Anda di halaman 1dari 8

JIDAN

Jurnal Ilmiah Bidan ISSN : 2339-1731

Analisis Implementasi Program Kesehatan Ibu Dan Anak (Kia) Di


Puskesmas Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Manado
Tahun 2014

Ellen Pesak, Bongakaraeng


Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado

ABSTRAK

Latar Belakang : Program Kesehatan Ibu an Anak merupakan kegiatan yang meliputi upaya
preventif, promotif, kuratif dan rehabilitasi. Di Kota Manado terjadi penurunan cakupan pelaksanaan
Program Kesehatan Ibu an Anak selama dua tahun berturut-turut (2009-2010).
Tujuan : Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan implementasi Program Kesehatan
Ibu dan Anak di puskesmas wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Manado.
Metode : penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang disajikan secara deskriptif eksploratif.
Informan utama adalah 3 orang perawat dan 1 orang perawat gigi. Informan triangulasi adalah 4
orang Kepala Puskesmas, 4 orang Guru UKS SD, dan Kasie Kesga DKK Manado. Pengumpulan data
dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi menggunakan chek list dan studi dokementasi.
Hasil penelitian : menunjukkan bahwa Implementasi program KIA di puskesmas masih ada yang
tidak sesuai jadwal dalam pelaksanaannya. Komunikasi ke pihak sekolah belum tersampaikan dengan
jelas, masih ada yang tidak menggunakan juknis dalam melaksanakan program KIA. Sumberdaya
berupa tenaga, dana, dan fasilitas masih belum mencukupi kebutuhan program KIA. SOP pelaksanaan
program KIA belum ada secara tertulis.

Kata Kunci : Program KIA, Implementasi, Kebijakan

PENDAHULUAN
Puskesmas adalah Unit Pelaksana
Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota (kuratif) dan pengobatan secara berkala.
(2-3)
yang bertanggung jawab Kebijakan Publik menurut Riant
menyelenggarakan Pembangunan Nugroho adalah sebuah keputusan di buat
Kesehatan di suatu wilayah kerja, salah oleh negara atau pemerintah, sebagai
satu programnya adalah Kesehatan Ibu dan strategis untuk merealisasikan tujuan
Anak, yang bertujuan melaksanakan negara bersangkutan. Kebijakan
(1) merupakan suatu solusi, namun tidak
pembinaan kesehatan di sekolah.
Pembinaan yang diberikan adalah semua solusi merupakan sebuah
(4-5)
pencegahan penyakit dengan imunisasi kebijakan.
atau yang disebut preventif, memberikan Menurut Peraturan Menteri Negara
penyuluhan tentang kesehatan (promotif) pendayagunaan Aparatur Negara No :
pada umumnya, dan usaha kesehatan PER/04/M.PAN/4/2007. Kebijakan adalah
sekolah pada khususnya, yaitu kepada Keputusan yang dibuat oleh suatu lembaga
kepala sekolah, guru KIA serta peserta pemerintah atau organisasi dan bersifat
didik dalam meningkatkan peran serta mengikat para pihak terkait dengan
dalam pelaksanaan program KIA, dan lembaga tersebut. Keberhasilan
melakukan penjaringan pemeriksaan implementasi kebijakan ditentukan oleh
banyak variabel/faktor yang saling
Volume 4 Nomor 2. Juli – Desember 2016 84
JIDAN
Jurnal Ilmiah Bidan ISSN : 2339-1731

berinteraksi satu sama lain secara adalah untuk menjelaskan implementasi


(6) program KIA di puskesmas wilayah kerja
dinamis. George C. Edwards III
merumuskan 4 faktor utama yang Dinas Kesehatan Kota Manado, karena
menentukan keberhasilan suatu kebijakan faktor komunikasi, sumberdaya, disposisi
yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi yang sangat
(sikap birokrasi/pelaksana) dan struktur berpengaruh dalam keberhasilan
(7-8) implementasi program KIA di puskesmas.
organisasi.
Berdasarkan Laporan Dinas Kesehatan METODE
Kota Manado tahun 2009 dan 2010 Penelitian ini menggunakan
menunjukkan bahwa ada penurunan rancangan penelitian dengan pendekatan
cakupan pelaksanaan program KIA di kualitatif yang disajikan secara deskriptif
puskesmas baik yang berada di pusat kota (9)
eksploratif. Pendekatan waktu
maupun di pinggiran kota.
Program Kesehatan Ibu dan Anak pengumpulan data adalah cross sectional.
merupakan kegiatan yang meliputi upaya Sampel penelitian ini adalah 4 orang
preventif, promotif, kuratif dan pelaksana program KIA di4 puskesmas
rehabilitasi. Di puskesmas wilayah kerja terpilih yang jauh dari pusat kota dan dekat
Kota Manado program KIA mengalami dari pusat kota dengan cakupan tertinggi
kendala diantaranya ada penurunan dan terendah. Data yang digunakan pada
cakupan pelaksanaan program KIA di penelitian ini adalah data primer yaitu
puskesmas baik yang berada di pinggiran wawancara mendalam (Indept Interview)
dan jauh dari Kota Manado dan puskesmas pada subjek penelitian dan data sekunder
yang berada di tengah Kota Manado. melalui observasi terhadap fasilitas yang
Masih ada puskesmas yang belum menunjang program KIA di puskesmas.
melaksanakan dengan lengkap kegiatan Pengumpulan data melalui wawancara
program KIA. Komunikasi antara Dinas mendalam yang dilakukan kepada
Kesehatan Kota Manado dengan informan utama yaitu 3 orang perawat
Koordinator Program KIA, kemudian dan 1 orang perawat gigi dengan masa
disampaikan ke pelaksana program tidak kerja minimal 2 tahun sebagai pelaksana
berfokus pada inti permasalahan tersebut, program KIA di puskesmas, dan informan
serta sosialisasi dan monitoring dari DKK triangulasi yang dilakukan kepada 4 orang
Manado ke puskesmas tidak dilakukan. Kepala Puskesmas, 4 orang Guru KIA di
Masih kurangnya sumber daya manusia SD, dan 1 orang Kasie Kesga Dinas
dan biaya operasional program KIA, serta Kesehatan Kota Manado. Analisis data
sarana dan prasarana masih kurang. SOP diolah sesuai karakteristik dengan analisis
belum sepenuhnya dijalankan, kurangnya isi (content analysis)yaitu pengumpulan
dukungan berupa perhatian dari Kepala data, reduksi data, verifikasi disajikan
Puskesmas dan Koordinator program dalam bentuk deskriptif, kemudian
dalam melaksanakan tugas pokok di dilakukan penarikan kesimpulan.
puskesmas. Oleh karena itu masih banyak HASIL DAN PEMBAHASAN
terdapat masalah yang perlu dilihat secara Hasil penelitian menunjukkan
lebih mendalam. Tujuan penelitian ini bahwa jumlah informan utama 4 orang

Volume 4 Nomor 2. Juli – Desember 2016 85


JIDAN
Jurnal Ilmiah Bidan ISSN : 2339-1731

pelaksana program KIA di puskesmas Komunikasi yaitu menunjukkan bahwa


yaitu IU1, IU2, IU3, IU4 dengan latar setiap kebijakan akan dapat dilaksanakan
belakang pendidikan SPK, D.III dengan baik jika terjadi komunikasi efektif
Keperawatan, D.III Kesehatan Gigi, dan antara pelaksana kebijakan dengan
Sarjana Keperawatan, rata-rata masa kerja kelompok sasaran. Dari 2 orang perawat
antara 2- 30 tahun, jenis kelamin 3 orang dan perawat gigi mengatakan bahwa
perempuan, dan 1 orang laki-laki. Untuk jadwal program KIA ada, tetapi juknis
informan triangulasi adalah 9 orang yang program KIA tidak ada, pernyataan ini
terdiri dari 4 orang sebagai Kepala terdapat pada puskesmas yang jauh
Puskesmas yaitu IT1, IT2, IT3, IT4, 4 maupun yang dekat dari pusat kota dengan
orang sebagai Guru KIA di SD yaitu IT5, cakupn tertinggi dan terendah, seperti
IT6, IT7, IT8 sedangkan 1 orang sebagai yang diungkapkan dalam kotak 2 di bawah
Kasie Kesga di Dinas Kesehatan Kota ini :
Manado yaitu IT9, dengan usia antara 32-
47 tahun, pendidikan terakhir S1 Kotak 2
“..... Ya bu... torang disini kalo jadwal
kedokteran 4 orang, S1 Pendidikan 4
KIA ada, mar kalo juknis nyanda
orang, dan 1 orang D.III Gizi, jenis ada....” (IU1), (IU4).
kelamin 5 orang perempuan, 4 orang laki- “..... Kami disini kalau jadwal Program
laki. KIA ada, tetapi kalau juknis tidak
Komunikasi ada....”(IU1), (IU4)
Tiga informan mengatakan bahwa ada
diberikan informasi tentang program KIA Konsistensi informasi sangat
di puskesmas, seperti yang diungkapkan diperlukan untuk berlangsungnya
dalam kotak 1 di bawah ini : kebijakan secara efektif dan memudahkan
Kotak 1 para pelaksana untuk menjalankan
“..... Dari DKK bu.... ke Kepala (9)
tugasnya dengan baik. Pernyataan yang
Puskesmas kong kase trus pada
torang di puskesmas ....” (IU1), berbeda yang disampaikan oleh informan
(IT1). triangulasi Guru KIA bahwa informasi ke
“ .... Begini bu ya.... infonya dari Kepala pihak sekolah tidak diberikan informasi
Bidang UPJK ke Kasie Kesga DKK, dengan jelas dan tanpa ada pemberitahuan
kong kita kase informasi ke Kepala terlebih dahulu, tiba-tiba petugas
Puskesmas dan Pelaksana
puskesmas sudah berada dilokasi
Programnya di puskesmas begitu
bu... depe alur.....” (IT9). sekolah,pernyataan ini terdapat pada SD
“...... Informasi yang diberikan dari DKK yang merupakan wilayah kerja dari
kepada Kepala Puskesmas kemudian puskesmas yang jauh dari pusat kota
disampaikan ke Pelaksana Program dengan cakupan tertinggi dan terendah,
KIA di Puskesmas.....(IU1), (IT1). seperti yang diungkapkan dalam kotak 3
“...... Informasi yang diberikan dari dibawah ini :
Kepala Bidang UPJK ke Kasie kesga
di DKK kemudian disampaikan ke
Kepala Puskesmas dan Pelaksana
Program UKS di Puskesmas....(IT9)

Volume 4 Nomor 2. Juli – Desember 2016 86


JIDAN
Jurnal Ilmiah Bidan ISSN : 2339-1731

Kotak 3 Dari semua informan utama


“..... Begini bu.... itu petugas puskesmas mengatakan bahwa dana program KIA
kalo jaga datang disini nyanda jaga adalah dana BOK saja dan dana tersebut
kase tau dulu pa torang , kage-kage tidak mencukupi pelaksanaan program
dorang so muncul, nyanda ada
berita... “ (IT7), (IT8). UKS di puskesmas, baik yang jauh
“..... Petugas Puskesmas datang di maupun yang dekat dari pusatkota dengan
sekolah secara tiba-tiba tanpa ada cakupan yang tertinggi maupun yang
pemberitahuan terlebih terendah, seperti yang diungkapkan dalam
dahulu......(IT7), (IT8). kotak 5 dibawah ini :

Kotak 5
Informasi harus disampaikan dengan jelas “..... Ya bu... doi untuk program KIA
kepada pihak sekolah, sehingga tidak cukup doi oto saja Cuma
mempunyai dasar/tujuan dari suatu Rp.15.000.-/hari .....” (IU1, IU2,
program secara jelas, oleh karena itu harus IU3, IU4)
“..... Uang program KIA tidak
ada inovasi perbaikan komunikasi ke
mencukupi, untuk uang transport
sekolah melalui surat pemberitahuan 3 hari saja hanya Rp.15.000.-/hari .....”
sebelum pelaksanaan dilaksanakan. (IU1), IU2, IU3, IU4).
Sumberdaya
Dua informan utama mengatakan Dana sangat penting dan diperlukan
bahwa tenaga pelaksana program KIA sebagai syarat kelancaran sebuah program
sudah cukup, dua informan mengatakan dan harus dialokasikan secara tepat, oleh
belum cukup, pernyataan ini terdapat pada karena itu diperlukan sumberdaya yang
puskesmas baik yang jauh maupun yang handal dalam penanganan pelaksanaan
dekat dari pusat kota dengan cakupan program KIA di puskesmas, tidak hanya
terendah, seperti yang diungkapkan dalam terbatas pada sumberdaya manusia saja,
kotak 4 dibawah ini : akan tetapi sumberdaya lainnya yang
Kotak 4 (1,2,3)
berupa finansial dan material.
“..... Belum cukup bu, masih kurang
sekali banyak torang pe kerja disini Fasilitas merupakan faktor yang
....” (IU1), (IU2) menunjang dalam pelaksanaan program,
“.......Belum cukup masih kurang sekali namun kenyataan untuk fasilitas program
banyak pekerjaan kita disini .......” KIA di puskesmas belum mendukung,
(IU1), (IU2) seperti pada tabel berikut ini :

Sumberdaya manusia adalah


ketersediaan dan kecukupan baik kuantitas
maupun kualitas implementor yang dapat
melingkupi seluruh kelompok sasaran.
Penambahan tenaga dan pemberian tugas
tambahan bagi pelaksana program adalah
hal yang wajar, namun dapat di imbangi
dengan beban kerjanya.
Volume 4 Nomor 2. Juli – Desember 2016 87
JIDAN
Jurnal Ilmiah Bidan ISSN : 2339-1731

PKM PKM PKM PKM


No Jenis Fasilitas Tikala Baru Ranomuut Tuminting Paniki Bawah

1 Alat Imunisasi    
2 Tetoskop    
3 Thermometer X   
4 Tongspatel X   X
5 Senter X   X
6 Sentimeter X   X
7 Timbangan BB X   X
dan TB
8 Tensimeter X X  X
9 Hammer X X X X
10 Sarung Tangan X  X X
11 Bengkok X X X X
12 Laeneck √ √ √ √
13 Tempat Cuci X   X
tangan
14 Monitoring X  X X
(Buku Tamu)
15 Kendaraan # # # #
Operasional

Keterangan : = Alat ada tapi kurang, X= Alat tidak ada, # = Alat ada cukup.
Pencapaian sebuah tujuan kebijakan Kotak 6
harus didukung oleh ketersediaan alat atau “..... Kalo torang disini bu... biar tenaga
masih kurang, dananya belum cukup,
sarana prasarana, tanpa alat tugas tidak alat-alat nyanda bae juga, torang tetap
dapat dilakukan serta tujuan tidak dapat kerja dengan sanang hati, tanpa ada
diselesaikan sebagaimana mestinya. rasa beban pa torang pe hati .....” (IU1,
Ketersediaan sarana dan prasarana IU2, IU3, IU4).
“..... Kita disini walaupun tenaga, dana, dan
merupakan faktor penentu kinerja sebuah fasilitas belum mencukupi dan masih
kebijakan. kurang, kita tetap bekerja dengan baik
seperti biasa dengan senang hati tanpa
Disposisi/Sikap ada perasaan terbeban dalam hati.....”
Semua pelaksana program KIA di (IU1, IU2, IU3, IU4).
puskesmas bertanggapan dan berkomitmen
positif baik dalam pelaksanaan program Sikap yang baik dan demokratis dari
KIA di puskesmas baik yang jauh maupun seseorang implementor sangat penting
dekat dari pusat kota dengan cakupan dimilikinya adalah kejujuran dan ketulusan
tertinggi dan terendah, seperti yang hati dalam melaksanakan suatu pekerjaan,
diungkapkan dalam kotak 6 di bawah ini : serta meningkatkan kesan baik
implementor dan kebijakan di hadapan
anggota kelompok sasaran.

Volume 4 Nomor 2. Juli – Desember 2016 88


JIDAN
Jurnal Ilmiah Bidan ISSN : 2339-1731

Struktur Birokrasi
Dari semua informan utama
mengatakan bahwa selama ini tidak ada Kotak 8
SOP program KIA di puskesmas baik yang “..... Io bu.... kita disini tidak sesuai
jauh dan dekat dari pusat kota dengan jadwal kegiatan program KIA,
cakupan tertinggi dan terendah, seperti karena banyak sekali tu kerja beban
yang diungkapkan dalam kotak 7 dibawah kerja ganda ......” (IU2)
ini : “..... Ya bu.... kami disini jadwal kegiatan
program KIA tidak sesuai jadwal,
Kotak 7 karena terlalu banyak itu pekerjaan
“..... Torang disini bu nyanda ada itu dan beban kerja ganda ........” (IU2).
SOP, apa itu so bu kong nyanda
ada le depe kejelasan itu
SOP.....” (IU1, IT1, IT9). Akibat pelaksanaan program KIA di
“..... Kita disini tidak ada SOP, dan puskesmas tidak berjalan sesuai jadwal
tidak ada juga kejelasannya SOP
maka, program tersebut tidak akan
tersebut.....” (IU1, IT1, IT9)
tercapai tujuannya, untuk mencari solusi
adalah kegiatan program KIA di
Sebagai akibat dari tidak adanya SOP puskesmas harus menggunakan jadwal
(Standar Operasional Prosedur)maka, yang telah disepakati bersama antara
pekerjaan tidak akan berhasil dengan baik pimpinan dan bawahan, serta melakukan
sesuai yang diharapkan, oleh karena itu monitoring dan evaluasi terhadap jadwal
pelaksanaan program KIA di puskesmas pelaksanaan program KIA di puskesmas.
harus ada SOP, untuk mencari solusinya
harus menggunakan SOP agar semua KESIMPULAN
pekerjaan berjalan sesuai aturan, ada 1. Komunikasi yang di sampaikan ke
keseragaman dalam pekerjaan serta ada pihak sekolah belum tersampaikan
panduan kerja yang sama persepsi. dengan jelas, masih ada yang tidak
menggunakan juknis program KIA di
Implementasi dalam Program KIA di puskesmas, baik yang dekat maupun
Puskesmas yang jauh dari pusat kota, dengan
cakupan terendah.
Ada 3 informan utama mengatakan
2. Sumber daya (tenaga, dana, dan
jadwal kegiatan program KIA di
fasilitas) pada pelaksanaan program
puskesmas berjalan baik yaitu 4 bulan
KIA di puskesmas adalah sebagai
sekali dalam 1 tahun atau 3 kali turun
berikut :
lapangan, 1 informan utama mengatakan
a. Ketersediaan dan kecukupan tenaga
tidak sesuai jadwal karena banyak beban
dalam pelaksanaan program KIA di
tugas ganda, pernyataan ini terdapat pada
puskesmas sebagian cukup dan
puskesmas yang dekat dengan pusat kota
sebagian masih kurang terdapat pada
dengan cakupan yang terendah, seperti
puskesmas yang dekat maupun yang
yang diungkapkan pada kotak 8 dibawah
jauh dari pusat kota dengan cakupan
ini :
yang terendah.

Volume 4 Nomor 2. Juli – Desember 2016 89


JIDAN
Jurnal Ilmiah Bidan ISSN : 2339-1731

b. Dana untuk pelaksanaan program pusat kota dan dengan cakupan yang
KIA di puskesmas sebagian besar terendah.
masih ada kendala dimana dana
program KIA belum mencukupi SARAN
terutama uang transport Rp.15.000.- 1. Bagi Dinas Kesehatan
/hari, ini terdapat pada puskesmas a. Mengevaluasi kembali keberadaan
baik yang dekat maupun yang jauh sumberdaya (tenaga, dana, fasilitas)
dari pusat kota dengan cakupan terhadap pelaksanaan program KIA
tertinggi dan terendah. di puskesmas wilayah kerja Dinas
c. Fasilitas yang menunjang program Kesehatan Kota Manado, dengan
KIA di puskesmas belum diadakannya penambahan
mendukung dalam pelaksanaan sumberdaya dalam pelaksanaan
program KIA di puskesmas, program KIA di puskesmas.
terdapat pada puskesmas baik yang b. Membuat SOP (Standart Operasional
dekat maupun yang jauh dari pusat Prosedur) yang belum ada, sehingga
kota dengan cakupan tertinggi dan petugas pelaksana program KIA di
terendah. puskesmas secara keseragaman dapat
3. Disposisi/Sikap petugas dalam bekerja sesuai dengan aturan, oleh
pelaksanaan program KIA di karena ada panduan kerja yang sama
puskesmas. Pelaksana program KIA di persepsi dan mempunyai dasar
puskesmas semuanya bertanggapan hukum dalam melaksanakan
danberpandangan serta berkomitmen program UKS di puskesmas.
positif baik dalam menyikapi 2. Bagi Puskesmas
pelaksanaan program KIA di a. Monitoring dan evaluasi terhadap
puskesmas. Juknis, dan jadwal kegiatan program
4. Struktur Birokrasi dalam pelaksanaan KIA baik yang ada di puskesmas dan
program KIA di puskesmas. di sekolah, sehingga pelaksana
Keberadaan SOP dan kejelasan tentang program KIA dapat bekerja sesuai
isi/materi dari SOP , semua pelaksana tugasnya masing-masing dan
program KIA di puskesmas tidak terjadwal dengan baik pelaksanaan
menggunakan SOP. Hal ini terdapat kegiatan program KIA di puskesmas
pada puskesmas baik yang dekat maupun di sekolah.
maupun yang jauh dari pusat kota b. Mengusulkan dan merencanakan
dengan cakupan tertinggi dan terendah. sumber daya (tenaga, dana, dan
5. Implementasi dalam pelaksanaan fasilitas) yang masih kurang, untuk
program KIA di puskesmas. diadakan penambahan tenaga, dana,
Jadwal pelaksanaan program KIA di dan fasilitas yang menunjang dalam
puskesmas sebagian besar pelaksana pelaksanaan program KIA di
program KIA di puskesmas puskesmas, kepada Dinas Kesehatan
melaksanakan tugasnya sesuai dengan Kota Manado.
jadwal, namun sebagian kecil masih c. Memberikan reward berupa tanda
ada yang tidak sesuai jadwal, terdapat penghargaan kepada petugas
pada puskesmas yang dekat dengan

Volume 4 Nomor 2. Juli – Desember 2016 90


JIDAN
Jurnal Ilmiah Bidan ISSN : 2339-1731

pelaksana program KIA yang pemberitahuan 3 hari sebelum


bekerja dengan baik dan pelaksanaan program KIA
bertanggung jawab atas tugas pokok dilaksanakan kepada pihak sekolah.
yang diberikan. 3. Bagi Peneliti Yang Lain
d. Menginformasikan kembali kepada Agar ada peneliti lain yang
petugas pelaksana program KIA, meneliti tentang analisis beban kerja
sebelum melaksanakan tugasnya, dalam pelaksanaan program KIA di
terlebih dahulu dapat puskesmas.
menginformasikan melalui surat

DAFTAR PUSTAKA

1. Wijono J. Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi. Surabaya: Airlangga University Press;


2002.
2. Budi Winarno. Kebijakan Publik Teori dan Proses. Yogyakarta: Media Pressindo; 2008.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Dasar Pelaksanaan Jaminan Mutu di
Puskesmas. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat; 2003.
4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: DEPKES RI; 2004.
5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Kebijakan Pengembangan Tenaga Kesehatan. Jakarta:
Depkes RI; 2009.
6. Indiahono Dwiyanto. Kebijakan Publik Berbasis Dynamic Policy Analisys. Yogyakarta: Gava
Media; 2009.
7. Subarsono. Analisis Kebijakan Publik Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2010.
8. Kusumanegara S. Model dan Aktor dalam Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gava Media;
2010.
9. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi 2. Bandung: PT Remaja Rosda Karya; 2007.

Volume 4 Nomor 2. Juli – Desember 2016 91