Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

TAUHID RUBUBIYAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah GDA 402 – Agama


Dosesn Pengampu: Kusdana, M.Ag.

Disusun oleh:
Kelompok 1
Andika Suandra (232013154) Frendi Aditya (232015013)
Suri Subagja Karim (232013163) Arif Ramdhani (232015019)
Serdy Tri Witjaksono (232015021)
Bugie Guntara (232014027) Dina Sonia (232015026)
Geral Okta P. (232015004) Arfi Erning P. (232015027)

Kelas : B

JURUSAN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
Februari, 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT., atas segala limpahan
rahmat, taufik, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Agama di Itenas yang
berjudul “Tauhid Rububiyah”

Sholawat serta salam kami tetap curahkan kepada junjungan Nabi Muhammad
SAW., serta keluarga, sahabat, dan umatnya. Penyelesaian makalah ini tidak lepas
dari bantuan beberapa pihak telah membantu penulisan baik berupa dukungan,
bantuan materi, informasi dan literatur. Untuk itu, kami ingin mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam
penyusunan makalah ini karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki, oleh
karena itu penulis mohon kritik dan saran yang membangun. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi semuanya.

Bandung, Februari 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembahasan mengenai tauhid merupakan hal yang paling penting dalam
agama Islam, dimana tauhid mengambil peranan penting dalam membentuk
pribadi-pribadi yang tangguh, selain juga sebagai inti atau akar daripada ‘Aqidah
Islamiyah. Keimanan itu merupakan akidah dan pokkok yang di atasnya berdiri
syari’at Islam. Kemudian dari pokok itu keluarlah cabang-cabangnya (Sabiq, 1993).
Tauhid ialah mengesakan Allah dan mengakui keberadaannya serta kuat
kepercayaannya bahwa Allah itu hanya satu tidak ada yang lain. Tidak ada sekutu
baginya, yang bisa menandinginya bahkan mengalahkannya.
Manusia berdasarkan fitrah dan akal sehat pasti mengakui bahwasanya Allah
itu Maha esa. Seorang muslim wajib mengimani akan keesaaan Allah ta’ala dan
bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah ta’ala,
adapun kalimat tauhid itu sendiri yang dimaksud ialah La ilaha illah yang berarti
tidak ada yang berhak disembah selain Allah.Ada tiga macam tauhid dalam islam,
yakni: Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa sifat. Ketiga tauhid tersebut harus
dimiliki oleh manusia sebagai hamba-Nya. Sebagai umat muslim kita tidak boleh
hanya memiliki salah satu dari ketiga tauhid tersebut, karena ketiga tauhid tersebut
merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Apabila kita hanya
mempercayai salah satu diantaranya maka kita tidak bisa disebut sebagai seorang
yang syirik bahkan keluar dari islam.
Jadi tiga jenis Tauhid di atas, wajib diketahui oleh setiap muslim (dan segala
ubudiyah kita kepada Allah wajib dengan ketiga tauhid itu semua) karena Tauhid
adalah pondasi keimanan seseorang kepada Allah ta’ala, sehingga hendaklah
senantiasa menjaga kemurnian tauhid dalam beribadah kepada Allah ta’ala dari apa
saja yang dapat merusak Tauhid.
1.2 Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengertian Tauhid, dan jenis Tauhid khususnya Tauhid
Rububiyah.
BAB II
ISI

2.1 Pengertian Tauhid


Tauhid diartikan dalam 2 definisi yaitu secara Etimologi dan secara
Terminologi.
2.1.1 Pengertian Secara Etimologi
Tauhid, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata tauhid merupakan kata
benda yang berarti keesaan Allah; kuat kepercayaan bahwa Allah hanya satu.
Perkataan tauhid berasal dari bahasa Arab, masdar dari kata Wahhada (‫) وحد‬
Yuwahhidu (‫ )يوحد‬.Tauhidan ( ‫( )توحدا‬Asmuni, 1993).
Secara etimologis, tauhid berarti keesaan. Maksudnya, keyakinan bahwa
Allah SWT adalah Esa, Tunggal, satu. Pengertian ini sejalan dengan pengertian
tauhid yang digunakan dalam bahasa Indonesia, yaitu “Keesaan Allah”;
mentauhidkan berarti “mengakui akan keesaan Allah mengeesakan Allah”.1
Jubaran Mas‟ud menulis bahwa tauhid bermakna “beriman kepada Allah, Tuhan
yang Esa”, juga sering disamakan dengan “‫“ ”الاله اال هللا‬tiada Tuhan Selain Allah”.2
Fuad Iframi Al-Bustani juga menulis hal yang sama. Menurutnya tauhid adalah
Keyakinan bahwa Allah itu bersifat “Esa”.3
Jadi tauhid berasal dari kata “wahhada” (‫“ )وحد‬yuwahhidu” (‫ “ )يوحد‬Tauhidan”
(‫)توحيدا‬, yang berarti mengesakan Allah SWT.4
Menurut Syeikh Muhammad Abduh tauhid ialah: suatu ilmu yang membahas
tentang wujud Allah, sifat-sifat yang wajib tetap pada-Nya, sifat-sifat yang boleh
disifatkan kepada-Nya, dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan
pada-Nya.Juga membahas tentang rasul-rasul Allah, meyakinkan kerasulan
mereka, apa yang boleh dihubungkan (dinisbatkan) kepada mereka, dan apa yang
terlarang menghubungkannya kepada diri mereka.5

1 Ibid,...
2 Jubaran Mas’ud, Raid Ath-Thullab (Beirut: Dar Al’ilmi Lilmalayyini, 1967), 972.
3 Fuad Iqrami Al-bustani, Munjid Ath-Thullab (Beirut: Dar Al-Masyriqi, 1986), 905.
4 Syahminan Zaini, Kuliah Akidah Islam (Surabaya: Al Ikhlas, 1983), 54
5 Yusron Asmuni, Op. Cit., 2.
Menurut Zainuddin, Tauhid berasal dari kata “wahid” (‫ )واحد‬yang artinya
“satu”. Dalam istilah Agama Islam, tauhid ialah keyakinan tentang satu atau Esanya
Allah, maka segala pikiran dan teori berikut argumentasinya yang mengarah kepada
kesimpulan bahwa Tuhan itu satu disebut dengan Ilmu Tauhid.6
Ada beberapa istilah lain yang semakna atau hampir sama dengan tauhid
yakni :
a. Iman. Menurut Asy „ariyah iman hanyalah membenarkan dalam hati. Senada
dengan ini Imam Abu Hanifah mengatakn bahwa iman hanyalah’itiqad.
Sedangkan amal adalah bukti iman. Namun tidak dinamai iman. Ulama Salaf
diantaranya Imam Ahmad, Malik, dan Syafi‟i, iman adalah :
‫اعتقاد بالجىان ووطق باللسان وعمل باالركان‬
Iman adalah sesuatu yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan
diamalkan dengan anggota tubuh.7
b. Aqidah. Menurut bahasa ialah keyakinan yang tersimpul kokoh di dalam hati,
mengikat, dan merngandung perjanjian. Sedangkan menurut terminologis di
antaranya pendapat Hasan al-Banna mengatakan bahwa aqidah ialah beberapa
hal yang harus diyakini kebenarannya oleh hati, sehingga dapat mendatangkan
ketenteraman, keyakinan yang tidak bercampur dengan keragu-raguan8.
Penyusun cenderung kepada pendapat Yunahar Ilyas yang mengidentikkan
antara tauhid, iman, dan aqidah. Tauhid merupakan tema sentral aqidah dan
iman.9
Hakeem Hameed mengartikan tauhid sebagai sebuah kepercayaan ritualistik
dan perilaku seremonial yang mengajak manusia menyembah realitas hakiki
(Allah); dan menerima segala pesan-Nya yang disampaikan lewat kitabkitab suci
dan para Nabi untuk diwujudkan dalam sikap yang adil, kasih sayang, serta menjaga
diri dari perbuatan maksiat dan sewenang-wenang demi mengerjakan perintah dan
menjauhi larangan-Nya10

6 Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap (Jakarta: Rineka Cipta 1992), 1.


7 Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam (Yogyakarta: LPPI, 2004), 4.
8 Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, (Yogyakarta: LPPI, 2004), 4.
9 Ibid,
10 Hakeem Abdul Hameed, Aspek-aspek Pokok Agama Islam, terj. Ruslan Shiddieq, (Jakarta:
Dunia Pustaka Jaya, 1983), Cet. 1,36.
Tauhid menurut Abu al-A‟la al-Maududi adalah kalimat deklarasi seorang
muslim, kalimat pembeda seorang muslim dengan orang kafir, ateis dan musyrik.
Sebuah perbedaan yang lebih terletak pada peresapan makna tauhid dan
meyakininya dengan sungguh-sungguh kebenaran-Nya dengan mewujudkannya.
dalam perbuatan agar tidak menyimpang dari ketetapan Ilahi.11
Lain halnya Muhammad Taqi, Tauhid berarti meyakini keesaan Allah.
Keyakinan ini berarti meyakini bahwa Allah adalah satu dalam hal wujud,
penciptaan, pengatur, pemerintah, penyembahan, meminta pertolongan, merasa
takut, berharap, dan tempat pelabuhan cinta. Intinya tauhid menghendaki agar
seorang muslim menyerahkan segala urusan dan hatinya hanya kepada Allah.12
Maka nampak bahwa secara umum, Tauhid lebih sering diartikan dengan
teoantroposentris; yang mana pembahasannya masih berkutat pada pemusatan pada
Allah dan bahwa manusia mesti mengabdi pada-Nya. Belum ada pembahasan
secara rinci tentang tauhid sebagai prinsip kehidupan, prinsip pokok yang menjadi
prinsip atas aspek-aspek kehidupan. Aspek keluarga, negara, ekonomi, sosial,
politik, sosial, pengetahuan dan sebagainya selengkap yang dilakukan oleh Ismail
Raji al-Faruqi.13
Kata Tauhid terdiri dari perkataan “Theos” artinya Tuhan, dan “logos” yang
berarti ilmu (science, study, discourse). Jadi Theologi berarti ilmu tentang Tuhan
atau ilmu ketuhanan. Definisi theologi yang diberikan oleh para ahli-ahli ilmu
agama antara lain dari Fergilius Ferm, yaitu: The discipline which concerns God
(or the Divine Reality) and God‟s relation to the world (Tauhid ialah pemikiran
sistematis yang berhubungan dengan alam semesta).14
Al-Qusyairi, lengkapnya Abul-Qasim Abdul-Karim al-Qasyairi adalah sufi
terkemuka dari abad ke-11 (5 H). la lahir pada 986 (376 H) di Istiwa, dekat dengan
salah satu pusat pengajaran ilmu-ilmu agama, kota Nisyapur (di Iran). Sebelum
menyelami dan mengamalkan ilmu tasawuf, terlebih dahulu ia mendalami fikih,
ilmu kalam, usul fikih, sastra Arab, dan lain-lain. la belajar dan bergaul dengan

11 Abdul A’la al-maududi, Prinsip-prinsip Islam, terj. Abdullah Suhaili, (Bandung: al-
Ma’arif,1975), 68.
12 Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Filsafat Tuhid, terj. M. Ha bin Wicaksana, (Bandung: Mizan,
2003), 61-64
13 Ismail Raji al-Faruqi, Tauhid, terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Pustaka, 1988), Cet. 1, seluruh
isi buku.
14 A. Hanafi, Pengantar Tauhid Islam (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003),1.
banyak ulama, antara lain dengan Abu Bakar Muhammad bin Abu Bakar at-Tusi
(w. 1014/405 H), ahli fikih, dengan Abu Bakar bin Faurak (w. 1016/407 H), ahli
usul fikih dan ilmu kalam, dengan Abu Ishaq al-Isfarayaini (w.1027/418 H), dan
lain-lain.15
Setelah matang menyelami ilmu lahir, sehingga ia pantas disebut ahli fikih,
yang menganut mazhab Syafi'i, dan ahli ilmu kalam, yang menganut aliran
Asy‟ariyah atau Ahlus Sunnah wal-Jamaah, ia melanjutkan studinya pada seorang
sufi terkenal di Nisyapur yaitu Syekh Abu Ali ad-Daqqaq (w. 1023/412 H).
Syekhini mempunyai pengaruh yang besar atas pribadi al-Qusyairi, dan hasil
membimbingnya menjadi bagian dari kelompok murid-murid yang istimewa
(khawas). Al-Qusyairi bahkan dikawinkan dengan putri Syekh Ali ad-Daqqaq.16
Dengan latar belakang kematangan dalam ilmu lahir (syariat), tidak
mengherankan bahwa tasawuf yang dianut dan diajarkan oleh al-Qusyairi adalah
tasawuf yang sejalan dengan ajaran syariat. Dari tulisan-tulisannya yang dijumpai,
terlihat bahwa ia berupaya menyadarkan orang bahwa tasawuf yang benar itu
adalah tasawuf yang bersandarkan pada akidah yang benar, seperti yang dianut oleh
para salaf atau ahlus sunnah, dan tidak menyalahi ketentuan syariat.17
Sebagai pengikut Tauhid Asy'ariyah, ia juga aktif membela.akidah Ahlus
Sunnah wal-Jamaah, dan menyerang aliran-aliran lain, seperti Syi'ah, Mu'tazilah,
dan lain-lain. Karena aktivitas demikian, ia pernah dipenjarakan pada 1055 (445
H), selama lebih sebulan, oleh pihak penguasa (Tugrul Bek), berdasarkan saran
menterinya yang berpaham Syi'ah. Dua puluh tahun kemudian, ia wafat dan
dikuburkan di Nisyapur (pada 1075/465 H).
Karya al-Qusyairi yang amat berharga bagi sejarah kesufian adalah karya
tulisnya yang bernama ar-Risalat al-Qusyairiyyat, karena dengan karya tulis
tersebut ia telah berhasil mengabadikan warisan rohaniah kaum sufi abad ke-3 dan
4 Hijrah, berupa keterangan-keterangan tentang perjalanan hidup dan wejangan
wejangan para tokoh sufi. Karya tulisnya yang lain, yang cukup penting pula adalah
Lataifal-Isyarat, sebuah kitab tafsir al-Quran dengan penafsiran kesufian. Selain

15 A. Hanafi, Pengantar Tauhid Islam (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003),1.


16 Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: IKAPI 1992),
796-798.
17 Ibid,...
dari kedua karyatulis di atas (sudah dicetak), masih ada 13 buah judul lagi karya
tulisnya, sebagian sudah diterbitkan dan yang lain masih berupa manuskrip (tulisan
tangan).18
Dalam konsepnya tentang Tauhid, Al-Qusyairi membagi Tauhid dalam tiga
kategori : Pertama, Tauhid Allah untuk Allah, yakni mengetahui bahwa Allah itu
Esa. Kedua, mengesakan Allah untuk makhluk, yaitu keputusan Allah bahwa
seorang hamba adalah yang mengesakan-Nya dan Allah menciptakannya sebagai
hamba yang mempunyai tauhid. Ketiga, Tauhid makhluk untuk Allah, yaitu seorang
hamba yang mengetahui bahwa Allah adalah Esa. Dia memutuskan sekaligus
menyampaikan bahwa Allah itu Esa. Uraian ini merupakan penjelasan singkat
tentang makna tauhid.19

2.1.2 Pengertian Secara Terminologi

Kalimat “Tauhid” secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi‟il
Wahhada-Yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan
sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini
tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain
sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya”20
Secara istilah syar‟i, makna Tauhid adalah menjadikan Allah sebagai
satusatunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya. Dari makna ini
sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh
manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan
makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah
sebagai satu-satunya sesembahan saja.21
Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil Tauhid yang dilakukan para ulama
sejak dahulu hingga sekarang, mereka menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi
menjadi tiga: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Asma Was
Shifat.

18 Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, Abdul, Risalah Qusyairiyah (Jakarta:
Pustaka amani, 2002), 4.
19 Ibid,...
20 Syarh Tsalatsatil Ushul,... 39.
21 Syarh Tsalatsatil Ushul,... 39.
Tauhid (bahasa Arab: ‫ ) توحيد‬merupakan konsep monoteisme Islam yang
mempercayai bahawa Tuhan itu hanya satu. Tauhid ialah asas Aqidah. Dalam
bahasa Arab, "Tauhid" bermaksud "penyatuan", sedangkan dalam Islam, "Tauhid"
bermaksud "menegaskan penyatuan dengan Allah". Lawan untuk Tauhid ialah
"mengelak daripada membuat", dan dalam bahasa Arab bermaksud"pembahagian"
dan merujuk kepada "penyembahan berhala".22
Tauhid menurut bahasa artinya mengetahui dengan sebenarnya Allah itu Ada
lagi Esa. Menurut istilah, tauhid ialah satu ilmu yang membentangkan tentang
wujudullah (adanya Allah) dengan sifat-Nya yang wajib, mustahil dan jaiz (harus),
dan membuktikan kerasulan para rasul-Nya dengan sifat-sifat mereka yang wajib,
mustahil dan jaiz, serta membahas segala hujah terhadap keimanan yang berhubung
dengan perkara-perkara sam‟iyat, iaitu perkara yang diambil dari al-Quran dan
Hadis dengan yakin.23
Dinamakan ilmu ini dengan Tauhid, adalah karena pembahasan-
pembahasanya yang paling menonjol, Ialah pembahasan tentang ke-Esahan Allah
yang menjadi sendi asasi agama Islam, Bahkan sendi asasi bagi segala agama yang
benar yang telah dibawakan oleh para Rosul yang diutus Allah.24
Kemudian ditegaskan oleh Ibnu Khaldun dalam kitabnya Muqadimah bahwa
kata Tauhid mengandung makna keesaan Tuhan.26 telah dipahami bersama bahwa
setiap cabang ilmu pengetahuan itu telah mempunyai obyek dan tujuan tertentu
karena itu setiap cabang ilmu pengetahuan juga masing-masing mempunyai
batasan-batasan tertentu pula. Demi batasan-batasan tertentu pengaruhnya adalah
sangat besar bagi para ilmuan dan cendikiawan di dalam membahas, mengkaji, dan
menelaah obyek garapan dari suatu cabang ilmu pengetahuan.

22 Wikipedia, Ensiklopedia bebas.


23 Ibid,...
24 Ibid,...
2.2 Tauhid Rububiyah
Kata at-tauhid berasal dari kata wahhada, yuwahhidu, tauhidan. Kata
wahhada meliputi makna kesendirian sesuatu dengan dzat, sifat atau af’alnya
(perbuatannya), dan tidak adanya sesuatu yang menyerupainya dan menyertainya
dalam hal kesendiriannya.25
Secara bahasa rububiyah berasal dari kata Rabb. Kata Rabb digunakan
dengan penggunaan yang haqiqi dan juga digunakan untuk yang lain secara majazi
atau idhafi, dan tidak untuk yang lain. Rububiyah adalah kata yang dinisbatkan
kepada salah satu nama Allah SWT, yaitu “Rabb”. Nama ini mempunyai beberapa
arti, antara lain: al-Murabbi (pemelihara), al-Nashir (penolong), al-Malik (pemilik),
al-Muslih (yang memperbaiki), al-Sayyid (tuan), dan al-Wali (wali). Sedangkan
menurut istilah tauhid rububiyah berarti “percaya bahwa hanya Allah-lah satu-
satunya pencipta, pemilik, pengendali alam raya yang dengan takdirnya Ia
menghidupkan dan mematikan serta mengendalikan alam dengan sunnah-sunnah-
Nya. Dan karena Allah adalah Rabb yang hak bagi semesta alam, maka Dia sajalah
yang khusus dengan ketuhanan tanpa yang lain, wajib mengesakan-Nya dalam
ketuhanan, dan tidak menerima adanya sekutu bagi-Nya dalam ketuhanan, yaitu
sifat ketuhanan tidak mungkin ada pada yang lain dari makhluk-Nya.
Tauhid rububiyah adalah suatu kepercayaan bahwa yang menciptakan alam
dunia beserta isinya ini hanyalah Allah sendiri tanpa bantuan siapapun. Dunia ini
ada yang menjadikan yaitu Allah SWT. Allah maha kuat tiada kekuatan yang
menyamai af’al Allah. Maka timbullah kesadararan bagi mahluk untuk
mengagungkan Allah. Mahluk harus bertuhan hanya kepada Allah, tidak kepada
yang lain. Maka keyakinan inilah yang disebut dengan tauhid rububiyah. Jadi
tauhid rububiyah adalah tauhid yang berhubungan dengan ketuhanan.
Sebagaimana telah dikatahui bahwa iman kepada wujud Allah, ke-Esaan,
serta rububiyyah-Nya atas seluruh mahluknya merupakan perkara yang memang
hati telah tercipta dan jiwa telah terbentuk untuknya, juga telah sepakat atasnya
seluruh umat, sebab Allah sangat jelas dan sangat nyata sehingga tidak memerlukan
dalil untuk membuktikan wujudnya. Firman Allah SWT:
‫قا لت رسلهم افى ا هلل شك فا طر ا لسموات وا الرض‬

25 Muhammad bin A.W. Al-‘Aqil, Manhaj ‘Aqiqah Imam Asy-Syafi’I, Jakarta: Pustaka Imam
Asy-Syafi’I, 2009, hal. 279
“Berkata para rasul mereka: ‘Apakah ada keraguan-keraguan terhadap Allah,
pencipta langit dan bumi…?”. (QS. Ibrahim: 10).

Allah pencipta alam beserta isinya, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an:
‫ذا لكم ا هلل ربكم ال ا له اال هو خا لق كل شيء فعبدوه وهو على كل شيء وكيل‬
“Yang memiliki sifat-sifat demikian itu ialah Allah tuhan kamu, tidak ada tuhan
selain dia, pencipta segala sesuatu maka sembahlah dia, dialah pemelihara segala
sesuatu”. (QS. Al-An’am: 102).

Jadi dapat disimpulkan bahwasanya kata rububiyah meyakini bahwa Allah


SWT sebagai tuhan satu-satunya yang menguasai dan mengurus serta mengatur
alam semesta. Tauhid rububiyah akan rusak apabila kita mengakui bahwa yang
mengurus alam ini ada dua tuhan ataupun lebih. Seperti dipercayai oleh bangsa
persi pada zaman dahulu. Adapun Al-Qur’an menetapkan ke-Esaan Allah dalam
menjadikan alam (tauhid rububiyah) dengan berbagai dalil dan akal yang logis.
Memang Al-Qur’an mengokohkan ke-Esaan Allah sebagaimana Al-Qur’an
mengokohkan adanya Allah.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Kata at-tauhid berasal dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhidan. Kata
wahhada memiliki makna kesendirian sesuatu dengan dzat, sifat atau
af’alnya dan tidak adanya sesuatu yang menyerupainya dan menyertainya
dalam hal kesendiriannya.
2. Tauhid rububiyah ialah suatu kepercayaan bahwa yang menciptakan alam
dunia beserta isinya ini hanyalah Allah sendiri tanpa bantuan siapapun
3. Tauhid uluhiyah adalah mengiktikadkan bahwa Allah sendirilah yang berhak
disembah dan berhak dituju oleh semua hambanya
4. Iman kepada asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah yang telah disebutkan
dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis yaitu mengimani semua asma-asma dan sifat-
sifat Allah secara utuh tanpa menyamakannya dengan sifat dan nama
manusia.

3.2 Penutup
Demikian makalah ini kami buat. Semoga apa yang kami diskusikan dapat
menambah rasa syukur kita kepada Allah dan menambah pengetahuan kami.
Adapun dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan yang masih perlu
kami sempurnakan. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini dan kami ucapan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA

Asmuni, M. Y., 1993. Ilmu Tauhid. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sabiq, S., 1993. Aqaid Al-Islamiya. hlm. 15 penyunt. Bandung: CV. Diponegoro.