Anda di halaman 1dari 10

KEBEBASAN BERPENDAPAT MELALUI FACEBOOK DAN TWITTER:

STUDI KASUS UNDANG-UNDANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

Tika Ardillaning Pratiwi1


H.M. Burhan Bungin2
Bagoes Soenarjanto3

ABSTACT

Freedom of speech is a right of every individual to the community to express their opinions either in
criticism, suggestion/comment, or opinion through various ways whether oral or in writing, directly or
indirectly by utilizing social media, such as facebook, twitter, etc. However, sometimes peoples out of
control using their freedom of rights, so there are others who feel offended and aggrieved. Such events
are already common, and should end up in prison. Based from this incident, researchers wanted to know
whether freedom of speech through facebook and twitter being limited to the existence of the law of
information and electronic transaction (UU ITE). This research uses narrative qualitative research
design, which this research aimed to describe and analyze phenomena, events, social activities, attitudes,
perceptions, and thought of someone about freedom of speech through facebook and twitter being limited
by the existence of the law of the information and electronic transactions (UU ITE) are presented in
narrative form. From the results of this research revealed that a person’s freedom of speech through
social media (facebook and twitter) is not to be limit, thus they feel comfortable because of their privacy
rights are protected. In this law provides legal protection to every user virtual world of criminals who
exploit information technology, computer, and internet networks.

Keywords: freedom of speech, social media, facebook, twitter, UU ITE

ABSTRAK

Kebebasan mengeluarkan pendapat adalah hak setiap individu masyarakat dalam mengutarakan
pendapat mengenai kritik, saran, dan opini melalui berbagai cara baik secara lisan maupun tulisan,
langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan media sosial yang ada, seperti Facebook, Twitter,
dan sebagainya. Namun, terkadang individu-individu ini terlewat batas dalam menggunakan kebebasan
tersebut, sehingga ada pihak lain yang merasa tersinggung dan dirugikan. Peristiwa seperti itu telah sering
terjadi, bahkan ada yang berakhir hingga dibalik jeruji besi. Dari fenomena tersebut peniliti ingin
mengetahui apakah kebebasan dalam menyampaikan pendapat melalui facebook dan twitter menjadi
terbatas dengan adanya UU ITE ini. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian narasi kualitatif, dimana
penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisa fenomena, peristiwa, aktivitas sosial,
sikap, persepsi dan pemikiran seseorang mengenai kebebasan dalam menyampaikan pendapat melalui
facebook dan twitter menjadi terbatas dengan adanya UU ITE. Dari hasil penelitian ini ternyata
kebebasan berpendapat seseorang melalui facebook dan twitter tidaklah merasa terbatasi dengan adanya
Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, justru mereka merasa aman karena ada yang
melindungi hak privasi mereka. Karena dalam undang-undang ini memberikan perlindungan hukum bagi
setiap pengguna dunia maya dari para pelaku tindak kejahatan yang memanfaatkan teknologi informasi
yang terkait dengan komputer dan jaringan internet.

Kata kunci: kebebasan berpendapat, media sosial, facebook, twitter, UU ITE

1
Tika Ardilaning Pratiwi, mahasiswa Prodi S-1 Ilmu Komunikasi, FISIP, Untag Surabaya
2
Prof. Dr. H.M. Burhan Bungin, Ph.D., pengajar pada Prodi S-1 Ilmu Komunikasi, Ketua Prodi S-3 Ilmu Administrasi,
FISIP, Untag Surabaya
3
Drs. Bagoes Soenarjanto, M.Si., pengajar pada Prodi S-1 Ilmu Komunikasi, S-1 Administrasi Publik, S-1
Administrasi Bisnis, FISIP, Untag Surabaya
PENDAHULUAN Dengan adanya undang-undang ini, maka pihak
yang merasa dirugikan dapat menuntut atau
Setiap orang memiliki hak untuk bebas memperkarakan ke jalur hukum. Di Indonesia ini,
mengeluarkan pendapatnya masing-masing seperti sudah banyak contoh kasus-kasus yang bermula
yang tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945 dari status ataupun kicauan seseorang di jejaring
pasal 28E ayat 3 yang berbunyi “setiap orang sosial yang akhirnya harus berakhir di meja hijau.
berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan Contohnya, kasus yang dialami Florence,
mengeluarkan pendapat.” dan pasal 28F yang dimana kasus ini bermula dari status yang
berbunyi “setiap orang berhak untuk dibuatnya di akun Path yang secara otomatis juga
berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk terhubung dengan akun Twitter-nya yang isinya
mengembangkan pribadi dan lingkungan tentang ketidak puasannya atas pelayanan salah
sosialnya, serta berhak untuk mencari, satu tempat pengisian bensin di Yogyakarta dan
memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, kemudian status tersebut tersebar luas di media
dan menyampaikan informasi dengan sosial dan akhirnya harus berurusan dengan pihak
menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.” yang berwajib atas tuduhan yang dianggap
serta tercantum dalam Deklarasi Universal Hak menghina warga Yogyakarta. Kemudian, kasus
Asasi Manusia pasal 19 yang menyatakan bahwa Muhammad Arsyad Assegaf atau yang dikenal
“Everyone has the right to freedom of opinion and sebagai “MA” dimana pada kasus ini MA
expression; this right includes freedom to hold melakukan “bullying” pada Joko Widodo
opinions without interference and to seek, receive (Jokowi) melalui akun Facebook-nya dengan
and impart information and ideas through any mengunggah sebuah gambar porno. Kemudian
media and regardless of frontiers” (Setiap orang diketahui oleh ketua tim kuasa hukum Joko
berhak atas kebebasan berpendapat dan Widodo dan melaporkan tindakan MA ke pihak
menyatakan pendapat; hak ini menyancakup kepolisian.
kebebasan untuk berpegang teguh pada suatu Berdasarkan dari uraian diatas, penelitian ini
pendapat tanpa ada intervensi, dan untuk mencari, secara khusus akan membahas permasalahan
menerima dan menyampaikan informasi dan buah apakah kebebasan berpendapat melalui facebook
pikiran melalui media apa saja dan tanpa dan twitter menjadi terbatas dengan adanya UU
memandang batas-batas wilayah). Setiap orang ITE dengan tujuan untuk mengetahui apakah
memiliki kepentingan untuk mengeluarkan kebebasan berpendapat melalui Facebook dan
pendapat secara bebas tanpa adanya tekanan dari Twitter menjadi terbatas dengan adanya UU ITE.
pihak lain, sebab dengan adanya tekanan atau
batasan akan mengakibatkan seseorang takut Cybermedia
untuk mengeluarkan suara dan itu merupakan Ketika penemuan teknologi informasi
pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). berkembang dalam skala massal, maka teknologi
Dalam era globalisasi saat ini dan pesatnya itu telah mengubah bentuk masyarakat manusia,
perkembangan teknologi komunikasi zaman dari masyarakat dunia lokal menjadi masyarakat
sekarang, masyarakat dapat dengan mudah dunia global. Dimana sebuah dunia masyarakat
mengeluarkan pendapatnya melalui perantara yang sangat trasnparan terhadap perkembangan
media massa terutama melalui media sosial. informasi, transportasi serta teknologi yang begitu
Banyak media sosial yang sering dimanfaatkan cepat dan begitu besar memengaruhi peradaban
oleh masyarakat untuk dapat langsung umat manusia. Perkembangan teknologi informasi
menyuarakan pendapatnya, seperti melalui status juga tidak hanya mampu menciptakan masyarakat
di Facebook dan kicauan di Twitter. Dengan dunia global, namun secara materi mampu
adanya media tersebut setiap individu dapat mengembangkan ruang gerak kehidupan baru bagi
langsung mengakses melalui internet maupun masyarakat, sehingga tanpa disadari komunitas
gadget yang dimiliki dan dengan cepat dapat manusia telah hidup dalam dua kehidupan, yaitu
tersebar luas ke seluruh jaringan. Namun, kehidupan masyarakat nyata dan kehidupan
terkadang individu-individu ini terlewat batas masyarakat maya atau disebut sebagai
dalam menyuarakan pendapatnya, mereka tidak cybercommunity (Bungin, 2013: 164). Didalam
membatasi isi pesannya sendiri, yang mungkin isi lingkungan media baru ini ada sebuah ruang yang
pesan tersebut dapat menyinggung individu lain biasa disebut dengan cyberspace (dunia maya)
atau instansi tertentu. Kasus yang terjadi dalam dimana dalam lingkungan ini telah membawa
media online maupun media sosial ini sudah pemikiran baru terhadap riset media yang tidak
diatur dalam UU Nomor 11 tahun 2008 tentang hanya terfokus pada pesan saja, tetapi melibatkan
Informasi dan Transaksi Electronik (UU ITE). teknologi komunikasi itu sendiri secara langsung
maupun tidak langsung dan memberikan fakta individu sebagaimana halnya terjadi di dunia
bahwa perangkat komunikasi berteknologi itu nyata. Dengan demikian, etiquette bisa diartikan
merupakan salah satu bentuk tipe dari lingkungan sebagai tiket yang harus dimiliki seseorang untuk
sosial. Cyberspace sendiri dianggap sebagai masuk ke dalam suatu komunitas yang merupakan
jejaring internet yang telah berkonsoldasi ke standar aturan yang harus dimiliki untuk masuk ke
dalam jaringan bagi berbagai jaringan. dalam suatu jaringan atau masyarakat di dunia
Cybermedia (media siber) memiliki virtual. Intinya, netiquette merupakan etika
karakteristik yang bersifat network (jejaring/ berinternet sekaligus perilaku sosial yang berlaku
jaringan) yang tidak hanya menghubungkan di media online.
antarkomputer dan perangkat keras lainnya tetapi Alasan mengapa diperlukan etika berinternet,
juga menghubungkan antar individu yang dapat antara lain:
melibatkan banyak individu-individu lainya dan 1. Pengguna media cyber tidaklah setara dan
tidak dibatasi. Karakteristik yang lainnya adalah berasal dari lingkungan yang sama tidaklah
interaksi (interactivity), merupakan sebuah konsep setara dan berasal dari lingkungan yang sama
yang sering digunakan untuk membedakan antara (keragaman cultural), dimana menyebabkan
media baru yang digital dan media tradisional. tebukanya peluang konflik, perseteruan, atau
Dengan kehadiran teknologi komunikasi ini permusuhan, dan tidak adanya batas-batas
mampu memberikan kemudahan untuk melakukan geografis sehingga diperlukan suatu aturan
interaksi dengan siapapun dan saling terhubung yang bisa diakui serta dilaksanakan untuk
dalam waktu yang sama, dimana teknologi inilah semua pengakses. Serta media cyber
yang telah mewakili keterlibatan fisik dalam merupakan ruang publik (public space).
berkomunikasi. 2. Komunikasi yang terjadi cenderung
mengandalkan pada teks tedapat
Cyberlaw dan Cybercrime kemungkinan penafsiran terhadap teks antara
Dalam kehidupan masyarakat cyber pengguna yang memproduksi teks dan
(cybercommunity) selain merupakan pandangan pengguna yang menerima teks yang terkait
kehidupan masa depan masyarakat nyata, juga dengan kultur diperlukan adanya kesamaan
merupakan imitasi kehidupan nyata itu sendiri, dalam memahami teks yang diunggah di
sehingga memungkinkan berbagai cybercrime media cyber.
(kriminal cyber) dalam masyarakat cyber 3. Di media cyber konten tidak hanya langsung
merupakan imitasi terhadap kejahatan yang tertuju (direct) kepada pengguna yang
selama ini ada di masyarakat, hanya saja diinginkan, tetapi bisa terjadi secara tidak
kejahatan itu dilakukan menggunakan prosedur langsung (undirect). Komunikasi yang terjadi
teknologi telematika yang sulit dilihat dengan tentu tidak terbatas pada komunikasi yang
mata sesaat, bahkan susah dibuktikan. Namun, melibatkan dua orang semata tetapi juga pada
kejahatan umum yang terjadi dalam masyarakat tataran komunikasi yang jauh lebih luas,
dunia maya ini berkisar pada kejahatan terhadap dimana apa yang ditampilkan di media cyber
sesame anggota masyarakat dunia maya yang bisa diakses langsung oleh pengguna lain,
berhubungan erat dengan hukum-hukum positif baik melalui akses keakun, akses ke situs,
dan kejahatan terhadap moral masyarakat secara aksen melalui mesin pencari, maupun melalui
umum. Salah satu karakter umum cybercrime perantara perangkat.
yang dapat diidentifikasi adalah kejahatan ini 4. Media cyber tidak serta-merta dianggap
dapat dilakukan dari mana saja dan dimana saja sebagai media yang berbeda dan lepas dari
dalam cybercommunity, tanpa harus berada dalam dunia nyata. Hubungan antar-pengguna di
satu negara atau senegara dengan tempat dimana media cyber pada kenyataannya merupakan
server itu berada. transformasi dari hubungan dunia nyata,
namun dengan perantara teknologi. meski
Etika Berinternet (Netiquette) komunikasi itu terjadi di dunia virtual, melalui
Netiquette berasal dari kata “net” untuk teks, dan antar-pengguna diwakili oleh
menjelaskan jaringan (network) atau bisa juga perangkat, tetap saja yang terjadi itu
internet, dan “etiquette” yang berarti etika atau komunikasi yang memerlukan tata krama
tata nilai yang diterapkan dalam komunikasi di sehingga tetap diperlukan aturan tak tertulis
dunia cyber. Artinya, walau komunikasi terjadi di untuk saling menghormati.
dunia virtual dan medium komunikasi diwakili 5. Etika berinternet diperlukan agar setiap
oleh teks, diperlukan standar aturan berdasarkan pengguna ketika berada di dunia virtual
aturan komunikasi dan/atau hubungan antar-
memahami hak dan kewajibannya sebagai dalam Pasal 40 ayat 2, bahwa“ Pemerintah
“warga negara” dunia virtual. melindungi kepentingan umum dari segala jenis
gangguan sebagai akibat penyalahgunaan
Aspek Hukum di Cybermedia informasi elektronik dan transaksi elektronik yang
Masalah terbesar yang dihadapi masyarakat menggangu ketertiban umum, sesuai dengan
dunia maya adalah cybercrime. Kejahatan di ketentuan peraturan perundang-perundangan.”
dunia cyber atau cybercrime merupakan bentuk Cybercrime dalam UU ITE ini, selain
kejahatan baru berbasis teknologi informasi dikategorikan dalam beberapa bentuk juga
dengan memanfaatkan perangkat keras maupun terdapat ketentuan hukuman kepada pelakunya.
perangkat lunak komputer. Cybercrime Misalnya, ditemukan tindakan yang dengan
merupakan perbuatan melawan yang dilakukan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi
dengan memakai komputer sebagai sarana/alat yang ditunjukkan untuk menimbulkan rasa
atau komputer sebagai objek, baik untuk kebencian atau permusuhan individu dan/atau
memperoleh keuntungan atau tidak, dengan kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas
merugikan pihak lain. Kejahatan cyber merupakan suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA).
tindakan kriminal atau melawan hukum yang Dalam media cyber, khalayak tidak hanya bisa
menggunakan komputer dan jaringan internet. mengakses sumber berita dari media asal, namun
Dengan adanya masalah ini, maka kebutuhan dengan perkembangan perangkat atau platform
terhadap cyberlaw menjadi sangat mendasak. saat ini, khalayak bisa mengakses berita dari
Prinsip-prinsip utama dalam cyberlaw adalah: media sosial seperti Facebook dan Twitter atau
a. Memberi rasa aman terhadap setiap warga bisa juga berlangganan melalui e-mail.
masyarakat, baik masyarakat dunia maya
maupun masyarakat dalam realitas nyata. Opini Publik
b. Harus dapat memberi rasa keadilan untuk Opini atau pendapat dapat didefinisikan
beraktivitas dalam masyarakat maya, sebagai sesuatu pernyataan yang bersifat aktif atau
melindungi kepentingan sesama anggota pasif. Pengungkapannya dapat berupa verbal,
cybercommunity terhadap berbagai kegiatan bahasa tubuh, simbol, raut muka, ekspresi, warna
saling “membunuh” satu sama lainnya di pakaian yang digunakan, serta tanda-tanda lain
antara anggota cyber. yang tidak terbilang jumlahnya melalui referensi,
c. Dapat melindungi hak-hak intelektual nilai-nilai, pandangan, sikap, dan kesetiaan
maupun hak-hak materiil lainnya dari setiap terhadap sesuatu. Oleh karena itu suatu opini bisa
warga cyber. berbentuk sebuah dukungan terhadap sesuatu,
d. Dapat memberi rasa jera terhadap pelaku- pertentangan terhadap sesuatu, bahkan bersifat
pelaku cybercrime dengan sanksi-sanksi netral semata. Opini merupakan expressed
hukuman yang dibenarkan dalam statement yang bisa diucapkan dengan kata-kata
cybercommunity, maupun pemberian sanksi- dan juga bisa dinyatakan dengan isyarat atau cara-
sanksi hukum positif terhadap pelaku cara lain yang mengandung arti dan segera dapat
kriminal dalam masyarakat maya. dipahami maksudnya. Opini timbul sebagai hasil
e. Dapat dilaksanakan oleh masyarakat, baik pembicaraan tentang masalah yang bersifat
dalam masyarakat dunia maya maupun dalam kontroversial yang menimbulkan pendapat yang
masyarakat nyata. berbeda-beda dan sebagai suatu jawaban terbuka
terhadap suatu persoalan atau isu. Subjek dari
Kejahatan di dunia cyber ini pada dasarnya suatu opini biasanya adalah masalah baru. Opini
merupakan tindakan kriminal dan ilegal yang berupa reaksi pertama dimana orang yang
dalam banyak kasus dapat merugikan pihak lain. mempunyai perasaan ragu-ragu dengan sesuatu
Terkait dengan hal tersebut, munculnya Undang- yang lain dari kebiasaan, ketidakcocokan dan
Undang RI No.11 Tahun 2008 tentang Informasi adanya perubahan penilaian. Unsur-unsur ini
dan Transaksi Elektronik (UU ITE) merupakan mendorong orang untuk saling memperten-
langkah yang diambil oleh pemerintah dan tangkannya.
lembaga hukum untuk menjerat para pelaku
tindak kejahatan yang terkait dengan komputer Proses Pembentukan Opini Publik
dan jaringan internet. Munculnya UU ITE ini Dalam suatu publik yang menghadapi isu
dimaksudkan sebagai pelengkap dari payung dapat timbul perbedaan opini karena: (1)
hukum lainnya, dan sebagai upaya perlindungan perbedaan pandangan terhadap fakta; (2)
yang dilakukan oleh pemerintah terhadap semua perbedaan perkiraan tentang cara-cara terbaik
warga negara Indonesia sebagaimana dijelaskan
untuk mencapai tujuan; (3) perbedaan motif yang bentuk dan cara merespon terhadap stimulus
serupa guna mencapai tujuan. atau rangsangan yang menghampirinya.
Hal-hal yang diutarakan itu merupakan sebab 2. Faktor Sosiologi Politik. Ada anggapan
timbulnya kontroversi terhadap isu isu tertentu. bahwa opini publik terlibat dalam interaksi
Opini dapat dinyatakan melalui perilaku, sikap sosial, diantaranya yaitu:
tindak, mimic muka atau bahasa tubuh (body a. Saat mewakili citra superioritas, barang
language) atau berbentuk simbol-simbol tertulis siapa menguasai opini publik akan
berupa pakaian yang dikenakan, makna sebuah mengendalikan orang lain. Sebab, opini
warna. Untuk memahami opini seseorang dan publik itu dinamis, maka keberpihakannya
publik tersebut bukanlah perkara yang mudah bersifat relative, dan cenderung berpihak
karena berkaitan dengan unsur-unsur tertentu. pada kelompok atau individuyang
Unsur-unsur pembentuk opini, yaitu: memiliki keterdekatan hubungan.
1. Kepercayaan mengenai sesuatu (believe) b. Opini publik mewakili suatu kejadian,
2. Apa yang sebenarnya disarankan untuk sehingga individu merasa keberadaannya
menjadi sikapnya (attitude) dalam opini publik serta keterlibatan
3. Persepsi (perception), yaitu sebuah proses sebagai bagian anggota mayarakat.
memberikan makna yang berakar dari c. Opini publik berhubungan dengan citra,
beberapa faktor, yaitu (Cutlip, 2006: 242): (a) rencana, operasi (action) yang merupakan
Latar belakang budaya, kebiasaan dan adat matriks dari tahap-tahap kegiatan dalam
istiadat yang dianut seseorang atau situasi yang selalu berubah. Namun, pada
masyarakat; (b) Pengalaman masa lalu saat opini publik cenderung negatif
seseorang atau kelompok tertentu menjadi disarankan untuk tidak melakukan; respon
landasan atau pendapat atau pandangan; (c) yang terjadi adalah kecurigaan.
Nilai-nilai yang dianut (moral, etika, dan d. Opini publik disesuaikan dengan kemauan
keagamaan yang dianut atau nilai-nilai yang banyak orang, sehingga banyak orang
berlaku di masyarakat). yang memanfaatkan opini publik sebagai
4. Berita-berita dan pendapat yang berkembang argumentasi atas alasan memutuskan
yang kemudian mempunyai pengaruh sesuatu.. keputusan yang berdasarkan
terhadap pandangan seseorang. dominasi opini publik belum tentu selaras
dengan norma dan etika sosial.
Karakter Opini Publik dan Kekuatan Opini e. Opini publik identik dengan hagemoni
Publik ideologi. Kelompok atau pemerintahan
Opini publik merupakan suatu pengumpulan ingin tetap terus berkuasa. Mereka harus
citra yang diciptakan proses komunikasi. mampu menjadikan ideologi kekuasaan
Gambaran tentang sesuatu, apakah berbentuk menjadi dominan dalam opini publik.
abstrak atau konkret selalu bermuka banyak atau 3. Faktor Budaya. Nilai-nilai yang terhimpun
berdimensi jamak, karena berbagai perbedaan dalam sistem budaya, oleh individu menjadi
penafsiran (persepsi) yang terjadi diantara peserta identitas sosialnya, menjadi ciri-ciri dari
komunikasi. Itu sebabnya dalam opini publik anggota komunitas budaya tertentu.
terjadi pergeseran-pergeseran, dikarena berbagai 4. Faktor Media Massa. Oleh masyarakat
perbedaan penafsiran (persepsi) yang terjadi (audiens), isi media diubah menjadi gugusan-
diantara peserta komunikasi. Perubahan dalam gugusan makna, apakah yang dihasilkan dari
opini publik adalah dinamika komunikasi, proses penyandian pesan itu sangat ditentukan
sedangkan substansi opini publik tida berubah, oleh norma-norma yang berlaku dalam
karena ketika proses pembentukan opini publik masyarakat, pengalaman yang lalu,
berlangsung, pengalaman dari peserta komunikasi kepribadian dan selektivitas dalam penafsiran.
itu telah terjadi.
Beberapa faktor yang menyebabkan Kebebasan Mengeluarkan Opini
pergesaran dalam opini publik, antara lain: Sebagian besar individu memiliki kebebasan
1. Faktor Psikologis. Tidak ada kesamaan atara mengeluarkan pendapat (opini), sedangkan media
individu yang satu dengan lainnya, hanya massa memiliki kebebasan menyebarkan opini. Di
kemiripan yang memiliki banyak perbedaan negara totaliter, pelarangan mengeluarkan opini
meliputi kepentingan, pengalaman, selera, dan terjadi, sedangkan di negara demokrasi, kebe-
kerangka berpikir. Atas perbedaan inilah basan diusahakan dijamin. Dalam komunikasi,
sehingga setiap individu berbeda dalam pembatasan mengeluarkan opini dihadapkan pada
beberapa teori antara lain authoritarian theory,
libertarian theory, responsibility theory, dan ini menggunakan accidental sampling, dimana
communist theory. Sisa-sisa paham liberalisme data diambil dari sampel yang memenuhi kriteria
masih ada bahkan dipertahankan, sehingga di lokasi yang kebetulan ditemui, atau yang ada di
umumnya setiap undang-undang negara manapun suatu tempat.
mempunyai pasal tentang kebebasan menge-
luarkan opini. Indonesia mempunyai pasal 28 Teknik Pengumpulan Data
UUD 1945, sedangkan dalam Declaration of Teknik pengumpulan data dalam penelitian
human rights (1948), kebebasan tercantum dalam ini, data diambil belum ditentukan dahulu oleh
pasal 19. Kebebasan mengeluarkan opini peneliti (acak). Dengan cara observasi dan
dipertahankan demi kebenaran. Namun, ke- wawancara, metode ini merupakan metode
benaran ditentukan oleh norma-norma yang dianut dimana peneliti mengumpulkan keterangan-
masyarakat sesuai tempat, zaman, dan waktunya. keterangan seluas-luasnya mengenai kelompok
Umumnya orang menginginkan kebebasan, dan tertentu yang ingin di selidiki. Penelitian ini
menganggap bila sesuatu tidak dicantumkan diadakan dengan menggunakan wawancara dan
dalam hukum, maka tindakan menyerang observasi, sebagai alat untuk mengumpulkan
kebebasan orang lain tidak dapat dituntut. keterangan-keterangan maupun data.
Kebebasan menurut hukum dibagi menjadi
dua, yaitu setiap individu menikmati kebebasan Sumber Data
yang sama besarnya dengan kebutuhan kebebasan Data primer adalah data yang didapatkan oleh
orang lain, dan kemungkinan menikmati peneliti secara langsung dari sumber informasi
kebebasan yang utuh dalam hal-hal khusus. Jadi, atau responden, yang dimana dalam penelitian ini
kebebasan adalah salah satu terwujudnya sumber informasi atau respondennya adalah
keadilan. Tugas negara bukan saja mengadakan mahasiswa dan dosen Jurusan Ilmu Komunikasi
keseimbangan antara hak hidup sebagai anggota FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
masyarakat, hak ikut menentukan corak dan Sedangkan data sekunder adalah yang didapatkan
pemerintahan, serta kebebasan mencari dan oleh peneliti tidak secara langsung dari sumber
memperoleh pekerjaan yang sesuai keinginan, informasi atau responden. Peneliti mendapatkan
melainkan menyatukan bentuk kebebasan yang data yang sudah ada yang dikumpulkan oleh pihak
satu sama lain. Menurut Barker, dasar berpikir lain dengan berbagai cara atau metode.
rule of law adalah keseimbangan antara satu pihak Pengumpulan data sekunder ini salah satunya
kebebasan untuk menjalankan sesuatu dan pada dengan dokumentasi yang dimana dapat diartikan
pihak lain pemikiran hak ini juga dimiliki orang dalam bentuk surat, catatan, arsip foto, hasil rapat,
lain sehingga tercapai prinsip hak yang sama. cenderamata, jurnal kegiatan, blog, website,
internet, buku-buku pustaka, karya ilmiah dan
METODE PENELITIAN sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini
berfungsi untuk dipakai menggali informasi yang
Jenis penelitian terjadi di masa silam atau sebagai referensi
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian peneliti dalam mencari penyelesaian masalah.
naratif kualitatif. Desain naratif atau narrative Data sekunder ini adalah beberapa contoh kasus
research design yaitu berkaitan dengan meng- yang ada di media cetak maupun media online.
ekplorasi cerita-cerita individu untuk
menggambarkan kehidupan orang-orang (Bungin, Teknik Analisis Data
2012: 75). Penelitian ini bertujuan untuk menggali Dalam penelitian ini teknik analisis data yang
informasi tentang kebebasan publik dalam dipakai adalah teknik analisis taksonomik
menyampaikan pendapat secara naratif melalui (taxonomic analysis), dimana teknik ini terfokus
facebook dan twitter yang kini menjadi terbatas. pada domain-domain tertentu kemudian me-
milahnya menjadi sub-domain yang lebih khusus
Narasumber/Informan Penelitian dan terperinci. Sehingga menghasilkan hasil
Lokasi dan informan penelitian ini adalah di analisis yang terbatas pada domain tertentu dan
kawasan kampus Universitas 17 Agustus 1945 hanya berlaku pada satu domain (Bungin, 2012:
Surabaya. Pemilihan informan dalam penelitian 214).
HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti kemudian membuat Tabel Analisis Domain
dan Bagan Analisis Taksonomi, sebagai berikut:

Tabel Analisa Domain:


Kebebasan Berpendapat Melalui Facebook dan Twitter (Media Sosial) Terkait Penerapan UU ITE

Hubungan
No Rincian Domain Domain
Semantik
- Facebook
- Twitter
1 - Path Jenis Media sosial
- Instagram
- Blackberry Messenger
Membuat tulisan atau pernyataan Bentuk aspirasi atau pendapat pengguna media
2 Digunakan
(status) sosial
- Melalui tulisan Model atau bentuk pengungkapan pendapat
3 Cara
- Melalui gambar atau komentar
Terjadi pelecahan, penghinaan Ungkapan perasaan (berkeluh kesah atau
4 ataupun pencemaran nama baik Sebab-akibat amarah) seseorang terhadap suatu hal yang
dialami
Adanya UU ITE yang membatasi dan mengatur
Menjadi sebuah kasus pidana
5 Alasan tentang penggunaan internet, pemanfaatan
maupun perdata
teknologi informasi, serta jaringannya
Menyinggung atau merugikan pihak
Karakteristik/ Seseorang dapat dijerat dalam kasus pidana
6 lain, baik perorangan maupun
cirri-ciri maupun perdata
lembaga
Sumber: Data Primer

Tabel Analisa Taksonomi


Kebebasan Berpendapat Melalui Facebook dan Twitter (Media Sosial) Terkait Penerapan UU ITE

Suku

Agama

Ras
Menyinggung
pihak lain
Antar-
Menjadi sebuah
golongan
kasus pidana
maupun perdata

Penghinaan
Merugikan pihak
lain
Pelecehan

Sumber: Data Primer Pencemaran


nama baik
Dari hasil penelitian yang dilakukan, dari 14 yang bijak dan berdasarkan fakta dan data yang
informan dua diantaranya mengatakan bahwa rasional, serta diungkapkan secara santun. Tetapi
mereka merasa terbatasi dengna adanya UU ITE, hal ini akan berbeda jika seseorang itu
namun mayoritas informan mengatakan tidak “mengaku” sebagai seorang yang berpendidikan
merasa terbatasi dengan adanya UU ITE. dan merupakan orang dari kalangan kelas atas
Mereka juga beranggapan bahwa nilai dan bahkan tingkat intelektualitasnya rendah,
kebebasan dalam UU ITE memang terbatas, pasti cara penyampaiannya berbeda sekali.
tetapi terbatas dalam segi positif, karena Berbebeda pula dengan orang yang merupakan
batasan-batasan yang diberikan di dalamnya golongan kelas menengah dan memahai aturan-
merupakan bentuk per-lindungan bagi aturan dan beretika tentu akan tidak akan
masyarakat dunia maya agar hak-hak mereka menimbulkan suatu permasalahan karena
tidak terganggu. Kebebasan ber-pendapat penyampaiannya disam-paikan dengan santun.
melalui media sosial secara garis besar memang Dari semuanya itu, tentu saja tidak lepas dari
terlihat sangat bebas, banyak juga pengguna kepribadian orang masing-masing, orang yang
Facebook dan Twitter ataupun jenis media sosial status sosialnya kelas atas, belum tentu dia
lainnya yang membuat status dengan adalah orang yang paham dengan etika dan
seleluasanya sendiri, tidak hanya melalui tulisan norma-norma yang ada, begitu juga sebaliknya.
saja tetapi mereka juga menyampaikan dalam Dalam hasil wawancara mengenai
bentuk gambaran yang istilahnya disebut dengan bagaimana caranya untuk membatasi diri agar
“meme”. Dalam penggunaan dan pemilihan tetap dapat berpendapat secara bebas, rata-rata
media sosial semua tergantung dari pribadi informan memiliki pendapat yang sama, yaitu
masing-masing individu, ada juga orang harus sadar akan etika dan norma-norma.
memiliki semua jenis media sosial, adapula yang Memahami sebuah etika dalam berperilaku
hanya memiliki satu atau dua media sosial saja. maupun dalam ber-komunikasi merupakan hal
Sistem media sosial sekarang ini adalah antara yang sangat penting, karena dengan adanya etika
media sosial yang satu dengan yang lainnya tersebut, kita dapat membedakan dan
terdapat koneksi yang bisa dihubungkan secara mengetahui batasan-batasan apa saja yang harus
langsung. Sehingga pada saat pengguna dilakukan dan mana yang tidak baik. Begitu juga
menggunakan salah satu akun media sosialnya dengan norma, norma meru-pakan suatu aturan
dan memposting sesuatu atau mengunggah yang tidak tertulis dan selalu diterapkan. Selain
gambar maka secara langsung postingan atau itu, dalam membuat suatu pernyataan maupun
unggahan itu juga terpapar di media sosial komentar di Facebook dan Twitter atau jenis
lainnya. Contohnya, kasus yang dialami media sosial lainnya sebaiknya jangan
Florence sebenarnya berawal dari status yang menuliskan atau mengunggah gambar ataupun
dibuat di akun Path-nya yang sudah ter-koneksi video yang menyinggung tentang suku, agama,
dengan akun di Twitter-nya, sehingga ras, dan antar golongan (SARA) karena unsur ini
penyebaran status yang dituliskan oleh Florence adalah unsur yang sangat sensitif jika
dengan cepat tersebar luas di media sosial. disinggung. Kemudian jika ingin berkomentar
Kemudian kasus tersebut menjadi trending topic terhadap suatu isu atau berita jangan
di Twitter dan Florence mendapat banyak memberikan komentar yang sifatnya anarki
mention dan di-bully oleh orang lain. ataupun rasis dan sebaiknya memahami akar
Peran status sosial ekonomi, status pendikan permasalahannya agar apa yang disampaikan
, dan intelektualitas seseorang memiliki tidak hanya sekedar ikut-ikutan orang lain saja
pengaruh dalam menyampaikan sebuah dan memperkeruh masalah. Pada dasarnya,
pendapat atau hanya sekedar memberikan ungkapan yang dikeluarkan oleh masyarakat
komentar atau sebuah informasi. Dipandang dari memang merupakan hak kebebasan berpendapat,
status sosial kelas atas dan tingkat namun banyak orang yang me-nyalah-artikan
pendidikannya yang cukup tinggi serta kebebeasan berpendapat dengan semaunya
berintelek, pendapat, informasi, maupun sendiri. Yang paling sederhana adalah dalam
komentar yang diberikan pasti akan terlihat lebih menyampaikan atau mengungkapkan pendapat
berkelas dan menyampaikannya dengan cara
atau komentar itu sebaiknya seperlunya dan http://www.komisiinformasi.go.id/regulasi/down
sewajarnya saja. load/id/140 . Akses: 31 Januari 2015.
http://batampos.co.id/24-03-2014/kebebasan-
KESIMPULAN berpendapat-yang-masih-terkekang/"
http://batampos.co.id/ Akses: 24-10-2014.
Dari keseluruhannya dapat simpulkan bahwa http://news.detik.com/read/2014/09/09/183529/2
hak kebebasan seseorang dalam berpendapat 685711/10/merasa-dihina-ridwan-kamil-
melalui Facebook dan Twitter maupun media resmi-laporkan--kemalsept-dan-2-akun-
sosial lainnya tidaklah merasa terbatasi dengan lain?nd% 20771104bcj. Akses: 21-1-2015.
adanya Undang Undang Informasi dan Transaksi http://www.fimela.com/news-entertainment/
Elektronik ini, justru mereka merasa aman kasus-florence-kontroversi-uu-ite-vs-
karena dalam undang-undang ini memberikan kebebasan-berpendapat-di-media-sosial-
perlin-dungan hukum bagi setiap pengguna 140901u.html . Akses: 24-10-2014.
dunia maya dari para pelaku tindak kejahatan http://www.kemenag.go.id/file/dokumen/UU110
yang memanfaatkan teknologi informasi yang 8.pdf . Akses: 12-11-2015.
terkait dengan komputer dan jaringan interenet. Jawa Pos. 2014. Etika-dan-Kebebasan-
Sebe-narnya, batasan yang diatur di dalam UU Berekspresi, UU ITE: Mencari
ITE ini merupakan batasan yang positif, itu Keseimbangan Antara Etika dan Kebebasan
sebabnya mengapa masyarakat tidak merasa Berekspresi .
terbatasi dan masih tetap bisa berpendapat www.jawapos.com/baca/artikel/6764/UU-
secara bebas dengan mengikuti ketentuan- ITE- . Akses: 24-10-2014.
ketentuan yang sudah di-tetapkan sebelumnya, Jawa Pos (Surabaya), 7 September 2014, h.1,
agar terhindar dari kasus yang menimbulkan k.1.
pelecehan, penghinaan atau pencemaran nama Nasrullah, Rulli. (2014). Teori dan riset media
baik dan jeratan hukum pidana ataupun perdata. siber (Cybermedia). Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
DAFTAR PUSTAKA Nurudin. (2013). Media sosial baru dan
munculnya revolusi proses komunikasi.
Bungin, Burhan. (2012). Penelitian kualitatif. Jurnal komunikator UMY 5(2) (pp.127-
Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 142).
Bungin, Burhan. (2013). Sosiologi komunikasi: www.academia.edu/5651271/Nurudin_Medi
Jakarta: Kencana Prenada Media Group. a_Sosial. Akses: 24-10-2014.
Chakrabarti, Dishari & Pati, Puja P. (2014). Olii, Helena. (2007). Opini publik. Jakarta: PT
Social media and its efficacy. International Indeks
journal of research and analysis vol. 2 issue Ruslan, Rosady. (2012). Manajemen public
2 (pp. 76-84). relations & media komunikasi. Jakarta: PT.
https://independent.academia.edu/ %20Dishari Rajagrafindo Persada.
Chakrabarti. Sidik, Suyanto. (2013). Dampak UU informasi
http://independent.academia.edu/ dan transaksi elektronik (UU ITE) terhadap
DishariChakrabarti . Akses: 8-1-2015. perubahan hukum dan sosial dalam
Creswell, John W. (2012). Educational masyarakat. Jakarta: Universitas
research: Planning, conducting, and Bhayangkara Jakarta Raya. http://e-
evaluating quantitative and qualitative. journal.jurwidyakop3.
Boston: Pearson Education, Inc. com/index.php/jurnal-ilmiah/article/view/99
Holmes, David. (2012). Teori komunikasi: . Akses: 15-12-2014.
Media, teknologi, dan masyarakat. (T. W. Susanto, Eko Hari, (2011). Media baru,
Utomo, penerj.). Yogyakarta: Pustaka kebebasan informasi dan demokrasi di
Belajar. kalangan generasi muda. Jakarta:
http://www.komisiinformasi.go.id/regulasi/down Universitas Tarumanagara.
load/id/140 http://journal.tarumanagara.ac.id/index.php/
kidFik/article/view/1246 . Akses: 15-12-
2014.
Tiwari, Shishir & Ghosh, Gitanjali. (2013).
Social media and freedom of speech and
expression: challenges before the Indian
law. India: North-Eastern Hill University.
https://www. academia.edu/4117408/.
Akses: 8-1-2015.
Wibowo, Ari. (2012). Kebijakan delik
pencemaran nama baik di Indonesia.
Pandecta vol.7, no. 7. Yogyakarta: UII.
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/pand
ecta/article/view/2358 . Akses: 15-12-2014.
Yonatha, Nadya S. (2012). Kebijakan kriminal
dalam penanggulagan tindak pidana
pencemaran nama baik yang terjadi di media
jejaring sosial. Palembang: Universitas IBA.
http://repository.iba.ac.id/index.php?p=show
_detail&id=555 . Akses: 15-12-2014.
Undang Undang RI No.11 Tahun 2008 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik.
Undang Undang RI No.40 Tahun 1999 tentang
Pers.
www.fimela.com/news-entertainment/ tentang-
uu-ite-dan-kebebasan-berpendapat-di-mata-
ahli-hukum. Akses: 24-10-2014.