Anda di halaman 1dari 3

LATAR BELAKANG

Pada zaman sekarang ini globalisasi menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Salah
satu dampak dari globalisasi adalah munculnya berbagai macam problematika yang dialami
oleh peserta didik. Peserta didik dalam kehidupannya selalu menghadi masalah yang silih
berganti. Apabila satu masalah diatasi maka masalah lain akan muncul, demikian seterusnya.
Masalahnya pun dapat bermacam-macam seperti masalah bidang pribadi, sosial, belajar,
maupun karir. Masalah-masalah tersebut apabila tidak segera diatasi dapat mengganggu
aktivitas belajar siswa serta menghambat pemenuhan tugas perkembangan.

Peserta didik sebagian besar adalah remaja yang memiliki karateristik, kebutuhan, dan
tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhinya. Tugas-tugas perkembangan tersebut
harus dikuasai oleh peserta didik secara optimal. Untuk pencapaian kompetensi siswa secara
optimal diperlukan kerja sama yang baik antara manajemen/supervisi, pengajaran dan
bimbingan dan konseling yang merupakan tiga pilar pendidikan (Achmad Juntika Nurihsan,
2005: 1-2). Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru, antara lain
dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referral). Masalah-masalah perkembangan peserta
didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk
penanganannya, demikian pula masalah yang ditangani konselor dirujuk kepada guru untuk
menindaklanjutinya apabila itu terkait dengan proses pembelajaran bidang studi. (Sunaryo
Kartadinata, 2007: 7)

Peserta didik atau konseli sebagai seorang individu yang sedang dalam proses
berkembang, yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian untuk memenuhi tugas
perkembangannya. Untuk memenuhi tugas perkembangannya tersebut diperlukan bimbingan
karena peserta didik masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan
lingkungannya maupun pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Selain itu, proses
perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara baik atau tanpa masalah. Dengan kata
lain, proses perkembangan tidak selalu berjalan dengan baik searah dengan harapan.

Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan baik fisik, psikis maupun
sosial. Iklim lingkungan kehiduan yang kurang sehat, seperti maraknya tayangan pornografi
di internet atau sosial media, minuman keras, penggunaan obat-obat terlarang atau narkoba
dan ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga sangat mempengaruhi pola perilaku atau
gaya hidup konseli. Hal itu dapat dilihat dari wawancara yang dilakukan oleh kami, beberapa
peserta didik mengatakan bahwa dirinya mengalami masalah di rumah seperti Broken Home.
Menurut Willis Broken home dapat dilihat dari dua aspek yaitu keluarga itu terpecah karena
strukturnya tidak utuh sebab salah satu dari kepala keluarga itu meninggal atau telah bercerai
dan orang tua tidak bercerai akan tetapi struktur keluarga itu tidak utuh lagi karena ayah atau
ibu sering tidak dirumah,dan atau tidak memperlihatkan hubungan kasih sayang lagi (dalam
Oetari Wahyu Wardhani: 2016). Masalah yang dialami oleh peserta didik tersebut di rumah
menyebabkan anak tersebut tidak nyaman berada di rumah dan seringkali memilih pergi dari
rumah. Hal tersebut yang menjadi penyebab anak memilih untuk bersekolah di SMK Ki
Ageng Pemanahan. SMK ki Ageng Pemanahan merupakan sekolah dengan asrama. Anak
memilih untuk bersekolah di sekolah berasrama sehingga dirinya tidak bertemu dengan orang
tuanya yang sering bertengkar di rumah.

Dengan demikian diperlukannya layanan bimbingan dan konseling di SMK Ki Ageng


Pamenahan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi peserta didik dan mengganggu
proses pemenuhan tugas perkembangannya sehingga peserta didik dapat memnuhi tugas
perkembangannya secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA

Nurihsan, Achmad. 2015. Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT Refika
Aditama

Kartadinata, Sunaryo. et al. 2007. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konsling


dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta : Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan
dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional

Wardhani, Oetaari W. 2016. Problematika Interaksi Anak Keluarga Broken Home di Desa
Banyuroto, Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta. Yogyakarta: FIP UNY