Anda di halaman 1dari 15

SIMULASI DIGITAL

Oleh :

AGAM NOROFIQON

1814321005 (E)

TEKNIK INFORMATIKA

UNIVERSITAS BHAYANGKARA SURABAYA

2019
SISTEM BILANGAN
DESIMAL, BINER, OKTAL dan HEKSADESIMAL

Dalam kehidupan sehari-hari, bilangan yang kita pergunakan untuk


menghitung adalah bilangan yang berbasis 10 atau disebut Sistem Desimal. Setiap
tempat penulisan dapat terdiri dari simbol-simbol 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Susunan
penulisan bilangan menunjukan harga / nilai tempat dari bilangan tersebut
misalnya, satuan, puluhan, ratusan dst. Tempat penulisan semakin kekiri
menunjukan nilai tempat bilangan yang semakin tinggi. Dalam teknik Digital
maupun teknik mikroprosessor pada umumnya bilangan yang dipakai adalah
bilangan yang berbasis 2 atau Sistem Biner. Dalam sistem biner disetiap tempat
penulisan hanya mungkin menggunakan simbol 0, atau simbol 1, sedangkan nilai
tempat bilangan tersusun seperti pada sistem decimal.

 Sistem Desimal (Dinari)


Pada sistem desimal ( lat. decum =10 ), seperti telah kita ketahui bersama bahwa
sistem ini berbasis 10 dan mempunyai 10 simbol yaitu dari angka 0 hingga 9. Setiap
0 1 2
tempat mempunyai nilai kelipatan dari 10 , 10 , 10 , dst . Penulisan bilangan
terbagi dalam beberapa tempat dan banyaknya tempat tergantung dari besarnya
bilangan. Setiap tempat mempunyai besaran tertentu yang harga masing-masing
tempat secara urut dimulai dari kanan disebut
Kebiasaan sehari-hari harga suatu bilangan desimal dituliskan dalam bentuk yang
mudah sbb :

 Sistem Biner
Sistem Biner ( lat. Dual ) atau “duo” yang berarti 2, banyak dipakai untuk
sinyal elektronik dan pemrosesan data. Kekhususan sistem biner untuk
elektronik yaitu bahwa sistem biner hanya mempunyai 2 simbol yang berbeda,
sehingga pada sistem ini hanya dikenal angka “ 0 “ dan angka “1 “.

Dari gambaran di atas seperti halnya pada sistem desimal, cara penulisannya
dapat dinyatakan secara langsung sbb :

0 1 2
Setiap tempat pada bilangan biner mempunyai kelipatan 2 , 2 , 2 ,
3
2 dst. yang dihitung dari kanan kekiri. Selanjutnya kita juga dapat merubah
bilangan desimal ke bilangan biner atau sebaliknya dari bilangan biner ke
bilangan desimal.
 Sistem Oktal
Aturan pada sistem oktal ( lat. okto = 8 ) sama dengan aturan yang
dipergunakan pada sistem bilangan desimal atau pada sistem bilangan biner.
Pada bilangan oktal hanya menggunakan 8 simbol yaitu angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6
0 1 2 3 4
dan 7 dan setiap nilai tempat mempunyai kelipatan 8 , 8 , 8 , 8 , 8 , dst.

 Sistem Heksadesimal
Sistem Heksadesimal yang juga disebut Sedezimalsystem, banyak dipakai
pada teknik komputer. Sistem ini berbasis 16 sehingga mempunyai 16 simbol
yang terdiri dari 10 angka yang dipakai pada sistem desimal yaitu angka 0 … 9
dan 6 huruf A, B, C, D, E dan F. Keenam huruf tersebut mempunyai harga
desimal sbb : A = 10; B = 11; C = 12; D =13; E = 14 dan F = 15. Dengan
demikian untuk sistem heksadesimal penulisanya dapat menggunakan angka
dan huruf.
GERBANG LOGIKA

Gerbang Logika (Logic Gate) adalah komponen pembentuk rangkaian


elektronika digital. Gerbang logika berfungsi untuk mengubah satu atau beberapa
Input (masukan) menjadi sebuah sinyal Output (Keluaran). Rangkaian beroperasi
berdasarkan nilai logik Input dan Output mengunakan sistem bilangan biner dengan
kode 0 dan 1.

 Gerbang Logika NOT


Gerbang Logika NOT disebut juga dengan Inverter. Nilai logika pada output
rangkaian selalu berlawanan dengan nilai logika inputnya. Saat nilai inputnya
berlogika 0, pada output akan berlogika 1. Sebaliknya saat nilai inputnya berlogika
1, pada outputnya akan berlogika 0. Gerbang Logika NOT dalam rangkaian
memiliki simbol:
 Gerbang Logika AND
Gerbang Logika AND memiliki nilai output berlogika 1 jika semua inputnya
berlogika 1. Salah satu atau kedua inputnya berlogika 0 pada outputnya akan
berlogika 0. Gerbang Logika AND dalam rangkaian memiliki simbol:

Tabel Kebenaran Gerbang Logika AND :

 Gerbang Logika OR
Gerbang Logika OR memiliki Output berlogika 0 pada saat semua inputnya
berlogika 0. Untuk kondisi yang lain (salah satu atau kedua inputnya berlogika 1)
pada output akan berlogika 1. Gerbang Logika OR dalam rangkaian memiliki
simbol:
Tabel Kebenaran Gerbang Logika OR :

 Gerbang Logika NAND


Gerbang Logika NAND dibentuk dari hasil kombinasi gerbang logika AND dan
NOT. Output akan berlogika 0 pada saat semua inputnya berlogika 1. Untuk kondisi
yang lain (salah satu input berlogika 1 atau 0) pada output akan berlogika 1.
Gerbang Logika NAND dalam rangkaian memiliki simbol:

Tabel Kebenaran Gerbang Logika NAND :

 Gerbang Logika NOR


Gerbang Logika NOR dibentuk dari hasil kombinasi gerbang logika OR dan
NOT. Output akan berlogika 1 pada saat semua inputnya berlogika 0. Untuk kondisi
yang lain (salah satu atau kedua inputnya berlogika 1) pada output akan berlogika
0. Gerbang Logika NOR dalam rangkaian memiliki simbol:
Tabel Kebenaran Gerbang Logika NOR :

 Gerbang Logika X-OR


X-OR adalah singkatan dari Exclusive OR. Gerbang logika ini memiliki dua
input dan satu Output. Keluaran Gerbang logika X-OR akan memiliki nilai
berlogika 1 pada saat semua input mempunyai nilai logika yang berbeda. Saat kedua
input memiliki nilai yang sama, pada output akan memberikan nilai logika 0.
Gerbang Logika X-OR dalam rangkaian memiliki simbol:

Tabel Kebenaran Gerbang Logika X-OR :


 Gerbang Logika X-NOR
X-NOR adalah singkatan dari Exclusive NOR. Rangkaian dibentuk dari hasil
kombinasi gerbang logika NOR dan NOT. Gerbang logika ini memiliki dua input
dan satu Output. Keluaran Gerbang logika X-NOR akan memiliki nilai berlogika 1
pada saat semua input mempunyai nilai logika yang sama. Saat kedua input
memiliki nilai yang sama, pada output akan memberikan nilai logika 1. Gerbang
Logika X-NOR dalam rangkaian memiliki simbol:

Tabel Kebenaran Gerbang Logika X-NOR :


ALJABAR BOOLEAN

Pengertian Aljabar Boolean dan Hukumnya – Aljabar Boolean atau dalam


bahasa Inggris disebut dengan Boolean Algebra adalah matematika yang digunakan
untuk menganalisis dan menyederhanakan Gerbang Logika pada Rangkaian-
rangkaian Digital Elektronika. Boolean pada dasarnya merupakan Tipe data yang
hanya terdiri dari dua nilai yaitu “True” dan “False” atau “Tinggi” dan “Rendah”
yang biasanya dilambangkan dengan angka “1” dan “0” pada Gerbang Logika
ataupun bahasa pemrograman komputer. Aljabar Boolean ini pertama kali
diperkenalkan oleh seorang Matematikawan yang berasal dari Inggris pada tahun
1854. Nama Boolean sendiri diambil dari nama penemunya yaitu George Boole.

 Hukum Aljabar Boolean


Dengan menggunakan Hukum Aljabar Boolean ini, kita dapat mengurangi dan
menyederhanakan Ekspresi Boolean yang kompleks sehingga dapat mengurangi
jumlah Gerbang Logika yang diperlukan dalam sebuah rangkaian Digital
Elektronika.
 Hukum Komutatif (Commutative Law)
Hukum Komutatif menyatakan bahwa penukaran urutan variabel
atau sinyal Input tidak akan berpengaruh terhadap Output Rangkaian
Logika.

Contoh :

Perkalian (Gerbang Logika AND)

X.Y = Y.X

Penjumlahan (Gerbang Logika OR)

X+Y = Y+X
 Hukum Asosiatif (Associative Law)

Hukum Asosiatif menyatakan bahwa urutan operasi logika tidak akan


berpengaruh terhadap Output Rangkaian Logika.

Contoh :

Perkalian (Gerbang Logika AND)

W . (X . Y) = (W . X) . Y

Penjumlahan (Gerbang Logika OR)

W + (X + Y) = (W + X) + Y
 Hukum Distributif

Hukum Distributif menyatakan bahwa variabel-variabel atau sinyal


Input dapat disebarkan tempatnya atau diubah urutan sinyalnya,
perubahan tersebut tidak akan mempengaruhi Output Keluarannya.

 Hukum AND (AND Law)

Disebut dengan Hukum AND karena pada hukum ini menggunakan


Operasi Logika AND atau perkalian. Berikut ini contohnya :
 Hukum OR (OR Law)

Hukum OR menggunakn Operasi Logika OR atau Penjumlahan. Berikut


ini adalah Contohnya :

 Hukum Inversi (Inversional Law)

Hukum Inversi menggunakan Operasi Logika NOT. Hukum Inversi ini


menyatakan jika terjadi Inversi ganda (kebalikan 2 kali) maka hasilnya
akan kembali ke nilai aslinya.

Jadi, jika suatu Input (masukan) diinversi (dibalik) maka hasilnya akan
berlawanan. Namun jika diinversi sekali lagi, hasilnya akan kembali ke
semula.