Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Laporan penting sekali dalam suatu audit atau proses atestasi lainnya karena
laporan menginformasikan pemakai informasi mengenai apa yang dilakukan auditor
dan kesimpulan yang diperolehnya. Dari sudut pandang pemakai, laporan dianggap
sebagai produk utama dari proses atestasi.
Profesi menyadari arti penting keseragaman pelaporan sebagai suatu cara untuk
menghindari keracauan. Para pemakai bisa mengalami banyak kesulitan dalam
menafsirkan laporan auditor jika masing-masing mengikuti caranya sendiri. Oleh
karenanya, telah ditetapkan standar profesional yang merinci dan merumuskan berbagai
jenis laporan audit yang harus disertakan pada laporan keuangan, pemakaian kata-kata
dalam laporan tersebut diseragamkan, tetapi dapat dibuat laporan audit yang berbeda
untuk situasi dan kondisi yang berbeda pula. (Arens & Loebbecke, 1997).
Audit laporan keuangan adalah penilaian atas suatu perusahaan atau badan hukum
lainnya (termasuk pemerintah) sehingga dapat dihasilkan pendapat yang independen
tentang laporan keuangan harus memiliki baik bagi pihak internal maupun eksternal
perusahaan. Selain itu, laporan audit memiliki statertentu dan beberapa penyimpangan
dari standar laporan audit, dan auditor harus mengetahui semuanya.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini:
1. Apa hubungan antara akuntansi dengan pengauditan?
2. Mengapa pengauditan diperlukan, dan manfaat serta keterbatasan pengauditan?
3. Apa yang dimaksud dengan standar audit?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan makalah ini dibuat:
1. Menjelaskan hubungan antara akuntansi dengan pengauditan.
2. Menjelaskan mengapa pengauditan diperlukan, dan manfaat serta keterbatasan
pengauditan.
3. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan standar audit.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 LATAR BELAKANG PENGAUDITAN LAPORAN KEUANGAN


2.1.1 HUBUNGAN AKUNTANSI DENGAN PENGAUDITAN LAPORAN
KEUANGAN
Sebagian besar audit, terutama audit terhadap laporan keuangan terdapat
hubungan yang erat dan banyak melibatkan data akuntansi. Sebagaimana
diketahui akuntansi didefiniskan sebagai poses mengidentifikasi, mengukur, dan
mengkomunikasikan informasi keuangan kepada pihak yang berkepentingan.
Pelaporan keuangan merupakan tahap pengkomunikasian dalam akuntansi adalah
penyampaian informasi akuntansi dalam bentuk laporan keuangan, meskipun
konsep pelaporan keuangan tidak terbatas hanya pada laporan keuangan. Subyek
suatu audit laporan keuangan adalah berupa data akuntansi yang ada dalam buku-
buku, catatan, dan laporan keuangan dari entitas yang diaudit. Asersi-asersi
tentang tindakan dan kejadian ekonomi yang menjadi perhatian utama auditor
seringkali merupakan asersi tentang transaksi akuntansi dan kejadian akuntansi
lainnya, serta saldo-saldo akun yang merupakan hasil dari transaksi dan kejadian
tersebut. Selain itu, kriteria yang ditetapkan untuk asersi akuntansi pada
umumnya adalah kesesuaian dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.
Oleh karena itu seorang akuntan yang ahli di bidang akuntansi tidak harus
mengerti tentang pengauditan, tetapi seorang auditor harus memahami akuntansi.
Akuntansi menghasilkan laporan keuangan dan informasi penting lainnya,
sedangkan pengauditan biasanya tidak menghasilkan data akuntansi, melainkan
meningkatkan nilai informasi yang dihasilkan proses akuntansi dengan cara
melakukan penilaian secara kritis atas informasi tersebut dan selanjutnya
mengkomunikasikan hasil tersebut kepada pihak yang berkepentingan.

2
Berikut adalah gambar yang menunjukkan adanya hubungan yang erat
antara auditing dengan akuntansi, namun mereka memiliki proses yang berbeda.

PELAPORAN KEUANGAN
AKUNTANSI AUDITING
Berlandaskan Standar Kerangka
Berlandaskan Standar Auditing
Pelaporan Keuangan
Tanggungjawab Manajemen Tanggungjawab Auditor
Proses
Mendapatkan dan mengevaluasi bukti
Menganalisis kejadian dan transaksi
tentang laporan keuangan
Memeriksa bahwa laporan keuangan
Mengukur dan mencatat data transaksi telah disusun sesuai dengan kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku
Menyatakan pendapat (opini) dalam
Mengelompokkan dan meringkas data
laporan auditor
Menyusun laporan keuangan sesuai
dengan kerangka pelaporan keuangan Menyerahkan laporan kepada klien
yang berlaku
Mendistribusikan laporan keuangan dan laporan auditor kepada para pemegang
saham dalam laporan tahunan perusahaan

2.1.2 ASUMSI YANG MENDASARI PENGAUDITAN: DATA LAPORAN


KEUANGAN BISA DIVERIFIKASI
Pengauditan didasarkan pada asumsi bahwa data laporan keuangan bisa
diverifikasi. Data dikatakan bisa diverifikasi apabila dua orang atau lebih yang
memiliki kualifikasi tertentu, masing-maisng melakukan pemeriksaan secara
independen atas data tertentu, dan hasil pemeriksaan tersebut diperoleh
kesimpulan yang sama tentang data yang diperiksanya. Auditor membutuhkan
dasar yang memadai untuk menyatakan suatu pendapat tentang kewajaran laporan
keuangan. Dalam melakukan pemeriksaan, auditor mengumpulkann bukti untuk
menentukan validitas dan ketepatan perlakuan akuntansi atas transaksi dan saldo.
Dalam konteks ini, validitas berarti otentik, benar, baik, atau berdasar, dan

3
ketepatan berarti sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dan
kebiasaan.
2.1.3 KONDISI-KONDISI YANG MENYEBABKAN TIMBULNYA
KEBUTUHAN AKAN PENGAUDITAN
Para pengambil keputusan (kreditur, investor, pengguna laporan lainnya)
dihadapkan pada informasi laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen
dalam bentuk laporan keuangan. Agar dapat digunakan untuk berbagai
kepentingan yang berbeda, maka laporan keuangan harus disusun berdasarkan
Kerangka Pelaporan Keuangan Yang Berlaku. Para pengguna laporan keuangan
untuk memastikan kewajaran informasi tersebut memerlukan adanya
pengauditan, dikarenakan beberapa alasan atau kondisi.
1) Informasi dibuat oleh pihak lain
Dalam dunia modern, pengambilan keputusan hampir tidak mungkin
memperoleh pengetahuan tangan pertama tentang organisasi yang menjadi
bisnis mereka. Oleh karena itu mereka terpaksa harus mengandalkan diri
pada informasi yang dibuat oleh orang lain. Apabila informasi berasal dari
pihak lain, maka kemungkinan (disengaja atau tidak disengaja) adanya
informasi yang tidak benar menjadi bertambah besar.
2) Bias dan motivasi pembuat informasi
Apabila informasi disusun oleh pihak lain yang tujuannya tidak selaras
dengan tujuan pengambilan keputusan, maka informasi bisa menjadi bias
demi keuntungan si pembuat informasi.
3) Volume data
Apabila organisasi menjadi semakin besar, maka data transaksi biasanya
juga semakin bertambah banyak. Bertambahnya jumlah transaksi ini bisa
menyebabkan terjadinya kesalahan dalam pencatatan.
4) Kerumitan transaksi
Dalam beberapa puluh tahun terakhir ini, pertukuran antar organisasi
semakin bertambah kompleks dan akibatnya semakin sulit untuk
mencatatnya secara tepat.

4
2.1.4 CARA MENGURANGI RISIKO INFORMASI
 Pemakai laporan melakukan sendiri verifikasi atas informasi
Pemakai laporan datang ke perusahaan untuk melakukan pemeriksaan atas
catatan dan mencari informasi mengenai keandalan laporan. Namun, cara
ini tidak praktis untuk dikerjakan karena biayanya yang mahal.
 Pemakai membebankan risiko informasi pada manajemen
Apabila pemakai laporan mengandalkan keputusannya pada informasi
dalam laporan dan sebagai akibat keputusan tersebut ia menderita kerugian,
maka pemakai laporan keuangan dapat menuntut ganti rugi kepada
manajemen. Namun, pembebanan kerugian kepada manajemen kadang-
kadang tidak dapat menutup kerugian yang diderita pemakai informasi.
 Disediakan laporan keuangan auditan
Cara yang umum ditempuh untuk mendapatkan informasi yang dapat
diandalkan adalah dengan mengharuskan dilakukan audit secara
independen. Informasi yang telah diaudit kemudian digunakan dalam proses
pemgambilan keputusan dengan asumsi bahwa informasi tersebut lengkap,
akurat, dan tidak bias.
2.1.5 MANFAAT EKONOMIS SUATU AUDIT
Manfaat ekonomis suatu audit laporan keuangan antara lain:
- Akses ke pasar modal. Undang-undang Pasar Modal mewajibkan
perusahaan publik untuk diaudit laporan keuangannya agar bisa didaftar dan
bisa menjual sahamnya di pasar modal.
- Biaya modal menjadi lebih rendah. Perusahaan yang mengauditkan laporan
keuangannya, lebih mudah dalam rangka mendapatkan kredit dari bank atau
dalam upaya mendapatkan persyaratan pinjaman yang lebih
menguntungkan.
- Pencegahan terjadinya kekeliruan dan kecurangan. Apabila para karyawan
mengetahui akan dilakukannya audit oleh auditor independen, mereka
cenderung untuk lebih berhati-hati agar dapat memperkecil terjadinya
kekeliruan dalam pelaksanaan fungsi akuntansi dan memperkecil
kemungkinan terjadinya penyakahgunaan aset perusahaan.
- Perbaikan dalam pengendalian dan operasional. Berdasarkan ovservasi
yang dilakukan selama auditor melaksanakan audit, auditor independen

5
seringkali dapat memberi berbagai saran untuk memperbaiki pengendalian
dan mencapai efisiensi operasional yang lebih besar.
2.1.6 KETERBATASAN AUDIT
Auditor tidak bisa memberi jaminan penuh bahwa laporan keuangan yang
telah diauditnya bebas dari kesalahan penyajian material yang timbul akibat
kesalahan ataupun kecurangan. Laporan keuangan yang merupakan hasil dari
proses akuntansi disusun bedasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
Standar tersebut menyediakan lebih dari satu metode alternatif yang sama-sama
dimungkinkan untuk diterapkan pada suatu kejadian atau transaksi tertentu.
Selain itu, SAK yang berlaku bersifat fleksibel, yaitu memberi keleluasaan
kepada penyusun laporan keuangan untuk mempengaruhi informasi keuangan
yang disajikan dan oleh karenanya berpengaruh kepada keandalan dan ketelitian
informasi tersebut.
Keterbatasan audit yang timbul karena proses audit sendiri bisa terjadi
karena beberapa hal. Idealnya auditor bisa memperoleh bukti tangan pertama
untuk mendukung setiap asersi yang melekat dalam laporan keuangan, tetapi hal
seperti itu kadang-kadang tidak praktis karena biaya yang mahal. Begitu juga jika
auditor mengaudit seluruh transaksi dan saldo yang membentuk laporan
keuangan, kemungkinan biaya yang mahal menjadi tidak praktis untuk dilakukan.
Oleh karena itu, sudah menjadi praktik yang lazim dalam pengauditan, auditor
melakukan audit secara sampling. Ini berarti bahwa audit dilakukan atas dasar
pengujian terhadap sebagian data yang dipilih sebagai sampel. Pemeriksaan
dengan cara demikian memang mengandung risiko tidak ditemukannya kesalahan
penyajian material, namun dengan pemilihan metode sampling yang tepat, risiko
akan dapat dikurangi.
2.2 PIHAK-PIHAK YANG BERINTERAKSI DENGAN AUDITOR
Dalam suatu audit atas laporan keuangan, auditor menjalin hubungan profesional
dengan beberapa pihak, yaitu manajemen, pihak yang bertanggungjawab atas tata
kelola, auditor internal, dan pemegang saham.
2.2.1 MANAJEMEN
Manajemen adalah individu atau kelompok individu dengan tanggungjawab
eksekutif untuk melaksanakan operasi entitas. Untuk mendapatkan bukti yang
diperlukan dalam suatu audit, auditor seringkali meminta data perusahaan yang
bersifat rahasia kepada manajemen. Oleh karena itu sangatlah penting bagi

6
auditor untuk menjalin hubungan baik dengan manajemen atas dasar saling
percaya dan saling menghormati.
2.2.2 PIHAK YANG BERTANGGUNGJAWAB ATAS TATA KELOLA
Standar audit (SA 260) mewajibkan auditor untuk berkomunikasi dengan
pihak yang bertanggungjawab atas kelola dalam audit atas laporan keuangan.
Komunikasi yang dimaksud oleh SA ini adalah komunikasi dua arah yang efektif,
yakni komunikasi dengan ppihak yang bertanggungjawab atas kelola dalam
rangka mendapatkan informasi sebagai bukti audit dan kewajiban auditor untuk
memberi informasi kepada pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola untuk
berbagai keperluan. Menurut SA 260 pihak yang bertanggungjawab atas tata
kelola adalah individu atau organisasi atau organisasi-organisasi (seperti wali
amanat korporasi) yang memiliki tanggungjawab untuk mengawasi arah strategis
entitas dan pemenuhan kewajiban yang berkaitan dengan akuntabilitas entitas.
Menurut SA 260.9 tujuan auditor melakukan komunikasi dengan pihak
yang bertanggungjawab atas tata kelola adalah :
- Untuk mengkomunikasikan secara jelas kepada pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola tentang tanggungjawab auditor
yangberkaitan dengan audit atas laporan keuangan, dan gambaran umum
perencanaan lingkup dan saat audit.
- Untuk memperoleh informasi yang relevan dengan audit dari pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola
- Untuk menyediakan kepada pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola
secara tepat waktu, hasil observasi audit yang signifikan dan relevan
terhadap tanggungjawab mereka untuk mengawasi proses pelaporan
keuangan
- Untuk mendukung komunikasi dua arah yang efektif antara auditor dengan
pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola.
2.2.3 AUDITOR INTERNAL
Auditor internal adalah auditor yang bekerja pada suatu entitas dan oleh
karenanya merupakan pegawai dan tunduk pada manajemen entitas dimana ia
bekerja. Fungsi audit internal mencakup antara lain pemeriksaan, pengevaluasian,
pemantauan kecukupan dan efektivitas pengendalian internal. Tujuan fungsi
auditor internal sangat bervariasi dan bergantung pada ukuran dan strukur entitas,

7
serta ketentuan manajemen. Aktivitas fungsi audit internal dapat mencakup satu
atau lebih hal-hal sebagai berikut:
 Pemantauan pengendalian internal
 Pemeriksaan atas informasi keuangan dan informasi operasional
 Penelaahan aktivitas operasi
 Penelaahan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
 Pengelolaan risiko
 Tata kelola
2.2.4 PEMEGANG SAHAM
Para pemegang saham mengandalkan pada laporan keuangan yang telah
diaudit untuk mendapatkan keyakinan bahwa manajemen telah melaksanakan
tanggungjawabnya dengan baik. Oleh karena itu auditor memiliki tanggungjawab
yang penting terhadap para pemegang saham sebagai pemakai utama laporan
auditor.
2.3 STANDAR AUDIT
Standar audit adalah pedoman umum untuk membantu para auditor dalam
memenuhi tanggung jawab profesional mereka dalam pengauditan laporan keuangan
historis. Standar tersebut mencakup pertimbangan kualitas profesional antara lain
persyaratan kompetensi dan independensi, pelaporan, dan bukti.
Seperti telah dikemukakan pada bab yang lalu, Institut Akuntan Publik Indonesia
(IAPI) sebagai organisasi profesi berkewajiban untuk menetapkan standar auditing.
Umtuk melaksanakan tugas tersebut IAPI membentuk Dewan Standar yang ditetapkan
sebagai badan teknis senior dari IAPI untuk menerbitkan pernyataan-pernyataan
tentang standar auditing. Sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam era
globalisasi, IAPI telah memutuskan untuk mengadopsi International Auditing and
Assurance Standarts (ISA) yang diterbitkan oleh International Auditing and Assurance
Standarts Boards (IAASB) dan dengan demikian tidak memberlakukan lagi standar
auditing yang selama ini berlaku. Sebagai langkah pertama IAPI menerjemahkan ISA
ke dalam Bahasa Indonesia dan diberi judul Standar Profesi Akuntan Piblik (SPAP) dan
menetapkan memberlakukan SPAP terhitung mulai 1 Januari 2013 untuk emiten.
2.3.1 ISI DAN STRUKTUR STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK
Isi dan struktur SPAP wajib dipahami oleh para auditor dan calon auditor,
karena SPAP merupakan paduan utama yang wajib dilaksanakan dalam

8
pengauditan laporan keuangan historis berdasarkan standar audit. Walaupunisinya
mengandung banyak persamaan, sistematika, dan struktur SPAP yang sekarang
berlaku sangat berbeda bila dibandingkan dengan SPAP yang berlaku
sebelumnya.

2.3.2 AUDIT INFORMASI KEUANGAN HISTORIS

200-299 Prinsip-Prinsip Umum Dan Tanggungjawab


SA 200 Tujuan Keseluruhan Auditor Independen Dan Pelaksanaan Audit
Berdasarkan Standar Audit
SA210 Persetujuan Atas Ketentuan Perikatan Audit
SA220 Pengendalian Mutu Untuk Audit Atas Laporan Keuangan
SA230 Dokumentasi Audit
SA240 Tanggungjawab Auditor Terkait Dengan Kecurangan Dalam Suatu
Audit Atas Laporan Keuangan
SA250 Pertimbangan Atas Peraturan Perundang-Undangan Dalam Audit
Atas Laporan Keuangan
SA260 Komunikasi Dengan Pihak Yang Bertanggungjawab Atas Tata Kelola
SA 265 Pengomunikasian Defisiensi Dalam Pengendalian Internal Kepada
Pihak Yang Bertanggungjawab Atas Tata Kelola Dan Manajemen
300-499 Penilaian Resiko Dan Respons Terhadap Risiko Yang Telah
Dinilai
SA 300 Perencanaansuatu Suatu Audit Atas Laporan Keuangan
SA 315 Pengidentifikasian Dan Penilaian Risiko Kesalahan Penyajian
Material Melalui Pemahaman Atas Entitas Dan Lingkungannya
SA 320 Materialitas Dalam Tahap Perencanaan Dan Pelaksanaan Audit
SA 330 Respons Auditor Terhadap Risiko Yang Telah Dinilai
SA 402 Pertimbangan Audit Terkait Dengan Entitas Yang Menggunakan
Suatu Organisasi Jasa
SA 450 Pengevaluasian Atas Kesalahan Penyajian Yang Diidentifikasi
Selama Audit
500-599 Bukti Audit
SA 500 Bukti Audit
SA 501 Bukti Audit – Pertimbangan Spesifik Atas Unsur Pilihan

9
SA 505 Konfirmasi Eksternal
SA 510 Perikatan Audit Tahun Pertama – Saldo Awal
SA 520 Prosedur Analitis
SA 530 Sampling Audit
SA 540 Audit Atas Estimasi Akuntansi, Termasuk Estimasi Akuntansi Nilai
Wajar, Dan Pengungkapan Yang Bersangkutan
SA 550 Pihak Berelasi
SA 560 Peristiwa Kemudian
SA 570 Kelangsungan Usaha
SA 580 Representasi Tertulis
600-699 Penggunaan Pekerjaan Pihak Lain
SA 600 Pertimbangan Khusus – Audit Atas Laporan Keuangan Grup
(Termasuk Pekerjaan Auditor Komponen)
SA 610 Penggunaan Pekerjaan Auditor Internal
SA 620 Penggunaan Pekerjaan Pakar Auditor
700-799 Kesimpulan Audit Dan Pelaporan
SA 700 Perumusan Suatu Pendapat Dan Pelaporan Atas Laporan Keuangan
SA 705 Modifikasi Atas Opini Dalam Laporan Auditor Independen
SA 706 Paragraf Penekanan Suatu Hal Dan Paragraf Hal Lain Dalam Laporan
Auditor Independen
SA 710 Informasi Komparatif – Angka-Angka Yang Berkaitan Dan Laporan
Keuangan Komparatif
SA 720 Tanggungjawab Auditor Terkait Dengan Informasi Lain Dalam
Dokumen-Dokumen Yang Berisi Laporan Keuangan Auditan
800-899 Area-Area Khusus
SA 800 Pertimbangan Khusus – Audit Atas Laporan Keuangan Yang Disusun
Sesuai Dengan Kerangka Bertujuan Khusus
SA 805 Pertimbangan Khusus – Audit Atas Laporan Keuangan Tunggal Dan
Suatu Unsur, Akun, Atau Pos Tertentu Dalam Laporan Keuangan
SA 810 Periklanan Untuk Melaporkan Ikhtisar Laporan Keuangan

10
2.3.3 STRUKTUR STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK
Struktur setiap standar audit yang tercakup dalam Standar Profesional
Akuntan Publik mengikuti struktur yang terdapat dalam ISA yang
mengelompokkan informasi dalam seksi yang berbeda, yaitu: Pengantar, Tujuan,
Definisis, Ketentuan, dan Materi Penerapan dan Penjelasan Lain.
1) Pengantar
Materi pengantar bisa mencakup informasi yang berhubungan dengan
tujuan, lingkup, dan pokok bahasan dari standar audit yang bersangkutan,
disamping itu dimuat pula tanggungjawab auditor dan pihak lainnya dalam
konteks standar audit yang bersangkutan.
2) Tujuan
Setiap standar audit (SA) berisi pernyataan yang jelas tentang tujuan auditor
mngenai hal-hal yang dibahas dalam SA tersebut.
3) Definisi
Agar diperoleh pemahaman yang lebih baik tentang SA, istilah-istilah
terkait didefinisikan dalam setiap SA.
4) Ketentuan
Setiap tujuan didukung dengan ketentuan yang jelas. Ketentuan selalu
dinyatakan dengan frasa “auditor harus”.
5) Materi Penerapan dan Penjelasan Lain
Materi penerapan dan penjelasan lain menjelaskan secara lebih tepat makna
dari suatu ketentuan atau apa yang dimaksudkan untuk dicakup, atau
menyertakan contoh-contoh prosedur yang mungkin cocok dalam situasi
yang dihadapi.
2.4 LAPORAN AUDITOR
Laporan auditor sangat penting dalam penugasan audit dan asurans karena
laporan mengomunikasikan temuan auditor. Pengguna laporan keuangan dapat
mengandalkan pada laporan auditor untuk mendapatkan asurans tentang laporan
keuangan entitas (perusahaan). Laporan auditor adalah tahapan terakhir dari
keseluruhan proses audit.
2.4.1 BAGIAN-BAGIAN DALAM LAPORAN AUDITOR
Suatu laporan auditor wajar tanpa pengecualian berisi sembilan bagian sebagai
berikut:

11
1) Judul laporan. Standar audit mewajibkan bahwa laporan auditor harus
memiliki sebuah judul yang mengindikasikan secara jelas bahwa laporan
tersebut adalah laporan seorang auditor independen. Suatu judul yang
mengindikasikan bahwa laporan auditor independen, sebagai contoh,
“Laporan Auditor Independen” yang di dalamnya auditor telah memenuhi
seluruh ketentuan etika yang relevan tentang independensi dan, oleh karena
itu, membedakan laporan auditor independen dari laporan-laporan yang
diterbitkan oleh pihak lain.
2) Pihak yang Dituju. Laporan auditor harus ditujukan kepada pihak
sebagaimana yang diharuskan menurut ketentuan perikatan. Peraturan
perundang-undangan seringkali menentukan kepada siapa laporan auditor
ditujukan dalam yuridiksi tersebut. Laporan auditor pada umumnya
ditujukan kepada pihak-pihak yang untuk mana laporan tersebut disusun,
seringkali kepada pemegang saham atau pihak bertanggungjawab atas tata
kelola keuangannya diaudit.
3) Paragraf Pendahuluan. Paragraf pendahuluan dalam laporan auditor
harus:
(a) Mengidentifikasi entitas yang laporan keuangannya diaudit;
(b) Menyatakan bahwa laporan keuangan telah diaudit;
(c) Mengidentifikasi judul setiap laporan keuangan yang menjadi bagian
dari laporan keuangan;
(d) Merujuk pada ikstisar kebijakan akuntansi signifikan dan informasi
penjelasan lainnya; dan
(e) Menyebutkan tanggal atau periode yang dicakup oleh setiap laporan
yang menjadi bagian dari laporan keuangan.
Paragraf pendahuluan menyatakan, sebagai contoh, bahwa auditor
telah mengaudit laporan keuangan terlampir dari entitas, yang terdiri dari
(sebutkan judul setiap laporan keuangan yang membentuk suatu laporan
keuangan lengkap menurut kerangka pelaporan keuangan yang berlaku,
yang menyebutkan tanggal atau periode yang dicakup oleh setiap laporan
keuangan tersebut), serta ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan dan
informasi penjelasan lainnya.
Opini auditor mencakup laporan keuangan lengkap sebagaimana
didefinisikan oleh kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. Sebagai

12
contoh, dalam kebanyakan kasus kerangka pelaporan keuangan yang
bertujuan umum, laporan keuangan mencakup: laporan posisi keuangan,
laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus
kas, dan ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan dan informasi penjelasan
lainnya. Dalam beberapa yurisdiksi, informasi tambahan dapat juga
dipertimbangkan sebagai suatu bagian integral dari laporan keuangan.
4) Tanggungjawab Manajemen atas Laporan Keuangan. Laporan auditor
harus mencakup suatu bagian dengan judul “Tanggungjawab Manajemen
(atau istilah semestinya yang lainnya) atas laporan keuangan. Bagian dari
laporan auditor ini menjelaskan tanggungjawab pihak-pihak dalam
organisasi yang bertanggungjawab atas penyusunan laporan keuangan.
Laporan auditor tidak perlu merujuk secara khusus pada “manajemen”,
tetapi harus menggunakan istilah yang tepat dalam konteks kerangka
hukum dalam yurisdiksi tertentu. Dalam beberapa yurisdiksi, pengacuan
yang tepat dapat menggunakan “pihak yang bertanggungjawab atas tata
kelola”.
SA 200 menjelaskan premis, yang berkaitan dengan tanggungjawab
manajemen dan, jika relevan, pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola,
yang terhadapnya suatu audit berdasarkan SA dilakukan. Manajemen dan,
jika relevan, pihak yang bertanggungjawab untuk menyusun laporan
keuangan menurut kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. Manajemen
juga menerima tanggungjawab atas pengendalian internal yang dipandang
perlu oleh manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan
yang bebas dari keslahan penyajian material, baik yang disebabkan karena
kecurangan maupun kesalahan. Penjelasan tentang tanggungjawab tersebut,
karena hal ini membantu untuk menjelaskan kepada pengguna yang dituju
premis yang melandasi suatu audit.
5) Tanggungjawab Auditor. Laporan auditor harus mencakup suatu bagian
dengan judul “Tanggungjawab Auditor”. Laporan auditor menyatakan
bahwa tanggungjawab auditor adalah untuk menyatakan suatu opini atas
laporan keuangan berdasarkan audit untuk mengontraskannya dengan
tanggungjawab manajemen atas penyusunan laporan keuangan.
Laporan auditor harus menyatakan bahwa audit dilaksanakan
berdasarkan Standar Audit yang ditetapkan Institut Akuntan Publik

13
Indonesia. Pengacuan pada standar digunakan untuk menyampaikan kepada
pengguna laporan auditor bahwa standar tersebut mengharuskan auditor
untuk mematuhi ketentuan etika dan bahwa auditor merencanakan dan
melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah
laporan keuangan bebas dari kesalahan penyajian material.
6) Opini Auditor. Laporan auditor harus mencakup suatu bagian dengan judul
“Opini”. Ketika menyatakan suatu opini tanpa modifikasi atas laporan
leuangan yang disusun berdasarkan suatu kerangka penyajian wajar,
laporan auditor harus, kecuali jikadiharuskan lain oleh peraturan
perundang-undangan, menggunakan frasa di bawah ini:
“Laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang
material, …., sesuai dengan standar Akuntansi Keuangan di Indonesia”
Jika rujukan pada kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dalam
opini auditor bukan pada Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia yang
ditetapkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan
Indonesia atau Standar Akuntansi Pemerintahan yang ditetapkan oleh
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Kementrian Keuangan Republik
Indonesia, maka opini auditor harus mengidentifikasi yurisdiksi asal
kerangka tersebut.
7) Tanggungjawab Pelaporan Lainnya. Jika auditor menyatakan
tanggungjawab pelaporan lainnya dalam laporan auditor atas laporan
keuangan yang merupakan tambahan terhadap tanggungjawab auditor
berdasarkan SA untuk melaporkan laporan keuangan, maka tanggungjawab
pelaporan lain tersebut harus dinyatakan dalam suatu bagian terpisah dalam
laporan auditor yang diberi judul “Pelaporan Lain atas Ketentuan Hukum
dan Regulasi”, atau judul lain yang dianggap tepat menurut isi bagian ini.
Jika laporan auditor mengandung suatu bagian terpisah atas
tanggungjawab pelaporan lainnya, maka judul, pernyataan, dan penjelasan
tersebut dalam butir 1 sampai dengan 6 di atas harus diberi subjudul
“Pelaporan atas Laporan Keuangan”. “Pelaporan Lain atas Ketentuan
Hukum dan Regulasi” harus disajikan setelah “Pelaporan atas Laporan
Keuangan”.

14
8) Tanda Tangan Auditor. Laporan auditor harus ditandatangani. Tanda
tangan auditor dilakukan dalam nama kantor akuntan publik (KAP) dan
nama rekan. Setelah itu, laporan auditor harus mencantumkan nomor izin
KAP dan nomor izin rekan yang menandatangani laporan auditor.
9) Tanggal Laporan Audit. Laporan auditor harus diberi tanggal tidak lebih
awal dari tanggal ketika auditor telah memperoleh bukti audit yang cukup
dan tepat yang mendasari opini auditor atas laporan keuangan, termasuk
bukti bahwa:
(a) Seluruh laporan yang membentuk laporan keuangan, termasuk catatan
atas keuangan terkait, telah disusun; dan
(b) Pihak-pihak dengan wewenang yang diakui telah menyatakan bahwa
mereka telah mengambil tanggungjawab atas laporan keuangan
tersebut.
Tanggal laporan auditor menginformasikan kepada pengguna laporan
auditor bahwa auditor telah mempertimbangkan pengaruh peristiwa dan
transaksi yang disadari oleh auditor dan yang terjadi sampai dengan tanggal
tersebut. Tanggungjawab auditor atas peristiwa dan transaksi setelah
tanggal laporan auditor diatur dalam SA 560. Tanggal laporan auditor
adalah tanggal ketika prosedur audit telah selesai dilaksanakan secara
substansial dan kesimpulan berdasarkan bukti audit yang cukup dan tepat
telah ditarik.
2.4.2 KONDISI-KONDISI UNTUK PERUMUSAN OPINI WAJAR TANPA
PENGECUALIAN
Auditor harus merumuskan suatu opini tentang apakah laporan keuangan
disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku.
Untuk merumuskan opini tersebut, auditor harus menyimpulkan apakah
auditor telah memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan
secara keseluruhan bebas dari kesalahn penyajian material, baik yang disebabkan
oleh kecurangan maupun keslahan. Kesimpulan tersebut harus memperhitungkan:
(a) Kesimpulan auditor, berdasarkan SA 330, bahwa bukti audit yang cukup
dan tepat telah diperoleh;

15
(b) Kesimpulan auditor, berdasarkan SA 450, bahwa kesalahan penyajian yang
tidak dikoreksi adalah tidak material, baik secara individual maupun secara
kolektif; dan
(c) Evaluasi yang diharuskan oleh paragraf 12-15 SA700 sebagai berikut:
 Auditor harus mengevaluasi apakah laporan keuangan disusun, dalam
semua hal yang material, sesuai dengan ketentuan dalam kerangka
pelaporan keuangannya yag berlaku. Pengevaluasian tersebut harus
mencakup pertimbangan atas aspek kualitatif praktik akuntansi
entitas, termasuk indikator kemungkinan penyimpangan dalam
pertimbangan manajemen (SA 700. 12)
 Secara khusus, auditor harus mengevaluasi apakah, dari sudut
pandang ketentuan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku:
(a) Laporan keuangan mengungkapkan kebijakan akuntansi
signifikan yang dipilih dan diterapkan secara memadai;
(b) Kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan konsisten
dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dan sudah
tepat;
(c) Estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen adalah wajar;
(d) Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah
relevan, dapat diandalkan, dapat diperbandingkan, dan dapat
dipahami;
(e) Laporan keuangan menyediakan pengungkapan yang memadai
untuk memungkinkan pengguna laporan keuangan yang dituju
memahami pengaruh transaksi dan peristiwa material terhadap
informasi yang disampaikan dalam laporan keuangan; dan
(f) Terminologi yang digunakan dalam laporan keuangan,
termasuk judul setiap laporan keuangan sudah tept (SA 700. 13)
 Ketika laporan keuangan disusun berdasarkan suatu kerangka
penyajian wajar, suatu pengevaluasian yang diharuskan oleh SA
700.12-13 sebelumnya juga harus mencakup apakah laporan
keuangan mencapai penyajian wajar. Pengevaluasian auditor tentang
apakah laporan keuangan mencapai penyajian wajar harus mencakup
pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

16
(a) Penyajian, struktur, dan isi laporan keuangan secara
keseluruhan; dan
(b) Apakah laporan keuangan, termasuk atas catatan atas laporan
keuangan terkait mencerminkan transaksi dan peristiwa yang
mendasarinya dengan suatu cara yang mencapai penyajian
wajar.
 Auditor harus mengevaluasi apakah laporan keuangan merujuk secara
memadai pada, atau menjelaskan, kerangka pelaporan keuangan yang
berlaku.
Apabila semua persyaratan sebelumnya terpenuhi, suatu laporan audit
dengan opini wajar tanpa pengecualian dapat diterbitkan untuk
laporan keuangan bertujuan umum yang disusun berdasarkan
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku (kerangka pelaporan
wajar).
2.4.3 MODIFIKASI TERHADAP OPINI AUDITOR
Auditor harus memodifikasi opini dalam laporan auditor ketika:
(a) Auditor menyimpulkan bahwa, berdasarkan bukti audit yang diperoleh,
laporan keuangan secara keseluruhan tidak bebas dari kesalahpahaman
penyajian material; atau
(b) Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk
menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari
penyajian material.
2.4.4 SIFAT KESALAHAN PENYAJIAN MATERIAL
SA 700 mengharuskan auditor, untuk merumuskan suatu opini atas laporan
keuangan, untuk menyimpulkan apakah keyakinan memadai telah diperoleh
tentang laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian
material. Kesimpulan ini memperhitungkan pengevaluasian auditor atas keslahan
penyajian yang tidak dikoreksi, jika ada, dalam laporan keuangan berdasarkan SA
450.
SA 450 mengidentifikasi suatu kesalahan penyajian sebagai suatu selisih
antara angka, klasifikasi, penyajian, atau pengungkapan dari suatu pos yang
dilaporkan dalam laporan keuangan beserta angka, klasifikasi, penyajian, atau
pengungkapan yang diharuskan untuk pos tersebut sesuai dengan kerangka

17
pelaporan keuangan yang berlaku. Oleh karena itu, suatu kesalahan penyajian
material dalam laporan keuangan dapat timbul dalam kaitannya dengan:
a. Ketetapan Kebijakan Akuntansi yang Dipilih
 Dalam hubungannya dengan ketetapan kebijakan akuntansi yang
dipilih oleh manajemen, kesalahan penyajian material dalam laporan
keuangan dapat timbul ketika:
(a) Kebijakan akuntansi yang dipilih tidak konsisten dengan
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku; atau
(b) Laporan keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangan,
tidak mencerminkan transaksi dan peristiwa dalam suatu cara
untuk mencapai penyajian wajar.
 Kerangka pelaporan keuangan seringkali mengandung ketentuan
akuntansi untuk, dan pengungkapan tentang, perubahan dalam
kebijakan akuntansi. Ketika entitas telah mengubah kebijakan
akuntansi signifikan yang dipilihnya, suatu kesalahan timbul ketika
entitas tidak mematuhi ketentuan tersebut.
b. Penerapan Kebijakan Akuntansi yang Dipilih
 Dalam hubungannya dengan penerapan kebijakan akuntansi yang
dipilih, kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan dapat
timbul:
(a) Ketika manajemen tidak menerapkan kebijakan akuntansi yang
dipilih secra konsisten sesuai dengan kerangka pelaporan
keuangan, termasuk ketika manajemen tidak menerapkan
kebijakan akuntansi yang dipilih secara konsisten antar periode
atau terhadap transaksi dan peristiwa serupa (konsisten dalam
penerapan); atau
(b) Karena metode penerapan kebijakan akuntansi yang dipilih
(seperti suatu kesalahan dalam penerapan yang tidak disengaja).
c. Ketetapan Kecukupan Pengungkapan dalam Laporan Keuangan
Dalam kaitannya dengan ketepatan atau kecukupan pengungkapan dalam
laporan keuangan; kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan
dapat timbul ketika:

18
(a) Laporan keuangan tidak mencantumkan seluruh pengungkapan yang
diharuskan oleh kerangka pelaporan keuangan yang berlaku;
(b) Pengungkapan dalam laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku; atau
(c) Laporan keuangan tidak menyajikan pengungkapan yang diperlukan
untuk mencapai penyajian wajar.
d. Sifat Ketidakmampuan auditor untuk Memperoleh Bukti Audit yang
Cukup dan Tepat
Ketidakmampuan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan
tepat (disebut juga sebagai pembatasan ruang lingkup audit) dapat timbul
dari:
(a) Kondisi di luar pengendalian entitas;
(b) Kondisi yang berkaitan dengan sifat atau waktu dari pekerjaan
auditor; atau
(c) Pembatasan yang dilakukan oleh manajemen.
e. Contoh-contoh kondisi di luar pengendalian entitas, mencakup sebagai
berikut:
 Catatan akuntansi entitas telah musnah
 Catatan akuntansi suatu komponen signifikan disita oleh otoritas
pemerintahan hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.
f. Contoh-contoh kondisi yang berkaitan dengan sifat atau waktu
pekerjaan auditor, mencakup:
 Entitas diharuskan untuk menggunakan metode akuntansi ekuitas
untuk suatu entitas teraosiasi, dan auditor tidak dapat memperoleh
bukti audit yang cukup dan tepat tentang informasi keuangan entitas
terasosiasi tersebut untuk mengevaluasi apakah metode ekuitas
tersebut telah diterapkan dengan tepat.
 Waktu penunjukan auditor menyebabkan auditor tidak dapat
mengobservasi penghitungan fisik persediaan.
 Auditor menentukan bahwa pelaksanaan prosedur substantif saja
adalah tidak cukup, tetapi pengendalian entitas tidak efektif.
g. Contoh-contoh pembatasan yang dilakukan oleh manajemen

19
 Manajemen mencegahauditor untuk mengobservasi penghitungan
fisik persediaan.
 Manajemen mencegah auditor untuk melakukan konfirmasi eksternal
atas saldo akun-akun tertentu.

2.4.5 PENENTUAN TIPE MODIFIKASI TERHADAP OPINI AUDITOR


Modifikasi yang harus dilakukan terhdapa opini auditor, tergantung pada
materialitas dan seberapa pervasif dampak dari faktor penyebab modifikasi
tersebut terhadap kewajaran laporan keuangan sebagai keseluruhan. Pengertian
pervasif dalam konteks kesalahan penyajian, untuk menggambarkan pengaruh
keslahan penyajian terhadap laporan keuangan atau pengaruh kesalahan penyajian
yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan, jika ada, yang tidak dapat
terdeteksi karena ketidakmampuan untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan
tepat. Pengaruh pervasif terhadap laporan keuangan adalah pengaruh yang,
menurut pertimbangan auditor:
(i) Tidak terbatas pada unsur, akun, atau pos tertentu laporan keuangan;
(ii) Jika dibatasi, merupakan atau dapat merupakan suatu proporsi yang
substansial dalam laporan keuangan; atau
(iii) Dalam hubungannya dengan pengungkapan, adalah fundamental bagi
pemahaman pengguna laporan keuangan.
Tipe modifikasi terhadap opini auditor terdiri dari:
(1) Opini wajar tanpa pengecualian
(2) Opini tidak wajar
(3) Opini menyatakan pendapat

1) Opini Wajar dengan Pengecualian


Auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian ketika:
(a) Auditor, setelah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat,
menyimpulkan bahwa kesalahan penyajian, baik secara individual
maupun secara agregasi, adalah material, tetapi tidak pervasif,
terhadap laporan keuangan; atau

20
(b) Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat
yang mendasari opini, tetapi auditor menyimpulkan bahwa pengaruh
kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi yang mungkin timbul
terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat menjadi material, tetapi
tidak pervasif.
2) Opini Tidak Wajar
Auditor harus menyatakan suatu opini tidak wajar ketika auditor,
setelah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, menyimpulkan
bahwa kesalahn penyajian, baik secara individual maupun secara agregasi,
adalah material dan pervasif terhadap laporan keuangan.
3) Opini Tidak Menyatakan Pendapat
Auditor harus menyatakan pendapat ketika auditor tidak dapat
memperoleh bukti yang cukup dan tepat yang mendasari opini, dan auditor
menyimpulkan bahwa pengaruh kesalahan penyajian materialyang tidak
terdeteksi mungkin timbul terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat
bersifat material dan pervasif.
Auditor harus tidak menyatakan pendapat ketika, dalam kondisi yang
sangat jarang melibatkan banyak ketidakpastian, auditor menyimpulkan
bahwa, meskipun telah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat
tentang setiap ketidakpastian tersebut, adalah tidak mungkin untuk
merumuskan suatu opini atas laporan keuangan karena interaksi yang
potensial dari ketidakpastian tersebut dan pengaruh kumulatif
ketidakpastian tersebut yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan.

4) Konsekuensi dari Ketidakmampuan untuk Memperoleh Bukti Audit


yang Cukup dan Tepat yang Disebabkan oleh Pembatasan yang
Dilakukan oleh Manajemen setelah Auditor Menerima Perikatan
 Jika, setelah menerima perikatan, auditor menyadari bahwan
manajemen telah melakukan pembatasan terhadap ruang lingkup
audit yang menurut auditor kemungkinan akan menyebabkan opini
wajar dengan pengecualian atau opini tidak menyatakan pendapat atas
laporan keuangan, maka auditor harus meminta manajemen untuk
mencabut pembatasan tersebut.

21
 Jika manajemen menolak untuk mencabut pembatasan tersebut, maka
auditor harus mengomunikasikan hal tersebut kepada pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola, kecuali jika pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola terlibat dalam pengelolaan entitas,
dan menentukan apakah terdapat kemungkinan untuk melakukan
prosedur alternatif untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan
tepat.
 Jika auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan
tepat, maka auditor harus menentukan implikasinya sebagai berikut:
(a) Jika auditor menyimpulkan bahwa pengaruh kesalahan
penyajian yang tidak terdetekdi, adalah material, tetapi tidak
pervasif, maka auditor harus menyatakan opini wajar dengan
pengecualian; atau
(b) Jika auditor menyimpulkan bahwa pengaruh kesalahan
penyajian yang tidak terdeteksi yang mungkin timbul terhadap
laporan keuangan, jika ada, adalah material dan pervasif
sehingga suatu opini wajar dengan pengecualian tidak akan
memadai untuk mengomunikasikan signifikan kondisi tersebut,
maka auditor harus:
(i) Menarik diri dari audit, jika diperkenankan dan
memungkinkan menurut perundang-undangan yang
berlaku; atau
(ii) Jika penarikan diri dari audit sebelum menerbitkan
laporan auditor tidak diperkenankan atau tidak
memungkinkan, maka auditor harus tidak menyatakan
pendapat atas laporan keuangan.
 Jika auditor menarik diri seperti dijelaskan sebelumnya, sebelum
menarik diri, auditor harus mengomunikasikan kesalahan penyajian
yang teridentifikasi selama audit yang dapat menyebabkan modifikasi
terhadap opini dengan pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola.

22
5) Pertimbangan Lain yang Berkaitan dengan Opini Tidak Wajar atau
Opini Tidak Menyatakan Pendapat
Ketika menurut auditor suatu opini tidak wajar atau opini tidak
menyatakan pendapat perlu dinyatakan atas laporan keuangan secara
keseluruhan, laporan auditor juga tidak diperkenankan untuk
mencantumkan opini tanpa modifikasian, berdasarkan kerangka pelaporan
keuangan yang sama, atas suatu laporan keuangan tunggal atau satu atau
lebih unsur, akun, atau pos tertentu laporan keuangan. Pencantuman opini
tanpa modifikasian tersebut dalam laporan yang sama dalam kondisi
tersebut akan bertentangan dengan opini tidak wajar atau opini tidak
menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan.
2.4.6 BENTUK DAN ISI LAPORAN AUDITOR KETIKA OPINI
DIMODIFIKASI
1) Basis Untuk Paragraf Modifikasi
 Ketika auditor memodifikasi opini atas laporan keuangan, auditor
harus, sebagai tambahan terhadap suatu unsur tertentu yang
diharuskan SA 700, mencantumkan suatu paragraf dalam laporan
auditor yang menyediakan suatu penjelasan tentang hal-hal yang
menyebabkan modifikasi tersebut. Auditor harus menempatkan
paragraf tersebut persis sebelum paragraf opini dalam laporan auditor
dan menggunakan judul “Basis untuk Opini Wajar dengan
Pengecualian”, “Basis untuk Opini Tidak Wajar”, atau “Basis untuk
Opini Tidak Menyatakan Pendapat”, sesuai dengan kondisinya.
 Jika terdapat suatu kesalahan penyajian material dalam laporan
keuangan yang berkaitan dengan jumlah tertentu dalam laporan
keuangan (termasuk pengungkapan kuantitatif), maka auditor harus
mencantumkan suatu penjelasan dan kuantifikasi tentang dampak
keuangan yang diakibatkan oleh kesalahan penyajian tersebut dalam
paragraf basis untuk modifikasi, kecuali jika tidak prkatis. Jika tidak
praktis untuk mengkuantifikasi dampak keuangan, maka auditor harus
menyatakan hal tersebut dalam paragraf basis untuk modifikasi.
 Jika terdapat suatu kesalahan penyajian material dalam laporan
keuangan yang berkaitan dengan pengungkapan kualitatif (naratif),

23
maka auditor harus mencantumkan suatu penjelasan tentang
bagaimana terjadi kesalahan penyajian dalam pengungkapan tersebut
dalam paragraf basis untuk modifikasi.
 Jika terdapat suatu kesalahan penyajian material, dalam laporan
keuangan yang berkaitan dengan tidak diungkapkannya informasi
yang seharusnya diungkapkan, maka auditor harus:

(a) Mendiskusikan informasi yang tidak diungkapkan tersebut


dengan pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola;
(b) Menjelaskan dalam paragraf basis untuk modifikasi tentang
sifat informasi yang dihilangkan; dan
(c) Kecuali dilarang oleh peraturan perundang-undangan,
mencantumkan pengungkapan yang dihilangkan, apabila
dianggap praktis dan auditor telah memperoleh buktu audit
yang cukup dan tepat tentang informasi yang dihilangkan
tersebut.
 Jika modifikasi dihasilkan dari ketidakmampuan untuk memperoleh
bukti audit yang cukup dan tepat, maka auditor harus mencantumkan
alasan ketidak mampuan tersebut dalam pargraf basis untuk
modifikasi.
 Bahkan, ketika auditor telah menyatakan suatu opini tidak wajar atau
tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan, auditor harus
menjelaskan dalam paragraf basis untuk modifikasi alasan untuk
setiap hal lain yang disadari oleh auditor yang memerlukan
modifikasi terhadap opini, dan pengaruh yang diakibatkannya.
2) Paragraf Opini
 Ketika auditor memodifikasi opini audit, auditor harus menggunakan
judul “Opini Wajar dengan Pengecualian”, “Opini Tidak Wajar” atau
“opini Tidak Menyatakan Pendapat” sesuai dengan kondisinya, untuk
paragraf opini.
 Ketika auditor menyatakan suatau opini wjaar dengan pengecualian
karena terdpata kesalahan penyajian material dalam laporan
keuangan, auditor haru mrnyatakan dalam paragraf opini bahwa,

24
menurut opini auditor, kecuali untuk dampak hal-hal yang dijelaskan
dalam laporan paragraf Basis untuk Opini Wajar dengan
Pengecualian:
(a) Laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal
yang material, sesuai dengan kerangka laporan keuangan yang
berlaku, ketika melaporkan berdasarkan kerangka penyajian
wajar; atau
(b) Laporan keuangan telah disusun, dalam semua hal yang
material, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang
berlaku, ketika melaporkan berdasarkan kerangka kepatuhan.
 Ketika auditor menyatakan suatu opini tidak wjara, auditor harus
menyatakan signifikansi paragraf opini bahwa, menurut opini auditor,
karena signifikansi hal-hal yang dijelaskan dalam paragraf Basis
untuk Opini Tidak Wajar:
(a) Laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar sesuai dengan
kerangka pelaporan keuangan yang belaku, ketika melaporkan
berdasarkan kerangk penyajian wajar; atau
(b) Laporan keuangan tidak disusun, dalam semua hal yang
material, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang
berlaku, ketika melaporkan berdasarkan kerangka kepatuhan.
 Ketika auditor tidak menyatakan pendapat karena
ketidakmampuannya untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan
tepat.
3) Penjelasan tentang Tanggungjawab Auditor Ketika Auditor
Menyatakan suatu Opini Wajar dengan Pengecualian atau Opini
Tidak Wajar
 Ketika auditor menyatakan suatu opini wajar dengan pengecualian
atau opini tidak wajar, auditor harus mengubah penjelasan tentang
tanggungjawab auditor untuk menyatakan bahwa auditor yakin bahwa
bukti audit yang diperoleh oleh auditor adalah cukup dan tepat untuk
menyediakan suatu basis bagi opini modifikasian.
4) Penjelasan tentang Tanggungjawab Auditor Ketika Auditor Tidak
Menyatakan Pendapat

25
Ketika auditor tidak menyatakan pendapat karena ketidakmampuan
auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, auditor harus
mengubah paragraf pendahuluan dalam laporan auditor untuk menyatakan
bahwa auditor ditugasi untuk mengaudit laporan keuangan. Auditor juga
harus mengubah penjelasan tentang tanggungjawab auditor dan ruang
lingkup audit untuk menyatakan sebagai berikut: “Tanggungjawab kami
adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan berdasarkan
pelaksanaan audit yang sesuai dengan Standar Audit yang ditetapkan oleh
Institut Akuntan Publik Indonesia. Namun, oleh karena hal-hal yang
dijelaskan dalam paragraf Basis untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat,
kami tidak memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk
menyediakan suatu basis untuk opini audit”.
2.4.7 KOMUNIKASI DENGAN PIHAK YANG BERTANGGUNGJAWAB ATAS
TATA KELOLA
Ketika auditor berharap untuk memodifikasi opininya dalam laporan
auditor, auditor harus berkomunikasi dengan pihak yang bertanggungjawab atas
tata kelola tentang kondisi yang menuntun pada modifikasi yang diharapkan
tersebut dan usulan kata-kata atas modifikasi tersebut.
 Pengomunikasian dengan pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola
tentang kondisi yang menurun pada suatu modifikasi yang diharapkan
terhadap opini auditor dan susunan kata yang diusulkan atas modifikasi
tersebut memungkinkan:
(a) Auditor untuk memberitahukan pihak yang bertanggungjawab atas
tata kelola modifikasi yang dimaksud dan alasan (atau kondisi) untuk
modifikasi tersebut.
(b) Auditor untuk mencari persetujuan dari pihak yang bertanggungjawb
atas tata kelola tentang fakta-fakta dari hal-hal yang menimbulkan
modifikasi tersebut, atau mengonfirmasikan hal-hal yang terkait
dengan ketidaksepakatan dengan manajemen; dan
(c) Pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola memperoleh
kesempatan, jika relevan, untuk menyediakan bagi auditor informasi
dan penjelasan lebih lanjut sehubungan dengan hal-hal yang
menimbulkan modifikasi tersebut.

26
2.4.8 ILUSTRASI LAPORAN AUDITOR DENGAN MODIFIKASI TERHADAP
OPINI
Ilustrasi Laporan Auditor yang Berisi Opini Wajar dengan Pengecualian
Karena Kesalahan Penyajian Material dalam Laporan Keuangan

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

[Pihak yang dituju]

Pelaporan atas Laporan Keuangan

Kami telah mengaudit laporan keuangan Entitas ABC, yang terdiri dari atas laporan posisi
keuangan tanggal 31 Desember 20X1, laporan laba-rugi komprehensif, dan laporan
perubahan ekuitas, serta laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut,
serta ringkasan kebijakan akuntansi signifikan dan informasi penjelasan lain.

Tanggungjawab Manajemen atas Laporan Keuangan

Manajemen bertanggungjawab atas penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan sesuai
dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang
ditentukan perlu oleh manajemen untuk penyusunan laporan keuangan yang bebas dari
kesalahan penyajian material, yang disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan.

Tanggungjawab Auditor

Tanggungjawab kami terletak pada pernyataan opini atas laporan keuangan berdasarkan audit
kami. Kami melaksanakan audit untuk mematuhi ketentuan etika dan merencanakan serta
melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas
dari kesalahan penyajian material.

Suatu audit mencakup pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang jumlah-
jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Prosedur yang dipilih tergantung pada
pertimbangan auditor, termasuk penilaian risiko kesalahan penyajian material dalam laporan
keuangan yang disebabkan oleh kecurangan dan kekeliruan. Dalam melaksanakan penilaian
risiko, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang relevan dengan penyusunan
dan penyajian laporan keuangan entitas secara wajar yang bertujuan untuk merancang
prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, namun bukan untuk tujuan menyatakan
opini tentang efektivitas pengendalian internal entitas. Audit juga mencakup penilaian atas
27
ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi akuntansi yang dibuat
oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.

Kami yakin bahwa bukti audit yang kami peroleh adalah cukup dan tepat untuk menyediakan
basis untuk opini audit wajar dengan pengecualian.

Basis untuk Opini Wajar dengan Pengecualian

Persediaan Entitas di laporan posisi keuangan dicantumkan sebesar Rp.xxx. Manajemen tidak
menyajikan persediaan tersebut pada nilai tengah yang lebih rendah antara jumlah tercatat
dan jumlah terpulihkan namun menyajikannya semata-mata pada jumlah tercatat, yang
merupakan penyimpangan dari Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Catatan entitas
menunjukkan bahwa seandainya manajemen menyajikan persediaan pada nilai yang lebih
rendah antara jumlah tercatat dan jumlah terpulihkan, jumlah Rp.xxx semestinya diakui untuk
menurunkan nilai persediaan ke nilai terpulihkan. Oleh karena itu, harga pokok penjualan
semestinya meningkat sebesar rp.xxx, dan pajak penghasilan, laba bersih serta ekuitas
pemegang saham semestinya turun masing-masing sebesar Rp.xxx, Rp.xxx, Rp.xxx.

Opini Wajar dengan Pengecualian

Menurut opini kami, kecuali dampak dari hal yang telah kami jelaskan dalam paragraf Basis
untuk Opini Wajar dengan Pengecualian, laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam
semua hal yang material, posisi keuangan Entitas ABC pada tanggal 31 Desember 20X1, dan
kinerja keuangan, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai
dengan Standar Akuntansi Keuangandi Indonesia.

Laporan atas Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Lain

[Bentuk dan isi laporan auditor ini akan bervariasi tergantung dari sifat tanggungjawab
pelaporan lain auditor]

[Tanda tangan auditor]


[Tanggal laporan auditor]
[Alamat auditor]

28
Kondisi yang melingkupi laporan audit independen di atas mencakup hal-
hal berikut:
 Audit atas laporan keuangan lengkap bertujuan umum yang disusun
oleh manajemen entitas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di
Indonesia.
 Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan penjelasan tentang
tanggungjawab manajemen atas laporan keuangan dalam SA 210.
 Persediaan disajikan salah. Kesalahan penyajian dipandang material
namun tidak pervasif terhadap laporan keuangan.
 Sebagai tambahan untuk audit atas laporan keuangan, auditor
memiliki tanggungjawab pelaporan lain yang disyaratkan oleh
ketentuan hukum tertentu.
2.4.9 PARAGRAF PENEKANAN SUATU HAL DAN PARAGRAF HAL LAIN
DALAM LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
SA 706 mengatur komunikasi tambahan dalam laporan auditor ketika auditor
menganggap perlu untuk:
(a) Menarik perhatian pengguna laporan keuangan pada suatu hal atau
beberapa hal yang disajikan atau diungkapkan dalam laporan keuangan
yang sedemikian penting, yang bersifat fundamental bagi pemahaman
pengguna laporan keuangan; atau
(b) Menarik perhatian pengguna laporan keuangan pada suatu hal atau
beberapa hal selain yang disajikan atau diungkapkan dalam laporan
keuangan yang relevan bagi pemahaman pengguna laporan keuangan yang
relevan bagi pemahaman pengguna laporan keuangan atas audit,
tanggungjawab auditor, atau laporan auditor.
2.4.10 PARAGRAF PENEKANAN SUATU HAL DALAM LAPORAN
AUDITOR
Jika menurut auditor perlu untuk menarik perhatian pengguna laporan
keuangan atas suatu hal yang disajikan atau diungkapkan dalam laporan
keuangan yang, menurut pertimbangan auditor, sedemikian penting yang
bersifat fundamental bagi pemahaman pengguna laporan keuangan atas
laporan keuangan, maka auditor harus mencantumkan suatu Paragraf
Penekanan Suatu Hal dalam laporan auditor selama auditor telah

29
memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat bahwa tidak terdapat kesalahan
penyajian material atas hal tersebut dalam laporan keuangan. Paragraf
tersebut harus mengacu hanya pada informasi yang disajikan atau
diungkapkan dalam laporan keuangan.
Ketika auditor mencantumkan suatu paragraf Penekanan Suatu Hal
dalam laporannya, auditor harus:
(a) Meletakkan paragraf tersebut segera setelah paragraf opini dalam
laporan auditor;
(b) Menggunakan judul “Penekanan Suatu Hal” atau judul lain yang tepat;
(c) Mencantumkan dalam paragraf tersebut suatu pengacuan yang jelas
tentang hal yang ditekankan dan rujukan pada catatan atas laporan
keuangan yang relevan tempat hal tersebut diungkapkan dalam laporan
keuangan; dan
(d) Mengindikasikan bahwa opini auditor tidak dimodifikasi sehubungan
dengan hal yang ditekankan tersebut.
Contoh kondisi yang di dalamnya auditor mungkin perlu mempertimbangkan
untuk mencantumkan suatu paragraf Penekanan Suatu Hal adalah:
 Suatu ketidakpastian yang berhubungan dengan hasil di masa depan
atas perkara litigasi yang tidak biasa atau tindakan yang akan dilakukan
oleh Regulator.
 Penerapan awal (jika diizinkan) atas suatu standar akuntansi baru
(sebagai contoh, suatu standar akuntansi keuangan baru) yang
berdampak pervasif terhadap laporan keuangan sebelum tanggal efektif
berlakunya.
 Suatu bencana alam besar yang telah, atau masih berlanjut, mempunyai
dampak signifikan terhadap posisi keuangan entitas.
Pencantuman paragraf Penekanan Suatu Hal dalam laporan auditor tidak
mempengaruhi opini auditor. Paragraf Penekanan Suatu Hal bukan
merupakan pengganti bagi hal-hal sebagai berikut:
(a) Auditor menyatakan opini wajar dengan pengecualian, atau opini tidak
wajar, atau opini tidak menyatakan pendapat, ketika diharuskan oleh
kondisi suatu perikatan audit.

30
(b) Pengungkapan dalam laporan keuangan yang diharuskan untuk dibuat
oleh manajemen menurut kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.

31
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan yang dapat diberikan berdasarkan dari penulisan makalah yang
berjudul “” ini adalah sebagai berikut:

1) Akuntansi merupakan proses mengidentifikasi, mengukur, mencatat,


mengelompokkan, merengkum, dan melaporkan kejadian-kejadian yang
mempengaruhi perusahaan dalam laporan keuangan. Sedangkan audit meliputi
mengumpulkan bukti-bukti yang diperoleh secara logis dan assurance bahwa
laporan keuangan tersebut disajikan dengan jujur dalam semua respek material.
2) Adanya pengauditan laporan keuangannya, perusahaan akan lebih mudah untuk
mendapatkan kredit atau persyaratan pinjaman yang lebih menguntungkan.
Apabila pengauditan dilakukan oleh auditor independen dapat memperkecil
kemungkinan terjadinya penyalahgunaan aset perusahaan oleh karyawan.
3) Standar auditing adalah standar yang ditetapkan dan disahkan oleh Institut
Akuntan Publik Indonesia (IAPI), yang terdiri dari standar umum, standar
pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan beserta interpretasinya. Standar
auditing merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis.
3.2 Saran
Demikian yang dapat saya paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan
dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan karena terbatasnya pengetahuan
dan kurangnya referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis
banyak berharap kepada bapak dosen dan pembaca memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini
berguna bagi penulis dan juga para pembaca.

32
DAFTAR PUSTAKA

Al. Haryono Jusup, 2014. Auditing (Pengauditan Berbasis ISA), Edisi 2.

33