Anda di halaman 1dari 49

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Dalam bab ini akan memapaparkan hasil penelitian meliputi pengkajian,


diagnosa, intervensi, implementasi, evaluasi serta pembahasan kasus yang
dilakukan diruang rawat inap Puskesmas Lingga.

A. Kasus I Asuhan keperawatan pada An. F dengan gastroenteritis


dehidrasi sedang
1. Pengkajian keperawatan pada An. F dengan gastroenteritis
dehidrasi sedang
a. Identitas Pasien
Nama Anak : An. F
Umur : 4 tahun
Agama : Katolik
Pendidikan : belum sekolah
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku/bangsa : Dayak/Indonesia
Tanggal MRS : 14 Maret 2018
Tanggal pengkajian : 14 Maret 2018
Diagnosa : gastroenteritis dehidrasi sedang
Berat : 15kg
Tinggi : 110 cm
Penanggung jawab : Tn. A
Hubungan dengan pasien : Ayah Kandung
Data di peroleh dari : orang tua pasien
b. Informasi Medik
1) Keluhan utama
Orang tua pasien mengatakan pasien diare sudah 2 hari dengan
konsistensi feses cair, frekuensi BAB 4 kali dalam sehari, demam,
muntah 4 kali, tidak ada nafsu makan, rewel dan gelisah.

57
58

2) Riwayat kesehatan sekarang


Keluarga pasien mengatakan pasien BAB cair dan berlendir
frekuensi 4 kali sehari, muntah 4 kali sehari, suhu tubuh
meningkat, turgor kulit kembali melambat ≥ 2 detik, , kelopak
mata pasien tampak cekung, pasien mengalami penurunan berat
badan dari 16 kg menjadi 15 kg, gelisah, rewel, dan nafsu makan
menurun.
3) Riwayat penyakit terdahulu
Keluarga pasien mengatakan pasien tidak pernah menderita diare
seperti ini sebelumnya dan tidak pernah menderita penyakit yang
serius hanya sebatas batuk pilek.
4) Riwayat penyakit keluarga
Keluarga pasien mengatakan tidak ada keluarga yang menderita
diare sebelumnya seperti pasien dan pasien tidak pernah
menderita penyakit lainnya seperti malaria, hanya sebatas batuk
pilek.
c. Genogram

PX

Gambar 4.1
Genogram Keluarga
Keterangan :
: Laki – laki : Keturunan
: perempuan : Orang yang tinggal serumah
: menikah : klien
59

d. Pemeriksaan fisik
1) Tanda – tanda vital
Tekanan Darah : -
Nadi : 110x/menit
Pernapasan : 30x/menit
Suhu : 38oC
2) Keadaan umum : Lemah
3) Kesadaran : Compos Mentis
4) Kepala
a) Rambut
Kebersihan kulit kepala baik, tidak terdapat ketombe, tidak
terdapat kutu kepala, warna rambut hitam. Penyebaran rambut
rata, bentuk kepala simetris, tidak tersa ada massa di kepala,
tidak ada nyeri tekan pada kepala pasien.
b) Mata
Kedua mata simetris, alis persebarannya merata, warna
kelopak mata sedikit hitam, mata tampak cekung, konjungtiva
berwarna merah muda (nonanemis), sklera berwarna putih susu
(nonikterik), pupil mata bertepi rata, simetris dan isokor, reflek
cahaya pada mata normal dengan nomalnya pupil mata akan
mengecil (miosis) jika terkena sinar, gerakan bola mata normal
dan kornea mata normal tidak berwarna (bening) dan bertepi
rata.
c) Hidung
Hidung siometris, letak hidung di tengah wajah, tidak terdapat
sianosis pada ujung hidung, tidak terdapat sekret, tidak
terdapat massa pada daerah luar atau di dalam hidung,
kepatenan tiap lubang hidung baik, tidak terdapat tampak
perforasi, massa, sekret, sumbatan, deviasi, perdarahan atau
adanya polip di bagian dalam hidung dan tidak terdapat nyeri
atau terba panas saat di palpasi.
60

d) Telinga
Kedua daun telinga simetris, tidak terdapat luka atau bekas
luka pada telinga dan sekitarnya, tidak terdapat sekret atau
darah yang keluar, tidak terasa nyeri.
e) Mulut
Bibir normal, warna bibir merah muda, tampak kering (pecah –
pecah), pasien tidak memakai gigi palsu, tidak terdapat
stomatitis (radang mukosa), kebersihan lidah baik, tonsil tidak
meradang dan ukuran normal.
5) Leher
Leher simetris, tidak terdapat luka atau bekas luka, tidak terdapat
pembengkakkan, tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe, tidak
terdapat pembesaran pada kelenjar gondok.
6) Dada
Gerakan dinding dada normal saat pernapasan, tidak terdapat luka
atau bekas luka, bekas operasi, warna kulit di daerah dada normal
atau tidak ada warna yang berbeda, pola pernapasan pasien
normal, bentuk dinding dada normal (normal chest), tidak
terdapat kelainan bentuk tulang belakang, simetris pengembangan
dinding dada saat inspirasi dan ekspirasi, tidak terdapat massa
pada dada, hasil perkusi normal pada paru (resonan) dan tidak
terdapat suara napas tambahan di semua lapang paru.
7) Abdomen
Bentuk abdomen pasien datar, warna kulit abdomen kecoklatan,
abdomen simetris, umbilikus tidak menonjol, bising usus
terdengar normal 30x/menit, tidak terdapat nyeri tekan pada
abdomen, turgor kulit kembali lambat.
8) Integrumen
Kulit berwarna kecoklatan, tidak terdapat lesi, kulit teraba kering,
suhu tubuh teraba hangat, turgor kulit kembali ≥ 2 detik, tidak
terdapat edema pada kulit tubuh pasien dan tidak terdapat
kelainan pada kulit pasien.
61

9) Genetalia
Tidak terdapat kelainan pada daerah genetalia pasien.
10) Ekstremitas
a) Atas
Warna kulit kedua tangan normal, tidak terdapat persebaran
warna kulit yang tidak merata, kondisi sendi normal, tidak
terdapat tanda – tanda radang, jari - jari pasien lengkap pada
masing – masing tangan, bentuk dan ukuran lengan dan tangan
normal, tidak terdapat adanya tumor, jaringan parut, dan lesi
pada kedua tangan, tidak terdapat edema pada tangan, CRT ≤ 2
detik, kedua ujung tangan teraba normal (hangat dan tidak
lembab), kemampuan pasien menggenggam normal, kedua
bahu tidak terdapat luka, bengkak atau terasa nyeri saat
disentuh.
b) Bawah
Tidak terdapat pembengkakkan pada kaki dan tumit, gerakan
daerah tumit dan kaki normal tanpa rasa nyeri, kekuatan otot
baik.
11) Proses pertumbuhan dan perkembangan
Untuk proses pertumbuhan pasien dilihat dari pertambahan fungsi
tubuh pasien baik serta organ tubuh pasein baik. Untuk
perkembangan pasien dapat dilihat dari pematangan fungsi organ
pasien yang berkembang sesuai dengan fungsinya masing –
masing. Kemudian didukung dengan riwayat kehamilan ibu
pasien, pada saat hamil, melakukan pemeriksaan kehamilan rutin
di puskesmas terdekat atau bidan. Saat kehamilan juga nutrisi
terjaga, keluhan pada saat hamil tidak ada. Kelahiran cukup
bulan, ASI eksklusif selama 6 bulan, pasien berhenti minum ASI
umur 2 tahun, tidak terdapat kesulitan dalam pemberian makanan
pada pasien sampai dengan sekarang sesuai dengan usia anak
selama pertumbuhan dan perkembangan yang dijalani anak.
Berkaitan dengan penyakit diare yang diderita pasien faktor yang
62

mempengaruhi tumbuh kembang anak disini, yaitu faktor genetik


yang dilihat proses tumbuh kembang anak cukup optimal.
Sedangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh
kembang anak dapat dilihat lingkungan yang kurang baik
mempengaruhi individu setiap hari.
e. Pola fungsi kesehatan
1) Pola nutrisi
Pemenuhan nutrisi pasien sebelum masuk puskesmas nutrisi
terpenuhi dengan makan 3 kali sehari dengan porsi lauk pauk
cukup, untuk minum pasien, pasien juga diberi susu formula dan
minum cukup 6 – 8 gelas/hari. Setelah masuk puskesmas makan
dan minum pasien kurang, pasien tidak nafsu makan, pasien
muntah.
2) Pola eliminasi
sebelum masuk puskesmas normal BAB 2 kali dan BAK 4 kali
sehari. Setelah masuk puskesmas akibat pasein pola makan dan
minumnya tidak di kontrol pasien mengalami BAB cair 4 kali
sehari dan BAK kurang dari normal serta warna urine menjadi
kuning pekat.
3) Pola tidur dan istirahat
Pola tidur dan istirahat pasien sebelum masuk puskesmas cukup
baik. Tidur cukup 7-9 jam/sehari. Setelah masuk puskesmas
akibat penyakit yang diderita pasien, pola tidur dan istirahat
pasien kurang efektif karena pasien merasa tidak nyaman dengan
sakit yang dideritanya, pasien rewel, gelisah, badannya panas dan
pasien tampak cemas.
4) Pola psikososial
Respon anak terhadap sakit tampak butuh pertolongan untuk
menghadapi sakit yang dideritanya. Pasien tampak gelisah, rewel,
pasien tampak takut ketika perawat datang untuk memberikan
perawatan. Respon keluarga terhadap sakit yang diderita pasen
sangat kooperatif. Pengetahuan keluarga tentang tanda dan gejala
63

penyakit yang diderita pasien tampak kurang tahu informasi


tentang penyakit tersebut. Pengaruh penyakit yang diderita pasien
serta pasien di rawat di puskesmas membuat keluarga pasien
merasa cemas dengan kondisi yang dihadapi pasien.
5) Tingkat dehidrasi
Pasien menderita gastroenteritis dengan dehidrasi sedang. Dapat
dilihat tanda – tanda dehidrasi sedang menurut Nursalam,dkk
(2005) keadaan umum gelisah dan rewel, mata tampak cekung,
air mata tidak ada, mulut dan lidah kering, ingin minum banyak,
turgor kulit kembali lambat.
f. Pemeriksaan Penunjang
Tabel 4.1 data penunjang
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai
WBC (Leukosit) 8,760 103/uL 4,8 - 10,8
RBC (Eritrosit) 4,2 106/uL 4,2 - 5,4
HGB 14 - 18 (Lk)
11,5 Gr/dl
(Hemoglobin) 12- 14 (Pr)
HCT (Hematokrit) 32,5 % 37 – 47
PLT (Trombosit) 215 103/uL 150 – 450

g. Terapi medis
1) IVFD : RL 30 tetes per menit : mikro via intravena
2) Paracetamol inf : 200mg/8 jam : via intravena
3) Ondancentron 2 mg/8 jam : via intravena
4) Zinc 1 x 1 cth : via oral
64

2. Diagnosa keperawatan pada An. F dengan gastroenteritis dehidrasi


sedang
Tabel 4.2 Analisa data pada An. F
No Data fokus Etiologi Masalah
1 DS : Diare Kekurangan
- Keluarga pasien volume cairan
mengatakan anak Frekuensi BAB dengan dan elektrolit
nya BAB cair konsistensi cair/encer
4x/sehari meningkat
- Keluarga pasien
mengatakan Hilang cairan dan elektrolit
anaknya muntah 2 berlebihan
kali
- Keluarga pasien Gangguan keseimbangan
mengatakan anak cairan
nya lemah
Dehidrasi
DO :
- Pasien tampak Kekurangan volume cairan
lemah Dan elektrolit
- Urine menurun
- Mata pasien tam
pak cekung
- Pasien tampak
gelisah
- Pasien tampak re
wel
- Mukosa bibir ke
ring
- Pasien ingin mi
num terus
2 DS : Infeksi: (virus, parasit, Hipertermi
- Keluarga pasien bakteri)
mengatakan ba
dan anaknya lem masuk ke saluran
ah dan gelisah Pencernaan
- Keluarga pasien
mengatakan ba berkembang di usus
dan anaknya pa
nas peradangan mukosa usus
DO :
- Kulit teraba hang demam (S: >37,5ᵒC)
at
- Suhu badan pasi Hipertermi
en 38oC
- Pasien gelisah
65

3 DS : Diare Resiko
- Keluarga pasien ketidakseimbanga
mengatakan anak Distensi abdomen n nutrisi kurang
nya tidak nafsu dari kebutuhan
makan mual/muntah tubuh
- Keluarga pasien
mengatakan anak Tidak nafsu makan
nya muntah
- Keluarga pasien kehilangan BB
mengatakan pasi
en mengalami pe malnutrisi
nurunan berat
badan Ketidakseimbangan nutrisi
DO : kurang dari kebutuhan
- Pasien tampak pu tubuh
cat
- Bising usus hiper
aktif (30x/menit)
- Pasien tidak mau
makan
- Pasien muntah
- BB = 15kg
- TB = 110cm
- LILA = 8cm
66

3. Intervensi keperawatan pada An. F dengan gastroenteritis dehidrasi


sedang
Tabel 4.3 Intervensi keperawatan pada An. F
No. Diagnosa
Tanggal Tujuan Intervensi Rasional
DX Keperawatan
1 14/3/2018 Kekurangan volume Kekurangan Monitor Cairan
cairan dan elektrolit volume cairan dan - Monitor R/untuk
berhubungan elektrolit teratasi membran mengetahui
dengan kehilangan setelah dilakukan mukosa, turgor tingkat hidrasi
cairan aktif yang tindakan kulit dan respon kulit
ditandai dengan : keperawatan haus
DS : selama 3 x 24 jam
- Keluarga pasien dengan kriteria - Monitor warna, R/untuk
mengat kan hasil : kuantitas, dan mengetahui
anaknya BAB - Tidak ada tanda- berat jenis urine tanda-tanda dehi
cair 4x/sehari tan da dehidrasi drasi
- Keluarga pasien - elastisitas turgor
mengatakan kulit baik - Berikan cairan R/untuk
anaknya muntah - membran dengan tepat mengganti
2 kali mukosa lembab cairan yang
- Keluarga pasien - tidak ada rasa hilang
mengatakan haus yang
anaknya lemah berlebihan - Konsultasikan ke R/untuk
dokter jika mengawasi
DO : pengeluaran tingkat dehidrasi
- Pasien tampak urine kurang dari
lemah 0,5 ml/kg/jam
- Urine menurun atau asupan
- Mata pasien cairan orang
tampak cekung dewasa
- Pasien tampak
gelisah Manajemen
- Pasien tampak Elektrolit
rewel - Berikan diet R/untuk memper
- Mukosa bibir sesuai dengan cepat
kering kondisi kembalinya
- Pasien ingin ketidakseimbang keseimbangan
minum terus an elektrolit elek trolit
pasien

- Konsultasikan R/untuk
dengan dokter mencegah
jika tanda-tanda memburuknya
dan gejala tingkat
ketidakseimbang ketidakseimbang
an cairan dan an cairan
atau elektrolit
menetap atau
memburuk

Manajemen
Elektrolit/Cairan R/untuk
- Pantau adanya mengetahui
tanda dan gejala tingkat dehidrasi
dehidrasi
67

- Pertahankan R/untuk
kepatenan akses menjaga ke
IV stabilan intake
cairan

- Tingkatkan R/untuk
intake cairan per mempercepat
oral pasien yang kembalinya
sesuai kestabilan cairan

- Monitor intake R/untuk


dan output pasien mengetahui
secara akurat intake dan
output pasien

- Monitor TTV R/untuk


pasien mengetahui
keadaan umum
pasi en

- Monitor R/untuk
manifestasi dari mengetahui
adanya tingkat ketidak-
ketidakseimbang seimbangan
an elektrolit elektrolit pasien

- Pastikan bahwa R/untuk


larutan intravena menjaga
yang kestabilan intake
mengandung cair an
elektrolit
diberikan dengan
aliran konstan
dan sesuai

2 14/3/2018 Hipertermi Hipertermi teratasi Perawatan


berhubungan setelah dilakukan Demam
dengan proses tindakan kepera - Pantau suhu dan R/untuk
infeksi yang watan selama tanda-tanda vital mengetahui
ditandai dengan : 2 x 24 jam dengan lainnya keadaan umum
DS : kriteria hasil : pasi en
- Keluarga pasien - Suhu tubuh
mengatakan dalam ren tang - Monitor warna R/untuk
badan anaknya normal (36,5 – kulit dan suhu mengetahui
lemah dan 37,5oC ) tingkat dehidrasi
gelisah - Nadi dalam pa sien
- Keluarga pasien rentang normal
mengatakan (70–130 x/mnt) - Kolaborasi R/untuk
badan anaknya - RR dalam pemberian terapi mengembali kan
panas rentang normal antipiretik, suhu tubuh
(20– 30 x/mnt) antibiotik atau pasien dalam
DO : - Tidak ada agen anti rentang normal
- Kulit teraba perubahan warna menggigil
hangat kulit dan tidak
- Suhu badan ada pusing.
pasien 38oC
- Pasien gelisah
68

- Tutup pasien R/untuk


dengan selimut memperce pat
atau pakaian kembalinya suhu
ringan tergantung tubuh pasien
pada fase demam dalam rentang
normal

- Dorong R/untuk
konsumsi cairan memenuhi
kebutuhan
cairan

- Fasilitasi R/untuk
istirahat, memberi kan
terapkan waktu yang
pembatasan cukup untuk
aktivitas: jika istirahat
diperlukan

- Mandikan pasien R/untuk


dengan spons mempercepat
hangat dengan kembalinya suhu
hati-hati (yaitu: tubuh pasien
berikan pada dalam rentang
pasien dengan normal
demam yang
tinggi, tidak
memberikannya
selama fase
dingin dan
hindari agar
pasien tidak
menggigil)

- Pantau R/untuk
komplikasi yang mengetahui
berhubungan keadaan umum
dengan demam pasi en
serta tanda dan
gejala, kondisi
penyebab
demam.

- Lembabkan bibir R/untuk


dan mukosa menjaga ke
hidung yang lembaban pada
kering bibir pasien

3 14/3/2018 Resiko ketidakseim Resiko Nutrition


bangan nutrisi ketidakseimbangan management
kurang dari nutrisi kurang dari - Kaji status nutrisi R/untuk
kebutuhan tubuh kebu tuhan tubuh pasien mengetahui
berhubungan teratasi setelah status nutrisi
dengan diare, mual, dilakukan tindakan pasien
muntah dan tidak kepe rawatan 3 x
nafsu makan 24 jam dengan
ditandai oleh : kriteria hasil :
69

DS : - Tidak ada tanda- - Jaga kebersihan R/untuk


- Keluarga pasi tanda malnutrisi mulut, anjurkan mencegah
en mengata kan - Tidak terjadi untuk selalu pasien terinfeksi
anaknya tidak penurun an berat melalukan oral bakteri
nafsu makan badan yang hygiene.
- Keluarga pasi berarti
en mengata kan - Delegatif R/menjaga
anaknya muntah pemberian nutrisi kestabilan
- Keluarga pasi yang sesuai intake pasien
en mengata kan dengan
pasien kebutuhan
mengalami pe pasien.
nurunan berat
badan - Berikan R/untuk
DO : informasi yang menambah
- Pasien tampak tepat terhadap pengetahuan
pucat pasien tentang keluar ga pasien
- Bising usus kebutuhan nutrisi tentang penyakit
hiperaktif yang tepat dan
(30x/menit) sesuai.
- Pasien tidak
mau makan - Anjurkan pasien R/untuk
- Pasien muntah untuk menjaga intake
- BB = 15kg mengkonsumsi nutrisi pasien
- TB = 110cm makanan tinggi
- LILA = 8cm zat besi seperti
sayuran hijau

Nausea
management
- Kaji frekuensi R/untuk
mual, durasi, mengkaji ke
tingkat adaan umum
keparahan, faktor pasien
frekuensi,
presipitasi yang
menyebabkan
mual.

- Anjurkan pasien R/untuk


makan sedikit menjaga intake
demi sedikit tapi nutrisi pasien
sering.

- Anjurkan pasien R/untuk


untuk makan menambah nafsu
selagi hangat makan pasien

- Delegatif R/menjaga
pemberian terapi kestabilan intake
antiemetik. pasien

Weight
management
- Diskusikan R/untuk
dengan keluarga menambah
dan pasien pengetahuan
pentingnya keluarga pasien
70

intake nutrisi dan tentang


hal-hal yang pentingnya
menyebabkan intake nutrisi
penurunan berat
badan.

- Timbang berat R/untuk


badan pasien jika mengetahui
memungkinan perubahan berat
dengan teratur badan pasien
71

4. Implementasi dan Evaluasi keperawatan pada An. F dengan


gastroenteritis dehidrasi sedang

Tabel 4.4 Implementasi dan Evaluasi pada An. F


No Tanggal Tindakan dan Respon Paraf Evaluasi (SOAP) Paraf
Dx
1 14/3/2018 1) Mengkaji intake – output S:
Intake : - Keluarga pasien mengatakan
- Minum 100 cc anaknya BAB cair 4x/sehari
- Infus 720 cc/24 jam - Keluarga pasien mengatakan
- Air metabolisme anaknya lemah
(8 x 15) = 120cc - Keluarga pasien mengatakan
Output : anaknya muntah 2 kali
- BAB : 4 x 50 cc = 200 cc O:
- BAK : 3 x 30 cc = 90 cc - Pasien tampak lemah
- Muntah : 2 x 30 = 60 cc - Urine menurun
- IWL : (30 – 4) x - Mata pasien tampak cekung
15cc/kg/hari - Pasien tampak gelisah
- 26 x 15 = 390 cc - Pasien tampak rewel
- IWL peningkatan suhu = - Mukosa bibir kering
IWL + 200 - Pasien ingin minum terus
( Suhu Tinggi - 36,8 °C) A:
= 390 + 200 ( 38 - - Masalah belum teratasi
36,8 °C) P:
= 590 x 1,2 = 708 cc - Intervensi dilanjutkan
Respon : Intake – output - Mengkaji intake – output
920 – 1,058 = - 138 cc - Mengkaji TTV pasien
- Menganjurkan banyak
2) Mengkaji TTV pasien minum air putih
N : 120x/m
RR : 30x/m
S : 38oC
Respon : Pasien kooperatif
saat observasi TTV

3) Menganjurkan keluarga
pasien untuk banyak
memberi pasien minum air
putih
Respon : Keluarga pasien
tampak kooperatif dan
mengerti

4) Mengajarkan keluarga
pasien tanda – tanda
dehidrasi pada diare
Respon : Keluarga pasien
berterima kasih tetapi
masih tampak bingung.

5) Menciptakan lingkungan
yang nyaman dan tenang
Respon : Pasien tenang
saat istirahat
72

6) Berkolaborasi dengan
dokter dalam pemberian
cairan
Respon : cairan Infus IV
adekuat

2 14/3/2018 1) Mengkaji TTV pasien S:


N : 120x/m - Keluarga pasien mengatakan
RR : 30x/m badan anaknya lemah dan
S : 38oC gelisah
Respon : Pasien kooperatif - Keluarga pasien mengatakan
saat observasi TTV badan anaknya panas
O:
2) Mengkaji tanda - Kulit teraba hangat
hiperthermi - Suhu badan pasien 38oC
Respon : Keluarga pasien - Pasien gelisah
mengatakan anaknya tidak A:
menggigil tetapi hanya - Masalah belum teratasi
lemah dan gelisah P:
- Intervensi dilanjutkan
3) Menganjurkan keluarga 1) Mengkaji TTV pasien
pasien untuk memberikan 2) Kaji tanda hipertermi
pakaian tipis untuk pasien
Respon : Pasien mudah
dapat berkeringat

4) Mengajarkan keluarga
pasien untuk kompres
hangat
Respon : Keluarga
mengerti dan mengikuti
apa yang dianjurkan untuk
pasien

5) Menciptakan lingkungan
yang tenang dan nyaman
Respon : Pasien tenang
saat istirahat

6) Berkolaborasi dengan
dokter dalam pemberian
terapi anti piretik
Respon : paracetamol 3 x
200mg : Via intravena

3 14/3/2018 1) Mengkaji pola makan S:


(pola makan pasien di - Keluarga pasien mengatakan
rumah, makanan yang anaknya tidak nafsu makan
disukai, dan tidak disukai) - Keluarga pasien mengatakan
Respon : Pasien makan anaknya muntah
porsi sedikit tapi sering - Keluarga pasien mengatakan
pasien mengalami penurunan
2) Mengajurkan pasien untuk berat badan
porsi sedikit tapi sering O:
Respon : Keluarga pasien - Pasien tampak pucat
mengerti dan mengikuti - Bising usus hiperaktif
apa yang dianjurkan untuk (30x/menit)
pasien - Pasien tidak mau makan
73

3) Menjelaskan pentingnya - Pasien muntah


nutrisi untuk kesembuhan - BB = 15kg
Respon : Pasien mengerti - TB = 110cm
dan kooperatif - LILA = 8cm
A:
4) Memberikan lingkungan - Masalah belum teratasi
yang nyaman dan tenang P:
Respon : Pasien mendapat - Intervensi dilanjutkan
waktu untuk istirahat 1) Mengkaji pola pasien
2) Menganjurkan pasien
untuk makan dalam porsi
sedikit tapi sering

No Para
Tanggal Tindakan dan Respon Evaluasi (SOAP) Paraf
Dx f
1 15/3/2018 1) Mengkaji intake – output S:
- Intake : - Keluarga pasien mengatakan
 Minum 100 cc anaknya masih BAB cair
 Infus 720 cc/24 jam - Keluarga pasien mengatakan
 Air metabolisme anaknya masih lemah
(8 x 15) = 120cc - Keluarga pasien mengatakan
- Output : anaknya tidak lagi muntah
 BAB : 4 x 70 cc = O:
280 cc - Pasien tampak lemah
 BAK : 4 x 60 cc = - Status dehidrasi menurun
240 cc A:
 IWL : (30 – 4) x - Masalah belum teratasi
15cc/kg/hari P:
- Intervensi dilanjutkan
 26 x 15 = 390 cc
1) Mengkaji intake – output
Respon :
2) Mengkaji TTV pasien
Intake – output
3) Menganjurkan banyak
940 – 910 = 30 cc
minum air putih
2) Menghindari masukan
cairan jernih seperti jus
buah
Respon : Keluarga
mengerti dan untuk
mengkaji hidrasi

3) Mengkaji TTV pasien,


turgor kulit, membran
mukosa setiap 4 jam
Respon : Pasien kooperatif
saat pengkajian

4) Menganjurkan keluarga
pasien untuk banyak
memberi pasien minum air
putih
Respon : Keluara pasien
tampak kooperatif dan
mengerti
74

5) Mengevaluasi pengetahuan
keluarga pasien tentang
tanda – tanda dehidrasi
pada diare
Respon : Keluarga pasien
sudah memahami tentang
keadaan penyakit pasien

6) Menciptakan lingkungan
yang nyaman dan tenang
Respon : Pasien tenang
saat istirahat

7) Berkolaborasi dengan
dokter dalam pemberian
cairan
Respon : cairan Infus IV
720 cc

2 15/3/2018 1) Mengkaji TTV pasien S:


N : 100x/m - Keluarga pasien mengatakan
RR : 20x/m anaknya tidak lagi demam
S : 36,5oC - Keluarga pasien mengatakan
Respon : Pasien kooperatif anaknya tidak lagi gelisah
saat observasi TTV O:
- Kulit teraba normal
2) Mengkaji tanda - Suhu badan pasien 36,5oC
hiperthermi - Pasien tidak gelisah
Respon : Keluarga pasien - Pasien tampak tenang untuk
mengatakan sudah tidak beristirahat
lagi demam
A:
3) Menciptakan lingkungan - Masalah teratasi
yang tenang dan nyaman P:
Respon : Pasien tenang - Intervensi dihentikan
saat istirahat

3 15/3/2018 1) Mengkaji pola makan S:


(pola makan pasien di - Keluarga pasien mengatakan
rumah, makanan yang anaknya sudah ada nafsu
disukai, dan tidak disukai) makan tetapi sedikit
Respon : Pasien makan O:
porsi sedikit tapi sering - Pasien tampak pucat
- Pasien tampak lemah
2) Mengajurkan pasien untuk - Pasien sudah mau makan
porsi sedikit tapi sering tetapi sedikit
Respon : Keluarga pasien - Pasien tidak lagi muntah
mengerti dan mengikuti A:
apa yang dianjurkan untuk - Masalah belum teratasi
pasien P:
- Intervensi dilanjutkan
3) Menjelaskan pentingnya 1) Mengkaji pola pasien
nutrisi untuk kesembuhan 2) Menganjurkan pasien
Respon : Pasien mengerti untuk makan dalam porsi
dan kooperatif sedikit tapi sering
4) Memberikan lingkungan
yang nyaman dan tenang
Respon : Pasien mendapat
waktu untuk istirahat
75

No
Tanggal Tindakan dan Respon Paraf Evaluasi (SOAP) Paraf
Dx
1 16/3/2018 1) Mengkaji intake – output S:
- Intake : - Keluarga pasien mengatakan
 Minum 100 cc anaknya BAB 2x/sehari dan
 Infus 720 cc/24 jam tidak lagi cair
 Air metabolisme - Keluarga pasien mengatakan
(8 x 15) = 120cc badan anaknya sudah segar
- Output : O:
 BAB : 2 x 70 cc = - Pasien tampak segar
140 cc - BAB tidak lagi cair
 BAK : 4 x 75 cc = - Pasien sudah tidak gelisah
300 cc - Status dehidrasi pasein sudah
 IWL : (30 – 4) x normal
15cc/kg/hari A:
- Masalah teratasi
 26 x 15 = 390 cc
P:
Respon :
- Intervensi dihentikan
Intake – output
940 – 830 = 110

2) Mengkaji TTV pasien


N : 100x/m
RR : 20x/m
S : 36,5oC
Respon : Pasien
kooperatif saat observasi
TTV

3) Menganjurkan keluarga
pasien untuk banyak
memberi pasien minum air
putih
Respon : Keluarga Pasien
tampak kooperatif dan
mengerti

4) Mengevaluasi kembali
pengetahuan keluarga
pasien tentang tanda –
tanda dehidrasi pada diare
Respon : Keluarga pasien
sudah memahami tentang
keadaan penyakit pasien

5) Menciptakan lingkungan
yang nyaman dan tenang
Respon : Pasien tenang
saat istirahat
76

3 16/3/2018 1) Mengkaji pola makan S:


(pola makan pasien di - Keluarga pasien
rumah, makanan yang mengatakan anaknya
disukai, dan tidak disukai) sudah mau makan
Respon : Pasien makan O:
porsi sedikit tapi sering - Pasien tampak segar
- Pasien tampak lemah
2) Menganjurkan pasien - Pasien mau makan
untuk porsi sedikit tapi A:
sering - Masalah teratasi
Respon : Keluarga pasien P:
mengerti dan mengikuti - Intervensi dihentikan
apa yang dianjurkan untuk
pasien

3) Menjelaskan pentingnya
nutrisi untuk kesembuhan
Respon : Pasien mengerti
dan kooperatif

4) Memberikan lingkungan
yang nyaman dan tenang
Respon : Pasien mendapat
waktu untuk istirahat
77

B. Kasus II Asuhan keperawatan pada An. D dengan gastroenteritis


dehidrasi sedang
1. Pengkajian keperawatan pada An. D dengan gastroenteritis
dehidrasi sedang
a. Identitas Pasien
Nama Anak : An. D
Umur : 4 tahun 6 bulan
Agama : Katolik
Pendidikan : belum sekolah
Jenis Kelamin : perempuan
Suku/bangsa : Dayak/Indonesia
Tanggal MRS : 21 Maret 2018
Tanggal pengkajian : 21 Maret 2018
Diagnosa : gastroenteritis dehidrasi sedang
Berat : 17,5 kg
Tinggi : 100 cm
Penanggung jawab : Ny. S
Hubungan dengan pasien : Ibu Kandung
Data di peroleh dari : orang tua pasien
b. Informasi Medik
1) Keluhan utama
Orang tua pasien mengatakan pasien diare sudah 1 hari dengan
konsistensi feses cair, frekuensi BAB 5 kali dalam sehari,tidak
ada demam, muntah 2 kali, perut mulas.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Orangtua mengatakan pasien mengatakan pasien BAB cair
frekuensi 5 kali sehari, muntah 2 kali, perut mulas turgor kulit
kembali lambat ≥ 2 detik, lemah, rewel, tidak nafsu makan,
penurunan BB dari 18 kg menjadi 17,5 kg.
78

3) Riwayat penyakit terdahulu


Keluarga pasien mengatakan pasien tidak pernah menderita diare
seperti ini sebelumnya dan tidak pernah menderita penyakit yang
serius hanya sebatas batuk pilek.
4) Riwayat penyakit keluarga
Keluarga pasien mengatakan tidak ada keluarga yang menderita
dare sebelumnya seperti pasien dan pasien tidak pernah menderita
penyakit lainnya seperti malaria, hanya sebatas batuk pilek.

c. Genogram

Px

Gambar 4.2
Genogram Keluarga

Keterangan :
: Laki - laki
: perempuan
: menikah

: keturunan
: Orang yang tinggal serumah
: Klien
79

d. Pemeriksaan fisik
1) Tanda – tanda vital
Tekanan Darah : -
Nadi : 110x/menit
Pernapasan : 30x/menit
Suhu : 36,5oC
2) Keadaan umum : Lemah
3) Kesadaran : Compos Mentis
4) Kepala
a) Rambut
Kebersihan kulit kepala baik, tidak terdapat ketombe, tidak
terdapat kutu kepala, warna rambut hitam. Penyebaran rambut
rata, bentuk kepala simetris, tidak terasa ada massa di kepala,
tidak ada nyeri tekan pada kepala pasien.
b) Mata
Kedua mata simetris, alis simetris dan persebarannya merata,
warna kelopak mata sedikit hitam, mata tampak cekung,
konjungtiva berwarna merah muda (nonanemis), sklera
berwarna putih susu (nonikterik), pupil mata bertepi rata,
simetris dan isokor, reflek cahaya pada mata normal dengan
nomalnya pupil mata akan mengecil (miosis) jika terkena
sinar, gerakan bola mata normal dan kornea mata normal tidak
berwarna (bening) dan bertepi rata.
c) Hidung
Hidung siometris, letak hidung di tengah wajah, tidak terdapat
sianosis pada ujung hidung, tidak terdapat sekret, tidak
terdapat massa pada daerah luar atau di dalam hidung,
kepatenan tiap lubang hidung baik, tidak terdapat tampak
perforasi, massa, sekret, sumbatan, deviasi, perdarahan atau
adanya polip di bagian dalam hidung dan tidak terdapat nyeri
atau terba panas saat di palpasi.
d) Telinga
80

Kedua daun telinga simetris, tidak terdapat luka atau bekas


luka pada telinga dan sekitarnya, tidak terdapat sekret atau
darah yang keluar, tidak tersa nyeri.

e) Mulut
Bibir normal, warna bibir merah muda, tampak kering (pecah –
pecah), pasien tidak memakai gigi palsu, tidak terdapat
stomatitis (radang mukosa), kebersihan lidah baik, tonsil tidak
meradang dan ukuran normal.
5) Leher
Leher simetris, tidak terdapat luka atau bekas luka, tidak terdapat
pembengkakkan, tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe, tidak
terdapat pembesaran pada kelenjar gondok.
6) Dada
Gerakan dinding dada normal saat bernapas, tidak terdapat luka
atau bekas luka operasi, warna kulit di daerah dada normal atau
tidak ada warna yang berbeda, pola pernapasan pasien normal,
bentuk dinding dada normal (normal chest), tidak terdapat
kelainan bentuk tulang belakang, simetris pengembangan dinding
dada saat inspirasi dan ekspirasi, tidak terdapat massa pada dada,
hasil perkusi normal pada paru (resonan) dan tidak terdapat suara
napas tambahan di semua lapang paru.
7) Abdomen
Bentuk abdomen pasien datar, warna kulit abdomen kecoklatan,
abdomen simetris, umbilikus tidak menonjol, bising usus
terdengar normal 30x/menit, pasien menangis ketika abdomen
ditekan, turgor kulit kembali lambat.

8) Intergrumen
Kulit berwarna kecoklatan, tidak terdapat lesi, kulit teraba kering,
suhu tubuh teraba hangat, turgor kulit kembali > 2 detik, tidak
81

terdapat edema pada kulit tubuh pasien dan tidak terdapat


kelainan pada kulit pasien.
9) Genetalia
Tidak terdapat kelainan pada daerah genetalia pasien.
10) Ekstremitas
a) Atas
Warna kulit kedua tangan normal, tidak terdapat persebaran
warna kulit yang tidak merata, kondisi sendi normal, tidak
terdapat tanda – tanda radang, jari - jari pasien lengkap pada
masing – masing tangan, bentuk dan ukuran lengan dan tangan
normal, tidak terdapat adanya tumor, jaringan parut, dan lesi
pada kedua tangan, tidak terdapat edema pada tangan, CRT
normal ≤ 2 detik, kedua ujung tangan teraba normal (hangat
dan tidak lembab), kemampuan pasien menggenggam normal,
kedua bahu tidak terdapat luka, bengkak atau terasa nyeri saat
disentuh.
b) Bawah
Tidak terdapat pembengkakkan pada kaki dan tumit, gerakan
daerah tumit dan kaki normal tanpa rasa nyeri, kekuatan otot
baik.

11) Proses pertumbuhan dan perkembangan


Untuk proses pertumbuhan pasien dilihat dari pertambahan fungsi
tubuh pasien baik serta organ tubuh pasein baik. Untuk
perkembangan pasien dapat dilihat dari pematangan fungsi organ
pasien yang berkembang sesuai dengan fungsinya masing –
masing. Kemudian didukung dengan riwayat kehamilan ibu
pasien, pada saat hamil, melakukan pemeriksaan kehamilan rutin
di puskesmas terdekat atau bidan. Saat kehamilan juga nutrisi
terjaga, keluhan pada saat hamil tidak ada. Kelahiran cukup
bulan, ASI eksklusif selama 6 bulan, pasien berhenti minum ASI
umur 2 tahun, tidak terdapat kesulitan dalam pemberian makanan
82

pada pasien sampai dengan sekarang sesuai dengan usia anak


selama pertumbuhan dan perkembangan yang dijalani anak.
berkaitan dengan penyakit diare yang diderita pasien faktor yang
mempengaruhi tumbuh kembang anak disini, yaitu faktor genetik
yang dilihat proses tumbuh kembang anak cukup optimal.
Sedangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh
kembang anak dapat dilihat lingkungan yang kurang baik
mempengaruhi individu setiap hari.

e. Pola fungsi kesehatan


1) Pola nutrisi
Pemenuhan nutrisi pasien sebelum masuk nutrisi puskesmas
terpenuhi dengan makan 3 kali sehari dengan porsi lauk pauk
cukup, untuk minum pasien, pasien juga diberi susu formula dan
minum cukup 6 – 8 gelas/hari. Setelah masuk puskesmas makan
dan minum pasien kurang, pasien tidak nafsu makan, pasien
muntah.
2) Pola eliminasi
sebelum masuk puskesmas normal, BAB 2 kali dan BAK 4 kali
sehari. Setelah menderita sakit di rawat puskesmas pola makan
dan minumnya berubah, pasien mengalami BAB cair 5 kali sehari
dan BAK kurang dari normal serta warna urine menjadi kuning
pekat.
3) Pola tidur dan istirahat
Pola tidur dan istirahat pasien sebelum masuk puskesmas cukup
baik. Tidur cukup 7-9 jam/sehari. Setelah masuk puskesmas
akibat penyakit yang diderita pasien, pola tidur dan istirahat
pasien kurang efektif karena pasien merasa tidak nyaman dengan
sakit yang dideritanya, pasien rewel, gelisah, badannya panas dan
pasien tampak cemas.
83

4) Pola psikososial
Respon anak terhadap sakit tampak butuh pertolongan untuk
menghadapi sakit yang dideritanya. Pasien tampak gelisah, rewel,
pasien tampak takut ketika perawat datang untuk memberikan
perawatan. Respon keluarga terhadap sakit yang diderita pasen
sangat kooperatif. Pengetahuan keluarga tentang tanda dan gejala
penyakit yang diderita pasien tampak kurang tahu informasi
tentang penyakit tersebut. Pengaruh penyakit yang diderita pasien
serta pasien di rawat di puskesmas membuat keluarga pasien
merasa cemas dengan kondisi yang dihadapi pasien.
5) Tingkat dehidrasi
Pasien menderita gastroenteritis dengan dehidrasi sedang. Dapat
dilihat tanda – tanda dehidrasi sedang menurut Nursalam,dkk
(2005) keadaan umum gelisah dan rewel, mata tampak cekung,
air mata tidak ada, mulut dan lidah kering, ingin minum banyak,
turgor kulit kembali lambat.

f. Pemeriksaan Penunjang

Tabel 4.5 Data penunjang pada An.D

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai


WBC (Leukosit) 6,15 103/uL 4,8 - 10,8
RBC (Eritrosit) 4,2 106/uL 4,2 - 5,4
14 - 18 (Lk)
HGB (Hemoglobin) 11,3 Gr/dl
12- 14 (Pr)
HCT (Hematokrit) 33,6 % 37 - 47
PLT (Trombosit) 305 103/uL 150 - 450

g. Terapi medis
1) IVFD : RL 35 tetes per menit : mikro via intravena
2) Zinc syp 1 x 1 cth : via oral
84

2. Diagnosa keperawatan pada An. D dengan gastroenteritis dehidrasi


sedang
Tabel 4.6 Analisa Data pada An. D
No Data fokus Etiologi Masalah
1 DS : Diare Kekurangan volume
- Keluarga pasien cairan Dan elektrolit
mengatakan anak Frekuensi BAB dengan
nya BAB cair konsistensi cair/encer
5x/sehari meningkat
- Keluarga pasien
mengatakan anak Hilang cairan dan elektrolit
nya muntah 2 kali berlebihan
- Keluarga pasien
mengatakan Gangguan keseimbangan
anaknya lemah cairan

DO : Dehidrasi
- Pasien tampak
lemah Kekurangan volume cairan
- Urine menurun Dan elektrolit
- Mata pasien tampak
cekung
- Pasien tampak
gelisah
- Pasien tampak
rewel
- Mukosa bibir
kering
- Pasien ingin minum
terus

2 DS : Distensi abdomen Nyeri


- Keluarga pasien
mengatakan nyeri abdomen
menjadi rewel
Nyeri
DO :
- Pasiem menangis
jika perutnya
ditekan
85

3 DS : Diare Resiko
- Keluarga pasien ketidakseimbangan
mengatakan anak Distensi abdomen nutrisi kurang dari
nya tidak nafsu kebutuhan tubuh
makan Mual/muntah
- Keluarga pasien
mengatakan anak Tidak nafsu makan
nya muntah
- Keluarga pasien Kehilangan BB
mengatakan pasien
mengalami Malnutrisi
penurunan berat
badan Ketidakseimbangan
DO : nutrisikurang dari
- Pasien tampak kebutuhan tubuh
pucat
- Bising usus
hiperaktif
(30x/menit)
- Pasien tidak mau
makan
- Pasien muntah
- BB = 17,5 kg
- TB = 100cm
- LILA = 8 cm
86

3. Intervensi keperawatan pada An. D dengan gastroenteritis dehidrasi


sedang
Tabel 4.7 Intervensi keperawatan pada An. D
NO. Diagnosa
Tanggal Tujuan Intervensi Rasional
DX Keperawatan
1 21/3/2018 Kekurangan Kekurangan Monitor Cairan
volume cairan dan volume cairan - Monitor R/untuk
elektrolit dan elektrolit membran mengetahui
berhubungan teratasi setelah mukosa, turgor tingkat hidrasi
dengan kehilangan dilakukan kulit dan respon kulit
cairan aktif yang tindakan haus
ditandai dengan : keperawatan
DS : selama 3 x 24 - Monitor warna, R/untuk
- Keluarga pasien jam dengan kuantitas, dan mengetahui
mengatakan kriteria hasil : berat jenis urine tanda - tanda
anaknya BAB - Tidak ada dehidrasi
cair 5x/sehari tanda-tanda - Berikan cairan R/untuk
- Keluarga pasien dehidrasi dengan tepat mengganti
mengata kan - Elastisitas cairan yang
anaknya turgor kulit hilang
muntah 2 kali baik
- Keluarga pasien - Membran - Konsultasikan ke R/untuk
mengata kan mukosa dokter jika mengawasi
anaknya lemah lembab pengeluaran urine tingkat dehidrasi
- Tidak ada rasa kurang dari 0,5
DO : haus yang ml/kg/jam atau
- Pasien tampak berlebihan asupan cairan
lemah orang dewasa
- Urine menurun
- Mata pasien Manajemen
tampak cekung Elektrolit
- Pasien tampak - Berikan diet R/untuk
gelisah sesuai dengan mempercepat
- Pasien tampak kondisi ketidak- kembalinya
rewel seimbangan keseimbangan
- Mukosa bibir elektrolit pasien elek trolit
kering
- Berikan R/untuk
- Pasien ingin
lingkungan yang meningkatkan
minum terus
aman kepada rasa nyaman
pasien yang pada pasien
memiliki masalah
neurologis
sebagai
manifestasi dari
ketidak-
seimbangan
elektrolit
- Konsultasikan R/untuk
dengan dokter mencegah
jika tanda-tanda memburuknya
dan gejala tingkat ketidak-
ketidakseimbanga seimbangan
n cairan dan atau cairan
elektrolit menetap
atau memburuk
87

Manajemen
Elektrolit/Cairan
- Pantau adanya R/untuk
tanda dan gejala mengetahui
dehidrasi tingkat dehidrasi

- Pertahankan R/untuk
kepatenan akses menjaga ke
IV stabilan intake
cairan

- Tingkatkan intake R/untuk


cairan per oral mempercepat
pasien yang kembalinya
sesuai kestabilan cairan

- Monitor intake R/untuk


dan output pasien mengetahui
secara akurat intake dan
output pasien

- Monitor TTV R/untuk


pasien mengetahui
keadaan umum
pasien

- Monitor R/untuk
manifestasi dari mengetahui
adanya ketidak- tingkat ketidak-
seimbangan seimbangan
elektrolit elektrolit pasien

- Pastikan bahwa R/untuk


larutan intravena menjaga
yang kestabilan intake
mengandung cairan
elektrolit
diberikan dengan
aliran konstan
dan sesuai

2 21/3/2018 Nyeri berhubungan Nyeri teratasi NIC Label : Pain


dengan adanya setelah Management
distensi abdomen dilakukan - Kaji secara R/Untuk
ditandai oleh : tindakan komprehensip mengetahui
DS : keperawatan terhadap nyeri tingkat nyeri
- Keluarga pasien selama 1 x 24 termasuk lokasi, pasien
mengatakan jam dengan karakteristik, du
pasien sakit kriteria hasil : rasi, frekuensi,
perut melilit - Tidak ada kualitas,
DO : tanda-tanda intensitas nyeri
- Terdapat nyeri nyeri dan faktor
tekan pada - Rasa nyeri presipitasi
perut pasien berkurang
- Klien tidak
tampak
mengeluh dan
menangis
88

- Ekspresi - Observasi reaksi R/Untuk


wajah klien ketidak nyaman mengetahui
tidak secara nonverbal tingkat ketidak
menunjukkan nyamanan
nyeri dirasakan oleh
- Klien tidak pasien
gelisah
- Klien dapat - Gunakan strategi R/Untuk menga
menggunakan komunikasi lihkan perhatian
teknik non terapeutik untuk pa sien dari rasa
farmakologis mengungkapkan nyeri
pengalaman nyeri
dan penerimaan
klien terhadap
respon nyeri

- Tentukan R/Untuk
pengaruh mengetahui
pengalaman nyeri apakah nyeri
terhadap kualitas yang dirasakan
hidup ( napsu klien
makan, tidur, berpengaruh
aktivitas, mood, terhadap yang
hu bungan sosial) lainnya

- Tentukan faktor R/Untuk


yang dapat mengurangi
memperburuk faktor yang
nyeri dapat
memperburuk
nyeri yang
dirasakan klien

- Lakukan evaluasi R/Untuk


dengan klien dan mengetahui
tim kesehatan apakah terjadi
lain tentang pengu rangan
ukuran rasa nyeri atau
pengontrolan nyeri yang
nyeri yang telah dirasakan klien
dilakukan bertambah.

- Berikan informasi R/Pemberian


tentang nyeri “health
termasuk education”
penyebab nyeri, dapat
berapa lama nyeri mengurangi
akan hilang, tingkat
antisipasi kecemasan dan
terhadap membantu klien
ketidaknyamanan dalam
dari prosedur membentuk
mekanisme
koping terhadap
rasa nyeri
89

- Control R/Untuk
lingkungan yang mengurangi
dapat tingkat ketidak
mempengaruhi nyamanan yang
respon dirasakan klien.
ketidaknyamanan
klien (suhu
ruangan, cahaya
dan suara)

- Hilangkan faktor R/Agar nyeri


presipitasi yang yang dirasakan
dapat klien tidak
meningkatkan bertambah.
pengalaman nyeri
klien( ketakutan,
kurang
pengetahuan)

- Ajarkan cara R/Agar klien


penggunaan mampu
terapi non menggunakan
farmakologi teknik non
(distraksi, guide farmakologi
imagery, dalam
relaksasi) memanagement
nyeri yang
dirasakan.

- Kolaborasi R/Pemberian
pemberian analgetik dapat
analgetik mengurangi rasa
nyeri pasien
3 21/3/2018 Resiko Ketidak- Resiko ketidak- Nutrition
seimbangan nutrisi seimbanan management
kurang dari nutrisi kurang - Kaji status nutrisi R/untuk
kebutuhan tubuh dari kebutuhan pasien mengetahui
berhubungan tubuh teratasi status nutrisi
dengan diare, mual, setelah pasien
muntah dan tidak dilakukan
nafsu makan tindakan - Jaga kebersihan R/untuk
ditandai oleh : keperawatan 3 x mulut, anjurkan mencegah
DS : 24 jam dengan untuk selalu pasien terinfeksi
- Keluarga pasien kriteria hasil : melalukan oral bakteri
mengatakan - Tidak ada hygiene.
anaknya tidak tanda-tanda
nafsu makan malnutrisi - Delegatif R/menjaga
- Keluarga pasien - Tidak terjadi pemberian nutrisi kestabilan intake
mengatakan penurunan yang sesuai pasien
anaknya berat badan dengan
muntah yang berarti kebutuhan pasien.
- Keluarga pasien - Berikan informasi R/ untuk
mengatakan yang tepat menambah
pasien terhadap pasien pengetahuan
mengalami tentang keluar ga pasien
penurunan berat kebutuhan nutrisi tentang penyakit
badan yang tepat dan
sesuai.
90

DO : - Anjurkan pasien R/untuk


- Pasien tampak untuk menjaga intake
pucat mengkonsumsi nutrisi pasien
- Bising usus makanan tinggi
hiperaktif zat besi seperti
(30x/menit) sayuran hijau
- Pasien tidak
mau makan Nausea
- Pasien muntah management
- BB = 17,5kg - Kaji frekuensi R/untuk
- TB = 100cm mual, durasi, mengkaji
- LILA = 8cm tingkat keadaan umum
keparahan, faktor pasien
frekuensi,
presipitasi yang
menyebabkan
mual.

- Anjurkan pasien R/untuk


makan sedikit menjaga intake
demi sedikit tapi nutrisi pasien
sering.

- Anjurkan pasien R/untuk


untuk makan menambah
selagi hangat nafsu makan
pasien

- Delegatif R/menjaga
pemberian terapi kestabilan intake
antiemetik. pasien

Weight
management R/ untuk
- Diskusikan menambah
dengan keluarga pengetahuan
dan pasien keluarga pasien
pentingnya intake tentang
nutrisi dan hal- pentingnya
hal yang intake nutrisi
menyebabkan
penurunan berat
badan.

- Timbang berat R/untuk


badan pasien jika mengetahui
memungkinan perubahan berat
dengan teratur badan pasien
91

4. Implementasi dan Evaluasi keperawatan pada An. D dengan


gastroenteritis dehidrasi sedang
Tabel 4.8 Implementasi dan Evaluasi keperawatan pada An. D
No
Tanggal Tindakan dan Respon Paraf Evaluasi (SOAP) Paraf
Dx
1 21/3/2018 1) Mengkaji intake – output S:
- Intake : - Keluarga pasien
 Minum 25 cc mengatakan anaknya
 Infus 840 cc/24 jam BAB cair 5x/sehari
 Air metabolisme (8x17,5) - Keluarga pasien
= 140cc mengatakan anaknya
- Output : muntah 4 kali
 BAB : 5 x 80 cc = 400 cc - Keluarga pasien
 BAK : 3 x 60 cc = 180 cc mengatakan anaknya
 Muntah : 2 x 70 = 140 cc lemah
O:
 IWL :
- Pasien tampak lemah
(30–4) x 17,5cc/kg/hari
26 x 17,5 = 445 cc - Urine menurun
- Mata pasien tampak
Respon :
cekung
Intake – output
- Pasien tampak gelisah
1005 – 1165 = - 160 cc
- Pasien tampak rewel
- Mukosa bibir kering
2) Mengkaji TTV pasien - Pasien malas untuk
N : 120x/m minum
RR : 30x/m A:
S : 36,5oC - Masalah belum teratasi
Respon : Pasien kooperarif P:
pada saat observasi TTV - Intervensi dilanjutkan
- Mengkaji intake –
3) Menganjurkan keluarga output
pasien untuk banyak - Mengkaji TTV pasien
memberi pasien minum air - Menganjurkan banyak
putih minum air putih
Respon : Keluarga pasien
tampak kooperatif dan
mengerti

4) Mengajarkan keluarga pasien


tanda-tanda dehidrasi pada
diare
Respon : Keluarga pasien
berterima kasih tetapi masih
tampak bingung

5) Menciptakan lingkungan
yang nyaman dan tenang
Respon : Pasien tenang saat
istirahat

6) Berkolaborasi dengan dokter


dalam pemberian cairan
Respon : cairan infus IV
840 cc
92

2 21/3/2018 1) Mengkaji pola makan pasien S:


Respon : Pasien makan porsi - Keluarga pasien
sedikit tapi sering mengatakan anaknya
tidak nafsu makan
2) Mengajurkan keluarga pasien - Keluarga pasien
untuk pasien makan dengan mengatakan anaknya
porsi sedikit tapi sering muntah
Respon : Keluarga pasien - Keluarga pasien
mengerti dan mengikuti apa mengatakan pasien
yang dianjurkan untuk pasien mengalami penurunan
berat badan
O:
3) Menjelaskan pentingnya - Pasien tampak pucat
nutrisi untuk kesembuhan - Bising usus hiperaktif
pada keluarga pasien (30x/menit)
Respon : Keluarga pasien - Pasien tidak mau makan
mengerti dan kooperatif - Pasien muntah
- BB = 17,5 kg
4) Memberikan lingkungan - TB = 100 cm
yang nyaman dan tenang - LILA = 8 cm
Respon : Pasien mendapat A:
waktu untuk istirahat - Masalah belum teratasi
P:
- Intervensi dilanjutkan
- Mengkaji pola pasien
- Menganjurkan pasien
untuk makan dalam
porsi sedikit tapi sering
3 21/3/2018 1) Mengkaji tanda-tanda nyeri S:
termasuk lokasi, - Keluarga pasien
karakteristik, durasi, mengatakan anaknya
frekuensi, kualitas, intensitas menjadi rewel
nyeri pada pasien O:
Respon : keluarga pasien - Pasien menangis jika
dapat mengetahui tanda-tanda perutnya ditekan
nyeri pasien A:
- Masalah belum teratasi
2) Menggunakan strategi P:
komunikasi terapeutik pada - Intervensi dilanjutkan
keluarga untuk
mengungkapkan pengalaman
nyeri pada pasien
Respon : keluarga pasien
dapat mengetahui dan
menjelaskan keadaan pasien

3) Memberikan informasi
tentang nyeri termasuk
penyebab nyeri, berapa lama
nyeri akan hilang, antisipasi
terhadap ketidaknyamanan
dari prosedur
Respon : pengetahuan
keluarga pasien tentang
keadaan pasien bertambah

4) mengontrol lingkungan yang


dapat mempengaruhi respon
93

ketidaknyamanan klien (suhu


ruangan, cahaya dan suara)
Respon : pasien dapat
merasa nyaman

No
Tanggal Tindakan dan Respon Paraf Evaluasi (SOAP) Paraf
Dx
1 22/3/2018 1) Mengkaji intake – output S:
- Intake : - Keluarga pasien
 Minum 25 cc mengatakan anaknya
 Infus 840 cc/24 jam masih BAB cair
 Air metabolisme - Keluarga pasien
(8 x 17,5) = 140cc mengatakan anaknya
- Output : tidak lagi muntah
 BAB : 3 x 80 cc = 240 cc - Keluarga pasien
 BAK : 4 x 65 cc = 260 cc mengatakan anaknya
 IWL : masih lemah
(30 – 4) x 17,5cc/kg/hari O:
26 x 17,5 = 445 cc - Pasien tampak lemah
Respon : - Status dehidrasi menurun
Intake – output A:
1005 – 945 = 60cc - Masalah belum teratasi
P:
2) Menghindari masukan cairan - Intervensi dilanjutkan
jernih seperti jus buah - Mengkaji intake – output
Respon : Keluarga mengerti - Mengkaji TTV pasien
dan untuk mengkaji hidrasi - Menganjurkan banyak
minum air putih
3) Mengkaji TTV pasien, turgor
kulit, membran mukosa
setiap 4 jam
Respon : Pasien kooperatif
saat observasi TTV

4) Menganjurkan keluarga
pasien untuk banyak
memberi pasien minum air
putih
Respon : Pasien tampak
kooperatif dan mengerti

5) Mengevaluasi pengetahuan
keluarga pasien tentang
tanda- tanda dehidrasi pada
diare
Respon : Keluarga pasien
sudah memahami tentang
keadaan penyakit pasien

6) Menciptakan lingkungan
yang nyaman dan tenang
Respon : Pasien tenang saat
istirahat

7) Berkolaborasi dengan dokter


dalam pemberian cairan
Respon : cairan Infus IV
840 cc
94

2 22/3/2018 1) Mengkaji pola makan (pola S:


makan pasien di rumah, - Keluarga pasien
makanan yang disukai, dan mengatakan anaknya
tidak disukai) sudah ada mau makan
Respon : Pasien makan porsi tetapi sedikit
sedikit tapi sering O:
- Pasien tampak pucat
2) Mengajurkan keluarga pasien - Pasien tampak lemah
untuk pasien makan dengan - Pasien sudah mau makan
porsi sedikit tapi sering tetapi sedikit
Respon : Keluarga pasien - Pasien tidak lagi muntah
mengerti dan mengikuti apa A:
yang dianjurkan untuk pasien - Masalah belum teratasi
P:
3) Menjelaskan kepada - Intervensi dilanjutkan
keluarga pasien pentingnya - Mengkaji pola pasien
nutrisi untuk kesembuhan - Menganjurkan pasien
Respon : Pasien mengerti untuk makan dalam porsi
dan kooperatif sedikit tapi sering

4) Memberikan lingkungan
yang nyaman dan tenang
Respon : Pasien mendapat
waktu untuk istirahat
3 22/3/2018 1) Mengkaji tanda-tanda nyeri S:
termasuk lokasi, - Keluarga pasien
karakteristik, durasi, mengatakan pasien tidak
frekuensi, kualitas, intensitas lagi nyeri
nyeri pada pasien O:
Respon : keluarga pasien - Pasien tidak menangis
dapat mengetahui tanda- ketika perutnya ditekan
tanda nyeri pasien
A:
2) Menggunakan strategi - Masalah telah teratasi
komunikasi terapeutik pada P:
keluarga untuk - Intervensi dihentikan
mengungkapkan pengalaman
nyeri pada pasien
Respon : keluarga pasien
dapat mengetahui dan
menjelaskan keadaan pasien

3) Memberikan informasi
tentang nyeri termasuk
penyebab nyeri, berapa lama
nyeri akan hilang, antisipasi
terhadap ketidaknyamanan
dari prosedur
Respon : pengetahuan
keluarga pasien tentang
keadaan pasien bertambah

4) mengontrol lingkungan yang


dapat mempengaruhi respon
ketidaknyamanan klien (suhu
ruangan, cahaya dan suara)
Respon : pasien dapat
merasa nyaman
95

No Tanggal Tindakan dan Respon Paraf Evaluasi (SOAP) Paraf


Dx
1 24/3/2018 1) Mengkaji intake – output S:
- Intake : - Keluarga pasien
 Minum 50 cc mengatakan anaknya
 Infus 840 cc / 24 jam BAB 2x/sehari dan
 Air metabolisme tidak lagi cair
(8 x 17,5) = 140cc - Keluarga pasien
- Output : mengatakan badan
 BAB : 2 x 50 cc = 100 cc anaknya tampak
 BAK : 4 x 70 cc = 280 cc tenang
 IWL : O:
(30 – 4) x 17,5cc/kg/hari - Pasien tampak segar
26 x 17,5 = 445 cc - BAB tidak lagi cair
Respon : - Pasien sudah tidak
Intake – output gelisah
1030 – 835 = 195 CC - Status dehidrasi
pasein sudah normal
2) Mengkaji TTV pasien A:
N : 100x/m - Masalah teratasi
RR : 20x/m P:
S : 36,5oC - Intervensi dihentikan
Respon : observasi TTV

3) Menganjurkan keluarga pasien


untuk banyak memberi pasien
minum air putih
Respon : Keluarga pasien
tampak kooperatif dan
mengerti

4) Mengevaluasi kembali
pengetahuan keluarga pasien
tentang tanda – tanda dehidrasi
pada diare
Respon : Keluarga pasien
sudah memahami tentang
keadaan penyakit pasien

5) Menciptakan lingkungan yang


nyaman dan tenang
Respon : Pasien tenang saat
istirahat

2 24/3/2018 1) Mengkaji pola makan (pola S:


makan pasien di rumah, - Keluarga pasien
makanan yang disukai, dan mengatakan anaknya
tidak disukai) sudah mau makan
Respon : Pasien makan porsi O:
sedikit tapi sering - Pasien tampak segar
2) Mengajurkan pasien untuk - Pasien tampak lemah
porsi sedikit tapi sering - Pasien mau makan
Respon : Keluarga pasien A:
mengerti dan mengikuti apa - Masalah teratasi
yang dianjurkan untuk pasien P:
- Intervensi dihentikan
96

3) Menjelaskan kepada keluarga


pasien tentang pentingnya
nutrisi untuk kesembuhan
Respon : Keluarga pasien
mengerti dan kooperatif

4) Memberikan lingkungan yang


nyaman dan tenang
Respon : Pasien mendapat
waktu untuk istirahat
97

C. Pembahasan Kasus
1. Pengkajian keperawatan pada An. F dan An. D dengan
gastroenteritis dehidrasi sedang

Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses


keperawatan yang terdiri atas pengumpulan data dan perumusan
kebutuhan atau masalah pasien. Dalam pengumpulan data penulis
menggunakan metode wawancara dengan keluarga An. F da An. D,
mengobservasi langsung terhadap perkembangan dan perjalanan
penyakit. Dalam pengkajian ini, keluarga terutama orang tua partisipan
sangat berperan penting dalam memberikan pengumpulan data dan
mendukung asuhan keperawatan yang diberikan.
Dalam pengkajian ini penelitian memaparkan kasus An. F dan
An. D sesuai dengan peneliti temukan dilapangan. Hal – hal yang
berhubungan dengan pengkajian ini difokuskan pada data dan respon
anak dengan Gastroenteritis dehidrasi sedang. Data respon keluhan yang
peneliti temukan pada gastroenteritis dehidrasi sedang adalah:
- Anak F : BAB cair 4x sehari, muntah 4x sehari, demam, tugor kulit
kembali lambat ≥ 2 detik, kelopak mata tampak cekung, tidak ada nafsu
makan, BB menurun dari 16 kg menjadi 15 kg, anak rewel dan gelisah.
kesadaran kompos mentis, TTV: Nadi = 120x/mnt, RR = 30x/mnt, S =
38oc.
- Anak D : BAB cair 5x sehari,muntah 2x sehari, perut mulas, tugor kulit
kembali lambat ≥ 2 detik, kelopak mata pasien tampak cekung, tidak ada
nafsu makan, BB menurun dari 18 kg menjadi 17,5 kg, anak rewel dan
gelisah, kesadaran kompos mentis, TTV : Nadi = 110 x/mnt, RR = 30
x/mnt, S = 36 oc.
Data dan respon An. F dan An. D sesuai dengan teori pada
konsep penyakit yang disimpulkan oleh beberapa ahli dibawah ini:
Gastroenteritis adalah radang pada lambung dan usus yang memberikan
gejala diare, dengan atau tanpa disertai muntah, dan seringkali disertai
peningkatan suhu tubuh. Diare yang di maksudkan adalah buang air besar
berkali – kali (dengan jumlah yang melebihi 4 kali, dan bentuk feses
98

yang cair, dapat disertai dengan darah atau lendir) (Lusianah dan
Suratum, 2010:136).
Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung, usus kecil dan usus
besar dengan berbagai kondisi patologis dari saluran gastrointestinal
dengan manisfestasi gastroenteritis, dengan atau tanpa disertai muntah,
serta ketidaknyamanan abdomen (Arif Muttaqin dan Kumala Sari,
2010:459).
Berdasarkan beberapa definisi diatas, penulis menyimpulkan
bahwa gastroenteritis adalah frekuensi BAB lebih dari 3 kali sehari
dengan konsistensi feses cair / encer dan kandungan air tinja lebih
banyak dari biasanya
Dari pengkajian ditemukan ada persamaan dan perbedaan data
respon pasien An. F dan An. D yaitu:
Persamaan : - BAB dengan konsistensi cair melebihi 3x sehari
- Adanya muntah
- Turgor kulit kembali lambat ≥ 2 detik
- Kelopak mata tampak cekung
- Tidak ada nafsu makan
- Mukosa bibir kering
Perbedaan : - An. F ditemukan peningkatan suhu tubuh (demam) 38oc
normal 36,5oc s/d 37,5oc
- An. D ditemukan perut mulas atau distensi abdomen.
Dari persamaan respon An. F dan An. D menggambarkan
klasifikasi gejala gastroenteritis dehidrasi sedang yaitu Kehilangan cairan
5-10 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara
serak, presyok nadi cepat dan dalam. Pada keadaan ini, penderita akan
mengalami produksi urin berkurang atau langsung tidak ada, irritabilitas
atau lesu, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir
dan mulut serta kulit tampak kering, air mata berkurang dan masa
pengisian kapiler memanjang (≥ 2 detik) dengan kulit yang dingin dan
pucat (BAB II hal. 18).
99

Dari perbedaan muncul respon pasien akibat faktor penyebab


gastroenteritis itu sendiri yaitu faktor infeksi virus dan bakteri sehingga
terjadi peningkatan suhu tubuh, serta malabsorbsi pada saluran
pencernaan sehingga terjadi distensi abdomen.

2. Diagnosa keperawatan pada An. F dan An. D dengan gastroenteritis


dehidrasi sedang
Menurut Amin Huda (2016), Diagnosa Keperawatan berdasarkan
penerapan diagnosa NANDA dengan kasus gangguan gastrointestinal
antara lain :
a. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan
kehilangan cairan aktif.
b. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan diare, mual, muntah, tidak nafsu makan.
d. Nyeri berhubungan dengan adanya distensi abdomen
e. Kerusakan integritas kulit perianal berhubungan dengan frekuensi
BAB yang sering / kelembaban.
f. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan
Data yang diperoleh dari pengkajian, kemudian dilakukan proses
analisa dan pengelompokan data berdasarkan respon klien terhadap
masalah tersebut, akhirnya penulis merumuskan tiga diagnosa
keperawatan pada:
An. F : - Kekurangan volume cairan Dan elektrolit
- Hipertermi
- Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
An. D : - Kekurangan volume cairan Dan elektrolit
- Nyeri
- Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Penulis menentukan Kekurangan volume cairan Dan elektrolit sebagai
diagnosa aktual untuk An. F dan An. D karena klien mengalami dehidrasi
karena BAB lebih dari 3 kali dengan konsistensi feces cair. An. F BAB 4 kali
100

sedangkan An. D BAB 5 kali sehingga keduanya mengalami dehidrasi yang


disebabkan oleh output yang berlebihan.
Penulis menentukan Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh sebagai diagnosa potensial karena An. F dan An. D muntah
sehingga mengakibatkan An. F dan An. D tidak mendapat intake yang cukup.
Antara intake dan output mengalami ketidakseimbangan yang membuat An. F
dan An. D menjadi lemah dan perutnya kembung karena tidak ada makanan
yang masuk serta mengalami penurunan berat badan tetapi tidak berlebihan.
Pada An. F penulis menentukan hipertermi sebagai diagnosa tambahan
karena An. F terjadi peningkatan suhu tubuh akibat terjadinya infeksi.
Sedangkan An. D penulis menentukan nyeri sebagai diagnosa tambahan karena
terdapat nyeri pada abdomen akibat dari distensi usus.
Pada proses penegakan diagnosa keperawatan, penulis tidak
menemukan faktor penghambat. Kerja sama yang baik antara perawat dan
keluarga klien, serta data yang sangat mendukung merupakan faktor yang
sangat mendukung dari penulis untuk mengangkat diagnosa tersebut.

3. Intervensi Keperawatan Pada An. F dan An.D Dengan


Gastroenteritis
Rencana Keperawatan yang penulis lakukan pada An. F dan An. D
dengan diagnosa : Kurang volume cairan berhubungan dengan
kehilangan cairan aktif melalui sistem gastrointestinal dengan tujuan
umum : Kurang volume cairan terpenuhi setelah di lakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 Jam dengan kriteria hasil : Pasien BAB yang
Normal, Pasien tidak lemah dan tidak menunjukan tanda-tanda dehidrasi.
Tujuan khusus, Kaji intake – output, kaji TTV pasien, anjurkan pasien
untuk banyak minum air putih, ajarkan keluarga pasien tanda-tanda
dehidrasi pada diare, ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi cairan. Diagnosa :
Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan penurunan intake makanan dengan tujuan umum :
Keseimbangan nutrisi terpenuhi setelah di lakukan tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam dengan kriteria hasil : Pasien nafsu makan, pasien
101

tidak mengeluh nyeri di abdomen, pasien tidak muntah, dan pasien tidak
pucat.
Tujuan khusus, kaji pola makan, anjurkan pasien makan sedikit tetapi
sering. Berikan lingkungan yang nyaman dan tenang, kolaborasi dengan
ahli Gizi untuk pemberian diet. Diagnosa : Hipertermi berhubungan
dengan dengan inflamasi dan dengan tujuan umum : Hipertermi teratasi
setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam dengan
kriteria hasil : suhu pasien dalam rentang normal, kulit pasien tidak
teraba hangat. Tujuan khusus, kaji tanda-tanda vital, anjurkan keluarga
pasien untuk memberikan pakaian tipis pada pasien, ajarkan pada
keluarga pasien tanda-tanda hipertermi, ciptakan lingkungan yang
nyaman dan tenang dan kolaborasi untuk terapi antipiretik selanjutnya
dengan dokter. Diagnosa : Nyeri berhubungan dengan adanya distensi
abdomen dengan tujuan umum : Nyeri teratasi setelah di lakukan
tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam dengan kriteria hasil : Tidak ada
tanda-tanda nyeri, Rasa nyeri berkurang, Klien tidak tampak mengeluh
dan menangis, Ekspresi wajah klien tidak menunjukkan nyeri, Klien
tidak gelisah, dan Klien dapat menggunakan teknik non farmakologis.
Tujuan khusus, Kaji secara komprehensif terhadap nyeri termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri dan faktor
presipitasi, Observasi reaksi ketidaknyamanan secara nonverbal,
Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengungkapkan
pengalaman nyeri dan penerimaan klien terhadap respon nyeri, Tentukan
pengaruh pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup ( nafsu makan, tidur,
aktivitas, mood, hubungan sosial), Tentukan faktor yang dapat
memperburuk nyeri, Lakukan evaluasi dengan klien dan tim kesehatan
lain tentang ukuran pengontrolan nyeri yang telah dilakukan, Berikan
informasi tentang nyeri termasuk penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
hilang, antisipasi terhadap ketidaknyamanan dari prosedur, Control
lingkungan yang dapat mempengaruhi respon ketidaknyamanan klien
(suhu ruangan, cahaya dan suara), Hilangkan faktor presipitasi yang
dapat meningkatkan pengalaman nyeri klien( ketakutan, kurang
102

pengetahuan). Ajarkan cara penggunaan terapi non farmakologi


(distraksi, guide imagery, relaksasi), Kolaborasi pemberian analgetik.
Berdasarkan intervensi yang penulis lakukan pada An. F dan An.
D terdapat sedikit kesenjangan antara konsep dasar teori dengan
pembahasan pada kasus, dimana adanya perbedaan diagnosa sehingga
intervensi dikondisikan pada diagnosa yang ada. Penulis mengacu pada
teori yang ada.

4. Implementasi Keperawatan Pada An. F dan An. D Dengan


Gastroenteritis
Implemetasi yang penulis lakukan An.F dengan diagnosa kurang
volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan aktif yang
berlebihan melalui feses atau emesis. Mengkaji intake – output,
mengkaji TTV pasien, menganjurkan pasien untuk banyak minum air
putih, mengajarkan keluarga pasien tanda-tanda dehidrasi pada diare,
menciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang. Kolaborasi dengan
dokter dalam pemberian terafi cairan. Dan keluarga berhasil
memperaktikan rencana keperawatan tersebut. Dan tindakan tersebut
belum bisa mengatasi masalah kurang volume cairan. Implementasi ini di
lakukan selama tiga hari dengan hasil untuk hari kedua teratasi sebagian
dan implemantasi hari ke tiga teratasi untuk masalah kurang volume
cairan. Hal ini untuk melihat perkembangan pasien, pasien BAB nya
normal, pasien tidak tampak lemah dan pasien tidak menunjukan tanda-
tanda dehidrasi.
Implementasi yang di lakukan penulis pada An.F pada diagnosa :
Resiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan penurunan intake makanan, mengkaji pola makan,
menganjurkan pasien makan sedikit tetapi sering. memberikan
lingkungan yang nyaman dan tenang, kolaborasi dengan ahli Gizi untuk
pemberian diet. Dan keluarga berhasil memperaktikan rencana
keperawatan tersebut. Tindakan keperawatan tersebut belum teratasi
untuk masalah Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutahan
103

tubuh. Tindakan keperawatan ini di lakukan selama tiga hari pada hari
kedua masalah teratasi sebagian dan pada hari ketiga masalah baru dapat
teratasi. Pasien tidak mengeluh nyeri di abdomen, pasien tidak muntah
dan pasien tidak pucat.
Implementasi yang di lakukan penulis pada An.F pada diagnosa
Hipertermi berhubungan dengan inflamasi suhu pasien dalam rentang
normal, kulit pasien tidak teraba hangat. Mengkaji tanda-tanda vital,
Menganjurkan keluarga pasien untuk memberikan pakaian tipis pada
pasien, mengajarkan pada keluarga pasien tanda-tanda hipertermi,
menciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang dan berkolaborasi
untuk terafi deuretik selanjutnya dengan dokter. Dan keluarga berhasil
mempraktekkannya namun masalah keperawatan tersebut belum dapat
teratasi. Tindakan keperawatan ini di lakukan selama dua hari pada hari
pertama masalah teratasi sebagian dan pada hari kedua masalah
keperawatan teratasi. Dengan kondisi suhu anak dalam batas normal,
kulit tidak teraba hangat, pasien tidak sulit tidur dan pasien tidak gelisah.
Implementasi yang penulis lakukan An.D dengan diagnosa
kurang volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
yang berlebihan melalui feses atau emesis. Mengkaji intake – output,
mengkaji TTV pasien, menganjurkan pasien untuk banyak minum air
putih, mengajarkan keluarga pasien tanda-tanda dehidrasi pada diare,
menciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang. Kolaborasi dengan
dokter dalam pemberian terafi cairan. Dan keluarga berhasil
memperaktikan rencana keperawatan tersebut. Dan tindakan tersebut
belum bisa mengatasi masalah kurang volume cairan. Implementasi ini di
lakukan selama tiga hari dengan hasil untuk hari kedua teratasi sebagian
dan implemantasi hari ke tiga teratasi untuk masalah kurang volume
cairan. Hal ini untuk melihat perkembangan pasien, pasien BAB nya
normal, pasien tidak tampak lemah dan pasien tidak menunjukan tanda-
tanda dehidrasi.
104

Implementasi yang di lakukan penulis pada An.D pada diagnosa :


Resiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan penurunan intake makanan, mengkaji pola makan,
menganjurkan pasien makan sedikit tetapi sering. memberikan
lingkungan yang nyaman dan tenang, kolaborasi dengan ahli Gizi untuk
pemberian diet. Dan keluarga berhasil mempraktikan rencana
keperawatan tersebut. Tindakan keperawatan tersebut belum teratasi
untuk masalah Resiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutahan
tubuh. Tindakan keperawatan ini di lakukan selama tiga hari pada hari
kedua masalah teratasi sebagian dan pada hari ketiga masalah baru dapat
teratasi. Pasien tidak mengeluh nyeri di abdomen, pasien tidak muntah
dan pasien tidak pucat.
Implementasi yang di lakukan penulis pada An.D pada diagnosa
Nyeri berhubungan dengan adanya distensi abdomen, Mengkaji secara
komprehensif terhadap nyeri termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas nyeri dan faktor presipitasi, mengobservasi
reaksi ketidak nyaman secara nonverbal, menggunakan strategi
komunikasi terapeutik untuk mengungkapkan pengalaman nyeri dan pene
rimaan klien terhadap respon nyeri, Menentukan pengaruh pengalaman
nyeri terhadap kualitas hidup (nafsu makan, tidur, aktivitas, mood,
hubungan sosial), menentukan faktor yang dapat memperburuk nyeri,
melakukan evaluasi dengan klien dan tim kesehatan lain tentang ukuran
pengontrolan nyeri yang telah dilakukan, memberikan informasi tentang
nyeri termasuk penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan hilang, antisipasi
terhadap ketidaknyamanan dari prosedur, mengontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi respon ketidaknyamanan klien (suhu ruangan,
cahaya dan suara), menghilangkan faktor presipitasi yang dapat
meningkatkan pengalaman nyeri klien ( ketakutan, kurang pengetahuan).
mengajarkan cara penggunaan terapi non farmakologi (distraksi, guide
imagery, relaksasi), mengkolaborasikan pemberian analgetik. Dan
keluarga berhasil mempraktikan rencana keperawatan tersebut. Tindakan
keperawatan tersebut belum teratasi untuk masalah Nyeri berhubungan
105

dengan adanya distensi abdomen. Tindakan keperawatan ini di lakukan


selama tiga hari pada hari kedua masalah teratasi sebagian dan pada hari
ketiga masalah baru dapat teratasi. Pasien tidak mengeluh nyeri di
abdomen.

5. Evaluasi Keperawatan Pada An. F dan An. D dengan Gastroenteritis


Setelah di lakukan implementasi kedua kepada partisipan ternyata
dalam pelakasanaannya di temukan respon yang sama.
a. Masalah kurang volume cairan yang berhubungan dengan
kehilangan cairan aktif berlebihan melalui feses atau emesis pada
An. F dan An. D teratasi, intervensi di hentikan.
b. Masalah potensial ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan penurunan intake makanan pada An. F
dan An. D teratasi, intervensi di hentikan.
c. Masalah hipertermi pada An. F teratasi, intervensi di hentikan.
d. Masalah nyeri pada An. D teratasi, intervensi dihentikan