) Evaluasihasil/responklien
2) Dokumentasikanhasilnya
3) Lakukankontrakuntukkegiatanselanjutnya
4) Akhirikegiatan,membereskanalat-alat
5) Cucitangan

12. SOP MERAWAT KATETER

•Tujuan:

1.Mencegahinfeksi

2.Memperlancaraliranurine padasystem draiinasekateter

•Penyebabmasalah: sekresidankrustapadatempatinsersidapatmenimbulkaniritasi

•Pencegahaninfeksi:

1.Perawatanperineum minimal 2 kali sehari

2.Perawatan kateter
•Persiapanalat:
1.Sarungtangan
2.pengalas
3.Bola kapas
4.Handuk
5.Sabun dan air hangat
6.Salep antibiotic
7.Kasa seteril
8.Cairan fisiologis

•Prosedur
1. posisi: wanita: dorsal recumbent, laki-laki: terlentang
2. Pasang pengalas di bawah bokong
3. Pasang selimut mandi, hanya bagian perineum yang tampak
4. Kenakan sarung tangan
5. Dengan tangan tidak dominan, retraksilabia (wanita), prepusium(laki-laki)
6. Kaji meatus
7. Pada wanita, lakukan pembersihan perineum ke arah anus, kemudian bersihkan
labia minora
8.Bersihkanmeatus uretradengangerakansirkulermenujukateter
9.Bersihkankatetersepanjang10 cm
10. Bila perlu berikansalepantibiotikapadameatus
11.Atur posisi pasien agar nyaman
12. Evaluasihasil/responklien
13. Dokumentasikanhasilnya
14. Lakukankontrakuntukkegiatanselanjutnya
15. Akhirikegiatan,membereskan alat-alat
16. Cucitangan
13. SOP MELAKSANAKAN BLADDER TRAINING

 Pengertian : Merupakansatu upaya untuk mengembalikan fungsi kandung kemih yang


mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi optimal neurogenik
 Indikasi
Klien yang dilakukan pemasangan kateter cukup lama.
Klien yang akan di lakukan pelepasan dower kateter.
Klien yang mengalami inkontinensia urin
Klien post operasi.
Orang yang mengalami masalah dalam hal perkemihan
Klien dengan kesulitan memulai atau menghentikan aliran urin.
-Tidak boleh dilakukan pada pasien gagal ginjal
 Tujuan : Melatih kandung kemih dan mengembalikan pola normal perkemihan dengan
menghambat atau menstimulasi pengeluaran air kemih. Frekuensi berkemih
dapat dilatih 6-7 kali per hari/ 3-4 jam sekali.
Tiga macam metode bladder training
•Kegel exercises(latihan pengencangan atau penguatan otot-otot dasar panggul)
•Delay urination(menunda berkemih)
•Scheduledbathroom trips
 Langkah-langkah :
a. Tahap pra interaksi
1. Identifikasi kebutuhan/indikasi pasien
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat
b. Tahap orientasi
1. Beri salam, panggil klien dengan namanya
2. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan
3. Beri kesempatan untuk bertanya
c. Tahap Kerja
 Kegel exercise
1. Minta kllien untuk mengambil posisi duduk atau berdiri
2. Instruksikan klien untuk mengencangkan otot-otot di sekitar anus
3. Minta klien mengencangkan otot bagian posterior dan kemudian
kontraksikan otot anterior secara perlahan sampai hitungan ke empat
4. Kemudian minta klien untuk merelaksasikan otot secara keseluruhan
5. Ulangi latihan 4 jam sekali

 Delay urination
1. Instruksikan klien untuk berkonsentrasi pada otot panggul
2. Minta klien berupaya menghentikan aliran urine selama berkemih kemudian
memulainya kembali
3. Lakukan setiap kali berkemih
4. Bladder training pada pasien dengan kateter

1) Prosedur1 jam
1. Klien diberi minum setiap1 jam sebanyak 200 cc dari jam 07.00 s.d.jam
19.00. Setiap kali habis diberi minum,catheter di klem
2. Kemudiansetiapjam kandungkemihdikosongkanmulaijam08.00 s.d.jam
20.00 dengancaraklemcatheter dibuka.
3. Pada malam hari (setelah jam 20.00) catheter dibuka (tidakdiklem) dan klien
boleh minum tanpa ketentuan seperti padasianghari.
4. Prosedurtersebut diulanguntuk hariberikutnyasampaiprogram
tersebutberjalan lancer danberhasil
2) Prosedur2 jam
1. Klien diberi minum setiap 2 jam sebanyak 200 cc dari jam 07.00 s.d.jam
19.00. Setiap kali habis diberi minum, catheter di klem.
2. Kemudian setiap 2 jam kandung kemih dikosongkan mulai jam 09.00 s.d
jam 21.00 dengan cara klem catheter dibuka.
3. Pada malam hari (setelah jam 20.00) catheter dibuka (tidak diklem) dan
klien boleh minum tanpa ketentuan seperti pada siang hari.
4. Prosedur tersebut diulang untuk hari berikutnya sampai program tersebut
berjalan lancar dan berhasil.
 Scheduled bathroom trips
• Mengaturjadwal berkemih setiap 2-3 jam sepanjang siang dan sore haridan 4 jam sekali
pada malam hari
•Prosedur
1. Klien minum yang banyak sekitar 30 menit sebelum jadwal berkemih
2. Beritahu klien untuk menahan berkemih dan memberitahu perawat jika rangsangan
berkemihnya tidak dapat di tahan.
3. 30 menit kemudian (tepat pada jadwal berkemih), mintalah klien untuk memulai
berkemih dengan teknik latihan dasar panggul.
d. Tahap terminasi
1) Evaluasi hasil / respon klien
2) Dokumentasikan hasilnya
3) Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
4) Akhiri kegiatan, membereskan alat-alat.
5) Cuci tangan