Anda di halaman 1dari 21

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Mobilisasi Dini

1. Definisi

Mobilisasi adalah kemampuan individu untuk bergerak secara

bebas, mudah dan teratur (Alimul, 2009). Mobilisasi adalah kebutuhan

dasar manusia yang diperlukan oleh individu untuk melakukan

aktifitas sehari-hari berupa pergerakan sendi, sikap dan gaya berjalan

guna untuk memenuhi kebutuhan aktivitas dan mempertahankan

kesehatannya (Potter & Perry, 2010).

Mobilisasi dini merupakan aktivitas yang dilakukan pasien post

pembedahan dimulai dari latihan ringan di atas tempat tidur (latihan

pernafasan, latihan batuk efektif dan menggerakkan tungkai) sampai

dengan pasien bisa turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi

dan berjalan keluar kamar (Ibrahim, 2013).

Mobilisasi dini adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh

tenaga kesehatan untuk membantu pasien keluar dari tempat tidurnya

dan membimbingnya sedini mungkin untuk berjalan (Dewi, 2010).

2. Manfaat

Menurut Mubarak (2015) manfaat mobilisasi dini adalah

sebagai beikut :

a. Meningkatkan kecepatan dan kedalaman pernafasan

1) Mencegah atelektase dan pnemoni hipostatis


9

2) Meningkatkan kesadaran mental dampak dari peningkatan

oksigen ke otak

b. Meningkatkan sirkulasi peredaran darah

1) Nutrisi untuk penyembuhan mudah didapat pada daerah luka

2) Dapat mencegah thrombophlebitis

3) Meningkatkan kelancaran fungsi ginjal

4) Mengurangi rasa nyeri

c. Meningkatkan berkemih untuk mencegah retensi urin

d. Meningkatkan metabolisme

1) Mencegah berkurangnya tonus otot

2) Mengembalikan keseimbangan nitrogen

e. Meningkatkan peristaltik

1) Memudahkan terjadinya flatus

2) Mencegah distensi abdominal dan nyeri akibat gas

3) Mencegah konstipasi

4) Mencegah ileus paralitik

3. Jenis Mobilisasi

Jenis Mobilisasi menurut Hidayat (2009) dibedakan menjadi 2

yaitu mobilisasi penuh dan mobilisasi sebagian.

a. Mobilisasi Penuh

Mobilisasi penuh merupakan kemampuan seseorang untuk

bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan

interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari. Mobilisasi

penuh ini merupakan fungsi saraf motoris volunteer dan sensoris

untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.


10

b. Mobilisasi Sebagian

Mobilisasi sebagian merupakan kemampuan untuk bergerak

dengan batasan yang jelas sehingga tidak mampu bergerak

secara bebas karena dipengaruhi oleh saraf motoris dan sensoris

pada area tubuhnya. Mobilisasi sebagian dibagi menjadi dua jenis,

yaitu:

1) Mobilisasi sebagian temporer, merupakan kemampuan individu

untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal

tersebut dapat disebabkan oleh trauma reversible pada sistem

musculoskeletal, contohnya: dislokasi sendi dan tulang.

2) Mobilisasi sebagian permanen, merupakan kemampuan

individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya

menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya sistem saraf

reversibel, contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke,

paraplegi karena cedera tulang belakang, poliomyelitis karena

terganggunya sistem syaraf motorik dan sensorik

4. Tahap-tahap Mobilisasi

Tahap-tahap mobilisasi dini menurut Clark et al, (2013), meliputi :

1) Level 1 : Pada 6-24 jam pertama post pembedahan, pasien

diajarkan teknik nafas dalam dan batuk efektif, diajarkan latihan

gerak Range Of Motion (ROM) dilanjut dengan perubahan posisi

ditempat tidur yaitu miring kiri dan miring kanan, kemudian

meninggikan posisi kepala mulai dari 150 , 300 , 450 , 600 , dan

900 .
11

2) Level 2 : Pada 24 jam kedua post pembedahan, pasien diajarkan

duduk tanpa sandaran dengan mengobservasi rasa pusing dan

dilanjutkan duduk ditepi tempat tidur.

3) Level 3 : Pada 24 jam ketiga post pembedahan, pasien dianjurkan

untuk berdiri disamping tempat tidur dan ajarkan untuk berjalan

disamping tempat tidur. d. Level 4 : Tahap terakhir pasien dapat

berjalan secara mandiri.

5. Kontraindikasi Mobilisasi

Menurut Zanni & Needham (2010), kontraindikasi pasien untuk

mobilisasi dini adalah:

a. Tekanan darah tinggi

Pasien dengan tekanan darah sistole > 200 mmHg dan

diastole > 100 mmHg. Peningkatan tekanan darah yang

mendadak pada orang yang sebelumnya memiliki tekanan darah

normal bisa menyebabkan pembuluh darah di otak mengalami

penciutan mendadak.

b. Pasien dengan fraktur tidak stabil

Pasien dengan fraktur atau patah tulang yang tidak stabil

karena pasien fraktur membutuhkan imobilisasi untuk

mempertahankan posisi dan kesejajaran yang benar sampai masa

penyatuan.

c. Penyakit sistemik atau demam

Mobilisasi dilakukan dengan bertahap sesuai dengan

pulihnya keadaan atau kekuatan pasien. Pengobatan yang

mendukung pada sistemik atau demam meliputi isitirahat yang


12

cukup, guna untuk mencegah komplikasi dan mempercepat

proses penyembuhan. Pasien harus tirah baring sampai demam

pasien menurun.

d. Trombus emboli pada pembuluh darah

Pembentukan thrombus dimulai dengan melekatnya

trombosittrombosit pada pemeriksaan endotel pembuluh darah

jantung. Darah yang mengalir menyebabkan semakin banyak

trombosit tertimbun pada daerah tersebut. Pada saat mobilisasi,

peningkatan aliran darah yang cepat masa yang terbentuk dari

trombosit akan terlepas dari dinding pembuluh tetapi kemudian

diganti oleh trombosit lain.

6. Hambatan Melaksanakan Mobilisasi

Menurut Zanni & Needham (2010), ada beberapa hambatan

dalam melaksanakan mobilisasi, diantaranya :

a. Gejala fisik yang dialami pasien seperti merasakan lemah, nyeri

dan kelelahan.

b. Kurangnya tenaga kesehatan untuk membantu dan membimbing

pasien ketika melakukan mobilisasi.

c. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran pasien tentang

pentingnya melakukan mobilisasi post pembedahan.

B. Konsep Nyeri

1. Definisi

Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak

menyenangkan, bersifat sangat subjektif. Perasaan nyeri pada setiap

orang berbeda dalam hal skala ataupun tingkatannya, dan hanya


13

orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa

nyeri yang dialaminya (Tetty, 2015).

Nyeri adalah pengalaman sensori nyeri dan emosional yang

tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan

aktual dan potensial yang tidak menyenagkan yang terlokalisasi pada

suatu bagian tubuh ataupun sering disebut dengan istilah distruktif

dimana jaringan rasanya seperti di tusuk-tusuk, panas terbakar,

melilit, seperti emosi, perasaan takut dan mual (Judha, 2012).

Nyeri merupakan suatu sensori subjektif dan pengalaman

emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan

jaringan yang aktual atau potensial (Potter & Perry, 2012).

2. Sifat Nyeri

Nyeri bersifat subjektif dan sangat bersifat individual. Menurut

Mahon (1994), menemukan empat atribut pasti untuk pengalaman

nyeri, yaitu : nyeri bersifat individual, tidak menyenangkan,

merupakan suatu kekuatan yang mendominasi, bersifat tidak

berkesudahan (Andarmoyo, 2013).

Adapun sifat-sifat nyeri menurut Tamsuri (2011) adalah :

a. Nyeri melelahkan dan membutuhkan banyak energi

b. Nyeri bersifat subyektif dan individual

c. Nyeri tak dapat dinilai secara objektif seperti sinar X atau lab darah

d. Perawat hanya dapat mengkaji nyeri pasien dengan melihat

perubahan fisiologis tingkah laku dan dari pernyataan klien

e. Hanya klien yang mengetahui kapan nyeri timbul dan seperti apa

rasanya
14

f. Nyeri merupakan mekanisme pertahanan fisiologis

g. Nyeri merupakan tanda peringatan adanya kerusakan jaringan

h. Nyeri mengawali ketidakmampuan

3. Teori- Teori Nyeri

a. Teori Spesivitas (Specivicity Theory)

Teori Spesivitas ini diperkenalkan oleh Descartes, teori ini

menjelaskan bahwa nyeri berjalan dari resepror-reseptor nyeri

yang spesifik melalui jalur neuroanatomik tertentu kepusat nyeri

diotak (Andarmoyo, 2013).

b. Teori Pola (Pattern theory)

Teori Pola diperkenalkan oleh Goldscheider pada tahun

1989, teori ini menjelaskan bahwa nyeri di sebabkan oleh

berbagai reseptor sensori yang di rangsang oleh pola tertentu,

dimana nyeri ini merupakan akibat dari stimulasi reseprot yang

menghasilkan pola dari implus saraf (Andarmoyo, 2013).

Pada sejumlah causalgia, nyeri pantom dan neuralgia, teori

pola ini bertujuan untuk menimbulkan rangsangan yang kuat yang

mengakibatkan berkembangnya gaung secara terus menerus

pada spinal cord sehingga saraf trasamisi nyeri bersifat

hypersensitif yang mana rangsangan dengan intensitas rendah

dapat mengahasilkan trasmisi nyeri (lewis, 1983 dalam

Andarmoyo, 2013).

c. Teori Pengontrol Nyeri (Theory Gate Control)

Teori gate control dari Melzack dan Wall ( 1965) menyatakan

bahwa implus nyeri dapat diatur dan dihambat oleh mekanisme


15

pertahanan disepanjang sistem saraf pusat, dimana implus nyeri

dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan implus dihambat

saat sebuah pertahanan tertutup (Andarmoyo, 2013).

d. Endogenous Opiat Theory

Teori ini di kembangkan oleh Avron Goldstein, ia

mengemukakan bahwa terdapat substansi seperti opiet yang

terjadi selama alami didalam tubuh, substansi ini disebut

endorphine (Andarmoyo, 2013).

Endorphine mempengaruhi trasmisi implus yang

diinterpretasikan sebagai nyeri. Endorphine kemugkinan bertindak

sebagai neurotrasmitter maupun neoromodulator yang

menghambat trasmisi dari pesan nyeri (Andarmoyo, 2013).

4. Klasifikasi Nyeri

a. Klasifikasi Nyeri Berdasarkan Durasi

1) Nyeri Akut

Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi setelah cedera akut,

penyakit, atau intervensi bedah dan memiliki proses yang

cepat dengan intensitas yang bervariasi (ringan sampai berat),

dan berlangsung untuk waktu yang singkat (Andarmoyo,

2013).

Nyeri akut berdurasi singkat (kurang lebih 6 bulan) dan

akan menghilang tanpa pengobatan setalh area yang rusak

pulih kembali (Prasetyo, 2010).


16

2) Nyeri kronik

Nyeri Kronis adalah nyeri yang berlangsung lebih lama

dibandingkan nyeri akut (Hariyanto & Sulistyowati, 2015).

Berbeda dengan nyeri akut, nyeri kronis memiliki

neurofisiologis dan tujuan yang lebih kompleks dan sulit

dipahami (Lemone, 2015).

5. Mekanisme Nyeri

Mekanisme nyeri secara sederhana dimulai dari transduksi

stimuli akibat kerusakan jaringan dalam saraf sensorik menjadi

aktivitas listrik kemudian ditransmisikan melalui serabut saraf

bermielin A delta dan saraf tidak bermielin C ke kornu dorsalis medula

spinalis, talamus, dan korteks serebri. Impuls listrik tersebut

dipersepsikan dan didiskriminasikan sebagai kualitas dan kuantitas

nyeri setelah mengalami modulasi sepanjang saraf perifer dan

disusun saraf pusat. Rangsangan yang dapat membangkitkan nyeri

dapat berupa rangsangan mekanik, suhu (panas atau dingin) dan

agen kimiawi yang dilepaskan karena trauma/inflamasi. Adapun skala

intensitas nyeri “muka” Judha M.S & Fauziah A (2012) :

Gambar 2.1. Skala Intensitas Nyeri Muka


17

Keterangan:

0 : Tidak Nyeri

1 : Nyeri ringan, hampir tidak terasa

2 : Nyeri masih ringan, responden masih bisa tertawa dan bicara

3 : Nyeri ringan, lebih nyeri dari 2, responden bisa tersenyum

4 : Nyeri sedang, responden mulai diam-diam

5 : Nyeri masih sedang, lebih nyeri dari 4, responden mulai tampak

murung

6 : Nyeri masih sedang, responden tampak murung dan merintih

kesakitan

7 : Nyeri berat, muka responden cemberut dan responden sekali-kali

berteriak kesakitan

8 : Nyeri lebih berat dari 7, responden terus berteriak kesakitan

9 : Nyeri mulai sangat berat, responden berteriak kesakitan sambil

menangis

10 : Nyeri sangat berat, responden berteriak, meraung-raung

kesakitan sambil menangis dan sulit dikendalian.

6. Respon Tingkah Laku Terhadap Nyeri

Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup :

a. Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas,

Mendengkur).

b. Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)

c. Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot,

peningkatan gerakan jari & tangan).


18

d. Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari

percakapan, Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang

perhatian, Fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri) Individu

yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi

sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama

beberapa menit atau menjadi kronis.

Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu

terlalu letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan

dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam

aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap

nyeri. menurut Meinhart & Caffery Mendiskripsikan 3 Fase

Pengalaman Nyeri :

a. Fase antisipasi terjadi sebelum nyeri diterima.

Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting,

karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini

memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk

menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini

sangat penting, terutama dalam memberikan informasi pada klien.

Contoh: sebelum dilakukan tindakan bedah, perawat menjelaskan

tentang nyeri yang nantinya akan dialami oleh klien pasca

pembedahan, dengan begitu klien akan menjadi lebih siap dengan

nyeri yang nanti akan dihadapi.

b. Fase sensasi terjadi saat nyeri terasa.

Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. Karena nyeri itu

bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga


19

berbeda-beda. Toleransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara

satu orang dengan orang lain. Orang yang mempunyai tingkat

toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan

stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya

rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil.

Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu

menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi

terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya pencegah nyeri,

sebelum nyeri datang.

c. Fase akibat (aftermath) terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti

Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada

fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena

nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami

gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri

berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah

kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu

memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan

kemungkinan nyeri berulang (Judha, 2009)

7. Faktor yang Mempengaruhi Nyeri

a. Usia

Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat

harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa

kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami

kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang

dialami, karena mereka menganggap nyeri adalah hal alamiah


20

yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit

berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.

b. Jenis kelamin

Laki-laki dan wanita tidak berbeda secara signifikan dalam

merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak

pantas kalau laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh

nyeri).

c. Kultur

Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya

mereka berespon terhadap nyeri. (ex: suatu daerah menganut

kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima

karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh

jika ada nyeri).

d. Persepsi

Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang

terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.

e. Perhatian

Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri

dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990),

perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang

meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan

respon nyeri yang menurun. Teknik relaksasi, guided imagery

merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.


21

f. Ansietas

Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri juga

bisa menyebabkan seseorang cemas.

g. Pengalaman masa lalu

Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa

lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih

mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi

nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.

h. Support keluarga dan social

Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada

anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan,

bantuan dan perlindungan (Diana, 2012).

C. Konsep Penyembuhan Luka

Proses penyembuhan luka adalah sebuah proses yang kompleks

dan dinamis yang menghasilkan perbaikan kontuinitas anatomi dan

fisiologi (Black & Hawks, 2009). Untuk mengembalikan fungsi tubuh yang

maksimal setelah terjadinya luka, maka tubuh sesaat setelah terjadinya

luka akan memulai proses metabolisme untuk membangun kembali

jaringan yang rusak.


Proses penyembuhan luka ini terdiri dari 3 fase, yaitu:
a. Fase inflamasi/eksudasi
Fase inflamasi adalah fase pertama yang terjadi pada proses

penyembuhan luka dimana vaskular dan seluler berespon terhadap

terjadinya luka dengan tujuan untuk menghentikan perdarahan dan

membersihkan area luka dari benda asing, mikroba, dan sel-sel mati.

Fase inflamasi ini menyebabkan luka bersiap untuk melanjutkan

proses penyembuhan berikutnya.


22

Pada awalnya rusaknya pembuluh darah akan menyebabkan

keluarnya platelet untuk menutup pembuluh darah yang terbuka, juga

menyebabkan vasokonstriksi sehingga perdarahan akan terhenti,

periode ini berlangsung cepat sekitar 5-10 menit. Selanjutnya akan

terjadi vasodilatasi akibat respon syaraf sensori dan juga akan

mengeluarkan histamin, serotonin dan sitokin. Histamin sendiri selain

mengakibatkan vasodilatasi juga akan meningkatkan permeabilitas

vena sehingga cairan plasma akan berpindah ke daerah luka.


Peningkatan permeabilitas ini juga akan mengakibatkan

terjadinya perpindahan sel leukosit ke area luka. Netrofil yang

merupakan agen sel leukosit akan melakukan fagositosis benda

asing dan bakteri selama 3 hari dan selanjutnya akan digantikan oleh

makrofag.
Adapun fungsi makrofag selain dari fagositosis adalah sintesa

kolagen, bersama-sama dengan fibroblast membentuk jaringan

granulasi, memproduksi growth factor dan berperan dalam

reepitelisasi dan melakukan angiogenesis atau pembentukan kapiler-

kapiler baru. Secara klinis, tanda dan gejala terjadinya fase inflamasi

ini adalah eritema, hangat pada kulit, edema, dan rasa sakit yang

berlangsung 3 sampai 5 hari.


b. Fase proliferatif
Pada fase ini terjadi proses untuk memperbaiki dan

menyembuhkan luka yang ditandai dengan adanya pembelahan sel.

Fibroblast memiliki peran yang sangat penting dalam proses

penyembuhan yaitu bertanggung jawab dalam persiapan untuk

menghasilkan struktur protein baru yang akan terlibat dalam proses

rekonstruksi jaringan.
23

Fibroblast yang selama ini berada di jaringan penunjang

menjadi aktif ketika terjadi luka kemudian fibroblast ini akan

mengeluarkan beberapa substansi seperti kolagen, elastin,

hyaluronic acid, fibronectin dan proteoglycan dan akan berperan

dalam membentuk jaringan yang baru.


Kolagen merupakan cikal bakal munculnya jaringan baru.

Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang berada di jaringan baru

disebut dengan jaringan granulasi, sedangkan proses proliferasi

fibroblast dengan aktifitas enzim-enzimnya disebut fibroplasia.


Angiogenesis adalah proses pembentukan pembuluh darah

kapiler baru di dalam luka. Kegagalan pembentukan pembuluh darah

kapiler ini mengakibatkan tertundanya proses penyembuhan karena

kurangnya asupan nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan untuk

penyembuhan luka. Pada fase ini angiogenesis dan fibroplasia

bekerja terintegrasi dan dipengaruhi oleh substansi yang dikeluarkan

oleh platelet dan makrofag (growth factor).


Proses selanjutnya adalah epitelisasi. Pada proses ini fibroblast

akan mengeluarkan Keratinocyte Growth Factor (KGF) dan berperan

dalam merangsang mitosis sel epidermis. Proses ini dimulai dari

pinggir luka dan akhirnya akan membentuk barier yang menutupi

seluruh permukaan luka. Bersama-sama dengan kolagen

pembentukan lapisan dermis semakin berkualitas dengan mengatur

keseimbangan jaringan granulasi dan dermis.


Fibroblast akan merubah bentuknya menjadi myofibroblas dan

memiliki kemampuan untuk melakukan kontraksi pada jaringan.

Selanjutnya fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan


24

lapisan kolagen telah terbentuk. Fase ini akan berlangsung hingga 3

minggu.
c. Fase maturasi
Fase ini dimulai dari minggu ke 3 sejak luka dan akan berakhir

sampai kurang lebih 1 tahun. Fase ini bertujuan agar dihasilkan

jaringan baru yang kuat dan menyerupai jaringan yang dulu telah

rusak.
Fibroblast sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi, warna

kemerahan yang ada pada jaringan akan mulai berkurang karena

pembuluh darah mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah

banyak untuk memperkuat jaringan parut. Pembentukan kolagen

yang telah terbetuk sejak fase proliferasi akan berlanjut di fase ini.

Selain pembentukan kolagen juga akan terjadi pemecahan kolagen

oleh enzim kolagenase. Pembentukan dan pemecahan ini harus

seimbang agar penyembuhan optimal terjadi. Bila pembentukan lebih

banyak maka terjadi pembentukan penebalan jaringan parut, namun

bila pemecahan yang lebih banyak maka kekuatan jaringan parut

melemah dan luka akan selalu terbuka. Luka dikatakan sembuh bila

kontuinitas lapisan kulit dan kekuatan jaringan parut yang kuat dan

tidak mengganggu aktifitas yang normal (Gitaraja, 2008; Falabella &

Kirsner, 2005; Black & Hawks, 2009).


Menurut Hidayat (2009), proses penyembuhan luka melalui empat

tahap, yaitu:
a. Tahap respon imflamasi akut terhadap cedera
Tahap ini dimulai saat terjadinya luka. Pada tahap ini, terjadi

proses hemostasis yang ditandai dengan pelepasan histamin dan

mediator lain lebih dari sel-sel yang rusak, disertai proses

peradangan dan migrasi sel darah putih ke darah yang rusak.


b. Tahap destruktif
25

Pada tahap ini, terjadi pembersihan jaringan yang mati oleh

leukosit polimorfonuklear dan makrofag.


c. Tahap poliferatif
Pada tahap ini, pembuluh darah baru diperkuat oleh jaringan

ikat dan menginfiltrasi luka.


d. Tahap maturasi

Pada tahap ini, terjadi reepitelisasi, konstraksi luka dan

organisasi jaringan ikat.

D. Konsep Perawatan Luka

1. Pengertian perawatan luka


Perawatan luka merupakan tindakan untuk merawat luka dan

melakukan pembalutan. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah

infeksi silang (masuk melalui luka) dan mempercepat proses

penyembuhan luka (Hidayat, 2009). Luka yaitu suatu keadaan

terputusnya kontinuitas jaringan tubuh, yang dapat menyebabkan

terganggunya fungsi tubuh sehingga mengganggu aktivitas sehari-

hari. (Hidayat, 2009)


2. Tujuan Perawatan Luka
a. Mencegah infeksi dari masuknya mikroorganisme ke dalam kulit

membran mukosa.
b. Mencegah bertambahnya kerusakan jaringan.
c. Mempercepat penyembuhan dan mencegah perdarahan.
d. Membersihkan luka dari benda asing atau debris. (Hidayat, 2009).
3. Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka
Menurut Hidayat (2009), proses penyembuhan luka dipengaruhi

oleh berbagai factor, yaitu:


a. Vaskularisasi, mempengaruhi luka karena luka membutuhkan

keadaan peredaran darah yang baik untuk pertumbuhan atau

perbaikan sel.
b. Anemia, memperlambat proses penyembuhan luka mengingat

perbaikan sel membutuhkan kadar protein yang cukup. Oleh


26

sebab itu, orang yang mngalami kekurangan kadar hemoglobin

dalam darah akan mengalami proses penyembuhan lama.


c. Usia, kecepatan perbaikan sel berlangsung sejalan dengan

pertumbuhan atau kematangan usia seseorang. Namun

selanjutnya, proses penuaan dapat penurunan sistem perbaikan

sel sehingga dapat memperlambat proses penyembuhan luka.


d. Penyakit lain, mempengaruhi proses penyembuhan luka. Adanya

penyakit, seperti diabetes mellitus dan ginjal, dapat

memperlambat proses penyembuhan luka.


e. Nutrisis, merupakan unsur pertama dalam membantu perbaikan

sel, terutama karena kandungan zat gizi yang terdapat di

dalamnya.
f. Kegemukan, obat-obatan, merokok, dan stress, memengaruhi

proses penyembuhan luka.


E. Sectio Caesarea

1. Pengertian seksio sesaria


Sectio cesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan

membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut.

(sofian, 2012)
2. Tujuan Sectio Caesarea
Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk

mempersingkat lamanya perdarahan dan mencegah terjadinya

robekan serviks dan segmen bawah rahim. Sectio caesarea

dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya jika

perdarahan hebat. Selain dapat mengurangi kematian bayi pada

plasenta previa, sectio caesarea juga dilakukan untuk kepentingan

ibu, sehingga sectio caesarea dilakukan pada placenta previa

walaupun anak sudah mati.


3. Etiologi
Sebelum keputusan section cesarean diambil, harus dilakukan
27

pertimbangan secara matang tentang indikasi, kontraindikasi, dan

resiko tindakan yang mungkin terjadi, seperti pendarahan infeksi,

maupun trauma organ abdomen.(Sofian, 2012)

4. Jenis-jenis operasi sectio cesarea


Menurut sofian (2012), jenis-jenis operasi sectio cesarea dibagi

menjadi :
a. Sectio cesarea transperitonealis
1) Sectio cesarea klasik atau corporal dengan insisi memanjang

pada korpus uteri.


2) Sectio cesarean ismika atau low cervical dengan insisi pada

segmen bawah Rahim


b. Sectio cesarea ekstraperitonealis
Sectio cesarea ekstraperitonealis yaitu Sectio cesarea tanpa

membuka peritoneum parietale, dengan demikian tidak membuka

kavum abdominalis.
1) Indikasi sectio cesarea
Indikasi sectio cesarea menurut sofian (2012), meliputi :
a) Ibu
 Plasenta previa sentralis dan lateralis
 Panggul sempit
 Disproposi sefalopelvik
 Rupture uteri mengencang
 Partus lama
 Distosia serviks
 Preeklamsi
b) Janin
 Letak lintang
 Letak bokong
 Presentasi dahi dan muka
 Gameli jika janin pertama letak lintang.
2) Komplikasi sectio cesarea
Menurut sofian (2012), komplikasi section cesarea

dibagi menjadi 4 macam yaitu :


a) Infeksi puerferal (nifas)
b) Komplikasi Ringan, dengan kenaikan suhu beberapa hari

saja
c) Komplikasi sedang, dengan kenaikan suhu yang lebih

tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung.


d) Komplikasi berat, dengan peritonitis, sepsis dan ileus
28

paralitik
3) Pendarahan karena :
Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka,

atonia uteri, pendarahan pada plasenta bed


4) Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung

kemih bila reperitonialisasi terlalu tinggi.


5) Kemungkinan rupture uteri spontan pada kehamilan

mendatang.

F. Kerangka Teori

Faktor yang
mempengaruhi
penyembuhan luka :
1. Vaskularisasi
2. Anemia
3. Usia
4. Penyakit lain
5. Nutrisi
6. kegemukan
Sectio Caesarea

Mobilisasi Dini Proses


Penyembuhan Luka :
Fase Inflamasi
Fase Destruktif
Penyembuhan Luka Fase proliferatif
Fase Maturasi
Sumber : Morison (2012) & Sofian (2012) yang telah dimodifikasi oleh peneliti