Anda di halaman 1dari 12

T R A D I S I

Tradisi adalah setiap pengajaran dan lain daripada kata-kata Kitab Suci yang telah dipercayakan pada
kita melalui Para Rasul dan Para Bapa Gereja. Dan Pengajaran ini adalah merupakan subjeck atau hal-hal
yang mungkin tidak dimasukkan kedalam Kitab Suci namun meskipun demikian tidaklah kontradiksi
dengan apa yang terdapat dalam Kitab Suci.

Terkait dengan Tradisi ini saudara-saudara kita Protestant tidaklah mau mempercayai. Mereka hanya
bersembunyi dan percaya Alkitab saja dan tidak ada yang lain. Karena pandangan seperti inilah secara
tidak sadar mereka telah mengabaikan dan mengeluarkan warisan yang Gereja telah terima dari
Generasi sebelumnya yaitu : Tulisan-tulisan Para Rasul dan Para Bapa Gereja, Keputusan-keputusan
Konsili-Konsili Kudus, kanon-kanon Gereja dan ketetapan-ketetapannya, Ritual-ritual Gereja dan Tradisi
Lisan.

Tradisi itu lebih tua daripada Kitab Suci. Dan Hal tersebut dapat mengembalikan kita pada zaman
Bapa Kita Adam

Pada hukum tertulis terawal yang telah sampai pada kita itu telah ditulis oleh Js. Musa Sang Nabi pada
abad 15 dan 14 sebelum masehi. Akan tetapi Tradisi ini jauh lebih tua daripada itu. Ribuan tahun telah
berlalu sebelum ada hukum apapun yang tertulis, siapakah yang membimbing pikiran-pikiran manusia ?
Kesadaran mereka tentang hukum moral pada satu sisi dan Tradisi yang dipercayakan dari satu Generasi
pada Generasi berikutnya pada sisi yang lain, itu telah ada.

Kita akan mencoba untuk memberikan beberapa contoh-contoh tentang Tradisi yang telah mendahului
hukum yang tertulis :

1). Di dalam Kitab Kejadian itu, tertulis bahwa Habil Sang Orang benar itu telah membawa persembahan
korban dari anak sulung kambing dombanya, yaitu lemak-lemaknya (Kej 4:4). Sang Rasul menjelaskan
hal ini dan mengatakan : “Oleh Iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah suatu korban yang
lebih baik daripada korban kain “ ( Ibr 11:4). Dari sini hal yang perlu kita tanyakan adalah, Bagaimana
Habil telah mengetahui ide tentang korban persembahan kepada Allah ? Dari manakah ia memperoleh
iman seperti itu ? Padahal pada zamannya tidak ada hukum yang tertulis, dengan demikian tidak dapat
disangsikan lagi bahwa dia mendapatkan ide tetang hal tersebut adalah melalui “TRADISI” yaitu dari
bapanya yaitu Adam yang telah menerimanya dari Allah itu sendiri. Ini telah telah terjadi 14 abad
sebelum Musa menulis tentang persembahan dan korban bakaran.

2). Hal yang sama menunjuk pada korban-korban bakaran yang dipersembahkan oleh para bapa : Nuh,
Abraham, Ishak dan Yakub. Mereka telah mengetahui tentang ide persembahan melalui Tradisi yang
telah dipercayakan pada mereka. Hal yang sama juga dikatakan tentang ide Bangunan Mezbah. Setelah

TRADISI Page 1
Air Bah, bapa kita Nuh “Telah membangun sebuah Altar (Mezbah) bagi Tuhan” ( Kej 8:20), dan bapa kita
Abraham telah membangun sebuah altar (Mezbah) di dekat pohon terbantin di more (Kej 12:7). Ide
tentang bangunan Altar ini terus dilanjutkan meskipun tidak ada Kitab Suci pada waktu perintah itu
dilaksanakan.

3). Hal ini tertulis dalam Kitab Suci bahwa bapa kita Nuh telah mengambil beberapa binatang bersih dan
burung-burung dan telah mempersembahkan suatu korban bakaran diatas altar dan Tuhan telah
memcium bau yang harum (Kej 8:20.21). Bagaimana Js. Nuh telah mengetahui ide tentang korban
persembahan akan binatang yang bersih ? He telah menmdapatkannya secara langsung dari Tuhan dan
kemudian telah mempercayakannya pada generasi berikutnya setelah dia, sebelum Musa telah
menerangkan ide tentang binatang-binatang bersih dalam kitab Taurat.

4). Di dalam peristiwa pertemuan bapa kita Abraham dengan Melkisedek, tertulis bahwa Melkisedek itu
“adalah Imam dari Allah yang Mahatinggi” (Kej 14:18). Bagaimana dilembagakan keimaman ini ?
Siapakan yang telah memberi Melkisedek Otoritas untuk memberkati Abraham dan hukum apa yang
telah membuat Abraham mempersembahan persepuluhan yang ia punya pada Melkisedek ? (Kej 14:20).
Jadi Melkesedek dipandang lebih besar daripada Abraham ( Ibrani 7:6,7).

Pada saat itu apa yang dinamakan dengan hukum tertulis yang menjelaskan tentang keimaman tidaklah
ada , juga termasuk kehormatannya, tugas2nya dan juga memberkati orang lain. Dalam Pasal –pasal
sebelumnya dari Kitab Kejadian tidak menyebutkan apapun tentang kata-kata :” Imam atau Keimanan”.
Terus dari manakah pengetahuan tentang keimaman itu, kalau tidak melalui Tradisi ?

5). Dalam Episod yang sama akan pertemuan Abraham dengan Melkisedek, kita mendengar “Berilah dia
persepuluhan dari semuanya” (Kej 14:20). Bagaimana hal ini diketahui oleh bapa kita Abraham sehingga
mempersembahkan persepuluhan kepada seorang imam, bukankah ini dari Tradisi ?. karena Hukum
persepuluhan ini belumlah diterima dalam hukum tertulis.

Ini juga mengacu pada bapa kita Yakub : Bagaimanakah dia mengetahui ide tentang memberi
persepuluhan saat ia berkata pada Tuhan : “…. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan
selalu kupersembahkan sepersepuluh kepadaMu “ ( Kej 28:22) ? Tidak ada hal yang perlu untuk
diragukan lagi bahwa yakub mengetahui ide tentang persepuluhan ini dari Tradisi, dari leluhurnya
Abraham yang telah mempersembahkan perpuluhan kepada Melkisedek tanpa menerimanya dari suatu
hukum tertulis sama sekali. Dengan demikian jelas bahwa Tradisi adalah guru dari semua umat manusia
sebelum adanya hukum tertulis dan tetap tinggal selamanya.

TRADISI Page 2
6). Kita telah membaca saat Yakub melarikan diri Esau saudaranya hingga he telah melihat sebuah
tangga yang menjulur dari bumi ke sorga, sementara para malaikat Allah naik turun atasnya, dan Tuhan
telah berbicara kepada dia dan telah member dia suatu janji. Kitab Suci mengatakan bahwa Yakub
berbicara : “ Sesungguhnya Tuhan ada didalam tempat ini, tidak ada lain daripada ini adalah rumah
Allah, dan ini adalah gerbang sorga”. Dan ia menyebut tempat itu “Bethel, yang berarti “Rumah Allah”
dengan menumpahkan minyak diatasnya mengingat tidak ada hal yang semacam ini telah diberikan
dalam sebuah hukum yang tertulis. Kalau itu tidak ada dalam hukum yang tertulis, maka tidak ada
penjelasan yang dapat diberikan kecuali melalui Tradisi.

7). Ketika Allah telah memberikan hukum tertulis Ia telah berkehendak bahwa Tradisi itu tetap tinggal
juga. Ia telah memerintahkan para leluhur pada setiap kesempatan untuk mempercayakan pengajaran-
pengajaran ini pada anak-anak mereka. Tuhan telah memperintahkan mereka untuk menginformasikan
pada anak-anak mereka pada setiap kesempatan untuk mempersembahkan pada Tuhan anak sulung
dari setiap kandungan ( Kel 13:14-16). Tuhan juga berkata : “ Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah,
supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan
semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada
cucu cicitmu semuanya itu” ( Ulangan 4:9).

8). Bahkan dalam kekristenan, kita menemukan bahwa beberapa penulis Perjanjian Baru telah menulis
informasi tetang peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama yang mereka telah terima melalui Tradisi, suatu
contoh : Js. Paulus Sang Rasul telah menyebutkan nama dari dua penyihir yang telah menentang Sang
Nabi. Ia mengatakan : “Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka
menentang kebenaran…” ( 2 Tim 3:8). Kita tidak dapat menemukan nama dari dua penyihir ini baik
dalam Kitab-kitab Musa atau tulisan-tulisan nabi lain dari Kitab Perjanjian Lama. Sang Rasul Paulus
mengetahui nama-nama ini melalui Tradisi.

9). Pengambil alihan Tradisi yang terjadi dalam Perjanjian Lama itu, terjadi kembali dalam Perjanjian
Baru, namun hal itu lebih kurang dan tidak seperti dalam Perjanjian Lama. Lama telah hilang sebelum
adanya Injil atau Surat apapun yang tertulis. Karena suatu periode kira-kira 20 tahun umat telah
menerima segenap iman, segenap cerita tentang Yesus beserta dengan pengajaranNya , penebusanNya
melalui Tradisi.

10). Tuhan Yesus Kristus tidak menulis suatu Injil dari DiriNya sendiri, pun tidak meninggalkan suatu Injil
yang tertulis, namun Dia telah berkotbah, mengajar dan meninggalkan kata-kataNya sebagai Roh dan
Kehidupan (John 6:63) bagi umat yang kemudian menyebarkannya. Saat Tuhan telah memulai
pengajaran dan kotbahNya, Ia berkata pada mereka :”Waktunya telah genap, kerajaan Allah telah dekat.
Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mark 1: 15). Tidak ada Injil tertulis (Kabar baik), namun ada
pemberitaan (Kotbah) tentang Kabar Baik yang menghadirkan Injil Lisan atau pengajaran Illahi yang
diajarkan melalui pengambil-alihan. Arti yang sama menunjuk pada kata-kata Tuhan pada para
muridNya : “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk” ( Mark 16:15). Perintah
itu tidak ada didalam batas yang tertulis.

TRADISI Page 3
11). Disini kami akan katakan suatu fakta yang penting bahwa Kitab Suci tidaklah menyebutkan segala
sesuatu.

a). Kitab Suci tidak menyebutkan semua yang Tuhan Yesus Kristus lakukan atau semua yang Ia telah
katakan. Apa yang telah terjadi adalah bahwa para Penginjil telah memilih bagian-bagian kata-kata
Yesus dan bagian-bagian karyaNya, telah mencatatnya pada waktu tertentu bagi umat dan
meninggalkannya. Ini jelas terlihat dari Injil terakhir Js. Yohanes yang mengatakan : “masih banyak hal-
hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu persatu, maka
agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh 21:25) dan juga
“memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-muridNya, yang tidak
tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum disini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa
Yesuslah Mesias Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya” ( Yoh
20:30-31).

Jangan berpikir bahwa tanda-tanda mujijat yang Tuhan Yesus Kristus telah lakukan itu hanya mereka
sebutkan dalam Alkitab, ribuan Mujijat banyak yang tak dicatat. Untuk membuktikan ini, cukup untuk
menyebut kata-kata Js. Lukas Sang Penginjil bahwa : “Ketika matahari terbenam, semua orang
membawa kepadaNya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun
meletakkan tanganNya atas mereka masing-masing dan mereka menyembuhkan mereka” (Luk 4:40).

Berapa banyak mereka yang sakit ? Mereka yang sakit itu terlalu banyak. Namun tidak semua mujijat
kesembuhan itu telah dicatat. Guru kita Js. Matius Sang Penginjil mengatakan : “Yesuspun berkeliling di
seluruh Galilea, Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat serta melenyapkan segala penyakit dan
kelemahan di antara bangsa itu ( Mat 4:23)

Bagaimana rincinya peristiwa-peristiwa penyembuhan setiap penyakit itu ? Itu semua tak tercatat.
Bagaimana dengan pengajaran-pengajaran Tuhan dalam sinagoga-sinagoga dan kotbahNya itu ? Itupun
juga tidak tercatat. Guru kita Js. Markus Sang Penginjil mengatakan bahwa “saat Tuhan Yesus pergi ke
Kapernaum, Ia masuk kedalam sinagoga dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaranNya,
sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” Markus 1:21-22).
Pengajaran apakah yang telah membikin mereka takjub ? jawababnya itu tidaklah tercatat

Di dalam Mujijat lima ketul roti dan dua ekor ikan itu, Tuhan Yesus sedang mengajar umat dari pagi
sampai siang hari. Apakah yang Dia ajarkan ? jawabannya adalah bahwa tidak ada satu catatan apapun
yang menyebutkan pokok ajaran yang Yesus ajaran saat itu di dalam injil. Ajaran-ajaran apakah yang
Yesus telah ajarkan ketika berada di pinggir danau, di pantai , diatas sebuah perahu dan pada perjalanan
? Jawabannya sekali lagi, kita sama sekali tidak mengetahui apa-apa karena Injil juga tidak
menyebutkannya.

b). Setelah kebangkitan Tuhan, kita menemukan akan situasi yang sama. Tuhan telah bertemu dua
murid dari Emmaus, dan “lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam
seluruh kitab suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi” (Lukas 24:27). Semua
pengajaran ini dan lain-lain tidaklah tercatat dalam Injil. Namun tidak dapat disangsikan lagi beberapa
dari ajaran itu telah sampai pada kita melalui Tradisi.

TRADISI Page 4
c). Bagaimana dengan 40 hari Tuhan menghabiskan waktunya dengan para muridNya setelah
kebangkitanNya, terkait dengan pembicaraan pada mereka tentang hal-hal yang berhubungan dengan
Kerajaan Allah ( Kis 1:3) ?

Apa kata-kata Tuhan bentang hal-hal yang menyinggung akan Kerajaan Allah ?

Tidaklah dapat disangsikan lagi bahwa kata-kataNya itu demikian penting, karena itu sangatlah perlu
bagi Dia untuk mengadakan banyak pertemuan dengan para rasulNya setelah kebangkitanNya, namun
meskipun demikian penting kata –kata yang ditujukan pada para muridNya itu, tetapi hal tersebut
tidaklah tercatat dalam Kitab Suci. Barangkali kata-kata itu adalah masalah yang terpokus para
pemimpin Gereja, bagi mereka untuk mengerti dan mengajar serta mengikuti kata Tuhan : “Ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadaMu..( Mat 28:20), tanpa
menyebutkan apakah perintah-perintahNya itu pada mereka.

Apakah pengajaran-pengajaran dan perintah-perintah dari Tuhan Yesus itu telah dihilangkan atau telah
sampai pada kita ? Terlalu jauh untuk percaya bahwa ajaran-ajaran itu telah dihilangkan mengingat
ajaran-ajaran itu sangatlah penting. Bagaimana ajaran-ajaran itu kemudian sampai pada kita ? Dengan
suatu pengecualian Sang Rasul Paulus yang adalah salah satu dari sebelas rasul yang tidak hadir dalam
pertemuan Tuhan dengan para muridNya setelah kebangkitanNya, sebelas murid yang denganNya
Tuhan telah menghabiskan waktunya selama 40 hari setelah kebangkitanNya, telah menulis terlalu
sedikit dan apa yang mereka tulis itu meliputi semua pengajaran Kristen. Ada satu penjelasan dan ini
adalah pengajaran Tuhan Yesus Kristus pada para rasulNya yang telah sampai pada kita melalui Tradisi
yaitu melalui Suksesi apostolik

Gereja telah menghidupi ajaran-ajaran ini sesuai dengan kata Tuhan : “Perkataan-perkataan yang
Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” ( Yoh 6:63). Para Rasul telah mengerti roh dari kata-kata
dan telah mencatat ajaran-ajaran itu kedalam kehidupan dan kata-kata ini telah sampai pada kita dalam
kehidupan Gereja.

Karena itu kita dapat mengatakan bahwa Tradisi itu adalah Kehidupan Gereja atau Ini adalah Gereja
yang hidup itu sendiri. Para Rasul telah mempercayakan kehidupan ini bersama-sama dengan semua
yang mereka telah pelajari dan terima dari Tuhan, pada para orang kudus didalam Gereja. Akan tetapi
mereka tidak menuliskannya didalam Injil atau surat-2 epistel , namun mereka telah meninggalkannya
sebagai praktik-praktek hidup dan pengajaran-pengajaran dalam kehidupan Gereja. Diantara
pengajaran-pengajaran itu adalah disiplin Gereja, ritual-ritual dan Sakramen-Sakramen.

Apakah kamu berpikir bahwa Kotbah di atas Gunung adalah satu-2nya kotbah dari Tuhan selama lebih
dari tiga tahun ? Ini sungguh sangat luar biasa. Kata-kata Tuhan itu tidaklah keluar dengan sia-sia,
namun para muridNya itu menjaganya didalam hati, telinga dan pikiran mereka. Dari harta karun hati
mereka yang baik, dari ingatan kudus mereka, mereka telah memuncul-sampaikan kata-kata Tuhan itu
dan mempercayakannya pada Gereja dibawah payung Tradisi dan Suksesi Apostolik. Sang Roh Kudus
telah mengajar mereka segala sesuatu dan mengingatkan mereka tentang segala sesuatu yang Tuhan
telah katakana sesuai dengan janji sejatiNya ( Yoh 14:26).

TRADISI Page 5
Tradisi diambil dari pengajaran Para Rasul

Banyak para rasul yang tidak menulis surat/epistle. Kalau begitu dimanakah pengajaran mereka ?
Dimanakah karya inspirasi kudus dari diri mereka ? Dimanakah karya Sang Roh kudus yang berbicara
melalui diri Para Nabi ? Jelas tidak mungkin bahwa beberapa dari para rasul itu telah mengajar hanya
pada apa yang mereka tulis. Tidak mungkin juga bahwa pengajaran Rasul Yakobus itu hanya terbatas
pada satu surat , demikian halnya dengan Yudas Sang Rasul tidaklah mungkin telah mengajar hanya
pada satu pasal. Bagaimana dengan sisa dari sebelas Rasul, kita tidak menerima sama sekali pengajaran
atau satu katapun dari mereka ? Apakah mereka berkotbah ?, Apakah mereka pergi karena Gereja ?
Barangkali sebagaian besar pengajaran mereka itu, atau sebagian besar pengajaran darinya itu, telah
sampai pada kita melalui Tradisi.

Para Rasul seharusnya masuk ke Sinagoga untuk mengajar dan berselisih melawan para oposisi, akan
tetapi tidak satupun darinya dituliskannya. Mereka telah berkotbah di Yerusalem, Yudea dan Samaria
sampai setiap orang telah percaya, namun hanya sedikit dari apa yang mereka kotbahkan itu tercatat
dalam tulisan. Sang Rasul Paulus telah memasuki sebuah rumah di Roma dimana ia telah tinggal selama
dua tahun memberitakan tentang Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus dengan
gagah berani dan tanpa halangan (Kis 28:30,31). Tidak satupun dari kotbah itu telah sampai pada kita
dalam bentuknya yang tertulis, kalau begitu kemanakah perginya semua kotbah dan ajaran itu ?

Tidak dapat disangsikan lagi Para Rasul telah meletakkan fondasi tentang disiplin-disiplin bagi Gerteja
. Disiplin apakah itu ?

Apakah tidak wajar untuk menganggap bahwa Para Rasul Tuhan setelah menerima semua pengajaran-
pengajaran itu dari Tuhan, telah meninggalkan Gereja tanpa disiplin –disiplin apapun atau hukum-
hukum untuk membimbing urusan-urusannya. Karena Mereka tidak menulis ini dalam surat-2nya baik
karena hal-hal itu bukan untuk dikonsumsi umum maupun mereka akan dikenal oleh semua orang
melalui praktek hidup mereka. Yang jelas dan tidak dapat disangsikan lagi disiplin-disiplin itu telah
sampai pada kita melalui Tradisi dan Suksesi Rasuliah.

Js. Yohanes Sang Rasul mengatakan dalam pembukaan dari suratnya : “Sesungguhnya banyak yang
harus kutulis kepadamu, aku tidak mau melakukannya dengan kertas dan tinta, namu aku berharap
dating sendiri kepadamu dan berbicara berhadapan muka…” (2 Yoh 12). Ia telah mengulang kata-kata
yang sama dalam pembukaan dari suratnya yang ketiga (3 Yoh 13,14). Apakah isi dari dialog berhadapan
muka ini ? Dan mengapa hal tersebut tidak ditulis ? Bagaimana hal tersebut telah sampai pada kita ?

Dari catatan diatas dalam 2 surat itu, kita memberitahukan bahwa Para Bapa Rasuliah kadang lebih suka
berbicara untuk menulis kapanpun hal ini enak dan nyaman untuk mereka. Pengajaran – pengajaran
lisan telah dipercayakan dari satui generasi ke generasi berikutnya sampai ajaran-ajaran itu sampai pada
kita saat ini dan hari ini.

Barangkali Para rasul telah berkonsentrasi dalam surat surat mereka mengenai prinsip-prinsip pokok
tentang iman sebanyak yang mereka telah dapat dan tinggalkan secara detail akan disiplin-disiplin dan
ritual-ritual bagi pengaturan-pengaturan praktek di dalam Gereja-Gereja> Umat telah sedang

TRADISI Page 6
mempelajari tentang hal-hal ( disiplin-disiplin dan ritual-ritual dll) tidak dari buku-buku tertulis namun
melalui praktek dan kehidupan Sakramen.

Js. Paulus Sang Rasul mengatakan dalam suratnya yang pertama pada jemaat Korintos :”…supaya jangan
kamu berkumpul untuk dihukum. Hal-hal yang lain akan kuatur kalau aku dating” ( 1 Kor 11:34). Apakah
Instruksi Apostolik ini ? Telah kita menerimanya melalui Tradisi ? Js. Paulus mengatakan pada muridnya
Js. Titus , yaitu Bishop di Kreta : “Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya
engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di
setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu” ( Titus 1:5) Ia tidak menguraikan dalam suratnya
bagaimana untuk menunjuk para imam, dengan memperhatikan akan doa-doa, ritual-ritual , kondisi-
kondisi yang diperlukan darinya. Bagaimanakah Js. Titus mengetahui bahwa masalah ini lain daripada
instruksi lisan ? Itulah sebabnya mengapa Sang Rasul mengatakan pada dia “..Sebagaimana aku
perintahkan kepadamu”. Sedangkan bagaimana detail perintah ini, tidaklah tercatat dalam surat namun
Sang Murid Bishop telah memperlajarinya secara lisan “berhadapan muka” , dan hal-hal tersebut sampai
pada kita melalui Tradisi.

Hal yang sama menunjuk apa yang Js. Paulus katakan pada muridnya yaitu Js. Timotius yaitu Bishop di
Efesus :” Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada
orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” ( 2 Tim 2:2). Disini Js. Paulus
menunjuk pada kata “Mendengar” dan bukan “menulis” . Ia tidak memberitahu kita apa yang muridnya
dengar dari dia. Tetapi tak disangsikan lagi, bahwa pengajaran itu telah dipercayakan dari Js. Paulus Sang
Rasul kepada Js. Timotius kumudian dari Js. Timotius kepada orang percaya serta pribadi-pribadi
terpecaya, dan dari pribadi yang terpercaya itu kepada yang lain juga. Jadi pengambih-alihnya
(Suksesi/penerus-sampaian) dilanjutkan sehingga sampai pada kita.

Mereka yang bersikeras membuktikan segala sesuatu melalui ayat dari Kitab Suci, mengabaikan apa
yang Sang Rasul katakan tentang “berhadapan muda dengan muka” (2 Yoh 12), Petunjuk-petunjuk Sang
Rasul mengenai Gereja-Gereja, yang mereka tidak catat ( 1 Kor 11:34), Perintah Sang Rasul pada para
muridnya ( Titus 1:5) dan pengajaran Apostolik yang telah berubah kedalam kehidupan dan praktek
dalam Gereja tanpa ayat dari sebuah surat atau Injil-injil.

Kita menyebut, untuk menggambarkan poin ini, Konsekrasi Hari Mingggu sebagai Hari Tuhan

Semua orang Krtisten yang hanya percaya dalam Kitab Suci dan menentang Tradisi Gereja, konsekrasi
hari minggu sewbagai gantinya hari Sabtu sebagai Hari Tuhan dan tidak mengikuti akan arti literal
tentang ayat-ayat yang mengatakan :”Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” ( Kel 20:8) dan :” Tetaplah
ingat dan kuduskanlah hari sabat” ( Ul 5:12). Dari manakah mereka mendapatkan akan pengajaran
konsekrasi(menguduskan) hari minggu sebagai gantinya hari Sabtu ? Apakah ini dari Injil atau dari
Tradisi ?. jawabannya tak diragukan lagi bahwa ini adalah dari Tradisi karena tidak ada satu ayatpun
yang mengatakan “ingatlah hari minggu, dan kuduskanlah hari itu” atau “tetaplah ingat dan kuduskanlah
hari minggu” yang mana pada hari itu kita tidak melakukan kerjaan apapun.

TRADISI Page 7
Konsekrasi(mengkuduskan) hari minggu itu telah menjadi suatu Tradisi Gereja, ditetapkan oleh Para
rasul yang telah mengambilnya dari pengajaran Tuhan Yesus Kristus, yang tidak disebutkan dan dicatat
dalam Injil – injil namun ada referensi-referensi didalam Kitab Para rasul yang menunjuk pada penerus-
sampaikan kudus ini. Jadi hal tersebut berubah menjadi praktek yang diakui Gereja tanpa perlu suatu
perintah yang tertulis. Bukti akan pengakuan Tradisi adalah adanya suara bulat dari semua Gereja
dalam memegang hari Minggu sebagai hari yang kudus.

Ada suatu referensi dalam Surat-Surat Js. Paulus Sang Rasul yang telah menerima Pengajaran-
Pengajaran dari Tuhan

Mengenai Sakramen Ekaristik atau Perjamuan Kudus, Sang Rasul mengatakan : “Sesab apa yang telah
kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia
diserahkan, mengambil roti “ ( 1 Kor 11:23). Disini Sang Rasul Paulus berbicara tentang penerus-
sampaian apa yang ia telah terima dari Tuhan dan yang ia telah perintahkan pada sidang di Korintos.
Kitab Suci tidak memberitahu kita bagaimana dan kapan Sang Rasul Paulus telah menerimanya dari
Tuhan. Ia sedang member kita suatu ide tentang dogma-dogma Gereja dan bagaimana hal-hal tersebut
masuk Gereja melalui penerus-sampaian.

Kita mengetahui dari Injil-Injil bahwa Para Rasul itu telah menerima Sakramen Ekaristik Atau Perjamuan
Kudus dari Tuhan. Tetapi Para rasul tidak menceritakan pada kita bagaimana Para rasul itu telah
mempercayakannnya pada Gereja. Hal itu tidak perlu untuk menuliskannya, namun materi apakah
Gereja menghidupi dan memraktekkan Skaremen ini, Gereja menghidupi dan memraktekkan Sakremen
ini sesuai dengan apa yang diajarkan secara lisan turun-turun dari Kristus kepada para rasul dan
pengganti lanjutnya.

Para Rasul telah mencacat dalam surat-suratnya hal-hal yang mereka telah terima melalui Tradisi

a). Kita telah sebutkan sebelumnya bahwa beberapa dari mereka dan sekarang kita akan tambahkan apa
yang Js. Yudas Sang Rasul telah sebutkan dalam suratnya mengenai perselisihan antara Malaikat Mikael
dan Setan tentang tubuh Musa. Ia mengatakan : “Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam
perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan
kata-kata hujatan, tetapi berkata : Kiranya Tuhan menghardik engkau” ( Yudas 9). Tidak satupun dari hal
ini disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama, Dengan demikian Judas mengetahui hal ini melalui Tradisi.

b). Saat Js. Paulus menjelaskan akan ketakutan umat mengenai menerima Hukum Taurat, ia berkata :
“Dan sangat mengerikan pemandangan itu, sehingga Musa berkata : aku sangat ketakutan dan sangat
gemetar “ ( Ibr 12:21). Ungkapan yang ditujukan pada Musa ini, tidaklah dicatat baik dalam Kitab
Keluaran maupun Kitab Ulangan. Dengan demikian Js. Paulus mengetahuinya hal ini adalah melalui
Tradisi.

TRADISI Page 8
C). Kita juga menambahkan apa yang disebutkan dalam Kitab Wahyu tentang penyimpangan Beliam,
namun ricinya tidaklah tercatat dalam Kitab Bilangan ( Bil 24:25). Dalam Kitab wahyu , ini tertulis :
“…tetapi aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau : diantaramu ada beberapa orang yang
menganut ajaranm Bileam, yang member nasehat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya
mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah” ( wahyu 14). Didalam Kitab Bilangan ini
disebutkan bahwa umat telah melakukan itu, namun itu bukanlah doktrin Bileam. Jadi barangkali Js,
Yohanes yang menulis Kitab wahyu ini telah mengetahuinya melalui Tradisi.

d).Juga tentang subyek (pokok) Bileam itu adalah apa yang disebutkan Js. Petrus bahwa : “Oleh karena
mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam,
anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat” ( 2 Pet 2 :15)., dan juga
apa yang telah sebutkan Js. Yudas :”celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh
kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri kedalam kesesatan Bileam, dan mereka
binasa karena kedurhakaan seperti Korah “ ( Yudas 11).

e). Demikian juga Js. Yudas telah berbicara tentang Nubuatan Nenokh yang tidak disebutkan dalam Kitab
Perjanjian lama. Ia berkata : “juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah
bernubuat, katanya : sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudusNya, hendak
menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan
fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang
fasik itu terhadap Tuhan” ( Yudas 14,15). Sumber dari nubuatan ini pastilah telah ada dalam Tradisi.

f). Kita memberitahukan bahwa Perintah sunat itu telah dipercayakan kepada Bapa Kita Abraham oleh
Allah ( Kej 17) dan telah perintahkan pada umat melalui pengambil alihan sebelum keberadaan perintah
hukum yang tertulis.

Manfaat Tradisi

1). Melalui Tradisi, kita mengetahui Alkitab itu sendiri. Melalui pengambil-alihan/suksesi Kitab –kitab
kudus itu sampai pada kita dan kita tidak akan mampu untuk mengetahui atau membedakannya kecuali
melalui Tradisi. Konsili-Konsili Kudus telah mendifinisikan Kitab Perjanjian baru untuk kita.

2). Melalui Tradisi, Gereja mewarisi : Ritual-ritual da disiplin-disiplin yang telah sampai pada kita.

3). Tradisi telah menjaga bagi kita suara iman yang telah diterus-sampaikan dari satu generasi pada
generasi berikutnya. Kalau interpretasi Alkitab telah ditinggalkan pada masing-masing individu, maka
kita akan mempunyai beberapa kelompok dan denominasi terpeganggal-penggal oleh Iman yang satu,
karena Kitab Suci itu hal dan cara intepretasi itu adalah hal yang lain (artinya iman yang satu itu
dimengerti dengan cara yang lain dan berbeda dengan apa yang tersirat sebenarnya).

4). Tradisi telah menjaga kita akan keyakinan tertentu dan pengajaran-pengajaran seperti halnya
Konsekrasi akan hari minggu, membuat tanda salib, hukum monogamy, doa-doa bagi orang yang telah
meninggal dunia dan karya dari masing-masing jenjang keimaman.

TRADISI Page 9
Tradisi Yang Berlaku dan Yang Tidak Berlaku

Bagi mereka yang menolak Tradisi membangun keberatan mereka tentang dalih yang Tuhan Yesus
Kristus sendiri telah menolak Tradisi ketika mecela Ahli-ahli Kitab dan orang-orang farisi , katanya :
“Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu” (Mat 15:3), dan
ketika Ia telah mengutuk beberapa tradisi-tradisi yang salah ( Mat 15:4-6).

Mereka juga menggunakan dalih dari kata-kata Sang rasul : “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang
menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-tumurun dan roh-roh
dunia, tetapi tidak menurut Kristus” ( Kol 2:8).

Didalam pembicaraan kita tentang Tradisi, kita tidak bermaksud bahwa tradisi yang diletakkan oleh
manusia itu sia-sia atau kita tidak bermaksud juga bahwa tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan Doktrin
dan semangat Kitab suci sebagaimana tradisi-tradisi yang kosong itu diabaikan, karena tidak sesuai
dengan apa Tuhan Yesus telah nyatakan. Namun yang kita maksudkan adalah suara Tradisai yang
sesuai dengan :

1). Pengajaran-pengajaran Tuhan Yesus Kristus yang telah diterus-sampaikan kepada kita melalui Tradisi

2). Tradisi Apostolik yaitu : pengajaran-pengajaran dari Para rasul, diterus-sampaikan pada kita melalui
pengambil-alihan ( mata rantai) dari satu gerenerasi ke generasi berikutnya.

3). Tradisi Eklesiastik, dinyatakan oleh Konsili-konsili ekumenikel kudus mengenai kanon-kanon Gereja
dan disiplin-disiplin dan apa yang telah kita terima dari Para Bapa Gereja, Para Guru dan para pahlawan
iman dari Gereja.

Otoritas Gereja dalam Pengajaran dan Perundang-undangan

Otoritas ini telah diberikan pada Para Bapa Apostolik oleh Tuhan Yesus Kristus itu sendiri saat Dia
mengatakan pada mereka : “…Sesungguhnya apa yang kamu iat di dunia ini akat terikat di sorga dan apa
yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” Mat 18:18). Gereja telah memulai kewajibannya
ini dengan memegang Konsili Gereja yang pertama di Jerusalem pada tahun 45 Masehi. Konsili ini
membicarakan penerimaan iman oleh bangsa-bangsa ( diluar Israel), dan Para rasul telah memutuskan
tidak membuatnya sulit bagi mereka, katanya : Sebab ini Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan
keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu
ini : kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari
daging binatang yang mati dicekik, dan dari percabulan. Jikalau kamu mermelihara diri dari hal-hal ini
kamu berbuat baik” ( Kis 15:28-29).

Karena itu konsili – konsili kudus yang bersifat local dan ekumenikal, telah diadakan secara berturut-
turut melalui otoritas pengajaran, pengaturan dan pengkanonan yang Tuhan telah berkati atas
keimaman. Konsili-konsili ini telah meletakan dasar pengajaran-pengajaran, keputusan-keputusan dan
disipilin-disiplin yang telah dimasukkan didalam Tradisi Gereja.

TRADISI Page 10
Syarat-Syarat Suara Gereja :

1). Haruslah sesuai dengan Kitab Suci ( Gal 1:8).

2). Haruslah tidak bertentangan atau kontradiksi dengan tradisi-tradisi Gereja lainnya.

3). Gereja-Gereja haruslah menerimanya

Ini diketahui dalam setiap generasi, hal-hal yang baru muncul yang tidak ada dalam generasi-generasi
sebelumnya. Pokok pandangan agama mengenai masalah-masalah yang dicari agar tak membingungkan
pikiran-pikiran umat atau menjadikan mereka bingung antara benar dan tidak, karena tidak semua
orang mengetahui aturan-aturan agama atau apa yang ditulis dalam Kitab Suci.

Dari sini Gereja, melalui pengajarannya dan Otoritas legislatif, menyajikan pendapat agama dalam
masalah-masalah yang demikian itu, karena Kitab Suci mengatakan bahwa Hukum seharusnya keluar
dari mulut seorang imam. Melalui suksesi dari generasi-generasi, Pengajaran-pengajaran Gereja telah
menjadi Tradisi untuk diwarisi oleh semua generasi.

Para rasul telah memerintahkan bahwa Tradisi itu dijaga-pelihara

Js. Paulus Sang Rasul berkata : “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada tradisi-tradisi yang
kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis” ( 2 Tes 2:15). Ia juga mengatakan :
“Tetapi kami berpesan kepadamu, saaudara-saudara , dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu
menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran
yang telah kamu terima dari kami” ( 2 Tes 3:6). Ia juga berkata pada sidang di Korintos bahwa : “Aku
harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang
pada ajaran yang kuteruskan kepadamu” ( 1 Kor 11:2).

Kita sedih untuk mengatakan bahwa saudara-saudari kita Protestan, didalam terjemahan mereka
tentang Kitab Suci mengganti kata “Tradisi-tradisi” dengan “ajaran-ajaran”, dalam masalah yang
menegaskan pengajaran tentang “Tradisi”. Tetapi telah memegang “tradisi” untuk incident yang terkait
dengan tradisi yang menjijikan, yang secara jelas ditolak oleh Gereja Kudus.

Bagaimanapun, meskipun Suadara-saudari kita protestan mengingkari Tradisi, mereka sendiri telah
melembagakan tradisi mereka sendiri. Mereka memelihara ritual-ritual mereka sendiri meskipun
mereka mengingkari ritual-ritual yang telah ada dalam Gereja sejak semula.

Doa-doa dan bacaan –bacaan tetap pada pentahbisan-pentahbisan, pernikahan, baptisan dan ibadah
pemakaman meskipun mereka tidak tidak mengakui doa-doa yang diulang-ulang. Mereka menjaga
tradisi mereka sendiri namun mereka mengingkari apapun yang berseberangan dengan tradisi mereka.
Hal ini berjalan tanpa mengatakan bahwa Tradisi adalah suatu warisan mulia, dan itu akan menjadi
kerugian yang besar bagi gereja bahkan untuk bebas darinya, seperti menjadi Gereja tanpa sejarah dan

TRADISI Page 11
tanpa aturan untuk melindungi terhadap orang-orang menafsirkan atau mengajarkan hal-hal yang
menurut preferensi mereka sendiri.

TRADISI Page 12