Anda di halaman 1dari 19

FILSAFAT KOMUNIKASI

SUBSTANSI FILSAFAT ILMU

ANGGOTA KELOMPOK 4

1. Aka Dinah Nurfajri (1810863008)


2. Dinda Muliza (1810861008)
3. Messa Fegia Wirka (1810861004)
4. Winda Vanisya (1810861014)

DOSEN PENGAMPU

Dr. Elva Roaning Roem, M.Si


Dr. Sarmiati, M.Si

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ANDALAS
2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji syukur
kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmad, Hidayah, dan Inayah-
Nya sehingga kami dapat merampungkan penyusunan makalah yang berjudul “Substansi Filsafat
Ilmu“ yang disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas Filsafat Komunikasi yang diampu
oleh Ibu Dr. Elva Roaning Roem, M.Si dan Dr. Sarmiati, M.Si .
Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung oleh berbagai
pihak, sehingga dapat memperlancar penyusunannya. Untuk itu tidak lupa kami ucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam merampungkan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat
kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang
dada kami membuka pintu bagi para pembaca yang ingin memberikan saran atau kritik demi
memperbauki makalah ini.

Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga makalah yang sederhana ini dapat
memberi manfaat dan besar keinginan kami dapat mengisnspirasi para pembaca untuk
mengangkat permasalahan lain yang relevan pada makalah makalah selanjutnya.

Padang , 21 Februari 2019

Kelompok 4
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………….…..i

DAFTAR ISI……………………...……………………………………………………….............ii

BAB I PENDAHULUAN ………………….......…………………………………………………1

1.1 Latar Belakang………...……………………………………………………………….1


1.2 Rumusan Masalah….…………………………………………………………..………1
1.3 Tujuan Penulisan…………………………………………………………...………… 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………………………….....3

BAB II PEMBAHSAN……………………………………………………………………………5

3.1 Kenyataan atau Fakta ………………………………………………………..……......5

3.2 Konfirmasi......................................................................................................................7

3.3 Konsep dan Definisi …………………...……………….…………………..…………9

3.4 Studi Kasus……………………………………………………………………..…….13

BAB IV PENUTUP…………………………………….………………………………………..14

4.1 Kesimpulan…………………………………………….……………………………..14

4.1 Saran ………………………………………………….……………………………...15


DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………16
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Filsafat kerap kali dipandang sebagai ilmu yang abstrak, padahal filsafat ini sangat dekat
sekali dengan kehidupan manusia. filsafat bagi sebagian karangan merupakan disiplin ilmu yang
kurang diminati, karena dianggap sebagai ilmu yang sulitdana membutuhkan pemikiran.
Memang, bagi ara pemula mereka merasa malas ketika memasuki bidang studi ini. Namun
keraguan, dan keengganan, serta kecemasan ini biasanya pelen-pelan memudar ketika sudah
mulai menekuni bidang ini dan bahkan akan terasa lebih menarik ketika sadar bahwa filsafat
adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat sekarang ini, tidaklah menjadikan
manusia berhenti untuk mencari kebenaran. Justru sebaliknya, semakin menggiatkan manusia
untuk terus mencari dan mencari kebenaran yang berlandaskan teori-teori yang sudah ada
sebelumnya untuk menguji sesuatu teori baru atau menggugurkan teori sebelumnya. Sehingga
manusia sekarang lebih giat lagi melakukan penelitian-penelitian yang bersifat ilmiah untuk
mencari solusi dari setiap permasalahan yang dihadapinya. Karena itu bersifat statis, tidak kaku,
artinya ia tidak akan berhenti pada satu titik, tapi akan terus berlangsung seiring dengan waktu
manusia dalam memenuhi rasa keingintahuannya terhadap dunianya.

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai
hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang
termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Pendapat dari Aristotles mengatakan
bahwa realitas terdiri atas berbagai benda terpisah yang menciptakan suatu kesatuan antara
bentuk dan substansi. Substansi adalah bahan untuk membuat benda-benda, sedangkan bentuk
adalah ciri khas masing-masing benda.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka kami menganggap ada beberapa masalah yang harus
dikaji lebih dalam diantaranya:
1. Bagaimana kenyataan atau fakta dalam substansi filfasat ilmu?
2. Bahgaimana konfirmasi dalam substansi filfasat ilmu?
3. Bagaimana konsep dan definisi dalam substansi filfasat ilmu?
4. Apa contoh kasus substansi filfasat ilmu?

1.3 Tujuan Penulisan


Makalah ini disusun bertujuan untuk melengkapi tugas kelompok mata kuliah komuniaksi
interpersonal, dan dari rumusan masalah di atas makalah ini juga bertujuan untuk:
1. Mengetahui kenyataan atau fakta dalam substansi filfasat ilmu
2. Mengetahui konfirmasi dalam substansi filfasat ilmu
3. Mengetahui konsep dan definisi dalam substansi filfasat ilmu
4. Mengetahui contoh kasus substansi filsafat ilmu
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Substansi dapat ditafsirkan sebagai yang membentuk sesuatu, atau yang pada dasarnya
merupakan sesuatu atau dapat disempitkan menjadi itu. Pembahasan mengenai substansi akan
selalu terkait dengan esensi (essence). Esensi ialah hakekat barang sesuatu. Setiap substansi
mengandung pengertian esensi; tetapi tidak setiap esensi mengandung pengertian
substansi.Aristoteles menunjukan bahwa substansi dapat dikatakan merupakan sesuatu yang di
dalamnya terwujud esensi. Substansi dipandang sebagai sesuatu yang adanya terdapat di dalam
dirinya sendiri.

Substansi ialah sesuatu yang mendasari atau mengandung kualitas-kualitas serta sifat-sifat
kebetulan yang dipunyai barang sesuatu. Perhatikanlah secarik kertas, kertas tersebut mempunyai
kualitas-kualitas yang tertentu namun kertas tadi tidak menampak sebagai kualitas-kualitas itu.
Jika bangun kertas tersebut diubah, kertas tadi tetap merupakan kertas. Karena itu yang
dinamakan kertas bukanlah bangunnya atau warnanya, atau sesuatu kualitasnya yang lain yang
dapat ditangkap oleh indera. Yang dinamakan kertas ialah substansinya yaitu kertas. Tampaknya
kualitas suatu obyek adanya tergantung pada substansi, yakni “sesuatu” yang mendasarinya.
Lama berselang John Locke menunjukan bahwa kita tidak akan dapat mengetahui suatu
substansi secara langsung, melainkan secara tidak langsung. Karena itu ia menamakan substansi
terdalam itu “sesuatu yang saya tidak tahu apa”.

Robert Ackerman (Susanto, 2011) “one aspect as a critique of current scientific opinions
by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline
autonomous of actual scientific paractice”. Menurutnya filsafat ilmu dalam suatu segi adalah
suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap
kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu
jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.

Michael V. Berry (Susanto, 2011) “The study of the inner logic if scientific theories, and
the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. Menyatakan Penelaahan
tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori,
yakni tentang metode ilmiah. Dalam ilmu filsfat logika termasuk bagian ilmu yang dianggap
berat dan sulit, perlu latihan dan pemahaman yang serius agar seseorang dapat memahami logika
secara baik dan paripurna. Karena itu, jika seseorang telah menguasai logika dengan baik, maka
orang tersebut dianggap telah sampai pada level penguasaan filsafat ilmu yang tinggi.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kenyataan atau Fakta
1. Kesenjangan antara Kebenaran dan Fakta
Pada zaman dahulu nilai-nilai kebenaran sangat dijunjung tinggi oleh para orang tua,
pendidk, ulama dan anggota masyarakat dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Prinsip satu kata dengan perbuatan atau perilaku masih terwujud
dalam fakta yang dapat diamati. Sebagai contoh keluarga kaum ulama pada zaman dahulu masih
konsisten dalam menjalankan ajaran agama islam, tentang etika bergaul antara pria dan wanita,
etika tentang cara bepakaian menurut islam bagi pria atau wanita, serta etika-etika lainnya yang
telah di atur dalam Al-qur’an dan Alhadist. Ajaran dalam islam tersebut merupakan kebaikan dan
kebenaran yang sifatnya mutlak. Karena itu tata cara bergaul antara wanita dan pria pada zaman
praglobalisasi penuh dengan nilai-nilai dan etika tentang sopan santun. Feneomena ini terwujud
dalam fakta di masyarakat yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya, di era globalisasi, nilai-nilai kebenaran khususnya kebenaran etika bergaul


dan berpakaian pria dan wanita menurut islam sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian anggota
masyarakat remaja yang terwujud dalam fakta. Sebagai contoh ajaran islam tentang “larangan
mendekati zina” sebagai suatu ajaran yang mengandung nilai kebenaran mutlak, kini telah
ditinggalkan oleh sebagian remaja yang berpola pikir kebarat-baratan. Islam juga mengajarkan
nilai sopan santun yang mengandung nilai kebenaran tentang keharusan kaum wanita untuk
menutup aurat, namun faktanya, sebagian remaja telah menganggap ajaran itu tidak benar atau
kuno. Sehingga mereka berpakaian sangat seksi. Karena itu dapat disimpulkan bahwa nilai
kebenaran agama mengalami krisis dan kesenjangan dengan kenyataan atau fakta yang diamati
dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

2. Cara Mencari Kebenaran Menutut Ilmu, Filfasat, dan Agama

Menurut prespektif sains atau ilmu pengetahuan, kebenaran dapat diperoleh melalaui
penyelidikan dengan menggunakan metode ilmiah, logis untuk mencari bukti empiris dalam
upaya untuk menguji hipotesis menjadi tesis atau tidak untuk menarik kesimpulan yang dapat
direalisasikan (ahmad Tafsir, 2002) dengan kata lain, kebenaran menurut ilmu pengetahuan dapat
dicari dan ditemukan melalui cara-cara ilmiah dengan prosedur yang sistematis dan ilmiah dalam
melakukan penyelidikan empiris untuk menarik kesimpulan suatu kebenaran. Jadi kebenaran
ilmiah dapat ditemukan dengan data yang logis dan empiris.

Kebenaran yang diperoleh dari metode ilmiah yang penuh dengan logika dan bukti-bukti
empiris untuk menemukan suatu kesimpulan sebagai sebuah kebenaran merupakan kebenaran
yang ilmiah. Kebenaran ilmiah dapat menjadi metode ilmiah yang membangun ilmu
pengetahuan. Salah satu contoh tentang tata cara mencari kebenaran menurut prespektif ilmu
pengetahuan adalah dengan melakukan penyelidikan untuk mencari dan menemukan data empris
dengan menggunakan metode dan prosedur ilmiah (mudyahardjo, 2004). Sebagai contoh
sederhana adalah apakah benar pupuk pada tanaman dapat menyuburkan pertumbuhan tanaman,
maka dilakukan eksperimen dengan membentuk dua kelompok objek penelitian, yaitu kelompok
yang diberikan pupuk secukupnya dengan jangka waktu tetentu dengan metode ilmiah.
Sedangkan kelompok lain tidak diberi pupuk, maka dapat dilihat hasil yang diperolehnya.

Dari hasil penelitian dan eksperimen yang dilakukan di atas, dapat diperoleh kesimpulan
bahwa “ada pengaruh pupuk tehadap pertumbuhan tanaman” merupakan sebuah kebenaran
ilmiah yang diperoleh dengan bukti empiris melalui penyelidikan berupa eksperimen di lapangan.
Survei tentang jumlah penduduk di suatu negara dan jenis-jenis pekerjaan yang dilakoni juga
tentang cara menari kebenaran tentang kependudukan. Kesimpulan hasil survei tersebut juga
merupakan suatu kebenaran ilmiah.

Menurut prespektif agama sutatu kebenaran dapat dicari dan dapat diterima, melalui
proses ilmiah sebagai basis utama. Namun demikian, proses aqliah atau pemkiran (logika) dapat
digunakan sebagai alat penunjang imaniah untuk memperkuat kebenaran wahyu. Contoh
kebenaran wahyu atau agama hanya dapat diterima imaniah yaitu proses isra mi’raj Nabi
Muhammad SAW ke sidratul muntaha. Peristiwa ini tidak dapat diterima melalui logika, namun
sebuah fakta dan kebenaran yang hanya dapat diterima melalui proses imaniah.

Menurut prespektif filsafat, satu kebenaran dapat dicari ditemukan dan diterima melalui
proses logika. Dengan kata lain, filsafat adalah kebenaran yang dihasilkan melalui cara berfikir
radikal. Bukti empiris tidak diperlukan dalam mencari, menemukan, dan menerima suatu
kebenaran melainkan proses pikir dan hasil pikir yang logis merupakan ukuran dalam mencari,
menemukan dan menerima suatu kebenaran. Kaena itu hakikat kenyataan secara total (ontology)
hakikat mengetahui keyataan (epistmologi) dan hakikat menilai kenyataan (aksiologi) yang
berhubungan dengan etika dan estetika menjadi objek dari filsafat (Mudyahardjo,2004)

3. Sifat Kebenaran Menurut Prespektif Ilmu, Agama dan Filsafat.

Kebenaran yang ditemukan berdasarkan prespektif agama adalah kebenaran yang bersifat
mutlak dan tidak perlu disangsikan kenenarannnya karena merupakan kebenaran wahyu yang
diterima melalui proses imaniah dan logika sebagai proses pikir penunjang. Kebenaran yang
ditemukan berdasarkan prespektif sains (ilmu) adalah kebenaran yang bersifat relatif dan masih
perlu dipertanyakan kebenaranya, melalui penelitian ilmiah hanya sekitar 95% sampai 99% atau
sifatnya tidak mutlak. Sedangkan kebenaan yang ditemukan berdasarkan prespektif filsafat juga
merupakan kebenaran yang bersifat tidak mutlak dan masih perlu disangsikan kebenaranya
melalui proses logika yang lebih radikal.

4. Keterkaitan Antara Fakta dan Kebenaran

Kebenaran adalah suatu yang ada secara objektif, logis, dan merupakan suatu yang
empiris. Sedangkan fakta merupakan kenyataan yang yang terjadi dan dapat diterima secara logis
serta dapat di amati dengan panca indra manusia.

Kasus jatuhnya pesawat Mandala di medan beberapa tahun yang lalu merupakan fakta
yang terjadi dilapangan. Kenyataan berupa jatuhnya pesawat tersebut merupakan suatu kasus
yang benar adanya. Dengan kebenaran atas terjadinya kecelakaan pesawat merupakan fakta yang
tidak bisa dibantah lagi kebenarannya baik secara logika maupun empiris. Contoh lain sholat
dapat mencegah manusia pada kemungkaran merupakan suatu kebenaran wahyu yang tidak dapat
dibantah lagi karena dalam kenyataannya apabila seseorang sholatnya baik dan benar maka
perilakunya akan bagus di masyarakat.

3.2 Konfirmasi

Konfirmasi berasal dari bahasa Inggris, Confirmation, yang berarti penegasan,


pengesahan. Konfirmasi apabila dikaitkan dengan ilmu, maka fungsi ilmu adalah menjelaskan,
dan menghasilkan. Menjelaskan ataupun memprediksi, tersebut lebih bersifat interpretasi untuk
memberikan makna tentang sesuatu.
1. Aspek Kuantitatif dan Kualitatif Konfirmasi

Dasar untuk memastikan kebenaran penjelasan atau kebenaran prediksi, sebagai ahli
mengemukkan aspek kuantitatif, dan sebagian lain menggunakan aspek kualitatif. Derajat
konfirmasi kuantitatif dibangun berdasarkan hipotesis mengenai objek yang diukur dan seluas
hipotesisnya. Derajat konfirmasinya bersifat probabilitas. Probabilitas dari hasil analisis
frekuensi. Derajat konfirmasi kuantitatif menjadi masalah pada keluasan generalisasi.

Untuk membangun konfirmasi kualitatif dan upaya melepaskan dari yang kuantitatif tampak
memang belum dapat dilakukan sepenuhnya. Hempell menggunakan alaisis saintifikal untuk
membuat konfirmasi kebenaran, sementara Rudolp Carnap mengembangkan dua model bahasa,
yaitu bahasa terjemahan dan bahasa interpretasi (Ismaun, 2004:15). Popper menyatakan bahwa
untuk membuat konfirmasi tidak dapat dengan membuat verifikasi lewat pengujian hipotesis,
dengan menawarkan uji falsifikasi untuk mengkonfirmasi teori.

2. Teori Konfimasi

Teori kepastian (Comfirmation Theory) berupa mencari deskripsi hubungan normatif di


antara hipotesis dengan evidensi; hubungan tersebut berupa normatif antara mengindikasikan
apakah dan bagaimana suatu evidensi menjamin kepercayaan kita pada hipotesis. Sampai
sekarang setidaknya ada tiga teori konfirmasi, yaitu decision theory, estimation theory, dan
realiability analiysis.

Decitision theory menetapkan kepastian berdasar keputusan, ‘apakah hubungan anatara


hipotesis dengan evidensi memang memiliki manfaat aktual”. Kriteria “Manfaat aktual” memang
menjadi bersifat subjektif. Estimation theory menetapkan kepastian dengan memberi peluang
benar-salah dengan menggunakan konsep probabilitas. Konsep ini dominan dalam analisis
statistik. Hampell menggunakan konsep probabilitas dengan berdasarkan pada hubungan logis
antara proposis (yang menyatakan tentang evidensi) dengan hipotesis. Sedangkan Rudolp Carnap
mendasarkan pada hubungan sintaktikal anatara evidensi dengan hipotesis. Realibility Theory
menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas evidensi (yang mungkin berubah-ubah
karena kondisi atau karena lain-lain) terdapat hipotesisi. Kepastian dapat pula dikonstruk atas
pemikiran orang tentang choice of action.
Dalam filsafat kita kenal determinisme dan Interminisme. Para ahli mempertanyakan apakah
alam semesta deterministik atau memiliki peluang berkembang yang interdeminat. Banyak ahli
menganut yang pertama, tetepi lebih labanyk yang menganut yang kedua.

3.3 Konsep dan Definisi


Unsur konstruk yang paling elementer dalam struktur teori adalah definisi atau batasan
atau penjelasan suatu konsep. Setidaknya ada tiga fungsi bahasa yaitu ekspresif, afektif, dan
fungsi logis. Untuk studi ilmu pada umumnya fungsi logis yang dominan. Fungsi ekspresi akan
banyak mewarnai studi teknologi. Meskipun fungsi logis tetap dominan pada semua studi ini.

1. Fungsi Logis Defenisi

Fungsi logis defenisi adalah meberikan batas arti atau makna simbolik dari suatu konsep,
sehingga definsi disamaartikan dengan batasan. Konsep manusia perlu di beri batasan sehingga
beda dengan konsep hewan dan batu. Pembuatan batasan tersebut pada dasarnya adalah
memberikan penjelasan dengan menggunakan simbol lain yang lebih mudah dipahami.

Pada sejumlah pustaka yang menulis tentang konsep (dalam kaitannya dengan definisi)
sering menggunakan kata istilah. Dalam upaya menyusun bangunan teori, penulis menggunakan
satu kata saja yaitu konsep. Membuat definisi pada dasarnya adalah membuat batasan konsep
tunggal. Ketika sebuah konsep ditata relasinya maka konsep tersebut (yang menjadi konsep anda,
atau juga konsep kompleks) menjadi pernyataan. Perntyataan tersebut dapat berupa pendapat,
hipotesis, asumsi, sampai ke struktur teori.

Dalam ilmu pengetahuan definisi basa diberi sinonim, batasan, atau penjelasan. Disebut
penjelasan karena memberikan keterangan agar suatu istilah dapat menjadi jelas. Disebut batasan
karna memberikan batas-batas arti istilah yang dijelaskan.

Dalam studi filsafat, definisi dibedakan menjadi tiga besar yaitu definsi pragmatis,
definisi esensialis, dan defisnisi linguistik atau bisa disebut tipe P, tipe E, dan tipe L. tipe P dan L
banyak diikuti para ahli filsafat kotmporer dan linguistic. Tipe E digunakan oleh Husseri dan para
fenomenologi dan realis.

Dari sisi kepentigan praktis untuk mengkonstruksikan teori, tiga tipe defenisi tersebut
penulis tampilkan dalam ragam definisi berikut. Terdapat banyak ragam definisi. Namun sejalan
dengan tipe definisi tesebut, secara garis besar setidaknya dapat dikelompokkan dalam tiga besar
yaitu, definisi nominalis, realis dan ptaktis.

2. Definisi Nominalis

Merupakan penjelasan atas satu istilah dengan menggunakan kata lain yang lebih dikenal.
Definisi nominalis setidaknya dapat dibedakan menjadi dua yaitu definisi sinonim dan
etimologis. Pada definisi sinonim penjelasan diberikan dengan menggunakan persamaan kata
atau dengan istilah yang lebih dikenal. Contoh harimau adalah binatang mirip kucing yang sangat
besar. Sedangkan definisi etimologisnya merupakan penjelasan dengan cara mengetengahkan
aksud istilahnya. Contoh: dalam menjelaskan kata demokrasi kata demokrasi berasal dari kata
demos dan kratos demos artinya rakyat dan kratos artinya kekuasaan. Jadi demokrasi artinya
kekuasaaan rakyat atau kekuasaan berasal dari, oleh dan untuk rakyat.

Dalam definisi nominalis ada umumnya mudah disusun dengan mencarinya di kamus-
kamus. Untuk para pemula dalam ilmu membuat batasan cobalah dengan menggunakan definisi
nominalis dapat ditolelir. Tetapi, bagi ilmuan lanjut penggunaan definisi nominalis menjadi
indikator lemahnya pengetahuan yang dimiliki oleh yang bersangkutan, karena biasanya suatu
istilah telah berkembang dengan pesat, sehingga maknanya sudah bergeser jauh. Yang mungkin
masih relevan bagi ilmuan lanjut ini dengan menggunakan penjelasn ensiklopedia historis,
sistemats, atau handbook. Juga menurut prkembangan konsep yang berbeda-beda antara para
ahli. Perkembangan konsep tersebut dianjurkan dengan mnggunakan definisi realis atau praktis.

3. Definisi Realis

Definisi ini memberikan penjelasan atau batasan berdasar isi yang terkandung dalam
konsep yang didefenisikan. Mejelaskan isi yang terkandung dalam konsep yang didefinisikan.
Menjelaskan ini dapat dilakukan dengan analitik, disebut defenisi analitik. Pada definisi ini
konsep tersebut diurai menjadi bagian-bagian dan unsure-unsur. Contoh manusia adalah makhluk
monodualis memiliki jiwa dan raga yang menyatu. Menejemen merupakan upaya untuk
merencanakan, mengkoordinasikan serta mengawasi kegiatan sejumlah orang dan barang untuk
mencapai tujuan tertentu. Definisi analitik menjadi definisi konotatif ketika isi konsep tersebut
ditatadalam jenisnya dengan sifat pembedanya. Contoh, hukum adalah peraturan yang bersifat
memaksa. Apabila penataan dalam jenis disertakan pada sifat khususnya, maka definisi tersebut
menjadi definisi aksidental. Contoh, manusia adalah zoon politicon. Aksidental disini bukan
berarti kebetulan melainkan spesifik karena hendak menampilkan pemikiran tentang manusia
dalam telaah ilmu politik. Antropologi rogawi akan menampilkan manusia sebagai
pitecanthropus erectus sejenis pitecanthropus yang tegak atau berdiri.

Definisi realis yang lebih supervisial adalah definisi deskriptif yang menyampaikan isi
dari suatu konsep tanpa upaya memilahkan jenis, pembeda yang spesifik ataupun yang esensial.
Apa yang tampak dalam kejadian atau pengalaman umum disebut descriptor dari konsep tersebut.
Contoh: handpone adalah telepon tanpa kabel yang bisa dibawa kemana-mana.

Definisi yang mendeskripsikan sebuah konsep dalam tata pikir sebab akibat disebut
kausal. Contoh awan adalah air karena penyinaran air oleh matahari.

4. Definisi Praktis

Tujuan praktis menjadi ciri khas penjelasannya. Definisi yang mementingkan praktis
menjadi ciri khas penjelasannya. Definisi mementingkan penjelasan kegunaanya tunggal atau
fungsional. Contoh, thermometer adalah alat untuk mengukur panas badan. Definisi tersebut
menjadi konotatif, karena orang berfikir hendak membedakan temperature tubuh. Barometer
adalah alat mengukur temperature udara. Kegiatan praktis dalam suatu definisi dapat pula
ditampilkan berwujud definisi operasional.

5. Definisi Paradigmatis

Dengan tata pikir yang cukup kompleks, baik pada tataran toritik moral cultural,
moraltransenden dan juga munculnya tata pikir kompleks yang operasional pragmatik, maka
tampaknya perlu diperkenalkan klaster keempat dari definisi, yaitu definisi paradigmatik.

Paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. Sampai


sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada
korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata
hubungan itu yang dimaknai, karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih
menyeluruh.
3.4 Studi Kasus
Contoh 1
Pengaruh Budaya Barat di Indonesia

Budaya barat merupakan budaya yang paling dominan dan paling menguasai budaya
timur, dengan memiliki teknologi yang lebih canggih dari teknologi budaya timur. Sehingga
mudah untuk mempengaruhi budaya timur seperti di Indonesia sudah banyak budaya --
budayanya orang barat masuk ke Indonesia dan ditirukan oleh orang Indonesia. Dengan
globalisasi tentunya membawa pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat. Sekarag ini kebiasaan
-- kebiasaan budaya barat semakin berkembang bisa kita lihat sendiri setiap hari di media
elektronik dan cetak sehingga cenderung merusak serta melanggar norma -- norma ketimuran
kita sehingga ditonton dan ditiru oleh orang -- orang budaya timur yaitu orang Indonesia. Apalagi
dikalangan anak remaja sangat mudah sekali terpengaruhi oleh budaya orang barat yang
menginginkan kebebasan dalam pergaulan, berpakaian seperti orang -- orang barat, pergi ke
clubbing, mabuk – mabukan

Kasus di atas menunjukan bahwa pada saat ini telah banyak terjadinya ketimpangan
antara kenyataan dan fakta. Dimana seharusnya masyarakat indonesia bersikap sopan namun,
kenyataannya budaya-budaya yang telah ada dari dulu mulai luntur karna banyaknye pengaruh
dan perkembangan teknologi.

Contoh 2

Kronologi dan Fakta Kecelakaan boing 737 Max 8 Lion Air JT 610

Boeing 737 Max 8 ini baru dipakai mulai 15 Agustus 2018, sebagai pemakaian
operasional pertama pula di Indonesia. Pesawat dipastikan jatuh di perairan Karawang, Jawa
Barat, pada Senin (29/10/2018) pagi, 13 menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta,
dalam rute penerbangan menuju Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung.

Duka kembali menerpa penerbangan dan bangsa Indonesia. Pesawat Lion Air berkode
penerbangan JT 610 yang menggunakan armada Boeing 737 Max 8, dipastikan jatuh ke perairan
Karawang, Jawa Barat, pada Senin (29/10/2018). Berdasarkan pantauan sejumlah instansi
pencatat data penerbangan, diduga pesawat Boeing 737 Max 8 Lion Air JT 610 mengalami
overspeed, alias kecepatan melebihi kondisi normal dan seharusnya, selewat menit kedua sejak
lepas landas. JEO Kompas.com ini merunutkan ulang jadwal penerbangan dan kronologi dari
pesawat rute Jakarta-Pangkal Pinang tersebut, menggunakan rujukan data dan keterangan resmi
hingga Senin (29/10/2018) petang.

Berita ini adalah topik hangat di akhir tahun 2018, dimana kecelakaan ini menimbulkan
anyak korban jiwa. Seluruh media meliput berita ini dan hal ini merupakan fakta yang tidak bisa
di bantah oleh pihak manapun. Sehinggakebenaran dan fakta adalah hal yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lainnya.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai
hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang
termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Substansi dapat ditafsirkan sebagai
yang membentuk sesuatu, atau yang pada dasarnya merupakan sesuatu atau dapat disempitkan
menjadi itu. Pembahasan mengenai substansi akan selalu terkait dengan esensi (essence).

Substansi filsafat ilmu terbagi atas kenyataan atau fakta, pada saat ini banyak sekali
fenomena atau kejadian yang tidak sesuai dengan kebenaran. Dimana banyak tradisi-tradisi yang
mulai terlupakan. Kebenaran pada dasarnya bersifat tidak mutlak, sehingga diperlukan banyak
pembaharuan dan berbagai penelitian karena zaman yang semakin maju dan berkembang pesat.
Kebenaran adalah suatu yang ada secara objektif, logis, dan merupakan suatu yang empiris.
Sedangkan fakta merupakan kenyataan yang yang terjadi dan dapat diterima secara logis serta
dapat di amati dengan panca indra manusia

Konfirmasi berarti penegasan, pengesahan. Konfirmasi apabila dikaitkan dengan ilmu, maka
fungsi ilmu adalah menjelaskan, dan menghasilkan. Menjelaskan ataupun memprediksi, tersebut
lebih bersifat interpretasi untuk memberikan makna tentang sesuatu. Dasar untuk memastikan
kebenaran penjelasan atau kebenaran prediksi, sebagai ahli mengemukkan aspek kuantitatif, dan
sebagian lain menggunakan aspek kualitatif. Derajat konfirmasi kuantitatif dibangun berdasarkan
hipotesis mengenai objek yang diukur dan seluas hipotesisnya. Derajat konfirmasinya bersifat
probabilitas. Derajat konfirmasi kuantitatif menjadi masalah pada keluasan generalisasi.

Unsur konstruk yang paling elementer dalam struktur teori adalah definisi atau batasan atau
penjelasan suatu konsep. Fungsi logis defenisi adalah meberikan batas arti atau makna simbolik
dari suatu konsep, sehingga definsi disamaartikan dengan batasan. Konsep manusia perlu di beri
batasan sehingga beda dengan konsep hewan dan batu. Pembuatan batasan tersebut pada
dasarnya adalah memberikan penjelasan dengan menggunakan simbol lain yang lebih mudah
dipahami.
4.2 Saran

Semoga apa yang telah di diskusikan menambah pengetahuan kita tentang substansi
filsafat ilmu. Hanya itu yang dapat kami sampaikan mengenai materi yang menjadi bahasan
dalam makalah ini, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan kerena terbatasnya pengetahuan
kurangnya rujukan atau referensi yang kami peroleh hubungannya dengan makalah ini Penulis
banyak berharap kepada para pembaca yang budiman memberikan kritik saran yang membangun
kepada kami demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
para pembaca khusus pada penulis.
DAFTAR PUSTAKA

Susanto. 2011. Flsafat Ilmu Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan
Aksiologis. Jakarta: PT Bumi Aksara

Supardi. 2009. Filsafat, Ilmu, dan Ilmu sosial (Diktat Kuliah), Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta

Korim, Syahrul. 2011. Filsafat Ilmu dan Arah Pengembangan Pancasila Relevansinya Dalam
Mengatasi Persoalan Kebangsaan. e-Jurnal filsafat. Vol 21 No. 2

Rahayu, Sri Walny. 2015. Kontribusi Filsafat Ilmu Terhadap Etika Keilmuan Masyarakat
Modern. Vol 18 No.67