Anda di halaman 1dari 13

APOPTOSIS

2.2.1 DEFINISI DAN PENYEBAB

Apoptosis adalah suatu proses kematian sel yang terprogram, diatur secara
genetik, bersifat aktif, ditandai dengan adanya kondensasi chromatin, fragmentasi sel
dan fagositosis sel tersebut oleh sel tetangganya. (D’Amico AV et al, 1994;Cotran RS,
et al, 1999) Kresno SB, dalam tulisannya, apoptosis adalah kematian sel terprogram
yang merupakan proses penting
dalam pengaturan homeostasis normal, proses ini menghasilkan keseimbangan
dalam jumlah sel jaringan tertentu melalui eliminasi sel yang rusak dan proliferasi
Fisiologis dan dengan demikian memelihara agar fungsi jaringan normal. Deregulasi
apoptosis mengakibatkan keadaan patologis, termasuk proliferasi sel secara
tidak terkontrol seperti dijumpai pada kanker. Ada berbagai bukti yang menyatakan
kontrol apoptosis dikaitkan dengan gen yang
mengatur berlangsungnya siklus sel, diantaranya gen p53, Rb, Myc, E1A
dan keluarga Bcl-2. Beberapa jenis virus onkologik melaksanakan proses
transformasi sel dengan cara mengganggu fungsi apoptosis dalam sel., misalnya
SV40, herpes dan adenovirus, polioma maupun virus Epstein Barr (EBV). (Goepel JR,
1996)

Berbeda dengan nekrosis, yang merupakan bentuk kematian sel sebagai


akibat sel yang terluka akut, apoptosis terjadi dalam proses yang diatur sedemikian
rupa yang secara umum memberi keuntungan selama siklus kehidupan suatu
organisme (Gambar 1). Contohnya adalah pada diferensiasi jari manusia selama
perkembangan embrio membutuhkan sel-sel di antara jari-jari untuk apoptosis.
Gambar 1. Perbedaan apoptosis dan nekrosis (CCRC,2012)

Dalam literatur lain menyebutkan apoptosis merupakan suatu bentuk kematian


sel yang didesain untuk menghilangkan sel-sel host yang tidak diinginkan melalui
aktivasi serangkaian peristiwa yang terprogram secara internal melalui serangkaian
produk gen. Adapun terjadinya penyebab diatas sebagai berikut:
A. Selama proses perkembangan
B. Sebagai suatu mekanisme homeostatik untuk memelihara sel di jaringan.
C. Sebagai suatu mekanisme pertahanan seperti reaksi imun
D. Apabila sel-sel dihancurkan oleh penyakit atau agent-agent yang berbahaya.
E. Proses Penuaan. ( D’Amico AV et al, 1994)

Faktor-faktor yang bertanggung jawab dari serangkaian peristiwa apoptosis


baik fisiologis, adaptif maupun patologis adalah:

A. Kerusakan sel yang terprogram selama embriogenesis termasuk


implantasi,organogenesis, involusi perkembangan dan metamorfosis yang tidak
selaludidefinisikan secara fungsional sebagai kematian sel yang terprogram, Olehahli
Embriologi terminologi ini sering digunakan.
B. Proses involusi yang tergantung hormon pada orang dewasa seperti
penurunansel endometrium selama siklus menstruasi, atresia folikuler ovarium
padamenopause, regresi payudara setelah menyapih dan atropi prostat
setelahkatrasi.
C. Delesi sel pada populasi sel-sel yang berproliferasi seperti epitel kripta
usus(intestinum).
D. Kematian sel pada tumor paling sering selama regresi tapi juga pada
tumor dengan pertumbuhan sel yang aktif.
E. Kematian netropil selama respon respon inflamasi akut.
F. Kematian sel-sel imun baik limfosit B & T, setelah deflesi sitokin,
seiringdengan delesi sel-sel T autoreaktif pada timus yang sedang berkembang.
G. Kematian sel yang diinduksi oleh sel-sel T Sitotoksik, seperti pada
penolakanimum seluler.
H. Atropi patologis pada organ parenkim setelah obtruksi duktus, seperti
yangterjadi di pankreas, kelenjer parotis & ginjal.
I. Lesi sel pada penyakit virus tertentu, misalnya pada hepatitis virus,
dimanasel-sel yang mengalami apoptosis dihepar yang dikenal sebagai badan
Councilman
J.Kematian sel akibat berbagai stimulus lesi yang mampu
menyebabkannekrosis, kecuali bila diberikan dosis rendah, contohnya panas, radiasi,
obat-obat anti kanker sitotoksik & hipoksia dapat menyebabkan apoptosis
jikakerusakan ringan, tapi dosis besar dengan stimulus yang sama
menyebabkankematian sel nekrotik. (Cotran RS, et al, 1999)

2.2.2 PERANAN

Apoptosis penting untuk mengatur kematian sel guna mengkontrol jumlah sel
dan membersihkan sel yang rusak yang mempunyai peran penting untuk supresi
tumor. Sel yang apoptosis akan menunjukan sel melisut ( cell shrinkage), pemadatan
kromatin ( chromatin condensation ) kemudian menjadi sel apoptosis atau badan
apoptosis yang akan memudahkan untuk difagositosis oleh makrofag. Mekanisme
utama dalam apoptosis diperankan oleh kinase di growth factor signaling pathways
dan particular proteases yang disebut caspase. Kumar V, abbas, fausto A. terlalu
banyak apoptosis juga menyebabkan prolifrasi sel yang tidak terkontrol ( kanker).
Beberapa contoh penyakit yang ditimbulkan karena apoptosis yang tidak sempurna
antara lain :

1. Penyakit auto imun disebabkan karena sel t/b yang autoreaktif terus
menerus.
2. Neurodegeneration, seperti pada penyakit Alzheimer dan Parkinson, akibat
dari apoptosis premature yang berlebihan pada neuron di otak. Neuron yang tersisa
tidak mempunyai kemampuan untuk meregenerasi sel yang hilang.
3. Stroke iskemik, aliran darah kebagian-bagian tertentu dari otak dibatasi
sehingga dapat menyebabkan kematian sel saraf melalui peningkatan apoptosis
4. Kanker, sel tumor kehilangan kemampuannya untuk melaksanakan
apoptosis sehingga prliferasi sel meningkat. ( CCRC, 2012)
2.2.3. SIGNAL PENGINDUKSI APOPTSIS

Signal Penginduksi Apoptosis Apoptosis tidak memerlukan suatu proses


transkripsi atau translasi. Molecular machine yang dibutuhkan untuk kematian sel
dianggap mengalami dormansi dan hanya memerlukan aktivasi yang cepat. Signal
yang menginduksi apoptosis bisa berasal dari ekstraseluler dan intraseluler. Signal
ekstraseluler contohnya hormon hormon. Hormon tiroksin menginduksi apoptosis
pada ekor tadpole. Apoptosis juga bisa dipicu oleh kurangnya signal yang dibutuhkan
sel untuk bertahan hidup seperti growth factor. Sel lain, sel berhubungan dengan sel
yang berdekatan juga bisa memberikan signal untuk apoptosis. Signal intraseluler
misalnya radiasi ionisasi, kerusakan karena oksidasi radikal bebas, dan gangguan
pada siklus sel. Kedua jalur penginduksi tersebut bertemu di dalam sel, berubah
menjadi famili protein pengeksekusi utama yang dikenal sebagai caspase. Sel yang
berbeda memberikan respon yang berbeda terhadap penginduksi apoptosis. Misalnya
sel splenic limfosit akan mengalami apoptosis saat terpapar radiasi ionisasi,
sedangkan sel myocyte tidak mengalami apoptosis untuk pemaparan yang
sama.(CCRC, 2012)

2.2.4. REGULATOR MOLEKUL DARI APOPTOSIS

Regulator Molekuler dari Apoptosis Signal kematian dihubungkan dengan


pelaksanaan apoptosis oleh tahap integrasi atau pengaturan. Pada tahap ini terdapat
molekul regulator positif atau negatif yang dapat menghambat, memacu, mencegah
apoptosis sehingga menentukan apakah sel tetap hidup atau mengalami apoptosis
(mati). Apoptosis diperantarai oleh famili protease yang disebut caspase, yang
diaktifkan melalui proteolisis dari bentuk prekursor inaktifnya (zymogen). Caspase
merupakan endoprotease yang memiliki sisi aktif Cys (C) dan membelah pada
terminal C pada residu Asp, oleh karena itu dikenal sebagai Caspases (Cys containing
Asp specific protease). Saat ini telah ditemukan 13 anggota famili caspases pada
manusia. Beberapa anggota famili caspase yang terlibat dalam apoptosis dibedakan
menjadi 2 golongan. Golongan yang pertama terdiri dari caspase 8, 9,10 yang
mengandung prodomain yang panjang pada terminal N, fungsinya sebagai inisiator
dalam proses kematian sel. Golongan yang kedua terdiri dari caspase 3, 6, 7 yang
mengandung prodomain yang pendek dan berfungsi sebagai efektor, membelah
berbagai substrat yang mati yang pada akhirnya menyebabkan perubahan morfologi
dan biokimia yang tampak pada sel yang mengalami apoptosis. Molekul efektor lain
dalam apoptosis adalah Apaf-1 (apoptotic protease activating factor) bersama
sitokrom c mengambil procaspase 9 di ATP-dependent manner, dan menstimulasi
proses perubahan procaspase 9 menjadi caspase 9. Regulator apoptosis yang lain
adalah anggota famili Bcl-2. Saat ini ada 18 anggota famili Bcl-2 yang telah
diidentifikasi, dan dibagi ke dalam 3 grup berdasarkan strukturnya. Anggota grup
pertama diwakili oleh Bcl-2 dan Bcl-xL yang berfungsi sebagai anti-apoptosis. Anggota
grup kedua diwakili oleh Bax dan Bak (Bcl-2 associated killer), sebagaimana anggota
grup yang ketiga yaitu Bid (a novel BH3 domain-only death agonist) dan Bad (the Bcl-
2 associated death molecule), merupakan molekul pro-apoptosis (CCRC, 2012)

2.2.5. PROSES APOPTOSIS

Proses apoptosis dibagi menjadi initiation phase selama caspase menjadi aktif
mengkatalisis dan excution phase yaitu selama enzim bereaksi menjadikan sel
apoptosis. Mekanisme apoptosis dibagi menjadi dua yaitu mekanisne ektrinsik (death
receptor – initiated pathways), Reseptor kematian yang diketahui antara lain TNF
reseptor tipe 1 yang dihungkan dengan protein Fas (CD95). Yang termaksut pada
sinyal ekstrinsik antara lain hormone, faktor pertumbuhan , NO, dan sitokin. Samua
sinyal tersebut harus dapat menembus membrane plasma ataupun transduksi untuk
menimbulkan respon dan mekanisme intrinsik (mitochondrial pathways). (Kumar V et
al., 2005; Pecorico L, 2005; Macdonal F et al., 2004; Haiming, 2016; CCRC, 2012)
Sinyal intrinsic apoptosis merupakan suatu respon yang diinisiasi oleh sel
sebagai respon terhadap stress dan akhirnya yang dapat mengakibatkan kematian
sel. Peningkatan reseptor nuclear oleh glukokortikoid, panas, radiasi, kekurangan
nutrisi, infeksi virus dan hipoksia merupakan keadaan yang dapat menimbulkan
pelepasan sinyal intrinsic melalui kerusakan sel. (Haiming, 2016)
Gambar 04. Jalur apoptosis (Sumber: Pathologic Basis of Disease 7th ed, 2005.
Kumar, Abbas, Fausto)

1. Mekanisme ekstrinsik
Pathway ini diinisiasi oleh pengikatan reseptor kematian pada permukaan sel
pada berbagai sel. Reseptor kematian merupakan bagian dari reseptor tumor
nekrosis faktor yang terdiri dari cytoplasmic domain, berfungsi untuk mengirim
sinyal apoptotic. Reseptor kematian yang diketahui antara lain TNF reseptor
tipe 1 yang dihubungkan dengan protein Fas (CD95). Pada saat fas berikatan
dengan ligandnya, membran menuju ligand (FasL) tiga atau lebih molekul Fas
bergabung dan cytoplasmic death domain membentuk binding site untuk
adapter protein, FADD (Fas-associated death domain). FADD ini melekat pada
reseptor kematian dan mulai berikatan dengan bentuk inaktif dari caspace 8.
Molekul procaspace 8 ini kemudian dibawa keatas dan kemudian pecah
menjadi caspace 8 aktif. Enzim ini kemudian mencetuskan cascade aktifasi
caspace dan kemudian mengaktifkan procaspace lainnya dan mengaktifkan
enzym untuk mediator pada fase eksekusi.
diawali oleh sel surface death receptor dari berbagai macam sel. Death
receptor adalah anggota dari tumor necrosis factor receptor family(TNF) mempunyai
cytoplasmic domain yang berisi protein interaksi disebut death domain, penting untuk
mengirim apoptotic signals. Beberapa TNF receptor family tidak mempunyai
cytoplasmic death domain, mekasisme apoptosisnya sedikit diketahui. Death receptor
antara lain adalah Type I TNF receptor (TNFR I) dan protein yang berhubungan
disebut Fas (CD95). Mekanisme apoptosis diinduksi oleh death receptor diilustrasikan
dengan baik oleh Fas
Diawali Fas ligand (FasL) melepaskan Fas dari ligandnya. Molekul Fas menuju
ke sitoplasma yang terdapat death domain, tempat untuk berikatan dengan adapter
protein yang juga mempunyai death domain dan disebut FADD (fas-associated death
domain). FADD yang dilekatkan pada death receptors kembali berikatan dengan
inaktif dari caspase-8 (di manusia, caspase 10) melalui death domain. Multiple pro
caspase-8 molekul kemudian dibawa ke dekatnya dan mereka saling berikatan untuk
mengaktifkan caspase-8, yang kemudian enzim tersebut akan mengaktifkan cascade-
caspase dengan mengikat dan meng-aktifkan pro-caspase yang lain serta
mengaktifkan enzim yang melaksanakan execution phase dari apoptosis. Mekanisme
apoptosis dapat dihambat oleh protein yang disebut FLIP, yang berikatan dengan
procaspase-8 tetapi tidak dapat berikatan dan mengaktifkan enzim karena kurang
mempunyai aktifitas enzym. Beberapa virus dan sel normal memproduksi FLIP dan
digunakan untuk menghambat dan memproteksi infeksi dan memproteksi sel normal
dari Fas mediatedapoptosis. (Kumar V et al., 2005; Pecorico L, 2005; Macdonal F et
al., 2004)

Gambar 05. Jalur ekstrinsik apoptosis (Sumber: Pathologic Basis of Disease


7th ed, 2005. Kumar, Abbas, Fausto)
2 Mekanisme intrinsik

Diawali dari mitokondria yang disebabkan stimulus internal seperti kerusakan


DNA dan stress oksidatif. Jalur intrinsik disebabkan oleh peningkatan permiabilitas
mitokondria dan pelepasan molekul pro apoptotic ke sitoplasma. Growth factor dan
survival signal menstimulasi produksi anti-apoptotic members dari Bcl-2 family. Bcl-2
family mempunyai lebih dari 20 macam protein, yang semuanya berfungsi regulasi
apoptosis. Dua protein yang berfungsi anti apoptosis adalah Bcl-2 dan Bcl-X. Protein
anti-apoptosis dalam keadaan normal berada disekitar membrane mitokondria dan
sitoplasma. Ketika sel kehilangan kemampuan mempertahankan diri atau mengalami
stress, Bcl-2 dan/atau Bcl-x akan menghilang dari membrane mitokondria dan
digantikan kelompok protein pro-apoptotis seperti Bax, Bak dan Bim. Ketika Bcl-2/Bcl-
x menurun, terjadi peningkatan permiabilitas membrane mitokondria menyebabkan
keluarnya beberapa protein yang akan mengaktifkan caspase cascade. Salah satu
dari protein tersebut adalah cytochrome c. Didalam cytosol cytochrome c berikatan
dengan Apaf-1 (apoptosis activating factor-1) dan mengaktifkan caspase-9. ( Bcl-2
dan Bcl-x secara langsung menghambat aktivasi Apaf-1 dan kemudian menghilang
dari sel yang menyebakan dapt terjadi aktivasi Apaf-1). Protein mitokondria yang lain
seperti apoptosis initiating factor (AIF) memasuki sitoplasma yang akan berikatan
untuk menetralkan berbagai macam inhibitor apoptosis. Hal tersebut akan
mengaktifkan caspase cascade. (Kumar V et al., 2005; Pecorico L, 2005; Macdonal
F et al., 2004)
Gambar 06. Jalur intrinsik apoptosis (Sumber: Pathologic Basis of Disease 7th ed,
2005. Kumar, Abbas, Fausto)

3. Fase eksekusi ( the execution phase )

akhir dari fase apoptosis yang dibantu proteolytic cascade. Caspase family
terdiri lebih dar 10 macam yang mempunyai 2 fungsi dasar yaitu initiator caspase
seperti caspase-8 ,caspase-9 dan executioner caspase seperti caspase-3 dan
caspase-6. Executioner caspase bekerja pada komponen sel. Berikatan dengan
cytoskeletal dan nuclear matric proteins yang menyebabkan gangguan pada
cytoskleleton dan breakdown pada nukleus. Target aktivasi caspase di nukleus antara
lain transkripsi, DNA replikasi dan DNA repair. (Kumar V et al., 2005; Pecorico L,
2005; Macdonal F et al., 2004)

Sel yang mulai apoptosis secara mikroskopik akan mengalami perubahan


1. sel mengkerut dan bulat karena pemecahan proteinaseous sitoskeleton oleh
caspase
2. sitoplasma lebih padat
3. kromatin menjadi kondensasi dan fragmentasi yang pada membrane inti
(piknotik). Kromatin berkelompok di bagian perifer, dibawah membrane inti menjadi
massa padat dalam berbagai bentuk dan ukuran
4. membrane inti menjadi diskontinu dan DNA yang ada di dalamnnya pecah
menjadi fragmen fragmen (karioreksis). Degradasi DNA ini mengakibatkan inti
terpecah menjadi beberapa nukleosomal unit.
5. membrane sel memperlihatkan tonjolan tonjolan yang ireguler pada
sitoplasma
6. sel terpecah menjadi beberapa fragmen, yang disebut apoptotic bodies
7. apoptotic bodies akan difagosit oleh sel yang ada di sekitarnya

4. Pengangkatan sel yang mati

Sel yang mati pada tahap akhir apoptosis mempunyai suatu molekul fagositotik
pada permukaannya ( co : phosphatidylserine ) . phosphatidylserine ini pada keadaan
normal berada pada permukaan cytosolic dari plasma membran, tetapi pada proses
apoptosis tersebar pada permukaan ekstraseluler melalui protein scramblase. Molekul
ini merupakan suatu penanda sel untuk di fagositosis oleh sel yang mempunyai
reseptor yang sesuai, seperti makrofag. Selanjutnya sitoskeleton memfagosit melalui
engulfment pada molekul tersebut. Pengangkatan sel yang mati melalui fagosit terjadi
tanpa disertai dengan respon inflamasi.

sel apoptosis mempunyai marker molekul pada permukaan, yang membuat


dikenali sel didekatnya untuk difagosit dan dihilangkan. Makrofag reseptor akan
berikatan dengan sel apoptosis yang menyebabkan sel apoptosis dapat difagositosis.
Proses fagositosis sangat efisien menghilangkan sel yang mati sehingga tidak
menyebabkan proses inflamasi. (Kumar V et al., 2005; Pecorico L, 2005; Macdonal F
et al., 2004)

2.3. Hubungan Terapi Oksigen Hiperbarik terhadap Apoptosis

Studi mengenai hiperoksia berkepanjangan menunjukan peningkatan level dari


ROS (reactive Oxygen Spesies) melawan antioksidan dan menyebabkan kerusakan
seluler dan disfungsi organ.( gore a 2010 ) kerusakan jaringan bergantung terhadap
type cell, konsentrasi oksigen dan durasi paparan. Gore et al menyimpulkan
mekanisme molekuler dari hiperoksia-induced cell death, melibatkan sinyal kompleks
termaksut protein kinase dan receptor seperti RAGE, CXCR2, TLR3, dan TLR4
Kegagalan energy dapat meningkatkan akumulasi kalsium dalam intrasel,
sehingga terjadi disfungsi mitokondria, hiperbarik oksigen akan menghambat
terjadinya disfungsi mitokondria dengan menurunkan permeabilitas mitokondria dan
mencegah terjadinya apoptosis (Liu et al., 2015)

Studi apoptosis dari neoplasma yang diterapi dengan HBO sangat terbatas.
Studi pada 2 in vitro pada mammary dan oral cancer cells, menunjukan tidak ada
perubahan pada apoptosis setelah di terapi HBO (granowitz, suntb), Chen et al,
mengobservasi activasi dari jalur pro apoptosis MPAK dan penurunan regulasi dari
jalur anti apoptosis ERK pada hematopoetic cells setelah HBO. Pada osteosarcoma
cells also demonstrated induction of apoptosis (Kawasoe Y et al., 2009)

Pada penelitian yang di lakukan oleh Ashish Francis et al., 2017 Terapi HBO
meningkatkan regulasi dari ekspresi gen antioksidant pada cel endothelial pada
manusia, dimana hal tersebut mempertahankan dari kerusakan oksidativ pada
Iskemik reperfusion injury 37. Sebagai hasilnya terapi HBO menghasilkan efek yang
bermanfaat pada jaringan iskemik dengan menurunkan produksi ROS dan
peningkatan degradasi. 38 Pada studi baru baru ini mendemonstrasikan bahwa HBO-
induced inhibisi apoptosis dan peningkatan proliferasi sel 39

Terapi hiperbarik oksigen bertindak sebagai antikosidan yang dapat


menurunkan stress oksidatif. Stress oksidatif dianggap salah satu faktor yang
berkontribusi paling penting yang menyebabkan cedera iskemi reperfusi sereberal.
Stress oksidatif menyebabkan produksi berlebihan dari radikal bebas, secara
langsung atau tidak langsung memicu nekrosis dan apoptosis. Hipoksia yang
berkepanjangan akhirnya berkontribusi terhadap oksidasi dan ketidakseimbangan
system dan jaringan terhadap antioksidan. Terapi HBO yang tepat dapat secara efektif
mengurangi stress oksidatif. Namun demikian,HBO juga meningkatkan generasi ROS
dan spesies nitrogen reaktif. Dosis besar atau jadwal jangka panjang terapi HBO
dapat memperburuk cedera peroksidal dari iskemik (Ding et al., 2014)

Penelitian Li Y, et al. (2005), menyebutkan bahwa aktifasi jalur protein pro


apoptotic caspase-9 dan caspase-3 dengan adanya ikatan HIF-1α dengan protein p53
menyebabkan HIF-1α melakukan apoptosis. HIF-1α ( hypoxia-inducible factor-1α)
merupakan faktor transkripsi yang teraktivasi oleh adanya suatu hipoksia.
Peningkatan ekspresi HIF-1α, p53, caspase-9 dan caspase-3 merupakan tanda
terjadinya global ischemia-hypotension. Terapi hiperbarik oksigen 3 ATA selama 2
jam yang diaplikasikan satu jam setelah terjadinya global ischemia-hypotension dapat
menurunkan ekspresi HIF-1α, p53, caspase-9 dan caspase-3

Proses apoptosis dapat dipicu dengan jalur intrinsic maupun jalur ekstrinsik.
Pada jalur ekstrinsik melibatkan pertemuan antara sel permukaan sel death reseptor
dengan ligan superfamili reseptor TNF dan berkonsekuensi mengaktivasi caspase-8.
Pada jalur intrinsic melibatkan caspase-9 sebagai inisiator, yang berasal dari
mitokondria. Pada keadaan stress, mitokondria melepaskan sejumlah molekul
termaksut sitokrom c dan apaf-1 untuk membentuk gugus molekuler sitokrom yang
mengaktivasi caspase-9 dan menghambat efektor caspase-3. Kedua jalur apoptosis
tersebut terlibat dalam proses IDD (intervertebral Disc Degeneration), dimana jalur
intrinsic menginduksi proses degenerasi sedangkan jalur ekstrinsik menginduksi
herniasi dan kedua jalur menyebabkan perubahan discus. Penggunaan terapi
hiperbarik oksigen 2,5 ATA selama 2 jam sebanyak 3 kali dengan selang waktu 48
jam menunjukan hasil yaitu menurunkan aktivitas caspase-9 dan caspase-3 ( Niu et
al., 2012)

Terapi hiperbarik oksigen dapat meningkatkan radikal bebas di mitokondria.


Sehingga memicu tubuh membentuk homeostasis dengan meningkatkan superoksida
dismutase dan katalase sehingga akan meningkatkan oksigen dan menurunkan
radikal bebas. HBO bertindak sebagai proteksi terhadap tubuh (Yan et al, 2013)

Kemungkinan Bahwa penghambatan apoptosis dengan perlakuan HBO


menekan jalur apoptosis mitokondria, mengurangi sitoplasma di tingkat sitokrom-c,
menurunkan aktivitas enzim caspase dan meningkatkan rasio limfoma sel B 2 (Bcl-2)
dan Bcl-2 terkait X (Bax) ekspresi, sehingga mencegah DNA fragmentasi ( Xu et al.,
2016)

Terapi hiperbarik oksigen meningkatkan oksigen dalam tubuh. Oksigen yang


terlarut akan di transport ke mitokondria, sehingga eritrosit akan merilis oksigen ke
plasma. Supply oksigen yang meningkat akan meningkatkan proses penyembuhan
setelah injury (Efrati S, et al., 2013)