Anda di halaman 1dari 2

KONSEP IKHLAS DALAM MENGOPTIMALKAN NILAI

PUASA

Oleh:
Aghnia Faradits (172510051)
Mahasiswi Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan
Tafsir
Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran Jakarta

Puasa mestinya diartikan sebagai media untuk mengontrol


hawa nafsu guna meningkatkan kualitas beribadah kepada
Allah, nyatanya hanya sebatas aktifitas fisik yang tidak
mengandung unsur-unsur spiritualitas. Banyak orang yang
berpuasa namun masih melakukan hal-hal yang dilarang agama
seperti ghibah dan riya’. Bahkan tidak jarang judi dan adu
dombapun dilakukan dalam kondisi sedang berpuasa. Berbagai
tindak kejahatanpun meningkat, data kepolisian menyebutkan
bahwa tindak kejahatan dibulan puasa terus bertambah setiap
tahunnya. Pada tahun 2014 angka kejahatan konvensional
tercatat sebanyak 448 kasus, kemudian meningkat lima kali
lipat di tahun 2015, tercatat ada 2.539 kejahatan. Sementara itu
kejahatan yang terjadi dibulan puasa malah melonjak hampir
seratus persen menjadi 4.925 kasus ditahun 2016. Berbagai
fenomena diatas menunjukkan bahwa puasa diartikan hanya
sebatas tradisi keagamaan yang jauh dari nilai-nilai ruhaniyah.
Mayoritas orang yang berpuasa tidak mengerti hakikat puasa
yang sesungguhnya sehingga perilaku-perilaku buruk masih
terus dilakukan. Lantas kemudian, bagaimana mengembalikan
cara pandang tentang puasa jika ditarik kedunia filsafat?

Ikhlas Kunci Sempurnanya Puasa

Pada hakikatnya, puasa memiliki berbagai macam dimensi


baik dari sisi maknawi (spiritual) maupun zhohiri (perbuatan).
Untuk mengaktualisasikan keduanya, Imam Alghazali (seorang
filsuf muslim) menawarkan sebuah konsep ikhlas yang mampu
mengoptimalisasikan nilai-nilai puasa. Ikhlas perspektif
Alghazali merupakan sebuah kondisi internal yang jernih dan
tidak tercemari sesuatu apapun (baik materi maupun immateri)
sehingga kadar kuantitasnya tidak dapat terukur, ibarat sebuah

1
bangunan, ikhlas merupakan pondasi utama yang harus
tertanam kuat dan kokoh. Ketika seseorang yang berpuasa
mencapai titik ikhlas, sejatinya ia telah memiliki kesadaran yang
mendalam untuk menyerahkan ibadahnya kepada sang pencipta
tanpa diiringi harapan yang bersifat materi maupun immateri.
Dengan menumbuhkan sifat ikhlas ketika berpuasa, seseorang
akan menyerahkan seluruh jiwanya kepada Tuhan yang Esa
(baca: tawakkal). Keyakinan inilah yang akhirnya menciptakan
nilai-nilai spiritualitas yang akan mengantarkan pada
kesempurnaan berpuasa yang dapat membersihkan jiwa dari
segala penyakit hati seperti ghibah, adu domba, iri hati dan
dengki terhadap sesama makhluk.
Dengan demikian menunjukkan bahwa taraf ikhlas adalah
kebersihan secara total yang ada dalam hati seorang yang
berpuasa. Kebersihan hati secara total ini kemudian akan
membentuk sebuah perilaku imparsial dalam kehidupan yang
dapat melahirkan nilai-nilai spiritualitas puasa. Jika sifat
imparsial telah tertanam erat, maka seorang yang berpuasa
tidak hanya melibatkan aspek fisik semata, tetapi juga
melahirkan nilai ruhaniyah yang akan mengantarkan seseorang
menuju keseimbangan hidup sebagai khalifah fil ardh.
Waallahua’lam...