Anda di halaman 1dari 101

Ringkasan

Agenda 21 Indonesia
Strategi Nasional Untuk Pembangunan Berkelanjutan

KATA PENGANTAR
Diluncurkannya dokumen agenda 21-Indonesia berarti
berakhirnya satu tahap proses konsultasi selama dua tahun
yang melibatkan lembaga pemerintah, non pemerintah termasuk
kalangan swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, akademis,
badan-badan Internasional, dan masyarakat luas lainnya baik di
pusat maupun di daerah dalam upaya mencari strategi
pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Proses ini diharapkan
dapat terus berlanjut seiring dengan berlanjutnya pembangunan.

Buku ini adalah ringkasan dokumen Agenda 21-Indonesia


yang memuat gambaran secara garis besar latar belakang,
proses penyusunan, dan sari dari dokumen tersebut. Ringkasan
ini juga memuat tentang visi dan rangkaian strategi dalam
mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Buku ini
tidak memuat isi dokumen Agenda 21-Indonesia secara
lengkap, sehingga belum dapat dijadikan pegangan dalam
pelaksanaannya. Namun demikian, buku disajikan dengan
bahasa sederhana dan gambar yang menarik sedemikian rupa
sehingga pembaca dapat memperoleh gambaran tentang isi
dokumen Agenda 21-Indonesia. Bagi yang ingin mengetahui
lebih rinci, disarankan untuk membaca dokumen Agenda 21-
Indonesia tersebut.

Semoga bermanfaat

Jakarta, Maret 1997

Menteri Negara Lingkungan Hidup

Sarwono Kusumaatmadja

Agenda 21 - 1
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
BAGIAN I PELAYANAN MASYRAKAT
BAB 1 PENGENTASAN KEMISKINAN
BAB 2 PERUBAHAN POLA KONSUMSI
BAB 3 DINAMIKA KEPENDUDUKAN
PENGELOLAAN DAN PENINGKATAN
BAB 4 KESEHATAN
PENGEMBANGAN PERUMAHAN DAN
BAB 5
PERMUKIMAN
SISTEM PERDAGANGAN GLOBAL,
BAB 6 INSRTRUMEN EKONOMI, SERTA NERACA
EKONOMI DAN LINGKUNGAN TERPADU
BAGIAN II PENGELOLAAN LIMBAH
BAB 7 PERLINDUNGAN ATMOSFIR
BAB 8 PENGELOLAAN BAHAN KIMIA BERACUN
PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA
BAB 9
DAN BERACUN
BAB 10 PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF
BAB 11 PENGELOLAAN LIMBAH PADAT DAN CAIR
BAGIAN III PENGELOLAAN SUMBERDAYA TANAH
BAB 12 PERENCANAAN SUMBERDAYA TANAH
BAB 13 PENGELOLAAN HUTAN
PENGEMBANGAN PERTANIAN DAN
BAB 14
PERDESAAN
BAB 15 PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR
BAGIAN IV PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM
BAB 16 KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI
BAB 17 PENGEMBANGAN BIOTEKNOLOGI
PENGELOLAAN TERPADU WILAYAH PESISIR
BAB 18
DAN LAUTAN

Agenda 21 - 2
PENDAHULUAN

Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan dan


Pembangunan (the United Nations conference on Environment and
Development – UNCED) atau yang dikenal dengan Konferensi Tingkat Tinggi
Bumi (Earth Summit) yang diselenggarakan pada bulan Juni 1992 di Rio de
Janeiro, merupakan suatu tonggak sejarah yang menyatukan para kepala
negara dan pejabat pemerintah dari seluruh dunia bersama dengan utusan
badan-badan PBB, organisasi internasional dan utusan lainnya dari berbagai
organisasi non-pemerintah.

Konferensi yang dihadiri oleh 179 negara tersebut secara jelas menyatakan
bahwa pembangunan nasional suatu negara tidak lagi bisa memisahkan
antara pengelolaan lingkungan dengan pembangunan ekonomi-sosial
sebagai bidang-bidang yang terpisah. Deklarasi Rio yang dicetuskan dalam
konferensi tersebut, m engandung prinsip-prinsip dasar yang harus melandasi
setiap keputusan dan kebijakan pemerintah dimasa depan, dengan
mempertimbangkan implikasi lingkungan terhadap pembangunan sosial-
ekonomi. Apapun model pembangunan, integrasi dimensi lingkungnan ke
seluruh sektor pembangunan terkait merupakan prasyarat.

Agenda 21 yang merupakan program kerja besar untuk abad ini sampai
dengan abad 21 dan cerminan konsensus yang dicapai oleh 179 negara
tersebut, merupakan dokumen cetak biru dalam mewujudkan hubungan
kemitraan global yang bertujuan terciptaanya keserasian antara dua
kebutuhan penting, yaitu lingkungan yang bermutu tinggi dan perkembangan
serta pertumbuhan ekonomi yang sehat bagi seluruh penduduk dunia.

Dengan adanya konferensi tersebut, Pemerintah Indonesia dengan cepat


telah menyusun suatu rancangan guna memenuhi persyaratan umum dari
prinsip-prinsip perjanjian lingkungan serta tujuan umum dari KTT Bumi dalam
melaksanakan pembanagunan berkelanjutan. Sarana yang digunakan bagi
pelaksanaan tujuan-tujuan ini berupa sebuah proyek yang dibiayai oleh
United Nations Development Programme (UNDP) dan dilaksanakan oleh
Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Proyek ini diberi nama Post
UNCED Planning and Capacity Building Activities Project, dan produk
utama dari proyek ini adalah dokumen Agenda 21-Indonesia.

AGENDA 21 GLOBAL

Agenda 2 Global, sebagaimana disepakati pada KTT Bumi, merupakan suatu


dokumen komprehensif setebal 700 halaman yang berisikan program aksi
pembangunan berkelanjutan menjelang abad 21. Melalui serangkaian
penelitian selama 2 tahun, penyusunan konsep dan negosiasi intensif yang
dilakukan sebelum menjelang konferensi, akhirnya Agenda 21 ditandatangani

Agenda 21 - 3
oleh sekitar 179 negara (termasuk Indonesia) yang hadir pada konferensi
tersebut.

Agenda 21 dpat digunakan baiak oleh pemerintah, organisasi internasional,


kalangan industri maupun masyarakat lainnya untuk mendukung upaya
pengintegrasian lingkungan kedalam seluruh kegiatan sosial-ekonomi.
Agenda 21 juga membahas dampak kegiatan manusia terhadap lingkungan
dan kesinambungan sistem produksi. Tujuan dari setiap kegiatan yang
tercantum dalam Agenda 21 pada dasarnya adalah untuk mengentaskan
kemiskinan, kelaparan, pemberantasan penyakit, dan buta huruf di seluruh
dunia, disamping untuk menghentikan kerusakan ekosistem penting bagi
kehidupan manusia.

Agenda 21 Global terdiri dari 39 bab yang dibagi dalam 4 bagian:

1. Dimensi Sosial dan Ekonomi – membahas masalah pembangunan yang


dititikberatkan pada segi manusia, serta isu-isu kunci seperti
perdagangan dan keterpaduan pengambilan keputusan.

2. Konservasi dan Pengelolaan Sumberdaya Alam untuk pembangunan


merupakan bagian terbesar dari Agenda 21 yang membahas berbagai
masalah sumberdaya alam, ekosisitem, dan isu penting lainnya, dimana
kesemuanya perlu pengkajian lebih lanjut bila tujuan pembangunan
berkelanjutan ingin dicapai baik pada tingkat global, nasional, dan lokal.

3. Peranan Kelompok Utama – membahas isu kemitraan antar pengelola


lingkungan yang perlu dikembangkan dalam mewujudkan pembangunan
berkelanjutan.

4. Sarana Pelaksanaan – mengkaji dan menganalisis pertanyaan


“bagaimana tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan dapat di capai?”. Bagian ini menilai sumberdaya yag
digunakan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Selain aspek
pendanaan dan teknologi, bagian ini juga membahas isu pendidikan,
struktur kelembagaan dan perundang-undangan, data dan informasi
serta pengembangan kapasitas nasional.

Secara umum, Agenda 21 Global menawarkan berbagai kegiatan konstruktif


dan inovatif yang dapat dijalankan baik dinegara maju maupun berkembang.
Didalam Agenda 21 diungkapkan hal-hal penting dalam upaya mencapai
pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan, antara lain:

v Kemitraan Nasional menjadi kunci utama dalam mencapai pembangunan


berkelanjutan di suatu negara. Hubungan antara perencanaan
pembangunan, pengelolaan lingkungan, dan pertimbangan sosial dibahas
secara rinci di setiap bab, dan disadari bahwa penanganan lingkungan
tidak dapat dilakukan terpisah dari strategi pembangunan lainnya.

v Setiap negara disarankan untuk menggali strategi pembangunan


berkelanjutan yang berwawasan lingkungan sesuai dengan kondisi

Agenda 21 - 4
negaranya masing-masing. Dalam kaitan ini partisipasi masyarakat
menjadi penting guna memperoleh dukungan berbagai pihak.

v Aspek yang berkaitan dengana isu perdagangan, investasi, dan hutang,


khususnya mengenai sistem perdagangan dan investasi yang lebih bebas
dan terbuka memperoleh dukungan yang positif. Bagian ini juga
menganjurkan agar semua biaya, termasuk biaya lingkungan dimasukkan
kedalam perdagangan jasa dan barang. Semua negara disarankan untuk
menghilangkan atau mengurangi subsidi yang tidak konsisiten dengan
tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan, serta
memperbaiki harga suatu sumberdaya dengan mengembangkan pajak
lingkungan atau sejenisnya.

v Kemiskkinan dipandang sebagai baik penyebab maupun hasil dari


penurunan kualitas lingkungan. Penanganannya tidak dapat dilakukan
secara terpisah, melainkan harus secara bersama dengan memasukkan
isu pelayanan kesehatan, kependudukan, hak perempuan, dan
pengelolaan sumberdaya alam oleh masyarakat lokal.

v Pola konsumsi yang dianut oleh negara-negara Utara telah menyebabkan


terjadinya polusi dan penurunan kualitas lingkungan. Berbagai masalah
yang timbul sebagai akibat dari pola konsumsi yang tidak berwawasan
lingkungan tersebut telah mendorong upaya-upaya seperti masuknya
biaya lingkungan ke dalam proses produksi, pengembangan program
“pilihan pembeli “ (consumer choice), dan strategi pembangunan yang
bertujuan untuk mengurangi limbah dan meningkatkan efisiensi
pemanfaatan sumberdaya alam.

v Pentingnya keterpaduan pengambilan keputusan dalam pengelolaan


lingkungan dinyatakan dalam semua bab Agenda 21, dengan
memasukkan dimensi lingkungan kedalam arus tengah pembangunan.

v Pendekatan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan


dengan fokus masyarakat direkomendasikan pada berbagai bab (antara
lain pengentasan kemiskinan, pertanian yag berkelanjutan, dan degradasi
tanah), dan juga pada bagian peranan kelompok utama . Rekomendasi
lainnya adalah pentingnya desentralisasi pengambilan keputusan dalam
pengelolaan sumberdaya dengan melibatkan masyarakat, memberikan
hak penggunaan tanah yang lebih besar kepada masyarakat desa, serta
memperluas pelayanan kredit dan peluang-peluang bertani.

v Pembangunan pertanian bebrkelanjutan membahas masalah keamanan


pangan bagi penduduk yang terus bertambah. Bagian ini juga
mengungkapkan perlunya penyesuaian kebijakan dibidang ekonomi,
pertanian, dan lingkungan untuk mencapai tujuan pembanagunan
pertanian serta pelestarian lingkungan.

v Pentingnya pendidikan, penyadaran masyarakat, dan pelatihan juga


ditekankan pada semua bab. Pemerintah disarankan untuk
mengembangkan pendidikan bagi masyarakat melalui kampanye-

Agenda 21 - 5
kampanye yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
terhadap isu-isu lingkungan, dan mempertimbangkan peranan pendidikan
formal maupun informal didalam setiap perencanaan dan kegiatan untuk
mencapai pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

v Isu keanekaragaman hayati tidak hanya dibahas dalam Konvensi


Keanekaragaman Hayati, tetapi juga dalam bab keanekaragaman biologi.
Disadari bahwa bahan dan sarana yang dibutuhkan bagi kehidupan
manusia sangat tergantung pada terpeliharanya ekosistem dari berbagai
jenis gen, spesies, dan populasi. Pangan, pakaian, papan, obat-obatan,
dan prasarana spiritual adalah aspek penting yang disediakan oleh
ekosistem bumi.

v Isu kesehatan masyarakat mencakup hal-hal yang sangat luas seperti


sarana kesehatan dasar, bahaya polusi lingkungan, penyakit menular,
kesehatan perkotaan, dan masalah kelompok rentan.

v Pengaturan institusi yang diperlukan bagi pelaksanaan pembangunan


berkelanjutan ditekankan pada banyak bab, yang memfokuskan pada
kelembagaan yang ada dan perubahan yang diperlukan. Dokumen
Agenda 21 Global juga merekomendasikan pembentukan UN Commission
for Sustainable Development (UNCSD), guna melihat transisi dan
pelaksanaan Agenda 21 di semua negara.

Singkatnya, seluruh peserta pada Konferensi Rio de Janeiro Brasil telah


membuat serangkaian kesepakatan mengenai dasar-dasar menuju
pembangunan berkelanjutan dan juga diterbitkannya dokumen Agenda 21
Global. Agenda 21 Global yang diadopsi pada konferensi tersebut bukan
merupakan suatu “resep” pemecahan masalah yang dapat langsung dan
mutlak harus diikuti oleh setiap negara, melainkan merupakan suatu arahan
umum yang perlu dikembangkan lebih lanjut, disesuaikan dengan kondisi
sosial, ekonommi, budaya, dan lingkungan negara masing-masing.
Rekomendasi dari masing-masing bab dalam Agenda 21 Global maupun
Agenda 21 Nasional suatu negara umumnya menggambarkan pendekatan-
pendekatan diatas, dan tentunya bervariasi sesuai dengan kondisi ataau
kareteristik masing-masing negara.

AGENDA 21 – INDONESIA

1. Proses penyusunan Agenda 21 – Indonesia

Pada bulan-bulan awal, pelaksanaan proyek difokuskan pada penetapan


lingkup dan tujuan proyek yang mencerminkan isu penting serta perubahan
yang terjadi sejak KTT Bumi pada 1992 serta arah pembangunan dimasa
mendatang. Identifikasi isu penting tentang pembangunan dan lingkuangna
dilakukan melalui survai ke 27 propinsi di Indonesia dengan mewawancarai
semua pihak terkait. Dengan menggunakan metode Analisis Hirarki Proses
(AHP), data survai diolah yang kemudian disebarkan kepada konsultan
penyusunan Agenda 21 sebagai bahan masukan. Dengan bantuan badan-

Agenda 21 - 6
badan lainnya, jumlah konsultan penyusun Agenda 21- Indonesia menjadi 22
orang.

Konsultan penyusun Agenda 21 dibagi kedalam 18 prioritas bidang dan


mengorganisasi kelompok kerja yang terdiri dari berbagai pihak terkait. Dalam
kelompok kerja ini peserta terdiri dari wakil berbagai lembaga (pemerintah,
dunia swasta, LSM, dan masyarakat umum). Laporan yang dihasilkan
dibahas antar anggota kelompok guna memperoleh suatu kesepakatan
tentang prioritas program, tujuan, kegiatan yang diusulkan, serta sarana
pelaksanaanya. Para konsultan dibantu oleh empat koordinator dengan
pembagian sebagai berikut: (i) Pelayanan Masyarakat; (ii) Pengelolaan
Limbah; (iii) Pengelolaan Sumberdaya Lahan; dan (iv) Pengelolaan
Sumberdaya Alam.

Dalam rangka memperoleh hasil yang optimal, pendekatan “broad-based-


participation” dilakukan melalui berbagai seminar dan lokakarya yang
melibatkan para pakar dibidang pembangunan dan lingkungan baik dari
kalangan pemerintah (Bappenas, Departemen Teknis, dll), kalangan bisnis,
masyarakat luas lainnya. Konsultasi aktif secara terus - menerus dilakukan
dengan lembaga pemerintah dan non-pemerintah serta dengan Kepala Biro
Perencanaan Departemen terkait sedemikian rupa sehingga publikasi awal
Agenda 21-Indonesia dapat diterbitkan.

2. Tujuan Agenda 21-Indonesia

Dalam rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan


lingkungan, maka integrasi pembangunan ekonommi, sosial, dan lingkungan
merupakan syarat yang harus dianut oleh semua sektor pembangunan terkait.
Kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan ini adalah dilaksanakannya
kemitraan nasional oleh seluruh sektor yang berkaitan dengan pembangunan
dan lingkungan, yang mana merupakan inti dari tujuan baik Agenda 21 Global
maupun Agenda 21-Indonesia.

Agenda 21-Indonesia memberikan serangkaian pandangan dan inspirasi


yang dapat dimasukkan ke dalam proses perencanaan pada setiap tingkatan
pembangunan di Indonesia, sedemikian rupa lembaga-lembaga pemerintah,
swasta, dan masyarakat luas lainnya dapat memanfaatkan dokumen ini
sebagai referensi bagi penyusunan perencanaan dan program-program
jangka pendek dan panjang dalam menghadapi pasar bebas di masa
mendatang dan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang
diidam-idamkan. Agenda 21-Indonesia juga memberikan seperangkat saran
dan rekomendasi bagi kegiatan-kegiatan dan strategi pelaksanaannya untuk
penyusunan GBHN, Repelita VII dan berikutnya. Dokumen ini secara
komprehensif dan rinci mengungkapkan kaitan antara pembangunan
ekonomi dan sosial, serta perlindungan terhadap lingkungan dan sumberdaya
alam, serta memberikan ‘paradigma baru” bagi pencapaian pembangunan
berkelanjutan di Indonesia.

Sebagai kesimpulan, Agenda 21 dapat dijadikan sebagai suatu “advisory


document” yang mencakup aspek kebijakan, pengembangan program dan

Agenda 21 - 7
strategi yang meliputi hampir seluruh perencanaan pembangunan bidang
sosial, ekonomi dan lingkungan.

3. Struktur Dokumen Agenda 21-Indonesia

Agenda 21-Indonesia terdiri dari 4 bagian yaitu: (i) Pelayanan Masyarakat; (ii)
Pengelolaan Limbah; (iii) Pengelolaan Sumberdaya Tanah; dan (iv)
Pengelolaan Sumberdaya Alam. Setiap bagian berisikan beberapa bab yang
ditetapkan berdasarkan isu-isu yang diambil dari Agenda 21 Global dan telah
dinilai sebagai topik-topik penting melalui survai nasional terhadap para
pelaku dan administrator yang mewakili lembaga pemerintah, dunia swasta,
akademisi, serta masyarakat lainnya.

Setiap bab dalam Agenda 21-Indonesia berisikan berbagai bidang program


spesifik yang dinilai sebagai sebagai program prioritas. Masing-masing bidang
program berisikan dasar tindak yang berisikan uraian “business as usual” dan
“what is desired?” yang menawarkan perhatian/paradigma baru pemecahan
masalah sesuai dengan topik yang dibahas; tujuan bidang program; kegiatan
yang diusulkan; serta sarana pelaksanaan yang mencakup aspek pendanaan,
kapasitas kelembagaan, sarana ilmiah dan teknologi, informasi bagi
pengambilan keputusan, dan sumberdaya manusia. Uraian dikemas dalam
kerangka waktu 1998-2003 dan 2003-2020. setiap bab juga mengemukakan
peranan kelompok utama dan strategi pengembangan sumberdaya manusia
yang perlu diam bil untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang
diuraikan dalam setiap bab.

4. Posisi Agenda 21-Indonesia

Agenda 21-Indonesia disusun dengan mengacu pada dokumen 21 Global,


GBHN 1993, Repelita VI, dokumen institusi pemerintah dan badan-badan
internasional, serta publikasi lainnya. Seperti telah disebut terdahulu, tujuan
dari penyusunan Agenda 21-Indonesia adalah menyajikan seperangkat saran
dan rekomendasi bagi penyusunan GBHN, Repelita VII dan berikutnya
(nasional dan daerah), penyusunan rancang tindak departemen,
pengembangan Agenda 21-Lokal, serta program aksi lainnya oleh institusi
non-pemerintah. Dengan demikian maka posisi dokumen Agenda 21-
Indonesia dalam pembangunan nasional pada hakekatnya dapat dilihat jelas
seperti pada gambar diatas.

Agenda 21 - 8
BAB I
PENGENTASAN KEMISKINAN

Sejak Pelita I tahun 1969/1970, telah banyak yang dilakukan bangsa


Indonesia untuk mengentaskan kemiskinan. Mulai dari kegiatan penciptaan
lapangan kerja baru, peningkatan program pendidikan dan keterampilan,
sampai dengan pelaksanaan program Inpres Desa Tertinggal (IDT),
pembentukan Tabungan Kesejahteraan Keluarga (Takesra), Koperasi
Usaha Kesejahteraan Keluarga (Kukesra), serta upaya pendistribusian
kekayaan telah diwujudkan demi terciptanya masyrakat adil dan makmur.
Melalui berbagai kebijakan ini, jumlah penduduk miskin yang pada tahun
1970 berjumlah 70 juta orang atau 60% dari jumlah penduduk saat itu, telah
berkurang secara drastis menjadi 27 juta orang pada tahun 1990 atau 15%
dari jumlah penduduk. Ini membuktikan bahwa kebijakan pengentasan
kemiskinan yang telah dilakukan Indonesia, memang memberikan hasil
yang menggembirakan sekalipun masih banyak agenda yang perlu
dilakukan.

Jumlah penduduk miskin pada tahun 1993 terhitung 26 juta jiwa. Ini berarti
telah terjadi penurunan lagi sekitar satu juta jiwa dibandingkan dengan
tahun 1990. menarik untuk disimak bahwa dari jumlah penduduk miskin
pada tahun 1993, sebesar 82% berada di pedesaan, sedangkan sisanya
18% berada diperkotaan. Ini memberikan indikasi bahwa segala kebijakan
dan program yang ditujukan untuk mengentaskan kemiskinan, mempunyai
manfaat besar bila lebih diarahkan untuk mengentaskan kemiskinan
dipedesaan.

Prinsip 8 jalur pemerataan yang ditegaskan dalam Repelita VI dalam


mengatasi kemiskinan, masih relevan dan harus terus dipertahankan
sebagai landasan pembangunan di masa mendatang. Prinsip ini adalah:

1) Pemerataan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya pangan,


sandang, dan perumahan.

Agenda 21 - 9
2) Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan
kesehatan.

3) Pemerataan pembagian pendapatan.

4) Pemerataan kesempatan kerja.

5) Pemerataan kesempatan berusaha.

6) Pemerataan kesempatan berperanserta dalam pembangunan


khususnya bagi generasi muda dan kaum perempuan.

7) Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh tanah air.

8) Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

Dalam melaksanakan kebijakan diatas, secara garis besar upaya dapat


dilakukan melalui peningkatan kemampuan, kemandirian, ketangguhan
peranan usaha rakyat atau apa yang dikenal sebagai ekonomi rakyat, baik
dalam bentuk koperasi, usaha kecil, usaha tradisional, ataupun informal.

Keberhasilan bangsa Indonesia dalam mengentaskan kemiskinan ini


ditunjang pula oleh adanya keberhasilan sektor pertanian, yaitu dari negara
importir beras menjadi swasembada beras yang dicapai pada tahun 1984.
Ini menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan telah menempatkan
kemiskinan sebagai salah satu perhatian utama, sekalipun kritik-kritik
mengenai pelaksanaan kebijakan tersebut perlu mandapat perhatian.

Salah satu kritik yang diketengahkan mengenai penanggulangan


kemiskinan adala perlunya peningkatan pemahaman keterkaitan antara
kemiskinan dengan lingkungan dan sumberdaya alam berikut dengan
pelaksanaannya. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan akan
keterkaitan tersebut serta kompleksitas permasalahan kemiskinan yang
mengharuskan keterlibatan semua aktor pembangunan. Belum banyak
disadari bahwa kemiskinan merupakan salah satu penyebab terjadinya
kemerosotan lingkungan dan sebaliknya kemerosotan daya dukung
lingkungan dapat menjadi penyebab muncul dan berkembangnya
kemiskinan. Sebagai contoh adalah keterkaitan antara kemiskinan dan
sumberdaya alam bagi petani, nelayan, dan masyarakat perkotaan.

Dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat, ketergantungan


penduduk akan sumberdaya alam juga semaki meningkat. Kemerosotan
daya dukung lingkungan di sektor pertanian ditunjukkan oleh adanya
penyempitan luas tanah pertanian yang terjadi di hampir seluruh wilayah di
Indonesia. Di Pulau Jawa, hal ini diakibatkan oleh antara lain masalah
konversi tanah pertanian ke peruntukan non-pertanian. Penurunan ini
terlihat misalnya pada luas tanah pertanian kering yang turun dari tahun
1988dan 1990 masing-masing dari 38,5 juta hektar. Penurunan tanah ini
juga ditunjukkan oleh penurunan produksi padi pada tahun yang sama yaitu
dari 52 juta ton menjadi 45 juta ton.

Agenda 21 - 10
Disektor perikanan, tercatat sekitar 60% penduduk di Indonesia tinggal di
wilayah pesisir. Umumnya mereka bergantung pada laut dan sumberdaya
yang ada di dalamnya. Indonesia mempunyai potensi sumberdaya pesisir
dan lautan yang sangat besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Namun fakta juga menunjukkan bahwa ancaman kerusakan sumberdaya ini
semakin meningkat akibat makin banyak dan beragamnya kegiatan
pembangunan. Kemerosotan daya dukung lingkungan dapat dillihat dari
hilangnya beberapa hutan bakau di beberapa wilayah yang sebagian
diakibatkan oleh konversi hutan ini menjadi tanah pertanian pasag surut
dan pertambakan. Degradasi lain adalah rusaknya terumbu karang yang
luas mencapai 7.500 km 2. sampai dengan tahun 1993 kondisi terumbu
karang Indonesia dilaporkan sebagai berikut: 14% dalam keadaan kritis;
46% dalam keadaan rusak; 33% dalam keadaan baik; 7% dalam keadaan
paling baik. Untuk menjamin kelangsungan sumberdaya pesisir dan lautan
perlu dikembangkan system pengelolaaan yang didasari oleh prinsip-prinsip
pemanfaatan dan pelestarian.

Kecenderungan di masa mendatang menunjukkan bahwa kemiskinan akan


lebih banyak ditemui di wilayah perkotaan, seiring dengan urbanisasi yang
terjadi, sekalipun kemiskinan di perdesaan (khususnya petani dan nelayan)
juga masih harus diatasi. Dengan peningkatan penduduk di wilayah
perkotaan maka timbul masalah penyediaan air bersih, makin banyaknya
sampah, serta melimpahnya limbah penduduk.

Di sisi lain, kemiskinan juga sangat berkaitan erat dengan aspek


pemerataan. Adanya kesenjangan sosial yang terjadi saat ini menghendaki
peningkatan perhatian terhadap kebijakan pemerataan yang berkaitan
dengan redistribusi dan retribusi harta produksi. Yang pertama mengacu
pada pendistribusian aset produksi (modal) yang lebih merata, sedangkan
yang kedua lebih kepada pengalokasian sebagian harta produksi yang
dimiliki oleh golongan kuat untuk membantu tumbuhnya pengusaha
golongan ekonomi lemah. Kebijakan ekonomi makro yang juga
mempengaruhi proses pemerataan adalah kebijakan disektor perpajakan.
Sistem perpajakan progresif yang berjalan saat ini dinilai positif untuk
dikembangkan terus, karena selama ini kebijakan sektor tersebut dianggap
masih belum adil.

Aspek penting lainnya yang berkaitan dengan kemiskinan adalah


keterlibatan masyarakat luas dalam proses perumusan kebijakan.
Keterlibatan masyarakat ini menyangkut akses dan peranserta penduduk
miskin untuk ikut serta dalam memperjuangkan aspirasi politik dan
kepentingan mereka melalui saluran organisasi politik, pemerintahan, dan
Lembaga Swadaya Masyarakat. Hal tersebut penting mengingat
demokratisasi ekonomi dan politik merupakan salah satu syarat utama
proses pengentasan kemiskinan.

Sektor yang akan menghadapi tantangan makin berat dalam menghadapi


masalah kemiskinan adalah sektor pertanian, industri , perdagangan, dan
jasa. Tantangan di sektor pertanian adalah penyerapan tenaga kerja dan
pemenuhan kebutuhan pangan. Makin meningkatnya pembangunan sektor

Agenda 21 - 11
industri (manufaktur), perdagangan, dan jasa, makin mendorong
tumbuhnya berbagai jenis kegiatan dengan skala kegiatan yang bervariasi
dan beranekaragam. Perkembangan tersebut akan mempercepat proses
marjinalisasi penduduk yang ditandai oleh persaingan ketat dan tuntutan
sumberdaya manusia yang berkualitas.

STRATEGI PENGENTASAN KEMISKINAN

Dalam menghadapi tantangan masa depan, maka strategi pengentasan


kemiskinan harus diarahkan untuk:

1) Meningkatkan kualitas manusia dan penghasilan secara


berkelanjutan.

2) Meningkatkan pelayanan kesehatan: air bersih dan sanitasi


lingkungan.

3). Melestarikan fungsi sumberdaya alam.

Peningkatan Kualitas Manusia dan Penghasilan secara Berkelanjutan

Salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk mewujudkan manusia


berkualitas dan mempunyai penghasilan secara berkelanjutan adalah
peningkatan kapasitas dalam mengelola sumberdaya alam secara
berkelanjutan. Pengembangan program pendidikan dan keterampilan dimasa
depan ini harus dilandasi dengan asumsi bahwa kualitas dan
keanekaragaman pengetahuan dan keterampilan makin dibutuhkan baik
disektor pertanian maupun non-pertanian. Ini berarrti bahwa pengembangan
system pendidikan dan keterampilan di masa depan harus secara spesifik
memperhatikan kepentingan golongan miskin. Keberpihakan terhadap
golongan miskin ini diperlukan untuk mengembangkan masyarakat miskin
menjadi potensi penggerak perekonomian di masa mendatang.

Peningkatan Pelayanan Kesehatan : Air Bersih dan Sanitasi Lingkungan

Aksesibilitas penduduk miskin terhadap fasilitas kesehatan masih perlu


ditingkatkan. Sebagai contoh, saat ini lebih dari 70% desa miskin tidak
mempunyai fasilitas kesehatan yang memadai. Kondisi ini sangat
mempengaruhi kesehatan dan kualitas penduduk yang tentunya juga
mempengaruhi produktivitas mereka. Desa miskin umumnya tidak
mempunyai prasarana perhubungan yang memadai, dan penyediaan fasilitas
air bersih juga memprihatinkan. Perlu dilakukan program peningkatan
pelayanan sosial yang memadai yang mencakup aspek kesehatan, sarana
perhubungan, sanitasi lingkungan, dan air bersih. Kegiatan ini akan lebih
efektif bila dicanangkan secara nasional, dan untuk periode ini target
utamanya adalah wilayah-wilayah miskin yang berada didaerah perkotaan.
Hal ini mengingat bahwa di tahun-tahun mendatang, tekanan-tekanan di

Agenda 21 - 12
perkotaan baik sebagai akibat urbanisasi maupun perkembangan
pembangunan di kota akan semakin meningkat.

Pelestarian Fungsi Sumberdaya Alam

Sampai pada tahun 2020 kebanyakan penduduk miskin diperkirakan masih


akan bergantung pada sumberdaya alam. Masyarakat petani akan
menghadapi masalah serius yang sulit dipecahkan, yaitu kelangkaan tanah.
Tanah untuk kegiatan pertanian telah dan akan semakin menyempit sebagai
akibat konversi menjadi tanah non-pertanian seperti industri dan pemukiman.

Selain petani, nelayan merupakan kelompok masyarakat miskin yang


memerlukan perhatian. Salah satu langkah yang harus ditempuh untuk
mengatasi masalah masyarakat miskin di wilayah pesisir (nelayan) adalah
pengembangan sektor kelautan yang lebih memperhatikan keberlanjutan
sumberdaya pesisir dan kelautan.

Pengentasan kemiskinan juga harus menyentuh kepentingan masyarakat


miskin di kota, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya
alam. Upaya tersebut perlu dikaitkan dengan upaya peningkatan diversifikasi
(penganekaragaman) kegiatan ekonomi yang mempunyai nilai tambah tinggi
yang tidak hanya bertumpu pada sumberdaya alam. karena itu perlu
dikembangkan program pembangunan di sektor pertanian yang intensif
dengan tingkat produktivitas tinggi, serta kegiatan pembangunan lainnya yang
mampu menampung kebutuhan tenaga kerja non-pertanian dan non-kelautan
di perkotaan. Selain itu, perlu dikembangkan diversifikasi sumber penghasilan
penduduk miskin untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap satu
jenis mata pencaharian dan sekaligus mengurangi ketergantungan
perekonomian mereka terhadap sumberdaya alam. Dalam
mengimplementasikan strategi diatas, maka baik kebijakan makro maupun
mikro dalam mengentaskan penduduk miskin paling tidak harus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1 Pendidikan dan Keterampilan

Tingkat pendidikan dan keterampilan perlu mendapat perhatian karena setiap


sektor pembangunan baik pertanian maupun non-pertanian di masa
mendatang memerlukan manusia berkualitas dan mandiri. Industrialisasi akan
mendorong diversifikasi pekerjaan yang menuntut keterampilan tinggi,
sehingga perlu system pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhan pasar
tenaga kerja.

2 Aset dan Faktor Produksi

Aset dan faktor produksi merupakan aspek penting pemberdayaan penduduk


miskin dalam rangka menjamin berkembang dan berlanjutnya penerimaan
penghasilan. Penduduk miskin yang hanya berpenghasilan antara Rp. 18 ribu
s/d Rp. 28 ribu per kapita per bulan menunjukkan betapa rentannya mereka.
Keberdayaan penduduk miskin hanya dimungkinkan bila kebijakannya secara
konsisten mengarah pada peningkatan keberdayaan ini. Terjadinya

Agenda 21 - 13
“pemiskinan baru” sebagai akibat dari ketidakseimbangan antara penyerapan
tenaga kerja dan pertumbuhan angkatan kerja semakin mempersulit keadaan
penduduk miskin.

3 Sarana Umum

Permasalahan kemiskinan lain adalah rendahnya aksesibilitas masyarakat


miskin terhadap pelayanan sosial, sarana umum seperti kesehatan, sarana
jalan, sanitasi lingkungan, dan air bersih. Secara fisik, pembangunan di desa-
desa miskin masih belum memadai.Fasilitas pusat kegiatan ekonomi (pasar)
juga perlu ditingkakan. Data menunjukkan bahwa hampir 90% desa tidak
mempunyai pasar. Padahal aksesebilitas masyarakat terhadap sentra-sentra
kegiatan ekonomi merupakan unsure penting dalam proses peningkatan
peluang usaha.

4 Aksesbilitas terhadap Sumberdaya Alam

Khususnya penduduk miskin yang sangat bergantung pada sumberdaya alam


(misalnya sumberdaya hutan, laut, dan sebagainya), semakin kecilnya
aksesbilitas pada sumberdaya alam ini akan menyulitkan penduduk miskin
untuk mempertahankan kehidupannya. Oleh karena itu, timbulnya kemiskinan
jenis ini harus diatasi dengan suatu reorientasi kebijakan yang tidak
mengurangi aksesbilitas penduduk miskin terhadap sumberdaya alam tanpa
mengesampingkan upaya pelestarian fungsi-fungsi ekologis.

5. Kemitraan Nasional

Karena sifatnya, upaya pengentasan kemiskinan bukan hanya menjadi


tanggung jawab pemerintah saja, melainkan kelompok-kelompok utama baik
kalangan swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, maupun masyarakat kuat
lainnya sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya masing-masing.

Agenda 21 - 14
BAB 2
PERUBAHAN POLA KONSUMSI

Didalam dokumen Agenda 21 Global, bab mengenai pola konsumsi secara


implicit ditujukan kepada negara-negara yang sektor produksi dan
konsumsinya banyak menghasilkan limbah serta pernggunaan sumberdaya
alam dan energi yang berlebihan. Untuk negara sedang berkembang seperti
Indonesia, permasalahan pola konsumsi lebih mengarah kepada peningkatan
gizi dan kesehatan masyarakat yang masih merupakan masalah utama.
Namun demikian, tidaklah berarti bahwa pencegahan dan pengendalian
limbah serta pengelolaan pemanfaatan energi secara berlebihan menjadi
tidak penting.

Masalah ini akan menjadi penting bila di masa datang kebijakan pola
konsumsi termasuk pola produksi tidak memperhatikan keberlanjutan
sumberdaya alam dan lingkungan. Ini dapat terlihat bahwa sampai saat ini
belum ada kebijakan yang secara eksplisit mendorong pola produksi dan
konsumsi yang berkelanjutan. Permasalahan lingkungan seperti pencemaran,
tanah krisis, dan kelangkaan sumberdaya alam akan cenderung berkembang
sebagai dampak dari pola produksi dan konsumsi yang kurang ramah
lingkungan tersebut.

Salah satu penyebab utama berkelanjutnya kerusakan lingkungan global


adalah diterapkan pola konsumsi dan pola produksi yang mengabaikan
fungsi-fungsi ekologi serta keterbatasan alam untuk menyediakan
sumberdaya seperti yang terjadi di negara-negara industri. Ironisnya hal ini
diikuti oleh negara-negara berkembang yang sedang memacu ketinggalannya
dari negara-negara tersebut.

Dengan semakin terbukanya arus informasi global, tentunya segala sesuatu


yang terjadi di negara-negara industri ataupun di daerah-daerah yang lebih
maju perekonomiannya akan mempunyai dampak langsung pada negara-

Agenda 21 - 15
negara berkembang atau negara yang masih tertinggal. Perilaku konsumsi
yang berlebihan di negara-negara maju misalnya, secara langsung atau tidak
langsung akan ditiru oleh negara-negara lain dalam upaya mengejar
ketinggalannya. Negara-negara berkembang “dipaksa” untuk mengeksploitasi
sumberdaya guna memenuhi permintaan negara-negara maju sekaligus
mempengaruhi perubahan pola konsumsi dan gaya hidup di negara-negara
berkembang termasuk Indonesia.

Di Indonesia, masalah yang ditimbulkan oleh peningkatan konsumsi


sumberdaya alam terjadi baik diwilayah perdesaan maupun perkotaan.
Dampak dari konsumsi ini terlihat antara lain dari adanya tanah krisis yang
semakin luas sebagai akibat eksploitasi sumberdaya alam yang kurang
bijaksana di areal pertanian tanah kering, hutan lindung,suaka alam, dan
kawasan lindung lainnya. Di wilayah perkotaan makin terasa bahwa
sumberdaya air tanah menjadi semakin langka akibat penggunaan yang
berlebihan karena masih dianggap sebagai barang yang bebas (free goods),
dan adanya kelangkaan ini tidak tercermin dalam peningkatan harga per
satuan komoditi.

Upaya peningkatan pangan dan gizi masyarakat sebenarnya telah lama


dilakukan bangsa Indonesia khususnya pada waktu dimulainya pembangunan
nasional tahun 1969/1970. Dicapainya swasembada beras pada tahun 1984
dan berhasil dipertahankan hingga saat ini merupakan keberhasilan bangsa
Indonesia dalam mencukupi kebutuhan beras nasional.

Namun demikian, usaha yang dilakukan baru terbatas pada komoditi padi
yang masih terpusat di Pulau Jawa. Cita-cita untuk mewujudkan swasembada
pangan masih banyak menghadapi tantangan dan kendala. Kondisi pangan
Indonesia dapat dikatakan masih rentan terhadap perubahan iklim, serangan
hama penyakit, serta perubahan harga. Terpusatnya system produksi padi di
Jawa ini memberikan tekanan yang berat terhadap pemanfaatan sumberdaya
alam dan lingkungan. Menciutnya tanah sawah serta terjadinya perubahan
struktur tanah sebagai akibat konflik kepentingan dengan sektor industri dan
perumahan mengakibatkan produktivitas padi menjadi semakin turun. Upaya
mempertahankan swasembada beras mengharuskan pengalihan lokasi
usahatani padi beralih dari Jawa ke luar Jawa dengan mengandalkan kembali
program ekstensifikasi dan intensifikasi. Dalam suasana potensi pangan
yang masih rentan ini, maka kebutuhan pangan nasional akan tergantung
pada situasi pangan dunia.

Masalah lain yang berkaitan dengan pola produksi dan konsumsi ini adalah
masalah energi. Dengan meningkatnya proses industrialisasi maka
permintaan akan energi menjadi semakin besar setiap tahunnya. Menarik
untuk disimak bahwa konsumsi energi dunia saat ini 90% berasal dari
sumberdaya yang tak pulih,dimana minyak bumi menduduki porsi
setengahnya. Cadangan minyak bumi saat ini diperkirakan sebesar satu
trilyun barrel. Bila kebutuhan energi ini 65 juta barrel sehari dan tingkat
produksi minyak bumi meningkat sebesar 2% per tahun, maka diperkirakan
cadangan minyak bumi in akan habis dalam waktu 30 tahun. Di sini terlihat
jelas bahwa krisis energi terutama minyak bumi akan menjadi masalah utama

Agenda 21 - 16
di masa mendatang termasuk Indonesia. Untuk jenis energi lainnya seperti
batubara, gas bumi, dan lainnya tampaknya tidak akan separah apa yang
dialami minyak bumi. Namun demikian, dengan meningkatnya kebutuhan
energi ini maka selain mengancam ketersediaannya juga menimbulkan
dampak negatif berupa pencemaran udara. Di kota-kota besar ternyata
transportasi menyumbang zat pencemar udara terbesar (70%) dibandingkan
sektor lainnya.

Energi lain yang juga menghadapi masalah adalah sumberdaya air. Inti
permasalahan sumberdaya air di Indonesia pada hakekatnya ada 3 hal
pokok, yaitu: (i) kuantitas;(ii) kualiyas; dan (iii) distribusi. Air yang semula
dianggap benda bebas saat ini telah menjadi benda langka. Permintaan yang
melebihi suplai baik secara kuantitas maupun kualitas menjadikan
sumberdaya ini semakin terkuras tanpa di iringi dengan pemulihannya. Fakta
menunjukkan bahwa adanya kelangkaan sumberdaya ini ternyata tidak
tercermin dalam harga. Sebagai contoh, pengurasan sumberdaya air tanah di
Jakarta telah mencapai lebih dari 300 juta m3 per tahun sementara kapasitas
pengembalian ke aquifer hanya mencapai 114 juta m3 per tahun.
Ketidakseimbangan antara masukan dan keluaran ini ironisnya tidak dibarengi
dengan pengembangan kebijakan instrumen harga yang mencerminkan
kelangkaan untuk mewujudkan efisiensi dan penghematan penggunaan air.
Umumnya rumah tangga menikmati konsumsi air tanah ini tanpa dipunggut
biaya. Biaya yang dikeluarkan hanya berupa biaya listrik, biaya pembelian
dan pemasangan pompa. Di sektor industri, harga air tanah yang dikenakan
masih jauh dari harga yang seharusnnya dibayar. Biaya kelangkaan dan
biaya kerusakan lingkungan belum tercermin sepenuhnya dalam penentuan
harga pokok air. Pengembangan instrumen ekonomi merupakan salah satu
cara yang ampuh bila keberlanjutan sumberdaya air ingin dicapai.

STRATEGI POLA KONSUMSI DAN PRODUKSI RAMAH LINGKUNGAN

Dengan memperhatikan masalah pokok yang terjadi di Indonesia, perlu


dikembangkan strategi pola konsumsi dan produksi ramah lingkungan yang
secara nasional yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) Pola produksi, konsumsi pangan, dan kecukupan gizi.

2) Perubahan pola produksi dan konsumsi energi.

3) Pola produksi dan konsumsi sumberdaya air.

Pola Produksi, Konsumsi Pangan, dan Kecukupan Gizi

Semakin intensifnya system pertanian dan pesatnya pertumbuhan penduduk,


melahirkan berbagai konsekuensi yang harus dihadapi bukan saja oleh sektor
pertanian, melainkan juga sektor-sektor lain yang terkait. Dampak terhadap
lingkungan akibat praktek-praktek pertanian yang kurang bijaksana misalnya,
telah menimbulkan berbagai kekhawatiran mengenai pengaruh yang
merugikan bagi kelestarian sumberdaya alam. Hal ini terutama terasa di

Agenda 21 - 17
Pulau Jawa yang menopang kehidupan sekitar 60% penduduk
Indonesia.Karena itu perlu dilakukan upaya dalam:

1) Mendorong pengembangan pola produksi dan konsumsi yang


mengurangi tekanan terhadap lingkungan dengan tetap
memperhatikan pemenuhan kebutuhan dasar bagi manusia.

2) Menjamin keamanan pangan dari penggunaan bahan-bahan yang


berbahaya baik bagi lingkungan maupun bagi manusia dari jenis
yang berbahaya.

3) Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antara berbagai lembaga


terkait.

Perubahan Pola Produksi dan Konsumsi Energi

Menjelang akhir Pembangunan Jangka Panjang II peningkatan pembangunan


dan proses industrialisasi serta laju pertumbuhan energi diperkirakan akan
meningkat dengan pesat. Peranan pertumbuhan energi bagi Indonesia secara
nasional pada masa mendatang diperkirakan akan tetap besar bagi
pemenuhan kebutuhan industri, pertanian, transportasi, maupun rumah
tangga. Penggunaan energi tampaknya berkembang jauh lebih cepat
daripada pertumbuhan ekonomi. Saat ini Indonesia masih menggunakan
sumber energi minyak bumi sebagai pasokan utama untuk memenuhi
kebutuhan energi di mana cadangannya semakin menyusut.

Hal yang perlu diperhatikan adalah, tingginya konsumsi energi mempunyai


korelasi dengan tingginya emisi gas-gas atau partikel pencemar sebagai hasil
buangan penggunaan energi. Ini berarti bahwa kebijakan pengendalian gaya
hidup masyarakat merupakan kebijakan-kebijakan yang harus
dipertimbangkan di masa mendatang. Untuk itu perlu :

1) Peningkatan kepedulian dan peran aktif pemerintah, swasta dan


masyarakat luas akan perlunya penggunaan energi yang hemat,
efisien dan ramah lingkungan.

2) Mengembangkan kebijakan konsservasi energi.

3) Mendukung pengembangan energi non-minyak bumi.

Perubahan Pola Produksi dan Konsumsi Sumberdaya Air

Peningkatan jumlah penduduk, pendapatan per kapita dan peningkatan


pembangunan di sektor industri dan pertanian secara langsung akan
berpengaruh kepada semakin meningkatnya kebutuhan akan air. Jika ditinjau
dari sisi persebaran penduduk, ternyata tidak seimbang dengan daya dukung
sumber air yang tersedia di mana sebagian besar terkonsentrasi di Pulau
Jawa yang kapasitas penampungan airnya sangat terbatas.

Agenda 21 - 18
Rata-rata potensi sumberdaya air di Indonesia adalah 18.845 m3 per kapita
per tahun. Dari potensi sumberdaya air yang tersedia tidak semuanya dapat
dimanfaatkan. Diperkirakan hanya 25-35% dari potensi air tersebut yang
berupa aliran mantap, yaitu aliran air yang tersedia setiap waktu. Sisanya
berupa banjir yang mengalir dalam waktu singkat dan menghilang ke laut
tanpa bisa dimanfaatkan. Jumlah air yang dapat dimanfaatkan hanya sebesar
kurang lebih 4.000 m3 per kapita per tahun untuk rata-rata di Indonesia.

Sementara itu pencemaran air pun cenderung terus meningkat sehingga


masyarakat terpaksa memanfaatkan sumber-sumber lain untuk memenuhi
kebutuhannya. Kualitas air berubah dengan masuknya bahan pencemar yang
dapat berupa bahan kimia seperti deterjen, tinja, limbah industri, hara seperti
fosfat dan nitrat, minyak, bakteri atau virus yang dapat meneybabkan kualitas
air tidak sesuai lagi dengan peruntukannya termasuk bagi keperluan air
minum.

Sumber air tanah juga masih dianggap sebagai barang bebas sehingga
seringkali eksploitasi air tanah menjadi tidak terkendali. Dengan semakin
langkanya air, masyarakat di beberapa wilayah perkotaan cenderung membeli
air untuk kebutuhan sehari-hari yang berupa air kemasan. Karena itu perlu
dikembangkan pola produksi dan konsumsi sumberdaya air yang mengurangi
tekanan terhadap lingkungan yang akan menjamin ketersediaan air yang
cukup bagi berkelanjutan kehidupan dan pengembangan.

Agenda 21 - 19
BAB 3
DINAMIKA KEPENDUDUKAN

Indonesia termasuk salah satu negara sedang berkembang yang dipuji


karena keberhasilannya dalam mengatasi masalah kependudukan. Mulai dari
turunnya pertumbuhan penduduk, meningkatnya angka harapan hidup,
turunnya tingkat kematian kasar dan kematian bayi, sampai dengan
pembentukan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS), dan
indicator lainnya merupakan bukti keberhasilan bangsa Indonesia di bidang
ini. Semua keberhasilan ini tiada lain hanya untuk meningkatkan kualitas
penduduk menjadi suatu sumberdaya manusia sebagai kekuatan bangsa
menuju masyarakat adil dan makmur.

Di samping keberhasilan yang dicapai ini, masih banyak tantangan-tantangan


yang dihadapi bangsa Indonesia. Misalnya, dengan perkembangan kota-kota
yang ada mengakibatkan peningkatan arus urbanisasi dari desa ke kota
setiap tahunnya. Salah satu penyebab urbanisasi adalah pandangan bahwa
kesempatan bekerja dikota dinilai jauh lebih menguntungkan daripada bekerja
di desa. Lajunya urbanisasi ini mengakibatkan penduduk kota menjadi
semakin padat, dan mereka tidak memperoleh pekerjaan tetap
menggantungkan hidupnya di sektor informal. Di sisi lain, makin besarnya
penduduk di suatu kota maka permintaan akan sumberdaya alam menjadi
meningkat, ditambah dengan jumlah sampah yang dihasilkan juga semakin
banyak. Ketidakseimbangan jumlah penduduk dengan daya dukung serta
daya tampung ini mengarah padaketidakberlanjutan suatu kota.

Perhatian tentang keterkaitan antara kependudukan, pembangunan dan


lingkungan mulai meningkat pada decade 1960-an. Perhatian ini
menitikberatkan pada upaya untuk memahami keterkaitan variable
kependudukan dengan lingkungan dalam mewujudkan pembangunan
berkelanjutan. Prioritas pembangunan kependudukan pada Pembangunan

Agenda 21 - 20
Jangka Panjang II (PJP II), tidak hanya mencakup masalah pertumbuhan
penduduk dan persebarannya, namun juga mencakup peningkatan kualitas
serta perwujudan keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Konferensi Tingkat
Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janiero Brasil tahun 1992 menekankan tentang
pentingnya keterkaitan antara kependudukan, sumberdaya, dan lingkungan
serta perlunya memperhatikan keberlangsungan keterkaitan antara jumlah
manusia, sumberdaya, dan pembangunan.

Hal ini sejalan dengan pencanangan kebijakan distribusi kependudukan


seperti yang dinyatakan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN)
bahwa pengerahan mobilitas dan persebaran penduduk harus sesuai dengan
kemampuan daya dukung alam dan tata ruang. Ini berarti jumlah penduduk
yang tinggi pada lingkungan dengan daya tampung dan daya dukung yang
kecil harus dikurangi, sedangkan jumlah penduduk yang rendah pada daerah
yang daya tampung dan daya dukungnya masih tinggi harus diserasikan,
dengan tetap mengendalikan pertumbuhan penduduk alami.

Adanya pertumbuhan dan pertambahan wilayah perkotaan akan diiringi oleh


berbagai masalah sosial yang dapat mempengaruhi tingkat kualitas
perorangan maupun secara kelompok. Tingginya tingkat pencemaran,
buruknya kondisi permukiman, kepadatan penduduk tinggi, rasa aman, tingkat
kejahatan, adalah sebagai produk samping atas meningkatnya jumlah luas
wilayah perkotaan. Dengan demikian, tujuan pembangunan kependudukan
yang mencanangkan penduduk sebagai sumberdaya manusia dapat diikuti
dengan peningkatan kualitas lingkungan fisik maupun sosial. Oleh karena itu,
kebijakan kependudukan di masa mendatang perlu mengintegrasikan aspek
kependudukan dan lingkungan serta menjabarkannya dalam suatu
perencanaan pembangunan secara integral dan holistik.

Salah satu aspek penting tentang keterkaitan di atas adalah pengintegrasian


mobilitas dan persebaran penduduk ke berbagai wilayah dengan
memperhatikan daya dukung dan prioritas pembangunan wilayah tersebut.
Pulau jawa sudah tidak mungkin mendukung penambahan areal pertanian,
sehingga penambahan areal pertanian ini harus dilakukan dengan wilayah
yang masih sangat terbuka.

Gambaran keadaan suatu wilayah ditandai dengan bertambah majemuk dan


bervariasinya keadaan kependudukan, seperti Jakarta sebagai
megacities.Selain itu ekosistem yang berbeda antara Pulau Jawa dan Bali
dan pulau-pulau lainnya akan menambah kompleknya permasalahan yang
dihadapi. Ini berarti dibutuhkan kemampuan pengelolaan keterkaitan
kependudukan dan lingkungan hidup yang tidak hanya melihat dari sudut
demografisnya saja, tetapi juga dilihat dari pengaruhnya terhadap keadaan
alam, ekonomi,dan kehidupan sosial.

Walaupun laju pertumbuhan penduduk Indonesia akan cenderung semakin


menurun dari tahun ke tahun, namun jumlah penduduk absolut akan terus
meningkat. Diproyeksikan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun
2020 akan berkisar 254 juta sampai 257 juta orang. Artinya, akan terjadi
pertambahan penduduk sekitar 70 juta orang dalam waktu 30 tahun (1990-

Agenda 21 - 21
2020). Hal ini mempunyai konsekuensi terhadap penggunaan tanah,
pemenuhan energi dan kebutuhan pangan.Bila dikaitkan dengan faktor
lingkungan, maka masalahnya adalah sejauh mana kemampuan sumberdaya
alam dapat memenuhi kebutuhan pertambahan penduduk tersebut. Disisi lain,
dengan semakin lajunya proses industrialisasi, maka akan dihasilkan limbah
yang semakin banyak dan juga semakin komplek. Fakta menunjukan bahwa
setiap pertumbuhan ekonomi akan diikuti dengan kenaikan tingkat
pencemaran.

Dari berbagai hasil pembangunan yang dicapai, maka gambaran keadaan


kependudukan di masa datang adalah sebagai berikut:

1) Persentase penduduk perkotaan semakin besar disebabkan oleh


adanya urbanisasi dan adanya perubahan wilayah dari desa ke kota
(reklasifikasi).

2) Laju pertumbuhan penduduk menurun seiring terjadinya perubahan


struktur usia, di mana penduduk usia produktif semakin besar.

3) Pemintaan barang non-pangan akan meningkat dangan pesat, yang


berimplikasi pada pengurasan sumberdaya alam untuk kepentingan
non-pangan.

STRATEGI MENGATASI MASALAH KEPENDUDUKAN

Tantangan-tantangan yang akan dihadapi di masa depan cukup berat. Untuk


mewujudkan suatu masyarakat sejahtera baik di desa dan di kota, perhatian
terhadap lingkungan menjadi prasyarat. Keberlanjutan kehidupan perdesaan
dan juga perkotaan sangat terkait dengan aspek lingkungan. Adapun bentuk
dari dinamika penduduk yang terjadi, bila kebijakan penduduk selalu dikaitkan
dengan dimensi lingkungan, maka pembangunan berkelanjutan yang diidam-
idamkan akan cepat terwujud. Untuk itu dibutuhkan strategi sebagai berikut:

1) Pengembangan Keterkaitan Kependudukan, Lingkungan Hidup, dan


Pembangunan Berkelanjutan.

2) Perumusan Integrasi Kebijakan Kependudukan, Lingkungan, dan


Pembangunan Berkelanjutan pada Tingkat Nasional, Regional dan
Lokal.

3) Pelaksanaan Program Integrasi Kependudukan, Lingkungan Hidup


dan Pembangunan Berkelanjutan pada Masyarakat.

Pengembangan Keterkaitan Kependudukan, Lingkungan Hidup, dan


Pembangunan Berkelanjutan

Persoalan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana menjabarkan konsep


keterkaitan kependudukan dan lingkungan hidup ke dalam suatu

Agenda 21 - 22
perencanaan strategis yang dapat mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Untuk itu, pertama, diperlukan pemahaman yang mendalam tentang
keterkaitan antara limgkungan dan pembangunan.

Kedua, dibutuhkan suatu data dan informasi yang akurat tentang keterkaitan
antara variabel kependudukan dan lungkungan dalam konteks pembangunan
berkelanjutan baik yang diperoleh dari penelitian dasar maupun terapan. Data
dan informasi tersebut dihimpun diintegrasikan dalam proses analisis
keterkaitan.

Untuk mengantisipasi keterkaitan antara kependudukan dan lingkungan hidup


dalam periode jangka panjang diperlukan penelitian yang mencakup:

1) Konsep keterkaitan kependudukan dan lingkungan hidup secara makro


untuk melihat kecenderungan secara nasional dan jangka panjang.

2) Data dasar keadaan keterkaitan antara kependudukan dan lingkungan


untuk mengetahui secara spesifik berbagai kecenderungan di berbagai
wilayah Indonesia.

3) Penelitian penerapan untuk keperluan kebijakan pengelolaan, kebijakan


kependudukan dan lingkungan hidup dalam pembangunan
berkelanjutan.

Perumusan Integrasi Kebijakan Kependudukan, lingkungan, dan


Pembangunan Berkelanjutan pada Tingkat Nasional, Regional, dan
Lokal

Dalam Repelita VI, pembangunan kependudukan diarahkan pada penekanan


laju pertumbuhan dengan mengindahkan kelestarian sumberdaya alam dan
fungsi lingkungan hidup, sehingga mobilitas dan persebaran penduduk perlu
disesuaikan dengan kesempatan kerja dan pembangunan daerah.

Persebaran dan kepadatan penduduk yang tidak merata akan menimbulkan


berbagai permasalahan yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah
lain. Oleh karena itu, di masa mendatang, kebijakan kependudukan dalam
pola mobilitas dan persebarannya harus diselaraskan dengan rencana umum
tata ruang nasional yang disesuaikan dengan daya dukung masing-masing
wilayah.

Atas dasar kompleksitas yang diuraikan di atas, maka di dalam membuat


kebijakan setidaknya perlu mencerminkan 4 hal, yaitu:

1) Kebijakan dirumuskan secara integral.

2) Kebijakan didukung oleh suatu data dan informasi yang akurat.

3) Kebijakan didukung oleh suatu kelembagaan yang dapat


mengintegrasikan berbagai aspek keterkaitan dalam pembangunan
berkelanjutan.

Agenda 21 - 23
4) Kebijakan program keterkaitan disusun untuk dapat digunakan secara
operasional.

Dalam 5 tahun mendatang perlu dirumuskan suatu kebijakan keterkaitan


antara kependudukan dan lingkungan pada tingkat nasional, regional maupun
lokal. Selain itu perlu disusun perencanaan ke depan untuk memantau
keterkaitan tersebut.Pada periode jangka panjang program-program
keterkaitan antara kependudukan dan lingkungan sudah harus
diimplementasikan di mana pemantauan dan pengendaliannya dilakukan
melalui koordinasi antar berbagai institusi yang terkait.

Pelaksanaan Program Integrasi Kependudukan, Lingkungan Hidup, dan


Pembangunan Berkelanjutan pada Masyarakat

Interaksi kependudukan dan pembangunan berkelanjutan adalah suatu


proses untuk mempertahankan keseimbangan antara pembangunan dan
lingkungan, serta proses pengindentifikasian dan penjabaaran aspirasi
masyarakat ke dalam proses penentuan sasaran pembangunan. Oleh karena
itu, penbangunan harus mengindahkan batasan-batasan dari faktor
lingkungan.

Pada periode 5 tahun mendatang perlu dirumuskan suatu program


kependudukan yang dikaitkan dengan pengelolaan lingkungan hidup serta
program pembangunan masyarakat dengan penekanan pada keterpaduan
antar sektor terkait.Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan kemampuan
dan peran aktif keluarga; pengembangan operasional kebijakan keterkaitan
kependudukan dan lingkungan; meningkatkan kemampuan kelompok rentan;
dan penyebaran informasi mengenai wilayah potensial untuk tujuan migrasi.

Pada dua puluh lima tahun mendatang telah tercipta etika keterkaitan
kependudukan dan lingkungan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Hal
ini dicapai dengan meningkatkan program pelayanan kesehatan wanita, dan
kemampuan masyarakat untuk dapat memantau setiap perkembangan,
dinamika kependudukan serta pelaksanaan kebijakan pola mobilitas dan
persebaran penduduk.

Agenda 21 - 24
BAB 4
PENGELOLAAN DAN PENINGKATAN
KESEHATAN

Pembangunan tidak mungkin terselenggara dengan baik tanpa tersedianya


salah satu modal dasar yaitu kondisi kesehatan masyarakatnya. Kesehatan
masyarakat harus selalu dijadikan acuan setiap langkah pembangunan baik
sebelum maupun selama berjalannya pembangunan. Derajat kesehatan
masyarakat berhubungan erat dengan kondisi pembangunan sosial-ekonomi
dan lingkungan. Dalam dokumen Agenda 21 Global (hasil konferensi Rio)
disebutkan bahwa antara lingkungan, pertumbuhan sosial-ekonomi, dan
kesehatan disamping memiliki keterkaitan yang erat juga memerlukan upaya
intersektoral serta harus berorientasi pada upaya promotif dan pencegahan
ketimbangan pengobatan.

Telaah Umum Pembangunan Kesehatan

Secara empirik pembangunan sosial-ekonomi telah memberi dampak positif


terhadap bidang kesehatan masyarakat. Indikatornya tampak jelas dengan
adanya penurunan angka kematian bayi, kematian kasar, dan penyakit
menular klasik. Indikator ini juga diikuti oleh peningkatan harapan hidup. Di
lain pihak, berbagai masalah kesehatan masyarakat baru muncul bertalian
dengan urbanisasi, pencemaran, permukiman, penduduk yang berdesakan,
gangguan penyakit jantung, gizi berlebihan, dan lain-lain.

Perkembangan derajat kesehatan masyarakat Indonesia mengikuti pola


universal, yakni, dengan perbaikan sosial-ekonomi terjadi pula perbaikan
derajat kesehatan masyarakat. Kondisi kesehatan di Indonesia juga memiliki
kecenderungan yang berdimensi lokal. Adapun beberapa catatan yang perlu
diperhatikan adalah sebagai berikut:

Agenda 21 - 25
1) Percepatan pembangunan sosial-ekonomi antar pulau yang tidak sama
menimbulkan variabilitas tingkat derajat kesehatan dan problematic
antar pulau dan wilayah.

2) Angka nasional untuk antar pulau dan wilayah memiliki variabilitas


yang tinggi.

3) Diperkirakan kawasan Timur Indonesia masih tetap memiliki problem


kesehatan pada masyarakat perdesaan, kecuali ada program
percepatan, sehingga terdapat kesamaan antar wilayah. Untuk pulau
Sumatra dan Sulawesi berada pada fase peralihan dan memiliki
masalah kesehatan ganda.

4) Kesehatan berkaitan erat dengan sosial budaya lokal.

STRATEGI PEMBANGUNAN KESEHATAN MASYARAKAT

Mengingat peningkatan derajat kesehatan sesuai dengan perubahan kondisi


sosial-ekonomi dan lingkungan, maka diperlukan program yang bersifat
antisipatif berbasis informasi kesehatan. Disamping itu perlu adanya
pendekatan kesehatan alternatif dalam menunjang pembangunan
berkelanjutan yang sekaligus memberi peluang kesamaan derajat kesehatan.

Oleh karenanya, perlu suatu perumusan strategis pembangunan kesehatan


masyarakat Indonesia yang mencakup:

1) Pendekatan spasial dalam pembangunan kesehatan masyarakat di


Indonesia.

2) Dasar pendekatan spasial dengan cara membangun informasi


kesehatan lingkungan.

3) Regionalisasi sumber informasi kesehatan masyarakat seyogianya


berbasis kewilayahan dengan acuan ekosistem dan topografi serta tata
ruang.

4) Sistem informasi sebagai basis pembangunan kesehatan masyarakat


harus diintegrasikan dengan Sistem Kesehatan Lingkungan berbasis
spasial.

5) Pertumbuhan sosial-ekonomi mensyaratkan penggalian sumberdaya


masyarakat dalam penyelenggaraan program kesehatan di masa
datang.

Pembangunan Kesehatan Primer (Dasar) Khususnya Bagi Kelompok


Rentan

Dalam Pelita VI Posyandu masih tetap menjadi ujung tombak bagi


pembangunan kesehatan primer masyarakat perdesaan maupun perkotaan.

Agenda 21 - 26
Karena lingkungan merupakan akar dari masalah kesehatan, seperti kualitas
makanan, kualitas air dan udara, serta bebas dari ancaman penyakit menular.
Mengingat dimensi variabilitas antar wilayah amat tinggi, maka muatan
kesehatan lingkungan melalui posyandu dalam rangka pemenuhan kesehatan
dasar perlu dilakukan pembedaan substansi muatan kesehatan lingkungan
yang berbasis pada problematic lokal (spasial). Ini dilakukan khususnya bagi
kelompok rentan (kelompok balita, pemuda dan perempuan). Karena itu untuk
periode jangka pendek perlu:

1) Pembangunan kesehatan primer bagi semua penduduk.

2) Menyelenggarakan perlindungan dan pelayanan khusus bagi


kelompok rentan.

3) Terselenggaranya model pelayanan kesehatan dasar dan model


pengendalian ancaman kesehatan termasuk program sanitasi dasar,
pengendalian ancaman kesehatan bekerjasama dengan masyarakat
dan swasta.

Sedangkan untuk jangka panjang perlu:

1) Memperkuat dan memperluas model-model Pelayanan Kesehatan


Dasar pada periode sebelumnya serta pembinaan untuk program
kerjasama yang berhasil.

2) Melembagakan model-model tersebut agar menjadi milik masyarakat.

3) Menggalang dan meningkatkan peranserta khususnya Kelompok


Utama.

Adapun strategi pendekatan yang dapat ditempuh adalah dengan cara:

1) Pendekatan spasial dalam pembinaan pelayanan kesehatan dasar


berdasarkan kebutuhan lokal.

2) Mendukung upaya kesehatan mandiri yang didukung oleh mekanisme


lintas sektoral dan Lembaga Swadaya Masyarakat di semua lini.

3) Pengembangan model upaya mandiri kesehatan prioritas bagi


kelompok rentan.

Penggendalian Penyakit Menular

Penyakit menular telah merenggut jutaan penduduk setiap tahun,


mengganggu perekonomian, dan/atau kualitas kependudukan. Dalam
perspektif lingkungan, penyakit menular pada dasarnya adalah host dan
habitat dependent. Untuk itu program pemberantasan penyakit menular di
Indonesia perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu:

Agenda 21 - 27
1) Perlu perkuatan dan pengembangan alternatif program-program
pengendalian penyakit menular berbasis lingkungan.

2) Perlu peningkatan upaya peranserta kelembagaan dan partisipasi


masyarakat dalam pengendalian penyakit menular.

3) Perlu dukungan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi


penyakit menular daerah tropis.

4) Perlu diwaspadai peningkatan parasite rate di luar Pulau Jawa.

5) Perlu diwaspadai penggunaan agrokimia pada sektor pertanian yang


membuat resistensi pada beberapa spesies nyamuk.

Beberapa penyakit menular yang memerlukan perhatian khusus di Indonesia


adalah: malaria, tuberculosis, hepatitis, kusta, demam berdarah (arbovirus),
rabies, anthrax, taeniasis, schistosomiasis, filariasis, diare karena berbagai
sebab, cacing,frambusia,Infeksi Saluran Nafas Atas (ISPA), penyakit kelamin,
dan AIDS.

Dalam usaha pengendalian pencegahan penyakit menular pada lima tahun ke


depan perlu diprioritaskan:

1) Menghapus berbagai penyakit parasit seperti cacing tambang, malaria,


schistosomiasis, diphteria, pertusis dan tetanus.

2) Menurunkan angka kematian akibat diare, angka penderita


ISPA/phenomia pada bayi dan balita, penderita demam berdarah, dan
penderita tuberculosis.

Sedangkan untuk jangka panjang target yang harus dicapai adalah


penghapusan penyakit menular kusta, kolera, hepatitis B, frambusia,filariasis
(kaki gajah), rabies, fasiolopsis buski, malaria di seluruh wilayah Indonesia,
dan anthrax.

Strategi Pembangunan Kesehatan Perkotaan dan Pengendalian


Pencemaran Lingkungan

Diperkirakan pada tahun 2020 penduduk Indonesia akan mencapai 257 juta
orang di mana 49,5% merupakan penduduk perkotaan. Apabila penduduk
Pulau Jawa dapat disebut sebagai penduduk “kota pulau”, dalam pengertian
kepadatan dan sarana prasarana serta kemudahan perkotaan lainnya, maka
program bagi penduduk “perkotaan” Indonesia pada tahun 2000 pada
hakekatnya sudah melibatkan lebih dari 70% penduduk Indonesia. Salah satu
masalah yang dihadapi oleh penduduk perkotaan adalah masalah kesehatan,
lingkungan permukiman, khususnya permukiman kumuh, dan/atau
permukiman jauh dari tempat kerja. Mereka menghadapi pula potensi bahaya
kesehatan yang serius seperti pencemaran, sarana air bersih bagi penduduk
dipermukiman kumuh, maupun bahaya-bahaya lain berkaitan dengan
kehidupan perkotaan.

Agenda 21 - 28
Walaupun telah diketahui adanya dampak negatif dari penurunan kesehatan
masyarakat terhadap proses kegiatan ekonomi, namun sampai saat ini
pengendalian pencemaran dan program kesehatan belum dikaitkan dengan
kegiatan perekonomian atau belum diperhitungkan secara ekonomis. Badan
Kesehatan Dunia (WHO) dalam analisisnya telah mengkaitkan kegiatan
pembangunan dengan perubahan lingkungan yang mengarah pada terjadinya
dampak sampingan berupa pencemaran bagi kesehatan. Oleh sebab itu ,
dalam penyelesaian masalah perlu adanya usaha-usaha yang terintegrasi
dengan perekonomian.

Menginggat hal tersebut maka dalam jangka pendek perlu dilakukan:

1) Peningkatan derajat kesehatan masyarakat kota agar mampu


memberikan sumbangan bagi peningkatan perekonomian nasional.

2) Program-program pelayanan kesehatan primer perkotaan, khususnya


bagi kelompok-kelompok rentan seperti balita, pemuda/remaja,
ataupun perempuan produktif, terutama yang berada dalam
permukiman kumuh dan lingkungan kerja sektor informal.

3) Program pengendalian pencemaran berbasis kesehatan untuk


menurunkan pencemaran lingkungan hingga mencapai baku mutu
lingkungan yang telah ditetapkan.

4) Pengembangan metode analisis dampak kesehatan lingkungan yang


merupakan bagian integral dari kegiatan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan.

5) Sistem pemantauan (surveillance) atau system informasi kesehatan


lingkungan dalam rangka penyediaan informasi dampak kesehatan
lingkungan akibat kegiatan/proyek yang memiliki dampak penting,
khususnya terhadap masyarakat.

Sedangkan dalam jangka panjang sebaiknya diselenggarakan :

1) Program pengendalian pencemaran pada sumber dan dampaknya


secara terpadu.

2) Menghapuskan pemukiman kumuh di perkotaan dengan cara yang


adil dan bijaksana.

3) Penyediaan sanitasi dasar bagi permukiman kelompok kurang


mampu.

Dalam melaksanakan strategi-strategi diatas, perlu disadari bahwa


pembangunan kesehatan memiliki keterkaitan erat dengan pertumbuhan
sosial-ekonomi dan kondisi lingkungan sehingga diperlukan lintas sektor dan
keterlibatan kelompok-kelompok dalam masyarakat, baik dari lembaga
pemerintah maupun pelaku pembangunan lainnya. Berbagai kelompok dapat
berperan dalam usaha pembangunan kesehatan ini seperti :

Agenda 21 - 29
1) Organisasi perempuan, baik di bidang kepemerintahan seperti Dharma
Wanita, Dharma Pertiwi, maupun organisasi kemasyarakatan seperti
perempuan nelayan, petani, rukun ibu RT/RW, organisasi sosial
keagamaan dan lain-lain, berpotensi baik sebagai penyelenggara
program, seperti posyandu maupun sebagai penggerak masyarakat
seperti Program Imunisasi Nasional.

2) Lembaga Swadaya Masyarakat, organisasi kepemudaan dapat diberi


peran sebagai fasilitator, ataupun pengembang model-model
pendekatan pembangunan bidang kesehatan khususnya untuk daerah
terpencil.

3) Organisasi Profesi, kelompok studi Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat,


Ikatan Dokter Indonesia, kelompok Studi Perkotaan dan lainnya dapat
berperan dalam melakukan kajian pemecahan masalah, seminar,dan
pemikiran strategis baru, khususnya ditingkat nasional.

4) Organisasi Perekonomian seperti Koperasi Unit Desa, KU


Tani/Nelayan, Primkopti, perajin dan lain-lain dapat berperan dalam
penyelenggaraan program kesehatan khususnya program kesehatan
mandiri, yaitu model-model pelayanan kasehatan dasar untuk
kelompok kerja.

Di samping itu, perlu dikembangkan model pelatihan, lokakarya, kurikulum


pendidikan, dan lainnya untuk meningkatkan tenaga ahli kesehatan yang
bersifat makro dengan latar belakang pendidikan non-kesehatan, tenaga
teknis, tenaga ahli,pengambil kebijakan dari tingkat bawah sampai Daerah
Tingkat I.

Agenda 21 - 30
BAB 5
PENGEMBANGAN PERUMAHAN DAN
PERMUKIMAN

Dalam Pembangunan Jangka Panjang I (PJP I), pembangunan perumahan


dan permukiman telah menunjukan hasil yang cukup berarti, yaitu dengan
semakin terpenuhinya kebutuhan akan prasarana dan sarana dasar,
meningkatnya mutu lingkungan perumahan dan permukiman di perkotaan dan
perdesaan. Program-program kegiatan yang dilaksanakan pada PJP I itu,
diantaranya adalah Program Perumahan Rakyat, Program Penyehatan
Lingkungan Permukiman, dan Program Penyediaan Air Bersih.

Kebijaksanaan pemerintah pada awal PJP I untuk membangun perumahan


dan permukiman lebih bersifat stimulan dan terbatas pada pemenuhan
kebutuhan prasarana dan sarana dasar. Akibat rendahnya daya beli
masyarakat dan terbatasnya anggaran, konsep pembangunan dan
permukiman pada Repelita II yaitu subsidi silang dikembangkan menjadi
pembangunan rumah-susun serta peremajaan kota pada Repelita III.
Selanjutnya diperkenalkan konsep kapling siap bangun dalam Repelita IV dan
konsep rumah sangat sederhana (RSS) dalam Repelita V.

Namun demikian, ada dua permasalahan pokok dalam bidang perumahan


dan permukiman yang dalam jangka panjang masih akan dihadapi Indonesia,
yaitu: Pertama, pembangunan permukiman baru untuk mengakomodasikan
pertumbuhan penduduk.Diperkirakan 1,75 juta unit rumah dan sekitar 30.000
ha tanah permukiman tiap tahun harus diadakan untuk mengakomodasikan
pertumbuhan penduduk sampai dengan tahun 2020. Kedua, pengelolaan
permukiman yang telah ada dalam meningkatkan kualitas sumberdaya
manusia dan sumberdaya sosial yang hidup di dalamnya. Permukiman yang
ada ini terus membesar dan memadat seiring dengan pertumbuhan penduduk
dan pertambahan permukiman baru tanpa dapat didikuti penyediaan
pelayanannya.

Agenda 21 - 31
Sejak tahun 1974, Pemerintah mendorong pembangunan perumahan secara
massal dan terorganisasi. Ini dilakukan dengan mendirikan badan usaha
negara pembangunan perumahan (Perumnas), yang didukung oleh lembaga
keuangan yang menangani pembiayaan perumahan (Bank Tabungan
Negara).Kebijakan ini mendorong berkembangnya perusahaan swasta
pembangunan perumahan, dan upaya memberikan konstribusi sekitar 15%
perumahan baru sedang selebihnya (85%) diusahakan oleh masyarakat
sendiri individual dan tak terorganisasikan. Dalam penyediaan perumahan
melalui mekanisme pasar ini ada kecenderungan menjadi sarana investasi
dan tabungan perorangan, yang menimbulkan segresi sosial, disintegrasi
fungsional, dan gangguan pada daur ekologi alami. Pengadaan rumah oleh
perorangan dan tak terorganisasikan menumbuhkan permukiman yang tidak
jelas strukturnya, menyulitkan pengadaan prasarana, dan tidak efisien dalam
pemanfaatan sumberdaya.

Pembangunan baru juga dilakukan dalam rangka peremajaan permukiman


yang dinilai kumuh dan tidak layak. Peremajaan kampung kumuh menjadi
kompleks rumah susun,merupakan kebijaksanaan yang mulai dilaksanakan di
berbagai kota besar. Tetapi perubahan lingkungan fisik ternyata tidak dapat
segera diikuti oleh perubahan sosial pemukimnya. Walaupun dilaksanakan
dengan konsep membangun tanpa menggusur, yang terjadi adalah
penggantian pemukiman melalui mekanisme pasar yang terbatas.

Terhadap permukiman yang ada, telah dilakukan peningkatan fasilitas dan


pelayanan untuk meningkatkan kualitas hidup pemukimnya. Perbaikan
kampung dan program pengadaan prasarana kota terpadu (P3KT) adalah
upaya yang dilakukan untuk permukiman perkotaan, sedang program
pengembangan lingkungan desa terpadu dilakukan untuk permukiman
perdesaan. Segala upaya meningkatkan kualitas permukiman dengan
peningkatan fasilitas dan pelayanan tersebut belum dapat mengikuti
pertumbuhan penduduk dan perkembangan kebutuhan.Sampai dengan tahun
1990-an, baru 20% rumah tangga di Indonesia mendapatkan pelayanan air
dari pipa dan sekitar 50%-nya memanfaatkan air tanah dangkal di mana di
daerah perkotaan padat mulai terkontaminasi oleh sanitasi. Permukiman juga
penyumbang pencemaran sungai, sekitar 60% sampai dengan 70%
pencemaran sungain disebabkan oleh limbah rumah tangga. Selain itu,
pemeliharaan apa yang telah adapun mengalami banyak kesulitan.
Kepranataan yang ada belum mempunyai kemampuan untuk memelihara dan
mengendalikan penggunaanya untuk menjamin keberlanjutan fasilitas dan
prasarana yang telah ada.

Industrialisasi yang akan terjadi dan harus dilakukan di Indonesia akan


mendorong pertumbuhan penduduk kota lebih cepat dari sebelumnya. Jumlah
penduduk perkotaan pada tahun 1990 mencapai 28,8% dari 180 juta, dan
pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 49,5% dari 257 juta. Dengan
demikian, permukiman perkotaan yang lebih memerlukan kemampuan
teknologi dan institusi akan merupakan tantangan pembangunan dan
pengelolaan permukiman di masa datang.

Agenda 21 - 32
Untuk menjawab tantangan dalam mengatasi dan mencegah masalah
permukiman seperti yang telah diuraikan di atas, pendekatan pembangunan
perumahan harus di ubah menuju ke pengembangan permukiman.
Kebijaksanaan yang terfokus pada jumlah produksi rumah diubah menuju ke
pengembangan kualitas hidup dan kesempatan berkembang pemukimannya.
Pengembangan pemukiman juga perlu dikaitkan dengan berbagai kegiatan
produktif. Pengadaan perumahan tidak semata-mata untuk memberikan
kehidupan yang sehat dan sejahtera, tetapi juga menunjang aktivitas ekonomi
dan pertumbuhan ekonomi. Pengembangan permukiman juga perlu disertai
pengembangan kemampuan untuk memelihara, melestarikan dan
mengembangkan daya dukung lungkungan alami.Pengembangan
permukiman selain untuk menjamin serta meningkatkan kesejahteraan
keluarga, juga harus menjadi sarana interaksi social untuk mengembangkan
norma dan nilai budaya yang sehat.

STRATEGI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN

Lindungan bagi semua orang (shelter for all) adalah tujuan universal
pengembangan permukiman. Berdasarkan telaah atas permasalahan yang
terjadi, tantangan di masa dating dengan keterbatasan sumber yang tersedia
sebagai prasyarat pembangunan yang terorganisasikan (organized
development), maka konsep pengembangan permukiman yang dipilih perlu
diprioritaskan pada:

1) Pengembangan permukiman yang menunjang aktivitas ekonomi


dalam suatu system yang padu dengan daya dukung lingkungan dan
sumberdaya alam. Semua lapisan dan golongan masyarakat yang
tumbuh dan berkembang oleh aktivitas tersebut terwadahi dalam
permukiman yang menunjang kualitas hidup yang berkembang secara
berkelanjutan.

2) Pengembangan permukiman untuk kebutuhan masyarakat atas


prakarsa dan diorganisasikan oleh masyarakat harus didorong dan
difasilitasi.

3) Pengelolaan permukiman perlu lebih ditujukan untuk mewadahi dan


mendorong integrasi social melalui penyediaan fasilitas umum dan
social yang memadai, memenuhi kebutuhan dan terjangkau oleh
semua lapisan masyarakat.

Dalam rangka menjawab semua tantangan seperti yang disebutkan di atas,


maka strategi harus difokuskan pada aspek sebagai berikut:

1) Pembangunan Perumahan dan Permukiman.

2) Pengembangan Pengelolaan Permukiman.

Agenda 21 - 33
Pembangunan Perumahan dan Permukiman

Berdasarkan perkiraan penduduk sampai tahun 2000, untuk menampung


pertambahan penduduk diperlukan sekitar 1.750.000 unit rumah per tahun.
Dengan asumsi, luas kapling rata-rata 100 m2 yang merupakan luas
terbangun (60% dari luas total) di mana 40% lagi diperuntukan bagi system
jaringan dan sarana permukiman, ini berarti dibutuhkan 30.000 ha lahan baru
setiap tahun.

Kurang berhasilnya pengadaan rumah secara besar-besaran oleh pemerintah


telah mengangkat sector swasta sebagai alternatif penyedia rumah. Strategi
keterpaduan social dan fungsional dalam pembangunan perumahan dan
permukiman setidaknya harus dapat menjawab tiga tantangan utama, yaitu:

1) Menyelaraskan asas-asas perwujudan permukiman sebagai suatu


produk industri dengan permukiman sebagai proses perwujudan
sosio-ekonomi, budaya dan politik pemukimnya.

2) Ruang dapat terdistribusikan secara berkeadilan atau tepat social dan


tepat lingkungan.

3) Teknologi digunakan untuk kepentingan publik secara luas.

Salah satu masalah utama dalam pembangunan perumahan dan


permukiman, terutama di perkotaan adalah sulitnya pengadaan lahan.
Kenyataannya kebanyakan lahan-lahan strategis umumnya dikuasai oleh
sector swasta kuat. Hak milik seharusnya dapat ditafsirkan lebih luas, bukan
hanya untuk kepentingan individu semata, melainkan juga untuk kepentingan
publik.

Pembangunan prasarana dan sarana permukiman merupakan salah satu hal


yang penting dalam memperoleh suatu lingkungan tinggal yang sehat dan
nyaman. Pengadaan prasarana dan sarana ini tidak dapat dilakukan secara
terpisah dari perencanaan permukiman secara menyeluruh. Penyediaan
fasilitas dan prasarana permukiman untuk meningkatkan permukimam yang
telah ada, tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan fisik, akan tetapi
juga untuk mewadahi dan mendorong terjadinya integrasi social dan
fungsional. Dalam hal ini, fasilitas dan prasarana untuk integrasi social adalah
untuk menumbuhkan integrasi social yang sehat yang memungkinkan dapat
terjaganya dan berkembangnya norma social dan nilai budaya.

Fasilitas dan prasarana untuk integrasi fungsional adalah fasilitas untuk


memberikan keterkaitan yang sinergik antara berbagai fungsi yang berkaitan
dengan permukiman, yaitu fungsi pelayanan umum dan tempat kerja. Sarana
dan prasarana angkutan adalah salah satu fasilitas yang dapat menciptakan
integrasi fungsional ini.

Fokus perhatian pembangunan prasarana dan sarana juga perlu ditujukan


pada pengadaan air bersih, sanitasi, dan pembuangan sampah padat,
terutama untuk permukiman masyarakat berpendapatan rendah. Sampai saat

Agenda 21 - 34
ini, baru sekitar 20% rumah tangga di Indonesia yang menggunakan system
perpipaan, sekitar 15% membeli dari penjual keliling atau hidran umum,
sebanyak 50% menggunakan sumur dangkal untuk kebutuhan pokok mereka
sehari-hari dan sisanya mengambil air dari sungai.

Berkaitan dengan persebaran pembangunan perumahan dan permukiman


secara merata di seluruh wilayah Indonesia, maka perlu didorong usaha-
usaha pembangunan perumahan dan permukiman di luar Pulau Jawa dan
Bali yang dikaitkan dengan pengembangan kesempatan kerja. Jadi program
transmigrasi perlu dipandang sebagai bagian membangun dan
mengembangkan wilayah yang bersangkutan.

Untuk mencapai tujuan melalui kegiatan yang diusulkan di atas maka terdapat
beberapa sarana yang mendukung. Sarana pelaksanaan ini mencakup:

1) Aspek Pendanaan, menurut World Bank, investasi untuk perumahan


dan pelayanan permukiman berkisar antara 7%-18% dari GNP
Nasional. Untuk itu dana dari masyarakat perlu dikelola secara
terbuka/transparan dan profesional.

2) Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi diarahkan kepada:

a. Bidang social dan teknologi yang berimplikasi terhadap


permukiman;

b. Bidang social, ekonomi, ekologi, dan teknologi yang berkaitan


dengan perencanaan dan perancangan permukiman;

c. Bidang jejaring informasi hingga tingkat kecamatan dan


kelurahan; dan

d. Bidang system informasi melalui komputerisasi dan sarana


teknologi lain.

3) Pengembangan Sumberdaya Manusia diarahkan kepada peningkatan


kemampuan individu dan lembaga, peningkatan kemampuan teknis
dan manajerial individu, dan memanfaatkan proses pengembangan
permukiman.

Pengembangan Pengelolaan Permukiman

Gejala urbanisasi di Indonesia digambarkan oleh :

1). Menyatunya kota besar dengan daerah atau kota-kota kecil sekitarnya.

2). Perubahan fisik daerah agraris/perdesaan menjadi fisik perdesaan


yang diikuti peningkatan jumlah penduduk.

3). Meningkatnya jumlah penduduk yang tidak seiring dengan


perkembangan kota.

Agenda 21 - 35
Bila dilihat dari peningkatan jumlah penduduk,sejumlah kota-kota di Indonesia
berpotensi tumbuh menjadi kota besar. Karena pertumbuhan fisik kota ini
tidak diimbangi dengan peningkatan sosio ekonomi dan budaya, maka kota-
kota ini masuk dalam kategori semi-urban. Masalah terberat dalam
pengelolaan permukiman adalah mengatasi ketimpangan penggunaan ruang
dan penguasaan sumberdaya, baik sebagai dampak dari pembangunan
ruang dan kemampuan sektor swasta besar mengatasi peluang ke depan.

Kunci keberhasilan pengelolaan permukiman yang berkelanjutan terletak


pada :

1) Kemampuan untuk menyerasikan, memadnukan,dan memanfaatkan


potensi dan kepentingan sektor swasta dangan kepentingan ruang
masyarakat berpendapatan rendah, dengan kepentingan ekologis.

2) Kemampuan untuk menyetarakan permukiman dari berbagai kondisi


dan percepatan pertumbuhan.

Untuk mewujudkan program usulan di atas maka dibutuhkan sarana


pelaksanaan,yaitu:

1) Aspek Pendanaan. Peningkatan peran DATI I disertai dengan


perluasan sumber-sumber pendapatan asli daerah, di mana
penggalian/perluasan pembiayaan dari masyarakat berdasarkan
kebiasaan yang berlaku bentuk pembiayaan dari masyarakat
dikembangkan untuk pemanfaatan langsung kegiatan pemeliharaan
lingkungan –juga pembiayaan yang berasal dari kalangan masyarakat
maupun atau sektor swasta perlu dikembangkan dan didorong.

2) Pengembangan Sumberdaya Manusia. Pengembangan tidak hanya


terbatas pada pelatihan, tetapi juga pengembangan organisasi dan
proses komunikasi –meningkatkan kemampuan teknis dan manajerial
individu dan lembaga di tingkat kecamata dan kelurahan/desa-
menempatkan dan meningkatkan sistem pemantauan serta evaluasi
pengelolaan permukiman.

Dengan masuknya Indonesia kepasar bebas, maka sektor publik harus


semakin mempunnyai kekuatan melindung kelompok masyarakat yang belum
mampu. Untuk itu kelompok masyarakat harus mempunyai peran yang lebih
besar dan menentukan dimasa depan. Peran masyarakat dalam pengawasan
dan pemantauan pelaksana juga akan turut serta dalam kegiatan tersebut.

Agenda 21 - 36
BAB 6
SISTEM PERDAGANGAN GLOBAL,
INSRTRUMEN EKONOMI, SERTA
NERACA EKONOMI DAN LINGKUNGAN
TERPADU

Pada saat ini Indonesia telah memasuki Pembangunan Jangka Panjang 25


tahun kedua (PJP II). Pada periode ini Indonesia bertekad untuk memasuki
era tinggal landas. Tantangan yang akan dihadapi akan semakin berat,
karena diperlukan sasaran-sasaran pembangunan yang cukup tinggi.
Ekonomi Indonesia diharapkan bisa melaju rata-rata 7% pertahun. Sementara
laju pertumbuhan penduduk terus ditekan mulai sekitar 1,6% pertahun dalam
Repelita VI menjadi 0,9% pertahun pada akhir PJP II. Dalam upaya mencapai
sasaran pembangunan selama PJP II, Indonesia harus tanggap terhadap
perkembangan lingkungan strategis baik nasional, regional maupun global
yang harus kita manfaatkan untuk lebih memacu pertumbuhan ekonomi
nasional. Sistem perdagangan global yang mendayagunakan pasar dalam
negeri sebagai bagian dari pasar dunia serta terkaitnya sistem perdagangan
yang berwawasan lingkungan merupakan karakter dari perkembangan
ekonomi di masa depan. Perkembangan ini tentunya akan mempengaruhi
dan mendorong proses transformasi ekonomi Indonesia. Fenomena dapat
diihat dengan :

1). Disetujuinya hasil putaran Uruguay tentang General Agreements


Trade aTarrifs (GATT) yang kemudian digantikan perannya oleh World
TradeOrganization (WTO)

2). Dihasilkanya Deklarasi Bogor pada pertemuan Asia Pacific Economic


Cooperation (APEC).

3). Diberlakukannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada tahun 2003.

Agenda 21 - 37
Diharapkan dengan adanya perjanjian GATTperdagangan internasional akan
lebih terbuka, adildan transparan. Adanya perdagangan bebas dikawasan
APEC diharapkan akan memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia, karena
pada saat ini ekspor Indonesia 70% memasuki pasar APEC, sumber investasi
Indonesia 65% berasal dari anggota APEC dan 60% sumber wisatawan
indonesia berasal dari daerah Asia Pasifik. Dalam skala regional sesuai
dengan kesepakatan ekonomi ASEAN, Indonesia akan menuju pada
perdagangan bebas pada tahun 2003. Dengan adanya pasar bebas ASEAN
diharapkan ekspor Indonesia ke pasar ASEAN yang pada saat ini
menunjukkan surplus bagi Indonesia akan lebih meningkat. Selain itu untuk
mempercepat pembangunan diluar pulau Jawa telah dikembang kan kerja
sama subregional seperti Pengembangan Sub Regional Singapura-Johor-
Riau. <![endif]>

Keikutsertaan Indonesia sebagai salah satu anggota GATT/WTO,APEC,


AFTA atau organisasi regional/internasional lainnyaakan berpengaruh
terhadap investasi, perdagangan,perekonomian nasional,pranata hukum,dan
upaya pengelolaan lingkungan baik dalam skala nasional maupun dalam
konteks global.

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di kawasan Asia Pasifik


mempunyai ambisi untuk menjadi negra industri baru di abad ke 21.Ambisi ini
diwujudkan melalui transformasi andalan sektor pembangunan dari sektor
pertanian menjadi sektor industri yang didukung oleh sektor pertanian yang
tangguh. Indonesia menyadari bahwa tingginya pertmbuhan ekonomi akan
membawa konsekuensi meningkatnya tingkat pencemaran lingkungan dari
berbagai bentuk yang bila tidak dikendalikan akan sangat berpengaruh
terhadap pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Disisi lain, tuntutan pengelolan lingkungan dalam perdagangn global akan


bertambah meningkat. Pemerintah Indonesia menyadari akan perlunya upaya
yang sungguh-sungguhdalam pengelolaan lingkungan dan perlunya
perubahan pola reaktif dalam pengendalian dampak lingkungan menjadi pola
proaktif, yang pelaksanaannya mempunyai urutan prioritas sebagai berikut:

1). Prinsip pencegahan pencemaran (pollution prevention).

2). Pengendalian pencemaran (pollution control).

3). Remediasi (remediation)

STRATEGI INTEGRASI LINGKUNGAN KE DALAM PEMBANGUNAN


EKONOMI

Dalam mengelola agar pembangunan ekonomi Indonesia tetap berlanjut,


maka dibutuhkan serangkaian strategi dalam rangka mengintegrasikan
dimensi lingkungan kedalam pembangunan ekonomi. Strtegi tersebut adalah:

1). Pengembangan Pendekatan Ekonomi dalam Pengelolaan Sumber


Daya Alam dalam Lingkungan.

Agenda 21 - 38
2). Pengembangan Pendekatan Pencegahan Pencemaran (Minimasi
Limbah atau Produksi Bersih)

3). Pengembangan Sistem Neraca Ekonomi, Sumber Daya Alam dan


Lingkungan.

Pengembangan Pendekatan Ekonomi dalam Pengelolaan Sumber Daya


Alam dan Lingkungan

Meningkatnya Volume pembangunan yang dilaksanakan tanpa wawasan


lingkungan akan meningkatkan kerusakan dan pencemaran lingkungan. Bila
efisiensi pengololaan sumberdaya alam dan lingkungan tidak dapat
ditingkatkan maka kerusakan dan pencemaran lingkungan akan
meningkatnya dan sekaligus menaikan biaya lingkungan yang harus
ditanggung masyarakat. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah
dengan metode pendekatan ekonomi. Pendekatan ekonomi ini semakin
penting untuk dimanfaatkan dengan semakin meningkatnya volume
pembangunan.

Pendekatan instrumen ekonomi yang dilaksanakan saat ini (Repelita VI)


masih bersifat parsial dan sektoral, yaitu oleh institusi lingkungan, sedangkan
pendekatan yang seharusnya dilakukan adalah melibatkan institusi terkait
seperti keuangan (termasuk perpajakan), disamping sektor-sektor yang juga
secara langsung terkait dengan pengelolaan sumberdaya alam dan
linngkungan seperti Departemen Kehutanan, Departemen Pertambangan dan
Energi, Departemen Pekerjaan Umum, dan lainnya.

Pada paruh waktu Repelita VII (1998-2003) kendala-kendala pemanfaatan


instrumen sudah harus diidentifikasikan dan diketahui baik dari segi institusi,
sumberdaya manusia, infrastruktur, dan segi makro dan mikro ekonomi.
Sedangkan paruh waktu sisanya digunakan untuk meningkatkan kemampuan
institusi, sumberdaya manusia, dan infrastruktur.

Pada Repelita VIII (2003-2008) upaya peningkatan ini dilanjutkan dengan


ujicoba pelaksanaan pemanfaatan instrumen ekonomi dibeberapa kegiatan
pembangunan. Diharapkan pada Repelita IX (2008-2010) pemanfaatan
instrumen ekonomi sudah mapan sehingga dapat dimanfaatkan oleh kegiatan
yang lebih luas.

Pengembangan Pendekatan Pencegahan Pencemaran (Minimisasi


Limbah atau Produksi Bersih)

Idealnya setiap kegiatan indrustri harus mencegah pencemaran sebelum


pencemaran itu terjadi. Konsep pencegahan atau pengurangan limbah pada
sumbernya dapat dilakukan antara laindengan memanfaatkan teknologi
bersih (clean technology atau low waste technologies), yang melandasi
program Produksi Bersih (Clean Production) dan Zero Emission. Konsep ini
lebih unggul dibandingkan pendekatan pengendalian pencemaran dengan
end-of-pipe yang memiliki permasalahan sebagai berikut :

Agenda 21 - 39
1). Pengolahan limbah cair, padat atau gas memiliki resiko pindahnya
polutan dari satu media ke media lingkungan lainnya.

2). Pengolahan limbah memerlukan biaya tambahan pada proses


produksi, sehingga biaya persatuan produk meningkat.

3). Memerlukan berbagai perangkat peraturan, biaya, dan sumberdaya


manusia yang handal dalam jumlah yang memadai untuk
melaksanakan pemantauan pengawasan dan penegakan hukum.

4). Tidak mendorong upaya kearah pengurangan limbah pada


sumbernya serta kurang menjanjikan pemanfaatan limbah lebih jauh.

5). Teknologi retrofit dapat gagal berfungsi atau sangat berfluktuasi


dalam efisiensinya. Aliran efluen yang telah diolah juga masih
mungkin mengandung residu

Upaya pendekatan pencemaran minimisasi limbah telah mulai dilakukan pada


Repelita VI. Perkembangan standarisasi lingkungan (ISO 14000) dan ekolabel
dalam konteks global terus diikuti oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan
Hidup, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, sesuai dengan tugas dan
tanggung jawabnya telah melakukan persiapan program ekolabel Indonesia.

Merujuk kepada kegiatan Repelita VI, maka pada kurun Repelita VII
sebaiknya telah dimulai ujicoba ekolabel dan standarisasi lingkungan (ISO
14000) dalam berbagai kegiatan industri. Pada kurun waktu Repelita VIII
kemampuan industri untuk meningkatkan daya saing. Sedangkan pada kurun
waktu Repelita IX dan X pemantapan ekspor andalan secara global dengan
meningkatkan daya saing melalui penerapan label dan standarisasi
lingkungan.

Pengembangan Sistem Neraca Ekonomi, Sumber Daya Alam dan


Lingkungan

Pertumbuhan ekonomi biasanya diukur dari perubahan dalam GNP (Gross


National Product). Bila GNP suatu negara mengalami kenaikan, maka
diartikan bahwa lebih banyak barang dan jasa diproduksikan dalam kurun
waktu tertentu dan dikatakan bahwa setiap individu (orang) juga mengalami
perbaikan tingkat kehidupan. Sebaliknya, bila GNP mengalami penurunan
walaupun dalam waktu yang relatif singkat, umumnya para ekonom
mengatakan bahwa telah terjadi suatu resesi. Indikator yang sering digunakan
untuk mengetahui gambaran rata-rata tingkat kehidupan masyarakat secara
keseluruhan adalah pendapatan perkapita yaitu GNP dibagi oleh jumlah
penduduknya. Ada beberapa masalah terhadap pengukuran kesejahteraan
sosial yang menggunakan GNP perkapita :

1). GNP hanya mengukur transaksi pasar.

2). Dalam pengukurannya GNP tidak membedakan jenis-jenis barang.

Agenda 21 - 40
3). Tidak membedakan pula antara biaya dan manfaat.

4). Tidak mempertimbangkan bagaimana pendapatan tersebut


didistribusikan.

5). Depresiasi dan kerusakan lingkungan atau sumberdaya alam sebagai


akibat dari aktivitas ekonomi tidak dimasukkan kedalam perhitungan.

Jadi GNP tidaklah tepat bila digunakan untuk mengukur kesejahteraan


masyarakat. Bila GNP suatu negara tinggi, ini tidak berarti bahwa dinegara
tersebut tidak diketemukan kemiskinan. Selain itu, salah satu ukuran dalam
kaitannya dengan GNP adalah NNP (Net National Pruduct) yaitu GNP
dikurangi dengan jumlah mesin dan peralatan yang digunakan atau
mengalami depresiasi waktu memproduksi barang dan jasa yang
diperjualbelikan. Sumberdaya alam yang telah digunakan kegiatan ekonomi
seperti kehidupan liar, keindahan bentang alam, serta kualitas udara dan air
tidak pernah dimasukkan dalam perhitungan sekalipun hal ini jelas
merupakan aspek-aspek yang mempunyai sumbangan yan besar terhadap
kesejahteraan sosial suatu negara. Karena itu, ukuran GNP harus
dipergunakan secara hati-hati oleh semua negara termasuk Indonesia, karena
GNP ini bukan merupakan ukuran kesejahteraan yang akurat.

Dengan demikian diperlukan suatu Sistem Neraca Ekonomi, Sumber Daya


Alam dan Lingkungan Nasional yang dapat digunakan untuk mengetahui
kondisi dan potensi sumber daya alam serta lingkungan Indonesia sehingga
pengembangan kebijakan ekonomi dapat diarahkan untuk menunjang
pencapaian pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Pada saat ini Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, Biro Pusat Statistik
telah mulai mengembangkan Neraca Sumber Daya Alam dan Lingkungan
sebagai suatu “Satellite systems of Accounts” dari Sistem Neraca Ekonomi
Nasional. Pada pelita VII sebaiknya sudah terwujud suatu Sistem Neraca
Ekonomi Nasional Indonesia yang kuat dan terpadu

dengan mengintegrasikan dimensi lingkungan dan sosial dan relavan


kedalam kerangka sistem diatas. Sedangkan pada Pelita VIII sebaikanya
sudah diwujudkan suatu sistem penghitungan Neraca Ekonomi, Sumber Daya
Alam dan Lingkungan Regional yang dapat digunakan untuk mengetahui
kondisi dan potensi sumberdaya alam serta lingkungan disetiap propinsi di
Indonesia. Untuk tujuan ini diharapkan akan terwujud suatu mekanisme
pengembangan Neraca Ekonomi, Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Regional.

Agenda 21 - 41
BAB 7
PERLINDUNGAN ATMOSFIR

Atmosfir pada intinya mempunyai tiga fungsi utama bagi kehidupan manusia,
yaitu : Pertama, sebagai pemasok bahan mentah untuk berbagai aktivitas
manusia. Kedua, sebagai tempat buangan yang menyerap dan mendaur
ulang sisa-sisa kegiatan manusia. Ketiga, sebagai pendukung kehidupan
dibumi. Oleh karena itu, kualitas atmosfir/udara merupakan aset yang harus
dilindungi dan dilestarikan.

Kemampuan atmosfir untuk memberikan fungsi tersebut dapat terganggu


dengan masuknya bahan-bahan pencemar yang dikeluarkan oleh aktivitas
manusia ke udara. Untuk mencegah dan mengendalikan hal ini, pandangan
lama perlu diubah karena :

1). Kemampuan atmosfir menerima dan mendaur ulang polutan terbatas.


2). Menurutnya kemampuan fungsinya atmosfir akan memberikan dampak
negatif yang besar dan luas terhadap kesehatan, lingkungan, dan kegiatan
perekonomian dan pembangunan.
3). Biaya yang diakibatkan oleh memburuknya kualitas udara sangat besar
dan akan semakin meningkat bila kualita udara terus memburuk.

Pengintegrasian dan Peningkatan Pertimbangan Lingkungan serta


Langkah-langkah Efisiensi dalam Pembangunan Energi

Hampir setiap langkah dari aktivitas energi, dimulai dari kegiatan ekstraksi
bahan bakar sampai dengan proses pembakarannya mempunyai potensi
merusak kualitas udara. Oleh karena itu, strategi pengembangan energi harus
sejalan dengan strategi kualitas udara, mengingat akan semakin
meningkatnya konsumsi energi pada Pembangunan Jangka Panjang II (PJP
II).

Pengembangan energi sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan konsumsi


energi seperti pada kebutuhan bahan bakar pada pembangkit tenaga listrik,
tungku-tungku industri, mesin kendaraan, dan tungku masak. Pembakaran
bahan bakar ini merupakan sumber bahan pencemar udara utama yang

Agenda 21 - 42
dilepaskan ke udara ambien, seperti : COx, CO, SPM (suspended particulate
matter), NOx, SOx, VHC dan berbagai logam berat.

Sektor Pembangkit Tenaga Listrik

Peningkatan konsumsi listrik sejak PJP I akan terus berlangsung pada PJP II.
Menyadari strategi pemerintah dalam mengatasi sektor ini adalah mengurangi
ketergantungan pada sumberdaya minyak, maka diperkirakan energi utama
untuk pembangkit listrik akan bergeser dari sumberdaya minyak dalam PJP I
ke batubara dalam PJP II. Dengan meningkatnya pembangkit listrik yang
menggunakan batubara, serta potensi dampaknya terhadap kualitas udara,
maka pemerintah Indonesia telah mengambil langkah untuk mengurangi
sekecil mungkin dampak-dampak tersebut. Langkah ini mencakup keharusan
untuk melakukan analisi mengenai dampak lingkungan untuk proyek
pembangkit listrik, pembentukan serta implementasi stndar emisi dan ambien,
penggunaan batubara dengan kadar belerang rendah, dan peningkatan
efisiensi produksi maupun distribusi ke pemakai. Walaupun masih dalam
tingkat penelitian pemerintah telah mencoba melihat kemungkinan
penggunanan sumber yang terbarukan dan relatif bersih untuk masa depan.

Sektor Transportasi

Sektor transportasi merupakan penyumbang utama terjadinya pencemaran


udara di wilayah perkotaan. Dilihat dari kontribusinya, sektor transportasi
darat memberikan setengah dari emisi SPM (suspended particulate matter)
yang ada dimana sebagian besar zat pencemar tersebut adalah timbal, CO,
HC, dan NOx yang setiap tahun jumlahnya semakin meningkat. Oleh karena
itu, bila tidak diambil langkah pengendalian maka diperkirakan pada tahun
2020 setengah dari penduduk Indonesia akan menghadapi masalah
pencemaran udara yang didominasi oleh emisi kendaraan bermotor.

Langkah penting untuk mengurangi emisi kendaraan bermotor adalah


peningkatan efisiensi energi di sektor transportasi yang sangat erat dengan
penghematan energi. Dengan peningkatan efisiensi ini, diperkirakan akan
terjadi pemotongan konsumsi energi sebesar 25%. Hal ini dapat dilakukan
antara lain dengan mengadopsi langkah-langkah untuk meningkatan
penggunaan modal tansportasi yang mempunyai tingkat efisiensi tinggi
seperti pemanfaatan jaringan kereta api, perbaikan sistem lalulintas, dan
perbaikan transportasi umum. Langkah ini harus diikuti dengan penerapan
sungguh-sungguh standar emisi yang berlaku serta mempromosikan
penggunaan kendaraan yang berpolusi rendah, terutama dikota-kota besar.

Dalam melaksanakan upaya diatas pemerintah telah melaksanakan/


merencanakan banyak program seperti program mass-rapid-transport,
pengapusan secara bertahap timbal pada bahan bakar, program inspeksi
kendaraan, program langit biru, program langit bersih dan kegiatan lainnya.
Permasalahan utama pada dasarnya adalah besarnya biaya investasi yang
diperlukan serta besarnya skala kegiatan yang harus dilakukan. Dalam hal ini,

Agenda 21 - 43
peran serta masyarakat dan kebijakan pemerintah memegang kunci yang
penting.

Sektor Industri

Sektor ini tumbuh pesat melebihi 10% pertahun pada tahun-tahunterakhir.


Sektor manufaktur diperkirakan akan memberikan kontribusi sebesar 47%
pada tahun 2000. Pada tahun 1990 sektor ini memakai 22% BBM, 42%
batubara, 81% gas alam dari total konsumsi nasional. Selain itu, pembangkit
listrik yang digunakan sendiri (captive power) oleh sektor industri ini
mencakup sekitar 33% dari jumlah total nasional listrik yang dibangkitkan di
Indonesia.

Emisi dapat dihasilkan baik oleh proses produksi maupun oleh proses
konsumsi. Inventarisasi oleh Bapedal menunjukan bahwa di Jakarta emisi
yang dilepaskan ke udara dari kegiatan konsumsi mencakup 15% dari total
partikulat, 16% dari total NOx, dan 63 % dari total SOx. Di Surabaya sektor
industri memberikan sekitar 28%, 43%, dan 88% pada polutan yang sama.
Strategi pengendalian pencemaran udara yang berasal dari sektor industri
dapat dilakukan melalui dua pendekatan :

1). Pengendalian yang terkait dengan konservasi energi.

2). Pencegahan/pengurangan emisi dengan menggunakan teknologi


pengendalian emisi

Upaya pengendalian yang terkait dengan konservasi energi di sektor industri,


memberikan kenyataan bahwa upaya ini dapat menghasilkan potensi
penghematan energi sekitar 15% sampai 30%. Sekalipun terbukti bahwa
konservasi ini menghasilkan penghematan, namun untuk sektor industri
jumlahnya masih relatif kecil dibandingkan terhadap biaya produksi
keseluruhan. Oleh karena itu, konservasi ini bukan merupakan prioritas
perusahaan.

Upaya pencegahan/pengurangan emisi pada hakekatnya dapat dilakukan


dengan dua pendekatan. Pertama, adalah ditegakkannya seluruh peraturan
pemerintah (command and control approach), dan yang kedua adalah
pengembangan dan penggunaan instrumen-instrumen ekonomi untuk
mencegah atau mengurangi pencemaran. Instrumen ini antara lain charge
system, deposit refund system , dan penciptaan pasar.

Saat ini pendekatan penanganan limbah umumnya dilakukan dengan cara


pemecahan akhir- pipa (end-pipe-solution) melalui penerapan standar ambien
dan standar emisi yang berlaku. Pendekatan ini mempunyai beberapa
kelemahan seperti yang dibahas pada Bab 6, yang salah satunya adalah
bahwa pendekatan ini tidak mempunyai insentif untuk mengatasi sumber
pencemaran dari sumber asalnya. Sumber pencemaran yang disebabkan
oleh penggunaan input yang tidak berwawasan lingkungan, atau proses
produksinya menggunakan teknologi yang kurang ramah lingkungan sama
sekali tidak disentuh. Atas dasr kelemahan diatas, maka timbul pendekatan

Agenda 21 - 44
yang disebut sebagai produksi bersih (clean-production) dan emisi nol (zero
emission) yang sudah jauh lebih efektif ketimbang pendekatan-akhir-pipa.

Sektor Rumahtangga

Konsumsi energi disektor rumahtangga mempunyai pola yang berbeda


dibandingkan dengan sektor lainnya. Biomas misalnya, merupakan sumber
energi termurah yang merupakan sumber energi utama diwilayah pedesaan.
Konsumsi energi minyak tanah lebih mendominasi di wilayah perkotaan
karena dinilai lebih efisien. Konsumsi energi pada sektor ini terutama
digunakan untuk memasak, karena itu tidak mengherankan bahwa
pertumbuhan konsumsi disektor ini mempunyai hubungan linier dengan
pertumbuhan jumlah penduduk.

Partikulat merupakan salah satu emisi utama yang dihasilkan oleh


pembakaran kayu bakar. Hal ini menyebabkan kontribusi SPM (suspended
particulate matter) dari sektor rumahtangga menjadi cukup besar. Namun
demikian, dimasa depan kontribusi emisi pencemar udara dari sektor
rumahtangga terhadap emisi total akan menurun. Penurunan ini disebabkan
oleh berkurangnya persentase konsumsi energi disektor rumahtangga
terhadap konsumsi energi total dan perpindahan pada sumber energi yang
lebih efisien disektor rumahtangga.

Keterlibatan seluruh lapisan masyarakat merupakan aspek penting yang


harus diperhitungkan dalam menyusun strategi pengendalian pencemaran
udara dari sektor rumahtangga. Oleh karena itu, strategi dan program yang
berkaitan dalam sektor ini harus memfokuskan pada pendidikan dan
peningkatan kesadaran masyarakat agar inisiatif pengendalian baik dari pihak
pemerintah maupun dari swasta dapat berjalan dengan baik. Keterlibatan
masyarakat miskindalam masalah ini, dengan ketidakberdayaan dan
ketidakmampuannya menyebabkan strategi yang mengarah pada
pengembangan bentuk subsidi baik itu subsidi langsung maupun subsidi
silang seharusnya menjadi bagian dari program implementasi.

Upaya pemerintah dalam meningkatkan efisiensi saat ini ditunjukan pada


penerapan efisiensi tungku masak dan pergeseran pada jenis bahan bakar
dengan mempertimbangkan kebersihan, harga perunit energi, efisiensi
penggunaan dan ketersediaan sumber energi domestik seperti bangunan
briket batubara dan LPG, serta introduksi tungku-tungku yang lebih efisien.
Hambatan yang ada untuk melaksanakan semua ini disebabkan oleh
kemampuan dan tingkat pendidikan masyarakat sehingga sulit untuk
menerima teknologi baru. Untuk itu upaya meningkatkan kesadaran
masyarakat akan pentingnya konservasi dan efisiensi harus terus menerus
dilakukan baik oleh institusi pemerintah dan non pemerintah serta
menyediakan alternatif yang mudah diadopsi dan dioperasionalkan.

Agenda 21 - 45
Peningkatan Kemampuan dan Langkah-Langkah dalam Menghadapi
Penipisan Lapisan Ozon

Indonesia tidak termasuk negara yang memproduksikan ataupun mengekspor


zat perusak lapisan ozon (Ozone Depleting Substances, ODS). Konsumsi
ODS di Indonesia tercatat sangat kecil, yaitu kurang dari 1% dari konsumsi
dunia. Namun, demikian bangsa Indonesia sangat peduli dengan rusaknya
lapisan ozon di stratosfir. Sebagai tindak lanjut rasa kepedulian tersebut,
pemerintah Indonesia telah mengadopsi dan meratifikasi Konvensi Perubahan
Iklim Rio de Janeiro, Konvensi Wina, dan protokol Montreal mengenai
perlindungan lapisan ozon. Respon bangsa Indonesia ini juga diwujudkan
secara nyata dengan dikeluarkannya keputusan pemerintah untuk
menghapus seluruh pemakaian ODS pada akhir tahun 1997, walaupun waktu
yang ditetapkan dalam Protokol Montreal untuk Indonesia adalah tahun 2010.

Peningkatan Kemampuan dan Langkah-Langkah dalam Menghadapi


Perubahan Iklim Global

Sebagai negara yang ikut menandatangani Konvensi Perubahan Iklim di Rio


de Janeiro, Indonesia melihat bahwa perubahan iklim merupakan ancaman
besar terhadap lingkungan dan perkembangan ekonomi nasional dan dunia.
Menyadari resiko yang mungkin ditimbulkan dan implikasinya pada aspek
sosial-ekonomi, maka Indonesia telah mengambil langkah-langkah penting
untuk melakukan antisipasi, mitigasi, dan persiapan dalam menghadapi
kemungkinan perubahan iklim tersebut.

Data perkiraan terakhir menunjukan bahwa Indonesia memberi kontribusi


sekitar 1,6%-1,8% kepada emisi Gas Rumah Kaca (GHG) dunia. Dengan
persentase ini, penggundulan hutan dianggap sebagai penyebab utama
munculnya kontibusi emisi gas rumah kaca tersebut sekalipun disadari bahwa
kondisi hutan (forest coverage) Indonesia masih merupakan yang terbaik
didunia. Perkiraan ini mengasumsikan bahwa setiap terjadi penebangan
pohon dihutan, maka seluruh kandungan karbon yang ada dikayu tersebut
disebabkan dilepaskan ke udara. Asumsi ini benar jika memang seluruh
pohon yang ditebang tidak dimanfaatkan sehingga mengalami pembusukan
atau dimanfaatkan sebagai katu bakar. Dengan mengalami pembusukan atau
dibakar, maka seluruh karbon akan dilepas ke udara. Namun pada
kenyataannya penebangan kayu hutan lebih banyak dimanfaatkan untuk
kepentingan kayu bangunan, furnitur, dan sebagainya. Ini berarti bahwa
perkiraan kontribusi tersebut diats tidaklah akurat sebab menggunakan
asumsi yang tidak tepat.

Lepas dari benar tidaknya perkiraan diatas, hilangnya hutan berarti hilangnya
kemampuan alam untuk dapat menyerap CO2 diudara. Di masa mendatang
diperkirakan bahwa konsumsi energi akan berkembang pesat, laju deforestasi
cenderung semakin lambat yang diakibatkan oleh makin kuatnya upaya-
upaya pelestarian hutan, dan adanya penghapusan CFC
(chlorofluorocarbon), maka kontribusi emisi gas rumah kaca lebih didominasi
oleh pemakaian energi. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka ada dua
jenis strategi yang harus diambil. Pertama menyangkut permasalahan

Agenda 21 - 46
deforestasi, untuk memperkuat kebijaksanaan yang sudah ada, perlu
dukungan keuangan global mengingat supaya ini untuk keperluan masyarakat
dunia. Kedua, menyangkut masalah energi, dimana efisiensi penggunaan
energi harus terus digalakkan dan dibudidayakan dalam setiap kegiatan
ekonomi mengingat pendekatan ini cukup berhasil dalam mengurangi emisi
CO2.

Peningkatan Kemampuan dalam Menghadapi Potensi dalam Transport


Polutan Udara Jarak Jauh

Deposisi Asam

Berdasarkan data yang ada, sampai saat ini belum terlihat dampak akibat
adanya deposisi asam di Indonesia. Dilihat dari tanahnya, karakteristik kimia
tanah di Jawa cenderung mencegah terjadinya dampak deposisi asam atau
pengasaman. Karena geografi dan tipe angin juga berpengaruh terjadinya
deposisi asam, kecil kemungkinan Indonesia akan memeberi kontribusi yang
berarti pada deposisi asam negara tetangganya.

Kebakaran Hutan dan Lahan

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menyebabkan pencemaran asap ke


wilayah atau ke negara tetangga. Sebagian kebakaran ini merupakan
kebakaran alamiah, walaupun ada juga jenis kebakaran yang berasal dari
aktivitas manusia, seperti aktivitas pembukaan lahan dan sebagainya. Selain
masalah kesehatan, asap kebakaran hutan mengakibatkan kerugian ekonomi
yang besar. Pemerintah Indonesia berupaya untuk mengatasi kebakaran ini
melalui peraturan-peraturan seperti keputusan pelarangan penggunaan api
pada pembukaan lahan, pembentukan Tim Koordinasi Nasional Kebakaran
Lahan dan Hutan, meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia, dan
jaringan pemantauan dini untuk mendeteksi kebakaran. Upaya pencegahan
pembakaran lahan dan hutan dimasa depan, adalah dilakukannya
peningkatan kemampuan pelaksanaan semua program yang ada, mencakup
metoda, peralatan yang dibutuhkan, dan aspek pembiayaannya.

Agenda 21 - 47
BAB 8
PENGELOLAAN BAHAN KIMIA BERACUN
Dalam tiga dasawarsa terakhir, penggunaan bahan kimia didunia termasuk
Indonesia telah berkembang dan m ampu memenuhi tujuan sosial dan
ekonomi masyarakat. Sekalipun tidak semua jenis bahan kimia tadi diproduksi
dan diperdagangkan, diantara jenis tersebut banyak bahan yang bersifat
racun. Dari sekitar 1.500 jenis bahan kimia atau 95% dari produksi total bahan
kimia dunia, baru ratusan jenis saja yang telah dievaluasi dalam kaitannya
dengan dampak potensial jangka pendek dan jangka panjang yang dapat
terjadi terhadap kesehatan manusia dan Lingkungan.

Bahan kimia beracun merupakan salah satu bagian dari bahan berbahaya
atau bahan berbahaya dan beracun (B3). Untuk menjamin pengelolaan bahan
kimia beracun agar ramah Lingkungan dan mempunyai drajat keamanan
tinggi, diperlukan peningkatan upaya pengelolaan baik ditingkat nasional,
regional, maupun internasional.

Beberapa konvensi internasional mengenai bahan berbahaya telah diratifikasi


dan diberlakukan da Indonesia. Karena itu dirasakan perlu adanya peraturan
perundangan mengenai hal tersebut yang mencakup aspek-aspek
pengaturan, perijinan, pengadaan, kepemilikan, penggunaan, dan
peredarannya sebagai dasar hokum pengelolaan bahan berbahaya secara
nasional.

Pada tahun 1987, dua konsep Undang-Undang mengenai bahan berbahaya


telah disusun oleh Departemen kesehatan dan Kantor Menteri Negara
Lingkungan Hidup. Undang-Undang ini mengusulkan agar bahan-bahan
berbahaya dikendalikan pada seluruh daur hidupnya, dimulai dari produksi
dan impor sampai kepembuangan limbah yang aman. Kedua konsep Undang-
Undang ini teleh ditinjau kembali untuk melihat kemungkinan pengembangan
suatu peraturan dibawah Undang-Undang tentang Ketentuan Pokok-Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Agenda 21 - 48
Walaupun telah banyak dilakukan pemerintah, masih banyak masalah yang
ada dalam upaya pengelolaan bahan kimia beracun di Indonesia. Pada
dasarnya permasalahan ini dapat dibagi atas dua masalah pokok, yaitu :

1). Kurangnya informasi ilmiah yang memadai untuk menilai resiko


penggunaan bahan kimia.

2). Kurangnya sumberdaya manusia untuk menilai bahan kimia yang datanya
telah tersedia.

STRATEGI PENGELOLAAN BAHAN KIMIA BERACUN

Guna tercapainya sasaran pengelolaaan bahan kimia beracun dalam


menunjang pembangunan berkelanjutan, maka strategi pengelolaan bahan
kimia beracun ini dapat dibagi kedalam empat bidang :

1). Peningkatan kemampuan dan kapasitas nasional dalam pengelolaan


bahan- bahan kimia.

2). Penyelerasian klasifikasi dan pelabelan bahan-bahan kimia beracun.

3). Penyebarluasan infomasi tentang bahan-bahan kimia beracun dan risiko-


risiko kimia.

4). Penurunan risiko dan pencegahan lalulintas domestik maupun


internasional yang tidak sah.

Tercapainya strategi diatas tidak akan terlepas dari partisipasi semua pihak,
baik itu melalui komitmen pribadi, kapasitas intelektual, perilaku dari struktur
legislasi yang mengatur dan mendorong guna tercapainya sasaran diatas.

Peningkatan Kemampuan dan Kapasitas Nasional dalam Pengelolaan


Bahan-Bahan Kimia

Dalam membangun sistem nasional pengelolaan bahan-bahan kimia yang


tertata baik dan berjalan dengan semestinya – dari mulai aspek hokum,
perangkat implementasi, dan dorongan pelaksanaannya – ini dapat dilakukan
melalui ;

1). Pengembangan sistem koordinasi antar departemen yang terintegrasi dan


multi disiplin, pengembangan mekanisme institusional dan mendirikan
pusat-pusat pelayanan, pengawasan dan Pengendalian racun.

2). Pengembangan kemampuan nasional mengenai pencegahan kecelakaan,


kesiapsiagaan, dan tanggap darurat yang tercakup dalam program APELL
(Awareness and Prepareedness for Emergencies at Local Level) dari
UNEP, termasuk peningkatan kerjasama dengan industri-industri yang
menggunakan bahan kimia beracun dan lembaga-lembaga internasional.

Agenda 21 - 49
3). Pengumpulan dan inventarisasi lengkap mengenai data bahan kimia
beracun, serta penyebarluasan informasi secara langsung kepada
masyarakat.

4). Penyempurnaan peraturan yang belum ada atau belum jelas, mengadopsi
kebijakan community right to know (masyarakat memiliki hak untuk tahu)
dan didukung dengan peningkatan kemampuan para aparat dalam upaya
penegakkan hukum.

Strategi yang diterapkan untuk mendukung kegiatan-kegiatan tersebut


ditekankan kepada: Pertama, meningkatkan kemampuan sumberdaya
manusia, dan Kedua, mengoptimalkan pengawasan dan koordinasi di tingkat
nasional.

Penyerasian Klasifikasi dan Pelabelan Bahan-Bahan Kimia

Pelabelan yang serasi untuk bahan-bahan kimia dan penyebarluasan safety


data sheets, seperti ICSC (International Chemical Safety Cards) dan tulisan
serupa lainnya, yang memuat bahay-bahaya bagi kesehatan dan lingkungan
merupakan cara yang paling sederhana dan paling efisien untuk
menunjukkan bagaimana cara menangani dan menggunakan bahan kimia
secara aman.

Sstem klasifikasi bahaya dan pelabelan yang serasi (harmonis) yang berlaku
untuk universal, sangat dibutuhkan dalam usaha mendorong pemakaian
bahan-bahan kimia secara aman baik ditempat kerja atau dirumah.

Langkah dasar yang dilakukan adalah mengadopsi sistem klasifikasi dan


pelabelan internasional, serta memasyarakatkan dan menyebarluaskan
informasi yang dipunyai kepada seluruh lapisan masyarakat. Begitu pula
kerjasama dengan badan-badan internasional perlu ditingkatkan dan
dikembangkan dalam bentuk pelatihan dan tukar menukar infomasi,
disamping membentuk lembaga klasifikasi bahan kimia nasional.

Penyebarluasan Informasi tentang Bahan-Bahan Kimia Beracun dan


Risiko-Risiko Kimia

Untuk menanggulangi masalah ekspor bahan-bahan kimia ke negar-negara


berkembang yang sudah tidak digunakan lagi (banned) dinegara produsen
atau yang pemakaiannya telah sangat dibatasi dinegara industri, prosedur-
prosedur dan persyaratan-persyaratan untuk Prior Informed Concern (PIC)
perlu diadopsi kedalam system nasional. Didalam kerangka the General
Agreement on Trade and Tariffs (GATT) telah dijalankan negosiasi-negosiasi
dengan tujuan untuk menyediakan perngkat-perangkat yang mengikat produ-
produk yang dilarang atau sangat dibatasi di pasaran internasional.

Untuk itu, kerjasama internasional sangat diperlukan dalam tukar-menukar


informasi, pengembangan jaringan kerja, dan pendirian pusat informasi
nasional yang mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Agenda 21 - 50
Penurunan Risiko dan Pencegahan Lalu Lintas Domestik maupun
Internasional yang tidak Sah dari Produk-Produk Kimia Berbahaya dan
Beracun

Pada waktu ini, belum ada persetujuan internasional yang bersifat global
tentang lalulintas produk-produk yang beracun dan berbahaya. Meskipun
demikian, ada keprihatinan global bahwa lalulintas internasional yang tidak
sah dari produk tersebut akan membahayakan kesehatan masyarakat dan
Lingkungan, terutama dinegara-negara berkembang, seperti yang dinyatakan
dalam Sidang Umum PBB dalam resolusi 42/183 dan 44/226. Perhatian dan
keprihatinan juga bertalian dengan perpindahan lintas batas dari produk-
produk tersebut yang dilaksanakan tidak sesuai dengan pedoman dan
prinsip-prinsip yang diadopsi secara internasional.

Tujuan yang ingin dicapai adalah :

1). Mengurangi risiko yang tidak diinginkan dengan memperhatikan analisis


daur hidup bahan kimia, dan meningkatkan kapasitas nasional untuk
mendeteksi masuknya produk-produk beracun secara illegal.

2). Meningkatkan pemahaman dan penerapan the Polluter Pays Principle,


dimana industri mempunyai tanggung jawab khusus dalam menjalankan
program pengurangan risiko.

Untuk menjawab tantangan dan keprihatinan di atas, maka bentuk kegiatan


yang dilakukan diantaranya mengadopsi kebijakan the Polluter Pays Principle,
serta mendorong penggunaan produk dan teknologi bersih. Disamping itu
perlu ditingkatkan kerjasama internasional dalam bentuk pelatihan dan tukar-
menukar informasi.

Tidak kalah pentingnya adalah mengembanngkan pusat informasi racun dan


keracunan nasional serta program penegakkan hokum nasional untuk
memantau penerapan peraturan dilapangan. Perkembangan teknologi dan
penelitian penggunaan senyawa alternatif yang aman tetapi memiliki fungsi
sama tidak lluput dari tujuan yang akan dicapai.

Untuk mencapai semua tujuan diatas, diperlukan komitmen dan keterlibatan


semua lapisan masyarakat. Dalam penyusunan kebijakan, peran serta
masyarakat yang luas merupakan syarat utama tercapainya pembangunan
yang berkelanjutan. Perorangan, kelompok-kelompok masyarakat dan
organisasi-organisasi perlu mengetahui dan ikut serta dalam pengembilan
keputusan yang menyangkut Lingkungan dan pembangunan, terutama
keputusan yang berkaitan dengan mereka. Agar dapat membuat keputusan
yang bijaksana, pemerintah perlu menyediakan akses untuk semua informasi
yang relevan tentang masalah-masalah pembangunan dan Lingkungan pada
umumnya, dan tentang risiko-risiko bahan kimia pada khususnya. Hal ini
dapat dilakukan baik melalui pelatihan, penerangan, pendidikan di dalam dan
di luar sekolah, serta pemerian penghargaan, rangsangan dan dorongan
kepada masyarakat luas.

Agenda 21 - 51
BAB 9
PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA
DAN BERACUN
Sembilan puluh persen (90%) limbah B3 adalah produk industri. Padahal
industri di Indonesia sedang ditumbuhkan dan dipacu, sehingga pada akhir
Pembangunan Jangka Panjang II (PJP II) sector industri diproyeksikan
mampu memberikan sumbangn sekitar 32,5% pada produk domestik bruto
(PDB), dan diperkirakan akan mampu menyerap tenaga kerja baru sekitar
27,6% dari keseluruhan tambahan kesempatan kerja. Untuk mencapai
sasaran-sasaran tersebut, selama PJP II nilai tambah sector industri
pengolahan diproyeksikan tumbuh dengan rata-rata 9,2% per tahun,
sedangkan industri pengolahan non-migas diproyeksikan rata-rata sebesar
9,8% per tahun. Dengan sendirinya pertumbuhan industri ini akan
meningkatkan beban pencemaran pula.

Secara keseluruhan, sector industri telah mengakibatkan tingginya beban


pencemaran, pertama karena limbah yang dihasilkan tidak terkelola dan
terolah dengan baik, kedua karena panggunaan bahan pencemaran untuk
proses maupun sebagai bahan baku tidak terkendali. Bahan pencemar
berbahaya dan beracun yang dihasilkan oleh industri umumnya adalah logam
berat, sianida, pestisida, cat dan zat warna, minyak, zat pelarut, dan zat kimia
berbahaya lainnya. Untuk mengatasi beban pencemaran itu, pada tahun 1987
Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup telah menyiapkan naskah lengkap
tentang pengaturan limbah B3. Peraturan ini menusulkan sistem pengelolaan
limbah B3 yang berdasarkan cradle-to-grave, yang akan mengontrol limbah
B3 mulai dari terbentuknya (cradle) sampai pembuangan akhirnya (grave).
Konsep ini diterapkan oleh karena berdasarkan pengalaman negara industri,
menunjukan bahwa pengolahan limbah B3 dengan pendekatan-akhir-pipa
(end-of-pipe) ternyata tidak efektif, yang kemudian dikembangkan konsep
minimasi limbah dan produksi bersih.

Selain daripada itu, telah disiapkan pula suatu naskah program yang
mengatur bahan yang berbahaya melalui daur-hidupnya (life-cycle). Sebagai

Agenda 21 - 52
tambahan dari program tersebut, dilakukan studi kelayakan pengadaan
limbah B3 terpusat untuk daerah “gerbangkertosusila” (Gresik, Bangkalan,
Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) di Jawa Timur dan untuk
daerah jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi).

Limbah atau sampah dikatakan berbahaya karena berbagai alasan. Suatu


limbah dianggap berbahaya karena kemampuan limbah atau sampah tadi
untuk menimbulkan suatu reaksi racun (atau keracunan) didalam tubuh
manusia. Peraturan Pemerintah No.19/1994 dan Peraturan Pemerintah
No.12/1995 telah memberikan batasan pengertian limbah berbahaya atau
menjadi berbahaya jika memenuhi satu atau lebih persyaratan ; diantaranya
mudah meledak, mudah terbakar, reaktif, memiliki daya racun, menyebabkan
penyakit, korosif dan sebagainya.

STRATEGI PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN


BERACUN

Guna menekan jumlah B3, perlu adanya reorientasi system berproduksi dari
pendekatan end-of-pipe ke pendekatan produksi bersih. Selain itu perlu
adanya interaksi antara pranata hukum dan sosial, kelembagaan,
kemamapuan sumberdaya manusia, penguasaan teknologi dan bahkan
advokasi dari Lembaga swadaya Masyarakat atau masyarakat luas lainnya.

Untuk mencapai hal-hal tersebut strategi pengelolaan limbah bahan


berbahaya dan beracun dapat dibagi atas :

1). Pengembangan dan peningkatan pengelolaan limbah B3 yang


berwawasan lingkungan dengan prioritas utama pada minimasi limbah.

2). Pencegahan lintas batas limbah B3 secara ilegal dan kerjasama dalam
pengelolaan lintas batas limbah.

3). Peningkatan dan penguatan kemampuan kelembagaan dalam


pengelolaan limbah B3.

Lintas Batas Limbah B3

Permasalahan yang dihadapi dengan limbah B3 ini adalah adanya bisnis


pembuangan limbah antar negara. Ekspor limbah B3 dan pembuangannya
dari negara maju ke negara berkembang terus meningkat, dimana antara lain
disebabkan oleh negar-negara maju telah menerapkan berbagai peraturan
untuk menanggapi pencemaran dengan lebih ketat. Akibat ketatnya
peraturan, biaya pengolahan limbah menjadi meningkat, dan dalam banyak
hal akan lebih murah bila dikirim atua diekspor ke negara lain (umumnya
negara berkembang). Dalam hal masalah lintas batas limbah ini, Indonesia
telah meratifikasi Konvensi Basel, yang berupaya mengatur ekspor dan impor
serta pembuangan limbah B3 secara tidak sah. Sebagai negara kepulauan
yang perairannya yang terbuka. Indonesia sangat potensial sebagai tempat

Agenda 21 - 53
pembuangan limbah berbahaya, baik antar pulau di Indonesia maupun limbah
yang dating dari luar negeri.

Kemampuan Kelembagaan

Kelemahan yang ada dalam pembangunan di Indonesia yang berkaitan


dengan pengendalian pencemaran lingkungan adalah terutama karena
terbatasnya kemampuan kelembagaan mengelola sumber daya alam dan
Lingkungan hidup. Walaupun peraturan-peraturan yang berkaitan dengan
pengendalian pencemaran terus dikembangkan, namun
pengimplementasiannya masih sangat lemah.

Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan peran serta masyarakat,


terutama masyarakat pengusaha industri, adalah melalui Program Penilaian
Peringkat. Kinerja Perusahaan (PROPER), yang memberikan peringkat
kinerja bagi sekitar 200 industri yang dilingkup oleh Program Kali Bersih yang
berpotensi mencemari lingkungan.

Skenario Timbulan Limbah B3 di Indonesia

Dengan industrialisasi seperti yang akan ditempuh Indonesia serta dari


pengalaman negara industri, diperkirakan pada tahun 2003 industri Indonesia
akan menghasilkan limbah padat dan Lumpur berbahaya tak terolah
sebanyak 764 ribu ton per tahun dan akan menjadi 3.236 ribu ton pada tahun
2020. Limbah ini akan terkonsentrasi pada wilayah yang padat industri seperti
wilayah Botabek, Gersik, dan Sidoarjo. Tetapi dengan program minimasi
limbah berbahaya jumlah itu dapat dikurangi menjadi 74,5% pada tahun 2003
dan menjadi 50% pada tahun 2020. Apabila program minimasi ini disertai
dengan program produksi bersih dapat berjalan seperti yang diharapkan,
maka pada tahun 2020 limbah berbahaya tersebut dapat ditekan menjadi
25%.

Pengembangan dan Peningkatan Pengelolaan Limbah B3 yang


Berwawasan Lingkungan dengan Prioritas Utama pada Minimasi Limbah

Dalam upaya mengurangi limbah B3, maka komitmen nasional untuk


melaksanankan pengelolaan limbah yang bertumpu pada minimasi limbah
perlu segera dilaksanakan dan ditingkatkan. Upaya penanganan limbah yang
selama ini masih bersifat reaktif, dan hendaknya secara bertahap melangkah
pada pengelolaan limbah yang bersifat proaktif, yaitu melalui upaya produksi
bersih. Aspek ekonomi teknologi yang selama ini didekati biaya tambahan
biaya produksi, secara bertahap hendaknya diinternalkan dalam ekonomi
kegiatan industri.

Dengan liberalisasi perdagangan dan penilaian sistem pengelolaan


Lingkungan (ecollabeling dan ISO 14000) maka persaingan akan tambah
ketat dan berat. Pengendalian pencemaran Lingkungan harus bertumpu pada
penggunaan prosedur dan tata cara yang memperhatikan kelestarian fungsi

Agenda 21 - 54
dan kemampuan ekosistem untuk mendukung perikehidupan serta kesediaan
sumber daya alam untuk mendukung upaya pembangunan itu sendiri. Melalui
product-life-cycle, maka teknologi, proses serta manajemen sumber daya
perlu dievaluasi, dan diganti dengan yang lebih sesuai.

Peningkatan fungsi pusat pengolah limbah B3, penerapan strategi produksi


bersih, implementasi sistem instrumen ekonomi, pengembangan pusat
informasi, dan teknologi yang berwawasan lingkungan merupakan beberapa
program kegiatan yang diungggulkan.

Pencegahan Lintas Batas Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Secara


Ilegal dan Kerjasama dalam Pengelolaan Lintas Batas Limbah

Konvensi Basel memungkinkan masuknya limbah B3 secara legal ke


Indonesia untuk diolah pada pengolah limbah B3 yang dibangun, yang
dimana merupakan peluang bisnis yang menggiurkan bagi pengusaha-
pengusaha Indonesia maupun asing. Peraturan-peraturan yang ada di
Indonesia tidak dibolehkan masuknya limbah B3 ke Indonesia, kecuali untuk
didaur ulang sebagai bahan baku guna mencukupi bahan baku yang ada. Hal
ini memerlukan pengontrolan yang tegas agar tidak disalahgunakan. Untuk
itu, perlu dikembangkan pusat informasi yang berguna sebagai wadah tukar-
menukar informasi dan pengkajian prosedur serta tata cara kontrol.

Yang tidak kalah pentingnya dalam mengawasi mekanisme lalulintas ilegal


limbah berbahaya adalah meningkatkan kemampuan infrastruktur nasional
dan pengembangan kerjasama Indonesia dengan lembaga regional dan
internasional lainnya.

Program-program pelatihan bagi sumberdaya manusia yang langsung terkait


dengan lintas batas limbah B3, dan peningkatan kepedulian serta dialog
kemitraan antara pemerintah, asosiasi industri sejenis, asosiasi importir dan
eksportir nasional yang bergerak dalam tata niaga limbah perlu diadakan
untuk mendukung kegiatan-kegiatan tersebut. Di samping itu perlu juga
diciptakan sistem koordinasi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
aparat yang langsung terkait dalam masalah tata niaga ini, menciptakan suatu
mekanisme yang harmonis antar instansi terkait.

Peningkatan dan Penguatan Kemampuan Kelembagaan dalam


Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Kaitannya dengan peningkatan dan penguatan kemampuan kelembagaan


dalam pengelolaan limbah B3, pemerintah Indonesia menekankan
pengembangan system informasi nasional yang serasi dengan sistem
internasional yang telah ada, bersamaan dengan peningkatan kerjasama
dengan badan-badan regional dan internasional. Indonesia diharapkan juga
dapat membuat program target penelitian, pelatihan dan pengembangan
teknologi penanganan limbah B3 yang berwawasan lingkungan. Strategi yang
dapat diterapkan diantaranya ialah membina dan mendukung pusat-pusat
penelitian di dalam negeri yang ada, termasuk yang ada di perguruan tinggi
maupun industri dalam hal meningkatkan penelitian, pelatihan dan bantuan

Agenda 21 - 55
teknik untuk mencari bentuk teknologi dan pengelolaan limbah berbahaya
yang tepat guna bagi industri-industri kecil dan industri rumahtangga. Hasil
penelitian selanjutnya dipublikasikan kepada masyarakat melalui seminar,
jurnal ilmiah, dan sebagainya. Kesemuanya tentu tidak terlepas dari program
penegakan hukum nasional yang sesuai untuk memantau pelaksanaan di
lapangan dan menyempurnakan mekanisme sanksi.

Pendidikan, peningkatan masyarakat, dan pelatihan sangat terkaitan dengan


pengembangan kapasitas, data dan informasi dan peran kelompok-kelompok
utama. Guna meningkatan keberhasilan strategi di atas, maka aspek-aspek
tersebut perlu ditngkatkan melalui serangkaian program seperti : (i) Orientasi
program pendidikan yang sesuai dengan kebuthan; (ii) Peningkatan
kepedulian masyarakat; dan (iii) penggalakan pelatihan.

Agenda 21 - 56
BAB 10
PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF

Pada dasarnya teknologi nuklir sudah dikenal di Indonesia, dan dilembagakan


ke dalam Badan Tenaga Atom Nasional (yang didirikan tahun 1958), akan
tetapi sampai saat ini Indonesia hanya mempunyai tiga reaktor nuklir yaitu
TRIGA Mark II di Bandung dengan kekuatan 2 MW, reaktor Kartini di
Yogyakarta dengan kekuatan 0,25 MW, dan reaktor GA Swabessy di Serpong
yang berkekuatan 30 MW. Ketiga reaktor tersebut sejauh ini hanya digunakan
dalam kegiatan penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta aplikasinya di berbagai bidang. Pada Pembangunan Jangka Panjang I,
limbah nuklir di Indonesia hanya bersumber dari kegiatan reaktor-reaktor riset
tersebut yang umumnya dikategorikan sebagai limbah beraktivitas rendah
(low level waste) atau sedang (intermediate level waste).

Secara spesifik, program nuklir di Indonesia dikembangkan dengan


penekanan utama pada program pemenuhan kebutuhan dasar manusia,
pengembangan sumberdaya alam, dan energi serta pemanfaatan energi
nuklir untuk mendukung kebijaksanaan diversifikasi energi nasional,
keselamatan nuklir dan lingkungan. Sampai dengan akhir Pelita V,
pemanfaatan teknologi nuklir sebagai pembangkit energi di Indonesia belum
dilakukan .

Hasil studi Markal yang dikoordinasikan BPPT menunjukan bahwa cadangan


minyak bumi Indonesia akan terkuras pada tahun 1998 untuk scenario tinggi
(asumsi kenaikan GDP 4,5% per tahun). Dengan skenario rendah, cadangan
ini dapat diperpanjang hingga tahun 2002-2007. Strategi diversikasi yang
tepat harus dipilih dan direncanakan dengan matang untuk kebutuhan energi
masa depan. Menjelang Pelita V, diperkirakan pada tahun 2015 kebutuhan
listrik terpasang Jawa-Bali tidak kurang dari 27.000 Mwe. Setelah
diperhitungkan dari penyediaan sumber energi non-nuklir, ternyata masih
diperlukan sekitar 7.000 Mwe. Beberapa sumber energi yang masih dalam

Agenda 21 - 57
pengembangan kearah bukti kendala teknis dan ekonomis selain nuklir
adalah energi surya, angin, biomassa, geothermal dan pasang surut laut.
Oleh karena itu, seandainya kekurangan daya listrik 7.000 Mwe tersebut
hanya akan dipenuhi PLTN dengan daya 600 hingga 1.000 Mwe, maka paling
tidak akan diperlukan 7 hingga 12 unit. Pada saat itulah limbah radioaktif yang
dihasilkan akan meningkat baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Akan
tetapi, mengingat bahaya yang mungkin timbul dengan adanya reaktor nuklir
tehadap manusia dan lingkungan, maka pengambilan keputusan
pembangunan PLTN tidak hanya mengandalkan pada kelayakan politik,
ekonomi, dan lingkungan semata, namun juga harus memperhitungkan
secara seksama kelayakan sosial dan budaya. Ini dapat dilakukan dengan
melibatkan semua aktor pembangunan baik institusi pemerintah maupun non-
pemerintah.

STRATEGI PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF

Bagaimanapun, limbah radioaktif harus dicermati karena radiasi yang


dipancarkannya dapat menimbulkan berbagai perubahan terhadap materi.
Pengelolaan limbah radioaktif dalam pengertian pembangunan yang
berkelanjutan harus merupakan upaya penerapan teknologi yang layak teknis
dan ekonomis bagi perlindungan pekerja, masyarakat dan lingkungan dari
paparan radiasi, tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk masa yang akan
dating. Dengan pengertian ini, maka pengelolaan harus ditujukan agar tidak
ada seorang pun dari pekerja, anggota masyarakat, dan lingkungan saat ini
dan generasi masa mendatang menerima dosis radiasi melebihi nilai batas
yang direkomendasikan. Pengelolaannya harus menjamin keselamatan
manusia dan lingkungan dari pengaruh budaya radiasi material radioaktif
yang merupakan unsure pendukung dalam pembangunan.

Pengelolaan limbah radioaktif diartikan sebagai kegiatan administrative dan


operasional, yang meliputi penanganan (handling), pengolahan (treatment
and pretreatment), pengkondisian (immobilization, packaging, containment)
pengangkutan, penyimpanan sementara (storage), dan penyimpanan akhir
limbah (disposal).

Resiko yang berhubungan dengan tingkat radiasi pengion telah banyak diteliti
dan dievaluasi, bahkan oleh badan internasional seperti ICRF (International
Commission on Radiological Protection) dan UNSCEAR ( Uniteds Nations
Scientific Committee on the Effect of Atomic Radiation). Hasil penelitian dan
evaluasi tersebut, menjadi dasar upaya keselamatan radiasi yang diterapkan
secara internasional dan dikenal dengan asas ALARA ( As Low As
Reasonably Achievable). Melalui penerapan asas ini diharapkan potensi
dampak radiologi dapat diperkecil dalam batas keselamatan yang telah
ditetapkan. Setiap resiko harus dicegah dengan penerapan standar
keselamatan radiasi. Prinsi-prinsip proteksi yang dapat diterapkan adalah
sebagai berikut:

1). Penggunaan radiasi harus benar-benar memberikan manfaat.

Agenda 21 - 58
2). Paparan radiasi yang diterima harus mengikuti asas ALARA dan
memperhatikan aspek sosial, dan ekonomi.

3). Dosis yang diterima tidak boleh melebihi nilai ambang batas.

Limbah padat dari kegiatan reaktor riset dan aplikasinya, pada umunya
berupa bahan terkontaminasi radioaktif seperti filter/kertas saring, plastik, alat-
alat dari gelas, alat suntik, bangkai binatang percobaan atau bahan
biologis,dan bahan kimia, sedangkan limbah cair berupa bahan pembersih, air
bilasan, bahan kimiawi dan cairan pengekstrasi. Limbah gas dapat berasal
dari evaporasi atau berasal dari insinerasi (pembakaran) limbah padat.
Tercampurnya limbah dengan substansi patogen, bahan kimia berbahaya non
radioaktif dan logamberat juga perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan
limbah radioaktif. Selain daripada itu, limbah radioaktif dari penambangan dan
pembangkit energi non nuklir juga perlu diperhatikan karena berdasarkan
laporan UNSCEAR tahun 1988, abu terbang ternyata juga mengandung
limbah radioaktif seperti Kalium-40, Uranium-238, Radium-236, Poloniom,
Thorium -238, dan Radium-228.

Tujuan pengelolaan limbah radioaktif secara aman dapat dicapai melalui :

1). Pemantapan infrastruktur terutama menyangkut peraturan perundangan


dan kelambagaan (diantaranya adalah dengan disahkannya Undang-
undang Ketenaganukliran).

2). Penguasaan aspek teknologi, prosedur, metode pengelolaan, dan


penyimpanan

3). Penyiapan sumberdaya manusia yang terampil dan terlatih.

4). Memasyarakatkan prinsip-prinsip, tindakan proteksi, dan pengelolaan


limbah radioaktif.

5). Menginformasikan secara luas dan transparan tentang perkembangan


kebijakan pemanfaatan tenaga nuklir sebelum keputusan pemanfaatan
dilakukan.

6). Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pengelolaan


limbah radioaktif.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia perlu meningkatkan peran fungsi


badan atau fasilitas terkait, menerapkan sistem internasional pengelolaan
limbah radioaktif, mengembangkan kerjasama internasional (dalam bentuk
pelatihan, dan tukar-menukar informasi atau teknologi), dan mengaktifkan
forum komunikasi khususnya untuk diseminasi informasi, serta menumbuhkan
tingkat kepercayaan rakyat.

Aspek sosial budaya dan peran kelompok masyarakat memegang peran


penting dalam pengembangan program nuklir disuatu negara. Dalam
pengembilan keputusan, pemerintah perlu menerima masukan dari berbagai

Agenda 21 - 59
pihak termasuk para pakar sains dan teknologi, lembaga tinggi negara, Pusat
Studi Lingkungan, masyarakat luas lainya.

Pengembangan forum komunikasi yang aktif dan disesuaikan untuk berbagai


kalangan, sangat mendukung terciptanya arus informasi yang tidak sepihak.
Lembaga Swadaya Masyarakat dapat memberikan informasi yang dihimpun
masyarakat secara faktual, sedangkan mediamassa dapat menyebarluaskan
informasi yang penting bagi masyarakat tanpa harus berpihak terhadap suatu
golongan

Strategi utama pengembangan sumberdaya manusia adalah penguasaan


ilmu pengetahuan dan teknologi melalui program pendidikan berjenjang di
perguruan tinggi; kerjasama bilateral,regional, dan multilateral; disamping
pembinaan aspek pendidikan non-teknis termasuk etika dan disiplin dalam
meningkatkan budaya dan keselamatan kerja.

Agenda 21 - 60
BAB 11
PENGELOLAAN LIMBAH PADAT DAN CAIR

Pada saat ini pelayanan umum menangani limbah padat atau sampah masih
belum memadai dan sering mengakibatkan pencemaran air, tanah, dan udara
yang melampaui baku mutu lingkungan. Kondisi yang sama terjadi pula pada
pengelolaan sanitasi (limbah cair rumahtangga). Kualitas dan kuantitas
pelayanan umum tersebut tidak meningkat secara berarti sejak tahun 1980,
sehingga tidak dapat mengejar kebutuhan pelayanan umum sanitasi
yangterus meningkat akibat lajju pertambahan penduduk. Sampai tahun
1993, hanya 52% unit rumahtangga yang mempunyai akses pada fasilitas
sanitasi yang memadai, dan hanya 9% yang mempunyai akses pada sistem
anitasi perpipaan dan ini hanya terdapat di 9 kota besar. Permasalahan
lainnya adalah bahwa kontribusi pencemaran organik di berbagai sungai oleh
limbah cair yang berasal dari manusia telah mencapai 50% sampai 755 dari
limbah cair total. Ini di perburuk dengan adanya fakta bahwa 84% sumur
dangkal di Jakarta telah tercemar oleh tinja.

Dalam hal limbah industri, saat ini upaya untuk menurunkan buangan belum
bisa mencapai hasil yang diharapkan. Keterbatasan kemampuan pemerintah
untuk memantau dan memerapkan baku mutu limbah, keterbatasan
kemampuan industri untuk merancang dan mengoperasikan sistem
pengolahan limbah, serta keberadaan industri kecil yang jumlahnya besar dan
bersatu dengan perumahan sehingga menyulitkan pemantauan, selain itu
juga tidak mempunyai industri kecil untuk membangun instalasi pengolahan
limbah.

Kecenderungan dan Persoalan Masa Depan

Masalah limbah padat dan cair di Indonesia umumnya terlihat jelas diwilayah
perkotaan sekalipun diwilayah perdesaan juga perlu mendapat perhatian.
Maka tingginya jumlah penduduk diwilayah perkotaan sebagai akibat

Agenda 21 - 61
urbanisasi dari desa ke kota, mengakibatkan, jumlah sampah diperkotaan
semakin meningkat. Upaya masyarakat untuk mengatasi masalah ini
umumnya dilakukan dengan cara seperti ditumpuk dibak sampah dan
diangkut atau dibakar. Cara ini tidak efektif karena dengan cara dibakar
berarti terjadi pencemaran udara di samping pengangkutan sampah saat ini
dinilai belum memadai. Demikian halnya dengan buangan limbah cair
manusia, penggunaan sistem sanitasi individual seperti tanki septik dan
cubluk sudah tidak memadai lagi yang kesemuanya tampaknya menghendaki
suatu pendekatan regional terutama pada daerah dengan kepadatan tinggi.

Pengelolaan limbah padat dan cair juga diperberat dengan meningkatnya


industrialisasi. Ada tiga aspae pertumbuhan industri yang perlu diperhatikan
disini. Aspek pertumbuhan sektor industri, aspek distribusi spesial dari
pertumbuhan industri dimana industri akan lebih banyak berlokasi dipropinsi
yang padat (di Jawa misalnya), dan aspek pergeseran jenis industri dari
sektor perakitan ke sektor pengolahan yang menyebabkan meningkatnya
persentase polutan yang bersifat bioakumulatif dan toksik. Indonesia
mempunyai komitmen untuk berpegang pada prinsip pembangunan dan
berkelanjutan, maka strategi untuk pengelolaan limbah pun harus menikuti
prinsip tersebut.

STRATEGI PENGELOLAAN LIMBAH PADAT DAN CAIR

Di Indonesia, usaha pengelolaan limbah selama ini lebih banyak


terkosentrasi pada peningkatan tingkat pelayanan umum, pengolahan, dan
pembuangan walaupun dalam Repelita VI pentingnya minimasi limbah dan
daor ulang telah mudah disadari.

Minimasi Limbah

Minimasi limbah dilakukan tidak saja dengan mengurangi limbah yang harus
dikumpulkan, diolah, dan diulang tetapi juga dengan mengurangi pemakaian
bahan baku, energi, dan air. Untuk proses industri, suatu pendekatan penting
adalah digunakan proses produksi bersih (Indonesia telah membuat suatu
komitmen nasional penerapan strategi produksi bersih dalam proses industri),
yang telah terbukti efektif dari segi biaya. Hal ini penting agar pendekatan ini
dapat digunakan oleh sektor swasta.

Dari pengalaman beberapa proyek percontohan didapati beberapa kendala


yang harus diatasi dalam menerapkan minimasi limbah dalam proses industrti
yaitu ;

1). Lemahnya kapasitas pemantauan dan penegakkan hukum (law


enforcement) pemerintah.

2). Kebijakan dan peraturan yang masih cenderung dipusatkan terhadap


pengolahan limbah hasil akhir produksi.

3). Tidak adanya suatu komitmen yang tinggi dari pihak yang terlibat.

Agenda 21 - 62
Disamping minimasi limbah dari sektor industri dan rumahtangga, perlu juga
diperhatikan limbah yang dihasilkan dari pengemasan (packaging). Walaupun
sebetulnya ada kepentingan produsen untuk mengurangi kemasan dalam
usaha mengurangi total biaya yang dikeluarkan, pemerintah masih perlu
memainkan peranan penting dalam mendukung minimasi limbah pada industri
pengemasan.

Sebagaiman telah diuraikan diatas, minimasi limbah pada bidang industri,


domestik dan pengemasan secara ekonomis masuk akal dan
menguntungkan. Namun untuk menerapkannya diperlukan adanya kemauan
politis dari pemerintah dan pembenahan instrumen ekonomi, struktur
administrasi dan perpajakan yang keputusannya diserahkan kepada
Pemerintah Daerah.

Maksimasi Daur Ulang & Pengomposan Limbah Ramah Lingkungan

Walaupun masyarakat Indonesia secara tradisional mempunyai kebiasaan


melalui daur ulang dan pengomposan dan belum cukup untuk mengurangi
laju timbulan sampah yang diperkirakan akan meningkat lima kali lipat pada
tahun 2020.

Keuntungan yang didapat dari usaha daur ulang dan pengomposan adalah :

1). Penghematan biaya transportasi dan pembuangan.

2). Dapat menyediakan bahan baku produksi dengan harga yang lebih murah.

3). Mendukung pemakaian sumberdaya alam secara lebih bijaksana.

4). Menyediakan lapangan pekerjaan bagi sektor ekonomi informal.

Permasalahan dalam mewujudkan potensi daur ulang dan pengomposan


antara lain adalah belum terkoordinasinya kerjasama, dan tidak adanya
keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.

Penghargaan Adipura secara efektif telah meningkatkan kesadaran dan


peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah serta dalam
mendapatkan komitmen pengambilan keputusan ditingkat daerah untuk aktif
berperan serta dalam pengelolaan limbah. Disampint itu, perlu dikembangkan
sistem pasar produk hasil daur ulang dan pengomposan yang kondusif.
Industri daur ulang adalah industri yang sensitif pada tingkat keuntungan yang
marjinal, sehingga perubahan harga produknya atau bahan baku asli dapat
mengakibatkan dampak yang besar.

Agenda 21 - 63
Peningkatan Tingkat Pelayanan Umum

Rendahnya tingkat pelayanan umum yang ada sekarang sering


mengakibatkan terlampauinya baku mutu lingkungan yang dipersyaratkan.
Bila tingkat pelayanan umum ini tidak ditingkatkan maka pencemaran akan
meningkat dengan pesat, yang akan sangat terasa pada daerah perkotaan,
khususnya penduduk miskin perkotaan. Bila pencemaran telah mencapai
tingkat yang tinggi, maka pemulihannya akan semakin sulit serta
membutuhkan biaya yang besar pula. Peningkatan pelayanan umum ini
diharapkan dapat memperkecil kadar pencemaran sehingga akan
mempermudah penanganannya.

Persampahan

Tingkat pelayanan umum pengumpulan sampah untuk satu kota ke kota lain
cukup bervariasi. Secara nasional, hanya 40% dari penduduk perkotaan yang
mendapatkan layanan pengumpulan sampah. Sisa sampah yang tidak
dikumpulkan dibakar dan dibuang pada lahan terbuka atau badan air yang
mengakibatkan pencemaran air dan udara serta tersumbatnya kanal dan
badan air yang kemudian mengakibatkan banjir.

Sanitasi

Secara umum tingkat pelayanan umum sanitasi hampir tidak dapat mengejar
ketinggalan yang diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk.Penanganan
sanitasi dihadapkan pada sebuah dilema. Disatu sisi, sistem sanitasi individu
yang dibangun pada daerah-daerah perkotaan dengan kepadatan tinggi
makin tidak memadai, namun disisi lain sistem terpusat seperti sistem saluran
air kotor masih sangat mahal. Namun demikian, strategi jangka panjang perlu
tetap mengarah pada pembangunan sistem terpusat, dengan perbaikan
sistem yang ada sebagai strategi jangka pendek dan menengah.

Peningkatan Sarana Pembuangan dan Pengolahan Limbah yang Akrab


Lingkungan

Persampahan

Pada saat ini, 40% dari sampah yang sampai Tempat Pembuangan Akhir
(TPA) tidak dibuang dengan cara yang akrab lingkungan. Kebanyakan TPA
yang dibangun tidak menganut sistem sanitary landfill yang menggunakan
penutupan sampah yang cukup serta pengolahan lindu (leachate), yaitu suatu
unsur yang dapat mengakibatkan pencemaran air tanah dan penyebaran
penyakit. Gas metan yang dihasilkan dari proses pembusukan materi organik
dan pembakaran sampah yang menyebabkan TPA terus berasap sehingga
berdampak buruk pada kesehatan pekerja dan penduduk sekitarnya.

Untuk jangka pendek, strategi yang diambil dalam memastikan pembuangan


limbah yang akrab lingkungan adalah dengan melakukan perbaikan bertahap
secara bertahap terhadap TPA yang sudah ada, sedangkan untuk jangka

Agenda 21 - 64
panjang, perlu ada penilaian kelayakan metoda alternatif pembuangan dan
pengolahan sampah serta usaha penerapannya.

Sanitasi

Untuk pembuangan dan pengolahan limbah cairan manusia, sistem yang ada
sekarang lebih mengandalkan siste3m sanitasi individu, namun kebanyakan
sistem sanitasi individu yang ada kurang layak atau memadai. Dimasa datang
harus lebih banyak digunakan sanitasi yang terpusat dengan teknologi yang
memadai, terutama di wilayah permukiman berkepadatan tinggi.

Limbah Industri

Pada masa yang akan datang, bila praktek industri dan pengelolaan limbah
tidak banyak berubah, maka diperkirakan polutan tradisional (BOD dan
padatan tersuspensi) yang dibuang ke lingkungan di Jawa akan meningkat
enam kali di daerah perkotaan dan sepuluh kali didaerah perdesaan pada
tahun 2010. Di luar Jawa, peningkatan ini diperkirakan masing-masing
sepuluh kali dan duabelas kali didaerah perkotaan dan perdesaan. Selain itu
juga akan terdapat perubahan karakter pencemaran dengan adanya
pergeseran disektor manufaktur kaitannya dengan peningkatan pencemaran
akibat logam-logam biokumulatif.

Keseluruhan strategi diatas dapat terlaksana dengan peran serta akatif


seluruh lapisan masyarakat. Peranan sektor swasta, terutama kalangan
industri dalam pengelolaan limbah padat dan cair adalah dengan meminimasi
dan mendaur ulang sampah, dan juga meminimasi penggunaan sumberdaya
alam. Peran ini dapat terlaksana dengan menggunakan kombinasi antara
inisiatif swasta dan instrumen hukum serta peraturan.

Kaum perempuan dapat berperan serta aktif dengan: memperbaiki pola


konsumsi dan mengurangi timbulan sampah; mempengaruhi perubahan
tingkah laku dalam pembuangan sampah dan pemakaian fasilitas sanitasi;
dan merencanakan, mengoperasikan, dan memelihara fasilitas sanitasi.
Sedangkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berperan dalam
membangun kesadaran dan peran serta masyarakat, serta
pengimplementasian program nasional yang ada.

Untuk memperkuat sumber daya manusia pada tingkat masyarakat, maka


perlu dirancang berbagai program kampanye,seminar, dan berbagai forum
diseminasi informasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan
permasalahan lingkungan,khususnya permasalahan pembuangan limbah.
Pada waktu yang bersamaan, perlu pula disiapkan mekanisme yang dapat
meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengendalian pencemaran,
minimasi limbah, dan dalam pengelolaan pembuangan limbah.

Agenda 21 - 65
BAB 12
PERENCANAAN SUMBERDAYA TANAH

Upaya penataan ruang telah dimulai sejak Repelita I, diawali dengan


penyusunan rencana garis besar kota dan rencana induk kota dengan
maksud untuk memberikan arahan bagi pembangunan di kawasan kota.
Upaya ini kemudian berkembang menjadi konsep penataan ruang yang
ditujukan untuk memadukan berbagai kegiatan pembangunan didaerah
tingkat I dan tingkat II serta kawasan khusus. Bahkan untuk meningkatkan
koordinasi antar kegiatan, telah dibentuk Tim Tata Ruang Nasional yang
diikuti oleh pembentukan Tim Tata Ruang Daerah di beberapa propinsi.

Tumbuhnya pertumbuhan diberbagai sektor pembangunan mengakibatkan


kebutuhan akan sumberdaya alam termasuk tanah meningkat. Pertumbuhan
jumlah penduduk juga mempengaruhi kebutuhan akan tanah dan ruang. Oleh
karena itu, ada tiga faktor penting yang saling mengait dan mempunyai
dampak dan tata guna tanah dan tata ruang, yaitu :

Pertama, adanya konversi tanah pertanian beririgasi teknis ke non-pertanian


yang luasnya sekitar 50.000 hektar per tahun akan mengurangi 600.000 ton
gabah kering per tahun yang bernilai 300 milyar rupiah. Konversi ini
mengakibatkan pemborosan pembangunan irigasi yang biayanya mencapai
4.000-6.000 dollar Amerika per hektar. Disamping itu, areal perkotaan secara
fisik bertambah luas sekitar 25.100 hektar per tahun, dimana 60% terjadi di
Jawa, 20% di Sumatra, dan sisanya di Kalimantan, Sulawesi, dan kawasan
Timur Indonesia lainnya.

Kedua, adanya perkembangan kegiatan sosial-ekonomi yang diperkirakan


mencapai 60% dari Gross Domestic Product (GDP) Indonesia diluar minyak
dan gas (migas) pada tahun 2020 yang mengindikasikan semakin pentingnya
peranan kegiatan ekonomi di perkotaan.

Agenda 21 - 66
Ketiga, adanya perkembangan penduduk Indonesia yang mencapai 233 juta
dan 257 juta pada tahun 2010 dan 2020. Penduduk perkotaan pada tahun
1990 mencapai 55,4 juta 31% dari jumlah penduduk Indonesia –menpunyai
pertumbuhan 5,4% per tahun yang jauh lebih tinggi dari laju pertumbuhan
penduduk secara keseluruhan (1,96% per tahun). Dengan
demikian,penduduk perkotaan akan mencapai 102,5 juta pada tahun 2010
atau 44%dari jumlah total penduduk dan 127 juta pada tahun 2020 yang
merupakan 50%dari julah penduduk secara nasional. Tekanan
perkembangan ini juga tampak dari konversi hutan menjadi pertanian dan
permukiman, reklamasi kawasan pantai,berkembangnya wilayah galian,dan
menyusutnya ruang publik.

Masalah sosial-ekonomi yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan


sumberdaya tanah adalah:

1) Kompensasi penggusuran atau lands-transfer yang umumnya tidak


memuaskan pihak pemilik lama

2) Terjadinya benturan antara kepentingan suatu proyek yang


membutuhkan tanah yang luas, dimana Hak masyarakat dan
tradisional sering dikorbankan.

3) Adanya distorsi harga tanah yang disebabkan posisi monopsoni


pengenbang pada saat membeli tanah dan posisi oligopoli ketika
mereka menjual tanah kepada konsumen.

4) Belum efektifnya penerapan instrumen ekonomi dalam pengaturan


penggunaan tanah.

5) Pajak Bumi dan Bangunan belum dapat menjadi alat pengendali


penggunaan tanah dan penataan .ruang.
6) Belum adanya sistem insentif dan disinsentif yang secra formal
digunakan untuk mengendalikan perubahan tataguna tanah.

Peraturan dan perundang-undangan yang berkaitan dengan pertanahan


antara lain sebagai berikut:

1) UU Pokok Agraria tahun 1960, lebih terfokus pada tanah pertanian,


padahal dalam Perkembangannya harus berhadapan dengan proses
urbanisasi dan industrialisasi termasuk industrialisasi pertanian.

2) Ada empat Undang-undang yang berkaitan dengan sumberdaya tanah


yang harus dipertegas dan Diperjelas hubungannya, yaitu:UUPokok
Agraria 1960, UU Pokok Kehutanan 1967,dan UUPertambangan 1967,
dan UU Penataan Ruang 1992.

3) Instrumen pengendaliaan tanah seperti berbagai rencana pembangunan,


persetujuan prinsip, izin lokasi, dan lainnya ternyata merangsang
timbulnya spekulasi tanah.

Agenda 21 - 67
STRATEGI PENGELOLAAN SUMBERDAYA TANAH

Untuk mengatasi permasalahan pertanahan yang sedemikian kompleks,


maka perlu disusun suatu strategi dalam perencanaan sumberdaya tanah
yang efisien, berkeadilan dan berkelanjutan guna mencegah dampak negatif
dari kegiatan pembangunan sumberdaya tanah seperti diuraikan berikut ini:

Perencanaan dan Pengembangan Sumberdaya Tanah dan Tata Ruang

Perencanaan dan pengembangan sumberdaya tanah ini mencakup alokasi


dan realokasi tanah untuk berbagai penggunaan. Proses dan prosedur
perencanaan yang melibatkan pihak yang berkepentingan pada berbagai
paras (level)pengambilan keputusan sangat penting untuk diperhatikan dan
perlu dikembangkan dengan seksama, karena sesungguhnya tanah
dikuasai dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak. Selain itu juga perlu
dikembangkan instrumenfiskal dalam penerapan seperti pajak bumi dan
bangunan, pajak nilai lokasi, pajak pertambahan nilai tanah, pajak
pembangunan prasarana.

Peraturan dan Perundang-undangan Pertanahan

Perlu kiranya dikembangakan dan dilakukan peninjauan kembali berbagai


peraturan perundangan pertanahan, terutama dalam kaitannya dengan
transformasi dari masyarakat agraris ke industri, tradisional ke modern,
perdesaan ke perkotaan. Registrasi dan sertifikasi tanah juga perlu
dilaksanakan secaralebih aktif, serta dengan sungguh-sungguh
memperhatikan hak adat, tradisi, dan kepentingan publik. Keterkaitan antara
penataan ruang dan pengelolaan sumberdaya tanah juga perlu
dikembangkan.

Penataan Kelembagaan Pertanahan

Hak atas tanah di Indonesia diadministrasikan dan dikendalikan oleh Badan


Pertanahan Nasional (BPN). Tetapi penetapan penggunaan dan
pemanfaatannya melibatkan berbagai lembaga dan instansi di tingkat
nasional, regional, dan lokal. Koordinasi diantara berbagai lembaga tersebut
harus terus-menerus dipelihara dan dikembangkan.

Meningkatnya peranan usaha swasta dalam pembanguan, serta makin


membesarnya Luas tanah yang dikembangkan swasta, mengharuskan
adanya peraturan yang jelas dan tegas atas usah swasta tersebut. Hal ini
terutama mencakup hak dan kewajibannya terhadap dampak lingkungan,
kepentingan publik, dan kepemilikan tanah bagi kelompok tidak mampu.

Agenda 21 - 68
Sistem Informasi dan Pendataan

Sistem pendataan dan informasi tentang hak dan penggunaan tanah perlu
terus dikembangkan dan disempurnakan.Banyak pertikaian sosial timbul oleh
karena kurang cermatnya data tentang hak atas tanah ini. Kerjasama dan
koordinasi diantara berbagai lembaga pengguna dan pengembang informasi
harus terus-menerus ditingkatkan.

Agenda 21 - 69
BAB 13
PENGELOLAAN HUTAN

Indonesia dikenal sebagai sebuah negara yang memiliki hutan tropis terluas
ketiga didunia, dengan ekosistem yang beragam mulai dari hutan tropis
daratan rendah dan dataran tinggi sampai dengan hutan rawa gambut, rawa
air tawar, dan hutan bakau (mangrove).

Ekosistem hutan tersebut mempunyai fungsi dan peranan yang penting.


Secara ekologis hutan merupakan sumber keanekaragaman hayati yang
sangat baik flora maupun fauna dan juga sebagai paru-paru dunia. Dari sudut
ekonomi hutan merupakan sumber pendapatan penting bagi negara terutama
bagi negara-negara berkembang, sedangkan dari sudut sosial budaya maka
hutan bukan hanya merupakan sumber pangan dan pendapatan bagi
masyarakat sekitarnya, tetapi yang terpenting adalah sumber pengetahuan
dan budaya. Banyak sekali kebudayaan yang berkembang pada masyarakat
asli pedalaman mempunyai keterkaitan dengan hutan yang juga seiring
dengan perkembangan pengetahuan mereka tentang ekologi serta
pemanfaatan hutan secara berkelanjutan.

Hutan di Indonesia memiliki nilai ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya


bagi negara dan masyarakat setempat. Jika berbagai peranan itu tidak
seimbang, maka keberlanjutan hutan akan terancam. Faktor-faktor yang
menekan hutan Indonesia meliputi pertumbuhan penduduk yang tinggi dan
penyebarannya yang tidak merata, konversi hutan, pengabaian atau
ketidaktahuan mengenai pemilikan tanah secara tradisional (adat),dan
peranan hak adat dalam memanfaatkan sumberdaya alam,program
transmigrasi, pencemaran industri dan pertanian pada hutan tanah
basah,degradasi hutan bakau untuk dijadikan pertambakan, pemungutan
spesies hutan secara berlebihan, dan introduksi spesies eksotik.

Pembangunan kehutanan selama PJP I telah memberikan dampak yang


sangat berarti bagi pembangunan ekonomi perbaikan lingkungan hidup.
Upaya untuk memantapkan kawasan hutan terus dilaksanakan dan

Agenda 21 - 70
pengalihgunaan hutan konversi yang tidak produktif menjadi bentuk
penggunaan lain yang lebih produktif dikembangkan secara bertahap.

Untuk menjamin kelestarian hutan, para pemegang hak pengusahaan hutan


(HPH)dipersyaratkan untuk menyusun Rencana Karya Pengusahaan Hutan
selama jangka waktu pengsahaan hutan, melaksanakan sistem tebang pilih
Indonesia, dan melaksanakan pemeliharaan dan penanaman baru diareal
yang tidak produktif serta melaksanakan pengamanan hutan..Bahkan dalam
Repelita V, untuk menjaga kelestarian hutan, para pemegang HPH dibina
secara khusus melalui bimbingan dan penyuluhan agar mampu
melaksanakan berbagai kewajibannya sesuai dengan ketentuan
pengusahaan hutan (foretry agreement)yang telah disepakati bersama.
Tindakan penertiban dan pendisiplinan yang bersifat preventif dan represif
juga dilakukan, yaitu dalam bentuk peringatan dan sanksi denda atau
pencabutan hak.

Sampai saat ini luas wilayah hutan yang sebenarnya masih merupakan
perdebatan, karena belum selesainya program inventarisasihutan dan
penelitian yang terkait. Berdasarkan pengerian bahwa kawasan hutan tanah
adalah tanah yang berada dibawah wewenang Departemen Kehutanan, yang
mencakup bukan hanya daerah yang berhutan dan Tata Guna Hutan
Kesepakatan (TGHK) tahun 1980, maka luas hutan Indonesia
diperkirakan143,8 juta ha.Saat ini pengelolaan hutan yang ditangani oleh
Departemen Kehutanan, bertugas untuk mengawasi aspek pemetaan,
pemanfaaan, konservasi, dan rehabilitasi hutan. Aspek koordinasi dalam hal
ini terlihat menjadi hal yang penting di Indonesia, jika dikaitkan dengan
pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Oleh sebab itu, isu dalam
pengelolaan hutan yang berkelanjutan bertumpu pada pengelolaan hutan
produksi, rehabilitasi dan perlindungan hutan, kesejahteraan masyarakat ang
tinggl di hutan, serta pelaksanaan undang-undang dan kemampuan
kelembagaan.

Rendahnya harga kayu gelondongan di dalam negeri dikaitkan dengan rente


ekonomi hutan, menyebabkan penerimaan pemerintah dari sumber ini lebih
rendah daripada rente ekonomi hutan sesungguhnya. Di samping itu, ini
menyebabkan pula industri penerbangan dan pengolahan kayu berproses
secara tidak efisien. Pemborosan sumberdaya alam yang terjadi mencapai
40% dilapangan dan 60% di pabrik.

Hasil hutan non-kayu yang disebut hasil hutan ikutan, memiliki potensi tinggi
dalam menghasilkan pendapatan bagi negara. Pada kegiatan penebangan
,umumnya hasil hutan non-kayu sering mengalami kerusakan cukup berarti.
Ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan manfaat dan nilai dari
sumberdaya tersebut. Walaupun volume produksi hasil hutan non-kayu
berada dibawah kayu, perolehan devisa dan peranannya dalam
kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat setempat relatif penting.

Aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan hutan di Indonesia


adalah:

Agenda 21 - 71
1) Perlu ditingkatkannya kemampuan dan rehabilitasi dan pelestarian hutan
karena laju reboisasi jauh dibawah laju penebangan pohon.

2) Pembagian keuntungan yang adil dari kegiatan kehutanan, baik


komersial maupun konservasi/rehabilitasi terutama dengan masyarakat
lokal, karena kehidupan hampir 12 Juta orang sangat tergantung dari
hutan.

3) Hutan merupakan juga sumber pengetahuan dan budaya yang


mempunyai Ketekaitan erat dengan hutan.

4) Struktur hukum, penegakan hukum, dan sumberdaya manusia di sektor


kehutanan perlu ditingkatkan bila aspek berkelanjutan hutan ingin di
capai. Lemahnya peraturan dan pelaksanaan hukum disebabkan oleh
petunjuk pelaksanaan peraturan yang masih sangat kurang, tumpang
tindihnya peraturan dengan peraturan sektor lainnya dan malahan sering
bertentanngan hukum adat.

5) Dalam era perdagangan bebas, telah terjadi peningkatan permintaan


akan “barang hijau” pada produk-produk hutan tropis. Untuk
mengatisipasinya, LEI(Lembaga Ekolabel Indonesia) melaksanakan
program ecolabelling untuk hasil-hasil hutan.

Indikator penting pengelolaan hutan yang berkelanjutan adalah sebagai


berikut:

1) Dari segi kelestarian fungsi produksi, adalah jaminan kepastian


sumberdaya dan Jaminan kelangsungan produksi.

2) Dari segi kelangsungan fungsi ekologis, adalah dipertahankannya


sistem-sistem Penunjang kehidupan dan terpeliharanya
keanekaragaman hayati.

3) Dari segi kelangsungan fungsi sosial-budaya , adalh terjaminnya akses


terhadap perolehan sumberdaya, adanya pengakuan atas hak-hak
tradisional, dan adanya Jamianan manfaat hutan bagi masyarakat lokal;
dan peranserta masyarakat.

STRATEGI PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN

Dalam menghadapi permasalahan tersebut diatas sesungguhnya GBHN 1993


telah sesuai dengan Agenda 21, karena kegiatan pengelolaan hutan telah
mulai mengalami pergeseran Paradigma yang pada awalnya dititikberatkan
pada pertumbuhan ekonomi, maka saat ini telah lebih diarahkan pada:

1) Pelestarian fungsi-fungsi lingkungan hidup.

2) Keuntungan pengusaha atau perusahaan bergeser kepada keuntungan


sosial.

Agenda 21 - 72
3) Kelestarian produksi bergeser pada kelestarian ekosistem.

4) Produksi kayu bergeser pada produksi non-kayu.

Dari hal tersebut dapat didefinisikan bahwa pengelolaan hutan berkelanjutan


adalah bentuk pengelolaan hutan yang memiliki sifat lestari yang tercermin
melalui terjaminnya fungsi produksi hutan, fungsi ekologis hutan, dan fungsi
sosial ekonomi hutan untuk masyarakat lokal.

Mengembangkan dan Memelihara Produksi Hutan Secara Terpadu &


Berkelanjutan

Aktifitas yang perlu dilakukan adalah meninjau kembali seluruh kebijakan


pemberian konsensi penebangan yang meliputi persyaratan dan jangka waktu
konsensi yang disesuiakan dengan jenis pohon yang akan dieksploitasi
sehingga akan tercapai keseimbangan dari ekosistem hutan untuk
memperbaharui diri. Di samping itu, untuk meningkatkan penerimaan
pemerintah maka perlu dilakukan pengkajian kembali tingkat royalti dan rente
ekonomi dari hasil hutan yang saat ini dianggap terlalu rendah.

Secara singkat dapat diuraikan bahwa pendorong pemanfaatan hutan yang


efisien., rasional terpadu dan berkelanjutan yang mencakup hasil kayu dan
non kayu, maka harus dikembangkan industri hutan yang efisien dan hemat
sumberdaya. Program ini harus melibatkan tanggung jawab baik pengusaha
hutan, pemerintah,dan masyarakat melalui insterumen ekonomi dan hukum.

Meningkatkan Regenerasi, Rehabilitasi, dan Perlindungan Hutan

Ini lebih ditekankan pada perluasan implementasi proyek konservasi dan


pembangunan terpadu yang dapat menjamin kelangsungan daerah lindung
melalui pemanfaatan keanekaragaman hayati hutan secara berkelanjutan
baik untuk makanan, obat-obatan,kosmetika,serta ekoturisme, dapat menjadi
sarana bagi perlindungan pada masa mendatang.

Memperkuat Peraturan dan Penegakan Hukum bagi Pengelolaan Hutan


Berkelanjutan

Pengelolaan hutan yang berkelanjutan tidak dapat tercapai tanpa dukungan


perangkat hukum serta penegakan hukum yang memadai.Selain itu, seperti
yang telah disebutkan pada bagian terdahulu, peraturan/perundangan di
bidang kehutanan seringkali tumpang tindih dan di buat pada masa lalu saat
kebutuhan ekonomi dirasakan lebih penting. Konsekuensinya, mungkin
pengelolaan secara berkelanjutan belum mendapat perhatian yang utama.
Untuk menanggulanginya hal tersebut diatas dan menjamin keberlaanjutan
hutan, maka peraturan kehutanan harus mengikuti peraturan mengenai
rencana umum tata ruang (RUTR) yang didukung dengan penegakan hukum
yang kuat berdasarkan kepastian hukum dan dengan interpretasi yang sama.

Agenda 21 - 73
Mempertahankan dan Meningkatkan Peranserta serta Kesejahteraan
Masyarakat Penghuni Hutan

Masih ada sekitar 65 juta rakyat Indonesia yang hidupnya bergabtung pada
hutan yang meliputi penduduk asli dan transmigran. Kegiatan kehutanan baik
itu konsensi hutan, hutan tanaman industri (HTI), reboisasi, dan proyek
konservasi sering menimbulkan konflik berkenaan dengan hak atas tanah dan
akses pada sumberdaya alam. Bila hal ini berlanjut maka masyarakat
setempat yang merupakan kelompok paling miskin akan semakin tertinggal
yang dapat mengakibatkan konflik menjadi semakin tajam sehingga terjadi
degradasi ekosistem hutan yang lebih parah.

Adanya kebijakan yang memperhatikan masyarakat penghuni hutan


diharapkan tidak saja dapat memulihkan dan mempertahankan fungsi sosial
budaya hutan tapi juga meningkatkan peranserta masyarakat dalam
pengelolaan hutan berkelanjutan melalui upaya-upaya yang menjamin agar
masyarakat lokal mendapatkan pembagian keuntungan yang adil dari hasil
hutan.

Upaya tersebut mencakup memberikan status hukum dan memadukan


hukum adat atas tanah atau sumberdaya alam maupun mengadaptasi sistem
pengelolaan tradisional ke dalam program pengelolaan hutan
berkelanjutan.Upaya lainnya adalah melaksanakan peranserta masyarakat
secara penuh dan murni dalam memanfaatkan sumberdaya hutan termasuk
pembagian keuntungan yang seimbang . Menghargai dan mempertahankan
nilai ekologis,kultural dan ekonomis hutan untuk kehidupan masyarakat di dan
sekitar hutan merupakan hal penting lainnya yang perlu diperhatikan.

Menyediakan informasi mengenai hutan dan tanah hutan yang akurat dan
memadai merupakan hal yang utama, yang harus ditunjang dengan adanya
data inventarisasi hutan yang selalu diperbaharui, dan dengan terus
meningkatkan kemampuan penelitian tentang pengelolaan hutan yang
berkelanjutan.

Selain itu, pengelolaan hutan berkelanjutan dapat tercapai jika peranserta


dan tanggung jawab masing-masing kelompok utama, yang meliputi kaum
perempuan, organisasi non-pemerintah, lembaga otonomi daerah, kelompok
pekerja, pemuda dan remaja ilmuan, termasuk sektor bisnis,harus
diperhitungkan dan dibagi secara seimbang. Keterlibatan kelompok-kelompok
tersebut penting dalam membuat keputusan dan untuk membangun
kepedulian terhadap pelestarian dan keberlanjutan sumberdaya hutan.

Strategi pengembangan sumberdaya manusia dalam pengelolaan hutan


tidak hanya difokuskan pada pendidikan dan pengembangan kehutanan,
karena sektor ini berhubungan pula dengan bidang lain seperti
lingkungan,antropologi, dan ekonomi makro. Pengetahuan tradisional dan
konsep tradisional mengenai pengelolaan sumberdaya alam juga tidak boleh
diabaikan.Dengan mempertimbangkan hal-hal diatas, stategi pengembangan
sumberdaya manusia perlu diadakan pada tiga tingkatan, yaitu: pada tingkat
kebijakan, pendidikan dan kelembagaan, dan lapangan.

Agenda 21 - 74
BAB 14
PENGEMBANGAN PERTANIAN DAN
PERDESAAN

Dalam Pembangunan Jangka Panjang I (PJP I), pembangunan pertanian


telah berhasil mewujudkan swasembada pangan khususnya komoditi beras,
yang merupakan keberhasilan terbesar sektor pertanian. Meskipun produksi
komoditi pangan non-beras juga naik, tetapi keberhasilannya belum dapat
menyamai komoditi beras. Untuk beberpa komoditi seperti jagung dan kedelai
masih diimpor guna mencukupi kebutuhan dalam negeri. Sumbangan sektor
pertanian pembangunan ditentukan oleh produktifitas disektor ini. Karena
masih cukup besarnya sumbangan sektor pertanian terhadap perekonomian
nasional, rendahnya produktifitas sektor pertanian dapat mempengaruhi
produktifitas perekonomian secara keseluruhan.

Kondisi ekonomi saat ini maju dengan pesat, namun Indonesia masih
menghadapi duelisme ekonomi, terutama dalam sektor pertanian. Terdapat
perbedaan kualitas manajemen dan teknologi yang cukup berarti antara
perusahaan perkebunan besar baik milik badan usaha milik
negara(BUMN)maupun swasta dengan usaha perkebunan rakyat, termasuk
akses kepada sumber-sumber keuangan. Dualisme ini harus secara sungguh-
sungguh mendapat perhatian di dalam penyusunan kebijakan pembangunan
sektor pertanian. Pertanyaan yang perlu dijawab antara lain:bagaimana
sebaiknya agar pertanian skala kecil mempunyai tingkat efisiensi yang sama
besar dengan pertanian skala besar, serta bentuk kerjasama/kemitraan apa
yang perlu dilakukan?

Berbagai tantangan besar yang akan dihadapi sektor pertanian pada masa
mendatang berkisar pada:

Agenda 21 - 75
1) Penurunan kemampuan pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan
dan kebutuhan lain akibat makin cepatnya laju pengalihan fungsi tanah
pertanian.

2) Derasnya mobilitas penduduk perdesaan yang disebabkan semakin


menurunnya penghasilan petani sebagai akibat menyempitnya tanah
usaha sehingga para petani ini mencari sumber tambahan dengan
bekerja di luar bidang pertanian, yang umumnya berada di kota.

3) Mobolitas petani yang tinggi tidak hanya mengarah ke hilir (perkotaan),


tetapi juga ke arah hulu dengan merambah hutan lindung yang dapat
berdampak negatif terhadap lingkungan.

4) Meningkatnya tekanan penduduk, pertumbuhan industri, dan


permikiman terhadap tanah-tanah pertanian yang diperburuk dengan
meningkatnya uasaha intensifikasi pertanian dengan menggunakan
masukan anorganik(pupuk, pestisida,dan hormon pengatur tumbuh)
dalam jumlah besar yang pada akhirnya mengakibatkan kualitas
lingkungan air dan tanah menjadi turun.

5) Ketatnya persaingan untuk dapat menghasilkan produk yang bermutu


dan berkualitas tinggi dengan harga bersaing dalam menghadapi era
perdagangan bebas.

Kerusakan tanah di Indonesia merupakan salah satu masalah lingkungan


yang paling serius dan mencakup luasan yang besar. Penangan terhadap
kerusakan tanah menjadi sangat penting karena produktifitas tanah menjadi
turun pada saat jumlah penduduk yang membutuhkan pangan, energi, dan
sandang meningkat.

Penipisan/deplesi unsur hara tanaman di dalm kegiatan pertanian merupakan


masalah serius yang paling sering terjadi. Kehilangan hara tanaman
disebabkan oleh berbagai hal antara lain erosi atau pengikisan tanah,leaching
atau pencucian, dan yang paling sering terjadi adalh kehilangan hara
tanaman akibat panen. Selain itu, pemupukan maupun penggunaan pestisida
secara berlebihan dapat pula berakibat pada hilangnya kesuburan tanah
maupun matinya mikro-organisme yang sangat berperan pada kesuburan
tanah.

Dalam jangka pendek,kehilangan hara tanaman belum merupakan ancaman


bagi penyediaan produksi pertanian karena dapat terganti denga unsur hara
masukan(input) bahan kimia seperti pupuk, dan lain-lain. Namun dalam
jangka panjang, kehilangan hara tanaman akan berdampak pada makin
menurunnya produksi tanaman pada gilirannya berdampak pula pada
penurunan produksi bahan pangan.

Sumberdaya manusia merupakan aset penting bagi kehidupan perdesaan,


karena merupakan penggerak segal kegiatan di wilayah perdesaan.
Diperkirakan pada akhir tahun 2020 jumlah penduduk perdesaan mencapai
129.852 juta jiwa (50% dari total penduduk Indonesia). Bila sumberdaya

Agenda 21 - 76
manusia ini mempunyai tingkat pemahaman fungsi-fungsi sumberdaya alam
yang cukup, maka akan memberikan insentif bagi terwujudnya
pengembangan ekonomi yang berkelanjuta. Upaya pemerintah dalam
meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di perdesaan mempunyai
beberapa kelemahan, yaitu:

1) Adanya beberapa programyang tidak terintegrasi dengan program


peningkatan sumberdaya manusia, dan kurang memiliki orientasi
jangka panjang.

2) Tidak terintegrasinya program jangka pendek dengan perencanaan


jangka menengah maupun panjang sehingga pola perencanaan tidak
mengarah pada pencapaian keberlanjutan.

Permasalahan lainnya adalah akibat perubaha teknologi pertanian dalam


revolusi hijau, seperti masuknya alat perontok yang menggantikan lesung,
traktor menggantikan ani-ani, dan sistem panenan yang berubah dari sistem
bawon menjadi tebasan, telah menghilangkan pendapatan buruh tani dan
pendapatan tambahan bagi kaum perempuan perdesaan.

STRATEGI PENGEMBANGAN PERTANIAN DAN PERDESAAN

Pertanian berkelanjutan merupakan pengelolaam dan konservasi sumberdaya


alam yang berorientasi pada perubahan teknologi dan kelembagaan yang
dapat menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan manusia secara
berkelanjutan. Dengan demikian pembangunan disektor pertanian,
kehutanan, perikanan, dan lain-lain diharapkan mampu mengkonservasi
tanah, air, tanaman, sumber-sumber genetik, dan keanekaragaman hayati
untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat banyak secara
berkelanjutan. Untuk itu perlu dicari alternatif teknologi dan metode yang tepat
guna, layak secara ekonomi dan secara sosial dapat diterima.

Ini berarti tujuan dan sasaran pengembangan pertanian dan perdesaan


secara berkelanjutan merupakan sebuah upaya peningkatan produksi
pertanian, terutama beras sebagai pangan utama, hingga mencapai titik aman
kebutuhan pangan sekaligus menjamin bahwa peningkatan produksi tersebut
tidak akan berakibat pada kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan.

Untuk mencapai tujuan dan sasaran, maka perangkat utama yang diperlukan
adalh reformasi agraria, peranserta, diversifikasi pendapatan, konservasi
dan pengelolaan sumberdaya alam yang lebih baik, serta kemajuan teknologi.

Pengkajian Kebijakan, Perencanaan dan Program Terpadu Pertanian

Langkah ini meliputi:pengkajian dan pengembangan berbagai bentuk program


yang mengaitkan analisis kebijakan pangn nasional pada sektor pertanian
yang berkelanjutan dengan analisis kebijakan makro;mengembangkan
kebijakan untuk mengantisipasi derasnya peralihan fungsi tanah
pertanian;mengembangkan kebijakan peningkatan daya saing komoditi
pertanian unggulan dalam mengantisipasi perdagangan bebas;dan usaha

Agenda 21 - 77
menyamakan persepsi dan pemahaman tentang prinsip, konsep, dsn cara
pencapaian tujuan program pertanian berkelanjutan yang melibatkan
pemerintah, kalangan dunia usaha, dan masyarakat luas.

Perbaikan Produksi Pertanian dan Sistem Bertani melalui Diversifikasi


Usaha Tani dan Upaya Pengembangan Prasarana Pendukung

Peningkatan pendapatan yang pesat dari kegiatan non-pertanian di desa


menunjukkan bahwa sektor ini memberikan peluang yang baik bagi
kesejahteraan petani.Sementara itu pendapatan dari bertanam padi hanya
meningkat sedikit, akibat pangsa padi dalam total pendapatan turun dari 70%
pad atahun 1976 menjadi sekitar 60%pada tahun 1983.

Walaupun peluang kerja di pertanian dan pendaparan riil di jawa terus


meningkat hingga pertengahan 1980-an sebagai akibat dari pola tanaman
ganda (multiple-cropping) (Manning, 1988;Nylor, 1990), akan tetapi laju
pertumbuhan di sektor ini tidak secepat pertumbuhan yang terjadi di sektor
non-pertanian khususnya manufaktu, konstruksi,dan jasa. Adanya perbaikan
transportasi dan peningkatan produktifitas padi per hektar yang sangat pesat,
tidak dapat mengalihakan perhatian petani agar tetap bekerja secara penuh di
bidang pertanian, khususnya budidaya padi. Dari pembahasan ini dapat ditari
satu logika bahwa intensifikasi sistem usahatani tidak dapat lagi memberikan
pendapatan yang cukup bagi petani, maka berbagai peluang kerja perlu
dikembangkan seperti industri rumahtangga, perikanan, pengelolaan hasil
pertanian, dan sebagainya.

Peningkatan Peranserta Masyarakat dan Kualitas Sumberdaya Manusia

Pendekatan pengembangan sumberdaya manusia yang diambil harus


dipusatkan pada percepatan kemandirian, penyediaan informasi dan
pemberian bantuan teknis dan dana bagi kelompok prngguna sumberdaya
alam. Penekanan program pengenbangan sumberdaya manusia harus
diletakkan pada praktek manajemen pengelolan sumberdaya pertanian.Selain
itu perlu juga diperjelas hak dan kewajiban petani dalam memanfaatkan
sumberdaya alam yang amat terbatas, pengembangan mekanisme pasar dan
harga, serta aksesbilitas terhadap informasi, modal dan masukan.

Konservasi dan Rehabilitasi Tanah

Langkah-langkah konservasi tanah yang telah dilakukan ternyata banyak


menemui hambatan. Hambatan ini antara lain keterbatsan dana dan
pengetahuan serta kerang padunya proyek-proyek tersebut dengan sektor ini.
U ntuk memecahkan hambatan diatas perlu dilakuka tindkan sebagai berikut;

1) Perencanaan program yang terpadu, berjangka panjang, serta


dukungan politik dan pendanaan yang kuat.

2) Perencanaan tataguna tanah dan zonasi tanah yang dikombinasikan


dengan pengelolaan yang lebih baik.

Agenda 21 - 78
3) Meningkatkan peranserta masyarakat.

4) Kemampuan serta kualitas yang tinggi dari petugas lapangan yang di


tunjang oleh sifat program pelatihan yang dinamis baik terhadap
perkembangan ilmu maupun kebutuhan maasyarakat.

5) Penemuan metode pemulihan tanah yang cepat serta metode


konservasi tanah pertanian.

Pengendalian Hama Terpadu

Peningkatan populasi wereng coklat yang dikenal dengan fenomena


“resistensi dan resurjensi” hama terhadap pestisida menyadarkan pemerintah
dan masyarakat tani bahwa pengendalian hama yang hanya mengutamakan
satu metode pengendalian terutama pestisida terbukti tidak efektif dan tidak
efisien. Pendekatan yang paling tepat adalah melalui program pelatihan
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) atau secara internasional di kenal
dengan Integrated Pest Management (IPM).

Sasaran yang ingin di cpai melalui program pelatihan PHT adalah


meningkatkan produksi tanaman dan penghasilan petani, mengurangi
penggunaan pestisida, mempertahankan populasi hama dalam posisi tisak
merugikan, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan kualitas lingkungan
hidup. Untuk mencapai sasaran tersebut, prinsip yang harus diikuti adalah:
tumbuhkan tanaman sehat, lestari dan manfaatkan musuh alami, laksanakan
pengamatan mingguan, jadikan petani sebagai alih PHT.

Unsur Hara bagi Peningkatan Produksi pangan

Pendekatan program hara terpadu merupakan salah satu program yang


diarahkan pada terjaminnya dan terus berlanjutnya ketersediaan hara
tanaman untuk meningkatkan hasil panen di masa mendatang tanpa merusak
lingkungan dan produktifitas tanah. Diantaranya adalah melalui
kegiatan:memadukan sumber-sumber organik dan non-organik hara tanaman
dalam satu sistem untuk menyokong kesuburan tanah dan menentukan
kebutuhan pupuk atau unsur-unsur mineral;mengembangkan teknik budidaya
guna meminimalisasikan kehilangan hara tanaman terutama yang di
akibatkan oleh panen; mengembangkan teknologi pendaurulangan limbah
organik maupun anorganik pada struktur tanah tanpa merusak
lingkungan;serta mengembangkan penelitian, pelatihan, penyuluhan,dan
jaringan informasi.

Peranan kelompok-kelompok dalam masyarakat sangat mendorong


tercapainya tujuan pengembangan pertanian dan perdesaan yang
berkelanjutan. Kelompok tani yang selama ini diketahui fungsinya sebagai
perekat petani, merupakan wadah pembinaan petani. Peranan dari ketua
kelompok cukup penting tetepi tidak boleh terlalu dominan. Melalui Kelompok
Tani, penyuluhan oleh petugas lapangan (PPL) lebih mudah disebarkan dan
dipahami petani karena adanya diskusi. Untuk masa mendatang, kelompok

Agenda 21 - 79
tani diharapkan dapat membawa aspirasi anggotanya serta meningkatkan
kualitas anggotanya.

Pemberian ruang gerak yang leluasa kepada LembagaSwadaya Masyarakat


(LSM) akan membantu pencapaian tujuan.LSM pada dasarnya berfungsi
sebagai kontrol sosial yang baik ditengah-tengah masyarakat desa dengan
program -program pengembangan pertanian dan perdesaan secara
berkelanjutan yang akan berdaya guna dan berhasil guna.

Salah satu kekurangan yang ada pada organisasi perempuan perdesaan


adalah peran pengambilan keputusan masih didominasi oleh elit desa,
birokrasi pemerintah, dan lain-lain. Jika peran kaum perempuan dalam
program ini akan dilibatkan secara aktif, maka upaya pengambilan keputusan
haruslah secara penuh berada di tangan para anggotanya.Pelibatan peran
kaum perempuan pada program ini, akan memperkaya wawasan dan sudut
pandang yang seimbang, karena proses pelaksanaannya akan juga
mempertimbangkan masalah-maslah yang dihadapi oleh kaum perempuan
sebagai pelaku pembangunan.

Walaupun dari segi kulitas kondisi Koperasi Unit Desa (KUD) masih jauh dari
sempurna, lembaga ini dapat dipakai sebagai wahana meningkatkan
kesejahteraan petani melalui pembelian sarana pertanian secara murah,
menjual produk, dan sebagai lembaga penyalur kredit. Dalam program ini,
pusat perhatian yang harus dicurahkan agar KUD dapat berfungsi
sebagaimana mestinya melalui pembenahan sistem manajemen maupun
mekanisme kontrol masyarakat patani yang menjadi anggota KUD.

Di tengah lemahnya peran organisasi kepramukaan di perdesaan, kaum


muda sebaiknya dijadikan sebagai katalisator dan penyuluh di desanya.
Berbekal pengetahuan dan keterampilan melalui sistem magang, mereka
harus mampu menjadi sarana pengabdian masyarakat dengan cara menjadi
pelopor bidang pertanian yang mandiri dan potensial.

Untuk menghindari monopoli/oligopoli pertanian peranan sektor swasta yang


merupakan akselerator pembanguan berkelanjutan di perdesaan harus dapat
memberdayakan masyarakat perdesaan secara adil tanpa meninggalkan
prinsip bisnisnya.

Peran media-massa dalam proses pembangunan hingga saat ini terbukti


efektif dalam memberikan informasi inovatif bagi masyarakat
perdesaan.Media dapat mempercepat dinamisasi perdesaan dan sektor
pertanian lewat informasi yang berkaitan dengan kesempatan dan keadaan
pasar, permintaan komoditi pertanian, dan lainnya. Disamping itu media-
massa juga berfungsi sebagai media kontrol sosial untuk mengawasi proses
kebijakan dan implementasinya.

Peran kaum ilmuan adalah kunci dalam mengaplikasikan teori dan teknologi
di lapangan guna mencari metode dan teknik yang mendukung
perkembangan pertanian perdesaan;membantu masyarkat perdesaan dalam
mengaplikasikan teori dan teknologi tersebut; dan mengaktifkan program

Agenda 21 - 80
tenaga terdidik (program BUTSI, dan lain-lain) masuk ke perdesaan
khususnya desa terpencil yang ketersediaan informasinya kurang memadai.

Secara umum, sumberdaya manusia di bidang pertanian harus ditambah dan


dikembangkan melalui pendidikan formal maupun informal. Secara kuantitatif
perlu diperkuat adalah bidang ilmu dasar agar SDM mampu mengikuti
perkembangan teknologi.Sedangkan secara kuantitatif perlu dipahami ilmu-
ilmu yang berkaitan dengan bidang sosial kemasyarakatan. Strategi
pengembangan ini dibagi dalam 4 grup besar yaitu, SDM pada tingkat
pengambilan kebijakan, institusi, pekerja/petugas lapangan, serta masyarakat
pelaku.

Agenda 21 - 81
BAB 15
PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR

Air merupakan sumberdaya penting dlam menunjang kehidupan semua


mahluk yang ada di bumi. Air juga merupakan sumberdaya vital dalam
menunjang pembangunan ekonomi seperti sektor industri, perdagangan,
pertanian, perikanan, transportasi, pembangkit listrik,
pariwisata,rumahtangga, dan lainnya. Di samping di manfaatkan untuk hal-hal
positif di atas, badan air juga dimanfaatkan sebagai tempat membuang
sampah atau limbah sebagai akibat hasil proses produksi maupun konsumsi.

Dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat sera pertumbuhan


ekonomi yang terus dipacu, permintaan akan sumberdaya airbaik kuantitas
maupun kualitasnya semakin meningkat melebihi ketersediaannya. Hal ini
menybabkan sumberdaya air menjadi barang yang langka. Ironosnya, adanya
kelangkaan sumberdaya ini tidak dicerminkan dalam harga sehingga terjadi
alokasi sumberdya yang tidak efisien.

Dari fakta yang ada, tampak sumberdaya air masih belum mendapat
perlindungan secara maksimal untuk menghindari terjadinya kekurangan air.
Terjadinya pencemaran beberapa sumber-sumber air, penggundulan hutan
yang mengakibatkan erosi tanah serta terganggunya fungsi peresapan air,
kegiatan pertanian yang mengabaikan kelestarian lingkungan, berubahnya
fungsi daerah tangkapan air, serta distribusi air yang tidak merata
menunjukan bahwa perhatian terhadap kelestarian sumberdaya ini perlu
secara total ditingkatkan. Disisi lain harga air apapun bentuk produk yang
dijual , umummya belum mencerminkan harga yang sebenarnya. Penentuan
harga ini umumnya belum sepenuhnya memasukkan biaya kerusakan
lingkungan yangterjadi. Bahkan dapat dilihat bahwa beberapa produk air
dapat dimanfaatkan secara bebas tanpa biaya,misalnya pemanfaatan air
tanah dengan pompa oleh masyarakat. Akibatnya, masyarakat dan pelaku
ekonomi tidak mempunyai dorongan untuk bertindak efisien dan efektif dalam
memanfaatkan air.

Agenda 21 - 82
Isu kritis saat ini adalah ketersediaan air bersih untuk kebutuhan bagi
umumnya penduduk yang tinggal diperkotaan baik dari kuantitas maupun
kualitasnya, semakin sulit lagi khususnya bagi penduduk miskin yang tinggal
di perkotaan. Maslah akses terhadap sumber air aman untuk dikonsumsi bagi
golongan ini dapt dikatakan tidak ada. Hal ini mengakibatkan kulitas hidup
mereka menjadi semakin menurun. Bagi penduduk tidak miskin, akses air
bersih harus dibayar dengan biaya yang cukup tinggi.

Banyak upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini,namun


demikian, umumnya pemecahannya masih menggunakan pendekatan jangka
pendek. Mengatasi sumberdaya air baru akan berhasil bila orientasinya
adalah jangka panjang dengan tujuan keberlanjutan sumberdaya air untuk
segala kebutuhan.

Bila dilihat dari potensi yang ada, ketersediaan air permukaan relatif tetap dari
waktu ke waktu karena mengikuti siklus hidrologi. Ketersediaan air ini tersebar
dibanyak pulau. Perbandingan ketersediaan dan kebutuhan air menunjukkan
bahwa ketersediaan air di Pulau Jawa danBali telah mengalami tingkat kritis
yang disusul Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Berdasarkan data
distribusi ketersediaan sumberdaya air menurut pulau, Irian Jaya menempati
posisi teratas dengan jumlah ketersediaan air sebesar 350x109 m3/tahun
;Kalimantan sebesar 140x109 m3/tahun;Sulawesi 34x109 m3/tahun;Sumatra
sebesar 111x109m3/tahun; dan Jawa sebesar 30x109m3/tahun. Bila ditinjau
dari kebutuhan air pada tahun 1995, Irian Jaya menempati urutan terbawah
yaitu hanya128x106m3/tahun yang berarti hanya 0,036%,yang disusuk oleh
Kalimantan sebesar 4%;Sumatra sebesar 17%; Sulawesi sebesar 45%; dan
Jawa sebesar 206%. Data ini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan
ketersediaan dan kebutuhan air serta tidak meratanya distribisi sumberdaya
air antar pulau yang ada di Indonesia.

Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa masalah sumberdaya air dapat dibagi
menjadi tiga hal pokok, yaitu: (i) masalah kuantitas; (ii) masalah kualitas;dan
(iii) masalah distribusi air.

STRATEGI PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR

Dalam mewujudkan pengelolaan sumberdaya air yang berkelanjutan, hal


yang perlu dipahami adalah bagaimana kebutuhan akan air dapat terpenuhi
secara memadai dengan mempertimbangkan daya dukung dan konservasi
sumberdaya air sehingga dapat mendukung berlanjutnya
pembanguan.Strategi pengelolaan sumberdaya air sebaiknya:

1) Dilaksanakan secara lintas sektoral dengan tetap memperhatikan


fungsi ganda dari air yaitu fungsi ekonomi, ekologis, dan sosial.

2) Difokuskan pada aspek kualitas air yang layak untuk dimanfaatkan


bagi berbagai keperluan, terutama dalam memenuhi air bersih bagi
masyarakat.

Agenda 21 - 83
3) Terpadu dan menggunakan pendekatan one management for one
watershed, yang meliputi Daerah Aliran Sungai (DAS) bagian hulu
sampai dengan bagian hilir.

4) Menyangkut pula kemauan politik yang kuat untuk merubah arah


kebijakan yang berkenaan dengan pemanfaatan sumberdaya air.

Ketersediaan dan Kebutuhan Sumberdaya Air

Untuk menjaga kelestarian ketersediaan dan kebutuhan sumberdaya air,


langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:

1) Mengatur dengan lebih efisien pengadaan air bagi penduduk kota dan
desa, pertanian, industri, dan pariwisata.

2) Menegakkan ketentuan hukum bagi pelanggar penggunaan air.

3) Meningkatkan peranserta masyarakat untuk melakukan konservasi air


melalui pendidikan dan pemberian insentif dan disinsentif kepada para
pengguna air.

Kualitas Sumberdaya Air di Indonesia

Untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas sumberdaya air terutama


diakibatkan oleh limbah baik limbah padat maupun cair yang dibuang ke
badan air--saat ini pemerintah telah melakukan strategi untuk mengurangi
limbah (waste minimization)melalui berbagai cara, yaitu dengan:

1) Menerapkan pemanfataan kembali (reuse),pendaurulangan (recyle),


dan pemulihan (recovery).

2) Usaha melakukan subtitusi penggunaan bahan utama atau additive


terutama B3 yang digunakan dalam proses produksi agar ramah
lingkungan.

3) Penyuluhan tentang pencemaran lingkungan yang menyangkut


peningkatan kualitas perairan umum.

4) Meningkatkan progran Prokasih yang didukung dengan peningkatan


profesionalisme para pengawas.

Distribusi Sumberdaya Air di Indonesia

Untuk menanggulangi permasalahan distribusi sumberdaya air yang tidak


merata di Indonesia, kegiatan-kegiatan yang diperlulkan diantaranya:

1) Melakukan inventarisasi ketersediaan sumberdaya air secara akurat


disertai kondisi kualitas sumberdaya air yang dapat dimanfaatkan, dan
pengaturan tata ruang peruntukan.

Agenda 21 - 84
2) Membuat kebijaksanaan penyebaran kegiatan pembangunan nasional
di pulau-pulau yang memiliki ketersediaan air yang melimpah.

3) Menyiapkan peraturan pendukung bagi setiap sektor pembangunan


berikut penegakan hukumnya untuk mencegah pencemaran dan
pemborosan pemakaian air

Pengelolaan Sumberdaya Air di Indonesia

Kebijaksaan yang harus dilakukan dalam pengelolaan air diantaranya adalah:

1) Pengelolaan yang terintegrasi antar departemen terkait yang


mencakup aspek-aspek ketersediaan, kualitas, dan distribusi
pemanfaatannya.

2) Menyusun rencana pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan


sumberdaya air secara terpadu, menghitung neraca air dan daya
dukung setiap DAS secara berkesinambungan,mengkonservasi dan
meningkatkan penelitian daerah kritis pada DAS.

3) Melaksanakan dan meningkatkan peraturan dalam pencemaran


lingkungan dan mengatur pemanfaatan air melalui peraturan
pemerintah.

4) Melakukan evaluasi dan melanjutkan program Prokasih dengan tingkat


keberhasilan berupa rendahnya beban pencemaran yang masuk ke
perairan umum.

Aspek koordinasi merupakan kunci keberhasilan pengelolaan air karena


menyangkut kepentingan banyak pihak yang meliputi lembaga pemerintah,
swasta,Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM), dan masyarakat umum.
Walaupun Departemen Pekerjaan Umum sebagai pihak yang melakukan
pengelolaan secara keseluruhan dan melayani kebutuhan pihak lain,
keterlibatan semua departemen terkait merupakan prasyrat.Untuk
memudahkan pengelolaan ini, tampaknya pembentukan suatu
lembaga/badan khusus yang bertugas memantau, mengawasi, dan
memberikan saran kebijakan konkrit mengenai pengelolaan sumberdaya air
menjadi penting. Peranan masyarakat lebih dititikberatkan pada aspek
kesadaran dalam menggunakan air secara efisien. Disamping itu masyrakat
pun diharapkan dapat berinisiatif melakukan upaya-upaya positif sesuai
dengan kemampuan masing-masing dalam memelihara kelestarian
lingkungan khususnya sumberdaya air.

Agenda 21 - 85
BAB 16
KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman


hayati tertinggi di dunia. Keragaman hayati merupakan sumberdaya penting
bagi kehidupan sosial-ekonomi dan kebudayaan masyarakat Indonesia
maupun bagi negara secara keseluruhan. Sekitar 40 juta orang Indonesia
hidupnya ditopang langsung oleh keanekaragaman hayati, misalnya antara
lain dengan menggantungkan hidupnya pad ahutan,sumberdaya pesisir dan
lautan maupun pertanian, dan masyarakat telah meman faatkan lebih dari
6.000 spesies tanaman dan hewan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi negara, keanekaragamn hayati adlah sumberdaya yang mempunyai arti


ekonomi penting. Banyak jenis tanaman yang kini mempunyai makna global
dan nasional berasal dari Indonesia,termasuk lada hitam, cengkeh, tebu,
jenis-jenis jeruk dan buah-buahan tropik lainnya. Selain itu hutan
menyediakan lebih dari 100 spesies pohon kayu dengan nilai ekspor sekitar
4,5 milyar dollar AS setiap tahun. Sementara devisa dari hasil hutan non-kayu
mencapai 300 juta dollar AS per tahun. Sektor perikanan telah
menyumbangkan sekitar 2 milyar dollar AS pada tahun 1991 atau 5% dari
total ekspor non-migas.

Mengingat pentingnya sumberdaya ini, GBHN 1993 menyatakan bahwa


konservasi kawasan hutan nasional termasuk flora dan fauna serta keunikan
alam perlu ditingkatkan untuk melindungi keanekaragaman plasma nutfah,
jenis spesies dan ekosistem. Dalam Repelita VI pemerintah akan menyisihkan
sekitar 10% dari ekosistem alam untuk konservasi yang diperlukan sebagai
persediaan plasma nutfah guna pembudidayaannya dalam bentuk suaka
alam, suaka margasatwa, tanaman nasional, hutan lindung, dan sebagainya.

Dalam usaha pelestarian dan pemanfaatan keanekaragam an hayati yang


berkelanjutan, pemerintah telah membuat beberapa kebijakan penting adalah:

Agenda 21 - 86
1) Undang-undang No. 4/1982 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan
Lingkungan hidup.

2) Undang-undang No. 5/1992 tentang Konservasi Sumberdaya alam dan


ekosistemnya.

3) Undang-undang No. 24/1992 tentang Rencana Umum Tata Ruang.

4) Undang-undang No. 5/1994 tentang Ratifikasi Konvensi PBB mengenai


Keanekaragaman Hayati.

Selain itu beberapa langkah strategis telah dilakukan seperti disusunnya


rencana nasioanal untuk konservasi yang mencakup analisis tentang daerah
lindung serta usulan-usulan penetapan kawasan lindung baru.

Sampai saat ini pada tingkat nasional, belum ada instansi yang menangani
keanekaragaman hayati secara menyeluruh, tapi wewenang tersebar pada
beerapa lenbaga.Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian
Alam (PHPA) pada Departemen Kehutanan yang bertanggung jawab atas
pengelolaan kawasan lindung, baik daratan maupun lautan, termasuk lahan
basah. Departemen Pertanian, melalui Komosi Nasional Pelestarian Plasma
Nutfah (KNPPN) yang bertanggung jawab atas konservasi keanekaragaman
hayati tanaman pertanian, obat-obatan, serta ternak .Kantor Menteri Negara
Lingkungan Hidup mengkoodinasikan kebijakan dan program bidang
keanekaragaman hayati, sementara Bappenas berwenang mengawaswi
pelaksanaan progra-program tertentu seperti pada bidang kelautan.

Dimasa mendatang, keanekaragaman hayati akan memegang peranan lebih


penting lagi dalam pembanguna karena kebutuhan dunia akan bahan-bahan
hayai baru baik untuk keperluan obat-obatan, varietas baru tanaman
pertanian dan ternak, maupun untuk proses industri dan pengelolaan
makanan. Namun prospek ini tidak akan dapat diraih Indonesia, jika erosi
keanekaragamn hayati di Indonesia dari segi ekosiste, spesies, maupun
genetik tidak dikendalikan sebagaimana mestinya.

Pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan menghadapi


beberapa kendala, yaitu:

1) Konflik antara aparat PHPA yang mengelola ekosistem berdasarkan


hukum nasional dengan penduduk lokal yang berlandaskan hukum
adat. Masyarakat lokal sering tidak diuntungkan karena hukum adat
belum diakui dengan adanya hutan lindung, sehingga mereka
kehilangan akses pada sumberdaya tradisional mereka.

2) Bahan hayati potensial pada kawasan non-lindung menjadi langka


sebelum manfaatnya dapat dikembangkan, karena eksploitasi
berlebihan.

Agenda 21 - 87
3) Perubahan tata guna juga melemahkan pemanfaatan bahan hayati
potensial bagi pertaian dan obat-obatan.

4) Kurangnya pengawasan terhadap perambahan sumberdaya genetik.

5) Sulitnya informasi tentang jenis dan jumlah sumberdaya genetik di


Indonesia, padahal sebagian plasma nutfah dari indonesia telah
dikembangkan oleh negara lain .

6) Adanya ekspor sumberdaya hayati ke luar negeri tanpa melalui jalur


resmi.

7) Kesepakatan pasar bebas membuat Indonesia harus menerima


produk bioteknologi dari luar yang belum tentu aman bagi
keanekaragaman hayati yang ada.

STRATEGI KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI

Fokus pelestarian keanekaragaman hayati adalah mengelola kekayaan hayati


Indonesia secara berkelanjutan yang meliputi ekosistem darat dan lautan,
kawasan agroekosistem dan kawasan produksi, serta konservasi ex-situ.
Upaya pelestarian ini harus disertai dengan pemeliharaan sistem
pengetahuan tradisional dan pengembangan sistem pemanfaatan
keanekaragaman hayati yang dilandasi oleh pembagian keuntungan yang
adil. Strategi untuk mengatasi ini dapat dibagi sebagai berikut:

1) Meningkatkan pembentukan sistem kawasan lindung berikut


pengelolaannya secara efektif.

2) Melestarikan keanekaragaman hayati pada kawasan non-


lindung/produksi.

3) Pelestarian keanekaragaman hayati secara ex-situ.

4) Melindungi sistem pengetahuan masyarakat tradisional serta


meningkatkan seluruh sistem pengetahuan yang ada tentang
konservasi dan keanekaragaman hayati.

5) Mengembangkan dan mempertahankan sistem pengelolaan


keanekaragaman hayati berkelanjutan, termasuk pembagian
keuntungan yang adil.

Pembentukan Sistem Kawasan Lindung Dan Pengelolaan Yang Efektif

Kegiatan ini berkaitan dengan pencegahan degradasi habitat alami pada


keanakaragaman spesies dan genetik dalam rangka mengatasi tingginya
erosi keanekaragaman hayati. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:

Agenda 21 - 88
1) Merealisasikan sistem kawasan lindung yang terpadu yang mewakili
semua habitat daratan dan lautan.

2) Meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap taman nasional dan


kawasan perlindungan melalui proyek daerah penyangga.

3) Mengkaji dan mengevaluasi semua program dan kebijakan berbagai


pola pengelolaan untuk menentukan struktur pengelolaan yang paling
sesuai bagi masing-masing kawasan konservasi.

4) Desentralisasi wewenang dan memberikan tanggung jawab yang lebih


besar dalam pengelolaan kawasan lindung pada pemerintah daerah,
masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat.

Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Kawasan Agroekosistem dan


Sistem Produksi

Hal ini dilakukan karena tekanan pembangunan dan modernisasi berpotensi


merubah kawasan ini menjadi areal pembangunan lain dengan
mengorbankan kekayaan hayati. Untuk menanggulangi ini, maka perlu
dilakukan berbagai upaya, yaitu:

1) Mendokumentasikan praktek agrosistem, terutama yang belum


terdokumentasikan dengan melestarikan keanekaragaman hayati
dengan tujuan memadukannya dalam pola produksi pertanian
nasional.

2) Mendokumentasikan, menghidupkan, dan mengembangkan kembali


teknik budaya spesies, dan kultivitas pertanian tradisional.

3) Mengembangkan dan melaksanakan pola produksi pertanian yang


melestarikan keanekaragaman hayati sesuai dengan program
Rancang Tindak Nasional untuk keanekaragaman hayati.

4) Mengembangkan pusat informasi dan konservasi spesies yang dapat


diakseskan oleh para petani dan peneliti.

Pelestarian Keanekaragaman Hayati Secara Ex-situ

Punahnya beberapa spesies merupakan permasalahan yang terjadi saat ini,


hal ini terjadi karena ekploitasi berlebihan dan kurangnya upaya rehabilitasi,
penangkaran, peternakan hewan maupun tanaman liar. Untuk mengatasi hal
ini, diperlukan upaya-upaya seperti penetapan 583 spesies yang secara
hukum dilindungi; meratifikasi CITES; melibatkan pihak swasta dalam
mengelola beberapa kebun raya dan arbiretorium untuk pelestarian
keanakaragaman hayati.

Walaupun upaya pelestarian ex-situ seringkali memakan biaya tinggi, akan


tetapi langkah-langkah penanggulangan perlu dilakukan yang mencakup:

Agenda 21 - 89
1) Mencegah kepunahan spesies flora dan fauna dalam berbagai
kondisinya berlandaskan Rancang Tindak Nasinal untuk
Keanekaragaman Hayati.

2) Memperkuat upaya konservasi ex-situ di kebun raya, koleksi benih


plasma nutfah, pusat pemuliaan tanaman, penangkaran hewan, dan
kebun binatang.

3) Melaksanakan kebijakan nasional yang menyeluruh bagi pelestarian


plasma nutfah.

Perlindungan Sistem Pengetahuan Masyarakat Tradisional serta Peningkatan


Sistem Pengetahuan tentang Konservasi dan Pemanfaatan Keanekaragaman
Hayati

Bagi masyarakat tradisional, sumberdaya hayati penting tidak hanya untuk


pangan dan pengobatan, tapi juga untuk kehidupan budaya mereka.
Tumbuhan dan hewan mempunyai makna tersendiri dalam kehidupan sehari-
hari dan juga dalam ritual.Sistem pengetahuan tradisional amat berharga
dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati di masa mendatang, terutama
dalam bidang pertanian dan kesehatan yang sedang mengalami degradasi.
Dalam rangka pemanfaatan keanekaragaman hayati bagi pembangunan
berkelanjutan yang perlu dilakukan:

1) Pelestarian pengetahuan tradisional dan sekaligus mengembangkan


sistem pengetahuan modern dan tradisional bagi pemanfaatan
keanekaragaman hayati yang berkelanjutan.

2) Pemberian perlundungan hukum terhadap pengetahuan tradisional


beserta perangkat budayanya

3) Peningkatan keterampilan masyarakat tradisional dalam memelihara


sistem pengetahuan serta memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk
mengembangkan kehidupan sosial dan ekonomi mereka.

4) Pengembangan dan peningkatan pengetahuan dasar teknis serta


nasional mengenai pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman
hayati dengan tetap memelihara pengetahuan keanekaragaman
hayati.

Mengembangkan dan Mempertahankan Sistem Pengelolaan


Keanekaragaman Hayati Berkelanjutan termasuk Pembagian
Keuntungan yang Adil

Keanekaragaman hayati juga berperan dalam menopang kehidupan ekonomi


masyarakat lokal dan masyarakat tradisional yang mempunyai pengetahuan
tentang pemanfaatannya.

Agenda 21 - 90
Untuk itu perlu disusun peraturan tentang akses sumberdaya genetika yang
tidak merugikan masyarakat, dan pembagian keuntungan yang adil bagi
terhadap masyarakat lokal dan juga masyarakat tradisional.

Strategi pengembangan manusia dalam pengelolaan keanekaragaman hayati


menghendaki adanya keterkaitan pengembangan sumberdaya manusia
disektor pertanian, kehutanan, bioteknologi, pesisir dan kelautan, kesehatan,
serta industri. Strategi pengembangan ini perlu diterapkan pada berbagai
lapisan masyarakat, pada tingkatan kebijakan,pendidikan, dan tingkat
lapangan.Hal ini dilalukan dengan pemerintah, unsur non-pemerintah
(Lembaga Swadaya Masyarakat, pers dan sektor swasta), universitas dan
ilmuan, masyarakat lokal/adat termasuk petani,nelayan, pekebun,
peramu,dan sebagainnya.Strategis ini tidak dapat hanya ditekankan pada
peningkatan pendidikan teknis yaitu boilogi dasar dan taksonomi saja,
malainkan mencakup juga bidang-bidang lain seperti ekologi,
ekonomi,antropologi dan sosial budaya serta hukum.

Agenda 21 - 91
BAB 17
PENGEMBANGAN BIOTEKNOLOGI

Bioteknologi adalah teknologi yang relatif baru dan berkembang pesat sejak
awal tahun 1970-an. Hanya dalam waktu kurang dari tiga dekade,
bioteknologi telah menjadi teknologi yang menarik banyak perhatian ilmuan
biologo dunia dan menjanjikan harapan untuk segera diaplikasikan dan
dimanfaatkan secara global, baik untuk menghasilkan produk-produk bioaktif,
meningkatkan kualitas berbagai jenis tanaman dan hewan atau merekayasa
suatu mikroorganisme dengan karekteristik yang baru.

Bioteknologi tradisional telah dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat


Indonesia,seperti yang dilakukan pada pembuatan tempe, oncom, kecap,
tauco, serta pada proses fermentasi dalam pembuatan bir, roti, yoghurt, keju,
arak,dan lainnya.Bioteknologi modern merupakan teknologi yang baru dikenal
dan dikembangkan, sehingga pemanfaatan, penguasaan, dan
pengembangannya diIndonesia masih sangat kurang.Produk teknologi yang
pertama kali dipasarkan diIndonesia adalah vaksin Hepatitis-B dan insulin
hasil rekayasa gen yang di impor dari negara Eropa dan Amerika Serikat
sejak tahun 1980-an.

Dengan bioteknologi, industri yang semula menitikberatkan kegiatannya pada


pengolahan sumberdaya alam (resorce-based industri) akan berubah menjadi
industri berbasis ilmu pengetahuan (science-based industri) yang merupakan
ciri dan tuntutan perkembangan industri masa depan. Namun demikian, di
samping keunggulan yang dimilikinya,bioteknologi harus dikelola secara
bijaksana mengingat dampak negatif terhadap lingkngan yang terjadi karena
pemanfaatan bioteknologi yang tidak dikendalikan. Hal ini disebabkan karena
teknik rekayasa gen yang digunakan dalam bioteknologi mempunyai potensi
merusak keseimbangan alam dan lingkungan.Dampak negatif pemanfaatan
organisme baru hasil rekayasa gen seringkali tidak dapat diprediksi karena
tidak mungkin disimulasikan di laboratorium.

Strategi dan kebijakan pengembangan dan pengelolaan bioteknologi di


Indonesia diarahkan pada pengembangan produk-produk bioteknologi yang

Agenda 21 - 92
secara ekologis, ekonomis, soaial, dan etika sesuai dengan kondisi Indonesia.
Strategi pengembangan bioindustri seyogianya lebih diarahkan pada aspek
manajemen yang dapat mengelola industri sekaligus mengintegrasikan
bioteknologi dalam proses produksinya sehingga produksi menjadi lebi efisien
dan kompetitif.

Untuk hal diatas telah didirikan tiga Pusat Antar Universitas (PAU)
Bioteknologi di Insitut Teknologi bandung, Universitas Gajah Mada, dan Insitut
Pertanian Bogor yang telah dilengkapi dengan sarana prasarana penelitian
yang memadai.Selain itu pada tahun 1990 telah dihidupkan kembali Insitut
Penilai Eijkman di mana Insitut Biologi Molekuler Eijkman ini telah berdiri dan
secara aktif telah melakukan penelitian fundanmental dalam bioteknologi.

Kendala-kendala yanga akan dihadapi dalam penerapan dan pengembangan


bioteknologi adalah sebagai berikut:

1) Terbatasnya kemampuan sumberdaya manusia dalam


mengembangkan bioteknologi.

2) Rendahnya kapasitas penelitian di perguruan tinggi, lembaga


penelitian, dan industri dan terbatasnya dana bagi penelitian dasar.

3) Renndahnya kepedulian masyarakat akan pengembangan ilmu


pengetahuan dan teknologi khususnya bioteknologi.

STRATEGI PENGEMBANGAN BIOTEKNOLOGI

Peranan strategis bioteknologi di Indonesia adalah bagaimana memecahkan


masalah pertanian, kesehatan, dan lingkungan sehingga memperoleh hasil
yang berguna bagi kehidupan masyarakat. Untuk hal ini, maka
pengembangan bioteknologi diarahkan pada bidang-bidang berikut ini:

1) Bioteknologi pertanian untuk meningkatkan produksi pangan,


pakan,dan bahan-bahan terbaharukan.

2) Bioteknologi kedokteran untuk peningkatan derajat kesehatan,


kualitashidup, serta perbaikan lingkungan .

3) Bioteknologi lingkungan.

4) Pengembangan prasarana bioteknologi.

5) Pedoman keamanan Biologis.

Bioteknologi pertanian bagi Produksi Pangan, pakan dan Bahan-bahan


Terbaharukan

Kegiatan ini harus memperhatikan aspek keamanan dan dampak negatif dari
pengembangan bioteknologi pertanian, sehingga pengelolaan bioteknologi

Agenda 21 - 93
konvensional dan modern hanya dititikberatkan untuk produk-produk
pertanian yang menghasilkan produk unggul yang tahan hama dan tekanan
lingkungan. Dalam jangka panjang hal ini akan mengurangi penggunaan
pestisida dan bahan agrokimia lainnya yang mempunyai potensi merusak
lingkungan, namun tetap berkemampuan untuk meningkatkan produktivitas
pertania dan penghasilan petani.Untuk mewujudkan ini, perlu dilakukan hal-
hal sebagai berikut:

1) Penelitian dasar da terapan;penelitian produksi dan pengolahan


pasca panen sampai pada pemasaran produk.

2) Pengkajian risiko penggunaan produk bioteknologi pertanian untuk


memperoleh hasil yang dapat digunakan secara aman bagi
kesehatan manusia dan lingkungan.

3) Pengembangan kemampuan institusi bioteknologi pertanian.

Bioteknologi Kedokteran untuk Peningkatan Derajat Kesehatan dan


Kualitas Hidup Serta Perbaikan Lingkungan

Pengembangan bioteknologi kedokteran ditujukan untuk meningkatkan mutu


pelayanan kedokteran dan kesehatan. Situasi perkembangan bioteknologi
kedokteran di dunia telah mencapai kemajun-kemajuan berarti yang dapat
dirasakan hasilnya oleh umat manusia, Banyak data, informasi,dan hasil
penelitian yang diperoleh tentang genetika manusia, rekayasa biomolekuler
dari obat dan vaksin, karakterisasi molekuler sistem imonologi, dan lainnya,
yang dapat dikembangkan dan digunakan dlam praktek kedokteran dan
kesehatan.Untuk mencapai hal tersebut perlu dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut:

1) Pengidentifikasian berbagai masalah kesehatan dan perbaikan


lingkungan yang dapat dikembangkan oleh bioteknnologi.

2) Transfer teknologi dalam bioteknologi kedokteran berikut


pengembangan,serta peningkatan kemampuan penelitian.

3) Kerjasama dengan berbagai pihak baik di dalam dan luar negeri


dalam rangka mengembangkan bioteknologi kesehatan dan
lingkungan.

Bioteknologi Lingkungan

Strategi ini ditujukan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan hidup


seperti masalah limbah dan polusi, serta masalah pelestarian dan
perlindungan lingkungan, termasuk upaa pengembangan bioteknologi dalam
menyukseskan program penghijauan kembali hutan-hutan tropis. Walaupun
data dan informasi mengenai bioteknologi lingkungan ini secara nasional dan
internasioanal masih sangat terbatas, upaya penelitian untuk menghasilkan
biopestisida, bahan-bahan yang dapat didegradasi secara biologis, metode
untuk mendegradasi pen)cemaran, sistem pengelolaan limbah, serta

Agenda 21 - 94
identifikasi dan pelestarian genetik (gene pool),dan lainnya. Untuk
kepentingan tersebut, maka pengembangan dasar-dasar ilmu pengetahuan
dan teknologi dalam memecahkan permasalahan lingkungan menjadi penting,
dalam rangka menunjang kegiatan penelitian untuk menghasilkan produk
bioteknologi bagi perlindungan dan pemulihan lingkungan.

Pengembangan Prasarana Bioteknologi

Semua tujuan yang telah dikemukakan di atas tidak akan terlaksana tanpa
adanya institusi penelitian yang berafiliasi kepada perguruan tinggi dalam
melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dasar
dan terapan.Di masa yang akan datang upaya pengembangan fasilitas
pendidikan, pelatihan,dan penelitian bioteknologi harus dijalankan secara
sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan ,dan juga melibatkan sektor
lain seperti industri pertanian, kesehatan,dan lainnya.Secara garis besar
aktivitas yang diperlukan meliputi:

1) Pemanfaatn dan pengoptimalan sumberdaya manusia dan lembaga


yang ada untuk melatih dan mengembangkan kemampuan penelitian
tentang bioteknologi .

2) Pengembangan perangkat kebijakan dan kemauan politik untuk


mengaplikasikan bioteknologi.

3) Pengembangan peraturan perundangan tentang keamanan biologik.

Pedoman Keamanan Biologis

Kegiatan ini khusus diarahkan untuk menjaga aspek keamanan biologik dari
kegiatan bioteknologik pengkajian risiko terhadap potensi merusak dan
dampak negatif dari penggunaan produk bioteknologi harus di analisis secara
cermat sebelum produk tersebut dipasarkan di masyarakat.Untuk itu
diperlukan kebijakan dan perangkat perundang-undangan yang akan
mengatur seluruh kegiatan bioteknologi mulai dari kegiatan penelitian di
laboratorium, percobaan lapangan, pengembangan produk,sampai dengan
kegiatan pemasannya, agar aman bagi manusia dan lingkungan.Dalam
prosesnya, aspek moral dan etika memegang peranan penting dalam
menghasilkan proses dan produk bioteknologi dan layak sosial, layak
lingkunagan,dan layak budaya.Dengan demikian maka setiap proposal
penelitian bioteknologi khususnya penelitian tentang Genetically Modified
Organisms harus dikaji dan dievaluasi oleh satu tim ahli dari segi keamanan
biologinya,kesesuaian dengan standar yang berlaku, di samping kelayakan
moral dan etika.Untuk menjamin keaman tersebut, pelepasan produk
transgenik ke masyarakat harus melalui prosedur yang ketat dan diawasi oleh
satu tim profesional yang memahami betul tata cara dan metodologi
pengkajian risiko, dan dijalankan sesuai dengan evaluasi yang berlaku secara
internasional.Untuk itu perlu dilakukan:

Agenda 21 - 95
1) Penyebarluasan informasi dan isu keamanan biologik kepada semua
kalangan baik pemerintah , swasta ,dan masyarakat luas.

2) Pemantapan tugas dan fungsi komisi keamanan biologik.

3) Kerjasama dengan badan internasional dalam pertukaran informasi


dan pengalaman.

Para ilmuwan diharapkan:

1) Dapat dengan segara mengadopsi bioteknologi dalam kegiatan


penelitian dan pengembangannya.

2) Dapat memberikan masukan kepada para pengambil keputusan dan


penyusun kebijakan ilmu pengetahuan dan teknologi.

3) Dapat secara seimbang mempertimbangkan pendekatan ilmiah dan


pendekatan keamanan dalam upaya pemanfaatan, pengembangan
dan penguasaan bioteknologi

Dalam sektor pertanian perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan kepada


petani dengan tujuan meningkatkan ketrampilan petani dalam hal
penggunaan produk-produk bioteknologi. Konsultasi dan bimbingan sangat
diperlukan dalam menjaga agar pemanfaatan produk bioteknoligi dijamin
keamann biologiknya dan tidak merusak lingkungan hidup

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dapat dijadikan mitra pemerintah untuk


melakukan pendidikan dan pelatihan kepada petani, sehingga sisstem
pertanian mereka dapat disesuaikan dengan pola sistem pertanian yang
berkelanjutan dan ramah lingkungan. LSM diharapkan juga bertindak sebagai
pengawas dan pemantau pemanfaatan produk bioteknologi dilapangan.

Peranan kaum perempuan sebagai pendidik dan pengasuh dalam kaitannya


dengan penguasaan bioteknologi dapat ditingkatkan dengan mendidik
mereka dalam memanfaatkan produk-produk bioteknologi seperti
penggunaan vaksin, obat tradisional, makanan bergizi, metode keluarga
berencana, dan sebagainya.

Bioteknologi adalah teknologi yang menggunakan berbagai teknik rekayasa


gen yang dapat mengubah perilaku mahluk hidup. Dalam hal ini, peranan
tokoh masyarakat, pemuka agama, dan para ilmuwan dapat menerangkan
kepada masyarakat mengenai berbagai dampak negatif yang mungkin
ditimbulkan oleh bioteknologi. Pemerintah bertanggung jawab untuk
memberikan dukungan dana bagi kegiatan penelitian dasar dan terapan dan
memantau secara berkala segala kegiatan bioteknologi sedemikian rupa
sehingga benar-benar berguna bagi seluruh bangsa Indonesia. Pemerintah
harus juga mengambil inisiatif pertama untuk melaksanakan berbagai
program kerja sama luar negeri, dalam menjamin keamanan biologik
penggunaan produk bioteknologi.

Agenda 21 - 96
BAB 18
PENGELOLAAN TERPADU WILAYAH PESISIR
DAN LAUTAN

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki sekitar


17.500 pulau dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 81.000 km serta
lautan seluas kira-kira 5,8 juta km2 yang merupakan 70% dari seluruh wilayah
Indonesia.

Sumberdaya pesisir dengan hutan bakaunya mempunyai banyak manfaat


bagi kehidupan, antara lain sebagai tempat bertelur berbagai jenis ikan;
memberikan sumber kayu bakar dan makanan; serta berfungsi sebagai
penahan abrasi ombak dan angin. Sumberdaya laut yang luas dan kaya akan
keanekaragaman hayati ini telah memberikan penghasilan penduduk, serta
sumber protein, dan karbohidrat. Oleh karena itu, masalah yang terjadi di
wilayah pesisir dan lautan merupakan salah satu masalah yang harus
dicermati mengingat besarnya ketergantungan penduduk Indonesia terhadap
sumberdaya pesisir dan lautan bagi kehidupannya. Sekitar 60% dari
penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir, sehingga kerusakan yang
terjadi di wilayah ini akan mengancam kelangsungan hidup mereka.

Beberapa masalah penting yang berkaitan dengan wilayah pesisir dan lautan
adalah:

1) Penambangan terumbu karang oleh masyarakat.

2) Penangkapan ikan dengan bahan beracun berbahaya seperti Sodium


atau Potasium Sianida.

3) Peningkatan penggunaan pupuk kimia dan endapan pupuk phosphat di


teluk dan wilayah pesisir.

Agenda 21 - 97
4) Kegiatan konversi lahan pesisir menjadi lahan persawahan dan
pertambakan, serta penebangan hutan bakau untuk produksi papan dan
kepingan kayu (woodchips).

5) Pembangunan industri dan pariwisata yang tidak selalu membawa


keuntungan bagi masyarakat pesisir.

6) Risiko perubahan iklim yang berkaitan dengan efek rumah kaca dan
konsekuensi naiknya permukaan air laut. Keadaan ini akan mengancam
kepulauan kecil yang secara ekologi amat rentan terhadap dampak
pemanasan global, angin topan, dan tsunami.

Banyak lembaga-lembaga yang menangani masalah pesisir dan lautan ini,


misalnya P30-LIPI, LPPL LIPI dan Dinas Hidro Oseanografi Angkatan Laut
(DISHIDROS-AL) secara intensif melakukan pemantauan terhadap kondisi
pesisir dan lautan. Selain itu pada tahun 1981 dalam Departemen Pertanian
dibentuk satu bagian yang khusus menangani konservasi sumberdaya laut.
Sejak 1983, Departemen Pertanian melalui Direktorat Jenderal PHPA
mempunyai mandat untuk pelaksanaan daerah konservasi sumberdaya laut.
Lebih dari 2.8 juta hektar pada 30 lokasi telah dibentuk dan seluas 6.555.630
ha direncanakan sebagai daerah konservasi sumberdaya laut. Walaupun
banyak lembaga yang terlibat, serta banyaknya penelitian dan pengkajian
telah dilaksanakan baik dalam skala nasional maupun dengan kerja sama
multilateral maupun bilateral, aspek koordinasi menjadi sangat penting
melihat besar lingkup masalah yang ada.

Melihat potensi tekanan yang akan terjadi sebagai akibat tinggi laju kegiatan
pembangunan dimasa mendatang, pemerintah dengan cepat telah
membentuk Dewan Kelautan Nasional yang diketuai langsung oleh Bapak
Presiden Soeharto dengan keanggotaan hampir seluruh instansi terkait. Ini
menunjukkan besarnya komitmen pemerintah terhadap keberlanjutan
pengelolaan wilayah pesisir dan laut.

Dalam mewujudkan pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan secara


berkelanjutan dan berwawasan lingkungan tersebut, ada beberapa kesulitan
yang dihadapi, antara lain:

1) Nilai strategis dari pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan secara


berkesinambungan belum menjadi perhatian utama dan wawasan
bersama.

2) Belum dilakukan pendekatan terpadu dalam pengelolaan dan


pengembangan sumberdaya pesisir dan lautan.

3) Kurangnya personil terlatih didalam pengelolaan terpadu sumberdaya


pesisir dan lautan.

4) Kurangnya informasi yang dapat dipakai sebagai dasar perencanaan dan


pengambilan keputusan di dalam pengembangan sumberdaya pesisir dan
lautan.

Agenda 21 - 98
5) Kemiskinan dan tidak adanya mata pencaharian alternatif untuk
masyarakat pesisir.

6) Kurangnya peran serta masyarakat dalam perencanaan pembangunan


lokal, daerah, nasional.

Di samping itu undang-undang dan peraturan yang berkenaan dengan


sumberdaya pesisir dan lautan perlu ditingkatkan melihat fakta-fakta sebagai
berikut:

1) Kurang baiknya penerapan undang-undang, banyaknya kepentingan


sektoral dan kurangnya koordinasi. Misalnya, undang-undang dan
peraturan yang berhubungan dengan kesinambungan pengelolaan
sumberdaya laut memiliki sanksi-sanksi dan imbalan yang lemah dan
tidak konsisiten.

2) Masih banyak perencana, pengambil keputusan, dan pemakai


sumberdaya menganggap bahwa sumberdaya pesisir dan lautan kurang
berharga.

3) Belum ada sebuah model kerja yang dapat mendemonstrasikan kelebihan


pendekatan terpadu pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan.

4) Belum tersedianya informasi yang komprehensif, efektif dan konsisten


yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya pesisirdan lautan.

STRATEGI PENGELOLAAN TERPADU WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN

Untuk meningkatkan keberhasilan upaya pengelolaan terpadu wilayah pesisir


dan lautan yang mencakup aspek keterpaduan dan kewenangan
kelembagaannya, sehingga sumberdaya dari kawasan ini menjadi lestari dan
dapat menjadi produk unggulan dalam kegiatan pembangunan bangsa
Indonesia di abad 21 perlu dilakukan pembagian kegiatan sebagai berikut:

1) Perencanaan dan pengembangan sumberdaya terpadu di wilayah pesisir.

2) Pemantauan dan perlindungan wilayah pesisir dan lautan.

3) Pemanfaatan sumberdaya laut yang berkesinambungan.

4) Pemberdayaan dan penguatan masyarakat pesisir.

5) Pembangunan kepulauan kecil secara berkelanjutan.

6) Pemeliharaan keamanan zona ekonomi eksklusif (ZEE).

7) Pengelolaan dampak perubahan iklim dan tsunami.

Agenda 21 - 99
Perencanaan dan Pengembangan Sumberdaya Terpadu di Wilayah
Pesisir

Untuk meningkatkan perencanaan dan pengembangan secara terpadu perlu


dilakukan:

1) Memperbaiki perencanaan dan pengelolaan secara terpadu dan


berkesinambungan yang mencakup: meningkatkan kesadaran umum,
merumuskan permasalahan, memperbaiki dan menegakkan undang-
undang serta peraturan yang ada.

2) Memperkuat dan meningkatkan kerjasama kemampuan institusi dalam


pengelolaan sumberdaya pesisir baik tingkat pusat dan daerah.

3) Mengembangkan system informasi untuk meningkatkan proses


perencanaan dan pengambilan keputusan.

Pemantauan dan Perlindungan Wilayah Pesisir dan Lautan

Secara khusus pendekatan yang dilakukan untuk pemantauan dan


perlindungan adalah:

1) Mencegah, mengurangi, dan mengawasi kerusakan lingkungan pesisir


dan lautan yang disebabkan oleh kegiatan yang berbasis didarat dan
laut.

2) Melindungi dan melestarikan wilayah pesisir dan lautan yang secara


ekologis sensitive, dan habitat yang kritis dengan melibatkan lembaga
terkait dan masyarakat umum.

3) Meningkatkan penegakan hukum dan peraturan yang terkait dengan


aktivitas proses produksi dan pembangunan di wilayah pesisir dan
lautan.

Pemanfaatan Sumberdaya Laut yang Berkesinambungan

Untuk mencapai hal tersebut maka dilakukan langkah-langkah:

1) Mengkaji ulang nilai tangkap maksimum lestari (MSY) diwilayah pesisir


dan ZEE untuk ikan-ikan bernilai ekonomis penting.

2) Meningkatkan kemampuan secara teknologi dan lingkungan dalam


pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan, khususnya yang
berhubungan dengan penangkapan dan budidaya perikanan, rehabilitasi
lingkungan pesisir kritis, penggunaan bioteknologi, eksplorasi dan
eksploitasi mineral, serta hidrokarbon dipesisir dan lautan.

Pemberdayaan dan Penguatan Masyarakat Pesisir


Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pemberdayaan dan penguatan
masyarakat pesisir adalah:

Agenda 21 - 100
1) Memasyarakatkan pembangunan masyarakat pesisir yang berwawasan
lingkungan termasuk peningkatan pendapatan, meningkatkan kontrol
oleh masyarakat lokal terhadap sumberdaya alam, pengembangan
institusi-institusi lokal, serta memperkuat keikut sertaan komunitas lokal,
Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Pemerintah Daerah.

2) Meningkatkan sarana komunikasi dan transportasi, infrastruktur dan


fasilitas umum di wilayah pesisir.

3) Meningkatkan pendapatan pesisir dan menjamin manfaat yang sebesar-


besarnya bagi masyarakat setempat dengan mengembangkan kemitraan
antara pemerintah daerah dan para pengusaha koperasi unit desa
(KUD).

4) Penyediaan pelatihan untuk peningkatan keterampilan dan


pengembangan bidang industri perikanan.

Pemeliharaan Keamanan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)

Dalam memelihara keamanan zona ekonomi eksklusif diperlukan langkah


sebagai berikut:

1) Memeperkuat kemampuan pemantauan dan kawasan untuk menjaga


wilayah pesisir dan sumberdaya kelautan dari eksploitasi tidak sah,
pencemaran tapal batas dari negara lain serta aktivitas perdagangan
ilegal.

2) Memperkuat koordinasi dan komunikasi antar instansi yang terkait dalam


permasalahan ini.

3) Mengembangkan forum bilateral maupun regional bagi pertukaran


informasi yang berhubungan dengan keamanan ZEE.

Pengelolaan Dampak Perubahan Iklim dan Tsunami

Dalam pengelolaan ini perlu dilakukan kegiatan yang mencakup:

1) Observasi yang sistematik dan penelitian masalah samudra, dinamika


atmosfir sosial ekonomi, dampak lingkungan terhadap perubahan iklim,
kenaikan permukaan laut, dan penyimpangannya.

2) Pengembangan pencegahan, penanggulangan upaya perbaikan atas


dampak tsunami, perubahan iklim, dan kenaikan permukaan laut bagi
populasi manusia dan sumberdaya laut yang ada.

3) Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap dampak kenaikan laut dan


tsunami.

Agenda 21 - 101