Anda di halaman 1dari 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanaman Bintaro (Cerbera Manghas L) Pohon bintaro banyak digunakan sebagai penghijauan dan juga sebagai penghias tanaman kota. Pohon bintaro juga disebut Pong-pong tree atau Indian suicide tree, mempunyai nama latin Cerbera manghas L, termasuk tumbuhan non pangan atau tidak untuk dimakan. Pohon bintaro sering disebut juga sebagai mangga laut, buta badak, babuto, dan kayu gurita. Dalam bahasa Inggris tanaman ini dikenal sebagai Sea Mango. Bintaro termasuk tumbuhan mangrove yang berasal dari daerah tropis di Asia, Australia, Madagaskar, dan kepulauan sebelah barat samudera pasifik (Gaillard at al. 2004). Tanaman bintaro dapat dilihat pada Gambar 2.1.

al . 2004). Tanaman bintaro dapat dilihat pada Gambar 2.1. Gambar 2.1. Pohon bintaro Klasifikasi tanaman

Gambar 2.1. Pohon bintaro

Klasifikasi tanaman bintaro menurut Anonim (2011) :

Kingdom

:

Plantae Plants

Subkingdom

:

Tracheobionta Vascular Plants

Superdivision

:

Spermatophyta Seed Plants

Division

:

Magnoliophyta Flowering Plants

Class

:

Magnoliopsida Dicotyledons

Subclass

:

Asteridae

Order

:

Gentianales

5

6

Family

:

Apocynaceae Dogbane Family

Genus

:

Cerbera L.

Species

:

Cerbera Manghas L.

Tanaman Bintaro memiliki daun yang bentuknya memanjang, simetris,

dan menumpul pada bagian ujung dengan ukuran bervariasi, tetapi rata-rata

memiliki panjang 25 cm. Tersusun secara spiral, terkadang berkumpul pada ujung

roset. Bunga Bintaro terdapat pada ujung pedikel simosa dengan lima petal yang

sama atau disebut pentamery. Korola berbentuk tabung dan ada warna kuning

pada bagian tengahnya. Buah bintaro berbentuk bulat dan berwarna hijau pucat

dan ketika tua akan berwarna merah. Buah bintaro merupakan buah drupa (buah

biji) yang terdiri dari tiga lapisan yaitu epikarp atau eksokarp (kulit bagian

terluar buah), mesokarp (lapisan tengah berupa serat seperti sabut kelapa), dan

endocarp (biji yang dilapisi kulit biji atau testa). Buah bintaro terdiri atas 8% biji

dan 92% daging buah. Bijinya sendiri terbagi dalam cangkang 14% dan daging

biji 86%. Buah bintaro tidak dapat dikonsumsi, karena mengandung zat yang

bersifat racun terhadap manusia (Chang et al. 2010).

a b c d
a
b
c
d

Gambar 2.2. (a) daun, (b) bunga, (c) buah, (d) biji

Dinamakan Cerbera karena biji dan semua bagian pohonnya mengandung racun yang disebut “cerberin” yaitu racun yang dapat menghambat saluran ion kalsium di dalam otot jantung manusia, sehingga mengganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. Bahkan asap dari pembakaran kayunya dapat menyebabkan keracunan. Daun, buah dan kulit batang tanaman bintaro mengandung saponin, polifenol terkandung pada daun, disamping itu kulit

7

batangnya mengandung tanin. Biji bintaro mengandung minyak yang cukup banyak (54.33%) dan berpotensi digunakan sebagai bahan baku biodiesel (Gaillard et al. 2004) Komposisi kimia minyak bintaro dapat dilihat pada Tabel

2.1.

Tabel 2.1. Komposisi asam lemak penyusun trigliserida minyak biji bintaro

Asam Lemak

Nama Sistematik

Hasil Analisis (%)

Miristat

Tetradekanoat

0,17

Palmitat

Heksadekanoat

17,90

Stearat

Oktadekanoat

4,38

Oleat

Cis-9-oktadekanoat

36,64

Linoleat

Cis-9,12-oktadekadienoat

23,44

Linolenat

Cis-9,12,15-oktadekatrinoat

2,37

Sumber : Endriana (2007)

2.2. Biodiesel

Menurut SNI-04-7182-2006 biodiesel adalah ester alkil (metil, etil,

isopropil dan sejenisnya) dari asam-asam lemak. Menurut Tyson K.S (2006)

biodiesel adalah bahan bakar pengganti solar yang dibuat dari minyak nabati,

minyak bekas hasil penggorengan, atau lemak hewan. Sedangkan untuk

pembuatan biodiesel dapat melalui proses transesterifikasi, esterifikasi ataupun,

proses esterifikasi-transesterifikasi. Biodiesel merupakan satu nama dari Alkil

Ester atau rantai panjang asam lemak yang berasal dari minyak nabati maupun

lemak hewan.

Menurut Muryanto (2011) bahan baku untuk pembuatan biodiesel dapat

berupa minyak nabati, lemak binatang, dan alga. Zat utama penyusun minyak-

lemak (nabati-hewani) adalah trigliserida yaitu triester gliserol dengan asam-asam

lemak. Menurut Ketaren (1986) Komposisi atau jenis asam lemak dan sifat kimia-

fisika tiap jenis minyak berbeda-beda hal ini dikarenakan oleh perbedaan sumber,

iklim, keadaan tempat tumbuh, dan pengolahan.

Biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar pada mesin yang

menggunakan Diesel sebagai bahan bakarnya tanpa memerlukan modifikasi

mesin. Biodiesel tidak mengandung Petroleum Diesel atau Solar. Biodiesel

merupakan senyawa Mono Alkyl Ester yang diproduksi melalui reaksi

transesterifikasi antara trigliserida (minyak nabati seperti Minyak Sawit, Minyak

8

Jarak dan Minyak Biji Karet) dengan metanol menjadi metil ester dan gliserol dengan bantuan katalis basa. Biodiesel mempunyai rantai karbon antara 12-20 serta mengandung oksigen. Adanya oksigen pada biodiesel membedakannya pada Petroleum Diesel (Solar) yang komponen utamanya hanya dari hidrokarbon. Jadi komposisi biodiesel dan petroleum sangat berbeda. Agar dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti solar, biodiesel harus mempunyai kemiripan sifat fisik dan kimia dengan minyak solar. Salah satu sifat fisik yang penting adalah viskositas. Sebenarnya, minyak lemak nabati sendiri dapat dijadikan bahan bakar, namun, viskositasnya terlalu tinggi sehingga tidak memenuhi persyaratan untuk dijadikan bahan bakar mesin diesel. Perbandingan sifat fisik dan kimia biodiesel dengan minyak solar disajikan pada tabel 2.2.

Tabel 2.2. Sifat Fisik dan Kimia Biodiesel dan Solar

Sifat fisik/kimia

Biodiesel

Solar

Komposisi Densitas, g/ml Viskositas ,cSt Titik nyala, ℃ Angka setana Energi yang dihasilkan, MJ/kg

Ester alkil

Hidrokarbon

0,8624

0,8750

5,55

4,6

172

98

62,4

53

40,1

45,3

Biodiesel memiliki keunggulan dibandingkan dengan bentuk energi lainnya, yaitu :

1. Biodiesel diproduksi dari bahan pertanian, sehingga dapat diperbaharui,

2. Bilangan setana yang tinggi,

3. Volatil rendah dan bebas sulfur,

4. Ramah lingkungan karena tidak ada emisi SOx,

5. Menurunkan keausan ruang piston karena sifat pelumas bahan bakar baik,

6. Aman dalam penyimpanan dan transportasi,

7. Meningkatkan nilai produk pertanian Indonesia,

8. Memungkinkan diproduksi dalam skala kecil menengah.

Adapun kelemahan dari Biodiesel yaitu memiliki Viskositas 20 kali lipat dibandingkan dengan bahan bakar Diesel. Adapun spesifikasi biodiesel dapat dilihat pada tabel 2.3.

9

Tabel 2.3. Standar SNI untuk biodiesel SNI 7182:2012

No

Parameter

Satuan

Nilai

1

Massa jenis pada 40℃

kg/m³

850-890

2

Viskositas kinematik pada 40℃

mm²/s (cSt)

2,3-6,0

3

Angka setana

-

Min 51 Min 100 Maks 18 Maks No 1

4

Titik nyala (mangkok tertutup)

5

Titik kabut

6

Korosi lempung tembaga (3 jam pada 50 ℃)

7

Residu karbon :

%-massa

- Dalam contoh asli, atau

- Maks 0,05

- Dalam 10% ampas distilasi

- Maks 0,30

8

Air dan sedimen

% vol

Maks 0,05

9

Temperature distilasi 90%

Maks 360

10

Abu tersulfatkan

%-massa

Maks 0,02

11

Belerang

mg/kg

Maks 100

12

Fosfor

mg/kg

Maks 10

13

Angka asam

mg-KOH/g

Maks 0,6

14

Gliserol bebas

%-massa

Maks 0,02

15

Gliserol total

%-massa

Maks 0,24

16

Kadar ester alkil

%-massa

Min 96,5

Angka

iodium Kestabilan

%-massa

Maks 115

oksidasi periode induksi

(g-I/100 g)

17

Metode rancimat atau periode induksi metode perto oksi

Menit

360

Sumber : SK Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, 2013

Tabel 2.4. Standar SNI untuk biodiesel SNI 7182:2012

No

Parameter

Satuan

Nilai

1

2

Indeks bias

Nilai kalor

-

kcal/kg

1,3 1,45

Maks 9938,76

Sumber : gusman, boby dkk, 2011

2.3. Esterifikasi

Esterifikasi merupakan proses dimana asam lemak bebas dikonversi

menjadi ester. Reaksi esterifikasi melibatkan minyak lemak yang kemudian

direkasikan dengan alkohol. Katalis yang sesuai untuk reaksi esterifikasi yaitu zat

berkarakter asam kuat seperti asam sulfat, asam sulfonat organik atau resin

penukar kation asam kuat (Soerawidjaja, 2006). Esterifikasi biasa dilakukan

dalam temperatur rendah (misalnya paling tinggi 120°C). Hal ini bertujuan agar

reaksi bisa berlangsung ke konversi yang sempurna. Esterifikasi biasa dilakukan

untuk membuat biodiesel dari minyak berkadar asam lemak bebas tinggi

10

(berangka asam ≥ 5%). Pada tahap ini asam lemak bebas akan dikonversikan menjadi metil ester. Tahap esterifikasi biasa diikuti dengan tahap transesterifikasi. Namun sebelum produk diumpankan ke tahap transesterifikasi, air dan bagian terbesar katalis asam yang dikandungnya harus disingkirkan terlebih dahulu. Reaksi esterifikasi :

RCOOH

+

CH₃OH

Asam lemak

Metanol

: RCOOH + CH₃OH Asam lemak Metanol RCOOH₃ + H₂O Metil Ester Air Secara

RCOOH₃

+

H₂O

Metil Ester

Air

Secara singkat, proses esterifikasi merupakan reaksi asam lemak bebas dengan alkohol yang menghasilkan metil ester dan air. Katalis yang digunakan adalah HSOdan HCl.

2.4. Transesterifikasi Transesterifikasi juga disebut dengan reaksi alkoholisis yang melibatkan peruraian dan pemaksa pisahan oleh alkohol sehingga dibutuhkan alkohol dengan kereaktifan besar (Bannon, 1998). Alkohol yang digunakan adalah metanol, karena alkohol dengan jumlah atom karbon sedikit mempunyai kereaktifan lebih besar daripada alkohol dengan atom karbon yang lebih banyak. Reaksi transesterifikasi berjalan lambat, sehingga untuk mempercepat reaksi dipengaruhi oleh temperatur dan jumlah katalisator yang digunakan. Kedua faktor tersebut berhubungan dengan energi aktivasi (Ea) atau reaksi yang bersangkutan. Suatu reaksi dapat berlangsung jika telah melewati energi aktivasinya. Persamaan Arrhenius menunjukkan bahwa dengan naiknya temperatur akan memperbanyak fraksi molekul yang bertumbukan sehingga energi aktivasinya akan cepat tercapai. Kondisi reaksi yang mempengaruhi konversi biodiesel melalui transesterifikasi salah satunya adalah kandungan air dan asam lemak bebas (Freedman, 1984) . Minyak nabati yang akan ditransesterifikasi harus memiliki angka asam yang lebih kecil dari satu. Banyak penelitian menyarankan agar kandungan asam lemak bebas lebih kecil dari 0,5%). Selain itu, semua bahan yang akan digunakan harus bebas dari air. Karena air akan bereaksi dengan katalis, sehingga jumlah katalis menjadi berkurang.

Reaksi transesterifikasi :

11

Reaksi transesterifikasi : 11 Secara singkat, proses transesterifikasi adalah reaksi antara trigliserida sengan alkohol

Secara singkat, proses transesterifikasi adalah reaksi antara trigliserida sengan alkohol yang menghasilkan metil ester dan gliserol. Katalis yang digunakan adalah katalis basa berupa NaOH, dan KOH.