Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

BUDIDAYA BENIH SUMBER VARIETAS UNGGUL BARU (VUB) PADI DI BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN (BPTP) YOGYAKARTA

DI BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN (BPTP) YOGYAKARTA Oleh: Fauziah Br Daulay NPM 1510401020 PROGRAM STUDI

Oleh:

Fauziah Br Daulay NPM 1510401020

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TIDAR

2018

i

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

BUDIDAYA BENIH SUMBER VARIETAS UNGGUL BARU (VUB) PADI DI BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN (BPTP) YOGYAKARTA

DI BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN (BPTP) YOGYAKARTA Oleh: Fauziah Br Daulay NPM 1510401020 Diajukan sebagai

Oleh:

Fauziah Br Daulay NPM 1510401020

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memenuhi Tugas pada Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tidar

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TIDAR

2018

ii

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

BUDIDAYA BENIH SUMBER VARIETAS UNGGUL BARU (VUB) PADI DI BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN (BPTP) YOGYAKARTA

Oleh:

Fauziah Br Daulay NPM 1510401020

Pembimbing,

Diterima dan disetujui Tanggal: ……………

Pembimbing Lapang

Ir. Murti Astiningrum, M.P. NIDN 0623106001

Evy Pujiastuti, S.P. NIP. 19730518 200801 2 007

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Ir. Gembong Haryono, M.P. NIP 19571112 198703 1 002

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan

kesempatan bagi kami sehingga kami dapat melaksanakan Praktek Kerja Lapangan

(PKL) dan juga dapat menyelesaikan laporan dengan judul Budidaya Benih Sumber

Varietas Unggul Baru (VUB) Padi di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)

Yogyakarta.

Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam

menyelesaikan PKL (Praktik Kerja Lapangan) bagi Mahasiswa Fakulas Pertanian

Universitas Tidar. Praktik kerja ini merupakan salah satu upaya dalam menjalin

kerja sama yang baik dalam bidang pertanian antar instansi yang bersangkutan serta

terhadap perkembangan bidang pertanian terutama pada perbenihan padi. Semoga

kegiatan serta penulisan laporan dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Pada kesempatan ini, Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-

pihak terkait, yang telah memberi dukungan moral serta bimbingan:

1. Ir. Gembong Haryono, M.P. selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas

Tidar,

2. Dr. Joko Pramono selaku Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

(BPTP) Yogyakarta,

3. Ir. Murti Astiningrum, M.P. selaku dosen pembimbing,

4. Evy Pujiastuti, SP. selaku pembimbing lapang,

5. Para staf serta karyawan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)

Yogyakarta.

iv

Magelang,

Penyusun Fauziah Br Daulay

Agustus 2018

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN

SAMPUL

i

HALAMAN

JUDUL

ii

LEMBAR PENGESAHAN

iii

KATA PENGANTAR

iv

DAFTAR

ISI

v

DAFTAR

GAMBAR

vii

DAFTAR

TABEL

viii

ABSTRAK

1

BAB 1 PENDAHULUAN

2

1.1 Latar Belakang

2

1.2 Permasalahan

3

1.3 Tujuan Praktik Kerja Lapangan

3

1.4 Manfaat Praktik Kerja Lapangan

3

1.5 Ruang Lingkup

3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

4

2.1 Padi (Oryza sativa, L.)

4

2.2 Sistem Budidaya Tanaman Padi

9

2.3 Benih Varietas Unggul

17

BAB 3 METODE PRAKTIK KERJA LAPANGAN

21

3.1 Tempat Dan Waktu

21

3.2 Materi Praktik Kerja Lapangan

21

3.3 Metode Praktik Kerja Lapangan

21

3.4 Metode Pengumpulan Data

21

3.5 Rencana Pelaksanaan

22

BAB 4 GAMBARAN UMUM INSTANSI

23

4.1 Profil

BPTP Yogyakarta

23

4.2 Profil UPBS BPTP Yogyakarta

24

4.3 Struktur Organisasi BPTP Yogyakarta

25

4.4 Struktur

Orgasnisa UPBS

25

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

26

5.1 Kondisi Umum Lokasi PKL

26

5.2 SOP Kegiatan Produksi Benih UBPS BPTP Yogyakarta

26

5.3 Teknologi Produksi Benih Padi di UBPS BPTP Yogyakarta

28

v

5.4

Budidaya Produksi Benih Sumber Padi

30

5.5 Proses Sertifikasi Benih Padi ke BPSB DIY

41

5.6 Permasalahan dalam Produksi Benih Padi

52

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

56

6.1 Kesimpulan

56

6.2 Saran

57

DAFTAR PUSTAKA

58

LAMPIRAN-LAMPIRAN

vi

Gambar

DAFTAR GAMBAR

Judul

Halaman

1 Sistem

Jajar

Legowo

2:1

13

2 Sistem Jajar Legowo 4:1 tipe

14

3 Sistem Jajar Legowo 4:1 tipe

14

vii

DAFTAR TABEL

Tabel

Judul

Halaman

1 Komposisi Gizi dalam 100 gram Bahan Beras

9

2 SOP Kegiatan Produksi Benih UBPS BPTP

27

3 Cara Penentuan Jumlah

44

4 Spesifikasi Persyaratan Mutu Benih di

51

5 Spesifikasi Persyaratan Mutu Benih di

51

viii

Budidaya Benih Sumber Varietas Unggul Baru (VUB) Padi di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta

Oleh:

Fauziah Br Daulay NPM 1510401020

Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tidar

ABSTRAK

Produksi benih sumber merupakan salah satu strategi dalam mencapai

kedaulatan pangan dan penyediaan benih sumber. Produksi benih menempati posisi

strategis dalam pembangunan perbenihan nasional. Benih yang merupakan input

utama dalam pertanian sangat berperan penting dalam pertanian. Produksi benih

sumber memiliki peran langsung dalam peningkatan pembangunan pertanian. Salah

satu inovasi teknologi yang dikembangkan yaitu pengembangan benih sumber

varietas unggul baru (VUB) yang berfungsi sebagai delivery mechanism. VUB

dikembangkan secara lokal spesifik dan bersertifikat untuk menjamin kualitasnya.

UPBS BPTP Yogyakarta merupakan salah satu instansi yang bergerak dalam

produksi benih sumber padi. Kegiatan produksi benih sumber yang berlangsung di

UPBS BPTP Yogyakarta meliputi CPCL (Calon Produsen Calon Lokasi),

pengadaan benih sumber dan pengajuan sertifikasi awal, persemaian, penyiapan

lahan, penanaman, pemupukan, pengairan, penyiangan dan pengendalian OPT,

roughing, panen, pengeringan, pengolahan benih, pengemasan dan penyimpanan.

Sertifikasi dilakukan melalui prosedur baku dan diajukan ke BPSB DIY, yaitu (1)

melakukan permohonan sertifikasi; (2) pemeriksaan kebenaran benih sumber,

lapang dan pertanaman, isolasi tanaman dan alat panen; (3) pengambilan contoh

dan pengujian di laboratorium; (4) penerbitan sertifikat dan kelima pelabelan.

Kata Kunci: Benih sumber, Produksi benih padi, VUB, Sertifikasi benih

1

1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN

Tanaman padi merupakan tanaman pangan yang berasal dari benua

Asia dan Afrika Barat. Tanaman padi dikenal dengan nama latin Oryza sativa,

L., berdasarkan penelitian lebih lanjut tanaman ini berasal dari hasil

perkawinan silang antara Oryza spontanea dan Oryza officinalis. Tanaman

padi merupakan tanaman pangan yang tergolong kedalam keluarga Graminae

(Poaceae) yang dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat.

Pada saat ini budidaya tanaman padi banyak dilakukan di wilayah-

wilayah iklim hangat dan curah hujan yang tinggi. Indonesia merupakan salah

satu negara yang memproduksi padi dengan tujuan pemenuhan sumber pangan.

Food and Agriculture Organization of the United Nation tahun 2014

menyebutkan Indonesia termasuk kedalam lima produsen beras terbesar dunia

dengan jumlah volume produksi 70.600.000 ton beras (Anonim, 2014 a ).

Produksi beras di Indonesia terus mengalami peningkatan hingga tahun

2017. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tentang produksi padi menurut

provinsi, produksi beras pada tahun 2015-2017 berturut-turut yaitu 75.397.767

ton, 79.354.767 ton dan 81.382.451 ton (Anonim, 2017 b ). Dalam memenuhi

persediaan cadangan pangan dalam negeri pemerintah Indonesia terus

melakukan impor sepanjang Januari- Oktober 2017 sebesar 256.56 ribu ton

dengan nilai US$ 119,78 juta. Namun, jumlah tersebut jauh lebih rendah

dibanding impor periode (Januari-Desember) 2016 seberat 1.28 juta ton dengan

nilai US$ 531.84 juta, hal ini didukung oleh rencana pencapaian pemerintah

(Anonim, 2017 a ).

Pemerintah Indonesia terus berusaha untuk dapat mencapai

swasembada beras dan menjadi ekspotir beras dengan melakukan beberapa

cara, salah satunya mendorong petani meningkatkan produksi dengan

penggunaan teknologi, menyediakan subsidi pupuk dan penggunaan varietas

unggul baru (VUB). Penggunaan benih VUB berkonstribusi cukup besar dalam

2

peningkatan produksi tanaman padi nasional. Varietas unggul merupakan salah satu teknologi inovatif yang handal untuk meningkatkan produksi padi, dalam peningkatan potensi atau daya hasil tanaman serta toleransi atau ketahanan tanaman terhadap cekaman biotik dan abiotik (Sembiring, 2007).

1.2 Permasalahan Produksi beras di Indonesia mengalami peningkatan hingga tahun 2017 dengan total sebesar 81.382.451 ton, untuk dapat memenuhi kebutuhan cadangan pangan dan mencapai swasembada beras maka perlu dilakukan peningkatan produksi padi dengan menggunakan varietas unggul baru (VUB).

1.3 Tujuan Praktik Kerja Lapangan

1 Sebagai syarat untuk memenuhi kurikulum Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanin Universitas Tidar

2 Mengetahui budidaya benih padi sumber Varietas Unggul Baru (VUB) di Balai Pengkajian Teknologi (BPTP) Yogyakarta.

1.4 Manfaat Praktik Kerja Lapangan

1 Memperoleh informasi dan pengetahuan mengenai budidaya benih padi sumber varietas unggul baru

2 Memahami kelas-kelas benih sumber padi

3 Memahami permasalahan di lapangan mengenai budidaya benih sumber varietas unggul baru (VUB) padi

1.5 Ruang Lingkup Unit Pengelola Sumber Benih di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta.

3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Padi (Oryza sativa, L.)

Padi merupakan salah satu tanaman pangan yang awalnya berasal dari

benua Asia dan Afrika Barat, padi saat ini merupakan hasil persilangan antara

Oryza officinalis dan Oryza spontanea. Dalam perkembangannya tanaman padi

yang dapat tumbuh baik di daerah tropis ialah jenis Indica, sedangkan jenis

Japonica lebih banyak diusahakan di daerah sub tropis.

Tanaman padi (Oryza sativa, L.) merupakan salah satu tanaman pangan

yang dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Lahan tanaman padi

pada mulanya di tempatkan di lahan yang tinggi dan berteras-teras namun pada

saat sekarang padi telah banyak diusahakan di daerah dataran rendah (Hasanah,

2007).

1 Taksonomi tanaman padi

Sistematika tanaman padi yaitu:

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Super Divisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Poales

Famili : Graminae

Spesies : Oryza sativa, L. (Herawati, 2012)

2 Morfologi tanaman padi

Tanaman padi merupakan tanaman berumur pendek, yaitu kurang

dari setahun dan berproduksi sekali. Tanaman yang telah tumbuh dan

menghasilkan buah padi tidak dapat tumbuh seperti semula. Tanaman padi

dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu:

4

a Bagian vegetatif Akar tanaman padi mulai tumbuh melalui proses perkecambahan benih, akar yang berasal dari benih yang berkecambah berupa akar pokok. Setelah 5-6 hari akan tumbuh akar serabut (Hasanah, 2007). Padi memiliki batang beruas-ruas yang merupakan bubung kosong. Pada kedua bubung kosong itu bubungnya ditutup oleh buku. Rangkaian ruas memiliki panjang yang berbeda-beda, ruas batang bawah pada tanaman padi lebih pendek, sedangkan semakin ke atas ruasnya akan semakin panjang. Batang pada tanaman padi baru akan muncul pada ketiak daun yang mulanya akan tumbuh kuncup dan setelah itu akan berkembang menjadi batang baru (Hasanah, 2007). Pertumbuhan batang padi akan merumpun, setiap rumpun terdapat satu batang tunggal atau batang utama yang mempunyai 6 mata atau sukma. Sukma 1, 3, dan 5 disebelah kanan, sukma 2, 4, dan 6 di sebelah kiri. Sukma yang timbul dari setiap tunas disebut tunas orde pertama. Tunas tersebut tumbuhnya didahului tunas yang tumbuh dari sukma pertama, kemudian sukma kedua disusul oleh tunas yang tumbuh dari sukma ketiga dan seterusnya sampai tunas terakhir yaitu tunas ke enam pada batang tunggal. Tunas yang tumbuh dari orde pertama disebut tunas orde kedua, biasanya tunas yang timbul dari tunas orde pertama menghasilkan tunas orde kedua yaitu tunas orde pertama yang paling bawah pada batang utama. Pembentukan tunas dari orde ketiga biasanya tidak terjadi karena tidak mempunyai ruang hidup dalam kesesakan di himpit oleh tunas orde pertama dan orde kedua (Herawati, 2012). Anakan tanaman padi akan tumbuh secara merumpun dan tumbuh di dasar batang. Pembentukan anakan terjadi secara tersusun, yaitu anakan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya (Hasanah, 2007). Daun tanaman padi mempunyai ciri khas tersendiri yaitu mempunyai sisik dan daun telinga, dengan demikian tanaman padi

5

dibedakan menjadi tanaman jenis rumput yang lain (Hasanah, 2007). Bagian-bagian daun padi, yaitu:

a) helaian daun, terletak pada batang padi serta bentuknya memanjang seperti pita. ukuran panjang dan lebarnya tergantung pada varietas tanaman padi yang ditanam.

b) pelepah daun, merupakan bagian daun yang menyelubungi batang dan berfungsi untuk memberi dukungan pada bagian ruas yang jaringannya lunak.

c) lidah daun, terletak pada perbatasan antara helai daun dan upih.

panjang lidah daun berbeda-beda tergantung pada varietasnya. fungsi lidah daun yaitu mencegah masuknya air hujan diantara batang dan pelepah daun, sehingga mencegah infeksi penyakit sebab media air memudahkan penyebaran patogen (Herawati, 2012).

b Bagian generatif Malai adalah sekumpulan bunga padi dan keluar dari buku yang paling atas. Bulir-bulir padi terletak pada cabang pertama dan kedua serta sumbu utamanya adalah ruas buku yang terakhir pada batang. Panjang malai tergantung pada varietas yang ditanam. Panjang malai dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu malai pendek kurang dari 20 cm, malai sedang 20 - 30 cm dan malai panjang lebih dari 30 cm, jumlah cabang berkisar 15 - 20 buah yang terendah 7 buah cabang dan yang terbanyak mencapai 30 buah cabang (Hasanah, 2007). Buah padi adalah buah telanjang, yaitu mempunyai perhiasan bunga dan mempunyai dua jenis kelamin dengan bakal buah yang di atas, mempunyai benang sari 6 buah, tangkai sarinya pendek dan tipis, tangkai sari besar dan mempunyai dua kandung serbuk. Putik mempunyai dua tangkai putik dengan dua buah kepala putik yang berbentuk malai dan berwarna putih atau ungu (Herawati, 2012).

3 Syarat tumbuh tanaman padi Tanaman padi membutuhkan curah hujan yang baik, rata-rata 200 mm/bulan atau lebih dengan distribusi selama 4 bulan. Curah hujan yang

6

dikehendaki pertahun sekitar 1.500 - 2.000 mm. Tanaman padi dapat tumbuh baik pada suhu 23 ºC. Pengaruh suhu di Indonesia tidak terasa,

sebab suhunya hampir konstan sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang cocok untuk tanaman padi adalah daerah antara 0-650 m di atas permukaan laut. Tanaman padi memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Sinar matahari diperlukan untuk berlangsungnya fotosintesis, terutama pada saat tanaman berbunga sampai proses pemasakan buah. Selain itu, angin juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman padi yaitu dalam penyerbukan dan pembuahan. Angin mempunyai pengaruh positif dan negatif terhadap tanaman padi (Herawati, 2012).

4 Fase pertumbuhan padi Fase pertumbuhan tanaman padi diklasifikasikan sebagai berikut:

a Vegetatif (awal pertumbuhan sampai pembentukan malai)

b Reproduktif (pembentukan malai sampai pembungaan)

c Pematangan (pembungaan sampai gabah matang). Fase vegetatif meliputi pertumbuhan tanaman dari mulai berkecambah sampai dengan inisiasi primordia malai, fase reproduktif dimulai dari inisiasi primordia malai sampai berbunga (heading) dan pemasakan dimulai dari berbunga sampai masak panen, sehingga varietas berumur 120 hari yang ditanam di daerah tropik akan mengalami fase vegetatif selama 60 hari, fase reproduktif 30 hari, dan fase pemasakan 30 hari.

Stadia reproduktif ditandai dengan memanjangnya ruas teratas pada batang, yang sebelumnya tertumpuk rapat dekat permukaan tanah. Di samping itu, stadia reproduktif juga ditandai dengan berkurangnya jumlah anakan, munculnya daun bendera, bunting dan pembungaan (heading). Inisiasi primordia malai biasanya dimulai 30 hari sebelum heading. Stadia inisiasi ini hampir bersamaan dengan memanjangnya ruas-ruas yang terus berlanjut sampai berbunga. Stadia reproduktif disebut juga stadia pemanjangan ruas-ruas. Pembungaan (heading) adalah stadia keluarnya malai, sedangkan antesis segera mulai setelah heading. Maka, heading

7

diartikan sama dengan antesis ditinjau dari segi hari kalender. Dalam suatu komunitas tanaman, fase pembungaan memerlukan waktu selama 10-14 hari, karena terdapat perbedaan laju perkembangan antar tanaman maupun antar anakan. Apabila 50% bunga telah keluar maka pertanaman tersebut dianggap dalam fase pembungaan (Arafah, 2009). Menurut Arafah (2009), fase atau stadia pematangan pada tanaman

padi terbagi menjadi empat, yaitu:

a Stadia masak susu, ditandai dengan tanaman padi masih berwarna hijau, tetapi malai-malainya sudah terkulai, ruas batang bawah kelihatan kuning, gabah bila dipijit dengan kuku keluar cairan seperti susu.

b Stadia masak kuning ditandai dengan hampir seluruh tanaman tampak kuning, hanya buku-buku sebelah atas yang masih hijau, isi gabah sudah keras, tetapi mudah pecah dengan kuku.

c Stadia masak penuh ditandai dengan buku-buku sebelah atas berwarna kuning, sedang batang-batang mulai kering, isi gabah sukar dipecahkan, pada varietas-varietas yang mudah rontok, stadia ini belum terjadi kerontokan.

d Stadia masak mati ditandai dengan isi gabah keras dan kering, varietas yang mudah rontok pada stadia ini sudah mulai rontok. Stadia masak mati terjadi setelah ± 6 hari setelah masak penuh.

5 Manfaat dan kandungan padi (beras) Masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras sebagai sumber energi dengan kandungan karbohidrat yang tinggi. Berdasarkan data Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI dalam 100 gram bahan beras mengandung 78,9 gram karbohidrat dengan kandungan energi sebesar 360 kkal. Beras (nasi) juga mengandung beberapa komponen lain seperti zat besi, protein, vitamin, kalsium, forfor, serta mengandung lemak sebesar 0,7 gram.

8

Tabel 1. Komposisi Gizi dalam 100 gram Bahan Beras

Komponen

Kandungan

Energi (Kal)

360

Protein (g)

6,8

Lemak (g)

0,7

Karbohidrat (g)

78,9

Kalsium (mg)

6

Fosfor (mg)

140

Besi (mg)

0,8

Vitamin A (SI)

0

Vitamin B1 (mg)

0,12

Vitamin C (mg)

0

Air (g)

13

Sumber: Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI

2.2 Sistem Budidaya Tanaman Padi

Budidaya tanaman padi di Indonesia dapat dilakukan dengan beberapa

sistem tanam, yaitu:

1 Budidaya secara konvensional

Kegiatan pembudidayaan tanaman padi dimulai dari persemaian,

persiapan dan pengolahan lahan sawah, penanaman, pemeliharaan, panen

dan pasca panen.

a Persemaian

Kegiatan persemaian diawali dengan merendam benih padi

selama 12 jam, selanjutnya benih padi ditiriskan dan diletakan pada goni

yang berpori, benih disimpan selama 1 - 2 hari. Selanjutya benih yang

telah berkecambah disemai pada lahan yang telah diolah sempurna,

bersih dari rumput, belukar, sisa-sisa tanaman, kayu, batu, atau lainnya

dan telah diberi pupuk. Takaran pupuk untuk setiap meter persegi

persemaian: 10 gram urea + 10 gram TSP (atau) 14 gram SP 36 + 10

gram KCl (Ihsan, 2018).

b Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan traktor atau ternak,

menggunakan bajak singkal dengan kedalaman olah > 20cm. Tunggul

jerami, gulma, dan bahan organik yang telah dikomposkan dibenamkan

ke dalam tanah, bersamaan dengan pengolahan tanah pertama.

9

Pembajakan biasanya dilakukan dua kali lalu diikuti penggaruan/penggelebekan untuk perataan lahan dan pelumpuran (Ihsan,

2018).

c Penanaman Budidaya tanaman padi perlu memperhatikan umur bibit semai. Umur bibit semai padi dapat mempengaruhi banyak tidaknya anakan setelah padi ditanam. Semakin tua umur bibit semai maka semakin sedikit jumlah anakan yang produktif, namun dalam tinggi tanaman padi tidak begitu berpengaruh. Semakin lama umur bibit semai maka hasil padi tersebut akan menurun. Umur bibit yang baik untuk tanaman padi sawah adalah 15 - 20 hari setelah semai, pada umur bibit ini mampu memberikan hasil padi yang paling tinggi dibandingkan dengan umur bibit padi yang berumur 25 hari setelah semai (Atman, 2009).

d Pemeliharaan Dalam budidaya tanaman padi perlu dilakukan pemeliharaan, seperti penyiangan dan pemupukan. Penyiangan dapat dilakukan dua kali yaitu pada umur 3 minggu setelah tanam dan penyiangan kedua umur 6 minggu setelah tanam, dilakukan dengan beberapa cara yaitu, dicabut dengan tangan, kemudian dipendam di dalam tanah, menggunakan alat siang (gasrok) dan menggunakan herbisida. Pemupukan tanaman, takaran pupuk untuk setiap lokasi berbeda, tergantung pada keadaan lahannya. Pemberian pupuk diberikan secara merata pada seluruh bagian tanaman terutama daunnya, dengan jarak waktu setiap 15 HST, 30 HST, 45HST, 65HST, dan 75 HST.

e Panen tanaman padi Panen dilakukan jika sebagian besar gabah (90%) sudah berwarna kuning dan malainya menunduk. Alat yang digunakan untuk panen adalah sabit bergerigi atau ketam. Setelah dipanen padi harus segera dirontokan (paling lambat 1 hari) dan saat merontok menggunakan alas (tikar atau terpal). Kehilangan hasil pada saat panen dapat dihindari dengan panen tepat waktu (Ihsan, 2018).

10

2 System of Rice Intensification (SRI) System of Rice Intensification (SRI) adalah salah satu inovasi metode budidaya padi dengan konsep dasar:

a pindah tanam satu bibit per lubang, pada usia sangat muda (7 - 14 hari setelah semai) dengan jarak tanam longgar (30 cm x 30 cm),

b pemberian air irigasi terputus-putus tanpa penggenangan di petak sawah (Anonim, 2008). Keunggulan Metode SRI:

a Tanaman hemat air, selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen pemberian air maksimum 2 cm paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak (irigasi terputus).

b Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg/ha, tidak butuh biaya pencabutan

bibit, tidak butuh biaya pindah bibit, tenaga tanam berkurang, dan lain- lain.

c Hemat waktu ditanam bibit muda 5 - 12 hari setelah semai, dan waktu panen akan lebih awal.

d Produksi meningkat di beberapa tempat mencapai 11 ton/ha.

e Ramah lingkungan, tidak menggunaan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik (kompos, kandang dan Mikro- orgisme Lokal), begitu juga penggunaan pestisida. Teknis budidaya sistem SRI

a Pengolahan tanah dan pembuatan parit Pengolahan lahan untuk media tumbuh pada metode SRI dilakukan seperti pengolahan lahan pada metode konvensional. Pada petak SRI perlu dibuat parit keliling dan melintang petak untuk membuang kelebihan air.

b Persemaian benih Benih direndam dengan menggunakan air biasa selama 24 sampai 48 jam, Benih yang telah direndam kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam karung yang berpori-pori dan kemudian disimpan di tempat yang lembab. Persemaian dengan metode SRI, dilakukan dengan

11

mempergunakan nare atau tampah atau besek atau juga di hamparan sawah, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penanaman.

c Penanaman Pada metode SRI, bibit yang ditanam berusia kurang dari 12 hari setelah semai. Bibit padi ditanam tunggal atau satu bibit perlubang , penanaman harus dangkal dengan kedalaman 1 - 1,5 cm serta perakaran saat penanaman seperti huruf l, dengan kondisi tanah sawah saat menanaman tidak tergenang air.

d Pemupukan Pemberian pupuk pada SRI diarahkan kepada perbaikan kesehatan tanah dan penambahan unsur hara yang berkurang setelah dilakukan pemanenan. Kebutuhan pupuk organik pertama setelah menggunakan sistem konvensional adalah 10 ton per hektar dan dapat diberikan sampai 2 musim taman. Setelah kelihatan kondisi tanah membaik maka pupuk organik bisa berkurang disesuaikan dengan kebutuhan. Pemberian pupuk organik dilakukan pada tahap pengolahan tanah kedua agar pupuk bisa menyatu dengan tanah.

e Pemeliharaan Sistem tanam metode SRI tidak membutuhkan genangan air yang terus menerus, cukup dengan kondisi tanah yang basah. Pada umur 10 hari dilakukan penyiangan. Setelah dilakukan penyiangan tanaman tidak digenangi. Pada saat tanaman berbunga, tanaman digenang dan setelah padi matang susu tanaman tidak digenangi kembali sampai panen. Pengendalian hama dan penyakit pada SRI tidak menggunakan bahan kimia, tetapi dilakukan pencengahan dan apabila terjadi gangguan hama/penyakit digunakan pestisida nabati dan atau digunakan pengendalian secara fisik dan mekanik.

f Panen

Panen dilakukan setelah tanaman tua ditandai dengan menguningnya bulir secara merata. Bulir padi juga tidak akan berair apabila dicoba untuk digigit. Panen dengan metode SRI biasanya lebih

12

awal dibandingkan dengan metode biasa, dihitung dari mulai persemaian (Anonim, 2008).

3 Sistem budidaya jajar legowo Sistem budidaya jajar legowo merupakan salah satu komponen Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang bertujuan untuk meningkatkan produksi padi dengan pengaturan jarak tanam dengan jajar legowo. Sistem tanam jajar legowo di lahan sawah bisa dilakukan dengan berbagai tipe, yaitu legowo 2:1, 3:1, 4:1. 5:1, 6:1 dan lain-lain. Namun hasil berbagai penelitian menunjukan legowo 4:1 dan 2:1 memberikan hasil gabah yang tinggi dan kualitas gabah yang baik.

a Legowo 2:1 Sistem tanam legowo 2:1 akan menghasilkan jumlah populasi tanaman per hektar sebanyak 213.300 rumpun.

jumlah populasi tanaman per hektar sebanyak 213.300 rumpun. Gambar 1. Sistem tanam jajar legowo 2:1 b

Gambar 1. Sistem tanam jajar legowo 2:1

b Legowo 4:1 tipe 1 Sistem tanam legowo 4:1 tipe 1, pada pola ini keseluruhan baris mendapat tanaman sisipan. Pola ini cocok diterapkan pada kondisi lahan yang kurang subur. Dengan pola ini, populasi tanaman mencapai 256.000 rumpun/ha.

13

Gambar 2. Sistem tanam jajar legowo 4:1 tipe 1 c Legowo 4:1 tipe 2 Sistem

Gambar 2. Sistem tanam jajar legowo 4:1 tipe 1

c Legowo 4:1 tipe 2 Sistem tanam legowo 4:1 tipe 2 pada tipe ini hanya memberikan tambahan tanaman sisipan pada kedua barisan tanaman pinggir. Populasi tanaman 192.712 rumpun/ha.

barisan tanaman pinggir. Populasi tanaman 192.712 rumpun/ha. Gambar 3. Sistem tanam jajar legowo 4:1 tipe 2

Gambar 3. Sistem tanam jajar legowo 4:1 tipe 2

Keuntungan tanam Jajar Legowo

a Semua bagian tanaman berada pada bagian pinggir sehingga sinar matahari lebih banyak menyinari tanaman.

b Tanaman relatif aman dari gangguan tikus dan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) lainnya, karena lebih terbuka.

c Menekan serangan penyakit karena rendahnya kelembaban.

d Populasi tanaman bertambah 30%.

e Pemupukan lebih efisien.

f Pengendalian hama penyakit dan gulma lebih mudah dilakukan (Anonim, 2017 d ).

14

4 Sistem budidaya jajar legowo super Teknologi Jajar Legowo Super adalah teknologi budidaya terpadu

padi sawah irigasi berbasis tanam jajar legowo 2: 1. Penerapan penting dalam jarwo super yaitu: penggunaan varietas unggul, biodekomposer, pupuk hayati, pengendalian OPT menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali, serta penggunaan alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam (jarwo transplanter) dan panen (combine harvester) (Anonim, 2016 a ). Teknis budidaya jajar legowo super yaitu:

a Persemaian Persemaian dianjurkan menggunakan sistem dapog karena bibit ditanam menggunakan alat tanam transplanter. Persemaian dengan sistem dapog dilakukan seperti persemaian pada umumnya, kemudian benih disebar pada media dalam kotak dapog berukuran 18 cm x 56 cm dengan jumlah benih sekitar 100 - 125 g/kotak.

b Penyiapan lahan Kegiatan utama dari penyiapan lahan adalah pelumpuran tanah hingga kedalaman lumpur minimal 25 cm, pembersihan lahan dari gulma, pengaturan pengairan, perbaikan struktur tanah, dan peningkatan ketersediaan hara bagi tanaman. Pada tanah yang sudah terolah dengan baik, penanaman bibit lebih mudah dan pertumbuhannya menjadi optimal.

c Aplikasi pupuk organik Sumber pupuk organik terdiri dari jerami segar dan pupuk kandang. Pemberian pupuk kandang yang sudah matang dengan takaran 1 2 ton/ha dilakukan sebelum pengolahan tanah pertama atau bersamaan dengan pengolahan tanah kedua.

d Aplikasi biodekomposer Biodekomposer adalah komponen teknologi perombak bahan organik, diaplikasikan 2 - 4 kg/ha untuk mendekomposisi 2 - 4 ton jerami segar yang dicampur secara merata dengan 400 liter air bersih, dan

15

disiramkan merata, pada saat aplikasi ini tanah dibiarkan dalam kondisi lembab dan tidak tergenang minimal 7 hari. Biodekomposer M-Dec mampu mempercepat pengomposan jerami secara insitu dari 2 bulan menjadi 3 - 4 minggu.

e Tanam

Penanaman dapat menggunakan mesin tanam jarwo transplanter atau secara manual. Kondisi air pada saat tanam macak-macak. Penanaman secara manual dilakukan dengan bantuan caplak. Pada saat bibit berumur 14 - 17 hari setelah semai (HSS), atau tanaman sudah tumbuh dengan tinggi 10 - 15 cm dan memiliki 2 - 3 helai daun, bibit dari persemaian dapog ditanam ke sawah. Apabila terjadi kehilangan rumpun tanaman akibat serangan OPT maupun faktor lain, maka dilakukan penyulaman untuk mempertahankan populasi. Penyulaman harus selesai 2 minggu setelah tanam (MST), atau sebelum pemupukan dasar.

f Pemeliharaan Dalam pemeliharaan tanaman padi ada beberapa hal yang harus dilakukan diantaranya: penyulaman dan penyiangan, pengairan, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit.

g Pemupukan Pupuk Phonska diaplikasikan 100% pada saat tanam dan pupuk urea masing-masing 1/3 pada umur 7 - 10 HST, 1/3 bagian pada umur 25 - 30 HST, dan 1/3 bagian pada umur 40 - 45 HST. Selain dengan pupuk kimia juga dapat diaplikasikan pupuk kandang yang telah matang sempurna dengan dosis 2 ton/ha.

h Pengendalian hama dan penyakit terpadu Pengendalian hama dan penyakit diutamakan dengan tanam serempak, penggunaan varietas tahan, pengendalian hayati, biopestisida, fisik dan mekanis, feromon, dan mempertahankan populasi musuh alami. Penggunaan insektisida kimia selektif adalah cara terakhir jika

16

i

komponen pengendalian lain tidak mampu mengendalikan hama penyakit. Panen

Panen dilakukan pada saat tanaman matang fisiologis yang dapat diamati secara visual pada hamparan sawah, yaitu 90 - 95% bulir telah menguning atau kadar air gabah berkisar 22 - 27%. Padi yang dipanen pada kondisi tersebut menghasilkan gabah berkualitas baik dan rendemen giling yang tinggi. 2.3 Benih Varietas Unggul Varietas unggul merupakan salah satu komponen utama teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas padi. Pemerintah telah melepas beberapa varietas unggul padi, sehingga petani dapat memilih varietas yang sesuai dengan teknik budidaya dan kondisi lingkungan setempat. Ketersediaan berbagai alternatif pilihan varietas unggul pada suatu wilayah akan berdampak terhadap stabilitas produksi sebagai representasi dari keunggulan adaptasi dan ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik di wilayah tersebut. Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian dan vigor yang tinggi. Benih varietas unggul berperan tidak hanya sebagai pengantar teknologi, tetapi juga menentukan potensi hasil yang bisa dicapai, kualitas gabah yang akan dihasilkan dan efisiensi produksi. Penggunaan benih bersertifikat atau benih dengan vigor tinggi menghasilkan bibit yang sehat dengan perakaran lebih banyak, sehingga pertumbuhan tanaman lebih cepat dan merata (Anonim, 2016 a ). Berdasarkan fungsi dan cara produksi, benih terdiri atas benih inti (nucleous seed), benih sumber, dan benih sebar. Benih inti adalah benih awal yang penyediaannya berdasarkan proses pemuliaan dan/ atau perakitan suatu varietas tanaman oleh pemulia pada lembaga penyelenggara pemuliaan (Balai Penelitian Komoditas). Benih inti merupakan benih yang digunakan untuk perbanyakan atau menghasilkan benih penjenis (breeder seed/ BS). Benih sumber terdiri atas tiga kelas, yaitu benih penjenis (breeder seed/ BS), benih dasar (foundation seed/ FS/ BD), dan benih pokok (stock seed/ SS/

17

BP). Benih penjenis merupakan perbanyakan dari benih inti, yang selanjutnya akan digunakan untuk perbanyakan benih kelaskelas selanjutnya, yaitu benih dasar dan benih pokok. Benih sebar (extension seed/ ES/ BR) disebut benih komersial karena merupakan benih turunan dari benih pokok, yang ditanam oleh petani untuk tujuan konsumsi. Uraian dari masing-masing kelas benih yaitu:

1 Benih Penjenis (Breeder Seed/ BS) Benih penjenis adalah benih sumber yang diproduksi dan dikendalikann langsung oleh pemulia (breeder) yang menemukan atau diberi kewenangan untuk mengembangkan varietas tersebut. Saat ini benih penjenis dikelola oleh Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) di Balai Penelitian Komoditas. Dalam sertifikasi, benih penjenis dicirikan oleh label berwarna kuning yang ditandatangani oleh pemulia dan Kepala Institusi sebagai penyelenggara pemulia tersebut. Benih penjenis digunakan sebagai benih sumber unntuk produksi atau perbanyakan benih dasar (FS/ BD).

2 Benih Dasar (Foundation Seed/ FS/ BD) Benih dasar adalah benih sumber yang diproduksi oleh produsen benih (BBI, BPTP, perusahan benih BUMN/ swasta yang profesional) dan pengendalian mutunya melalui sertifikasi benih (BPSB atau Sistem Manajemen Mutu). Benih dasar merupakan benih sumber untuk perbanyakan/ produksi benih pokok (SS/ BP). Label benih dasar berwarna putih.

3 Benih Pokok (Stock Seed/ SS/ BP) Benih pokok adalah benih sumber yang diproduksi oleh produsen/ penangkar benih di daerah dan pengendalian mutunya melalui sertifikasi benih (BPSB atau Sistem Manajemen Mutu). Benih pokok biasanya digunakan sebagai benih sumber untuk menghasilkan benih sebar (ES/BR). Label benih dicirikan oleh warna ungu.

4 Benih Sebar (Extention Seed/ ES/ BR) Benih sebar adalah benih yang diproduksi oleh produsen/ penangkar benih di daerah dan pengendalian mutunya melalui sertifikasi benih (BPSB

18

atau Sistem Manajemen Mutu). Label benih sebar berwarna biru dan benih sebar tidak dapat dijadikan sebagai benih sumber (Anonim, 2016 b ).

Varietas unggul baru merupakan salah satu teknologi inovatif yang handal untuk meningkatkan produktivitas padi, baik melalui peningkatan potensi atau daya hasil tanaman serta ketahanan tanaman terhadap cekaman biotik dan abiotik (Sembiring, 2007). Penelitian dan pengembangan varietas unggul baru dimulai sejak tahun 1943 hingga saat ini. Sampai tahun 2017 telah dilepas dan terus dikembangkan sebanyak 87 varietas unggul baru (Anonim,

2017 c )

Berdasarkan dinamika masalah dan kendala produksi serta tuntutan konsumen, varietas-varietas unggul tersebut dikelompokkan menjadi dua, yaitu varietas yang diperuntukkan untuk peningkatan produksi yang melebihi ambang potensi hasil (Varietas Unggul Hibrida dan Varietas Unggul Tipe Baru) dan varietas unggul spesifik (VUS) yang diperuntukkan bagi pencapaian stabilitas hasil (tahan/toleran cekaman biotik atau abiotik), dan peningkatan kualitas hasil (mutu rasa dan mutu gizi) serta berumur genjah (Sembiring,

2007).

Penggunaan benih varietas unggul berkontribusi cukup besar dalam peningkatan produksi tanaman padi nasional. Dalam mendukung peningkatan dan persebaran benih VUB, budidaya padi terus dikembangkan yang nantinya sebagai benih sumber varietas unggul baru. Benih sumber menempati posisi strategis dalam industri perbenihan nasional. Perbenihan formal telah menghasilkan benih padi bersertifikat sekitar 62% dari kebutuhan benih total. Fungsi benih sebagai pembawa inovasi teknologi (delivery mechanism), maka benih sampai ke tangan petani harus bermutu dalam arti varietasnya asli (authentic, true-to-variety) dan murni agar mencerminkan sifat unggul dari varietas yang diwakilinya, bersih dan sehat, hidup (viable) serta memiliki vigor yang tinggi sehingga dapat tumbuh baik di lapangan. Prosedur produksi benih sumber pada Unit Pengelola Benih Sumber untuk mendukung program P2BN (perbenihan nasional dan percepatan diseminasi) bekerja sama dengan petani produsen benih. Pengawasan mutu

19

benih melalui sertifikasi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB). Kegiatan produksi dilakukan melalui dua pendekatan yaitu:

1 Produksi benih sumber untuk mendukung diseminasi VUB sebanyak 5 varietas (Inpari 23 Bantul, Inpari 24 Gabusan, Inpago 8, Inpari 10 dan Inpari 19.

2 Kegiatan produksi mendukung perbenihan nasional sejumlah 13 varietas (Cimalaya Muncul, Ack Sibundong, Cisadani, Lusi, Ketanggo, Gilirang, Membramo, Mekongga, Cigelis, Cimelati, Ciherang, Logawa dan IR 64. Produksi benih sumber mendukung perbenihan nasional sejumlah 13 varietas dihasilkan benih kelas FS dan SS sebanyak 1.496 kg. Produksi benih sumber percepatan diseminasi VUB sejumlah 5 varietas dihasilkan benih 8.922 kg. Produksi benih sumber varietas Inpago 8 kurang berhasil karena banyak CPL (> 17 %), kurang homogen sehingga diperlukan rouging berat. Inpago 8 yang memiliki bentuk tanaman tinggi daun lebat serta berserakan cenderung mudah roboh (75 %) dan disukai hama burung (Anonim, 2014 b ).

20

BAB 3 METODE PRAKTIK KERJA LAPANGAN

3.1 Tempat Dan Waktu

Praktik Kerja Lapangan (PKL) tentang Budidaya Produksi Benih Sumber Varietas Unggul Baru (VUB) dilaksanakan selama 30 hari kerja di Unit Pengelola Benih Sumber Balai Pengkajian Teknologi (BPTP) Yogyakarta dan mitra UPBS yaitu produsen benih dan kelompok tani. Pelaksanaan kegiatan praktik kerja lapangan pada Bulan Juli sampai Agustus 2018 dengan 5 hari kerja dalam satu minggu. 3.2 Materi Praktik Kerja Lapangan

Materi praktik kerja lapangan terdiri dari materi umum dan materi khusus. Materi secara umum meliputi pengenalan struktur organisasi dan kegiatan di Unit Pengelola Benih Sumber BPTP Yogyakarta, sedangkan materi khusus adalah kegiatan produksi benih sumber varietas unggul baru (VUB) di Unit Pengelola Benih Sumber BPTP Yogyakarta.

3.3 Metode Praktik Kerja Lapangan Metode yang digunakan dalam Praktik kerja lapangan ini adalah:

1 Partisipasi aktif, yaitu ikut serta secara langsung dalam kegiatan Produksi benih sumber varietas unggul baru (VUB),

2 Observasi, yaitu pengamatan visual mengenai cara produksi benih sumber varietas unggul baru (VUB),

3 Wawancara, yaitu mengajukan pertanyaan kepada koordinator dan berbagai pihak yang terkait di Unit Pengelola Benih Sumber BPTP Yogyakarta.

3.4 Metode Pengumpulan Data

1 Pengumpulan data secara langsung

a Observasi, yaitu pengumpulan data dengan pengamatan, peninjauan, dan praktik secara langsung di lapangan.

21

b Wawancara, yaitu pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan

secara langsung kepada pihak yang terkait di Unit Pengelola Benih

Sumber BPTP Yogyakarta.

2 Pengumpulan data secara tidak langsung

Studi pustaka, yaitu pengumpulan data dengan cara membaca dan

menelaah buku maupun referensi yang terkait dengan produksi benih

sumber varietas unggul baru (VUB) padi.

3.5 Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan praktik kerja lapangan dijadwalkan pada Bulan

Juli sampai Agustus 2018 dengan 5 hari kerja dalam satu minggu. Keseluruhan

kegiatan pelaksanaan praktik kerja lapangan dilaksanakan selama 5 bulan yaitu

mulai dari observasi lokasi, pembuatan proposal, pelaksanaan, pengambilan

data, analisis masalah, dan penyusunan laporan akhir serta ujian. Jadwal

pelaksanaan praktik kerja lapangan disajikan dalam tabel berikut:

No

Jenis Kegiatan

 

Bulan

 

Keterangan

1

2

3

4

5

1

Observasi lokasi PKL

           

2

Pembuatan Proposal

           

3

Pelaksanaan PKL

           

4

Penyusunan laporan dan Ujian PKL

           

Keterangan:

Bulan 1: Februari 2018

Bulan 2: Maret 2018

Bulan 3: Juli 2018

Bulan 4: Agustus 2018

Bulan 5: September 2018

22

BAB 4 GAMBARAN UMUM INSTANSI

4.1 Profil Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta dibentuk

berdasarkan SK Mentan Nomor 350/KPTS/OT. 210/6/2001 tanggal 14 Juni

2001. Seiring dengan penyempurnaan organisasi dan tata kerja Balai yang

tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor

16/Permentan/OT.140/3/2006 tanggal 1 Maret 2006, BPTP adalah Unit

Pelaksana Teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen

Pertanian yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan

Penelitian dan Pengembangan Pertanian, dan dalam pelaksanaan sehari-hari

dikoordinasikan oleh Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan

Teknologi Pertanian (BBP2TP). IPPTP merupakan penggabungan unit kerja

di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dan Badan

Pendidikan dan Latihan Pegawai Pertanian yaitu Laboraturium Hortikultura,

Stasiun Tanah dan Balai Informasi Pertanian Yogyakarta.

Pembentukan BPTP bertujuan untuk menghasilkan teknologi spesifik

lokasi, memperpendek rantai informasi, mempercepat dan memperlancar

diseminasi hasil penelitian (alih teknologi) kepada petani dan pengguna

teknologi lainnya. Sampai dengan tahun 2001 unit kerja ini masih merupakan

Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IPPTP) Yogyakarta,

lembaga non struktural yang merupakan instalasi dari BPTP Jawa Tengah.

BPTP Yogyakarta memiliki dua lokasi perkantoran sebagai berikut:

1 Kantor utama berlokasi di Karangsari meliputi Administrasi, Kelompok

Pengkaji Budidaya, Sosial Ekonomi, Sumberdaya dan Pasca Panen.

2 Laboratorium Tanah dan Pasca Panen yang berlokasi di Karangsari, ± 500

meter sebelah barat kantor utama bersebelahan dengan Stadion

Maguwoharjo Yogyakarta.

23

4.2 Profil Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) merupakan lingkup Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, dibentuk dalam rangka melaksanakan salah satu program aksi perbenihan lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian). UPBS dalam rangka mengakomodasikan perubahan lingkungan strategis perbenihan dan mengantisipasi kebutuhan benih sumber dari varietas unggul baru (VUB) komoditas strategis hasil penelitian Badan Litbang Pertanian di wilayah kerjanya. Benih sumber terdiri atas tiga kelas, yaitu (1) benih penjenis (BS) atau breeder seed (BS) dengan label kuning, (2) benih dasar (BD) atau foundation seed (FS) dengan label putih dan (3) benih pokok (BP) atau stock seed (SS) dengan label ungu. Berdasarkan kelas benih suber yang diproduksi, maka UPBS lingkup Puslitbang UPBS lingkup BPTP memiliki tugas untuk menghasilkan benih sumber FS dan SS, sedangkan kuantitas dan varietas yang diproduksi disesuaikan dengan kebutuhan, permintaan, preferensi serta karakteristik agroekosistem dan sosial budaya setempat, karena berada dilingkungan strategis di daerah yang membutuhkan benih ES VUB maka UPBS dapat memproduksi benih kelas ES. Fungsi utama UPBS di BPTP adalah untuk penyediaan logistik benih sumber bermutu (bersertifikat) di daerah untuk mempercepat diseminasi varietas unggul baru spesifik lokasi dan mempertahankan kemurnian genetik varietas bersama dengan UPBS BB komoditas. Produksi benih sumber agar disinkronkan dengan kebutuhan benih sebar di lokasi. Badan Litbang telah menetapkan kebijakan bahwa pengembangan UPBS dilakukan dengan menerapkan sistem manajemen mutu sesuai dengan persyaratan SNI ISO 9001- :2008. Prinsip-prinsip manajemen mutu berbasis ISO 9001 adalah: (1) berorientasi pada kepuasan pelanggan, (2) kepemimpinan, (3) melibatkan partisipasi semua personil yang terkait, (4) manajemen dengan pendekatan proses, (5) manajemen dengan pendekatan sistem, (6) perbaikan berkelanjutan, (7) manajemen (pengambilan keputusan) berdasarkan fakta dan (8) menjaga

24

hubungan baik dengan pelanggan dan supplier (Badan Standarisasi Nasional

2001/2002 dalam Anonim, 2018).

4.3 Struktur Organisasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta

Kepala Balai Dr. Joko Pramono Seksi Kerja Sama dan Pelayanan Pengkajian Agung Iswadi, S.Si Sub
Kepala Balai
Dr. Joko Pramono
Seksi Kerja Sama dan
Pelayanan Pengkajian
Agung Iswadi, S.Si
Sub Bagian Tata Usaha
Utomo Bimo Bekti, SP
Kelompok Jabatan Fungsional
Kelji
Kelji
Kelji Sosek
Kelji Pasca
Sumberdaya
Budidaya
Pertanian
Panen

4.4 Struktur Organisasi Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS)

Manajer Umum Dr. Joko Pramono Wakil Manajer Umum Evy Pujiastuti, SP Manajer Produksi Suradal, SST
Manajer Umum
Dr. Joko Pramono
Wakil Manajer Umum
Evy Pujiastuti, SP
Manajer Produksi
Suradal, SST
Manajer Pergudangan,
Promosi dan Distribusi
Manajer Keuangan
Dwi Hartati
Purwaningsih, STP

25

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

5.1 Kondisi Umum Lokasi PKL

Balai pengkajian teknologi pertanian (BPTP) Yogyakarta berlokasi di

Jalan Stadion Maguwoharjo No. 22 Wedomertani, Ngemplak, Sleman,

Yogyakarta. BPTP merupakan satuan unit pelaksana teknik Badan Penelitian

dan Pengembangan Pertanian di daerah yang memiliki tugas dan fungsi pokok

untuk menghasilkan teknologi spesifik lokasi dan penyelenggaraan

administrasi. Dalam satuan unit pelaksana di BPTP Yogyakarta terdapat sub

unit yaitu Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS). UPBS dibentuk dalam rangka

mengakomodasikan perubahan lingkungan strategis perbenihan dan

mengantisipasi kebutuhan benih sumber varietas unggul baru (VUB). Tugas

pokok dan fungsi UPBS BPTP Yogyakarta adalah mendiseminasikan VUB

yang dihasilkan oleh Balai Penelitian serta menghasilkan benih sumber kelas

FS, SS dan ES dengan kuantitas dan varietas uang disesuaikan dengan

kebutuhan, permintaan, preferensi dan karakteristik agroekosistem dan sosial

budaya di Yogyakarta.

Pada tahun 2018, UPBS BPTP Yogyakarta bekerjasama dengan petani

penangkar berusaha untuk memenuhi kebutuhan benih sumber untuk DIY.

Target produksi benih padi UPBS tahun 2018 yaitu 3 ton kelas FS, dengan

varietas Inpari 24, Inpari 30, Inpari 33, dan kelas SS sebanyak 5 ton dengan

varietas Inpari 19, Inpari 30, Inpari 33 dan Aeksibundong (Anonim, 2018).

5.2 Standar Operasional Prosedur (SOP) Kegiatan Produksi Benh UPBS BPTP

Yogyakarta

Kegiatan produksi benih yang berlangsung di UPBS BPTP Yogyakarta

dilaksanakan berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku,

yaitu:

26

Tabel 2: SOP Kegiatan Produksi Benih UPBS BPTP Yogyakarta

Tabel 2: SOP Kegiatan Produksi Benih UPBS BPTP Yogyakarta Berdasarkan SOP Kegiatan Produksi Benih UPBS BPTP

Berdasarkan SOP Kegiatan Produksi Benih UPBS BPTP Yogyakarta kegiatan perbenihan berlangsung selama 136 253 hari, sedangkan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) hanya berlangsung selama 30 hari kerja. Oleh karena itu, kegiatan tidak dapat berlangsung sesuai SOP dari kegiatan awal sampai akhir. Dalam kegiatan PKL, dilaksanakan di beberapa lokasi.

27

5.3 Teknologi Produksi Benih Padi di UPBS BPTP Yogyakarta Produksi benih sumber dapat dilakukan dengan beberapa mekanisme,

diantaranya:

a Produksi benih di Kebun Percobaan (KP)

b Produksi benih melalui kerjasama bagi hasil dengan petani penangkar

c Produksi benih melalui sewa lahan milik petani/penangkar. Dalam hal ini, UPBS BPTP Yogyakarta dalam proses produksi benih sumber dilakukan melalui mekanisme kerjasama bagi hasil dengan petani

penangkar/kelompok tani. Tahapan dalam mekanisme kerjasama bagi hasil sebagai berikut:

a Melakukan identifikasi calon petani/penangkar dan identifikasi lahan calon lokasi produksi yang bersedia diajak bekerjasama, pada tahap ini yang perlu dicermati, diantaranya sifat dari petani/penangkar yaitu bersifat kreatif dan inovatif serta bersedia menerima dan menerapkan teknologi.

b Menyusun perjanjian atau kontrak, yang mengatur lingkup kegiatan, lokasi, konstribusi masing-masing pihak dan sistem bagi hasil. Tahapan pendahuluan proses produksi benih di UPBS BPTP Yogyakarta yaitu sebagai berikut:

Calon Produsen Calon Lokasi (CPCL) Calon produsen dan calon lokasi (CPCL) merupakan proses penentuan calon produsen dan lokasi yang akan digunakan untuk perbanyakan benih padi dengan beberapa kriteria, dengan memperhatikan prinsip agronomik dan prinsip genetik. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi diantaranya adalah kemudahan akses ke lokasi produksi (kondisi jalan, petunjuk teknik dan kondisi fisik lahan).

Lahan untuk produksi benih sebaiknya adalah lahan bera atau bekas pertanaman varietas yang sama atau varietas lain yang karakteristik pertumbuhannya berbeda nyata, kondisi lahan subur dengan air irigasi dan saluran drainase yang baik dan bebas dari sisa-sisa tanaman/varietas lain. Isolasi jarak minimal antara dua varietas yang berbeda adalah tiga meter.

1)

28

2)

Apabila tidak memungkinkan, dapat dilakukan dengan isolasi waktu tanam sekitar empat minggu agar waktu pembungaan tidak bersamaan antara varietas yang berbeda. Dalam pemilihan lokasi perlu dilakukan penggambaran peta areal sertifikasi terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan dari BPSB, sehingga kegiatan produksi benih dapat dipantau dan terkontrol dengan baik. Apabila proses penentuan lokasi telah disetujui oleh BPSB maka proses produksi benih dapat dilanjutkan. Pengadaan Benih Sumber Benih sumber yang akan digunakan untuk pertanaman produksi benih harus satu kelas lebih tinggi dari kelas benih yang akan diproduksi. Untuk memproduksi benih kelas FS, benih sumber yang digunakan harus berasal dari benih kelas BS, sedangkan untuk memproduksi benih kelas SS benih sumber dapat berasal dari kelas BS/FS, dan untuk produksi benih kelas ES, benih sumber dapat berasal dari kelas FS/SS. Pemeriksaan benih sumber mencakup sertifikat benih yang berisi informasi mengenai asal benih, varietas, tanggal panen, mutu benih (daya kecambah, kadar air dan kemurnian fisik benih). Informasi ini diperlukan untuk menentukan perlakuan benih (jika diperlukan) sebelum benih disemai maupun sebagai kelengkapan untuk proses pengajuan sertifikasi benih. Pada tahun 2018, UPBS BPTP Yogyakarta memproduksi benih

varietas Aeksibundong, Inpari 19, Inpari 24, Inpari 30, Inpari 33 dan Inpari

43.

3)

Pengajuan Sertifikasi Awal Proses sertifikasi awal dilakukan melalui prosedur baku, yakni dengan mengajukan permohonan sertifikasi sebelum tanam, dengan melampirkan sejumlah label benih sumber sesuai dengan jumlah benih sumber yang akan ditanam dan peta lapangan. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan lapangan pendahuluan, yang meliputi pemeriksaan kebenaran dokumen, kondisi lahan, kebenaran varietas, benih sumber, dan kelas benih (Anonim, 2013).

29

5.4 Budidaya Produksi Benih Sumber Padi Tahapan proses budidaya produksi benih sumber padi di UPBS BPTP Yogyakarta berdasarkan petunjuk teknik yaitu:

1 Pemilihan lokasi Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi produksi benih sumber diantaranya adalah kemudahan akses ke lokasi produksi (ditinjau dari kondisi jalan dan transportasi), kondisi fisik lokasi, dan isolasi. Lahan untuk produksi benih sebaiknya lahan bera atau bekas pertanaman varietas yang sama, atau varietas lain yang memiliki karakteristik pertumbuhan yang berbeda. Lahan dalam

kondisi subur dengan air irigasi dan saluran drainase yang baik, serta bebas dari sisa tanaman atau varietas lain.

2 Persemaian Lahan yang digunakan untuk persemaian merupakan lahan yang sama untuk pertanaman produksi benih. Teknik pembuatan persemaian adalah sebagai berikut:

a Tanah diolah, dicangkul atau dibajak dan dibiarkan dalam kondisi macak-macak minimal selama dua hari, kemudian dibiarkan mengering sampai tujuh hari agar sisa gabah dan biji gulma yang ada didalam tanah tumbuh, kemudian pengolahan tanah kedua bertujuan untuk membersihkan lahan dari gulma dan tanaman padi yang tumbuh liar.

b Membuat bedengan dengan tinggi 5 10 cm, lebar 100 cm dan panjang disesuaikan dengan ukuran petak dan kebutuhan.

c Luas lahan untuk persemaian adalah 4% dari luas areal pertanaman atau sekitar 400 m 2 untuk tiap hektar pertanaman.

d Pupuk yang digunakan di lahan persemaian adalah urea, SP 36, dan KCl masing-masing dengan takaran 15 g/m 2 . Sebelum disebar, benih terlebih dahulu direndam selama 24 jam dan diperam 24 jam.

e Benih yang telah mulai berkecambah ditabur di persemaian dengan kerapatan 25 50 g/m 2 .

f Kebutuhan benih untuk 1 ha areal pertanaman adalah 10 20 kg.

30

3

Penyiapan lahan

a Persiapan lahan untuk pertanaman mirip dengan persemaian namun tanpa pembuatan bedengan.

b Tanah diolah secara sempurna, pada pengolahan pertama tanah dibajak dan digenangi selama dua hari dan dikeringkan selama tujuh hari, lalu dibajak kembali (pengolahan kedua) kemudian digenangi selama dua hari dan dikeringkan lagi selama tujuh hari. Terakhir, tanah digaru untuk melumpurkan dan meratakan.

c Untuk menekan pertumbuhan gulma, lahan yang telah diratakan disemprot dengan herbisida pratumbuh dan dibiarkan selama 7 10 hari atau sesuai dengan anjuran.

4 Penanaman Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 15 21 hari, dengan satu bibit perlubang tanam dengan kedalaman 1 2 cm. Bibit yang ditanam sebaiknya memiliki umur fisiologis yang sama, dicirikan dengan jumlah daun yang sama, misalnya dua atau tiga daun perbatang. Jarak tanam yang digunakan 20 cm x 20 cm atau 25 cm x 25 cm, bergantung pda kondisi lahan dan varietas yang ditanam. Kegiatan penyulaman dilakukan tujuh hari setelah tanam, dengan bibit dari varietas yang sama. Setelah ditanam, air irigasi dibiarkan macak-macak (1 3 cm) selama 7 10 hari.

5 Pemupukan Kegiatan pemupukan dikaitkan dengan tingkat kesuburan tanah, tingkat kesuburan tanah antarlokasi sangat beragam karena terdapat perbedaan pada fisik dan sifat kimianya serta kemampuan tanah untuk menyediakan hara bagi tanaman juga berbeda-beda. Tujuan dari pemupukan yaitu untuk menambah penyediaan hara sehingga dapat mencukupi kebutuhan tanaman untuk berproduksi dengan baik. Efisiensi pemupukan disesuaikan dengan kondisi lahan setempat, untuk pupuk SP 36 dan KCl, takaran disesuaikan dengan ketersediaan hara P dan K dalam tanah. Untuk pupuk urea, takaran dan waktu pemberiannya

31

disesuaikan dengan kebutuhan tanaman melalui pemantauan dengan Bagan Warna Daun (BWD).

1)

Pupuk urea sebagai pupuk dasar diberikan sebanyak 50 75 kg/ha

a 50 75 kg/ha untuk daerah pada musim hasil rendah

2)

diberikan sebelum 14 HST. Mulai 25 28 HST sampai 50 HST dilakukan tingkat pengukuran

tingkat kehijauan warna daun tanaman padi dengan menggunakan BWD dengan selang waktu 7 10 hari sekali. Bila tingkat kehijauan daun tanman di bawah skala 4 pada BWD, makan diberikan urea dengan takaran:

b 75 100 kg/ha untuk daerah pada musim hasil tinggi

c 100 kg/ha untuk padi tipe baru (PTB).

3)

Apabila pada fase antara keluar malai sampai 10% berbunga, tingkat

4)

kehijauan daun PTB berada pada skala 4 atau kurang maka diberikan 50 kg urea/ha. Pupuk P (100%) diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk dasar

5)

urea. Pemberian pupuk K dalam dosis rendah, dapat diberikan seluruhnya secara bersamaan dengan pemberian pupuk dasar dan jika dosisnya tinggi (> 100 kg KCl/ha), maka 50% diaplikasikan sebagai pupuk

6

dasar dan sisanya saat primordial bunga. Pengairan Pengairan adalah menyediakan air bagi tanaman sesuai dengan stadia pertumbuhan. Kebutuhan tanaman padi akan air berbeda-beda pada setiap fase. Pada fase tertentu perlu dilakukan pengeringan. Dengan menyediakan air sesuai dengan stadia pertumbuhan dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman. Prosedur pelaksanaan pengairan:

a Selesai tanam, ketinggian air sekitar 3 cm selama tiga hari.

b Setelah periode tersebut, air pada petak pertanaman dibuang sampai kondisi mcak-macak dan dipertahankan selama 10 hari.

32

c Dari fase pembentukan anakan sampai inisaisi primordia bunga, lahan pertanaman digenangi air setinggi 3 cm.

d Menjelang pelaksanaan pemupukan susulan pertama, dilakukan lagi drainase dan penyiangan.

e Pada fase primordia bunga sampai dengan fase bunting, lahan digenangi setinggi 5 cm, untuk menekan pertumbuhan anakan baru.

f Selama fase bunting sampai fase berbunga, lahan pertanaman secara bergantian (selang-seling), petakan diairi setinggi 5 cm kemudian dibiarkan sampai kondisi sawah kering selama 2 hari dan kemudian diari kembali sampai setinggi 5 cm dan setertusnya.

g Pada fase pengisian biji, ketinggian air dipertahankan sekitar 3 cm.

h Setelah fase pengisian biji, lahan pertanaman diairi dan dikeringkan secara bergantian (selang-seling).

i Seminggu menjelang panen, lahan mulai dikeringkan agar proses

pematangan biji relatif lebih cepat dan lahan produksi benih tidak becek sehingga memudahkan saat panen.

7 Penyiangan dan pengendalian OPT Penyiangan adalah mengendalikan pertumbuhan gulma untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman. Sedangkan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah mengendalikan organisme yang bersifat mengganggu tanaman agar tanaman dapat berproduksi secara maksimal. Prosedur pelaksanaan:

a Penyiangan dilakukan secara intensif agar tanaman tidak terganggu oleh gulma. Penyiangan dilakukan paling sedikit dua atau tiga kali tergantung pada keadaan gulma dengan menggunakan landak atau gasrok. Penyiangan dapat dilakukan pada saat pemupukan susulan pertama atau kedua. Tujuannya agar pupuk yang diberikan hanya diserap oleh tanaman padi.

b Hama dan penyakit merupakan faktor penting yang menyebabkan suatu varietas tidak dapat berproduksi secara optimal. Oleh karena itu,

33

pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara terpadu berdasar pada prinsip-prinsip PHT yaitu 1) Budidaya tanaman sehat, 2)

pelestarian dan pembudidayaan musuh alami, 3) pengamatan lahan/monitoring secara teratur, dan 4) menjadikan petani sebagai ahli PHT. Apabila diperlukan, penggunaan pestisida harus dilakukan dengan bijaksana, salah satu pengendalian hama tikus yang dilakukan yaitu penggunaan sistem Trap Barrier System (TBS), yaitu teknik pengendalian tikus yang mampu menangkap banyak tikus sawah terus menerus selama musim tanam (sejak tanam hingga panen). TBS dianjurkan untuk digunakan pada daerah endemik tikus yaitu wilayah yang populasi tikusnya selalu tinggi sehingga terjadi serangan tikus pada setiap musim tanam. Jenis-jenis TBS yaitu:

a) TBS tanam awal (early trap crop) TBS tanam awal terdiri dari: (i) tanaman perangkap untuk menarik kedatangan tikus, (ii) pagar plastik untuk mengarahkan tikus masuk perangkap, dan (iii) bubu perangkap untuk menangkap dan menampung tikus. Tanaman perangkap TBS tanam awal ditanam tiga minggu lebih awal daripada tanaman padi di sekelilingnya. Saat tanaman perangkap ditanam, lahan di sekelilingnya masih olah tanah dan persemaian, sehingga tanaman padi TBS akan lebih dahulu memasuki stadia generatif. Perbedaan umur tanaman tersebut mampu menarik tikus dari sekitarnya untuk mendatangi petak TBS. Petak tanaman perangkap minimal berukuran 25m x 25m agar mampu berfungsi optimal menarik kedatangan tikus dari habitat dan lingkungan di sekitarnya hingga 200m dari petak TBS. penempatan petak tanaman perangkap adalah didekat habitat utama tikus sawah, seperti perbatasan dengan kampung, tanggul irigasi, tanggul jalan, atau petak sawah yang sering diserang tikus sawah.

b) TBS persemaian (nursery trap crop) Persemaian dapat difungsikan sebagai petak TBS dengan caraa pemasangan pagar plastik keliling dan bubu perangkap. Setelah

34

8

cabut bibit, bekas persemaian ditanami padi umur genjah, agar memasuki stadia generatif lebih awal. Kombinasi ini efektif menarik kedatangan tikus setara dengan TBS tanam awal. c) TBS tanam akhir (late trap crop) Komponen TBS tanam akhir sama seperti TBS tanam awal, namun tanaman perangkap ditanam tiga minggu lebih lambat dari pertanaman di sekitarnya. Ketika padi sudah dipanen, petak TBS merupakan satu-satunya pertanaman yang masih tersisa, sehingga akan “diserbu” tikus dari segala arah. Tikus yang tertangkap di akhir pertanaman akan menekan populasi tikus pada musim tanam berikutnya (Anonim, 2015). Roughing Roughing adalah membuang tanaman tipe simpang (off type), campuran varietas lain (CVL) yang memiliki ciri-ciri menyimpang dari

varietas yang diperbanyak. Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik yang tinggi. Oleh karena itu roughing perlu dilakukan untuk membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang diproduksi benihnya. Tujuan dari pelaksanaan roughing adalah agar diproduski benih yang memiliki kemurnian genetik tinggi sesuai dengan deskripsinya. Prosedur pelaksanaan

a Roughing pada Fase Vegetatif Awal (35 45 HST)

Tanaman yang tumbuh diluar jalur/barisan

Tanaman/rumpun yang tipe pertunasan awalnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

Tanaman yang dibentuk dan ukuran daunnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

Tanaman yang warna kaki atau daun pelepahnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

Tanaman/rumpun yang tingginya sangat berbeda (mencolok).

35

b Roughing pada Fase Vegetatif Akhir/Anakan Maksimum (50 60 HST)

Tanaman yang tumbuh di luar jalur/barisan.

Tanaman/rumpun yang tipe pertumbuhan menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain,

Tanaman yang bentuk dan ukuran daunnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain,

Tanaman yang warna kaki atau helai daun dan pelepahnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain

Tanaman/rumpun yang tingginya sangat berbeda (mencolok)

c Roughing pad Fase Generatif Awal/Berbunga (85 90 HST)

tanaman/rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain

tanaman yang bentuk dan ukuran daun benderanya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain

tanaman yang berbunga terlalu cepat atau terlalu lambat dari sebagian besar rumpun-rumpun lain

tanaman/rumpun yang memiliki eksersi malai berbeda

tanaman/rumpun yang memiliki bentuk dan ukuran gabah berbeda

d Roughing pada Generatif Akhir/Masak (100 115 HST)

Tanaman/rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain

Tanaman yang bentuk dan ukuran daun benderanya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain

Tanaman/rumpun yang terlalu cepat matang

Tanaman/rumpun yang memiliki eksersi malai berbeda

Tanaman/rumpun yang memiliki bentuk dan ukuran gabah warna gabah dan ujung gabah (rambut/tidak berambut) berbeda.

36

9 Variabel yang Diamati Variabel yang diamati meliputi karakter morfologi dan agronomi kuantitatif dan kualitatif tanaman serta produksi tanaman. Karakter morfologi dan agronomi kuantitatif meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan dan umur berbunga serta umur panen, sedangkan kualitatif meliputi warna kaki, batang, telinga dan lidah daun, serta kasar atau halusnya permukaan daun. Pengamatan produksi tanaman meliputi hasil per luas tanam, kadar air saat panen dan produksi (ton/ha).

10 Panen

Saat panen yang tepat adalah pada waktu biji telah masak fisiologis, atau apabila sekitar 90 95% malai telah menguning. Mutu benih padi setelah panen biasanya berhubungan dengan mutu fisiologis, mutu fisik dan kesehatan benih. Salah satu variabel dari mutu fisiologis yaitu vigor benih. Vigor benih merupakan kemampuan benih untuk tumbuh cepat, serempak dan berkembang menjadi tanaman normal dalam kisaran kondisi lapang yang lebih luas. Panen pada waktu yang tepat akan mendapatkan benih dengan mutu fisik dan mutu fisiologis yang baik.

Persiapan panen Lahan pertanaman untuk produksi benih dapat dipanen apabila sudah dinyatakan lulus sertifikasi lapang oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB). Semua malai dari kegiatan roughing telah dikeluarkan dari areal yang akan dipanen, hal ini bertujuan untuk menghindari tercampurnya calon benih dengan malai sisa roughing.

Waktu panen dan proses panen Panen dilakukan pada waktu biji telah masak fisiologis, atau apabila malai telah menguning sekitar 90 95%. Dua baris tanaman yang paling pinggir dipanen secara terpisah dan tidak digunakan sebagai calon benih. Panen dapat dilakukan dengan potong tengah jerami kemudian dirontokkan dengan threser atau potong bawah lalu digebot. Selanjutnya mengukur kadar air panen dengan menggunakan moisture meter, kemudian calon benih dimasukan ke dalam karung dan

37

diberi label (yang berisi: nama varietas, kelas benih, tanggal panen, asal pertanaman dan berat calon benih) lalu diangkut ke ruang pengolahan benih. 11 Pengeringan Pengeringan adalah penurunan kadar air penih sampai dengan kadar air yang aman untuk diproses lebih lanjut. Penjmuran dilakukan dengan menggunakan lantai jemur atau menggunakan alat pengering (dryer). Dengan menurunya kadar air benih, mampu menekan laju metabolisme sehingga benih dapat disimpan dan dapat diolah serta memiliki mutu fisik dan fisiologis yang baik. Prosedur pelaksanaan

Penjemuran menggunakan lantai jemur Lantai jemur yang digunakan dalam kondisi bersih, apabila penjemuran dilakukan untuk beberapa varietas yang berbeda diwaktu dan lokasi yang sama maka diberi jarak antar benih untuk menghindari tercampurnya benih dengan varietas lain. Pada lantai jemur dilapisi alas untuk mencegah suhu penjemuran yang terlalu tinggi dibagian bawah hamparan. Lakukan pembalikan benih secara berkala dan hati-hati. Selama kegiatan penjemuran perlu dilakukan pengukuran suhu dan kadar air benih setiap 2 3 jam sekali. Apabila pengeringan menggunakan sinar matahari langsung, penjemuran dilakukan selama 4 5 jam, dan penjemuran dihentikan apabila suhu hamparan benih lebih dari 43 o C. Pengeringan dilakukan hingga mencapai kadar air yang memenuhi standar mutu benih bersertifikat (13% atau lebih rendah).

Penjemuran dengan alat pengering Sebelum melakukan pengeringan, mesin pengering harus dibersihkan hal ini memastikan bahwa tidak benih yang tertinggal, kemudia pastikan mesin dapat berfungsi dengan baik. Suhu udara yang mengenai benih sebaiknya disesuaikan dengan kadar air awal benih (kadar air benih pada saat mulai pengeringan). Apabila kadar air benih sangat tinggi, maka benih perlu diangin-anginkan terlebih dahulu

38

menggunakan blower sebelum dikeringkan. Apabila kadar air benih sudah aman, atur suhu pengering benih (tidak melebihi 43 o C). Kemudian lakukan pengecekan suhu hamparan benih dan kadar air benih setiap 2 3 jam. Pengeringan dihentikan apabila kadar air benih mencapai kadar air yang memenuhi standar mutu benih bersertifikat (13% atau lebih rendah).

12 Pengolahan Benih

Kegiatan pengolahan benih meliputi pembersihan benih, pemilahan (grading) dan perlakuan benih. Pembersihan dalam skala kecil dan menggunakan tampi sedangkan skala besar dapat menggunakan air screen cleaner. Pemilahan benih (grading) adalah proses pemilahan benih berdasarkan bentuk, ukuran dan bobot benih. Grading dapat dilakukan dengan alat-alat seperti Indent cylinder machine, indent desk separator, gravity table separator dan sebagainya. Tujuan pembersihan adalah untuk memisahkan benih dari kotoran (tanah, jerami dan daun padi yang terbawa) juga untuk membuang benih hampa. Tujuan dari grading adalah untuk mendapatkan benih yang lebih seragam dalam ukuran benih (panjang, lebar, ketebalan), bentuk dan berat jenis benihnya. 13 Pengemasan Pengemasan bertujuan untuk mempermudahkan di dalam penyaluran/transportasi benih, juga untuk melindungi benih selama penyimpanan terutama dalam mempertahankan mutu benih dan menghindari serangan insek. Tingkat efektivitas suatu kemasan ditentukan oleh kemampuan bahan kemas dalam mempertahankan kadar air, viabilitas benih dan serangan insek. Pengemasan sementara selama pengolahan benih berlangsung sampai hasil uji lab keluar, benih dikemas dalam karung plastik yang dilapisi dengan kantong plastik dibagian dalamnya. Sedangkan untuk tujuan komersil/pemasaran benih, dikemas dengan menggunakan kantong plastik tebal 0.08 mm atau lebih dan dikelim rapat. Pengemasan dilakukan setelah

39

dinyatakan lulus oleh BPSB dan label selesai dicetak. Label dimasukan kedalam kemasan sebelum di kelim. 14 Penyimpanan Penyimpanan benih didefinisikan sebagai upaya mengkondinisikan ruang simpan benih untuk mempertahankan mutu benih. Kondisi penyimpanan yang baik adalah kondisi penyimpanan yang mampu mempertahankan mutu benih seperti sebelum simpan sepanjang mungkin selama periode simpan. Daya simpan benih dipengaruhi oleh sifat genetik benih, mutu benih awal simpan dan kondisi ruang simpan. Kondisi ruang yang secara langsung berpengaruh terhadap daya simpan benih adalah suhu dan kelembaban ruang simpan. Tujuan dari penyimpanan adalah mempertahankan mutu benih hingga benih siap ditanam. Kondisi ruang penyimpanan yang baik untuk benih-benih yang bersifat ortodoks adalah pada kondisi kering dan dingin. Beberapa kaidah

yang perlu diperhatikan adalah: (i) setiap penurunan 1% kadar air atau 10 o F (5,5 o C) suhu ruang simpan akan melipat gandakan daya simpan benih. Kondisi tersebut berlaku untuk kadar air benih antara 14% sampai 5% dan pada suhu 50 o C 0 o C dan (ii) penyimpanan yang baik bila presentase kelembaban relatif (% RH) ditambah suhu ruang simpan ( o F) sama dengan 100. Untuk memenuhi kondisi demikian, idealnya ruang simpan benih dilengkapi dengan AC (air conditioner) dan alat untuk menurunkan kelembaban ruang simpan (dehumudifier). Apabila kondisi tersebut belum bisa dipenuhi, gudang penyimpanan selayaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a Tidak bocor

b Lantai harus padat (terbuat dari semen/ beton)

c Mempunyai ventilasi yang cukup dan sirkulasi udara berjalan lancar agar gudang penyimpanan tidak lembab

d Bebas dari gangguan hama dan penyakit (ruang besih, lubang ventilasi ditutup kawat kasa).

40

Benih disimpan secara teratur dan setiap varietas terpisah dari varietas lain. Penumpukan benih di gudang diatur serapi mungkin agar mudah dikontrol, dan tidak mudah roboh. Apabila benih tidak disimpan pada rak-rak benih, maka di bagian bawah tumpukan harus diberi balok- balok kayu atau palet kayu agar benih tidak bersentuhan langsung dengan lantai ruang simpan. Setiap tumpukan benih dilengkapi dengan kartu pengawasan yang berisi informasi tentang:

a Nama varietas

b Tanggal panen

c Asal petak pertanaman atau percobaan

d Berat benih asal (pada saat awal penyimpanan)

e Berat benih pada saat pemeriksaan stok terakhir

f Hasil uji daya kecambah terakhir (tanggal, persentase daya kecambah) (Anonim, 2013).

5.5 Proses Sertifikasi Benih Padi ke BPSB DIY Sertifikasi benih bina tanaman pangan diselenggarakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) atas permohonan produsen benih yang telah terdaftar atau memperoleh rekomendasi sebagai produsen benih bina dan

belum menerapkan sistem penjamin mutu, atau diselenggarakan oleh produsen benih bina tanaman pangan yang sudah mendapat sertifikat sistem manajemen mutu dari lembaga akreditasi sesuai ruang lingkup di bidang perbenihan. Proses sertifikasi benih padi dilakukan melalui prosedur baku. yaitu:

sertifikasi Benih Bina Tanaman Pangan melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Langkah-langkah yang dapat dilakukan sebagai berikut:

1 Permohonan Sertifikasi Benih Bina Tanaman Pangan Permohonan sertifikasi benih tanaman pangan diajukan kepada SKPD paling lambat sebelum tanam, dengan melampirkan sejumlah labeh benih sumber sesuai dengan jumlah benih sumber yang akan ditanam dan peta lapangan. Luasan satu unit sertifikasi benih bina tanaman pangan maksimal 10 ha. Untuk sertifikasi benih yaang dilakukan pada pertanaman tumpangsari, dapat dilakukan apabila luas areal pertanaman yang

41

disertifikasi lebih dari 50 % dari luas pertanaman. Satu unit areal sertifikasi benih bina tanaman pangan merupakan hamparan yang mempunyai batas yang jelas, dapat terdiri dari beberapa petak atau areal yang terpisah dengan jarak tidak lebh dari 10 meter dan tidak dipisahkan oleh varietas lain. Diajukan untuk satu varietas dan satu kelas benih, dengan batas waktu tanam maksimal 5 hari untuk seluruh areal pertanaman yang akan disertifikasi.

2 Pemeriksaan Kebenaran Benih Sumber, Lapangan dan Pertanaman, Isolasi Tanaman dan Alat Panen Pemeriksaan kebenaran benih sumber dilaksanakan pada saat pemeriksaan lapangan pendahuluan melalui pemeriksaan kebenaran label

dan kesesuaian jumlah benih dengan luas areal yang diajukan.

a Pemeriksaan lapang pendahuluan Kegiatan ini dilaksanakan melalui pemeriksaan:

Kebenaran dokumen sebelum tanam sampai dengan tanam, yaitu

untuk mendapatkan kepastian bahwa data yang diberikan atau dicantumkan dalam permohonan sertifikasi, termasuk label dan jumlah benih sumber, benar-benar sesuai dengan keadaan yang ada dilapangan. 2) Kondisi lahan (isolasi dan sejarah lapangan), yang akan dipergunakan sebagai areal sertifikasi. 3) Kebenaran batas-batas areal yang akan digunakan untuk areal sertifikasi. Data tersebut dicocokkan dengan peta lapangan yang dilampirkan pada permohonan. Pada pemeriksaan ini sekaligus dapat diketahui keadaan isolasi areal tersebut. 4) Kebenaran varietas, benih sumber dan kelas benih yang akan

ditanam serta kelas benih yang dihasilkan. Rencana penanaman (varietas, tanggal sebar, tanggal tanam, kelas

5)

1)

benih, luas areal).

42

b Pemeriksaan pertanaman Maksud pemeriksaan pertanaman adalah untuk mendapatkan kepastian bahwa benih yang akan dihasilkan dari pertanaman tersebut benar varietas yang dimaksud dan tidak tercampur sesuai dengan persyaratan mutu benih. Produsen benih bina tanaman pangan harus menyampaikan permintaan pemeriksaan pertanaman paling lambat satu minggu sebelum pelaksanaan pemeriksaan pertanaman kepada SKPD. Pemeriksaan pertanaman dapat dilakukan pada fase vegetatif, fase

berbunga, fase masak/menjelang panen. Jenis pemeriksaan dapat dilakukan pada satu, dua atau tiga fase, sesuai dengan jenis tanaman.

1)

Pelaksanaan pemeriksaan pertanaman

a) Persiapan:

(1)

Memeriksa dokumen hasil pemeriksaan sebelumnya.

(2) Memeriksa letak, luas dan tanggal tanam areal pertanaman yang akan diperiksa.

b) Pemeriksaan global Memeriksa kondisi pertanaman secara menyeluruh dengan cara mengelilingi lahan sertifikasi, untuk:

(1) Mengetahui isolasi jarak, waktu dan penghalang (khusus untuk tanaman penyerbuk silang) sesuai jenis tanaman. (2) Menentukan sampel pengamatan dengan cara:

- Menetapkan secara acak sehingga dapat mewakili kondisi pertanaman secara keseluruhan.

- Bukan merupakan pertanaman pada baris tepi/pingir.

(3) Membuat peta lapangan untuk menentukan titik sampel.

(4) Mengetahui keadaan pertanaman, dengan ketentuan:

- Apabila 1/3 luas areal pertanaman yang disertifikasi ternyata rebah, sehingga mempersulit pemeriksaan, maka areal tersebut dapat ditolak.

43

- Apabila pertanaman yang rebah terdapat secara

mengelompok, maka dapat dilakukan pemeriksaan atas

sisa areal yang tidak rebah.

- Pertanaman harus bersih dari gulma.

c) Pemeriksaan pertanaman dilakukan pada setiap sampel

pemeriksaan yang jumlah dan lokasinya telah ditetapkan untuk

mengetahui jumlah varietas lain dan tipe simpang

d) Cara menentukan jumlah sampel pemeriksaan:

(1) Untuk luas areal pertanaman sampai dengan 2 ha,

diperlukan minimum empat contoh pemeriksaan.

(2) Selanjutnya untuk setiap penambahan areal, jumlah sampel

dilapangan seperti tabel berikut:

Tabel 3. Cara Penentuan Jumlah Sampel

Luas lahan (ha)

Jumlah contoh pemeriksaan

<1 2

4

>2 4

8

>4 7

12

>7 10

16

Sumber: OECD Seed Scheme Guideline Field Inspection of Seed Crops, 2014 (3) Jumlah tanaman per contoh pemeriksaan sesuai jenis

tanaman

e) Cara menghitung persentase campuran varietas lain (CVL) dan

tipe simpang:

(1) Menghitung jumlah campuran varietas lain dan tipe

simpang dari hasil pemeriksaan seluruh areal contoh

pemeriksaan

(2) Kemudian dinyatakan dengan persen dengan cara:

∑ CVL dan Tipe Simpang

∑ contoh pemeriksaan

×

1

Populasi sampel × 100%

(3) Populasi tanaman setiap sampel pemeriksaan sesuai

dengan jenis tanaman

2) Apabila pada pemeriksaan pertanaman, ternyata dalam

pemeriksaan tidak memenuhi persyaratan mutu, maka dapat

44

dilakukan pemeriksaan ulang sebanyak 1 (satu) kali berdasarkan permintaan dari produsen benih, 3) Berdasarkan permintaan dari produsen benih, apabila pada pemeriksaan pertanaman tidak memenuhi persyaratan mutu untuk kelas benih yang dimaksud, maka pertanaman tersebut dapat dinyatakan tidak lulus untuk kelas benih yang lebih rendah, sepanjang masih memenuhi standar yang berlaku untuk kelas benih tersebut. 4) Laporan pemeriksaan pertanaman dibuat oleh Pengawas Benih Tanaman dan disampaikan kepada produsen benih bina tanaman pangan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah pemeriksaan.

c Selain mengamati campuran varietas lain dan tipe simpang, perlu juga diamati tanaman yang terserang hama dan penyakit serta gulma. Apabila pertanaman terserang hama dan penyakit dengan kondisi parah atau pertanaman terlalu banyak gulma, proses sertifikasi dapat tidak dilanjutkan.

d Isolasi tanaman Isolasi tanaman dimaksudkan agar tidak terjadi persilangan liar. Macam isolasi tanaman, yaitu isolasi jarak, isolasi waktu, dan isolasi penghalang (barrier).

e Pemeriksaan alat panen, alat pengolahan, tempat pengolahan benih dan tempat penyimpanan,serta pemeriksaan benih di pengolahan dan tempat penyimpanan. Peralatan panen dan pengolahan diperiksa sebagaimana yang ditetapkan untuk menjamin bahwa benih yang dipanen dan diolah tersebut tidak tercampur varietas lain. 1) Pemeriksaan peralatan panen, pengolahan dan tempat penyimpanan Maksud pemeriksaan peralatan panen, pengolahan dan tempat penyimpanan/gudang benih untuk mendapatkan kepastian bahwa benih yang akan dipanen/diolah/disimpan terhindar dari

45

2)

3)

kemungkinan pencampuran sehingga kemurnian varietasnya dapat dijamin, sesuai dengan kebutuhan masing-masing jenis tanaman. Produsen benih bina tanaman pangan harus mengajukan permintaan untuk pemeriksaan tersebut selambat-lambatnya satu minggu sebelum dipanen/digunakan. Fasilitas penyimpanan serta peralatan yang akan dipakai untuk panen, pengolahan, pengeringan dan atau penyimpanan tidak boleh terdapat benih lainnya selain benih yang sedang disertifikasi (yang akan diolah), kecuali bila benih tersebut jelas identitasnya serta disimpan terpisah dengan batas-batas yang jelas. Pemeriksaan benih pada proses pengolahan dan penyimpanan Maksud pemeriksaan benih pada proses pengolahan dan penyimpanan adalah untuk menjamin bahwa benih yang sedang diolah dan disimpan, jumlahnya diketahui dan tidak tercampur dengan varietas lain. Produsen benih bina tanaman pangan harus mengajukan permohonan untuk pemeriksaan pengolahan selambat-lambatnya satu minggu sebelum benih diolah. Identitas kelompok benih seperti jenis/varietas, nomor kelompok, asal lapangan/blok, harus ada dan terpelihara setiap saat. Benih harus disimpan dalam tempat yang sesuai serta sirkulasi udara terjamin atau terkontrol. Penetapan kelompok benih bina tanaman pangan Benih yang telah selesai diproses ditempatkan pada wadah/tempat benih yang diatur sedemikian rupa sehingga jumlahnya dapat dihitung dengan tepat dan setiap wadah benih mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil contoh benihnya serta contohnya dapat diambil dengan mudah. Penetapan suatu kelompok benih bina tanaman pangan berdasarkan identitasnya (anatara lain jenis, varietas dan nomor induk lapangan). Kelompok benih bina tanaman pangan ini dapat berasal dari penggabungan dua atau beberapa unit sertifikasi yang berbeda dengan tanggal

bina tanaman pangan ini dapat berasal dari penggabungan dua atau beberapa unit sertifikasi yang berbeda dengan

46

panen dan tidak lebih dari 5 hari, yang harus diketahui dan dicatat asal usul dan persyaratan lainnya. Semua wadah/tempat dari setiap kelompok harus diatur/disusun tersendri dan tidak tercampur dengan benih lainnya. Produsen benih pada setiap kelompok benih bina tanaman pangan, antara lain nomor induk, nomor kelompok benih, varietas, kelas benih, tanggal panen, jumlah wadah, dan volume benih. Kelompok benih bina tanaman pangan dari varietas yang sama dicampur menjadi satu kelompok benih, pencampurannya harus homogen. Pencampuran kelompok benih bina tanaman pangan dari varietas yang sama namun berasal dari kelas benih yang berbeda, maka kelompok benih bina tanaman pangan dari varietas yang sama namun berasal dari kelas benih yang berbeda, maka kelompok benih bina tanaman pangan tersebut dijadikan kelas benih yang rendah.

3 Pengambilan Contoh dan Pengujian/Analisis Mutu Benih di Laboratorium Produsen benih bina tanaman pangan mengajukan permohonan pengujian/analisis mutu benih kepada Satuan Kerja Daerah. Contoh benih untuk pengujian/analisis mutu benih laboratorium diambil identitas jelas dan seragam mutunya. Volume satu kelompok benih untuk masing-masing

jenis tanaman tidak lebih dari ketentuan yang berlaku. Contoh benih diambil oleh petugas yang kompeten, dari kelompok benih yang telah lulus pemeriksaan lapangan akhir, selesai diolah dan mempunyai identitas yang jelas. Pengujian/analisis mutu benih meliputi penetapan kadar air, analisis kemurnian, dan pengujian daya berkecambah. Tatacara pengambilan contoh benih, jumlah atau berat contoh, alat pengambilan contoh benih, dan pengujian/analisis mutu benih di laboratorium mengacu pada ISTA. Pengambilan contoh benih ulangan, dilakukan apabila:

1)

Kelompok benih tidak memenuhi standar mutu kemurnian fisik.

2) Kelompok benih tidak memenuhi standar mutu kadar air. Apabila setelah diuji kemurnian fisik, kadar air dan daya berkecambah, diketahui

47

kelompok benih tidak memenuhi standar mutu daya berkecambah dikarenakan benih dorman, maka dapat dilakukan pengujian ulang daya berkecambah dari contoh benih yang sama.

4 Penerbitan Sertifikasi Benih Bina Tanaman Pangan Benih bina tanaman pangan yang memenuhi persyaratan sertifikasi dan dinyatakan lulus, diterbitkan sertifikat. Sertifikat Benih Bina Tanaman Pangan diterbitkan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah atau oleh produsen benih bina tanaman pangan yang telah mendapatkan sertifikat sistem manajemen mutu dari LSSM. Sertifikat Benih Bina Tanaman Pangan antara lain berisikan nama dan alamat produsen benih bina tanaman pangan, data kelompok benih, data kemurnian varietas dan mutu benih, tanggal selesai pengujian/analisis dan masa edar.

5 Pelabelan Pengawasan pemasangan label merupakan kegiatan pemeriksaan yang dilakukan sewaktu-waktu selama proses pemasangan label untuk mengetahui kebenaran pemasangan label oleh produsen benih bina tanaman pangan. Produsen benih bina tanaman pangan mengajukan permintaan nomor seri label benih bersertifikat dan atau segel kepada penyelenggara sertifikasi setelah sertifikat benih bina tanaman pangan suatu kelompok benih diterima. Pemberitahuan permintaan nomor seri label dan segel harus mencantumkan jumlah segel dan label sertifikasi yang diperlukan, nomor pengujian, nomor kelompok benih yang bersangkutan, jenis, varietas, jumlah wadah, isi kemasan, berat bersih tiap wadah, nama dan alamat produsen. Hal ini dimaksudkan sebagai dasar pemberian nomor seri label. Label dan atau segel harus dipasangkan pada tiap-tiap wadah benih yang mudah dilihat.

48

a Pengisian data label 1) Data label diisi berdasarkan sertifikat Benih Bina Tanaman

Pangan. Data yang diisikan paling tidak sama dengan standar mutu Benih Bina Tanaman Pangan yang berlaku atau diatasnya, paling tinggi sama dengan data yang tercampur pada sertifikatnya. Untuk benih berbentuk biji atau umbi, label memuat informasi nama dan alamat produsen benih, nomor seri label, jenis/varietas,

kelas benih, nomor lot, campuran varietas lain, benih murni, benih tanaman lain, biji gulma, kotoran benih, daya berkecambah, kadar air, isi kemasan/kg dan tanggal akhir masa edar benih. Sedangkan untuk benih yang diperbanyak dengan stek atau anakan, label memuat informasi nama dan alamat produsen benih, jenis tanaman dan varietas, kelas benih, jumlah stek/anakan, tanggal panen dan tanggal akhir masa edar benih. 3) Legalisasi label berupa nomor seri label dan stempel, hologram atau segel.

4)

Label kelas Benih Penjenis (BS) yang dikeluarkan dalam bentuk surat keterangan oleh Pemulia Tanaman, harus diketahui oleh institusi pemulia yang bersangkutan.

2)

b Sertifikat label:

1) Bahan

:

terbuat dari kertas atau bahan lain yang kuat, tidak mudah

2) Ukuran

:

robek atau luntur. lebar dengan panjang = 1: (2 3)

3)

Bentuk :

Segi empat

4) Warna

:

- Benih Penjenis (BS)

: Kuning

- Benih Dasr (BD)

: Putih

- Benih Pokok (BP), BP1 dan BP2

: Ungu

- Benih Sebar (BR), BR1, BR2, BR3 dan

: Biru

BR4

49

c Pada label harus mencamtumkan kalimat “Benih Bersertifikat” dan Kelas Benih.

d Benih Bina Tanaman Pangan yang diberi perlakuan dengan pestisida, insektisida atau bahan kimia lainnya pada kemasan diberi keterangan tambahan yang memuat:

1)

Nama umum dari bahan-bahan yang digunakan

2) Tanda peringatan yang jelas “JANGAN DIMAKAN ATAU DIBERIKAN PADA TERNAK”

6 Biaya Sertifikasi Benih Bina Tanaman Pangan Biaya sertifikasi benih bina tanaman pangan berupa biaya pemeriksaan lapangan/pertanaman dan pengujian laboratorium, dibebankan kepada produsen benih bina tanaman pangan, dengan besaran biaya sesuai peraturan yang berlaku. Pembayaran biaya pemeriksaan lapangan dilakukan setelah lulus verifikasi berkas permohonan sertifikasi, sedangkan pembayaran biaya pengujian laboratorium dilakukan saat mengajukan permohonan pengambilan sampel. Sertifikasi benih padi inbrida dilakukan melalui prosedur baku sertifikasi dengan persyaratan:

1) Populasi tanaman dalam satu sampel pemeriksaan pertanaman sebanyak 200 rumpun 2) Pemeriksaan lapangan, pertanaman dan waktu pelaksanaanya.

a Pemeriksaan lapangan pendahuluan Dilakukan sebelum tanam sampai dengan tanam untuk memastikan kebenaran lokasi, persyaratan lokasi, persyaratan lahan dan benih sumber.

b Pemeriksaan pertanaman Pemeriksaan pertanaman dilakukan pada fase pertumbuhan tanaman, yaitu sejak dari fase vegetatif (umur 25 hari setelah tanam) hingga fase masak (±7 hari sebelum panen) pada waktu tanaman sudah mulai menguning dan isi gabah sudah keras tetapi mudah pecah dengan kuku. Apabila pemeriksaan pertanamann dilakukan kurang dari 3 kali,

50

pemeriksaan pertanaman pada fase masak wajib dilakukan. Apabila

tidak lulus dalam pemeriksaan pertanaman, dapat dilakukan

pemeriksaan ulang 1 (satu) kali selama masih pada fase berbunga

berdasarkan permintaan dari produsen benih.

c Parameter yang diperiksa adalah:

1)

Fase vegetatif: warna kaki, tipe pertumbuhan, warna daun, lebar

daun, kehalusan daun, dan tinggi tanaman.

2)

Fase berbunga: tipe pertumbuhan, kehalusan daun, warna helai

daun, warna leher daun, warna daun, lebar daun, tinggi tanaman,

dan sudut daun bendera.

3)

Fase masak: bentuk/tipe malai, leher malai, bentuk gabah, warna

gabah, warna ujung gabah, dan bulu pada ujung gabah.

3) Volume satu kelompok benih maksimal 30 ton.

4) Standar mutu benih bersertifikat

a Standar mutu di lapangan

Tabel 4. Spesifikasi Persyaratan Mutu Benih di Lapangan

Parameter Pemeriksaan

Satuan

 

Kelas Benih

BS

BD

BP

BR

Isolasi Jarak (minimal)

meter

2

2

2

2

Campuran Varietas Lain dan Tipe Simpang (maksimal)

%

0.5

0.5

0.5

0.5

Isolasi Waktu (minimal)

Hari

21

21

21

21

b Standar mutu di laboratorium

Tabel 5. Spesifikasi Persyaratan Mutu Benih di Laboratorium

Parameter Pemeriksaan

Satuan

 

Kelas Benih

 

BS

BD

BP

BR

Kadar Air (maksimal)

%

13

13

13

13

Benih Murni (minimal)

%

99.0

99.0

98.0

98.0

Kotoran Benih (maksimal)

%

1.0

1.0

2.0

2.0

Benih Tanaman Lain (maksimal)

%

0.0

0.0

0.2

0.2

Biji Gulma (maksimal)

%

0.0

0.0

0.0

0.0

Daya Berkecambah (maksimal)

%

80

80

80

80

51

5) Masa edar benih diberikan paling lama 6 (enam) bulan setelah tanggal selesai pengujian/analisis mutu untuk pelabelan yang pertama. Pelabelan ulang dapat dilakukan selama mutu benih masih memenuhi standar mutu yang berlaku dengan masa edar maksimal setengah dari masa edar pada pelabelan yang pertama (Anonim, 2017 e ).

5.6 Permasalahan Dalam Produksi Benih Padi

1 UPBS BPTP Yogyakarta Permasalahan yang dihadapi dalam produksi benih padi di UPBS BPTP Yogyakarta antara lain:

a Benih sumber dan varietas Benih sumber yang akan diproduksi oleh UPBS BPTP Yogyakarta berasal dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, Jawa Barat. Dalam hal ini BB Padi tidak hanya memenuhi kebutuhan benih sumber untuk daerah DIY, melainkan harus memenuhi kebutuhan benih sumber untuk seluruh Indonesia. Sehingga dalam beberapa kasus stock benih yang dibutuhkan oleh BPTP Yogyakarta tidak tersedia/habis saat dibutuhkan untuk bidang perbenihan. Kebutuhan benih sumber dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu persentase viabilitas, hasil panen yang dicapai dan persentase/rasio hasil panen dan benih yang dihasilkan. Di Indonesia yang merupakan negara tropis kegiatan budidaya sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, sehingga dalam pemilihan varietas harus memperhatikan spesifik lokasi. Varietas yang akan diproduksi oleh UPBS BPTP Yogyakarta mengacu pada prevensi petani terhadap varietas yang akan dibudidayakan oleh petani untuk konsumsi. Petani di Yogyakarta umumnya memilih varietas dengan kriteria umur pendek, produktivitas tinggi, tahan hama dan penyakit, dan rasa nasi yang pulen.

52

b Sarana dan prasarana produksi Sarana dan prasarana di UPBS BPTP Yogyakarta sangat terbatas, terutama pada kebun percobaan. UPBS BPTP Yogyakarta tidak memiliki kebun percobaan, sehingga dalam kegiatan produksi benih padi dilakukan cara bekerjasama dengan para produsen benih dengan sistem bagi hasil. Selain itu di UPBS BPTP Yogyakarta tidak memiliki lantai jemur dan gudang, sehingga kegiatan prosesing benih tidak dapat dilakukan.

c Kesulitan tenaga kerja UPBS BPTP Yogyakarta mengalami kesulitan dalam mencari tenaga kerja untuk membantu kegiatan prosesing benih. Hal ini dikarenakan produksi benih mengacu pada kegiatan BPTP Yogyakarta dengan pendanaan APBN, sehingga pada saat kegiatan seringkali kesulitan dalam mencari tenaga kerja yang tidak tetap.

2 Produsen Benih Permasalahan yang dihadapi produsen benih disebabkan oleh beberapa keterbatan dalam sarana dan prasarana, antara lain:

a Permodalan Keterbatasan modal dari produsen benih menjadi salah satu penyebab kegiatan produksi benih menjadi terhambat. Karena permasalahan ini petani mengalami kesulitan dalam membeli benih sumber yang berkualitas tinggi yang merupakan input utama dalam perbenihan padi. Selain itu, akibat dari terbatasnya modal, penggunaan sarana dan prasarana produksi menjadi terbatas, yang akan berakibat pada hasil yang tidak akan optimal.

b Sarana dan prasarana Sarana dan prasarana akan mempengaruhi terhadap kegiatan produksi, hasil produksi serta penjualan benih yang dihasilkan. beberapa kendala dalam sarana dan prasarana yaitu:

53

- lantai jemur Lantai jemur merupakan sarana pengeringan dan penjemuran gabah. Minimnya lantai akan menghambat dalam prosesing benih, terutama pada saat musim penghujan. Pada saat musim penghujan, apabila penjemuran dilakukan tidak maksimal akan menyebabkan benih dalam kondisi lembab sehingga akan berjamur dan daya tumbuh benih akan turun. Kondisi benih yang seperti ini menyebabkan tidak lulus pada pengujian laboratorium. Studi kasus lainnya, apabila dalam satu kali penjemuran benih yang sedang diproses berasal dari beberapa varietas yang berbeda, dengan minimnya lantai jemur dapat menyebabkan resiko benih tercampur pada saat penjemuran apabila tidak ditangani secara cermat.

- infrastruktur Dalam hal ini permasalahan yang dihadapi para produsen benih yaitu kurangnya atau minimnya kendaraan yang akan digunakan sebagai alat angkut benih. Dalam beberapa kasus petani tidak dapat mengangkut benih dalam satu waktu, selain itu terdapat petani yang tidak memiliki kendaraan yang menyebabkan harus menyewa kendaraan, kondisi akan meningkatkan biaya yang dikeluarkan dalam prosesing benih yang akan berakibat pada penetapan harga jual benih.

- Irigasi

Sebagai contoh di kelompok tani Mudi Mulyo, Sentolo, Kulon Progo yang tercantum dalam Peraturan Bupati Kulon Progo Nomor 29 Tahun 2016 tentang Tata Tanam Tahunan Periode 2016 2017. Berdasarkan peraturan tersebut terdapat pembagian air irigasi berdasarkan ketersedian debit air irigasi serta luasan areal tanam, sehingga pada bulan-bulan tertentu terdapat beberapa wilayah yang tidak mendapat aliran air. Hal ini mengakibatkan

54

petani/penangkar benih tidak dapat memproduksi benih karena kekurangan air.

c Pemasaran dan jaringan distribusi Produksi benih sumber pada akhirnya akan menghasilkan benih yang siap untuk dipasarkan. Namun pada saat ini benih hanya dijual secara tradisional antar petani satu ke petani lain. Benih yang dihasilkan belum dijual secara komersil di toko-toko pertanian. Hal ini dikarenakan produsen benih belum menjalin kerjasama dengan para pedagang. Sehingga benih-benih ini hanya diketahui oleh beberapa petani atau kelompok tani saja. Kendala lain dalam kegiatan pemasaran yaitu produsen benih tidak berorientasi pada keadaan pasar atau permintaan konsumen, sehingga banyak benih yang tersedia belum laku terjual pada musim tanam berikutnya.

55

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut:

1 Produksi benih padi merupakan suatu kegiatan yang terdiri dari

serangkaian kegiatan untuk menghasilkan benih padi. Langkah-langkah

yang dilakukan UBPS BPTP Yogyakarta dalam memproduksi benih padi

yaitu mempersiapkan benih sumber, pemilihan lokasi, persemaian,

penyiapan lahan, penanaman, pemupukan, pengairan, penyiangan dan

pengendalian OPT, roughing, panen, pengeringan, pengolahan benih,

pengemasan, penyimpanan selama 30 hari untuk menunggu patahnya

masa dormansi dan selanjutnya diajukan sertifikasi. Pengajuan sertifikasi

benih ke BPSB dilakukan melalui prosedur baku yaitu pertama melakukan

permohonan sertifikasi. Kedua pemeriksaan kebenaran benih sumber,

lapang dan pertanaman, isolasi tanaman dan alat panen. Ketiga,

pengambilan contoh dan pengujian di laboratorium. Keempat penerbitan

sertifikat dan kelima pelabelan.

2 Benih sumber merupakan benih yang digunakan untuk memproduksi

benih yang merupakan kelas-kelas benih, meliputi beberapa kelas yaitu

benih inti, benih penjenis, benih dasar, dan benih pokok.

3 Dalam kegiatan produksi benih terdapat beberapa permasalahan, baik dari

UPBS maupun dari produsen benih. Permasalahan yang dihadapi oleh

UPBS yaitu kurang tersedianya benih sumber, tidak memiliki kebun

percobaan, tidak memilik lantai jemur dan minimnya gudang, sedangkan

yang dihadapi oleh produsen benih yaitu benih sumber terkadang tidak

tersedia, minimnya modal, minimnya kondisi lantai jemur, keterbatasan

dalam pengairan, terbatas dalam infrastuktur dan pemasaran benih.

56

6.2 Saran

Dari kegiatan yang telah dilakukan, penulis memberikan beberapa saran

yaitu:

1 Pengoptimalan kerjasama dengan kelompok tani yang baru saja menjadi mitra.

2 Menambah jenis varietas dalam produksi benih padi.

3 Meningkatkan kemampuan tenaga ahli dalam bidang perbenihan ditingkat produsen benih.

57

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. SRI-System of Rice Intencification. Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna. Pasuruan.

2013. Petunjuk Teknis Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS). Kementrian Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Besaar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Bogor.

2015. Sistem Bubu TBS dan LTBS. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi. http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id (Diakses pada 26 Juli 2018)

2014 a . Food and Agriculture Organization of the United Nations Regional Office for Asia and the Pacific - Statiscal Year Book 2014. Bangkok. http://www.fao.org/3/a-i3590e.pdf (Diakses pada 24 Februari 2018)

2014 b . Laporan Tahunan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta tahun 2013. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Yogyakarta

2016 a . Petunjuk Teknis Budidaya Padi Jajar Legowo Super. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementrian Pertanian.

2016 b . Pedoman Umum Produksi Benih Sumber Padi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

2017 a . Berapa Impor Beras Indonesia 2017?.

beras-indonesia-2017 (Diakses pada 22 Februari 2018)

2017 b . Produktivitas Padi 1) Menurut Provinsi, 2013 2017. Badan Pusat Statistik. http://www.pertanian.go.id/Data5tahun/TP- ARAM%20II%202017(pdf)/20-ProdPadi.pdf (Diakses pada 24 Februari

2018)

2017 c . Deskripsi Varietas Unggul Baru Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian. Sukamandi, Jawa Barat.

2017 d . Tanam Jajar Legowo. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Kalimantan Barat.

legowo (Diunduh pada 1 Maret 2018)

58

2017 e . Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor:

128/hk.150/C/12/2017 tentang Pedoman Teknis Sertifikasi Benih Bina Tanaman Pangan. http://bpsbtph-ntb.com/download/kepmentan-ri-no-

(Diunduh pada 5 Agustus 2018).

2018. Laporan Tengah Tahun 2018 Produksi Benih Sumber Padi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta. Yogyakaarta.

Arafah. 2009. Pengelolaan dan Pemanfaatan Padi Sawah. Bumi Aksara. Bogor.

Atman. 2009. Respon Padi Sawah Batang Lembang Terhadap Umur Bibit. Jurnal Ilmiah Tambua. 8 (2): 239-242

Hasanah, Ina. 2007. Bercocok Tanam Padi. Azka Mulia Media. Jakarta.

Herawati, W.D. 2012. Budidaya Padi. Javalitera. Yogyakarta.

Ihsan. 2018. Budidaya Tanaman Padi. https://www.petanihebat.com/budidaya- tanaman-padi/ (Diakses pada 27 Maret 2018)

Sembiring, Hasil. 2007. Kebijakan Penelitian dan Rangkuman Hasil Penelitian BB Padi dalam Mendukung Peningkatan Produksi Beras Nasional. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

(Diunduh pada 24 Februari 2018)

59