Anda di halaman 1dari 4

The Integral Paradigm : The truth of faith and the Social Science

By Vincent Jeffries

1. Sorokin’s Integralism
Artikel ini di latar belakangi oleh tulisan Pitirim A. Sorokin tentang Integralisme yang
mengusulkan sebuah paradima untuk ilmu-ilmu sosial. Konsepsinya tentang tiga sistem
komponen kebenaran dan pengetahuan yang meliputi perasaan, akal, dan iman adalah dasar
perspektif yang terpisahkan. Integralisme bertujuan sebagai solusi untuk krisis saat fragmentasi
dan anomie (keadaan yang kacau, tanpa aturan) dalam ilmu sosial. Terjadinya krisis dalam ilmu
sosial dapat di eksplorasi dengan mempertimbangkan pandangan perwakilan dari sifatnya.
Beberapa pandangan peneliti mengenai paradigma Integral sebagai berikut:
a. Analisis Horowitz (1994), integritas ilmiah sosiologi sedang dilanda masalah advokasi
ideologis dan subjektivisme radikal. Aktivitas individu yang puas dengan diri sendiri,
selayaknya mengejar agenda ideologis dan sosial khusus telah menyebabkan pemusnahan
dari perbedaan antara scholarship dan keberpihakan. Asumsi yang mendasari analisis
realitas yang berpotensi dapat diketahui adalah mungkin ditolak. Hasil akhir dari tren ini
adalah aliansi revolusioner dan subyektivis ketidakpuasan mereka dengan tatanan sosial
yang ada.
b. Analisis Lipset (1994): Analisis ini sebanding dengan analisis Horowitz. membandingkan
sosiologi sebelum dan sesudah tahun 1960-an. Sebelum tahun 1960an, Teori dasar dan
penelitian dianggap prasyarat yang diperlukan untuk reformasi sosial. Sedangkan di tahun
1960an, lebih kepada objektivitas dan membangun dasar ilmiah untuk reformasi. Sehingga
consensus teoritis dan metodologis dari periode sebelumnya rusak. Tetap ada perpecahan
dan tidak ada consensus intelektual.
c. Cole (1991), menggambarkan sosiologi tidak dapat mengkonsolidasikan symbol, baik
sebagai sebuah komunitas profesional atau atas dasar pengetahuan umum. Beberapa jurnal
sosiologi partisi mengarah kepada kepahitan dalam teori, dan perpecahan antara teori dan
penelitian. Kebijakan dan sumber daya organisasi, pertumbuhan yang cepat kemudian
menurun pada siswa dan fakultas, dan perbedaan historis antara ilmiah, reformasi, dan
model praktis dari semua disiplin ilmu menyumbang kurangnya consensus. Sehingga
dalam sosiologi tidak ada kriteria dari apa yang merupakan pekerjaan penting yang akan
diterima secara umum.
d. Davis (1994) mencirikan sosiologi sebagai "kacau atau tidak koheren.“ Artikel dan buku
cenderung untuk fokus pada masalah yang unik dan tidak terkait satu sama lain. Teori dan
metode tidak cukup terintegrasi dan tidak ada consensus kriteria apa yang merupakan topik
sosiologis yang sah.

Sorokin percaya bahwa adopsi perspektif akan terpisah akan mengakhiri perlawanan
antara ilmu, filsafat dan agama. Dalam suatu sistem integral dari kebenaran dan pengetahuan
komunitas-komunitas intelektual akan bersatu untuk tujuan memahami kondisi manusia
sebagai dasar untuk rekonstruksi pribadi, sosial, dan budaya. Fokus utama dalam sistem ini
mengarah kepada kepraktisan realisasi nilai-nilai transedental dan prinsip-prinsip etis.

2. Integralisme dalam kebenaran Iman


Menggunakan asumsi dasar bahwa agama dan ide teologi mengandung wawasan valid
dan benar mengenai berbagai aspek perilaku manusia dan kehidupan sosial. Terdapat 2 kategori
dasar ide agama dalam hal hubungannya dengan ilmu sosial yang tidak terpisahkan, yaitu:
a. Ide yang berkaitan dengan sifat spiritual, dunia superrational-Supersensory
Ide-ide yang berkaitan dengan sifat Allah, hubungan antara Allah dan manusia serta
akhirat.
b. Prinsip-prinsip moral dan etika agama-agama besar di dunia
Ide-ide tentang penyebab dan efek dari moralitas tersebut sehubungan dengan individu dan
sosial budaya tersebut. Ide ini berkaitan langsung dengan variasi fundamental dan universal
dalam perilaku manusia, sehingga mereka adalah titik fokus dari ilmu sosial terpisahkan.
Krishna (1960) mencatat bahwa sistem ideasional pengetahuan mengandung beberapa
ide yang berkaitan dengan aspek empiris dan rasional dunia. Ide ini cocok untuk verifikasi
melalui metode ilmu empiris. Contoh pada tingkat abstrak ide tersebut adalah sila positif dan
negative dari Golden Rule: untuk berbuat baik kepada orang lain dan untuk menghindari
merugikan mereka.
Dua model paradigm yang kontras dari paradigm terpisahkan yang mungkin dalam hal
ini. Dari perspektif ini Golden Rule adalah nilai dan sistem normative yang harus dipelajari
karena memberikan pengaruh mendasar barik perilaku manusia dan organisasi sosial.
3. Foundations : the Golden Rule and Personal Transformation
Dengan memfokuskan perhatian teoritis dan penelitian tentang ide-ide keagamaan,
perspektif terpisahkan kembali ke sudut pandang yang konsisten dengan Durkheim (1957) dan
Weber (1958a, 1958b, 1963, 1964).

Ada kesepakatan di kalangan agama-agama besar dunia sehubungan dengan prinsip-


prinsip moral dan etika umum yang menyetujui Golden Rule sebagai prinsip yang paling
mendasar. "Global Ethic" merupakan nilai, standar, dan sikap moral yang merupakan konsensus
dari abad tradisi lama agama-agama besar di dunia. Prinsip dasar dari “Global Ethic”
dinyatakan sebagai berikut :
a. secara positif sebagai "Apa yang Anda harapkan untuk dilakukan pada diri sendiri, lakukan
untuk orang lain,"
b. Secara negatif sebagai "Apa yang Anda tidak ingin dilakukan untuk diri sendiri, jangan
lakukan kepada orang lain"
(dewan Agama-agama Dunia 1993).
Penekanan pada transformasi pribadi juga seragam dalam tradisi agama-agama besar
dunia. fokus umum pada perubahan individu dari hanya mementingkan diri sendiri beralih ke
berpusat kepada Tuhan atau Realitas transcendental. (Hick,1989) melakukan kegiatan amal
bagi mereka yang membutuhkan adalah salah satu manifestasi dari transformasi ini.
4. Kebajikan, Kejahatan, dan Perintah
Merupakan sistem etika dan moralitas yang dapat digunakan sebagai kerangka acuan
untuk studi ilmiah. Memahami masalah sub pokok ilmu-ilmu sosial bahwa selalu ada beberapa
perbedaan antara sistem etika dan perilaku pengikutnya. Tema umum yang muncul dari tulisan
ini tentang esensi dari cinta kebajikan adalah upaya untuk mendapatkan keuntungan orang lain
melalui peduli dan memberi. Kehati-hatian adalah unsur rasional yang diperlukan dalam
membuat keputusan terbaik tentang bagaimana mencintai orang lain secara efektif. Penuh
ekspresi dan konsisten mengharuskan semua kebajikan ini, meskipun relevansinya bervariasi
sesuai keadaan (Jeffries 1987;1988)
 Kebajikan : Dalam bentuk positif dari kebajikan, Golden Rule merupakan penekanan pada
apa yang sering disebut cinta altruistik.
 Kejahatan : Dalam konteks ini dosa merupakan sesuatu yang dapat merugikan diri, orang
lain & masyarakat. Tujuh modal, atau dosa yang mematikan, secara tradisional
diidentifikasi sebagai berikut: kesombongan, iri hati, amarah, nafsu, kerakusan,
keserakahan, dan kemalasan.
 Perintah: Sepuluh Perintah Allah (Keluaran 20: 2-17, Ulangan 5: 6-21) adalah pusat ide
baik dalam tradisi agama Yahudi dan Kristen. Agama-agama dunia lainnya mengandung
ajaran sebanding. Ketika setiap perintah yang explicated, ada sejumlah besar konsep para
positif dan negative yang berkaitan dengan Golden Rule. Mereka berhubungan dengan
aspek utama dan abadi perilaku manusia dan hubungan sosial, misalnya berbagai aspek
perkawinan dan kehidupan berkeluarga, Keadilan.

5. Teoritis dan Penelitian Agenda integralisme


Sistem kebenaran dan pengetahuan ini menyediakan dasar dan arah atas isi dari teori
dan penelitian. Interaksi individu adalah komponen dasar fenomena sosial budaya. Bidang-
bidang Khusus, Perspektif integral melampaui batas-batas disiplin dan subbidang dalam banyak
disiplin. Penyebab dan efek dari Golden Rule dapat diperiksa di kelompok berbeda misalkan
dalam keluarga, ekonomi maupun kelompok politik.