Anda di halaman 1dari 12

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN PEGAWAI DAN CORPORATE

GOVERNANCE TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN


PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh :

SILMI AGUSTIN

NIM. B200160365

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kualitas pelaporan keuangan menjadi isu yang banyak mendapat perhatian
sejak terjadinya berbagai skandal dan masalah ekonomi pada beberapa dekade
yang lalu (Knechel, 2009:2). Hal ini telah mendorong pemerintah daerah untuk
menerapkan akuntabilitas publik. Akuntabilitas dapat diartikan sebagai bentuk
kewajiban mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan
misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Laporan keuangan yang berkualitas merupakan laporan yang dapat
menyajikan informasi yang benar, jujur, relevan, andal, dapat diperbandingkan.
Laporan keuangan yang berkualitas penting karena akan dipakai sebagai dasar
dalam pengambilan keputusan. Peningkatan kualitas laporan keuangan daerah
dimaksudkan agar dapat meningkatkan kredibilitasnya, menyajikan informasi
yang lengkap dan sesuai dengan kebutuhan pemakai sehingga akan mewujudkan
transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan pemerintah daerah.
Laporan keuangan yang tidak berkualitas memberikan peluang bagi adanya
penyimpangan dan kekeliruan dibidang keuangan. Fenomena buruknya laporan
keuangan pemerintah daerah menuntut setiap pengelola keuangan harus memiliki
pengetahuan yang baik mengenai laporan keuangan sehingga laporan yang
dipublikasikan dapat disajikan secara wajar terbebas dari salah saji yang material
sehingga tidak menyesatkan pembaca dan pengguna laporan keuangan.
Tingkat pendidikan menjadi indikator yang menunjukan derajat intelektualitas
seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pengeahuan
dan tingkat intelektualitas seseorang. Dengan tingkat pendidikan yang memadai,
seseorang akan lebih mudah melaksanakan tugasnya dalam mengelola keuangan
yang baik.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 prinsip-prinsip
kepemerintahan yang baik terdiri dari : Profesionalitas, Akuntabilitas,
Transparansi dan Pelayanan prima. Semenjak era reformasi dimulai telah
membawa banyak perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang
mempunyai implikasi yang mendalam terhadap penyelenggaraan pembangunan di
Indonesia. Salah satu aspek yang paling menonjol adalah tuntutan pembangunan
sistem organisasi khususnya institusi berbasis good corporate governance dengan
prinsip-prinsip efisien, efektif, terbuka, adil, bertanggungjawab dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Objek penelitian yang dipilih peneliti pada penelitian kali ini adalah Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Kabupaten Pekalongan periode 2013-
2017. Laporan keuangan pemerintah daerah dipilih karena masih buruknya
kualitas laporan tersebut diberbagai daerah.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk meneliti dan menemukan bukti-
bukti empiris mengenai pengaruh Tingkat Pendidikan Pegawai dan Good
Corporate Governance terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD)
Kabupaten Pekalongan Peeriode 2013-2017.

1.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat diidentifikasi permasalahan
sebagai berikut :
1. Tingkat Pendidikan
Semakin tinggi tingkat pendidikan pegawai akan meningkatkan kualitas
laporan keuangan.
2. Good Corporate Governance
Penerapan Good Corporate Governance membuat pengelolaan keuangan
menjadi lebih fokus dan lebih jelas dalam pembagian tugas, tanggungjawab
dan pengawasannya sehingga dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan.

1.3. Cakupan Masalah


Pembatasan masalah dalam penelitian ini bertujuan untuk menghindari
kesalahan maksud, tujuan, serta agar lebih efektif dalam melakukan penelitian.
Dari identifikasi permasalahan diatas, dalam penelitian ini dibatasi untuk meneliti
berkaitan dengan pengaruh Tingkat Pendidikan Pegawai dan Good Corporate
Governance terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah Kabupaten
Pekalongan selama lima tahun yaitu dimulai dari periode 2013 sampai dengan
tahun 2017.

1.4. Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah maka rumusan masalah
dalam penelitian ini yaitu :
1. Apakah Tingkat Pendidikan Pegawai berpengaruh terhadap Kualitas Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah?
2. Apakah Good Corporate Governance berpengaruh terhadap Kualitas Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah?

1.5. Tujuan Penelitian


Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Mendeskripsikan pengaruh Tingkat Pendidikan Pegawai terhadap Kualitas
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
2. Mendeskripsikan pengaruh Good Corporate Governance terhadap Kualitas
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

1.6. Kegunaan Penelitian


1.6.1. Aspek Teorities
Penelitian ini secara teorities diharapkan mampu memberikan
wawasan mengenai pengaruh Tingkat Pendidikan Pegawai dan Good
Corporate Governance terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah.
1.6.2. Aspek Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memecahkan berbagai masalah praktik
sehubungan dengan pengaruh Tingkat Pendidikan Pegawai dan Good
Corporate Governance terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori


2.1.1. Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah catatan informasi suatu entitas pada suatu periode
akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja entitas tersebut.
Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan
transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Laporan keuangan
dapat dikatakan sebagai data juga dapat dikatakan sebagai informasi. Data dapat
diubah menjadi informasi kalau diubah kedalam konteks yang memberikan makna
(Lillrank,2003).
Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi
keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan
yang beramanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan
mengenai alokasi sumber daya. Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan
pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan
keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya
yang dipercayakan kepadanya, dengan :
1. Menyediakan informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas
dana pemerintah;
2. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi,
kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah;
3. Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya
ekonomi;
4. Menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya.

2.1.2. Dimensi Kualitas Informasi


Huang, et al. (1999) dalam Lillrank (2003) mendefinisikan 15 dimensi kualitas
informasi yang dikelompokkan menjadi empat kelas :
1. Kualitas intrinsik : akurasi, obyektivitas, believability, dan reputasi,
2. Kualitas aksesibilitas : akses, dan keamanan,
3. Kualitas kontekstual : relevansi, nilai tambah, ketepatan waktu, kelengkapan dan
jumlah data dan,
4. Kualitas representasi : interpretasi, kemudahan pemahaman, representasi ringkas,
dan perwakilan konsisten.
Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 menjelaskan karakteristik laporan
keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi
akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya.
Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan
agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki :

a) Relevan
Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi yang termuat
didalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu mereka
mengevaluasi peritiwa masa lalu atau masa kini dan memprediksi masa depan
serta menegaskan atau mengoreksi hasil evalusi mereka di masa lalu.
b) Andal
Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan
kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat diverifikasi.
Informasi mungkin relevan, tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat
diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat
menyesatkan.
c) Dapat dibandingkan
Informasi yang termuat dalam laporan keuangan periode sebelumnya atau laporan
keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya. Perbandingan dapat dialakukan
secara internal maupun eksternal. Perbandingan secara internal dapat dilakukan
bila suatu entitas menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun.
Sedangkan, perbandingan eksternal dapat dilakukan bila entitas yang
diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama.
d) Dapat dipahami
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh pengguna
dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas
pemahaman para pengguna.

2.1.3. Sumber Daya Manusia


Widodo (2001) dalam Kharis (2010) menjelaskan kompetensi sumber daya
manusia adalah kemampuan sumber daya manusia untuk melaksanakan tugas dan
tanggungjawab yang diberikan kepadanya dengan bekal pendidikan, pelatihan, dan
pengalaman yang cukup memadai.
Wiley (2002) dalam Azhar (2007) mendefinisikan “Sumber daya manusia
merupakan pilar penyangga utama sekaligus penggerak roda organisasi dalam usaha
mewujudkan visi dan misi serta tujuan dari organisasi tersebut”. Sumber daya
manusia merupakan salah satu elemen organisasi yang sangat penting, oleh karena itu
harus dipastikan bahwa pengelolaan sumber daya manusia dilakukan sebaik mungkin
agar mampu memberikan kontribusi secara optimal dalam upaya pencapaian tujuan
organisasi.
Dalam pengelolaan keuangan daerah yang baik, SKPD harus memiliki sumber
daya manusia yang kompeten, yang didukung dengan latar belakang pendidikan
akuntansi, sering mengikuti pendidikan dan pelatihan, dan mempunyai pengalaman
dibidang keuangan. Hal tersebut diperlukan untuk menerapkan sistem akuntansi yang
ada. Sumber daya manusia yang kompeten akan mampu memahami logika akuntansi
dengan baik. Kegagalan sumber daya manusia Pemerintah Daerah dalam memahami
dan menerapkan logika akuntansi akan berdampak pada kekeliruan laporan keuangan
yang dibuat dan ketidaksesuaian laporan dengan standar yang ditetapkan pemerintah
(Warisno, 2008).
2.2. Penelitian Terdahulu
2.3. Kerangka Pemikiran
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh
hubungan antara variabel terikat yaitu kualitas laporan keuangan pemerintah
daerah dengan variabel bebas yaitu tingkat pendidikan pegawai dan good
corporate governance. Kerangka pemikiran yang digunakan untuk merumuskan
hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tingkat Pendidikan Pegawai


Kualitas Laporan
Keuangan
Pemerintah Daerah

Good Corporate Governance

2.4.Hipotesis
2.4.1. Hubungan Tingkat Pendidikan Pegawai dan Kualitas Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah
2.4.2. Hubungan Good Corporate Governance dan Kualitas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Desain Penelitian

Peneletian ini merupakan jenis penelitian pendekatan kuantitatif dengan


desain penelitian yaitu pengujian hipotesis (Hypothesis Study). Pengujian hipotesis
memiliki tujuan untuk menganalisis, mendeskripsikan dan membuktikan secara
empiris hubungan antar variabel penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh tingkat pendidikan pegawai dan good corporate governance terhadap
kualitas laporan keuangan. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang
diambil dari laporan data pegawai dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
(LKPD) Kabupaten Pekalongan pada kurun waktu 2013-2017.

3.2. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

Populasi penelitian adalah pegawai Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah.


Sampel dalam penelitian ini adalah pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten
Pekalongan. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive
sampling yaitu teknik penentuan sampel atas dasar pertimbangan bahwa DPKAD/
DPPKD merupakan SKPD yang melakukan konsolidasi laporan keuangan semua
SKPD dalam lingkup Kabupaten Pekalongan dan menghasilkan output akhir berupa
laporan keuangan pemerintah kabupaten.

3.3. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel dependen yaitu kualitas
laporan keuangan pemerintah daerah dan dua variabel independen yaitu Tingkat
Pendidikan Pegawai dan Good Corporate Governance.

3.3.1. Kualitas Laporan Keuangan (Y)

3.3.2. Tingkat Pendidikan Pegawai

3.3.3. Good Corporate Governance

3.4. Metode Pengambilan data

Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi. Teknik


dokumentasi yaitu mengumpulkan data sekunder berupa informasi yang diperoleh
dari pihak lain, kemudian mencatat, dan mengolah data yang berkaitan dengan
penelitian ini. Data penelitian diperoleh dari laporan data pegawai dan Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Pekalongan periode 2013-2017.

3.5. Metode Analisis

Penyelesaian penelitian ini dengan menggunakan teknik analisis kuantitatif.


Analisis kuantitatif dilakukan dengan cara menganalisis suatu permasalahan yang
diwujudkan dengan kuantitatif. Dalam penelitian ini, karena data yang digunakan
untuk adalah data kualitatif maka analisis kauntitatif dilakukan dengan cara
mengkuantitatifkan data-data penelitian kedalam bentuk angka-angka dengan
menggunakan skala likert 5 poin (5-point likert scale).

Metode analisis yang digunakan adalah linear regression. Ghozali (2006)


menjelaskan linear regression adalah regresi yang digunakan untuk mengukur
kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih, juga menunjukan arah hubungan
antara variabel dependen dengan variabel independen. Data yang dikumpulkan dalam
penelitian ini diolah dan kemudian dianalisis dengan berbagai uji statistik sebagai
berikut :

3.5.1. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan dan


mendeskripsikan variabel-variabel penelitian secara individual. Alat analisis yang
digunakan dalam analisis statistik deskriptif adalah rata-rata (mean), nilai maksimum,
nilai minimum, dan standar deviasi pada masing-masing variabel penelitian.

3.5.2. Uji Asumsi Klasik


3.5.2.1.Uji Normalitas Data
Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi antara
variabel dependen dengan variabel independen mempunyai distribusi normal atau
tidak. Proses uji normalitas data dilakukan dengan uji statistik One-Sample
Kolmogorov-Smirnov (K-S) dan memperhatikan penyebaran data (titik) pada normal
p-plot of regression standardized residual dari variabel dependen, dimana:
1. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal
maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti garis
diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

3.5.2.2.Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah tiap-tiap variabel
independen saling berhubungan secara linier. Multikolinearitas terjadi apabila antara
variabel-variabel independen terdapat hubungan yang signifikan. Model regresi yang
baik tidak terdapat masalah multikolinearitas. Untuk mendeteksi adanya masalah
multikolinearitas adalah dengan memperhatikan :
1. Besaran korelasi antar variabel independen
Pedoman suatu model regresi bebas multikolinearitas , memiliki kriteria
sebagai berikut :
a) Koefisien korelasi antara variabel-variabel independen harus lemah, tidak
lebih besar dari 90 persen atau dibawah 0,90 (Ghozali,2006).
b) Jika korelasi kuat antara variabel-variabel independen lainnya (umumnya
diatas 0,90), maka hal ini menunjukkan terjadinya multikolinearitas yang
serius (Ghozali, 2006).
2. Nilai tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor)
Nilai tolerance dan VIF menunjukkan setiap variabel independen manakah yang
dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Persamaan yang digunakan adalah :

1
𝑉𝐼𝐹 =
𝑇𝑜𝑙𝑒𝑟𝑎𝑛𝑐𝑒

Nilai cutoff yang digunakan dan dipakai untuk menandai adanya faktor-faktor
multikolinearitas adalah nilai tolerance < 0,10 atau sama dengan nilai VIF > 10.

3.5.2.3. Uji Heterokedastisitas


Heterokedastisitas adalah terjadinya varians yang tidak sama untuk variabel
independen yang berbeda. Heterokedastisitas dapat terdeteksi dengan melihat plot
antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Untuk
mendeteksi adanya heterokedastisitas adalah dengan melihat ada tidaknya pola
tertentu pada grafik scatter plot.
Yang mendasari dalam pengambilan keputusan adalah :
1. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk satu pola yang teratur
(bergelombang, melebar, kemudian menyempit) maka akan terjadi masalah
heterokedastisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas seperti titik-titik yang menyebar diatas dan dibawah
angka nol pada sumbu-sumbu maka tidak terjadi heterokedastisitas.

3.5.3. Pengujian Hipotesis


Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi
berganda (Multiple Regression) dengan alasan bahwa variabel independennya lebih
dari satu. Analisis ini digunakan untuk menentukan hubungan antara kualitas
laporan keuangan pemerintah daerah dengan variabel-variabel independen (tingkat
pendidikan pegawai dan good corporate governance).
Persamaan regresinya adalah sebagai berikut :
𝐾𝐿𝐾𝑃𝐷 = 𝛼0 + 𝛼1(𝑇𝑃) + 𝛼2(𝐶𝐺𝐶) + 𝜀

Dimana :

KLKPD = Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

TP = Tingkat Pendidikan

GCG = Good Corporate Governance

Kemudian untuk mengetahui pengaruh antara variabel-variabel independen


dengan kualitas laporan keuangan daerah maka dilakukan pengujian-pengujian
hipotesis terhadap variabel-variabel dengan pengujian dibawah ini :

3.5.3.1.Koefisian Determinasi
Koefisien determinasi merupakan ikhtisar yang menyatakan seberapa baik
garis regresi sampel mencocokkan data. Untuk regresi dengan variabel bebas lebih
dari dua maka digunakan adjusted R2 sebagai koefisien determinasi. Koefisien
determinasi untuk mengukur proporsi variasi dalam variabel dependen yang
dijelaskan oleh regresi. Nilai R2 berkisar antara 0 sampai 1, apabila R2 = 0 berarti
tidak ada hubungan antara variabel TP, GCG dengan variabel kualitas laporan
keuangan pemerintah daerah (KLKPD), sedangkan jika R2 = 1 berarti terdapat
suatu hubungan yang sempurna.

3.5.3.2.Uji F
Uji ini dilakukan untuk menguji variabel-variabel independen terhadap variabel
dependen secara bersama-sama. Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat
signifikansi 0,05 (a = 5%). Penolakan atau penerimaan hipotesis dilakukan dengan
kriteria sebagai berikut :
1. Jika nilai signifikansi kurang dari atau sama dengan 0,05 maka hipotesis
diterima yang berarti secara bersama-sama variabel TP, GCG berpengaruh
terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah (KLKPD).
2. Jika nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka hipotesis ditolak yang berarti secara
bersama-sama variabel TP, GCG tidak berpengaruh terhadap kualitas laporan
keuangan pemerintah daerah (KLKPD).
3.5.3.3. Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui kemampuan masing-masing variabel
independent secara individu (partial) dalam menjelaskan perilaku variabel
dependen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikansi 0,05 (a =
5%). Penolakan atau penerimaan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai
berikut :
1. Jika nilai signifikansi kurang atau sama dengan 0,05 maka hipotesis diterima
yang berarti secara partial variabel TP, GCG berpengaruh terhadap kualitas
laporan keuangan pemerintah daerah (KLKPD).
2. Jika nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka hipotesis ditolak yang berarti secara
partial variabel variabel TP, GCG tidak berpengaruh terhadap kualitas laporan
keuangan pemerintah daerah (KLKPD).