Anda di halaman 1dari 2

Nama : Silmi Agustin

NIM/ Kelas : B200160365/ Kelas H

Matakuliah : Etika Profesi dan Bisnis Syariah

Kasus “ Dugaan Korupsi VLCC”

Pertanyaan

1. Menurut Anda, siapakah yang disebut dengan pemegang saham dari PT. Pertamina tersebut?
2. Menurut Anda, apakah tindakan Direksi dan Komisaris Pertamina diatas dapat dibenarkan
bila dilihat dari UU PT?
3. Menurut Anda siapa yang seharusnya berwenang untuk memutuskan divestasi aset Pertamina
tersebut?
4. Mengapa kasus seperti penjualan VLCC pada perusahaan Pertamina itu dapat muncul dan
sering menimpa perusahaan BUMN?
5. Coba pelajari berbagai peraturan tentang penjualan aset BUMN dan berikan pendapat anda
bagaimana seharusnya menurut prinsip-prinsip penerapan GCG?

Pembahasan

1. Menurut saya pemegang saham dari PT Pertamina adalah Pemerintah Republik Indonesia.
Hal ini berdasarkan Pasal 60 Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi (UU Migas) jo. PP. No. 31 Tahun 2003 tertanggal 19 Juni 2003 (PP Pertamina),
Pertamina beralih bentuk menjadi PT Persero yang seluruh sahamnya dimiliki oleh Negara.
Jadi, Pertamina hanya sebuah BUMN yang bertugas mengelolah penambangan minyak dan
gas bumi di Indonesia yang 100% kepemilikan sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Republik
Indonesia, melalui Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaku Kuasa
Pemegang Saham.
2. Menurut saya bila dilihat dari UU PT hal tersebut dapat dibenarkan. Hal ini sejalan dengan
fakta yang ada bahwa Pertamina yang sebelumnya adalah Persekutuan Perdata pada tahun
2003 telah diubah menjadi Perseroan Terbatas. Berkaitan dengan hal tersebut maka
Pertamina harus tunduk pada UU Perseroan Terbatas. Sehingga setiap penjualan aset (bukan
saham) cukup dengan persetujuan Komisaris lewat Rapat Umum Pemegang Saham.
3. Menurut saya yang berwenang untuk melakukan divestasi aset Pertamina adalah Direksi
karena Direksi yang bertanggung jawab menyusun strategi bisnis, anggaran dan rencana
kerja sesuai dengan visi, dan misi perusahaan serta RKAP dan RJPP. Direksi juga
bertanggung jawab terhadap struktur pengendalian internal dan penerapan manajemen risiko
dan praktek-praktek tata kelola perusahaan yang baik. Direksi memastikan praktek akuntansi
dan pembukuan perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, memberikan perhatian
pada pelaksanaan audit internal, melakukan tindak lanjut yang diperlukan sesuai arahan
Dewan Komisaris dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Menurut saya penerapan tata kelola yang kurang baik oleh pihak perusahaan Pertamina
menyebabkan hubungan antara perusahaan dengan pihak stakeholder tidak berjalan dengan
semestinya dimana hal ini menyebabkan adanya kasus penjualan VLCC yang tidak
transparan. Hal ini menimbulkan kontroversi karena penjulan VLCC tersebut hanya
diketahui oleh pihak Direksi dan Dewan Komisarisnya saja, tanpa memberitahukan terlebih
dahulu kepada pihak Stakeholder yang lainnya.
Seharusnya pihak pertamina menggunakan GCG (Good Coorporate Governance) yang
digunakan untuk mengatur hubungan antara pihak Stakeholder dengan para Direksi sehinga
tercipta tata kelola perusahaan yang baik.
5. Menurut Peraturan Menteri Negara BUMN nomor PER – 02/MBU/2010 bagian kedua
tentang penjualan pasal 5,6 dan7, menyatakan bahwa pemindahtanganan dengan cara
Penjualan dapat dilakukan apabila memenuhi persyaratan, penjualan dilakukan sepanjang hal
tersebut memberikan dampak yang lebih baik bagi BUMN, penjualan dapat dilakukan
dengan cara Penawaran Umum, Penawaran Terbatas, dan Penunjukan Langsung. Sesuai
dengan prinsip GCG, Komisaris serta Direksi harus bersikap profesionalisme untuk
menyelamatkan perusahaan dalam keadaan apapun dan melakukan aktivitas ekonomi sesuai
dengan memperhatikan aspek indepedensi dan profesionalitas agar menghasilkan dampak
positif bagi perusahaan.