Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH PANCASILA

NILAI-NILAI DASAR SUATU NEGARA

Disusun oleh :
Muhammad Agung Setiawan ( F1051181025 )
Muhammad Nizam ( F1051181001 )
Mia Apriyanti ( F1051181048 )
Meili Dwi Indriyani ( F1051181008
Morfiandi Isjar Antahari ( F1051181052 )
Kurniasih ( F1051181044 )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2018
Melayu

Beranda TURKI Filosofi Dasar Negar...

Filosofi Dasar Negara Turki dan Kebijakan Luar Negeri Turki

Kami akan sajikan kajian dari Dr.Cemil Doğaç İPEK, Dosen Depastemen Hubungan
Internasional, Universitas Karatekin...

31.12.2018 ~ 19.02.2019

Filosofi Dasar Negara Turki dan Kebijakan Luar Negeri Turki

PANDANGAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI TURKI 52

Kebijakan Luar Negeri Turki baru-baru ini mengalami transformasi serius dan mengalami
kemajuan yang signifikan. Pekan ini kami akan menganalisis Presiden Turki dalam kacamata
filsafat negara Turki dan Kebijakan Luar Negeri Turki.

Kebijakan luar negeri Turki telah mengalami perkembangan yang penting dalam beberapa tahun
terakhir. Tidak ada keraguan bahwa kemajuan dalam transformasi ini memiliki latar belakang
yang penting. Presiden Republik Turki Erdoğan salah satu orang penting dibali pembentukan
nilai-nilai filosofi dasar negara Turki. Pada pekan ini kami akan merefleksi filosofi dasar negara
Turki dan kebijakan luar negeri Turki.

Turki yang terletak di wilayah geografis yang tidak sama dengan negara lain, menjadi dominan
pada periode waktu tertentu. Perjalanan sejarahnya yang penuh pasang surut menjadikan nilai-
nilai folosofi negara Turki layak untuk dipelajari. Mendirikan negara dianggap sebagai salah satu
syarat bagi orang untuk hidup bersama. Orang hidup dalam masyarakat dan membuat segala
macam peluang pengembangan ke arah yang positif maupun negatif. Tidak diragukan bahwa
filosofi negara ada di benak mereka. Mentalitas bukanlah masalah yang mudah dipahami; makna
bahasa, geografi, nilai-nilai agama, dan tradisi termasuk dalam hal ini.
Jika kita melihat proses sejarah, kata pertama yang digunakan orang Turki dalam arti negara
adalah kata "il". Kata "il" berarti provinsi, negara dan ketertiban negara. Dalam kamus Kashgar
Mahmud, diketahui bahwa kata "il" berarti damai.

Sistem Pemerintahan Negera Indonesia

Pembukaan UUD 1945 Alinea IV menyatakan bahwa kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu
disusun dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu
susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat. Berdasarkan Pasal 1 Ayat 1 UUD
1945, Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Berdasarkan hal itu
dapat disimpulkan bahwa bentuk negara Indonesia adalah kesatuan, sedangkan bentuk
pemerintahannya adalah republik.

Selain bentuk negara kesatuan dan bentuk pemerintahan republik, Presiden Republik Indonesia
memegang kekuasaan sebagai kepala negara dan sekaligus kepala pemerintahan. Hal itu
didasarkan pada Pasal 4 Ayat 1 yang berbunyi, “Presiden Republik Indonesia memegang
kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar.” Dengan demikian, sistem
pemerintahan di Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensial.

Kekuasaan pemerintahan Negara Indonesia menurut undang–undang dasar 1 sampai dengan


pasal 16. pasal 19 sampai dengan pasal 23 ayat (1) dan ayat (5), serta pasal 24 adalah:

1. Kekuasaan menjalan perundang – undangan Negara atau kekuasaan eksekutif yang


dilakukan oleh pemerintah.

2. Kekuasaan memberikan pertimbangan kenegaraan kepada pemerintah atau kekuasaan


konsultatif yang dilakukan oleh DPA.

3. Kekuasaan membentuk perundang – undang Negara atau kekuasaan legislatif yang


dilakukan oleh DPR.

4. Kekuasaan mengadakan pemeriksaan keuangan Negara atau kekuasaan eksaminatif atau


kekuasaan inspektif yang dilakukan oleh BPK.

5. Kekuasaan mempertahankan perundang – undangan Negara atau kekuasaan yudikatif yang


dilakukan oleh MA.

Berdasarkan ketetapan MPR nomor III / MPR/1978 tentang kedudukan dan hubungan tata kerja
lembaga tertinggi Negara dengan atau antara Lembaga – lembaga Tinggi Negara ialah sebagai
berikut.

1. Lembaga tertinggi negara adalah MPR.


2. Lembaga – lembaga tinggi Negara sesuai dengan urutan yang terdapat dalam UUD 1945
ialah presiden (pasal 4 – 15), DPA (pasal 16), DPR (pasal 19-22), BPK (pasal 23), dan MA (pasal
24).

a. Presiden adalah penyelenggara kekuasaan pemerintahan tertinggi dibawah MPR. Dalam


melaksanakan kegiatannya dibantu oleh seorang wakil presiden. Presiden atas nama pemerintah
(eksekutif) bersama – sama dengan DPR membentuk UU termasuk menetapkan APBN. Dengan
persetujuan DPR, presiden dapat menyatakan perang.

b. Dewan pertimbangan Agung (DPA) adalah sebuah bahan penasehat pemerintah yang
berkewajiban memberi jawaban atas pertanyaan presien. Selain itu DPA berhak mengajukan
pertimbangan kepada presiden.

c. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) adalah sebauh badan legislative yang dipilih oleh
masyarakat berkewajiban selain bersama – sama dengan presiden membuat UU juga wajib
mengawasi tindakkan – tindakan presiden dalam pelaksanaan haluan Negara.

d. Badan pemeriksa keuangan (BPK) ialah Badan yang memeriksa tanggung jawab tentang
keuangan Negara. Dalam pelaksanaan tugasnya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah.
BPK memriksa semua pelaksanaan APBN. Hasil pemeriksaannya dilaporkan kepada DPR.

e. Mahkamah Agung (MA) adalah Badan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman yang dalam
pelaksanaan tugasnya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh lainnya. MA
dapat mempertimbangkan dalam bidang hukum, baik diminta maupun tidak diminta kepada
kepada lembaga – lembaga tinggi Negara.

Sistem Pemerintahan Negara Indonesia Berdasarkan UUD 1945 Sebelum Diamandemen.

Pokok-pokok sistem pemerintahan negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 sebelum


diamandemen tertuang dalam Penjelasan UUD 1945 tentang tujuh kunci pokok sistem
pemerintahan negara tersebut sebagai berikut :

1. Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat).

2. Sistem Konstitusional.

3. Kekuasaan negara yang tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

4. Presiden adalah penyelenggara pemerintah negara yang tertinggi dibawah Majelis


Permusyawaratan Rakyat.

5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

6. Menteri negara ialah pembantu presiden, menteri negara tidak bertanggungjawab kepada
Dewan Perwakilan Rakyat.
7. Kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas.

Sistem pemerintahan Negara Indonesia Berdasarkan UUD 1945 Setelah Diamandemen.

Berdasarkan undang – undang dasar 1945 sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia
adalah sebagai berikut :

1. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum, tidak berdasarkan kekuasaan belaka.

2. Pemerintahan berdasarkan atas sistem konstitusi (hukum dasar) tidak bersifat absolutisme
(kekuasaan yang tidak terbatas) .

3. Kekuasaan Negara yang tertinggi berada di tangan majelis permusyawaratan rakyat.

4. Presiden adalah penyelenggara pemerintah Negara yang tertinggi dibawah MPR. Dalam
menjalankan pemerintahan Negara kekuasaan dan tanggung jawab adalah ditangan prsiden.

5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. Presiden harus mendapat persetujuan dewan
perwakilan rakyat dalam membentuk undang – undang dan untuk menetapkan anggaran dan
belanja Negara.

6. Menteri Negara adalah pembantu presiden yang mengangkat dan memberhentikan mentri
Negara. Menteri Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR.

7. Kekuasaan kepala Negara tidak terbatas. presiden harus memperhatikan dengan sungguh –
sungguh usaha DPR.

2.3 Sistem Pemerintahan Negara Turki

Nama resmi: Republic of Turkey dengan Ibukota: Ankara ,Luas wilayah (km2): 780.580 ----
Populasi Turki per 2000 adalah 67.803.927 orang. Bahasa resminya Turki, di samping bahasa
lain seperti Kurdi, Arab, Armenia, dan Yunani. Agama penduduknya adalah Islam (sunni) 99,8%,
dan agama lain seperti Ortodoks Yunan, Gregorian Armenia, Katolik, Ortodoks Syiria, dan
Yahudi yang totalnya 0,2%. Komposit etnis terdiri atas Turki 80%, dan lainnya 20% terdiri atas
Kurdi, Yunani, Armenia, Syiria, Yahudi, Georgia, Lazia, Circasia, Bosnia, Arab. Jenis kekuasaan:
Republik .

Awalnya, Turki adalah kesultanan besar di masa Dinasti Utsmany. Namun, kini wilayahnya
mengecil hingga sebatas negara Turki saat ini. Bentuk negara: Kesatuan, Pemerintah pusat Turki
punya kuasa besar atas pemerintahan lokalnya. Sistem pemerintahan: Parlementer . Presiden
selaku kepala negara. Perdana Menteri selaku kepala pemerintahan. Namun, Presiden Turki
bukan semata-mata "simbol" negara saja. Ia memiliki sharing kuasa eksekutif dengan Perdana
Menteri. Sejak amandemen konstitusi 2007, Presiden Turki dipilih oleh Parlemen (The Grand
National Assembly/TGNA). Presiden terpilih kemudian mengangkat Perdana Menteri. Perdana
Menteri kemudian menyusun Dewan Menteri, dengan susunan yang telah disetujui oleh
Presiden. Presiden tidak dapat memberhentikan Menteri tanpa proposal dari Perdana Menteri.
Perdana Menteri-lah yang menjalankan pemerintahan sehari-hari di Turki. Jadi, Turki menganut
sistem parlementer, dengan beberapa catatan.

Sejak 2007, Perdana Menteri dan Dewan Menteri bertanggung jawab kepada Parlemen, bukan
Presiden. Ini yang menguatkan bahwa sistem pemerintahan Parlementer-lah yang dianut oleh
Turki. Namun, Presiden Turki bukan hanya "penonton" belaka. Presiden punya kewenangan
mengembalikan seluruh produk undang-undang ,kecuali UU Anggaran,kepada Parlemen untuk
dipertimbangkan kembali keberlakuannya. Dan, jika Parlemen berkeras untuk tetap
memberlakukan tetapi Presiden menolak, Presiden dapat memanfaatkan Mahkamah Konstitusi
guna memutuskannya. Selain itu, Presiden memiliki kewenangan untuk mengadakan Pemilu
ulangan jika terjadi kebuntuan politik. Peran Presiden yang besar juga terlihat dalam
kewenangannya untuk memutuskan penggunaan Angkatan Bersenjata Turki, mengangkat
Kepala-kepala Staf Angkatan Perang, dan bersama-sama TGNA berposisi selaku Panglima
Tertinggi Angkatan Perang. Parlemen: Unikameral (Turkish Grand National Assembly) TGNA
adalah badan legislatif Turki yang kuasa membuat UU nya tidak bisa didelegasikan kepada
badan lain. Anggotanya terdiri atas 550 orang yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Masa
tugasnya 5 tahun.

2.4 Perbandingan Sistem Pemerintahan Negara Indonesia dengan Negera Turki

Setiap pemerintahan yang diterapkan setiap Negara berbeda satu sama lain. Dengan
memahami sistem pemerintahan yang ada di negara-negara diatas, akan menambah wawasan kita
sekaligus bisa dijadikan bahan ilmu tambahan tentang system pemerintahan. Oleh karena itu,
setelah mengetahui rincian tentang pemerintahan Negara yang di uraikan diatas, maka kita dapat
mengembangkan suatu system pemerintahan yang dianggap baik.

Perbedaan penerapan sitem pemerintahan antar Negara disebabkan banyak hal, seperti kondisi
social, budaya dan politik yang berkembang di Negara yang bersangkutan. Faktor lain yang
sangat berpengaruh adalah komitmen elite politik terhadap sistem politik yang hendak
diwujudkan, sistem kepartaian yang berkembang di Negara yang bersangkutan, tradisi politik
yang telah berkembang di Negara yang bersangkutan, serta budaya politik dominan di
masyarakat yang bersangkutan.

Komitmen elite polotik terhadap sistem politik yang hendak diwujudkan sangat menentukan
corak pelaksanaan sistem pemerintahan suatu Negara. Hal ini bisa dilihat pada perbedaan
penyelenggaraan pemerintahan pada masa Orde Baru dengan masa Reformasi.
Sistem kepartaian yang berkembang pada suatu negara juga ikut mempengaruhi penyelenggaraan
suatu pemerintah. Sebagai contoh sistem kepartaian dengan dua partai yang dominan. Hal
tersebut akan berbeda dengan sistem multipartai yang seakan-akan membawa dampak
ketidakstabilan penyelenggaraan pemerintahan.

Tradisi pemerintahan yang berkembang pada suatu negara sangat mempengaruhi


penyelenggaraan pemerintahan. Sebagai contoh adalah tradisi politik demokrasi yang sulit
berkembang di Indonesia turut berpengaruh pada proses penyelenggaraan pemerintahan.

Factor selanjutnya ialah budaya politik yang berkembang dalam masyarakat. Ada budaya politik
yang dapat mendorong terwujudnya demokrasi, namun ada pula budaya politik yang
berkembang dalam masyarakat yang menghambat proses demokrasi dan justru mendorong kea
rah pemerintahan yang ditaktor.

Dengan adanya factor-faktor yang ikut menentukan sistem pemerintahan suatu negara, maka
telah jelas bahwa sistem pemerintahansuatu negara itu pasti berbeda satu sama lain. Untuk itu,
kita dapat mengetahui perbandingan sistem pemerintahan negara Indonesia dengan negara Turki.

No

Kategori

Indonesia

Turki

1.

Bentuk Negara

Kesatuan

Kesatuan

2.

Bentuk Pemerintahan

Republik

Republik

3.

Sistem Pemerintahan
Presidensial

Parlementer

4.

Parlemen

Bikameral yaitu DPR dan DPD

Unikameral (Turkish Grand National Assembly)

5.

Eksekutif

Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan dipilih langsung oleh rakyat

Presiden selaku kepala negara, dipilih oleh parlemen.

6.

Yudikatif

MA, badan peradilan dibawahnya dan MK

MK

BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Ø Sistem pemerintahan diartikan sebagai tatanan yang terdiri dari komponen pemerintahan yang
saling mempengaruhi dalam pencapaian tujuan dan fungsi pemerintahan.

Ø Sistem pemerintahan negara Indonesia adalah Presidensial, sedangkan sistem pemerintahan


negara Turki adalah Parlementer.

Ø Sistem pemerintahan dan pelaksanaannya antara negara satu dengan negara yang lainnya
berbeda.

Istilah "il" yang digunakan oleh orang-orang Turki kuno mengikuti tradisi islam yang berarti
negara. Dalam bahasa Arab negara berarti "berubah dari satu negara ke negara lain; datang untuk
kemuliaan, untuk memenangkan kemenangan." Dalam bahasa-bahasa barat istilah negara yang
berarti berdiri adalah "status," état. Komunitas non-residen dalam bahasa Latin; orang-orang
Keturunan Turki-Islam juga menyatakan bahwa negara tidak akan mencoba mekanisme yang
tidak bergerak. Orang-orang Turki memahami bahwa "bendera matahari kita adalah tenda langit
kita". Bangsa Romawi, yang menerima konsep sejarah sebagai penguasa kehidupan,
menggambarkan negara mereka sebagai Acterna Roma, sementara orang-orang Turki
menganggap negara itu abadi.

Untuk menjadi sebuah negara, kita perlu dua hal. Kekuatan fisik dan legitimasi. Diantara
keduanya itu, konsep legitimasi jauh lebih penting. Legitimasi adalah ungkapan bahwa
kekuasaan memiliki hak untuk memerintah. Legitimasi dapat diberikan dalam beberapa cara.
Salah satunya melalui konsep kerajaan dan adat yang masih ada. Ciri khas terpenting dari
masyarakat Turki pra-Islam adalah dedikasinya terhadap tradisi. Konsep adat di Turki lebih
unggul dari negara dan menentukan batas-batas kekuasaan negara. Konstitusi ini yang
membatasi kedaulatan dan mengukur legitimasinya adalah semangat kesadaran kepatuhan
terhadap hukum. Ini juga dapat terlihat sebagai semacam kontrak sosial antara para penguasa
negara dan bangsa. Bangsa menerima kekuatan yang sah dan tunduk pada tradisi dan menerima
kepatuhan terhadapnya. "Kut" adalah otoritas, atau lebih tepatnya, tugas Tuhan untuk
diperintahkan oleh Presiden. Dengan mengadopsi dari Islam, orang Turki memiliki komitmen
untuk menghormati hukum Islam. Salah satu dasar terpenting dari filsafat negara Turki adalah
konsep negara universal. Menurut konsep negara universalis, sama halnya seperti Bumi yang
berada di pusat Semesta Turki secara fisik juga berada di pusat Bumi.

Kutadgu Bilig, salah satu teks dasar yang menganalisis filsafat negara Turki, dianggap sebagai
ciri khas utama dari konsep penguasa. Menurut Kutadgu Bilig, untuk meringkas tugas-tugas
sultan; penguasa wajib membuat rakyat benar, melakukan perintah dengan menghapus hukum
yang diperlukan, serta melakukan berbagai kegiatan untuk menciptakan negara yang
berkelanjutan. Singkatnya, sumber dominasi dalam filsafat negara Turki adalah tatanan dunia
yang ilahi tetapi politis. Dominasi dipegang oleh kepala negara, tetapi dominasi ini dibatasi oleh
kehormatan. Dengan semua data ini, kita dapat mengatakan bahwa negara Turki dianggap
sebagai negara dunia yang ideal.

Jika kita analisis filosofi negara suatu negara, satu hal yang perlu ditekankan adalah
pendekatan "lain/pengecualian." Di berbagai lapisan masyarakat, ada wawasan yang
mengecualikan apa yang lain dari dirinya. Misalnya, jika Anda bukan orang Romawi, Anda
disebut "biadab" dan jika Anda bukan orang Arab, Anda disebut "A'jam." Jenis marjinalisasi
berbasis ras ini tidak berlaku di Turki. Nama Turki berarti "yang ritualistik." Dalam pengertian
ini, syarat menjadi orang Turki adalah mematuhi tradisi. Orang yang cocok dengan tradisi adalah
orang Turki.

Dari sudut pandang ini, jika kita menganalisis praktik kebijakan luar negeri Erdoğan, kita dapat
melihat kembali ke kultur dan tradisi. Oleh karena itu kebijakan luar negeri yang diterapkan oleh
Republik Turki sejalan dengan filosofi negara Turki dan ini merupakan kontribusi dalam filosofi
ini.

Kemalisme (bahasa Turki: Kemalizm), yang juga dikenal dengan sebutan Atatürkisme (bahasa
Turki: Atatürkçülük, Atatürkçü düşünce), atau Enam Anak Panah (bahasa Turki: Altı Ok), adalah
ideologi pendirian Republik Turki.[1] Kemalisme, seperti yang diimplementasikan oleh Mustafa
Kemal Atatürk, didefinisikan dengan reformasi pembersihan politik, sosial, budaya dan agama
yang dirancang untuk memisahkan negara Turki baru dari pendahulu Utsmaniyah-nya dan
menerapkan cara hidup yang di-Westernisasi-kan,[2] termasuk pendirian demokrasi, kesetaraan
sipil dan politik untuk wanita, sekularisme, dukungan negara terhadap ilmu pengetahuan dan
pendidikan bebas, yang beberapa diantaranya pertama kali diperkenalkan ke Turki pada masa
kepresidenan Atatürk dalam reformasi-reformasinya.[3]

Fundamental

Sunting

Terdapat enam pilar fundamental (ilke) dari ideologi tersebut: Republikanisme (bahasa Turki:
cumhuriyetçilik), Populisme (bahasa Turki: halkçılık), Nasionalisme (bahasa Turki:
milliyetçilik), Laisisme (bahasa Turki: laiklik), Statisme (bahasa Turki: devletçilik), dan
Reformisme (bahasa Turki: devrimcilik).

PREMIUM

JELAJAHI

BAGIKAN:

News Internasional

Pengawal Sekularisme, Erdogan, dan Kudeta

Sabtu, 16 Juli 2016 | 14:14 WIB

Tentara Turki berjaga dengan senjata di Taksim Square, saat sejumlah orang memprotes melawan
kudeta militer di Istanbul, Sabtu (16/7/2016) waktu setempat. Upaya kudeta terjadi pada Jumat
malam setelah militer mengeluarkan pernyataan telah mengambil alih kekuasaan untuk
mengembalikan aturan dan demokrasi di negeri itu.

KOMPAS.com - Upaya kudeta militer menjadi ujian paling besar dan menantang bagi Recep
Tayyip Erdogan sejak menjadi presiden Turki pada 2013 lalu.

Bukan kali ini saja pemerintahan Erdogan diterpa guncangan dan berhasil lolos. Erdogan pernah
diserang isu korupsi, pemerintahannya juga pernah digoyang unjuk rasa warga dan kali ini
kudeta militer.

Khusus kudeta militer kali ini patut diduga motif di belakangnya adalah keresahan militer terkait
haluan politik Erdogan yang diyakini banyak kalangan berusaha menghilangkan budaya sekuler
Turki yang sudah dianut selama ini.

Militer Turki, sejak Mustafa Kemal Ataturk mendirikan seuah republik sekuler menggantikan
Kekaisaran Ottoman, menempatkan diri menjadi pengawal kesekuleran Turki.

Salah satu korban kudeta militer Turki adalah Necmetin Erbakan, yang menjabat perdana
menteri pada 1996-1997, karena dituduh hendak menjadikan Turki negara Islam fundamentalis.
Untuk memahami kudeta militer Turki kali ini, ada baiknya kita menelusuri sejarah angkatan
bersenjata negeri itu di dalam kancah politik Turki.

Pengawal sekularisme Ataturk

Sejak Mustafa Kemal Ataturk mendirikan Republik Turki pada 1923, dia dengan tegas melarang
para perwira militer yang masih aktif berdinas menggeluti politik.

Perintah tegas itu kemudian dituangkan di dalam hukum militer nomor 1632 pada 22 Mei 1930.

Sejak saat itu, militer Turki memosisikan diri sebagai penjaga sekularisme dan ideologi
Kemailsme atau Ataturkisme.

Ideologi ciptaan Kemal Ataturk itu pada intinya ingin memisahkan Republik Turki dengan citra
Kekaisaran Ottoman di masa lalu serta mengadopsi cara hidup Barat untuk masyarakat Turki.

Cara hidup barat yang diadopsi Turki adalah demokrasi, kesetaraan hak untuk perempuan,
sekularisme, dukungan terhadap kemajuan sains dan pendidikan murah dan banyak hal lainnya.

Salah satu hal terpenting dalam perkembangan Republik Turki adalah diadopsinya sekularisme
yaitu pemisahan antara urusan pemerintahan dan masalah agama.

Hal besar lain yang dilakukan Ataturk adalah dengan resmi membubarkan Kekaisaran Ottoman
pada 3 Maret 1924. Dia juga menghapus kalimat "Islam adalah agama negara Turki" dari
konstitusi pada 5 Februari 1937.
Dengan dasar ini, Turki melarang segala sesuatu yang berafiliasi dengan agama apapun baik dari
sisi politik hingga kehidupan sehari-hari.

Sejak masa pemerintahan Ataturk, semua simbol-simbol keagamaan di luar rumah-rumah ibadah
tak boleh ditampilkan. Namun, Ataturk masih memperkenankan warga, khususnya umat Islam,
mengenakan busana Muslim, seperti hijab atau kerudung bagi perempuan.

Namun, aturan berubah pada 1982 menyusul kudeta militer pada 1980 oleh para perwira militer
penganui ideologi Kemalis garis keras.

Setelah berkuasa usai kudeta, militer bahkan melarang perempuan Muslim mengenakan hijab
atau kerudung di institusi pemeintahan atau universitas. Langkah ini mendapat kecaman dari
parlemen Eropa dan pengadilan HAM Eropa saat itu.

Kembali ke dunia politik

Kembalinya militer Turki ke dunia politik dimulai saat tentara menggelar kudeta pertama mereka
pada 27 Mei 1960 dan menggulingkan PM Adnan Menderes.

Pemberontakan yang dipimpin Jenderal Cemal Gursel dan Kolonel Alparslan Turkes ini berujung
pada eksekusi terhadap PM Adnan Menderes, Menlu Fatin Rustu Zorlu dan Menkeu Halas
Polatkan pada 16 September 1961.

Cemal Gursel juga memensiunkan paksa 235 orang jenderal dan 3.000 lebih perwira,
menyingkirkan 500 hakim dan jaksa serta 1.400 akademisi.

Sebulan setelah eksekusi PM Menderes, militer mengembalikan pemerintahan kepada sipil tetapi
tetap mendominasi politik Turki dengan menempatkan Jenderal Ismet Inonu sebagai perdana
menteri dari 1961-1965.
Namun yang terpenting dari kudeta 1960 ini adalah kemunculan Undang-undang tindakan
internal bagi militer Turki yang diterbitkan komite persatuan nasional Turki.

Undang-undang baru yang terbit pada 4 Januari 1961 ini memberi legitimasi bagi militer untuk
melakukan intervensi politik jika dirasa perlu.

Sejak terbitnya undang-undang ini terbit, setidaknya militer Mesir telah melakukan tiga kali
kudeta di saat mereka menganggap ideologi Kemalisme terancam.

Necmetin Erbakan

Salah satu orang yang dianggap militer Turki hendak menghancurkan warisan Mustafa Kemal
Ataturk adalah Necmetin Erbakan, yang menjadi perdana menteri pada 1996-1997.

Erbakan, insinyur mesin dari Universitas Teknik Istanbul (ITU) 1948 dan Universitas Aachen,
Jerman ini dikenal sebagai presiden Turki pertama yang berasal dari partai politik berhaluan
Islam.

Erbakan juga mendapatkan gelar doktor keduanya dalam Studi Islam dri Universitas Raja Saud,
Arab Saudi. Setelah kembali ke Turki, Erbakan sempat menjadi dosen di ITU sebelum menjadi
politisi.

Dia juga diketahui merupakan anggota komunitas sufi Turki, Tarekat Naqshanbadiah.

Selama karier politiknya, Erbakan pernah menjadi pemimpin partai politik berhaluan Islam yang
semuanya berakhir tragis, diberangus pemerintah Turki.
Puncaknya, saat dia menjadi ketua Partai Penyelamat Nasional (MSP) yang berkoalisi dengan
Partai Rakyat Republik pimpinan PM Bulent Ecevit di puncak krisis Siprus 1974.

Usai kudeta militer 1980, junta berkuasa memberangus partai pimpinan Erbakan dan melarang
dia berpolitik. Erbakan muncul kembali ke dunia politik setelah referendum mencabut larangan
berpolitik bagi partai sayap kanan pada 1987.

Erbakan muncul kembali menjadi pemimpin Partai Refah (Partai Kesejahteraan). Akibat
perseteruan dua politisi konservatif Mesut Yilmaz dan Tansu Ciller, partai pimpinan Erbakan
memenangkan pemmilu pada 1995.

PREMIUM

JELAJAHI

BAGIKAN:

News Internasional

Pengawal Sekularisme, Erdogan, dan Kudeta

Sabtu, 16 Juli 2016 | 14:14 WIB

Tentara Turki berjaga dengan senjata di Taksim Square, saat sejumlah orang memprotes melawan
kudeta militer di Istanbul, Sabtu (16/7/2016) waktu setempat. Upaya kudeta terjadi pada Jumat
malam setelah militer mengeluarkan pernyataan telah mengambil alih kekuasaan untuk
mengembalikan aturan dan demokrasi di negeri itu.

Kudeta memorandum 1997

Erbakan menjadi perdana menteri pada 1996 berkoalisi dengan Partai Jalan Benar (DYP)
pimpinan Tansu Ciller.

Sebagai perdana menteri Erbakan berusaha memperbaiki hubungan Turki denga negara-negara
Arab dan menjalankan program untuk memakmurkan rakyat.
Namun, selama pemerintahan Erbakan, militer menilai Erbakan dan partainya yang berhaluan
Islam membahayakan ideologi sekular yang dianut Turki.

Pada 28 Februari 1997 para pemimpin militer Turki yang tergabung dalam Dewan Keamanan
Nasional menerbitkan memorandum yang mendesak agar Erbakan turun dari jabatannya dan
mengakhiri pemerintahan koalisi.

Dalam memorandum itu, militer Turki mendesakkan beberapa hal kepada Erbakan antara lain
memastikan pendidikan dasar delapan tahun, menutup sebagian besar madrasah yang dibuka di
masa pemerintahannya dan penghapusan berbagai kelompok keagamaan.

Setelah dipaksa mundur, pemerintah Turki juga memberangus Partai Kesejahteraan dan sekali
lagi Erbakan dilarang berkecimpung di dunia politik.

Erbakan juga dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun dan empat bulan dalam skandal yang
disebut dengan nama "Lost Trillion Case".

Kemunculan Erdogan

Meski dilarang berpolitik, Erbakan tetap menjadi guru politik bagi beberapa orang, salah satunya
adalah Recep Tayyip Erdogan. Kedua orang ini sudah saling kenal sejak Erdogan masih menjadi
mahasiswa di Universitas Marmara, Istanbul.

Sejak 1976, Erdogan bahkan sudah menjadi ketua Beyoglu, sayap kepemudaan Partai
Penyelamat Nasional (MSP) pimpinan Erbakan dan pada 1985 menjadi ketua MSP wilayah
Istanbul.

Erdogan memenangkan pemilu parlemen pada 1991 tetapi dia dilarang menduduki kursinya
sebagai wakil rakyat, diduga karena afiliasi politiknya yang berhaluan kanan.
Pada pemilihan lokal 27 Maret 1994, Erdogan terpilih menjadi wali kota Istanbul. Saat itu,
banyak yang khawatir Erdogan akan menegakkan Syariah Islam di kota itu.

Ternyata, Erdogan adalah politisi cerdas dan pragmatis. Dia mengesampingkan ideologinya dan
membenahi masalah yang dihadapi warga Istanbul misalnya kurangnya pasokan air bersih,
polusi udara dan kemacetan lalu lintas.

Selama masa pemerintahannya, semua masalah mendasar itu berhasil ditekannya, dia juga sukses
mengurangi korupsi dan mengembalikan sebagian besar utang pemerintah Istanbul sebesar dua
miliar dolar AS dan berhasil menarik investasi empat miliar dolar.

Pada 1998, Mahkamah Konstitusi Turki memutuskan Partai Kesejahteraan dinyatakan tak sesuai
dengan konstitusi karena mengancam sekularime.

Berdasar keputusan mahkamah konstitusi itu partai tersebut diberangus dan Erdogan menjelma
dari politisi menjadi aktivis unjuk rasa menentang keputusan pemerintah itu.

Pada Desember 1997, Erdogan membacakan sebuah puisi karya Ziya Gokalp, seorang aktivis
pan-Turkisme awal abad ke-20.

Dalam puisi itu Erdogan menyebut bahwa masjid adalah barak, kubah adalah helm tempyr,
menara masjid adalah bayonet dan iman adalah tentaranya.

Karena puisi aslinya tidak berbunyi seperti itu, pemerintah menangkap Erdogan karena dianggap
memicu kekerasan serta menyuarakan kebencian rasial atau agama.

Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara 10 bulan, tetapi Erdogan hanya menjalani selama
empat bulan mulai Maret hingga Juli 1999. Selain itu Erdogan juga dilarang berpolitik dan ikut
pemilihan anggota parlemen.
esuksesan reformasi ekonomi Erdogan

Pada 2001, Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang langsung
memenangkan pemilihan umum 2002 dengan merebut hampir dua per tiga kursi parlemen.

Kemenangan Erdogan kemungkinan besar terkait dengan kondisi perkonomian Turki yang
morat-marit saat itu sebagai warisan dari kudeta 1997 terhadap Erbakan.

Usai kudeta itu, Turki dibayangi kekacauan politik di mana para politisi tak bisa membentuk
pemerintahan yang kuat, ujungnya dunia internasional tak mau berinvestasi di Turki.

Krisis ini memuncak pada Februari 2001 ketika bursa saham Turki hancur, suku bunga mencapai
3.000 persen dan nilai tukar lira Turki terhadap dolar jatuh amat drastis. Saat itu satu dolar AS
setara dengan 1,5 juta lira Turki.

Alhasil dalam delapan bulan pertama 2001, sebanyak 14.875 lapangan pekerjaan hilang dan bank
sentral Turki kehilangan 5 miliar dolar AS karena banyaknya warga Turki yang menukarkan
uangnya dengan dolar AS.

Itulah kondisi ekonomi yang diwarisi Erdogan saat menduduki jabatan perdana menteri pada
2002. Sama seperti saat menjadi wali kota Istanbul, Erdogan melakukan hal terpenting terlebih
dahulu yaitu memperbaiki perekonomian Turki.

Dan Erdogan terbukti sukses memperbaiki ekonomi Turki. Saat pertama kali menjadi perdana
menteri, Erdogan mewarisi utang ke IMF sebesar 23,5 miliar dolar AS dan pada 2012, utang
tersebut tersisa 900 juta dolar AS.
Demikian juga dengan cadangan devisa Turki. Pada 2002, bank sentral Turki hanya memiliki
cadangan devisa sebesar 26,5 miliar dolar AS. Jumlah itu meningkat hingga 92,2 miliar AS pada
2011.

Pada 2012, Turki memiliki rasio utang terhadap GDP yang terendah dari 21 anggota Uni Eropa
dan defisit anggaran terkecil dari 23 anggota Uni Eropa.

Prestasi Erdogan lainnya adalah meningkatkan jumlah universitas di Turki, menambah jumlah
bandara, menambah jumlah jalan tol, menambah rel kereta api dan kini tengah membangun jalur
kereta api cepat.

Selain itu, pemeirntahan Erdogan juga membangun terowongan Marmaray di bawah Selat
Bosphorus yang menghubungkan sisi Eropa dan Asia kota Istanbul.

Berbagai keberhasilan ini membuat Turki kini menjadi salah satu negara dengan perekonomian
yang diperhitungkan di dunia.

Kesuksesan ini pula membuat Erdogan tetap mendapatkan dukungan besar dari rakyat, bahkan di
saat perekonomian Turki menurun pada 2014 dengan angka pertumbuhan hanya 2,9 persen dan
angka pengangguran meningkat di atas 10 persen.

Tinggalkan sekularisme?

Yakin dengan dukungan rakyat ini, Erdogan terpilih menjadi presiden pada 2013 dan kemudian
memperbesar wewenang presiden yang selama ini hanya sebatas peran seremonial.

Di masa pemerintahannya, pemerintah Turki mulai sedikit demi sedikit mencabut berbagai
larangan yang diberlakukan pemerintah Turki yang sekular.
Pada 2013, Erdogan mencabut larangan mengenakan jilbab di ruang publik dan institusi
pemerintahan, kecuali di institusi hukum, militer dan kepolisian.

Para lawan politik Erdogan, menuduh pria kelahiran 1954 itu tengah berupaya mengubah Turki
dari sebuah negeri sekuler menjadi negeri dengan asas Islam.

Upaya Erdogan melarang minuman beralkohol hingga keputusan Erdogan tetap memerangi etnis
Kurdi yang melawan ISIS, dianggap sebagai pertanda Turki akan meninggalkan sekularisme.

Tak hanya itu, Erdogan juga dianggap mulai menjadi pemimpin otoriter, salah satunya dengan
membangun istana megah di ibu kota Ankara.

Istana yang dinamai Ak Saaray atau Istana Putih itu berdiri di atas sebuah bukit dan memiliki
1.000 kamar. Bangunan ini jauh lebih besar dari Gedung Putih atau Kremlin dan didirikan
dengan biaya 615 juta dolar AS.

Erdogan berulang kali membantah tuduhan bahwa dia akan menggiring Turki meninggalkan
sekularisme warisan Kemal Ataturk dan membantah dia kini menjadi seorang pemimpin otoriter.

Meski demikian, kekhawatiran bahwa Turki akan menjadi negara sektarian tak bisa hilang begitu
saja, terutama dari benak para penjaga ideologi.

Kekhawatiran inilah yang kemungkinan menjadi dasar sebagian anggota militer Turki
memutuskan, untuk melakukan kudeta seperti pernah dijalankan para senior mereka di masa lalu.

Bedanya, militer Turki sekarang tak satu suara dalam hal ini bahkan panglima militer negeri itu
sudah menegaskan akan memberantas para pembangkang.
Namun, hal yang paling berpengaruh adalah dukungan rakyat yang sangat besar terhadap
Presiden Erdogan.

Keberanian rakyat turun ke jalan menghadapi militer yang bersenjata lengkap menjadi faktor
terpenting kegagalan kudeta militer keempat dalam sejarah Turki modern.

Perbedaan Budaya Turki-Indonesia

October 07, 2017

Sebagai seorang Indonesia yang sudah tinggal di Turki selama kurang lebih 4 tahun aku memang
tidak sepenuhnya mengerti tentang kebudayaan yang masih lestari dikalangan masyarakat Turki.
Ditambah lagi lingkungan asrama mahasiswa dan lingkup pertemanan dengan orang Turki yang
tidak cukup "dekat" membuat aku hanya sanggup melihat kebudayaan umum yang tidak perlu
aku selami.

Beberapa budaya Turki yang berbeda dari budaya Indonesia.

(Kalian akan menemukan hal ini ketika menginjakkan kaki ke setiap sudut Turki tanpa harus
menunggu hidup disini selama bertahun-tahun)

1. Makanan

Nah ini poin paling penting. Tidak bisa dipungkiri hal pertama yang sering jadi pertimbangan
untuk bertahan hidup di negeri orang atau bahkan ketika akan melancong selama beberapa hari
adalah makanannya. Meskipun banyak yang mengira Turki bagian dari timur tengah dengan
kemiripan makanannya nyatanya Turki juga tidak lepas dari "keberatannya". Makanan pokok di
Turki adalah roti. Jangan pernah berharap ada nasi. Beras memang ada tapi mereka akan
menyajikannya untuk makan siang atau malam dan harus diingat bahwa masakan beras mereka
atau nasi ala Turki jauh berbeda dari nasi yang biasa kita santap di Indonesia. Nasi disini diolah
bersama minyak dan juga garam.
Nasi kebuli? Ada beberapa nasi yang modelnya seperti nasi kebuli tapi nasi "biasa" yang akan
disajikan kurang lebih bentuknya adalah nasi+minyak+garam.

2. Minuman

Pernah dengar ayran? Yah, minuman orang Turki yang sering jadi bahan becandaan anak baru
Indonesia yang datang ke Turki. Campuran yogurt, air dan garam membuat rasa olahan susu ini
kurang lebih seperti susu basi. Tapi tenang, lama-lama kalian akan terbiasa dengan minuman ini.

Oh iya, jangan berharap Turki punya minuman seperti es cendol, sup buah apalagi dawet ayu
yah!

3. Pernikahan ala Turki

Kadang aku suka bingung kalau ditanya tentang pernikahan ala Indonesia karena kita punya adat
berbeda disetiap daerah. Berbeda halnya dengan Turki yang memang ada tradisi tiap daerah tapi
kurang lebih mereka punya garis merah yang sejajar. Pernikahan ala Turki diawali dengan malam
kena dimana calon pengantin wanita berkumpul dengan saudara/teman wanitanya. Mereka akan
mengenakan kutek pacar, menari bersama dan memberian emas dari calon mertua kepada calon
pengantin wanita. Nah! Pernikahan ala Turki tidak akan pernah lepas dari "menari". Kalau di
Indonesia identik dengan hiasan yang mewah dan jajaran makanannya sedangkan pernikahan
Turki tampah lebih sederhana tapi selalu ramai dengan lagu dan tarian.

4. Cara Memberi Salam

Cium tangan hanya berlaku untuk anak muda kepada orang yang sangat tua atau yang di
agungkan. Misalnya dari cucu kepada kakek. Itupun dilakukan juga dengan waktu atau keadaan
tertentu. Misalnya kita sudah lama tidak berjumpa dan itu dilakukan kepada orang yang sudah ia
kenal. Sedangkan di Indonesia, meskipun kita tidak mengenal secara langsung tapi ketika kita
diperkenalkan dengan orangtua apapun gelar/kedudukannya kita secara refleks akan mencium
tangannya. Selain itu juga aku jarang lihat anak-anak berangkat sekolah lalu mencium tangan
kedua orangtuanya sedangkan di Indonesia hal itu sampai diajarkan di sekolah.

Mungkin kurang lebih itu yang bisa aku tuliskan sekarang. Sebenarnya tanpa disadari masih
banyak perbedaan budaya antara Indonesia dan Turki. Tapi apapun itu bedanya yang harus kita
garis bawahi disini adalah kita harus saling menghormati kan. Meskipun kebudayaan yang lain
terasa aneh bagi kita tapi hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengoloknya. Dan sebagai
seorang yang sudah memilih untuk hidup di Turki dengan kurun waktu tertentu, sudah jadi
kewajiban kita untuk beradaptasi dengan budaya yang ada disini. Ingat, "dimana bumi dipijak
disitu langit dijunjung"