Anda di halaman 1dari 81

i

VALIDASI PENETAPAN KADAR BESI PADA BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

DI PT. NUTRIFOOD INDONESIA BOGOR

LAPORAN TUGAS AKHIR

Diajukan untuk Memenuhi Ujian Akhir Program Diploma III Pada Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran

SOVIA ENDAH

140603120003

Alam Universitas Padjadjaran SOVIA ENDAH 140603120003 UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM DIPLOMA III PROGRAM STUDI ANALIS KIMIA BANDUNG

2015

i

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL

: VALIDASI PENETAPAN KADAR BESI PADA

 

BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN

METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

PENYUSUN

:

SOVIA ENDAH

NPM

:

140603120003

Pembimbing Utama,

Bandung, Maret 2015

Menyetujui,

Pembimbing Pendamping,

Dr.Dadan Sumiarsa, Drs.,M.Si. NIP.19620704 198811 1 003

Mengetahui, Ketua Program Studi

Rina Dwi Oktavia, S.TP NIP. 0002480811

Dr.Darwati, M.Si. NIP. 19591030 198703 2 002

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmannirrahim

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tugas akhir yang dilaksanakan di PT. Nutrifood Indonesia Bogor dengan judul VALIDASI PENETAPAN KADAR BESI PADA BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM. Serta shalawat dan salam senantiasa penulis limpahkan pada junjungan alam Nabi Besar Muhammad Saw. Laporan tugas akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat menempuh ujian akhir Program Studi Diploma III Jurusan Analisis Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran.

Pada kesempatan ini, dengan rasa syukur dan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa penghormatan dan ucapan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada yang terhormat:

Dr. Dadan Sumiarsa, Drs., M.Si.

Selaku pembimbing utama yang telah membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan tugas akhir ini.

Rina Dwi Oktavia, S.TP

Selaku pembimbing lapangan yang telah membimbing penulis selama melakukan praktik kerja di PT. Nutrifood Indonesia Bogor.

Selain itu dengan penuh rasa hormat penulis juga berterima kasih kepada semua pihak yang banyak membantu:

1.

Prof. Dr. Budi Nurani, selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran, Bandung.

i

2. Dr. rer. nat. Iwan Hastiawan, selaku Ketua Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran, Bandung.

3. Dr. Darwati, M.Si., selaku Ketua Program Studi Analisis Kimia Diploma III Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran, Bandung.

4. Solehudin, Drs, M.Si., selaku dosen wali.

5. Seluruh staf karyawan Tata Usaha Diploma III

6. Seluruh staf karyawan dan karyawati PT. Nutrifood Indonesia Bogor atas saran dan prasarana yang diberikan.

7. Kedua Orang Tuaku Tercinta yang selalu mendoakan dan memberi motivasi dalam setiap langkah perjalanan hidup yang penulis tempuh.

8. Teman-teman seperjuangan Analisis Kimia 2012 yang selalu membantu dalam kelancaran pembuatan tugas akhir.

Penulis menyadari bahwa laporan yang ditulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis bersedia menerima saran dan kritik dari pembaca untuk menyempurnakan laporan ini. Akhir kata, penulis meminta maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan laporan ini.

ii

Bandung, Maret 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

i

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR GAMBAR

vi

DAFTAR TABEL

vii

BAB I

1

PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Maksud dan Tujuan

3

1.2.1 Maksud

3

1.2.2 Tujuan

3

1.3 Manfaat Penulisan

3

1.4 Lokasi dan Waktu

4

1.4.1 Lokasi

4

1.4.2 Waktu

4

BAB II

5

TINJAUAN PUSTAKA

5

2.1 Vitamin Premix

5

2.2 Mineral

6

2.3 Besi (Fe)

7

2.3.1 Fungsi Besi

7

2.3.2 Sumber besi

9

2.3.3 Akibat Kekurangan dan Kelebihan Besi

10

2.4

Spektrofotometri Serapan Atom

11

2.4.1 Prinsip Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

12

2.4.2 Absorpsi Garis Resonansi Atom

12

2.4.3 Hukum Beer-Lambert

13

2.4.4 Penyimpangan Hukum Beer-Lambert

14

iii

2.5

Sistem Instrumentasi Spektrofotometer Serapan Atom

15

2.5.1 Sumber Radiasi

15

2.5.2 Atomisasi

16

2.5.3 Monokromator

18

2.5.4 Detektor

19

2.5.5 Penampil Data

19

2.6

Gangguan pada Analisis secara Spektrofotometri Serapan Atom

19

2.6.1 Gangguan Kimia

19

2.6.2 Gangguan Matriks

20

2.6.3 Gangguan Ionisasi

21

2.6.4 Gangguan Spektral

21

2.6.5 Serapan Latar

22

2.7

Verifikasi dan Validasi

22

2.7.1 Linearitas

23

2.7.2 Presisi

24

2.7.3 Akurasi

25

2.8 Limit Deteksi Instrumen (LDI) dan Limit Kuantitasi (LK)

26

2.9 Spektrofotometri UV-Vis

27

BAB III

29

OBJEK PRAKTIK KERJA

29

3.1 Sejarah dan Perkembangan PT Nutrifood Indonesia

29

3.2 Visi dan Misi Perusahaan

30

3.3 Budaya Perusahaan

31

3.4 Lokasi Perusahaan

32

BAB IV

33

KEGIATAN LABORATORIUM

33

3.1 Jenis Kegiatan

33

3.2 Bahan

33

3.3 Alat

33

3.4 Metode Percobaan

34

4.5 Prosedur Percobaan

35

iv

4.5.1

Tahap Persiapan

35

4.5.2 Tahap Pengujian

39

4.5.3 Tahap pengolahan Data

40

BAB V

44

TUGAS KHUSUS

44

5.1 Tujuan

44

5.2 Hasil dan Pembahasan

44

5.2.1 Linieritas

45

5.2.2 Presisi

46

5.2.3 Akurasi

48

5.2.4 Limit Deteksi Instrumen dan Limit Kuantitasi

50

5.2.5 Pembuatan Deret Standar

53

5.2.6 Perbandingan Metode

54

BAB VI

57

SIMPULAN DAN SARAN

57

6.1 Simpulan

57

6.2 Saran

57

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

15

Gambar 3.1 Logo Perusahaan

30

Gambar 5.1 Kurva Linieritas Standar Besi

45

Gambar 5.2 Kurva Deret Standar Besi

54

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Nilai Besi Berbagai Bahan Makanan

10

Tabel 2.2 Kriteria % Recovery

26

Tabel 5.1 Hasil Percobaan Parameter Uji Verifikasi dan Kriteria Keberterimaan 44

Tabel 5.2 Data Hasil Pengukuran Presisi

47

Tabel 5.3 Data Hasil Pengukuran Akurasi

49

Tabel 5.4 Hasil Pengujian Limit Deteksi Instrumen

51

Tabel 5.5 Hasil Pengujian Limit Kuantitasi

52

Tabel 5.6 Data Hasil Pengukuran Dengan Spektrofotometri Serapan Atom

54

Tabel 5.7 Data Hasil Pengukuran Dengan Spektrofotometri UV-Vis

55

vii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kenaikan Suhu pada saat Proses Pengabuan

60

Lampiran 2 Data dan Hasil Pengujian Linieritas

61

Lampiran 3 Data dan Hasil Pengujian Presisi

63

Lampiran 4 Data dan Hasil Pengujian Akurasi

65

Lampiran 5 Data dan Hasil Pengujian Limit Kuantitasi

67

Lampiran 6 Data dan Hasil Pengukuran Dengan Spektrofotometri UV-Vis

69

viii

DAFTAR ISTILAH

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Unsur mikronutrien telah menjadi permasalahan kesehatan global dan

mendapat perhatian dari masyarakat dunia. Manusia memerlukan zat gizi yang

dapat diklasifikasikan ke dalam lima kelompok besar, yaitu karbohidrat, protein,

lemak, vitamin, dan mineral. Berdasarkan pada jumlah yang dibutuhkan tubuh,

karbohidrat, protein dan lemak disebut gizi makro, sedangkan vitamin dan mineral

disebut gizi mikro. Gizi makro diperlukan tubuh dalam jumlah yang lebih besar

dari pada gizi mikro. Gizi mikro, yaitu vitamin dan mineral berfungsi dalam

pengaturan

dan

pemeliharaan

proses

biokimia,

antara

lain

aktivitas

enzim,

pembekuan darah, pengangkutan molekul melalui membran sel, dan pembentukan

struktur organ (Harper, 1986).

Salah satu zat yang termasuk dalam gizi mikro adalah zat besi, zat besi

merupakan

zat

yang

mempunyai

beberapa

fungsi

esensial

di

dalam

tubuh,

contohnya sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagai

alat angkut elektron di dalam sel dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi

enzim di dalam jaringan tubuh (Almatsier, 2012). Kekurangan zat besi dapat

menyebabkan anemia, selain itu kekurangan zat besi dalam 1.000 hari awal

kehidupan, tidak hanya membuat anak jadi lemas seperti yang dialami orang

dewasa. Tetapi hal itu, ternyata membuat anak menjadi bodoh. Pernyataan

tersebut diutarakan oleh dr. Sudjatmiko, dokter spesialis anak dan konsultan

tumbuh kembang anak. Dia menjelaskan bahwa, jangan mengira kekurangan zat

1

2

besi pada anak hanya menyebabkan 5H, yaitu lemah, letih, lesu, lelah dan lunglai.

Prinsip 5H itu hanyalah efek dari kekurangan zat besi untuk orang dewasa, bukan

untuk anak-anak. Dimana bila anak-anak mengalami kekurangan zat besi maka

akan

menyebabkan

IQ

(Nawawi, 2014).

anak

menjadi

rendah

atau

anak

menjadi

bodoh

Makanan dan minuman merupakan kebutuhan pokok yang dapat membuat

manusia mampu menjalankan aktivitas sehari-hari dan menyehatkan tubuh.

Saat

ini, sering dijumpai minuman instan berbentuk serbuk atau disebut minuman

serbuk. Penggunaannya dengan melarutkan butiran-butiran tersebut ke dalam air

(bisa air dingin

maupun

air panas)

sesuai

dikonsumsi harus aman dari kontaminasi.

kebutuhan.

Bahan

pangan

yang

Salah satunya adalah bebas dari

cemaran logam berat seperti besi. Batas cemaran logam berat yang diperbolehkan

dalam bahan pangan sangat kecil. Hal ini dilakukan agar produk pangan yang kita

konsumsi dapat terjamin keamanannya. Berdasarkan SNI 022-M dan Permenkes

Nomor 722/Menkes/Per/IX/88, kadar logam besi yang diperbolehkan terkandung

dalam minuman serbuk adalah 1 mg/kg.

Karena pentingnya zat besi untuk manusia khususnya saat pertumbuhan

anak-anak,

manusia

perlu

mengkonsumsi

makanan

dan

minuman

yang

mengandung zat besi. Untuk menentukan kandungan zat besi pada minuman

tersebut dapat dilakukan dengan cara Spektrofotometri Serapan Atom.

3

1.2

Maksud dan Tujuan

1.2.1

Maksud

Maksud dari praktik kerja ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat

kelulusan bagi mahasiswa program studi Analisis Kimia, Program Diploma III

Kimia,

Fakultas

Padjadjaran.

1.2.2 Tujuan

Matematika

dan

Ilmu

Pengetahuan

Alam,

Universitas

Praktik kerja ini bertujuan untuk menguji metode penetapan kadar besi

secara Spektrofotometri Serapan Atom yang mengacu pada Association of Official

Analytical Chemist (AOAC) Nomor 999.11. dengan cara dibandingkan dengan

metode eksis yaitu spektrofotometri. Jika hasil validasi memenuhi persyaratan

yang telah ditetapkan, maka metode tersebut dapat digunakan untuk analisis rutin

di Laboratorium Kimia PT Nutrifood Indonesia.

1.3 Manfaat Penulisan

Dari praktik kerja yang telah dilaksanakan, diharapkan dapat diperoleh

suatu manfaat yang dapat berguna bagi semua pihak yang bersangkutan, yaitu

dapat memberikan informasi tentang

metode Spektrofotometri Serapan Atom

mencakup kelebihan dan kekurangan, serta manfaat dari metode Spektrofotometri

Serapan Atom yang dapat di aplikasikan ke dalam analisa bahan secara rutin.

4

1.4

Lokasi dan Waktu

1.4.1

Lokasi

Praktik kerja ini dilaksanakan di PT.Nutrifood Indonesia yang beralamat

di jalan Raya Ciawi No.280 A Bogor 16720, Indonesia.

1.4.2 Waktu

Kegiatan Praktik kerja ini dilaksanakan mulai tanggal 05 Januari 2015

sampai dengan tanggal 05 Maret 2015.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Vitamin Premix

Premix adalah campuran beberapa mineral dalam suatu bahan pembawa

yang digunakan sebagai bahan tambahan pangan untuk memenuhi kebutuhan

mineral

tubuh.

Premix juga

merupakan

kombinasi

beberapa mikro-

ingredient dengan bahan penyerta sehingga merupakan kombinasi yang siap

dicampurkan

dalam

bahan

baku

dalam

proses

pembuatan

suatu

produk

makanan. Komposisi premix berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan relatif pada

tiap jenis produk makanan. Premix mengandung mineral dan pemberian sejumlah

mineral bersifat esensial untuk kesehatan dan pertumbuhan tubuh yang optimal.

Pemberian

kurang

dari

jumlah

mineral

yang

meningkatnya insiden penyakit.

optimum

dapat

menyebabkan

Secara umum ada tiga jenis premix berdasarkan komposisinya. Ketiga

premix tersebut adalah sebagai berikut:

1. Premix Vitamin-Mineral, yaitu food supplement yang mengandung berbagai

jenis vitamin dan mineral.

2. Premix Vitamin-Antibiotika,

yaitu food

suplement

berbagai jenis vitamin dan antibiotik.

3. Premix Vitamin-Mineral-Antibiotik,

yaitu

food

yang

mengandung

supplement yang

mengandung berbagai jenis vitamin , mineral dan antibiotik.

5

6

Premix mempunyai

khasiat

untuk

mempertinggi

mutu

pangan,

dan

mencegah penyakit yang disebabkan kekurangan vitamin, mineral, serta asam

amino essensial (Agus,2012).

2.2

Mineral

Mineral yang digolongkan sebagai zat gizi anorganik juga disebut sebagai

unsur abu, dalam pangan karena ternyata bahwa jika pangan dibakar, unsur

organik akan menghilang dan bahan anorganik yang tersisa terdiri dari unsur

mineral. Dalam banyak hal, mineral yang ditemukan dalam tubuh dan dalam

pangan tergabung dalam persenyawaan anorganik. Akan tetapi ada kalanya,

mineral

tersebut

ditemukan

sebagai

unsur.

pertumbuhan

tampak

setelah

ditambahkan

Kalau

perbaikan

mineral

tertentu

kesehatan

dan

pada

susunan

makanan, maka mineral itu dianggap sebagai mineral yang diperlukan.

Mineral yang diketahui dibutuhkan dan terdapat dalam tubuh dalam

jumlah yang lebih kecil dari pada 0,05 % dari

1)

Kobalt.

2)

Tembaga.

3)

Flourin.

4)

Besi.

5)

Iodium.

6)

Mangan.

7)

Seng.

bobot
bobot

tubuh adalah:

7

Berhubung mineral yang disebut terakhir ini dalam tubuh terdapat hanya

dalam jumlah yang sedikit atau mikro, mineral tersebut biasanya disebut sebagai

unsur mikro atau mineral mikro.

2.3 Besi (Fe)

Besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat di dalam

tubuh manusia dan hewan, yaitu sebanyak 3-5 gram di dalam tubuh manusia

dewasa. Besi mempunyai beberapa fungsi esensial di dalam tubuh, sebagai alat

angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagai alat angkut elektron di

dalam sel dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim di dalam jaringan

tubuh.

Walaupun

terdapat

luas

di

dalam

makanan

banyak

penduduk

dunia

mengalami kekurangan besi, termasuk di indonesia. Kekurangan besi sejak tiga

puluh

terakhir

diakui

berpengaruh

terhadap

kognitif dan sistem kekebalan.

2.3.1 Fungsi Besi

produktifitas

kerja,

penampilan

Dalam keadaan tereduksi besi kehilangan dua elektronnya, oleh karena itu

mempunyai dua sisa muatan positif. Besi dalam bentuk dua ion bermuatan positif

ini adalah bentuk fero (Fe 2+ ). Dalam keadaan teroksidasi, besi kehilangan tiga

elektron, sehingga mempunyai sisa tiga muatan positif yang dinamakan bentuk

feri (Fe 3+ ). Karena dapat berada dalam dua bentuk ion ini, besi berperan dalam

proses resfirasi sel, yaitu sebagai kofaktor bagi enzim-enzim yang terlibat di

dalam reaksi oksidasi-reduksi (Almatsier, 2012).

8

Metabolisme energi. Di dalam tiap sel, besi bekerja sama dengan rantai

protein

pengangkut

elektron,

yang

berperan

dalam

langkah-langkah

akhir

metabolisme energi. Protein ini memindahkan hidrogen dan elektron yang berasal

dari zat gizi penghasil energi ke oksigen, sehingga membentuk air. Dalam proses

tersebut dihasilkan ATP. Sebagian besar besi berada pada hemoglobin, yaitu

molekul perotein mengandung besi dari sel darah merah dan mioglobin di dalam

otot. Hemoglobin di dalam darah membawa oksigen dari paru-paru keseluruh

jaringan tubuh dan membawa kembali karbon dioksida dari seluruh sel ke paru-

paru untuk dikeluarkan dari tubuh.

Kemampuan belajar. Pollitt pada tahun 1970-an terkenal akan penelitian-

penelitian yang menunjukan perbedaan antara keberhasilan belajar anak-anak

yang menderita anemia gizi besi dan anak-anak yang sehat. Penelitian-penelitian

di

Indonesia

oleh

Soemantri

(1985)

dan

Almatsier

(1989)

menunjukan

peningkatan

prestasi

belajar

pada

anak-anak

sekolah

dasar

bila

diberikan

suplemen besi. Hubungan defisiensi dengan hubungan otak dijelaskan oelh Lozoff

dan Youdim pada tahun 1988. Beberapa bagian dari otak mempunyai kadar besi

tinggi yang diperoleh dari transpor besi yang dipengaruhi oleh reseptor tranferin.

Kadar besi dalam darah meningkat selama pertumbuhan hingga remaja. Kadar

besi otak yang kurang pada masa pertumbuhan tidak dapat diganti setelah dewasa.

Defesiensi besi berpengaruh negatif terhadap fungsi otak, terutama terhadap

fungsi pengantar saraf. Akibatnya, kepekaan reseptor dopamin berkurang yang

dapat

berkahir

dengan

hilangnya

reseptor

tersebut.

Daya

konsentrasi

dan

9

kemampuan belajar terganggu, ambang batas rasa sakit meningkat, fungsi kelenjar

tiroid dan kemampuan mengatur suhu tubuh menurun.

Sistem kekebalan tubuh, besi memegang peranan dalam sistem kekebalan

tubuh. Respons kekebalan sel oleh limfosit-T terganggu karena berkurangnya

pembentukan sel-sel tersebut, yang kemungkinan disebabkan oleh berkurangnya

sintesis DNA. Berkurangnya sintesis DNA ini disebabkan oleh gangguan enzim

reduktase ribonukleotida yang membutuhkan besi untuk dapat berfungsi. Di

samping itu sel darah putih yang menghancurkan bakteri tidak dapat bekerja

secara efektif dalam keadaan tubuh kekurangan besi (Agus, 2012).

2.3.2 Sumber besi

Sumber baik besi adalah makanan hewani seperti daging ayam dan ikan.

Sumber baik lainnya adalah telur, serealia tumbuk, kacang-kacangan, sayuran

hijau dan beberapa jenis buah. Di samping jumlah besi, perlu diperhatikan kualitas

besi di dalam makanan, dinamakan juga katersediaan biologik. Pada umumnya

besi di dalam daging ayam dan ikan mempunyai ketersediaan biologik tinggi, besi

di dalam sereal dan kacang-kacangan mempunyai ketersediaan biologik sedang

dan besi di dalam sebagian besar sayuran, terutama yang mengandung asam

oksalat tinggi, seperti bayam mempunyai ketersediaan biologik yang rendah.

Kandungan besi beberapa bahan makanan dapat dilihat pada tabel 2.1.

10

Tabel 2.1 Nilai Besi Berbagai Bahan Makanan (mg/100 gram)

Bahan Makanan/ gram

Nilai Fe/ mg

Bahan Makanan/ gram

Nilai Fe/ mg

Tempe kacang

10,0

Biskuit Jagung kuning Roti putih Beras setengah giling Kentang Daun kacang panjang Bayam Sawi Daun katuk Kangkung Daun singkong Pisang ambon Keju

2,7

Kacang kedelai

8,0

2,4

Kacang hijau

6,7

1,5

Kacang merah

5,0

1,2

Kelapa tua

2,0

0,7

Udang segar

8,0

6,2

Hati sapi

6,6

3,9

Daging sapi

2,8

2,9

Telur bebek

2,8

2,7

Telur ayam

2,7

2,5

Ikan segar

2,0

2,0

Daging ayam

1,5

0,5

Gula kelapa

2,8

1,5

Sumber: Almatsier, 2010

2.3.3 Akibat Kekurangan dan Kelebihan Besi

Defisiensi besi merupakan defesiensi gizi yang paling umum terdapat, baik

di

negara

maju

maupun

di

negara

berkembang.

Defesiensi

besi

terutama

menyerang golongan rentan seperti anak-anak, remaja, ibu hamil dan menyusui

serta pekerja berpenghasilan rendah. Secara klasik defisiensi besi dikaitkan

dengan

anemia

gizi

besi.

Namun

sejak

25

tahun

terakhir

banyak

bukti

menunjukan bahwa besi berpengaruh luas terhadap kualitas sumber daya manusia,

yaitu terhadap kemampuan belajar dan produktifitas kerja. Kekurangan besi dapat

terjadi karena kosumsi makanan yang kurang seimbang atau gangguan adsorpsi

11

besi. Di samping itu kekurangan besi dapat terjadi karena pendarahan akibat

cacingan atau luka dan akibat penyakit-penyakit yang mengganggu adsorpsi

seperti penyakit gastro intestinal.

Kekurangan besi terjadi dalam tiga tahap. Tahap pertama terjadi bila

simpanan besi berkurang yang terlihat dari penurunan feritin dalam plasma hingga

12 µg/L. Hal ini dikompensasi dengan peningkatan absorpsi besi yang terlihat dari

peningkatan kemampuan mengikat besi total. Pada tahap ini belum terlihat

perubahan fungsional pada tubuh. Tahap kedua terlihat dengan habisnya simpanan

besi, menurunnya jenuh transferin hingga kurang dari 16% pada orang dewasa

dan meningkatnya proporfirin, yaitu bentuk pendahulu (precursor) hemoglobin.

Pada tahap ini nilai hemoglobin di dalam darah masih berada pada 95% nilai

normal. Hal ini dapat mengganggu metabolisme energi, sehingga menyebabkan

menurunnya kemampuan bekerja. Pada tahap ketiga terjadi anemia gizi besi, di

mana kadar hemoglobin total turun di bawah nilai normal. Anemia gizi berat

ditandai oleh sel darah merah yang kecil dan nilai hemoglobin rendah.

Kelebihan besi jarang terjadi karena makanan, tetapi dapat disebabkan

oleh suplemen besi. Gejalanya adalah rasa nek, muntah, diare, denyut jantung

meningkat, sakit kepala, mengigau dan gejala pingsan (Almatsier, 2010).

2.4

Spektrofotometri Serapan Atom

 

Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) merupakan suatu metode analisis

untuk

penentuan

kualitatif

dan

kuantitatif

unsur-unsur

kimia

menggunakan

penyerapan radiasi optik (cahaya) oleh atom-atom bebas dalam bentuk gas.

12

Informasi kualitatif adalah panjang gelombang yang diukur sedangkan informasi

kuantitatif adalah kuat daya sinar. Metode SSA pertama kali dikembangkan oleh

Walsh, Alkamede dan Melatz pada tahun 1955 yang ditujukan untuk analisis

logam dalam sampel yang dianalisis.

Dalam kimia analisis teknik ini digunakan

untuk menentukan konsentrasi analit dalam sampel yang akan dianalisis.

SSA

dapat digunakan untuk menentukan lebih dari 70 elemen yang berbeda dalam

larutan atau langsung pada sampel padat (MULJA & SUHARMAN,1995).

2.4.1 Prinsip Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

Metode SSA berprinsip pada absorpsi cahaya oleh atom.

Atom akan

menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu secara spesifik bergantung

pada sifat unsurnya. Cahaya pada panjang gelombang tersebut mempunyai cukup

energi untuk mengubah tingkat elektronik suatu atom. Absorpsi energi oleh suatu

atom dapat mengubah keadaaan atom dari keadaan dasar menjadi keadaan

tereksitasi (KHOPKAR, 2007).

2.4.2 Absorpsi Garis Resonansi Atom

Atom-atom netral suatu unsur mempunyai sifat yang khas yaitu akan

menyerap radiasi yang datang.

Radiasi yang diserap tersebut memiliki panjang

gelombang yang sesuai dengan energi eksitasi ke salah satu tingkat energi

eksitasi.

Garis-garis spektrum serapan atom tersebut disebut sebagai garis-garis

resonansi (dapat lebih dari satu garis).

akan

jauh

lebih

sempit

dibandingkan

Jadi garis-garis resonansi serapan atom

pita

spektrum

sumber

radiasi

yang

sinambung. Oleh sebab itu radiasi dari sumber radiasi yang dilewatkan pada garis

13

resonansi atom nyala akan diserap oleh atom-atom tersebut dalam bagian yang

sangat kecil, apabila radiasi dari sumber radiasi harus melalui monokromator.

Dari kenyataan ini maka Hukum Beer-Lambert tidak dapat digunakan dalam SSA.

Hukum Beer-Lambert dapat dipakai pada metode SSA apabila resonansi

atom

yang

dianalisis

memberikan

puncak

yang

sama

(mendekati)

dengan

spektrum pancaran sumber radiasi (MULJA & SUHARMAN,1995)

2.4.3 Hukum Beer-Lambert

Hukum Beer-Lambert menyatakan bahwa jika suatu berkas sinar melewati

suatu medium homogen, sebagian dari cahaya datang (Po) diabsorbsi sebanyak

(Pa), sebagian dapat diabaikan (Pr), sedangkan sisanya ditransmisikan (Pt) dengan

efek intensitas murni sebesar :

Keterangan

Po = Pa + Pt + Pr

: Po : intensitas radiasi yang masuk

Pa : intensitas cahaya yang diabsorbsi

Pr : intensitas cahaya yang dipantulkan

Pt : intensitas cahaya yang ditransmisikan

Pada prakteknya, nilai Pr adalah kecil sekali (4%), sehingga untuk tujuan

praktis

Po

=

Pa

+

Pt.

Hukum

Beer

menyatakan

bila

seberkas

cahaya

monokromatik

dipancarkan

melalui

suatu

media

tembus

cahaya,

maka

laju

turunnya intensitas cahaya akan berbanding lurus dengan kepekatan.

14

Hubungan antara transmitan atau absorban terhadap intensitas radiasi atau

konsentrasi zat yang dianalisis dan tebal larutan yang mengabsorpsi sebagai :

T =

= 10 -ɛ.c.b

A = log = ɛ.c.b

Keterangan : T

: persen transmitan

Po

: intensitas radiasi yag datang

Pt

: intensitas radiasi yang diteruskan

ɛ

: absorbansi molar (Lt.mol -1 .cm -1 )

c

: konsentrasi (mol.Lt -1 )

b

: tebal larutan (cm)

A

: absorban

2.4.4 Penyimpangan Hukum Beer-Lambert

Menurut hukum Beer-Lambert, suatu plot absorbansi dengan konsentrasi

molar akan berupa garis linier.

Pada prakteknya pengukuran akan menghasilkan

plot hukum Beer yang tidak linier sepanjang seluruh rentang konsentrasi yang

diminati.

Hukum ini berlaku jika sumber sinar yang digunakan monokromatis

dan bekerja baik pada kepekatan kurang dari 0,01 M (KHOPKAR, 2007).

Elektron dalam suatu ikatan kovalen tunggal terikat dengan kuat, dan diperlukan

radiasi berenergi tinggi atau panjang gelombang pendek, untuk eksitasinya (DAY

& UNDERWOOD,2002).

15

2.5 Sistem Instrumentasi Spektrofotometer Serapan Atom Gambar 2.1 Bagan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
2.5
Sistem Instrumentasi Spektrofotometer Serapan Atom
Gambar 2.1 Bagan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
(DAY&UNDERWOOD, 2002)
2.5.1
Sumber Radiasi

Instrumentasi

secara

umum

memerlukan

sumber

radiasi

yang

dapat

menghasilkan daerah spektrum yang lebar dengan intensitas yang seragam pada

setiap panjang gelombang.

Pada awalnya sumber radiasi dipakai lampu wolfram

yang

menghasilkan

radiasi

yang

sinambung,

akan

tetapi

lampu

wolfram

memberikan intensitas yang diteruskan sangat kecil. Sumber radiasi yang dipakai

harus mempunyai garis spektrum yang sama dengan garis resonansi (MULJA &

SUHARMAN, 1995). Sumber radiasi yang banyak dipakai, yaitu :

a. Lampu Katoda Berongga (Hollow Cathode Lamp / HCL)

Lampu katoda berongga adalah suatu sumber cahaya dalam SSA, yang

dipilih karena garis pancaran unsur katoda lebih sempit dari pada garis absorbansi

atom padanannya dalam nyala dan tanur (DAY & UNDERWOOD, 2002).

Prinsip kerjanya adalah dengan beda potensial (300 V) antara elektroda

dan arus (4-20 mA) maka terjadi ionisasi gas pengisi yang akan mengeksitasi

16

atom- atom pada katoda.

Kemudian atom- atom tersebut kembali ke tingkat

energi dasar dengan memancarkan radiasi resonansi.

b. Lampu Tanpa Elektroda (Electrodeless Discharge Tube/ EDT)

Penggunaan

lampu

EDT

sama

dengan

HCL

tetapi

berbeda

pada

pembentukan garis spektrum garisnya. Emisi radiasi dihasilkan dari eksitasi atom

logam dari garam yang dihasilkan pada bola gelas.

Bola gelas dililit dengan

kawat penghantar yang dialiri arus listrik pada frekuensi radio (RF coil). Plasma

yang dihasilkan akan menguapkan garam dan mengeksitasikan atom-atom logam

(SKOOG,1992).

2.5.2

Atomisasi

 

Atomisasi adalah disosiasi partikel padat yang terbentuk oleh penguapan

pelarut

dari

dalam

larutan

contoh

yang

telah

terkabutkan

(DAY

&

UNDERWOOD, 2002). Dalam SSA unsur yang dianalisis harus berbentuk atom

bebas yang dapat menyerap radiasi resonansi dari sumber cahaya.

Temperatur

harus benar-benar terkendali dengan sangat hati-hati agar proses atomisasinya

sempurna (KHOPKAR, 2007).

Proses

atomisasi

adalah

proses

paling

penting

dalam

SSA

yaitu

pembentukan atom.

Ada 3 macam cara pembentukan atom dalam SSA, antara

lain :

a.

Atomisasi menggunakan Nyala (flame)

Larutan yang mengandung sampel akan diaspirasikan kedalam burner

dalam bentuk butiran halus/ aerosol pada campuran gas yang dipakai. Tingginya

17

suhu nyala yang diperlukan untuk atomisasi setiap unsur berbeda, maka dari itu

ada beberapa campuran gas sesuai dengan pemanasan unsur logam, antara lain :

1. Udara- propana (1700-1900 0 C)

2. Udara- asetilen (1900-2200 0 C)

3. Nitrousoksida-asetilen (2700-3000 0 C)

b. Atomisasi Tanpa Nyala (Flameless)

(2700-3000 0 C) b. Atomisasi Tanpa Nyala ( Flameless ) Menurut GANDJAR (2007), teknik atomisasi dengan

Menurut GANDJAR (2007), teknik atomisasi dengan nyala dinilai kurang

peka karena atom gagal mencapai nyala, tetesan sampel yang masuk ke dalam

nyala terlalu besar, dan proses atomisasi kurang sempurna. Oleh karena itu,

muncullah

suatu

teknik

atomisasi

yang

baru

yakni

Pengatoman dapat dilakukan dalam tungku dari grafit

adalah sebagai berikut :

atomisasi

tanpa

nyala.

Tahapan atomisasinya

1)

Tahap

pengeringan:

pemanasan

pada

suhu

rendah

(±100 o C)

untuk

menghilangkan pelarut.

 

2)

Tahap pengabuan: suhu dinaikan sampai ±1300 o C sehingga molekul-

molekul senyawa organik dan senyawa anorganik mengalami pirolisis

(pemecahan tanpa oksigen). Uap atau gas pirolisis keluar dari alat

atomisasi dan yang tinggal adalah senyawa anorganik yang stabil dan

atom logam bebas.

 

3)

Tahap atomisasi: pada tahap ini tungku dapat dipanaskan sampai 2500 o C

untuk

mengurai senyawa yang tersisa menjadi bebas dan menggerakan

ke berkas sinar sehingga dapat mengabrsorbsi berkas sinar katoda yang

dilewatkan.

18

4)

Tahap

pendinginan:

suhu

diturunkan

sampai

±20 o C

untuk

menjaga

senyawa anorganik yang stabil dan atom logam bebas tidak terabukan

lebih lanjut dan tetap berada dalam keadaan dasar.

c. Atomisasi dengan pembentukan hidrida yang diikuti pemanasan (vapour

generation)

Cara ini digunakan untuk unsur As, Se, Sb, dan Hg yang mudah membentuk

senyawa hidrida berbentuk gas yang bila dipanaskan pada suhu 800 0 C atau lebih

akan terurai menjadi atomnya masing- masing.

2.5.3

Monokromator

Menurut

DAY&UNDERWOOD

(2002) monokromator adalah

suatu

piranti untuk mengisolasi suatu pita dengan panjang gelombang yang sempit dari

dalam energi cahaya yang memasukinya.

Monokromator berfungsi untuk

memilih atau mengecilkan garis resonansi (pancaran) tertentu dari garis-garis lain

(garis yang tidak diserap yang dipancarkan) yang berasal dari sumber radiasi. Ada

dua bentuk monokromator yang dipakai pada SSA yaitu monokromator celah dan

kisi difraksi (MULJA & SUHARMAN, 1995). Dua tipe monokromator itu adalah

prisma

dan

kisi

difraksi

(diffraction

gratting),

namun

yang

paling

sering

digunakan adalah kisi difraksi (diffraction gratting) karena menghasilkan sebaran

yang lebih beragam dan memiliki daya pisah tinggi.

19

2.5.4 Detektor

Detektor berfungsi mengubah intensitas radiasi yang datang menjadi arus

listrik. Pada SSA detektor yang umum dipakai adalah tabung penggandaan foton

(PMT = Photo Multiplier Tube Detector) (MULJA & SUHARMAN, 1995).

2.5.5 Penampil Data

Sistem penampil data terdiri dari penguat (amplifier) yang memperkuat

sinyal, pemproses sinyal untuk menghapus, merata-ratakan, mengatur tampilan

atau mengkonversi data dari data analog menjadi digital, dan tampilan data berupa

digital.

2.6

Gangguan pada Analisis secara Spektrofotometri Serapan Atom

Gangguan-gangguan pada analisis SSA adalah peristiwa-peristiwa yang

menyebabkan pembacaan besaran yang akan diukur, dalam hal ini absorbansi dari

atom-atom unsur

seharusnya.

yang dianalisis menjadi lebih kecil atau lebih besar dari

2.6.1 Gangguan Kimia

Gangguan kimia yaitu gangguan yang disebabkan oleh pembentukan

senyawa yang sukar menguap, seperti terbentuknya Ca 3 (PO 4 ) , terbentuknya oksida

logam atau hidroksida.

Hal-hal diatas akan menyebabkan nilai serapan turun

sehingga menimbulkan gangguan negatif.

Cara mengatasi gangguan kimia karena pembentukan senyawa stabil yaitu

dengan meningkatkan temperatur nyala, untuk memecahkan senyawa stabil yang

20

terbentuk, cara lain dengan menambahkan reagensia pelepas yang berfungsi

mengikat

senyawa

penganggu.

yang

menganggu,

dan

ekstraksi

analit

atau

unsur-unsur

2.6.2

Gangguan Matriks

 

Gangguan matriks yaitu gangguan yang disebabkan adanya unsur-unsur

atau

senyawa

lain

yang

terkandung

dalam

sampel.

Adanya

matriks

ini

menyebabkan sifat-sifat fisik dari setiap sampel baik berupa larutan atau padatan

akan tidak sama, terlebih jika dibandingkan dengan standar murni.

Adanya

perbedaan kandungan matriks ini akan mengakibatkan perbedaan pada proses

atomisasi dan penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang dianalisis. Menurut

UNDERWOOD (2002) gangguan utama dalam absorbsi atom adalah efek matriks

yang mempengaruhi proses pengatoman.

Baik jauhnya disosiasi menjadi atom-

atom pada suatu temperatur tertentu maupun laju proses bergantung sekali pada

komposisi keseluruhan dari sampel.

Pada metoda atomisasi dengan teknik penguapan, gangguan matriks ini

akan mempengaruhi ketika reaksi pada proses atomisasi penguapannya.

Pada

atomisasi

dengan

nyala

adanya

garam

dari

unsur

lain

akan

menyebabkan

kesalahan yang berarti jika kandungan garam tersebut mencapai orde persen,

sedangkan pada metode tungku grafit beberapa ratus mg/L garam sudah akan

menyebabkan

kesalahan

yang

berarti.

Gangguan

ini

dapat

diatasi

dengan

menyesuaikan kandungan komponen-komponen matriks mayor dengan jumlah

yang berlebihan pada preparasi standar.

Metoda analisis yang sangat baik

21

digunakan untuk mengatasi gangguan matriks ini adalah metode standar adisi

yaitu membuat sederet larutan sampel dengan konsentrasi yang sama, dan masing-

masing

ditambah

larutan

standar

dari

unsur

yang

akan

dianalisis

dengan

konsentrasi mulai dari nol sampai konsentrasi tertentu, serapan atau emisi masing-

masing larutan diukur pada panjang gelombang resonansinya, kemudian dibuat

kurva serapan atau emisi terhadap konsentrasi.

2.6.3 Gangguan Ionisasi

Unsur-unsur alkali, alkali tanah dan beberapa unsur lain dapat mengalami

ionisasi jika suhu terlalu tinggi. Jika analit yang akan diukur terionisasi di dalam

nyala

karena

eksitasi

termal,

maka

sensitivitas

pengukuran

terhadap

analit

menurun karena jumlah radiasi yang diserap sangat kecil.

2.6.4 Gangguan Spektral

Gangguan spektral timbul dari tumpang tindih antara frekuensi-frekuensi

garis resonansi yang terpilih dengan garis-garis yang dipancarkan oleh unsur lain

(BASSET, 1994).

Dengan kata lain, gangguan spektral disebabkan karena

tumpang

tindihnya

spesi

yang

diukur

dengan

disebabkan rendahnya resolusi dari monokromator.

spesi

penganggu.

Hal

ini

Sempitnya garis emisi pada

sumber hollow cathode menyebabkan gangguan garis spektral atom jarang terjadi.

Gangguan ini hanya terjadi bila garis spektra unsur lain tepat sama dengan

panjang gelombang yang digunakan.

Hal ini kemungkinannya sangat kecil,

karena panjang gelombang setiap serapan atom sangat karakterisrik.

Gangguan

ini dapat diatasi dengan memilih panjang gelombang karakteristik yang lain.

22

2.6.5 Serapan Latar

Sinar

yang

diberikan

lampu

katode

rongga

terkadang

diserap

oleh

senyawa-senyawa lain yang terkandung di dalam sampel atau di dalam nyala yang

diukur.

Adanya serapan ini menganggu pada serapan pengukuran serapan atom

dari unsur yang dianalisis, gangguan serapan ini disebut serapan latar (black

ground absorbtion). Serapan latar antara lain disebabkan dari serapan molekuler

dan senyawa-senyawa yang tidak teratomisasi dalam atomizer.

2.7 Verifikasi dan Validasi

Verifikasi metode adalah konfirmasi kembali melalui suatu pengujian dan

penyajian

bukti

bahwa

persyaratan

yang

telah

ditetapkan

telah

terpenuhi.

Verifikasi

perlu

dilakukan

dikarenakan

kondisi

laboratorium,

operator

dan

peralatan di laboratorium berbeda dengan kondisi pada waktu metode tersebut

divalidasi oleh laboratotium yang menggunakan metode tersebut. Oleh karena itu,

tujuan dari verifikasi metode adalah untuk menentukan apakah metode analisis

tersebut memiliki ketelitian, kepekaan ketepatan, limit deteksi, dan linieritas yang

baik atau tidak yang dikerjakan di laboratorium pengujian metode tersebut.

Metode

tersebut

dapat

digunakan

dalam

analisis

rutin

apabila

menghasilkan unjuk kerja yang baik dan memberikan hasil yang sesuai dengan

yang

diharpakan.

Oleh

karena

itu,

unjuk

kerja

yang

telah

dicapai

harus

dipertahankan selama mungkin dengan cara-cara tertentu, agar metode tersebut

dapat digunakan untuk jangka panjang. Umumnya dilakukan dengan pengendalian

mutu (quality control) dari analisis kimia, namun apabila unjuk kerja yang

23

diperoleh tidak baik maka tindakan selanjutnya adalah mencari sumber kesalahan

pada setiap langkah analisis sampai ditemukan teknik yang unjuk kerjanya

diterima secara analitik (Sumardi, 2002).

Validasi

metode

analisis

adalah

suatu

tindakan

konfirmasi

secara

pengujian terhadap suatu metode sehingga dapat melengkapi bukti-bukti untuk

menyatakan

kesesuaian

metode terhadap

persyaratan

dan

tujuan

yang telah

ditentukan.

Perbedaan antara verifikasi dan validasi metode yaitu verifikasi merupakan

suatu uji kinerja metode yang digunakan dalam sebuah laboratorium dengan

dibandingkan oleh suatu metode standar, sedangkan validasi metode adalah

konfirmasi suatu metode melalui pengujian dan pengadaan bukti bahwa syarat –

syarat tertentu dari suatu metode telah terpenuhi dan validasi metode dilakukan

pada metode bukan standar, metode yang dikembangkan sendiri, dan metode

standar yang dimodifikasi (Saputra, 2009).

2.7.1

Linearitas

Liniearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon

yang secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematik yang baik,

proporsional

terhadap

konsentrasi

analit

dalam

sampel.

Linieritas

biasanya

dinyatakan

dalam

istilah

variansi

sekitar

arah

garis

regresi

yang

dihitung

berdasarkan persamaan matematik data yang diperoleh dari hasil uji analit dalam

sampel dengan berbagai konsentrasi analit. Sebagai parameter adanya hubungan

linier digunakan koefisien korelasi r pada analisis regresi linier Y = a + bX.

24

Hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai b = 0 dan

pada arah garis (HARMITA, 2004).

2.7.2

Presisi

r = +1 atau -1 bergantung

Presisi adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil

uji individual yang diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata – rata jika

prosedur diterapkan secara berulang pada sampel – sampel yang diambil dari

campuran yang homogen.

Presisi diukur sebagai Simpangan Baku

(SB) atau

persen Simpangan Baku Relatif (% SBR).

Presisi dapat dinyatakan sebagai

keterulangan (repeatability) , ketertiruan (reproducibility) (HARMITA,2004).

Keterulangan adalah keseksamaan metode jika dilakukan berulang kali

oleh analis yang sama pada kondisi yang sama dan dalam interval waktu yang

pendek.

Keterulangan dinilai melalui pelaksanaan penetapan terpisah lengkap

terhadap sampel – sampel identik yang terpisah dari batch yang sama, jadi

memberikan ukuran keseksamaan pada kondisi yang berbeda.

Ketertiruan adalah keseksamaan metode jika dikerjakan pada kondisi yang

berbeda.

Biasanya analisis dilakukan dalam laboratorium – laboratorium yang

berbeda menggunakan peralatan, pereaksi, pelarut dan analis yang berbeda pula.

Analis dilakukan terhadap sampel – sampel yang diduga identik yang dicuplik

dari batch yang sama.

Ketertiruan dapat juga dilakukan dalam laboratorium

dengan menggunakan peralatan, pereaksi dan analisis yang berbeda. Ketertiruan

juga

merupakan

kemampuan

meniru

data

dalam

presisi

yang

ditetapkan.

Ketertiruan diungkapkan sebagai presisi secara laboratorium ( ICH, 1994 ).

25

2.7.3

Akurasi

Kecermatan (Akurasi) adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan

hasil analis dengan kadar analit yang sebenarnya. Kecermatan dinyatakan sebagai

persen perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan.

Kecermatan hasil

analisis sangat tergantung kepada sebaran galat sistematik di dalam keseluruhan

tahapan analisis.

dapat

dilakukan

Oleh karena itu untuk mencapai kecermatan yang tinggi hanya

dengan

cara

mengurangi

galat

sistematik

tersebut

seperti

menggunakan peralatan yang telah dikalibrasi, menggunakan pereaksi dan pelarut

yang baik, pengontrolan suhu, dan pelaksanaannya yang cermat, taat asas sesuai

prosedur (HARMITA, 2004).

Secara umum dikenal dua cara yang dapat digunakan untuk mengevaluasi

akurasi metode uji, yaitu dengan melakukan uji perolehan kembali (recovery test)

dan analisis standar.

menghasilkan

tingkat

Perolehan kembali merupakan kemampuan suatu metode

perolehan

kembali

sejumlah

konsentrasi

analit

yang

ditambahkan kedalam sampel secara pasti dengan adanya pengaruh suatu analisis.

Sedangkan

akurasi

dengan

analisis

standar

yaitu

kemampuan

metode

menghasilkan hasil analisis dan dibandingkan dengan nilai sesungguhnya.

Uji

akurasi ini dilakukan untuk melihat ketelitian alat dan analisis dalam membuat

konsentrasi larutan yang sesuai dengan kadar yang sebenarnya.

Akurasi dapat

dinyatakan sebagai perolehan kembali. Syarat nilai recovery yang dapat diterima

pada suatu metode analisis berdasarkan konsentrasi dalam matriks dapat dilihat

pada Tabel 2.2.

26

Tabel 2.2 Kriteria % Recovery

Analit Dalam Matriks

Rata-rata Recovery (%)

100 ppm 10 ppm 1 ppm 0,1 ppm 0,01 ppm 0,001 ppm 0,0001 (1 ppm) 0,00001 (100 ppb) 0,000001 (10 ppb) 0,0000001 (1 ppb)

98 – 102 98 – 102 97 – 103 95 – 105 90 – 107 80 – 110 80 – 110 80 – 110 60 – 115 40 – 120

Sumber : HARMITA (2004).

2.8 Limit Deteksi Instrumen (LDI) dan Limit Kuantitasi (LK)

Analisis yang dilakukan dengan konsentrasi yang sangat rendah akan

menghasilkan respon yang sangat rendah pula. Oleh karena itu, sulit untuk

memutuskan

apakah

respon

yang ditimbulkan

berasal

dari

komponen

yang

ditentukan

atau

dari

noise

yang

dihasilkan

oleh

instrumen.

Ketidakpastian

terhadap hasil analisis ini dapat di atasi dengan menentukan limit deteksi.

Limit deteksi adalah konsentrasi terendah dari suatu analit dalam contoh

yang masih dapat diukur oleh alat maupun metode, sedangkan limit deteksi

instrumen (LDI) merupakan konsentrasi terendah yang dapat terdeteksi oleh alat,

dengan konsentrasi

yang terukur merupakan sinyal noise dari blanko pada

instrumen yang digunakan (ICH, 1994).

27

Dalam melakukan suatu hasil analisis, sering dihadapkan dengan suatu

masalah, yaitu apabila analisis tersebut tidak memberikan hasil yang diinginkan.

Beberapa masalah dalam analisis kimia yaitu kesulitan dalam mendeteksi dan

menentukan unsur atau senyawa dalam jumlah contoh yang sedikit, merupakan

konsentrasi yang sangat kecil dalam contoh yang lebih banyak atau bahkan

menentukan konentrasi yang rendah dalam contoh yang sedikit.

Uji LDI dilakukan dengan cara pengukuran analit dengan konsentrasi

terkecil yang diulang minimal tujuh kali, kemudian dari data yang diperoleh

diolah dan ditetapkan rata-rata absorbansi dan standar deviasinya. Nilai dari LDI

dihitung dengan rumus sebagai berikut :

LDI

=

Rata-rata konsentrasi blanko + (3 x SD)

yang dapat diukur atau

dinyatakan dalam bentuk angka oleh alat ukur dengan tingkat kepercayaan tertentu. Untuk mengetahui nilai limit kuantisasi dapat menggunakan rumus:

Limit kuantitasi adalah

batas ukur terendah

Limit kuantitasi = Rata-rata konsentrasi blanko + 10SD

2.9 Spektrofotometri UV-Vis

Spektrometri UV-Vis adalah salah satu metode analisis yang didasarkan

pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media. Berdasarkan

penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media tergantung pada tebal

tipisnya media dan konsentrasi warna spesies yang ada pada media tersebut.

Spektrometri Visible umumnya disebut kalori, oleh karena itu pembentukan

warna

pada

metode

ini

sangat

menentukan

ketelitan

hasil

yang

diperoleh.

28

Pembentukan warna dilakukan dengan cara penambahan pengompleks yang

selektif terhadap unsur yang ditentukan (Fatimah dkk.,2005).

Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada

pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada

panjang gelombang ynag spesifik dengan menggunakan monokromator prisma

atau kisi difraksi dan detector vacum phototube atau tabung foton hampa. Alat

yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu suatu alat yang digunakan untuk

menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan

megukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari

konsentrasi. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang

gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang

ditransmisikan atau diabsorbsi (Harjadi,1990).

BAB III

OBJEK PRAKTIK KERJA

3.1 Sejarah dan Perkembangan PT Nutrifood Indonesia

PT Nutrifood Indonesia (NFI) merupakan perusahaan yang bergerak di

bidang healthy food dan minuman serbuk buah instan. Didirikan pada tahun 1979

di Semarang atas Prakarsa Bapak Hari Budiarto Darmawan, M.Sc.

PT

Nutrifood

Indonesia

terus

berusaha

untuk

memajukan

dan

mengembangkan produk-produknya sesuai dengan tuntutan zaman.Secara harfiah

Nutrifood berarti makanan yang bergizi. Oleh karena itu, produk yang dihasilkan

adalah produk-produk untuk kesehatan. Dua macam produk yang dihasilkan oleh

PT Nutrifood Indonesia, yaitu:

a. Produk Diet

Produk Diet ini untuk konsumen yang menderita penyakit Diabetes melitus

atau kencing manis. Selain itu, produk ini digunakan juga untuk konsumen yang

ingin menjaga tubuh langsingnya supaya tidak terjadi kegemukan.

b. Produk non Diet

Produk non diet ini ditujukan untuk konsumen umum tidak terkecuali.

29

30

30 Gambar 3.1 Logo Perusahaan PT Nutrifood Indonesia memiliki logo perusahaan berbentuk seperti

Gambar 3.1 Logo Perusahaan

PT

Nutrifood

Indonesia

memiliki

logo

perusahaan

berbentuk

seperti

kecambah.

Logo

ini

memiliki

filosofi

bahwa

PT

Nutrifood

akan

menjadi

perusahaan yang terus-menerus berkembang demi mewujudkan indonesia yang

sehat, layaknya seperti kecambah.

3.2 Visi dan Misi Perusahaan

Visi :

Helping our customer to achieve a longer healthy life through our

reputable and leading brands”

Misi :

Inspiring a Nutritious Life”

Untuk

mewujudkan

misi

tersebut,

PT

Nutrifood

Indonesia

berusaha

memahami

pelanggan

dalam

setiap

fase

kehidupan

yang

dialaminya,

mengidentifikasi

kebutuhan

unik

mereka,

dan

memberikan

solusi,

terutama

melalui produk dan pelayanan bernutrisi untuk meraih kehidupan yang lebih sehat

31

dan berkualitas. PT Nutrifood Indonesia hadir untuk menginspirasi kehidupan

yang bernutrisi.

3.3 Budaya Perusahaan

PT

Nutrifood

PT

Nutrifood

memiliki

budaya

perusahaan

(corporate

culture) tersendiri sebagai ciri khas dan jati diri keluarga besar PT Nutrifood.

Budaya ini dikenal dengan sebutan I -CARE. Budaya ini merupakan akronim dari

beberapa kata dalam bahasa Inggris, yaitu:

1. Integrity

Integrity atau nilai moral yang tinggi adalah dasar dari kepercayaan dalam

hubungan satu sama lain. Contohnya bersikap jujur, bertanggung jawab atas

pekerjaan dan hasil kerja.

2. Collaboration

Collaboration atau kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama adalah

prinsip dalam bekerja di suatu organisasi. Budaya ini diharapkan agar masing-

masing anggota organisasi lebih mementingkan kepentingan bersama, membantu

dan menciptakan lingkungan pekerjaan yang menyenangkan bagi anggota lainnya.

3.

Innovation

Innovation

atau

menciptakan

ide-ide

baru,

bisa

berupa

terobosan

(breakthrough)

atau

perbaikan

terus

menerus

(continuous

improvement)

lingkungan yang kondusif bagi team untuk bekerjasama mencapai visi.

32

4. Respect

Respect atau menghargai orang lain adalah dasar yang paling mendalam dari

komunikasi yang sehat antara manusia. Semua orang ingin untuk dihargai dan

mendapat perlakuan baik.

5. Excellence

Excellenceatau berusaha untuk mencapai hasil yang lebih baik merupakan

dasar dari profesionalisme dalam bekerja.

3.4 Lokasi Perusahaan

PT Nutrifood Indonesia menempati tiga lokasi yang berbeda, yaitu:

1. Lokasi I : Jl. Rawabali II/No. 3, Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta

Timur. Lokasi ini merupakan lokasi yang diperuntukkan untuk kegiatan

perkantoran dari PT Nutrifood Indonesia.

2. Lokasi

II

:

Jl. Raya Ciawi No. 280 A Ciawi

- Bogor.

Lokasi ini

merupakan

lokasi

pabrik

dan

Gudang

Logistik

dari

PT

Nutrifood

Indonesia.

LokasiIII

3. :

Jl.

Selayar

II

Blok

H

7-8,

KawasanIndustri

MM2100

Cibitung, Bekasi. Lokasi ini merupakan lokasi pabrik dan gudang logistik

dari PT. Nutrifood Indonesia.

BAB IV

KEGIATAN LABORATORIUM

3.1 Jenis Kegiatan

Kegiatan ini bertujuan untuk menguji unjuk kerja metode penetapan kadar

besi secara Spektrofotometri Serapan Atom yang mengacu pada Association of

Official

Analytical

Chemist

memenuhi

persyaratan

yang

(AOAC)

Nomor

telah

ditetapkan,

999.11.

Jika

maka

metode

hasil

verifikasi

tersebut

dapat

digunakan untuk analisis rutin di Laboratorium Kimia PT Nutrifood Indonesia.

3.2 Bahan

Bahan yang akan digunakan dalam percobaan ini, adalah :

1. Akuabides

2. Larutan HCl 6M

3. Larutan Standar Fe 100 mg/L

4. Larutan Standar Fe 1000mg/L

5. Sampel (vitamin premix)

3.3 Alat

Alat yang akan digunakan dalam percobaan ini, adalah :

1. Cawan porselen

2. Corong

3. Erlenmeyer 100 mL

4. Elektrotermal

33

34

5. Hot plate merk Labinco L32

6. Kertas saring Whatman No. 44

7. Labu takar 50 mL

8. Labu takar 100 mL

9. Neraca analitik merk Metler Toledo

10. Pipet eppendorf dengan kapasitas 1 mL

11. Pipet eppendorf dengan kapasitas 10 mL

12. Pipet tetes

13. Spektrofotometer Serapan Atom merk Shimadzu

14. Tanur merk Nabertherm

3.4 Metode Percobaan

Percobaan dilakukan melalui tiga tahap

yaitu tahap persiapan, tahap

pengujian dan tahap pengolahan data.

Pada tahap persiapan meliputi pembuatan

larutan standar Fe, pembuatan deret standar Fe dan preparasi contoh. Pada tahap

pengujian dilakukan pengujian parameter uji verifikasi meliputi linieritas, presisi,

akurasi, limit deteksi instrumen dan limit kuantitasi dengan mengukur absorbansi

pada setiap larutan yang akan dianalisis menggunakan spektrofotometer serapan

atom pada panjang gelombang 283,3 nm.

dengan mengolah data secara statistika.

Pada tahap pengolahan data dilakukan

Data hasil uji dibandingkan dengan

syarat keberterimaan yang telah ditetapkan oleh PT Nutrifood Indonesia.

35

4.5

Prosedur Percobaan

4.5.1

Tahap Persiapan

4.5.1.1

Pembuatan Larutan Standar Induk Fe 100 mg/L

Larutan

standar

Fe

1000

mg/L

dipipet

sebanyak

10

mL

dengan

menggunakan pipet eppendorf, lalu dimasukkan ke labu takar 100 mL.

Larutan

ditambahkan akuabides sampai tanda tera dan dihomogenkan.

4.5.1.2 Pembuatan deret larutan standar Fe (0,5; 1,0; 2,0; 6,0; dan 8,0 mg/L)

Larutan standar induk Fe 100 mg/L dipipet sebanyak 0,5 mL; 1,0 mL; 2,0

mL; 6,0 mL; dan 8,0 mL, lalu dimasukkan ke dalam masing-masing labu takar

100 mL menggunakan pipet eppendorf.

tanda tera dan dihomogenkan.

Larutan ditambahkan akuabides sampai

4.5.1.3 Preparasi penentuan kadar Fe pada vitamin premix

Contoh ditimbang teliti sebanyak 0,5 gram ke dalam cawan porselen

kemudian diarangkan di atas elektrotermal hingga contoh bebas asap putih.

Contoh yang telah menjadi arang kemudian diabukan di dalam tanur selama 15

jam dengan kenaikan suhu secara bertahap (150, 250, 350, 450, 500 dan 501) o C.

Kenaikan suhu pada saat proses pengabuan dapat dilihat pada Lampiran 1.

Contoh yang telah menjadi abu kemudian dilarutkan dengan HCl 6 M

sebanyak 5 mL. Lalu dipanaskan diatas hot plate sampai sample larut. Sample

yang telah larut dimasukkan ke labu takar 100 mL lalu ditambahkan akuabides

sampai

tanda

tera

dan

dihomogenkan.

Kemudian

dipipet

sebanyak

2

mL

36

menggunakan pipet eppendorf dan dimasukan kedalam labu takar 50 mL lalu

ditambahkan akuabides sampai tanda tera dan dihomogenkan. Larutan disaring

kedalam erlenmeyer menggunakan corong yang dilapisi kertas saring Whatman

No.44.

Selanjutnya

larutan

siap

diukur

absorbansinya

menggunakan

Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang gelombang 283,3 nm.

4.5.1.4 Preparasi untuk Uji Presisi

Contoh ditimbang teliti sebanyak 0.5 gram ke dalam cawan porselen.

Setelah itu, contoh diarangkan di atas hot plate pada suhu 100-400 o C hingga

contoh bebas asap putih. Contoh yang telah menjadi arang kemudian diabukan di

dalam tanur selama 15 jam dengan kenaikan suhu secara bertahap (150, 250, 350,

450, 500 dan 501) o C.

Contoh yang telah menjadi abu kemudian dilarutkan

dengan HCl 6 M sebanyak 5 mL.

Contoh yang telah larut dimasukkan ke labu

takar 100 mL lalu ditambahkan akuabides sampai tanda tera dan dihomogenkan.

Kemudian dipipet sebanyak 2 mL menggunakan pipet eppendorf dan dimasukan

kedalam labu takar 50 mL lalu ditambahkan akuabides sampai tanda tera dan

dihomogenkan

Larutan disaring kedalam erlenmeyer menggunakan corong yang

dilapisi

kertas

saring

Whatman

no.44.

Selanjutnya

larutan

siap

diukur

absorbansnya

menggunakan

Spektrofotometer

Serapan

Atom

pada

panjang

gelombang 283,3 nm.

37

4.5.1.5 Preparasi untuk Uji Akurasi

Contoh ditimbang teliti sebanyak 0.5 gram ke dalam cawan porselen

kemudian ditambahkan 7,5 mL larutan standar Pb 1000 mg/L. Setelah itu, contoh

diarangkan di atas hot plate pada suhu 100-400 o C hingga contoh bebas asap putih.

Contoh yang telah menjadi arang kemudian diabukan di dalam tanur selama 15

jam dengan kenaikan suhu secara bertahap (150, 250, 350, 450, 500 dan 501) o C.

Contoh yang telah menjadi abu kemudian dilarutkan dengan HCl 6 M sebanyak 5

mL. Contoh yang telah larut dimasukkan ke labu takar 100 mL lalu ditambahkan

akuabides sampai tanda tera dan dihomogenkan. Kemudian dipipet sebanyak 2

mL menggunakan pipet eppendorf dan dimasukan kedalam labu takar 50 mL lalu

ditambahkan akuabides sampai tanda tera dan dihomogenkan. Larutan disaring

kedalam erlenmeyer menggunakan corong yang dilapisi kertas saring Whatman

no.44.

Selanjutnya

larutan

siap

diukur

absorbansinya

menggunakan

Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang gelombang 283,3 nm.

4.5.1.6 Preparasi untuk Uji Limit Deteksi Instrumen dan Limit Kuantisasi

Larutan standar Fe 0,5 mg/L dipipet sebanyak 2,00; 3,00 dan 4,00 mL ke

masing-masing

labu

takar

100

mL

menggunakan

pipet

eppendorf.

Larutan

ditambahkan akuabides sampai dengan tanda tera, lalu dihomogenkan.

38

4.5.1.7 Pembuatan deret larutan standar Fe (0,2; 0,4; 0,6; dan 0,8 mg/L) dengan

cara spektrofotometri

Larutan standar induk Fe 10 mg/L dipipet sebanyak 1,0 mL; 2,0 mL; 3,0

mL; dan 4,0 mL, lalu dimasukkan ke dalam masing-masing labu takar 50 mL

menggunakan pipet eppendorf. Larutan ditambahkan 0.4 mL asam klorida pekat,

2 mL hidroksilamin HCl, 10 mL buffer pH 4 dan 2 mL orto-penantrolin,

kemudian ditambahkan akuabides sampai tanda tera dan dihomogenkan.

4.5.1.8 Preparasi

penentuan

spektrofotometri

kadar

Fe

pada

vitamin

premix

dengan

cara

Contoh ditimbang teliti sebanyak 0,5 gram ke dalam cawan porselen

kemudian diarangkan di atas elektrotermal hingga contoh bebas asap putih.

Contoh yang telah menjadi arang kemudian diabukan di dalam tanur selama 15

jam dengan kenaikan suhu secara bertahap (150, 250, 350, 450, 500 dan 501) o C.

Kenaikan suhu pada saat proses pengabuan dapat dilihat pada Lampiran 1.

Contoh yang telah menjadi abu kemudian dilarutkan dengan HCl 1:1

sebanyak 20 mL. Lalu dipanaskan diatas waterbatch selama 30 menit. Kemuadian

sample

disaring

dan

dimasukkan

ke

labu

takar

100

mL

lalu

ditambahkan

akuabides sampai tanda tera dan dihomogenkan. Kemudian dipipet sebanyak 1

mL menggunakan pipet eppendorf dan dimasukan kedalam labu takar 250 mL lalu

ditambahkan 0.4 mL asam klorida pekat, 2 mL hidroksilamin HCl, 10 mL buffer

pH 4 dan 2 mL orto-penantrolin dan ditambahkan akuabides sampai tanda tera

39

dan dihomogenkan. Selanjutnya larutan siap diukur absorbansinya menggunakan

Spektrofotometer pada panjang gelombang 510 nm.

4.5.2

Tahap Pengujian

4.5.2.1

Pengujian Linieritas

Uji linieritas dilakukan dengan mengukur absorbansi larutan deret standar

timbel secara berurutan dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi yaitu 0,5;

1,0; 2,0; 6,0 dan 8,0 mg/L.

Larutan deret standar tersebut diukur absorbansinya

menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang gelombang 283,3

nm. Kemudian dibuat grafik hubungan antara konsentrasi terhadap absorbansi

sebagai kurva kalibrasi sehingga dapat diketahui koefisien korelasinya.

4.5.2.2

Pengujian Presisi

 

Uji presisi dilakukan dengan mengukur kadar besi dalam larutan uji

presisi

sebanyak

30

kali

ulangan.

Pengukuran

dilakukan

menggunakan

Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang gelombang 283,3 nm. Pada uji ini

dihitung persentase simpangan baku relatif (%SBR).

4.5.2.3

Pengujian Akurasi

 

Uji akurasi dilakukan dengan mengukur kadar besi dalam larutan uji

akurasi

sebanyak

25

kali

ulangan.

Pengukuran

dilakukan

menggunakan

Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang gelombang 283,3 nm. Pada uji ini

dihitung

nilai

Recovery).

perolehan

kembali

dari

standar

yang

telah

ditambahkan

(%

40

4.5.2.4 Pengujian Limit Deteksi Instrumen dan Limit Kuantitasi

Uji limit deteksi instrumen dilakukan trial and error dengan cara

mengukur absorbansi dari larutan besi dengan konsentrasi 0,015 mg/L sebanyak

20 kali ulangan. Pengukuran dilakukan menggunakan Spektrofotometer Serapan

Atom

pada panjang gelombang 283,3 nm.

Sedangkan uji limit kuantitasi

dilakukan dengan mengukur absorbans dari larutan besi dengan konsentrasi 0,050

mg/L

sebanyak

20

kali

ulangan.

Pengukuran

dilakukan

menggunakan

Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang gelombang 283,3 nm.

4.5.2.5 Pengujian pembandingan metode

Uji perbandingan ini dilakukan dengan cara mengukur sampel dengan

menggunakan metode spektrofotometri dengan panjang gelombang 510 nm yang

kemudian hasilnya di bandingkan dengan hasil dari metode spektrofotometri

serapan atom dengan panjang gelombang 283.3 nm.

4.5.3 Tahap pengolahan Data

Data hasil pengujian yang diperoleh kemudian diolah secara statistik.

Perhitungan data pengujian setiap parameter adalah sebagai berikut :

4.5.3.1 Linieritas

Berdasarkan data yang diperoleh dibuat kalibrasi standar dari persamaan regresi dan ditentukan koefisien korelasi (r) dengan rumus :

r =

 

ି

೔సభ ೔సభ

 

೔సభ

 

 
 

ି (

೔సభ

)

 

ି (

೔సభ

)

೔సభ

 

೔సభ

 

41

Persamaan regresi :

y = a + bx

b =

೔సభ

ି

೔సభ ೔సభ

೔సభ

ି (

೔సభ

)

 

= [

 

ି൫௕

 

]

 

೔సభ

೔సభ

a

 

Keterangan :

r

= Koefisien korelasi

 

a

= Intersep

 

b

= Slope

x

= Konsentrasi standar timbel (mg/L)

y

= Absorbansi

 

n

= Banyaknya larutan standar

Syarat keberterimaan pada pengukuran linieritas yaitu 0,9950.

4.5.3.2

Presisi

Berdasarkan data yang diperoleh dihitung rata-rata, simpangan baku (SB)

dan persentase simpangan baku relatif (%SBR).

Rata-rata

(ݔ̅) =

೔సభ

Keterangan :

ݔ̅

= rata-rata (mg/L)

ݔ

= jumlah data (mg/L)

42

n = banyak data

Simpangan Baku (SB)

SB =

೔సభ

( ି௫̅) ௡ିଵ

%SBR =

ௌ஻

̅

ܺ 100%

Keterangan :

x i

= nilai data pengukuran (mg/L)

<