Anda di halaman 1dari 18

BAB 5.

KEPAILITAN

Oleh : Kelompok 6 (3I)

1. Komang Aprilia Enisari 1717051104


2. Putu Santiani 1717051079
3. Ni Wayan Krisna Utami 1717051200
4. Made Sandi Merta 1717051181

JURUSAN AKUNTANSI PROGRAM S1


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang
telah memberikan kesehatan serta kesempatan sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini yang berjudul “KEPAILITAN”, meskipun belum
terlalu sempurna.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Arya Darmayasa, selaku
dosen pengajar Hukum Bisnis yang telah membimbing kami dalam pembuatan
makalah ini, dan beberapa sumber yang telah kami pakai data dan fakta pada
makalah ini. Kami menyadari bahwa kami adalah manusia yang mempuanyai
keterbatsan dalam berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada yang dapat diselesaikan
dengan sempurna dalam makalah kami ini. Kami melakukannya dengan
semaksimal mungkin dengan kemampuan yang Kami miliki. Dimana kami juga
memiliki keterbatasan dan kekurangan, maka dari itu kami bersedia menerima
kritik dan saran sebagai batu loncatan yang dapat memperbaiki makalah kami ini
dimasa mendatang.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada pembaca yang
meluangkan waktunya untuk membaca makalah ini. Semoga dengan adanya
makalah ini dapat memperluas wawasan kita semua.

Singaraja, 24 September 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI
CAVER .......................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................................ 2
1.4 Manfaat ..................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Kepailitan ..................................................................................... 3
2.2 Beberapa Pengertian .................................................................................. 4
2.3 Akibat Dijatuhkannya Pailit ...................................................................... 6
2.4 Golongan Orang Berpiutang ...................................................................... 6
2.5 Pengurusan Harta Pailit ............................................................................. 7
2.6 Keadaan Hukum Debitur Setelah Berakhirnya Pemberesan ..................... 9
2.7 Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) .................................. 9
2.8 Pengadilan Niaga ....................................................................................... 11

BAB III PENUTUP


3.1 Simpulan .................................................................................................... 13
3.2 Saran .......................................................................................................... 14

Daftar Pustaka

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan perekonomian global membawa pengaruh terhadap
perkembangan hukum terutama hukum dagang yang merupakan roda
penggerak perekonomian. Dalam rangka menyesuaikan dengan perekonomian
global, Indonesia melakukan revisi terhadap seluruh hukum ekonominya.
Namun demikian tidak dapat disangkal bahwa perubahan tehadap hukum
ekonomi Indonesia dilakukan juga karena tekanan dari badan-badan dunia
seperti WTO, IMF dan Worl bank. Bidang hukum yang mengalami revisi
antara lain adalah huku kepailitan. Hukum kepailitan sendiri merupakan
warisan dari pemerintahan Kolonial Belanda yang notabenenya bercorak
sistem hukum Eropa Kontinental. Di Indonesia saat ini dalam hukum ekonomi
mendapat pengaruh yang cukup kuat dari sistem Anglo Saxon.
Pada dasarnya kepailitan terjadi karena makin pesatnya perkembangan
perekonomian dan perdagangan dimana muncul berbagai macam permasalahan
utang piutang yang timbul dalam masyarakat. Begitu juga dengan krisis
moneter yang terjadi di Indonesia telah memberikan dampak yang tidak
menguntungkan terhadap perekonomian nasional sehingga menimbulkan
kesulitan besar terhadap dunia usaha dlam menyelesaikan utang piutang untuk
meneruskan kegiatan usahanya.
Mempelajari perkembangan hukum kepailitan yang berlaku di
Indonesia tidak terlepas dari kondisi perekonomian nasional khususnya yang
terjadi pada pertengahan tahun 1997. Pada pertengahan tahun 1997 terjadi
depresiasi secara drastis nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing khususnya
US $ dari sekitar Rp2.300,00 pada sekitar bulan Maret menjadi sekitar
Rp5.000,00 per US $ pada akhir tahun 1997. Bahkan pada pertengahan tahun
1998 nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp16.000,00 per US $. Kondisi
perekonomian ini mengakibatkan keterpurukan terhadap pertumbuhan ekonomi
yang sebelumnya positif sekitar 6-7% telah terkontraksi menjadi minus 13-
14%. Tingkat inflasi meningkat dari di bawah 10% menjadi sekitar 70%.

1
Banyak perusahaan yang kesulitan membayar kewajiban utangnya terhadap
para kreditor dan lebih jauh lagi banyak perusahaan yang mengalami
kebangkrutan(pailit).(sumber :http://iusyusephukum. blogspot.com/2013/05/
makalahkepalitan.html?m=1)
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah kepailitan?
2. Jelaskan beberapa pengertian dalam kepailitan?
3. Apa saja akibat dijatuhkannya pailit?
4. Siapa saja yang termasuk golongan orang berpiutang?
5. Bagaimana pengurusan harta pailit?
6. Bagaimana keadaan hukum debitur setelah berakhirnya pemberesan?
7. Bagaimana Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)?
8. Apa saja tugas dan fungsi pengadilan niaga?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah kepailitan
2. Untuk mengetahi beberapa pengertian dalam kepailitan
3. Untuk mengetahui apa saja akibat dijatuhkannya pailit
4. Untuk mengetahui siapa saja yang termasuk golongan orang berpiutang
5. Untuk mengetahui pengurusan harta pailit
6. Untuk mengetahui bagaimana keadaan hukum debitur setelah berakhirnya
pemberesan
7. Untuk mengetahui Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
8. Untuk mengetahui tugas dan fungsi pengadilan niaga
1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dengan adanya makalah ini :
1. Untuk pembaca/ mahasiswa : Dapat memahami dengan mudah mengenai
Kepailitan, baik dari pengertian, akibat, pengurusan harta pailit, dan tugas
dan fungsi pengadilan niaga
2. Bagi masyarakat : Dapat menambah wawasan dan pengetahuan
masyarakat mengenai Kepailitan itu sendiri.

2
BAB II
PEMBAHASAAN

2.1 Sejarah Kepailitan


Pailit, faillieti (dalam bahasa Belanda), atau bangkrupt (dalam bahasa
Inggris). Pailit pada masa Hindia –Belanda tidak dimasukkan ke dalam KUH
Dagang (WvK) dan diatur dalam peraturan tersendiri ke dalam Faillissement-
verordening, sejak 1906 yang dahulu diperuntukkan bagi pedagang saja tetapi
kemudian dapat digunakan untuk golongan mana saja. Masalah pailit
sebagaimana peraturan lainnya, dirasakan sangat penting keberadaannya.
Tahun 1997, ketika krisis ekonomi melanda Inonesia dimana hampir seluruh
sendi kehidupan perekonomian nasional rusak, termasukdunia bisnis dan
masalah keamanan investasi di Indonesia. Krisis tersebut membawa makna
perubahan yang sangat penting bagi perkembangan peraturan kepailitan di
Indonesia selanjutnya. Didasari bahwa peraturan lama dan yang masih
berlaku ternyata tidak bisa menyesuaikan denga kebutuhan perubahan zaman.
Oleh karenanya itu, pada 1998, pemerintah mengeluarkan undang-undang
Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan, yang merupakan:
 Perbaikan terhadap Faillissement-verordening 1906,
 Adanya penambahan pasal yang mengatur tentang Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
 Mengenal istilah pengadilan niaga, di luar pengadilan umum untuk
menyelesaikan sengketa bisnis.
Selanjutnya pada tahun 2004, pemerintah mengeluarkan lagi Undang-
undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang yang merupakan perbaikan terhadap peraturan perundang-
undangan sebelumnya. Undang-undang tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang ini didasarkan pada beberapa asa. Asas-asas
tersebut antara lain:
a. Asas Keseimbangan, yaitu disatu pihak, terdapat ketentuan yang dapat
mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh
debitur yang tidak jujur, di lain pihak, terdapat ketentuan yang dapat

3
mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh
kreditur yang tidak beriktikad baik.
b. Asas kelangsungan Usaha, dalam undang-undang ini, terdapat ketentuan
yang memungkinkan perusahaan debitur yang prosfektif tetap
berlangsung.
c. Asa keadilan, bahwa ketentun mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa
keadilan bagi para pihak yang berkepentingan. Asa keadilan ini untuk
mencegah tejadinya kesewenang-wenangan pihak penagih yang
mengusahakan pembayaran atas tagihan masing-masing terhadap debitur,
dengan tidak memedulikan debitur lainya.
d. Asa Integrasi, asa ini mengandung pengertian bahwa sistem hukum formal
dan hukum materiilnya merupakan satu kesatuan yang utuh dari sistem
hukum perdata dan hukum acara perdata nasional.
Beberapa pokok materi baru dalam undang-undang tentang Kepailitan
dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ini, antara lain:
 Agar tidak menimbulkan berbagai penafsiran dalam undang-undang ini
pengertian utang diberikan batasan secara tegas, demikian juga pengertian
jatuh waktu.
 Mengenai syara-syarat dan prosedur permohonan pernyataan pailit dan
permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang termasuk di
dalamnya pemberian kerangka waktu secara pasti bagi pengambilan
putusan pernyataan pailit dan/atau penundaan kewajiban pembayaran
utang.

2.2 Beberapa Pengertian


Pailit adalah suatu usaha bersama untuk mendapat pembayaran bagi
semua kreditur secara adil dan tertib, agar senua kreditur mendapat
pembayaran menurut imbangan besar kecilnya piutang masing-masing
dengan tidak berebutan
Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang
pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan

4
hakim pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang No.37 Tahun
2004.
Adapun yang dapat dinyatakan pailit adalah seorang debitur
(berutang) yang sudah dinyatakan tidak mampu membayar utang-utangnya
lagi. Pailit dapat dinyatakan atas:
1. Permohonan debitur sendiri
2. Permohonan satu atau lebih kreditornya. (Menurut pasal 8 sebelum
diputuskan pengadilan wajib memanggil debitornya).
3. Pailit harus dengan putusan pengadilan (Pasal 2 ayat 1).
4. Pailit bisa atas permintaan kejaksaan untuk kepentingan umum (Pasal 2
ayat 2), pengadilan wajib memanggil debitur (Pasal 8).
5. Bila debitornya bank, pemohonan pailit hanya dapat diajukan oleh Bank
Indonesia.
6. Bila debitornya perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring dan
penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, permohonan pailit
hanya dapat dilakukan oleh badan pengawas pasar modal (Bapepam).
7. Dalam hal debitornya perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, dana
pensiun, atau Badan Usaha Milik negara yang bergerak di bidang
kepentingan publik, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan
oleh Menteri keungan.
Adapun menurut Pasal 50 UU No.40 Tahun 2014 menyatakan
permohonan penyataan pailit terhadap perusahaan asuransi, perusahaan
asuransi syariah, perusahaan asuransi, atau perusahaan reasuransi syariah
berdasarkan undang-undang ini hanya dapat diajukan oleh Otoritas Jasa
Keuangan (OJK).
Dalam Pasal 6, permohonan pernyataan pailit dapat di tujukan kepada:
a. Ketua pengadilan, dan panitera mendaftarkan permohonan pernyataan
pailit pada tanggal permohonan yang bersangkutan ajukan.
b. Bila denitur dalam keadaan berhenti membayar (utang poko maupun
bunganya).
c. Bila terdapat dua atau lebih kreditur dan debitur tidak membayar lunas,
sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.

5
Adapun tujuan pernyataan pailit sebenarnya adalah untuk
mendapatkan suatu penyitaan umum atas kekayaan debitur (segala harta
benda disita/dibekukan) untuk kepentingan senua orang mengutangkannya
(debitur). Prinsipnya kepailitan itu adalah suatu usaha bersama untuk
mendapatkan prmbayaran bagi semua orang berpiutang secara adil.

2.3 Akibat Dijatuhkannya Pailit


1. Debitur kehilangan segala haknya untuk menguasai dan mengurus atas
kekayaan harta bendanya (asetnya) baik mejual, mrnggadai, dan lainnya.
Serta segala sesuatu yang diperoleh selama kepailitan sejak tanggal
putusan pernyataan pailit diucapkan.
2. Utang-utang baru tidak lagi dijamin oleh kekayaannya.
3. Untuk melindungi kepentingan kreditur, selama keputusan atas
permohonanpernyataan pailit belum diucapkan, kreditur dapat mengajukan
permohonan kepada pengadilan untuk:
a. Meletakkan sita jaminan terhadap sebagian atau seluruh kekayaan
debitur.
b. Menunjuk kurator sementara untuk mengawasi pengelolaan usaha
debitur, menerima pembayaran kepada debitur, pengalihan atau
penggunaan kekayaan debitur (pasal 10).
4. Harus diumumkan di dua surat kabar (pasal 24 ayat 4).

2.4 Golongan Orang Berpiutang


Menurut pasal 55 UU No. 37 Tahun 2004, para krditur dapat
bibagi dalam beberapa golongan:
A. Golongan separatisen, yaitu kreditur pemegang gadai, jaminan fidusia,
biasanya disebut kreditur preferen, yaitu para kreditur yang mempunyai
hak didahulukan, disebut demikian karena para kreditur yang telah
diberikan hak untuk mengeksekusi sendiri haknya dan melaksanakan
seolah-olah tidak ikut campur. Dalam arti lain, kreditur ini dapat
menyelesaikan secara terpisah di luar urusan kepailitan. Meskipun

6
demikian, untuk melaksanakannya menurut ketentuan undang-undang para
kreditur tidak bisa langsung begitu saja melaksanakannya.
B. Golongan dengan hak privilege, yaitu orang-orang mempunyai tagihan
yang diberikan kedudukan istimewa. Sebagai contoh, penjual barang yang
belum menerima pembayarannya, mereka menerima pelunasan terlebih
dahulu dari pendapatan penjualan barang yang bersangkutan setelah itu
barulah kreditur lainnya. (kreditur konkuren)
Menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003,
Pasal 95 Ayat 4, sebenarnya menjamin didahulukannya hak pekerja, Pasal itu
berbunyi, “Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi
berdasarkan peraturan perundang-undanagn yang berlaku, maka upah dan hak-
hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan
pembayarannya”. Dimana perusahaan dalam proses pailit, karyawan termasuk
ke dalam golongan ini.

2.5 Pengurusan Harta Pailit


1. Hakim Pengawas
Hakim Pengawas atau Rechter Commisaris (dalam bahasa Belanda)
seperti yang diatur dalam Pasal 65 adalah hakim yang diangkat oleh
pengadilan untuk mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit.
a. Kalau masalah kepailitannya besar (kakap) dapat diangkat panitia
kreditur.
b. Memimpin rapat verifikasi, rapat untuk mengesahkan piutang-piutang.

2. Kurator
a. Tugas Kurator
Menurut pasal 69 tahun No. 37 tahun 2004, Kurator memiliki tugas:
1. Melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit.
2. Segala tindakan Kurator tidak harus mendapat persetujuan dari Debitur.
3. Dapat melakukan pinjaman dari pihak ketiga (dalam rangka
meningkatkan nilai harta pailit).
4. Kurator itu bisa berupa Balai Harta Peninggalan (BHP), atau Kurator
lainnya (pasal 70 ayat 1).

7
b. Menjadi Kurator
Menurut Pasal 70 ayat 2, yang dapat menjadi kurator adalah:
1. Orang yang memiliki keahlian khusus untuk mengurus atau
membereskan harta pailit yang berdomisili di wilayah RI.
2. Terdaftar di Departement Hukum dan Perundang-undangan.

c. Kurator dapat Diganti


Menurut Pasal 71 ayat 1 UU No. 37 Tahun 2004, seorang kurator dapat
diganti, pengadilan dapat diganti, memanggil, mendengar kurator, atau
mengangkat kurator tambahan:
1. Atas permohonan kurator sendiri.
2. Atas permohonan kurator yang lain, jika ada.
3. Usulan Hakim pengawas.
4. Atas usulan debitur pailit.
5. Atas usul kreditur konkuren.

d. Tanggung Jawab Kurator


Menurut Pasal 72 UU No. 37 tahun 2004, seorang Kurator mempunyai
tanggung jawab:
1. Terhadap kesalahan atau kelalaian dalam tugas pengurusan atau
pemberesan yang menyebakan kerugian pada harta pailit.
2. Kurator yang ditunjuk untuk tugas khusus berdasarkan keputusan
pernyataan pailit, berwenang untuk bertindak sendiri sebatas tugasnya
(Pasal 73 ayat 3).
3. Kurator harus menyampaikan kepada hakim pengawas mengenai
keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya setiap 3 bulan (Pasal 74
ayat 1).
4. Upah Kurator ditetapkan berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh
Mentri Hukum dan Perundang-undangan.

3. Panitia Kreditur
Dalam keputusan pailit dengan penetapan, kemudian pengadilan dapat
membentuk panitia kreditur sementara yang terdiri dari 3 orang terpilih
dari kreditur yang dikenal dengan pemberi nasihat kepada Kurator.

8
Setelah pencocokan utang selesai dilakukan, hakim pengawas wajib
menawarkan kepada kreditur untuk membentuk panitia kreditur tetap.

2.6 Keadaan Hukum Debitur Setelah Berakhirnya Pemberesan


Setelah daftar pembagian penutup menjadi mengikat, maka kreditur
memperoleh hak eksekusi terhadap harta debitur mengenai piutang mereka
yang belum dibayar.
Pengakuan suatu piutang mempunyai kekuatan hukum tetap terhadap
debitur seperti suatu putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap.

2.7 Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)


Hal yang paling berbeda dengan hukum kepalitan sebelumnya adalah
UU Nomor 37 Tahun 2004 sudah lebih lengkap mengatur masalah penundaan
kewajiban debitur untuk membayar utang-utangnya dengan maksud debitur
yang memiliki itikad untuk menyelesaikan seluruh atau sebagian utang-
utangnya dengan jalan damai. Keadaan yang demikian disebut “keadaan
surseance” , dimana yang pailit dapat mengajukan permohonan kepaa
pengadilan ( niaga atau komersial ) untuk suatu penguduran umum dari
kewajibannya untuk membayar utang-utangnya dengan maksud untuk
mengajukan rencana perdamaian, baik seluruh maupun sbagian utang kepada
kreditur. Keadaan surseace dapat diajukan :
a. Harus persetujuan lebih setengah kreditur konkuren yang haknya diakui
atau sementara diakui (Pasal 229)
b. Hadir dan mewakili paling sedikit dua pertiga dari tagihan yang diakui atas
sementara diakui.
c. Persetujuan lebih dari setengah jumlah kreditur yang piutangnya dijamin
dengan gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek atau hak agunan
atas kebendaan lainnya yang hadir dan mewakili paling sedikit dua pertiga
bagian seluruh tagihan kreditur atau kuasanya yang hadir dalam siding.
d. Diumumkan di dua Koran dan berita RI.

9
e. Apabila PKPU tetap distujui, penundaan tersebut berikut perpanjangannya
tidak boleh melebihi 270 hari setelah putusan penundaan kewajiban
pembayaran utang sementara diucapkan (Pasal 228 ayat 6).
Adapun “keadaan insolventie”, seperti dimaksud Pasal 290 UU No. 37
tahun 2004 adalah suatu keadaan debitur sudah sungguh-sungguh pailit
atau tidak mampu lagi untuk membayar utang-utangnya. Untuk hal ini
kreditur diberi waktu dua bulan untuk menggunakan hak khususnya
terhadap keadaan insolventie tersebut.

Adapun yang menjadi maksud dan tujuan PKPU adalah sesuai dengan yang
tercantum pada ketentuan pasal 222 ayat (2) dan (3) UU No. 37 Tahun 2004 :
“(2) Debitor yang tidak dapat atau memperkirakan tidak akan dapat
melanjutkan membayar utang-utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat
ditagih, dapat memohon penundaan kewajiban pembayaran utang dengan
maksud untuk mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran
pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada kreditor.
(3) Kreditor yang memperkirakan bahwa debitor tidak dapat
melanjutkan membayar utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih,
dapat memohon agar kepada debitor diberi penundaan kewajiban pembayaran
utang, untuk memungkinkan debitor mengajukan rencana perdamaian yang
meliputi tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada kreditornya."
Dimana dari pasal tersebut dapat diartikan bahwa secara umum, maksud
dari PKPU adalah untuk mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran
pembayaran seluruh atau sebagian utang kepada kreditur konkuren, sedangkan
tujuannya adalah untuk kreditur konkuren, sedangkan tujuannya adalah untuk
memungkinkan seseorang debitor meneruskan usahanya meskipun ada kesukaran
pembayaran dan untuk menghindari kepailitan. (sumber : http://e-
lawenforcement.blogspot.com/2014/09/penundaan-kewajiban-pembayaran-
utang_14.html)

10
2.8 Pengadilan Niaga
Penjelasan Umum UU Kepailitan menyebutkan bahwa
dibentuknya Pengadilan Niaga dimaksudkan sebagai diferensial atas
Peradilam Umum, dimana Pengadilan Niaga merupakan satu-satunya
lembaga peradilan yang berwenang untuk menyelesaikan masalah kepailitan
di samping masalah- masalah yang berkaitan dengan perdagangan yang
penetapannya akan dilakukan dengan peraturan pemerintah, dengan
memperhatikan tingkat kebutuhan dan kemampuan serta ketersediaan sumber
daya manusia. Pengadilan Niaga merupakan bagian dari Peradilan Umum
Pembentukan Pengadilan Niaga tidak terlepas dari Memorandum
Tambahan Kesepakatan Ketiga Indonesia dengan IMF (International Montery
Fund), yang di sepakati pada tanggal 8 April 1998, khususnya kesepakatan
yang tertuang dalam Lampiran Vii, yaitu tentang Indonesia: Bankruptcy and
Judi cial Reforms dalam ketentuan Inl Indonesia sepakat untuk
memperbaharul UU Kepaliltan, dimana salah satu yang akan diperbaharui
adalah dibentuknya Peradilan Komerslal Khusus (Special Commercial
Court). Badan ini akan menangani proses kepailitan dan sengkketa dagang.
Peradilan tersebut akan ditangani oleh hakim yang dlatih secara khusus, serta
putusan banding dari Peradilan Komerslal Khusus akan ditangani Mahkamah
Agung
Khusus berkaitan dengan kewenangan untuk memeriksa dan
perkara permohonan pernyataan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran
utang, Pasal 280 ayat (1) UU Kepaliltan menyatakan: "Permohonan
pernyataan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran utang sebagala mana
dimaksud Bab Pertamadan dan Bab Kedua, diperiksa dan diputuskan oleh
Pengadilan Niaga yang berada di lingkungan Peradilan Umum"
Penjelasan Pasal 280 ayat(1) menegaskan lagi: "Dengan ketentuan
ini, semua permohonan pernyataan pailit dan penundaan kewajiban
pembayaran utang yang diajukan setelah berlakunya undang-undang tentang
kepaliltan diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang,
hanya dapat diajukan kepada Pengadilan Niaga". (Sumber : Konflik Yurisdiksi

11
antara Arbitrase dan Pengadilan Niaga. JURNAL HUKUM. NO. 19 VOL 9.
FEBRUARI2002:29 – 50.)
Menurut pasal 306 UU No. 37 tahun 2004, pengaturan pengadilan
niaga atau komersial di luar pengadilan umum, yang dikhususkan untuk
kasus-kakus bisnis/ekonomi dan HaKI, dengan demikian terhadap perkara-
perkara tersebut mrupakan suatu terobosan yang baik bagi dunia peradilan di
Indnesia sehingga penyelesaian perkara diharpkan bisa lebih cepat dan
murah.
Adapun tugas dan fungsi dari pengadilan niaga ini adalah :
1. Memeriksa dan memutuskan permohonan pernyataan pailit dan penundaan
kewajiban pembayaran utang.
2. Berwenang memeriksa dan menentukan perkara lain di bidang perniagaan.
3. Prosedur yang diterapkn bisa lebih cepat dalam hal :
a. Perkara selesai dalam 30 hari;
b. Tidak ada banding, langsung kasasi ke Mahkamah Agung (MA),
putusan dalam 30 hari; dan
c. Dimungkinkan diajukan Peninjauan Kembali (PK).

12
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari materi yang di sajikan dapat kami simpulkan bila materi
Kepailitian terdiri dari beberapa pembahasaan pokok yaitu :
1. Sejarah kepailitan
2. Pengertian dalam kepailitan
3. Akibat dijatuhkannya pailit
4. Golongan orang berpiutang
5. Pengurusan harta pailit
6. Keadaan hukum debitur setelah berakhirnya pemberesan
7. Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
8. Pengadilan niaga
Pailit, faillieti (dalam bahasa Belanda), atau bangkrupt (dalam bahasa
Inggris). Pailit pada masa Hindia –Belanda tidak dimasukkan ke dalam KUH
Dagang (WvK) dan diatur dalam peraturan tersendiri ke dalam Faillissement-
verordening, sejak 1906 yang dahulu diperuntukkan bagi pedagang saja tetapi
kemudian dapat digunakan untuk golongan mana saja. Pada tahun 1997
masalh pailit sangat pengting dirasakan sehingga pada tahun 1998,
pemerintah mengeluarkan undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang
Kepailitan.
Pailit adalah suatu usaha bersama untuk mendapat pembayaran bagi
semua kreditur secara adil dan tertib, agar senua kreditur mendapat
pembayaran menurut imbangan besar kecilnya piutang masing-masing
dengan tidak berebutan. Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan
debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di
bawah pengawasan hakim pengawas sebagaimana diatur dalam undang-
undang No.37 Tahun 2004.
Akibat dijatukannya pailit , debitur kehilangan segala haknya untuk
menguasai dan mengurus atas kekayaan harta bendanya (asetnya) baik
mejual, mrnggadai, dan lainnya. Serta segala sesuatu yang diperoleh selama

13
kepailitan sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan. Menurut pasal
55 UU No. 37 Tahun 2004, para krditur dapat bibagi dalam beberapa
golongan Golongan separatisen, dan Golongan dengan hak privilege. Adapun
yang tersangkut dalam pengurusan harta pailit adalag : Hakim pengawas,
Kurator, dan Panitia kreditur.
Dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) telah diatur
dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 sudah lebih lengkap mengatur masalah
penundaan kewajiban debitur untuk membayar utang-utangnya dengan
maksud debitur yang memiliki itikad untuk menyelesaikan seluruh atau
sebagian utang-utangnya dengan jalan damai. Mengenai pengadilan niaga
Menurut pasal 306 UU No. 37 tahun 2004, pengaturan pengadilan niaga atau
komersial di luar pengadilan umum, yang dikhususkan untuk kasus-kakus
bisnis/ekonomi dan HaKI, dengan demikian terhadap perkara-perkara
tersebut mrupakan suatu terobosan yang baik bagi dunia peradilan di Indnesia
sehingga penyelesaian perkara diharpkan bisa lebih cepat dan murah.

3.2 SARAN
Saran yang dapat kami sampaikan semoga dengan adanya makalah ini
dapat membantu para pembaca, para mahasiswa, masyarakat dan pihak
wirausahawan dapat memperoleh pemahaman mengenai pembelajaran hukum
bisnis, khususnya teori kepailitan yang berkaitan dengan pengembangan
usaha-usahanya. Dengan tujuan agar dapat mencegah terjadinya kepailitan
pada bisnis yang akan di kembangkan. Selain itu, dengan adanya makalah ini
kami berharap mahasiswa lebih termotivasi dan mampu mengembangkan
bakat dan jiwa wirausaha dengan memperhatikan teori kepailitan sebagai
acuan dalam pengindaran terjadinya kebangkrutan bisnis.

14
DAFTAR PUSTAKA

Saliman Rasyid Abdul, 2017. HUKUM BISNIS UNTUK PERUSAHAAN : Teori


dan Contoh Kasus. Jakarta : Edisi Keenam.

Saliman Rasyid Abdul, 2010. HUKUM BISNIS UNTUK PERUSAHAAN TEORI


DAN CONTOH KASUS. Jakarta : Edisi Kedua.

Sujitno. FEBRUARI 2002. Konflik Yurisdiksi antara Arbitrase dan Pengadilan


Niaga. JURNAL HUKUM. NO. 19 VOL 9. FEBRUARI2002:29 – 50.
file:///C:/Users/toshiba/Downloads/4900-8008-1-PB.pdf

BERBAGAI ILMU HUKUM. Penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).


http://e-lawenforcement.blogspot.com/2014/09/penundaan-kewajiban-
pembayaran-utang_14.html

http://iusyusephukum.blogspot.com/2013/05/makalah-kepalitan.html?m=1

15