Anda di halaman 1dari 15

KARAKTERISASI MINERALOGI DAN GEOKIMIA BIJIH NIKEL LATERIT

DI BUKIT HASAN, PT VALE INDONESIA Tbk, SULAWESI SELATAN:


IMPLIKASINYA TERHADAP PENGOLAHAN

Angga AL-Amin Husain†*, Irzal Nur*, Sufriadin*


*) Teknik Pertambangan, Universitas Hasanuddin, Gowa, Indonesia

SARI: Produksi Ni dunia dari bijih Ni laterit adalah sebesar 42% sedangkan bijih Ni sulfida adalah
58%. Namun, 72% sumberdaya Ni dunia adalah tipe Ni laterit, sedangkan 28% adalah tipe sulfida,
hal ini menunjukkan kajian terhadap eksplorasi dan pengolahan Ni laterit akan semakin populer. Ni
laterit adalah endapan hasil pelapukan dari batuan ultramafik yang kemudian mengalami leaching.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi mineral pada garnierite dan geokimia bijih Ni laterit di
Bukit Hasan, PT Vale Indonesia Tbk, Provinsi Sulawesi Selatan. Mineral yang teridentifikasi dengan
metode mikroskopis (menggunakan mikroskop polarisasi) dan X-Ray diffraction (menggunakan X-
Ray Diffractometer) adalah talk, serpentin (lizardit), dan kuarsa. Secara geokimia, hubungan Ni
terhadap unsur-unsur pada bijih Ni laterit berdasarkan metode X-Ray fluorescence adalah bijih Ni
laterit secara genetik berasosiasi dengan silika (SiO 2) dan magnesia (MgO), dan sebaliknya tidak
berasosiasi dengan unsur-unsur Co, Fe, Cr, Al, Mn, dan Ca. Bijih Ni laterit di lokasi penelitian
memiliki kadar Ni sebesar 2,1%, kadar SiO2 25,42% dan rasio S/M 3,7 serta rasio Fe/Ni 15,5 yang
berarti lebih tepat diolah dengan metode pirometalurgi. Namun, terdapat beberapa karakter yang
masih harus melewati perlakuan untuk mengurangi kadar Fe dari 32,63% menjadi 20%, kadar MgO
perlu ditingkatkan atau kadar SiO2 diturunkan dengan cara blending bijih dari east block. Hasil
analisis mineralogi pada sampel-sampel bijih daerah penelitian menunjukkan komposisi mineral
yang dominan adalah kuarsa (44,8%) dan talk (38,85%) serta sedikit lizardit (16,35%). Berdasarkan
tingginya komposisi mineral kuarsa dan talk serta rendahnya komposisi lizardit yang merupakan
salah satu jenis mineral serpentin, maka bijih Ni laterit daerah penelitian direkomendasikan untuk
diolah secara pirometalurgi.

Kata kunci: garnierite, bijih Ni laterit, mineralogi, geokimia, pengolahan bijih

ABSTRACT: World production of Ni 42% mined from lateritic ores whereas sulphide ores produce
58%. However, 72% world Ni source is lateritic type and 28% is sulphide type. Lateritic Ni deposit is
a weathered deposit from ultramafic rocks which then undergoes leaching. This study aims to
identify the minerals in garnierite and the geochemistry of lateritic Ni ore in Hasan Hill, PT Vale
Indonesia Tbk, South Sulawesi Province. Minerals identified by microscopic methods (using a
polarized microscope) and X-Ray diffraction (using X-Ray Diffractometer) are talc-like, serpentine
(lizardite), and quartz. Geochemistry of lateritic Ni ore in the study area was identified using X-Ray
fluorescence genetically associated with silica (SiO 2) and magnesia (MgO) and inversely, was not
associated with minerals carries Co, Fe, Cr, Al, Mn, and Ca, as well have negative correlation with
the presence of Ni. The substance of Ni in the ore is 2.1%, SiO 2 25.42%, S/M ratio 3.7 and Fe/Ni
ratio 15.5 which mean is more precisely if ore were process by pyrometallurgy methods. Overall,
the ore must be treated to reduce Fe from 32.63% to 20% and MgO must be increased by blending
the ore from east block ores. Mineralogy analysis result of ore with XRD revealed presence of
quartz (44.8%), talc (38.85%) and lizardite (16.35%). The high amount of quartz and talc as well as
the low amount of lizardite as serpentine mineral then lateritic Ni ore in the study area are
recommended to be process pyrometallurgically.

Keywords: garnierite, lateritic Ni ore, minerallogy, geochemistry, ore processing

pengolahan Ni laterit akan semakin


1 PENDAHULUAN popular.
Sumberdaya Ni Dunia (Dalvi, et al., 2004)
Dominasi produksi Ni dari endapan tipe
sulfida tidak berubah hingga sekarang. 28%
Laterit
Produksi pada endapan Ni laterit adalah
sebesar 42 % sedangkan endapan Ni
sulfida adalah 58 %. Namun, 72 % 72% Sulfida

sumberdaya Ni adalah tipe Ni laterit,


sedangkan 28 % adalah tipe sulfida, hal
ini menunjukkan bahwa kajian terhadap Gambar 1 Persentasi sumberdaya Ni laterit
eksplorasi dan dan sulfida (Dalvi, et al., 2004)


Corresponding author: ANGGA AL-AMIN HUSAIN, Mining Engineering Study Program, Hasanuddin University, Makassar 90245, Indonesia.
E-mail: angga_alamin@engineer.com | Insta: @anggalamin | linkedin.com/in/im-angga
Secara global, produksi Ni Indonesia geomorfik di kompleks ini sangat
sebesar 12% (Dalvi, et al., 2004; Mudd, penting untuk pembentukan Ni laterit
2009; Marsh, et al., 2013). yang bernilai ekonomis (Golightly, 1979).
Daerah Sorowako sebagian besar
Endapan Ni laterit secara mineralogi disusun oleh batuan ultramafik yang
dibagi menjadi: hydrous mg silicate, clay membentang hingga 10.000 km2 di
silicate dan oxide. Masing-masing tipe bagian timur Sulawesi serta merupakan
memiliki karakter dan faktor pembentuk host dari endapan Ni laterit
yang berbeda seperti kadar Ni, (Simandjuntak, et al., 1991; Monnier, et
mineralogi, iklim, relief, tektonik, al., 1995; Suratman, 2000)
struktur primer, dan batuan dasarnya.
Penentuan karakteristik tersebut
membantu dalam menentukan tipe
endapan Ni laterit dan metode
pengolahan (Golightly, 1979; Brand, et
al., 1998; Gleeson, et al., 2003; Elias,
2006).

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini


mendiskusikan karakteristik mineralogi
dan geokimia bijih Ni di Bukit Hasan, PT
Vale Indonesia Tbk, Sorowako, Sulawesi
Selatan sebagai implikasi terhadap
penentuan metode ekstraksi Ni sebagai
rekomendasi kepada process plant PT
Vale Indonesia Tbk dalam memilih
metode pengolahan yang lebih efektif
dan efisien berdasarkan karakteristik
mineralogi dan geokimia di lokasi
penelitian.

2 LOKASI DAN GEOLOGI

Penelitian ini dilakukan di Bukit Hasan, Gambar 2 Peta geologi lokal di lokasi
Blok Sorowako, PT Vale Indonesia Tbk penelitian (dimodifikasi dari
yang berada di daerah Sorowako yang Sufriaddin et.al 2011)
merupakan lokasi pertambangan open-
pit nikel laterit terbesar di Indonesia,
serta penghasil utama dari nickel 3 METODE PENELITIAN
ore/matte untuk dikirim ke Jepang.
Secara administrasi Desa Sorowako 3.1 Analisis Mineralogi
berada di Kecamatan Nuha, Kabupaten
Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan Analisi mineralogi dilakukan dengan
dengan jarak 500 Km dari Kota Makassar metode mikroskopis dan X-Ray diffraction.
(Ibu Kota Sulawesi Selatan) yang dapat Metode mikroskopis dilakukan dengan
ditempuh dengan kendaraan darat. mengamati
Sorowako dikelilingi oleh tiga buah sayatan tipis kemudian diamati
danau yaitu Danau Matano, Danau menggunakan mikroskop polarisasi tipe
Mahalona dan Danau Towuti. Ketiga Nikon Eclipse LV 100N POL dengan
danau tersebut dihubungkan oleh Sungai pembesaran 10 x. Analisis mikroskopis
Larona dan bermuara di Malili yang dilakukan untuk mengetahui
merupakan Ibukota Kabupaten Luwu kenampakan mineral-mineral yang ada
Timur dalam sampel bijih. Analisis mikroskopis
dilakukan di Ruang Preparasi
Daerah Sorowako disusun oleh kompleks Departemen Teknik Geologi Fakultas
uktramafik yang berumur Tersier Awal, Teknik Universitas Hasanuddin.
umumnya terdiri atas jenis peridotit,
sebagian mengalami serpentinisasi dengan Metode X-Ray diffraction (XRD) adalah
derajat yang bervariasi dan umumnya metode yang digunakan menganalisis
terdapat di bagian timur. Sesar besar di berbagai material padat. Secara umum
sekitar daerah ini menyebabkan relief XRD mengidentifikasi fase kristalin dari
topografi sampai 600 mdpl dan sampai objek
sekarang aktif tererosi. Sejarah tektonik
dan
2
yang akan diamati. Cara kerja 4.1 Analisis Mikroskopis
penggunaan XRD dapat dilakukan
dengan meletakkan sampel awal Berdasarkan hasil pengamatan
maupun sampel hasil residu pelindian. mikroskopis thin section ditemukan
Sampel diletakkan pada suatu berbagai macam tekstur, bentuk, warna,
preparat kaca kemudian masukkan dan kelimpahan pada sampel garnierite
preparat kaca ke dalam XRD. Sumber sinar dari daerah Sorowako. Serpentin (Srp)
bergerak menyinari sampel dan detektor hadir dengan tekstur serat (fibrous)
akan menangkap pantulan sinar dari dengan warna kuning gelap-terang.
sampel yang sedang diuji. Alat perekam Kehadiran serpentin sangat melimpah di
akan merekam intensitas pantulan sinar sampel A dengan ukuran butir mencapai
untuk tiap sudut tertentu. Hasil analisis 300 µm sedangkan, pada sampel B
dalam bentuk grafik sudut penyinaran kehadiran serpentin sangat minim.
dengan intensitas pantulan. Pengujian XRD Serpentin hadir dengan bentuk fracture
sampel awal sebelum pelindian maupun (retak).
sampel hasil pelindian dilakukan di
laboratorium Analisis XRD dan XRF
Fakultas Teknik, di
gedung Jurusan Geologi, Universitas
Hasanuddin.

3.2 Analisis Geokimia

Analisis geokimia dilakukan dengan


menggunakan metode X-ray
flourescence (XRF) merupakan suatu
teknik analisis untuk menentukan
konsentrasi unsur berdasarkan panjang
gelombang dan jumlah sinar-X yang
dipancarkan kembali setelah Gambar 3 Kenampakan mineral bijih Ni
ditembakkan sinar-X berenergi tinggi. secara mikroskopis pada nikol
Analisis XRF merupakan teknik analisis silang (A) menunjukan mineral
yang paling banyak digunakan untuk serpentin (Srp) yang melimpah,
penentuan unsur mayor dan unsur jejak (B) mineral kuarsa (Qtz) yang
melimpah
(Rollinson, 1993).

Secara teknis, analisis ini diawali Kuarsa (Qtz) ditemukan dengan tekstur
dengan anhedral, inequigranural (butir halus,
memancarkan sinar X-Ray untuk ukuran tidak seragam) tersebar seperti
melepaskan elektron pada kulit K, urat (vein) yang bercabang-cabang
kondisi ini menuntut agar elektron yang mengisi celah pada serpentin dengan
berada di kulit luar berpindah ke dalam lebar 1-150 µm dengan warna putih
agar dapat kembali seimbang. terang. Selain itu, kuarsa juga tampak
Perpindahan elektron dari kulit luar ke menyebar merata (disseminated) dan
dalam akan menghasilkan energy X-ray sangat melimpah terutama pada sampel
irradiation atau fluorescent X-ray. Setiap B.
jenis elemen memiliki level energi yang
unik oleh karena itu, karakter energi X- Kehadiran talk (Tlc) sangat minim pada
ray yang dilepas dapat digunakan dalam sampel A dan B. Talk hadir dengan
mengidentifikasi elemen (Burggraf, et tekstur serabut halus (soft-fibrous). Talk
al., 1976; Sime, 1996; Uo, et al., 2015) berwarna variatif dengan bayangan
cokelat terang dan berbentuk pipih.

4 MINERALOGI DAN GEOKIMIA


4.2 X-Ray Diffraction
BIJIH NIKEL LATERIT
Berdasarkan analisis mineralogi dengan
metode XRD terhadap sampel garnierite
Garnierite dalam bentuk vein dan
dari lokasi penelitian ditemukan mineral
material-material lepas ditemukan
talk, serpentin (lizardit), dan kuarsa.
melimpah di lokasi penelitian. Hal ini
Mineral talk ditemukan dengan persentase
menunjukkan pada lokasi penelitian
61,5 % pada sampel garnierite A dan 16,2
secara mineralogi merupakan tipe
hydrous Mg/Ni silicate ores (Pecora, et % pada sampel garnierite B. Talk pada
al., 1949; Faust, 1966). garnierite
3
merupakan mineral pembawa unsur MgO mineralogi dengan metode mikroskopis
dan SiO2 hal ini dapat dilihat pada kenampakan talk sangat minim, hal ini
puncak difraksi (d) 10,3031 Å pada dapat disebabkan ukuran butir yang
sampel A dan 9.9511 Å pada sampel B. sangat kecil.
Pada analisis

Gambar 4 Diffractogram garnierite A (atas) dan B (bawah) setelah diolah dengan Impact Match!
Ver. 3.0.

Lizardit dari kelompok mineral serpentin yang memiliki kadar Ni minimum 1,5 %
ditemukan pada sampel garnierite A dan (cut of grade), dan ketebalan minimum 1
B dengan puncak difraksi (d) 7.2751 Å m serta material yang lolos dari
pada sampel A dan 7.4383 Å pada screening 1 inch.
sampel B. Persentase kehadiran
serpentin (lizardit) pada sampel A dan B Tabel 1 Hubungan Ni terhadap unsur-
berturut-turut adalah 8,0 % dan 24,7 %. unsur yang ada pada bijih Ni laterit

Kuarsa merupakan mineral yang paling Unsur Rata-rata (%)


mendominasi di kedua sampel. Pada Ni 2,10
sampel A mencapai 30,5 % dengan Co 0,15
Fe 32,63
puncak difraksi
SiO2 25,42
(d) 3,33 Å. Pada sampel B kuarsa hadir
MgO 6,81
mencapai 59,1 % dengan puncak difraksi Cr 1,60
(d) 3.34 Å. Al 1,90
Mn 0,75
4.3 X-Ray Flourescence Ca 0,13

Bagian ini menguraikan variasi


karakteristik kimia dari bijih endapan Ni Hasil penelitian menunjukkan sebaran nilai
laterit di lokasi penelitian, berdasarkan kadar unsur Ni memiliki penyebaran yang
hasil analisis XRF. Bijih menurut PT Vale bervariasi pada daerah Bukit Hasan
Indonesia Tbk adalah satu lapisan berkisar mulai dari Co yang berbanding
tunggal (single sheet), baik saprolit terbalik dengan kadar Ni serta nilai R2
maupun limonit, sebesar 8,14% dengan kadar rata-rata
sebesar 0,15%. Fe
4
yang berbanding terbalik dengan kadar Ni Cr, Al, Mn, dan Ca, hal ini mungkin
serta nilai R2 sebesar 25,04% dengan disebabkan karena ion Ni tidak
kadar rata-rata sebesar 32,63%. SiO2 yang compatible dengan unsur-unsur
berbanding lurus dengan kadar Ni serta tersebut.
nilai R2 sebesar 19,81% dengan kadar rata-
rata sebesar 25,42%. MgO yang Tabel 2 Hubungan Ni terhadap unsur-unsur
yang ada pada bijih Ni laterit
berbanding lurus dengan kadar Ni serta
nilai R2 sebesar 16,08% dengan kadar rata- Hubungan Terhadap
2
rata sebesar 6,81%. Cr yang berbanding Elemen Ni R (%)
terbalik dengan kadar Ni serta nilai R2 Co Berbanding terbalik 8,14
sebesar 8,42% dengan kadar rata-rata Fe Berbanding terbalik 25,04
sebesar 1,60%. Al yang berbanding SiO2 berbanding lurus 19,81
terbalik dengan kadar Ni serta nilai R2 MgO berbanding lurus 16,08
sebesar 8,01% dengan kadar rata-rata Cr Berbanding terbalik 8,42
Al Berbanding terbalik 8,01
sebesar 1,90%. Mn yang berbanding
Mn Berbanding terbalik 7,52
terbalik dengan kadar Ni serta nilai R2
Ca Berbanding terbalik 6,07
sebesar 7,52% dengan kadar rata-rata
sebesar 0,75%. Ca yang berbanding
terbalik dengan kadar Ni serta nilai R2 5 IMPLIKASI
sebesar 6,07% dengan kadar rata-rata TERHADAP
sebesar 0,13%. PENGOLAHAN

Berdasarkan hasil analisis data geokimia Secara historis, ekstraksi logam Ni dari
secara statistik seperti yang telah bijih Ni laterit mulai dilakukan pada tahun
diuraikan di atas maka dapat disimpulkan 1897 di Pointe Caleix – Noumea, New
bahwa secara genetik bijih Ni laterit Caledonia. Dua pabrik pengolahan lainnya
berasosiasi dengan silika dan magnesia, menyusul masing-masing di Doniambo
dan sebaliknya tidak berasosiasi dengan tahun 1910 dan Thio pada tahun 1913
unsur-unsur Co, Fe, (Dalvi, et al., 2004).

Gambar 5 Ringkasan variasi metode pengolahan bijih Ni laterit (Butt, 2005)

Secara umum pengolahan bijih Ni laterit leaching dan heap leaching,


terbagi atas dua jenis yaitu pirometalurgi menghasilkan Ni-hydroxide (Dalvi, et al.,
dan hidrometalurgi. Pirometalurgi 2004; Butt, 2005; Mcdonald &
(smelting) akan menghasilkan nickel Whittington, 2008). Pada sub-bab ini
matte dan ferronickel. Pengolahan akan dibahas pengaruh karakter
hidrometalurgi seperti high-pressure mineralogi dan kimia yang
acid leaching, menghasilkan Ni dan Co; mempengaruhi proses pengolahan Ni.
atmospheric Bermacam metode pengolahan dapat
diterapkan untuk
5
mengekstrak Ni dari endapan laterit, sedangkan rasio Fe/Ni yang tinggi
seperti Pirometalurgi (smelting), mencapai
menghasilkan nickel matte dan ferronickel; > 6 akan menghasilkan Ni matte
caron process (Mcdonald & Whittington, 2008).
dan high-pressure acid leaching,
menghasilkan Ni dan Co; atmospheric Bijih yang memiliki kriteria Co ±0,04 %
leaching dan heap leaching, menghasilkan dapat diolah dengan pirometalurgi, jika
Ni-hydroxide (Butt, 2005). Metode-metode kadar Co mencapai ±0,1 % dapat diolah
tersebut dipilih berdasarkan karakteristik dengan hidrometalurgi. Fe yang
mineralogi dan kimia dari bijih. terkandung dalam bijih sebesar 20% dapat
Karakterisasi mineralogi dan kimia diolah dengan pirometalurgi jika kadar Fe
endapan Ni laterit adalah titik awal rendah maka dapat diolah dengan metode
fundamental hidrometalurgi. Bijih dengan kadar SiO2
yang harus diidentifikasi sebelum yang tinggi lebih baik diolah dengan
menentukan tipe pengolahan endapan metode pirometalurgi. MgO yang
Ni laterit yang tepat (Butt, 2005; terkandung dalam bijih sebesar 25
Freyssinet, et al., 2005; Ahmad, 2008). % dapat diolah dengan pirometalurgi
jika kadar MgO rendah maka dapat
diolah dengan metode hidrometalurgi
5.1 Pengaruh Geokimia terhadap (Dalvi, et al., 2004; Butt, 2005; Mcdonald
Pengolahan & Whittington, 2008).
Pengolahan dengan metode Pengolahan pirometalurgi terhadap bijih
pirometalurgi terhadap bijih dengan dengan rasio SiO2/MgO 1,8-2,2 lebih baik
kadar >2 % akan menghasilkan menghasilkan nickel-matte. Pengolahan
ferronickel atau Ni matte, pirometalurgi terhadap bijih dengan
bijih dengan kadar >2,2 % akan rasio SiO2/MgO <2 atau >2,5 lebih baik
menghasilkan high carbon ferronickel, menghasilkan ferronickel. Bijih dengan
dan bijih dengan kadar >1,5 % akan rasio SiO2/MgO 2,3-2,5 bersifat korosif
menghasilakan low carbon ferronickel pada lapisan furnace dan harus
(Butt, 2005; Mcdonald & Whittington, dilakukan blending atau fluxing sebelum
2008). Kadar ideal untuk pengolahan dilebur (Dalvi, et al., 2004).
bijih Ni laterit dengan metode
hidrometalurgi adalah ±1,3% (Butt, Pengolahan pirometalurgi terhadap bijih
2005). yang memiliki rasio silika/magnesia (S/M)
yang rendah (±2) dapat mengakibatkan
Pengolahan pirometalurgi terhadap bijih temperatur yang tinggi pada furnace dan
dengan rasio SiO2/MgO 1,8-2,2 lebih baik konsumsi energi yang lebih banyak (Dalvi,
menghasilkan nickel-matte. Pengolahan et al., 2004; Villanova-de-Benavent, et al.,
pirometalurgi terhadap bijih dengan 2014). Kandungan air pada bijih Ni laterit
rasio SiO2/MgO <2 atau >2,5 lebih baik yang lebih dari > 15 wt % harus
menghasilkan ferronickel. Bijih dengan dikeringkan terlebih dahulu dengan
rasio SiO2/MgO 2,3-2,5 bersifat korosif menggunakan kalsinasi (calcination) pada
dan mengakibatkan temperatur yang suhu 900 oC
tinggi pada furnace dan konsumsi energi (Dalvi, et al., 2004). Tabel 4.3
yang lebih banyak sehingga harus memperlihatkan indikator geokimia dan
dilakukan blending atau fluxing sebelum mineral terhadap proses pengolahan
di smelter. Perubahan rasio SiO2/MgO pirometalurgi dan hidrometalurgi serta
memiliki peran yang sangat penting di lokasi penelitian.
untuk mengontrol titik leleh dan
kekentalan slag, serta merupakan faktor Geokimia bijih Ni laterit di lokasi penelitian
yang sangat penting untuk yang diolah dengan metode XRF diperoleh
dipertimbangkan dalam penggunaan kadar Ni sebesar 2,1 %, kadar SiO2 25,42
electrical furnace (Dalvi, et al., 2004; % dan rasio S/M 3,7 serta rasio Fe/Ni 15,5
Villanova-de-Benavent, et al., 2014). yang berarti lebih tepat diolah dengan
metode pirometalurgi. Namun, terdapat
Rasio Fe/Ni merupakan salah satu karakter beberapa karakter yang masih harus
yang dipertimbangkan dalam menentukan melewati perlakuan untuk mengurangi
metode pengolahan. Bijih dengan rasio kadar Co dari 0,15 % menjadi 0,04 %,
Fe/Ni 5-6 dapat diolah dengan metode kadar Fe dari 32,63
pirometalurgi dan menghasilkan high
% menjadi 20 % dan kadar MgO yang
carbon ferronickel, bijih dengan rasio Fe/Ni perlu ditingkatkan.
6-12 dapat diolah dengan metode
pirometalurgi dan menghasilkan low
carbon ferronickel,
6
Tabel 3 Pengaruh komposisi mineral dan geokimia bijih Ni laterit terhadap proses pengolahan
Lokasi
Karakter Pirometalurgi Hidrometalurgi
Penelitian
Kadar Ni > 2,0 % FeNi atau Ni Matte (Butt, 2005) 1,3 % (Butt, 2005) 2,10 %
> 2,2 % = HC FeNi (Mcdonald & Whittington,
2008)
> 1,5 % = LC FeNi (Mcdonald & Whittington,
2008)
>0,1 %; sebagai buy
Kadar Co - product 0,15 %
(Butt, 2005)
Kadar Fe >20 % (Butt, 2005) - 32,63 %
Geokimi
a

Kadar MgO <25 % (Butt, 2005) < 5,0 % (Butt, 2005) 6,81 %
< 4,0 % (Dalvi, et al., 2004)
Kadar SiO2 <55 % (Butt, 2005) (Dalvi, et al., 2004) 25,42%
Ratio S/M 1,8 - 2,2 = Mattes (Dalvi, et al., 2004) - 3,7
<2 atau >2,5 = Ferronickel (Dalvi, et al., 2004)
2.3-2.5 = Very corrosive (Dalvi, et al., 2004)
Ratio Fe/Ni 5-6 = HC FeNi (Mcdonald & Whittington, 2008) - 15,5
6-12 = LC FeNi (Mcdonald & Whittington, 2008)
> 6 = Mattes (Mcdonald & Whittington, 2008)
Kuarsa, talk, - Sulit diluluhkan (Sufriadin, Ditemukan
lMinera

piroksin, besi et al., 2011) : kuarsa


oksida dan talk
Serpentin - Mudah diuraikan Ditemukan
(Sufriadin, et al., 2011)

laterit daerah penelitian tidak


5.2 Pengaruh Mineral direkomendasikan untuk diolah secara
Terhadap hidrometalurgi.
Pengolahan
Berdasarkan pembahasan di atas
Serpentin memiliki kandungan Mg yang mineralogi dan geokimia bijih Ni laterit
tinggi, tetapi mineral ini dijumpai di lokasi penelitian di rekomnedasikan
dominan menyusun bijih Ni laterit di untuk diolah secara pirometalurgi.
daerah penelitian. Jika bijih tersebut
banyak
mengandung mineral-mineral talk, 6 KESIMPULAN
pyroxene, kuarsa, iron oxide, amfibol ,
enstatite maka proses pengolahan akan Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka
menjadi lambat. Mineral clays dan dapat ditarik kesimpulan: himpunan
goethite merupakan mineral yang mineral pada garnierite berdasarkan
sangat dianjurkan untuk diproses metode mikroskopis dan XRD adalah talk,
dengan metode pirometalurgi (Dalvi, et serpentin, dan kuarsa; berdasarkan
al., 2004; Mcdonald & Whittington, 2008;
karakteristik geokimia, bijih Ni laterit di
Sufriadin, et al., 2011).
daerah penelitian berasosiasi secara
Kandungan mineral olivin dalam bijih genetik dengan silika dan magnesia, dan
sebelum dimasukkan dalam electrical sebaliknya tidak berasosiasi dengan unsur-
furnace harus dikontrol dengan nilai unsur Co, Fe, Cr, Al, Mn, dan
yang rendah, untuk mencegah terjadinya Ca; dan berdasarkan karakteristik
permasalahan peleburan, mengingat mineralogi dan geokimia, bijih Ni laterit
olivin memiliki titik leleh yang sangat di lokasi penelitian direkomendasi untuk
tinggi. Kehadiran olivin pada kontak diolah secara pirometalurgi.
slag-matte akan mengurangi
perpindahan panas dari slag ke matte
yang akan menyebabkan kesulitan
dalam proses tapping/skimming.
7 UCAPAN TERIMA KASIH
Hasil analisis mineralogi dengan XRD
dan mikrospkopis pada sampel-sampel
bijih daerah penelitian menunjukkan Penulis mengucapkan terimakasih
komposisi mineral yang dominan adalah kepada Pimpinan dan karyawan PT Vale
kuarsa (44,8 %) dan talk (38,85 %) serta Indonesia Tbk, khususnya Mine Geology
sedikit lizardit (16,35 %). Berdasarkan and Ore Quality Coordination Division
tingginya komposisi mineral kuarsa dan yang telah
talk serta rendahnya komposisi lizardit mengizinkan peneliti melakukan
yang merupakan salah satu jenis mineral penelitiannya, serta Departemen Teknik
serpentin, maka bijih Ni Pertambangan khususnya keluarga
7
Laboratorium Eksplorasi Mineral yang Monnier, C., Girardeau, J., Maury, R. &
telah membantu dalam menyelesaikan Cotten, J., 1995. Back Arc Basin Origin
penelitian ini. for The East Sulawesi Ophiolite,
Eastern Indonesia.. Geology 23, p.
851– 854..
8 DAFTAR PUSTAKA Mudd, G. M., 2009. Nickel Sulfide Versus
Laterite: The Hard Sustainability
Ahmad, W., 2008. Nickel Laterites: Challenge Remains. Sudbury, Ontario,
Fundamentals of Chemistry, Canada, 48th Annual Conference of
Mineralogy, Metallurgists, Canadian Metallurgical
Weathering Processes, Formation Society Sudbury, Ontario, Canada, .
and Pecora, W., Hobbs, S. & Murata, J., 1949.
Exploration. Sorowako: PT Vale Variations in Garnierite from the
Indonesia Nickel Deposit Near Riddle, Oregon.
Tbk. Economic Geology. 931-I ed.
Brand, N. W., Butt, C. R. & Elias, M., Washington: United States
1998. Nickel laterites: Classification Department of The Interior.
and Features. AGSO Journal of Rollinson, H. R., 1993. Using
Australian Geology and Geophysics, Geochemical
Volume 17, pp. 81-88.. Data: Evaluation, Presentation,
Burggraf, C., Carrière, B. & Goldsztaub, Interpretation (Longman
S., 1976. Spectrométrie des électrons Geochemistry Series). 1st ed. Essex,
Auger. Journal de Physique Archives, England: Routledge.
Volume 11, pp. 13-21. Simandjuntak, T., Rusmana, E., Surono &
Butt, C. R. M., 2005. Nickel Laterites. Supandjono, J., 1991. Peta Geologi
Kalgoorlie, CRC LEME-GSWA Mineral Lembar Malili, Sulawesi, Bandung:
Exploration, pp. 58-59. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Dalvi, A. D., Bacon, W. G. & Rober, 2004. Geologi.
The Past and the Future of Nickel Sime, R. L., 1996. Lise Meitner: A Life in
Laterites. Canada, PDAC 2004 Physics. 11 ed. California : University
International Convention, Trade Show of California Press.
& Investors Exchange (March 7-10,). Sufriadin, Pramumijoyo, I., Warmada, S.
Elias, M., 2006. Laterite Nickel & Imai, I., 2011. Study on Mineralogy
Mineralization of the Yilgarn Craton. and Chemistry of the Saprolitic Nickel
Society of Economic Geologist Special ore from Soroako, Sulawesi,
Publication, Volume 13, p. 195–210. Indonesia: Implication for the Lateritic
Faust, G., 1966. The Hydrous Nickel- Ore Processing. Journal of Southeast
Magnesium Silicates – The Garnierite Asian Applied Geology, 3(1), p. 23–33.
Group. The American Mineralogist, Suratman, 2000. Geology of Laterite
Volume 51, pp. 279-298.. Nickel Deposit in Sorowako Area,
Freyssinet, P., Butt, C., Morris, R. & South Sulawesi Province.. Bandung,
Piantone, P., 2005. Ore-Forming Indonesia, In Proceedings of 29th
Processes Related to Lateritic Indonesian association of geologists,
Weathering. Economic Geology 100th (pp. 37-43)..
Anniversary volume, pp. 681-722. Uo, M., Wada, T. & Sugiyama, T., 2015.
Gleeson, S., Butt, C. & El, M., 2003. Applications of X-ray Fluorescence
Nickel Laterites : A Review. Society of Analysis (XRF) to Dental and Medical
Economic Geologists (SEG), July, pp. Specimens. Japanese Dental Science
12-18. Review, Volume 51, pp. 2-9.
Golightly, J., 1979. Nickelferous Laterites: Villanova-de-Benavent, C., Proenza, J. A.,
A Galí, S., García-Casco, A., Tauler, E.,
General Description. Journal of Lewis, J. F., Longo, F., 2014.
Electrostatics, pp. 3-23. Garnierites and Garnierites: Textures,
Marsh, E., Anderson, E. & Gray, F., 2013. Mineralogy and Geochemistry of
Nickel-Cobalt Laterites—A Deposit Garnierites in the Falcondo Ni-laterite
Model. Virginia: U.S. Geological Deposit, Dominican Republic. Ore
Survey. Geology Reviews, Volume 58, pp. 91-
Mcdonald, R. & Whittington, B., 2008. 109.
Atmospheric Acid Leaching of Nickel
Laterites Review: Part I. Sulphuric Acid
Technologies. Hydrometallurgy, March
, 91(1-4), pp. 35-55.
8

View publication stats