Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KELOMPOK 8

DASAR DIAGNOSTIK TERAPI


“10 MACAM PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG
SERING DI GUNAKAN UNTUK DIAGNOSIS
PENYAKIT “

KELOMPOK 8

1. INDRA RIZAL RASYID (10542021010 )


2. ADEK SULISTIONO (10542023510 )
3. SAHID P ZEIN TUHAREA (10542022110)
4. HERWIQ ISMAIL (10542024710)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014
10 PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG SERING DI GUNAKAN UNTUK DIAGNOSIS
PENYAKIT

1. PEMERIKSAAN DARAH LENGKAP


Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count / CBC) yaitu suatu jenis pemeriksaaan penyaring
untuk menunjang diagnosa suatu penyakit dan atau untuk melihat bagaimana respon tubuh terhadap suatu
penyakit. Disamping itu juga pemeriksaan ini sering dilakukan untuk melihat kemajuan atau respon terapi
pada pasien yang menderita suatu penyakit infeksi.

Pemeriksaan Darah Lengkap terdiri dari beberapa jenis parameter pemeriksaan, yaitu

1. Hemoglobin

2. Hematokrit

3. Leukosit (White Blood Cell / WBC)

4. Trombosit (platelet)

5. Eritrosit (Red Blood Cell / RBC)

6. Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC)

7. Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR)

8. Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)

9. Platelet Disribution Width (PDW)

10. Red Cell Distribution Width (RDW)

Pemeriksaan Darah Lengkap biasanya disarankan kepada setiap pasien yang datang ke suatu Rumah Sakit
yang disertai dengan suatu gejala klinis, dan jika didapatkan hasil yang diluar nilai normal biasanya
dilakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih spesifik terhadap gangguan tersebut, sehingga diagnosa dan
terapi yang tepat bisa segera dilakukan. Lamanya waktu yang dibutuhkan suatu laboratorium untuk
melakukan pemeriksaan ini berkisar maksimal 2 jam. Hemoglobin Hemoglobin adalah molekul protein
pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan
tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan zat besi yang terdapat
dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah. Dalam menentukan normal atau tidaknya kadar
hemoglobin seseorang kita harus memperhatikan faktor umur, walaupun hal ini berbeda-beda di tiap
laboratorium klinik, yaitu : • Bayi baru lahir : 17-22 gram/dl • Umur 1 minggu : 15-20 gram/dl • Umur 1
bulan : 11-15 gram/dl • Anak anak : 11-13 gram/dl • Lelaki dewasa : 14-18 gram/dl • Perempuan dewasa
: 12-16 gram/dl • Lelaki tua : 12.4-14.9 gram/dl • Perempuan tua : 11.7-13.8 gram/dl .

Kadar hemoglobin dalam darah yang rendah dikenal dengan istilah anemia. Ada banyak penyebab anemia
diantaranya yang paling sering adalah perdarahan, kurang gizi, gangguan sumsum tulang, pengobatan
kemoterapi dan penyakit sistemik (kanker, lupus,dll). Sedangkan kadar hemoglobin yang tinggi dapat
dijumpai pada orang yang tinggal di daerah dataran tinggi dan perokok. Beberapa penyakit seperti radang
paru paru, tumor, preeklampsi, hemokonsentrasi, dll.
Hematokrit Hematokrit merupakan ukuran yang menentukan banyaknya jumlah sel darah merah dalam 100
ml darah yang dinyatakan dalam persent (%). Nilai normal hematokrit untuk pria berkisar 40,7% - 50,3%
sedangkan untuk wanita berkisar 36,1% - 44,3%. Seperti telah ditulis di atas, bahwa kadar hemoglobin
berbanding lurus dengan kadar hematokrit, sehingga peningkatan dan penurunan hematokrit terjadi pada
penyakit- penyakit yang sama.

Leukosit (White Blood Cell / WBC) Leukosit merupakan komponen darah yang berperanan dalam
memerangi infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, ataupun proses metabolik toksin, dll. Nilai normal
leukosit berkisar 4.000 - 10.000 sel/ul darah. Penurunan kadar leukosit bisa ditemukan pada kasus penyakit
akibat infeksi virus, penyakit sumsum tulang, dll, sedangkan peningkatannya bisa ditemukan pada penyakit
infeksi bakteri, penyakit inflamasi kronis, perdarahan akut, leukemia, gagal ginjal, dll

Trombosit (platelet) Trombosit merupakan bagian dari sel darah yang berfungsi membantu dalam proses
pembekuan darah dan menjaga integritas vaskuler. Beberapa kelainan dalam morfologi trombosit antara
lain giant platelet (trombosit besar) dan platelet clumping (trombosit bergerombol). Nilai normal trombosit
berkisar antara 150.000 - 400.000 sel/ul darah. Trombosit yang tinggi disebut trombositosis dan sebagian
orang biasanya tidak ada keluhan. Trombosit yang rendah disebut trombositopenia, ini bisa ditemukan pada
kasus demam berdarah (DBD), Idiopatik Trombositopenia Purpura (ITP), supresi sumsum tulang, dll.

Eritrosit (Red Blood Cell / RBC) Eritrosit atau sel darah merah merupakan komponen darah yang paling
banyak, dan berfungsi sebagai pengangkut / pembawa oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh
tubuh dan membawa kardondioksida dari seluruh tubuh ke paru-paru.Nilai normal eritrosit pada pria
berkisar 4,7 juta - 6,1 juta sel/ul darah, sedangkan pada wanita berkisar 4,2 juta - 5,4 juta sel/ul
darah.Eritrosit yang tinggi bisa ditemukan pada kasus hemokonsentrasi, PPOK (penyakit paru obstruksif
kronik), gagal jantung kongestif, perokok, preeklamsi, dll, sedangkan eritrosit yang rendah bisa ditemukan
pada anemia, leukemia, hipertiroid, penyakit sistemik seperti kanker dan lupus, dll

Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC) Biasanya digunakan untuk membantu mendiagnosis penyebab
anemia (Suatu kondisi di mana ada terlalu sedikit sel darah merah). Indeks/nilai yang biasanya dipakai
antara lain : MCV (Mean Corpuscular Volume) atau Volume Eritrosit Rata-rata (VER), yaitu volume rata-
rata sebuah eritrosit yang dinyatakan dengan femtoliter (fl) MCV = Hematokrit Eritrosit x 10
Nilai normal = 82-92 fl

MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) atau Hemoglobin Eritrosit Rata-Rata (HER), yaitu banyaknya
hemoglobin per eritrosit disebut dengan pikogram (pg) MCH = Hemoglobin Eritrosit x 10
Nilai normal = 27-31 pg

MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) atau Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-rata
(KHER), yaitu kadar hemoglobin yang didapt per eritrosit, dinyatakan dengan persen (%) (satuan yang
lebih tepat adalah “gr/dl”) MCHC = Hemoglobin Hematokrit x 100

Nilai normal = 32-37 % Laju Endap Darah Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate
(ESR) adalah kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam.
LED merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi
akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi
stress fisiologis (misalnya kehamilan). International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH)
merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen dalam pemeriksaan LED, hal ini dikarenakan
panjang pipet Westergreen bisa dua kali panjang pipet Wintrobe sehingga hasil LED yang sangat tinggi
masih terdeteksi. Nilai normal LED pada metode Westergreen : Laki-laki : 0 – 15 mm/jam
Perempuan : 0 – 20 mm/jam

Hitung Jenis Leukosit (Diff Count) Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai
jenis leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam
melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis
leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis
leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah
absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total dan hasilnya
dinyatakan dalam sel/μl. Nilai normal : Eosinofil 1-3%, Netrofil 55-70%, Limfosit 20-40%, Monosit 2-8%

Platelet Disribution Width (PDW) PDW merupakan koefisien variasi ukuran trombosit. Kadar PDW tinggi
dapat ditemukan pada sickle cell disease dan trombositosis, sedangkan kadar PDW yang rendah dapat
menunjukan trombosit yang mempunyai ukuran yang kecil. Red Cell Distribution Width (RDW)RDW
merupakan koefisien variasi dari volume eritrosit. RDW yang tinggi dapat mengindikasikan ukuran eritrosit
yang heterogen, dan biasanya ditemukan pada anemia defisiensi besi, defisiensi asam folat dan defisiensi
vitamin B12, sedangkan jika didapat hasil RDW yang rendah dapat menunjukan eritrosit yang mempunyai
ukuran variasi yang kecil.

2. EKG

Elektrokardiografi merupakan alat yang sederhana, sangat berguna dan tersedia untuk mendiagnosa
kelainan jantung. EKG yang dilakukan segera setelah penderita tiba di rumah sakit dapat digunakan untuk
mengidentifikasi penderita yang memiliki resiko tinggi yang memerlukan penanganan segera.Perubahan
gambaran EKG pada fase akut stroke telah dilaporkan sejak tahun 1947. Sejak saat itu, banyak penelitian
yang mempublikasikan perubahan gambaran EKG, seperti aritmia, abnormalitas hantaran dan repolarisasi
pada penderita akut stroke (Khechinashvili dkk, 2002). Abnormalitas EKG paling sering terjadi pada
penderita perdarahan subarakhnoid, tetapi abnormalitas ini juga ditemukan pada penderita stroke iskemik
perdarahan intrakranial, trauma kapitis, prosedur bedah saraf, meningitis akut, tumor intrakranial dan
epilepsi (Mieghem dkk, 2004). Abnormalitas EKG yang paling sering berhubungan dengan stroke adalah
perpanjangan interval QT, dimana dijumpai pada 71 % penderita perdarahan subarakhnoid, 64 % penderita
perdarahan intraparenkim dan 38 % penderita stroke iskemik (Familloni dkk, 2006). Pada beberapa studi
stroke iskemik, prognostik yang terpenting dari parameter EKG , khususnya perubahan ST segment dan
perpanjangan interval QT telah dibuktikan. Namun, sedikit penelitian pada dispersi QT dan dispersi QT
corrected (QTc) (Familloni dkk, 2006). Dispersi QT adalah perbedaan antara interval QT maksimal dan
minimal pada EKG 12 sadapan yang merupakan marker repolarisasi ventrikel yang heterogen (Lazar dkk,
2003). Studi yang telah dilakukan menunjukkan dispersi QT merupakan prediktor outcome yang jelek pada
berbagai penyakit jantung. Peningkatan dispersi QT berhubungan dengan aritmia jantung dan kematian
mendadak penderita infark miokard, hipertrofi ventrikel kiri, gagal jantung kongestif, penyakit jantung
koroner, diabetes melitus dan gagal ginjal tahap akhir (Afsar dkk, 2003; Lazar dkk, 2008). Beberapa studi
juga telah meneliti bermaknasi pengukuran dispersi QT pada penderita stroke (Randell dkk, 1999; Eckardt
dkk, 1999; Afsar dkk, 2003; Lazar dkk, 2003 ). Menurut Jain dkk (2004), perubahan EKG yang paling
sering dijumpai pada penderita perdarahan subarakhnoid adalah prolongation interval QT, ST segmen
elevasi atau depresi, gelombang T inverted dan prevalensinyaberkisar antara 50-100%.

3.PEMERIKSAAN ELEKTROLIT PLASMA UNTUK MENDETEKSI GANGGUAN


KESEIMBANGAN CAIRAN TUBUH.

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Cairan tubuh
adalah larutan yang terdiri dari air (pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang
menghasilakn patikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan
elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusikan
ke seluruh bagian tubuh. Jumlah penderita ginjal di Indonesia saat ini diperkirakan sekitar 150 ribu pasien.
Jumlah penderita bisa dikurangi jika ilmu kedokteran bisa lebih efektif mencegah atau menunda kerusakan
tahap akhiran. Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh antara lain :
umur, iklim, diet, stress, kondisi sakit. Seharusnya pemasukan air (intake) seharusnya seimbang dengan
pengeluaran air (output). Bila kesehatan baik, tubuh mempertahankan sifat kenetralan elektriknya. Ini
berarti bahwa ada suatu keseimbangan atau kesamaan antara kelompok kation dan anion. Untuk mendeteksi
adanya gangguan keseimbangan cairan tubuh dapat dilakukan pemeriksaan elektrolit plasma yang meliputi
pemeriksaan Na, K, CI dan pemeriksaan Ca. Pemeriksaan elektrolit plasma tersebut menggunakan banyak
metode dan cara. Baik secara konvensional maupun menggunakan teknologi terbaru yang telah
diotomatisasi dengan komputer. Apabila hasil pemeriksaan dibawah maupun diatas batas nilai normal maka
dapat dikatakan bahwa ada ketidak seimbangan elektrolit plasma dan cairan pada tubuh.

4.PEMERIKSAAN LABORATORIUM BERKALA SEBAGAI DETEKSI DINI PENYAKIT KRONIS


PADA LANSIA

Populasi lansia di dunia pada tahun 2002 diperkirakan sekitar 605 juta. Pada tahun 2025 jumlah populasi
lansia diperkirakan sebesar 1,2 miliar dan sebanyak 840 juta terdapat di negara yang sedang berkembang.
Menua merupakan suatu proses alamiah yang akan dialami oleh semua orang dan tak seorangpun dapat
menghindari. Peningkatan populasi lansia sedemikian besar dan harus ditunjang dengan konsep proses
menua yang sehat (healthy aging). Dengan konsep ini maka akan diperoleh kualitas hidup lansia yang lebih
baik. Healthy aging dapat dicapai dengan jalan peningkatan mutu kesehatan, pencegahan penyakit,
pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pemeriksaan laboratorium secara berkala merupakan salah
satu cara untuk mencapai healthy aging. Untuk dapat membuat keputusan atau memilih pemeriksaan
laboratorium yang diperlukan maka perlu diketahui permasalahan kesehatan yang dialami oleh lansia.
Penilaian pertanda radang merupakan pemeriksaan penyaring yang sangat bermanfaat untuk diagnosis dini
berbagai penyakit kronis pada lansia. Pemeriksaan laboratorium umum ini adalah sekumpulan pemeriksaan
laboratorium rutin yang perlu diperiksa pada pasien lansia untuk mendeteksi gangguan kesehatan yang
sering dijumpai pada pasien lansia. Panel ini ditujukan untuk mereka yang berusia lebih dari 55 tahun yang
belum diketahui adanya gangguan/penyakit tertentu (terutama penyakit degeneratif) pada waktu
sebelumnya. Jenis tes yang termasuk dalam panel ini meliputi pemeriksaan hematologi rutin, urin rutin,
feses rutin, glukosa puasa, profil lipid, apo B, fungsi hati, fungsi ginjal, fungsi tiroid dan homosistein.
Pemeriksaan hematologi rutin meliputi pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, jumlah leukosit, jumlah
eritrosit, jumlah trombosit, hitung jenis dan laju endap darah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi
adanya kelainan/penyakit darah seperti anemia, leukemia, inflamasi, dan infeksi. Pemeriksaan urin rutin
meliputi pemeriksaan kimiawi urin dan pemeriksaan sedimen urin. Pemeriksaan kimiawi urin yang
terlengkap meliputi pemeriksaan protein, glukosa, bilirubin, urobilinogen, berat jenis, pH, leukosit esterase,
darah, nitrit dan keton. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk menunjang diagnosis kelainan di luar ginjal
seperti kelainan metabolisme karbohidrat, fungsi hati, kelainan ginjal dan saluran kemih seperti infeksi
traktus urinarius.(9) Pemeriksaan sedimen urin meliputi pemeriksaan unsur organik seperti epitel, leukosit,
eritrosit, silinder, spermatozoa, parasit, bakteri, jamur dan unsur anorganik seperti zat amorf, kristal normal,
dan kristal abnormal. Tujuan pemeriksaan sedimen ini untuk mengidentifikasi/mendeteksi kelainan ginjal
dan saluran kemih. Misalnya adanya leukosit yang banyak di dalam urin menandakan adanya infeksi atau
radang pada ginjal dan atau saluran kemih, adanya silinder leukosit menandakan adanya radang atau infeksi
pada ginjal. Selain itu pemeriksaan sedimen dapat dipakai untuk memantau perjalanan penyakit ginjal dan
saluran kemih setelah pengobatan.

Pemeriksaan feses rutin bertujuan untuk mengetahui adanya penyakit saluran pencernaan, penyebab
anemia, infeksi parasit, ikterus, penyebab diare dan konstipasi. Pemeriksaan glukosa puasa merupakan
pemeriksaan kadar glukosa di tubuh setelah puasa (tidak ada asupan kalori) selama minimal 8 jam.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk pemeriksaan penyaring adanya diabetes melitus. Dalam keadaan normal
kadarnya kurang dari 110 mg/dL. Pemeriksaan profil lipid meliputi pemeriksaan kolesterol total, kolesterol
low density lipoprotein (LDL), kolesterol high density lipoprotein (HDL), trigliserida. Pemeriksaan ini
digunakan untuk mengetahui adanya dislipidemia yang berhubungan dengan adanya penyakit jantung
koroner.

Pemeriksaan fungsi hati meliputi pemeriksaan bilirubin total, bilirubin direk, serum glutamic oxaloacetic
transaminase (SGOT), serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT), gamma glutamyl transpepetidase (γ
GT), alkali fosfatase, total protein, albumin, globulin, lactic dehidrogenase (LDH). Pemeriksaan ini berguna
untuk mendeteksi kelainan pada hati maupun saluran empedu. Pemeriksaan fungsi ginjal meliputi
pemeriksaan ureum, kreatinin, dan cystatin C. pemeriksaan ini bertujuan mengetahui kelainan pada ginjal.
Pemeriksaan fungsi tiroid meliputi pemeriksaan thyroid stimulating hormone sensitive (TSHs) dan free
thyroxine 4 (FT4) sebagai pemeriksaan penyaring untuk mengetahui kelainan kelenjar tiroid. Pemeriksaan
homosistein digunakan untuk memperkirakan risiko terjadinya penyakit jantung koroner dan
memperkirakan risiko terjadinya demensia. Kadar homosistein dalam darah yang tinggi dapat
menyebabkan gangguan/kerusakan pada pembuluh darah. Beberapa penelitian membuktikan bahwa
hiperhomosisteinemia merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kardiovaskular.
Kerusakan/gangguan pada pembuluh darah dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, diantaranya adalah
dengan cara melukai sel dinding pembuluh darah, meningkatkan oksidasi LDL, meningkatkan tromboksan
yang dapat menyebabkan terjadinya agregasi trombosit dan meningkatkan pembentukan sel otot polos.
Hiperhomosisteinemia memiliki efek radikal bebas, sehingga dapat merusak sel saraf. Neuron sangat
sensitif dengan adanya serangan radikal bebas. Dari penelitian Kruman dkk seperti dikutip oleh Miller dkk
pada binatang percobaan dilaporkan bahwa homosisteinemia menginduksi apoptosis (kematian) pada
neuron. Hiperhomosisteinemia juga dapat merusak pembuluh darah otak yang dapat menyebabkan
demensia dan stroke.

Panel lansia dengan hipertensi Panel ini ditujukan bagi mereka yang telah berusia lebih dari 55 tahun dan
diketahui menderita hipertensi. Tujuan panel ini adalah untuk mendeteksi faktor risiko yang dapat
memperparah kondisi hipertensi agar dapat diatasi secepatnya sehingga pasien dapat tetap hidup
berkualitas. Jenis pemeriksaan yang terdapat pada panel ini meliputi pemeriksaan kalium, natrium,
mikroalbumin dan cystatin C. Pemeriksaan kalium dan natrium bermanfaat untuk mendeteksi adanya
gangguan keseimbangan elektrolit, juga berguna untuk memantau penggunaan obat diuretika pada
penderita hipertensi. Pada penderita hipertensi, pemeriksaan mikroalbuminuria bermanfaat untuk
mendeteksi kerusakan glomerulus ginjal dan merupakan penanda terjadinya kerusakan sel endotel
(disfungsi endotel). Dengan demikian pemeriksaan mikroalbumin dapat digunakan untuk memperkirakan
terjadinya kerusakan organ khususnya ginjal dan jantungCystatin C merupakan penanda laju filtrasi
glomerulus yang bermanfaat untuk deteksi dini kerusakan ginjal.

Panel lansia dengan penyakit kardiovaskular (PKV) Panel ini ditujukan bagi mereka yang telah berusia
lebih dari 55 tahun yang sebelumnya pernah didiagnosis PKV (penyakit jantung koroner, stroke, infark
jantung, gagal jantung). Tujuan dari panel ini adalah untuk memperkirakan kemungkinan berkembangnya
penyakit kardiovaskular yang sudah ada sebelumnya.Jenis pemeriksaan yang terdapat pada panel ini
meliputi pemeriksaan hs CRP, brain natriuretic peptide (BNP) dan troponin I. Pemeriksaan hs CRP
merupakan penanda inflamasi di mana proses inflamasi berkaitan dengan perkembangan aterosklerosis,
mempengaruhi stabilitas plak aterosklerosis yang sudah terbentuk sebelumnya dan dapat menentukan
prognosis. BNP adalah suatu peptide dengan 32 asam amino yang dilepaskan oleh ventrikel jantung sebagai
respons terhadap dekompensasi jantung dan volume overload. Pemeriksaan BNP bermanfaat untuk
diagnosis dini CHF, dan untuk memperkirakan morbiditas dan mortalitas pada pasien CHF. Pemeriksaan
BNP perlu dilakukan pada i) pasien yang berisiko tinggi (DM, hipertensi) sebagai skrining penyakit jantung
atau untuk skrining sebelum ekokardiografi, ii) pasien dengan sesak nafas, iii) pasien yang mengalami
infark jantung, dan iv) pasien yang menderita CHF. Nilai BNP yang tinggi, yang diukur 72 jam setelah
acute coronary syndrome dihubungkan dengan risiko kematian, infark miokard dan CHF yang meningkat.
Nilai rujukan BNP yang digunakan dengan metode immunochemiluminescent (ICL) yang saat ini tersedia
di Indonesia adalah 68-112 pg/mL.Troponin I merupakan penanda adanya kerusakan otot jantung yang
sangat sensitif dan spesifik, sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi dini infark miokard akut.
Pemeriksaan troponin I dapat dimanfaatkan untuk pasien dengan keadaan klinis seperti : i) pasien nyeri
dada, tetapi tidak terdiagnosis dengan elektrokardiografi (EKG), ii) untuk memastikan bukan infark
miokard, iii) pasien dengan nyeri dada atau EKG abnormal yang mengalami trauma atau pembedahan dan
memerlukan konfirmasi, iv) pasien dengan nyeri dada 2-6 hari sebelum masuk rumah sakit, di mana petanda
yang lain seperti CKMB telah kembali normal pada sebagian

Terdapat 3 sistem untuk memberikan oksigen kepada pasien tanpa intubasi. Untuk konsentrasi oksigen
rendah, kanula hidung dapat memberikan oksigen antara 24% (IL/menit) sampai 36% (4 -5L/menit).
Konsentrasi oksigen sedang (40-60%) dicapai dengan pemberian lewat masker oksigen, sedangkan
konsentrasi hingga 100% hanya dapat dicapai dengan menggunakan stingkup muka reservoir. Pada
kegawatan napas trauma diberikan oksigen 6L/menit dengan sungkup muka. Pada penderita kritis berikan
100% oksigen, meskipun secara umum terapi oksigen memberikan manfaat yang bermakna pada bentuk
hipoksik hipoksemia dan anemi hipoksemia. Efek samping yang sering dikhawatirkan adalah keracunan
oksigen, tetapi hal tersebut terjadi setelah 24-48 jam terapi oksigen dengan fraksi inspirasi oksigen
(Fi02)>60%. Oleh karena itu sedapat mungkin setelah masa kritis, terapi oksigen diturunkan bertahap
sampai Fi02<60% dengan target untuk mendapatkan minimal saturasi oksigen (Sa02) 90%. Apabila
tekanan oksigen arteri (pa02) tetap rendah (kurang dari 60 mmHg) meskipun telah diberikan oksigen 50%
berarti terdapat shunt yang bermakna dari kolaps alveoli dan perlu dipertimbangkan pemberian inflasi paru
dengan manuver reekspansi paru atau intubasi endotrakhea dan ventilasi mekanik. Pada kasus PPOM maka
Pa02 dipertahankan sekitar sedikit diatas 60 mmHg saja untuk menghindari hilangnya rangsang respirasi.
5. TERAPI OKSIGEN

Indikasi klinisnya: Henti jantung paru,Gagal nafas, Gagal jantung atau ami,Syok,Meningkatnya kebutuhan
o2 (luka bakar, infeksi berat, multiple trauma), Keracunan co, Post operasi, dll.Metode & peralatan min.
yang harus diperhatikan pada therapi O2: Mengatur % fraksi O2 (% FiO2),Mencegah akumulasi kelebihan
CO2 , Resistensi minimal untuk pernafasan, Efesiensi & ekonomis dalam penggunanan 02, Diterima pasien
Pa02 kurang dari 60 mmHg. Perkiraan konsentrasi oksigen pada alat masker semi rigid Kecepatan aliran02
% Fi02 yang pasti 4 1/mnt 0,35 6 1/mnt 0,50 8 1/mnt 0,55 10 1/mnt 0,60 12 l/mnt 0,64 15 l/mnt 0,70
Tidak ada peralatan yang dapat memberi O2 100 %, walaupun O2 dengan kecepatan > dari Peak Inspiratory
flow rate (PIFR)

METODE PEMBERIAN OKSIGEN

I. Sistem Aliran Rendah 1. Kateter Nasal Oksigen : Aliran 1 - 6 liter/ menit menghasilkan oksigen dengan
konsentrasi 24-44 % tergantung pola ventilasi pasien. Bahaya : Iritasi lambung, pengeringan mukosa
hidung, kemungkinan distensi lambung, epistaksis.

2. Kanula Nasal Oksigen : Aliran 1 - 6 liter / menit menghasilkan 02 dengan konsentrasi 24 - 44 %


tergantung pada polaventilasi pasien. Bahaya : Iritasi hidung, pengeringan mukosa hidung, nyeri sinus dan
epitaksis

3. Sungkup muka sederhana Oksigen : Aliran 5-8 liter/ menit menghasilkan 0 2 dengan konsentrasi 40 -
60 %. Bahaya : Aspirasi bila muntah, penumpukan C02 pada aliran 02 rendah, Empisema subcutan kedalam
jaringan mata pada aliran 02 tinggi dan nekrose, apabila sungkup muka dipasang terlalu ketat.

4. Sungkup muka" Rebreathing " dengan kantong 02 Oksigen : Aliran 8-12 l/menit menghasilkan oksigen
dnegan konsentrasi 60 - 80%. Bahaya : Terjadi aspirasi bila muntah, empisema subkutan kedalam jaringan
mata pada aliran 02 tinggi dan nekrose, apabila sungkup muka dipasang terlalu ketat.

5.Sungkup muka" Non Rebreathing" dengan kantong 02 Oksigen : Aliran 8-12 l/menit menghasilkan
konsentrasi 02 90 %. Bahaya : Sama dengan sungkup muka "Rebreathing".

SistemAliran tinggi 1. Sungkup muka venturi (venturi mask) Oksigen : Aliran 4 -14 It / menit menghasilkan
konsentrasi 02 30 - 55 %. Bahaya : Terjadi aspirasi bila muntah dan nekrosis karena pemasangan sungkup
yang terialu ketat. 2. Sungkup muka Aerosol (Ambu Bag) Oksigen : Aliran lebih dan 10 V menit
menghasilkan konsentrasi 02 100 %. Bahaya : Penumpukan air pada aspirasi bila muntah serta nekrosis
karena pemasangan sungkup muka yang terialu ketat.

BAHAYA TERAPI OKSIGEN

Keracunan 02 pada pemberian jangka lama dan berlebihan dapat dihindari dengan pemantauan AGD dan
Oksimetri 1. Nekrose C02 ( pemberian dengan Fi02 tinggi) pada pasien dependent on Hypoxic drive misal
kronik bronchitis, depresi pemafasan berat dengan penurunan kesadaran . Jika terapi oksigen diyakini
merusak C02, terapi 02 diturunkan perlahan-lahan karena secara tiba-tiba sangat berbahaya 2. Toxicitas
paru, pada pemberian Fi02 tinggi ( mekanisme secara pasti tidak diketahui). Terjadi penurunan secara
progresif compliance paru karena perdarahan interstisiil dan oedema intra alviolar 3. Retrolental
fibroplasias. Pemberian dengan Fi02 tinggi pada bayi premature pada bayi BB < 1200 gr. Kebutaan 4.
Barotrauma ( Ruptur Alveoli dengan emfisema interstisiil dan mediastinum), jika 02 diberikan langsung
pada jalan nafas dengan alat cylinder Pressure atau auflet dinding langsung.

6. CT SCAN

Deskripsi CT scan adalah test diagnostik yang memiliki informasi yang sangat tinggi. Tujuan utama
penggunaan ct scan adalah mendeteksi perdarahan intra cranial, lesi yang memenuhi rongga otak (space
occupying lesions/ SOL), edema serebral dan adanya perubahan struktur otak. Selain itu Ct scan juga dapat
digunakan dalam mengidentikasi infark , hidrosefalus dan atrofi otak. Bagian basilar dan posterior tidak
begitu baik diperlihatkan oleh Ct Scan. Ct Scan mulai dipergunakan sejak tahun 1970 dalam alat bantu
dalam proses diagnosa dan pengobatan pada pasien neurologis. Gambaran Ct Scan adalah hasil
rekonstruksi komputer terhadap gambar X-Ray. Gambaran dari berbagai lapisan secara multiple dilakukan
dengan cara mengukur densitas dari substansi yang dilalui oleh sinar X.

Patofisiologi Prinsip kerja Pada alat konvensional ube sinar X berputar secara fisik dalam bentuk sirkuler.
Sedangkan pada alat elektron beam tomography (EBT) yang berputar adalah aliran elektronnya saja. Data
yang dihasilkan akan memperlihatkan densitas dari berbagai lapisan. Pada saat sinar X melalui sebuah
lapisan maka lapisan tersebut akan mengabsorbsi sinar dan sisanya akan melalui lapisan tersebut yang akan
ditangkap oleh detektor yang sensitif terhadap elektron. Jumlah radiasi yang diabsorbsi akan tergantung
pada densitas jaringan yang dilaluinya. Pada tulang energi yang melalui (penterasi) jaringan itu lebih
sedikit maka akan muncul gambaran berwarna putih atau abu-abu yang terang. Sedangkan pada cairan
serebrospinal dan udara akan menghasilkan gambaran lebih gelap. Ct Scan dapat memberikan gambaran
pada potongan 0,5 -11,3 cm dan memberikan gambaran akurat pada abnormalitas yang sangat kecil. CT
Scan digunakan di dalam kedokteran sebagai alat diagnostik dan sebagai pemandu untuk prosedur
intervensi. Kadang-kadang membandingkan material seperti kontras yang diodinasi kedalam pembuluh
darah . Ini berguna bagi menyoroti struktur seperti pembuluh darah yang jika tidak akan sukar untuk
menggambarkan jaringan sekitarnya. Penggunaan material kontras dapat juga membantu ke arah
memperoleh informasi fungsional tentang jaringan/tisu.

Ukuran gambar (piksel) yang didapat pada CT scan adalah radiodensitas. Ukuran tersebut berkisar antara
skala -1024 to +3071 pada skala housfield unit. Hounsfileds sendiri adalah pengukuran densitas dari
jaringan. Peningkatan teknologi CT Scan adalah menurunkan dosis radiasi yang diberikan, menurunkan
lamanya waktu dalam pelaksanaan scaning dan peningkatan kemampuan merekonstruksi gambar. sebagai
contoh, untuk lihat di penempatan yang sama dari suatu penjuru/sudut berbeda) telah meningkat dari waktu
ke waktu. Meski demikian, dosis radiasi dari CT meneliti beberapa kali lebih tinggi dibanding penyinaran
konvensional meneliti. Sinar-X adalah suatu format radiasi pengion dan tentunya berbahaya.

Gambaran jaringan pada CT Scaan

Jaringan Hounsfield Unit Warna abu-abu Udara Lemak Cairan serebrospinal Otak Darah Tulang -1000 -
100 0 30 100 1000 Hitam (↓↓↓) Hitam (↓↓) Hitam (↓) Abu-abu (-) Putih (↑↑) Putih (↑↑↑)

Pada cranial : - diagnosa dari cerebrovascular accidents dan intracranial hemorrhage - deteksi tumor; Ct
scan dengan kontras lebih sensitif dari MRI - deteksi peningkatan intracranial pressure sebelum dilakukan
lumbar puncture atau evaluasi fungsi ventriculoperitoneal shunt. - Evaluasi fraktur wajah atau kranial -
Pada kepala/leher/wajah/mulut CT scanning digunakan pada rencana operasi bagi deformitas kraniofasial
dan dentofasial dan evaluasi tumor sinus, nasal, orbital, dan rencana rekonstruksi implant dental

Pada dada - mendeteksi perubahan akut ataupun kronik parenklim paru - evaluasi proses intrestitial kronik
(emfisema, fibrosis) - evaluasi mediatinum dan limfadenopati menggunakan kontrast per IV - metode
pemeriksaan utama pada emboli paru, dan disecsi aorta menggunakan kontras IV

Pada abdomen dan pelvik - diagnosa pada batu ginjal, apendisitis, pankreatitis, diverkulitis, anerisma aorta
abdomen, obstruksi usus - pilihan pertama mendeteksi trauma menelan benda solid - CT scan bukan pilhan
utama pada pelvik, pilhan pertama adalah ultrasonografi

Pada Ekstremitas digunakan pada fraktur kompleks Asuhan Keperawatan Tidak ada kontraindikasi medis
terhadap pelaksanaan CT Scan pada klien. Namaun sebagai radioaktif terlebih lagi adanya penggunaan zat
kontras maka perawat harus memperhatikan beberapa hal. Berikut ini adalah asuhan keperawatan yang
dapat dilakukan pada klien yang akan dilakukan pemeriksaan diagnostik CT Scan.

Pengkajian Pengkajian terutama ditujukan kepada penggunaan zat kontrast. Zat yang umum digunakan
adalah iodium atau barium. Kaji apakah ada adanya reaksi terhadap zat kontras seperti hematoma pada
tempat injeksi dan nadi pada area sekitarnya Sedangkan sebelum pemberian perlu diaji apakah klien
memiliki elargi tertentu contohnya terhadap iodium atau terhadap ikan yang dikeringkan. Penggunaan
kontras dapat berbahaya karena dapat mengiritasi pembuluh darah. Sedangkan klien yang memiliki
kecenderungan alergi dapat mengalami shock anafilaktik. Diagnosa Pelaksanaan CT Scan sendiri tidak
memiliki bahaya yang fatal kecuali pada dosis radiasi yang tinggi atau telah terakumulasi. Sedangkan
bahaya sesungguhnya dapat terjadi pada penggunaan kontrast. Diagnosa yang dapat muncul adalah resiko
trauma b.d iritasi dan alergi akibat pemberian benda kontras Sebagai sebuah alat yang asing maka CT Scan
juga dapat memunculkan rasa cemas pada klien., pada klien dengan resiko tertentu ini akan membahayakan
dirinya.

7. MRI

Deskripsi MRI adalah sebuah metode pemeriksaan diagnoatik yang mulai digunakan sejak tahun 1980.
gambar yang dihasilkan juga merupakan hasil rekonstruksi komputer. Namun berbeda dengan CT-Scan
MRI tidak menggunakan radiasi ion melainkan menggunakan medan magnet dan radiofrekuensi. MRI
merupakan studi pilihan bagi evaluasi pada sebagian besar lesi pada otak dan spinal. MRI melakukan scan
terhadap nukleus hidrogen yang merupakan atom terbanyak ditubuh manusia.

Patofisiologi Prinsip kerja Alat yang digunakan akan menghasilkan medan magnet dengan kekuatan 3000
kali dari medan magnet bumi. Medan magnet yang dihasilkan oleh alat ini akan memberikan instruksi
kepada proton yang ada dinukleus hidrogen. Pada keadaan normal proton akan berada dalam arah atau letak
yang acak. Namun saat diberikan medan magnet maka proton akan menempatkan diri pada kutub medan
magnet. Kemudian akan dikirimkan radiofrekuensi yang akan menyebabkan vibrasi dari proton. Sinyal
radio yang dihasilkan akan direkan dan direkonstruksi menjadi gambaran jaringan. Gambar yang
dihasilkan oleh MRI berlawanan dari CT scan. Tulang akan terlihat hitam pada MRI. Penggunaan kontras
dapat digunakan untuk memperkuat gambar. Keuntungan CT Scan dan MRI Keuntungan penggunaan CT
Scan adalah : - dapat digunakan pada pasien dengan implant metal - lebih sedikit menghasilkan
klaustrofobia - waktu yang dibutuhkan lebih sedikit sehingga tepat untuk pasien emergensi. Keuntungan
penggunaan MRI - tidak terpapar radiasi - diferensiasi yang lebih baik antara abu-abu dan putih sehingga
sangat baik pada diagnosa MS dan infrak lakunar - gambaran lebih baik pada fossa posterior - gambaran
lebih baik pada medula spinal - visualisasi lebih baik secara noninvasif menggunakan MR angiograf
Aplikasi Pada klinis MRI digunakan untuk membedakan antara jaringan normal dengan patologis seperti
tumor otak. Selain itu alat ini menyebabkan klien tidak terpapar radiasi yang meningkatkan resiko
malignansi terutama pada fetus. Selain penggunaan dalam diagnosa konvensional ada berapa penggunaan
alternatif antara lain : - MRI fungsional : penggunaan MRI untuk memperlihatkan aktifitas otak - MRI
Intraoperatif : pada operasi neurologis, aman dan tidak menghasilkan komplikasi

8.PEMERIKSAAN KREATIN

Kreatinin merupakan produk penguraian keratin. Kreatin disintesis di hati dan terdapat dalam hampir semua
otot rangka yang berikatan dengan dalam bentuk kreatin fosfat (creatin phosphate, CP), suatu senyawa
penyimpan energi. Dalam sintesis ATP (adenosine triphosphate) dari ADP (adenosine diphosphate),
kreatin fosfat diubah menjadi kreatin dengan katalisasi enzim kreatin kinase (creatin kinase, CK). Seiring
dengan pemakaian energi, sejumlah kecil diubah secara ireversibel menjadi kreatinin, yang selanjutnya
difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan dalam urin.

Jumlah kreatinin yang dikeluarkan seseorang setiap hari lebih bergantung pada massa otot total daripada
aktivitas otot atau tingkat metabolisme protein, walaupun keduanya juga menimbulkan efek. Pembentukan
kreatinin harian umumnya tetap, kecuali jika terjadi cedera fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang
menyebabkan kerusakan masif pada otot.
Prosedur
Jenis sampel untuk uji kreatinin darah adalah serum atau plasma heparin. Kumpulkan 3-5 ml sampeldarah
vena dalam tabung bertutup merah (plain tube) atau tabung bertutup hijau (heparin). Lakukan sentrifugasi
dan pisahkan serum/plasma-nya. Catat jenis obat yang dikonsumsi oleh penderita yang daptmeningkatkan
kadar kreatinin serum. Tidak ada pembatasan asupan makanan atau minuman, namun sebaiknya pada
malam sebelum uji dilakukan, penderita dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi daging merah.
Kadar kreatinin diukur dengan metode kolorimetri menggunakan spektrofotometer, fotometer atau
analyzer kimiawi.
Nilai Rujukan
DEWASA : Laki-laki : 0,6-1,3 mg/dl. Perempuan : 0,5-1,0 mg/dl. (Wanita sedikit lebih rendah karena
massa otot yang lebih rendah daripada pria).
ANAK : Bayi baru lahir : 0,8-1,4 mg/dl. Bayi : 0,7-1,4 mg/dl. Anak (2-6 tahun): 0,3-0,6 mg/dl. Anak
yang lebih tua : 0,4-1,2 mg/dl. Kadar agak meningkat seiring dengan bertambahnya usia, akibat
pertambahan massa otot.

LANSIA : Kadarnya mungkin berkurang akibat penurunan massa otot dan penurunan produksi kreatinin.

Masalah Klinis

Kreatinin darah meningkat jika fungsi ginjal menurun. Oleh karena itu kreatinin dianggap lebihsensitif dan
merupakan indikator khusus pada penyakit ginjal dibandingkan uji dengan kadar nitrogen urea darah
(BUN). Sedikit peningkatan kadar BUN dapat menandakan terjadinya hipovolemia (kekurangan volume
cairan); namun kadar kreatinin sebesar 2,5 mg/dl dapat menjadi indikasi kerusakan ginjal. Kreatinin serum
sangat berguna untuk mengevaluasi fungsi glomerulus.

Keadaan yang berhubungan dengan peningkatan kadar kreatinin adalah : gagal ginjal akut dan kronis,
nekrosis tubular akut, glomerulonefritis, nefropati diabetik, pielonefritis, eklampsia, pre-eklampsia,
hipertensi esensial, dehidrasi, penurunan aliran darah ke ginjal (syok berkepanjangan, gagal jantung
kongestif), rhabdomiolisis, lupus nefritis, kanker (usus, kandung kemih, testis, uterus, prostat), leukemia,
penyakit Hodgkin, diet tinggi protein (mis. daging sapi [kadar tinggi], unggas, dan ikan [efek minimal]).

Obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar kreatinin adalah : Amfoterisin B, sefalosporin (sefazolin,
sefalotin), aminoglikosid (gentamisin), kanamisin, metisilin, simetidin, asam askorbat, obat kemoterapi
sisplatin, trimetoprim, barbiturat, litium karbonat, mitramisin, metildopa, triamteren.

Penurunan kadar kreatinin dapat dijumpai pada : distrofi otot (tahap akhir), myasthenia gravis.

Untuk menilai fungsi ginjal, permintaan pemeriksaan kreatinin dan BUN hampir selalu disatukan (dengan
darah yang sama). Kadar kreatinin dan BUN sering diperbandingkan. Rasio BUN/kreatinin biasanya berada
pada kisaran 12-20. Jika kadar BUN meningkat dan kreatinin serum tetap normal, kemungkinan terjadi
uremia non-renal (prarenal); dan jika keduanya meningkat, dicurigai terjadi kerusakan ginjal (peningkatan
BUN lebih pesat daripada kreatinin). Pada dialisis atau transplantasi ginjal yang berhasil, urea turun lebih
cepat daripada kreatinin. Pada gangguan ginjal jangka panjang yang parah, kadar urea terus meningkat,
sedangkan kadar kreatinin cenderung mendatar, mungkin akibat akskresi melalui saluran cerna.

Rasio BUN/kreatinin rendah (<12)>20) dengan kreatinin normal dijumpai pada uremia prarenal, diet tinggi
protein, perdarahan saluran cerna, keadaan katabolik. Rasio BUN/kreatinin tinggi (>20) dengan kreatinin
tinggi dijumpai pada azotemia prarenal dengan penyakit ginjal, gagal ginjal, azotemia pascarenal.

9.PEMERIKSAAN URINE RUTIN (URINALISIS )

Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih,
batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti
diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.

Urinalisis yang akurat dipengaruhi oleh spesimen yang berkualitas. Sekresi vagina, perineum dan uretra
pada wanita, dan kontaminan uretra pada pria dapat mengurangi mutu temuan laboratorium. Mukus,
protein, sel, epitel, dan mikroorganisme masuk ke dalam sistem urine dari uretra dan jaringan sekitarnya.
Oleh karena itu pasien perlu diberitahu agar membuang beberapa millimeter pertama urine sebelum mulai
menampung urine. Pasien perlu membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Wanita yang sedang haid
harus memasukkan tampon yang bersih sebelum menampung specimen. Kadang-kadang diperlukan
kateterisasi untuk memperoleh spesimen yang tidak tercemar.
Meskipun urine yang diambil secara acak (random) atau urine sewaktu cukup bagus untuk pemeriksaan,
namun urine pertama pagi hari adalah yang paling bagus. Urine satu malam mencerminkan periode tanpa
asupan cairan yang lama, sehingga unsure-unsur yang terbentuk mengalami pemekatan.
Gunakan wadah yang bersih untuk menampung spesimen urin. Hindari sinar matahari langsung pada waktu
menangani spesimen urin. Jangan gunakan urin yang mengandung antiseptik.
Lakukan pemeriksaan dalam waktu satu jam setelah buang air kecil. Penundaan pemeriksaan terhadap
spesimen urine harus dihindari karena dapat mengurangi validitas hasil. Analisis harus dilakukan selambat-
lambatnya 4 jam setelah pengambilan spesimen. Dampak dari penundaan pemeriksan antara lain : unsur-
unsur berbentuk dalam sedimen mulai mengalami kerusakan dalam 2 jam, urat dan fosfat yang semula larut
dapat mengendap sehingga mengaburkan pemeriksaan mikroskopik elemen lain, bilirubin dan urobilinogen
dapat mengalami oksidasi bila terpajan sinar matahari, bakteri berkembangbiak dan dapat mempengaruhi
hasil pemeriksaan mikrobiologik dan pH, glukosa mungkin turun, dan badan keton, jika ada, akan menguap.
PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK
Urinalisis dimulai dengan mengamati penampakan makroskopik : warna dan kekeruhan. Urine normal yang
baru dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit berkabut dan berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan
urobilin. Intensitas warna sesuai dengan konsentrasi urine; urine encer hampir tidak berwarna, urine pekat
berwarna kuning tua atau sawo matang. Kekeruhan biasanya terjadi karena kristalisasi atau pengendapan
urat (dalam urine asam) atau fosfat (dalam urine basa). Kekeruhan juga bisa disebabkan oleh bahan selular
berlebihan atau protein dalam urin.
Volume urine normal adalah 750-2.000 ml/24hr. Pengukuran volume ini pada pengambilan acak (random)
tidak relevan. Karena itu pengukuran volume harus dilakukan secara berjangka selama 24 jam untuk
memperoleh hasil yang akurat.
Kelainan pada warna, kejernihan, dan kekeruhan dapat mengindikasikan kemungkinan adanya infeksi,
dehidrasi, darah di urin (hematuria), penyakit hati, kerusakan otot atau eritrosit dalam tubuh. Obat-obatan
tertentu juga dapat mengubah warna urin. Kencing berbusa sangat mungkin mewakili jumlah besar protein
dalam urin (proteinuria).
Beberapa keadaan yang menyebabkan warna urine adalah :
 Merah : Penyebab patologik : hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin. Penyebab
nonpatologik : banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab (kelembak), senna.
 Oranye : Penyebab patologik : pigmen empedu. Penyebab nonpatologik : obat untuk infeksi saliran
kemih (piridium), obat lain termasuk fenotiazin.
 Kuning : Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin. Penyebab nonpatologik :
wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin.
 Hijau : Penyebab patologik : biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas). Penyebab nonpatologik :
preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik.
 Biru : tidak ada penyebab patologik. Pengaruh obat : diuretik, nitrofuran.
 Coklat : Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin, pigmen empedu. Pengaruh obat : levodopa,
nitrofuran, beberapa obat sulfa.
 Hitam atau hitam kecoklatan : Penyebab patologik : melanin, asam homogentisat, indikans,
urobilinogen, methemoglobin. Pengaruh obat : levodopa, cascara, kompleks besi, fenol.
10. PEMERIKSAAN SEROLOGIS

Uji serologis adalah pengujian yang menggunakan serum sebagai sampel. Prinsip utama uji serologis adalah
mereaksikan antibodi dengan antigen yang sesuai. Antibodi adalah zat kekebalan yang dilepaskan oleh sel
darah putih untuk mengenali serta menetralisir antigen (bibit penyakit baik virus maupun bakteri) yang ada
dalam tubuh.
Fungsi uji serologis adalah :

 Membantu dalam mendiagnosa penyakit

Ayam yang divaksin atau terinfeksi virus lapangan akan terbentuk antibodi (IgA, IgG dan IgM). IgG ialah
antibodi utama dalam serum. Antibodi ini terdeteksi paling cepat 7 hari post infeksi/vaksinasi. Uji serologi
dapat dipakai untuk membantu menentukan adanya infeksi lapangan atau dari hasil kerja vaksin. Contohnya
ayam layer umur 60 hari yang belum pernah divaksin AI. Hasil uji serologi terdeteksi adanya titer antibodi
AI. Hal ini mengindikasikan adanya virus AI lapangan.

Contoh lain adalah adanya kasus penurunan produksi telur tanpa gejala dan perubahan yang spesifik. Uji
serologi dapat dilakukan terhadap penyakit-penyakit yang dominan mengganggu produksi telur yaitu titer
ND, IB, EDS dan AI.

 Monitoring titer antibodi

Karena perbedaan kondisi peternakan, kadang titer antibodi lebih cepat turun daripada yang seharusnya.
Penyebabnya adalah tingginya infeksi lapang, ayam stres atau penyakit immunosupressif seperti Gumboro
atau CRD. Dengan uji serologis rutin tiap bulan, diharapkan status titer antibodi ayam tetap terpantau dan
dapat memperkirakan kapan ayam akan divaksinasi kembali.

 Mengetahui keberhasilan vaksinasi

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan vaksinasi maka pemeriksaan uji serologis dapat dilakukan pada 2-
3 minggu post vaksinasi aktif atau 3-4 minggu post vaksinasi inaktif.

 Pemetaan baseline titer

Baseline titer adalah level minimal titer antibodi agar peternakan aman dari infeksi penyakit tertentu di
lingkungan peternakan itu sendiri. Baseline titer bersifat spesifik untuk satu penyakit dan satu peternakan.
Daerah yang sering terinfeksi ND tentu baseline titernya lebih tinggi dibanding daerah jarang kasus ND.
Sering terjadi, peternakan yang memiliki titer antibodi ND rendah justru tidak pernah terserang ND, namun
titer antibodi ND yang tinggi di peternakan lain, ternyata tidak dapat membebaskan peternakan tersebut
dari serangan ND.

Pemantauan titer antibodi sebaiknya dilakukan secara rutin agar diketahui status ayam sakit atau sehat,
mengevaluasi program vaksinasi, mendeteksi serangan penyakit sedini mungkin dan juga pemetaan
baseline titer. Pada ayam petelur, pemetaan baseline titer setidaknya memerlukan data pemantauan titer
antibodi selama satu periode pemeliharaan, begitu juga ayam pedaging.

 Mengukur antibodi maternal

Antibodi maternal merupakan antibodi yang diwariskan dari induk ayam kepada anaknya. Antibodi
maternal ini akan berkurang (menurun) secara periodik. Pada saat antibodi maternal rendah (di bawah
standar protektif) peluang ayam terinfeksi penyakit semakin besar. Oleh karena itu perlu dilakukan
vaksinasi untuk menggertak pembentukan antibodi dalam tubuh ayam yang protektif.

Uji serologis untuk mengukur antibodi maternal dilakukan ketika DOC. Pengukuran antibodi maternal
sering dilakukan pada kasus Gumboro. Laboratorium pemeriksa akan memprediksi kapan titer antibodi
maternal turun dan memperkirakan waktu vaksinasi pertama dilakukan. Gambaran antibodi maternal ini
juga digunakan sebagai dasar pemilihan jenis vaksin Gumboro yang akan digunakan. Vaksin intermediate
plus(Medivac Gumboro A) dapat bekerja akan menggertak pembentukan antibodi secara optimal ketika
titer antibodi maternal 500 (ELISA) sedangkan vaksin intermediate (Medivac Gumboro B) pada titer
antibodi maternal di 200 (ELISA).

11. ULTRASONOGRAFI

Ultrasonografi (ultrasound) atau USG adalah metode diagnostik yang menggunakan resonansi gelombang
suara frekuensi tinggi untuk membentuk gambar jaringan dan organ tubuh.
Ultrasonografi dikembangkan dari teknologi SONAR yang mulai digunakan pada Perang Dunia II untuk
navigasi laut. Pada 1950-an, para ilmuwan mulai memanfaatkan teknologi itu untuk pemindaian tubuh
manusia, dengan gambar-gambar awal tampak seperti rekaman seismograf (pencatat gempa bumi) yaitu
berupa garis-garis. Pada 1970-an, pencitraan pertama yang menampilkan penampang anatomi manusia
mulai dihasilkan. Berkat kemajuan komputer, kini USG dapat memberikan gambar visual yang dinamis
dan rinci mengenai tubuh manusia. Sebagian mesin USG bahkan bisa menampilkan gambar berwarna.

Ketika menjalani pemindaian, dokter akan menempatkan alat yang disebut probe atau transducer pada
kulit di atas bagian tubuh Anda yang diperiksa. Probe itu berbentuk seperti pena tumpul yang lebar.
Pelumas jeli dioleskan pada kulit Anda agar probe dapat meluncur dengan baik pada kulit
Anda. Probe dihubungkan dengan kabel ke mesin USG, yang terhubung ke monitor. Sinyal gelombang
suara dikirimkan terus-menerus oleh probe selama pemindaian. Gema yang terpantul dari jaringan dan
organ tubuh akan terdeteksi olehprobe dan dikirimkan ke mesin USG untuk diolah dan ditampilkan sebagai
gambar di monitor. Gambar akan terus-menerus diperbarui sehingga pemindaian bisa menunjukkan gambar
yang bergerak. Misalnya, janin yang bergerak di dalam rahim atau katup jantung yang membuka dan
menutup. Dokter dapat memindah-mindah posisi probe di atas kulit untuk mendapatkan sudut pandang
yang berbeda.
Pemindaian USG umumnya dilakukan dari luar tubuh. Namun, prosedur USG tertentu dilakukan dengan
memasukkan probe khusus ke dalam tubuh, misalnya ke dalam vagina (untuk pemeriksaan rahim atau
panggul), rektum (untuk pemeriksaan prostat ) atau esofagus (untuk pemeriksaan jantung dan paru).
Pemindaian biasanya berlangsung 10-45 menit, tergantung pada bagian tubuh yang diperiksa. Rekaman
hasilnya kemudian dapat dicetak sebagai gambar diam atau direkam sebagai video untuk interpretasi lebih
lanjut.

Persiapan USG
Beberapa pemeriksaan USG memerlukan persiapan khusus sebelumnya. Misalnya, Anda mungkin diminta
untuk berpuasa selama beberapa jam sebelum pemindaian perut bagian atas. Pemindaian panggul mungkin
memerlukan kandung kemih dalam keadaan kosong.
Pada prosedur khusus yang disebut Contrast Enhanced Ultrasound (CEUS) yang mempelajari aliran darah,
larutan gas gelembung mikro disuntikkan ke dalam aliran darah sebagai agen kontras sebelum pemindaian
dilakukan.
Kegunaan USG
Penggunaan USG paling banyak adalah untuk mempelajari janin dalam kandungan (kehamilan), organ
perut, panggul, otot dan tendon, payudara, jantung dan pembuluh darah. Keunggulan USG dibandingkan
dengan MRI adalah kemudahan operasionalnya, ketersediaannya yang lebih luas (karena harga yang lebih
terjangkau) dan interaktivitasnya karena memberikan gambar dinamis secara langsung. Dibandingkan CT
dan rontgen, USG memiliki keunggulan karena tidak radioaktif. Namun demikian, USG memiliki
keterbatasannya sendiri, misalnya untuk penyelidikan jaringan yang terhalang tulang dan kondisi otak dan
neurologis yang kompleks. Setiap perangkat memiliki bidang penerapan masing-masing di mana mereka
paling tepat digunakan.

 Kehamilan: untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan janin, termasuk bila ada kelainan
(seperti spina bifida). Lihat 7 Manfaat USG Kehamilan untuk informasi lebih lanjut.
 Organ perut: untuk menyelidiki sakit perut, mual, muntah , suara abnormal dan benjolan. Struktur
yang diperiksa mungkin termasuk kandung empedu, saluran empedu, hati, pankreas, limpa, ginjal
dan pembuluh darah besar. USG sulit untuk memeriksa struktur yang mengandung udara seperti
lambung dan usus karena udara tidak memantulkan gelombang suara.
 Panggul: untuk menyelidiki nyeri panggul wanita atau keluhan haid tidak normal, fibroid, kista atau
kondisi lain yang berkaitan dengan sistem reproduksi wanita.
 Otot dan tendon: untuk memeriksa daerah seperti bahu, pinggul atau siku.
 Payudara: untuk menyelidiki lebih lanjut kelainan yang ditemui pada pemeriksaan fisik atau
mammogram.
 Jantung dan pembuluh darah: USG untuk jantung disebut juga sebagai ekokardiogram, yang dapat
memeriksa ukuran, bentuk dan gerakan jantung. Ekokardiogram dapat menyelidiki berbagai
kelainan dalam struktur jantung, irama jantung, katup dan aliran darah jantung, dll. Jenis khusus
ultrasonografi yang disebut USG Doppler digunakan untuk mendeteksi kecepatan dan arah aliran
darah di daerah tertentu tubuh seperti arteri leher dan vena kaki.
 Organ lainnya: untuk menyelidiki berbagai kondisi di mata, sistem kemih, dan jaring lunak lainnya.
Efek samping
USG adalah prosedur yang sangat aman dan tanpa efek samping apa pun. Pemindaiannya sendiri tidak
menyebabkan rasa sakit dan umumnya non-invasif (di luar tubuh), sehingga Anda tidak memerlukan waktu
pemulihan.

DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.itd.unair.ac.id/files/pdf/protocol1/PEMERIKSAAN%20DARAH%20LENG

KAP.pdf

2. http://prodia.co.id/pemeriksaan-penunjang/ekg/pdf

3. http://labkesehatan.blogspot.com/2010/03/kreatinin-darah-serum.html

4. http://kaahil.wordpress.com/2013/05/11/lengkap-hasil-pemeriksaan-urine-rutin-

urinalisis-makroskopik-glukosa-protein-bilirubin-urobilinogenkeasamanph-berat-

jenisbj-darah-keton-nitrit-lekosit-esterase-mikroskopik-eritro/

5. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/741/1/08E00113.pdf

6. http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR._PEND._KESEHATAN_%26_REKREASI/PRO

DI._ HAMIDIE_RONALD_DANIEL_RAY/Bahan_Kuliah/CAIRAN_TUBUH.pdf

7. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24579/4/Chapter%20II.pdf

8. http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/02/Pusparini(1).pdf

9. http://kedokteran.unsoed.ac.id/Files/Kuliah/modul%20/Genap%20II%20-

%20Terapi%20Oksigen.pdf

10. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25636/7/Cover.pdf