Anda di halaman 1dari 3

Ayo,Teaching by Heart

“The best teacher teach from the heart,not from the book”. – Author Unknown
1.Sentuhlah dengan cinta.
“Semua yang terbaik dariku adalah miliknya. Tiada satupun bakat,inspirasi, atau kebahagiaan di
dalam diriku yang tidak digugah oleh sentuhannya yang penuh cinta”. –Helen Keller
Itulah ucapan Keller untuk menggambarkan betapa cinta yang ditumbuhkan gurunyalah yang
membuat ia berubah dari anak buta yang keras kepala dan nakal menjadi orang buta matanya tapi
pikirannya menaklukan dunia.
Kadang kita berpikir hanya ada 3 orang yang wajib dicintai: orangtua,pasangan hidup,dan anak.
Padahal tidak cukup. Seorang guru harus membuat semua murid menjadi anaknya,dan memberikan
cintanya. Cinta akan membuat Anda bersedia berpikir keras untuk membuat si murid paham,sabar
dengan kelemahannya dan tidak benci ketika target belum tercapai. Tak ada kata kasar, dan
memojokan dari guru yang mencintai muridnya. Yang ada hanyalah tebaran harapan,motivasi dan
dorongan. Bagaimanapun kondisi anak muridnya. Jika hati tidak dipenuhi cinta,maka anda tak sabar
kapan kelas harus berakhir,tidak mengharapkan pertanyaan dari si murid,dan bahkan sangat bahagia
jika harus tidak mengajar,libur misalnya.

2. Bakar dia
Tak ada yang sulit dalam kamus otak manusia. Semua masalah bisa dipecahkan. Tapi yang tiada
adalah motivasi. Maka tugas sang guru adalah selalu melontarkan kata-kata pelecut dari mulutnya.
Karena kata-kata motivasi itu ibarat bensin yang dapat menyalakan semangat hidup dan semangat
belajar sang murid.
Kisah-kisah heroik,bayangan masa depan yang cerah,kemudahan yang akan diperoleh,atau kata-kata
hikmah bisa menjadi awal yang baik untuk memotivasi. Jangan sekali-sekali memulai pelajaran
sebelum menabur motivasi dalam dada mereka.

3. Beri ia yang terbaik


Nabi Muhammad berkata,” Berilah mereka makanan seperti yang Anda makan,dan berilah mereka
pakaian seperti yang Anda pakai.”
Jika kita memperoleh kenikmatan atau kebahagiaan,maka kita pasti akan segera teringat orang yang
kita cintai. Dan jika ilmu adalah sesuatu yang kita cintai,tentu dengan senang hati kita memberikan
apa yang kita pahami.
Manipulasi adalah pengecoh dengan membuat sesuatu yang buruk menjadi baik. Maka jangan heran
ada guru yang memberi kunci jawaban ujian pada siswanya. Ia menduga manipulasi ini bisa
menyelamatkan muridnya. Ia mengira murid-muridnya yang tidak menguasai pelajaran harus
ditolong dengan cara seperti itu. Ya benar, menyelamatkan untuk sementara tapi akan berakibat
fatal di kemudian hari.
Sebaliknya guru mengajar dengan hati akan berusaha menutupi kelemahan muridnya dengan
berusaha sekeras dan secerdas mungkin serta dengan penuh kesabaran. Ia akan lakukan segala cara
agar murid-murid memahami. Namun jika ternyata kemudian,ia gagal menasihatkan muridnya untuk
tidak meratapi kegagalannya dan menghadapina. Karena kegagalan adalah kesuksesan yang
tertunda.

4. Masalahnya hanya satu: apa yang menyulitkannya?


“Allah menghendaki kemudahan bagimu...” (Q.S. Al-Baqarah:185)
Maka sifat itu pulalah yang harus guru usahakan unuk dimiliki. Para guru harus resah mengapa para
siswa tidak memahami apa yang ia ajarkan. Maka sang guru tak puas hanya dengan kesabaran,guru
yang mengajar dengan hati itu akan bekerja keras untuk menemukan metode-metode termudah
demi kesuksesan murid-muridnya.

5. Ketinggian ilmu bukan segalanya.


“The best teacher teach from the heart,not from book...”
Guru tak seharusnya bergantung pada buku atau fasilitas tercanggih sekalipun. Karena yang di ajar
adalah manusia yang memiliki otak dan hati. Ucapan guru sepintar apapun tak akan mampu
menembus hati para siswa jika ia mengajar dengan otak dan mulutnya semata.
Namun sebaliknya,guru terbaik adalah guru yang dengan ilmu yang tak seberapa namun mampu
menembus hati muridnya,menggerakkan jiwa dan otaknya pun dengan ikhlas menyimpannya. Jadi
mulailah mengajar dengan hati bukan mengandalkan ketinggian ilmu semata.

6. Korbankan diri Anda


Berkorban bukan berarti sesuatu yang muluk-muluk. Sang guru yang berhati kadang lebih banyak
mengorbankan apa yang ia miliki. Yang paling mahal tentu adalah waktunya. Guru yang mengajar
dengan hati tak akan pernah menghitung waktu yang ia berikan. Bahkan ia selalu merasa kurang. Ia
sering mengorbankan lebih waktunya untuk kebaikan murid-muridnya. Ia membuka waktu
tambahan untuk murid berkonsultasi di sekolah atau dirumahnya.

7. Beri kebahagiaan
Tak akan ada sesuatu yang langgeng tanpa dibungkus kebahagiaan. Maka belajar yang penuh
ketegangan,ketakutan dan acaman adalah proses belajar yang semua murid berharap untuk segera
diakhiri. Sebaliknya jika proses belajar ditaburi kebahagiaan,maka tak ada seorang muridpun yang
rela kelas itu berakhir.
Bagaimana menumbuhkan kebahagiaan?Sangat sederhana. Mulailah dari diri Anda dahulu. Karena
jika dari perilaku,wajah dan suara Anda terpancar kebahagiaan itu,tunggu saja bebrapa waktu,murid
akan mengikuti Anda. Karena sungguh.kebahagiaan itu adalah suatu yang menular.

8. Seriuslah
Tahukah Anda bahwa tidak semua guru itu ‘serius’ mengajar? Tak sedikit yang hanya menunaikan
kewajiban mengajar. Tak sedikit pula guru yang Cuma memberi tugas mencatat atau menyuruh
siswa mengerjakan soal di buku. Padahal waktu pertemuan di kelas adalah waktu yang mahal. Guru
harus memanfaatkannya untuk berkomunikasi,membangkitkan semangat atau memberi ‘kunci’
dunia.

9. ‘Keraskan’ dia
Guru harus lembut. Itu sebuah kemestian. Tapi lembut tidak berarti tidak tegas. Untuk urusan
kepentingan masa depan, guru harus ‘keras’ dalam menegakkan prinsip,dan disiplin di depan siswa-
siswanya. ‘Keras’ bukan berarti tidak bisa lemah lembut atau ramah dengan siswanya.

10. Jangan berprasangka ‘baik’


Kesalahan terbesar para guru adalah selalu berprasangka baik pada murid-muridnya.
Menyangka,bila murid-muridnya tidak pernah tau apa saja aktifitisnya,tidak tahu apa cita-cita dan
harapannya. Padahal guru yang mengajar dengan hati sangat tahu apa harapan murid-muridnya.
Dan memang misinyalah untuk membantu siswa mewujudkan harapannya. Bukankah belajar itu
mendekatkan sang penuntut ilmu pada kesuksesannya?
Guru tak hanya berprasangka murid paham,siap dan ketika tiba-tiba,mendapati murid-muridnya
gagal tes atau gagal ujian,barulah ia tersentak kaget. Ternyata tak ada harapan,atau lilin cita itu
belum menyala di dada si murid. Maka pastikan murid Anda berada di jalur yang tepat untuk
menggapai suksesnya. Dan Andalah penuntunya. @