Anda di halaman 1dari 15

Reading Assignment Telah dibacakan, Agustus 2015

Divisi Alergi Imunologi Supervisor


Presentator : dr.Hartono Apriliasta Purba
Dr.Zuhrial Zubir, Sp.PD, KAI

ALERGI MAKANAN

Hartono Apriliasta Purba, Zuhrial Zubir

Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK-USU

RSUP. Haji Adam Malik

I. PENDAHULUAN
Makanan merupakan salah satu kebutuhann pokok sejak manusia dilahirkan.
Kejadian alergi makanan atau reaksi yang merugikan terhadap makanan meningkat
selama 2-3 dekade terakhir. Hal ini disebabkan karena perubahan lingkungan,
perubahan gaya hidup, perubahan pola makan, dan perubahan proses produksi dan
pengawetan makanan
Makanan merupakan salah satu penyebab reaksi alergi yang berbahaya.
Walaupun kejadian alergi makanan lebih sering ditemui pada anak-anak, penelitian
terbaru melaporkan 1,4-6 % populasi dewasa juga pernah mengalam alergi makanan.
Prevalensi pada perempuan dewasa juga dilaporkan lebih banyak daripada laki-laki
dewasa. Sebagian besar alergi makanan tersebut sudah muncul pada masa kanak-
kanak, kemudian menghilang setelah usia 3 tahun. Alergi makanan yang baru muncul
pada usia dewasa jarang terjadi.
Tidak semua reaksi makanan yang tak diinginkan disebut alergi makanan.
Klasifikasi yang dikeluarkan EAACI (European Association of Allergy and Clinical
Immunology) membagi reaksi makanan yang tidak diinginkan menjadi reaksi toksik
dan reaksi non toksik. Reaksi toksik ditimbulkan iritan tertentu atau racun dalam
makanan, misalnya jamur, susu atau daging terkontaminasi atau sisa pestisida dalam
makanan. Reaksi non toksik dapat berupa reaksi imunologis dan reaksi non
imunologis (intoleransi makanan). Intoleransi makanan dapat diakibatkan zat yang
terdapat pada makanan tersebut (seperti histamin yang terdapat pada makanan yang

1
diawetkan), farmakologi makanan (seperti tiramin pada keju), atau akibat kelainan
pada orang tersebut (seperti defisiensi laktosa) atau idiosinkrasi.

II. DEFENISI 1
Alergi makanan adalah respon abnormal terhadap makanan yang diperantarai
reaksi imunologis. Sebenarnya sebagian besar keluhan akibat makanan termasuk
intoleransi makanan, bukan alergi makanan.
Seperti alergen lain, alergi terhadap makanan dapat bermanifestasi pada satu
atau berbagai organ target: kulit (urtikaria, angioedema, dermatitis atopic), saluran
nafas (rhinitis,asma), saluran cerna (nyeri abdomen, muntah,diare) dan sistem
kardiovaskular (syok anafilaktik). Pada perempuan dapat juga menyebabkan kontraksi
uterus.

III. PATOFISIOLOGI
Alergi makanan pada orang dewasa dapat merupakan reaksi yang memang
sudah terjadi saat kanak-kanak atau reaksi yang memang baru terjadi pada usia
dewasa. Secara umum patofisiologi alergi makanan dapat diperantarai IgE maupun
tidak diperantarai IgE.2,3
.Diperantarai IgE
Secara imunologis, antigen protein utuh masuk kedalam sirkulasi dan
disebarkan keseluruh tubuh. Untuk mencegah respon imun terhadap semua makanan
yang dicerna, diperlukan respon yang ditekan secara selektif yang disebut toleransi
atau hiposensitisasi.
Kegagalan untuk melakukan toleransi oral ini memicu produksi berlebihan
antibodi IgE yang spesifik terhadap epitop yang terdapat pada allergen makanan.
Antibodi tersebut berikatan kuat dengan reseptor Ig E pada basofil dan sel mast, juga
berikatan dengan kekuatan lebih rendah pada makrofag, monosit, limfosit, eosinofil
dan trombosit.
Ketika protein makanan melewati sawar mukosa, terikat dan bereaksi silang
dengan antibodi tersebut, akan memicu IgE yang telah berikatan dengan sel mast.
Kemudian sel mast akan melepaskan berbagai mediator (histamine, prostaglandin,
dan leukotrien) yang akan menyebabkan vasodilatasi, sekresi mukus, kontraksi otot
polos dan influx sel inflamasi lain sebagai bagian reaksi hipersensitivitas cepat. Sel
mast yang teraktivasi tersebut juga mengeluarkan berbagai sitokin lain yang dapat

2
menginduksi reaksi tipe lambat. Selama 4-8 jam pertama, neutrofil dan eosinofil akan
dikeluarkan ke tempat reaksi alergi. Neutrofil dan eosinosil yang teraktivasi akan
mengeluarkan berbagai mediator seperti platelet activating factor, peroksidase,
eosinophil major basic protein dan eosinophil cationic protein. Sedangkan pada 24-
48 jam berikutnya, limfosit dan monosit menginfiltrasi lokasi tersebut dan memicu
reaksi inflamasi kronik.

Sumber dari: http://www.worldofteaching.The Immune System


Limposit T berikatan dengan B sel pada saat allergen sudah menempel pada B sel.
Ikatan ini membentuk plasma sel dan plasma sell akan menghasilkan IgE yang
berfungsi sebagai antibodi. Alergen akan menempel pada IgE yang kemudian akan
menempel pada mast sel, dan menyebabkan granulasi pada mast sel.

3
Sumber dari : Food and Agriculture Organization and World Health Organization
Macrofag menangkap allergen dan pada saat itu juga macrofag menghasilkan T sel
dan T sel ini berikatan dengan B sel dan B sel akan menghasilkan IgE yang juga akan
mengikat allergen. Pada saat B sel dan T cell berikatan akan membentuk plasma sel
sehing-ga IgE terlepas dan menempel pada mast sel. Sebagian allergen selain dimakan
oleh makrofag akan menempel pada IgE yang terikat pada mast sel dan apabila IgE
ini tidak tahan(IgE sebagai antibodi tidak berfungsi maksimal) akan menyebabkan
granuasi mast sel inilah yang menyebabkan alergi.

Tidak Diperantarai IgE


Patogenesis reaksi alergi makanan yang tidak diperantarai IgE belumlah diketahui
dengan jelas. Reaksi hipersensitivitas tipe II (reaksi sitotoksik), tipe III (reaksi
kompleks imun), dan tipe IV (reaksi hipersensitivitas diperantarai sel T) pernah
dilaporkan terjadi pada pasien yang mengalami alergi makanan, walaupun belum
cukup bukti untuk membuktikan perannya pada alergi makanan.

4
IV. PENYEBAB ALERGI MAKANAN
Hampir setiap jenis makanan memiliki potensi untuk menimbulkan reaksi
alergi. Sifat fisikokimia yang berperan dalam alergenisitas masih belum banyak
diketahui. Alergen dalam makanan terutama berupa protein yang terdapat didalamnya.
Beberapa makanan seperti susu sapi, telur dan kacang mengandung beberapa protein
allergen sekaligus. Namun demikian, tidak semua protein dalam makanan tersebut
mampu menginduksi produksi IgE.4
Penyebab tersering alergi makanan pada orang dewasa adalah kacang-
kacangan, ikan dan kerang. Sedangkan penyebab tersering alergi makanan pada anak
adalah susu, telur, kacang-kacangan, ikan dan gandum. Sebagian besar alergi
makanan akan menghilang setelah pasien menghindari makanan tersebut dan
kemudian melakukan cara eliminasi makanan, kecuali alergi terhadap kacang-
kacangan, ikan dan kerang cenderung menetap atau menghilang setelah jangka waktu
yang sangat lama. 5,6,7
MAKANAN SEHARI-HARI
 Susu Sapi
Tidak hanya susu sapi yang ditemukan dalam makanan bayi. Susu sapi sedikitnya
merupakan 20% komponen yang dapat menimbulkan produksi antibodi. Fraksi
protein susu utama adalah kasein(76%) dan whey. Whey mengandung beta-
laktoglobulin, alfa-laktalbumin, immunoglobulin sapi dan albumin serum sapi. Alergi
dilaporkan dapat terjadi terhadap semua komponen tersebut. Ditemukan reaksi silang
antara susu sapi dengan susu domba, sehingga tidak dapat digunakan sebagai
pengganti pada anak dengan alergi susu sapi. Manifestasi alergi susu sapi pada orang
dewasa lebih berupa gangguan saluran napas dan kulit, namun menetap lebih lama
daripada alergi susu sapi pada anak.
 Telur
Telur ayam sering merupakan sebab alergi makanan pada anak, putih telur lebih
alergenik dibanding dengan kuning telur dan reaksi terhadap kuning telur dapat
disebabkan oleh karena kontaminasi protein. Alergen utama putih telur adalah
ovalbumin. Hanya sedikit reaksi silang dengan daging ayam sehingga pasien alergi
telur terbanyak dapat mengkonsumsi daging ayam. Pada orang dewasa alergi telur
unggas seringkali didahului dengan alergi terhadap bulu unggasnya. Beberapa pekerja
pabrik pengolahan telur yang terpajan protein telur melalui inhalasi juga mengalami
alergi ketika memakan telur yang disebut “egg-egg syndrome”.

5
 Legume
Legume terutama kacang tanah merupakan sebab utama alergi makanan. Berbagai
jenis legume memiliki beberapa antigen yang sama, tetapi tidak menunjukkan reaksi
silang yang relevan. Pasien dengan alergi kacang tanah dapat makan legume jenis
lain.
 Kacang tanah
Kacang tanah merupakan makanan alergenik paling berbahaya. Reaksi dapat berupa
anafilaksis. Tiga jenis protein telah diidentifikasi sebagai allergen utama; Ara h1, Ara
h2 dan Ara h3. Minyak kacang tanah yang dimurnikan aman untuk orang yang alergi
kacang tanah.
 Kedelai
Kedelai sering menimbulkan reaksi alergi. Kedelai banyak digunakan sebagai sumber
protein yang murah. Telah diidentifikasi jenis allergen, dan tidak ada yang
predominan. Minyak kedelai yang dimurnikan meskipun aman, tetap harus
diwaspadai.
 Tree Nuts
Tree nuts merupakan golongan allergen makanan utama pada orang dewasa. Seperti
halnya dengan kacang tanah, almond, kacang brazil, kacang mede, kemiri, kenari,
filbert, pine nuts dan pistachio telah dilaporkan dapat menimbulkan anafilaksis.
 Biji-bijian
Beberapa biji-bijian seperti biji bunga matahari, opium, biji kapas, dan wijen
dilaporkan sebagai penyebab alergi makanan, terutama anafilaksis.
 Ikan
Ikan dapat menimbulkan sejumlah reaksi. Alergen utama dalam codfish adalah Gad
c1, yang diisolasi dari fraksi miogen. Spesies ikan biasa memiliki allergen yang
analog dengan gad c1 yang juga menunjukkan reaksi silang dengan Gad 1c codfish.
Antigen rentan terhadap manipulasi dan penyimpanan, tetapi tidak untuk dalam
kaleng. Antigen tersebut mudah disebarkan ke udara dan dapat memicu reaksi alergi
saluran nafas akibat bau ikan yang dimasak. Alergi ikan juga dapat disebabkan kontak
langsung dengan kulit berupa dermatitis kontak. Apakah seseorang yang alergi
terhadap satu jenis ikan juga harus pantang jenis ikan lainnya, masih merupakan suatu
kontroversi.
 Crustacea dan molluscum

6
Golongan kerang-kerangan merupakan allergen utama yang mengenai hampir sekitar
250.000 orang dewasa di Amerika. Dalam golongan Crustacea termasuk lobster,
kepiting, udang dan udang karang. Dalam golongan kerang-kerangan termasuk remis,
tiram, keong/siput, gurita, cumi-cumi. Udang mengandung beberapa alergen. Antigen
II dianggap sebagai alergen utama. Otot udang mengandung glikoprotein otot yang
mengandung Pen a 1 (tropomiosin). Tropomiosin juga dapat menyebabkan reaksi
silang antara crustacea, molluscum dan beberapa artopoda.
 Sayuran
Alergi terhadap sayuran yang sering dilaporkan pada usia dewasa adalah terhadap
seledri dan wortel. Alergi terhadap kedua sayuran ini dapat bereaksi silang dengan
polen. Sedangkan alergi terhadap jenis sayuran lain sangat jarang dilaporkan,
demikian juga dengan bawang. Patatin, sejenis alergen yang ditemukan pada tomat
dan kentang juga dilaporkan menyebabkan berbagai reaksi alergi, termasuk reaksi
silang dengan alergen lateks.
 Buah-buahan
Apel merupakan penyebab alergi buah-buahan yang paling sering terjadi dengan
manifestasi utama berupa sindrom alergi oral, diikuti reaksi anafilaksis dan edema
laring, lalu manifestasi saluran nafas dan cerna lainnya. Sedangkan alergi buah persik
86 % manifestasinya berupa sindrom alergi oral, diikuti dengan urtikaria kontak, lalu
reaksi sistemik. Sebagian besar pasien alergi buah persik juga mengalami alergi
terhadap polen. Alergi melon dilaporkan menunjukkan reaksi silang dengan
semangka, pisang, kiwi dan alpukat.
 Sereal
Reaksi alergi terhadap sereal sering ditemukan terutama pada anak. Fraksi globulin
dan fraksi glutenin diduga merupakan alergen utama yang menimbulkan reaksi IgE,
sedang gliadin merupakan sebab penyakit celiac. Ada reaksi silang antara gandum,
rye dan barley. Tes kulit positif sering ditemukan pada anak, namun arti klinisnya
harus diinterpretasi dalam hubungan dengan sereal yang dikonsumsi. Berbagai variasi
jenis padi dan sereal lain dengan sifat alergen yang kurang telah dikembangkan
dengan rekayasa genetik. Pada orang dewasa terutama yang bekerja ditempat
pembuatan roti ada resiko terjadinya sensitisasi yang menimbulkan rhinitis dan asma
akibat inhalasi debu tepung. Namun pasien tersebut dapat mengkonsumsi produk
gandum.
 Protein bukan makanan

7
Polen dilaporkan dapat bereaksi silang dengan makanan. Reaksi tersebut terjadi dalam
dua arah, pasien alergi terhadap hazelnut bereaksi dengan polen birch dan pasien
alergi terhadap polen birch menimbulkan reaksi bila makan hazelnut. Reaksi silang
terjadi antara polen birch dengan apel, kentang merah, wortel, seledri dan hazelnut
antara polen mugwort (semak) dengan seledri, apel, kacang tanah dan kiwi antara
ragweed dengan melon, antara lateks dan pisang, alpukat, kiwi , chesnut dan papaya.

V. GAMBARAN KLINIS8
Dari segi klinis dan penanganan perlu dibedakan reaksi yang terjadi diperantarai igE
dan yang tidak diperantarai IgE
Reaksi Hipersensitivitas Diperantarai IgE
Gambaran klinis reaksi alergi terhadap makanan terjadi melalui IgE dan
menunjukkan manifestasi terbatas; gastrointestinal, kulit dan saluran nafas. Tanda dan
gejalanya disebabkan oleh pelepasan histamine, leukotrin, prostaglandin dan sitokin.
Awitan respon alergi terjadi dalam 30 menit setelah mengkonsumsi makanan. Ada
hubungan tidak erat antara derajat alergi dan cepatnya awitan. Pasien yang sangat
alergi dapat mengalami reaksi dalam menit atau bahkan detik setelah konsumsi. Ciri
kedua reaksi alergi nampaknya tidak tergantung dosis. Reaksi berat yang terjadi oleh
dosis kecil sama dengan yang ditimbukan dosis besar. Anafilaksis dapat terjadi hanya
melalui kontak kacang tanah dengan bibir atau setelah makan kacang tanah dalam
jumlah besar. Ciri reaksi alergi lainnya ialah terjadinya reaksi berat di berbagai tempat
dan organ.
Mengapa alergen yang dimakan menimbulkan efek luas? Respon berupa
urtikaria, ditentukan oleh distribusi random IgE pada sel mast diseluruh tubuh.
Makanan sebagian dicerna. Dalam usus kecil terjadi absorbsi direk peptide di plak

8
Peyer. Plak peyer dilapisi sel berdinding tipis, disebut sel M yang memudahkan
peptide masuk langsung kedalam plak peyer. Begitu sampai di senter germinal plak
peyer, antigen diikat sel dendritik dan sel langerhans. Sel-sel tersebut bermigrasi
melalui saluran limfe dan menyebarkan informasi mengenai antigen dan dapat
menimbulkan reaksi difus.

Reaksi Hipersensitivitas Non-IgE


Reaksi hipersensitivitas non-IgE akibat makanan umunya bermanifestasi
sebagai gangguan saluran cerna dengan berbagai variasi, mulai dari mual, muntah,
diare, steatoroe, nyeri abdomen, berat badan menurun. Pada beberapa kasus dapat
ditemukan darah dalam pemeriksaan fesesnya. Berlawanan dengan reaksi
hipersensitivitas yang diperantarai IgE, beratnya reaksi yang terjadi bergantung pada
jumlah alergen yang dikonsumsi dan awitannya sangat bervariasi, mulai dari beberapa
menit sampai beberapa jam kemudian.
Beberapa kasus reaksi hipersensitivitas non-IgE mekanismenya diatur IgG,
misalnya hipersensitivitas terhadap gliadin, protein utama gandum yang terjadi pada
sariawan, Pasien menunjukkan tanda malabsorbsi dan steatorea akibat reaksi antara
IgG terhadap gliadin dan gandum. Reaksi terjadi dipermukaan mukosa, meratakan
virus mikro dan malabsorbsi.
Pada umumnya pasien dengan hipersensitivitas menunjukkan reaksi
berlebihan terhadap makanan atau aditif. Sebagai contoh reaksi terhadap kafein, yang
menimbulkan kesulitan tidur setelah pasien mengkonsumsi kopi dalam jumlah sedikit.
Banyak bahan kimia yang dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas dapat
dikaburkan dengan reaksi alergi melalui IgE.
Manifestasi alergi makanan juga dapat berupa manifestasi lokal dan sistemik.
Manifestasi lokal biasanya karena kontak langsung dengan makanan. Pada kulit
berupa urtikaria kontak, pada saluran nafas berupa rhinitis setelah inhalasi pertikel
makanan dan pada saluran cerna misalnya sindrom alergi oral. Manifesatsi sistemik
terjadi setelah menelan makanan. Faktor penentu terjadinya reaksi sitemik ataupun
lokal adalah reaksi biokimia protein makanan tersebut, absorbsi dan proses dalam
saluran cerna, respon imun individu dan reaksi hipersensitivitas target organ.

9
VI. DIAGNOSIS9
Anamnesis dan pemeriksaan fisis yang teliti merupakan hal terpenting dalam
alergi makanan. Kebanyakan reaksi cepat akibat makanan terjadi dalam beberapa
menit, tetapi dapat terjadi sampai 30 menit. Identifikasi makanan yang diduga sebagai
penyebab dan singkirkan sebab-sebab lainnya
Untuk menentukan apakah seseorang menderita alergi atau tidak haruslah dilakukan
diagnosa seperti:
 Riwayat medis dan pemeriksaan fisik
Riwayat medis pada seseorang yang diduga alergi pada suatu makanan harus
diidentifikasi apakah makanan tersebut benar-benar menyebabkan alergi serta
harus dilihat gejala yang ditimbulkan. Riwayat medis ini mencakup:
a. Perhatikan gejala apakah disebabkan oleh makanan
b. Waktu mulai dari konsumsi makanan sampai terjadi gejala
c. Kualitas makanan yang menyebabkan respon berikutnya
d. Konsistensi gejala
e. Faktor lain yang menyebabkan gejala yang sama contohnya olahraga
f. Lamanya reaksi
Pemeriksaan fisik dilakukan dan dititik-beratkan pada sistem kutan dan
gambaran atopik. Selama penelusuran riwayat medis serta pemeriksaan fisik
kemungkinan dugaan kearah alergi makanan dapat ditegakkan dan untuk
menegakkan diagnose pasti diperlukan beberapa peme-riksaan lanjutan.

10
 Diet Eliminasi
Diet eliminasi akan lebih mudah dikerjakan jika gejala yang timbul hanya
diprovokasi oleh 1 atau 2 makanan dan dikenal sebagai diet eliminasi
sederhana. Jika ada dugaan alergi terhadap beberapa makanan maka diet
eliminasi harus dilakukan secara bertahap. Prinsip diet eliminasi adalah
menghindarkan bahan makanan yang menjadi tersangka, selama 2 minggu.
Dalam kurun waktu ini diobservasi apakah gejala alergi yang ada berkurang
atau tidak. Bila gejala berkurang, dapat dilanjutkan uji provokasi untuk
mengkonfirmasinya lagi, yaitu dengan pemberian kembali bahan makanan
penyebab alergi dan dicatat reaksi yang terjadi. Jika makanan tersangka
memang penyebab alergi, maka gejala akan berkurang saat makanan
dieliminasi dan muncul kembali lagi saat diprovokasi.
 Double blind, placebo controlled food challenge (DBPCFC)
Double blind placebo controlled food challenge dianggap sebagai baku emas
untuk menegakkan alergi makanan. Prosedur tersebut lama tetapi dapat
dimodifikasi. Pasien pantang makanan terduga untuk sedikitnya 2 minggu,
antihistamin dihentikan sesuai waktu paruhnya. Makanan diberikan dalam
bentuk kapsul. Pengawasan medis dan fasilitas gawat darurat termasuk
epinefrin, antihistamin, steroid, inhalasi agonis beta-2, dan peralatan resusitasi
kardiopulmoner diperlukan untuk mencegah terjadinya reaksi berat.
Selama diuji, pasien diawasi untuk mendeteksi perubahan kulit, saluran cerna
dan saluran nafas. Tes tantangan dihentikan bila timbul reaksi dan terapi gawat
darurat diberikan seperlunya. Pasien juga diawasi untuk mengantisipasi reaksi
lambat. Hasil yang negative dikonfirmasi jika setelah menelan makanan yang
dicurigai dalam jumlah yang lebih besar, tidak terjadi reaksi alergi. Oral
challenge tidak dilakukan bila pasien menunjukkan riwayat hipersensitivitas
yang jelas atau reaksi berat
 Tes kulit (skin prick test)
Tes tusuk kulit (skin prick testing) biasanya dikerjakan pada lengan bawah,
kadang-kadang di punggung. Mula-mula lengan dibersihkan dengan alkohol,
kemudian setetes ekstrak alergen yang diproduksi secara komersial diteteskan
pada daerah kulit yang telah ditandai. Dengan menggunakan lancet steril,

11
dilakukan tusukan kecil menembus tetesan tadi. Dengan cara ini sejumlah
kecil alergen dapat memasuki kulit

Gambar. Melakukan tusukan kecil pada kulit dengan lancet steril


Jika alergi, maka akan tampak benjolan kecil menyerupai gigitan nyamuk pada
tempat tusukan dalam waktu 15-20 menit. Mengukur benjolan 15 menit
kemudian.
Bila pada pasien yang diduga alergi terhadap makanan ditemukan tes kulit
positif, yang pertama harus dilakukan ialah mengeliminasi jenis makanan
tersebut dari dietnya. Tes kulit tidak dilakukan pada pasien dengan reaksi akut
yang berat. Bila keadaan kronis (dermatitis atopi,asma) dan atau banyak jenis
makanan terlibat, mungkin diperlukan food challenge.
 Radioallegrosorbent test (RAST)
Metode untuk menggambarkan adanya anti-body IgE terhadap makanan spesifik,
namun tidak menegakkan diagnosis alergi makanan klinis.

12
Algorithm for diagnosis and management of food allergy. (Adapted with permission from American
College of Allergy and Immunology.)10

VII. PENATALAKSANAAN11
a. Pencegahan
Pencegahan alergi makanan terbagi menjadi 3 tahap, yaitu pencegahan primer,
sekunder dan tersier.
1. Pencegahan Primer, bertujuan menghambat sensitisasi imunologi oleh makanan
terutama mencegah terbentuknya Imunoglobulin E (IgE). Pencegahan ini dilaku-
kan sebelum terjadi sensitisasi atau terpapar dengan penyebab alergi. Hal ini dapat
dilakukan sejak saat kehamilan.
2. Pencegahan sekunder, bertujuan untuk mensupresi (menekan) timbulnya penyakit
setelah sensitisasi. Pencegahan ini dilakukan setelah terjadi sensitisasi tetapi
manifestasi penyakit alergi belum muncul. Keadaan sensitisasi diketahui dengan
cara pemeriksaan IgE spesifik dalam serum darah, darah tali pusat atau uji kulit.
Saat tindakan yang optimal adalah usia 0 hingga 3 tahun.
3. Pencegahan tersier, bertujuan untuk mencegah dampak lanjutan setelah timbul-
nya alergi. Dilakukan pada anak yang sudah mengalami sensitisasi dan menun-

13
jukkan manifestasi penyakit yang masih dini tetapi belum menunjukkan gejala
penyakit alergi yang lebih berat. Saat tindakan yang optimal adalah usia 6 bulan
hingga 4 tahun.
b. Pengobatan
Pengobatan yang paling penting pada alergi makanan ialah eliminasi terhadap
makanan yang bersifat alergen. Pengobatannya bervariasi, tergantung kepada jenis
dan beratnya gejala. Tujuan pengobatan adalah mengurangi gejala dan
menghindari reaksi alergi di masa yang akan datang. Gejala yang ringan atau
terlokalisir mungkin tidak memerlukan pengobatan khusus. Gejala akan
menghilang beberapa saat kemudian. Antihistamin bisa meringankan berbagai
gejala. Untuk gejala yang berat, bisa diberikan kortikosteroid (misalnya
prednison) dan epinefrin (adrenalin).

VIII. KESIMPULAN
Alergi merupakan suatu reaksi abnormal dalam tubuh akibat suatu makanan
yang dicetuskan oleh reaksi spesifik pada sistem imun. Alergi timbul bila ada kontak
terhadap zat tertentu yang biasanya, pada orang normal tidak menimbulkan reaksi. Zat
penyebab alergi ini disebut allergen. Allergen bisa berasal dari berbagai jenis dan
masuk ke tubuh dengan berbagai cara. Bisa saja melalui saluran pernapasan, berasal
dari makanan, melalui suntikan.
Alergi dapat digolongkan menurut kekerapannya yaitu golongan makanan
yang paling sering menimbulkan alergi, yang relatif jarang menimbulkan alergi dan
bahan aditiv dalam makanan. Gejala dapat berupa bengkak dan gatal di bibir sampai
lidah serta orofarings. Kontak selanjutnya antara makanan/alergen dengan esofagus,
lambung serta usus dapat menyebabkan gejala nyeri dan kejang perut, serta muntah
sampai diare berat dengan tinja berdarah.
Pencegahan alergi makanan terbagi menjadi 3 tahap, yaitu pencegahan primer,
sekunder dan tersier. Pengobatan yang paling penting pada alergi makanan ialah
eliminasi terhadap makanan yang bersifat alergen. Pengobatannya bervariasi,
tergantung kepada jenis dan beratnya gejala. Tujuan pengobatan adalah mengurangi
gejala dan meng-hindari reaksi alergi di masa yang akan datang.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Crespo JF, Rodriguez J.Food allergy in adulthood. Alergy 2003:58:98-113


2. American College of Allergy and Immunology. Food allergy: A practice parameter.
Ann Allergy Asthma Immunol 2006;96:S1-68.
3. Sampson H. Food allergy. J Allerg Clin Immunol 2003;111:S540-7
4. Sampson H. Update on food allergy. J Allerg Clin Immunol 2004;113:805-19.
5. Jenkins J, Breiteneder H, Mills E. Evolutionary distance from human homologs
reflects allergenicity of animal food proteins. J Allerg Clin Immunol 2007;120:1399-
405.
6. Sicherer S. Clinical implications of cross-reactive food allergens. J Allerg Clin
Immunol 2001;108(6):881-90.
7. Sicherer S, Munoz-Furlong A, Sampson H. Prevalence of peanut and tree nut allergy
in the United States determined by means of a random digit dial telephone survey: A
5-year follow-up study. J Allerg Clin Immunol 2003;112(6):1203-7.
8. Sicherer SH. Manifestations of food allergy; evaluation and management. Am Fam
Phys 1999:59:415-28.
9. Sampson HA.Food Alergy.Part 2: Diagnosis and management.J Alergy Clin
Immunol.1999;101:103:981-9.
10. American College of Allergy and Immunology. Food allergy: A practice parameter.
Ann Allergy Asthma Immunol 2006;96:S1-68.
11. Dinajani,S Abidin. Penatalaksanaan Penyakit Alergi. Edisi Kedua. Fakultas
Kedokteran. Universitas Indonesia. 2008.

15