Anda di halaman 1dari 11

PELATIHAN USAHA KREATIF PENGOLAHAN COCONUT COIR MENJADI

MEDIA TANAM COCO PEAT DAN PEMBENTUKAN BUMDES DI DESA DILEM


KECAMATAN KEMIRI

Edi Safitri, M.Si, Yudi Wiratno, S.T, Dwi Adi Purnama, Ratu Desti Wulandari, Bahrul Falah,
Masagus Zahidal Hakim, Miranda Primadini, Nur Muhammad Al Aziz, Sri Astuti, M.
Nugroho Adi Saputro

Universitas Islam Indonesia


Email: 14522387@students.uii.ac.id

Abstract
Dilem Village has a huge coconut potential that located in Kemiri District. This area is coconut
production. In Dusun II Desa Dilem consist of 116 heads of families mostly have at least 10 coconut
palms productive coconut trees up to even reach 50 productive palm trees is owned large. However,
coconut especially coconut husk has not been utilized optimally. Therefore, coconut coir utilization
training was used to be some products such as coco potty, coco doll, and coco pot. There are several
methods applied in the implementation of the Coco Peat Plant Development Training program, such
as counseling, training, introduction of pemsaran, and the establishment of BUMDES. The result
obtained is that the target dudun II can process coconut coir into coco peat and several products such
as coco potty, coco doll, and coco potted from coco peat, and the establishment of BUMDES DIMAS
JAYA as a marketing natural product for dilem.

Keyword : Coconut Coir, Coco Peat, Dilem, BUMDES

Abstract
Desa Dilem memiliki potensi kelapa yang sangat besar dimana Desa Dilem yang berada di
Kecamatan Kemiri ini merupakan daerah dengan produksi tanaman kelapa. Di Dusun II Desa Dilem
yang terdiri dari 116 Kepala keluarga sebagian besar memiliki tanaman kelapa minimal 10 pohon
kelapa produktif hingga bahkan mencapai 50 pohon kelapa produktif jika lahan yang dimiliki besar.
Namun, kelapa terutama sabut kelapa belum dimanfaatkans secara optimal. Sehingga,dilakukan
adanya pelatihan pemanfaatan coconut coir menjadi coco peat dan beberapa produk seperti coco
potty, coco doll, serta coco pot. Terdapat beberapa metode yang diterapkan dalam pelaksanaan
program Pelatihan Pembuatan Media Tanam Coco Peat, diantaranya adalah penyuluhan, pelatihan,
pengenalan pemsaran, dan pembentukan BUMDES. Hasil yang diperoleh yaitu masyarakat sasaran
dusun II dapat mengolah sabut kelapa menjadi beberapa produk seperti coco potty, coco doll, dan
media tanam coco peat, serta adanya pembentukan BUMDES DIMAS JAYA sebagai media
pemasaran hasil alam didesa Dilem.

Key word : Sabut Kelapa, Media Tanam, Dilem, BUMDES

1. PENDAHULUAN

Pertumbuhan dan perkembangan industri secara global terbilang cukup maju. Hal ini dibuktikan
oleh munculnya UKM maupun Perusahaan yang ikut serta dalam meramaikan dunia usaha di
Indonesia. Perkembangan Industri di Indonesia secara keseluruhan hampir selalu mengalami
peningkatan setiap tahunnya, dimulai dari industri jasa, makanan, fashion, peralatan elektronik,
hingga otomotif. Begitu pula yang terjadi pada industri kecil lainnya yang melibatkan golongan
masyarakat kecil menengah dalam membangun usaha guna meningkatkan pendapatan secara
finansial keluarga.
Pendapatan ekonomi keluarga dapat ditingkatkan oleh beberpa aktivitas kegiatan
yang memiliki nilai guna yang tinggi, seperti bekerja sehari-hari dan melakukan aktivitas
lainnya. Permasalahan ini juga dirasaakn oleh masyarakat yang ada didaerah Purworejo
khususnya Desa Dilem Kecamatan Kemiri. Mata Pencaharian warga Desa Dilem adalah
mayoritas petani kelapa.
Menurut BPS (1992) dalam Adiyati (1999), di Indonesia limbah buah kelapa hasil
pengolahan atau pengupasan yang dihasilkan per tahunnya mencapai sekitar 19,05 juta m3 yang
terdiri atas 35% serat dan 65% serbuk sabut kelapa. Luas areal kebun kelapa di Indonesia adalah
yang terbesar di dunia, yaitu 3,76 juta hektar (Setiadi, 2001).
Sabut kelapa merupakan bagian yang cukup besar dari buah kelapa, yaitu 35 % dari berat
keseluruhan buah. Sabut kelapa terdiri dari serat dan gabus yang menghubungkan satu serat
dengan serat lainnya (Agustian, et al., 2003).
Peningkatan jumlah kelapa yang dihasilkan dapat mengakibatkan peningkatan jumlah
limbah kelapa di daerah tersebut. Limbah hasil pengupasan buah kelapa seperti sabut kelapa
belum ditanggulangi secara maksimal di daerah tersebut sehingga dapat menjadi penumpukkan
limbah sabut kelapa. Limbah sabut kelapa dapat dianfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai
sehingga dapat meningkatkan taraf ekonomi di daerah tersebut.
Gambar 1. Limbah Sabut Kelapa
Di sisi lain, Desa Dilem memiliki potensi kelapa yang sangat besar dimana Desa Dilem yang
berada di Kecamatan Kemiri ini merupakan daerah dengan produksi tanaman kelapa. Di Dusun II
Desa Dilem yang terdiri dari 116 Kepala keluarga sebagian besar memiliki tanaman kelapa
minimal 10 pohon kelapa produktif hingga bahkan mencapai 50 pohon kelapa produktif jika lahan
yang dimiliki besar. Oleh karena itu, tidak heran apabila mata pencaharian utama warga adalah
petani nira dan penjual buah kelapa. Sayangnya hingga saat ini, kelapa yang dijual hanya
dimanfaatkan isinya saja dan menyisakan bagian sabut kelapa yang kemudian menumpuk
sehingga menjadi sampah atau malah dibakar yang menyebabkan pencemaran. Oleh karena itu,
diperlukan adanya upaya dalam penyadaran dan penguatan warga Desa Dilem yang mempunyai
kekayaan alam berupa kelapa agar pemanfaatannya bisa optimal.
Berdasarkan aspek SDM, sumber daya manusia yang dimiliki dapat dikatakan masih sangat
terbatas. Rata-rata penduduk desa hanya berijazah SMP atau SMA.Banyak penduduk yang tidak
melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dikarenakan beberapa faktor antara lain
jarak tempuh yang jauh untuk mencapai lokasi SMP maupun SMA, keterbatasan biaya untuk
melanjutkan sekolah, Sedangkan untuk biaya hidup di daerah perkotaan banyak warga yang
merasa tidak bisa menyanggupi. Mereka merasa lebih baik untuk berladang bersama orang
tuanya. Hal tersebut megakibatkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan untuk memajukan
baik secara keluarga maupun masyarakat,serta kurangnya pemahaman untuk memanfaatkan
potensi desa semaksimal mungkin karena hal tersebut.
Selama masa observasi dapat disimpulkan bahwa Desa Dilem memiliki potensi produksi yang
terbilang cukup melimpah namun belum dikelola secara maksimal oleh masyarakat desa yang
mana dalam pengelolahannya masih terbilang belum secara kolektif atau masih secara individual.
Dengan kata lain belum ada sinergi antar masyarakat desa dan juga belum adanya kesadaran
dalam pembentukan lembaga perekonomian atau Badan Usaha Milik Desa yang dapat mengelola
potensi sumber daya alam sebagai suatau wadah yang dapat mensejahterakan masyarakat desa
serta pembangunan perekonomian desa Dilem dan upaya penanggulangan kemiskinan di Desa
Dilem. Hal tersebut membuat masih adanya kesejangan sosial dan ekonomi di Desa Dilem.
Artikel ini akan membahas mengenai pelatihan pembuatan usaha kreatif produk media tanam
coco peat dari coconut coir yang bertujuan untuk melatih warga dalam membuat suatu jenis usaha
kreatif yang baru sehingga diharapkan dapat membantu warga dalam mengatasi permasalahan
yang dihadapi, kemudian pelatihan ini juga diharapkan mampu di implementasikan oleh warga
sehingga memperoleh output atau hasil yang tampak secara riil dan bisa dirasakan manfaatnya
baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Selain itu, adanya pembentukan dan pengelolaan
BUM Desa. Sehingga aset kekayaan dan potensi desa belum dapat digali dan dikelola secara
maksimal.

2. METODE PELAKSANAAN
Pelaksanaan kegiatan pelatihan di lakukan melalui pelatihan di Dusun II di Desa Dilem melalui
pelatihan langsung pada setiap RT dan pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang
ditujukan kepada organisasi muda Desa Dilem untuk pemasaran produk unggulan Desa dilem.
Objek sasaran yang dituju pelatihan media tanam coco peat adalah ibu-ibu PKK yang mampu
dan mau meikuti kegiatan ini guna menambah skill dan wawasan dan objek sasaran yang dituju
pada pembentukan BUMDES yaitu pemuda di Desa Dilem.

Terdapat beberapa metode yang diterapkan dalam pelaksanaan program Pelatihan Pembuatan
Media Tanam Coco Peat, diantaranya adalah penyuluhan, pelatihan, pengenalan pemsaran, dan
pembentukan BUMDES. Observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi yang ada di Desa
Dilem, terutama dalam hal aktifitas warga. Pelatihan sebagai kegiatan inti dilakukan untuk
melatih warga sasaran untuk mampu membuat produk kreatif dengan cara langsung dan diambil
3 titik lokasi pelatihan di satu dusun II di Desa Dilem. Harapannya, warga sasaran dapat
memahami pelatihan ini dengan baik dan dapat mengimplementasi dengan membuat produk kain
batik abstrak yang skala besar sehingga produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan, baik
digunakan oleh diri sendiri maupun dijadikan sebagai usaha baru dalam meningkatkan
perekonomian keluarga.
Berikut ini merupakan langkah-langkah kegiatan yang dilakukan:
2.1 Penyuluhan
Tahap penyuluhan merupakan tahap awal sebelum pelaksanaan program. Dalam tahap
ini yang dilakukan yaitu penyuluhan mengenai ekonomi kreatif dan pemanfaatan limbah
sabut kelapa atau coconut coir.
2.2 Pelatihan Penguraian Coconut Coir menjadi Coco Peat
Tahap ini dilakukan dengan menguraikan limbah sabut kelapa menjadi serbuk kelapa
pada masing-masing RT di Dusun II Desa Dilem. Kegiatan dilakukan melalui pelatihan
secara langsung kepada Ibu-Ibu PKK.
2.3 Pelatihan Pembuatan Media Tanam dari Coco Peat
Tahap Pelatihan pemanfaatan coco peat merupakan tahap inti. Pelatihan dilakukan 3 titik
disetiap RT di Dusun II Desa Dilem kepada Ibu-Ibu PKK. Tahap ini dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu:

a. Pelatihan dan Praktik Pembuatan Coco Potty


Ibu PKK Dusun II diberikan pelatihan mengenai cara membuat Coco Potty Dari
serbuk kelapa atau coco peat dari hasil penguraian sabut kelapa. Coco Potty
merupakan sebuah pot boneka potty yang unik dimana bagian dalam boneka berisi
serbuk sabut kelapa (coco peat).
b. Pelatihan dan Praktik Pembuatan Coco Doll
Ibu PKK Dusun II diberikan pelatihan mengenai cara membuat Coco Doll. Coco
Doll adalah sebuah boneka khas yang terbentuk dari pintalan serabut kelapa
sehingga dihasilkan boneka souvenir yang ramah lingkungan seperti boneka wisuda
maupun boneka unit coco peat.
c. Pelatihan dan Praktik Pembuatan Coco Pot
Ibu PKK Dusun II diberikan pelatihan mengenai cara membuat Coco Pot. Coco Pot
adalah sebuah pot pembibitan yang terbuat dari serabut kelapa. Coco Pot dapat
membantu mengurangi jumlah penggunaan pot plastik dan pot karet yang berbahaya
untuk lingkungan.
2.4 Pelatihan Pengemasan Produk
Pengemasan produk ditujukan untuk mendukung pemasaran produk yang telah
dihasilkan agar lebih menarik.
2.5 Pembentukan BUMDES untuk pemasaran produk
Tujuan dari program kerja adalah tentang pendirian Badan Usaha Milik Desa di Desa
Dilem, diantaraya adalah untuk merumuskan pokok-pokok pikiran yang akan menjadi
bahan dan dasar bagi penyusunan Rancangan Peraturan Desa (Raperdes) tentang
Pendirian Badan Usaha Milik Desa Dilem Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo.
Sasaran dari program kerja penulis adalah para perangkat desa dan masyarakat desa di
Desa Dilem.
Langkah pembentukan BUMDES melalui kegiatan penyusunan program kegiatan dan
penyusunan anggaran dasar rumah tangga (ADRT) tentang BUMDES DIMAS JAYA.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Uraian Kegiatan
Dalam menjalankan keseluruhan program yang telah dilaksanakan, dapat diketahui bahwa
terdapat beberapa tahapan dalam rangkaian kegiatan yang berjalan. Berikut merupakan uraian
kegiatan yang telah berjalan selama beberapa hari berada di lokasi KKN :
1. Penyuluhan
Penyuluhan dilakukan mengenai ekonomi kreatif dan pemanfaatan limbah sabut kelapa
yang dapat dijadikan produk bernilai. Ibu-Ibu PKK di setiap RT memiliki antusiasme
akan materi yang diberikan dikarenakan Ibu-Ibu PKK belum mengetahui manfaat sabut
kelapa sebelumnya.
2. Pelatihan Penguraian Coconut Coir menjadi Coco Peat
Sabut kelapa atau coconut coir yang sebelumnya menjadi limbah atau hanya digunakan
sebagai bahan bakar, dapat dimanfaatkan serbuknya dalam bentuk coco peat dengan cara
menguraikan sabut kelapa yang ada, kemudian serbuk kelapa akan jahtuh dan dapat
dikumpulkan. Hasil dari kegiatan ini, Ibu-Ibu PKK di 3 RT Dusun II mendapatkan coco
peat berupa serbuk kelapa.
Gambar 2. Penguraian Serbuk Kelapa Coco Peat

3. Pelatihan dan Praktik Pembuatan Coco Potty


Serbuk kelapa yang dihasilkan pada tahap sebelumnya diolah menjadi coco potty oleh
ibu-ibu PKK di setiap RT Dusun II di Desa Dilem. Coco Potty merupakan sebuah pot
boneka potty yang unik dimana bagian dalam boneka berisi serbuk sabut kelapa (coco
peat). Hasil yang diperoleh yaitu Ibu-Ibu PKK dapat membuat coco potty melalui
pelatihan dengan cara memasukan coco peat atau serbuk kelapa ke dalam stocking yang
kemudian dibentuk menjadi coco potty.

Gambar 3. Hasil Produk Coco Potty


4. Pelatihan dan Praktik Pembuatan Coco Doll
Serbuk kelapa yang dihasilkan diolah menjadi coco doll oleh ibu-ibu PKK di setiap RT
Dusun II di Desa Dilem. Coco doll merupakan sebuah boneka khas yang terbentuk dari
pintalan serabut kelapa sehingga dihasilkan boneka souvenir yang ramah lingkungan
seperti boneka wisuda maupun boneka unik coco peat. Hasil yang diperoleh yaitu Ibu-
Ibu PKK dapat membuat coco doll melalui pelatihan dengan cara memasukan coco peat
atau serbuk kelapa ke dalam stocking yang kemudian dibentuk menjadi coco doll
misalnya seperti boneka wisuda maupun boneka unik lain.

Gambar 4. Hasil Produk Coco Doll

5. Pelatihan dan Praktik Pembuatan Coco Pot


Selain menjadi coco potty dan coco, serbuk kelapa yang dihasilkan diolah menjadi coco
pot oleh ibu-ibu PKK di setiap RT Dusun II di Desa Dilem. Coco doll merupakan sebuah
pot pembibitan yang terbuat dari serabut kelapa. Hasil yang diperoleh yaitu Ibu-Ibu PKK
dapat membuat coco pot melalui pelatihan dan menanam melalui media tanam coco peat.

Gambar 5. Hasil Produk Coco Pot


6. Pelatihan Pengemasan Produk
Pengemasan produk dilakukan menggunakan kain kassa pada hasil produk coco potty
dan coco doll yang dapat dijadikan peluang usaha baru dengan cara pemasaran produk
yang lebih menarik.

Gambar 6. Hasil Pengemasan Produk

7. Pembentukan BUMDES untuk pemasaran produk


Penyusunan Program Kegiatan, diantaranya adalah sosialisai tentang Pembentukan
BUMDES yang dilakukan dari tanggal 29 Januari hingga tanggal 12 Februari 2018.
Tahapan pertama adalah sosialisasi tentang Bumdes yang diisi oleh bapak Ali Masyaruki,
dari DPPM Universitas Islam Indonesia, sekaligus dengan pembentukan BUMDES yang
dinamakan BUMDES DIMAS JAYA, (Dilem Makmur dan Jaya). Bersmaan dengan
pembentukan BUMDES ini, kami juga membantu dalam pembentukan Surat Keputusan
(SK) tentang pembuatan Peraturan Desa tentang BUMDES, kemudian pengangkatan
pengurus BUMDES. Dan pada akhirnya penandatanganan oleh Kepala Desa Dilem akan
Perdes tentang BUMDES dan SK penunjukkan pengurus.
Program selanjutnya adalah penyusunan Anggaran Dasar Rumah tangga tentang
BUMDES Dimas Jaya. Setelah selesai penyusunan ADART, pembahasan ADART
Bumdes Dimas Jaya dilakukan dengan tiga tahapan atau tiga kali pertemuan, yang mana
pertemuan pertama membahas tentang peran dan tanggungjawab pengurus Bumdes.
Pertemuan kedua adalah membahas tentang ruang lingkup Bumdes Dimas Jaya, yang
pada akhirnya disepakati bahwa, ruang lingkup bumdes dimas jaya di antaranya adalah;
produksi gula aren, produk-produk kerajinan, dan pembayaran online. Biaya yang telah
terkumpul untuk BUMDES sendiri akan didanai modal awal Rp. 20.000.000 dari
APBDes.

Gambar 7. Hasil Pembentukan BUMDES

4. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian yang telah disampaikan diatas dapat diketahui warga Dusun II Desa Dilem
yang memiliki potensi tanaman kelapa melimpah namun belum ada pelatihan pemanfaatan sabut
kelapa menjadi suatu produk yang dapat membantu warga untuk meningkatkan pendapatan
keluarga secara finansial. Untuk Itu penulis merancang program pelatihan pembuatan usaha kreatif
pengolahan coconut coir menjadi media tanam coco peat guna membantu masyarakat dalam
menyelesaikan permasalahan. Kegiatan ini dilakukan dengan berbagai tahapan proses, diantaranya
penyuluhan, pelatihan pembuatan coco potty, coco doll, coco pot, pengemasan produk, serta
pembentukan BUMDES. Objek sasaran yang ikut serta dalam melakukan pelatihan ini mampu
membuat produk dengan baik dan menghasilkan produk coco potty, coco doll, dan coco pot yang
memiliki keunikan produk yang menarik dan pemuda desa dapat menjadi pengurus adanya
pembentukan BUMDES. Program ini diharapkan mampu memberikan solusi dari permasalahan
yang dihadapi oleh warga dalam meningkatkan kreatifitas segingga timbul konsep dalam membuat
usaha kreatif serta dalam hal pemasaran produk melalui BUMDES.
5. REFERENSI
Adiyati, NM. 1999. Kajian Komposisi dan Finansial pada Pemanfaatan Serbuk Sabut Kelapa
sebagai Media Tanam Lempengan [skripsi]. Bogor: Program Sarjana, Institut Pertanian
Bogor.

Agustian, A., Friyatno, S., Supadi, & Askin, A. (2003). Analisis pengembangan agroindustri
komoditas perkebunan rakyat (kopi dan kelapa) dalam mendukung peningkatan daya saing
sektor pertanian. Makalah Seminar Hasil Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan
Sosial Ekonomi Pertanian Bogor. T.A. 2003. 38 hal.

Setiadi, Anton. 2001. Kajian Teknologi dan Finansial Proses Pengolahan Sabut Kelapa di Mitra PT
Sukaraja Putra Sejati, Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Program Sarjana, Institut Pertanian
Bogor.